tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Sholat

bacaan shalat

Imam Batal Ketika Sujud

Apa yang harus dilakukan imam jika dia batal dalam posisi sujud? Makmum kan gak liat dia pergi..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ketika imam batal wudhu dalam posisi sujud, ada beberapa proses yang bisa dilakukan:

  1. Imam yang batal langsung bangkit diam-diam, tanpa membaca takbir intiqal, karena dia sudah batal.
  2. Kemudian dia tepuk salah satu jamaah yang berada di belakangnya untuk menggantikan dirinya jadi imam.
  3. Selanjutnya, imam yang baru ini bertakbir bangkit dari sujud tetap di shaf pertama (posisi semula).
  4. Setelah berdiri, dia bisa maju menggantikan posisi imam, kemudian menyelesaikan shalat.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya, ‘Apa yang harus dilakukan apabila imam batal wudhunya dalam posisi sujud?’

Jawab beliau,

العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة ، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة

Yang harus dia lakukan dalam kondisi ini, dia harus membatalkan shalat, lalu menyuruh salah satu makmum yang berada di belakangnya untuk melanjutkan shalat jamaah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/154).

Jika imam lupa atau tidak tahu, sehingga tidak langsung membatalkan, namun dia bangkit dengan membaca takbir, padahal dia sudah batal, kemudian diikuti makmum, maka shalat makmum tetap sah. Dalam dalam kasus ini ada udzur untuk makmum.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

وإذا حصل للإمام سبب الاستخلاف في ركوع أو سجود فإنه يستخلف، كما يستخلف في القيام وغيره، ويرفع بهم من السجود الخليفة بالتكبير  ويرفع الإمام رأسه بلا تكبير؛ لئلا يقتدوا به، ولا تبطل صلاة المأمومين إن رفعوا رءوسهم برفعه

Jika ada sebab yang mengharuskan imam harus diganti dalam posisi rukuk atau sujud, maka imam bisa langsung nunjuk pengganti sebagaimana yang biasa dilakukan dalam posisi berdiri. Kemudian Imam pengganti mengangkat kepalanya dari sujud dengan mengeraskan takbir intiqal. Sementara imam yang batal, tidak boleh membaca takbir ketika bangkit, agar makmum tidak mengikutinya. Meskipun shalat makmum tetap sah jika dia bangkit karena mengikuti takbir imam. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 3/253).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

bacaan shalat

Bolehkah Membaca Surat Di Rakaat Ketiga dan Keempat?

Tanya ustd,

Bolehkah membaca surat setelah Fatihah di Rakaat ketiga dan Keempat?

Muhammad Dalton

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Mari kita simak beberapa hadis berikut,

Pertama, hadis dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ فِى الأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ ، وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ ، وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ ، وَيُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى مَا لاَ يُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَهَكَذَا فِى الْعَصْرِ وَهَكَذَا فِى الصُّبْحِ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat dzuhur, di dua rakaat pertama beliau membaca al-Fatihah dan dua surat. Sementara di dua rakaat terakhir beliau membaca al-Fatihah. Beliau membacanya hingga kami terdengar ayat. Beliau baca lebih panjang di rakaat pertama, tidak sepanjang di rakaat kedua. Demikian pula ketika shalat asar dan subuh. (HR. Bukhari 776 & Muslim 1041).

Kedua, hadis dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نَحْزُرُ قِيَامَ رَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِي اَلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ , فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي اَلرَّكْعَتَيْنِ اَلْأُولَيَيْنِ مِنْ اَلظُّهْرِ قَدْرَ : (الم تَنْزِيلُ) اَلسَّجْدَةِ . وَفِي اَلْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ اَلنِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ . وَفِي اَلْأُولَيَيْنِ مِنْ اَلْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ اَلْأُخْرَيَيْنِ مِنْ اَلظُّهْرِ

Kami memperhatikan berdirinya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat dzuhur dan asar. Kami perhatikan berdiri beliau di dua rakaat pertama shalat dzuhur panjangnya sekitar surat as-Sajdah. Sementara di dua rakaat terakhir setengahnya. Sementara di dua rakaat pertama shalat asar, seperti dua rakaat terakhir shalat dzuhur. (HR. Muslim 452).

Ketiga, diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwatha’ bahwa Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu, di rakaat ketiga shalat maghrib beliau membaca al-Fatihah alu dilanjutkan dengan ayat (QS. Ali Imran: 8) berikut:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Al-Muwatha’, 178).

Dengan memperhatikan beberapa hadis tentang masalah ini, ulama berbeda pedapat tentang membaca surat setelah al-Fatihah di rakaat ketiga dan keempat. Perbedaan ini hanya berkisar, mana yang lebih sesuai sunah di rakaat ketiga dan keempat, apakah cukup membaca al-Fatihah ataukah dianjurkan untuk ditambahi surat lain.

Imam Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya mengatakan,

إباحة القراءة في الأخريين من الظهر والعصر بأكثر من فاتحة الكتاب وهذا من اختلاف المباح لا من اختلاف الذي يكون أحدهما محظورا والأخر مباحا فجائز أن يقرأ في الأخريين في كل ركعة بفاتحة فيقتصر من القراءة عليها ومباح أن يزاد في الأخريين على فاتحة الكتاب

Boleh membaca di dua rakaat terahir untuk shalat dzuhur dan asar lebih dari surat al-Fatihah. Ini termasuk perbedaan pendapat ulama yang sifatnya mubah. Bukan perbedaan yang satu hukumnya terlarang dan yang satu mubah. Boleh saja di dua rakaat terakhir, pada masing-masing rakaat seseorang membaca al-Fatihah saja. Boleh juga di dua rakaat terakhir dia tambahi dengan surat lain setelah al-Fatihah. (Shahih Ibnu Khuzaimah, 1/256).

