tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
FIKIH

walimah nikah

Cincin Kawin: Sumber Kesyirikan?

Apakah boleh cincin mas pernikahan d jual

Dari Faiz Zahran via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kami hendak menyinggung keyakinan yang tersebar di sebagian masyarakat tentang cincin kawin. Sebagian orang meyakini, cincin kawin menjadi pengikat hati dan cinta suami istri. Kita tidak tahu dari mana asal muasal keyakinan ini berkembang. Yang jelas, islam tidak pernah mengajarkannya. Kita  juga tidak pernah mendapatkan informasi dari dalil, bahwa Allah akan melanggengkan cinta dalam keluarga, selama cincin kawin masih ada.

Meyakini bahwa cincin kawin merupakan sebab untuk keberlangsungan cinta, merupakan keyakinan yang sama sekali tidak berdasar dan tidak terbukti secara ilmiah. Apa kaitan cincin kawin dengan suasana hati. Percuma saja keberadaan cincin kawin, sementara suami hobi main perempuan dan si istri tidak bisa menjaga kehormatan.

Kedua, mengingat tidak ada hubungan antara cincin kawin dan suasana cinta antara suami dan istri, para ulama menyimpulkan, bahwa orang yang memakai cincin kawin dengan keyakinan cincin inni bisa menjadi sebab kelestarian cinta suami istri dan jika dilepas atau hilang bisa membahayakan kehidupan keluarga, merupakan sikap dan perbuatan kesyirikan. Dan ini termasuk keyakinan jahiliyah.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

وأما ( الدِّبْلَة ) فهذه ليست من عوائد المسلمين ، وهي التي تلبس لمناسبة الزواج ، وإذا كان يعتقد فيها أنها تسبب المحبّة بين الزوجين ، وأن خلعها وعدم لبسها يؤثر على العلاقة الزوجية ، فهذا يُعتبر من الشرك ، ويدخل في الاعتقاد الجاهلي

Cincin kawin, bukan termasuk tradisi dalam islam (sejak masa silam). Cincin kawin dipakai ketika pernikahan. Jika orang yang memakai berkeyakinan bahwa cincin ibi menjadi sebab kelestarian cinta antara suami istri, dan jika dilepas atau tidak dipakai bisa mempengaruhi keberlangsungan keluarga, maka ini termasuk kesyirikan. Dan termasuk keyakinan jahiliyah. (Fatwa Islam, no. 21441)

Ketiga, memahami keterangan di atas, tidak masalah menjual cincin kawin. Cincin kawin hanyalah cincin. Benda yang tidak bisa mendatangkan cinta atau sumber rizki, dan tidak bisa membuat orang jadi miskin atau bercerai. Keberadaannya maupun ketiadaannya, sejatinya sama sekali tidak mempengaruhi kelangsungan keluarga pasangan suami istri.

Keempat, jangan sampai keyakinan ini menggelayuti hati kita. Hal ini berulang kami tekankan, karena terkadang Allah menguji manusia dengan membenarkan keyakinan salahnya itu. Ketika seseorang berkeyakinan, hilangnya cincin kawin bisa membuat retak rumah tangga, bisa jadi keyakinan ini Allah wujudkan, sehigga tatkala cincin itu hilang, keluarganya menjadi terancam.

Dari Abdullah bin Ukaim Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Siapa yang bergantung kepada sesuatu, dia akan dipasrahkan kepadanya.” (HR. Ahmad 18781, Turmudzi 2214 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Ketika orang merasa bahwa keberadaan cincin kawin akan melanggengkan cintanya, dia akan curahkan ketergantungannya pada sang cincin ini. Dia berikan harapan dan kekhawatirannya kepada cincin ini.

Bagian dari hukumannya, Allah pasrahkan dia kepada benda itu.

Bagaimana caranya?

Ketika cincin ini hilang, atau terjual atau rusak, Allah jadikan keluarganya betul-betul bercerai. Sehingga hatinya semakin yakin pada cincin kawin itu. Karena ternyata keyakinannya terbukti.

Bagian inilah yang perlu disadari, ketika seseorang memiliki ketergantungan kepada benda tertentu.

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

apa itu Me Time

Hak Istri Untuk *Me Time*

Assalamua’laikum wr wb,

Saya ingin menanyakan tentang kehidupan berumah tangga, akhir-akhir ini marak istilah *Me Time* yaitu dimana seorang wanita yang sudah menikah meluangkan waktu untuk dirinya sendiri tanpa suami, anak dan keluarga untuk melakukan kegiatan yang biasanya dia lakukan sewaktu belum menikah. Misal hangout bersama teman-temannya, dsb.

Pertanyaan saya, apakah hali demikian diatur dalam Islam? Bagaimana seorang suami menyikapi keinginan istri yang demikian.

Syukron ustaz, jazakumulloh khoiron katsir.

Dari Moch Ramdhoni

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari kemurahan Allah, Dia jadikan setiap usaha yang dilakukan istri untuk melayani suami dan keluarganya sebagai ibadah. Sekalipun itu telah menjadi aktivitas rutin bagi para wanita di rumahnya, ternyata ini semua tidak disia-siakan oleh Allah. Bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai kewajiban. Terutama untuk urusan di dalam rumah, sehingga nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di sisi Allah.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

Wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya dan bagi anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggung jawaban tentang mereka. (HR. Bukhari 2554 & Muslim 4828)

Wanita yang perhatian dengan rumah tangganya, merupakan ciri wanita terbaik,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seperti apakah ciri wanita terbaik. Jawab beliau,

الَّتِى تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِى نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Yang menyenangkan suami ketika dilihat suaminya, mentaati suami ketika diperintah suaminya, dan tidak bertindak terhadap dirinya dan hartanya dengan perbuatan yang tidak disukai suaminya. (HR. Ahmad 7626, Nasai 3244 dan dishahihkan al-Albani).

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi mereka dengan jaminan surga, ketika bisa melayani suami dan keluarga dengan baik. Dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Apabila wanita menjaga shalat 5 waktu, menjaga puasa ramadhan, menjaga kehormatannya, an mentaati suaminya, maka dipersilahkan baginya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kamu inginkan.” (HR. Ahmad 1683, Ibnu Hibban 4163 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Untuk itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji para wanita Quraisy. Mereka potret wanita yang sangat belas kasih kepada anak-anaknya ketika masih kecil dan perhatian terhadap harta suaminya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِى صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِى ذَاتِ يَدِهِ

Sebaik-baik wanita yang menunggang onta adalah wanita quraisy yang solihah. Mereka paling penyayang terhadap anak ketika masih kecil dan perhatian terhadap semua harta suaminya. (HR. Bukhari 5082 & Muslim 6623).

Yang dimaksud ‘wanita yang menunggang onta’ adalah wanita arab. Sehingga makna hadis, wanita arab yang terbaik adalah wanita quraisy yang solihah. Karena karakter mereka: paling penyayang terhadap anak ketika masih kecil dan amanah serta perhatian terhadap semua harta suaminya.

Dan inilah kebaggaan sejati bagi wanita. Melayani keluarga, anak-anak, dan suami. Sumber kasih sayang di dalam rumah bagi semua penghuninya. Selalu memberikan kehangatan ketika ada anggota keluarga yang bercengkrama dengannya.

Kami yakin, anda akan sangat bangga jika memiliki ibu dengan kriteria seperti di atas. Ketimbang memiliki ibu seorang wanita karier atau ibu yang lebih memilih dekat dengan teman dari pada dengan keluarganya. Anda akan sangat bangga ketika anda memiliki ibu yang aktivitasnya lebih banyak di rumah, ketimbang ibu yang sibuk ngurusi luar rumah.

Konspirasi Musuh Islam

Kita tidak tahu pasti siapakah penggagas “me time” pertama kalinya. Namun kita layak suudzan, bisa jadi inni bagian dari upaya musuh islam untuk me-liberal-kan manusia. Semua bisa beraktivitas bebas tanpa aturan. Itulah misi mereka.

Sangat samar dan tidak memancing kecurigaan. Dan saat ini mereka begitu gencar menyelenggarakan momen-momen ‘nama hari’, untuk semakin mudah menyebarkan maksiat. Ada valentine’s day dan tahun baru yang menjadi hari zina internsional, april mop, hari yang mengajarkan orang menjadi pendusta, ada lagi Halloween day, hari klenik sedunia, kemudian ada lagi no bra day, hari telanjang sedunia.

Allahul musta’an (hanya kepada Allah kita minta perlindungan).

Yang kita sesalkan, kaum muslimin begitu latah dengan mereka. Hingga mereka menjadi pengikut setia propaganda orang kafir.

Barangkali inilah pembenar dari apa yang telah diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang  kondisi umat islam di akhir zaman. Umat islam menjadi umat yang labil dan mudah membeo umat lain.

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ » . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »

Sungguh kalian (umat islam) akan mengikuti kaum sebelum kalian, sama persis seperti jengkal kanan dengan jengkal kiri atau seperti hasta kanan dengan hasta kiri. Hingga andai mereka masuk ke lubang biawak gurun, kalianpun akan mengikuti mereka.

Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah yang anda maksud orang yahudi dan nasrani?’

Jawab beliau, “Siapa lagi (kalau bukan mereka).” (HR. Bukhari 7320 & Muslim 6952).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

foto mesra abraham samad editan

Menetapkan Tersangka Skandal Sex Melalui Foto

Assalamualaikum, mohon nasehatnya ustadz, baru-baru ini para netizen dan media online di Indonesia di hebohkan dengan beredarnya foto mesra yang mirip dengan ketua KPK Abraham Samad, sungguh sangat di sayangkan orang-orang terdidik seperti pegawai pemerintah juga ikut-ikutan mengedarkan foto tidak senonoh ini, banyak diantara mereka yang yakin akan foto ini dan menjadikan bahan gunjingan tanpa ada sedikit pun kekhwatiran dari mereka akan terjerumus kedalam fitnah ataupun gibah, bagaimana nasehat ustadz kepada seorang muslim dalam menyikapi beredarnya foto tidak senonoh yang jelas belum pasti kebenarannya ini? Saya berharap jawaban dari ustadz menjadi nasehat bagi muslim lainnya di Indonesia. Syukron.. (Wira-Jakarta)

Dari Wiratama via Tanya Ustadz for Android

Dikirim dari Yahoo Mail pada Android

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam Wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, hukuman bagi pelaku zina, baik cambuk maupun rajam, hanya bisa ditegakkan, jika terdapat salah satu dari tiga fenomena berikut,

1. Pengakuan pelaku

Ini sebagaimana yang terjadi pada Ma’iz bin Malik dan wanita Ghamidiyah. Di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dua orang ini melaporkan dirinya di hadapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengaku telah melakukan zina. Kisah Ma’iz bin Malik diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Sementara kisah wanita Ghamidiyah disebutkan dalam shahih muslim.

2. Ada 4 saksi yang berada di tempat kejadian ketika zina berlangsung

Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik (QS. an-Nur: 4).

3. Si wanita hamil, sementara dia tidak bersuami, dan bukan karena diperkosa. Ini termasuk indikator terkuat bahwa dia

Kedua, Islam menganjurkan agar hukuman had (hukuman yang ditetapkan berdasarkan syariat islam), seperti cambuk bagi pezina yang belum menikah, potong tangan bagi pencuri pada batas dan nilai yang ditetapkan, dst. agar hukuman semacam ini digugurkan ketika ada syubhat.

Syubhat itu bisa bentuknya keraguan mengenai kasus, ketidak jelasan bukti, kondisi saksi yang tidak memenuhi syarat, dst. Termasuk adanya peluang pemalsuan data, atau ada unsur kecurigaan terhadap bukti yang diberikan.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْرَءُوا الْحُدُودَ مَا اسْتَطَعْتُمْ عَنِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنْ وَجَدْتُمْ لِلْمُسْلِمِ مَخْرَجًا فَخَلُّوا سَبِيلَهُ فَإِنَّ الإِمَامَ لأَنْ يُخْطِئَ فِى الْعَفْوِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ فِى الْعُقُوبَةِ

Gugurkanlah hukuman had dari kaum muslimin sebisa kalian. Jika kalian menjumpai ada celah yang membuat dia tidak boleh dihukum, maka lepaskan dia. Karena kesalahan hakim dalam memaafkan orang yang berkasus itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam menjatuhkan hukuman mereka yang berkasus. (HR. Ad-Daruquthni 3141)

Hadis ini dinilai dhaif oleh para ulama, hanya saja sebagian menilai hasan li ghairih, mengingat ada banyak riwayat yang mendukungnya. Sebagaimana keterangan Imam Ibnu Baz dalam fatwanya (25/263).

Karena itu, ulama sepakat menerapkan kaidah ini. Jika ada unsur ketidak jelasan dalam kasus yang menuntut seseorang mendapat hukuman had, maka unsur ketidak jelasan ini menghalanginya untuk mendapatkan hukuman. Meskipun bisa jadi hakim menetapkan hukuman lainnya yang lebih ringan, seperti penjara.

Ketiga, berdasarkan prinsip ini, para ulama kontemporer tidak menerima keterlibatan teknologi dan fasilitas modern dalam menetapkan kasus tersangka pelanggaran had. Seperti foto, video, bahkan termasuk uji DNA. Karena semua ini, sekalipun bisa dibuktikan secara teknologi modern, masih mengandung peluang besar terjadinya kesalahan. Sehingga sangat tidak meyakinkan.

Lembaga Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir menyatakan,

والأمور المستحدثة والوسائل العلمية المتقدمة التي ظهرت ويمكن الاستعانة بها كأدلة إثبات في هذا الباب؛ كتحليل البصمة الوراثية (DNA)، وكالتصوير المرئي، والتسجيل الصوتي، لا تعدو أن تكون مجرد قرائن لا ترقى لأنْ تستقل بالإثبات في هذا الباب الذي ضيّقه الشرعُ

Fasilitas modern yang dikembangkan melalui ilmu pengetahuan masa kini, yang memungkinkan digunakan sebagai data pendukung dalam masalah penetapan kasus, seperti pemeriksaan DNA, foto, atau rekaman video, tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator yang independen dalam menetapkan kasus yang diberi batasan ketat oleh syariat. (Fatwa no. 4636, Februari 2009).

Kemudian secara khusus, Dar al-Ifta’ Mesir menjelaskan status tes DNA,

إن تحليل البصمة الوراثية الذي هو أقوى هذه الوسائل يرى الخبراء القانونيون أنه دليل غير مباشر على ارتكاب الجريمة، وأنه قرينة تقبل إثبات العكس، وهذا صحيح؛ لأن هذه التحاليل يعتريها الخطأ البشرى المحتمل. وحتى لو دلَّت البصمة الوراثية في نفسها على نفى النسب أو إثباته يقينًا، فإنَّ ذلك اليقين في نفسه يقع الظنُّ في طريق إثباته، مما يجعل تقرير البصمة الوراثية غير قادر على إثبات جريمة الزنا إثباتًا يقينيًّا، مما يجعل إثبات جريمة الزنا بذلك موضع شبهة وتردد

Tes DNA yang diyakini menjadi indikator terkuat, dinyatakan para pakar hukum, bahwa itu indikator yang tidak langsung berhubungan dengan tindak kriminal. Indikator ini masih sangat rentan dengan kenyataan sebaliknya. Dan ini benar. Karena uji DNA masih berpeluang ada unsur kesalahan manusia. Sekalipun DNA diyakini sebagai penentu nasab, namun sejatinya keyakinan ini masih ada unsur ‘asumsi’ dalam menetapkannya. Ini menjadi alasan terbesar mengapa uji DNA tidak bisa digunakan untuk meetapkan kasus zina dengan yakin. Sehingga, menggunakan sarana tes DNA untuk kasus tersebut, mengandung unsur yubhat dan keraguan. (Fatwa no. 4636, Februari 2009).

Anda bisa saksikan, ulama kontemporer tidak menetapkan uji DNA sebagai bukti skandal sex. Tentu bukti yang lebih rendah dari pada itu, semata-mata bukti foto, yang belum jelas keasliannya, sama sekali tidak bisa dijadikan bukti untuk menetapkan kasus skandal bagi tersangka. Apalagi hanya bermodal foto yang sangat mudah diedit. Terlebih memiliki tendensi politis. Dulu foto calon presiden salah memakai kain ihram ketika umrah bisa diedit, apalagi foto skandal semacam ini.

Keterangan lain juga disampaikan dalam Fatwa Lajnah Daimah,

لا يصح إثبات جريمة الزنا بما ذكر من التقرير الفاحص الكيماوي، وتقرير أخصائي في بصمات الأصابع وشهادة ظرفية، فإن ذلك إنما يفيد اجتماعا ومخالطة، ويثير التهمة، ويبعث ريبة في النفوس، ولا ينهض لإثبات الجريمة الموجبة للحد حتى يقام الحد على مرتكبيها

Tidak benar menetapkan skandal zina melalui uji lab, atau melalui sidik jari, atau saksi tempat kejadian. Karena semua ini hanya menunjukkan bahwa benda itu dipegang oleh pelaku, sehigga menimbulkan tuduhan, dan keraguan di hati. Dan tidak bisa digunakan untuk menetapkan kasus pelanggaran yang mengharuskan hukuman had, sehingga pelakunya harus dihukum had bagi pelakunya. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 3339).

Keempat, Allah melarang keras menyebarkan tuduhan zina, dalam bentuk apapun di tengah masyarakat. Terlebih jika dalam bentuk gambar atau video. Allah sebut tindakan ini sebagai Isya’atul Fahisyah (menyebarkan kekejian).

Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nur: 19).

Di masa silam, menghancurkan kehormatan orang lain dengan cara semacam ini hanya dilakukan orang munafiq. Hingga mereka berani menuduh Aisyah, istri tercinta baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tuduhan zina. Maha Suci Allah dari tuduhan keji itu.

Kasus belum jelas, namun berita telah tersebar ke seantero dunia. Terlebih dengan mencantumkan foto jorok yang tidak selayaknya ditampilkan di depan umum. Jika dulu pelakunya adalah  orang-orang munafik, maka tidak heran jika kebiasaan buruk ini juga dilestarikan para wartawan se-tipe mereka. Wartawan munafik.

Mengenai bahaya media, anda bisa pelajari: Jangan Menjadi Korban Media

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

cincin di jari telunjuk

Memakai Cincin di Jari Tengah & Telunjuk

Apa ada larangan pake akik di jari tengah? Aku denger ada hadisnya. Mohon pencerahannya tad…

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Anda bisa perhatikan hadis berikut,

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ ‏‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏‏أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ ، قَالَ :‏ ” ‏فَأَوْمَأَ ‏‏إِلَى الْوُسْطَى ، وَالَّتِي تَلِيهَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangku memakai cincin di dua jari: ini dan ini. Beliau memegang jari tengah dan jari setelahnya. (HR. Muslim 5614)

Dari hadis ini, an-Nawawi menetapkan judul,

باب النهي عن التختم في الوسطى والتي تليها

Bab, larangan memakai cincin di jari tengah dan jari setelahnya.

Dalam Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi mengatakan,

وَيُكْرَه لِلرَّجُلِ جَعْله فِي الْوُسْطَى وَاَلَّتِي تَلِيهَا لِهَذَا الْحَدِيث , وَهِيَ كَرَاهَة تَنْزِيه

Makruh bagi lelaki memakai cincin di jari tengah dan jari setelahnya, karena hadis ini. Dan ini larangannya makruh. (Syarh Shahih Muslim, 14/71).

Maksud Jari Setelahnya?

Kita simak keterangan al-Qurthubi,

ولو تختم في البنصر لم يكن ممنوعا ، وإنما الذي نهي عنه في حديث علي – رضي الله عنه – الوسطى والتي تليها من جهة الإبهام ، وهي التي تسمى المسبحة ، والسبابة

Jika ada orang yang memakai cincin di jari manis, tentu tidak terlarang. Yang dilarang dalam hadis Ali Radhiyallahu ‘anhu, adalah memakai cincin di jari tengah dan jari setelahnya ke arah jempol, yaitu  jari telunjuk. (al-Mufhim Syarh Shahih Muslim, 5/414).

An-Nawawi juga memberikan keterangan bahwa penyebutan telunjuk, ada di riwayat selain Muslim. an-Nawawi mengatakan,

وَرُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ فِي غَيْرِ مُسْلِمٍ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Hadis ini juga diriwayatkan di selain Shahih Muslim, dengan menyebutkan telunjuk dan jari tengah. (Syarh Shahih Muslim, 14/71)

Jari yang Tepat

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, menceritakan,

كَانَ خَاتِمُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى هَذِهِ. وَأَشَارَ إِلَى الْخِنْصَرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

Cincin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di jari ini. Lalu Anas memegang kelingking tangan kirinya. (HR. Muslim 5610).

An-Nawawi menegaskan,

وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ جَعْلُ خَاتَمِ الرَّجُلِ فِي الْخِنْصَرِ وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَإِنَّهَا تَتَّخِذُ خَوَاتِيمَ فِي أَصَابِعَ

Kaum muslimin sepakat bahwa yang sesuai sunah, lelaki memasang cincinnya di kelingkig. Sementara wanita boleh memakai cincinnya jari manapun. (Syarh Shahih Muslim, 14/71)

Baca juga artikel: Hadis Palsu Seputar Batu Akik

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

batu akik

Seputar Batu Akik

Sekarang lagi musim demen batu akik, hingga dijual dg harga jutaan. Katanya cincin akik punya fadhilah khusus. Apa itu benar?

Dul Hadi, Jatim

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat banyak hadis yang menyebutkan keutamaan cincin akik, namun semuanya tidak shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias palsu. Berikut diantara hadis-hadis tersebut,

Hadis pertama,

تختموا بالعقيق فإنه مبارك

Pakailah cincin akik, karena akik itu diberkahi

Hadis kedua,

تختموا بالعقيق فإنه ينفي الفقر

Pakailah cincin akik, karena cincin akik mengurangi kefakiran.

Sebagian ulama menjalskan, maksudnya, ketika seseorang memiliki akik, kemudian dia membutuhkan uang, dia bisa jual akiknya. Sehingga dia tidak harus berutang.

Hadis ketiga,

تختموا بالعقيق فإنه أنجح للأمر واليمنى أحق بالزينة

Pakailah cincin akik, karena akik membuat sukses urusan. Dan tangan kanan lebih berhak untuk diberi perhiasan.

Hadis keempat,

تختموا بالعقيق فإن جبريل أتاني به من الجنة وقال لي يا محمد تختم بالعقيق وأمر أمتك أن تتختم به

Pakailah cincin akik, karena jibril mendatangiku dengan membawa akik dari surga. Beliau berpesan, ‘Hai Muhammad, pakailah akik, dan perintahkan umatmu untuk memakai cincin akik.’

Hadis kelima,

تختموا بالخواتم العقيق فإنه لا يصيب أحدكم غم ما دام عليه

Pakailah cincin-cincin akik, karena kalian tidak akan pernah merasa sedih selama memakai cincin akik.

Hadis-hadis di atas disebutkan oleh al-Ajluni dalam kitab Kasyf al-Khafa, yang hampir semuanya beliau komentari: ‘Maudhu’ (Hadis palsu). Hingga beliau menyebutkan kesimpulan yang disampaikan al-Uqaili tentang masalah hadis akik,

لا يثبت في هذا عن النبي صلى الله عليه وسلم شئ

Tidak ada satupun hadis shahih tentang akik dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Kasyf al-Khafa, 1/300).

Untuk itu, bagi anda pengagum akik, hindari klaim tentang keutamaan akik dan anjuran memakai akik. Karena hadis yang menyebutkan hal ini statusnya palsu.

Hindari Pemborosan

Barangkali sejarah anthurium berulang. Masyarakat gila tren dedaunan, hingga rela mengosongkan sakunya. Begitu suasana ini hilang akibat diempas kilauan warna-warni daun aglaonema, hilang pula kehormatan anthurium.

Terkadang kita perlu menyadari, mengapa ekonomi kita begitu tergantung dengan tren dan hobi, yang itu umumnya usianya sangat pendek. Dulu kita juga dipermainkan dengan ikan lohan. Anda bisa saksikan, berapa lama masa kejayaan tanaman dan ikan hias itu. Begitu harganya hilang, semua tinggal kenangan dan penyesalan.

Tentu saja kita tidak berharap hal ini terulang untuk komoditas apapun. Sehingga kita hanya menjadi bulan-bulanan komunitas yang tidak jelas. Kita bisa menyadari, berapa lama hobi dan tren bisa bertahan di hati manusia yang sangat rentan dengan kebosanan.

Kita memohon kepada Allah, semoga kita tidak menjadi budak hobi.

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

wudhu dan bersuci

Cara Membasuh Telinga Saat Wudhu

Bagaimana cara membasuh telinga yg benar saat berwudhu? 
Dari Hastuti Andryani via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, mengusap telinga ketika wudhu hukumnya sunah menurut mayoritas ulama. Sementara Hambali dan sebagian Malikiyah mengatakan hukumnya wajib.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

فذهب الحنفية والمالكية على المشهور والشافعية إلى أن من سنن الوضوء مسح الأذنين ظاهرهما وباطنهما

Hanafiyah, Malikiyah menurut yang masyhur, dan Syafiiyah berpendapat bahwa bagian dari sunah wudhu adalah mengusap telinga, yang dalam maupun yang luar. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 43/365).

Mayoritas ulama berdalil bahwa tidak ada perintah khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ini, yang ada hanya praktek beliau. Sementara praktek Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam semata, tidak menunjukkan hukum wajib.

Semetara Hambali dan sebagian Malikiyah berdalil dengan hadis dari Abdullah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْأُذُنَانِ مِنْ الرَّأْسِ

Kedua telinga itu bagian dari kepala. (HR. Ibnu Majah 443 dan statusnya diperselisihkan ulama).

Mengingat kepala bagian yang wajib diusap ketika wudhu, maka telingapun termasuk yang wajib diusap. Telinga diqiyaskan dengan kepala menurut madzhab hambali.

Hanya saja terdapat riwayat dari Imam Ahmad bahwa beliau menilai orang yang tidak mengusap telinga ketika wudhu, baik dengan sengaja maupun lupa, wudhunya tetap sah. Karena dengan mengusap kepala, sudah dianggap termasuk mengusap telinga.

Ibnu Qudamah menulis keterangan al-Khallal,

وقال الخلال : كلهم حكوا عن أبي عبد الله فيمن ترك مسحهما عامدا أو ناسيا , أنه يجزئه ; وذلك لأنهما تبع للرأس

Al-Khallal mengatakan, Semua ulama yang menyebutkan dari Imam Ahmad, bahwa oran yang tidak mengusap kedua telinga secara sengaja maupun lupa, wudhu sah. Karena telinga mengikuti kepala. (al-Mughni, 1/90).

Kedua, dianjurkan mengambil air yang baru untuk mengusap telinga?

Setelah ita mengusap kepala, kemudian hendak mengusap telinga, apakah dianjurkan untuk mengambil air yang baru kemudian membuangnya dan digunakan mengusap telinga?

Ada dua pendapat ulama tentang hal ini,

Mayoritas ulama (Malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali) menyatakan, dianjurkan mengambi air yang baru untuk mengusap telinga.

Sementara Hanafiyah berpendapat, tidak dianjurkan mengambil air yang baru ketika mengusap telinga. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 43/365 – 366).

Terdapat satu hadis yang menganjurkan untuk mengambil air yang baru ketika mengusap telinga. Hadis itu menyatakan,

خذوا للرأس ماء جديدا

“Ambillah air yang baru untuk mengusap kepala.”

Hanya saja hadis ini statusnya sangat lemah (dhaif jiddan).

Dalam Silsilah ad-Dhaifah dinyatakan,

رواه الطبراني عن دهثم بن قران عن نمران بن جارية عن أبيه مرفوعا. قلت: وهذا سند ضعيف جدا دهثم قال الحافظ ابن حجر: ” متروك “.

Diriwayatkan at-Thabrani (dalam Mu’jam al-Kabir) dari jalur Dihtsam bin Qiran, dan Namran bin Jariyah, dari ayahnya secara marfu. Aku katakan: Sanadnya dhaif sekali, Dihtsam dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dengan, “Matruk.” (ditinggalkan hadisnya).

Kemudian ditegaskan dalam kitab as-Silsilah,

وخلاصة القول: أنه لا يوجد في السنة ما يوجب أخذ ماء جديد للأذنين فيمسحهما بماء الرأس

Kesimpulannya: tidak dijumpai dalam sunah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam satupun dalil yang mengharuskan mengambil air yang baru untuk telinga. Sehingga dia diusap dengan sisa air setelah mengusap kepala. (as-Silsilah al-Ahadits ad-Dhaifah, no. 995).

Ketiga, tata caranya

Mengenai tata cara mengusap telinga, dinyatakan dalam hadis,

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ بَاطِنِهِمَا بِالسَّبَّاحَتَيْنِ وَظَاهِرِهِمَا بِإِبْهَامَيْهِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, kemudian beliau mengusap kepalanya dan kedua telinganya, bagian dalam dengan jari telunjuk dan bagian luar dengan jempol. (HR. Nasai 102 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan tata cara wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengusap telinga,

فَأَدْخَلَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّاحَتَيْنِ فِى أُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ عَلَى ظَاهِرِ أُذُنَيْهِ وَبِالسَّبَّاحَتَيْنِ بَاطِنَ أُذُنَيْهِ

Beliau memasukkan kedua jari telunjuknya di telinganya, lalu beliau mengusap bagian luar telinga dengan jempolnya dan beliau mengusap dalam telinga telunjuk. (HR. Abu Daud 135, dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

Keempat, tidak boleh dibalik

Mengusap telinga sebelum mengusap kepala, tidak dinilai

Hal ini diingatkan an-Nawawi,

واعلم أن مسح الأذنين بعد مسح الرأس فلو قدمه عليه فظاهر كلام الأصحاب أنه لا يحصل له مسح الأذنين، لأنه فعله قبل وقته، وذكر الروياني في حصوله وجهين، والصحيح المنع.

Pahami, bahwa mengusap kedua telinga harus dilakukan setelah mengusap kepala. Jika ada orang yang melakukannya sebelum mengusap kepala, yang umumnya dipahami ulama madzhab syafiiyah, itu tidak dinilai sebagai mengusap telinga. Karena dia melakukannya sebelum waktunya.

Sementara ar-Ruyani menyebutkan bahwa tentang keabsahannya ada dua pendapat. Dan yang benar, tidak dibolehkan. (al-Majmu’, 1/413).

Kelima, Mengusap telinga ketika memakai jilbab

Ketika wanita melakukan wudhu di tempat umum, di sana banyak lelaki yang bukan mahram, dia tidak diperkenankan melepas jilbabnya. Yang dia lakukan adalah mengusap permukaan jilbab sebagai pengganti mengusap kepala.

Dalam Syarh Muntaha al-Iradat dinyatakan,

ويصح المسح أيضا على خُمُرِ نساء مُدارةٍ تحت حلوقهن ؛ لأن أم سلمة كانت تمسح على خمارها ، ذكره ابن المنذر

Bagi wanita boleh mengusap di atas jilbabnya yang melingkar sampai ke leher. Karena Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha pernah mengusap bagian atas jilbabnya, sebagaimana keteranan Ibnul Mundzir. (Syarh Muntaha al-Iradat, 1/60)

Keterangan selengkapnya bisa dipelajari di: Cara Wanita Mengusap Kepada Ketika Wudhu di tempat Umum

Apakah dia harus mengusap telinganya?

Dalam fatwa islam ketika menjelaskan kesimpulan penulis Syarh Muntaha al-Iradat, dinyatakan,

ومادام الخمار ساترا للأذنين ، فإنه يكفي المسح على الخمار ، ولا يلزم إدخال اليدين تحت الخمار لمسحهما

Mengingat kerudung itu menutupi kedua telinga, maka cukup mengusap di atas kerudung. Dan tidak wajib memasukkan kedua tangan ke bawah kerudung untuk mengusap telinga. (Fatwa Islam, no. 72391)

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Penembakan Charlie Hebdo

Charlie Hebdo Penghina Nabi?

Ada penyerangan kantor majalah Charlie Hebdo yang membuat karikatur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga ada banyak yang mati. Apakah tindakan ini dibenarkan? dan Bagaimana sikap kita?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Ulama sepakat, orang yang menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhak mendapat hukuman mati.

Berikut kita simak keterangan Syaikhul Islam al-Harrani dalam kitabnya as-Sharim al-Maslul,

وقد حكى أبو بكر الفارسي من أصحاب الشافعي إجماع المسلمين على أن حد من سب النبي صلى الله عليه و سلم القتل كما أن حد من سب غيره الجلد

Abu bakr al-Farisi, salah satu ulama syafiiyah menyatakan, kaum muslimin sepakat bahwa hukuman bagi orang yang menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bunuh, sebagaimana hukuman bagi orang yang menghina mukmin lainnya berupa cambuk.

Selanjutnnya Syaikhul Islam menukil keterangan ulama lainnya,

قال الخطابي : لا أعلم أحدا من المسلمين اختلف في وجوب قتله؛

Al-Khithabi mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya beda pendapat di kalangan kaum muslimin tentang wajibnya membunuh penghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

وقال محمد بن سحنون :  أجمع العلماء على أن شاتم النبي صلى الله عليه و سلم و المتنقص له كافر و الوعيد جار عليه بعذاب الله له و حكمه عند الأمة القتل و من شك في كفره و عذابه كفر

Sementara Muhammad bin Syahnun juga mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa orang yang mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina beliau statusnya kafir. dan dia layak untuk mendapatkan ancaman berupa adzab Allah. Hukumnya mennurut para ulama adalah bunuh. Siapa yang masih meragukan kekufurannya dan siksaan bagi penghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti da kufur.”
(as-Sharim al-Maslul, hlm. 9).

Keteragan lain juga disampaikan as-Syaukani. Ketika menjelaskan hadis yang menyebutkan hukuman bunuh bagi penghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan,

وفي حديث ابن عباس وحديث الشعبي دليل على أنه يقتل من شتم النبي صلى الله عليه وسلم. وقد نقل ابن المنذر الاتفاق على أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم صريحا وجب قتله

Dalam hadis Ibnu Abbas dan hadis asSya’bi terdapat dalil bahwa orang yang menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihukum bunuh. Ibnul Mundzir menyebutkan bahwa ulama sepakat, orang yang menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kalimat teas, wajib dibunuh. (Nailul Authar, 7/224).

Dalil Hukuman Bunuh bagi Penghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Diantara dalil yang secara tegas menunjukkan hukuman mati bagi penghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadis dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ ، فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ ، فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا

Ada seorang wanita yahudi yang menghina Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mencela beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat sampai mati. Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggugurkan hukuman apapun darinya. (HR. Abu Daud 4362 dan dinilai Jayid oleh Syaikhul Islam)

Hadis di atas semakna dengan hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

Dulu ada sahabat buta yang memiliki seorang budak wanita, yang suka menghina dan mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat buta inipun melarangnya dari perbuatan itu. Namun dia tetap terus menghina beliau. Sang sahabat kembali melarangnya dengan keras, tapi dia tidak mau berhenti.

Di suatu malam, budak wanita ini kembali mencela dan menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya sang sahabat buta ini mengambil pisau, kemudian ditusukkan ke perut budak wanita itu, kemudian dia tindih sampai mati.

Pagi harinya, berita ini sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau kumpulkan para sahabat, dan bertanya,

أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ

Saya jadikan Allah sebagai saksi, jika benar ada orang yang melakukan pembelaan kepadaku, tolong dia berdiri.

Kemudian berdirilah lelaki buta itu, dan dia ceritakan kejadian yang sebenarnya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ

Saksikanlah bahwa darah wanita itu tidak bisa dituntut. (HR. Abu Daud 4363, ad-Daruquthni 3242 dan dishahihkan al-Albani).

Ketentuan ini, hanya khusus untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika yang dihina selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat tidak memberlakukan hukuman bunuh. Hanya saja kebijakan hukumannya dikembalikan kepada pemerintah.

Abu Barzah al-Aslami menceritakan, ada orang yang menghina Abu Bakr as-Shiddiq. Lalu saya bertanya, “Boleh saya membunuhnya?”

Beliaupun memarahiku, dan mengatakan,

لَيْسَ هَذَا لِأَحَدٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Pembelaan ini tidak boleh untuk seorangpun selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Ahmad 55, Nasai 4071 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Siapa Pelaksana Hukuman Ini?

Yang berwenang melaksanakan hukuman ini hanyalah pemerintah. Selain mereka tidak berhak, kecuali tuan kepada budaknya. Karena seorang tuan, berhak memberikan hukuman had kepada budaknya, sebagaimana yang dilakukan sahabat buta di atas kepada budaknya.

Terlebih, jika pelakunya warga negara kafir yang bisa jadi mereka akan melakukan pembalasan lebih kejam kepada kaum muslimin. Sehingga tidak dibenarkan melakukan tindak pembunuhan secara ilegal semacam ini.

Dr. Soleh al-Fauzan pernah ditanya

السائل: هل يجوز اغتيال الرسام الكافر الذي عرف بوضع الرسوم المسيئة للنبي صلى الله عليه وسلم؟

Penanya: Bolehkah membunuh kartunis kafir yang terkenal dengan membuat kartun yang menghina Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam?

Jawaban beliau,

الشيخ: هذا ليس طريقة سليمة الاغتيالات وهذه تزيدهم شرا وغيظا على المسلمين لكن الذي يدحرهم هو رد شبهاتهم وبيان مخازيهم وأما النصرة باليد والسلاح هذه للولي أمر المسلمين وبالجهاد في سبيل الله عز وجل نعم

Ini bukanlah cara yang tepat. Melakukan pembantaian. Ini akan menambah keburukan dan kemarahan mereka kepada kaum muslimin. Akan tetapi, cara menolak mereka adalah dengan membantah keyakinan menyimpang mereka dan menjelaskan perbuatan mereka yang sangat memalukan tersebut. Adapun membela (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) dengan tangan dan senjata, maka ini hanyalah untuk para pemerintah kaum muslimin dan hanya melalui jihad di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.

Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/1960

Terkait Video Penyerangan Kantor Charlie Hebdo

Hingga kini kita belum bisa memastikan kebenaran video penyerangan itu, dan apa benar ada 11 korban dalam penyerangan itu. Karena kami juga mendapatkan informasi bahwa itu hanya konspirasi barat sebagai alasan untuk membalas orang islam, dengan memanfaatkan suasana yang sedang marak di barat, karikatur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menurut beberapa analis, video kejadian yang sulit dicerna nalar. Ada banyak sisi yang sulit membenarkan kasus pembunuhan itu.

Di sini, kita hanya menilai sikap. Yang benar kita nilai benar dan yang salah, tetap kita salahkan sekalipun pelakunya muslim.

Selalu berdoa kepada Allah, agar kita dijauhkan dari tipu daya setan dan bala tentaranya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

bangkai tikus

Membuang Bangkai Tikus di Jalan

Apa hukumnya membuang bangkai tikus di jalan? Krn seperti ini banyak dilakukan masyarakat.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada banyak hal yang membahayakan ketika seseorang membuang bangkai tikus di sembarang tempat, terlebih di jalanan. Baik bahaya dari sisi syariah maupun medis.

Kita bisa menyebutkan beberapa ancaman bahaya itu, diantaranya,

  1. Bangkai tikus adalah benda najis dengan sepakat ulama
  2. Bangkai tikus termasuk benda menjijikkan, sehingga mengganggu orang lain
  3. Menimbulkan bau yang tidak sedap
  4. Sumber berbagai bakteri dan kuman penyakit, seperti Leptospira atau Y. Pestis, yang semuanya sangat mengancam kesehatan manusia.

Karena itu, kita bisa memastikan bahwa membuang bangkai tikus di jalan atau tempat umum, hukumnya sangat terlarang, bahkan bisa jadi termasuk perbuatan dosa. Ada beberapa alasan untuk itu,

Pertama, kita dilarang secara sengaja meletakkan benda najis di tempat umum

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ، الَّذِى يَتَخَلَّى فِى طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِى ظِلِّهِمْ

Takutlah kalian kepada dua sumber laknat. Yaitu orang yang buang hajat di jalan yang dilewati banyak orang atau di tempat yang biasa digunakan untuk berteduh. (HR. Muslim 641, Abu Daud 25 dan yang lainnya).

An-Nawawi menjelaskan hikmah, mengapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras buang hajat di jalan, hingga beliau menyebutnya sebagai sumber laknat.

وما نهى عنه في الظل والطريق لما فيه من إيذاء المسلمين بتنجيس من يمر به ونتنه واستقذاره والله أعلم

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang buang hajat di tempat umumnnya orang berteduh atau di jalan, karena perbuatan semacam ini akan mengganggu kaum muslimin, dengan menyebarkan najis kepada orang yang lewat, menyebarkan bau busuk, dan menyebarkan kotoran kepada mereka. Allahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim an-Nawawi, 3/162).

Dan membuang bangkai tikus di jalan, tidak berbeda dengan itu.

Kedua, islam menganjurkan agar kita menghilangkan hal yang mengganggu orang lain di jalan atau di tempat umum.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan cabang iman,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

Iman memiliki 60 atau 70 lebih cabang. Yang paling tinggi, syahadat ‘Laa ilaaha illallaah’ dan yang paling rendah, menyingkirkan gangguan dari jalan. (HR. Muslim 162, Ahmad 9161, Turmudzi 2822 dan yang lainnya).

Berikan garis tebal untuk pernyataan, menyingkirkan gangguan dari jalan adalah cabang iman yang paling rendah. Jika kita menggunakan prinsip mafhum mukhalafah (mengambil kesimpulan kebalikannya), berarti tindakan menyebarkan gangguan di jalan, bertentangan dengan cabang iman yang paling rendah.

Islam juga menggolongkan kegiatan menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk sedekah. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa bentuk perbuatan yang bernilai sedekah, diantaranya,

وَيُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

Menghilangkan gangguan dari jalan termasuk sedekah. (HR. Bukhari 2989, Ahmad 8840 dan yang lainnya).

Jika kita mengambil kesimpulan sebaliknya, berarti membuang bangkai tikus di jalan termasuk sikap ‘anti-sedekah’.

Islam juga menyebut kegiatan menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk khusnul khuluk (amal baik). Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَىَّ أَعْمَالُ أُمَّتِى حَسَنُهَا وَسَيِّئُهَا فَوَجَدْتُ فِى مَحَاسِنِ أَعْمَالِهَا الأَذَى يُمَاطُ عَنِ الطَّرِيقِ

Ditampakkan kepadaku amalan seluruh umatku. Yang baik maupun yang buruk. aku melihat diantara amal baik mereka: menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. (HR. Ahmad 22170 dan Muslim 1261).

Dengan prinsip yang sama, mengambil kesimpulan sebaliknya, berarti membuang bangkai tikus di jalan termasuk amal kejahatan.

Masih terdapat sisi buruk lainnya, semoga keterangan di atas sudah mencukupi. Yang jelas, membuang bangkai tidus di jalan adalah kesalahan besar yang tidak selayaknya dilakukan seorang muslim.

Seharusnya bangkai semacam ini ditanam, bisa juga dijadikan pupuk tanaman. Jelas bermanfaat dan tidak membahayakan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat di pesawat

Menentukan Waktu Shalat Ketika Di Pesawat

Assalamu’alaikum, Pak. Ngapunten… Ada teman yang akan berangkat ke amerika. Di jadwal perjalanan tertulis penerbangan :  berangkat 4 Jan 09.20 dari Sing sampai Los Angeles di hari yg sama 4 Jan 11.55 waktu sana (waktu LA 15 jam lebih lambat). Dan sudah ditanyakan kepada yang pernah ke sana bahwa perjalanan ke amerika, entah berangkat atau pulang pasti akan mendapati perjalanan siang/malam terus, pdhal perjalanan 18 jam. Dia bertanya, bagaimana shalatnya : sesuai keadaan matahari (siang terus -zhuhur dan ‘ashr saja) atau tetap 5 waktu dg memperkirakan waktunya?

Faridh

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Pertama, syariat islam memberikan batasan beberapa waktu ibadah, seperti shalat maupun puasa dengan tanda alam yang bisa terindera, yaitu posisi peredaran matahari. Sehingga seorang muslim bisa mengetahui batasan waktu itu dengan dua cara,

1. Melihat langsung tanda alam itu. Allah ajarkan batasan puasa dalam al-Quran,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. al-Baqarah: 187)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan bagaimana menentukan waktu berbuka,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Jika malam telah datang dari arah sini dan waktu siang telah berlalu dari sini, serta matahari telah tenggelam, maka itulah saatnya orang yang shaum boleh berbuka.” (Muttafaq ‘alaih).

2. Cara kedua adalah melalui informasi orang yang terpercaya. Sebagaimana yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum Radhiyallahu ‘anhu, sahabat buta yang menjadi petugas adzan untuk waktu subuh. Karena beliau buta, sehingga beliau baru tahu terbitnya fajar, setelah diberi tahu orang lain. (HR. Bukhari 592)

Praktek masyarakat dengan melihat jadwal shalat kalender, termasuk bentuk penerapan cara kedua. Meyakini datangnya waktu ibadah berdasarkan informasi dari orang yang terpecaya. Termasuk juga terkadang awak pesawat menginformasikan waktu shalat kepada para penumpang.

Kedua, mengingat acuan waktu ibadah shalat kembali kepada posisi matahari, ada perbedaan yang sangat signifikan antara waktu  shalat di darat dengan waktu shalat di atas pesawat. Terutama untuk waktu asar, maghrib, dan subuh. Terkadang di darat, matahari sudah tenggelam. Namun di udara matahari masih bisa terlihat dengan jelas.

Di sinilah yang menjadi titik masalah, apa acuan waktu yang harus digunakan?

Waktu di darat yang lurus dengan posisi pesawatnya berada? Ataukah posisi matahari sebagaimana yang terlihat di pesawat?

Jika kita perhatikan beberapa literatur fiqh masa silam, sebenarnya para ulama telah memberikan keterangan tentang kasus semacam ini. Meskipun di zaman itu belum ada pesawat. Keterangan yang mereka samaikan, terkait kasus orang yang tinggal atas gunung atau orang yang berada di atas menara. Ini artinya, masalah perbedaan waktu ibadah karena perbedaan posisi ketinggian, bukan masalah kontemporer.

Imam al-Kasani (w. 587 H) pernah menukil keterangan dari Imam Abu Abdillah bin Abi Musa ad-Dharir. Bahwa beliau pernah ditanya tentang kasus penduduk Iskandariyah. Kota ini merupakan pelabuhan tua di Mesir dan di sana terdapat mercusuar yang dibangun sekitar tahun 280 SM. Tinggi mercusuar ini sekitar 120 m.

Imam Abu Abdillah ad-Dharir ditanya,

Masyarakat di dataran Iskandariyah melihat matahari telah tenggelam. Sementara mereka yang berada di atas mercusuar baru melihat matahari tenggelam beberapa menit setelah itu.

Jawaban Imam Abu Abdillah,

يحل لأهل البلد الفطر ولا يحل لمن على رأس المنارة إذا كان يرى غروب الشمس؛ لأن مغرب الشمس يختلف كما يختلف مطلعها، فيعتبر في أهل كل موضع مغربه

Dibolehkan bagi penduduk daerah (yang tinggal di darat) untuk berbuka. Namun tidak boleh bagi mereka yang berada di uncak menara, sampai dia telah melihat terbenamnya matahari. Karena waktu terbenamnya matahari berbeda-beda sebagaimana waktu terbitnya matahari juga berbeda. Sehingga masing-masing orang mengikuti waktu terbenamnya sesuai posisinya. (Badai’ as-Shanai’, 2/83)

Dengan mengacu pada keterangan beliau, maka acuan waktu shalat bagi penumpang pesawat adalah posisi matahari sebagaimana yang terlihat di pesawat.

Ketiga, islam memberikan kelonggaran bagi musafir untuk menjamak shalat wajibnya. Sehingga memudahkan mereka dalam menentukan waktu shalat. Karena yang harus mereka perhatikan tinggal 3 waktu:

  1. Waktu shalat subuh: sejak terbit fajar hingga terbenam matahari
  2. Waktu dzuhur dan asar: antara tergelincirnya matahari, hingga terbenam matahari.
  3. Waktu Maghrib dan isya: antara terbenamnya matahari, hingga pertengahan malam.

Musafir dibolehkan melakukan jamak taqdim maupun ta’khir, sesuai dengan keadaannya.

Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِى الْمَغْرِبِ مِثْلَ ذَلِكَ إِنْ غَابَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di Tabuk, apabila beliau melakukan perjalanan setelah matahari tergelincir (telah masuk waktu zuhur), maka beliau menjamak shalat zuhur dan ashar (jamak taqdim). Dan apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan shalat zuhur hingga beliau jamak di waktu ashar. Untuk maghrib juga demikian. Jika matahari tenggelam sebelum beliu berangkat, beliau menjamak antara maghrib dengan isya (jamak taqdim). Dan jika berangkat sebelum matahari tenggelam, beliau akhirkan shalat maghrib, hingga beliau singgah untuk melakukan shalat isya, kemudian beliau menjamaknya dengan maghrib.

(HR. Muslim 6086, Abu Daud 1210, Tirmidzi 556 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Keempat, dilema antara waktu dan tata cara

ada banyak kekurangan ketika orang melakukan shalat di atas kendaraan. Diantaranya, dia tidak bisa shalat sambil berdiri, tidak bisa rukuk dan sujud dengan semurna, terkadang tidak menghadap kiblat, dan bahkan terkadang tidak bisa wudhu, dan hanya tayammum. Sehingga shalat di kendaraan, menyebabkan tata cara shalatnya sangat jauh dari kondisi sempurna.

Berbeda dengan shalat di darat. Dia bisa laksanakan dengan lebih sempurna. Hanya saja waktunya di akhirkan.

Di sinilah musafir dihadapkan pada dua pilihan, pertama, melakukan shalat di awal waktu, namun di atas kendaraan dengan penuh kekurangan. Kedua, menunda waktu shalat namun dia bisa kerjakan secara lebih sempurna.

Anda bisa perhatikan kaidah fiqh berikut untuk menentukan pilihan yang terbaik,

الفضيلة في ذات العبادة مقدمة على الفضيلة في مكان أو وقت العبادة

Menyempurnakan tata cara ibadah lebih didahulukan dari pada mengambil tempat atau waktu yang utama dalam ibadah. (Fawaid ar-Rajihi, 5/4)

Berdasarkan kaidah ini, kita ditekankan untuk memilih opsi kedua, menunda waktu shalat namun dia bisa kerjakan secara lebih sempurna, dengan catatan tidak sampai keluar waktu shalat.

Seperti inilah yang difatwakan Imam Ibnu Utsaimin. Bahkan beliau melarang shalat wajib di pesawat selama masih memungkinkan dikerjakan di darat, karena waktunya belum berakhir, atau bisa dijamak dengan shalat setelahnya.

Dalam Majmu’ Fatawanya, beliau menyatakan,

“Jika masih memungkinkan mendarat sebelum berakhir waktu shalat yang sekarang, atau sebelum berakhir waktu shalat selanjutnya yang memungkinkan untuk dijamak, maka tidak boleh shalat di pesawat karena shalat di pesawat itu tidak bisa menunaikan semua hal wajib dalam shalat. Jika memang demikian keadaannya maka hendaknya menunda shalat hingga mendarat lalu shalat di darat dengan cara yang benar” (Majmu’ Fatawa War Rasa-il, fatwa no.1079).

Sebagai contoh,

Anda yang melakukan perjalanan ke tanah suci, berangkat dari jakarta jam 10.00 WIB, anda akan tiba di Jedah sekitar jam 15.00 waktu Saudi. Dan itu baru masuk waktu shalat asar. Dengan menerapkan keterangan di atas, anda tidak selayaknya melakukan shalat dzuhur dan asar di pesawat. Namun anda bisa tunda hingga mendarat, sehingga bisa melakukan shalat dzuhur dan asar dijamak ta’khir di Jedah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mahar al-quran

 Nikah Tanpa Seperangkat Alat Sholat

Ass ..
mau nanya pak ustas apa sah nikah tanpa ada seperangkat alat sholat .. dan yang saya nikahi ini sdah hamil .. mohon solusix pak ustas

Dari Andi Wibowo via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa ketentuan tentang mahar dalam pernikahan, yang bisa kita gunakan untuk menjawab pertanyaan di atas,

Pertama, bahwa suami wajib memberikan mahar kepada istrinya.

Allah berfirman,

وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan…(QS. an-Nisa: 4)

Allah juga berfirman,

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً

“Isteri-isteri yang telah kamu campuri di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban…” (QS. an-Nisa: 24)

 

Kedua, mennyebutkan mahar ketika akad nikah, bukan syarat sah nikah

Ulama sepakat, akad nikah tetap sah, sekalipun tidak disebutkan maharnya di majlis akad.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan:

أَنَّ ذِكْرَ الْمَهْرِ فِي الْعَقْدِ لَيْسَ شَرْطًا لِصِحَّةِ النِّكَاحِ فَيَجُوزُ إِخْلاَءُ النِّكَاحِ عَنْ تَسْمِيَتِهِ بِاتِّفَاقِ الْفُقَهَاءِ

Menyebut mahar ketika akad bukanlah syarat sah nikah. Karena itu, boleh nikah tanpa menyebut mahar dengan sepakat ulama. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 39:151)

Karena dalam islam, ada ketentuan yang berlaku untuk wanita yang ditalak sebelum ditentukan maharnya. Artinya selama proses pernikahan berlangsung, mahar belum diserahkan bahkan belum ditentukan besarnya.

Ibnu Qudamah mengatakan,

أن النكاح يصح من غير تسمية صداق، في قول عامة أهل العلم. وقد دل على هذا قول الله تعالى: لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً

”Akad nikah sah, sekalipun tanpa menyebut mahar, menurut pendapat mayoritas ulama. Dalil mengenai hal ini adalah firman Allah (yang artinya), ”Tidak ada dosa bagi kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya.” (al-Mughni, 7/237).

Ketiga, Tidak ada ketentuan bentuk mahar

Tidak ada ketentuan mengenai bentuk mahar. Artinya mahar bisa diberikan dalam bentuk apapun, yang penting memiliki nilai komersil. Yang diistilahkan oleh Imam as-Syafii dengan maa yatamawwalu bihi an-Nas (sesuatu yang dianggap barang ada harganya menurut masyarakat). Sehingga bisa berupa uang, emas, atau barang lainnya.

Imam As-Syafii mengatakan,

أقل ما يجوز في المهر أقل ما يتمول الناس وما لو استهلكه رجل لرجل كانت له قيمة وما يتبايعه الناس بينهم

Minimal yang boleh dijadikan mahar adalah harta ukuran minimal yang masih dihargai masyarakat, yang andaikan harta ini diserahkan seseorang kepada orang lain, masih dianggap bernilai, layak diperdagangkan. (Al-Umm: 5/63).

Karena itu, jika benda tersebut tidak memiliki nilai, dan tidak dianggap sebagai harta, tidak bisa disebut Mahar. Sehingga suami berkewajiban menggantinya dengan benda yang lebih bernilai.

An-Nawawi mengatakan,

ليس للصداق حد مقدر بل كل ما جاز أن يكون ثمنا أو مثمنا أو أجرة جاز جعله صداقاً فإن انتهى في القلة إلى حد لا يتمول فسدت التسمية

Tidak ada ukuran untuk mahar, namun semua yang bisa digunakan untuk membeli atau layak dibeli, atau bisa digunakan untuk upah, semuanya boleh dijadikan mahar. Jika nilainya sangat sedikit, sampai pada batas tidak lagi disebut harta oleh masyarkat, maka tidak bisa disebut mahar. (Raudhatut Thalibin, 3/34).

Berdadasarkan keterangan di atas, tidak masalah melakukan akad nikah tanpa seperangkat alat shalat. Karena mahar tidak harus alat shalat. Bahkan suami bisa memberikan yang lebih mahal dari pada alat shalat, misalnya emas, perhiasan atau lainnya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,247FansLike
3,925FollowersFollow
30,033FollowersFollow
61,409SubscribersSubscribe

RAMADHAN