tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Zakat

sedekah di hari jumat

Sedekah di Hari Jumat

Tnya tadz. Adakah keutamaan khusus sedekah hari jumat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kami tidak pernah menjumpai dalil khusus yang menganjurkan sedekah di hari jumat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sedekah yang paling utama, dan jawaban beliau dikaitkan dengan sifat dan kondisi orang yang bersedekah.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Rasulullah, sedekah apakah yang paling afdhal?’

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَأْمُلُ الْعَيْشَ وَتَخْشَى الْفَقْرَ

Sedekah yang engkau berikan ketika engkau masih muda, pelit harta, bertumpuk angan-angan untuk hidup mewah, dan takut bangkrut. (HR. Ahmad 7407, Nasai 2554, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Betapa sulitnya orang bersedekah di saat dia sedang mengejar kariernya, harapannya, obsesinya, dan cita-citanya. Mungkin dia butuh perang batin untuk bisa mengeluarkan Rp 20 rb. Karena itulah, nilainya lebih afdhal dari pada yang lainnya.

Hanya saja, ada beberapa keterangan ulama yang menganjurkan sedekah di hari jumat, mengingat keutamaan hari jumat itu.  Mengenai apa saja keutamaan hari jumat, anda bisa pelajari di: Keutamaan Hari Jumat 

Kaidah umum terkait tingkatan keutamaan amal, bahwa amal yang dikerjakan di waktu mulia, memiliki nilai keutamaan yang lebih besar, dibandingkan amal yang dikerjakan di waktu kurang mulia.

Berikut kita akan simak beberapa keterangan ulama tentang keutamaan sedekah hari jumat,

Pertama, keterangan as-Syarbini – ulama Syafiiyah – (w. 977 H)

Dalam kitabnya al-Iqna fi Halli Alfadz Abi Syuja’, beliau menjelaskan tentang hari jumat. Beliau menyatakan tentang sedekah hari jumat,

ويسن كثرة الصدقة وفعل الخير في يومها وليلتها، ويكثر من الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في يومها وليلتها لخبر: إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي

Dianjurkan memperbanyak sedekah dan beramal soleh di hari jumat atau malam jumat. Memperbanyak shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam atau siang hari jumat. Berdasarkan hadis: “Sesungguhnya hari yang paling afdhal adalah hari jumat. Karena itu, perbanyaklah membaca shalawat untukku. Karena shalawat kalian diperlihatan kepadaku.” (al-Iqna’, 1/170)

Kedua, keterangan Ibnul Qoyim – ulama hambali – (w. 751),

Dalam kitabnya Zadul Ma’ad, beliau menyebutkan beberapa keistimewaan hari jumat,

الخامسة والعشرون: أن للصدقة فيه مزية عليها في سائر الأيام، والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع ، كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور. وشاهدت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه، إذا خرج إلى الجمعة يأخذ ما وجد في البيت من خبز أو غيره، فيتصدق به في طريقه سرا، وسمعته يقول: إذا كان الله قد أمرنا بالصدقة بين يدي مناجاة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فالصدقة بين يدي مناجاته تعالى أفضل وأولى بالفضيلة

Keutamaan yang keduapuluh lima,

Bahwa sedekah di hari jumat memiliki keistimewaan khusus dibandingkan hari yang lain. Sedekah di hari jumat, dibandingkan dengan sedekah di hari yang lain, seperti perbandingan antara sedekah di bulan ramadhan dengan sedekah di selain ramadhan. Saya pernah melihat Syaikhul Islam – rahimahullah – apabila beliau berangkat jumatan, beliau membawa apa yang ada di rumah, baik roti atau yang lainnya, dan beliau sedekahkan kepada orang di jalan diam-diam. Saya pernah mendengar beliau mengatakan,

“Apabila Allah memerintahkan kita untk bersedekah sebelum menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bersedekan sebelum menghadap Allah lebih afdhal dan lebih besar keutamaannya.” (Zadul Ma’ad, 1/407).

Karena itu, tradisi di masyarakat kita dengan memberikan infaq setiap jumatan, insyaaAllah termasuk tradisi yang baik. Meskipun kita menganjurkan agar semacam ini tidak dibatasi selama hari jumat saja. Termasuk, tidak membatasi hanya diberikan untuk masjid saja. Banyak masjid di sekitar kita danannya melimpah. Sementara di sebelahnya ada orang muslim soleh yang lebih membutuhkan bantuan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

duit untuk membayar zakat

Hukum Memberikan Zakat ke Paman, Bibi atau Kerabat lainnya?

Tadz, apakah paman boleh menerima zakat dari kita? Trima kasih.

Pak Edi Sleman

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah telah menjelaskan siapa saja yang boleh menerima zakat  di surat at-Taubah: 60,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah: 60)

Dan orang yang telah membayar zakat, tidak boleh sedikitpun mengambil manfaat dari zakat yang dia bayarkan. Karena itulah, zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang wajib dinafkahi oleh Muzakki.

Dinyatakan dalam Fatwa Dar al-Ifta’,

نص الفقهاء على أن المزكي لا يدفع زكاته إلى أصله وإن علا أو إلى فرعه وإن سفل أو إلى زوجته؛ لأن المنافع بينهم متصلة فلا يتحقق التمليك على الكمال

Ulama menegaskan bahwa orang yang zakat tidak boleh menyerahkan zakatnya kepada orang tuanya dan seterusnya ke atas, atau kepada anaknya dan seterusnya ke bawah atau kepada istrinya. Karena pemanfaatan di tengah mereka masih nyambung. Sehingga perpindahan hak milik secara sempurna tidak terwujud.

(Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, no. 6695).

Secara umum, keluarga di sekitar kita, selain ortu, anak, dan istri, bukan orang yang wajib kita nafkahi. Kita bisa sebutkan, seperti saudara, paman, bibi, sepupu, bukanlah daftar orang yang wajib kita nafkahi. Namun terkadang ada diantara mereka yang tinggal bersama kita, ikut kita, sehingga dia menjadi tanggungan kita. Di posisi ini, mereka menjadi orang yang wajib kita nafkahi.

Karena itu, jika keberadaan paman, bibi atau saudara kandung, bukan termasuk orang yang wajib kita tanggung kehidupannya, maka mereka berhak mendapatkan zakat dari kita.

Masih dalam Fatwa Dar al-Ifta’,

ويجوز له أن يدفع زكاته إلى من سوى هؤلاء من القرابة كالإخوة والأخوات والأعمام والعمات والأخوال والخالات الفقراء، بل الدفع إليهم أولى؛ لما فيه من الصلة مع الصدقة

Muzakki boleh menyerahkan zakatnya kepada keluarga selain ortu, anak, dan istri, seperti saudara laki atau perempuan, paman, bibi, yang mereka kurang mampu. Bahkan menyerahkan zakat ke mereka nilainya lebih utama. Karena di sana ada unsur membangun jalinan silaturahmi. (Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, no. 6695).

Diantara dalil bolehnya memberikan zakat kepada kerabat yang tidak wajib kita nafkahi adalah hadis dari Salman bin Amir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَالصَّدَقَةُ عَلَى ذِى الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Zakat kepada orang miskin nilainya zakat biasa. Zakat kepada kerabat, nilainya dua: zakat dan menyambung silaturahmi. (HR. Ahmad 16668, Nasai 2594, Turmudzi 660, dan yang lainnya).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nilai lebih, ketika zakat itu disalurkan kepada kaum muslimin yang masih kerabat, karena ada nilai menyambung silaturahmi. Tentu saja, ini berlaku bagi kerabat yang tidak wajib dinafkahi muzakki.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

fikih zakat

Zakat Orang Non Muslim

Saat ini ada seorang pejabat non muslim yang menyerahkan gajinya sebagai zakat. Kita sendiri tidak tahu apa motifnya. Dugaan masyarakat, besar kemungkinan tdk lepas dr motif politik. Tapi ini berita yg sdg hangat d dunia online. Bagaimana tanggapan ustaz. Trima Kasih

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara syarat wajib zakat adalah status orang yang membayar zakat, harus orang yang beragama islam. Karena itu, zakat orang kafir tidak boleh diambil, dan tidak diterima oleh Allah ta’ala.

Hal ini Allah tegaskan dalam al-Quran,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِالله وَبِرَسُولِهِ

Tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka infaqnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya. (QS. At-Taubah: 54)

Sebanyak apapun harta yang dikeluarkan orang non muslim, tidak akan diterima oleh Allah. Karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa sahabatnya untuk mendakwahkan islam, beliau meminta agar yang pertama kali diajarkan adalah tentang syahadat dan bagaimana mereka masuk islam. Baru selanjutnya, beliau mengajarkan rukun islam lainnya, seperti shalat, zakat dan puasa.

Beliau pernah mengutus Muadz ke Yaman. Kala itu, penduduk Yaman mayoritas beragama nasrani. Beliau berpesan,

إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب: فادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله، وأني رسول الله، فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد في فقرائهم

Kamu akan mendatangi kaum ahli kitab. Karena itu, dakwahi mereka bersyahadat laa illaha illallaah dan bahwa aku utusan Allah. Jika mereka mau mengikuti ajakan itu, ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat 5 kali dalam sehari. Jika meraka mau mengikuti, ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka zakat, diambil dari orang kaya diantara mereka dan diberikan kepada orang miskin di kalangan mereka. (HR. Bukhari 1395 dan Muslim 19).

Kita bisa perhatikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan masuk islam sebagai syarat wajibnya zakat.

Mau berbuat Baik kok Ditolak?

Barangkali ada yang mencoba memberikan pembelaan, ini ada orang mau beramal kok ditolak. Dia berbuat baik, dia memberi zakat, mengapa divonis tidak diterima?

Orang yang memiliki anggapan semacam ini, mungkin membayangkan hidup ini ibarat permainan monopoli. Semua bisa melibatkan diri dalam permainan, begitu selesai bubar tanpa bekas. Tidak ada beban moral sama sekali. Dan sejatinya, ini pola pikir kapitalis.

Setiap agama punya aturan, yang dengan aturan ini manusia tidak bisa sembarangan mempermainkan agama. Nasrani, yahudi, hindu, budha, bahkan aliran kepercayaan, semuanya punya aturan. Mereka mengikat pengikutnya, mendoktrin mereka dengan berbagai aturan itu. Dan karena keberadaan aturan inilah, agama itu dihormati dan dimuliakan oleh masing-masing penganutnya. Dengan adanya aturan yang sakral, orang memiliki beban moral.

Kita kembali kepada kasus zakat.

Adanya syarat ’berstatus muslim’ dalam pembayaran zakat adalah bagian dari aturan dalam islam. Dan syarat ini juga berlaku untuk semua ibadah yang lainnya. Karena islam agama yang mulia, sehingga menghalangi yang bukan umat islam, untuk turut mengikuti kegiatan ibadah dalam islam.

Sebagai ilustrasi,

Ada dua kampus, kampus A dan kampus B.

Kampus memiliki aturan ketat. Mahasiswa yang boleh ikut kegiatan kuliah dan ujian, hanya mereka yang telah resmi lulus ujian seleksi mahasiswa. Dengan aturan ini, tidak sembarang orang boleh masuk dan mengikuti kegiatan kuliah di kampus A.

Berbeda dengan kampus B. Siapapun boleh ikut, sekalipun dia bukan mahasiswa. Bisa anda bayangkan, kira-kira betapa semrawutnya kegiatan yang ada di sana.

Kampus A lebih bonafit, lebih bagus, sehingga dia menetapkan aturan, membatasi orang yang boleh belajar di sana dengan syarat tertentu. Sementara kampus B karena murahan, dia mengizinkan siapapun untuk bergabung, sekalipun tanpa ikatan moral apapun. Orang bisa seenaknya keluar masuk, tanpa beban sama sekali.

Selanjutnya, anda bisa menyimpulkan, mengapa islam tidak menerima zakat mereka?

Karena islam agama mulia yang dilindungi dengan aturan. Sehingga mereka yang tidak memiliki ikatan moral dengan islam, karena masih kafir, tidak diterima amal perbuatannya.

Manusia tidak boleh seenaknya keluar masuk tanpa syarat yang musti dia penuhi.

Anda bisa bandingnya dengan agama yang aturannya dibuat manusia. Dengan mudahnya agamanya dipermainkan orang lain. Dengan mudahnya orang keluar masuk agamanya tanpa beban sama sekali.

Mengapa Mereka Bayar Zakat?

Sebenarnya kasus ini bukan hal yang baru. Kami yakin, anda pernah mendengar orang-orang non muslim, terutama yang beragama nasrani, mereka dengan nyaman melakukan kegiatan shalat berjamaah, ada yang ikut puasa, bahkan ada yang ikut i’tikaf.

Kita tidak tahu pasti, apa motivasi mereka melakukan semacam itu. Padahal jelas-jelas itu amalan dalam islam. Dugaan yang bisa kita berikan,

Pertama, Cinta islam

Bisa jadi mereka tertarik dengan ajaran islam. Lalu mereka ingin merasakan kesejukan dengan ibadah seperti yang dilakukan kaum muslimin. Mereka ingin mencari ketenangan dan kebahagiaan yang semacam ini tidak difasilitasi dalam agama mereka. Ini bisa anda saksikan terjadi pada beberapa orang yang ingin masuk islam.

Kedua, Karena mereka tidak memiliki jati diri

Ini kemungkinan terburuk yang terjadi. Beberapa orang kafir, melakukan kegiatan peribadatan dalam islam, namun sama sekali bukan karena mencintai islam. Mereka lakukan itu, untuk memata-matai orang islam atau karena ingin mencari simpati dari kaum muslimin. Mungkin anda masih ingat nama Snouck Hurgronje. Bertahun-tahun dia pura-pura masuk islam, untuk memata-matai kaum muslimin. Dan semacam ini, tidak lebih sedikit dari pada yang pertama.

Mengingat mayoritas masyarakatnya muslim, kadang ada pejabat kafir malu menampakkan dirinya sebagai non muslim. Di saat yang sama, dia berusaha menutupi identitas agamanya. Mengelabui massa, untuk menarik simpati mereka.

Anda bisa saksikan, betapa mereka adalah manusia yang sama sekali tidak memiliki jati diri dan kebanggaan terhadap agamanya. Namun anehnya, para tokoh agamanya membanggakannya dan justru mendukungnya untuk melakukan hal tersebut. Yang penting, mereka diuntungkan.

Kita bisa bandingkan dengan islam. Ketika ada pejabat muslim yang melakukan kegiatan peribadatan agama lain, apa yang terjadi? Akan ada banyak tokoh agama, lembaga maupun ormas islam ramai-ramai menudingnya. Sekalipun tidka menjatuhkan vonis murtad, setidaknya mereka kompak menyalahkan tindakan pejabat itu. Karena kaum muslimin punya jati diri. Punya kebanggaan dengna agamanya.

Orang kafir bisa saja melakukan kegiatan ibadah kaum muslimin, tanpa beban moral, tanpa ada perasaan bersalah, bahkan merasa bangga, karena dalam agama mereka tidak diajarkan untuk menghormati keyakinannya.

Berbeda dengan islam. Orang islam yang melakukan kegiatan keagamaan orang lain, akan menjadi ancaman tersendiri bagi kehormatannya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

zakat buat bayar hutang

Melunasi Utang Orang Lain dengan Zakat

Tanya:

Assalamu’alaikum. Tanya Pak : Seseorang A mempunyai hutang kepada B. Karena miskin si A tidak mampu membayar hutangnya.Kemudian ada si C yang melunasi hutang si A kepada si B, namun uang si C itu berupa zakat. Jadi Si C langsung membayar zakat kepada si B, dg peruntukan melunasi hutang si A. Bolehkah yang demikian? Ataukah Si C harus memberikan kepada si A terlebih dahulu?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فلا مانع من صرف الزكاة إلى المدين لسداد دينه لأنه من صنف الغارمين المستحقين للزكاة، وأما إعطاء الزكاة إلى الدائن، فإن كان ذلك بإذن المدين (الغارم) فلا إشكال، وإن كان بدون إذنه فمحل خلاف بين الفقهاء، فذهب الحنفية الشافعية إلى أن ذلك لا يجزئ، وذهب الحنابلة إلى إجزائه، قال في الإنصاف: لو وضع المالك إلى الغريم بلا إذن الفقير فالصحيح من المذهب أنه يصح.

Tidak masalah menyerahkan zakat kepada orang yang memiliki utang untuk melunasi utangnya. Karena dia termasuk golongan al-Gharimin (orang yang memiliki beban utang), yang berhak menerima zakat.

Adapun menyerahkan zakat itu langsung kepada orang yang menghutangi (kreditor), maka di sana ada rincian,

  1. Jika pelunasan utang ini atas izin orang yang memiliki utang (debitor), maka tidak ada masalah.
  2. Jika pelunasan ini tanpa izin dari orang yang berhutang, maka ulama berbeda pendapat.

Hanafiyah dan Syafiiyah berpendapat zakatnya tidak sah. sementara ulama hambali berpendapat zakatnya sah.

Dalam kitab al-Inshaf – kitab fiqih hambali – dinyatakan,

لو وضع المالك إلى الغريم بلا إذن الفقير فالصحيح من المذهب أنه يصح

Jika pemilik harta langsung menyerahkan uang ke pemberi utang (kreditor) tanpa izin si fakir (debitor), pendapat yang kuat dalam madzhab, zakatnya sah.

Sementara dalam Fatawa Hindiyah – kitab fikih madzhab hanafi – dinyatakan,

ولو قضى دين الفقير بزكاة ماله: إن كان بأمره يجوز، وإن كان بغير أمره لا يجوز، وسقط الدين

Untuk kasus orang melunasi utang orang fakir dengan zakat hartanya, jika dengan izin si fakir, hukumnya boleh. Jika tanpa izin dari si fakir, hukumnya tidak boleh, meskipun utang tetap lunas.

An-Nawawi dalam al-Majmu’ mengatakan,

ولا يجوز صرفه إلى صاحب الدين إلا بإذن من عليه الدين، فلو صرف بغير إذنه لم يجزئ الدافع عن زكاته، ولكن يسقط من الدين بقدر المصروف

Tidak boleh memberikan zakat kepada pemilik utang (kreditor) kecuali dengan izin orang yang berutang. Jika dia menyerahkannya tanpa izin orang yang berutang, zakatnya tidak sah, meskipun utangnya lunas sebesar yang telah dibayarkan.

Komentar Lembaga Fatawa Syabakah Islamiyah, setelah membawakan perbedaan pendapat para ulama di atas,

فالأحوط هو إخبار المدين واستئذانه في قضاء الدين عنه، أ وتسليمه المال ليسدد دينه بنفسه

Yang lebih hati-hati, memberi tahu pihak yang berutang (debitor) dan meminta izin kepadanya untuk melunasi utangnya. Atau kita serahkan zakat itu kepadanya, agar dia melunasi utangnya sendiri.

Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 43511.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

bayar fidyah

Kapan Waktu Pembayaran Fidyah

Assallamualikum ustad.. Saya mau tny istri saya saat bln ramadhan ini sdg mnyusui anak pertama saya.. Rncana saya mau memberikan anak ASI eksklusif sampai usia anak 2thn.. Yg mau saya tnykan..

1. Kapan waktu membayar fidyah? Sehabis ramadhan / setiap hari?

2. Apabila sudah membayar fidyah prlu n wajib kah mngganti puasa ramadhan ny di bulan lainny?

Makasi ustad..

Dari Surya Darma Nurdin

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Orang yang tidak mampu puasa dan tidak memungkinkan untuk qadha, maka dia wajib membayar fidyah. Allah berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Untuk waktu pembayaran fidyah, ada kelonggaran. Dia boleh membayarkan fidyahnya setiap hari satu-satu (dibayarkan di waktu maghrib di hari puasa yang ditinggalkan). Dia juga dibolehkan mengakhirkan pembayaran setelah selesai ramadhan, sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radliallahu ‘anhu. (As-Syarhul Mumthi’, 6:207)

Dalilnya:

Pertama, riwayat dari Nafi’ – murid Ibnu Umar –,

أن ابن عمر سئل عن المرءة الحامل إذا خافت على ولدها، فقال: تفطر و تطعم مكان كل يوم مسكينا مدا من حنطة

bahwa Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya (jika puasa). Beliau menjawab, “Dia boleh berbuka dan memberi makan orang miskin dengan satu mud gandum halus sebanyak hari yang dia tinggalkan.”(HR. Al-Baihaqi dari jalur Imam Syafi’i dan sanadnya sahih)

kedua, riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّه ضَعُف عَن الصَّومِ عَامًا فَصَنَع جفنَةَ ثَريدٍ ودَعَا ثَلاثِين مِسكِينًا فَأشبَعَهُم

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa ketika dirinya sudah tidak mampu puasa setahun, beliau membuat adonan tepung dan mengundang 30 orang miskin, kemudian beliau kenyangkan mereka semua. (HR. ad-Daruquthni dan dishahihkan al-Albani)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sedekah untuk palestina

Zakat untuk Donasi Palestina

Bolehkah membayar zakat untuk rakyat Palestina?. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala telah menjelaskan semua golongan yang berhak mendapatkan zakat,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60)

Dan semua golongan di atas, harus orang yang beragama islam. Berdasarkan hadis dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beliau ke Yaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan agar Muadz mengajarkan tauhid dan syahadat. Setelah mereka masuk islam, beliau minta Muadz mengajarkan shalat. Selanjutnya mengajarkan zakat. Beliau bersabda,

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Kemudian ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat harta mereka yang diambil dari orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang miskin di antara mereka. (HR. Bukhari 1395 dan Muslim 19).

Hadis di atas menunjukkan bahwa syariat zakat dan serah terima harta zakat, diberlakukan setelah masyarakat masuk islam. Dalam Fatwa Lajnah dinyatakan

وكلما كان المُعطى من الفقراء والمساكين أتقى وأكثر طاعة فهو أولى من غيره

Semakin soleh dan semakin bertaqwa orang miskin yang mendapatkan zakat, dia semakin berhak mendapatkan zakat dari pada lainnya.

Kemudian, Lajnah juga menegaskan,

والأصل في الزكاة أن تصرف في فقراء البلد التي بها المال للحديث المذكور ، وإن دعت حاجة إلى نقلها ، كأن يكون فقراء البلد التي ينقلها إليه أشد حاجة ، أو أقرباء للمزكي بجانب أنهم فقراء ، أو نحو ذلك : جاز النقل

Pada prinsipnya, zakat diserahkan kepada orang fakir miskin di daerah di mana harta yang dizakati berada, berdasarkan hadis di atas. Namun jika ada kebutuhan untuk dipindahkan ke negeri lain, misalnya orang miskin di negeri lain lebih membutuhkan, atau ada keluarga muzakki yang membutuhkan di daerah lain, atau sebab lainnya, maka boleh memindahkan harta zakat. (Fatawa Lajnah Daimah, 9/10).

Kemudian, lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah menegaskan, boleh menyerahkan zakat ke Palestina,

ومما لا شك فيه أن إخواننا في فلسطين في أرض الرباط مجاهدون داخلون تحت مصرف من مصارف الزكاة، ومنهم الفقراء والمساكين الذين لا يجدون مأوى ولا طعاماً ولا علاجاً.

Tidak diragukan bahwa saudara kita di Palestina, yang berjuang di daerah perbatasan, termasuk salah satu yang berhak menerima zakat. Di antara penduduknya juga ada orang-orang fakir miskin yang mereka tidak memiliki tempat tinggal, makanan, maupun obat-obatan. (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 16143)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

KonsultasiSyariah menggalang donasi peduli Palestina. KLIK DONASI PEDULI PALESTINA

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

pergi haji dulu

Membayar Zakat Setelah Haji

Assalamu’alaikum Ustad…dalam dunia ke hidupan masarakat kita sekarang,kok banyak yg lebih mengutamakan pergi haji dulu baru berzakat…sedangkan dalam hukum islam pergi haji….jikalau mampu, jadi yg mana lebih afdhol? HARAP MAKLUM.

Dari: Sahar

Jawaban

Waalaikum salam warohmatulloh…

Yang pertama harus dikerjakan adalah zakat, sebagaimana diterangkan dalam sabda Nabi kepada Sahabat Mu’adz ketika diutus ke Negeri Yaman:

إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Sungguh engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, jika kamu mendatangi mereka, maka:

  1. Ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Alloh, dan Muhammada adalah utusan Alloh.
  2. Jika mereka mau dengan ajakanmu itu, maka beritahulah mereka, bahwa Alloh mewajibkan mereka sholat lima waktu setiap harinya.
  3. Jika mereka mau dengan ajakanmu itu, maka beritahulah mereka, bahwa Alloh mewajibkan mereka Zakat, yang diambil dari mereka yang kaya, untuk diberikan kepada mereka yang miskin. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dijawab oleh Ustadz Abu Abdillah Addariny, MA

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hadiah untuk orang kafir

Bersedekah kepada Non-Muslim

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokaatuh.buku fikih halal haram dalam islam
Ustad,, ana mau tanya….minta tlg dijelaskan tentang memberi shodaqoh kpda keluarga yg berbeda agama ustad… mohon  bimbingannya,

Dari: Sdr. Setiyono

Jawaban:

Wa alaikumus salam warohmatullahi wabarokaatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kata sedekah dalam bahasa syariat mencakup sedekah wajib dan sedekah sunah.

Sedekah wajib istilah lainnya adalah zakat. Sedangkan sedekah sunah, itulah yang kita kenal dengan kata ’sedekah’.

Ketika Allah ta’ala menjelaskan golongan yang berhak menerima zakat dalam al-Quran, Allah menyebut zakat dengan kata ’sedekah’.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا… الأية

Sedekah hanya diberikan untuk orang fakir, muskin, amil….. ” (QS. At-Taubah: 60)

Kedua, ulama berbeda pendapat mengenai hukum memberikan zakat mal kepada orang kafir. Mayoritas ulama melarang hal itu, bahkan Ibnul Mundzir mencatat bahwa para ulama sepakat zakat mal tidak boleh diberikan kepada orang kafir. Beliau mengatakan,

وأجمعوا على أنه لا يجزئ أن يعطى من زكاة المال أحد من أهل الذمة .وأجمعوا على أن الذمي لا يعطى من زكاة الأموال شيئاً

Mereka sepakat bahwa tidak sah memberikan zakat mal kepada orang kafir dzimmi. Mereka juga sepakat bahwa kafir dzimmi tidak mendapatkan zakat mal sedikitpun. (al-Ijma’ hlm. 47).

Ketiga, secara umum, sedekah yang kita keluarkan, sangat dianjurkan agar diberikan kepada muslim yang baik dan kurang mampu. Sehingga harta yang kita berikan kepadanya, akan membantunya untuk melakukan kebaikan dan ketaatan.

Hanya saja, mayoritas ulama – dan ini pendapat yang kuat – berpendapat, sedekah sunah boleh diberikan kepada orang kafir.

An-Nawawi mengatakan,

يستحب أن يخص بصدقته الصلحاء وأهل الخير وأهل المروءات والحاجات فلو تصدق على فاسق أو على كافر من يهودي أو نصراني أو مجوسي جاز

Dianjurkan agar sedekah itu diberikan kepada orang sholeh, orang yang rajin melakukan kebaikan, menjaga kehormatan dan dia membutuhkan. Namun jika ada orang yang bersedekah kepada orang fasik, atau orang kafir, di kalangan yahudi, nasrani, atau majusi, hukumnya boleh. (al-Majmu’, 6/240).

Imam Ibnu Utsaimin pernah mendapat pertanyaan,

”Bolehkah memberikan sedekah kepada orang kafir?”

Jawaban beliau,

اقرأ قول الله تعالى في سورة الممتحنة: { لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ } وهذا إحسان { وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ } [الممتحنة:8] وهذا عدل.
فتجوز الصدقة على الكافر بشرط: ألا يكون ممن يقاتلوننا في ديننا، ولم يخرجونا من ديارنا، لكن إذا كان قومه يقاتلوننا في الدين أو يخرجوننا من ديارنا فلا نتصدق عليه

Coba baca firman Allah di surat al-Mumtahanah,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu..”

Karena itu, boleh membayar sedekah kepada orang kafir, dengan syarat, bukan termasuk orang kafir yang memerangi agama kita, atau menjajah dan mengusir kita dari negeri kita. Namun jika mereka memerangi kita karena agama, atau mengusir kita dari negeri muslim, kita tidak boleh bersedekah kepadanya.

(Liqa’at Bab Maftuh, volume 100, no. 21)

Lebih dari itu, jika sedekah yang kita berikan kepada saudara non muslim ini akan menjadi sebab dia masuk islam, insyaaAllah akan menghasilkan pahala yang besar.

Catatan:

Kita boleh memberikan sedekah secara umum kepada orang kafir yang membutuhkan, terutama yang masih kerabat. Namun seorang muslim tidak boleh memberikan hadiah dalam bentuk apapun dalam rangka memeriahkan hari raya atau ritual apapun yang mereka lakukan. Karena semacam ini termasuk ikut bergembira menyambut hari raya mereka. Anda bisa pelajari selengkapnya di: Menjual Kartu Natal

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

zakat orang miskin

Orang Miskin Wajib Bayar Zakat Fitrah

Tanya:

Suami saya pengangguran, tp saya punya tabungan 500 rb. Apa saya wajib zakat?

Matur nuwun..

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, aturan zakat fitrah berbeda dengan aturan zakat mal. Sebagaimana aturan zakat mal juga berbeda dengan aturan zakat pertanian atau zakat hewan ternak.

Karena itu, kita tidak mengqiyaskan aturan zakat fitrah dengan aturan yang berlaku pada zakat mal atau zakat pertanian.

Kedua, Pada aturan zakat mal, orang yang wajib menunaikan zakat adalah mereka yang memiliki harta satu nishab, tabungan senilai 85 gr emas (sekitar Rp 50 juta) dan telah tersimpan selama setahun. Dengan kata lain, orang yang berkewajiban menunaikan mal hanya orang yang kaya.

Batasan Orang yang Wajib Menunaikan Zakat Fitrah

Ulama berbeda pendapat tentang batasan orang yang wajib menunaikan zakat fitrah.

1. Orang yang berkewajiban membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki harta satu nishab, sebagaimana zakat mal. Ini adalah pendapat ulama Kufah.

2. Orang yang wajib membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki kelebihan makanan di luar kebutuhannya ketika hari raya, sekalipun dia tidak memiliki kelebihan harta lainnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya Az-Zuhri, As-Sya’bi, Ibnu Sirrin, Ibnul Mubarok, Imam As-Syafii, Imam Ahmad dan yang lainnya. (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Selanjutnya Al-Khithabi mengutip keterangan Imam As-Syafii, yang menjelaskan,

إذا فضل عن قوت المرء وقوت أهله مقدار ما يؤدي عن زكاة الفطر وجبت عليه

“Apabila makanan seseorang melebihi kebutuhan dirinya dan keluarganya, seukuran untuk membayar zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakatnya.” (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Diantara dalil yang menguatkan pendapat mayoritas ualam adalah hadis dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah kepada seluruh kaum muslimin, tanpa pandang status. Baik kaya maupun miskin, lelaki maupun wanita. dan mereka yang sama sekali tidak memiliki harta, zakat fitrahnya ditanggung oleh orang yang menanggung nafkahnya.

Sebagai contoh untuk memperjelas keterangan di atas, misalnya si A memiliki 1 istri dan 5 anak. Malam hari raya, si A hanya memiliki beras ‘raskin’ 10 kg dan uang Rp 20 ribu. Apakah si A wajib membayar zakat fitrah?

Analisis:

Berdasarkan data sebelumnya, kebutuhan si A dan keluarga dalam sehari menghabiskan 3 Kg beras + lauk pauk senilai 15 ribu. Itu artinya, si A pada saat hari raya memiliki sisa beras 7 kg, dan uang Rp. 5 ribu.

Berdasarkan pendapat mayoritas ulama dan keterangan As-Syafii, si A tetap wajib zakat. Karena si A memiliki sisa makanan yang cukup untuk dirinya dan keluarganya pada saat hari raya.

Beras 7 kg sisa di tangan si A, harus dibayarkan untuk zakat fitrah untuk dirinya dan keluarganya.

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

rumah zakat fitrah

7 Orang Yang tidak Boleh menerima Zakat (Bagian 02)

Pada kesempatan sebelumnya kita telah membahas 4 golongan yang tidak berhak menerima zakat. Berikut 3 golongan lain yang tidak berhak menerima zakat,

Kelima, orang fasik atau ahli bid’ah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kasus zakat yang pernah dialami orang muzakki yang soleh,

قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ، قَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ، قَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى غَنِيٍّ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ، فَقَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، وَعَلَى غَنِيٍّ، وَعَلَى سَارِقٍ، ….

Ada seseorang mengatakan, ‘Malam ini aku akan membayar zakat.’ Dia keluar rumah dengan membawa harta zakatnya. Kemudian dia berikan kepada wanita pelacur (karena tidak tahu). Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan wanita pelacur. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan pelacur.’

‘Saya akan bayar zakat lagi.’ Ternyata malam itu dia memberikan zakatnya kepada orang kaya. Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan kepada orang kaya. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan orang kaya.’

‘Saya akan zakat lagi.’ Malam itu, dia serahkan zakatnya kepada pencuri. Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan kepada pencuri. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan pelacur, orang kaya, dan pencuri…” (HR. Bukhari 1421 dan Muslim 1022).

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan,

قوله اللهم لك الحمد أي لا لي لأن صدقتي وقعت بيد من لا يستحقها فلك الحمد حيث كان ذلك بإرادتك أي لا بإرادتي فإن إرادة الله كلها جميلة

Ucapan muzakki: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu’ maksud orang ini, aku salah sasaran, karena zakatku jatuh ke tangan orang yang tidak berhak. Maka segala puji bagi-Mu, dimana kejadian itu semata karena kehendak-Mu, artinya bukan kehendakku. Dan semua kehendak Allah itu baik. (Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari, 3/290).

Hadis ini menunjukkan bahwa orang fasik, seperti pencuri atau pelacur.

Dalam Mausu’ah dinyatakan,

وقد صرح المالكية بأن الزكاة لا تعطى لأهل المعاصي إن غلب على ظن المعطي أنهم يصرفونها في المعصية، فإن أعطاهم على ذلك لم تجزئه عن الزكاة، وفي غير تلك الحال تجوز، وتجزئ

Malikiyah menegaskan, zakat tidak boleh diberikan kepada ahli maksiat, jika muzakki memiliki dugaan kuat, zakat itu akan mereka gunakan untuk melakukan maksiat. Jika dia berikan kepada ahli maksiat untuk mendukung kemaksiatannya, zakatnya tidak sah. Namun jika diberikan untuk selain tujuan itu, boleh dan sah. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 23/328).

Syaikhul Islam menjelaskan,

فينبغي للإنسان أن يتحرى بها المستحقين من الفقراء. والمساكين والغارمين وغيرهم من أهل الدين المتبعين للشريعة فمن أظهر بدعة أو فجورا فإنه يستحق العقوبة بالهجر وغيره. والاستتابة فكيف يعان على ذلك

Selayaknya bagi seseorang untuk menempatkan zakatnya pada orang yang berhak menerima zakat, baik orang fakir, miskin, orang yang kelilit utang, atau lainnya, yang agamanya baik, mengikuti syariah. Karena orang yang terang-terangan melakukan bid’ah atau perbuatan maksiat, dia berhak mendapatkan hukuman dengan diboikot atau hukuman lainnya. Sehingga, bagaimana mungkin dia dibantu (dengan zakat). (Majmu’ Fatawa, 25/87).

Sementara sebagian Hanafiyah membolehkan memberi zakat kepada ahli bid’ah, selama dia termasuk 8 golongan yang berhak menerima zakat. Dengan syarat, bid’ahnya tidak sampai menyebabkan dia keluar dari islam. (Hasyiyah Ibn Abidin, 2/388).

Namun yang selayaknya kita dahulukan adalah penerima zakat yang baik, yang menjaga agamanya, bukan ahli bid’ah atau maksiat. Sehingga harta yang kita berikan, akan membantunya untuk melakukan ketaatan. Sebagaimana yang disarankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

“Jangan miliki teman dekat, kecuali seorang mukmin, dan jangan sampai makan makananmu, kecuali orang yang bertaqwa.” (HR. Ahmad 11337, Abu Daud 4832, Turmudzi 2395, dan sanadnya dinilai Hasan oleh Syuaib Al-Arnauth).

Keenam, Budak

Dalam hukum fikih, budah seutuhnya milik tuannya. Sehingga yang dilakukan budak, harus atas izin tuannya. Termasuk harta yang dimiliki budak, harta ini menjadi milik tuannya. Misal, seorang budak diberi suatu benda oleh orang lain, benda ini menjadi milik tuannya. Sehingga, ketika dia mendapat zakat, sejatinya zakat ini diberikan kepada tuannya. Sementara zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang mampu.

Yang dikecualikan dalam hal ini adalah budak mukatab. Budak mukatab adalah budak yang melakukan perjanjian dengan tuannya untuk menebus dirinya jika dia sanggup membayar sejumlah uang. Misal, budak A dijanjikan tuannya, jika sanggup membayar 5 juta, dia bebas. Budak semacam ini berhak mendapatkan zakat.

Ketujuh, anak yatim kaya

Di surat At-Taubah ayat 60, Allah telah menyebutkan 8 golongan yang berhak menerima zakat. Dari delapan orang itu, tidak disebutkan anak yatim. Artinya, yatim bukan kriteria orang yang berhak menerima zakat. Kecuali jika yatim ini adalah orang miskin, karena tidak memiliki warisan. Keterangan lebih rinci bisa anda simak di: Anak Yatim Tidak Berhak Menerima Zakat

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

7,646FansLike
3,304FollowersFollow
28,742FollowersFollow
57,815SubscribersSubscribe