Karena itulah, Abul Hasanat al-Laknawi (w. 1304 H) mengingkari pendapat sebagian ulama yang menganjurkan sujud sahwi bagi orang yang membaca surat setelah bacaan al-Fatihah di rakaat ketiga dan keempat.

Dalam kitabnnya at-Ta’liq al-Mumajjad, beliau mengatakan,

وأغرب بعض أصحابنا حيث حكموا على وجوب سجود السهو بقراءة سورة في الأخريين، وقد ردَّه شراح “المنية” – إبراهيم الحلبي وابن أمير حاج الحلبي وغيرهما – بأحسن ردّ ولا أشكُّ في أن من قال بذلك لم يبلغه الحديث، ولو بلغه لم يتفوَّه به

Yang aneh, pendapat sebagian madzhab kami (hanafi) yang mewajibkan sujud sahwi karena membaca surat di dua rakaat terakhir. Pendapat ini telah dibantah dengan bagus oleh para ulama yang mensyarah kitab al-Maniyah, seperti Ibrahim al-Halabi, Ibnu Amir al-Hal al-Halabi, dan ulama lainnya. Kita sangat yakin, orang yang berpendapat demikian, karena belum sampai kepadanya hadis. Andai telah sampai kepadanya hadis, tentu dia tidak akan mengucapkan demikian. (at-Ta’liq al-Mumajjad, 1/440).

Kesimpulan Mereka

Sebagian ulama ada yang menganjurkan agar disesuaikan dengan makna yang tertuang dalam teks hadis. Hadis Abu Qatadah dijadikan acuan umum, bahwa di rakaat ketiga dan keempat hanya membaca surat al-Fatihah. Sementara hadis Abu Said al-Khudri menjadi keterangan tambahan, yang khusus berlaku untuk shaat dzuhur dan asar.

Sementara untuk shalat maghrib, hadis Abu Bakar bisa dijadikan dalil yang bersifat kasuistik.

Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam Ibnu Baz. Beliau menyimpulkan, dianjurkan membaca surat di rakaat ketiga dan keempat pada shalat dzuhur dan asar. Kemudian untuk shalat maghrib, di rakaat ketiga dianjurkan untuk terkadang membaca ayat sebagaimana yang dibaca Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu.

Sementara untuk shalat isya, di rakaat ketiga dan keempat, tidak dianjurkan membaca surat apapun setelah al-Fatihah.

Beliau mengatakan di akhir fatwa,

وأما العشاء فلم يرد ما يدل على الزيادة ، ولذا قال العلماء : لا ينبغي أن يزيد في الثالثة والرابعة منها على الفاتحة

Untuk shalat isya, tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya baccaan setelah al-Fatihah. Karena itu, para ulama mengatakan, tidak selayaknya menambahkan bacaan surat setela al-Fatihah di rakaat ketiga dan keempat untuk shalat isya.

(Fatawa  Nur ‘ala ad-Darb, 2/788).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Shalat Sambil Gendong Bayi Pakai Pampers

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ketika berbincang dengan teman yang sudah menjadi ummahat, beliau bercerita, jika ia sedang sholat dan si anak mengangis maka ia akan ambil anaknya dan menggendongnya, jadi ia sholat dengan tetap menggendong si anak. Ketika ana tanyakan padanya, apakah rasul dulu juga seperti itu? ia bilang ya, apakah itu benar ustadz? apakah sholatnya tetap sah? karena setahu ana kan hanya diperbolehkan tiga gerakan saja? bagaimanakah sholat Rasulullah. Jazakumullah jika dijelaskan, ini sangat berguna jika sudah menjadi ibu-ibu kelak. tentunya seorang ibu akan sangat resah jika anak menangis, sholat tdk dapat khusyu’ dan tentunya akan ringan rasa itu jika diperbolehkan menggendong anak dalam sholat.

Penanya: Winna

Jawaban Ustadz Muhammad Arifin Badri

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rosululloh, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat, amiin.

Langsung saja, betul, dahulu Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam kadang kala mengangkat cucunya, Hasan, Husain, Umamah rodhiallohu anhum ketika sedang sholat, bahkan suatu saat ketika beliau sedang sholat, beliau menggendong cucunya yang bernama Umamah bin Abil ‘Ash, sehingga ketika sedang berdiri, beliau menggendongnya, dan ketika ruku’ dan sujud, beliau menurunkannya, padahal kala itu beliau sholat mengimami para sahabatnya.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dan juga lainnya. Oleh karena itu para ulama’ menegaskan bahwa boleh bagi orang yang sedang sholat untuk mengangkat, atau menggendong anak kecil.

Akan tetapi ada satu hal yang perlu diingat, yaitu ketika kita hendak menggendong anak kecil dalam sholat, maka anak tersebut harus dalam keadaan suci, tidak sedang ngompol, atau bajunya dalam keadaan najis, atau mengenakan popok atau diapers yang tentunya berisikan najis. Sebab orang yang sedang sholat diperintahkan untuk meninggalkan atau melepaskan setiap yang najis dari pakaian, atau sandal atau kaus kaki atau tempat ia sholat.

Dengan demikian bila anak kita mengenakan diapers, maka kita tidak boleh menggendongnya, karena biasanya si anak telah pipis atau bahkan buang air besar di dalamnya, sehingga bila kita menggendongnya berarti kita membawa najis ketika sedang sholat, dan ini tentunya terlarang.

