tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
FIKIH

wudhunya orang lumpuh

Cara Bersuci Orang Lumpuh

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Saya laki-laki usia 32 tahun alhamdulillah dikasih cobaan lumpuh sejak sd sampai sekarang, dulu saya masih bisa ke kamar mandi dengan cara merangkak, alhamdulilah dulu bisa thaharah memakai air sendiri. sejak 6 tahun terakhir ini saya gak bisa lagi merangkak, anggota tubuh yang lain mulai mengalami gejala kelumpuhan, termasuk tangan, dan selama 6 tahun ini saya bersuci dari BAK menggunakan tisu kering, dari BAB menggunakan tisu basah dan lap basah dibantu ibu dan adik.
Ketika mau beribadah kadang merasa was-was apa saya udah benar-benar bersih pakaian dan tubuh saya dari najis, kadang muncul dipikiran bahwa metode thaharah dengan tisu takut menyisakan sisa dan ibadah saya jadi gak sah..tapi disatu sisi satu gak tega menyusahkan ibu yang hampir berusia 60 tahun dan orang lain disekitar saya untuk selalu mensucikan saya dari najis dengan air….kalau oh iya saya juga selama ini bersuci dengan tayamun ke kasur.
Tolong pendapatnya ustadz, saya hanya ingin menyempurnakan ibadah saya, saya takut ibadah saya tidak diterima disisi Allah…
waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh

Dari Bapak Dian Syawal

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam warahmatullahi wabarokatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kami haturkan doa, semoga Allah memberikan ketabahan dan kesabaran bagi anda. Juga memberi kesabaran keluarga anda, untuk merawat anda. Semoga Allah membalas usaha mereka dengan pahala.

Tidak  ada di alam ini yang sia-sia. Semua ada perhitungannya. Sampaipun kondisi tidak nyaman yang dialami setiap hamba, akan Allah gantikan dengan pahala atau Allah jadikan kaffarah dosa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641).

Orang yang sakit, bisa mendapatkan pahala, sekalipun dia tidak beramal. Selama dia berusaha sabar dan selalu mengharap pahala dari Allah. Karena itu, bagian dari cinta Allah kepada para hamba-Nya, Allah menguji mereka, agar dia berkesempatan  mendapatkan banyak pahala.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka denagn musibah. Siapa yang ridha dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka Allah.” (HR. Ahmad 23623, Tirmidzi 2396 dan dishahihkan al-Albani).

Kita bisa perhatikan, sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada para hamba, hakikatnya didasari kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Karena seorang hamba akan bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi, ketika mereka beruaha bersabar dengan ujian yang dialaminya.

Kedua, kemudahan bagi yang sakit

Disamping Allah berikan pahala atas sakit yang dia alami, Allah juga memberikan banyak kemudahan bagi hamba-Nya yang tidak mampu melakukan ibadah dengan sempurna.

Ada beberapa  ayat dalam al-Quran, yang menegaskan bahwa Allah banyak memberikan keringanan bagi para hamba-Nya.

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 284)

Allah juga berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Allah tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. al-Baqarah: 185)

Allah juga berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Allah tidak pernah menjadikan adanya kesulitan dalam agama. (QS. al-Hajj: 78)

Dalil-dalil lainnya masih sangat banyak, yang jika kita perhatikan, bahwa bagian dari semangat islam, memberikan kemudahan bagi umatnya. Kemudahan yang tidak sampai melanggar batas dan aturan. As-Syathibi mengatakan,

إن الأدلة على رفع الحرج عن هذه الأمة بلغت مبلغ القطع

Bahwa dalil yang menunjukkan peniadaan kesulitan dari umat ini, statusnya qath’i (absolut). (al-Muwafaqat, 1/231)

Dari semua dalil ini, para ulama menetapkan kaidah,

المشقة تجلب التيسير

Masyaqqah mengharuskan adanya kemudahan.

Ketiga, cara bersuci orang sakit

Ada dua cara yang Allah ajarakan dalam bersuci,

  1. Menggunakan air. Itulah hukum dalam bersuci, baik wudhu maupun mandi
  2. Menggunakan tanah yang suci (tayammum). Statusnya pengganti yang pertama.

Karena statusnya pengganti, selama masih bisa menggunakan yang pertama, kita tidak boleh menggunakan yang kedua. Untuk itu, kita hanya bisa menggunakan yang kedua ini, jika (1) Tidak menemukan air. (2) Tidak mampu menggunakan air, baik karena sakit tidak boleh kena air, atau karena tidak bisa mengambil air sendiri.

Dari keteragan di atas, selama anda masih bisa menggunakan air untuk wudhu, ketika shalat, anda harus berwudhu. Baik berwudhu sendiri jika mampu atau diwudhukan orang lain.

Namun jika anda tidak boleh kena air, anda bisa tayamum, baik dengan tayamum sendiri atau ditayamumkan orang lain.

Keempat, cara membersihkan najis

Cara membersihkan najis setelah buang hajat, ada dua,

  1. Membersihkan najis dengan air
  2. Membersihkan najis dengan selain air, selama benda itu bisa menyerap. Diistilahkan dengan istijmar. Termasuk diantaranya, membersihkan najis dengan tisu.

Para ulama sepakat, seseorang boleh beristijmar, sekalipun ada air. Ibnul Qoyim mengatakan,

إجماع المسلمين على جواز الاستجمار بالأحجار في زمن الشتاء والصيف

Kaum muslimin sepakat, boleh beristijmar baik di musim dingin maupun musim panas. (Ighatsah al-Lahafan, 1/151)

Mana yang Lebih Afdhal?

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa bersuci dengan selain air, lebih afdhal dari pada bersuci dengan air. Karena orang yang bersuci dengan selain air, dia tidak bersentuhan langsung dengan najisnya. Berbeda ketika dia bersuci dengan air, tangannya harus bersentuhan langsung dengan najisnya.

Ada juga yang berpendapat, menggunakan air lebih afdhal, karena lebih bersih. Ibnu Qudamah mengatakan,

وإن أراد الاقتصار على أحدهما فالماء أفضل ; لما روينا من الحديث ; ولأنه يطهر المحل , ويزيل العين والأثر , وهو أبلغ في التنظيف

Jika seseorang hendak bersuci dengan salah satu saja, maka menggunakan air lebih afdhal. Berdasarkan hadis yang kami riwayatkan, juga karena bersuci dengan air itu lebih bisa membersihkan tempat keluarnya kotoran dan lebih bersih. (al-Mughni, 1/173)

Aturan Istijmar

Benda yang boleh digunakan istijmar harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya sebagai berikut,

  1. Bisa menyerap. Benda licin yang tidak menyerap, seperti plastik, logam, tidak bisa digunakan untuk istijmar.
  2. Suci. Karena tidak boleh membersihkan najis dengan najis
  3. Bukan makanan. Tidak boleh meletakkan najis di makanan
  4. Bukan benda terhormat, seperti kertas al-Quran atau buku agama
  5. Bukan tulang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang beristijmar dengan tulang
  6. Minimal 3 kali usapan

Tisu, baik kering maupun basah, sangat memenuhi kriteria di atas. Sehingga sangat bisa digunakan. Hanya saja, jangan lupa agar dilakukan minimal 3 kali usapan.

Kelima, hindari was-was

Selama anda yakin telah bersuci, yakin telah membersihkan diri dari najis, yakini bahwa semua telah memenuhi syarat untuk ibadah. Dengan ini, anda tidak perlu was-was. Karena keyakinan, tidak bisa mengalahkan yang meragukan.

Dalam salah satu kaidah fiqh dinyatakan,

اليقين لا يزول بالشك

“Yakin tidak bisa gugur dengan keraguan”

Jika anda ingin mengetahui lebih rinci tentang cara mengatasi was-was, anda bisa pelajari artikel: Cara Mengobati Was-was

semoga Allah memberkahi kita semua, dan memberi kekuaatan bagi kita untuk selalu istiqamah di atas kebenaran.

Wallaahu waliyyut taufiq..

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

gambar anak kecil shalat

Jika Anak Nangis Saat Shalat

Kalau kita lagi shalat jamaah, kemudian anak nangis, bolehkah membatalkan shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya, ketika seorang muslim telah mulai shalat, dia tidak boleh membatalkannya kecuali karena udzur. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu membatalkan amal-amalmu (QS. Muhammad: 33)

Allah melarang kita membatalkan amalan kita, diantara maknanya adalah fisik amalan yang kita lakukan.

Kemudian ulama menyebutkan, ada beberapa keadaan, dimana kita dibolehkan membatalkan shalat, diantaranya,

  1. Kekhawatiran terhadap keselamatan diri sendiri, misalnya karena ada serangan manusia atau binatang atau karena gempa, atau lainnya
  2. Kekhawatiran terhadap keselamatan harta, misalnya, ada orang yang mengambil barang kita.
  3. Menyelamatkan orang lain yang butuh pertolongan segera. Misalnya, seorang dokter diminta untuk melakuka tindakan darurat terhadap pasien.

Dan ada kondisi di mana kita dianjurkan membatalkan shalat, misalnya karena keinginan untuk buang angin.

(Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/654).

Jika kita simpulkan, pada prinsipnya orang boleh membatalkan shalat karena udzur terkait keselamatan diri sendiri, harta, atau orang lain, dan terkait kekhusyuan shalat, seperti membatalkan shalat karena keinginan untuk buang hajat.

Sementara untuk ancaman yg bisa diatasi tanpa harus membatalkan shalat, maka kita tidak perlu membatalkan shalat.

Lajnah Daimah ditanya tentang hukum membatalkan shalat karena ada kalajengking. Dan membatalkan shalat di masjidil haram agar bisa memanggil anak yang hampir hilang.

Jawaban Lajnah,

إن تيسر له التخلص من العقرب ونحوها بغير قطع الصلاة فلا يقطعها ، وإلا قطعها ، وكذلك الحال في ولده إن تيسر له المحافظة على ولده دون قطع الصلاة فعل ، وإلا قطعها

Jika memungkinkan untuk menghindari kalajengking itu tanpa membatalkan shalat, maka sebaiknya tidak dibatalkan. Jika tidak memungkinkan, maka dia batalkan. Demikian pula terkait keadaan anaknya, jika memungkinkan untuk menjaga anaknya tanpa harus membatalkan shalat, maka jangan batalkan shalat. Namun jika tidak memungkinkan, dia bisa batalkan shalatnya. (Fatwa Lajnah Daimah, 8/36)

Dari sini kita bisa mendekati kasus anak yang menangis.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

إن بكى الطفل وتعذَّر إسكاته من قبَل أبيه أو أمه في صلاة الجماعة : فيجوز أن يقطعا الصلاة لإسكاته خشيةً أن يكون بكاؤه من ضرر أصابه ؛ وخشيةً من تضييع الصلاة على أهلها بالتشويش عليهم

Jika ada anak yang menangis, dan tidak memungkinkan untuk didiamkan orng tuanya ketika shalat jamaah, maka boleh bagi ortunya membatalkan shalat untuk mendiamkan anaknya, karena dikhawatirkan tangisan itu disebabkan sesuatu yang membahayakan dirinya, serta dikhawatirkan akan mengganggu kekhusyuan shalatnya. (Fatwa Islam, no. 75005)

Kemudian, jika shalatnya hampir selesai, dan memungkinkan untuk membiarkan anak menangis hingga shalat selesai, maka sebaiknya tidak dibatalkan. Dan dianjurkan bagi imam untuk tidak memperlama shalatnya, jika ada kejadian yang membuat makmum harus segera menyelesaikan shalatnya.

Musthofa ar-Ruhaibani mengatakan,

ويسن للإمام تخفيف الصلاة إذا عرض لبعض مأمومين في أثناء الصلاة ما يقتضي خروجه منها كسماع بكاء صبي , لقوله صلى الله عليه وسلم : ( إني لأقوم في الصلاة وأنا أريد أن أطول فيها , فأسمع بكاء الصبي , فأتجوز فيها مخافة أن أشق على أمه ) رواه أبو داود

Dianjurkan bagi imam untuk meringankan shalat ketika ada satu kejadian yang menyebabkan sebagian makmum harus segera menyelesaikan shalatnya. seperti mendengar tangisan bayi. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ketika saya sedang shalat, saya ingin memperlama shalatku. Lalu aku mendengar tangisan bayi, sehingga aku meringankan shalatku, karena khawatir akan merepotkan ibunya.” Riwayat Abu Daud. (Mathalib Uli an-Nuha, 1/641).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

subhanallah-masya-allah

Kapan Kita Mengucapkan Subhanallah dan MasyaAllah?

Mohon info penggunaan kata yg tepat unt kata : masya Allah dan Subhanallah. Tepatnya bgmn ya?

Bu Subarkah. Sleman..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah berfirman di surat al-Kahfi,

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. al-Kahfi: 39)

Ayat ini dijadikan dalil sebagian ulama terkait kapan kita diajurkan mengucapkan masyaaAllah. Dalam ayat ini, orang mukmin menasehatkan kepada temannya pemilik kebun yang kafir, agar ketika masuk kebunnya dia mengucapkan, “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah” sehingga kebunnya tidak tertimpa hal yang tidak diinginkan.

Ketika menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وينبغي للإنسان إذا أعجبه شيء من ماله أن يقول: “ما شاء الله لا قوة إلَّا بالله” حتى يفوض الأمر إلى الله لا إلى حوله وقوته، وقد جاء في الأثر أن من قال ذلك في شيء يعجبه من ماله فإنه لن يرى فيه مكروهاً

Selayaknya bagi seseorang, ketika dia merasa kagum dengan hartanya, agar dia mengucapkan, “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah” sehingga dia kembalikan segala urusannya kepada  Allah, bukan kepada kemampuannya. Dan terdapat riwayat, bahwa orang yang membaca itu ketika merasa heran dengan apa yang dimilikinya, maka dia tidak akan melihat sesuatu yang tidak dia sukai menimpa hartanya. (Tafsir Surat al-Kahfi, ayat: 39).

Doakan Keberkahan

Disamping bacaan di atas, ketika kita melihat sesuatu yang mengagumkan dimiliki oleh orang lain, kita dianjurkan untuk mendoakan keberkahan untuknya. Misalnya dengan mengusapkan, Baarakallahu laka fiih, semoga Allah memberkahi anda dengan apa yang anda miliki.

Dari Abdillah bin Amir bin Rabiah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Apabila kalian melihat ada sesuatu yang mengagumkan pada saudaranya atau dirinya atau hartanya, hendaknya dia mendoakan keberkahan untuknya. Karena serangan ain itu benar. (HR. Ahmad 15700, Bukhari dalam at-Tarikh 2/9 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kapan Dianjurkan Mengucapkan Subhanallah?

Terdapat beberapa keadaan, dimana kita dianjurkan mengucapkan subhanallah. Diantaranya,

Pertama, ketika kita keheranan terdapat sikap.

Tidak kaitannya dengan keheranan terhadap harta atau fisik atau apa yang dimiliki orang lain. Tapi keheranan terhadap sikap.

Misalnya, terlalu bodoh, terlalu kaku, terlalu aneh, dst.

Kita lihat beberapa kasus berikut,

Kasus pertama, Abu Hurairah pernah ketemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi junub. Lalu Abu Hurairah pergi mandi tanpa pamit. Setelah balik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, mengapa tadi dia pergi. Kata Abu Hurairah, “Aku junub, dan aku tidak suka duduk bersama anda dalam keadaan tidak suci.” Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ

Subhanallah, sesungguhnya muslim itu tidak najis. (HR. Bukhari 279)

Kasus kedua, ada seorang wanita yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan bagaimana cara membersihkan bekas haid setelah suci. Beliau menyarankan, “Ambillah kapas yang diberi minyak wangi dan bersihkan.”

Wanita ini tetap bertanya, “Lalu bagaimana cara membersihkannya.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa malu untuk menjawab dengan detail, sehingga beliau hanya mengatakan,

سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِى بِهَا

“Subhanallah.., ya kamu bersihkan pakai kapas itu.”

Aisyah paham maksud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaupun langsung menarik wanita ini dan mengajarinya cara membersihkan darah ketika haid. (HR. Bukhari 314 & Muslim 774)

Kasus ketiga, Aisyah pernah ditanya seseorang,

“Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah?”

Aisyah langsung mengatakan,

سُبْحَانَ اللَّهِ لَقَدْ قَفَّ شَعْرِى لِمَا قُلْت

Subhanallah, merinding bulu romaku mendengar yang kamu ucapkan. (HR. Muslim 459).

an-Nawawi mengatakan,

أن سبحان الله في هذا الموضع وأمثاله يراد بها التعجب وكذا لااله إلا الله ومعنى التعجب هنا كيف يخفى مثل هذا الظاهر الذي لايحتاج الإنسان في فهمه إلى فكر وفي هذا جواز التسبيح عند التعجب من الشيء واستعظامه

Bahwa ucapan subhanallah dalam kondisi semacam ini maksudnya adalah keheranan. Demikian pula kalimat laa ilaaha illallah. Makna keheranan di sini, bagaimana mungkin sesuatu yang sangat jelas semacam ini tidak diketahui. Padahal seseorang bisa memahaminya tanpa harus serius memikirkannya. Dan dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya membaca tasbih ketika keheranan terhadap sesuatu atau menganggap penting kasus tertentu. (Syarh Shahih Muslim, 4/14).

Kedua, Keheranan ketika ada sesuatu yang besar terjadi

Misalnya melihat kejadian yang luar biasa.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang tersentak bangun di malam hari, karena keheranan melihat sesuatu yang turun dari langit.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa pernah suatu malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidurnya.

سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتَنِ

“Subhanallah, betapa banyak fitnah yang turun di malam ini.” (HR. Bukhari 115).

Dalam kasus lain, beliau juga pernah merasa terheran ketika melihat ancaman besar dari langit. Terutama bagi orang yang memiliki utang,

Dari Muhammad bin Jahsy radhiallahu ‘anhu, “Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ke arah langit, kemudian beliau bersabda,

سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا نُزِّلَ مِنَ التَّشْدِيدِ

“Subhanallah, betapa berat ancaman yang diturunkan ….”

Kemudian, keesokan harinya, hal itu saya tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, ancaman berat apakah yang diturunkan?’

Beliau menjawab,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلاً قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

‘Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya ada seseorang yang terbunuh di jalan Allah, lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), sementara dia masih memiliki utang, dia tidak masuk surga sampai utangnya dilunasi.'” (HR. Nasa’i 4701 dan Ahmad 22493; dihasankan al-Albani).

Kata Ali Qori, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan subhanallah karena takjub (keheranan) melihat peristiwa besar yang turun dari langit.  (Mirqah al-Mafatih, 5/1964).

Demikian,

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

persiapan ketika nikah dalam islam

Menjelang Pernikahan

Assalamualaikum ustadz .saya akAn menikah pada bulan mei..saya ingin melakukan tirakat dan amalan doa….supaya di beri kemudahan dan kelancaran di pernikahan saya nanti..tolong berikan solusinya kepada saya ustadz..terimakasih.wassalamualaikum wr.wb

Dari: Liya Saniyatul Adyan

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam Wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang kami tahu, tidak ada amalan dalam bentuk ibadah khusus yang disyariatkan menjelang pernikahan. Istilah tirakat, mandi kembang, poso mutih, dst., hanyalah tradisi yang kemungkinan besar merupakan warisan budaya yang tidak jelas asal-usulnya. Terlebih semua ritual ini biasanya tidak lepas dari keyakinan dan mitos. Sudah selayaknya bagi anda seorang muslim yang beriman kepada Allah, agar anda menghindarinya sejauh-jauhnya.

Hanya saja, di sana ada beberapa yang bisa kami sarankan sebagai persiapan bagi anda yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan,

Pertama, tanamkan niat yang baik ketika menikah

Nilai amal seorang mukmin, salah satunya ditentukan dari kualitas niatnya. Semakin baik niatnya, semakin sempurna nilai amalnya. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Amal itu ada karena niat, dan pahala yang diperoleh seseorang sesuai apa yang dia niatkan. (HR. Bukhari no. 1, Muslim 5036, dan yang lainnya)

Tanamkan dalam diri anda, anda menikah dalam rangka mengikuti sunah para rasul. Karena Allah berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

Sungguh Aku telah mengutus para rasul sebelum kamu, dan Aku jadikan untuk mereka istri dan keturunan. (QS. ar-Ra’du: 38).

Tanamkan pula bahwa anda menikah untuk mengikuti ajakan dan motivasi Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah bersabda,

النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ

“Nikah itu sunahku.. siapa yang tidak mengamalkan sunahku, bukan bagian dariku. Menikahlah, karena saya merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh umat.” (HR. Ibnu Majah 1919 dan dihasankan al-Albani).

Juga jangan lupa untuk menanamkan dalam diri anda, bahwa anda menikah dalam rangka memilih yang halal, menjaga kehormatan diri dan pasangan. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan yang berharga untuknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ

Ada 3 orang yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah, (1) Orang yang berjihad di jalan Allah, (2) Budak mukatab yang ingin menebus dirinya untuk merdeka, dan (3) Orang yang menikah, karena ingin menjaga kehormatannya. (HR. Nasai 3133, Turmudzi 1756, dan dihasankan al-Albani).

