tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Hukum Perdagangan

jual beli kucing

Jual Beli Kucing

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama melarang jual beli kucing, bahkan mengharamkannya. Ini merupakan pendapat Zahiriyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Ibnul Mundzir menyebutkan, bahwa pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Diantara hadis yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Abu Az-Zubair, bahwa beliau pernah bertanya kepada Jabir tentang hukum uang hasil penjualan anjing dan Sinnur. Lalu sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal itu. (HR. Muslim 1569).

Dalam riwayat lain dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makan uang hasil penjualan anjing dan sinnur. (HR. Abu Daud 3479, Turmudzi 1279, dan dishahihkan al-Albani).

Sinnur artinya kucing.

As-Syaukani mengatakan,

فيه دليل على تحريم بيع الهر وبه قال أبو هريرة ومجاهد وجابر وابن زيد حكى ذلك عنهم ابن المنذر وحكاه المنذري أيضا عن طاوس وذهب الجمهور إلى جواز بيعه

Dalam hadis ini terdapat dalil haramnya menjual kucing dan ini merupakan pendapat Abu Hurairah, Mujahid, Jabir, dan Ibnu Zaid. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Mundzir. Kemudian al-Mundziri menyebutkan bahwa ini juga pendapat Thawus. Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat, boleh melakukan jual beli kucing.

Para ulama yang membolehkan jual beli kucing beralasan, bahwa hadis di atas statusnya dhaif. Namun menilai hadis di atas dhaif adalah penilaian yang tidak bisa diterima.

Ketika membahas tentang hadis yang melarang jual beli kucing, An-Nawawi mengatakan,

وأما ما ذكره الخطابي وابن المنذر أن الحديث ضعيف فغلط منهما ، لأن الحديث في صحيح مسلم بإسناد صحيح

Apa yang dinyatakan al-Khithabi dan Ibnul Mundzir bahwa hadis di atas statusnya dhaif, adalah kesalahan. Karena hadis ini ada di shahih Muslim dengan sanad yang shahih. (al-Majmu’, 9/230)

Ada juga yang mengatakan bahwa larangan dalam hadis itu sifatnya makruh atau khusus untuk kucing liar. Namun ini dibantah oleh as-Syaukani. Beliau menegaskan,

ولا يخفى أن هذا إخراج للنهي عن معناه الحقيقي بلا مقتض

Tidak diragukan bahwa pemahaman semacam ini berarti memahami larangan dalam hadis itu dari maknanya yang haqiqi tanpa indikasi apapun. (Nailul Authar, 5/204).

Al-Baihaqi mengatakan – sebagai bantahan untuk pendapat jumhur – ,

وقد حمله بعض أهل العلم على الهر إذا توحش فلم يقدر على تسليمه ، ومنهم من زعم أن ذلك كان في ابتداء الإسلام حين كان محكوماً بنجاسته ، ثم حين صار محكوماً بطهارة سؤره حل ثمنه ، وليس على واحد من هذين القولين دلالة بينة

Sebagian ulama memahami bahwa larangan ini berlaku untuk kucing liar yang tidak bisa ditangkap. Ada juga yang mengatakan bahwa larangan ini berlaku di awal islam ketika kucing dinilai sebagai hewan najis. Kemudian setelah liur kucing dihukumi suci, boleh diperjual belikan. Namun kedua pendapat ini sama sekali tidak memiliki dalil pendukung. (Sunan al-Kubro, al-Baihaqi, 6/11).

Ibnul Qoyim juga menegaskan bahwa jual beli kucing hukumnya haram. Dalam Zadul Ma’ad, beliau mengatakan,

وكذلك أفتى أبو هريرة رضي الله عنه وهو مذهب طاووس ومجاهد وجابر بن زيد وجميع أهل الظاهر ، وإحدى الروايتين عن أحمد ، وهو الصواب لصحة الحديث بذلك ، وعدم ما يعارضه فوجب القول به

Demikian pula yang difatwakan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dan ini pendapat Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, dan semua ulama Zahiriyah, serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad, bahwa jual beli kucing hukumnya terlarang. Inilah yang benar karena hadisnya shahih, dan tidak ada dalil lain yang bertentangan dengannnya. Sehingga kita wajib mengikuti hadis ini. (Zadul Ma’ad, 5/685).

Demikian, Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

undian yang halal

Undian yang Halal

Tanya tadz, Kapan undian dibolehkan ya? Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Semata melakukan undian, bukanlah hal tercela. Orang soleh masa silam, termasuk para nabi, mereka melakukan undian.

Dulu, waktu Nabi Yunus bin Mata ‘alaihis salam naik perahu, ternyata perahu yang beliau tumpangi kelebihan penumpang. Sehingga salah satu diantara mereka harus menceburkan diri ke laut. Dilakukanlah undian, ternyata yang mendapat undian itu adalah Nabi Yunus. Allah menceritakan,

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

”Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (QS. As-Shaffat: 139 – 141)

Dulu, ketika Maryam binti Imram masih kecil, ibunya menyerahkannya untuk berkhidmat bagi umat. Di saat itu ada beberapa orang yang berebut untuk mengasuh, ibunda nabi Isa. Salah satu yang terlibat adalah Nabi Zakariya. Ketika itu, beliau berharap memiliki anak, dan istri Zakariya adalah bibinya Maryam.

Ketika semua merasa berhak untuk mengasuh Maryam, akhirnya meraka berundi. Allah ceritakan dalam al-Quran,

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (QS. Ali Imran: 44).

Undian Diantara Istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau memiliki beberapa istri. Semua memiliki hak lahir yang sama. Istri muda tidak lebih berhak terhadap beliau dari pada istri tua. Sehingga, ketika beliau hendak berangkat safar, semua berhak untuk menemani untuk berangkat safar bersama beliau.

Di saat itulah, dilakukan undian untuk menentukan siapa kanjeng ratu yang akan menemani suaminya.

Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak safar, beliau mengundi diantara istrinya. Siapa yang namanya keluar, beliau akan berangkat bersama istrinnya yang menang. (HR. Bukhari 2593, Muslim 7196 dan yang lainnya).

Batasan Undian yang Dibolehkan

Undian dibolehkan ketika di sana tidak ada unsur judi, unsur mukhatharah (untung-rugi), yang menang untung dan yang kalah rugi. Jika ada unsur untung rugi semacam ini, statusnya judi.

Dalam kasus undian para istri yang diceritakan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, tidak ada unsur untung-rugi. Yang ada adalah untung dan tidak rugi (kurang beruntung).

Bagi istri yang namanya keluar, dia untung.. dia bisa berangkat bersama suaminya.

Bagi istri yang namanya belum keluar, dia tidak rugi.

Berbeda ketika ada orang yang memasang taruhan. Masing-masing membayar 10 rb, kemudian diundi. Siapa yang namanya keluar, dia berhak mengambil semuanya. Ada satu yang untung dan lainnya rugi. Ini judi.

Undian bisa Dilakukan Dalam 2 Keadaan

Pertama, ketika terjadi ibham al-huquq (tidak diketahui siapa yang berhak)

Untuk menentukan yang berhak, digunakan undian.

Misalnya, ada orang yang memiliki beberapa istri. Suatu ketika, dia menceraikan salah satu istrinya. Dan dia sudah tentukan istri yang dimaksud, namun dia lupa. Dalam kasus ini harus ada salah satu istri yang dicerai. Dan itu ditentukan dengan cara undian.

Kedua, ketika terjadi tazahum al-huquq (benturan hak beberapa orang yang terlibat)

Semuanya berhak dan semua ingin mendapatkannya. Di saat itu, digunakan undian untuk menentukan siapa yang berhak.

Misalnya, ada 3 orang yang berhak untuk melakukan adzan. Masing-masing memenuhi syarat untuk adzan, dan masing-masing berkeinginan untuk adzan. Cara menentukannya digunakan undian.

Ada guru yang membawa 2 roti yang hendak diberikan kepada muridnya yang berjumlah 10 siswa. Semua berkeinginan mendapatkannya. Sang guru menggunakan undian untuk menentukan siapa yang berhak.

Catatan:

Aturan ini berlaku jika ketidak jelasan tersebut terjadi pada hak manusia.

Jika ketidak jelasan terkait hak Allah, hubungan kita dengan Allah, maka tidak boleh digunakan undian.

Karena dalam kasus semacam ini, dipilih mana yang lebih meyakinkan.

Sebagai contoh,

Hari selasa kemarin, si A lupa belum mengerjakan salah satu shalat wajib. Dan dia juga lupa shalat apa yang belum dia kerjakan.

Dalam hal ini, si A tidak boleh menggunakan undian untuk menentukan shalat yang dimaksud. Namun yang harus dia lakukan adalah mengerjakan semua shalat 5 waktu. Sehingga dia benar-benar yakin, tidak ada shalat yang dia tinggalkan.

Allahu a’lam

Rujukan: Syarh Mandzumah al-Qawaid al-Fiqhyah, Imam as-Sa’di.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hukum menimbun bensin

Menimbun Bensin

Pertanyaan:

Ketika mulai terjadi kelangkaan bensin, banyak pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melakukan penimbunan bensin sehingga kelangkaan bensin makin menjadi-jadi. Akhirnya setelah bensin laris terjual yang dengan harga selangit barulah tandon bensin dikeluarkan dan diperdagangkan.

Apakah tindakan ini termasuk menimbun yang terlarang dalam syariat Islam?

Jawaban:

Para ulama berselisih pendapat tentang barang apa sajakah yang terlarang untuk ditimbun dalam ajaran Islam. Ada yang berpendapat bahwa yang dilarang ditimbun hanyalah bahan makanan pokok. Pendapat lainnya menyatakan yang dilarang ditimbun adalah semua barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak dan mereka akan kesusahan apabila terjadi penimbunan. Inilah pendapat Malikiyyah dan salah satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat inilah  yang benar berdasarkan makna tekstual yang bisa kita tangkap dari hadits terkait masalah ini.

Dalam Nailul Authar 5/262  al-Syaukani mengatakan, “Makna tekstual yang bisa disimpulkan dari hadits tersebut, menimbun barang itu hukumnya haram baik yang ditimbun berupa bahan makanan pokok, makanan hewan tunggangan, atau pun selainnya. Kata-kata ‘bahan makanan’ pada sebagian riwayat tidak bisa dijadikan alasan bahwa yang terlarang hanyalah menimbun bahan makanan. Kesimpulan yang benar dalam masalah ini adalah semua barang yang diperlukan oleh banyak orang itu dilarang untuk ditimbun termasuk diantaranya bahan makanan pokok”.

Al-Ramli  al-Syafi’i dalam Hasyiyah ‘ala Asna al-Mathalib 2/39 mengatakan, “Sepatutnya larangan menimbun itu diberlakukan untuk semua barang yang umumnya menjadi kebutuhan masyarakat banyak baik berupa makanan atau pun pakaian”.

Inilah yang selaras dengan hikmah dilarangnya menimbun yaitu terlarangnya merugikan dan menyusahkan masyarakat banyak.

Pendapat yang sama juga difatwakan oleh Lajnah Daimah 13/184. Para ulama yang duduk di Lajnah Daimah mengatakan, “Tidak diperbolehkan menimbun barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Tindakan ini disebut ihtikar.

Hal ini terlarang karena menimbang beberapa hal:

Pertama, adanya hadits Nabi:

لا يحتكر إلا خاطئ

“Tidaklah melakukan penimbunan kecuali pendosa” [HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah].

Kedua, menimbun adalah tindakan yang merugikan banyak kaum muslimin.

Sedangkan barang-barang yang bukan menjadi kebutuhan masyarakat banyak itu boleh ditimbun kecuali jika dijumpai kondisi yang menyebabkan masyarakat banyak membutuhkannya maka ketika itu barang tersebut wajib dipasarkan di tengah masyarakat dalam rangka mencegah kesempitan dan kesusahan masyarakat banyak”.

Berdasarkan uraian di atas, menimbun barang yang tidak menyebabkan masyarakat banyak dirugikan karena mereka tidak terlalu membutuhkannya dan ada alternatif barang yang lain hukumnya tidak mengapa dan tidak termasuk dalam kategori menimbun yang terlarang.

Akan tetapi jika tidak didistribusikannya suatu barang itu menyebabkan masyarakat banyak yang  dirugikan, kerepotan, dan kesusahan disebabkan mereka tidak mendapati alternatif pengganti sehingga terpaksa membeli dengan harga yang di atas standar demi mendapatkan barang tersebut maka inilah yang dikategorikan menimbun yang haram. Termasuk diantara contohnya adalah menimbun bensin, tiket kereta api dll.

Referensi: http://www.alsalafway.com/cms/fatwa.php?action=fatwa&id=239

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sms berhadiah

SMS Berhadiah

Salah satu perusahaan mengadakan kuis berhadiah. Caranya, kirim sms kosong ke nomor yang dituju, tentu saja dengan harga lebih mahal dari pada umumnya. Kemudian akan diundi. Siapa yg beruntung, dia mendapat hadiah, seperti motor, TV, dst. bgmn hukumnya?

Jawab:

Berikut jawaban Dr. Sa’d al-Khatslan

هذا من الميسر المحرم ؛ وذلك لأن القاعدة أن كل مسابقة يبذل فيها المتسابق عوضا وهو متردد بين الربح والخسارة فهي  الميسر ( إلا مااستثناه النص من مسابقات الإبل والخيل والسهام) ، ثم إن هذا يدخل في أكل المال بالباطل ؛ حيث إن هذه الشركات تحصل من هذه الرسائل ملايين الريالات من جيوب بعض المشتركين  بسبب خداع المشترك بالفوز في هذه السحوبات..

Ini termasuk judi yang haram. Karena kaidahnya, semua pemlombaan, dimana peserta diwajibkan membayar sejumlah uang, sementara dia tidak bisa menentukan apakah nanti akan menang atau rugi, maka ini judi. (selain yang dikecualikan berdasarkan dalil, yaitu lomba onta, kuda, dan memanah). Kemudian, kegiatan semacam ini termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar. Di mana perusahaan ini mendapatkan jutaan real dari sms yang masuk dari kantong-kantong para peserta, karena menipu peserta dengan hadiah melalui penarikan uang ini.

والواجب على المسؤولين في  هذه الشركات أن يتقوا الله تعالى وألا يقدموا على تقديم أي مسابقة إلا بعد الحصول على الفتوى بجوازها ، كما أن المسؤولية تقع أيضا على هيئة الاتصالات التي نصبها ولي الأمر للإشراف على عمل هذه الشركات وأول مايدخل في اختصاصها إلزام الشركات بالابتعاد عما يخالف أحكام الشريعة الإسلامية

Kewajiban pihak perusahaan, hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah, dan janganlah dia melakukan perlombaan atau sayembara semacam ini kecuali setelah mendapatkan fatwa yang mengizinkannya. Demikian pula tanggung jawab pihak kementrian informasi di pemerintahan, agar dia mengarahkan perusahaan semacam ini. Dan pertama kali yang harusnya disampaikan terkait jaringan informasi, mewajibkan setiap perusahaan untuk menjauh dari segala yang melanggar hukum syariat islam.

Sumber: http://www.saad-alkthlan.com/text-819

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hukum thr untuk pegawai

Hukum THR untuk Pegawai

Assalamu’alaikum…sy bekerja di perusahaan swasta, menjelang hari raya, sy ditelpon seorang supplier, dan sy dikirim uang THR untk hari raya, mohon penjelasannya?kira2 apa hukumnya menerima uang THR tsb?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada orang yang diberi hadiah, agar tidak menolaknya, beliau bersabda,

أَجِيبُوا الدَّاعِيَ، وَلَا تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ

“Hadirilah undangan dan jangan tolak hadiah!” (HR. Ahmad 3838, Ibnu Hibban 5603 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Aisyah radhiallahu ‘anha juga meriwayatkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan membalas hadiah. (HR. Bukhari 2585).

Kita disyariatkan untuk saling memberi hadiah, agar terwujud rasa kasih sayang dan saling mencintai. Beliau bersabda,

تهادوا تحابوا

Saling memberikan hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad. Dihasankan al-Albani).

Akan tetapi, dalam kenyataan di dunia bisnis, terkadang tujuan orang memberikan hadiah, bukan karena untuk membangun hubungan saling mencintai. Tapi hadiah karena ada maunya, karena kepentingan, atau karena memperlancar bisnis. Mereka mengirimkan parcel (hadiah) kepada orang-orang tertentu yang diperkirakan bisa memberikan keuntungan duniawi kepadanya. Misalnya untuk tujuan agar penerima parsel bisa tunduk terhadap keinginannya.
Di sisi lain, hadiah semakna dengan suap. Karena itu, para ulama dalam kategori risywah (suap).

Oleh karena itu, apabila parsel (hadiah) diberikan oleh bawahan kepada atasan, baik di instansi pemerintahan ataupun swasta, atau dari seorang mahasiswa kepada dosen, atau dari seorang pengusaha kepada pejabat, atau dari seorang yang sedang bersengketa kepada hakim ataupun jaksa, atau dari klien kepada pegawai perusahaan, termasuk supplier kepada pihak marketing, padahal
a. Semua telah mendapatkan gaji dari pihak yang mempekerjakannya,
b. Pemberi hadiah memberikannya bukan karena menghormati kepada yang diberi, akan tetapi karena jabatannya, jika ia berhenti dari jabatannya tidak mungkin dia akan diberi hadiah,
Maka hadiah dalam kasus di atas tidak lagi murni sebagai hadiah, akan tetapi telah berubah menjadi risywah. Baik diberikan sebelum kepentingannya selesai maupun setelah urusannya selesai. Baik hadiah berupa uang, barang atau apapun bentuknya.

Hal ini dilarang dalam Islam karena akan mengakibatkan pegawai/pejabat yang mendapat amanah akan mengkhianati amanah tersebut dan akan berbuat sesuai dengan keinginan pemberi hadiah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hadiah semacam ini sebagai bentuk korupsi. Dari Abu Humaid as-Saidi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah untuk para pegawai adalah ghulul.” (HR. Ahmad 23601, al-Baihaqi dalam as-Shugra 3266 dengan status hasan).

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jual beli lelang

Jual Beli Lelang

Bolehkah jual beli lelang itu? Mohon jelaskan!

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Jual beli lelang sudah dikenal sejak zaman sahabat. Jual beli ini sering diistilahkan dengan jual beli muzayadah [arab: المزايدة], artinya saling menambah. Karena umumnya penjual ketika membuka harga barang yang dilelang, dia mengatakan, man yazid [arab: مَن يزيد], siapa yang mau menambah harga?

Berikut diantara dalil yang menunjukkan bahwa jual beli lelang telah dikenal di masa sahabat,

Pertama, hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

Suatu ketika ada seorang Anshar mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan keadaannya karena tidak punya uang.

”Kamu tidak punya barang apapun?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang inipun mengambil sedel pelana dan gelas.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan kepada para sahabat,

مَنْ يَشْتَرِي هَذَا؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ، قَالَ: مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ؟

”Siapa yang mau membeli ini?”

”Saya berani beli 1 dirham.” Tawar salah satu sahabat.

“Siapa yang berani lebih dari 1 dirham?”

Semua sahabat terdiam. Hingga beliau mengulangi lagi tawarannya,

مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ؟

“Siapa yang mau menambah lebih dari 1 dirham?”

Hingga akhirnya ada satu orang yang angkat tangan, “Saya berani membelinya 2 dirham.”

“Silahkan ambil barang ini.” ucap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 12134, Abu Daud dalam sunannya no. 1641, Turmudzi dalam Jami’-nya no. 1218, namun status hadis ini dhaif, sebagaimana keterangan al-Albani dan Syuaib al-Arnauth. Karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Bakr al-hanafi dan dia Majhul.

Kemudian, Turmudzi menjelaskan bahwa para ulama mengamalkan kandungan hukum dalam hadis ini. Karena jual beli Muzayadah(lelang) termasuk jual beli yang sudah dikenal para sahabat dan tabiin. Turmudzi mengatakan,

وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ العِلْمِ: لَمْ يَرَوْا بَأْسًا بِبَيْعِ مَنْ يَزِيدُ فِي الغَنَائِمِ وَالمَوَارِيثِ

Praktek terhadap kandungan menurut sebagian ulama, bahwa dibolehkan jual beli muzayadah untuk harta rampasan perang (ghanimah) dan warisan. (Jami’ Turmudzi, 3/514).

Kedua, keterangan dari ulama Tabiin,

Imam At-Thahawi membawakan keterangan dari ulama tabiin, Atha bin Abi Rabah (w. 114 H), beliau mengatakan,

أَدْرَكْت النَّاسَ يَبِيعُونَ الْغَنَائِمَ ، فِيمَنْ يَزِيدُ

Saya menjumpai para manusia (sahabat) yang mereka melakukan jual beli ghanimah kepada ’man yazid’ orang yang nambah harga. (HR. Bukhari secara Muallaq 3/69, dan disebutkan dalam Syarh Ma’ani al-Atsar, no. 3935).

At-Thahawi juga menyebutkan riwayat dari Mujahid (ulama tabiin, muridnya Ibnu Abbas, w. 104 H), Mujahid mengatakan,

لا بَأْسَ أَنْ يَسُومَ عَلَى سَوْمِ الرَّجُلِ إذَا كَانَ فِي صَحْنِ السُّوقِ ، يَسُومُ هَذَا وَهَذَا ، فَأَمَّا إذَا خَلا بِهِ رَجُلٌ ، فَلَا يَسُومُ عَلَيْهِ

Tidak masalah seseorang menawar barang yang sudah ditawar orang lain jika pasar masih terbuka (lelang belum ditutup). Dan jika barang sudah dibawa pemenang lelang, tidak boleh ditawar lagi. (Syarh Ma’ani al-Atsar, no. 3936).

Jika Lelang Sudah Ditutup, Tidak Boleh Ada yang Menawar

Dalam islam, kita dilarang menawar barang yang sudah ditawar orang lain. dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

لَا يَخْطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ، وَلَا يَسُومُ عَلَى سَوْمِ أَخِيهِ

“Seorang lelaki tidak boleh melamar wanita yang sedang dilamar lelaki lain, dan seseorang tidak boleh menawar barang yang sudah ditawar orang lain.” (HR. Muslim 1408 dan yang lainnya)

Lalu, bagaimana dengan jual beli lelang? Bukankah mereka saling menawar barang dengan harga yang lebih tinggi?

Dari keterangan Mujahid di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa larangan ’menawar barang yang sedang ditawar orang lain’ ini berlaku jika lelang sudah ditutup.

Namun jika lelang belum ditutup, bukan termasuk dalam larangan menawar barang yang sedang ditawar orang lain. Karena satu sama lain saling memahami, bahwa penawaran masih terbuka.

Penjelasan seperti ini yang disampaikan an-Nawawi dalam Raudhatut Thalibin,

فأمّا ما يُطاف به فيمن يزيد وطلبه طالب فلغيره الدخول عليه والزيادة فيه . وإنما يحرم إذا حصل التراضي صريحا

Barang yang masih ditawarkan untuk pembeli yang berani memberi harga lebih, yang lain boleh ikut bergabung dan memberikan tambahan harga, meskipun sudah ada yang menawar. Yang dilarang adalah ketika sudah terjadi ketegasan saling ridha – antara penjual dan pembeli –. (Raudhatut Thalibin, 3/415).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

jual beli uang kuno

Jual Beli Mata Uang Kuno (Semisal uang Rp. 1)

Pertanyaan :

Assalamualaikum. Ana ingin bertanya. Bagaimana hukum jual beli uang kuno? Semisal terjadi transaksi pembelian uang kuno Rp. 1, dihargai Rp. 15.000, . Apakah ini dikategorikan sebagai riba?? Karena belakangan ini banyak mahar yang menggunakan angka satuan rupiah (semisal 14rupiah). Mohon penjelasannya.
Jazakallah khoiron katsir

Dari: Muttaqin

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, diantara aturan tukar menukar uang yang sama adalah harus dilakukan secara tunai dengan nilai nominal yang sama. Misalnya, Rp 20.000 ditukar dengan pecahan Rp 5.000. Proses tukar harus dilakukan tunai, dengan nilai nominal yang sama. Rp 20.000 satu lembar, ditukar dengan Rp 5.000 sebanyak empat lembar. Jika hanya diserahkan Rp 5.000 sebanyak 3 lembar, dan yang satu lembar menyusul, hukumnya dilarang, karena termasuk transaksi riba.

Berbeda jika rupiah ditukar dengan mata uang asing. Misal, dengan dollar. Proses tukar menukar harus tunai, meskipun nilai nominalnya beda. Misal, $1 ditukar dengan Rp 10.000. Ini boleh, yang penting tunai.

Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ

Emas ditukar dengan emas adalah riba, kecuali tunai di majlis akad. (HR. Bukhari 2134)

Kemudian dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ، وَلاَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، وَلاَ تَبِيعُوا الوَرِقَ بِالوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ، وَلاَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، وَلاَ تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

Janganlah kalian menjual emas dengan emas, kecuali beratnya sama. Jangan melebihkan berat yang satu melebihi berat lainnya. Janganlah kalian menjual perak dengan perak, kecuali beratnya sama. Jangan melebihkan berat yang satu melebihi berat lainnya. Dan janganlah menukar emas-perak yang satu tunai sementara yang satu terhutang. (HR. Bukhari 2177).

Dalam hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan aturan tukar menukar emas dan perak. Bahwa jika emas ditukar dengan emas, atau perak ditukar dengan perak maka beratnya harus sama dan tunai. Sementara untuk pertukaran yang berbeda, misalnya emas dengan perak, boleh ada selisih berat, namun tetap harus dilakukan secara tunai.

Emas dan perak merupakan mata uang di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Karena itu, para ulama menegaskan bahwa aturan transaksi tukar menukar uang kartal, mengikuti aturan transaksi tukar menukar emas dan perak.

Kedua, apa illah (alasan yang melatar belakangi) dilarangnya tukar menukar emas atau perak yang tidak sama beratnya atau tidak dilakukan secara tunai?

Ulama berbeda pendapat tentang illah larangan ini. Ada 3 pendapat besar dalam kasus ini,

1. Illahnya adalah al-wazn (timbangan). Artinya, emas dan perak dilarang untuk ditukar kecuali dengan aturan khusus, karena kedua benda ini ditimbang. Ini merupakan pendapat an-Nakhai, az-Zuhri, ats-Tsauri, dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.

Namun ini pendapat yang tidak kuat. Karena jika illahnya adalah karena emas dan perak itu adalah karena timbangan, tentu aturan di atas berlaku untuk semua benda yang ditimbang lainnya, seperti tembaga, bahan makanan, minyak, dst. Padahal ulama sepakat bahwa jual beli semacam ini boleh dilakukan secara kredit.

2. Illahnya adalah ghalabah tsamaniyah (yang umumnya dijadikan mata uang). Artinya, aturan tukar menukar yang rumit itu, hanya berlaku untuk benda yang umumnya dijadikan sebagai mata uang. Dan umumnya adalah emas atau perak. Ini merupakan pendapat yang masyhur dari Imam Malik dan Imam as-Syafii.

Namun pendapat ini juga tidak benar, karena dengan menyatakan bahwa illahnya adalah ghalabah tsamaniyah, ini akan sangat membatasi berlakunya aturan tersebut. Karena illah yang tidak bisa dikembangkan untuk kasus yang lain, tidak bisa untuk dijadikanillah. Disamping hikmah larangan adanya riba dalam tukar menukar mata uang, bukan hanya khusus untuk emas dan perak saja.

3. Illahnya adalah muthlaq tsamaniyah (semua benda yang dijadikan mata uang). Artinya, aturan tukar menukar yang rumit itu, berlaku untuk semua benda yang dijadikan sebagai mata uang. Meskipun berupa kertas atau logam lainnya. Ini dalah satu pendapat Imam Abu Hanifah, Imam malik, dan Imam Ahmad. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam dan Ibnul Qoyim.

Pendapat ketiga inilah yang lebih mendekati kebenaran, karena illah ini mencakup seluruh mata uang, yang itu merupakan sasaran terjadinya riba.

Sumber: Fatwa Lajnah Daimah http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=17&PageNo=1&BookID=1

Ketiga, setelah kita menyimpulkan bahwa illah aturan yang rumit untuk emas adalah karena statusnya sebagai mata uang, maka semua benda yang berstatus sebagai mata uang, berlaku aturan itu. Sebaliknya, benda yang dulunya mata uang, namun saat ini tidak lagi diberlakukan dan menjadi uang antik, tidak berlaku aturan di atas.

Berdasarkan keterangan di atas, mata uang kuno, yang tidak lagi menjadi alat tukar dan masyarakatpun tidak lagi menerimanya, boleh diperjual belikan meskipun dengan nilai yang lebih besar. Misal, uang kuno Rp 1, dijual dengan harga 10 ribu.

Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum jual beli uang kuno.

Jawaban beliau,

ليس فيه بأس ؛ لأن العملة القديمة أصبحت غير نقد ، فإذا كان مثلاً عنده من فئة الريال الأولى الحمراء أو من فئة خمسة أو عشرة التي بطل التعامل بها وأراد أن يبيع ذات العشرة بمائة فلا حرج ؛ لكونها أصبحت سلعة ليست بنقد ، فلا حرج

Tidak masalah. Karena mata uang kuno, sudah bukan lagi alat tukar. Misalnya ada orang yang memiliki beberapa lembar mata uang real dulu, yang warnanya merah, atau uang 5 atau 10 real yang tidak lagi diberlakukan untuk alat tukar, kemudian dia hendak menjual 10 real itu dengan 100 real, hukumnya boleh. Karena uang kuno semacam ini sudah menjadi barang dagangan, dan bukan mata uang, sehingga tidak masalah. (Liqa’at Bab Maftuh, 233/19).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Bisnis Laboratorium

Bisnis Laboratorium

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum.

Ustadz saya hendak bertanya seputar bisnis laboratorium. Yang biasa kita hadapi dalam bisnis laboratorium adalah setelah seorang dokter mengirim pasien ke lab, maka pihak lab akan memberikan insentif kepada dokter tersebut dengan jumlah tertentu. Misalnya 20% dari uang yang dibayarkan oleh pasien tadi. Bagaimana hukumnya hal ini?

Jazakumullahu khoiron atas jawabannya.

Dari: Agung

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Jika insentif untuk dokter itu diberikan dengan cara menaikkan harga sehingga dibebankan kepada pasien, maka itu sepatutnya dihindari, karena sangat merugikan konsumen, terlebih dokternya sudah mendapatkan upah.

Namun jika insentif itu diambilakan dari keuntungan laboratorium tanpa menaikkan harga, insya Allah boleh.

Wassalamu’alaikum

Dijawab oleh Ustadz  Dr. Muhammad Arifin bin Baderi (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

hukum menyita barang

Sita Paksa Barang atas Pelunasan Utang

Pertanyaan:

Assallaamu’alaikum.

Mohon bertanya. Teman sekantor saya berutang dan menunggak hingga kurang lebih 2 tahun. Padahal saat berutang janji dibayar dalam tempo 1 bulan. Setiap gajian saya tagih selalu saja ada alasannya untuk tidak bisa melunasi. Padahal selama itu pula sering membeli barang yang bisa dibilang mewah dan seringkali nilai barang tersebut melampaui jumlah utang yang harus ia bayarkan.

SOCIAL

8,144FansLike
3,799FollowersFollow
29,765FollowersFollow
60,702SubscribersSubscribe

RAMADHAN