<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Zakat</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/fikih/ibadah-fikih/zakat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Berutang Untuk Naik Haji dan Zakat</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/berutang-untuk-naik-haji-dan-zakat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/berutang-untuk-naik-haji-dan-zakat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 23:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ustadz Muhammad Yassir, Lc</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11076</guid>
		<description><![CDATA[Berutang Untuk Naik Haji dan Zakat Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Ustadz, saya mau bertanya. Jika kita mendapatkan pinjaman uang misalnya Rp.1 Milyar bolehkah uang itu kita gunakan untuk : 1. Apakah uang itu langsung kita keluarkan zakatnya? 2. Bolekhah uang itu kita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Berutang Untuk Naik Haji dan Zakat</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Ustadz, saya mau bertanya. Jika kita mendapatkan pinjaman uang misalnya Rp.1 Milyar bolehkah uang itu kita gunakan untuk :<br />
1. Apakah uang itu langsung kita keluarkan zakatnya?<br />
2. Bolekhah uang itu kita sedekahkan?<br />
3. Bolehkan uang itu kita gunakan untuk menghajikan orang tua kita?<br />
Mohon Jawabannya Ustad. <em>Jazakallahu khaira</em></p>
<p>Wassalamu’alaikum</p>
<p>Dari: Ahmad Syafii<br />
<span id="more-11076"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam<br />
<em>Alhamdulillah was shalatu was salamu ala Rasulillah</em></p>
<p>Sebelumnya, ana doakan semoga Anda tidak mendapatkan pinjaman 1 milyar rupiah, tapi semoga Anda mendapat rezeki nomplok 1 milyar rupiah, Amin.</p>
<p>Hutang yang Anda terima (berapa pun jumlahnya) sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab Anda (seperti harta Anda sendiri). Oleh karena itu, penggunaannya terserah bagi Anda, Anda mau sedekahkan atau menghajikan orang tua terserah. yang penting kalau sudah sampai waktu pelunasannya, Anda wajib melunaskannya.</p>
<p>Tidak wajib langsung dikeluarkan zakat, tapi ditunggu satu haul dahulu. kalau uang tersebut masih utuh atau mencapai nishob, maka wajib dizakati</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yasir, Lc. (Dewan Pembina </strong><a href="http://konsultasisyariah.com/berutang-untuk-naik-haji-dan-zakat" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)<br />
Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/berutang-untuk-naik-haji-dan-zakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Zakat atau Infak dan Shodaqoh</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-zakat-infak-dan-sedekah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-zakat-infak-dan-sedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 23:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ustadz Muhammad Yassir, Lc</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11026</guid>
		<description><![CDATA[Lebih Utama mana antara Zakat, Infak dan Shodaqoh? Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Pak Ustad saya mau tanya, lebih utama mana zakat atau infak/shodaqoh? Haruskah zakat perhitungannya selalu 2,5% kalo lebih bagaimana? Maksud saya misalnya saya ada uang 5 juta, saya niat berzakat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Lebih Utama mana antara Zakat, Infak dan Shodaqoh?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Pak Ustad saya mau tanya, lebih utama mana <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-zakat-infak-dan-sedekah" target="_blank">zakat atau infak</a></strong>/shodaqoh?<br />
Haruskah zakat perhitungannya selalu 2,5% kalo lebih bagaimana? Maksud saya misalnya saya ada uang 5 juta, saya niat berzakat 500 ribu sedangkan perhitungan 2,5% cuma 125 ribu, bagaimana selebihnya? Haruskah masuk ke zakat atau masuk shodaqoh? Terimakasih Pak Ustad wassalamu’alaikum</p>
<p>Dari: Sri Meilani<br />
<span id="more-11026"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam<br />
<em>Alhamdulillah was shalatu was salamua ala Rasulillah</em></p>
<p>Zakat dan sedekah/infak adalah sama-sama ibadah harta.</p>
<p><strong>Bedanya adalah:</strong><br />
Kalau zakat hukumnya wajib dan hanya dikeluarkan dari harta tertentu saja dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Sedekah hukumnya sunah, boleh dikeluarkan dalam bentuk harta apa saja.</p>
<p>Kalau ditanya yang paling afdhol antara keduanya, maka jawabannya adalah seluruh ibadah wajib lebih afdhol daripada ibadah sunah, dalam artian kita utamakan dahulu mengerjakan yang wajib daripada sunah. Jangan sampai kita disibukkan mengejar yang sunah sampai lalai melaksanakan yang wajib.</p>
<p>Adapun permisalan saudara dari harta 5 juta Anda keluarkan 500 ribu. Ini bukan zakat, karena zakat harta (seperti uang kertas ) wajib dikeluarkan kalau sudah mencapai nishob (seharga 85 gr emas murni). Baru dikeluarkan 2,5 % setelah melalui satu haul. Kalau Anda keluarkan lebih dari 2,5 %, maka Anda telah melakukan kebaikan yang lebih besar, yaitu sedekah. Insya Allah semoga pahala Anda dilipatgandakan oleh Allah.<br />
<em>Wallahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yasir, Lc. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-zakat-infak-dan-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solusi atas Pemaksaan Zakat Profesi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/dasar-zakat-profesi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/dasar-zakat-profesi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Mar 2012 01:46:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10659</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Pertanyaan untuk Ust. Arifin Badri hafidzahullah: Bismillahirrahmanirrahim Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ya ustadz, telah saya pahami bahwa zakat profesi (bulanan) adalah sebuah amalan yang tertolak dalam syariat. Pelaksanaannya tiada didasari dengan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain -ya ustadz- saat ini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Pertanyaan untuk Ust. Arifin Badri <em>hafidzahullah</em>:</p>
<p><em>Bismillahirrahmanirrahim</em><br />
<em>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em><br />
Ya ustadz, telah saya pahami bahwa zakat profesi (bulanan) adalah sebuah amalan yang tertolak dalam syariat. Pelaksanaannya tiada didasari dengan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain -ya ustadz- saat ini telah mulai marak pelaksanaan zakat profesi di daerah-daerah.</p>
<p>Bahkan telah mulai banyak Pemerintah Daerah di Indonesia yang menetapkan regulasi maupun legislasi (yang bersifat memaksa) untuk memungut Zakat Profesi dari PNS yang ada di wilayah Pemda tersebut melalui Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), misal di kabupaten tulungagung, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Banten, Kabupaten Solok, Kabupaten Bulukumba, dll.</p>
<p>Di antara daerah-daerah lainnya, juga ada yang mulai merintis untuk nantinya mewajibkan zakat profesi di daerahnya, semisal di DIY yang semenjak 2 tahun silam telah dikeluarkan surat edaran (masih bersifat anjuran) gubernur untuk menginstruksikan PNS di DIY untuk membayar zakat profesi. Hal ini tentunya menjadi beban bagi kaum muslimin. Mereka telah capek-capek membayar, kemudian mengira bahwa itu telah menggugurkan kewajiban zakatnya, namun ternyata itu tidak menggugurkan kewajiban zakatnya. Belum lagi bagi mereka yang sebenarnya tidak wajib membayar zakat (atau bahkan mungkin termasuk yang berhak menerima zakat), mereka dipaksa untuk mengeluarkan zakat. Hal tersebut tentunya adalah sebuah kezhaliman.</p>
<p>Oleh karena pelaksanaan zakat profesi telah dituangkan ke dalam kerangka hukum positif, maka mekanisme pemotongan gaji PNS secara bulanan akan tetap berlangsung selama regulasi dan legislasi masih berlaku. Ini merupakan tantangan yang paling berat.</p>
<p>Saya adalah seorang mahasiswa jurusan akuntansi yang saat ini sedang mengadakan penelitian untuk merumuskan solusi dari keadaan tersebut. Saya berpikir bahwa alangkah lebih baik jika potongan gaji (tiap bulan) tersebut nantinya tidak di-<em>akad</em>-kan sebagai pembayaran zakat profesi. Potongan gaji tersebut akan lebih tepat jika di-<em>akad</em>-kan sebagai tabungan zakat mal. Dengan demikian, maka konsekuensinya adalah:<br />
1. Apabila harta karyawan yang bersangkutan telah benar-benar sempurna <em>nishab</em> dan <em>haul</em>-nya, maka ia bisa mendatangi OPZ dan membayar zakat dengan mengambil dari tabungan zakat malnya tadi. Apabila tabungan zakat malnya masih berlebih, maka sisanya tetap akan disimpan untuk pembayaran zakat berikutnya. Namun apabila ternyata masih kurang, maka karyawan tadi wajib untuk menambahkan kekurangannya untuk menyempurnakan pembayaran zakatnya.<br />
2. Namun apabila harta karyawan yang bersangkutan ternyata tidak sempurna <em>nishab</em> dan atau <em>haul</em>-nya, maka tabungan zakat malnya tadi dapat tetap ia pertahankan, atau serahkan kepada OPZ dengan akad infak, atau dapat pula ia ambil kembali (restitusi) dari OPZ untuk membantu mencukupi kebutuhan hidupnya.<br />
3. Dengan di-<em>akad</em>-kan sebagai tabungan zakat mal, maka tabungan tersebut tidak akan tercampur dengan dana zakat (yang sudah memenuhi syarat), sehingga tidak akan ikut tersalurkan kepada <em>mustahiq</em>, sebelum syarat-syarat zakat terpenuhi.<br />
Hal ini, secara akuntansi, dapat dilakukan.</p>
<p>Pertanyaan saya,<br />
1. Bolehkah Amil mengadakan tabungan zakat mal sebagaimana yang dijelaskan di atas?<br />
2. Bagaimana pendapat ustadz mengenai solusi yang telah saya utarakan di atas?</p>
<p>Demikian, pertanyaan ini saya ajukan. Atas perhatian dan jawaban ustadz, saya ucapkan terima kasih. <em>Jazakallahu khairan jaza&#8217;</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam<br />
Sejatinya seperti antum utarakan bahwa zakat harus memenuhi persyaratannya, <em>haul</em> dan <em>nishab</em>.</p>
<p>Selanjutnya bila telah memenuhi syarat, maka pemerintah boleh memungutnya. Namun karena sudah terlanjur jadi regulasi, maka solusi yang antum tawarkan bisa jadi soluai tengah yang mendekati keadilan.</p>
<p>Wassalamu’alaikum</p>
<p><strong>Dijawab Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Baderi, M.A.</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/dasar-zakat-profesi" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait zakat profesi:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/zakat-profesi" target="_blank">Zakat Profesi Dalam Tinjaun</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/zakat-profesi-dalam-islam" target="_blank">Zakat Profesi Dalam Islam</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/zakat-undian" target="_blank">Zakat Undian</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/dasar-zakat-profesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Non-Muslim Ikut Infak Pembangunan Masjid</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-non-muslim-ikut-infak-pembangunan-masjid/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-non-muslim-ikut-infak-pembangunan-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 23:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10451</guid>
		<description><![CDATA[Jika Orang Kafir Infak Masjid Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jika ada non muslim menyumbang dalam pembngunan masjid? Dari: Eric Bob Pratomo Jawaban: Dari beberapa fatwa ulama, menunjukkan bolehnya menerima sumbangan dari orang kafir untuk pembangunan masjid. Di antaranya adalah: Pertama: Fatwa dari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Jika Orang Kafir Infak Masjid</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bagaimana hukumnya jika ada non muslim menyumbang dalam pembngunan masjid?</p>
<p>Dari: Eric Bob Pratomo<br />
<span id="more-10451"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Dari beberapa fatwa ulama, menunjukkan bolehnya menerima sumbangan dari orang kafir untuk pembangunan masjid. Di antaranya adalah:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Fatwa dari Syaikh Sulaiman Al-Majid, anggota Majlis Syura Arab Saudi.</p>
<p>Dibolehkan bagi orang kafir untuk membangun atau ikut andil dalam membangun masjid. Karena hukum asalnya adalah halal. Adapun firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: “<em>Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan</em>.” (QS. Taubah: 54)</p>
<p>Makna ayat ini terkait diterimanya amal mereka di sisi Allah, tidak ada hubungannya dengan keabsahan dan bolehnya <strong>infak</strong> untuk masjid, dua hal ini jelas berbeda.</p>
<p>Sedangkan yang dilakukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yaitu menghancurkan masjid <em>d</em><em>hirar</em> yang dibangun oleh orang munafik, latar belakangnya adalah untuk menghancurkan konspirasi orang munafik untuk menyerang kaum muslimin. <em>Allahu </em><em>a</em><em>&#8216;lam</em>.</p>
<p>Fatwa Syaikh Sulaiman Al-Majid, no. 4600.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Keterangan beliau ini juga diaminkan oleh Dewan Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih. Ketika ditanya tentang hukum menggalang dana untuk pembangunan masjid, yang diambil dari orang kafir, mereka menyatakan,</p>
<p>“Tidak ada masalah meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk materi, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Demikian juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Dan tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid.”</p>
<p>(<em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, no. 75831 )</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/pertanyaan-pembaca" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-non-muslim-ikut-infak-pembangunan-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halalkah Zakat Bagi Habaib?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/halalkah-zakat-bagi-habaib/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/halalkah-zakat-bagi-habaib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 02:51:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10430</guid>
		<description><![CDATA[Halalkah Zakat Bagi Habaib? Pertanyaan: “Apa hukum memberikan zakat kepada seorang yang keturunan ahli bait?” Jawaban: “Menurut mazhab Hanbali tidak boleh memberikan zakat kepada Bani Abdul Muthallib [semua keturunan Abdul Muthallib bin Hisyam bin Abdi Manaf]. Sedangkan dalam mazhab Syafii ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Halalkah Zakat Bagi Habaib?</h2>
<p>Pertanyaan: “Apa hukum memberikan zakat kepada seorang yang keturunan ahli bait?”<br />
<span id="more-10430"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>“Menurut mazhab Hanbali tidak boleh memberikan zakat kepada Bani Abdul Muthallib [semua keturunan Abdul Muthallib bin Hisyam bin Abdi Manaf].</p>
<p>Sedangkan dalam mazhab Syafii terlarang memberikan zakat kepada Bani Hasyim [anak keturunan Hisyam bin Abdi Manaf] demikian pula Bani Abdul Muthallib.</p>
<p>Pada dasarnya mereka diberi santunan dari harta rampasan perang akan tetapi jika tidak ada harta rampasan perang maka mereka mendapatkan santunan dari kas negara selain zakat”</p>
<p><strong>Referensi: <a href="http://khudheir.com/text/1492" rel="nofollow" target="_blank">khudheir.com</a></strong></p>
<p>Berdasarkan uraian di atas maka <strong>habib</strong> atau habaib yang merupakan keturunan <a href="http://konsultasisyariah.com/rasulullah-meminta-miskin" target="_blank" rel="nofollow">Rasulullah</a> tentu saja tidak berhak dan tidak boleh diberi uang zakat karena mereka tentu saja merupakan bagian dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib yang merupakan ahl bait Nabi.</p>
<p>Oleh Ustadz Aris Munandar, M.A.</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/halalkah-zakat-bagi-habaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah untuk Pembantu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 07:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[pembatu]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[yang berhak menerima zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7197</guid>
		<description><![CDATA[Zakat fitrah untuk pembantu Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, saya punya seorang pembantu (PRT). Pertanyaannya: apakah zakat fitrinya menjadi (wajib) tanggungan keluarga kami atau tidak? Demikian, Ustadz. Terima kasih sebelumya. Semoga Allah memudahkan Ustadz dalam segala urusan. Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Zakat fitrah untuk pembantu</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Ustadz, saya punya seorang pembantu (PRT). Pertanyaannya: apakah zakat fitrinya menjadi (wajib) tanggungan keluarga kami atau tidak? Demikian, Ustadz. Terima kasih sebelumya. Semoga Allah memudahkan Ustadz dalam segala urusan.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<h3><em>Ade Tatang (ade**@***.com)</em><br />
<span id="more-7197"></span><br />
Jawaban bolehkah tuannya  membayarkan zakat fitrah untuk pembantunya:</h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Jika nafkah pembantu tersebut ditanggung oleh tuannya, misalnya: pembantu rumah tangga, maka wajib bagi tuannya membayarkan <a title="Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah" target="_blank" rel="nofollow"><strong>zakat fitrah</strong></a> untuk pembantunya.</p>
<p>Jika nafkah pembantu tidak ditanggung tuannya maka tidak ada kewajiban bagi tuannya untuk menunaikan <em>zakat fitrah</em> pembantunya.</p>
<p>Imam Malik mengatakan, “Tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk membayarkan zakat fitri bagi budak milik budaknya, pembantunya, dan budak istrinya, kecuali orang yang membantu dirinya dan harus dia nafkahi maka status zakatnya wajib. (<em>Al-Muwaththa’</em>, 2:334)</p>
<p><strong>Dijawab oleh<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com"> Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Download Infografik Panduan Zakat Fitrah dan Zakat Harta</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/download-infografik-panduan-zakat-fitrah-dan-zakat-harta/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/download-infografik-panduan-zakat-fitrah-dan-zakat-harta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 01:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7283</guid>
		<description><![CDATA[Infografik Panduan Zakat Fitrah dan Zakat Harta Pembaca setia KonsultasiSyariah.com yang semoga selalu dirahmati Allah, berikut ini kami hadirkan Infografik Panduan Zakat Fitri dan Zakat Harta. Infografik Panduan Zakat ini didesain dengan menarik disertai ilustrasi yang cantik untuk memudahkan Anda ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Infografik Panduan Zakat Fitrah dan Zakat Harta</h2>
<p>Pembaca setia <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a><strong></strong> yang semoga selalu dirahmati Allah, berikut ini kami hadirkan<strong> Infografik Panduan Zakat Fitri dan Zakat Harta</strong>. Infografik Panduan Zakat ini didesain dengan menarik disertai ilustrasi yang cantik untuk memudahkan Anda dalam memahami <strong>aturan pembagian zakat</strong> (baik <em><strong>zakat fitri</strong></em> maupun <span style="text-decoration: underline;"><strong>zakat mal</strong></span>) sesuai dengan petunjuk Alquran dan hadits Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Infografik Panduan Zakat</span> ini disusun oleh Ustadz Muhamad Wasitho, Lc. (Dewan Pembina <a href="http://www.pengusahamuslim.com/" rel="nofollow">PengusahaMuslim.com</a> dan Staf Ahli Syariah <a href="http://www.majalah.pengusahamuslim.com/" rel="nofollow">Majalah Pengusaha Muslim</a>) disertai tambahan penjelasan oleh Ustadz Ammi Nur Baits, S.T. (Dewan Pembina <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>). Semoga <em>Infografik Panduan Zakat</em> ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin.</p>
<p>Silakan download pada link berikut:</p>
<h3><a href="http://www.konsultasisyariah.com/video/ebook/2012/panduan-zakat-pengusahamuslim.jpg" target="_blank"><strong>Download </strong><strong>Infografik Panduan Zakat Fitri dan Zakat Harta</strong></a></h3>
<p>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/download-infografik-panduan-zakat-fitrah-dan-zakat-harta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayar Zakat Fitrah Antar-Negara</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bayar-zakat-fitrah-antar-negara/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bayar-zakat-fitrah-antar-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 01:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[yang berhak menerima zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7200</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan bayar zakat fitrah antar-negara: Assalamu &#8216;alaykum. Saya tinggal di Jepang, dan bingung mau bayar zakat fitrah. Apakah boleh orang tua kita yang di Indonesia yang membayarkan zakat fitrah kita? Padahal harga beras di Jepang &#8216;kan jauh berbeda dengan di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pertanyaan bayar zakat fitrah antar-negara:</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>. Saya tinggal di Jepang, dan bingung mau <strong>bayar zakat</strong> fitrah. Apakah boleh orang tua kita yang di Indonesia yang membayarkan zakat fitrah kita? Padahal harga beras di Jepang &#8216;kan jauh berbeda dengan di Indonesia. Apakah kita harus bayar <em>zakat fitrah</em> berupa beras di Indonesia seharga 2,5 kg beras di Jepang?</p>
<p><em>Abu Abdillah (abuabdillah**@i.***.jp)</em><br />
<span id="more-7200"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Berikut ini keterangan dalam <em>Fatwa Syabakah Islamiyah</em>, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih.</p>
<p>&#8220;<em>Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Tiga imam mazhab, yaitu Imam Malik, Imam Syafi&#8217;i, dan Imam Ahmad <em>rahimahumullah</em> berpendapat bahwa zakat fitrah hanya boleh diberikan dalam bentuk bahan makanan yang umumnya berlaku di suatu negeri. Sementara, Imam Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan uang, sebagai ganti dari bahan makanan. Karena itu, jika Anda ingin memberikan zakat itu kepada orang miskin (muslim) di negeri tersebut &#8211;dan merekalah yang lebih berhak&#8211; maka <strong>jangan <a title="Zakat Fitri Diberikan Kemana?" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitri-diberikan-kemana" target="_blank" rel="nofollow">bayar zakat</a> kecuali dengan bahan makanan</strong>.</p>
<p>Akan tetapi, jika Anda ingin mengirim zakat fitrah Anda ke negeri lain, karena tidak ada orang yang berhak menerimanya di negeri tempat tinggal Anda maka yang lebih baik adalah Anda mengirim uang kepada seseorang di negeri tujuan, dan Anda amanahkan untuk membelikan beras dan menyerahkannya ke orang miskin. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Sumber</strong>:<em> http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;lang=a&amp;Id=929&amp;Option=FatwaId</em></p>
<p>**</p>
<h3>Catatan dari redaksi Konsultasi Syariah perihal membayar zakat<strong><br />
</strong></h3>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, bisa disimpulkan:</p>
<ul>
<li>Anda bisa mengirimkan uang atau mewakilkan ke orang tua di indonesia untuk membayarkan zakat Anda.</li>
<li>Standard harga beras adalah harga beras di indonesia karena <strong>yang menjadi acuan adalah bahan makanan di tempat penyerahan zakat</strong>, bukan nilai uangnya.</li>
</ul>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bayar-zakat-fitrah-antar-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 06:58:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[yang berhak menerima zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7185</guid>
		<description><![CDATA[Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah Ustadz, Siapa saja orang yang berhak menerima zakat fitrah? Jazakallahu khairan atas jawaban Ustadz. Jawaban untuk orang yang berhak menerima zakat fitrah Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah</h2>
<p>Ustadz, Siapa saja orang <strong>yang berhak menerima zakat</strong> fitrah? <em>Jazakallahu khairan</em> atas jawaban Ustadz.</p>
<h3>Jawaban untuk orang yang berhak menerima zakat fitrah</h3>
<p>Ibnu Abbas<em> radhiallahu &#8216;anhuma</em> mengatakan, “<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri &#8230; sebagai makanan bagi orang miskin &#8230;.</em>” (Hr. Abu Daud; dinilai <em>hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu fungsi zakat fitri adalah sebagai makanan bagi orang miskin. Ini merupakan penegasan bahwa orang <u>yang berhak menerima zakat</u> fitri adalah golongan fakir dan miskin.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan enam golongan yang lain?</strong></p>
<p>Dalam surat At-Taubah, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  (التوبة: 60</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah</em>.” (Qs. At-Taubah:60)</p>
<p>Ayat di atas menerangkan tentang delapan golongan <em><strong>yang berhak menerima zakat</strong></em>. Jika kata “zakat” terdapat dalam Alquran secara mutlak, artinya adalah &#8216;zakat yang wajib&#8217;. Oleh sebab itu, ayat ini menjadi dalil yang menguraikan golongan-golongan yang berhak mendapat zakat harta, zakat binatang, zakat tanaman, dan sebagainya.</p>
<p>Meskipun demikian, apakah ayat ini juga berlaku untuk zakat fitri, sehingga delapan orang yang disebutkan dalam ayat di atas berhak untuk mendapatkan zakat fitri? Dalam hal ini, ulama berselisih pendapat.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> zakat fitri boleh diberikan kepada delapan golongan tersebut. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan firman Allah pada surat At-Taubah ayat 60 di atas. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menamakan zakat fitri dengan “zakat”, dan hukumnya wajib untuk ditunaikan. Karena itulah, zakat fitri berstatus sebagaimana zakat-zakat lainnya yang boleh diberikan kepada delapan golongan. An-Nawawi mengatakan, “Pendapat yang terkenal dalam mazhab kami (Syafi’iyah) adalah zakat fitri wajib diberikan kepada delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat harta.” (<em>Al-Majmu’</em>)</p>
<p><strong>Kedua,</strong> zakat fitri tidak boleh diberikan kepada delapan golongan tersebut, selain kepada fakir dan miskin. Ini adalah pendapat Malikiyah, Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim. Dalil pendapat kedua:</p>
<ol>
<li>Perkataan Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>, “Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mewajibkan zakat fitri &#8230; sebagai makanan bagi orang miskin &#8230;.” (Hr. Abu Daud; dinilai<em> hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</li>
<li>Berkaitan dengan hadis ini, Asy-Syaukani mengatakan, “Dalam hadis ini, terdapat dalil bahwa zakat fitri hanya (boleh) diberikan kepada fakir miskin, bukan 6 golongan penerima zakat lainnya.” (<em>Nailul Authar</em>, 2:7)</li>
<li>Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> biasa memerintahkan zakat fitri dan membagikannya. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;Cukupi kebutuhan mereka agar tidak meminta-minta pada hari ini.&#8217;” (Hr. Al-Juzajani; dinilai <em>sahih</em> oleh sebagian ulama)</li>
</ol>
<ul>
<li>Yazid (perawi hadis ini) mengatakan, “Saya menduga (perintah itu) adalah ketika pagi hari di hari raya.”</li>
<li>Dalam hadis ini, ditegaskan bahwa fungsi zakat fitri adalah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin ketika hari raya. Sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu kemungkinan  tujuan perintah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin di hari raya adalah agar mereka tidak disibukkan dengan memikirkan kebutuhan makanan di hari tersebut, sehingga mereka bisa bergembira bersama kaum muslimin yang lainnya.</li>
</ul>
<p>Di samping dua alasan di atas, sebagian ulama (Ibnul Qayyim) menegaskan bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat <em>radhiallahu &#8216;anhum</em> tidak pernah membayarkan zakat fitri kecuali kepada fakir miskin. Ibnul Qayyim mengatakan, “Bab &#8216;Zakat Fitri Tidak Boleh Diberikan Selain kepada Fakir Miskin&#8217;. Di antara petunjuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah mengkhususkan orang miskin dengan zakat ini. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak pernah membagikan zakat fitri kepada seluruh delapan golongan, per bagian-bagian. Beliau juga tidak pernah memerintahkan hal itu. Itu juga tidak pula pernah dilakukan oleh seorang pun di antara sahabat, tidak pula orang-orang setelah mereka (tabi’in). Namun, terdapat salah satu pendapat dalam mazhab kami bahwa tidak boleh menunaikan zakat fitri kecuali untuk orang miskin saja. Pendapat ini lebih kuat daripada pendapat yang mewajibkan pembagian zakat fitri kepada delapan golongan.” (<em>Zadul Ma’ad</em>, 2:20)</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><em><strong>Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa orang<a title="Ketentuan Zakat Fitri Bagi Orang Tidak Mampu" href="http://konsultasisyariah.com/ketentuan-zakat-fitri" target="_blank" rel="nofollow"> yang berhak menerima zakat fitrah </a>adalah fakir miskin saja. </strong></em></p>
</blockquote>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Sebagian orang memberikan zakat fitri untuk pembangunan masjid, rumah sakit Islam, yayasan-yayasan Islam, atau pemuka agama. Apa hukumnya?</p>
<ul>
<li>Jika kita mengambil pendapat bahwa zakat fitri hanya boleh diberikan kepada fakir miskin maka memberikan zakat fitri kepada masjid, yayasan Islam, atau tokoh masyarakat yang bukan orang miskin itu termasuk tindakan memberikan zakat kepada sasaran yang tidak berhak. Sebagian ulama menerangkan bahwa memberikan zakat kepada golongan yang tidak berhak itu dinilai sebagai tindakan durhaka kepada Allah dan kewajibannya belum gugur. Artinya, zakat fitrinya harus diulangi.</li>
<li>Jika kita bertoleransi terhadap pendapat yang membolehkan pemberian zakat fitri kepada semua golongan yang delapan maka perlu diketahui bahwasanya masjid, yayasan Islam, atau pemuka agama tidaklah termasuk dalam delapan golongan tersebut. Masjid atau yayasan tidak bisa digolongkan sebagai “<em>fi sabilillah</em>”.</li>
<li>Demikian pula terkait pemuka agama. Jika dia orang yang berkecukupan maka dia tidak berhak diberi maupun menerima zakat karena zakat ini adalah hak orang fakir miskin. Jika ada pemuka agama atau tokoh masyarakat yang menerima zakat atau bahkan meminta zakat maka berarti dia telah menyita hak orang lain.</li>
</ul>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>Disusun oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).<br />
Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Profesi dalam Tinjauan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-profesi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-profesi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 04:56:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7158</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Ijtihad/Qiyas yang dipakai oleh ulama yang membolehkan Zakat Profesi itu bisa dijadikan dalil untuk diamalkan? Bismillaahirrahmaanirrahii. Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillaah wa shalatu wassalaammu &#8216;alaa Rasulillaah&#8230;Ustadz yang semoga Allah senantiasa menjagamu, tadi pagi saya ditanya atasan saya perihal Hukum ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Apakah Ijtihad/Qiyas yang dipakai oleh ulama yang membolehkan Zakat Profesi itu bisa dijadikan dalil untuk diamalkan?</h2>
<p><em>Bismillaahirrahmaanirrahii. Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillaah wa shalatu wassalaammu &#8216;alaa Rasulillaah</em>&#8230;Ustadz yang semoga Allah senantiasa menjagamu, tadi pagi saya ditanya atasan saya perihal Hukum <strong>zakat profesi</strong>, Apakah Ijtihad/Qiyas yang dipakai oleh ulama yang membolehkan <em>zakat profesi</em> itu bisa dijadikan dalil untuk diamalkan? di Perusahaan saya sudah lama diberlakukan <span style="text-decoration: underline;">zakat profesi</span> ini dengan cara potong gaji tiap bulannya berdasarkan kesepakatan sebelumnya, ada yang mau dan ada pula yang tidak mau dipotong gajinya. Terus adakah buku yang bagus yang khusus menjelaskan zakat profesi ini?</p>
<p>Dari: <em>Hasan</em><br />
<span id="more-7158"></span></p>
<h3>Penjelasan penting perihal zakat profesi</h3>
<p>Zakat yang diwajibkan untuk dipungut dari orang-orang kaya telah dijelaskan dengan gamblang dalam banyak dalil. Dan zakat adalah permasalahan yang tercakup dalam kategori permasalahan ibadah, dengan demikian tidak ada peluang untuk berijtihad atau merekayasa permasalahan baru yang tidak diajarkan dalam dalil. Para ulama&#8217; Dari berbagai mazhab telah menyatakan:</p>
<p class="arab">الأَصْلُ فِي العِبَادَاتِ التَّوقِيفُ</p>
<p><em>&#8220;Hukum asal dalam permasalahan ibadah adalah tauqifi alias terlarang.&#8221;</em></p>
<p>Berdasarkan kaidah ini, para ulama&#8217; menjelaskan bahwa barangsiapa yang membolehkan atau mengamalkan suatu amal ibadah, maka sebelumnya ia berkewajiban untuk mencari dalil yang membolehkan atau mensyari&#8217;atkannya. Bila tidak, maka amalan itu terlarang atau tercakup dalam amalan bid&#8217;ah:</p>
<p class="arab">مَنْ عَمِلَ عَمَل لَيْسَ عَلَيهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak.&#8221;</em> (Riwayat Muslim)</p>
<p>Coba anda renungkan: Zakat adalah salah satu rukun Islam, sebagaimana syahadatain, shalat, puasa, dan haji. Mungkinkah anda dapat menolerir bila ada seseorang yang berijtihad pada masalah-masalah tersebut dengan mewajibkan sholat selain sholat lima waktu, atau mengubah-ubah ketentuannya; subuh menjadi 4 rakaat, maghrib 5 rakaat, atau waktunya digabungkan jadi satu. Ucapan syahadat ditambahi dengan ucapan lainnya yang selaras dengan perkembangan pola hidup umat manusia, begitu juga haji, diadakan di masing-masing negara guna efisiensi dana umat dan pemerataan pendapatan dan kesejahteraan umat. Dan puasa ramadhan dibagi pada setiap bulan sehingga lebih ringan dan tidak memberatkan para pekerja pabrik dan pekerja berat lainnya.</p>
<p>Mungkinkah anda dapat menerima ijtihad ngawur semacam ini? Bila anda tidak menerimanya, maka semestinya anda juga tidak menerima ijtihad <a title="Apa Hukum Rekayasa Kredit?" href="http://konsultasisyariah.com/rekayasa-kredit" target="_blank" rel="nofollow"><strong>zakat profesi</strong></a>, karena sama-sama ijtihad dalam amal ibadah dan rukun Islam.</p>
<p>Terlebih-lebih telah terbukti dalam sejarah bahwa para sahabat nabi dan juga generasi setelah mereka tidak pernah mengenal apa yang disebut-sebut dengan zakat profesi, padahal apa yang disebut dengan gaji telah dikenal sejak lama, hanya beda penyebutannya saja. Dahulu disebut dengan al &#8216;atha&#8217; dan sekarang disebut dengan gaji atau raatib atau mukafaah. Tentu perbedaan nama ini tidak sepantasnya mengubah hukum.</p>
<p>Ditambah lagi, bila kita mengkaji pendapat ini dengan seksama, maka kita akan dapatkan banyak kejanggalan dan penyelewengan. Berikut sekilas bukti akan kejanggalan dan penyelewengan tersebut:</p>
<ol>
<li>Orang-orang yang mewajibkan <strong>zakat profesi</strong> meng-qiyaskan (menyamakan) zakat profesi dengan zakat hasil pertanian, tanpa memperdulikan perbedaan antara keduanya. Zakat hasil pertanian adalah 1/10 (seper sepuluh) dari hasil panen bila pengairannya tanpa memerlukan biaya, dan 1/20 (seper dua puluh), bila pengairannya membutuhkan biaya. Adapun zakat profesi, maka zakatnya adalah 2,5 %, sehingga qiyas semacam ini adalah qiyas yang benar-benar aneh dan menyeleweng. Seharusnya qiyas yang benar ialah dengan mewajibkan zakat profesi sebesar 1/10 (seper sepuluh) bagi profesi yang tidak membutuhkan modal, dan 1/20 (seper dua puluh), tentu ini sangat memberatkan, dan orang-orang yang mengatakan ada zakat profesi tidak akan berani memfatwakan zakat profesi sebesar ini.</li>
<li>Gaji diwujudkan dalam bentuk uang, maka gaji lebih tepat bila diqiyaskan dengan zakat emas dan perak, karena sama-sama sebagai alat jual beli, dan standar nilai barang.</li>
<li>Orang-orang yang memfatwakan zakat profesi telah nyata-nyata melanggar ijma&#8217;/kesepakatan ulama&#8217; selama 14 abad, yaitu dengan memfatwakan wajibnya zakat pada gedung, tanah dan yang serupa.</li>
<li>Gaji bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia secara umum dan umat Islam secara khusus, keduanya telah ada sejak zaman dahulu kala. Berikut beberapa buktinya:</li>
</ol>
<p>Sahabat Umar bin Al Khatthab<em> radhiallahu &#8216;anhu</em> pernah menjalankan suatu tugas dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, lalu iapun di beri upah oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.  Pada awalnya, sahabat Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> menolak upah tersebut, akan tetapi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya: &#8220;Bila engkau diberi sesuatu tanpa engkau minta, maka makan (ambil) dan sedekahkanlah.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Seusai sahabat Abu Bakar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> dibai&#8217;at untuk menjabat khilafah, beliau berangkat ke pasar untuk berdagang sebagaimana kebiasaan beliau sebelumnya. Di tengah jalan, beliau berjumpa dengan Umar bin Al Khatthab <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, maka Umarpun bertanya kepadanya: &#8220;Hendak kemanakah engkau?&#8221; Abu Bakar menjawab: &#8220;Ke pasar.&#8221; Umar kembali bertanya: &#8220;Walaupun engkau telah mengemban tugas yang menyibukkanmu?&#8221; Abu Bakar menjawab: &#8220;Subhanallah, tugas ini akan menyibukkan diriku dari menafkahi keluargaku?&#8221; Umarpun menjawab: &#8220;Kita akan meberimu secukupmu.&#8221; (Riwayat Ibnu Sa&#8217;ad dan Al Baihaqy)</p>
<p>Imam Al Bukhary juga meriwayatkan pengakuan sahabat Abu Bakar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> tentang hal ini,</p>
<p class="arab">لقد عَلِمَ قَوْمِي أَنَّ حِرْفَتِي لم تَكُنْ تَعْجِزُ عن مؤونة أَهْلِي وَشُغِلْتُ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَسَيَأْكُلُ آلُ أبي بَكْرٍ من هذا الْمَالِ وَيَحْتَرِفُ لِلْمُسْلِمِينَ فيه</p>
<p><em>&#8220;Sungguh kaumku telah mengetahui bahwa pekerjaanku dapat mencukupi kebutuhan keluargaku, sedangkan sekarang, aku disibukkan oleh urusan umat Islam, maka sekarang keluarga Abu Bakar akan makan sebagian dari harta ini (harta baitul maal), sedangkan ia akan bertugas mengatur urusan mereka.&#8221;</em> (Riwayat Bukhary)</p>
<p>Ini semua membuktikan bahwa gaji dalam kehidupan umat islam bukanlah suatu hal yang baru, akan tetapi, selama 14 abad lamanya tidak pernah ada satupun ulama&#8217; yang memfatwakan adanya zakat profesi atau gaji. Ini membuktikan bahwa zakat profesi tidak ada, yang ada hanyalah zakat mal, yang harus memenuhi dua syarat, yaitu hartanya mencapai nishab dan telah berlalu satu haul (tahun).</p>
<p>Oleh karena itu ulama&#8217; ahlul ijtihaad yang ada pada zaman kita mengingkari pendapat ini, diantara mereka adalah Syeikh Bin Baz, beliau berkata: &#8220;Zakat gaji yang berupa uang, perlu diperinci:  Bila gaji telah ia terima, lalu berlalu satu tahun dan telah mencapai satu nishab, maka wajib dizakati. Adapun bila gajinya kurang dari satu nishab, atau belum berlalu satu tahun, bahkan ia belanjakan sebelumnya, maka tidak wajib di zakati.&#8221; (<em>Maqalaat Al Mutanawwi&#8217;ah </em>oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baaz 14/134. Pendapat serupa juga ditegaskan oleh Syeikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, <em>Majmu&#8217; Fatawa wa Ar Rasaa&#8217;il</em> 18/178.)</p>
<p>Fatwa serupa juga telah diedarkan oleh Anggota Tetap Komite Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, berikut fatwanya:</p>
<p>&#8220;Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa di antara harta yang wajib dizakati adalah emas dan perak (mata uang). Dan di antara syarat wajibnya zakat pada emas dan perak (uang) adalah  berlalunya satu tahun sejak kepemilikan uang tersebut. Mengingat hal itu, maka zakat diwajibkan pada gaji pegawai yang berhasil ditabungkan dan telah mencapai satu nishab, baik gaji itu sendiri telah mencapai satu nishab atau dengan digabungkan dengan  uangnya yang lain dan telah berlalu satu tahun. Tidak dibenarkan untuk menyamakan gaji dengan hasil bumi; karena persyaratan haul (berlalu satu tahun sejak kepemilikan uang) telah ditetapkan dalam dalil, maka tidak boleh ada qiyas. Berdasarkan itu semua, maka zakat tidak wajib pada tabungan gaji pegawai hingga berlalu satu  tahun (haul).&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatwa Anggota Tetap Komite Fatwa Kerajaan Saudi Arabia</em> 9/281, fatwa no: 1360)</p>
<p>Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya mengajak pembaca untuk senantiasa merenungkan janji Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berikut:</p>
<p class="arab">مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ. رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta kekayaan.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Berdasarkan penjelasan di atas, maka saya mengusulkan agar anda mengusulkan kepada perusahaan anda atau atasan anda agar menghapuskan pemotongan gaji yang selama ini telah berlangsung dengan alasan zakat profesi. Karena bisa saja dari sekian banyak yang dipotong gajinya belum memenuhi kriteria wajib zakat. Karena harta yang berhasil ia kumpulkan/tabungkan belum mencapai nishab. Atau kalaupun telah mencapai nishab mungkin belum berlalu satu tahun/haul, karena telah habis dibelanjakan pada kebutuhan yang halal. Dan kalaupun telah mencapai satu nishab dan telah berlalu satu haul/tahun, maka mungkin kewajiban zakat yang harus ia bayarkan tidak sebesar yang dipotong selama ini. Wallahu ta&#8217;ala a&#8217;alam bis showaab.</p>
<p>Berdasarkan jawaban pertama, maka tidak perlu anda mencari buku-buku atau tulisan-tulisan yang membahasa masalah zakat profesi. Cukuplah anda dan juga umat Islam lainnya mengamalkan zakat-zakat yang telah nyata-nyata disepakati oleh seluruh ulama&#8217; umat islam sepanjang sejarah. Dan itu telah dibahas tuntas oleh para ulama&#8217; kita dalam setiap kitab-kitab fiqih. Wallahu a&#8217;alam bisshawab.</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.</a></strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/zakat-profesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

