tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Sholat

sunnah jumat

Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Jumat (Sunah Yang Ditinggalkan)

Dari Muthi’ bin Hakam radhiallahu’anhu ia menuturkan, “Apabila Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, kami menghadapkan wajah-wajah kami kepadanya.” (Silssilah Ahadits Shahihah, no. 2080).

Imam Bukhari meriwayatkan hadis di atas pada Bab Imam Menghadapkan Wajah ke Arah Jamaah, Jamaah Menghadapkan Wajah ke Arah Imam Pada Sat Ia Berkhutbah, Ibnu Umar dan Anas Menghadapkan Wajah ke Arah Imam. Kemudian Imam Bukhari memuat hadis Abu Sa’id di bawahnya.

Ibnu Hajar mengatakan, “Imam Bukhari mengambil hukum dari hadis tersebut berupa judul bab di atas. Beliau berargumentasi dengan duduknya para sahabat mengitari rasulullah untuk mendengarkan sabdanya umumnya disertai dengan menghadapkan wajah-wajah mereka. Keadaan para sahabat pada saat duduk di majelis-majelis nabi (di luar khutbah Jumat) tidak bertentangan dengan kondisi khutbah Jumat dimana rasulullah berdiri di atas mimbar. Karena kondisi khutbah Jumat sama seperti majelis lainnya, yaitu rasulullah berbicara pada tempat yang lebih tinggi dan para sahabat duduk di tempat yang lebih rendah. Apabila kondisi demikian terjadi di luar khutbah Jumat, tentunya pada saat khutbah Jumat lebih ditekankan lagi karena ada keharusan untuk mendengar dan diam pada saat khutbah berlangsung.

Imam Bukhari melanjutkan, di antara hikmah menghadapkan wajah tersebut adalah sebagai ekspresi kesiapan mendengarkan khutbah dan wujud etika terhadap imam. Jika seseorang menghadapkan wajahnya disertai menghadirkan hati dan pikirannya maka ia akan mudah memahami dan memetik nasihat imam dan mengamalkan apa yang dinasihatkan tersebut.

Syaikh Muhammd Nashirudin Al-Albani

Diterjemahkan oleh tim yufid dari http://www.sahab.net/home/?p=43

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

ereksi ketika sholat

Hukum Ereksi ketika Shalat

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Pak Ustadz, apakah seseorang yang telah berwudhu atau ketika sedang sholat tiba-tiba timbul syahwat /ereksi akan membatalkan wudhumaupun shalat nya?

شكرا ..والسلام  عليكم ورحمة الله وبركاته

Via Tanya Ustadz for Android

Dari Pak Aris

Jawaban:

Wa alaikumus salam Wa rahmatullah wa barakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan pada lembaga fatwa Syabakah Islamiyah,

Pertanyaan,

إذا استقام القضيب أثناء الصلاة أو تحركت الشهوة، فهل ذلك يبطل الصلاة، وماذا علي أن أفعل؟

Jika penis ereksi ketika shalat atau muncul luapan syahwat, apakah bisa membatalakan shalat? Apa yang harus saya lakukan?

Jawab:

فلا تبطل الصلاة لمجرد انتصاب الذكر أو تحرك الشهوة أثناء الصلاة، لأنه ليس من مبطلاتها، .. هذا ما لم يخرج مذي، فإن خرج انتقض الوضوء ووجب الخروج من الصلاة، وغسل الذكر وما أصابه المذي من الثوب أو البدن وإعادة الصلاة.

Tidak membatalkan shalat hanya karena kemaluan mengalami ereksi atau karena muncul syahwat ketika shalat. Karena munculnya syahwat dan ereksi bukan pembatal shalat. Ini jika tidak sampai keluar madzi. Jika keluar madzi maka wudhunya batal, dan wajib membatalkan shalat. Kemudian mencuci kemaluan dan bagian pakaian atau badan yang terkena madzi, lalu mengulangi shalat.

وعليك صرف الوساوس والأفكار التي تسبب لك هذا، والإقبال على صلاتك بخشوع وتدبر لمعانيها، فإن وجدت شيئاً من ذلك فتعوذ من الشيطان، واتفل عن يسارك ثلاثاً، كما جاء في حديث عثمان بن أبي العاص قال: يا رسول الله، إن الشيطان قد حال بيني وبين صلاتي وقراءتي يلبسها علي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ذاك شيطان يقال له خنزب، فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه، واتفل عن يسارك ثلاثاً، قال: ففعلت ذلك فأذهبه الله عني. رواه مسلم.

Yang harus anda lakukan adalah membuang was-was dan pikiran jorok yang menjadi pemicu hal itu, dan konsentrasi terhadap shalat yang dikerjakan dengan khusyu serta merenungi makna bacaannya. Jika muncul syahwat, segera memohon perlindungan dari setan dan meludah ke kiri tiga kali. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Utsman bin Abil Ash Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Ya Rasulullah, setan telah mengganggu konsentrasiku ketika shalat, serta merusak bacaanku.’

Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Itu setan, namanya khinzib. Jika kamu merasa terganggu mintalah perlindungan kepada Allah darinya. dan meludahlah 3 kali ke kiri.”

Kata Utsman, ‘Akupun melakukan hal itu, dan Allah menghilangkan gangguan itu dariku.’ (HR. Muslim)

Sumber: Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 50096

Yang dimaksud ‘meludah ke kiri’ adalah meludah ringan, angin campur sedikit air ludah.

Kemudian, dalam fatwanya yang lain, juga ditegaskan,

فلا ينتقض الوضوء بمجرد تحرك الشهوة. وكذلك لا تفسد الصلاة إلا إن خرج شيء كمذي أو نحوه فينتقض الوضوء وتبطل الصلاة. وإلى هذا ذهب عامة أهل العلم

Semata muncul syahwat, tidak membatalkan wudhu, dan tidak membatalkan shalat. Kecuali jika keluar sesuatu, seperti madzi atau semacamnya, maka wudhunya batal da shalatnya juga batal. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Sumber: Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 3493

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

bahasa arab

Khutbah Jumat Berbahasa Arab

Assalamu’alaikum ustadz

Saya kebetulan baru pindah tugas ke daerah lain. Saat saya melaksanakan sholat jum’at di dekat kantor baru saya, saya agak terkejut saat khotbah jum’at dilakukan dengan bahasa arab. Awalnya saya berfikir mungkin orang di sana mengerti apa isi khotbah dan sayalah yang bodoh karena tidak faham bahasa arab. Namun saat saya tanya salah satu orang asli di tempat saya sholat jum’at ternyata sebagian besar jamaah sholat jum’at juga tidak memahami isi khotbah tersebut. Dan ternyata tidak hanya khotbah jum’at saja yang menggunakan bahasa arab, ternyata khotbah sholat ied juga menggunakan bahasa arab

Yang ingin saya tanyakan yaitu:
1. Apakah khotbah jum’at menggunakan bahasa arab yang sebagian tidak dipahami jamaah diperbolehkan?
2. Apakah saya harus sholat jum’at di tempat lain, atau boleh sholat jum’at di masjid tersebut? karena ternyata masjid di sekitar tempat tinggal dan kantor saya menggunakan bahasa arab untuk khotbah jum’at, dan masjid yang menggunakan bahasa yang saya pahami letaknya agak jauh?

Terima kasih sebelumnya atas jawabannya

Wassalamu’alaikum

Dari Septia Kurniawan

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat apakah khutbah jumat harus berbahasa arab. Ada 3 pendapat dalam masalah ini (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 19/180),

Pertama, khutbah disyaratkan harus berbahasa arab, meskipun pendengar tidak memahami bahasa arab. Ini meruapakan pendapat Malikiyah (al-Fawakih ad-Dawani, 1/306) dan pendapat sebagian ulama Hambali (Kasyaf al-Qana’, 2/34).

Kedua, disyaratkan menggunakan bahasa arab bagi yang mampu, kecuali jika semua jamaah tidak memahami bahasa arab, maka khatib menggunakan bahasa mereka. Ini merupakan pendapat yang masyhur di kalangan syafiiyah (al-Majmu’, 4/522) dan pendapat sebagian hambali.

Ketiga, dianjurkan menggunakan bahasa arab dan bukan syarat. Khatib boleh menggunakan bahasa selain arab. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah (Rad al-Mukhtar, 1/543) dan sebagian Syafiiyah.

Pendapat yang ketiga inilah yang lebih kuat, dan yang dipilih para ulama kontemporer. Diantara alasannya,

  1. Tidak ada dalil tegas yang mewajibkan khutbah harus berbahasa arab.
  2. Tujuan inti khutbah adalah memberikan nasehat dan ceramah kepada masyarakat. dan itu tidak mungkin bisa disampaikan kepada mereka kecuali dengan bahasa yang dipahami jamaah.
  3. Sejalan dengan prinsip syariah, bahwa Allah mengutus para nabi-Nya dengan bahasa kaumnya. Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

Tidaklah Kami mengutus seorang Rasul-pun, kecuali dengan bahasa kaumnya. Agar rasul itu menjelaskan (kebenaran) kepada mereka. (QS. Ibrahim: 4)

Kesimpulan menarik dari as-Syaukani,

ثم اعلم أن الخطبة المشروعة هي ما كان يعتاده صلى الله تعالى عليه وآله وسلم من ترغيب الناس وترهيبهم فهذا في الحقيقة روح الخطبة الذي لأجله شرعت, وأما اشتراط الحمد لله أو الصلاة على رسول الله أو قراءة شيء من القرآن فجميعه خارج عن معظم المقصود من شرعية الخطبة

Ketahuilah bahwa khutbah yang disyariatkan adalah kkhutbah yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu memotivasi masyarakat dan memberi peringatan bagi mereka. Pada hakekatnya, bagian ini adalah inti khutbah, yang karenanya, disyariatkan adanya khutbah jumat. Sementara persyaratan memuji Allah, shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau membaca beberapa ayat al-Quran, semua ini bukan tujuan utama disyariatkannya khutbah.

Kemudian beliau menegaskan,

ولا يشك منصف أن معظم المقصود هو الوعظ دون ما يقع قبله من الحمد والصلاة عليه صلى الله تعالى عليه وآله وسلم, وقد كان عرف العرب المستمر أن أحدهم إذا أراد أن يقوم مقاما ويقول مقالا شرع بالثناء على الله وعلى رسوله وما أحسن هذا وأولاه, ولكن ليس هو المقصود بل المقصود ما بعده

Orang cerdas tidak akan ragu bahwa tujuan utama dalam khutbah nasehat (bagi jamaah), bukan pujian atau shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, kebiasaan masyarakat arab turun-temurun, ketika mereka hendak menyampaikan ceramahnya, mereka mulai dengan memuji Allah dan shaawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini kebiasaan yang sangat bagus dan mulia. Namun, ini bukan tujuan utama khutbah. Yang menjadi inti khutbah adalah nasehat setelahnya. (ar-Raudhah an-Nadiyah, 1/137)

Al-Majma’ al-Fiqhi di bawah Rabithah Alam Islami juga menguatkan pendapat yang menyatakan, bahasa arab bukan syarat khutbah jumat. Dalam sebuah keputusannya dinyatakan,

الرأي الأعدل هو أن اللغة العربية في أداء خطبة الجمعة والعيدين في غير البلاد الناطقة بها ليست شرطاً لصحتها ، ولكن الأحسن أداء مقدمات الخطبة وما تضمنته من آيات قرآنية باللغة العربية ، لتعويد غير العرب على سماع العربية والقرآن ، مما يسهل تعلمها ، وقراءة القرآن باللغة التي نزل بها ، ثم يتابع الخطيب ما يعظهم به بلغتهم التي يفهمونها

Pendapat paling kuat, bahwa bahasa arab untuk bahasa pengantar khutbah jumat atau khutbah id, di selain negeri yang tidak berbahasa arab, bukanlah bagian dari syarat sah khutbah. Hanya saja yang terbaik, menyampaikan mukaddimah khutbah dan ayat al-Quran yang dibaca, menggunakan bahasa arab. Untuk membiasakan orang non arab agar medengarkan bahasa arab dan al-Quran. Yang ini memudahkan mereka belajar bahasa arab, serta membaca al-Quran dengan bahasa asli dia diturunkan. Selanjutnya khatib bisa menyampaikan nasehat dengan bahasa mereka, yang bisa mereka pahami.

(Keputusan al-Majma’ al-Fiqhi, volume 5, keputusan ke-5, hlm. 99)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sujud yang membatalkan sholat

Sujud yang Batal

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan,

أُمِرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءٍ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada 7 anggota badan. (HR. Bukhari 809, Muslim 1123, dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, juga dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi –dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau–, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki…” (HR. Bukhari 779 & Muslim 1126).

Berdasarkan hadis, tujuh anggota sujud dapat kita rinci:

  1. Dahi dan mencakup hidung.
  2. Dua telapak tangan.
  3. Dua lutut.
  4. Dua ujung-ujung kaki.

Praktek beliau ketika sujud, hidung dipastikan menempel di lantai. Sahabat Abu Humaid Radhiyallahu ‘anhu menceritakan cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ سَجَدَ فَأَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai… (HR. Abu Daud 734 dan dishahihkan al-Albani)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan agar dahi dan hidung benar-benar menempel di lantai. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً لَا يُصِيبُ الْأَنْفُ مِنْهَا مَا يُصِيبُ الْجَبِينَ

“Allah tidak menerima shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.”  (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 2710, Abdurrazaq dalam Mushannaf 2898, ad-Daruquthni dalam Sunannya 1335 dan dishahihkan Al-Albani).

Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya wajib. Dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad & Ibnu Habib (ulama Malikiyah). (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/208).

Bagaimana Jika Ada salah Satu Anggota Sujud tidak Menyentuh Lantai?

Praktek semacam ini sangat sering kita jumpai di masjid. Yang sering menjadi korban adalah kaki. Bagian kaki tidak menempel tanah. Terutama ketika sujud kedua. Sehingga orang ini tidak sujud dengan bertumpu pada 7 anggota sujud.

Sebagian ulama menilai, sujud semacam ini batal, sehingga shalatnya tidak sah.

An-Nawawi mengatakan,

وأما اليدان والركبتان والقدمان فهل يجب السجود عليهما فيه قولان للشافعي رحمه الله تعالى أحدهما لا يجب لكن يستحب استحبابا متأكدا والثاني يجب وهو الأصح وهو الذي رجحه الشافعي رحمه الله تعالى فلو أخل بعضو منها لم تصح صلاته

Untuk anggota sujud dua tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki, apakah wajib sujud dengan menempelkan kedua anggota badan yang berpasangan itu? Ada dua pendapat Imam ‘alaihis salam-Syafii. Pendapat pertama, tidak wajib. Namun sunah muakkad (yang ditekankan). Pendapat kedua, hukumya wajib. Dan ini pendapat yang benar, dan yang dinilai kuat oleh as-Syafi’i Rahimahullah. Karena itu, jika ada salah satu anggota sujud yang tidak ditempelkan, shalatnya tidak sah. (al-Majmu’, 4/208).

Keterangan yang sama juga disampaikan Dr. Sholeh al-Fauzan. Dalam salah satu fatwanya, beliau mengatakan,

من سجد ولم يسجد على بعض الأعضاء فهذا فيه تفصيل، فإن كان عدم سجوده على بعض الأعضاء لعذر منعه من ذلك كأن كان لا يستطيع السجود عليه فهذا لا حرج عليه، يسجد على بقية الأعضاء، أما العضو الذي لا يستطيع السجود عليه فإنه معذور فيه، وأما إذا كان لم يسجد على بعض الأعضاء لغير عذر شرعي فإن صلاته لا تصح، لأنه نقص ركناً من أركانها وهو السجود على سبعة أعضاء.

Orang yang sujud, namun salah satu anggota sujudnya tidak menempel tanah, maka di sana ada rincian,

  1. Jika dia tidak menempelkan sebagian anggota sujud karena udzur yang menghalanginya untuk melakukan hal itu, seperti orang yang tidak bisa sujud dengan meletakkan salah satu anggota sujudnya, maka tidak ada masalah baginya untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada anggota sujud yang bisa dia letakkan di tanah. Sementara anggota sujud yang tidak mampu dia letakkan, menjadi udzur baginya.
  2. Namun jika dia tidak meletakkan sebagian anggota sujud tanpa ada udzur yang diizinkan syariat, maka shalatnya tidak sah. Karena dia mengurangi salah satu rukun shalat, yaitu sujud di atas 7 anggota sujud.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/8389/الأعضاء-السبعة-التي-يجب-السجود-عليها

Demikian, semoga Allah memudahkan kita untuk beribadah dengan sempurna.

Allahu a’lam,

Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

cara takbiratul ihram dalam shalat

Lupa Takbiratul Ihram

Assalamualayikum….ustad waktu ana  datang ke masjid untuk sholat dzuhur ternyata imam sudah ruku’ dan ana langsung bertakbir ntuk ruku’ tanpa takbir untuk takbiratul ihram. apakah sholat saya tersebut sah ustad?jazakallahu khairan.

Dari Rudi Wijaya

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian orang mungkin kesulitan membayangkan, bagaimana bisa orang lupa takbiratul ihram. Kalau lupa jumlah rakaat atau lupa duduk tasyahud awal, mungkin masih bisa dibayangkan. Tapi  lupa ttakbiratul ihram, kirra-kira bagaimana bentunya?

Namun kita tidak perlu heran, ternyata kasus semacam ini dialami oleh sebagian orang, terutama ketika buru-buru karena ingin mengejar gerakan imam. Umumnya terjadi karena makmum masbuk hendak mengejar  rukuknya imam.  Karena buru-buru, dia membaca Allahu akbar sambil bergerak rukuk, dan tidak berdiri sempurna. Di sinilah kita bisa menemukan bagian yang bermasalah. Sejatinya makmum ini tidak lupa membaca takbir. Namun dia salah ketika takbir, yang menyebabkan takbirnya tidak dianggap sebagai takbiratul ihram.

Syarat Taakbiratul Ihram, Harus Dilakukan Dalam Posisi Berdiri

Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan,

يجب أن يكبّر المصلّي قائماً فيما يفترض له القيام «لقول النّبيّ صلى الله عليه وسلم لعمران بن حصين وكانت به بواسير صلّ قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب»

Orang yang shalat, wajib melakukan takbiratul ihram sambil berdiri dalam kondisi yang mengharuskannya untuk berdiri. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Imran bin Hushain, seorang sahaabat yang terkena penyakit wasir,

صلّ قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب

“Shalatlah sambil berdiri, jika tidak bisa boleh sambil duduk, dan jika kamu tidak bisa, sambil tidur miring.”

Kemudian dalam referensi yang sama ditegaskan,

ويتحقّق القيام بنصب الظّهر فلا يجزئ إيقاع تكبيرة الإحرام جالساً أو منحنياً والمراد بالقيام ما يعمّ الحكميّ ليشمل القعود في نحو الفرائض لعذر

Dan disebut berdiri jika posisi punggung tegak. Karena itu, tidak sah jika takbiratul ihram dilakukkan sambil duduk atau sambil menunduk rukuk. Dan yang dimaksud berdiri, mencakup posisi yang dihukumi sama dengan berdiri, sehingga termasuk duduk ketika melakukan kewajiban semacamnya, karena udzur. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 13/220).

Batasan Larangan bergerak menunduk ketika takiratul ihram adalah tidak mendeati posisi rukuk. Imam at-Thahawi mengatakan,

ليس الشّرط عدم الانحناء أصلاً، بل عدم الانحناء المتّصف بكونه أقرب إلى الرّكوع من القيام

Bukan syarat takbiratul ihram, tidak boleh bergerak menunduk sama sekali. Namun tidak bergerak menunduk yang kondisinya mendekati posisi rukuk dari pada berdiri.  (Hasyiyah at-Thahawi ‘ala Maraqi al-Falah, 1/146).

Jika Takbiratul Ihram tidak Sah?

Takbiratul ihram merupakan pintu shalat. Dari Ali bin Ali Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِفتاح الصلاة الطُّهور، وتَحريمها التكبير، وتحليلُها التسليم

Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya adalah takbiratul ihram, dan yang menghalalkannya adalah salam. (HR. Abu Daud 61, Ibnu Majah 275, dan dishahihkan al-Albani).

Al-Aini mengatakan,

((وتَحريمها التكبير))؛ أي: تحريم الصلاة الإتيانُ بالتكبير، كأن المصلي بالتكبير والدخول فيها صار ممنوعًا من الكلام، والأفعال الخارجة عن كلام الصلاة وأفعالِها

“yang mengharamkannya adalah takbir” artinya yang mengharamkan shalat adalah melakukan takbir. Seakan-akan, orang yang melakukan shalat memulai takbir, dia masuk ke dalam shalat, sehingga dilarang untuk berbicara atau melakukan perbuatan selain bacaan dan gerakan shalat. (Syarh Abu Daud, al-Aini, 1/184).

Karena itu, jika seseorang tidak sah dalam melakukan takbiratul ihram, maka dia belum dianggap melakukan shalat sama sekali, karena dia belum masuk shalat. Sehingga dia harus mengulangi shalatnya dari awal. Maka pastikan, ketika kita melakukan takbirtaul ihram, kita dalam posisi tegak sempurna.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Shalat Sunah di Majid sebelum Berangkat Haji

Shalat Sunah di Masjid sebelum Berangkat Haji

Apa hukum shalat sunah ketika hendak berangkat haji?

Sebelum berangkat, para jamaah haji dikumpulkan di masjid besar atau masjid alun-alun. Mereka shalat 2 rakaat, setelah itu baru berangkat. Apa praktek semacam ini benar?

Nuwun..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu keajaiban yang bisa kita lihat di masyarakat kita, semangat para jamaah haji untuk mengamalkan berbagai sunah safar ketika berangkat ibadah haji.

Benar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan berbagai adab ketika safar. Namun adab ini berlaku untuk semua safar. Baik safar ibadah maupun safar yang sifatnya mubah.

Umumnya masyarakat, mereka baru tersadar untuk mempraktekkan berbegai adab safar, pada saat safar yang mereka yakini sebagai safar ibadah, seperti safar ketika haji atau umrah. Kita ucapkan alhamdulillah atas semangat mengamalkan sunah ini. Akan tetapi, jika itu dilakukan untuk semua safar, tentu akan lebih sempurna.

Contoh kasus lain adalah masalah doa ketika masuk masjid. Sebagian orang beranggapan, doa ini hanya dibaca ketika masuk masjidil haram atau masjid nabawi. Bahkan beberapa buku panduan haji dan umrah ditulis dengan judul demiakian, ’Doa masuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi’. Padahal doa ini berlaku untuk semua masjid, tidak ada beda doa antara masjidil haram, masjid nabawi, maupun masjid lainnya.

Ini keajaiban yang terjadi di sebagian masyarakat. Mereka baru tersadar untuk mengamalkan doa masuk masjid, ketika hendak haji atau umrah. Padahal sebelumnya, mereka juga sering keluar masuk masjid.

Shalat Sunah Sebelum Berangkat Safar

Terdapat anjuran shalat sunah sebelum keluar dan masuk ke dalam rumah. Dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ

“Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.”

Status Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bazzar no. 8567, ad-Dailami dalam Musnadnya (1/108), dan Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Akhbar as-Shalah (1/68).

Dalam as-Silsilah as-Shahihah dinyatakan,

وهذا إسناد جيد رجاله ثقات رجال البخاري، وفي يحيى بن أيوب المصري كلام يسير لا يضر. وقال الهيثمي في زوائد البزار: ” ورجاله موثقون “. وقال المناوي في ” الفيض “: ” قال ابن حجر: حديث حسن، ولولا شك بكر لكان على شرط الصحيح

Hadis ini sanadnya jayyid, perawinya tsiqah (terpercaya), perawi shahih Bukhari. Ada sedikit komentar tentang nama perawi Yahya bin Ayub al-Mishri, namun tidak mempengaruhi keabsahan hadis.  Al-Haitsami dalam Zawaid al-Bazzar mengatakan, ‘Perawinya dinilai tsiqqah.’ Sementara al-Munawi dalam Faidhul Qadir menukil keterangan Ibnu Hajar, ‘Hadis hasan. Andai bukan karena keraguan Bakr tentu sesuai syarat hadis shahih.’ (As-Silsilah as-Sahihah, no. 3/315).

Kesimpulannya, hadis ini statusnya hasan.

Mari kita perhatikan hadis di atas. Diantara yang bisa kita simpulkan dari hadis di atas,

Pertama, makna tekstual dalam hadis ini adalah anjuran melaksanakan shalat sunah ketika hendak keluar rumah atau masuk rumah. Terlebih keluar rumah ketika hendak safar. Karena manusia lebih  membutuhkan penjagaan dan keamanan selama perjalanan.

Kedua, shalat dua rakaat ini bentuknya bebas. Artinya, tidak harus shalat sunah khusus. Karena itu, bisa dikerjakan dalam bentuk shalat sunah, atau shalat wajib. Misalnya, dia berangkat setelah subuh. Kemdian dia shalat subuh di rumah, maka sudah dianggap mendapat keutamaan hadis di atas.

Al-Munawi mengatakan,

إذا خرجت من منزلك أي أردت الخروج من بيتك فصل ندبا ركعتين خفيفتين وتحصل بفرض أو نفل

’Apabila kamu keluar dari rumahmu’, artinya jika kamu ingin keluar rumah, lakukanlah shalat sunah ringan dua rakaat. Anjuran ini bisa dilaksanakan dalam bentuk shalat wajib atau shalat sunah. (Faidhul Qadir, 1/334)

Ketiga, bahwa anjuran shalat sunah dalam hadis di atas adalah dikerjakan di rumah dan bukan di masjid. Ini sangat jelas dinyatakan dalam kalimat, ”Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat.

Karena itu, shalat sunah safar yang tepat tidak dilakukan ketika para calon jamaah haji berkumpul di masjid. Namun shalat sunah ini dilakukan tepat ketika jamaah haji hendak meninggalkan rumah.

Keempat, bahwa anjuran ini berlaku dalam setiap rumah. Baik untuk safar maupun sekedar keluar rumah untuk kegiatan yang lainnya. Baik safar ibadah atau untuk kegiatan murni dunia. Baik safar sehari, atau hingga memakan waktu berhari-hari.

Hanya saja, untuk safar lebih ditekankan, karena resiko dan peluang terjadinya hal yang tidak diinginkan, lebih besar dibandingkan ketika diam di rumah.

Kemudian di sana ada sebuah riwayat yang menegaskan anjuran shalat sunah 2 rakaat sebelum meninggalkan rumah, ketika hendak safar.

Dari al-Muth’im bin Miqdam, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما خلف عبد على أهله أفضل من ركعتين يركعهما عندهم حين يريد السفر

Tidak sesuatu yang lebih afdhal untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, dari pada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah mereka ketika hendak safar. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, no. 4879)

Hanya saja hadis ini dinilai dhaif oleh sebagian ulama, karena al-Muth’in bin Miqdam bukan sahabat, namun tabi’in. Sehingga status hadisnya adalah hadis mursal. (as-Silsilah ad-Dhaifah, no. 372).

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Gerakan Shalat Untuk Difabel

Gerakan Shalat Untuk Difabel

Assalamu’alaikum,
Saya seorang difabel yang memiliki keterbatasan  bentuk kaki yang kurang sempurna dan keterbatasan tersebut membuat saya tidak dapat melakukan duduk diantara dua sujud dan duduk tahyat  dengan cara yang benar , jika saya melakukan duduk diantara dua sujud dan tahyat kedua kaki saya selalu terasa sakit dibagian lipatan antara paha dan kaki.  Selama ini, setiap shalat saya mengerjakan shalat dengan duduk, tapi sebenarnya saya masih dapat berdiri dengan sempurna. Dan, jika dilakukan dengan duduk, maka ketka saya sujud, wajah saya tidak ‘menempel’ ke tanah’ karena hanya sekedar membungkukan badan sajaNamun, saat saya shalat dengan berdiri,  saya bisa sujud dengan gerakan yang sempurna.
Pertanyaan saya:

  1. Apakah shalat yang saya lakukan (dengan duduk) itu suadah sah menurut syariat ?
  2. Apakah saya harus berdiri karena masih bisa berdiri dengan baik?
  3. Jika gerakan duduk di antara dua sujud dan tahyat saya salah, sementara saya-dalam kondisi seperti ini-sama sekali tidak bisa menyempurnakannya apa yang sebaiknya saya lakukan?

           Saya Sangat mengharapkan jawaban dari tim Konsultasi Syariah. Dan, saya mohon agar pertanyaan saya ini tidak dipublikasikan melalui website Konsultasi Syariah atau media apapun  dan  cukup dibalas melalui e-mail untuk menjaga privasi. Terima kasih.

Dari Anjar

JAWABAN:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara kelebihan agama islam yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah jadikan ajaran beliau penuh dengan kemudahan. Dan ini menjadi bagian dari prinsip islam, menghilangkan segala bentuk kesulitan. Jika kita perhatikan dalam al-Quran, banyak sekali ayat yang menyebutkan bahwa Allah sama sekali tidak menghendaki kesulitan bagi para hamba-Nya.

Allah berfirman,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. al-Maidah: 6)

Allah juga berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. (QS. al-Hajj: 78)

Allah juga menegaskan bahwa Dia tidak membebani jiwa manusia di luar batas kemampuannya,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. al-Baqarah: 286)

Allah juga memberi keringanan, bagi mereka yang memiliki kekurangan secara fisik, sehingga tidak bisa melakukan kewajiban yang dikerjakan oleh kaum muslimin lainnya. Ketika orang-orang munafik yang sehat fisik meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak ikut jihad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan dan tidak mempedulikan mereka. Dan hakekatnya itu celaan bagi mereka. Allah menyindir mereka habis-habisan dalam al-Quran. Allah sebut mereka layaknya orang banci, para pengecut.

Keadaan ini membuat sedih para orang buta, orang terbatas fisik, atau orang sakit. Sebenarnya mereka memiliki keinginan untuk bergabung jihad, namun keterbatasan fisiknya tidak memungkinkan bagi mereka untuk ikut jihad. Meskipun mereka tidak ikut, Allah tetap memuji mereka,

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا

Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). dan Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (QS. al-Fath: 17)

Hadirkan Ridha

Adanya keterbataasan fisik tidak hanya Allah berikan kepada orang mukmin, namun juga terkadang dialami orang kafir. Kita dan mereka sama-sama sakit. Bedanya, kita punya harapan pahala di sisi Allah, sementara mereka tidak memiliki harapan apapun.

إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya orang kafir itupun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu punya harapan di sisi Allah, apa yang mereka tidak memiliki harapan itu. (QS. an-Nisa: 4)

Karena itu, apapun kondisi seorang muslim, dia tetap layak untuk bersyukur kepada Allah, atas hidayah islam yang Allah berikan kepada dirinya.

Kemudahan bagi Mereka

Allah berikan kemudahan bagi umat manusia dalam beribadah. Ketika dia tidak mampu melaksanakan dengan sempurna, dia bisa melaksanakannya semampunya. Allah berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian (QS. at-Taghabun: 16)

Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan seseorang untuk shalat semampunya. Sahabat Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu terkena penyakit wasir, sehingga menyulitkan beliau untuk shalat dengan sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada beliau,

صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah sambil berdiri, jika kamu tidak mampu sambil duduk, dan jika kamu tidak mampu, sambil berbaring miring.” (HR. Bukhari 1117, Abu Daud 952, dan yang lainnya).

Ketika anda tidak mampu duduk dengan sempurna, baik iftirasy maupun tawarruk, anda bisa duduk semampu yang anda lakukan. Jangan paksakan fisik untuk melakukan gerakan yang membuat diri anda kesakitan. Buat diri anda nyaman dengan shalat yang anda kerjakan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

doa keluar rumah

Dzikir Setelah Shalat Sunah

Tanya:

Apakah dzikir setelah shalat sunah sama dengan dzikir setelah shalat wajib?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita berbagai doa dan dzikir di banyak kegiatan dan aktivitas. Ada dzikir setelah shalat wajib, bacaan sebelum dan sesudah makan, bacaan ketika masuk dan keluar WC, dst… dan masing-masing bacaan, memiliki tempat sendiri-sendiri. Tidak boleh dibolak-balik, meskipun secara makna benar. Karena ini merusak aturan.

Dzikir ketika masuk masuk WC tidak boleh anda baca sebelum makan. Meskipun karena alasan ingin berlindung dari godaan setan laki-laki dan perempuan.

Demikian pula dzikir seusai shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dengan rinci. Ada dzikir setelah shalat wajib dan ada yang setelah shalat sunah. Meskipun semua maknanya baik, bukan berarti anda bebas memindahkan dzikir itu di luar waktunya.

Dzikir Setelah Shalat Sunah

Terdapat hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan dzikir yang dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seusai shalat,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap selesai shalat, beliau membaca istighfar 3 kali, kemudian membaca,

اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Allahumma antas salam wa minkas salam tabaarakta ya dzal jalal wal ikram (HR. Muslim 591, Nasai 1337, dan yang lainnya).

Keterangan:

Kalimat ’setiap selesai shalat’ dipahami umum mencakup semua shalat. Baik shalat wajib maupun shalat sunah. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibnu Baz. Dalam Fatwanya, beliau menyatakan,

أما بعد النوافل ما فيه شيء في موضعه إلا الاستغفار، إذا سلم من النافلة يقول: أستغفر الله، أستغفر الله، أستغفر الله، اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام، أما الأذكار الأخرى كلها جاءت بعد الفريضة، أما هذا فهذا بعد الفرض والنفل

Setelah shalat sunah tidak ada dzikir khusus selain istighfar. Seusai salam dari shalat sunah, dia bisa membaca, astaghfirullah,astaghfirullah, astaghfirullah, Allahumma antas salam wa minkas salam tabaarakta ya dzal jalal wal ikram. Sedangkan dzikir-dzikir pasca-shalat yang lain, semuanya dibaca setelah shalat wajib. Sedangkan dzikir ini, dibaca setelah shalat wajib dan shalat sunah.

Kemudian beliau membawakan hadis Tsauban di atas. Lalu beliau mengatakan,

ولم يقل المكتوبة، فدل على أنه في كل صلاة، النافلة والفرض

Tsauban tidak mengatakan ‘setelah shalat wajib’. Ini menunjukkan bahwa dzikir itu dibaca di setiap usai shalat. Baik sunah maupun wajib.

أما الأذكار لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير، لا حول ولا قوة إلا بالله، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه …. إلخ هذه إنما جاءت بعد الفرائض، لم تبلغنا عن النبي – صلى الله عليه وسلم- إلا بعد الفرائض، ولم يبلغنا عنه أنه فعلها بعد النوافل عليه الصلاة والسلام

Adapun dzikir laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syai-in qadir. Laa haula wa laa quwwata illa billaah. laa ilaaha illallah wa laa na’budu illaa iyyaah.. dst, dzikir ini sesuai aturannya, hanya dibaca setelah shalat wajib. Tidak ada keterangan yang sampai kepada kita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali setelah shalat wajib. Dan tidak pernah ada riwayat yang sampai ke kita bahwa beliau melakukan itu setelah shalat sunah.

http://www.binbaz.org.sa/mat/11511

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

salah kiblat ketika shalat

Salah Arah Kiblat ketika Shalat

Assalamualikum Warahmatullaahi wabarakaatuh,

Yth Ustadz, saya shalat jama’ akhir qashar Dzuhur dgn Ashar pd wkt ashar krn sedang berada di luar kota pd 5 Agustus 2014 yll. Tapi shalat saya salah arah kiblat yaitu menghadap ke timur. Sblm shalat, saya merasa yakin sekali arah kiblat tsb benar, krn pernah menginap di hotel yg sama seblm nya hanya berbeda kamarnya. Sebab itulah sy tidak bertanya arah kiblat kpd pihak hotel sblm shalat.
Kesalahan arah kiblat tsb baru saya ketahui besoknya tgl 6 Agustus 2014, setlh saya pindah kamar di lantai yg sama. Kamar tsb  di depan kmr saya semula.  Disitu ada petunjuk arah kiblat. Baru saya sadar, bhw shalat saya di kmr seblm nya ternyata “salah arah kiblat” nya.
Pertanyaan saya, sah kah shalat sy tsb ? Krn baru diketahui esoknya.
Sebagai informasi lebih lanjut, shalat yg salah tsb selain jama’qashar (dzuhur dg ashar), jg shalat maghrib dan tahajud/witir esok pagi nya. Mohon penjelasan ustadz, apa yg hrs saya lakukan utk menebus kesalahan tsb. Krn saya khawatir menjadi dosa meninggalkan 3 shalat wajib.

Syukron, Jazakumullaahu khoir.

Dudy- Ciputat. via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

ًWa ‘alaikumus salam Warahmatullaahi wabarakaatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Para ulama menegaskan bahwa menghadap kiblat termasuk syarat sah shalat. Allah berfirman,

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

Dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya (QS. al-Baqarah: 150).

Oleh karena itu, orang yang tidak mengetahui arah kiblat maka wajib berusaha untuk mencari tahu arah kiblat. Hal ini bisa dilakukan dengan bebecara cara:

  1. Bertanya kepada penduduk setempat atau orang yang tahu.
  2. Jika tidak mungkin untuk bertanya maka bisa menggunakan tanda-tanda alam. Seperti sinar matahari, arah angin, dsb.

Dan jika dua cara di atas tidak memungkinkan maka shalat menghadap ke arah manapun berdasarkan dugaan kuat bahwasanya arah itu adalah kiblat.

Jika ternyata arah yang dia pilih itu salah, artinya tidak menghadap kiblat – padahal dia telah berusaha mencari arah kiblat semampunya – apakah shalatnya harus diulangi?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini,

Pertama, shalatnya wajib diulangi secara mutlak. Ini pendapat madzhab Syafiiyah.

Pada pembahasan tentang aturan menghadap kiblat ketika shalat, An-Nawawi mengatakan,

وَمَنْ صَلَّى بِالِاجْتِهَادِ فَتَيَقَّنَ الْخَطَأَ قَضَى فِي الْأَظْهَرِ، فَلَوْ تَيَقَّنَهُ فِيهَا وَجَبَ اسْتِئْنَافُهَا

Orang yang shalat (ke arah kiblat) berdasarkan ijtihad, kemudian dia tahu ternyata itu salah, maka dia wajib mengqadha, menurut pendapat yang kuat. Dan ketika dia tahu kesalahannya di tengah shalat, wajib mengulangi dari awal. (al-Minhaj, hlm. 24).

Kedua, shalatnya sah dan tidak perlu diulangi. Ini pendapat madzhab Hanafi dan salah satu pendapat dalam madzhab hambali.

Dalam kitab al-Ikhtiyar – kitab madzhab hanafi – dinyatakan,

وإن اشتبهت عليه القبلة وليس له من يسأله اجتهد وصلى ولا يعيد وإن أخطأ، فإن علم بالخطأ وهو في الصلاة استدار وبنى، وإن صلى بغير اجتهاد فأخطأ أعاد

Jika ada orang tidak tahu arah kiblat dan tidak ada seorangpun yang bisa ditanya, maka dia bisa berijtihad (dalam menentukan kiblat), dan shalatnya tidak perlu diulang, meskipun arah kiblatnya salah. Jika dia tahu kesalahan arah kiblat di tengah shalat, maka dia langsung berputar (ke arah yang benar) dan melanjutkan shalatnya. Dan jika dia shalat tanpa berusaha mencari arah kiblat yang benar, lalu ternyata salah, maka wajib mengulangi shalatnya. (al-Ikhtiyar li Ta’lil al-Mukhtar, hlm. 4).

Ketiga, dibedakan antara kondisi safar dan mukim. Ini pendapat sebagian ulama Hambali.

Al-Mardawi mengatakan,

الصحيح من المذهب أن البصير إذا صلى في الحضر فأخطأ عليه الإعادة مطلقا وعليه الأصحاب، وعنه لا يعيد إذا كان عن اجتهاد، احتج أحمد بقضية أهل قباء

Pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, bahwa orang yang bisa melihat, ketika dia shalat dalam keadaan mukim, kemudian salah kiblatnya, maka dia wajib mengulang shalatnya secara mutlak. Dan inilah pendapat yang dipegangi para ulama madzhab. Dan ada riwayat dari Imam Ahmad bahwa dia tidak perlu mengulangi shalat, jika dia salah setelah berijtihad (berusaha mencarinya). Imam Ahmad berdalil dengan kejadian shalat di masjid Quba. (al-Inshaf, 2/15).

InsyaaAllah pendapat yang lebih kuat adalah pendapat hanafiyah dan Imam Ahmad, bahwa dia tidak perlu mengulangi shalatnya, jika sebelumnya dia telah berijtihad, dengan berusaha mencari arah kiblat.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:

Kami pernah dalam suatu perjalanan, tiba-tiba kami diliputi awan gelap. Kemudian masing-masing memilih arah kiblat dan arah kiblat kami berbeda-beda. Seseorang di antara kami membuat garis di depannya supaya tahu ke arah mana ketika shalat. Ketika di pagi hari, kami melihat garis yang dibuat semalam. Ternyata kami shalat tidak menghadap kiblat. Kejadian ini kami sampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [tetapi beliau tidak menyuruh kami mengulangi shalat]. Beliau bersabda: “Shalat kalian sudah benar.” (HR. Daruqutni 101 & dishahihkan Al Albani).

Dalam hadis lain, dari Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ، فَلَمْ نَدْرِ أَيْنَ القِبْلَةُ، فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَى حِيَالِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَ: ” {فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ}

Kami pernah safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memasuki malam yang gelap. Kami tidak tahu, di mana arah kiblat. Akhirnya masing-masing kami shalat sesuai arah keyakinannya. Ketika pagi hari, kami ceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turun firman Allah,

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

Kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (QS. Al-Baqarah: 115)

(HR. Turmudzi 345 dan dihasankan al-Albani).

Harus Bertanya…

Bagi musafir, selama dia tidak yakin dengan arah kiblat dan memungkinkan baginya untuk mengetahui arah kiblat dengan bertanya, namun dia tidak mau bertanya, sehingga shalatnya tidak menghadap kiblat maka shalatnya batal dan harus diulangi.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

يحب على من تزل على شخص ضيفاً، وأراد أن يتنفل أن يسأل عن القبلة فإذا أخبره اتجه إليها، لأن بعض الناس تأخذه العزة بالإثم ومنعه الحياء وهو في غير محله عن السؤال عن القبلة، بل أسال عن القبلة حتى يخبرك صاحب البيت.
أحياناً بعض الناس تأخذه العزة بالإثم ويتجه بناء على ظنه إلى جهة ما، ويتبين أنها ليست القبلة، وفي هذه الحال يجب عليه أن يعيد الصلاة، لأنه استند إلى غير مستند شرعي، والمستند إلى غير مستند شرعي لا تقبل عبادته لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد”. أخرجه مسلم.

Wajib bagi orang yang bertamu di rumah seseorang, dan dia hendak shalat sunah, hendaknya dia bertanya tentang arah kiblat. Jika tuan rumah memberi tahu, dia bisa shalat ke arah yang disarankan. Karena ada sebagian orang yang gengsi atau malu – dan ini malu yang tidak tepat, sehingga tidak mau bertanya tentang kiblat. Seharusnya dia bertanya arah kiblat, sehingga pemilik rumah memberi tahu.

Terkadang ada orang yang gengsi, lalu dia shalat ke arah sesuai dugaannya, kemudian dia diberi tahu bahwa itu bukan arah kiblat, dalam kondisi ini, dia wajib mengulangi shalatnya. Karena dia bersandar kepada dasar yang tidak diterima secara syariat. Dan orang yang bersandar kepada dasar yang tidak diterima secara syariat maka ibadahnya tidak diterima. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapa yang melakukan amalan, tidak ada dasarnya dari kami, maka amal itu tertolak.’ (HR. Muslim).

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/11334/ هل-استقبال-القبلة-من-شروط-صحة-الصلاة

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mendoakan jenazah

Ketinggalan Shalat Jenazah

Bagaimana jika kita ketinggalan beberapa takbir shalat jenazah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dalil utama tentang masalah masbuq dalam shalat adalah hadis dari Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Apabila kalian menghadiri shalat jenazah, berjalanlah dengan tenang. Gerakan apapun yang kalian jumpai, langsung diikuti. Sementara yang ketinggalan, sempurnakanlah. (HR. Bukhari 635 dan Muslim 602).

Berdasarkan hadis di atas, pada prinsipnya, masbuq dalam shalat jenazah, sama dengan masbuq dalam shalat pada umumnya. Hanya saja, dalam shalat jenazah, bentuk ketinggalannya dalam masalah jumlah takbir, sedangkan dalam shalat lainnya, bentuk masbuqnya dalam jumlah rakaat.

Hasan al-Bashri mengatakan,

إِذا انتهى إِلى الجنازة وهم يُصلّون؛ يدخل معهم بتكبيرة

Jika ada orang menjumpai jamaah shalat jenazah, sementara mereka sudah melaksanakan beberapa takbir, maka hendaknya dia langsung bergabung bersama jamaah itu dengan menyusul takbir (mereka). (HR. Bukhari secara muallaq – Bab Sunah Shalat ala Janazah).

Ibnu Hazm menjelaskan teknisnya sebagai berikut,

ومن فاته بعض التكبيرات على الجنازة؛ كَبَّر ساعة يأتي، ولا ينتظر تكبيرة الإِمام، فإِذا سلم الإِمام أتم هو ما بقي من التكبير، يدعو بين تكبيرة وتكبيرة كما كان يفعل مع الإِمام

Orang yang ketinggalan beberapa takbir shalat jenazah, langsung takbir meskipun hanya mendapatkan beberapa saat, dan tidak menunggu takbir imam berikutnya. Jika imam salam, dia sempurnakan takbir yang kurang. dia berdoa dari satu takbir ke takbir berikutnya. Sebagaimana yang dia lakukan bersama imam.

Sebagai ilustrasi,

Si A ketinggalan shalat jenazah, sementara imam sudah takbir kedua. Yang seharusnya dilakukan si A, dia langsung takbir, dan tidak menunggu takbir ketiga imam. Meskipun dia hanya mendapatkan beberapa saat, kemudian imam takbir ketiga.

Selanjutnya dia ikuti imam. Setelah imam salam, dia tambahkan satu takbir.

Bagaimana Urutan Doanya?

Berikut penjelasan Imam Ibnu Utsaimin,

فإذا دخل الداخل وقد كبر الإمام بعض التكبيرات، فإنه يدخل معه ويدعو بالدعاء في التكبيرة التي كبرها الإمام، فإذا قدرنا أنه دخل والإمام في التكبيرة الثالثة، والتكبيرة الثالثة هي التي يدعى فيها للميت، فإنه يدخل معه ويدعو للميت … ثم إذا سلم الإمام من صلاة الجنازة، أتم المأموم ما فاته إن بقيت الجنازة حتى يتم

Apabila orang yang masbuq menjumpai jamaah shalat jenazah, sementara imam sudah melakukan beberapa takbir, maka dia langsung bergabung dan berdoa dengan doa sesuai urutan takbir imam. Misalnya, dia bergabung ketika imam telah melakukan takbir ketiga. Dan di takbir ketiga, dianjurkan berdoa untuk mayit. Maka orang ini langsung bergabung dan mendoakan mayit… kemudian setelah imam salam shalat jenazah, makmum menambahi kekurangannya, jika jenazah masih di tempat. (al-Liqa as-Syahri, volume 1, no. 10)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,242FansLike
3,917FollowersFollow
30,021FollowersFollow
61,384SubscribersSubscribe

RAMADHAN