tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Sholat

puasa tapi tidak shalat wajib

Shalatlah, Agar Kamu Ingat yang Terlupakan

Ketika itu, dalam posisi sujud, rakaat pertama shalat asar. Tadi pagi ada pesenan, agar membawakan buku x untuk dibawa pulang. Pesanan yang sempat terlupakan selama siang hari. Tiba-tiba melintas, datang dalam ingatan.

Sip… kalau lupa bisa kacau janjiannya.

Bukan teringatnya yang aneh…

Namun, mengapa ingatan semacam ini muncul kembali dalam shalat,

Seolah ada yang sengaja mengingatkanya…

Ternyata dugaan itu tidak salah…, setan mengingatkan ketika shalat…

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نُودِىَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ ، حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ ، يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا ، اذْكُرْ كَذَا . لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ ، حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِى كَمْ صَلَّى

Ketika adzan dikumandangkan, setan menjauh sambil terkentut-kentut, sehingga tidak mendengarkan adzan. Setelah adzan selesai, dia datang lagi. Ketika iqamah dikumandangkan, dia pergi. Setelah selesai iqamah, dia balik lagi, lalu membisikkan dalam hati orang yang shalat: ingat A, ingat B, menngingatkan sesuatu yang tidak terlintas dalam ingatan. Hingga dia lupa berapa jumlah rakaat yang dia kerjakan. (HR. Ahmad 8361, Bukhari 608, Muslim 885 dan yang lainnya).

Subhanallah, terkadang orang mendapat manfaat dalam shalatnya, melalui upaya setan. Meskipun ini merugikan pahala shalatnya.

Fatwa Abu Hanifah

Hadis ini menjadi acuan Imam Abu Hanifah rahimahullah ketika memberikan fatwa kepada orang yang lupa dimana dia menyembunyikan hartanya.

As-Suyuthi  menjelaskan hadis di atas,

ومن هنا استنبط أبو حنيفة للذي شكا إليه أنه دفن مالا ثم لم يهتد لمكانه أن يصلي ويحرص على أن لا يحدث نفسه بشيء من أمور الدنيا ففعل فذكر مكان المال في الحال

Dari hadis ini, Abu Hanifah memberikan kesimpulan untuk menjawab orang yang bertanya kepada beliau, bahwa dirinya telah mengubur hartanya. Sementara dia lupa, di mana dia mengubbur hartanya. Abu Hanifah menasehatkan agar orang ini shalat dan berusaha untuk khusyu, dan tidak memikirkan dunia apapun. Orang inipun mengikuti sarannya Abu Hanifah, dan dia ingat tempat dia mengubur hartanya seketika itu juga. (Tanwir al-Hawalik, hlm. 69).

Shalatlah dengan khusyu, agar anda ingat yang terlupakan…

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat di pesawat

Menentukan Waktu Shalat Ketika Di Pesawat

Assalamu’alaikum, Pak. Ngapunten… Ada teman yang akan berangkat ke amerika. Di jadwal perjalanan tertulis penerbangan :  berangkat 4 Jan 09.20 dari Sing sampai Los Angeles di hari yg sama 4 Jan 11.55 waktu sana (waktu LA 15 jam lebih lambat). Dan sudah ditanyakan kepada yang pernah ke sana bahwa perjalanan ke amerika, entah berangkat atau pulang pasti akan mendapati perjalanan siang/malam terus, pdhal perjalanan 18 jam. Dia bertanya, bagaimana shalatnya : sesuai keadaan matahari (siang terus -zhuhur dan ‘ashr saja) atau tetap 5 waktu dg memperkirakan waktunya?

Faridh

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Pertama, syariat islam memberikan batasan beberapa waktu ibadah, seperti shalat maupun puasa dengan tanda alam yang bisa terindera, yaitu posisi peredaran matahari. Sehingga seorang muslim bisa mengetahui batasan waktu itu dengan dua cara,

1. Melihat langsung tanda alam itu. Allah ajarkan batasan puasa dalam al-Quran,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. al-Baqarah: 187)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan bagaimana menentukan waktu berbuka,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Jika malam telah datang dari arah sini dan waktu siang telah berlalu dari sini, serta matahari telah tenggelam, maka itulah saatnya orang yang shaum boleh berbuka.” (Muttafaq ‘alaih).

2. Cara kedua adalah melalui informasi orang yang terpercaya. Sebagaimana yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum Radhiyallahu ‘anhu, sahabat buta yang menjadi petugas adzan untuk waktu subuh. Karena beliau buta, sehingga beliau baru tahu terbitnya fajar, setelah diberi tahu orang lain. (HR. Bukhari 592)

Praktek masyarakat dengan melihat jadwal shalat kalender, termasuk bentuk penerapan cara kedua. Meyakini datangnya waktu ibadah berdasarkan informasi dari orang yang terpecaya. Termasuk juga terkadang awak pesawat menginformasikan waktu shalat kepada para penumpang.

Kedua, mengingat acuan waktu ibadah shalat kembali kepada posisi matahari, ada perbedaan yang sangat signifikan antara waktu  shalat di darat dengan waktu shalat di atas pesawat. Terutama untuk waktu asar, maghrib, dan subuh. Terkadang di darat, matahari sudah tenggelam. Namun di udara matahari masih bisa terlihat dengan jelas.

Di sinilah yang menjadi titik masalah, apa acuan waktu yang harus digunakan?

Waktu di darat yang lurus dengan posisi pesawatnya berada? Ataukah posisi matahari sebagaimana yang terlihat di pesawat?

Jika kita perhatikan beberapa literatur fiqh masa silam, sebenarnya para ulama telah memberikan keterangan tentang kasus semacam ini. Meskipun di zaman itu belum ada pesawat. Keterangan yang mereka samaikan, terkait kasus orang yang tinggal atas gunung atau orang yang berada di atas menara. Ini artinya, masalah perbedaan waktu ibadah karena perbedaan posisi ketinggian, bukan masalah kontemporer.

Imam al-Kasani (w. 587 H) pernah menukil keterangan dari Imam Abu Abdillah bin Abi Musa ad-Dharir. Bahwa beliau pernah ditanya tentang kasus penduduk Iskandariyah. Kota ini merupakan pelabuhan tua di Mesir dan di sana terdapat mercusuar yang dibangun sekitar tahun 280 SM. Tinggi mercusuar ini sekitar 120 m.

Imam Abu Abdillah ad-Dharir ditanya,

Masyarakat di dataran Iskandariyah melihat matahari telah tenggelam. Sementara mereka yang berada di atas mercusuar baru melihat matahari tenggelam beberapa menit setelah itu.

Jawaban Imam Abu Abdillah,

يحل لأهل البلد الفطر ولا يحل لمن على رأس المنارة إذا كان يرى غروب الشمس؛ لأن مغرب الشمس يختلف كما يختلف مطلعها، فيعتبر في أهل كل موضع مغربه

Dibolehkan bagi penduduk daerah (yang tinggal di darat) untuk berbuka. Namun tidak boleh bagi mereka yang berada di uncak menara, sampai dia telah melihat terbenamnya matahari. Karena waktu terbenamnya matahari berbeda-beda sebagaimana waktu terbitnya matahari juga berbeda. Sehingga masing-masing orang mengikuti waktu terbenamnya sesuai posisinya. (Badai’ as-Shanai’, 2/83)

Dengan mengacu pada keterangan beliau, maka acuan waktu shalat bagi penumpang pesawat adalah posisi matahari sebagaimana yang terlihat di pesawat.

Ketiga, islam memberikan kelonggaran bagi musafir untuk menjamak shalat wajibnya. Sehingga memudahkan mereka dalam menentukan waktu shalat. Karena yang harus mereka perhatikan tinggal 3 waktu:

  1. Waktu shalat subuh: sejak terbit fajar hingga terbenam matahari
  2. Waktu dzuhur dan asar: antara tergelincirnya matahari, hingga terbenam matahari.
  3. Waktu Maghrib dan isya: antara terbenamnya matahari, hingga pertengahan malam.

Musafir dibolehkan melakukan jamak taqdim maupun ta’khir, sesuai dengan keadaannya.

Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِى الْمَغْرِبِ مِثْلَ ذَلِكَ إِنْ غَابَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di Tabuk, apabila beliau melakukan perjalanan setelah matahari tergelincir (telah masuk waktu zuhur), maka beliau menjamak shalat zuhur dan ashar (jamak taqdim). Dan apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan shalat zuhur hingga beliau jamak di waktu ashar. Untuk maghrib juga demikian. Jika matahari tenggelam sebelum beliu berangkat, beliau menjamak antara maghrib dengan isya (jamak taqdim). Dan jika berangkat sebelum matahari tenggelam, beliau akhirkan shalat maghrib, hingga beliau singgah untuk melakukan shalat isya, kemudian beliau menjamaknya dengan maghrib.

(HR. Muslim 6086, Abu Daud 1210, Tirmidzi 556 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Keempat, dilema antara waktu dan tata cara

ada banyak kekurangan ketika orang melakukan shalat di atas kendaraan. Diantaranya, dia tidak bisa shalat sambil berdiri, tidak bisa rukuk dan sujud dengan semurna, terkadang tidak menghadap kiblat, dan bahkan terkadang tidak bisa wudhu, dan hanya tayammum. Sehingga shalat di kendaraan, menyebabkan tata cara shalatnya sangat jauh dari kondisi sempurna.

Berbeda dengan shalat di darat. Dia bisa laksanakan dengan lebih sempurna. Hanya saja waktunya di akhirkan.

Di sinilah musafir dihadapkan pada dua pilihan, pertama, melakukan shalat di awal waktu, namun di atas kendaraan dengan penuh kekurangan. Kedua, menunda waktu shalat namun dia bisa kerjakan secara lebih sempurna.

Anda bisa perhatikan kaidah fiqh berikut untuk menentukan pilihan yang terbaik,

الفضيلة في ذات العبادة مقدمة على الفضيلة في مكان أو وقت العبادة

Menyempurnakan tata cara ibadah lebih didahulukan dari pada mengambil tempat atau waktu yang utama dalam ibadah. (Fawaid ar-Rajihi, 5/4)

Berdasarkan kaidah ini, kita ditekankan untuk memilih opsi kedua, menunda waktu shalat namun dia bisa kerjakan secara lebih sempurna, dengan catatan tidak sampai keluar waktu shalat.

Seperti inilah yang difatwakan Imam Ibnu Utsaimin. Bahkan beliau melarang shalat wajib di pesawat selama masih memungkinkan dikerjakan di darat, karena waktunya belum berakhir, atau bisa dijamak dengan shalat setelahnya.

Dalam Majmu’ Fatawanya, beliau menyatakan,

“Jika masih memungkinkan mendarat sebelum berakhir waktu shalat yang sekarang, atau sebelum berakhir waktu shalat selanjutnya yang memungkinkan untuk dijamak, maka tidak boleh shalat di pesawat karena shalat di pesawat itu tidak bisa menunaikan semua hal wajib dalam shalat. Jika memang demikian keadaannya maka hendaknya menunda shalat hingga mendarat lalu shalat di darat dengan cara yang benar” (Majmu’ Fatawa War Rasa-il, fatwa no.1079).

Sebagai contoh,

Anda yang melakukan perjalanan ke tanah suci, berangkat dari jakarta jam 10.00 WIB, anda akan tiba di Jedah sekitar jam 15.00 waktu Saudi. Dan itu baru masuk waktu shalat asar. Dengan menerapkan keterangan di atas, anda tidak selayaknya melakukan shalat dzuhur dan asar di pesawat. Namun anda bisa tunda hingga mendarat, sehingga bisa melakukan shalat dzuhur dan asar dijamak ta’khir di Jedah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat jumat

Orang yang Boleh Bicara Ketika Jumatan

Assalamualaikum ustad saya seorang tunarungu. apa boleh ketika khotbah sedang ceramah saya berdzikir sedang kan saya gag tau isi ceramahnya…
mohon penjelasannya.

Emre Can

Jawaban:

Wa ‘alaikumus Salam 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Pertama, makmum yang tidak mendengar khutbah imam ketika jumatan, boleh berbicara apapun. Baik karena posisinya yang jauh dari imam, sementara tidak ada pengeras suara, atau karena dia seorang tuna rungu.

Hanya saja, dianjurkan baginya untuk menyibukkan diri dengan dzikir atau membaca al-Quran atau membaca buku agama. Dengan catatan, dia tidak boleh membacanya terlalu keras, sehingga mengganggu orang lain.

Ini merupakan pendapat ulama madzhab hambali dan sebagian syafiiyah.

Al-Mardawi – ulama hambali – mengatakan,

يجوز لمن بعد عن الخطيب ولم يسمعه الاشتغال بالقراءة والذكر خفية وفعله أفضل

Boleh bagi orang yang jauh dari khatib dan dia tidak mendengarkan khutbah, agar dia menyibukkan diri dengan membaca al-Qura atau dzikir dengan pelan. Dan perbuatannya ini lebih baik (dari pada diam saja). (al-Inshaf, 2/294).

Keterangan lain disampaikan al-Buhuti – Ulama hambali –, beliau mengatakan,

فإن كان بعيدا عن الإمام بحيث لا يسمعه لم يحرم عليه الكلام لأنه ليس بمستمع لكن يستحب اشتغاله بذكر الله تعالى والقرآن والصلاة عليه صلى الله عليه وسلم في نفسه واشتغاله بذلك أفضل من إنصاته ويستحب له أن لا يتكلم

Jika dia jauh dari imam, sehingga tidak mendengar khutbah imam, tidak dilarang untuk berbicara. Karena dia bukan mustami’ (pendengar). Hanya saja, dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan berdzikir, membaca al-Quran, atau membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pelan-pelan. Dan itu lebih bagus dari pada dia diam. Dan dianjurkan agar dia tidak ngobrol. (Syarh Muntaha al-Iradat, 1/322)

Kedua, makmum tidak boleh bicara dengan kalam adamiyin (obrolan sesama manusia), artinya selain dzikir atau membaca al-Quran, atau bershalawat, atau membaca buku. Jika tidak, dia harus diam. Ini merupakan pendapat mayoritas Syafiiyah.

Dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, an-Nawawi – ulama syafiiyah – mengatakan,

اما من لا يسمعها لبعده من الامام ففيه طريقان للخراسانيين (احدهما) القطع بجواز الكلام (واصحهما) وهو المنصوص وبه قطع جمهور العراقيين وغيرهم ان فيه القولين فان قلنا لا يحرم الكلام استحب له الاشتغال بالتلاوة والذكر وان قلنا يحرم حرم عليه كلام الادميين وهو بالخيار بين السكوت والتلاوة والذكر هذا هو المشهور وبه قطع الجمهور

Bagi orang yang tidak mendengar khutbah, karena jauh dari imam, di sana ada dua pendapat para ulama khurasan,

Pendapat Pertama, boleh berbicara apapun.

Pendapat kedua, dan ini yang ditegaskan as-Syafii, ini pula yang menjadi pendapat mayoritas ulama Iraq dan yang lainnnya, bahwa di sana ada 2 pendekatan,

Pertama, jika kita mengatakan boleh berbicara apapun, maka dianjurkan baginya untuk sibuk dengan membaca al-Quran dan dzikir.

Kedua, jika kita mengatakan, dia tidak boleh berbicara dengan kalam adamiyin (obrolan manusia), maka dia punya 2 pilihan, antara diam dan membaca al-Quran atau dzikir. Ini pendapat yang lebih masyhur dan ini pendapat mayoritas ulama.

(al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/524).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jika imam shalat salah

Jika Imam Salah Dalam Sholat dan Bangkit ke Rakaat Kelima

Ada kasus: ketika shalat isya, imam bangkit ke rakaat kelima. Makmum sudah mengingatkan, tapi imam tetap lanjut. Apa yang harus dilakukan makmum?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Mari kita simak beberapa fatwa ulama berikut,

Fatwa pertama,

Syaikhul Islam pernah ditanya, ada imam yang bangkit ke rakaat kelima, lalu makmum mengingatkannya dengan bertasbih. Tapi imam tidak merespon peringatan makmum. Dia yakin tidak lupa. Apakah makmum harus ikut berdiri bersama imam ataukah tidak?

Jawaban Syaikhul Islam,

إن قاموا معه جاهلين لم تبطل صلاتهم ، لكن مع العلم لا ينبغي لهم أن يتابعوه ، بل ينتظرونه حتى يسلم بهم ، أو يسلموا قبله ، والانتظار أحسن

Jika makmum ikut berdiri (ke rakaat kelima) bersama imam karena tidak tahu, maka shalatnya tidak batal. Namun jika dia tahu, dia tidak boleh untuk mengikuti imam. Yang dia lakukan adalah menunggu imam, sampai imam salam bersama mereka. Atau dia bisa salam sebelum imam. Akan tetapi, menunggu lebih bagus.

(Majmu’ al-Fatawa, 23/53)

Fatwa kedua,

Fatwa Lajnah Daimah tentang kasus imam lupa, menambahkan jumlah rakaat shalat,

وأما المأموم الذي تيقن أن الإمام زاد ركعة – مثلا- فلا يجوز له أن يتابعه عليها، وإذا تابعه عالماً بالزيادة، وعالماً بأنه لا تجوز المتابعة بطلت صلاته .أما من لم يعلم أنها زائدة فإنه يتابعه، وكذلك من لا يعلم الحكم

Makmum yang yakin bahwa imam menambahkan jumlah rakaat shalatnya, maka makmum tidak boleh mengikuti imam. Jika dia tetap mengikuti padahal dia tahu itu rakaatnya kelebihan, dan dia juga tahu bahwa dalam kasus ini tidak boleh mengikuti imam, maka shalatnya batal. Akan tetapi bagi mereka yang tidak tahu bahwa itu tambahan, maka dia bisa mengikuti imam. Demikian pula mereka yang tidak tahu hukumnya bahwa itu dilarang.

(Majmu’ Fatawa Lajnah Daimah, 7/128)

Dalam fatwanya yang lain, Lajnah Daimah juga mengatakan,

من علم من المأمومين أن إمامه قام ليأتي بركعة زائدة كخامسة في الصلاة الرباعية سبح له، فإن رجع فبها، وإلا جلس وانتظر الإمام حتى يسلم بسلامه

Makmum yang mengetahui bahwa imam menambahi rakaat shalat, misalnya bangkit ke rakaat kelima, maka dia harus membaca tasbih. Jika imam kembali (duduk tasyahud), itu yang diharapkan. Jika imam tidak duduk, dia bisa menunggu imam (dengan duduk tasyahud), kemudian salam bersama imam.

(Majmu’ Fatawa Lajnah Daimah, 7/132)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat tarawih sendiri

Telat Sholat Jama’ah

Assalamu’alaikum.

kalau kita sampai di rumah (setelah perjalanan) pas adzan berakhir, sedangkan perlu untuk mandi/membersihkan diri dahulu, apakah tetap shalat fardhu di mesjid, atau di rumah sehingga tidak lewat waktu.

syukran.

Dari  Andi Nur Gustiana via Tanya Ustadz for Android

Jawab:

Wa alaikumus Salam Wa Rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلاَّهَا وَحَضَرَهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا

Siapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian dia menuju masjid, ternyata dia jumpai jamaah shalat telah selesai, maka Allah akan berikan untuknya seperti pahala orang yang mengikuti shalat jamaah itu dan menghadirinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. (HR. Ahmad 9182, Abu Daud 564, Nasai 863, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Abu Daud membawakan hadis ini dalam sunannya di bawah judul bab,

باب فيمن خرج يريد الصلاة فسبق بها

Tentang orang yang berangkat shalat jamaah, ternyata ketinggalan. (Sunan Abi Daud, 1/221).

Keterangan Hadis:

Kita simak penjelasan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad – pengajar hadis di masjid Nabawi–, beliau mengatakan,

والمراد: أنه يؤجر ويثاب على ذلك؛ لأن إسباغه الوضوء، ثم خروجه من بيته يريد الصلاة لا تخرجه إلا الصلاة يرفع له بكل خطوة يخطوها درجة، ويحط عنه بها خطيئة، فإذا أدرك الناس وصلى معهم حصل ما ذهب إليه، وإن فاتته فإنه على نيته وقصده وحرصه ورغبته، لكن هذا فيما إذا لم يكن ذلك عن تقصير منه وتهاون

Maksud hadis, dia diberi pahala untuk perbuatan yang dia kerjakan. Karena wudhu dengan sempurna, kemudian keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat, niat dia keluar hanyalah untuk shalat, maka Allah akan mengangkat derajatnya bersamaan dengan langkahnya dan Allah hapuskan. Jika dia masih menjumpai jamaah dan shalat bersama mereka, berarti dia mendapatkan tujuan dia berangkat ke masjid. Namun jika dia ketinggalan, maka dia mendapatkan pahala sesuai niatnya, tujuannya, semangatnya, dan harapannya. Namun ini berlaku jika telat itu terjadi bukan karena kesengajaan atau sikap meremehkan. (Syarh Sunan Abi Daud, 3/484).

Memahami keterangan di atas, tidak masalah anda persiapan mandi atau bersih-bersih diri, agar shalat anda lebih sempurna, di samping agar tidak mengganggu orang lain. Semoga Allah menerima amal baik kita.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

gambar microfon

Sekilas Tentang Kode Etik Khutbah dan Khatib

Ketika berkhutbah dan tampil sebagai khatib, seorang juru dakwah harus mengikuti aturan yang telah diatur oleh Islam. Aturan itu pada dasarnya diambil contoh sikap dan perbuatan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyampaikan khutbah Jumat. Berikut ini sejumlah kode etik yang perlu diperhatikan ketika menyampaikan khutbah dan berperan sebagai khatib:

1. Khatib seyogyanya beraqidah benar dan lurus, sesuai dengan pemahaman ahlus sunnah wal jamaah dan tidak memiliki pemahaman aqidah yang menyimpang, seperti menyekutukan Allah dengan makhluk dan membatasi nama dan sifat Allah. Selain itu juga, hendaknya ia lebih mendahulukan dalil naqli (Alquran dan sunah) dibandingkan dalil aqli (logika). Jika dalam praktiknya, logika tidak bisa merasionalkan argumentasi Alquran dan sunah, perlu disadari bahwa hal itu terjadi karena kekurangan dan ketidaksempurnaan akal. Bukan karena argumentasi dalil naqli bertentangan dengan logika. Sebab, sangat tidak mungkin, dilihat dari sudut pandang manapun, argumentasi Alquran dan sunah yang sahih bertentangan dengan logika umum.

2. Memiliki kepribadian yang tenang dan berwibawa, mengagungkan tanda-tanda kebesaran dan syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala, memandang larangan dan pelanggaran syariat sebagai perbuatan hina dan tidak terhormat. Selain itu, segala gerak-gerik ibadahnya, mulai dari berdiri, duduk, bergerak, dan diam dilakukan karena Allah. Segala urusannya harus tunduk pada perintah Allah. Hawa nafsunya mengikuti tuntunan yang dicontohkan Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, memaafkan orang yang dimaafkan Allah Subahanahu wa Ta’ala, tidak memutuskan harapan pelaku dosa dari berharap rahmat Allah Subahanahu wa Ta’ala, tidak membiarkan hamba yang patuh merasa aman ujian Allah, menyukai rukhshah (keringanan dalam melaksanakan suatu kewajiban) tanpa meremehkan perintah-perintah Allah, dengan demikian mereka termasuk orang mencintai dan dicintai hamba Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang yang kalian cintai dan ia mencintai kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang yang kalian tidak sukai dan ia juga tidak menyukai kalian.”

3. Memahami dengan baik hukum, syarat, rukun, hal-hal yang membatalkan, tata cara pelaksanaan dan hal-hal yang membuat khutbah dan shalat menjadi sempurna.

4. Menggunakan bahasa baku, fasih bertutur kata, dan pandai mengungkapkan maksudnya agar orang yang mendengarkan pun kagum dan menerima nasihatnya. Seseorang bisa melatih dirinya agar orang tertarik dengan khutbahnya dan tetap menjaga hatinya agar tidak riya’.

5. Menjaga diri agar tidak melakukan kesalahan dalam mengungkapkan kebaikan dari segi sastra, bahasa, ilmiah, dan sejarah. Sehingga orang tidak menuduhnya kaku dalam berdakwah atau memahami penjelasannya dengan pemahaman yang berseberangan.

6. Isi khutbah harus disampaikan dengan jelas, sistematis, terususn rapi dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, lugas, dan diterima oleh semua kalangan, baik yang terpelajar dan awam. Sebab, tujuan khutbah adalah memotivasi jiwa agar taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tentu saja, penyampaian khutbah yang baik mempunyai dampak positif. Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan khutbah, khatib tidak perlu menggunakan peribahasa, ungkapan sastra yang rumit dan bahasa yang tidak lazim.

7. Hendaknya seorang khatib tidak memperpanjang penyampaian khutbah. Hendaknya khutbah disampaikan secara ringkas dan padat, agar para pendengar tidak merasa bosan, benci terhadap ilmu dan tidak mau mendengar kebaikan. Dengan begitu, membuat mereka terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Perlu diingat, ketika menyampaikan nasihat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjaga agar para sahabat tidak sampai merasa bosan dan jemu, seperti dinukil dalam kitab Sahihain (Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim) dari Ibnu Mas’ud.

Imam Az-Zuhri berkata, “Apabila sebuah majelis terlalu panjang, maka setan akan mengambil bagian di dalamnya.”

8. Mengutip hadis-hadis sahih dan menjelaskan maknanya sesuai dengan pemahaman ulama salaf (ulama-ulama salih terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in, dan sesudahnya pen.).

9. Menjaga kemampuan daya tangkap para pendengar dalam memahami pesan yang disampaikan, agar tidak salah paham. Pernah terjadi di zaman Nabi, seorang pria berkhutbah di hadapan nabi dengna menggunakan ungkapan, “Barangsiapa taat dan patuh kepada Allah dan rasul-Nya, maka ia memperoleh petunjuk. Dan barangsiapa mendurhakai (perintah) mereka, maka ia telah sesat.” Mendengar itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Seburuk-buruk khatib adalah kamu. Katakanlah, ‘Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka ia telah sesat’.” Sahabat tersebut menggunakan kata ganti “mereka” sebagai kata ganti yang menunjukkan pada Allah dan rasul-Nya di hadapan hadirin yang kurang paham. Karenanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun menegur dan mengoreksinya agar pendengar yang kurang memahami tidak menganggap kata ganti tersebut bermakna satu, kendati pada dasarnya, orang yang taat kepada rasul, juga berarti taat kepada Allah. Begitu pula sebaliknya, orang yang mendurhakai perintah rasul, berarti ia juga mendurhakai Allah. Karena itu, beliau mengungkapkan, “Seburuk-buruk khatib adalah kamu.” Saat itu, sahabat itu tengah berada dalam masyarakat umum. Beliau menegurnya agar tidak menimbulkan pemahaman yang keliru, wallahu a’lam.

Di samping itu, khatib juga perlu memperhatikan waktu dan mengajukan solusi permasalahan yang sedang dihadapi para pendengar.

10. Tidak merasa khawatir dan takut kepada orang yang mendengar atau orang yang belajar dari pesan yang disampaikan oleh khatib. Seyogyanya seorang khatib merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penyampaiannya dan dalam memberikan informasi hukum yang berkaitan dengan kemaslahatan dunia dan akhirat para jamaah. wallahu a’lam.

11. Seorang khatib hendaknya pandai membagi dan menempatkan isi khutbah dengan baik agar mudah dipahami oleh semua pendengar, baik masyarakat umum maupun kalangan terpelajar. Selain itu, khatib hendaknya selalu menggunakan ungkapan “Amma ba’d” setelah ber-tahmid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebelum menyampaikan pesan takwa yang merupakan sunah yang selalu dilakukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap khutbahnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab “Sahihain” dan kitab-kitab lainnya. Inilah kelebihan yang diberikan Allah kepada Nabi Daud ‘alaihissalam, menurut pendapat sejumlah ahli tafsir.

Dan kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Shaad: 20)

12. Ketika menyampaikan khutbah, khatib selain dianjurkan untuk menyampaikan harapan-harapan yang menimbulkan semangat, hendaknya ia menyampaikan ancaman terhadap perbuatan dosa yang dapat menimbulkan rasa takut dalam diri pendengar. Demikian pula ketika menyampaikan berita gembira, seorang khatib hendaknya menyampaikan peringatan, dalam rangka meniru metodologi Alquran dalam memberikan pendidikan dan bimbingan.

13. Mempersiapkan konsep khutbah dan kerangka pemikiran yang sistematis. Hal ini sebaiknya dilakukan agar ide yang ingin disampaikan dan metode yang digunakan tidak semrawut dan lebih efektif.

14. Tidak memutuskan harapan dan semangat pendengar. Sebaliknya, khatib yang baik semestinya mampu memotivasi dan melahirkan harapan dalam diri pendengar.

15. Selayaknya khutbah dapat mengajak dan menyentuh akal dan hati secara bersama-sama agar mampu mempengaruhi pikiran dan perasaan pendengar.

16. Khatib yang baik seyogyanya memiliki jiwa yang lapang dan murah senyum. Seakan terpancar dari wajahnya aura harapan dan selalu menerima pendapat dan nasihat orang lain. Sebab, seorang Muslim merupakan cermin bagi Muslim yang lain.

17. Selalu bersikap realistis dalam menghadapi setiap permasalahan. Hendaknya ia berusaha mengaitkan masalah itu dengan peristiwa sejarah yang memiliki kesamaan lalu menarik pelajaran dan ibrah dari setiap peristiwa.

18. Memilih topik pembahasan yang baik dan menarik. Hal ini dapat ditempuh dengan menyinggung masalah kekinian dengan memberikan nilai tambah bagi wawasan hadirin.

19. Melantangkan dan mengeraskan suara ketika menyampaikan nasihat. Sebab, inilah tujuan umum yang ingin disampaikan dalam khutbah. Hal ini dipraktikkan langsung oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap khutbahnya. Kala itu, beliau diibaratkan seolah sedang berpesan pada pasukan yang akan maju ke medan laga. Beliau bersabda, “Keselamatan bagi kalian di pagi dan sore hari.”

20. Saat menyampaikan khutbah, lalu seorang khatib menyaksikan sebuah pelanggaran terhadap syariat terjadi, hendaknya ia menghentikan khutbah dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah sesuai dengna kebutuhan saat itu. Karenanya, kemungkaran atau pelanggaran yang terjadi ketika khutbah berlangsung lebih diprioritaskan. Pendapat ini didasarkan pada argumen syariat dan ijma’ (konsensus) ulama, tanpa ada silang pendapat.

Ini pernah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Sulaik Al-Ghathfani masuk ke masjid ketika Nabi sedang berkhutbah. Beliau pun berujar, “Sudahkah engkau shalat dua rakaat?” Sulaik menjawab, “Belum.” Nabi lalu bersabda, “Berdiri dan lakukan shalat dua rakaat

Lebih tegas lagi, suatu ketika Utsman datang terlambat ke masjid ketika sedang berkhutbah. Umar pun menanyakan perihal keterlambatannya. Utsman menjawab, “Saya hanya bisa berwudhu.” Umar berkata, “Dan wudhu juga! Engkau sendiri tahu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk mandi (Jumat).”

Seorang pendengar dalam hal ini, tidak dianjurkan untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, baik dengan ucapan maupun isyarat agar tidak menimbulkan kegaduhan. Juga agar tidak mengganggu konsentrasi khatib dalam menyampaikan khutbahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jika engkau mengatakan kepada temanmu ketika imam sedang berkhutbah: diamlah, maka sungguh engkau telah melakukan perbuatan sia-sia.”

Amar ma’ruf dalam kondisi seperti ini dikategorikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai perbuatan sia-sia (tidak berpahala pen.). Sebab para hadirin dalam majelis Jumat diperintahkan untuk diam. Tak boleh satu orang pun yang boleh berbicara, seperti halnya seseorang yang salat. Perbuatan sia-sia (laghwu) yang dimaksud di sini adalah ucapan yang terlontar dari mulut seseorang dan sudah sewajarnya disikapi dengan tidak mengindahkannya. Tak hanya sebatas ucapan, tapi juga perbuatan pun termasuk dalam kategori ini. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menyentuh batu kerikil, maka ia telah melakukan perbuatan sia-sia.” Maksudnya, perbuatan seperti itu dianggap sia-sia ketika dilakukan dalam shalat karena akan mengganggu kekhusyuan dan konsentrasi.

Perhatikanlah! Meski amar ma’ruf dan nahi munkar adalah perbuatan baik, tapi dalam kondisi seperti ini, seorang pendengar yang melakukannya dinilai telah melakukan perbuatan sia-sia. Sebab, terjadi pada kondisi yang tidak pas dan cocok. Sama halnya dengna larangan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk membaca ayat Alquran ketika ruku dan sujud, menunaikan shalat di waktu-waktu makruh, ketika makanan telah siap disajikan, dan ketika menahan kencing dan buang air besar. Wallahu a’lam.

21. Topik pembahasan yang disampaikan dalam khutbah hendaknya memiliki maksud dan makna yang seirama, dituangkan dalam pemaparan yang menarik dan menggunakan gaya bahasa yang enak didengar. Karena itu, topik pembahasan khutbah yang disampaikan mestinya dapat bermanfaat dan bernilai positif. Dengan begitu, usai mendengarkan khutbah, para pendengar memahami dengan baik topik pembahasan yang disampaikan oleh khatib.

22. Topik pembahasan yang diangkat dalam khutbah seyogyanya berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat umum. Sebab, umumnya, setiap orang memiliki masalah, cita-cita, penderitaan, nasib baik dan buruk. Khutbah yang sukses adalah khutbah yang mampu memberikan solusi terhadap permasalahan hidup yang tengah dihadapi dan menyentuh berbagai permasalahan penting lainnya. Agar khutbah Jumat yang dijadikan Islam sebagai media pembekalan ruhani bagi penganutnya dalam sepekan, dapat berperan penting dalam membangun mentalitas, muatannya seyogyanya mendatangkan solusi penambahan wawasan keilmuan, dan arahan yang bermanfaat bagi urusan agama dan dunia seorang Muslim.

23. Hendaknya khutbah Jumat tidak dijadikan sebagai media propaganda atau tujaun tertentu. Namun, hendaknya hal itu dilakukan ikhlas karena Allah, dalam rangka menegakkan agama, dakwah dan menjunjung kalimat Allah di atas semua ideologi dan isme lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Q.S. Al-Jin: 18)

24. Seorang khatib seyogyanya bersikap zuhud terhadap milik orang lain dan menerima karunia yang diberikan Allah dengan tulus. Dengan demikian, di mata orang lain, ia menjadi sosok mulia dan terhormat, layak dihormati dan dicintai dan terhindar dari segala bentuk pelecehan dari mereka.

25. Mempersiapkan diri dengan menguasai praktik ibadah yang terdiri dari khutbah dan shalat jamaah yang dilaksanakan pada momen-momen tertentu, seperti shalat Idul Fitri, shalat Gerhana (Kusuf atau Khusuf) dan shalat istisqa. Sebab, tidak semua praktik ibadah tersebut, terutama shalat gerhana dapat dilaksanakan dalam ritual ibadah yang sama. Wallahu a’lam.

26. Tidak menjiplak dan meniru gaya maupun metode penyampaian khatib yang lain. Karena pendengar, pada umumnya, akan merasa bosan serta menanggapinya negatif.

27. Memberikan tarbiyah (pendidikan) dan mengadakan perubahan secara bertahap dengan menggunakan metode sesuai dan nasihat yang baik. Hendaknya ia mengawali dakwah dengan memprioritaskan perbaikan aqidah terlebih dahulu.

28. Hendaknya seorang khatib tidak hanya pandai mendiagnosa penyakit atau fenomena penyimpangan masyarakat. Tapi ia juga mampu memberikan obat atau solusi terhadap setiap penyakit sosial yang menjangkiti masyarakat.

Sumber: 33 Kesalahan Khotib Jumat, Su’ud bin Malluh bin Sulthan Al-‘Unazi, Pustaka at-Tazkia, 2006

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sholat dengan aurot terbuka

Terbuka Aurat Ketika Sholat

Ustad,

  • Bagaimana jika ketika sholat, tiba-tiba aurat kita terbuka, misal terkena terpaan angin atau tersingkap karena gerakan sholat …?
  • Saya pernah sholat sampai selesai dengan sempurna, namun tatkala sudah selesai saya menemukan kain sarung saya ada lubang di paha, sehingga aurat terbuka saat sholat tanpa saya ketahui, saya mengulangi shalat saya, apakah ini benar …?

Dari Angga

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Para ulama memberikan rincian, ada 2 keadaan mengenai terbukanya aurat ketika shalat,

Pertama, terbuka hingga sampai pada batas yang sangat memalukan (Fuhsyul Inkisyaf). Misalnya terlihat sebagian aurat besar, terlihat sedikit bagian kemaluan, atau terlihat paha namun lebar dan dibiarkan lama.

Standar terlihat aurat sangat memalukan (Fuhsyul Inkisyaf) berbeda-beda antara lelaki dan wanita. Juga berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Bisa jadi di sebagian daerah, terlihat perut bagian bawah pusar bagi lelaki, belum termasuk sangat memalukan. Sementara terlihat bagian dada bagi wanita, sudah sangat memalukan.

Kedua, kebalikan dari yang pertama, terbuka aurat namun tidak memalukan (Yasirul Aurah). Misalnya terlihat sebagian kecil panggul bagian bawah bagi lelaki, yang ini bisa kita saksikan ketika seorang lelaki di posisi sujud dengan kaos agak pendek. Atau tersingkap sebagian betis bagi wanita. Atau terlihat aurat yang lebar namun segera ditutup.

Mari kita simak beberapa keterangan ulama berikut,

Keteragan Syaikhul Islam,

يعفى عن يسير العورة قدرا أو زمانا، فلو انكشف منها يسير ـ وهو ما لا يفحش في النظر ـ في جميع الصلاة، أو كشفت الريح عورته فأعادها بسرعة، أو انحل مئزره فربطه لم تبطل صلاته، وسواء في ذلك العورة المغلظة والمخففة

Aurat yang ringan, baik karena hanya terlihat sedikit atau karena waktunya hanya sebentar, dan ini tidak memalukan, jika terbuka sepanjang shalat atau aurat terbuka karena angin, kemudian dia segera menutupinya, atau sarungnya melorot, lalu segera dibenahi, maka shalatnya tidak batal. Baik itu terjadi pada aurat besar maupun aurat kecil. (Syarh al-Umdah, hlm. 343)

Abdurrahman al-Ba’li – ulama hambali – mengatakan,

من انكشف بعض عورته وهو في الصلاة وفحش الانكشاف إن طال الزمن ولو بلا قصد أعاد الصلاة، لا إن انكشف يسير منها لا يفحش في النظر بلا قصد ولو في زمن طويل، ولا إن انكشف كثير منها في زمن قصير

Orang yang terbuka sebagian auratnya ketika shalat, dan sangat memalukan untuk dilihat, jika dibiarkan dalam waktu lama, dia wajib mengulangi shalatnnya meskipu tanpa sengaja. Namun jika terbuka sebagian kecil auratnya yang tidak memalukan dilihat, dan itu di luar kesengajaan, meskipun dibiarkan lama, shalatnya tidak batal. Demikian pula jika terbuka lebar auratnya, namun langsung dia tutup, shalatnya juga tidak batal. (Kasyful Mukhadirat, 1/116).

Stadar besar kecilnya aurat, memalukan dan tidaknya ketika terbuka aurat, kembali kepada urf (penilaian masyarakat muslim). Al-Mardawi menjelaskan,

قَدْرُ الْيَسِيرِ ما عُدَّ يَسِيرًا عُرْفًا، على الصَّحِيحِ من الْمَذْهَبِ. وقال بَعْضُ الْأَصْحَابِ: الْيَسِيرُ من الْعَوْرَةِ ما كان قَدْرَ رَأْسِ الْخِنْصَرِ. وَجُزِمَ بِهِ في الْمُبْهِجِ

Ringan beratnya aurat, berdasarkan penilaian masyarakat, menurut pendapat yang kuat dalam madzhab hambali. Sebagian ulama hambali mengatakan, terbuka aurat yang ringan, jika yang terbuka hanya seujung kelingking. Dan ini ditegaskan dalam kitab al-Mubhij. (al-Inshaf, 1/322).

Syaikhul Islam juga menjelaskan,

حد اليسير ما لا يفحش في النظر في عرف الناس وعادتهم إذ ليس له حد في اللغة ولا في الشرع، وإن كان يفحش من الفرجين ما لا يفحش من غيرهما

Terbuka ringan, jika tidak memalukan menurut penialain masyarakat. karena dalam masalah ini tidak ada batas secara bahasa maupun dalam syariat. Sebagaimana sangat memalukan jika terlihat dua kemaluan yang tidak melebihi jika terlihat bagian lainnya. (Syarh al-Umdah, hlm. 343)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat satu sarung berdua anak ITB

Shalat Satu Sarung Berdua

Apa hukum shalat satu sarung berdua?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Konsekuensi memakai satu pakaian berdua, bagian aurat seseorang akan terlihat oleh temannya. Sementara kita dilarang melihat aurat orang lain, meskipun sama jenis kelaminnya.

Dari Abu Said al-Kudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ

Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya, jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya. Dan janganlah seorang lelaki memakai satu kain bersama dengan lelaki lainnya, dan jangan pula seorang wanita memakai satu kain bersama dengan wanita lainnya. (HR. Muslim 794, Abu Daud 4020, dan Turmudzi 3023)

An-Nawawi menjelaskan hadis ini,

وأما قوله صلى الله عليه وسلم ولايفضي الرجل إلى الرجل في ثوب واحد وكذلك في المرأة مع المرأة فهو نهي تحريم اذا لم يكن بينهما حائل وفيه دليل على تحريم لمس عورة غيره بأي موضع من بدنه كان وهذا متفق عليه

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “janganlah seorang lelaki memakai satu kain bersama dengan lelaki lainnya” demikian pula antar sesama wanita, merupakan larangan yang hukumnya haram. Apabila tidak ada kain pembatas antara keduannya. Hadis ini juga dalil, haramnya menyentuh aurat orang lain di bagian manapun dari badannya, dan ini disepakati ulama. (Syarh Shahih Muslim, 4/31)

Shalat Satu Sarung Berdua

Salah satu syarat sah shalat adalah menutup aurat. Ketika ada dua orang memakai satu sarung, berarti ada bagian auratnya yang tidak tertutup dari temannya. Sehingga belum dianggap menutup aurat.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

ستر العورة شرط من شروط صحة الصلاة، فلا تصح الصلاة إلا بسترها، وقد اتفق الفقهاء على بطلان صلاة من كشف عورته فيها قصدا، واختلفوا فيما لو انكشفت بلا قصد متى تبطل صلاته

Menutup aurat termasuk salah satu syarat shalat. Shalat tidak sah kecuali dengan menutup aurat. Ulama sepakat, batalnya shalat seseorang yang membuka auratnnya dengan sengaja. Dan mereka berbeda pendapat, jika ada bagian aurat yang terbuka karena tidak sengaja. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, volume 27, hlm. 128).

Dan kita bisa memastikan, dalam kasus ini dilakukan secara sengaja.

Allahu a’lam.

Keterangan: Foto adalah oknum anak ITB yang menggunakan satu sarung berdua, yang kini menjadi perbincangan di sosial media

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

ucapan imam ketika meluruskan shaf shalat

Ketika Imam Batal di Tengah Shalat

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada dua cara yang bisa dilakukan makmum, jika imam batal di tengah shalat,

Pertama, dia membatalkan shalat, keluar dari jamaah, dan menunjuk salah seorang di belakangnya untuk menggantikan posisinya sebagai imam hingga shalat selesai.

Dalil masalah ini adalah peristiwa yang dialami Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau ditusuk oleh orang Iran, Abu Lukluk al-Majusi.

Amr bin Maimun menceritakan,

إني لقائم ما بيني وبين عمر – غداة أصيب – إلا عبد الله بن عباس، فما هو إلا أن كبر فسمعته يقول: قتلني أو أكلني الكلب حين طعنه، وتناول عمر عبد الرحمن بن عوف فقدمه فصلى بهم صلاة خفيفة

Di pagi peristiwa penusukan itu, aku berdiri (di shaf kedua, pen.), dan tidak ada orang antara aku dengan Umar, selain Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau bertakbir memulai shalat, kemudian saya mendengar beliau mengatakan, ‘Ada anjing yang menggigitku.’ ketika beliau ditusuk. Lalu Umar menarik Abdurrahman bin Auf untuk maju, dan beliau mengimami para sahabat dengan shalat yang ringan. (HR. Bukhari 3700, dan Ibn Hibban 6917)

Tindakan Umar ini dilakukan di depan para sahabat dan tidak ada satupun yang mengingkarinya, sehingga dihukumi sebagai kesepakatan mereka. As-Syaukani menjelaskan hadis Umar,

وفيه جواز الاستخلاف للإمام عند عروض عذر يقتضي ذلك، لتقرير الصحابة لعمر على ذلك، وعدم الإنكار من أحد منهم فكان إجماعاً، وكذلك فعل علي وتقريرهم له على ذلك

Hadis ini menjadi dalil  bahwa imam boleh menunjuk penggantinya, ketika dia mengalami udzur yang mengharuskan dia meninggalkan shalat. Karena sikap para sahabat yang menyetujui praktek Umar ketika itu, tanpa ada penginngkaran seorangpun dari mereka, sehingga statusnnya ijma’. Demikian pula yang dilakukan Ali dan persetujuan (Nailul Authar, 3/215).

Dalil yang lain adalah peristiwa yang dialami Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau ditusuk seorang teroris (khawarij), Abdurrahman bin Muljim al-Maradi. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ditusuk ketika menjadi imam shalat subuh pada saat berdiri dari sujud.

Kata Abu Razin,

صلى علي رضي الله تعالى عنه ذات يوم فرعف ، فأخذ بيد رجل فقدمه ثم انصرف

Pada suatu hari, Ali Radhiyallahu ‘anhu shalat mengimami jamaah, lalu beliau mengeluarkan darah. Beliau langsung menarik tangan seseorang agar dia maju, kemudian Ali mundur. (HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf 3670)

Kedua, imam membatalkan shalat dan tidak menunjuk pengganti. Kemudian masing-masing makmum shalat sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i dan Imam Ahmad.

Keterangan Imam Ahmad yangmenjelaskan dua cara ketika imam batal,

إن استخلف الإمام فقد استخلف عمر وعليّ، وإن صلوا وحداناً فقط طُعن معاوية وصلى الناس وحداناً من حيث طعن أتموا صلاتهم

Jika imam menunjuk ganti, ini pernah dilakukan oleh Umar dan Ali Radhiyallahu ‘anhuma. Dan jika makmum menyelesaikan shalat sendiri-sendiri, ini pernah terjadi pada Muawiyah ketika (beliau jadi imam shaat subuh), beliau ditusuk, lalu para makmum shalat sendiri-sendiri, hingga mereka menyelesaikan shalatnya. (Muntaqa al-Akhbar, Abul Barakat, setelah hadis no. 1455)

Allahu a’lam..

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mendoakan jenazah

Cara Shalat Jenazah di Kuburan

Assalamualaikum….

bagaimana tata cara jika sholat jenazah dilakukan di makam krn terlambat u/ mengikutinya secara berjamaah di masjid atau dirumah duka syukron atas tanggapannya

Dari Wardi Wahid via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dalam masalah shalat jenazah di kuburan, terdapat bebebrapa hadis yang secara makna tekstualnya bertentangan.

Pertama, Hadis-hadis yang melarang shalat di kuburan.

Hadis dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأرض كلّها مسجد إلاّ المقبرة والحمّام

Bumi, semua bisa dijadikan tempat shalat, kecuali kuburan dan kamar mandi. (HR. Ahmad 12104, Abu Daud 492, Turmudzi 317, dan dishahihkan al-Albani dalam al-Irwa)

Kemudian, hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نهى عن الصلاة بين القبور

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat di kuburan. (HR. Al-Bazzar 441 dan dishahihkan al-Albani dalam Ahkam al-Janaiz).

Dalam riwayat lain dari Abu Martsad al-Ghanawi, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تصلوا إلى القبور ولا تجلسوا عليها

“Jangan shalat menghadap kuburan dan jangan duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim 972, Nasai 760, dan yang lainnya).

Hadis-hadis di atas bersifat umum, kita dilarang untuk melakukan shalat di kuburan, apapun bentuk shalatnya, tak terkecuali shalat jenazah. Karena shalat jenazah, sekalipun tidak ada rukuk dan sujudnya, namun ibadah ini disebut dengan nama ‘shalat’.

Kemudian, khusus shalat jenazah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melaarang di lakukan di tengah-tengah kuburan. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أنّ النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يصلى على الجنائز بين القبور

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat jenazah di sekitar kuburan. (HR. Thabrani dalam al-Wasith 5631, dan dihasankan al-Haitsami dalam Majma az-Zawaid).

Kedua, Hadis-hadis yang membolehkan shalat jenazah di kuburan.

Disamping beberapa hadis yang melarang, terdapat beberapa hadis yang menegaskan boleh melakukan shalat jenazah di kuburan. Diantaranya,

Hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

Bahwa ada orang yang meninggal dan dimakamkan para sahabat di malam hari tanpa mengabari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ketika sakit, orang ini sering dijenguk oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di pagi harinya, mereka baru memberitahu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Mengapa kalian tidak memberi tahu saya?” tanya beliau.

“Malam hari, gelap. Kami khawatir akan merepotkan anda.” Jawab sahabat.

Ibnu Abbas melanjutkan ceritanya,

فأتى قبره، فصلى عليه، قال: فأمّنا،وصفّنا خلفه، وأنا فيهم، وكبّر أربعا

Lalu beliau mendatangi kuburannya, dan menshalatinya. Kami menjadi makmum dan membentuk shaf di belakang beliau. Saya termasuk diantara mereka dan beliau bertakbir 3 kali. (HR. Ibn Majah 1530, al-Baihaqi dalam as-Sunan, dan dishahihkan al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil).

Kemudian, hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

Bahwa ada seorang wanita hitam yang tinggal di dalam masjid, menjadi tukang sapu masjid. Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencarinya. Para sahabat memberi tahu bahwa beliau sudah meninggal.

“Mengapa kalian tidak memberi tahu saya.” Tanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seolah para sahabat menganggap orang ini biasa saja .

“Tunjukkan kepadaku, di mana kuburannya.” Pinta beliau.

Kemudian beliau mendatangi kuburannya dan shalat jenazah di sana. Lalu beliau bersabda,

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ

Kuburan ini dipenuhi dengan kegelapan bagi penghuninya. Kemudian Allah ta’ala meneranginya dengan shalatku untuk mereka. (HR. Bukhari 460, dan Muslim 2259).

Berdasarkan beberapa hadis di atas, ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat jenazah di kuburan. Berikut penjelasannya,

Pertama, shalat jenazah di kuburan tidak sah. Ini merupakan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad. (al-Inshaf, 1/490).

Kedua, shalat jenazah di kuburan hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. (Badai as-Shana’i 1/320, Bidayatul Mujtahid 1/410, al-Majmu’ 5/231, al-Inshaf, 1/490).

Dua pendapat ini berdalil dengan beberapa hadis yang melarang shalat di kuburan dan secara khusus, larangan melakukan shalat jenazah di kuburan.

Ketiga, shalat jenazah di kuburan, jika ada sebab, hukumnya dibolehkan. Ini merupakan pendapat sebagaian Hanafiyah (al-Fatawa al-Hindiyah, 1/165), sebagian Malikiyah (Bidayatul Mujtahid, 1/410), mayoritas ulama hambali (al-Mughni, 3/423), dan Zahiriyah (al-Muhalla, 4/32).

Dari ketiga pendapat ini, yanng lebih mendekati kebenaran adalah pendapat ketiga, bahwa shalat jenazah di kuburan hukumnya diperbolehkan. Diatara alasannya,

Pertama, semua praktek Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa shalat jenazah di kuburan yang beliau lakukan bersama para sahabat menjadi pengecualian terhadap larangan dalam beberapa hadis di atas. Sehingga kita bisa mengamalkan semua hadis, dengan memposisikan masing-masing sesuai porsinya. Hadis yang melarang shalat di kuburan dipahami semua shalat selain shalat jenazah. Sementara praktek beliau shalat jenazah di kuburan dipahami sebagai pengecualian.

Pemahaman semacam ini sesuai kaidah:

إعمال الكلام أولى من إهماله

Mengamalkan hadis, lebih didahulukan dari pada membuangnya.

Ketika kita berpendapat bahwa shalat jenazah di kuburan hukumnya terlarang, konsekuensinya, kita akan meniadakan semua hadis yang membolehkan shalat jenazah di kuburan.

Kedua, sementara hadis dari Anas bin Malik, bahwa ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat jenazah di sekitar kuburan’,

Hadis ini memiliki beberapa redaksi, diantaranya umum, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat di antara kuburan, tanpa ada tambahan kata ‘jenazah’. Dan inilah riwayat yang umum. Sementara tambahan kata jenazah ‘melarang shalat jenazah’ adalah riwayat yang ganjil, menyelisihi umumnya riwayat lainnya. (at-Taqrib hlm. 169).

Ketiga, Praktek para sahabat

Beberapa sahabat shalat jenazah di kuburan. Ini menunjukkan bahwa mereka memahami praktek Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil bahwa itu diperbolehkan.

Nafi – ulama tabi’in muridnya Ibnu Umar – menceritakan,

لقد صلينا على عائشة وأم سلمة وسط البقيع بين القبور، والإمام يوم صلينا على عائشة أبو هريرة وحضر ذلك ابن عمر

Kami pernah menshalati jenazah Aisyah dan Ummu Salamah di tengah pemakaman Baqi’ di antara kuburan. Yang menjadi imam adalah Abu Hurairah, dan dihadiri Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhum. (HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf no. 6570)

Demikian, Allahu a’lam.

Tata Cara Shalat Jenazah di Kuburan

Mengenai tata cara shalat jenazah di kuburan, sama persis dengan cara shalat jenazah pada umumnya.

Referensi:

  • Majalah Buhuts al-Islami, volume 80, edisi Dzulqa’dah-Shafar (caturwulan), 1427 H.
  • Situs resmi Dr. Muhammad Ali Farkus: http://ferkous.com/site/rep/Be1.php
  • Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 11238

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,238FansLike
3,915FollowersFollow
30,015FollowersFollow
61,364SubscribersSubscribe

RAMADHAN