Dahulu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah sholat mengenakan sandal, dan ketika di tengah-tengah sholat tiba-tiba beliau melepaskan kedua sandalnya, sehingga para sahabat pun ikut-ikutan melepaskan sandalnya. Seusai sholat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ia diberi tahu oleh Malaikat Jibril bahwa di sandalnya terdapat kotoran (najis), oleh karena itu beliau melepaskan sandalnya.

Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Al Baihaqi, Ad Darimi dan lain-lain. Semoga jawaban pendek nan singkat ini cukup memberikan gambaran bagi kita semua.

Wallohu a’lam bisshowab.

Dijawab oleh Ustadz DR.Muhammad Arifin Baderi (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sakit ketika shalat

Menangis Ketika Shalat

Ada imam yg ketika shalat selalu berusaha menangis. Apakah ini dibolehkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, menangis ketika shalat, tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Bahkan jika menangis ini muncul karena orang yang shalat merenungkan apa yang dia baca, insyaaAllah termasuk bagian dari khusyu dalam shalat.

Sahabat Abdullah bin Syikhir Radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan,

أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يُصَلِّى وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ يَعْنِى يَبْكِى

Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang shalat, dan terdengar gemuruh di dada beliau seperti gemuruh wadah berisi air mendidih, karena beliau nangis. (HR. Ahmad 1755, Nasai 1222, Ibn Hibban 665, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Demikian pula yang terjadi kepada para sahabat. Diantaranya Abu Bakr as-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu. Beliau dikenal sangat mudah menangis ketika shalat dan baca al-Quran, hingga beliau digelari al-Bakka. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad dan Bukhari.

Adakah Anjuran Berusaha Nangis?

Nangis yang dialami orang-orang soleh di atas adalah nangis karena suasana hati. Mereka menangis karena takut kepada Allah atau merenungi makna ayat yang dibaca. Bukan memaksakan diri untuk menangis.

Berusaha menangis atau memaksakan diri untuk menangis (at-Tabaki), dijelaskan Ibnul Qoyim, bentuknya ada dua, terpuji dan tercela. Dalam Zadul Ma’ad beliau mengatakan,

وما كان منه مستدعىً متكلفاً فهو التباكي وهو نوعان : محمود ومذموم، فالمحمود : أن يُستحلب لرقة القلب ولخشية الله ، لا للرياء والسمعة، والمذموم : يُجتلب لأجل الخلق

Memaksakan diri untuk menangis disebut at-Tabaki, ada dua macam,

Ada yang terpuji dan ada yang tercela.

Memaksakan diri untuk nangis yang terpuji adalah berusaha menangis dalam rangka melembutkan hati dan agar takut kepada Allah, bukan karena riya atau sum’ah (pamer). Sementara memaksa nangis yang tercela adalah sok nangis untuk dilihat orang lain. (Zadul Ma’ad, 1/175).

Diantara dalil dianjurkan berusaha nangis dalam rangka menampakkan rasa takut kepada Allah,

Pertama, hadis dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, tentang tawanan perang Badar. Umar mengusulkan agar tawanan perang Badar semuanya dibunuh. Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr berijtihad agar tawanan perang badar ditukar dengan tawanan yang lain atau dibebaskan dengan tebusan. Hingga Allah menurunkan firman Allah surat al-Anfal ayat 67,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآَخِرَةَ

Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). (QS. al-Anfal: 67).

Setelah itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu menangis. Ketika Umar datang, beliau mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى مِنْ أَىِّ شَىْءٍ تَبْكِى أَنْتَ وَصَاحِبُكَ فَإِنْ وَجَدْتُ بُكَاءً بَكَيْتُ وَإِنْ لَمْ أَجِدْ بُكَاءً تَبَاكَيْتُ لِبُكَائِكُمَا

Ya Rasulullah, sampaikan kepadaku, apa yang membuat anda memangis. Anda dan Abu Bakr. Jika aku menemukan alasan untuk menangis, aku akan menangis. Dan jika aku tidak menemukan alasan itu, aku akan berusaha menangis karena tangisan anda berdua. (HR. Ahmad 213, Muslim 4687 dan yang lainnya)..

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari keinginan Umar untuk berusaha menangis dalam rangka menampakkan kesedihan.

Kedua, hadis dari Ibn Abi Mulaikah

Bahwa beliau pernah duduk bersama sahabat Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, di Hijr. Lallu beliau mengatakan,

ابكوا ، فإن لم تجدوا بكاء فتباكوا ، لو تعلموا العلم لصلَّى أحدكم حتى ينكسر ظهره ، ولبكى حتى ينقطع صوته

Menangislah, jika kalian tidak bisa nangis, berusahalah memaksakan diri untuk nangis. Seandainya kalian mengetahui ilmu, kalian akan mengerjakan shalat hingga punggungnya patah, dan kalian akan menangis hingga suaranya habis. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak 4/622 dan dishahihkan al-Albani dalam shahih at-Targhib)

Seorang ulama mengatakan,

ابكوا من خشية الله فإن لم تبكوا فتباكوا

Menangislah karena takut kepada Allah. Jika tidak bisa nangis, paksakan diri anda untuk nangis. (Zadul Ma’ad, 1/175)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sakit ketika shalat

Orang Pingsan Harus Qadha Shalat?

Apakah orang yang pingsan wajib mengqadha shalatnya? trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Mari kita perhatikan dua hadis berikut,

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يَفِيقَ

Ada 3 orang yang pena catatan amalnya diangkat (tidak ditulis): Orang yang tidur sampai dia bangun, anak kecil samai dia baligh, dan orang gila sampai dia sadar. (HR. Ahmad 1195, Nasai 3445, Turmudzi 1488 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Hadis kedua, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى

Apabila kalian ketiduran atau kelupaan hingga tidak shalat, hendaknya dia kerjakan shalat itu ketika dia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), ‘Tegakkanlah shalat ketika mengingat-Ku.’ (HR. Ahmad 13247, Muslim 1601, dan yang lainnya).

Selanjutnya, ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum bagi orang yang pingsan, berkaitan dengan kewajiban mengqadha shalatnya,

Pertama, Hanafiyah menyatakan, jika pingsannya melebihi sehari semalam, tidak wajib qadha. Sebaliknya, jika kurang dari sehari semalam, wajib qadha. Orang yang pingsan kurang dari sehari semalam, disamakan dengan orang yang tidur. Dia tidak berdosa meninggalkan shalat selama pingsan, namun wajib qadha.

Dalam  kitab Multaqa al-Abhur dinyatakan,

ومن أغميَّ عليه أو جن يوماً وليلة قضى ما فات وإن زاد ساعة لا يقضي وعند محمد يقضي ما لم يدخل وقت سادسة

Orang yang pingsan atau tidak sadar sehari semalam, wajib mengqadha shalat yang dia tinggalkan. Jika pingsannya lebih dari itu, sekalipun hanya lebih 1 jam, tidak wajib mengqadha shalat. Namun menurut Muhammad bin Hasan (murid senior Abu Hanifah), orang pingsan wajib qadha shalat, selama belum masuk waktu shalat keenam. (Multaqa al-Abhur, 1/231).

Yang dimaksud sebelum waktu shalat keenam adalah pingsan selama lebih dari 24 jam, sehingga meninggalkan 5 waktu shalat, namun dia sadar sebelum masuk waktu shalat berikutnya.

Kedua, Malikiyah berpendapat, orang yang pingsan sama sekali tidak wajib mengqadha shalatnya, berapapun jeda waktunnya. Orang yang pingsan disamakan dengan orang yang hilang akal. Sementara orang yang hilang akal, tidak terkena kewajiban syariat. Dalilnya adalah hadis A’isyah di atas.

Ibnu Abdil Bar (w. 463 H) mengatakan,

ولا يقضي المغمى شيئا من الصلوات لأنه ذاهب العقل ومن ذهب عقله عليه في وقت صلاة يدرك منها ركعة لزمه فليس بمخاطب فإن افاق المغمى عليه في وقت صلاة يدرك منها ركعه لزمه قضاءها

Orang yang pingsan, tidak wajib mengqadha shalatnya. karena dia hilang akal. Orang yang hilang akal, selama rentang waktu shalat, berarti dia tidak terkena kewajiban shalat. Jika orang yang pingsan sadar, bisa menyusul satu rakaat sebelum waktu shalat berakhir, dia wajib mengqadhanya. (al-Kafi fi Fiqh Ahli al-Madinah, 1/237).

Ketiga, Syafiiyah sependapat dengan Malikiyah, orang yang pingsan tidak wajib qadha shalat, seberapapun lama dia pingsan.

An-Nawawi mengatakan,

من زال عقله بسبب غير محرم كمن جن أو أغمى عليه أو زال عقله بمرض أو بشرب دواء لحاجة أو اكره علي شرب مسكر فزال عقله فلا صلاة عليه وإذا أفاق فلا قضاء عليه بلا خلاف للحديث سواء قل زمن الجنون والاغماء ام كثر هذا مذهبنا

Orang yang kehilangan akal dengan sebab yang tidak terlarang, seperti orang yang pingsan atau tidak sadar, baik disebabkan sakit atau karena minum obat yang dibutuhkan, atau dipaksa minum khamr, hingga mabuk, maka tidak ada kewajiban shalat baginya. Jika dia sadar, tidak ada kewajiban qadha tanpa ada perbedaan pendapat – di kalangan ulama madzhab – berdasarkan hadis (Aisyah) di atas. Baik pingsannya itu sebentar maupun lama. Inilah madzhab kami (Syafiiyah). (al-Majmu’, 3/6).

Keempat, dalam madzhab hambali, orang yang pingsan wajib qadha, seberapapun lama pingsannya. Analogi orang yang pingsan itu lebih dekat kepada orang tidur dari pada orang gila. Sehingga orang pingsan dihukumi sebagaimana orang tidur. Sementara ditegaskan dalam hadis Anas bin Malik, orang yang tidur wajib mengqadha shalatnya,

Dalam kitab al-Inshaf dinyatakan,

وأما المغمى عليه فالصحيح من المذهب: وجوبها عليه مطلقا نص عليه في رواية صالح وبن منصور وأبي طالب وبكر بن محمد كالنائم وعليه جماهير الأصحاب

Orang yang pingsan, pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, wajib mengqadhanya secara mutlak. Ditegaskan Imam Ahmad menurut riwayat Sholeh, Ibnu Manshur, Abu Thalib, dan Bakr bin Muhammad, sebagaimana orang tidur. Ini merupakan pendapat mayoritas madzhab hambali.

Lebih lanjut, dalam itu dinyatakan,

وأما إذا زال عقله بشرب دواء يعني مباحا فالصحيح من المذهب: وجوب الصلاة عليه وعليه جماهير الأصحاب

Ketika orang tidak sadar, karena minum obat yang hukumnya mubah, pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, wajibnya qadha shalat. Dan ini pendapat mayoritas ulama hambali. (al-Inshaf, 1/277).

Pemilihan Pendapat yang Lebih Kuat

Dari keterangan di atas, ada 3 keadaan manusia,

  1. Gila: tidak ada beban syariat (bukan mukallaf) dan tidak memiliki niat. Sehingga amalnya tidak sah dan jika sadar tidak ada kewajiban qadha.
  2. Tidur: ada beban syariat, karena masih mukallaf. Hanya saja, selama tidur, tidak ada kewajiban baginya. Ketika bangun, dia wajib mengganti ibadah wajib yang dia tinggalkan.
  3. Pingsan: kondisi ketiga ini tidak disebutkan dalam dalil. Sehingga ulama mengqiyaskan kepada dua kondisi di atas. Antara gila yang hilang akal dan tidur yang belum hilang akal. Dan pendapat yang mendekati, pingsan lebih dekat dengan kondisi tidur. Karena orang yang pingsan, tidak kita sebut hilang akal. Sehingga tidak bisa dianalogikan dengan orang gila. Sehingga dia lebih tepat digolongkan dengan orang tidur.

Karena itulah, orang yang pingsan, berkewajiban mengqadha’ semua shalat yang dia tinggalkan, setelah dia sadar.

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

puasa tapi tidak shalat wajib

Shalatlah, Agar Kamu Ingat yang Terlupakan

Ketika itu, dalam posisi sujud, rakaat pertama shalat asar. Tadi pagi ada pesenan, agar membawakan buku x untuk dibawa pulang. Pesanan yang sempat terlupakan selama siang hari. Tiba-tiba melintas, datang dalam ingatan.

Sip… kalau lupa bisa kacau janjiannya.

Bukan teringatnya yang aneh…

Namun, mengapa ingatan semacam ini muncul kembali dalam shalat,

Seolah ada yang sengaja mengingatkanya…

Ternyata dugaan itu tidak salah…, setan mengingatkan ketika shalat…

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نُودِىَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ ، حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ ، يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا ، اذْكُرْ كَذَا . لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ ، حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِى كَمْ صَلَّى

Ketika adzan dikumandangkan, setan menjauh sambil terkentut-kentut, sehingga tidak mendengarkan adzan. Setelah adzan selesai, dia datang lagi. Ketika iqamah dikumandangkan, dia pergi. Setelah selesai iqamah, dia balik lagi, lalu membisikkan dalam hati orang yang shalat: ingat A, ingat B, menngingatkan sesuatu yang tidak terlintas dalam ingatan. Hingga dia lupa berapa jumlah rakaat yang dia kerjakan. (HR. Ahmad 8361, Bukhari 608, Muslim 885 dan yang lainnya).

Subhanallah, terkadang orang mendapat manfaat dalam shalatnya, melalui upaya setan. Meskipun ini merugikan pahala shalatnya.

Fatwa Abu Hanifah

Hadis ini menjadi acuan Imam Abu Hanifah rahimahullah ketika memberikan fatwa kepada orang yang lupa dimana dia menyembunyikan hartanya.

As-Suyuthi  menjelaskan hadis di atas,

ومن هنا استنبط أبو حنيفة للذي شكا إليه أنه دفن مالا ثم لم يهتد لمكانه أن يصلي ويحرص على أن لا يحدث نفسه بشيء من أمور الدنيا ففعل فذكر مكان المال في الحال

Dari hadis ini, Abu Hanifah memberikan kesimpulan untuk menjawab orang yang bertanya kepada beliau, bahwa dirinya telah mengubur hartanya. Sementara dia lupa, di mana dia mengubbur hartanya. Abu Hanifah menasehatkan agar orang ini shalat dan berusaha untuk khusyu, dan tidak memikirkan dunia apapun. Orang inipun mengikuti sarannya Abu Hanifah, dan dia ingat tempat dia mengubur hartanya seketika itu juga. (Tanwir al-Hawalik, hlm. 69).

Shalatlah dengan khusyu, agar anda ingat yang terlupakan…

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat di pesawat

Menentukan Waktu Shalat Ketika Di Pesawat

Assalamu’alaikum, Pak. Ngapunten… Ada teman yang akan berangkat ke amerika. Di jadwal perjalanan tertulis penerbangan :  berangkat 4 Jan 09.20 dari Sing sampai Los Angeles di hari yg sama 4 Jan 11.55 waktu sana (waktu LA 15 jam lebih lambat). Dan sudah ditanyakan kepada yang pernah ke sana bahwa perjalanan ke amerika, entah berangkat atau pulang pasti akan mendapati perjalanan siang/malam terus, pdhal perjalanan 18 jam. Dia bertanya, bagaimana shalatnya : sesuai keadaan matahari (siang terus -zhuhur dan ‘ashr saja) atau tetap 5 waktu dg memperkirakan waktunya?

Faridh

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Pertama, syariat islam memberikan batasan beberapa waktu ibadah, seperti shalat maupun puasa dengan tanda alam yang bisa terindera, yaitu posisi peredaran matahari. Sehingga seorang muslim bisa mengetahui batasan waktu itu dengan dua cara,

1. Melihat langsung tanda alam itu. Allah ajarkan batasan puasa dalam al-Quran,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. al-Baqarah: 187)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan bagaimana menentukan waktu berbuka,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Jika malam telah datang dari arah sini dan waktu siang telah berlalu dari sini, serta matahari telah tenggelam, maka itulah saatnya orang yang shaum boleh berbuka.” (Muttafaq ‘alaih).

2. Cara kedua adalah melalui informasi orang yang terpercaya. Sebagaimana yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum Radhiyallahu ‘anhu, sahabat buta yang menjadi petugas adzan untuk waktu subuh. Karena beliau buta, sehingga beliau baru tahu terbitnya fajar, setelah diberi tahu orang lain. (HR. Bukhari 592)

Praktek masyarakat dengan melihat jadwal shalat kalender, termasuk bentuk penerapan cara kedua. Meyakini datangnya waktu ibadah berdasarkan informasi dari orang yang terpecaya. Termasuk juga terkadang awak pesawat menginformasikan waktu shalat kepada para penumpang.

Kedua, mengingat acuan waktu ibadah shalat kembali kepada posisi matahari, ada perbedaan yang sangat signifikan antara waktu  shalat di darat dengan waktu shalat di atas pesawat. Terutama untuk waktu asar, maghrib, dan subuh. Terkadang di darat, matahari sudah tenggelam. Namun di udara matahari masih bisa terlihat dengan jelas.

Di sinilah yang menjadi titik masalah, apa acuan waktu yang harus digunakan?

Waktu di darat yang lurus dengan posisi pesawatnya berada? Ataukah posisi matahari sebagaimana yang terlihat di pesawat?

Jika kita perhatikan beberapa literatur fiqh masa silam, sebenarnya para ulama telah memberikan keterangan tentang kasus semacam ini. Meskipun di zaman itu belum ada pesawat. Keterangan yang mereka samaikan, terkait kasus orang yang tinggal atas gunung atau orang yang berada di atas menara. Ini artinya, masalah perbedaan waktu ibadah karena perbedaan posisi ketinggian, bukan masalah kontemporer.

Imam al-Kasani (w. 587 H) pernah menukil keterangan dari Imam Abu Abdillah bin Abi Musa ad-Dharir. Bahwa beliau pernah ditanya tentang kasus penduduk Iskandariyah. Kota ini merupakan pelabuhan tua di Mesir dan di sana terdapat mercusuar yang dibangun sekitar tahun 280 SM. Tinggi mercusuar ini sekitar 120 m.

Imam Abu Abdillah ad-Dharir ditanya,

Masyarakat di dataran Iskandariyah melihat matahari telah tenggelam. Sementara mereka yang berada di atas mercusuar baru melihat matahari tenggelam beberapa menit setelah itu.

Jawaban Imam Abu Abdillah,

يحل لأهل البلد الفطر ولا يحل لمن على رأس المنارة إذا كان يرى غروب الشمس؛ لأن مغرب الشمس يختلف كما يختلف مطلعها، فيعتبر في أهل كل موضع مغربه

Dibolehkan bagi penduduk daerah (yang tinggal di darat) untuk berbuka. Namun tidak boleh bagi mereka yang berada di uncak menara, sampai dia telah melihat terbenamnya matahari. Karena waktu terbenamnya matahari berbeda-beda sebagaimana waktu terbitnya matahari juga berbeda. Sehingga masing-masing orang mengikuti waktu terbenamnya sesuai posisinya. (Badai’ as-Shanai’, 2/83)

Dengan mengacu pada keterangan beliau, maka acuan waktu shalat bagi penumpang pesawat adalah posisi matahari sebagaimana yang terlihat di pesawat.

Ketiga, islam memberikan kelonggaran bagi musafir untuk menjamak shalat wajibnya. Sehingga memudahkan mereka dalam menentukan waktu shalat. Karena yang harus mereka perhatikan tinggal 3 waktu:

  1. Waktu shalat subuh: sejak terbit fajar hingga terbenam matahari
  2. Waktu dzuhur dan asar: antara tergelincirnya matahari, hingga terbenam matahari.
  3. Waktu Maghrib dan isya: antara terbenamnya matahari, hingga pertengahan malam.

Musafir dibolehkan melakukan jamak taqdim maupun ta’khir, sesuai dengan keadaannya.

Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِى الْمَغْرِبِ مِثْلَ ذَلِكَ إِنْ غَابَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di Tabuk, apabila beliau melakukan perjalanan setelah matahari tergelincir (telah masuk waktu zuhur), maka beliau menjamak shalat zuhur dan ashar (jamak taqdim). Dan apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan shalat zuhur hingga beliau jamak di waktu ashar. Untuk maghrib juga demikian. Jika matahari tenggelam sebelum beliu berangkat, beliau menjamak antara maghrib dengan isya (jamak taqdim). Dan jika berangkat sebelum matahari tenggelam, beliau akhirkan shalat maghrib, hingga beliau singgah untuk melakukan shalat isya, kemudian beliau menjamaknya dengan maghrib.

(HR. Muslim 6086, Abu Daud 1210, Tirmidzi 556 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Keempat, dilema antara waktu dan tata cara

ada banyak kekurangan ketika orang melakukan shalat di atas kendaraan. Diantaranya, dia tidak bisa shalat sambil berdiri, tidak bisa rukuk dan sujud dengan semurna, terkadang tidak menghadap kiblat, dan bahkan terkadang tidak bisa wudhu, dan hanya tayammum. Sehingga shalat di kendaraan, menyebabkan tata cara shalatnya sangat jauh dari kondisi sempurna.

Berbeda dengan shalat di darat. Dia bisa laksanakan dengan lebih sempurna. Hanya saja waktunya di akhirkan.

Di sinilah musafir dihadapkan pada dua pilihan, pertama, melakukan shalat di awal waktu, namun di atas kendaraan dengan penuh kekurangan. Kedua, menunda waktu shalat namun dia bisa kerjakan secara lebih sempurna.

Anda bisa perhatikan kaidah fiqh berikut untuk menentukan pilihan yang terbaik,

الفضيلة في ذات العبادة مقدمة على الفضيلة في مكان أو وقت العبادة

Menyempurnakan tata cara ibadah lebih didahulukan dari pada mengambil tempat atau waktu yang utama dalam ibadah. (Fawaid ar-Rajihi, 5/4)

Berdasarkan kaidah ini, kita ditekankan untuk memilih opsi kedua, menunda waktu shalat namun dia bisa kerjakan secara lebih sempurna, dengan catatan tidak sampai keluar waktu shalat.

Seperti inilah yang difatwakan Imam Ibnu Utsaimin. Bahkan beliau melarang shalat wajib di pesawat selama masih memungkinkan dikerjakan di darat, karena waktunya belum berakhir, atau bisa dijamak dengan shalat setelahnya.

Dalam Majmu’ Fatawanya, beliau menyatakan,

“Jika masih memungkinkan mendarat sebelum berakhir waktu shalat yang sekarang, atau sebelum berakhir waktu shalat selanjutnya yang memungkinkan untuk dijamak, maka tidak boleh shalat di pesawat karena shalat di pesawat itu tidak bisa menunaikan semua hal wajib dalam shalat. Jika memang demikian keadaannya maka hendaknya menunda shalat hingga mendarat lalu shalat di darat dengan cara yang benar” (Majmu’ Fatawa War Rasa-il, fatwa no.1079).

Sebagai contoh,

Anda yang melakukan perjalanan ke tanah suci, berangkat dari jakarta jam 10.00 WIB, anda akan tiba di Jedah sekitar jam 15.00 waktu Saudi. Dan itu baru masuk waktu shalat asar. Dengan menerapkan keterangan di atas, anda tidak selayaknya melakukan shalat dzuhur dan asar di pesawat. Namun anda bisa tunda hingga mendarat, sehingga bisa melakukan shalat dzuhur dan asar dijamak ta’khir di Jedah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat jumat

Orang yang Boleh Bicara Ketika Jumatan

Assalamualaikum ustad saya seorang tunarungu. apa boleh ketika khotbah sedang ceramah saya berdzikir sedang kan saya gag tau isi ceramahnya…
mohon penjelasannya.

Emre Can

Jawaban:

Wa ‘alaikumus Salam 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Pertama, makmum yang tidak mendengar khutbah imam ketika jumatan, boleh berbicara apapun. Baik karena posisinya yang jauh dari imam, sementara tidak ada pengeras suara, atau karena dia seorang tuna rungu.

Hanya saja, dianjurkan baginya untuk menyibukkan diri dengan dzikir atau membaca al-Quran atau membaca buku agama. Dengan catatan, dia tidak boleh membacanya terlalu keras, sehingga mengganggu orang lain.

Ini merupakan pendapat ulama madzhab hambali dan sebagian syafiiyah.

Al-Mardawi – ulama hambali – mengatakan,

يجوز لمن بعد عن الخطيب ولم يسمعه الاشتغال بالقراءة والذكر خفية وفعله أفضل

Boleh bagi orang yang jauh dari khatib dan dia tidak mendengarkan khutbah, agar dia menyibukkan diri dengan membaca al-Qura atau dzikir dengan pelan. Dan perbuatannya ini lebih baik (dari pada diam saja). (al-Inshaf, 2/294).

Keterangan lain disampaikan al-Buhuti – Ulama hambali –, beliau mengatakan,

فإن كان بعيدا عن الإمام بحيث لا يسمعه لم يحرم عليه الكلام لأنه ليس بمستمع لكن يستحب اشتغاله بذكر الله تعالى والقرآن والصلاة عليه صلى الله عليه وسلم في نفسه واشتغاله بذلك أفضل من إنصاته ويستحب له أن لا يتكلم

Jika dia jauh dari imam, sehingga tidak mendengar khutbah imam, tidak dilarang untuk berbicara. Karena dia bukan mustami’ (pendengar). Hanya saja, dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan berdzikir, membaca al-Quran, atau membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pelan-pelan. Dan itu lebih bagus dari pada dia diam. Dan dianjurkan agar dia tidak ngobrol. (Syarh Muntaha al-Iradat, 1/322)

Kedua, makmum tidak boleh bicara dengan kalam adamiyin (obrolan sesama manusia), artinya selain dzikir atau membaca al-Quran, atau bershalawat, atau membaca buku. Jika tidak, dia harus diam. Ini merupakan pendapat mayoritas Syafiiyah.

Dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, an-Nawawi – ulama syafiiyah – mengatakan,

اما من لا يسمعها لبعده من الامام ففيه طريقان للخراسانيين (احدهما) القطع بجواز الكلام (واصحهما) وهو المنصوص وبه قطع جمهور العراقيين وغيرهم ان فيه القولين فان قلنا لا يحرم الكلام استحب له الاشتغال بالتلاوة والذكر وان قلنا يحرم حرم عليه كلام الادميين وهو بالخيار بين السكوت والتلاوة والذكر هذا هو المشهور وبه قطع الجمهور

Bagi orang yang tidak mendengar khutbah, karena jauh dari imam, di sana ada dua pendapat para ulama khurasan,

Pendapat Pertama, boleh berbicara apapun.

Pendapat kedua, dan ini yang ditegaskan as-Syafii, ini pula yang menjadi pendapat mayoritas ulama Iraq dan yang lainnnya, bahwa di sana ada 2 pendekatan,

Pertama, jika kita mengatakan boleh berbicara apapun, maka dianjurkan baginya untuk sibuk dengan membaca al-Quran dan dzikir.

Kedua, jika kita mengatakan, dia tidak boleh berbicara dengan kalam adamiyin (obrolan manusia), maka dia punya 2 pilihan, antara diam dan membaca al-Quran atau dzikir. Ini pendapat yang lebih masyhur dan ini pendapat mayoritas ulama.

(al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/524).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jika imam shalat salah

Jika Imam Salah Dalam Sholat dan Bangkit ke Rakaat Kelima

Ada kasus: ketika shalat isya, imam bangkit ke rakaat kelima. Makmum sudah mengingatkan, tapi imam tetap lanjut. Apa yang harus dilakukan makmum?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Mari kita simak beberapa fatwa ulama berikut,

Fatwa pertama,

Syaikhul Islam pernah ditanya, ada imam yang bangkit ke rakaat kelima, lalu makmum mengingatkannya dengan bertasbih. Tapi imam tidak merespon peringatan makmum. Dia yakin tidak lupa. Apakah makmum harus ikut berdiri bersama imam ataukah tidak?

Jawaban Syaikhul Islam,

إن قاموا معه جاهلين لم تبطل صلاتهم ، لكن مع العلم لا ينبغي لهم أن يتابعوه ، بل ينتظرونه حتى يسلم بهم ، أو يسلموا قبله ، والانتظار أحسن

Jika makmum ikut berdiri (ke rakaat kelima) bersama imam karena tidak tahu, maka shalatnya tidak batal. Namun jika dia tahu, dia tidak boleh untuk mengikuti imam. Yang dia lakukan adalah menunggu imam, sampai imam salam bersama mereka. Atau dia bisa salam sebelum imam. Akan tetapi, menunggu lebih bagus.

(Majmu’ al-Fatawa, 23/53)

Fatwa kedua,

Fatwa Lajnah Daimah tentang kasus imam lupa, menambahkan jumlah rakaat shalat,

وأما المأموم الذي تيقن أن الإمام زاد ركعة – مثلا- فلا يجوز له أن يتابعه عليها، وإذا تابعه عالماً بالزيادة، وعالماً بأنه لا تجوز المتابعة بطلت صلاته .أما من لم يعلم أنها زائدة فإنه يتابعه، وكذلك من لا يعلم الحكم

Makmum yang yakin bahwa imam menambahkan jumlah rakaat shalatnya, maka makmum tidak boleh mengikuti imam. Jika dia tetap mengikuti padahal dia tahu itu rakaatnya kelebihan, dan dia juga tahu bahwa dalam kasus ini tidak boleh mengikuti imam, maka shalatnya batal. Akan tetapi bagi mereka yang tidak tahu bahwa itu tambahan, maka dia bisa mengikuti imam. Demikian pula mereka yang tidak tahu hukumnya bahwa itu dilarang.

(Majmu’ Fatawa Lajnah Daimah, 7/128)

Dalam fatwanya yang lain, Lajnah Daimah juga mengatakan,

من علم من المأمومين أن إمامه قام ليأتي بركعة زائدة كخامسة في الصلاة الرباعية سبح له، فإن رجع فبها، وإلا جلس وانتظر الإمام حتى يسلم بسلامه

Makmum yang mengetahui bahwa imam menambahi rakaat shalat, misalnya bangkit ke rakaat kelima, maka dia harus membaca tasbih. Jika imam kembali (duduk tasyahud), itu yang diharapkan. Jika imam tidak duduk, dia bisa menunggu imam (dengan duduk tasyahud), kemudian salam bersama imam.

(Majmu’ Fatawa Lajnah Daimah, 7/132)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat tarawih sendiri

Telat Sholat Jama’ah

Assalamu’alaikum.

kalau kita sampai di rumah (setelah perjalanan) pas adzan berakhir, sedangkan perlu untuk mandi/membersihkan diri dahulu, apakah tetap shalat fardhu di mesjid, atau di rumah sehingga tidak lewat waktu.

syukran.

Dari  Andi Nur Gustiana via Tanya Ustadz for Android

Jawab:

Wa alaikumus Salam Wa Rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلاَّهَا وَحَضَرَهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا

Siapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian dia menuju masjid, ternyata dia jumpai jamaah shalat telah selesai, maka Allah akan berikan untuknya seperti pahala orang yang mengikuti shalat jamaah itu dan menghadirinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. (HR. Ahmad 9182, Abu Daud 564, Nasai 863, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Abu Daud membawakan hadis ini dalam sunannya di bawah judul bab,

باب فيمن خرج يريد الصلاة فسبق بها

Tentang orang yang berangkat shalat jamaah, ternyata ketinggalan. (Sunan Abi Daud, 1/221).

Keterangan Hadis:

Kita simak penjelasan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad – pengajar hadis di masjid Nabawi–, beliau mengatakan,

والمراد: أنه يؤجر ويثاب على ذلك؛ لأن إسباغه الوضوء، ثم خروجه من بيته يريد الصلاة لا تخرجه إلا الصلاة يرفع له بكل خطوة يخطوها درجة، ويحط عنه بها خطيئة، فإذا أدرك الناس وصلى معهم حصل ما ذهب إليه، وإن فاتته فإنه على نيته وقصده وحرصه ورغبته، لكن هذا فيما إذا لم يكن ذلك عن تقصير منه وتهاون

Maksud hadis, dia diberi pahala untuk perbuatan yang dia kerjakan. Karena wudhu dengan sempurna, kemudian keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat, niat dia keluar hanyalah untuk shalat, maka Allah akan mengangkat derajatnya bersamaan dengan langkahnya dan Allah hapuskan. Jika dia masih menjumpai jamaah dan shalat bersama mereka, berarti dia mendapatkan tujuan dia berangkat ke masjid. Namun jika dia ketinggalan, maka dia mendapatkan pahala sesuai niatnya, tujuannya, semangatnya, dan harapannya. Namun ini berlaku jika telat itu terjadi bukan karena kesengajaan atau sikap meremehkan. (Syarh Sunan Abi Daud, 3/484).

Memahami keterangan di atas, tidak masalah anda persiapan mandi atau bersih-bersih diri, agar shalat anda lebih sempurna, di samping agar tidak mengganggu orang lain. Semoga Allah menerima amal baik kita.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

9,092FansLike
4,525FollowersFollow
31,432FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN