tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Kontemporer

khilaf ulama

Khilaf Ulama Bukan Dalil!

Apakah khilaf bisa dijadikan dalil pembenar? Ketika kita diskusi dengan teman, ada yg tidak terima ketika pendapatnya dikritik, dengan alasan ada khilaf ulama.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Perbedaan dan perselisihan sesuatu yang tidak diinginkan dalam islam.

Dalam banyak ayat, Allah memuji persatuan dan mencela perselisihan,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah (aturan Allah), dan jangan berpecah belah. (QS. Ali Imran: 103)

Allah juga berfirman,

وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

Mereka senantiasa bercerai . kecuali orang yang dirahmati Rabnya. (QS. Hud: 118 – 119)

Kita memahami bahwa kebenaran itu bersumber dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya, kebenaran itu tunggal dan tidak berbilang. Kecuali jika di sana, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa model, yang umumnya terkait tata cara ibadah tertentu.

Seperti beberapa redaksi doa iftitah, doa rukuk, doa sujud, dst. yang diisitilahkan para ulama dengan khilaf tanawwu’ (perbedaan yang sifatnya ragam).

Karena itulah, khilaf ulama bukan dalil. Dalil adalah yang bersumber dari al-Quran, sunnah, dan Ijma’.

Bahkan sebaliknya, semua khilaf butuh terhadap dalil. Agar kita bisa memilih mana diantara pendapat itu yang paling mendekati kebenaran.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa: 59).

Anda bisa perhatikan, upaya kita mengembalikan kepada al-Quran dan sunnah ketika terjadi perbedaan, merupakan bukti keimanan kita kepada Allah dan hari akhir. Bukan mempertahankan pendapat lama dengan alasan di sana ada khilaf di kalangan ulama. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 183)

Ketika anda memilih pendapat, yakini bahwa anda akan ditanya oleh Allah, mengapa kita mengambil pendapat itu. Karena baik ulama maupun pengikut ulama, masing-masing punya tanggung jawab.

Pengikut ulama bertanggung jawab untuk memilih pendapat yang paling  mendekati kebenaran jika terjadi perbedaan diantara ulama.

Para ulama tidak bisa menyelamatkan kita ketika di hadapan pengadilan Allah. Masing-masing akan mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri,

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (QS. al-Mudatsir: 38).

Bayangkan, ketika hanya bisa gigit jari karena menyesali perbuatan kita di hari akhir,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS. al-Furqan: 27 – 29).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

menghadap ka'bah

Tidak Wajib Menghadap ke Ka’bah?

Apakah kita harus wajib menghadap persis ke arah ka’bah?. Karena saat ini sedang ramai kalibrasi arah kiblat. Nuwun..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Menghadap kiblat termasuk salah satu syarat sah shalat. Kecuali ketika shalat khouf (shalat ketika perang), mereka yang tidak mampu menghadap kiblat karena udzur, atau ketika shalat di atas kendaraan.

Allah berfirman,

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan menghadapkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram… (QS. al-Baqarah: 144).

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari cara shalat yang benar, beliau mengatakan,

إِذا قمتَ إِلى الصلاة فأسبغ الوضوء، ثمَّ استقبِل القبلة فكبِّر

Jika kamu hendak melakukan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat dan lakukan takbiratul ihram. (HR. Bukhari 6667 & Muslim 912).

Kemudian, ulama sepakat bahwa orang yang bisa melihat Ka’bah atau melihat masjidil haram, dia harus menghadap persis ke arah ka’bah.

Ibnu Abbas menceritakan,

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam Ka’bah, beliau berdoa di sudut-sudut Ka’bah. Beliau tidak shalat, hingga keluar dari Ka’bah. Setelah beliau keluar, beliau shalat 2 rakaat. Lalu bersabda,

هَذِهِ الْقِبْلَةُ

Inilah kiblat. (HR. Bukhari 398 & Muslim 3301)

Dalam al-Hawi fi Tafsir al-Quran dinyatakan,

أمّا إذا كان مشاهدًا لها فقد أجمعوا أنه لا يجزيه إلا إصابة عين الكعبة

Jika orang itu bisa melihat Ka’bah, mereka sepakat bahwa shalatnya tidak sah kecuali dengan menghadap persis ke arah Ka’bah.

Jauh dari Ka’bah, Haruskah Menghadap Tepat ke Arah Ka’bah?

Polemik kiblat mulai diangkat, sejalan dengan proyek kementrian agama dalam meluruskan arah kiblat di berbagai masjid. Berbondong-bondong beberapa masjid di sekitar kita, melakukan kallibrasi arah kiblat. Dan rata-rata, arah bangunan tidak searah dengan kiblat pasca-kalibrasi.

Akibatnya, pola shaf masjid menjadi korbannya. Semua serba dimiringkan, yang sedikit mengganggu pemandangan dalam masjid.

Agar ketika beramal kita memiliki keyakinan dan pedoman, berikut kita akan simak penjelasan para ulama tentang arah kiblat, terutama bagi mereka yang jauh dari Ka’bah. Apakah harus tepat ke arah Ka’bah?

Sebagian ulama dari berpendapat bahwa semua orang yang shalat, wajib menghadap tepat ke arah Ka’bah. Namun pendapat ini dinilai sangat lemah oleh ulama lainnya. Bahkan Ibnul Arabi menyatakan, bahwa itu adalah kewajiban yang tidak mungkin bisa dilaksanakan (kecuali oleh sebagian kecil orang).

Ketika menyebutkan pendapat ini, al-Qurthubi menukil keterangan Ibnul Arabi,

قال ابن العربي : وهو ضعيف ; لأنه تكليف لما لا يصل إليه

Ibnul Arabi menyatakan, “Ini pendapat lemah. Karena di sana ada unsur taklif (membebani) untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan.” (Tafsir al-Qurthubi, 2/160)

Sementara itu, mayoritas ulama mengatakan,

Kewajiban mereka yang jauh dari Ka’bah adalah menghadap ke arah di mana Ka’bah berada. Dan itulah arti perintah menghadap kiblat bagi orang yang jauh dari Mekah.

Ini merupakan jumhur ulama dari madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Hambali, dan sebagian Syafiiyah.

Bahkan al-Qurthubi menyatakan bahwa semua ulama sepakat, bagi orang yang jauh dari Mekah, dia tidak wajib menghadap persis ke arah Ka’bah. Dalam tafsirnya, al-Qurthubi menyatakan,

وأجمعوا على أن كل من غاب عنها أن يستقبل ناحيتها وشطرها وتلقاءها

Ulama sepakat bahwa orang yang jauh dari Ka’bah, dia boleh menghadap ke arah di mana Ka’bah berada. (Tafsir al-Qurthubi, 2/160).

Sebagai contoh warga Indonesia. Kiblat berada di arah barat. Sehingga menurut mayoritas ulama, masyarakat Indonesia sudah disebut menghadap kiblat, ketika mereka menghadap ke arah barat.

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini,

Pertama, firman Allah tentang perintah menghadap kiblat,

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Hadapkanlah wajahmu ke arah (Syatral) Masjidil Haram…”

Keterangan:

معنى شَطره، أي: نَحوَه وتلقاءَه

Makna kata ‘Syathrahu’ adalah ke arah di mana masjidil haram berada. (Majmu’ Fatawa, 22/207).

Ayat itu tidak menyatakan, “Hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram…”, tapi “Hadapkanlah wajahmu ke arah (Syatral) Masjidil Haram…”. Adanya tambahan kata Syatrah menunjukkan bahwa dalam menghadap kiblat tidak harus tepat ke arah Ka’bah.

Kedua, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan arah kiblat

Beliau berposisi di Madinah, sejauh 490 km di sebelah utama Mekah. Untuk perjalanan sepekan dengan onta di masa itu. Sehingga kiblat masjid nabawi menghadap ke arah selatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan arah kiblat dengan sangat mudah,

مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Antara timur dan barat, itulah kiblat.” (HR. Nasai 2255, Turmudzi 342, Daruquthni 1071, dan yang lainnya).

Al-Mubarokfuri menyebutkan keterangan as-Suyuthi,

قال السيوطي ليس هذا عاما في سائر البلاد وإنما هو بالنسبة إلى المدينة الشريفة ونحوها

As-Suyuthi mengatakan, “Hadis ini tidak bersifat umum untuk semua negeri. Namun aturan ini berlaku untuk Madinah kota mulia atau yang posisinya seperti Madinah.” (Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Sunan Turmudzi, 2/266).

Bagi penduduk Madinah, kiblat mereka menghadap ke selatan. Selama mereka terhitung menghadap ke selatan, mereka telah menghadap kiblat, sekalipun tidak tepat ke arah Ka’bah.

Ketiga, kejadian perubahan Ka’bah di Masjid Quba

Arah kiblat pernah berpindah dua kali. Dulu, di awal-awal kaum muslimin hijrah di Madinah, mereka shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Enam bulan berikutnya, Allah perintahkan agar kiblat mereka menuju ke arah Mekah.

Sehingga dulu para sahabat melakukan shalat menghadap ke utara (ke Baitul Maqdis), kemudian pindah menghadap ke arah selatan (ke Mekah).

Suatu ketika, kaum muslimin di masjid Quba shalat subuh dengan menghadap Baitul Maqdis (utara). Tiba-tiba datang utusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka shalat. Utusan ini mengatakan,

أَلاَ إِنَّ الْقِبْلَةَ قَدْ حُوِّلَتْ إِلَى الْكَعْبَةِ

“Sesungguhnya kiblat telah dipindah.”

Akhirnya, para sahabat yang sedang melaksanakan shalat subuh berjamaah memutar arah tubuhnya. Imam berputar, yang awalnya menghadap ke utara menjadi shalat jamaah menghadap ke selatan. Ini semua mereka lakukan tanpa membatalkan shalat. (HR. Muslim 1208).

Anda bisa pastikan, mereka ketika berputar, tidak akan 100% tepat ke arah Ka’bah. Itu sesuatu yang sangat mustahil. Namun shalat mereka tetap sah, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh mereka untuk mengulangi shalatnya.

Keempat, islam adalah agama yang sangat mudah, tidak merepotkan penganutnya.

Ada banyak ayat yang menegaskan bahwa islam itu mudah, tidak menyulitkan. Diantaranya,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78).

Allah juga berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Allah tidak ingin menyusahkan kalian. (al-Baqarah: 185).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Agama itu mudah. Tidak ada seorang-pun yang membuat sulit agama, kecuali dia akan sangat kerepotan.” (HR. Bukhari 39 & an-Nasai 5051).

Ketika setiap orang yang hendak shalat harus melakukan kalibrasi (penyesuaian) arah kiblat, tentu saja ini akan sangat merepotkan dan ini bertentang dengan prinsip syariat yang memberikan kemudahan.

Mungkin kita bisa melakukannya ketika di masjid yang arah kiblatnya telah disesuaikan. Masalahnya, kita mengerjakan shalat tidak hanya di masjid. Bagaimana jika shalat itu di rumah, atau di tempat yang arah kiblatnya belum disesuaikan?

Bukankah Sudah ada Kompas?

Ada beberapa jawaban untuk menjawab pertanyaan ini,

Pertama, Tidak mungkin setiap shalat, kita harus membawa kompas. Dan ini akan sangat merepotkan. Dan ini bertentangan dengan prinsip syariat islam yang memberi kemudahan.

Kedua, di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabiin, para ulama imam madzhab belum ada kompas. Kompas baru ditemukan abad 9 M oleh orang cina. Mereka menggunakan jarum yang mengambang, sebagaimana diuraikan dalam buku Loven Heng. Pelaut Persia memperoleh kompas dari orang Cina dan kemudian memperdagangkannya.

Sementara pelaksanaan syariat yang paling ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan keterbatasan alat navigasi ketika itu, sangat memungkinkan mereka shalat tidak tepat menghadap kiblat. Apakah berarti shalat mereka tidak sah??

Ketiga, ketika Allah menurunkan al-Quran di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dia tahu bahwa di masa depan ada alat navigasi yang canggih. Namun Allah tidak memerintahkan kita untuk menghadap tepat ke arah kiblat.

Yang Allah perintahkan adalah menghadap ke arah di mana kiblat berada (Syathral masjidil haram).

Keempat, sekalipun sudah di kalibrasi, orang yang shalat tidak akan lepas dari faktor kesalahan dan penyimpangan. Meskipun hanya 1o atau 2o derajat. Sementara jarak Indonesia dengan Mekah, lebih dari 7900 km. Hanya dengan menyimpang 1 derajat, anda telah menyimpang sejauh 544 km.

Sementara kita tidak mungkin bisa tepat 100% ke arah Ka’bah.

Semua Mengakui Tidak Mungkin Bisa Tepat

Sejatinya semua ulama sepakat bahwa tidak mungkin seseorang bisa menghadap kiblat tepat ke arah Ka’bah. Sampaipun mereka yang berpendapat disyariatkan untuk tepat menghadap Ka’bah, maksud mereka adalah secara niat.

Dalam al-Hawi fi Tafsir al-Quran dinyatakan,

وكأنّ الفريق الأول حين أحسوا صعوبة مذهبهم، خصوصًا من غير المشاهد لها قالوا: إن فرض المشاهد للكعبة إصابةُ عينها حسًّا، وفرض الغائب عنها إصابة عينها قصدًا

Para ulama yang berpendapat harus tepat ke arah Ka’bah, mereka merasa kesulitan untuk menerapkan pendapatnya. Terutama bagi mereka yang jauh dari Ka’bah. Mereka mengatakan,

‘Wajib bagi yang melihat Ka’bah untuk tepat menghadap Ka’bah. Sementara bagi yang tidak melihat Ka’bah harus berniat tepat ke arah Ka’bah.’

Kemudian dikomentari penulis al-Hawi fi Tafsir,

وبعد هذا يكاد يكون الخلاف بين الفريقين شكليًا، لأنهم صرحوا بأنّ غير المشاهد لها يكفي أن يعتقد أنه متوجه إلى عين الكعبة

Dengan ini kita bisa simpulkan bahwa perbedaan pendapat kedua madzhab hanya perbedaan luar (tetapi hakekatnya sama). Karena mereka menegaskan bahwa mereka yang tidak melihat Ka’bah cukup meyakini bahwa dirinya telah menghadap tepat ke arah Ka’bah. (al-Hawi fi tafsir al-Quran al-Karim).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

membaca alquran langgam jawa

Hukum Membaca Al-Qur’an Dengan Langgam Jawa

Assalamu’alaikum
Benarkah membaca Al-Qur’an dengan langgam jawa (https://www.youtube.com/watch?v=qYEllU0oweA) itu tak boleh?
Jika tidak boleh, lantas dari manakah nada-nada Tilawah yang biasa kita dengar selama ini datangnya? Apakah Rasul juga mengajarkan?

Terimakasih.

Dari Muhammad Baskoro

Jawaban:

Wa’alaikum salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Cara baca al-Quran seperti yang dilakukan si qari itu mengikuti gaya macapat, terutama tembang mijil. Tembang macapat-mijil, merupakan salah satu jenis irama lagu bagi masyarakat jawa. Tidak jauh berbeda dengan irama dangdut, pop, jazz, dst. Hanya saja, mengingat irama ini lebih terikat dengan kedaerahan, penyebarannya tidak lebih luas dibanding irama yang lain.

Namun apapun itu, kita sepakat ini irama lagu.

Ada dua sudut pandang yang bisa kita berikan untuk kasus di atas,

Pertama, hukum membaca al-Quran dengan irama (lahn)

Dr. Ibrahim bin Sa’d ad-Dausiri – ketua lembaga studi Ilmu al-Quran di King Saud Unniversity – menjelaskan,

Irama bacaan al-Quran ada dua,

Pertama, irama yang mengikuti tabiat asli manusia, tanpa dibuat-buat, tanpa dilatih. Ini cara baca umumnya masyarakat ketika melanutnkan ayat suci al-Quran. Dan ini diperbolehkan, bahkan termasuk dianjurkan ketika seseorang membaca al-Quran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ليس منَّا من لم يتغنَّ بالقرآن

Bukan termasuk golonganku, orang yang tidak melagukan al-Quran. (HR. Bukhari 7527).

Melagukan bacaan al-Quran sebagaimana yang dilakukan para imam ketika mengimami shalat.

Kedua, irama bacaan al-Quran yang dibuat-buat, mengikuti irama musik, atau irama lagu tertentu.

Yang semacam ini tidak bisa dilakukan kecuali melalui latihan. Ada nada-nada tertentu, yang itu bisa keluar dari aturan tajwid. Cara baca semacam ini hukumnya terlarang.

Selanjutnya Dr. Ibrahim ad-Dausiri membawakan keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir,

والغرض أن المطلوب شرعا إنما هو التحسين بالصوت الباعث على تدبر القرآن وتفهمه والخشوع والخضوع والانقياد للطاعة ، فأما الأصوات بالنغمات المحدثة المركبة على الأوزان والأوضاع الملهية والقانون الموسيقائي فالقرآن ينزه عن هذا ويُجلّ ، ويعظم أن يسلك في أدائه هذا المذهب

Yang diajarkan oleh syariat adalah memperindah bacaan al-Quran karena dorongan ingin mentadabburi al-Quran, memahaminya, berusaha khusyu, tunduk, karena ingin mentaati Allah. Adapun bacaan al-Quran dengan lagu yang tidak pernah dikenal, mengikuti irama, tempo, cengkok lagu, dan nada musik, maka seharusnya al-Quran diagungkan, dan dimuliakan dari cara baca semacam ini. (Fadhail al-Quran, hlm. 114).

Keterangan lain disampaikan Imam Ibnul Qoyim,

وكل من له علم بأحوال السلف يعلم قطعاً أنهم براء من القراءة بألحان الموسيقى المتكلفة التي هي إيقاعات وحركات موزونة معدودة محدودة ، وأنهم أتقى لله من أن يقرؤوا بها ويسوِّغوها

Semua orang yang mengetahui keadaan ulama salaf, dia akan sangat yakin bahwa mereka berlepas diri dari cara baca al-Quran dengan mengikuti irama musik yang dipaksa-paksakan. Menyesuaikan dengan cengkok, genre, dan tempo nada lagu. Mereka sangat takut kepada Allah untuk membaca al-Quran dengan gaya semacam ini atau membolehkannya. (Zadul Ma’ad, 1/470).

Dan sangat jelas, si qari itu membaca dengan irama lagu, bukan karena bawaan asli cara dia membaca al-Quran. Kita bisa melihat sangat jelas, kesan dipanjang-panjangkan, merusak kaidah tajwid, dalang rangka mengikuti irama macapat. Padahal itu dibaca di acara resmi negara. Di dengar oleh banyak orang yang paham bacaan al-Quran.

Kedua, liberalisasi al-Quran

Barangkali ini yang perlu lebih mendapatkan perhatian. Untuk generasi saat ini, langgam lagu macapat hampir terlupakan. Hanya digunakan untuk suasana resmi hiburan resepsi pernikahan. Masyarakat jawa sendiri sudah banyak yang meninggalkannya. Ketika kita belajar al-Quran di surau atau TPA, kita tidak pernah diajari cara membaca al-Quran seperti itu.

Karena itu, wajar ketika ada orang yang membaca al-Quran dengan langgam yang aneh tersebut, spontan memicu banyak reaksi dari kaum muslimin. Jika itu satu hal yang lumrah bagi mereka, tidak akan mereka permasalahkan.

Ini kembali satu kata, ‘menciptakan sensasi’ dan suasana baru dalam bacaan al-Quran. Ulah orang-orang liberal, untuk memancing emosi kaum muslimin. Dengan niat yang tidak baik, bisa jadi tidak jauh jika ini dimasukkan  dalam kategori istihza’ (mempermainkan) terhadap al-Quran.

Bukan Pengaruh Bahasa

Terlalu jauh jika berasalan bahwa itu karena bawaan lagu daerah. Sampaipun seorang muslim yang pinter macapat, ketika dia membaca al-Quran, dia akan membacanya dengan lagu yang mengikuti kaidah tajwid, dan bukan macapat.

Ini berbeda dengan orang yang membaca al-Quran dengan langgam asli karena pengaruh lidah daerah. Tanpa ada kesan dipaksa-paksakan. Seperti orang sunda yang membaca huruf fa dengan pa atau orang jawa yang kesulitan baca ‘ain sehingga terbaca ngain, dst. yang ini murni terjadi di luar kesengajaan.

Semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari pengaruh jahat orang-orang liberal.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

nu dan muhamadiyah

Ketika Muhammadiyah Mengimami Shalat NU

Assalamu’alaikum Ustadz

Saya hendak bertanya,

Saya adalah anggota Ormas Islam Muhammadiyah, Biasanya karena saya adalah golongan minoritas, saya selalu menjadi makmum saja ketika shalat, namun pada shalat maghrib kebetulan para Imam Mushola NU belum ada yang datang untuk mengimami hingga waktu maghrib dirasa sudah terlalu lama , oleh karena itu jamaah menyuruh saya menjadi Imam. Nah ketika sudah Rakaat ke dua, Imam masjid yang biasanya akhirnya datang (telat) namun dia mendirikan shalat munfarid , padahal masih ada satu rakaat lagi. bagaimanakah hukumnya Ustadz?

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dari Ipung Purwo

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ketika Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anhu menjadi Amirul Haj, pemimpin perjalanan haji, beliau berijtihad, shalat dzuhur dan asar di Mina dikerjakan tanpa qashar. Karena banyak jamaah yang mukim di Mekah. Sementara itu, sahabat Ibnu Mas’ud berpendapat, dua shalat itu seharusnya diqashar. Sebagaimana ini yang dipraktekkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena terjadi perbedaan pendapat, Ibnu Mas’ud mengkritik keputusan Utsman. Meskipun demikian, Ibnu Mas’ud tetap ikut shalat jamaah dzuhur dan asar di Mina bermakmum dengan Utsman Radhiyallahu ‘anhuma. Secara teori beliau berpendapat berbeda dengan Utsman. Dalam dalam prakteknya, beliau mengikuti Utsman.

Karena sikapnya yang terkesan aneh, Ibnu Mas’ud ditanya orang di sekitarnya. Jawab beliau,

الـخِلَافُ شَرّ

Perselisihan itu lebih jelek. (HR. Abu Daud 1962).

Anda bisa lihat, bagaimana kedewasaan para sahabat. Perbeda pendapat karena perbedaan ijtihad adalah hal lumrah di kalangan mereka. Namun mereka tetap menjaga persatuan.

Menjaga persatuan sangat ditekankan dalam islam. Bahkan salah satu manfaat terbesar adanya shalat jamaah adalah dalam rangka menjaga persatuan umat. Hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar sebisa mungkin kaum muslimin menjaga jamaah, sekalipun dia sudah shalat.

Kita bisa simak tiga hadis berikut, bagaimana semangat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga persatuan jamaah.

Pertama, hadis dari Mihjan ad-Daili Radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika beliau pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Ketika dikumandangkan iqamah untuk shalat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk mengerjakannya, namun Mihjan tetap duduk. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

ما منعك أن تصلي معنا ؟

 “Apa yang menghalangimu untuk ikut shalat bersama kami?”

Kata Mihjan, ‘Saya tadi sudah shalat bersama keluargaku.’

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati,

إذا جئت فصل مع الناس، وإن كنت قد صليت

Apabila kamu datang (ke masjid), ikutlah shalat berjamaah bersama masyarakat, meskipun kamu sudah shalat. (HR. Malik dalam al-Muwatha’, 217).

Kedua, hadis dari Yazid bin Aswad al-Aamiri. Beliau menceritakan,

Aku pernah melaksanakan haji bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku shalat Shubuh bersama beliau di masjid Al-Khaif. Ketika beliau selesai melaksanakan shalat dan menghadap ke arah makmum, ternyata ada ada dua orang laki-laki di belakang jamaah yang tidak ikut shalat.

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminta, “Bawalah dua orang itu kepadaku!”. Mereka berdua datang menghadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sambil gemetaran.

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا ؟

“Apa yang menghalangi kalian untuk shalat berjama’ah bersama kami?”

Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami telah shalat di tempat kami”.

Lalu Beliau bersabda,

فَلَا تَفْعَلَا إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا، ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ، فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ

“Jangan kalian ulangi lagi. Apabila kalian telah melaksanakannya di tempat kalian, lalu kalian datang ke masjid yang di dalamnya sedang melaksanakan shalat berjama’ah, maka shalatlah bersama mereka, karena shalat tersebut bagi kalian nilainya sunah.” (HR. Ahmad 17987, Nasai 866, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ketiga, hadis dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menasehatiku,

كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا

“Apa yang akan kalian lakukan jika engkau dipimpin oleh penguasa yang suka mengakhirkan shalat dari waktunya, atau meninggalkan shalat di awal waktu?”.

Tanya Abu Dzar, ‘Lantas apa yang anda perintahkan kepadaku?”

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ

“Lakukanlah shalat tepat pada waktunya. Apabila engkau mendapati shalat jamaah bersama mereka, maka shalatlah (bersamanya). Dan itu dihitung sebagai shalat sunah bagimu.” (HR. Muslim 1497).

Anda bisa perhatikan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mengulangi shalat agar bisa tetap menjaga jamaah. Beliau tidak menilai shalat pertama batal. Namun beliau peritahkan untuk mengulangi shalat itu.

NU dan Muhammadiyah

Kami tidak berpanjang lebar untuk menyimpulkan hukum dari kasus yang anda sampaikan. Karena jelas tindakan yang dilakukan Pak Kiyai itu adalah sebuah kesalahan. Menunjukkan sikap yang sangat tidak dewasa terhadap perbedaan pendapat.

Yang sangat kita sesalkan, dia melakukanya di depan umum. Seolah ingin menunjukkan kepada masyarakat, hanya dia yang paling berhak jadi imam dan yang lain tidak layak. Atau anda tidak sah menurut dia untuk jadi imam. Andaikan dia shalat di rumah, mungkin masalahnya akan lebih ringan. Dan kita bisa pastikan, ini sikap oknum.

Nu dan Muhammadiyah, hanyalah ormas dakwah. Baik warga NU maupun muhammadiyah, mereka semua adalah muslim. Sehingga berlaku ketentuan umum, amal ibadah mereka sah selama memenuhi syarat dan rukunnya, serta memungkinkan diterima oleh Allah ta’ala.

Terdapat satu kaidah yang masyhur terkait masalah shalat jamaah. kaidah itu menyatakan:

من صحت صلاته صحت إمامته

“Orang yang shalatnya sah, maka shalat dengan bermakmum di belakangnya juga sah”

Oleh karena itu, selama pak imam shalat adalah orang yang aqidahnya lurus, tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan syahadatnya batal, alias masih muslim, syarat, rukun, dan wajib shalat dikerjakan maka shalatnya sah. Meskipun ada perbedaan pendapat antara imam dan makmum dalam masalah rincian atau bacaan shalat.

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk memahami syariatnya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hukum nonton bola

Nonton Bola = Nonton Aurat

Sampai manakah batas aurat lelaki di depan umum? Mohon jelaskan! Bagaimana dg nonton pertandingan bola, jika paha termasuk aurat. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita akan simak beberapa hadis berikut. Hadis ini menjadi dasar para ulama untuk menjelaskan batasan aurat lelaki.

Pertama, hadis dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تُبْرِزْ فَخِذَكَ، وَلا تَنْظُرَنَّ إِلَى فَخِذِ حَيٍّ وَلا مَيِّتٍ

Jangan kau tampakkan pahamu, dan jangan sampai melihat paha lelaki, yang hidup maupun yang mati. (HR. Abu Daud 3140 dan Ibnu Majah 1460)

Kedua, hadis dari Muhammad bin Jahsy Radhiyallahu ‘anhu,

Saya pernah berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu melewati sahabat Ma’mar yang pahanya terbuka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya,

يَا مَعْمَرُ، غَطِّ فَخِذَيْكَ فَإِنَّ الْفَخِذَيْنِ عَوْرَةٌ

Hai Ma’mar, tutupi pahamu, karena paha itu aurat. (HR. Ahmad 21989).

Ketiga, hadis dari Jarhad al-Aslami Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihatnya dalam keadaan pahanya terbuka.  Lalu beliau menegurnya,

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْفَخِذَ عَوْرَةٌ ؟

Tahukah kamu bahwa paha itu aurat? (HR. Ahmad 15502, Abu Daud 4014, dan Turmudzi 2798)

Keempat, hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْفَخِذُ عَوْرَةٌ

Paha itu aurat (HR. Turmudzi 2798)

Lajnah Daimah menyimpulkan hadis-hadis di atas,

وهذه الأحاديث وإن كان لا يخلو كل منها عن مقال في سنده من عدم اتصاله ، أو ضعف في بعض الرواة ، لكنها يشد بعضها بعضا ، فينهض مجموعها للاحتجاج به على المطلوب

Hadis-hadis di atas, meskipun tidak lepas dari unsur lemah dalam sanadnya, disebabkan tidak muttashil atau lemah dari sebagian perawi, hanya saja, satu sama lain saling melengkapi. Sehingga gabungan keseluruhannya naik derajatnya, sehingga bisa dijadikan sebagai dalil untuk menyimpulkan apa yang dimaksud. (Fatwa Lajnah, 6/165)

Karena itulah, memahami berbagai hadis di atas, mayoritas ulama menyimpulkan, batas aurat lelaki antara pusar sampai lutut. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

عورة الرّجل في الصّلاة وخارجها ما بين السّرّة والرّكبة عند الحنفيّة والمالكيّة والشّافعيّة والحنابلة، وهو رأي أكثر الفقهاء لقوله صلى الله عليه وسلم « أسفل السّرّة وفوق الرّكبتين من العورة »

Aurat lelaki ketika shalat maupun di luar shalat, antara pusar sampai lutut, menurut madzhab hanafiyah, malikiyah, syafiiyah, dan hambali. Dan ini pendapat mayoritas ulama, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bawah pusar, atas lutut adalah aurat.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 22/118)

Darurat Aurat Sepak Bola

Kebiasaan, salah satu diantara penghalang terbesar seseorang mengikuti dalil. Sebagaimana ini terjadi pada orang-orang jahilliyah, ini juga terjadi pada manusia generasi setelahnya. Kebiasaan dijadikan alasan pembenar untuk aktivitas yang dilakukan.

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorangpun yang memberi peringatan dalam suatu negeri, melainkan pemuka di negeri itu berkomentar: “Sesungguhnya kami mendapati pendahulu kami menganut suatu ajaran dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Zukhruf: 23).

Imam Ibnu Utsaimin ditanya tentang olah raga dengan memakai celana pendek. Beliau mengatakan,

إذا كان الممارس للرياضة ليس عليه إلا سروال قصير يبدو منه فخذه أو أكثره فإنه لا يجوز ، فإن الصحيح أنه يجب على الشباب ستر أفخاذهم ، وأنه لايجوز مشاهدة اللاعبين وهم بهذه الحالة من الكشف عن أفخاذهم

Melakukan olah raga dengan mengenakan celana pendek, sehingga tampak pahanya atau lebih tinggi lagi, tidak diperbolehkan. Karena yang benar, wajib bagi para pemuda untuk menutup paha mereka. Dan tidak boleh menonton permainan olah raga, sementara pemainnya dalam keadaan terbuka auratnya. (Fatawa Islamiyah, 4/431).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mualaf-ganti-nama-masuk-islam

Baru Masuk Islam, Haruskah Ganti Nama?

Assalamu’alaikum ustadz…

Saya seorang Muallaf dan pada saat masuk Islam saya tidak mengganti nama saya yaitu: Daniel Fernando, karena pemberian orang tua. Apakah perlu saya mengganti nama Ustadz dan bagaimana jika saya tidak menggantinya.??

Terima Kasih Ustadz.

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam wa Rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Hampir semua sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dulunya muallaf. Dalam arti, mereka pernah mengenyam ajaran agama lain. Kecuali para sahabat yang lahir di tengah kaum muslimin, seperti Abdullah bin Zubair, Hasan dan Husain bin Ali.

Dan dalam sejarah, tidak semua sahabat yang masuk islam, diubah namanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selama nama itu tidak masalah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengubahnya. Beliau hanya mengganti nama-nama yang bermasalah. Karena terkadang orang jahiliyah menamakan anak mereka dengan bentuk penghambaan kepada selain Allah, seperti Abdul Uzza (hamba Uzza) atau Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah). Atau nama-nama yang buruk lainnya.

Sahabat Abdurrahman bin Auf, di zaman Jahiliyah bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Abdurrahman.   (al-Mu’jam al-Wasith, 253)

Sahabat Abdurrahman bin Abu Bakr, dulu bernama Abdul Uzza. Setelah masuk islam diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abdurrahman. (al-Mustadrak, 3/538)

Sahabat Muthi bin al-Aswad. Dulu bernama al-‘Ash (tukang maksiat). Setelah masuk islam diganti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Muthi’ (orang yang taat). (al-Mu’jam al-Kabir, 691).

Ada sahabat namanya Hazn (susah), diganti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Sahl (mudah). Beliau juga mengganti sahabat yang bernama Harb (perang), dengan Salm (tenang). (HR. Abu Daud 4958)

Ada sahabat wanita yang dulunya bernama ‘Ashiyah (tukang maksiat), kemudian diganti dengan Jamilah (wanita cantik). (HR. Muslim 5727)

Ada juga sahabat yang dulunya bernama Ashram (melarat), kemudian diganti dengan Zur’ah (subur). (HR. Abu Daud 4956).

Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kita mengenal banyak nama sahabat, yang sejak zaman jahiliyah, namanya sudah benar. Sehingga tidak diubah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua sahabat yang bernama Abdullah, tidak diubah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita juga mengenal nama Umar, Utsman, Ali, Sa’d, Said, Thalhah, Zubair, Amr bin Ash, Anas, Muadz, Mughirah, Hisyam, Urwah, dst. – Radhiyallahu ‘anhum –, nama-nama ini tidak bermasalah secara makna, sehingga tidak diubah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itulah, dalam masalah pengubahan nama, tidak kembali kepada status agama. Sehingga orang yang masuk islam, tidak ada kewajiban mengganti namanya. Selama nama itu tidak bermasalah.

Nama Danial

Danial adalah nama dari salah satu nabi Bani Israil.

Ada yang mengatakan, beliau lahir di masa Raja Bukhtanshar yang menjajah Quds dan membunuh banyak kaum muslimin Bani Israil dan semua bayi lelaki yang ada di zaman itu. Ketika itu, Danial yang masih kecil dimasukkan ke dalam lubang yang di bawahnya ada 2 ekor singa. Namun singa itu justru tunduk kepadanya. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 2/40).

Hingga dia dewasa dan bisa memimpin Bani Israil untuk mengalahkan Bukhtanshar.

Al-Hafidz Ibnu Katsir meyebutkan riwayat dari seorang Tabiin, Abul Aliyah, bahwa di zaman Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, setelah kaum muslimin menaklukkan Iraq, kaum muslimin menemukan jenazah Nabi Danial ini dan di dekat kepalanya ada mushaf. Kemudian mushaf itu dikirim ke Madinah, dan Umar menyuruh Ka’b al-Ahbar (manta pendeta Yahudi) agar diterjemahkan ke bahasa arab.

Selanjutnya Umar memerintahkan Gubernur Iraq, Abu Musa al-Asy’ari agar membuat 13 lubang kubur di siang hari secara terpisah. Di malam harinya, agar jenazah Danial diletakkan di salah satunya, kemudian semuanya diratakan dengan tanah. Melalui cara ini, mereka bisa menjamin masyarakat setempat tidak akan menggali kuburannya.

(al-Bidayah wa an-Nihayah, 2/40).

Karena ini nama nabi, tidak masalah digunakan sebagai nama.

Sementara Fernando, kami tidak paham artinya. Kalaupun anda ragu apakah artinya baik atau tidak, bisa anda tinggalkan. Cukup anda mempertahankan nama Danial.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah-Nya, agar kita senantiasa menempuh jalan kebenaran.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sholat-memakai-sepatu-usap-khuf

Shalat Memakai Sepatu

Kemarin rame ada foto tentara Saudi yang shalat memakai sepatu bot. Sebenarya itu hukumnya bagaimana? Krn banyak juga yang memberi komentar miring, bahkan keras.  

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada seorang tokoh mengatakan,

الناس أعداء ما جَهلوا

Manusia akan memusuhi sesuatu yang tidak dia kenal.

Kita bisa memahami itu. Orang indonesia menyebutnya, tak kenal maka tak sayang. Karena jiwa itu bisa berinteraksi akrab dengan sesuatu yang telah dia kenal.

Dalam al-Quran Allah menyinggung kebiasaan buruk ini ketika Dia menyebutkan keadaan orang kafir yang membantah nabi mereka.

وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

“Karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama.” (al-Ahqaf: 11).

Ketika orang-orang kafir itu mendengar ajakan dan dakwah nabi mereka, mereka menyalahkannya dan menuduhnya sebagai kedustaan. Tentu saja yang bermasalah bukan dakwah nabinya, namun kebodohan orang kafir tentang kebenaran, lantaran mereka tidak mendapatkan petunjuk tentang itu, lalu mereka mengingkarinya.

Sebagai orang beriman, tetu kita tidak ingin seperti mereka. Menjadi makhluk tercela, menyalahkan kebenaran, hanya karena kebodohan kita. Atau jika tidak, anda akan ditertawakan.

Hukum Shalat Menggunakan Sepatu

Shalat menggunakan sepatu atau sandal, adalah sesuatu yang lumrah di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan terdapat hadis yang secara khusus memerintahkan kita untuk melaksanakan shalat dengan memakai sandal, agar tidak meniru kebiasaan yahudi. Artinya, latar belakang beliau melakukan shalat dengna sandal atau sepatu bukan karena masjid beliau yang beralas tanah. Namun lebih dari itu.

Kita akan simak beberapa hadis  berikut,

Pertama, hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau menyatakan,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَافِيًا وَمُنْتَعِلًا

Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang shalat dengan tidak beralas kaki dan kadang shalat dengan memakai sandal. (HR. Abu daud 653, Ibnu Majah 1038, dan dinilai Hasan Shahih oleh al-Albani).

Kedua, ketika beliau safar, beliau shalat dengan memakai sepatu.

Sahabat al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa beliau pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah safar. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, akupun menunduk untuk melepaskan sepatu beliau. Namun beliau melarangnya dan mengatakan,

دَعْهُمَا ، فَإِنِّى أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ

Biarkan dia, karena saya memakainya dalam kondisi suci.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusapnya. (HR. Bukhari 206 & Muslim 655).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan kepada umatnya tentang hal ini. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ، أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا بَيْنَ رجليه، ولا يؤذ بهما غيره

“Apabila kalian shalat, hendaknya dia pakai kedua sandalnya atau dia lepas keduanya untuk ditaruh di kedua kakinya. Janganlah dia mengganggu yang lain.” (HR. Ibnu Hibban 2183, Ibnu Khuzaimah 1009 dan sanadnya dinilai shahihkan al-Albani)

Seorang tabiin, Said bin Yazid al-Azdi, beliau pernah bertanya kepada Anas bin Malik,

أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ؟

“Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dengan menggunakan sandal?”

Jawab Anas: “Ya.” (HR. Bukhari 386, Turmudzi 400, dan yang lainnya).

Bahkan beliau menyebutkan, shalat memakai sandal termasuk sikap tampil beda dengan model ibadahnya yahudi. Dari Syaddad bin Aus, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ، وَلَا خِفَافِهِمْ

“Bersikaplah yang berbeda dengan ornag Yahudi. Sesungguhnya mereka tidak shalat dengan menggunakan sandal maupun sepatu.” (HR. Abu Daud 652 dan dishahihkan al-Albani)

Jika anda menyimak hadis di atas, terlepas dari semua kondisi lingkungan, kira-kira apa yang bisa anda simpulkan mengenai hukum shalat dengan memakai sepatu atau sandal? Haram, makruh, mubah, sunah, atau wajib?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita agar tidak meniru kebiasaan buruk yahudi, yang mereka tidak pernah shalat dengan memakai sandal. Artinya, setidaknya kaum muslimin pernah shalat dengan memakai sandal. Sehingga setidaknya, minimal anda akan menyimpukannya bahwa itu sunah.

Dijamin Suci

Masalah kesucian sandal atau sepatu, ini masalah lain. Karena syarat suci dalam shalat, tidak hanya berlaku pada alas, tapi untuk semua anggota badan orang yang shalat dan semua pakaiannya.

Tentu saja, mereka yang hendak shalat memakai sandal atau sepatu, harus memastikan telah bersih.

Syaikh Abdullah bin humaid mengatakan,

لكن الشرط أن تكون النعال طاهرة ، فإذا كانت النعال فيها نجاسة أو وطئ بها أذى ، فلا ينبغي أن يصلي الإنسان منتعلاً

“Hanya saja ada syaratnya, sandal harus suci. Jika sandalnya ada najisnya atau menginjak kotoran maka tidak selayaknya orang menggunakannya untuk shalat.” (Dinukil dari Fatwa Islam, no. 12033)

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jam 11-30

Jumatan Sebelum Jam 12:00

Saya shalat jumat di masjid di daerah Lamongan Jawa Timur, ternyata khatib naik mimbar sebelum jam 12. Bahkan seingat saya jam 11.45. apakah jumatannya sah? Terima kasih ustad.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada dua catatan untuk membahas kasus ini,

Pertama, ulama berbeda pendapat tentang batas waktu paling awal untuk memulai jumatan.

Pendapat pertama, waktu mulai jumatan sama dengan waktu shalat dzuhur, yaitu zawal as-Syams, ketika matahari tergelincir ke barat. Dan tidak boleh jumatan sebelum waktu zawal.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, diantaranya Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah. Imam an-Nawawi menyebutnya sebagai pendapat mayoritas sahabat, tabiin, serta ulama generasi setelahnya. Bahkan Imam as-Syafii mengatakan,

ولا اختلاف عند أحد لقيته أن لا تصلى الجمعة حتى تزول الشمس

Tidak ada perbedaan diantara ulama yang pernah aku temui, tidak boleh mengerjakan jumatan hingga matahari tergelincir. (al-Umm, 1/223)

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

  1. Hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّى الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat jumat ketika matahari telah tergelincir. (HR. Bukhari 904).

  1. Hadis dari Salamah bin Akwa Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

Kami mengikuti jumatan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika matahari telah tergelilncir, kemudian kami pulang berjalan mencari bayangan bangunan. (HR. Muslim 860)

Pendapat kedua, jumatan boleh dimulai sebelum zawal. Artinya jumatan bisa dilakukan sebelum masuk waktu dzuhur. Ini merupakan pendapat Ishaq bin Rahuyah, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama hambali.

Dalam kitab al-Inshaf dinyatakan,

“ويشترط لصحة الجمعة أربعة شروط أحدها الوقت وأوله أول وقت صلاة العيد”. هذا المذهب وعليه أكثر الأصحاب ونص عليه قال في الفروع: اختاره الأكثر قال الزركشي: اختاره عامة الأصحاب

Sahnya jumatan ada 4 syarat, yang pertama terkait waktu. Waktu memulainya jumatan, seperti waktu shalat id (sebelum dzuhur). Inilah pendapat madzhab hambali, dan yang dipilih mayoritas ulama hambali dan yang ditegaskan Imam Ahmad. Dalam kitab al-Furu’ dinyatakan, ‘Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama’. Kata az-Zarkasyi, ‘Dipilih oleh mayoritas ulama hambali.’ (al-Inshaf, 2/263).

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

  1. Hadis dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari sahabat Jabir,

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَرْجِعُ فَنُرِيحُ نَوَاضِحَنَا، قَالَ حَسَنٌ : فَقُلْتُ لِجَعْفَرٍ : فِي أَيِّ سَاعَةٍ تِلْكَ ؟ قَالَ : زَوَالَ الشَّمْسِ

Kami shalat jumat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami pulang dan mengistirahatkan onta-onta kami.

Hasan bertanya kepada Ja’far, ‘Kapan itu dilakukan?’

Jawab Ja’far, “Ketika matahari tergelincir.” (HR. Muslim 2026, Nasai 1401 dan yang lainnya).

  1. Hadis dari Sahl bin Sa’d, beliau mengatakan,

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ

Kami terbiasa tidak tidur siang dan tidak makan siang kecuali setelah jumatan. (HR. Bukhari 6248, Muslim 2028 dan yang lainnya).

  1. Hadis dari Salamah bin al-Akwa Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةَ فَنَرْجِعُ وَمَا نَجِدُ لِلْحِيطَانِ فَيْئًا نَسْتَظِلُّ بِهِ

Kami shalat jumat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pulang, dan kami tidak menemukan bayangan tembok yang bisa kami gunakan untuk berteduh. (HR. Bukhari 4168 & Muslim 860).

Tarjih Pendapat

Dari dua pendapat di atas, pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat pertama, pendapat yang dipilih mayoritas ulama. Dengan alasan,

Dalil pendapat mayoritas ulama lebih tegas menunjukkan jumatan dilakukan setelah tergelincir matahari. Sementara dalil yang dibawakan pendapat hambali tidak tegas mendukung pendapatnya. Justru dalil itu mendukung pendapat pertama. Untuk menjawab beberapa dalil pendapat kedua, kita simak keterangan An-Nawawi dalam al-Majmu’,

وتفصيل الجواب ان يقال حديث جابر فيه اخبار أن الصلاة والرواح الي جمالهم كانا حين الزوال لا ان الصلاة قبله. (والجواب) عن حديث سلمة انه حجة لنا في كونها بعد الزال لانه ليس معناه انه ليس للحيطان شئ من الفى وانما معناه ليس لها في كثير بحيث يستظل به المار

Rincian jawabannya bahwa hadis Jabir merupakan informasi bahwa shalat dan mengurus onta yang mereka lakukan dilakukan sekitar waktu ketika matahari tergelincir, bukan shalat jumat dikerjakan sebelum matahari tergelincir.

Sementara jawaban untuk hadis Salamah bin Akwa, justru itu dalil yang mendukung pendapat kami, bahwa jumatan dilakukan setelahzawal (tergelincir matahari). Karena makna hadis bukan ‘tidak ada bayangan tembok sama sekali’, namun makna yang benar adalah tidak ada bayangan yang cukup banyak, sehingga membuat orang yang jalan bisa berteduh. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/512)

Kemudian, Imam Ahmad sendiri dalam sebagian riwayat, beliau menganjurkan agar jumatan dilakukan setelah masuk waktu dzuhur. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

ونقل أبو طالب، عنه، قال: ما ينبغي أن يصلي قبل الزوال

Abu Thalib menukil dari Imam Ahmad, bahwa beliau mengatakan, “Tidak selayaknya shalat jumat dilakukan sebelum zawal.” (Fathul Bari, 8/176).

Yang Penting Shalatnya

Sekalipun adzan jumat dimulai sebelum jam 12.00, namun kita pastikan, shalatnya dilakukan setelah zawal.

Imam Ibnu Baz mengatakan,

الأفضل بعد زوال الشمس خروجا من خلاف العلماء ؛ لأن أكثر العلماء يقولون لا بد أن تكون صلاة الجمعة بعد الزوال ، وهذا هو قول الأكثرين

Yang paling afdhal, dilakukan setelah zawal, dalam rangka menghindari perbedaan pendapat. Karena mayoritas ulama mengatakan, shalat jumat harus dilakukan setelah zawal (masuk waktu dzuhur). (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 12/391).

Catatan Kedua, bahwa jadwal masuknya waktu dzuhur di Indonesia berbeda-beda, artinya tidak bisa diseragamkan dengan jam 12.00. Di wilayah jakarta, waktu dzuhur yang paling siang sekitar pukul 12.10. itu di sekitar bulan Januari. Sementara waktu dzuhur yang paling awal sekitar pukul 11.35.

Untuk wilayah Lamongan Jawa Timur, tentu saja jatuhnya lebih awal. Selisih sekitar 20 menit.

Sementara selisih waktu shalat jogja jakarta, sekitar 10 menit.

Karena itu, untuk jumatan yang dimulai sebelum jam 11.45, insyaaAllah tidak sampai dilaksanakan sebelum dzuhur. Dan jumatannya sah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

memerangi isis

Memerangi ISIS

Maaf ustad, itu ada seminar internasional tentang terorisme dan isis yang dihadiri beberapa negara kafir, seperti amerika, singapura, dan yang lainnya. Di sana ada seorang ulama senior, Syaikh Ali al-Halabi. Bagaimana pandangannya, orang islam bekerja sama dengan negara kafir untuk menumpas isis, apa ini dibolehkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada dua permasalahan yang dibicarakan sebagian masyarakat terkait acara itu,

Pertama, duduk bersama orang kafir untuk menjalin kesepakatan

Mereka menganggap ini keanehan. Bagaimana bisa seorang ulama ahlus sunah, duduk bersama orang fasik, ornag liberal, orang kafir, untuk membuat kesepakatan bersama?

Sebenarnya komentar ini tidak perlu kita bahas terlalu lebar. Karena dalam sejarah perjuangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, mereka sering membuat kesepakatan damai dengan orang kafir. Baik orang musyrikin Quraisy, maupun orang yahudi sekitar Madinah. Terutama ketika kekuatan kaum muslimin belum bisa menandingi kekuatan musuh.

Anda yang membaca sejarah tentu mengenal piagam Madinah, perjanjian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Yahudi sekitar Madinah, atau perjanjian Hudaibiyah. Ini semua dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena ridha dengan orang kafir, atau menaruh kepercayaan besar kepada orang kafir. Jelas bukan itu tujuan beliau. Namun sebagai bentuk rahmat bagi kaum muslimin. Dengan adanya perjanjian ini, akan lebih menguntungkan kaum muslimin dan jaminan keamanan bagi umat islam.

Benar kaum muslimin di Indonesia mayoritas. Sayangnya, agama mayoritas ini sebagian besar tidak memiliki kepedulian serius terhadap kondisi umat islam. Ditambah, mereka berpecah belah karena perbedaan prinsip dan aqidah. Sehingga kondisi mereka jelas lebih lemah dibandingkan keadaan para sahabat ketika itu.

Kedua, kaum muslimin meminta bantuan orang kafir untuk menumpas isis

Anda tentu sepakat dengan dampak buruk isis bagi umat islam. Sejak daulah ini berdiri dan memiliki sedikit kekuatan dan senjata, ratusan umat islam tidak berdosa telah dibantai. Betapa banyak warga muslim dunia yang menjadi korban kebiadabannya.

Sementara belum pernah kita saksikan mereka memberi manfaat bagi umat. Kita belum pernah mendengar info isis melawan yahudi israel, atau melawan syiah iran. Rata-rata yang diserang adalah kaum muslimin dan negara-negara islam yang mayoritas warganya ahlus sunah. Apa-apaan ini? Inikah negara islam??

Dampak burukyna tidak hanya masalah pencitraan terhadap dunia tentang islam. Namun sudah menghalalkan banyak nyawa kaum muslimin.

Mereka tak ubahnya tumor ganas yang ada di tubuh kaum muslimin.

Fatwa Ulama Meminta Bantuan Orang Kafir   

Kita harus memahami, masalah meminta bantuan orang kafir untuk membantu kaum muslimin dalam hal yang menguntungkan mereka, merupakan masalah fiqhiyah. Sehingga perbedaan pendapat dalam masalah ini, tidak memberikan konsekuensi keluar dari aqidah atau manhaj yang benar.

Al-Muwafaq Ibnu Qudamah mengatakan,

فصل : ولا يستعان بمشرك وبهذا قال ابن المنذر و الجوزجاني وجماعة من أهل العلم وعن أحمد ما يدل على جواز الاستعانة به وكلام الخرقي يدل عليه أيضا عند الحاجة وهو مذهب الشافعي لحديث الزهري الذي ذكرناه وخبر صفوان بن أمية ويشترط أن يكون من يستعان به حسن الرأي في المسلمين فان كان غير مأمون عليهم لم تجزئه الاستعانة به

Pasal:

Tidak boleh meminta bantuan orang musyrik, ini merupakan pendapat Ibnul Mundzir, al-Juzajani, dan sekelompok ulama. Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad yang menunjukkan bolehnya meminta bantuan kepada orang musyrik. Keterangan al-Kharqi juga menunjukkan hal ini, boleh meminta bantuan mereka jika dibutuhkan, dan ini merupakan pendapat as-Syafii. Ini berdasarkan hadis dari az-Zuhri yang telah kami singgung, dan peristiwa yang terjadi pada Shafwan bin Umayah. Dan dipersyaratkan, orang yang dimintai bantuan, memiliki cara pandang yang baik terhadap kaum muslimin. Jika dia tidak bisa dipercaya, maka tidak boleh meminta bantuan mereka. (al-Mughni, 10/447).

Selanjutnya kita simak keterangan Imam as-Syafii. Dalam kitab al-Umm beliau menyatakan,

وإن كان مشرك يغزو مع المسلمين وكان معه في الغزو من يطيعه من مسلم أو مشرك وكانت عليه دلائل الهزيمة والحرص على غلبة المسلمين وتفريق جماعتهم لم يجز أن يغزو به … ومن كان من المشركين على خلاف هذه الصفة فكانت فيه منفعة للمسلمين القدرة على عورة عدو أو طريق أو ضيعة أو نصيحة للمسلمين فلا بأس أن يغزي به

Jika ada orang musyrik ikut berperang bersama kaum muslimin, sementara dia punya pengaruh terhadap muslim yang lain atau orang musyrik. Dan ada tanda-tanda keinginannya untuk menguasai kaum muslimin dan memecah belah persatuan mereka, maka tidak boleh berperang bersama orang musyrik…

Jika orang musyrik kondisinya tidak seperti ini, dan keberadaannya memberi manfaat bagi kaum muslimin, mampu menyingkap kekurangan musuh, atau sebagai penunjuk jalan, atau sebagai pengarah untuk mencari daerah terpencil, atau memberikan kebaikan bagi kaum muslimin, tidak masalah berperang bersama mereka. (al-Umm, 4/166).

Dan inilah yang menjadi landasan para ulama kontemporer, terkait fenomena ISIS. Komplotan ISIS, masalah dunia, masalah hampir semua negara. Sementara kaum muslimin paling berkepentingan di sana. Sementara melibatkan orang kafir untuk membasmi mereka akan sangat menguntungkan kaum muslimin. Itulah yang mendasari Syaikh Ali al-Halabi merelakan waktunya untuk memberikan pengarahan dalam konferensi itu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mole people yakjud majud

Yakjuj & Makjuj Sudah Keluar? (Mole People)

Benarkah mole people yang ada di USA itu Yakjuj dan Makjuj?. Katanya itu peemuan tentang Yakjuj dan Makjuj oleh NASA. Mohon pencerahannya.

Dari Gim, Sleman

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita awali dari sejarah benteng yakjuj dan makjuj. Informasi tentang yakjuj dan makjuj yang paling awal kita dapatkan adalah keterangan yang Allah sebutkan dalam al-Quran, tepatnnya di surat al-Kahfi.

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا . حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا . قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا .

Kemudian dia menempuh suatu jalan yang lain. Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (QS. al-Kahfi: 92 – 94)

Pada ayat di atas, Allah menceritakan seorang raja yang adil, Dzul Qarnain yang kekuasaannya membentang dari timur hingga barat. Dia pernah mendatangi ujung-ujung daerah kekuasaannya. Salah satu yang didatangi Dzul Qarnain adalah sebuah kaum yang mereka menetap di daerah antara dua gunung (baina saddain). Menurut tafsir Ibnu Abbas, dua gunung itu antara Armenia dan Azerbaijan. (Zadul Masir, 4/250).

Kaum inilah yang mengeluhkan keberadaan Yakjuj dan Makjuj karena mereka suka mengganggu. Sehingga mereka minta dibuatkan benteng besar yang bisa menghalangi mereka dari kehadiran Yakjuj dan Makjuj. Bakan mereka sanggup bayar harta, agar bisa dibuatkan benteng itu. Mereka mengatakan – seperti yang dikutip dalam ayat di atas –,

Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?

Atas permintaan ini, Dzulqarnain membuatkan tembok sangat besar yang terbuat dari cor besi dan tembaga. Dia lelehkan besi dan tembaga dengan semburan api, yang dibantu masyarakat kaum tersebut.

Allah ceritakan,

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا ( )  آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا

Dzulkarnain berkata: “Kekuasaan yang diberikan Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka ( ) berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah api itu.” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu (QS. al-Kahfi: 95 – 96)

Allah memberikan jaminan, mereka tidak akan mampu menaiki benteng itu untuk  keluar darinya dan tidak bisa mereka lubangi. Allah menegaskan di lanjutan ayat,

فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا

“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.” (QS. al-Kahfi: 97).

Mereka terus berusaha melubanginya untuk bisa keluar dari benteng itu. Setelah mereka berhasil membuat lubang sebesar satu jari, Allah menutupnya kembali. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن يأجوج ومأجوج يحفرون كل يوم ، حتى إذا كادوا يرون شعاع الشمس ، قال الذي عليهم : ارجعوا فسنحفره غداً ، فيعيده الله أشد ما كان

Yakjuj dan Makjuj selalu menggali (benteng itu) setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari, pemimpin mereka mengatakan, “Mari kita pulang, kita lanjutkan besok.” Lalu Allah mengembalikan bekas lubang itu lebih kuat dari sebelumnya. (HR. Ahmad 10913, Ibnu Majah 4218 dan dishahihkan al-Albani)

Di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, Yakjuj Makjuj telah berhasil melubangi sebesar satu lingkaran jari telunjuk dan jempol. Dan beliau merasa sangat cemas dan ketakutan. Zainab Radhiyallahu ‘anha pernah menceritakan ketakutan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di suatu malam. Beliau tiba-tiba terbangun dengan wajah pucat memerah,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِه

Laa ilaaha illallaah, sungguh, keburukan yang akan menimpa manusia telah dekat. Pada hari ini, benteng Yakjuj dan Makjuj telah terbuka selebar ini. Beliau berisyarat membuat lingkaran dengan jari telujuk dan jempol. (HR. Bukhari 3346, Muslim 7416 dan yang lainnya).

Akan Keluar Setelah Tiba Waktunya

Demikianlah pendapat yang kuat dan ini keyakinan ahlus sunah. Yakjuj Makjuj hanya akan keluar dari benteng itu, setelah Allah izinkan. Dan itu muncul di akhir zaman, sebagai deretan tanda kedatangan kiamat.

Di lanjutan ayat, setelah berhasil membangun tembok itu, Dzulqarnain mengatakan,

قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

Dzulkarnain mengatakan, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.”

Ketika benteng itu terbuka, mereka langsung keluar secara bergelombang, layaknya ombak lautan. Allah menyatakan,

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا

Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain. Kemudian ditiup sangkakala (kiamat), lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.

Allah juga menegaskan di surat al-Anbiya:

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ – وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا

Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.

Mereka keluar setelah Nabi Isa turun dan berhasil membantai Dajjal. Dalam hadis yang panjang, dari Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan rentetan tanda kiamat,

“Ketika Dajjal sudah sangat banyak kerusakannya, lalu Allah mengirim ‘Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju (yang dicelup wars dan za’faran) seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat, bila ia menundukkan kepala, air pun menetas. Bila ia mengangkat kepala, air pun bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau dirinya melainkan ia akan mati. Sungguh bau nafasnya sejauh mata memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di Bab Lud lalu membunuhnya. Setelah itu Isa bin Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka di surga. Kemudian Allah wahyukan kepada Isa bahwa Sungguh Aku (Allah) telah mengeluarkan hamba ciptaan-Ku yang tidak sanggup seorang pun memerangi mereka. Maka berlindunglah wahai hambaKu ke bukit Thur. Lalu Allah mengirim Ya’juj dan Ma’juj dalam keadaan berjalan cepat dari semua arah, lalu kelompok pertama mereka melewati danau Thobariyah lalu meminum semua isinya dan kelompok akhir mereka melewati danau tersebut lalu mengatakan: dahulu pernah ada air disini. Nabi Isa dan sahabat-sahabatnya terkepung sampai kepala sapi jantan lebih berharga bagi seorang dari mereka dari seratus dinar milik salah seorang dari kalian sekarang ini. Lalu Nabi Isa dan para sahabatnya memohon kepada Allah. Kemudian Allah kirim ulat (yang biasa ada pada onta yang berpenyakit) pada leher-leher mereka sehingga mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan seperti kematian satu jiwa. Kemudian Nabi Isa dan para sahabatnya turun (dari bukit) ke daratan dan tidak mendapatkan satu jengkal pun di tanah kecuali dipenuhi oleh mayat dan bau busuk mereka.” (HR. Muslim 2937)

Mereka Manusia Biasa

Yakjuj Makjuj adalah nama dua suku. Mereka keturunan Adam, manusia biasa seperti kita. Menurut Ibnu Katsir, Yakjuj Makjuj keturunan Nabi Nuh dari jalur Yafits Abu Turk. (an-Nihayah, 1/201).

Diantara bukti bahwa Yakjuj dan Makjuj itu manusia adalah hadis dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi,

يقول الله تعالى: يا آدم, فيقول: لبيك وسعديك والخير فى يديك. فيقول تعالى: أخرج بعث النار. قال: وما بعث النار؟ قال: من كل ألف تسعمائة وتسعة وتسعين. فعنده يشيب الصغير( وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَاهُم بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللهِ شَدِيدٌ ) قالو: يارسول الله وأينا ذلك الواحد؟ قال: أبشروا فإن منكم رجلا ومن يأجوج ومأجوج ألف.

Allah berfirman, “Wahai Adam. Ia pun menjawab, “Ya, aku memenuhi panggilan-Mu, dan kebaikan ada di tangan-Mu.

Allah berfirman, “Keluarkanlah ba’tsun nar! (rombongan neraka)”

Ia bertanya, “Apakah ba’tsun nar itu?”

Allah berfirman, “Dari setiap 1000 orang, 999 orang sebagai ba’tsun nar. Saat itulah anak kecil menjadi tua. “Dan gugurlah segala kandungan wanita yang hamil dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk. Akan tetapi azab Allah itu sangat keras“. (QS. al Hajj: 2)

Mereka bertanya, “Siapakah di antara kami yang termasuk orang yang satu itu?”

Beliau bersabda, “Bergembiralah! Sesungguhnya dari kalian satu orang dan dari Ya`juj dan Ma`juj seribu orang”. (HR. Bukhari 6530).

Masih banyak beberapa informasi tentang Yakjuj dan Makjuj. Kita cukupkan dulu, untuk mencoba menggali pelajaran darinya terkait dengan kasus yang ditanyakan,

Pertama, bahwa yakjuj dan makjuj hanya akan keluar di akhir zaman, setelah munculnya Dajjal.

Kedua, benteng itu Allah rahasiakan. Tidak ada satupun manusia yang tahu. Sehingga percuma orang melakukan penelitian untuk mencarinya.

Ketiga, Yakjuj dan Makjuj keluar sendiri. Setelah benteng itu rusak dengan izin Allah. Mereka tidak dibebaskan oleh masyarakat di sekitarnya.

Keempat, Yakjuj Makjuj itu manusia, anak keturunan Adam. Berbentuk manusia, bukan makhluk salamander.

Media Liberal Sumber Dusta

Sebenarnya penemuan NASA tentang manusia bawa tanah, bukan sesuatu yang istimewa. Namun media di tempat kita terlalu berlebihan memberitakannya. Awalnya media liberal, lalu diikuti media islam yang kurang bertanggung jawab.

Sebenarnya mereka hanyalah geladangan yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya di terowongan-terowongan kereta bawah tanah di New York.

Yang sangat ‘menyebalkan’, situs berita itu membuat ilustrasi makhuk menyeramkan, layaknya manusia berkepala kadal, yang ternyata itu diambil dari sebuah film science-fiction, yang dibuat pada tahun 1956.

Yang menyedihkan, media ‘islam’ mengutipnya dan menghubungkannya dengan Yakjuj dan Makjuj. Allahul musta’an. Kita layak prihatin dengan sikap ini.

Karena itu, penting kami ingatkan, agar kita kedepankan sikap suudzan (buruk sangka) terhadap media liberal atau yang kurang bertanggung jawab itu. Sehingga kita tidak mudah ditipu para penipu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

9,005FansLike
4,525FollowersFollow
31,255FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN