tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
FIKIH

hukum menimbun bensin

Menimbun Bensin

Pertanyaan:

Ketika mulai terjadi kelangkaan bensin, banyak pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melakukan penimbunan bensin sehingga kelangkaan bensin makin menjadi-jadi. Akhirnya setelah bensin laris terjual yang dengan harga selangit barulah tandon bensin dikeluarkan dan diperdagangkan.

Apakah tindakan ini termasuk menimbun yang terlarang dalam syariat Islam?

Jawaban:

Para ulama berselisih pendapat tentang barang apa sajakah yang terlarang untuk ditimbun dalam ajaran Islam. Ada yang berpendapat bahwa yang dilarang ditimbun hanyalah bahan makanan pokok. Pendapat lainnya menyatakan yang dilarang ditimbun adalah semua barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak dan mereka akan kesusahan apabila terjadi penimbunan. Inilah pendapat Malikiyyah dan salah satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat inilah  yang benar berdasarkan makna tekstual yang bisa kita tangkap dari hadits terkait masalah ini.

Dalam Nailul Authar 5/262  al-Syaukani mengatakan, “Makna tekstual yang bisa disimpulkan dari hadits tersebut, menimbun barang itu hukumnya haram baik yang ditimbun berupa bahan makanan pokok, makanan hewan tunggangan, atau pun selainnya. Kata-kata ‘bahan makanan’ pada sebagian riwayat tidak bisa dijadikan alasan bahwa yang terlarang hanyalah menimbun bahan makanan. Kesimpulan yang benar dalam masalah ini adalah semua barang yang diperlukan oleh banyak orang itu dilarang untuk ditimbun termasuk diantaranya bahan makanan pokok”.

Al-Ramli  al-Syafi’i dalam Hasyiyah ‘ala Asna al-Mathalib 2/39 mengatakan, “Sepatutnya larangan menimbun itu diberlakukan untuk semua barang yang umumnya menjadi kebutuhan masyarakat banyak baik berupa makanan atau pun pakaian”.

Inilah yang selaras dengan hikmah dilarangnya menimbun yaitu terlarangnya merugikan dan menyusahkan masyarakat banyak.

Pendapat yang sama juga difatwakan oleh Lajnah Daimah 13/184. Para ulama yang duduk di Lajnah Daimah mengatakan, “Tidak diperbolehkan menimbun barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Tindakan ini disebut ihtikar.

Hal ini terlarang karena menimbang beberapa hal:

Pertama, adanya hadits Nabi:

لا يحتكر إلا خاطئ

“Tidaklah melakukan penimbunan kecuali pendosa” [HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah].

Kedua, menimbun adalah tindakan yang merugikan banyak kaum muslimin.

Sedangkan barang-barang yang bukan menjadi kebutuhan masyarakat banyak itu boleh ditimbun kecuali jika dijumpai kondisi yang menyebabkan masyarakat banyak membutuhkannya maka ketika itu barang tersebut wajib dipasarkan di tengah masyarakat dalam rangka mencegah kesempitan dan kesusahan masyarakat banyak”.

Berdasarkan uraian di atas, menimbun barang yang tidak menyebabkan masyarakat banyak dirugikan karena mereka tidak terlalu membutuhkannya dan ada alternatif barang yang lain hukumnya tidak mengapa dan tidak termasuk dalam kategori menimbun yang terlarang.

Akan tetapi jika tidak didistribusikannya suatu barang itu menyebabkan masyarakat banyak yang  dirugikan, kerepotan, dan kesusahan disebabkan mereka tidak mendapati alternatif pengganti sehingga terpaksa membeli dengan harga yang di atas standar demi mendapatkan barang tersebut maka inilah yang dikategorikan menimbun yang haram. Termasuk diantara contohnya adalah menimbun bensin, tiket kereta api dll.

Referensi: http://www.alsalafway.com/cms/fatwa.php?action=fatwa&id=239

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

zakat buat bayar hutang

Melunasi Utang Orang Lain dengan Zakat

Tanya:

Assalamu’alaikum. Tanya Pak : Seseorang A mempunyai hutang kepada B. Karena miskin si A tidak mampu membayar hutangnya.Kemudian ada si C yang melunasi hutang si A kepada si B, namun uang si C itu berupa zakat. Jadi Si C langsung membayar zakat kepada si B, dg peruntukan melunasi hutang si A. Bolehkah yang demikian? Ataukah Si C harus memberikan kepada si A terlebih dahulu?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فلا مانع من صرف الزكاة إلى المدين لسداد دينه لأنه من صنف الغارمين المستحقين للزكاة، وأما إعطاء الزكاة إلى الدائن، فإن كان ذلك بإذن المدين (الغارم) فلا إشكال، وإن كان بدون إذنه فمحل خلاف بين الفقهاء، فذهب الحنفية الشافعية إلى أن ذلك لا يجزئ، وذهب الحنابلة إلى إجزائه، قال في الإنصاف: لو وضع المالك إلى الغريم بلا إذن الفقير فالصحيح من المذهب أنه يصح.

Tidak masalah menyerahkan zakat kepada orang yang memiliki utang untuk melunasi utangnya. Karena dia termasuk golongan al-Gharimin (orang yang memiliki beban utang), yang berhak menerima zakat.

Adapun menyerahkan zakat itu langsung kepada orang yang menghutangi (kreditor), maka di sana ada rincian,

  1. Jika pelunasan utang ini atas izin orang yang memiliki utang (debitor), maka tidak ada masalah.
  2. Jika pelunasan ini tanpa izin dari orang yang berhutang, maka ulama berbeda pendapat.

Hanafiyah dan Syafiiyah berpendapat zakatnya tidak sah. sementara ulama hambali berpendapat zakatnya sah.

Dalam kitab al-Inshaf – kitab fiqih hambali – dinyatakan,

لو وضع المالك إلى الغريم بلا إذن الفقير فالصحيح من المذهب أنه يصح

Jika pemilik harta langsung menyerahkan uang ke pemberi utang (kreditor) tanpa izin si fakir (debitor), pendapat yang kuat dalam madzhab, zakatnya sah.

Sementara dalam Fatawa Hindiyah – kitab fikih madzhab hanafi – dinyatakan,

ولو قضى دين الفقير بزكاة ماله: إن كان بأمره يجوز، وإن كان بغير أمره لا يجوز، وسقط الدين

Untuk kasus orang melunasi utang orang fakir dengan zakat hartanya, jika dengan izin si fakir, hukumnya boleh. Jika tanpa izin dari si fakir, hukumnya tidak boleh, meskipun utang tetap lunas.

An-Nawawi dalam al-Majmu’ mengatakan,

ولا يجوز صرفه إلى صاحب الدين إلا بإذن من عليه الدين، فلو صرف بغير إذنه لم يجزئ الدافع عن زكاته، ولكن يسقط من الدين بقدر المصروف

Tidak boleh memberikan zakat kepada pemilik utang (kreditor) kecuali dengan izin orang yang berutang. Jika dia menyerahkannya tanpa izin orang yang berutang, zakatnya tidak sah, meskipun utangnya lunas sebesar yang telah dibayarkan.

Komentar Lembaga Fatawa Syabakah Islamiyah, setelah membawakan perbedaan pendapat para ulama di atas,

فالأحوط هو إخبار المدين واستئذانه في قضاء الدين عنه، أ وتسليمه المال ليسدد دينه بنفسه

Yang lebih hati-hati, memberi tahu pihak yang berutang (debitor) dan meminta izin kepadanya untuk melunasi utangnya. Atau kita serahkan zakat itu kepadanya, agar dia melunasi utangnya sendiri.

Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 43511.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

khitan dokter kafir

Dokter Kafir Mengkhitan Orang Islam

Minta pencerahan tentang doktor bukan Islam melakukan operasi berkhatan ketas anak-anak Islam. Tkh

Dari Farik Sent from FarikG iPhone

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bedakan antara khitan dan teknis khitan. Khitan termasuk ibadah. Bahkan ajaran para nabi (sunan al-fitrah). Orang yang melakukannya karena mengikuti sunah para nabi, dia akan mendapatkan pahala.

Sementara mengenai teknis khitan, ini termasuk pembahasan hukum berobat. Dan itu termasuk dalam ranah mualamah. Tidak ada ritual ibadah khusus untuk teknis khitan. Tidak ada doa atau bacaan khusus, dst.

Karena itu, seseorang boleh melakukan khitan dengan teknik apapun. Baik dengan laser, pisau bedah, atau metode cincin atau metode lainnya yang dikembangkan dalam dunia kedokteran. Semua metode ini bisa digunakan, selama tidak ada unsur pelanggaran syariat dan tidak membahayakan.

Memahami hal ini, bukan syarat keabsahan khitan, harus ditangani oleh dokter muslim. Artinya, sekalipun khitan dilakukan dokter non muslim yang amanah, khitan tetap sah.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فلا حرج في الاختتان عند طبيب كافر، إذ العمومات الواردة في نصوص الكتاب والسنة تجوز التعامل مع الكفار فيما يتعلق بأمور المعاملات وغيرها مما لا يعتبر محبة أو موالاة لهم ومحبة فيهم، ومما يدخل في ذلك التداوي عنده، لكن بشرط أن يكون الطبيب مأموناً بحيث لا يخشى ضرره

Dibolehkan untuk melakukan khitan di dokter kafir. Karena dalil al-Quran dan sunah secara umum menunjukkan bolehnya bekerja sama dengan orang kafir dalam masalah muamalah atau lainnya, yang tidak mewakili adanya cinta karena agama. Termasuk dalam hal ini adalah berobat ke dokter kafir, dengan syarat dokter ini orang yang amanah, dan tidak dikhawatirkan membahayakan pasien muslim. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 16181)

Jawaban yang sama juga disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman as-Suhaim – anggota kantor Dakwah dan Bimbingan Masyarakat – Arab Saudi

يجوز أن يتولّى ذلك طبيب يهودي أو نصراني إذا أُمِن جانبه. والله أعلم

Dokter yahudi atau nasrani boleh menangani khitan, jika dia amanah dalam hal ini.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sakit ketika shalat

Tidak Bisa Menghadap Kiblat karena Sakit

Ústadz apakah boleh sholat sambil tidur krn sakit dan tidak menghadap kiblat krn kamar tidur di rumah sakit menghadap ke selatan? Tidak memungkinkan menggeser tempat tidur dan mindah pasien.

Dari Fery

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut fatwa Dr. Sholeh al-Fauzan,

استقبال القبلة شرط من شروط صحة الصلاة قال تعالى: {فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ} [سورة البقرة: 144‏]. فاستقبال القبلة شرط من شروط صحة الصلاة مع الاستطاعة للمريض ولغيره

Menghadap kiblat adalah salah satu syarat sah shalat. Allah berfirman,

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ

Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah wajahmu ke arahnya. (QS. Al-Baqarah: 144)

Maka menghadap kiblat adalah syarat sah shalat jika mampu dilakukan, baik bagi orang sakit maupun yang lainnya.

والمريض إذا كان على السرير فإنه يجب أن يتجه إلى القبلة إما بنفسه إذا كان يستطيع أو بأن يوجهه أحد إلى القبلة، فإذا لم يستطع استقبال القبلة وليس عنده من يعينه على التوجه إلى القبلة، يخشى من خروج وقت الصلاة فإنه يصلي على حسب حاله لقوله تعالى: {فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ} [سورة التغابن: آية 16‏]، وقول النبي صلى الله عليه وسلم: “إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم” (رواه الإمام مسلم في صحيحه)

Orang sakit yang terbaring di ranjang, dia tetap wajib menghadap kiblat. Dia lakukan sendiri jika mampu atau dibantu orang lain. Jika dia tidak mampu menghadap kiblat, dan tidak ada yang bisa membantunya untuk menghadapkannya ke arah kiblat, sementara dia khawatir waktu shalat akan habis, maka dia boleh shalat sesuai keadaannya (tidak menghadap kiblat). Berdasarkan firman Allah,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

”Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16).

Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Apabila aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, laksanakanlah semampu kalian.” (HR. Muslim dalam shahihnya).

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/10406/حكم-صلاة-المريض-على-السرير

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sms berhadiah

SMS Berhadiah

Salah satu perusahaan mengadakan kuis berhadiah. Caranya, kirim sms kosong ke nomor yang dituju, tentu saja dengan harga lebih mahal dari pada umumnya. Kemudian akan diundi. Siapa yg beruntung, dia mendapat hadiah, seperti motor, TV, dst. bgmn hukumnya?

Jawab:

Berikut jawaban Dr. Sa’d al-Khatslan

هذا من الميسر المحرم ؛ وذلك لأن القاعدة أن كل مسابقة يبذل فيها المتسابق عوضا وهو متردد بين الربح والخسارة فهي  الميسر ( إلا مااستثناه النص من مسابقات الإبل والخيل والسهام) ، ثم إن هذا يدخل في أكل المال بالباطل ؛ حيث إن هذه الشركات تحصل من هذه الرسائل ملايين الريالات من جيوب بعض المشتركين  بسبب خداع المشترك بالفوز في هذه السحوبات..

Ini termasuk judi yang haram. Karena kaidahnya, semua pemlombaan, dimana peserta diwajibkan membayar sejumlah uang, sementara dia tidak bisa menentukan apakah nanti akan menang atau rugi, maka ini judi. (selain yang dikecualikan berdasarkan dalil, yaitu lomba onta, kuda, dan memanah). Kemudian, kegiatan semacam ini termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar. Di mana perusahaan ini mendapatkan jutaan real dari sms yang masuk dari kantong-kantong para peserta, karena menipu peserta dengan hadiah melalui penarikan uang ini.

والواجب على المسؤولين في  هذه الشركات أن يتقوا الله تعالى وألا يقدموا على تقديم أي مسابقة إلا بعد الحصول على الفتوى بجوازها ، كما أن المسؤولية تقع أيضا على هيئة الاتصالات التي نصبها ولي الأمر للإشراف على عمل هذه الشركات وأول مايدخل في اختصاصها إلزام الشركات بالابتعاد عما يخالف أحكام الشريعة الإسلامية

Kewajiban pihak perusahaan, hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah, dan janganlah dia melakukan perlombaan atau sayembara semacam ini kecuali setelah mendapatkan fatwa yang mengizinkannya. Demikian pula tanggung jawab pihak kementrian informasi di pemerintahan, agar dia mengarahkan perusahaan semacam ini. Dan pertama kali yang harusnya disampaikan terkait jaringan informasi, mewajibkan setiap perusahaan untuk menjauh dari segala yang melanggar hukum syariat islam.

Sumber: http://www.saad-alkthlan.com/text-819

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Shalawat Munjiyat

Shalawat Munjiyat

Apa itu shalawat munjiyat. Katanya kalo dibaca 1000 kali akan menyelamatkan orang dari musibah.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Teks shalawat Munjiyat sbb,

اللَهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحمَدٍ صَلاَةٌ تُنْجيْنَا بِهَا مِنَ جَمِيْعَ الأهَوْاَلِ وَالأَفَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بها جَمِيعَ الحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيّئاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَي الدَرَجَاتِ وَتُبَلّغُنَا بِهَا أَقْصَي الغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الخَيرَاتِ فِي الحَيَاةِ وَبَعْدَ المَمَاتِ برحمتك يا أرحم الراحمين

Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kita dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan. Dan dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami. Dan dengan shalawat itu, Engkau akan membersihkan kita dari semua keburukan/kesalahan. Dan dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi.Dan dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati. Dengan rahmatu-Mu, wahai Sang Pemberi Rahmat.

Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa shalawat ini tidak ada dalilnya. Tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in, maupun tabi’ tabi’in. Bahkan tidak pernah disinggung oleh para imam madzhab, seperti Abu Hanifah, Malik, as-Syafii, dan Ahmad rahimahumullah.

Kami tidak tahu dengan pasti, bagaimana sejarah munculnya shalawat ini. Hanya saja, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa shalawat ini pertama kali dibuat oleh seorang tokoh sufi Thariqat Syadziliyah, yang bernama as-Sholeh Musa ad-Dharir.

Dan kita bisa menilai, Tariqat Syadziliyah termasuk tahriqat yang menyimpang dari islam. Mereka berkeyakinan bahwa tokohnya bisa mengetahui yang ghaib.

Pendiri thariqah ini, Abul Hasan Ali bin Abdillah as-Syadzili mengklaim bahwa dirinya memiliki 10 lautan ilmu, 5 dari kalangan manusia dan 5 dari kalangan ruh. Lima lautan ilmu manusia adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali.Sedangkan lima dari kalangan ruh: Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, dan ar-Ruh al-Akbar.

(Lathaif al-Minan, al-Askandari, hlm. 146).

Karena itu, bagi penganut tariqat Syadziliyah, tokoh mereka dikultuskan melebihi layaknya manusia. Bahkan mereka berkeyakinan, bahwa imamnya telah diberi tahu oleh Allah, siapa saja pengikutnya sampai hari kiamat yang akan dijamin masuk surga.

Pertanyaan selanjutnya, layaknya shalawat semacam ini dilestarikan. Sementara sumber shalawat ini dari orang yang memiliki aqidah menyimpang dari ajaran islam?.

Terbukti Berhasil

Salah satu diantara alasan sebagian orang yang mengamalkan shalawat ini, mereka mengatakan bahwa coba-coba membaca shalawat ini, terbukti berhasil dan selamat dari mara bahaya. Karena itulah, shalawat ini disebut shalawat munjiyat (penyelamat). Yang menyelamatkan orang dari musibah yang mengancamnya.

Alasan ini bisa kita jawab,

1. Bahwa Allah telah menyempurnakan agama islam, karena itu tidak butuh coba-coba.

Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari di mana Aku sempurnakan agama kalian dan Kusempurnakan nikmat kalian. Dan Aku Ridha islam sebagai agama kalian.

Oleh karena itu, tidak selayaknya amalan syariah dilakukan dengan coba-coba.

2. Andai yang mereka lakukan itu baik, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengajarkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Tidak ada satupun amal yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah dijelaskan untuk kalian. (HR. At-Thabrani dalam al-Kabir 1623 dan statusnya shahih).

Keadaan yang mengancam keselamatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya terjadi berkali-kali. Bahwa beliau sendiri pernah terkena tombak di pipinya. Ada juga sahabat yang terkena panah. Dan banyak diantara mereka yang meninggal dunia ketika perang.

Andai shalawat ini disyariatkan, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengajarkannya sebagai modal bagi para sahabat, untuk menjaga keselamatan diri mereka.

Shalawat Terbaik

Shalawat adalah ibadah. dan ibadah yang benar, adalah ibadah yang sesuai tuntunan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada umatnya bagaimana cara bershalawat yang benar.

Dari Ka’ab bin Ujrah radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Para sahabat pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami telah memahami tata cara memberi salam kepada Anda, lalu bagaimana cara memberi salawat kepada Anda?’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Ucapkanlah,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Inilah shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan semua pelajaran dari beliau, tentu atas wahyu dari Allah. Sebagai penganut Rasulullah yang baik, selayaknya kita mencukupkan diri dengan shalawat yang beliau ajarkan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jadi satpam

Meninggalkan Salat Jumat Karena Menjaga Rumah

Pertanyaan:

Kami adalah seorang satpam di sebuah universitas, pada hari Jumat kami harus menjaga kendaraan yang banyak sekali, bolehkah salat jumat diganti dengan salat zuhur?

Jawaban:

Boleh, karena di antara halangan yang membolehkan untuk tidak menghadiri salat jamaah dan jumat adalah takut kehilangan harta. Ketika menjelaskan tentang udzur meninggalkan salat jamaah dan jumat, dalam poin ke-4, Syekh ‘Adil bin Yusuf al-‘Azzazi mengatakan, “Takut dari kebinasaan atau kehilangan harta, atau terjadi bahaya pada harta, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyia-nyiakan harta.” (Tamamul Minnah, 1:347)

Namun disunahkan jangan sampai meninggalkan salat jumat tiga kali berturut-turut. Hal itu bisa dilakukan dengan bergiliran menjaga atau dengan cara-cara yang lain. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من ترك ثلاث جمع تهاونا طبع الله على قلبه

“Barangsiapa yang meninggalkan tiga salat jumat karena meremehkannya, Allah akan menutup hatinya.” (HR. Abu Dawud)

Sumber: Majalah As-Sunah, edisi: 9, Th. XIII

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mandi jumat

Cara Mandi Jumat

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah Ustadz,

Ustadz, bgmn kaifiat mandi Jumat, apakah sama dgn mandi janabah (wudhu dulu, mandi dgn menyiram anggt tbh sblh kanan, dst)?

Herbono

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kami memohon kepada Allah agar selalu menganugerahkan kepada kita hidayah sehingga bisa meniti sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai yang beliau ajarkan. Salah satunya, sunah ketika hari jumat.

Pada situs ini – semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi umat – telah kita bahas tata cara mandi junub. Anda bisa pelajari di Cara Mandi Besar

Terkait mandi jumat, dalam beberapa hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa mandi jumat sama seperti mandi junub. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً…

Siapa yang mandi di hari jumat seperti mandi junub, kemudian dia berngkat jumatan (di waktu pertama) maka seperti berkurban onta…(HR. Bukhari 881 dan Muslim 850).

Imam al-Baji – ulama madzhab Maliki – (w. 474 H) mengatakan,

قَوْلُهُ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ غُسْلًا عَلَى صِفَةِ غُسْلِ الْجَنَابَةِ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ الْجُنُبَ الْمُغْتَسِلَ لِجَنَابَتِهِ

Sabda beliau ‘Siapa yang mandi di hari jumat seperti mandi junub’ bisa dipahami bahwa maksud beliau adalah mandi dengan tata cara seperti mandi junub. Bisa juga dipahami maksud beliau adalah orang junub yang mandi untuk menghilangkan hadas besarnya. (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, 1/183).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

onani dengan istri

 Suami Minta Izin Istri untuk Onani

Tanya, bolehkah seorang suami meminta ijin kepada istrinya untuk melakukan onani?

Dari Adim via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Tidak semua yang ada di sekitar kita menjadi hak kita. Karena kepemilikan segala yang ada di sekitar kita, adalah kepemilikan yang terikat aturan. Kita memiliki uang, memiliki harta, bukan berarti kita bebas memanfaatkan harta itu sesuai keinginan kita.

Ada aturan yang mengikat, dan karena itu, akan dipertanggung-jawabkan pada hari kiamat.

Dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاه

Kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat tidak akan bergerak, hingga dia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. Tentang ilmunya, untuk apa dia amalkan. Tentang hartanya, dari mana dia perolah dan kemana dia belanjakan. Dan tentang badannya, untuk apa dia gunakan. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 554, dan dishahihkan al-Albani)

Kita memiliki anak, memiliki istri, memiliki suami, bukan berarti kita bebas memberikan aturan apapun bagi mereka, sesuai keinginan kita. Masalah ranjang, memang hak bersama. Tapi bukan berarti semua bebas bergaya. Di sana ada aturan yang tidak boleh dilanggar.

Di situs ini – semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi umat – ada banyak pembahasan tentang hukum onani. Anda bisa pelajari di artikel,

Dalil pokok yang melarang onani adalah firman Allah,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,  kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-Mukminun: 5 – 7)

Allah hanya memberikan dua pilihan terkait kemaluan, dengan istri atau budak wanita. Orang yang menyalurkan syahwatnya melalui selain itu, berarti dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.

Memahami keterangan di atas, sejatinya onani bukan hak istri maupun suami. Onani hukumnya terlarang. Dan tetap terlarang meskipun istri mengizinkan. Karena ini di luar wewenang istri, sehingga dia tidak berhak memberi izin untuk masalah ini.

Sebagaimana zina hukumnya haram, sekalipun istri atau suami yang memintanya. Ini ranah aturan syariat, bukan masalah hak pasangan.

Solusi Onani yang Halal

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki

Ayat ini menjadi dalil, seorang suami bisa melakukan onani dengan tubuh istrinya, selain dubur dan mulut.

Allah menyatakan, ’ kecuali terhadap isteri-isteri mereka

Kajian selengkapnya bisa anda pelajari di:

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

ingin menikah

Menikahi Perempuan Atheis

Pertanyaan:

Saya seorang muslim yang bekerja di Inggris. Aku telah menikah dengan seorang perempuan atheis selama tiga tahun. Apakah pernikahan demikian ini dibolehkan atau dilarang?

Jawaban:

Alhamdulillah

Tidak halal bagi seorang muslim menikah dengan seorang wanita kafir yang tidak beriman kepada Allah, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan Alquran, berdasarkan firman Allah

وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ

“Janganlah kalian nikah perempuan-perempuan musyrik sampai mereka beriman.” (QS. Al-Baqarah: 221).

وَلاَتُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” (Al-Mumtahanah: 10).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا جَآءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَهُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلاَهُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10).

Allah tidak mengecualikan wanita kafir kecuali dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani pen.) saja, maka seorang muslim dibolehkan untuk menikahi wanita Yahudi atau Nasrani. Adapun selain keduanya, maka tidak dibolehkan, dari agama apa pun wanita tersebut. Allah berfirman,

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatandiantara wanita-“Wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab.” (QS. Al-Maidah: 5).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Firman Allah ‘Jangan kalian nikahi perempuan-perempuan musyrik sampai mereka beriman’ karena sejelek-jelek wanita muslimah, dia memiliki kebaikan yang tidak bisa ditandingi oleh wanita musyrik dengan kebaikan yang ada padanya (cantik, baik hati, berdarah biru, dsb.). Hal ini berlaku secara umum bagi wanita musyrik kecuali yang ada pada surat Al-Maidah di atas.” (Tafsir As-Sa’di, Hal. 19).

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Diperkenankan pernikahan tersebut untuk wanita ahli kitab. Adapun selain mereka, tergolong keumuman hukum larangan tersebut… Semua orang kafir selain dari ahli kitab seperti pengagung patung, pohon, hewan, dll, maka tidak ada perselisihan di kalangan para ulama tentang haramnya menikahi wanita-wanita mereka dan memakan sembelihannya.” (Al-Mughni, 9:548).

Menurut Syaikh Ibnu Baz, “Menikahi perempuan kafir selain dari golongan ahli kitab tidak dibolehkan, Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Mereka (wanita muslimah) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir (laki-laki dan wanita kafir) itu tiada halal pula bagi mereka.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 21:76).

Lajnah Daimah Lilifta memfatwakan, “Boleh bagi seorang muslim untuk menikahi wanita muslimah atau wanita ahli kitab dan tidak diperkenankan menikahi wanita-wanita dari agama apa pun selain keduanya.” (Fatwa Lajnah Daimah, 18:275).

Ulama-ulama di Lajnah Daimah juga mengatakan, “Tidak boleh dan tidaklah sah bagi seorang laki-laki muslim menikahi seorang wanita musyrik selain dari Yahudi dan Nasrani, walaupun wanita musyrik tersebut ridha dengan pernikahan itu, tidak pandang dia mengetahui laki-laki itu seorang muslim atau tidak. Hal ini berdasarkan firman Allah, “Janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrik sampai mereka beriman.” Namun apabila ia bertaubat dari kemusyrikannya, maka dibolehkan untuk menikahinya.” (Fatwa Lajnah Daimah, 18: 311).

Dalam hal ini perlu kami ingatkan, yang dimaksud dengan wanita ahli kitab adalah wanita-wanita yang memegangi ajaran agamanya walaupun setelah agama tersebut berubah dan menjadi permainan di kalangan tokoh agama mereka. Adapun wanita yang semulanya ahli kitab (berpegang dengan ajaran agama pen.), kemudian keluar dari ajaran agamanya menjadi seorang atheis dan tidak beriman kepada agama, tidak diperkenankan menikahinya.

Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah memberi catatan pada tafsir Ibnu Katsir berkaitan dengan ayat ‘Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[402] diantara wanita-“Wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab.” (QS. Al-Maidah: 5)’, beliau mengatakan, “Ini berlaku pada makanan ahli kitab, jika memang benar mereka ahli kitab. Adapun orang-orang yang berafiliasi (menisbatkan diri) kepada Agama Nasrani dan Yahudi di Eropa, Amerika, dan selainnya, maka kami berpendapat mereka bukanlah ahli kitab, karena mereka mengingkari (tidak menaati aturan pen.) agama mereka sendiri yang tampak pada mereka hanya sebatas simbol-simbol (keagamaan) semata. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang atheis yang tidak beriman kepada Allah dan para nabi. Buku-buku mereka dan kabar yang demikian ini masyhur bagi kita. Mereka telah keluar dari batas-batas agama manapun. Mereka beragama dengan cara liberal, serba boleh dan serba halal dalam permasalahan pergaulan dan kehormatan diri. Dengan demikian tidak boleh menikah dengan wanita-wanita tersebut, dengan alasan tidak adanya sifat ahli kitab secara hakiki. Tidak boleh juga memakan sembelihan mereka dengan alasan serupa. Tersiar berita yang terpercaya bahwasanya mereka tidak melakukan penyembelihan sama sekali. Kabar yang tersebar adalah cara mereka membunuh hewan dengan penyiksaan terhadap hewan. Mereka membunuh hewan dengan cara lain (selain menyembelih), di sisi lain mereka mengklaim mereka adalah orang yang paling sayang dengan hewan-hewan. Setiap daging yang ada pada mereka statusnya adalah bangkai, tidak boleh bagi seorang muslim untuk memakannya.” (‘Umdatu Tafsir, 1:636).

Atas dasar inilah, pernikahanmu dengan wanita tersebut tidak dibolehkan dan juga tidak sah. Jawaban atas pertanyaanmu adalah hendaknya engkau lekas menceraikannya dan bertaubat kepada Allah atas perbuatan tersebut dengan menyesali apa yang telah engkau perbuat. Andaikata perempuan tersebut masuk Islam, maka engkau dibolehkan untuk menjalin ikatan pernikahan, dengan akad yang baru. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.islamqa.com/ar/ref/147166

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,158FansLike
3,817FollowersFollow
29,832FollowersFollow
60,869SubscribersSubscribe

RAMADHAN