Kedua, pelajari fiqh nikah

Semua orang butuh ilmu. Karena ini merupakan modal terbesar hamba untuk bisa menjalani hidup dengan selamat dan sukses. Dengan ilmu, orang akan terbimbing, apa saja yang harus dia kerjakan, dan apa yang harus dia tinggalkan.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

العلم خير من المال؛ العلم يحرسك و أنت تحرس المال

Ilmu lebih baik dari pada harta, ilmu menjagamu dan harta, kamu yang jaga. (Adab ad-Dunya wad Din hlm. 48 oleh al-Mawardi)

Alhamdulillah, saat ini telah banyak karya-karya para ulama tentang panduan pernikahan. Banyak yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Diantaranya, anda bisa pelajari buku-buku berikut,

  1. Buku panduan nikah lengkap: Panduan lengkap nikah dari A sampai Z
  2. Buku panduan keluarga Sakinah
  3. Buku Bingkisan untuk Pengantin
  4. Buku Kado Pernikahan

Terutama bagian penting yang harus dikenali masing-masing, diantaranya,

  1. Syarat sah dan rukun akad nikah. Sehingga anda yakin bahwa pernikahan anda sah
  2. Kenali tanggung jawab masing-masing suami istri. Sehingga keluarga tidak menjadi sumber dosa bagi anda
  3. Kenali fiqh perceraian. Bukan untuk diamalkan, namun agar orang tahu batasan kata-kata cerai, apa itu khulu’, dan bagaimana konsekuensi masing-masing. Betapa banyak mereka yang terjerumus pada perpecahan keluarga, sementara mereka tidak menyadarinya.

Ketiga, belajar untuk mulai dewasa

Setelah menikah, status anda telah berubah. Berapapun usia anda ketika menikah, anda dituntut untuk lebih cepat dewasa. Mulai pembelajaran diri itu sejak sebelum menikah. Tinggalkan kebiasaan kekanak-kanakan. Mulai belajar bangun subuh, atau bahkan sebelum subuh.

Belajar meninggalkan kebiasaan buruk, seperti bergadang bareng temen semalaman

Belajar meninggalkan hal yang tidak manfaat, seperti main PS

Termasuk calon istri, belajar dengan kesibukan rumah tangga

Belajar untuk tidak banyak jajan.

Pahami bahwa setelah anda menikah, orang yang anda hormati bertambah. Disamping orang tua, anda juga harus menghormati mertua. Posisikan masing-masing dengan benar, sehingga anda tidak akan mengecewakan pasangan anda karena gara-gara menyakiti orang tuanya.

Anda juga harus siap dengan benturan kepentingan. Hampir tidak ada rumah tangga yang bebas dari masalah. Menuntut anda untuk mulai belajar mengalah. Mengalah tidak sama dengan kalah. Mengalah berarti memberi kesempatan orang lain untuk mengambil hak anda. Agar anda lebih siap mengalah, yakini bahwa Allah akan membalas setiap kebaikan yang anda lakukan kepada keluarga anda. Sehingga anda tidak merasa itu sia-sia.

Keempat, merawat fisik untuk kebahagiaan rumah tangga, dianjurkan

Sekalipun ini bukan hal yang wajib, tapi ini bisa sangat ditekankan jika ini menjadi sebab keluarga makin harmonis. Karena islam menganjurkan terbentuknya keluarga yang harmonis, bahagia.

Karena itulah, masing-masing diajarkan agar bersikap romantis.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ

Nikahilah wanita yang subur dan romantis (HR. Ahmad 12613, Abu Daud 2052 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkan agar lelaki menjadi suami yang penyayang bagi istri dan keluarganya,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Manusia terbaik di tengah kalian adalah orang yang sikapnya paling baik kepada keluarganya. Saya orang yangn sikapnya paling baik kepada keluargaku.” (HR. Turmudzi 4269, Ibnu Majah 2053, dan dishahihkan al-Albani).

Sebagaimana wanita dituntut merawat fisiknya untuk membahagiakan suami, lelaki juga diajurkan merawat dirinya dalam rangka membahagiakan istri.

Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

إنِّي أُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ , كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ

Saya suka berhias di hadapan istri, sebagaimana saya suka istri saya berhias di depan saya. (HR. Ibnu Abi Syaibah 19608).

Kelima, iringi semua dengan doa dan tawakkal

Banyak orang yang merasa sangat resah menjelang pernikahan. Setumpuk kekahwatiran berjubel di hatinya.

Kami hanya menasehatkan, tanamkan rasa tawakkal kepada Allah, agar anda tidak dihantui dengan perasaan takut yang berlebihan. Kedepankan tawakkal ketika anda menghadapi kenyataan yang tidak pasti. Pasrahkan kepada Allah, dalam setiap upaya untuk kebahagiaan anda.

Dan inilah yang diajarkan oleh para sahabat, terutama bagi orang yang tidak PD ketika menikah.

Abu Said mantan budak Abi Usaid menceritakan,

Aku menikah, sementara aku berstatus seorang budak. Akupun mengundang beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah. Ketika datang waktu shalat, mereka mempersilahkan diriku untuk menjadi imam. Seusai shalat, mereka mengajariku,

إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك

Apabila kamu bertemu pertama dengan istrimu, lakukanlah shalat 2 rakaat, kemudian mintalah kepada Allah kebaikan dari semua yang datang kepadamu, dan berlindunglah dari keburukannya. Kemudian lanjutkan urusanmu dengan istrimu. (HR. Ibn Abi Syaibah 30352 dan dishahihkan al-Albani dalam Adab az-Zifaf).

Jangan lupa, perbanyak memohon kepada Allah agar Dia memberikan kebaikan bagi pernikahan anda. Kelancaran ketika akad nikah dan resepsi, dan ini yang paling menyita pikiran banyak orang.

Keberkahan setelah menikah, berkah di waktu senang maupun berkah di waktu susah.

Demikian, semoga bermanfaat.

shalat jumat

Berapa Jumlah Minimal Jama’ah Jum’atan?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama sepakat bahwa jumatan harus dilakukan secara berjamaah. Tidak sah ketika ada orang yang jumatan seorang diri.

An-Nawawi mengatakan,

أجمع العلماء على أن الجمعة لا تصح من منفرد , وأن الجماعة شرط لصحتها

Para ulama sepakat bahwa jumata tidak sah dikerjakan sendirian. Berjamaah merpakan syarat sahnya jumatan. (al-Majmu’, 4/504)

Hanya saja, mereka berbeda pendapat mengenai batas minimal jumlah jamaah ketika jumatan, agar dihukumi sah. Ibnu Rusyd mengatakan,

اتفق الكل على أن من شرطها الجماعة , واختلفوا في مقدار الجماعة

Semua sepakat bahwa bagian dari syarat sah jumatan adalah berjamaah. Namun mereka berbeda pendapat tentang jumlah minimal jamaah. (Bidayah al-Mujtahid, 1/158)

Kita akan sebutkan beberapa pendapat yang masyhur dalam masalah ini,

Pertama, jumlah minimal jamaah jumatan adalah 40 orang.

Ini merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafiiyah.

An-Nawawi mengatakan,

لا تصح الجمعة إلا باربعين رجلا بالغين عقلاء احرارا مستوطنين للقرية أو البلدة التى يصلي فيها الجمعة لا يظعنون عنها

Tidak sah jumatan kecuali yang dihadiri 40 lelaki yang telah baligh, berakal, merdeka, menetap di sebuah kampung atau kota yang di sana dilaksanakan jumatan, dan tidak nomaden. (al-Majmu’, 4/502).

Ini juga pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat yang masyhur.

Ibnu Qudamah mengatakan,

أما الأربعون فالمشهور في المذهب أنه شرط لوجوب الجمعة وصحتها؛  وروي ذلك عن عمر بن عبد العزيز و عبيد الله بن عبد الله بن عتبة وهو مذهب مالك و الشافعي

Tentang jumlah 40 orang, yang masyhur dalam madzhab hambali, jumlah ini merupakan syarat wajib dan syarat sahnya jumatan. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz, Ubaidillah bin Uthbah, dan merupakan pendapat Malik dan as-Syafii. (al-Mughni, 2/171).

Diantara dalil pendapat ini adalah hadis dari Abdurrahman, putra sahabat Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan,

Ketika ayahku sudah tua dan hilang penglihatannya, aku bertugas mengantarkan beliau pergi jumatan. Setiap kali beliau mendengar adzan jumat, beliau mendoakan kebaikan untuk As’ad bin Zurarah. Suatu ketika aku tanyakan hal itu,

“Wahai ayahku, mengapa anda setiap kali mendengar adzan, anda mendoakan As’ad bin Zurarah?”

Jawab Ka’ab bin Malik,

Wahai anakku, beliau adalah orang pertama yang mengimami kami shalat jumat sebelum kedatangan hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah.

Aku bertanya, “Berapa jumlah kalian ketika itu?”

Jawab Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu, “40 orang.”

(HR. Ibnu Majah 1135, dan dihasankan al-Albani)

Mereka memahami bahwa jumatan  memiliki batas bilangan. Sementara untuk mengetahui batas itu, dikembalikan kepada dalil. Dan dalil yang paling shahih tentang batas peserta jumatan adalah hadis  dari Ka’ab bin Malik. Karena itu, tidak boleh mengadakan jumatan dengan jamaah yang kurang dari 40 orang.

(al-Majmu’, 4/504).

Sanggahan

Para ulama yang tidak sepakat dengan pendapat ini mengatakan bahwa dalil ini shahih, namun sama sekali tidak menunjukkan bahwa jumlah minimal peserta jumatan adalah 40 orang. Diantaranya Imam as-Syaukani.

Beliau menjelaskan bahwa  jumlah 40 orang dalam peristiwa jumatan pertama itu, hanya waq’atul ain, kejadian yang sifatnya kebetulan. Karena jumlah itu bukan dari kesepakatan atau ketentuan yang mereka buat. Kebetulan, ketika jumatan pertama itu digelar, jumlah pesertanya 40 orang. Sehingga angka ini tidak bisa jadi dalil.

Bagian dari kaidah dalam Ushul Fiqh dinyatakan bahwa Waq’atul Ain (kejadian yang sifatnya kasuistik), tidak bisa jadi acuan dalil. (Nailul Authar, 3/283).

Kedua, syarat sah jumatan harus dilakukan oleh sejumlah orang yang bisa memenuhi syarat untuk terbentuknya satu kampung. Sehingga tidak ada angka tertentu. Tidak boleh hanya dengan 3 orang atau 4 orang, karena jumlah ini belum memenuhi syarat disebut satu kampung.

Ini pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyah.

Ibnu Rusyd mengatakan,

ولا يجوز بالثلاثة والأربعة وهو مذهب مالك وحدهم بأنهم الذين يمكن أن تتقرى بهم قرية

Tidak boleh mengadakan jumatan hanya dengan 3 atau 4 orang. Dan ini pendapat Imam Malik. Batasannya adalah jumlah mereka memungkinkan untuk terbentuk sebuah kampung. (Bidayatul Mujtahid, 1/159).

Pendapat ini yang dinilai kuat oleh as-Suyuthi (al-Hawi li al-Fatawa, 1/66) dan as-Syinqithi (Adhwaul Bayan, 6/385).

Dalil pendapat ini adalah firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.. (QS. al-Jumu’ah: 9)

Kemudian hadis dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ

Jumatan itu kewajiban bagi setiap muslim untuk dilakukan secara berjamaah. (HR. Abu Daud 1069 dan dishhaihkan al-Albani).

Dalam ayat dan hadis di atas, Allah perintahkan kaum muslimin untuk jumatan. Sementara tidak ada batas jumah minimal peserta. Perintahnya mutlak. Sementara pelaksana jumatan harus orang kampung dan bukan musafir. Karena itu, syarat sahnya harus sejumlah orang yang layak untuk terbentuknya satu kampung. (al-Muntaqa Syarh Muwatha’, 1/252).

Ketiga, syarat pelaksana jumatan harus berjumlah 12 orang. Kurang dari 12 orang, jumatan tidak sah.

Dalil pendapat ini, hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

Kami pernah shalat jumat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datang rombongan onta yang membawa makanan. Para jamaahpun langsung bubar meninggalkan khutbah dan mengerumuni kafilah dagang itu. Sehingga yang tersisa bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya 12 orang. Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا

Apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). (QS. al-Jumu’ah: 11)

Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melanjutkan jumatan, sekalipun jumlah peserta jumatan tinggal 12 orang. Sehingga ini menjadi batas minimal jumatan.

Sanggahan

Hadis ini tidak bisa jadi dalil untuk memberikan batasan peserta jumatan, sebagaimana pendapat pertama. Karena jumlah 12 orang, bukan hasil kesepakatan mereka, namun sifatnya kasuistik.

Kelima, jumlah minimal pelaksana jumatan harus 3 orang.

Ini merupakan pendapat hanafiyah. Hanya saja mereka berbeda pendapat, apakah dari 3 orang itu, imam termasuk atau tidak termasuk.

Abu Hanifah dan Muhammad bin Hasan berpendapat, syaratnya 3 orang selain imam. Sementara Abu Yusuf berpendapat, 3 orang termasuk imam. (Bada’i as-Shana’i, 2/268).

Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad Ahmad dalam salah satu riwayat. (al-Inshaf, 2/378).

Dan pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam (al-Ikhtiyarat, hlm. 79)

Pendapat ini pula yang dipilih ulama muashirin, seperti Imam as-Sa’di (al-Fatawa as-Sa’diyah, hlm. 133), Imam Ibnu Baz (fatwa Ibnu Baz, no. 4684) dan Imam Ibnu Utsaimin. Dalam as-Syarh al-Mumthi, beliau mengatakan,

وأقرب الأقوال إلى الصواب: أنها تنعقد بثلاثة، وتجب عليهم

Pendapat yang paling mendekati kebenaran, jumatan sah jika pelaksananya 3 orang. Dan menjadi kewajiban mereka. (as-Syarh al-Mumthi’, 5/41).

Dalil pendapat pertama,

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

Dalil pertama, firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.. (QS. al-Jumu’ah: 9)

Dalam ayat ini, Allah perintahkan orang-orang yang beriman dalam bentuk kata ganti jamak. Dan ukuran jamak minimal dalam bahasa arab adalah 3 orang. Sehingga jika ada 3 orang, mereka wajib jumatan.

Dalil kedua adalah hadis dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا كانوا ثلاثة في سفر فليؤمهم أحدهم , وأحقهم بالإمامة أقرؤهم

Apabila ada 3 orang melakukan safar, hendaknya salah satu jadi imam. Dan yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalan al-Qurannya. (HR. Muslim 672).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan 3 orang untuk menunjuk salah satu jadi imam, melaksanakan shalat jamaah. Dan ini mencakup jamaah biasa dan jumatan.

Demikian pula hadis dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ

Jumatan itu kewajiban bagi setiap muslim untuk dilakukan secara berjamaah. (HR. Abu Daud 1069 dan dishhaihkan al-Albani).

Beliau menyebut bahwa jumatan harus dilakukan secara berjamaah. Dan layak disebut jamaah jika jumlahnya 3 orang atau lebih. Disamping itu, disyariatkan adanya khutbah yang harus disengarkan oleh sekelompok orang. Sehingga harus ada 2 makmum yang mendengarkannya.

Tarjih

(pemilihan pendapat yang kuat)

Kami sebutkan keterangan al-Allamah Siddiq Hasan Khan,

والعجب من كثرة الأقوال في تقدير العدد حتى بلغت إلى خمسة عشر قولا ليس على شيء منها دليل يستدل به قط إلا قول من قال : إنها تنعقد جماعة الجمعة بما تنعقد به سائر الجماعة

Yang mengherankan, adanya banyaknya pendapat yang menetapkan jumlah jamaah jumatan, hingga mencapai 15 pendapat, dan tidak ada satupun dari jumlah itu yang memiliki dalil khusus sama sekali. Kecualil pendapat yang mengatakan bahwa jumatan sah dengan jumlah jamaah yang memenuhi persyaratan shalat jamaah pada umumnya. (al-Mau’idzah al-Hasanah, dinukil dari al-Ajwibah an-nafi’ah, hlm. 39).

Keterangan semisal juga dinyatakan oleh as-Syinqithi,

والواقع أن كل هذه الأقوال ليس عليها مستند يعول عليه في العدد بحيث لو نقص واحد بطلت

Kenyataannya semua penndapat ini tidak memiliki landasan dalil yang menjelaskan bilangan tertentu sebagai syarat jumatan, dimana jika kurang satu maka jumatannya tidak sah. (Adhwaul Bayan, 8/182).

Dan dari sekian pendapat, yang lebih kuat adalah pendapat keempat, bahwa jumatan minimal harus dilaksanakan 3 orang orang termasuk imam. Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Karena ini jumlah minimal untuk disebut jamaah dalam jumatan.

Lajnah Daimah pernah ditanya tentang jumlah minimal jumatan,

Jawaban Lajnah,

إقامة الجمعة واجبة على المسلمين في قراهم يوم الجمعة ويشترط في صحتها الجماعة . ولم يثبت دليل شرعي على اشتراط عدد معين في صحتها ، فيكفي لصحتها إقامتها بثلاثة فأكثر

Melaksanakan jumatan hukumnya wajib bagi setiap muslim di kampung mereka pada hari jumat, dan disyaratkan agar jumatannya sah, harus dilakukan berjamaah. Dan tidak ada dalil syar’i yang menyebutkan syarat dengan jumlah bilangan tertentu. Sehingga cukup dinilai sah jika dilaksanakan 3 orang atau lebih.

(Fatawa Lajnah, no. 1794)

Demikian,

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mimpi basah di masjid

Mimpi Basah

Assalamu’alaikum ustadz…

Usia saya masih muda, saya pernah mimpi basah tapi saya ragu untuk mandi besar, karena pada saat sperma saya mau keluar di dalam mimpi, mimpinya tiba-tiba tak berlanjut ( sperma gak keluar ).

Setelah itu tangan saya suka usil. Kemaluan saya, saya usilin dan keluar sperma dengan sendirinya. Saya semakin ragu untuk mandi besar. Pertama karena saya anggap saya belum mimpi basah. Kedua karena saya keluarkan sperma diluar mimpi basah. Pertanyaannya apakah saya harus mandi besar, karena saya ragu untuk mandi besar. Trims

Dari M. Adrian

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Masalah kewajiban mandi junub, tidak dikaitkan dengan mimpi dan bukan mimpi. Karena mimpi dalam islam, tidak dihitung sebagai amal. Amal baik maupun amal jahat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رفع القلم عن ثلاثة عن المجنون المغلوب على عقله حتى يفيق وعن النائم حتى يستيقظ وعن الصبى حتى يحتلم

“Pena catatan amal itu diangkat (tidak dicatat amalnya, pen.), untuk tiga orang: orang gila sampai dia sadar, orang yang tidur sampai dia bangun, dan anak kecil sampai dia balig.” (HR. Nasa’i 3432, Abu Daud 4398, Turmudzi 1423, dan disahihkan Syuaib al-Arnauth)

Karena itulah, aturan mengenai mimpi basah dikaitkan dengan keluarnya mani.

Masalah mimpi, terkadang orang lupa. Dan terkadang orang tidak terasa bermimpi tapi keluar mani. Apapun itu, selama anda keluar mani, maka wajib mandi.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

Ada seorang sahabat wanita yang bernama Ummu Sulaim, beliau pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي مِنَ الحَقِّ، فَهَلْ عَلَى المَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ؟

Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam menjelaskan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi junub ketika dia bermimpi?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ، إِذَا رَأَتِ المَاءَ

”Ya, apabila dia melihat air mani.”

Mendengar dialog ini, Ummu Salamah tersenyum dan keheranan, “Apa wanita juga mimpi basah?” kemudian direspon oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ، تَرِبَتْ يَمِينُكِ، فَبِمَ يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا

“Ya jelas, lalu ada dari mana ada kemiripan anaknya.” (HR. Bukhari 3328 & Muslim 313).

Berdasarkan hadis di atas, orang yang mengalami mimpi basah ada dua keadaan:

Pertama, dia melihat ada bekas air mani. Selema orang yang bangun tidur melihat bekas air mani, dia wajib mandi besar, sekalipun dia tidak ingat mimpinya.

Kedua, dia tidak melihat bekas air mani, artinya tidak ada yang keluar. Dalam kondisi ini, dia tidak wajib mandi, sekalipun dia ingat betul ketika tidur dia mimpi melakukan hubungan badan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

cara aqiqah dan mencukur bayi

Aqiqah Untuk Janin Keguguran

Assalamualaikum, selamat pagi. ustad, saya pernah keguguran pada usia janin baru 3,5 bulan gara2 janin tidak berkembang. yang ingin saya tanyakan. apakah janin itu harus di aqikah dan d beri qurban seperti. pada umunya. karena detak jantung janin sudah terdengar walaupun janin baru brukuran beberapa cm.

Dari Leely Vita Pirdiah via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berikut fatwa yang disampaikan Lajnah Daimah terkait hukum yang berlaku untuk janin keguguran,

إذا كان الجنين سقط قبل أربعة أشهر، فلا يسمى، وليس له عقيقة، إنما العقيقة والتسمية لمن سقط في الخامس، أو بعد ما نفخت فيه الروح؛ لأنه يكون آدميًّا له حكم الأفراط، فيذبح عنه ويسمى ويغسل ويصلى عليه إذا سقط في الخامس وما بعده، بعد نفخ الروح فيه

Apabila janin keguguran sebelum usia 4 bulan, tidak perlu diberi nama, tidak ada aqiqah. Karena aqiqah dan diberi nama hanya bagi keguguran di usia masuk 5 bulan atau setelah ditiupkan ruh ke janin. Karena dia dihukumi manusia, menjadi al-Afrath (anak yang akan menolong orang tuanya). Sehingga dia diberi aqiqah, diberi nama, dimandikan, dan dishalati. Ini jika keguguran di bulan kelima atau setelahnya, setelah ditiupkan ruh.

أما ما يسقط في الرابع أو في الثالث فهذا ليس له حكم الأفراط، لكن إذا كانت الخلقة قد بينت فيه صفات آدمي من رأس أو يد أو رجل أو نحو ذلك يكون له حكم النفاس، يكون للأم حكم النفاس، لا تصلي ولا تصوم، وأما هو فليس له حكم الأطفال، وليس له حكم الأجنة، بل يدفن في أي مكان ويكفي، ولا يغسل، ولا يصلى عليه، أي لا يكون آدميًّا

Sementara keguguran di usia belum genap 4 bulan atau baru masuk 3 bulan, tidak dihukumi al-Afrath. Akan tetapi jika wujud janin seperti manusia, ada kepalanya, tangannya, kaki, atau organ lainnya, maka sang ibu berlaku hukum nifas. Dia tidak boleh shalat, atau puasa. Sementara janinnya, tidak dianggap sebagai anak kecil. Namun dia bisa dikuburkan dimanapun, tidak perlu dimandikan, atau dishalati, karena tidak dihukumi manusia. (Fatawa Lajnah Daimah, 18/249)

Berdasarkan fatwa di atas, janin anda tidak perlu diaqiqahi karena keguguran yang terjadi sebelum usia 4 bulan atau belum ditiupkan ruh.

Apakah sang ibu harus mengalami nifas, bisa dipelajari di: Hukum Shalat Wanita yang Mengalami Keguguran

Demikian, Allah a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tidak bisa shalat jumat

Menjamak Ashar dengan Jumatan?

Bolehkah menjamak shalat asar dengan jumatan? Matur nuwun.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat tentang hukum menjamak shalat asar dengan jumatan.

Pendapat pertama, hukumnya boleh.

Ini merupakan pendapat Syafiiyah, dibenaran oleh as-Suyuthi, az-Zarkasyi, dan yang difatwakan ar-Ramli.

Diantara dalil pendapat ini,

Jumatan diqiyaskan dengan shalat zuhur. Sehingga bisa diqiyaskan dengan shalat asar.

Pendapat kedua, hukumnya terlarang.

Ini merupakan pendapat madzhab hambali dan sebagian ulama syafiiyah.

Diantara dalil pendapat ini,

Pertama, bahwa tidak dijumpai dalil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak jumatan dengan shalat asar.

Kedua, mengqiyaskan jumatan dengan shalat dzuhur adalah qiyas yang bertentangan dengan objek qiyas (qiyas ma’al fariq). Di sana ada perbedaan yang sangat jelas antara jumatan dengan shalat dzuhur.

Ketiga, hukum asal shalat harus dikerjakan tepat waktu, hingga terdapat dalil yang membolehkan jamak. Sementara tidak dijumpai dalil itu.

Dalam as-Syarh al-Mumthi dinyatakan,

وفيه شرط خامس: أن لا تكون صلاة الجمعة، فإنّه لا يصح أن يجمع إليها العصر، وذلك لأن الجمعة صلاة منفردة مستقلة في شروطها وهيئتها وأركانها وثوابها أيضاً، ولأن السنّة إنما وردت في الجمع بين الظهر والعصر، ولم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه جمع العصر إلى الجمعة أبداً،

فلا يصح أن تقاس الجمعة على الظهر لما سبق من المخالفة بين الصلاتين، بل حتى في الوقت على المشهور من مذهب الحنابلة فوقتها من ارتفاع الشمس قدر رمح إلى العصر، والظهر من الزوال إلى العصر وأيضاً الجمعة لا تصح إلا في وقتها، فلو خرج الوقت تصلّى ظهراً، والظهر تصح في الوقت وتصح بعده للعذر.

Terdapat syarat yang kelima untuk bolehnya jamak, yaitu selain jumatan. Karena tidak sah menjamak jumatan dengan shalat asar. Karena jumatan adalah shalat tersendiri, memiliki syarat, tata cara, rukun, dan janji pahala yang berbeda dengan shalat dzuhur. Karena yang ada dalam dalil adalah jamak antara dzuhur dan asar. Sementara tidak dijumpai riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menjamak shalat asar dengan jumatan.

Karena itu, tidak benar mengqiyaskan antara jumatan dengan shalat dzuhur. Terdapat perbedaan sangat jelas antara kedua shalat ini. Bahkan sampai dalam masalah waktu pelaksanaannya. Menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab hambali, waktu jumatan dimulai sejak matahari sudah meninggi hingga mendekati asar. Sementara waktu dzuhur antara tergelincirnya matahari sampai menjelang asar. Demikian pula, jumatan tidak boleh dilakukan kecuali di batas waktu yang ditentukan. Jika waktu shalat jumat telah habis, diganti dengan dzuhur. Karena shalat dzuhur bisa dilakukan setelah waktunya setelah udzur.

(as-Syarh al-Mumthi’, 4/402).

InsyaaAllah pendapat kedua yang lebih kuat. Atau setidaknya lebih mendekati sikap hati-hati.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jual beli kucing

Jual Beli Kucing

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama melarang jual beli kucing, bahkan mengharamkannya. Ini merupakan pendapat Zahiriyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Ibnul Mundzir menyebutkan, bahwa pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Diantara hadis yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Abu Az-Zubair, bahwa beliau pernah bertanya kepada Jabir tentang hukum uang hasil penjualan anjing dan Sinnur. Lalu sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal itu. (HR. Muslim 1569).

Dalam riwayat lain dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makan uang hasil penjualan anjing dan sinnur. (HR. Abu Daud 3479, Turmudzi 1279, dan dishahihkan al-Albani).

Sinnur artinya kucing.

As-Syaukani mengatakan,

فيه دليل على تحريم بيع الهر وبه قال أبو هريرة ومجاهد وجابر وابن زيد حكى ذلك عنهم ابن المنذر وحكاه المنذري أيضا عن طاوس وذهب الجمهور إلى جواز بيعه

Dalam hadis ini terdapat dalil haramnya menjual kucing dan ini merupakan pendapat Abu Hurairah, Mujahid, Jabir, dan Ibnu Zaid. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Mundzir. Kemudian al-Mundziri menyebutkan bahwa ini juga pendapat Thawus. Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat, boleh melakukan jual beli kucing.

Para ulama yang membolehkan jual beli kucing beralasan, bahwa hadis di atas statusnya dhaif. Namun menilai hadis di atas dhaif adalah penilaian yang tidak bisa diterima.

Ketika membahas tentang hadis yang melarang jual beli kucing, An-Nawawi mengatakan,

وأما ما ذكره الخطابي وابن المنذر أن الحديث ضعيف فغلط منهما ، لأن الحديث في صحيح مسلم بإسناد صحيح

Apa yang dinyatakan al-Khithabi dan Ibnul Mundzir bahwa hadis di atas statusnya dhaif, adalah kesalahan. Karena hadis ini ada di shahih Muslim dengan sanad yang shahih. (al-Majmu’, 9/230)

Ada juga yang mengatakan bahwa larangan dalam hadis itu sifatnya makruh atau khusus untuk kucing liar. Namun ini dibantah oleh as-Syaukani. Beliau menegaskan,

ولا يخفى أن هذا إخراج للنهي عن معناه الحقيقي بلا مقتض

Tidak diragukan bahwa pemahaman semacam ini berarti memahami larangan dalam hadis itu dari maknanya yang haqiqi tanpa indikasi apapun. (Nailul Authar, 5/204).

Al-Baihaqi mengatakan – sebagai bantahan untuk pendapat jumhur – ,

وقد حمله بعض أهل العلم على الهر إذا توحش فلم يقدر على تسليمه ، ومنهم من زعم أن ذلك كان في ابتداء الإسلام حين كان محكوماً بنجاسته ، ثم حين صار محكوماً بطهارة سؤره حل ثمنه ، وليس على واحد من هذين القولين دلالة بينة

Sebagian ulama memahami bahwa larangan ini berlaku untuk kucing liar yang tidak bisa ditangkap. Ada juga yang mengatakan bahwa larangan ini berlaku di awal islam ketika kucing dinilai sebagai hewan najis. Kemudian setelah liur kucing dihukumi suci, boleh diperjual belikan. Namun kedua pendapat ini sama sekali tidak memiliki dalil pendukung. (Sunan al-Kubro, al-Baihaqi, 6/11).

Ibnul Qoyim juga menegaskan bahwa jual beli kucing hukumnya haram. Dalam Zadul Ma’ad, beliau mengatakan,

وكذلك أفتى أبو هريرة رضي الله عنه وهو مذهب طاووس ومجاهد وجابر بن زيد وجميع أهل الظاهر ، وإحدى الروايتين عن أحمد ، وهو الصواب لصحة الحديث بذلك ، وعدم ما يعارضه فوجب القول به

Demikian pula yang difatwakan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dan ini pendapat Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, dan semua ulama Zahiriyah, serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad, bahwa jual beli kucing hukumnya terlarang. Inilah yang benar karena hadisnya shahih, dan tidak ada dalil lain yang bertentangan dengannnya. Sehingga kita wajib mengikuti hadis ini. (Zadul Ma’ad, 5/685).

Demikian, Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hari sabtu

Puasa Hari Sabtu?

Benarkah puasa hari sabtu dilarang? Bagaimana jk bertepatan d hari puasa daud? Syukron ustad.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita perhatikan beberapa hadis berikut,

Pertama, hadis larangan hari sabtu,

Dari Abdullah bin Busr dari Saudarinya, yang bernama as-Shamma’, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلا فِيمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلا لِحَاءَ عِنَبَةٍ ، أَوْ عُودَ شَجَرَةٍ فَلْيَمْضُغْهُ

Janganlah kalian berpuasa hari sabtu, kecuali untuk puasa yang Allah wajibkan. Jika kalian tidak memilliki makanan apapun selain kulit anggur atau batang kayu, hendaknya dia mengunyahnya. (HR. Turmudzi 744, Abu Daud 2421, Ibnu Majah 1726, dan dishahihkan al-Albani).

Secara tekstual, hadis ini menegaskan tidak boleh puasa di hari sabtu, selain puasa wajib. Untuk menekankan larangan itu, beliau membuat pengandaian, sampaipun orang tidak memiliki makanan, dia diharuskan mengunyah apapun yang bisa dikunyah.

Kedua, hadis yang membolehkan puasa hari sabtu

Hadis pertama, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَه

Janganlah kalian melakukan puasa di hari jumat saja, kecuali jika dia iringi dengan puasa sehari sebelumnya atau setelahnya. (HR. Bukhari 1985 & Muslim 1144)

Hadis kedua, dari Juwairiyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui beliau ketika hari jumat, sementara Juwairiyah sedang puasa.

Beliau tanya, “Apa kemarin kamu puasa?”

“Tidak.” Jawab Juwairiyah.

“Besok kamu punya keinginan untuk puasa?” tanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Tidak.” Jawab Juwairiyah.

Kemudian beliau meminta agar Juwairiyah membatalkan puasanya. (HR. Bukhari 1986).

Dua hadis ini menunjukkan bolehnya puasa di hari sabtu, terutama untuk mengiringi puasa hari jumat.

Kesimpulan:

Ulama berbeda pendapat dalam memahami hadis-hadis di atas. Ada sebagian ulama yang mengatakan terlarang puasa hari sabtu. Ada yang mengatakan, larangan itu sifatnnya hanya makruh. Dan ada yang memberikan rincian, jika puasa hari sabtu tidak dilakukan secara khusus, hukumnya boleh. Tapi jika dalam rangka khusus puasa hari sabtu, hukumnya makruh. Pendapat ketiga inilah yang lebih tepat.

Seusai menyebutkan hadis Abdullah bin Busr tentang larangan puasa, Turmudzi mengatakan,

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ ، وَمَعْنَى كَرَاهَتِهِ فِي هَذَا أَنْ يَخُصَّ الرَّجُلُ يَوْمَ السَّبْتِ بِصِيَامٍ لأَنَّ الْيَهُودَ تُعَظِّمُ يَوْمَ السَّبْتِ

Hadis ini hasan. Makna larangan beliau di sini adalah seseorang mengkhusus puasa di hari sabtu. Karena orang yahudi mengagungkan hari sabtu. (Jami’ Turmudzi)

Semacam ini pula yang menjadi pendapat madzhab Hambali, sebagaimana keterangan Ibnu Qudamah,

قال أصحابنا : يكره إفراد يوم السبت بالصوم … والمكروه إفراده , فإن صام معه غيره ; لم يكره ; لحديث أبي هريرة وجويرية . وإن وافق صوما لإنسان , لم يكره

Ulama madzhab kami (hambali), dimakruhkan puasa hari sabtu saja… hukum makruh jika hanya puasa sabtu saja. Jika diiringi dengan puasa di hari yang lain, tidak makruh. Berdasarkan hadis Abu Hurairah dan Juwairiyah Radhiyallahu ‘anhuma. Juga ketika bertepatan dengan hari puasa wajib, tidak makruh. (al-Mughni, 3/52).

Puasa Hari Sabtu Ada 5

Imam Ibnu Utsaimin memberikan rincian hukum puasa di hari sabtu menjadi 5 keadaan,

Pertama, puasa wajib di hari sabtu, seperti puasa ramadhan, atau qadha ramadhan, atau puasa nadzar, atau kaffarah, atau puasa pengganti hadyu bagi yang melakukan haji tamattu’. Hukum puasa ini dibolehkan, selama tidak dia lakukan dalam rangka memuliakan hari sabtu, karena diyakini memiliki keistimewaan.

Kedua, puasa di hari sabtu dalam rangka mengiringi puasa di hari jumat. Hukumnya dibolehkan. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis Abu Hurairah dan Juwairiyah Radhiyallahu ‘anhuma.

Ketiga, puasa di hari sabtu karena bertepatan dengan waktu puasa sunah, seperti ayyam al-bidh (tanggal 13, 14, dan 15 bulan qamariyah), atau bertepatan dengan puasa Asyura, atau 6 hari di bulan Syawal bagi yang telah puasa ramadhan, atau bertepatan dengan 9 Dzulhijjah, hukumnya  dibolehkan. Orang ini melakukan puasa bukan karena hari sabtu, namun dia puasa di hari sabtu karena bertepatan dengan hari anjuran puasa.

Keempat, puasa hari sabtu karena bertepatan dengan puasa rutinitasnya. Misalnya orang yang melakukan puasa daud. Dan ketika hari sabtu, bertepatan dengan hari dia berpuasa. Hukumnya dibolehkan.

Dalilnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang untuk mendahului ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali bertepatan dengan hari puasa sunah seseorang.

Kelima, orang yang puasa hari sabtu dalam rangka mengistimewakan hari sabtu.  Imam Ibnu Utsaimin menegsakan untuk jenis yang kelima ini,

فهذا محل النهي إن صح الحديث في النهي عنه

Inilah bagian yang terlarang, jika hadis yang melarang statusnya shahih.

(Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 20/57)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,266FansLike
3,935FollowersFollow
30,078FollowersFollow
61,507SubscribersSubscribe

RAMADHAN