tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
FIKIH

dapat warisan

Bantuan dari hasil pembagian warisan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya mau tanya mengenai hasil dari hukum waris.

Misalkan dalam satu keluarga ada salah satu anggota keluarga status janda tanpa anak, belum mempunyai pekerjaan dan belum memilik rumah.

Semua anggota keluarga sepakat untuk menjual rumah warisan dari almarhum kedua orang tua. Dari Hasil penjualan rumah dibuat pembagian warisan sesuai hukum agama Islam.

Dari hasil pembagian waris yang sudah diterima, apakah ada kewajiban dari masing-masing anggota keluarga menurut hukum Syariat Islam untuk atau harus membantu salah satu anggota keluarga tersebut diatas yang membutuhkan untuk urunan dana membelikan satu rumah dan modal usaha.

Mohon pencerahan agar saya bicara dengan semua anggota keluarga mempunyai dasar hukum sesuai Syariat Islam.

Terima kasih.

Dari Djaya Setiaman

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah berfirman,

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (QS. An-Nisa: 8)

Ayat ini mengajarkan kepada kita salah satu bentuk latihan kedermawanan dalam hidup. Ketika kita melakukan proses pembagian warisan bersama para ahli waris, Allah mengajarkan agar kita tidak melupakan kerabat atau orang lain yang bukan termasuk ahli waris. Terlebih ketika mereka hadir dalam proses pembagian warisan itu.

Imam as-Sa’di menafsirkan ayat ini,

أعطوهم ما تيسر من هذا المال الذي جاءكم بغير كد ولا تعب، ولا عناء ولا نَصَب، فإن نفوسهم متشوفة إليه، وقلوبهم متطلعة، فاجبروا خواطرهم بما لا يضركم وهو نافعهم.

Berikanlah harta yang tidak memberatkan dirimu. Harta yang kalian dapatkan tanpa usaha keras dan tanpa melalui rasa lelah. Sehingga jiwa mereka (selain ahli waris) sangat berharap mendapatkannya. Karena itu, tutupi angan-angan di hati mereka dengan memberikan sedikit harta yang tidak mengurangi milik kalian, sementara itu sangat bermanfaat bagi mereka. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 165).

Pada umumnya, harta warisan diperoleh para ahli waris tanpa melalui usaha apapun, dan tanpa kerja keras. Sementara umumnya orang lain bisa memprediksi, berapa nilai warisan yang diterima tetangganya. Karena dia tahu tanah sawah, kebun, rumah atau kendaraan yang menjadi warisan tetangganya. Jika tetangga saja tahu, apalagi kerabat dekatnya. Mungkin dia lebih tahu secara detail apa saja harta warisan yang diterima keluarganya. Sementara manusia tidak bisa lepas dari karakter hasad dan dengki dalam dirinya.

Untuk menghilangkan munculnya buruk sangka dari orang lain, terutama kerabat yang tidak mendapat warisan itu, serta meredam peluang munculnya permusuhan karena hasad, Allah perintahkan kita, ‘maka berilah mereka sebagian dari harta itu’ dengan nilai yang tidak memberatkan kita. Sehingga jalinan silaturahmi tetap terjaga. Inilah yang kami sebut dengan cipratan warisan.

Al-Qurthubi membawakan keterangan dari Ibnu Abbas,

أَمَرَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ قِسْمَةِ مَوَارِيثِهِمْ أَنْ يَصِلُوا أَرْحَامَهُمْ، وَيَتَامَاهُمْ وَمَسَاكِينَهُمْ مِنَ الْوَصِيَّةِ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ وَصِيَّةٌ وَصَلَ لَهُمْ مِنَ الْمِيرَاثِ

Allah memerintahkan orang yang beriman ketika membagi warisan, agar tetap menjaga silaturahmi dengan kerabat mereka, atau anak yatim, atau orang miskin, dalam bentuk memberikan wasiat untuk mereka. Jika tidak ada wasiat, hubungan itu dijaga dalam bentuk memberikan cipratan warisan. (Tafsir al-Qurthubi, 5/49)

Wajib ataukah Sunah?

Pendapat yang benar bahwa ayat ini tidak mansukh dengan ayat warisan dan wasiat. Ini merupakan pendapat sahabat Abu Musa al-Asy’ari, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, Urwan bin Zubair dan beberapa ulama tabiin lainnya.

Kemudian, apakah perintah memberikan cipratan warisan kepada selain ahli waris, ini statusnya wajib ataukah anjuran?

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat,

Pendapat pertama, perintah ini statusnya wajib sesuai kerelaan hati. Sebagaimana memberikan barang ringan kepada orang yang membutuhkan, yang Allah perintahkan di surat al-Ma’un. Ibnu Katsir menyebutkan beberapa ulama yang berpendapat wajib, diantaranya; Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Abdurrahman bin Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhum, serta Abul Aliyah, as-Syabi, Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Said bin Jubair, dan an-Nakha’i.

Pendapat kedua, perintah ini hukumnya anjuran dan tidak wajib. Dan inilah pendapat

An-Nuhas. beliau mengatakan,

فَهَذَا أَحْسَنُ مَا قِيلَ فِي الْآيَةِ، أَنْ يَكُونَ عَلَى النَّدْبِ وَالتَّرْغِيبِ فِي فِعْلِ الْخَيْرِ، وَالشُّكْرِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Pendapat palig kuat tentang ayat, bahwa hukumnya anjuran dan dorongan untuk melakukan kebaikan da bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dan pendapat yang dinilai kuat oleh al-Qurthubi. Beliau mengatakan,

وَالصَّحِيحُ أَنَّ هَذَا عَلَى النَّدْبِ، لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ فَرْضًا لَكَانَ اسْتِحْقَاقًا فِي التَّرِكَةِ وَمُشَارَكَةً فِي الْمِيرَاثِ، لِأَحَدِ الْجِهَتَيْنِ مَعْلُومٌ وَلِلْآخَرِ مَجْهُولٌ. وَذَلِكَ مُنَاقِضٌ لِلْحِكْمَةِ، وَسَبَبٌ لِلتَّنَازُعِ وَالتَّقَاطُعِ

Yang benar, ini bersifat anjuran. Karena jika ini hukumnya wajib, tentu mereka berhak mendapatkan warisan dan memiliki bagian untuk mengambil warisan. Hanya saja, ada yang besar nilai warisannya telah ditentukan (yaitu para ahli waris) dan ada yang besar nilai warisannya tidak ditentukan (para kerabat, anak yatim dan orang miskin). Dan jelas ini bertentangan dengan hikmah adanya pembagian warisan dan sebab pemicu permusuhan dan sengketa. (Tafsir al-Qurthubi, 5/49)

Berdasarkan keterangan di atas, anda boleh bahwa dianjurkan untuk mengajak para saudara yang mendapatkan harta waris, agar menyisihkan sebagian warisan mereka untuk diberikan kepada janda itu. Sebagai perekat ikatan kekeluargaan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

rambut rontok

Rambut Rontok Sebelum Menyembelih Qurban

Bagaimana hukumnya rambut rontok yang dialami sohibul qurban, sementara dia belum menyembelih?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Semua perbuatan dan pelanggaran di luar kesengajaan kita, tidak dihitung sebagai kesalahan.

Allah ta’ala berfirman,

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami ketika kami lupa atau tidak sengaja. (QS. Al-Baqarah: 286).

Dan Allah telah menjanjikan untuk mengabulkan doa ini. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Muslim (no. 345).

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وإذا أخذ شيئاً من ذلك ناسياً أو جاهلاً أو سقط الشعر بلا قصد فلا إثم عليه، وإن احتاج إلى أخذه فليأخذه ولا شيء عليه، مثل أن ينكسر ظفره فيؤذيه فيقصه، أو ينزل الشعر في عينيه فيزيله، أو يحتاج إلى قصه لمداواة جرح ونحوه

Apabila pemilik hewan qurban memotong rambut atau kukunya karena lupa atau tidak tahu, atau rambutnya rontok tanpa ada maksud darinya, maka tidak ada dosa baginya. Dan jika dia sangat membutuhkan untuk memotongnya, boleh dia potong, dan itu boleh baginya. Misalnya, kukunya pecah sehingga mengganggu, lalu dia potong atau ada rambut yang mengenai matanya, kemudian dia hilangkan, atau dia sangat butuh untuk memotong rambutnya untuk mengobati luka, atau semacamnya.

http://www.saaid.net/mktarat/hajj/39.htm

Karena itu, para pemilik qurban yang rambutnya rontok atau kukunya rusak, yang semua terjadi di luar kesengajaan, tidak ada tanggung jawab apapun baginya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hari arofah

Hari Arofah, Hari yang Paling Banyak Allah Bebaskan Hamba dari Neraka

Benarkah hari arafah paling banyak Allah membebaskan dari neraka?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Terdapat dalam hadis dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

Tidak ada satu hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka, melebihi hari arafah. Sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Allah membanggakan mereka di hadapan para Malaikat. Allah berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?’ (HR. Muslim 3354, Nasai 3003, dan yang lainnya).

Di hari arafah, Allah membanggakan para hamba-Nya yang wukuf di arafah. Karena mereka rela melepaskan semua atribut dunia dan kenikmatan dunia, untuk berkumpul di arafah.

Kita bisa membayangkan kondisi arafah di zaman para sahabat. Jangan anda bayangkan bahwa kondisi mereka seperti jemaah haji kita saat ini. Jemaah haji Indonesia hanya menempuh 10 jam untuk tiba di tanah suci, sedangkan para sahabat harus menempuhnya kurang lebih dalam 10 hari. Jemaah kita menaiki pesawat yang full AC, sedangkan para sahabat hanya mengendarai unta dengan terpaan hawa panas gurun sahara.

Dapat dipastikan bahwa setelah 10 hari lebih dalam keadaan ihram, rambut mereka pasti kusut dan berdebu.

Mereka juga tidak tinggal dalam kemah yang sejuk dengan makanan yang melimpah. Mayoritas sahabat -termasuk Rasulullah- justru melalui hari yang demikian terik tadi tanpa naungan apapun.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membanggakan orang yang wukuf di Arafah pada siang hari arafah. Allah berfirman, ‘Lihatlah kepada para hamba-Ku. Mereka mendatangi-Ku dengan rambut kusut dan badan berdebu.’ (HR. Ahmad 7288 dan dishahihkan al-Albani).

Singkatnya, pada hari itu terkumpullah pada mereka sejumlah faktor penting penyebab terkabulnya doa. Mulai dari kondisi yang memprihatinkan, waktu dan tempat yang mulia, hingga dekatnya Allah kepada mereka.

Di saat itulah, doa menjadi sangat mustajab. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Sebaik-baik doa, adalah doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik doa yang kupanjatkan dan dipanjatkan oleh para nabi sebelumku, adalah

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ

“Tiada ilah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya. MilikNya semua kerajaan, dan bagiNya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (HR. Tirmidzi 3934 dan dihasankan al-Albani).

Semoga Allah memudahkna kita untuk menyusul mereka yang mendahului kita dalam kebaikan.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hari raya berbeda

Qurban hari Sabtu, Shalat Hari Raya Ahad

Bolehkah menyembelih qurban hari sabtu, sementara saya ikut shalat hari ahad?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Qurban adalah ibadah yang terikat dengan banyak aturan. Qurban bukan semata menyembelih hewan, namun qurban adalah rangkaian ibadah menyembelih hewan (Baca: Penentuan Hari Raya Antara Saudi dengan Indonesia)

Diantara aturan dalam qurban, menyembelih baru boleh dilakukan jika pemilik hewan telah melaksanakan shalat id.

Dari al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ

Siapa yang melaksanakan shalat id dan berqurban sesuai aturan kami, maka dia telah mengamalkan qurban yang benar. Dan siapa yang menyembelih qurban sebelum shalat, maka sembelihannya sebelum shalat, dan dia tidak dianggap melaksanakan qurban. (HR. Bukhari 912).

Kejadian menyembelih qurban sebelum shalat, pernah dialami oleh sahabat Abu Burdah bin Niyar – pamannya al-Barra’ bin Azib –, dia menyembelih hewan qurbannya sebelum berangkat ke lapangan, dengan harapan bisa segera sarapan dengan daging qurban. Dia mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ

Ya Rasulullah, saya menyembelih kambingku sebelum shalat. Karena saya tahu ini hari makan dan minum. Saya ingin agar kambingku pertama kali disembelih di rumahku. Sayapun menyembelih kambingku, dan saya sarapan dengannnya sebelum berangkat shalat.

Apa jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Beliau mengatakan,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanya kambing daging.” (HR. Bukhari 912)

Yang dimaksud, ‘kambingmu hanya kambing daging’

Artinya dia tidak dinilai berqurban, sehingga tidak mendapatkan pahala berqurban. Meskipun daging hewan yang disembelih itu halal dimakan. Karena tidak sah sebagai qurban, bukan berarti dia menjadi tidak halal untuk dimakan. Selama cara penyembelihannya benar, hewan itu halal dimakan.

Contoh Kasus lain:

Diantara syarat sah qurban adalah syarat yang terkait kepemilikan hewan (Baca: Tabungan Qurban Kolektif) . Sapi maksimal dimiliki 7 orang dan kambing hanya boleh dimiliki satu orang. Jika lebih dari itu, maka tidak memenuhi syarat sah kepemilikan.

Sekelompok siswa atau mahasiswa urunan 50 orang untuk membeli seekor kambing atau seekor sapi, kemudian disembelih di hari qurban, ini tidak dinilai sebagai qurban.

Jika itu bukan qurban, lalu apa statusnya?

Jawabannya:

Statusnya sembelihan biasa. Dagingnya halal dimakan, jika cara menyembelihnya benar. Meskipun tidak dihitung sebagai qurban.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

fikih haji

Meluruskan Istilah Haji Akbar (Bagian 02)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita telah membahas pengertian haji akbar (Baca: Meluruskan Istilah Haji Akbar (Bagian 01) ). Kita masih meninggalkan 3 catatan lagi terkait istilah haji akbar.

Keempat, mengapa hari nahr (hari kurban) disebut hari haji akbar?

Jika kita perhatikan, amalan yang dilakukan jamaah haji ketika tanggal 9 Dzulhijjah dengan amalan yang dilakukan tanggal 10 Dzulhijjah, jauh lebih banyak amalan yang dilakukan di tanggal 10 Dzulhijjah. Sehingga jamaah haji berada pada posisi sangat padat kegiatan, ketika masuk tanggal 10 Dzulhijjah (hari kurban). Berbagai kegiatan itu telah dimulai sejak malam tanggal 10 Dzulhijjah.

Di awal malam, mereka mulai meninggalkan wukuf atau ada yang masih wukuf,

Hingga tengah malam, mereka mabit di Muzdalifah,

Siang harinya mereka melakukan lempar jumrah, menyembelih hewan, thawaf ifadhah, sai, dan mencukur rambut.

Lajnah Daimah menjelaskan,

وسمي يوم النحر يوم الحج الأكبر؛ لما في ليلته من الوقوف بعرفة ، والمبيت بالمشعر الحرام، والرمي في نهاره، والنحر، والحلق، والطواف، والسعي من أعمال الحج، ويوم الحج هو الزمن، والحج الأكبر هو العمل فيه

Hari kurban (hari nahr) disebut haji haji akbar, karena sejak malamnya beranjak dari tempat wukuf di arafah, dan mabit di al-Masy’aril Haram, sementara siang harinnya banyak melakukan amalan haji, melempar jumrah, menyembelih hewan, mencukur rambut, thawaf, dan sai. Hari berhaji adalah waktu, sementara haji akbar adalah kegiatan yang dilakukan di waktu haji.

Sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=4010&PageNo=1&BookID=3

Kelima, tidak dijumpai adalah dalil yang menunjukkan bahwa pengertian haji akbar adalah hari arafah yang bertepatan dengan wukuf hari jumat. Bahkan sebagian ulama mengingkari pemahaman ini. Karena sama sekali tidak ada dasarnya. Diantaranya al-Mubarokfuri. Dalam Syarh Sunan Turmudzi, beliau mengatakan,

تنبيه قد اشتهر بين العوام أن يوم عرفة إذا وافق يوم الجمعة كان الحج حجا أكبر ولا أصل له

Catatan: terkenal di kalangan masyarakat awam bahwa apabila hari arafah bertepatan dengan hari jumat, maka haji ketika itu disebut haji akbar. Dan ini sama sekali tidak ada dalilnya. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/27).

Memang benar, sebagian ulama lebih mengistimewakan hari arafah yang bertepatan dengan hari jumat. Meskipun demikian, mereka tidak menyebut hari arafah itu sebagai haji akbar.

Mengapa hari arafah yang bertepatan dengan hari jumat nilainya lebih istimewa?

Ada beberapa alasan,

  1. Karena hari jumat adalah hari yang istimewa. Karena hari jumat adalah Sayyidul Ayyam (pemimpin semua hari). Sehingga wukuf di hari itu, terkumpul dua hari istimewa dalam islam, hari arafah dan hari jumat.
  2. Bertepatan dengan hari wukufnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga lebih menyamai sunah beliau.
  3. Doa di hari jumat, terutama di penghujung hari adalah doa yang mustajab. Sementara kegiatan orang yang wukuf di Arafah, banyak dihabiskan untuk berdoa. Sehingga ada peluang besar dikabulkan.

Sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=5&View=Page&PageNo=7&PageID=5001

Keenam, makna haji asghar

Haji akbar artinya haji besar. Ada istilah haji akbar, berarti di sana ada haji asghar (haji kecil). Sebagaimana para ulama berbeda pendapat tentang makna haji akbar, mereka juga berbeda pendapat tentang arti haji asghar. Berikut diataranya,

  1. Haji Asghar adalah umrah, ini merupakan pendapat mayoritas ulama, diantaranya as-Sya’bi, dan Atha’.
  2. Haji Asghar adalah hari arafah (9 Dzulhijjah). Kebalikan haji akbar yang berarti hari kurban (10 Dzulhijjah)
  3. Haji Asghar adalah haji ifrad dan haji akbar adalah haji qiran.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

اختلف في المراد بالحج الأصغر فالجمهور على أنه العمرة وقيل الحج الأصغر يوم عرفة والحج الأكبر يوم النحر، لأن فيه تكتمل بقية المناسك

Ulama berbeda pendapat tentang makna haji asghar. Mayoritas ulama mengatakan, maksud haji asghar adalah umrah. Ada juga yang mengatakan, haji asghar adalah hari arafah, dan haji akbar adalah hari kurban. Karena pada hari kurban (10 Dzulhijjah) kegiatan manasik sempurna. (Fathul Bari, 8/321)

Demikian, semoga bermanfaat..

Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

haji akbar

Meluruskan Istilah Haji Akbar (Bagian 01)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Segala puji bagi Allah yang mengajarkan semua nama dan istilah kepada Nabi Adam ‘’alaihis salam. Segala puji bagi Allah yang mengajarkan kita berbicara, yang menjadi pembeda antara kita dengan binatang. Dengan nikmat ini kita bisa menyebut berbagai benda dan keadaan di sekitar kita, sesuai dengan apa yang diajarkan.

Kita bisa menyebut ini bapak, ini ibu, ini baju, ini sandal, ini motor, ini kuda, dst,, karena orang tua yang mengajarkan. Demikian pula, kita bisa menyebut ini shalat, ini puasa, ini zakat, ini haji, dst, karena syariat yang mengajarkan. Oleh karena itu, bukan termasuk sikap yang baik, ketika seseorang menggunakan istilah untuk makna yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan.

Haji Akbar, saat ini menjadi salah satu istilah yang ramai dibicarakan masyarakat. dan kita bisa memahami penyebabnya, karena pemerintah saudi menetapkan hari arafah jatuh ada tanggal 3 oktober tepatnya di hari jumat.

Istilah haji akbar adalah istilah yang benar. Kita tidak mengingkari keberadaan istilah ini. Karena istilah ini ada dalam al-Quran dan hadis. Hanya saja, ada sebagian kaum muslimin yang memahami istilah ini dengan pemahaman yang tidak benar. Berikut kita akan memahami beberpaa catatan tentang istilah haji akbar,

Pertama, bahwa istilah haji akbar adalah istilah syariah. Istilah ini Allah sebutkan dalam al-Quran dan juga disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis. Allah berfirman,

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

“Inilah suatu maklumat dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.” (QS. At-Taubah: 3)

Kemudian, dalam hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ يَوْمَ النَّحْرِ بَيْنَ الْجَمَرَاتِ فِى الْحَجَّةِ الَّتِى حَجَّ فَقَالَ « أَىُّ يَوْمٍ هَذَا ». قَالُوا يَوْمُ النَّحْرِ. قَالَ « هَذَا يَوْمُ الْحَجِّ الأَكْبَرِ »

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari nahr (idul adha) beliau berdiri diantara tempat melempar jumrah, ketika haji wada’. Kemudian beliau bertanya, “Sekarang hari apa?”

“Hari Nahr (hari idul adha).” Jawab para sahabat.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ini adalah hari haji akbar.” (HR. Bukhari 1742, Abu Daud 1947, dan yang lainnya).

Oleh karena itu, sikap ekstrim dari sebagian dai yang menyatakan, ‘haji akbar itu tidak ada’, ‘tidak ada istilah haji akbar’, atau kalimat pengingkaran yang lainnya, ini jelas sikap yang tidak dibenarkan. Karena istilah ini ada dalam al-Quran dan hadis yang shahih, tidak mungkin diingkari.

Kedua, bersama ayat haji akbar

Allah berfirman,

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

“Inilah suatu maklumat dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.” (QS. At-Taubah: 3)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan haji wada’ di tahun 10 H. Di tahun sebelumnya, tahun 9 H, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu Bakr, Ali dan beberapa sahabat lainnya untuk pergi ke Mekah. Apa misi mereka? Tugas mereka adalah menyampaikan surat at-Taubah. Artinya, surat ini turun sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan ibadah haji wada’. Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan di tafsir at-Taubah,

وأول هذه السورة الكريمة نزل على رسول الله صلى الله عليه وسلم ، لما رجع من غزوة تبوك وهم بالحج، ثم ذُكر أن المشركين يحضرون عامهم هذا الموسم على عادتهم في ذلك، وأنهم يطوفون بالبيت عراة فكره مخالطتهم، فبعث أبا بكر الصديق، رضي الله عنه، أميرًا على الحج هذه السنة، ليقيم للناس مناسكهم، ويعلم المشركين ألا يحجوا بعد عامهم هذا، وأن ينادي في الناس ببراءة

Bagian awal surat ini turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepulang beliau dari Tabuk, dan mereka hendak berhaji. Kemudian disampaikan bahwa umumnya orang musyrikin melakukan haji di periode ini sesuai kebiasaan mereka. Dan mereka thawaf di Ka’bah sambil telanjang. Beliaupun tidak suka untuk berhaji bersama mereka. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu Bakr as-Shiddiq untuk menjadi Amir Haji di tahun ini (th. 9 H). Membimbing manusia melakukan manasik dan memberi tahu orang musyrik agar mereka tidak melakukan haji setelah tahun ini. Dan mengumumkan kepada orang musyrik permusuhan dari Allah dan Rasul-Nya. (Tafsir Ibn Katsir, 4/102)

Kenyataan ini menunjukkan bahwa istilah haji akbar tidak ada hubungannya dengan haji wada’ yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istilah haji akbar telah ada sebelum beliau melaksanakan haji wada’.

Ketiga, ulama berbeda pendapat tentang arti istilah ‘haji akbar’ yang disebutkan di ayat dan hadis di atas.

Pendapat pertama, hari haji akbar adalah hari wukuf di arafah. Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, dan salah satu pendapat Imam as-Syafii. Beliau beralasan, bahwa inti haji adalah arafah. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Inti haji adalah arafah.” (HR. Ahmad 19287, Nasai 3016, Turmudzi 889,  dan yang lainnya)

Pendapat kedua, hari haji akbar adalah hari idul adha. Ini penndapat mayoritas ulama, diantaranya Imam Malik dan Imam as-Syafii dalam salah satu pendapat.

An-Nawawi menyebutkan perbedaan pendapat ini,

وقد اختلف العلماء في المراد بيوم الحج الأكبر فقيل يوم عرفه وقال مالك والشافعي والجمهور هو يوم النحر ونقل القاضي عياض عن الشافعي أنه يوم عرفة وهذا خلاف المعروف من مذهب الشافعي

Ulama berbeda pendapat tentang makna hari haji akbar. Ada yang mengatakan, hari arafah. Imam Malik, as-Syafii dan mayoritas ulama mengatakan hari nahr (idul adha). Sementara al-Qadhi Iyadh menukil keterangan dari as-Syafii bahwa hari haji akbar adala hari arafah. Dan ini perbedaan pendapat yang makruf di kalangan madzhab Syafii. (Syarh Shahih Muslim, 9/116).

Pendapat ketiga, haji akbar adalah seluruh hari selama pelaksanaan haji. Ini adalah pendapat Sufyan at-Tsauri (Zadul Masir, 3/148).

Dari ketiga pendapat ini, pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa hari haji akbar adalah hari nahr (idul adha). Ada beberapa dalil yang menguatkan pendapat ini,

1. Tafsir ayat yang menyebutkan istilah haji akbar. Ayat ini turun berkaitan dengan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beberapa sahabat, diantaranya Abu Bakr as-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhum untuk mengumumkan kepada penduduk Mekah, tidak boleh lagi ada orang musyrik yang berhaji dan tidak boleh lagi masuk masjid sambil telanjang. Dan pengumuman ini terjadi pada saat hari nahr (tanggal 10 Dzulhijjah).

2. Keterangan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

أن أبا بكر رضي الله عنه بعثه في الحجة التي أمره رسول الله صلى الله عليه و سلم عليها قبل حجة الوداع في رهط يؤذن في الناس أن لا يحجن بعد العام مشرك ولا يطوف بالبيت عريان

Bahwa dalam misi haji yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum haji wada’, yang diikuti beberapa sahabat, Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu mengutus Abu Hurairah untuk mengumumkan kepada umat manusia, bahwa oranng musyrik tidak boleh melakukan haji setelah tahun ini, dan tidak boleh melakukan thawaf sambil telanjang. (HR. Bukhari 4380 & Muslim 3353).

Kata Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam shahihnya setelah membawakan riwayat di atas,

فكان حميد يقول يوم النحر يوم الحج الأكبر من أجل حديث أبي هريرة

Karena itu, Humaid mengatakan, hari nahr (idul adha) adalah hari haji akbar. Berdasarkan hadis Abu Hurairah.

3. Keterangan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ يَوْمَ النَّحْرِ بَيْنَ الْجَمَرَاتِ فِى الْحَجَّةِ الَّتِى حَجَّ فَقَالَ « أَىُّ يَوْمٍ هَذَا ». قَالُوا يَوْمُ النَّحْرِ. قَالَ « هَذَا يَوْمُ الْحَجِّ الأَكْبَرِ »

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari nahr (idul adha) beliau berdiri diantara tempat melempar jumrah, ketika haji wada’. Kemudian beliau bertanya, “Sekarang hari apa?”

“Hari Nahr (hari idul adha).” Jawab para sahabat.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini adalah hari haji akbar.” (HR. Bukhari 1742, Abu Daud 1947, dan yang lainnya).

4. Keterangan dari Murrah at-Thayyib, dari salah seorang sahabat, beliau menceritakan,

خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ النَّحْرِ عَلَى نَاقَةٍ لَهُ حَمْرَاءَ مُخَضْرَمَةٍ فَقَالَ « هَذَا يَوْمُ النَّحْرِ وَهَذَا يَوْمُ الْحَجِّ الأَكْبَرِ »

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari nahr (idul adha) di atas ontanya,

هَذَا يَوْمُ النَّحْرِ وَهَذَا يَوْمُ الْحَجِّ الأَكْبَرِ

Ini hari nahr, dan ini hari haji akbar. (HR. Ahmad 16306).

5. Keterangan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ يَوْمِ الْحَجِّ الأَكْبَرِ فَقَالَ « يَوْمُ النَّحْرِ »

Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari haji akbar. Beliau bersabda, ‘Itu hari an-Nahr (idul adha).’ (HR. Turmudzi 957 dan dishahihkan al-Albani).

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan batasan hari haji akbar maka selayaknya kita mengikuti apa yang yang beliau sampaikan dan tidak menetapkan pendapat yang baru.

Demikian, semoga bermanfaat. Bersambung hingga catatan ke-6, insyaaAllah..

Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sujud yang membatalkan sholat

Sujud yang Batal

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan,

أُمِرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءٍ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada 7 anggota badan. (HR. Bukhari 809, Muslim 1123, dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, juga dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi –dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau–, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki…” (HR. Bukhari 779 & Muslim 1126).

Berdasarkan hadis, tujuh anggota sujud dapat kita rinci:

  1. Dahi dan mencakup hidung.
  2. Dua telapak tangan.
  3. Dua lutut.
  4. Dua ujung-ujung kaki.

Praktek beliau ketika sujud, hidung dipastikan menempel di lantai. Sahabat Abu Humaid Radhiyallahu ‘anhu menceritakan cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ سَجَدَ فَأَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai… (HR. Abu Daud 734 dan dishahihkan al-Albani)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan agar dahi dan hidung benar-benar menempel di lantai. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً لَا يُصِيبُ الْأَنْفُ مِنْهَا مَا يُصِيبُ الْجَبِينَ

“Allah tidak menerima shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.”  (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 2710, Abdurrazaq dalam Mushannaf 2898, ad-Daruquthni dalam Sunannya 1335 dan dishahihkan Al-Albani).

Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya wajib. Dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad & Ibnu Habib (ulama Malikiyah). (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/208).

Bagaimana Jika Ada salah Satu Anggota Sujud tidak Menyentuh Lantai?

Praktek semacam ini sangat sering kita jumpai di masjid. Yang sering menjadi korban adalah kaki. Bagian kaki tidak menempel tanah. Terutama ketika sujud kedua. Sehingga orang ini tidak sujud dengan bertumpu pada 7 anggota sujud.

Sebagian ulama menilai, sujud semacam ini batal, sehingga shalatnya tidak sah.

An-Nawawi mengatakan,

وأما اليدان والركبتان والقدمان فهل يجب السجود عليهما فيه قولان للشافعي رحمه الله تعالى أحدهما لا يجب لكن يستحب استحبابا متأكدا والثاني يجب وهو الأصح وهو الذي رجحه الشافعي رحمه الله تعالى فلو أخل بعضو منها لم تصح صلاته

Untuk anggota sujud dua tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki, apakah wajib sujud dengan menempelkan kedua anggota badan yang berpasangan itu? Ada dua pendapat Imam ‘alaihis salam-Syafii. Pendapat pertama, tidak wajib. Namun sunah muakkad (yang ditekankan). Pendapat kedua, hukumya wajib. Dan ini pendapat yang benar, dan yang dinilai kuat oleh as-Syafi’i Rahimahullah. Karena itu, jika ada salah satu anggota sujud yang tidak ditempelkan, shalatnya tidak sah. (al-Majmu’, 4/208).

Keterangan yang sama juga disampaikan Dr. Sholeh al-Fauzan. Dalam salah satu fatwanya, beliau mengatakan,

من سجد ولم يسجد على بعض الأعضاء فهذا فيه تفصيل، فإن كان عدم سجوده على بعض الأعضاء لعذر منعه من ذلك كأن كان لا يستطيع السجود عليه فهذا لا حرج عليه، يسجد على بقية الأعضاء، أما العضو الذي لا يستطيع السجود عليه فإنه معذور فيه، وأما إذا كان لم يسجد على بعض الأعضاء لغير عذر شرعي فإن صلاته لا تصح، لأنه نقص ركناً من أركانها وهو السجود على سبعة أعضاء.

Orang yang sujud, namun salah satu anggota sujudnya tidak menempel tanah, maka di sana ada rincian,

  1. Jika dia tidak menempelkan sebagian anggota sujud karena udzur yang menghalanginya untuk melakukan hal itu, seperti orang yang tidak bisa sujud dengan meletakkan salah satu anggota sujudnya, maka tidak ada masalah baginya untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada anggota sujud yang bisa dia letakkan di tanah. Sementara anggota sujud yang tidak mampu dia letakkan, menjadi udzur baginya.
  2. Namun jika dia tidak meletakkan sebagian anggota sujud tanpa ada udzur yang diizinkan syariat, maka shalatnya tidak sah. Karena dia mengurangi salah satu rukun shalat, yaitu sujud di atas 7 anggota sujud.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/8389/الأعضاء-السبعة-التي-يجب-السجود-عليها

Demikian, semoga Allah memudahkan kita untuk beribadah dengan sempurna.

Allahu a’lam,

Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mati syahid

Bolehkah Minta Agar Dimatikan dalam Keadaan Syahid?

Tanya:

bolehkah meminta wafatkan hari ini dalam keadaan syahid?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Dari Sahl bin Hunaif Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Siapa yang dengan jujur meminta kepada Allah untuk mati syahid, maka Allah akan mengangkat derajatnya seperti derajat orang yang mati syahid, meskipun nantinya dia akan mati di ranjang. (HR. Muslim 5039, dan Ibnu Majah 2797).

An-Nawawi mengatakan,

فيه استحباب سؤال الشهادة واستحباب نية الخير

Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk berdoa meminta mati syahid. Dan anjuran memiliki niat yang baik. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 13/55).

Diantara praktek dalam hal ini adalah doa yang dipanjatkan Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu. Beliau pernah memanjatkan sebuah doa,

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِى شَهَادَةً فِى سَبِيلِكَ ، وَاجْعَلْ مَوْتِى فِى بَلَدِ رَسُولِكَ – صلى الله عليه وسلم

Ya Allah berikanlah aku anugrah mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari 1890)

Doa memohon agar dimatikan dalam keadaan syahid termasuk berdoa kebaikan. Karena Allah memberikan janji yang sangat besar bagi orang yang mati syahid.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَأَنَّ لَهُ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ شَىْءٍ غَيْرُ الشَّهِيدِ فَإِنَّهُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ

Semua orang yang masuk surga berangan-angan bisa kembali ke dunia, dan mereka memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini. Kecuali orang yang mati syahid. Dia bercita-cita untuk kembali ke dunia kemudian dibunuh, berulang sepuluh kali, setelah dia melihat besarnya pahala yang Allah berikan kepadanya. (HR. Bukhari 2662, Muslim 4976, dan yang lainnya).

Wanita Juga Bisa

Syariat islam berlaku umum, untuk semua umat mannusia. Kecuali yang dikhususkan untuk golongan tertentu.

Cita-cita dan harapan untuk mendapat mati syahid, tidak hanya berlaku bagi laki-laki, namun juga bisa dilakukan oleh wanita.

Dalil mengenai hal ini adalah kisah Ummu Haram bintu Milhan.

Ummu Haram radhiyallahu ‘anha adalah istri Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu. Beliau  termasuk salah satu mahram Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan sabda beliau didengar Ummu Haram,

أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ البَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا

“Pasukan pertama di kalangan umatku yang mereka berperang dengan menyeberangi lautan, mereka diwajibkan.”

Mendengar hadis ini, Ummu Haram langsung meminta,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا فِيهِمْ

“Wahai Rasulullah, bisakah aku termasuk diantara mereka.” pinta Ummu Haram.

jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau termasuk mereka.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya,

أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ

“Pasukan pertama di kalangan umatku yang memerangi kotanya Kaisar (Konstatinopel), mereka diampuni.”

“Wahai Rasulullah, apakah saya termasuk mereka?” tanya Ummu Haram.

“Tidak.” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari 2924)

Dalam riwayat yang lain, beliau bersabda,

أَنْتِ مِنَ الأَوّلِينَ

“Kamu termasuk pasukan pertama.”

Keterangan:

Makna ”mereka diwajibkan” aalah mereka diwajibkan masuk surga, karena perjuangan mereka berjihad di jalan Allah. (Fathul Bari, 6/22)

kita simak penuturan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, salah satu saksi sejarah kala itu,

فَخَرَجَتْ مَعَ زَوْجِهَا عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ غَازِيًا أَوَّلَ مَا رَكِبَ المُسْلِمُونَ البَحْرَ مَعَ مُعَاوِيَةَ، فَلَمَّا انْصَرَفُوا مِنْ غَزْوِهِمْ قَافِلِينَ، فَنَزَلُوا الشَّأْمَ، فَقُرِّبَتْ إِلَيْهَا دَابَّةٌ لِتَرْكَبَهَا، فَصَرَعَتْهَا، فَمَاتَتْ

“Ummu Haram berangkat bersama suaminya, Ubadah bin Shamit ikut berperang bersama kaum muslimin yang pertama kali menyeberangi lautan, dipimpin oleh Muawiyah radhiyallahu ‘anhu. Setelah mereka pulang dari peperangan serombongan, mereka singgah di Syam. Kemudian dibawakan seekor unta kepadanya untuk dia naiki. Lalu unta itu meronta hingga Ummu Haram jatuh, dan meninggal dunia.” (HR. Bukhari, no. 2799)

Ummu Haram meninggal di perjalanan pulang dari jihad. Mendapatkan janji Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Puasa Arafah Berbeda dengan Hari Arafah

Jika terjadi perbedaan dalam menentukan tanggal 9 Dzulhijjah, antara pemerintah Indonesia dengan Saudi, mana yang harus diikuti? Kami bingung dalam menentukan kapan puasa arafah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

Pertama, puasa arafah mengikuti wuquf di arafah.

Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah (Komite Fatwa dan Penelitian Ilmiyah) Arab Saudi. Mereka berdalil dengan pengertian hari arafah, bahwa hari arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah. Tanpa memandang tanggal berapa posisi hari ini berada.

Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf di arafah di Saudi, Lajnah Daimah menjelaskan,

يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس

Hari arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah. Puasa arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak masalah. (Fatawa Lajnah Daimah, no. 4052)

Kedua, puasa arafah sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di daerah setempat

Karena penentuan ibadah yang terkait dengan waktu, ditentukan berdasarkan waktu dimana orang itu berada. Dan hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga penentuannya kembali kepada penentuan kalender di mana kaum muslimin berada.

Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Utsaimin. Beliau pernah ditanya tentang perbedaan dalam menentukan hari arafah. Kita simak keterangan beliau,

والصواب أنه يختلف باختلاف المطالع ، فمثلا إذا كان الهلال قد رؤي بمكة ، وكان هذا اليوم هو اليوم التاسع ، ورؤي في بلد آخر قبل مكة بيوم وكان يوم عرفة عندهم اليوم العاشر فإنه لا يجوز لهم أن يصوموا هذا اليوم لأنه يوم عيد ، وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم ، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة ، هذا هو القول الراجح ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول ( إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا )

Yang benar, semacam ini berbeda-beda, sesuai perbedaan mathla’ (tempat terbit hilal). Sebagai contoh, kemarin hilal sudah terlihat di Mekah, dan hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sementara di negeri lain, hilal terlihat sehari sebelum Mekah, sehingga hari wukuf arafah menurut warga negara lain, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka pada saat itu, tidak boleh bagi mereka untuk melakukan puasa. Karena hari itu adalah hari raya bagi mereka.

Demikian pula sebaliknya, ketika di Mekah hilal terlihat lebih awal dari pada negara lain, sehingga tanggal 9 di Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut, maka penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut kalender setempat, yang bertepatan dengan tanggal 10 di Mekah. Inilah pendapat yang kuat. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا

Apabila kalian melihat hilal, lakukanlah puasa dan apabila melihat hilal lagi, (hari raya), jangan puasa. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, volume 20, hlm. 28)

Dari keterangan di atas, kita bisa memahami bahwa perbedaan penentuan hari arafah, kembali kepada dua pertimbangan:

Pertama, apakah perbedaan tempat terbit hilal (Ikhtilaf Mathali’) mempengaruhi perbedaan dalam penentuan tanggal ataukah tidak.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam menentukan tanggal awal bulan, kaum muslimin di seluruh dunia disatukan. Sehingga perbedaan tempat terbit hilal tidak mempengaruhi perbedaan tanggal.

Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan mathali’ mempengaruhi perbedaan penentuan awal bulan di masing-masing daerah. Ini meruakan pendapat Ikrimah, al-Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, Imam Malik, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnu Abbas.  (Fathul Bari, 4/123).

Dari dua pendapat ini, insyaaAllah yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Adanya perbedaan tempat terbit hilal, mempengaruhi perbedaan penentuan tanggal. Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib – mantan budak Ibnu Abbas –, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits (Ibunya Ibnu Abbas) pernah menyuruhnya  untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya,

Setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku

“Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas.

“kami melihatnya malam jumat.” Jawab Kuraib.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya melihatnya dan  masyarakatpun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyahpun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه

“Kalau kami melihatnya malam sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi,

“Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dan yang lainnya).

Kedua, batasan hari arafah

Sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa arafah adalah puasa pada hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di arafah. Tanpa mempertimbangkan perbedaan tanggal dan waktu terbitnya hilal.

Sementara ulama lain berpendapat bahwa hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga sangat memungkinkan masing-masing daerah berbeda.

Ada satu pertimbangan sehingga kita bisa memilih pendapat yang benar dari dua keterangan di atas. Terlepas dari kajian ikhtilaf mathali’ (perbedaan tempat terbit hilal) di atas.

Kita sepakat bahwa islam adalah agama bagi seluruh alam. Tidak dibatasi waktu dan zaman, sebelum tiba saatnya Allah mencabut islam. Dan seperti yang kita baca dalam sejarah, di akhir dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, islam sudah tersebar ke berbagai penjuru wilayah, yang jarak jangkaunya cukup jauh. Mekah dan Madinah kala itu ditempuh kurang lebih sepekan. Kemudian di zaman para sahabat, islam telah melebar hingga dataran syam dan Iraq. Dengan alat transportasi masa silam, perjalanan dari Mekah menuju ujung wilayah kaum muslimin, bisa menghabiskan waktu lebih dari sebulan.

Karena itu, di masa silam, untuk mengantarkan sebuah info dari Mekah ke Syam atau Mekah ke Kufah, harus menempuh waktu yang sangat panjang. Berbeda dengan sekarang, anda bisa menginformasikan semua kejadian yang ada di tanah suci ke Indonesia, hanya kurang dari 1 detik. Sehingga orang yang berada di tempat sangat jauh sekalipun, bisa mengetahui kapan kegiatan wukuf di arafah, dalam waktu sangat-sangat singkat.

Di sini kita bisa menyimpulkan, jika di masa silam standar hari arafah itu mengikuti kegiatan jamaah haji yang wukuf di arafah, tentu kaum muslimin yang berada di tempat yang jauh dari Mekah, tidak mungkin bisa menerima info tersebut di hari yang sama, atau bahkan harus menunggu beberapa hari.

Jika ini diterapkan, tentu tidak akan ada kaum muslimin yang bisa melaksanakan puasa arafah dalam keadaan yakin telah sesuai dengan hari wukuf di padang arafah. Karena mereka yang jauh dari Mekah sama sekali buta dengan kondisi di Mekah.

Ini berbeda dengan masa sekarang. Hari arafah sama dengan hari wukuf di arafah, bisa dengnan mudah diterapkan. Hanya saja, di sini kita berbicara dengan standar masa silam dan bukan masa sekarang. Karena tidak boleh kita mengatakan, ada satu ajaran agama yang hanya bisa diamalkan secara sempurna di zaman teknologi, sementara itu tidak mungkin dipraktekkan di masa silam.

Oleh karena itu, memahami pertimbangan di atas, satu-satunya yang bisa kita jadikan acuan adalah penanggalan. Hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, dan bukan hari jamaah haji wukuf di Arafah. Dengan prinsip ini, kita bisa memahammi bahwa syariat puasa arafah bisa dipraktekkan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tanpa mengenal batas waktu dan tempat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

cara takbiratul ihram dalam shalat

Lupa Takbiratul Ihram

Assalamualayikum….ustad waktu ana  datang ke masjid untuk sholat dzuhur ternyata imam sudah ruku’ dan ana langsung bertakbir ntuk ruku’ tanpa takbir untuk takbiratul ihram. apakah sholat saya tersebut sah ustad?jazakallahu khairan.

Dari Rudi Wijaya

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian orang mungkin kesulitan membayangkan, bagaimana bisa orang lupa takbiratul ihram. Kalau lupa jumlah rakaat atau lupa duduk tasyahud awal, mungkin masih bisa dibayangkan. Tapi  lupa ttakbiratul ihram, kirra-kira bagaimana bentunya?

Namun kita tidak perlu heran, ternyata kasus semacam ini dialami oleh sebagian orang, terutama ketika buru-buru karena ingin mengejar gerakan imam. Umumnya terjadi karena makmum masbuk hendak mengejar  rukuknya imam.  Karena buru-buru, dia membaca Allahu akbar sambil bergerak rukuk, dan tidak berdiri sempurna. Di sinilah kita bisa menemukan bagian yang bermasalah. Sejatinya makmum ini tidak lupa membaca takbir. Namun dia salah ketika takbir, yang menyebabkan takbirnya tidak dianggap sebagai takbiratul ihram.

Syarat Taakbiratul Ihram, Harus Dilakukan Dalam Posisi Berdiri

Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan,

يجب أن يكبّر المصلّي قائماً فيما يفترض له القيام «لقول النّبيّ صلى الله عليه وسلم لعمران بن حصين وكانت به بواسير صلّ قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب»

Orang yang shalat, wajib melakukan takbiratul ihram sambil berdiri dalam kondisi yang mengharuskannya untuk berdiri. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Imran bin Hushain, seorang sahaabat yang terkena penyakit wasir,

صلّ قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب

“Shalatlah sambil berdiri, jika tidak bisa boleh sambil duduk, dan jika kamu tidak bisa, sambil tidur miring.”

Kemudian dalam referensi yang sama ditegaskan,

ويتحقّق القيام بنصب الظّهر فلا يجزئ إيقاع تكبيرة الإحرام جالساً أو منحنياً والمراد بالقيام ما يعمّ الحكميّ ليشمل القعود في نحو الفرائض لعذر

Dan disebut berdiri jika posisi punggung tegak. Karena itu, tidak sah jika takbiratul ihram dilakukkan sambil duduk atau sambil menunduk rukuk. Dan yang dimaksud berdiri, mencakup posisi yang dihukumi sama dengan berdiri, sehingga termasuk duduk ketika melakukan kewajiban semacamnya, karena udzur. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 13/220).

Batasan Larangan bergerak menunduk ketika takiratul ihram adalah tidak mendeati posisi rukuk. Imam at-Thahawi mengatakan,

ليس الشّرط عدم الانحناء أصلاً، بل عدم الانحناء المتّصف بكونه أقرب إلى الرّكوع من القيام

Bukan syarat takbiratul ihram, tidak boleh bergerak menunduk sama sekali. Namun tidak bergerak menunduk yang kondisinya mendekati posisi rukuk dari pada berdiri.  (Hasyiyah at-Thahawi ‘ala Maraqi al-Falah, 1/146).

Jika Takbiratul Ihram tidak Sah?

Takbiratul ihram merupakan pintu shalat. Dari Ali bin Ali Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِفتاح الصلاة الطُّهور، وتَحريمها التكبير، وتحليلُها التسليم

Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya adalah takbiratul ihram, dan yang menghalalkannya adalah salam. (HR. Abu Daud 61, Ibnu Majah 275, dan dishahihkan al-Albani).

Al-Aini mengatakan,

((وتَحريمها التكبير))؛ أي: تحريم الصلاة الإتيانُ بالتكبير، كأن المصلي بالتكبير والدخول فيها صار ممنوعًا من الكلام، والأفعال الخارجة عن كلام الصلاة وأفعالِها

“yang mengharamkannya adalah takbir” artinya yang mengharamkan shalat adalah melakukan takbir. Seakan-akan, orang yang melakukan shalat memulai takbir, dia masuk ke dalam shalat, sehingga dilarang untuk berbicara atau melakukan perbuatan selain bacaan dan gerakan shalat. (Syarh Abu Daud, al-Aini, 1/184).

Karena itu, jika seseorang tidak sah dalam melakukan takbiratul ihram, maka dia belum dianggap melakukan shalat sama sekali, karena dia belum masuk shalat. Sehingga dia harus mengulangi shalatnya dari awal. Maka pastikan, ketika kita melakukan takbirtaul ihram, kita dalam posisi tegak sempurna.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

9,076FansLike
4,525FollowersFollow
31,400FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN