tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Sholat

gambar anak kecil shalat

Jika Anak Nangis Saat Shalat

Kalau kita lagi shalat jamaah, kemudian anak nangis, bolehkah membatalkan shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya, ketika seorang muslim telah mulai shalat, dia tidak boleh membatalkannya kecuali karena udzur. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu membatalkan amal-amalmu (QS. Muhammad: 33)

Allah melarang kita membatalkan amalan kita, diantara maknanya adalah fisik amalan yang kita lakukan.

Kemudian ulama menyebutkan, ada beberapa keadaan, dimana kita dibolehkan membatalkan shalat, diantaranya,

  1. Kekhawatiran terhadap keselamatan diri sendiri, misalnya karena ada serangan manusia atau binatang atau karena gempa, atau lainnya
  2. Kekhawatiran terhadap keselamatan harta, misalnya, ada orang yang mengambil barang kita.
  3. Menyelamatkan orang lain yang butuh pertolongan segera. Misalnya, seorang dokter diminta untuk melakuka tindakan darurat terhadap pasien.

Dan ada kondisi di mana kita dianjurkan membatalkan shalat, misalnya karena keinginan untuk buang angin.

(Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/654).

Jika kita simpulkan, pada prinsipnya orang boleh membatalkan shalat karena udzur terkait keselamatan diri sendiri, harta, atau orang lain, dan terkait kekhusyuan shalat, seperti membatalkan shalat karena keinginan untuk buang hajat.

Sementara untuk ancaman yg bisa diatasi tanpa harus membatalkan shalat, maka kita tidak perlu membatalkan shalat.

Lajnah Daimah ditanya tentang hukum membatalkan shalat karena ada kalajengking. Dan membatalkan shalat di masjidil haram agar bisa memanggil anak yang hampir hilang.

Jawaban Lajnah,

إن تيسر له التخلص من العقرب ونحوها بغير قطع الصلاة فلا يقطعها ، وإلا قطعها ، وكذلك الحال في ولده إن تيسر له المحافظة على ولده دون قطع الصلاة فعل ، وإلا قطعها

Jika memungkinkan untuk menghindari kalajengking itu tanpa membatalkan shalat, maka sebaiknya tidak dibatalkan. Jika tidak memungkinkan, maka dia batalkan. Demikian pula terkait keadaan anaknya, jika memungkinkan untuk menjaga anaknya tanpa harus membatalkan shalat, maka jangan batalkan shalat. Namun jika tidak memungkinkan, dia bisa batalkan shalatnya. (Fatwa Lajnah Daimah, 8/36)

Dari sini kita bisa mendekati kasus anak yang menangis.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

إن بكى الطفل وتعذَّر إسكاته من قبَل أبيه أو أمه في صلاة الجماعة : فيجوز أن يقطعا الصلاة لإسكاته خشيةً أن يكون بكاؤه من ضرر أصابه ؛ وخشيةً من تضييع الصلاة على أهلها بالتشويش عليهم

Jika ada anak yang menangis, dan tidak memungkinkan untuk didiamkan orng tuanya ketika shalat jamaah, maka boleh bagi ortunya membatalkan shalat untuk mendiamkan anaknya, karena dikhawatirkan tangisan itu disebabkan sesuatu yang membahayakan dirinya, serta dikhawatirkan akan mengganggu kekhusyuan shalatnya. (Fatwa Islam, no. 75005)

Kemudian, jika shalatnya hampir selesai, dan memungkinkan untuk membiarkan anak menangis hingga shalat selesai, maka sebaiknya tidak dibatalkan. Dan dianjurkan bagi imam untuk tidak memperlama shalatnya, jika ada kejadian yang membuat makmum harus segera menyelesaikan shalatnya.

Musthofa ar-Ruhaibani mengatakan,

ويسن للإمام تخفيف الصلاة إذا عرض لبعض مأمومين في أثناء الصلاة ما يقتضي خروجه منها كسماع بكاء صبي , لقوله صلى الله عليه وسلم : ( إني لأقوم في الصلاة وأنا أريد أن أطول فيها , فأسمع بكاء الصبي , فأتجوز فيها مخافة أن أشق على أمه ) رواه أبو داود

Dianjurkan bagi imam untuk meringankan shalat ketika ada satu kejadian yang menyebabkan sebagian makmum harus segera menyelesaikan shalatnya. seperti mendengar tangisan bayi. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ketika saya sedang shalat, saya ingin memperlama shalatku. Lalu aku mendengar tangisan bayi, sehingga aku meringankan shalatku, karena khawatir akan merepotkan ibunya.” Riwayat Abu Daud. (Mathalib Uli an-Nuha, 1/641).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat jumat

Berapa Jumlah Minimal Jama’ah Jum’atan?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama sepakat bahwa jumatan harus dilakukan secara berjamaah. Tidak sah ketika ada orang yang jumatan seorang diri.

An-Nawawi mengatakan,

أجمع العلماء على أن الجمعة لا تصح من منفرد , وأن الجماعة شرط لصحتها

Para ulama sepakat bahwa jumata tidak sah dikerjakan sendirian. Berjamaah merpakan syarat sahnya jumatan. (al-Majmu’, 4/504)

Hanya saja, mereka berbeda pendapat mengenai batas minimal jumlah jamaah ketika jumatan, agar dihukumi sah. Ibnu Rusyd mengatakan,

اتفق الكل على أن من شرطها الجماعة , واختلفوا في مقدار الجماعة

Semua sepakat bahwa bagian dari syarat sah jumatan adalah berjamaah. Namun mereka berbeda pendapat tentang jumlah minimal jamaah. (Bidayah al-Mujtahid, 1/158)

Kita akan sebutkan beberapa pendapat yang masyhur dalam masalah ini,

Pertama, jumlah minimal jamaah jumatan adalah 40 orang.

Ini merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafiiyah.

An-Nawawi mengatakan,

لا تصح الجمعة إلا باربعين رجلا بالغين عقلاء احرارا مستوطنين للقرية أو البلدة التى يصلي فيها الجمعة لا يظعنون عنها

Tidak sah jumatan kecuali yang dihadiri 40 lelaki yang telah baligh, berakal, merdeka, menetap di sebuah kampung atau kota yang di sana dilaksanakan jumatan, dan tidak nomaden. (al-Majmu’, 4/502).

Ini juga pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat yang masyhur.

Ibnu Qudamah mengatakan,

أما الأربعون فالمشهور في المذهب أنه شرط لوجوب الجمعة وصحتها؛  وروي ذلك عن عمر بن عبد العزيز و عبيد الله بن عبد الله بن عتبة وهو مذهب مالك و الشافعي

Tentang jumlah 40 orang, yang masyhur dalam madzhab hambali, jumlah ini merupakan syarat wajib dan syarat sahnya jumatan. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz, Ubaidillah bin Uthbah, dan merupakan pendapat Malik dan as-Syafii. (al-Mughni, 2/171).

Diantara dalil pendapat ini adalah hadis dari Abdurrahman, putra sahabat Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan,

Ketika ayahku sudah tua dan hilang penglihatannya, aku bertugas mengantarkan beliau pergi jumatan. Setiap kali beliau mendengar adzan jumat, beliau mendoakan kebaikan untuk As’ad bin Zurarah. Suatu ketika aku tanyakan hal itu,

“Wahai ayahku, mengapa anda setiap kali mendengar adzan, anda mendoakan As’ad bin Zurarah?”

Jawab Ka’ab bin Malik,

Wahai anakku, beliau adalah orang pertama yang mengimami kami shalat jumat sebelum kedatangan hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah.

Aku bertanya, “Berapa jumlah kalian ketika itu?”

Jawab Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu, “40 orang.”

(HR. Ibnu Majah 1135, dan dihasankan al-Albani)

Mereka memahami bahwa jumatan  memiliki batas bilangan. Sementara untuk mengetahui batas itu, dikembalikan kepada dalil. Dan dalil yang paling shahih tentang batas peserta jumatan adalah hadis  dari Ka’ab bin Malik. Karena itu, tidak boleh mengadakan jumatan dengan jamaah yang kurang dari 40 orang.

(al-Majmu’, 4/504).

Sanggahan

Para ulama yang tidak sepakat dengan pendapat ini mengatakan bahwa dalil ini shahih, namun sama sekali tidak menunjukkan bahwa jumlah minimal peserta jumatan adalah 40 orang. Diantaranya Imam as-Syaukani.

Beliau menjelaskan bahwa  jumlah 40 orang dalam peristiwa jumatan pertama itu, hanya waq’atul ain, kejadian yang sifatnya kebetulan. Karena jumlah itu bukan dari kesepakatan atau ketentuan yang mereka buat. Kebetulan, ketika jumatan pertama itu digelar, jumlah pesertanya 40 orang. Sehingga angka ini tidak bisa jadi dalil.

Bagian dari kaidah dalam Ushul Fiqh dinyatakan bahwa Waq’atul Ain (kejadian yang sifatnya kasuistik), tidak bisa jadi acuan dalil. (Nailul Authar, 3/283).

Kedua, syarat sah jumatan harus dilakukan oleh sejumlah orang yang bisa memenuhi syarat untuk terbentuknya satu kampung. Sehingga tidak ada angka tertentu. Tidak boleh hanya dengan 3 orang atau 4 orang, karena jumlah ini belum memenuhi syarat disebut satu kampung.

Ini pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyah.

Ibnu Rusyd mengatakan,

ولا يجوز بالثلاثة والأربعة وهو مذهب مالك وحدهم بأنهم الذين يمكن أن تتقرى بهم قرية

Tidak boleh mengadakan jumatan hanya dengan 3 atau 4 orang. Dan ini pendapat Imam Malik. Batasannya adalah jumlah mereka memungkinkan untuk terbentuk sebuah kampung. (Bidayatul Mujtahid, 1/159).

Pendapat ini yang dinilai kuat oleh as-Suyuthi (al-Hawi li al-Fatawa, 1/66) dan as-Syinqithi (Adhwaul Bayan, 6/385).

Dalil pendapat ini adalah firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.. (QS. al-Jumu’ah: 9)

Kemudian hadis dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ

Jumatan itu kewajiban bagi setiap muslim untuk dilakukan secara berjamaah. (HR. Abu Daud 1069 dan dishhaihkan al-Albani).

Dalam ayat dan hadis di atas, Allah perintahkan kaum muslimin untuk jumatan. Sementara tidak ada batas jumah minimal peserta. Perintahnya mutlak. Sementara pelaksana jumatan harus orang kampung dan bukan musafir. Karena itu, syarat sahnya harus sejumlah orang yang layak untuk terbentuknya satu kampung. (al-Muntaqa Syarh Muwatha’, 1/252).

Ketiga, syarat pelaksana jumatan harus berjumlah 12 orang. Kurang dari 12 orang, jumatan tidak sah.

Dalil pendapat ini, hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

Kami pernah shalat jumat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datang rombongan onta yang membawa makanan. Para jamaahpun langsung bubar meninggalkan khutbah dan mengerumuni kafilah dagang itu. Sehingga yang tersisa bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya 12 orang. Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا

Apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). (QS. al-Jumu’ah: 11)

Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melanjutkan jumatan, sekalipun jumlah peserta jumatan tinggal 12 orang. Sehingga ini menjadi batas minimal jumatan.

Sanggahan

Hadis ini tidak bisa jadi dalil untuk memberikan batasan peserta jumatan, sebagaimana pendapat pertama. Karena jumlah 12 orang, bukan hasil kesepakatan mereka, namun sifatnya kasuistik.

Kelima, jumlah minimal pelaksana jumatan harus 3 orang.

Ini merupakan pendapat hanafiyah. Hanya saja mereka berbeda pendapat, apakah dari 3 orang itu, imam termasuk atau tidak termasuk.

Abu Hanifah dan Muhammad bin Hasan berpendapat, syaratnya 3 orang selain imam. Sementara Abu Yusuf berpendapat, 3 orang termasuk imam. (Bada’i as-Shana’i, 2/268).

Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad Ahmad dalam salah satu riwayat. (al-Inshaf, 2/378).

Dan pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam (al-Ikhtiyarat, hlm. 79)

Pendapat ini pula yang dipilih ulama muashirin, seperti Imam as-Sa’di (al-Fatawa as-Sa’diyah, hlm. 133), Imam Ibnu Baz (fatwa Ibnu Baz, no. 4684) dan Imam Ibnu Utsaimin. Dalam as-Syarh al-Mumthi, beliau mengatakan,

وأقرب الأقوال إلى الصواب: أنها تنعقد بثلاثة، وتجب عليهم

Pendapat yang paling mendekati kebenaran, jumatan sah jika pelaksananya 3 orang. Dan menjadi kewajiban mereka. (as-Syarh al-Mumthi’, 5/41).

Dalil pendapat pertama,

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

Dalil pertama, firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.. (QS. al-Jumu’ah: 9)

Dalam ayat ini, Allah perintahkan orang-orang yang beriman dalam bentuk kata ganti jamak. Dan ukuran jamak minimal dalam bahasa arab adalah 3 orang. Sehingga jika ada 3 orang, mereka wajib jumatan.

Dalil kedua adalah hadis dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا كانوا ثلاثة في سفر فليؤمهم أحدهم , وأحقهم بالإمامة أقرؤهم

Apabila ada 3 orang melakukan safar, hendaknya salah satu jadi imam. Dan yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalan al-Qurannya. (HR. Muslim 672).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan 3 orang untuk menunjuk salah satu jadi imam, melaksanakan shalat jamaah. Dan ini mencakup jamaah biasa dan jumatan.

Demikian pula hadis dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ

Jumatan itu kewajiban bagi setiap muslim untuk dilakukan secara berjamaah. (HR. Abu Daud 1069 dan dishhaihkan al-Albani).

Beliau menyebut bahwa jumatan harus dilakukan secara berjamaah. Dan layak disebut jamaah jika jumlahnya 3 orang atau lebih. Disamping itu, disyariatkan adanya khutbah yang harus disengarkan oleh sekelompok orang. Sehingga harus ada 2 makmum yang mendengarkannya.

Tarjih

(pemilihan pendapat yang kuat)

Kami sebutkan keterangan al-Allamah Siddiq Hasan Khan,

والعجب من كثرة الأقوال في تقدير العدد حتى بلغت إلى خمسة عشر قولا ليس على شيء منها دليل يستدل به قط إلا قول من قال : إنها تنعقد جماعة الجمعة بما تنعقد به سائر الجماعة

Yang mengherankan, adanya banyaknya pendapat yang menetapkan jumlah jamaah jumatan, hingga mencapai 15 pendapat, dan tidak ada satupun dari jumlah itu yang memiliki dalil khusus sama sekali. Kecualil pendapat yang mengatakan bahwa jumatan sah dengan jumlah jamaah yang memenuhi persyaratan shalat jamaah pada umumnya. (al-Mau’idzah al-Hasanah, dinukil dari al-Ajwibah an-nafi’ah, hlm. 39).

Keterangan semisal juga dinyatakan oleh as-Syinqithi,

والواقع أن كل هذه الأقوال ليس عليها مستند يعول عليه في العدد بحيث لو نقص واحد بطلت

Kenyataannya semua penndapat ini tidak memiliki landasan dalil yang menjelaskan bilangan tertentu sebagai syarat jumatan, dimana jika kurang satu maka jumatannya tidak sah. (Adhwaul Bayan, 8/182).

Dan dari sekian pendapat, yang lebih kuat adalah pendapat keempat, bahwa jumatan minimal harus dilaksanakan 3 orang orang termasuk imam. Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Karena ini jumlah minimal untuk disebut jamaah dalam jumatan.

Lajnah Daimah pernah ditanya tentang jumlah minimal jumatan,

Jawaban Lajnah,

إقامة الجمعة واجبة على المسلمين في قراهم يوم الجمعة ويشترط في صحتها الجماعة . ولم يثبت دليل شرعي على اشتراط عدد معين في صحتها ، فيكفي لصحتها إقامتها بثلاثة فأكثر

Melaksanakan jumatan hukumnya wajib bagi setiap muslim di kampung mereka pada hari jumat, dan disyaratkan agar jumatannya sah, harus dilakukan berjamaah. Dan tidak ada dalil syar’i yang menyebutkan syarat dengan jumlah bilangan tertentu. Sehingga cukup dinilai sah jika dilaksanakan 3 orang atau lebih.

(Fatawa Lajnah, no. 1794)

Demikian,

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tidak bisa shalat jumat

Menjamak Ashar dengan Jumatan?

Bolehkah menjamak shalat asar dengan jumatan? Matur nuwun.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat tentang hukum menjamak shalat asar dengan jumatan.

Pendapat pertama, hukumnya boleh.

Ini merupakan pendapat Syafiiyah, dibenaran oleh as-Suyuthi, az-Zarkasyi, dan yang difatwakan ar-Ramli.

Diantara dalil pendapat ini,

Jumatan diqiyaskan dengan shalat zuhur. Sehingga bisa diqiyaskan dengan shalat asar.

Pendapat kedua, hukumnya terlarang.

Ini merupakan pendapat madzhab hambali dan sebagian ulama syafiiyah.

Diantara dalil pendapat ini,

Pertama, bahwa tidak dijumpai dalil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak jumatan dengan shalat asar.

Kedua, mengqiyaskan jumatan dengan shalat dzuhur adalah qiyas yang bertentangan dengan objek qiyas (qiyas ma’al fariq). Di sana ada perbedaan yang sangat jelas antara jumatan dengan shalat dzuhur.

Ketiga, hukum asal shalat harus dikerjakan tepat waktu, hingga terdapat dalil yang membolehkan jamak. Sementara tidak dijumpai dalil itu.

Dalam as-Syarh al-Mumthi dinyatakan,

وفيه شرط خامس: أن لا تكون صلاة الجمعة، فإنّه لا يصح أن يجمع إليها العصر، وذلك لأن الجمعة صلاة منفردة مستقلة في شروطها وهيئتها وأركانها وثوابها أيضاً، ولأن السنّة إنما وردت في الجمع بين الظهر والعصر، ولم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه جمع العصر إلى الجمعة أبداً،

فلا يصح أن تقاس الجمعة على الظهر لما سبق من المخالفة بين الصلاتين، بل حتى في الوقت على المشهور من مذهب الحنابلة فوقتها من ارتفاع الشمس قدر رمح إلى العصر، والظهر من الزوال إلى العصر وأيضاً الجمعة لا تصح إلا في وقتها، فلو خرج الوقت تصلّى ظهراً، والظهر تصح في الوقت وتصح بعده للعذر.

Terdapat syarat yang kelima untuk bolehnya jamak, yaitu selain jumatan. Karena tidak sah menjamak jumatan dengan shalat asar. Karena jumatan adalah shalat tersendiri, memiliki syarat, tata cara, rukun, dan janji pahala yang berbeda dengan shalat dzuhur. Karena yang ada dalam dalil adalah jamak antara dzuhur dan asar. Sementara tidak dijumpai riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menjamak shalat asar dengan jumatan.

Karena itu, tidak benar mengqiyaskan antara jumatan dengan shalat dzuhur. Terdapat perbedaan sangat jelas antara kedua shalat ini. Bahkan sampai dalam masalah waktu pelaksanaannya. Menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab hambali, waktu jumatan dimulai sejak matahari sudah meninggi hingga mendekati asar. Sementara waktu dzuhur antara tergelincirnya matahari sampai menjelang asar. Demikian pula, jumatan tidak boleh dilakukan kecuali di batas waktu yang ditentukan. Jika waktu shalat jumat telah habis, diganti dengan dzuhur. Karena shalat dzuhur bisa dilakukan setelah waktunya setelah udzur.

(as-Syarh al-Mumthi’, 4/402).

InsyaaAllah pendapat kedua yang lebih kuat. Atau setidaknya lebih mendekati sikap hati-hati.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jam 11-30

Jumatan Sebelum Jam 12:00

Saya shalat jumat di masjid di daerah Lamongan Jawa Timur, ternyata khatib naik mimbar sebelum jam 12. Bahkan seingat saya jam 11.45. apakah jumatannya sah? Terima kasih ustad.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada dua catatan untuk membahas kasus ini,

Pertama, ulama berbeda pendapat tentang batas waktu paling awal untuk memulai jumatan.

Pendapat pertama, waktu mulai jumatan sama dengan waktu shalat dzuhur, yaitu zawal as-Syams, ketika matahari tergelincir ke barat. Dan tidak boleh jumatan sebelum waktu zawal.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, diantaranya Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah. Imam an-Nawawi menyebutnya sebagai pendapat mayoritas sahabat, tabiin, serta ulama generasi setelahnya. Bahkan Imam as-Syafii mengatakan,

ولا اختلاف عند أحد لقيته أن لا تصلى الجمعة حتى تزول الشمس

Tidak ada perbedaan diantara ulama yang pernah aku temui, tidak boleh mengerjakan jumatan hingga matahari tergelincir. (al-Umm, 1/223)

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

  1. Hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّى الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat jumat ketika matahari telah tergelincir. (HR. Bukhari 904).

  1. Hadis dari Salamah bin Akwa Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

Kami mengikuti jumatan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika matahari telah tergelilncir, kemudian kami pulang berjalan mencari bayangan bangunan. (HR. Muslim 860)

Pendapat kedua, jumatan boleh dimulai sebelum zawal. Artinya jumatan bisa dilakukan sebelum masuk waktu dzuhur. Ini merupakan pendapat Ishaq bin Rahuyah, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama hambali.

Dalam kitab al-Inshaf dinyatakan,

“ويشترط لصحة الجمعة أربعة شروط أحدها الوقت وأوله أول وقت صلاة العيد”. هذا المذهب وعليه أكثر الأصحاب ونص عليه قال في الفروع: اختاره الأكثر قال الزركشي: اختاره عامة الأصحاب

Sahnya jumatan ada 4 syarat, yang pertama terkait waktu. Waktu memulainya jumatan, seperti waktu shalat id (sebelum dzuhur). Inilah pendapat madzhab hambali, dan yang dipilih mayoritas ulama hambali dan yang ditegaskan Imam Ahmad. Dalam kitab al-Furu’ dinyatakan, ‘Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama’. Kata az-Zarkasyi, ‘Dipilih oleh mayoritas ulama hambali.’ (al-Inshaf, 2/263).

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

  1. Hadis dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari sahabat Jabir,

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَرْجِعُ فَنُرِيحُ نَوَاضِحَنَا، قَالَ حَسَنٌ : فَقُلْتُ لِجَعْفَرٍ : فِي أَيِّ سَاعَةٍ تِلْكَ ؟ قَالَ : زَوَالَ الشَّمْسِ

Kami shalat jumat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami pulang dan mengistirahatkan onta-onta kami.

Hasan bertanya kepada Ja’far, ‘Kapan itu dilakukan?’

Jawab Ja’far, “Ketika matahari tergelincir.” (HR. Muslim 2026, Nasai 1401 dan yang lainnya).

  1. Hadis dari Sahl bin Sa’d, beliau mengatakan,

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ

Kami terbiasa tidak tidur siang dan tidak makan siang kecuali setelah jumatan. (HR. Bukhari 6248, Muslim 2028 dan yang lainnya).

  1. Hadis dari Salamah bin al-Akwa Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةَ فَنَرْجِعُ وَمَا نَجِدُ لِلْحِيطَانِ فَيْئًا نَسْتَظِلُّ بِهِ

Kami shalat jumat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pulang, dan kami tidak menemukan bayangan tembok yang bisa kami gunakan untuk berteduh. (HR. Bukhari 4168 & Muslim 860).

Tarjih Pendapat

Dari dua pendapat di atas, pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat pertama, pendapat yang dipilih mayoritas ulama. Dengan alasan,

Dalil pendapat mayoritas ulama lebih tegas menunjukkan jumatan dilakukan setelah tergelincir matahari. Sementara dalil yang dibawakan pendapat hambali tidak tegas mendukung pendapatnya. Justru dalil itu mendukung pendapat pertama. Untuk menjawab beberapa dalil pendapat kedua, kita simak keterangan An-Nawawi dalam al-Majmu’,

وتفصيل الجواب ان يقال حديث جابر فيه اخبار أن الصلاة والرواح الي جمالهم كانا حين الزوال لا ان الصلاة قبله. (والجواب) عن حديث سلمة انه حجة لنا في كونها بعد الزال لانه ليس معناه انه ليس للحيطان شئ من الفى وانما معناه ليس لها في كثير بحيث يستظل به المار

Rincian jawabannya bahwa hadis Jabir merupakan informasi bahwa shalat dan mengurus onta yang mereka lakukan dilakukan sekitar waktu ketika matahari tergelincir, bukan shalat jumat dikerjakan sebelum matahari tergelincir.

Sementara jawaban untuk hadis Salamah bin Akwa, justru itu dalil yang mendukung pendapat kami, bahwa jumatan dilakukan setelahzawal (tergelincir matahari). Karena makna hadis bukan ‘tidak ada bayangan tembok sama sekali’, namun makna yang benar adalah tidak ada bayangan yang cukup banyak, sehingga membuat orang yang jalan bisa berteduh. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/512)

Kemudian, Imam Ahmad sendiri dalam sebagian riwayat, beliau menganjurkan agar jumatan dilakukan setelah masuk waktu dzuhur. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

ونقل أبو طالب، عنه، قال: ما ينبغي أن يصلي قبل الزوال

Abu Thalib menukil dari Imam Ahmad, bahwa beliau mengatakan, “Tidak selayaknya shalat jumat dilakukan sebelum zawal.” (Fathul Bari, 8/176).

Yang Penting Shalatnya

Sekalipun adzan jumat dimulai sebelum jam 12.00, namun kita pastikan, shalatnya dilakukan setelah zawal.

Imam Ibnu Baz mengatakan,

الأفضل بعد زوال الشمس خروجا من خلاف العلماء ؛ لأن أكثر العلماء يقولون لا بد أن تكون صلاة الجمعة بعد الزوال ، وهذا هو قول الأكثرين

Yang paling afdhal, dilakukan setelah zawal, dalam rangka menghindari perbedaan pendapat. Karena mayoritas ulama mengatakan, shalat jumat harus dilakukan setelah zawal (masuk waktu dzuhur). (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 12/391).

Catatan Kedua, bahwa jadwal masuknya waktu dzuhur di Indonesia berbeda-beda, artinya tidak bisa diseragamkan dengan jam 12.00. Di wilayah jakarta, waktu dzuhur yang paling siang sekitar pukul 12.10. itu di sekitar bulan Januari. Sementara waktu dzuhur yang paling awal sekitar pukul 11.35.

Untuk wilayah Lamongan Jawa Timur, tentu saja jatuhnya lebih awal. Selisih sekitar 20 menit.

Sementara selisih waktu shalat jogja jakarta, sekitar 10 menit.

Karena itu, untuk jumatan yang dimulai sebelum jam 11.45, insyaaAllah tidak sampai dilaksanakan sebelum dzuhur. Dan jumatannya sah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat jumat

Jumatan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala memuliakan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menegaskan dalam al-Quran,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar  ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran: 110)

Kemudian melalui hadisnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga banyak menegaskan bahwa umat beliau adalah umat terbaik. Dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنَ الأَنْبِيَاءِ …وَجُعِلَتْ أُمَّتِى خَيْرَ الأُمَمِ

Aku diberi keistimewaan yang tidak diberikan nabi-nabi yang lain.., (diantaranya) umatku dijadikan sebagai umat terbaik. (HR. Ahmad 774 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Kemudian, dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّكُمْ تُتِمُّونَ سَبْعِينَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ

Kalian melengkapi 70 umat, dan kalian adalah umat terbaik dan paling mulia di sisi Allah. (HR. Turmudzi 3271 dan dihasankan al-Albani)

Hari Istimewanya di Hari Terbaik

Setiap umat memiliki hari istimewa. Hari yang mereka jadikan sebagai kesempatan untuk berkumpul dalam rangka beribadah bersama. Ada yang memilih hari sabtu, seperti Yahudi, ada yang memilih hari ahad, seperti Nasrani. Dan semua itu atas pilihan pribadi mereka. Padahal manusia tidak pernah tahu, apakah hari yang terbaik dalam hidupnya.

Allah memberikan hidayah kepada ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah pilihkan hari jumat. Allah tetapkan hari jumat sebagai hari terbaik mereka. Hari bagi mereka untuk berkumpul bersama dalam rangka beribadah.

Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَحْنُ الآخِرُونَ وَنَحْنُ السَّابِقُونَ ، بيد أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا ، وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ ، فَهَذَا الْيَوْمَ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ، فَهَدَانَا اللَّهُ لَهُ ، فَالنَّاسُ لَنَا فِيهِ تَبَعٌ ، الْيَهُودُ غَدًا ، وَالنَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ

Kita yang terakhir, namun yang terdepan. Padahal mereka (yahudi dan nasrani) telah mendapatkan al-kitab sebelum kita, sementara kita diberi kitab setelah mereka. Inilah hari (jumat), mereka menyimpang, tidak menjauhinya, kemudian Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengistimewakan hari jumat. Semua manusia mengikuti kita (umat Muhammad), orang yahudi besok (hari sabtu) dan orang nasrani besok lusa (hari ahad). (HR. Bukhari 876, Muslim 2015 dan yang lainnya).

Demikianlah cara Allah memuliakan umat islam. Hingga Allah pilihkan hari istimewa untuk mereka, jatuh pada hari paling mulia, yaitu hari jumat.

Pertama, karena hari jumat berada di urutan pertama. Sementara yahudi dan nasrani setelah kita

Kedua, hari jumat merupakan hari terjadinya peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan ini.

Diantara peristiwa besar yang terjadi pada hari jum’at,

  • Hari Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.
  • Hari akan terjadinya kiamat.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim 2014)

Sebagai mukmin, kita patut bangga dengan hari jumat…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

banci shalat

Banci Shalat Harus Pakai Mukena

Jika banci shalat, apakah harus memakai mukena?. Kemana-mana harus pakai kerudung?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Masalah terbesar banci adalah ketidak jelasan jenis kelaminnya. Apakah dia dihukumi lelaki atau wanita. Karena itu, para ulama mengambil kebijakan pertengahan dengan mengedepankan sikap hati-hati.

Konsekuensi dari sikap hati-hati ini, sebagian ulama mewajibkan, agar banci yang shalat, mereka mengenakan pakaian wanita. Mereka memakai mukena sebagaimana wanita (Baca: Hukum Banci Menjadi Imam Shalat).

Karena jika dia ternyata wanita, shalat yang dia kerjakan sah, karena pakaiannya memenuhi syarat. Dan jika ternyata dia lelaki, tidak mempengaruhi keabsahan shalatnya.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

يرى الحنفية والشافعية أن عورة الخنثى كعورة المرأة حتى شعرها النازل عن الرأس خلا الوجه والكفين…. وصرح المالكية بأنه يستتر ستر النساء في الصلاة والحج بالأحوط، فيلبس ما تلبس المرأة

Hanafiyah dan Syafiiyah berpendapat bahwa aurat banci yang tidak jelas, seperti aurat wanita, hingga rambutnya yang rontok dari kepala. Selain wajah dan telapak tangan… sementara Malikiyah menegaskan banwa banci harus memakai hijab wanita  ketika shalat dan ketika haji, sebagai bentuk kehati-hatian, sehingga dia memakai pakaian wanita. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 20/24)

Keterangan yang lain, disampaikan oleh al-Buhuti – ulama hambali – (w. 1051 H) menukil pernyataan Majduddin,

قال المجد والاحتياط للخنثى المشكل ان يستر كالمرأة

Majduddin mengatakan, ‘Yang lebih hati-hati, banci yang belum jelas kelaminnya, dia memakai hija wanita.’ (Syarh Muntaha al-Iradat, 1/150)

Semua Disikapi Hati-hati

Sampai dalam cara berpakaian, cara duduk, dan hal-hal yang menjadi larangan.

Ibnu Maudud al-Mushili – ulama hanafiyah – (w. 683 H) mengatakan,

ويصلي بقناع لاحتمال أنه امرأة ، ويجلس كما تجلس المرأة ( ولا يلبس الحلي والحرير ) لاحتمال أنه رجل ( ولا يخلو به غير محرم رجل ولا امرأة ، ولا يسافر بغير محرم ) احتياطا

Banci shalat memakai mukena karena ada kemungkinan dia wanita, dan duduk seperti wanita. Tidak boleh memakai perhiasan emas dan sutera, karena ada kemungkinan dia lelaki. Tidak boleh berduaan dengan lelaki maupun wanita yang bukan mahram, dan tidak boleh melakukan safar tanpa mahram, sebagai kehati-hatian. (al-Ikhtiyar li Ta’lil al-Mukhtar, 3/53)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tidak bisa shalat jumat

Tidak Bisa Jum’atan Karena Ketiduran

Assalamualaikum… Pak Ustadz, saya mau tanya. Bisakah shalat jumat diganti dgn shalat dzuhur? Misalnya karena ketiduran. Trims…!

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, meninggalkan shalat jumat tanpa udzur termasuk dosa besar.

Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

”Hendaknya orang yang suka meninggalkan jumatan itu menghentikan kebiasaan buruknya, atau Allah akan mengunci mati hatinya, kemudian dia menjadi orang ghafilin (orang lalai).” (HR. Muslim 865)

Juga disebutkan dalam hadis dari Abul Ja’d ad-Dhamri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

”Siapa yang meninggalkan 3 kali jumatan karena meremehkan, maka Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ahmad 15498, Nasai 1369, Abu Daud 1052, dan dinilai hasan Syuaib al-Arnauth)

Karena itu, kami ingatkan, agar setiap muslim berusaha memberi perhatian terhadap setiap kewajiban syariat yang Allah berikan kepadanya.

Anda bisa bayangka ketika anda memikul kewajiban dari atasan atau bos anda. Kita sangat yakin, anda akan berusaha perhatian. Karena itu menyangkut keberlanjutan karir anda di tempat kerja.

Seharusnya semangat semacam ini juga diberikan untuk kewajiban yang Allah berikan, karena ini menyangkut keselamatan kehidupa kita di kehidupan akhirat yang tanpa batas.

Ketika atasan anda memberikan tugas, jam 12.00 pas harus sampai di kantor, karena ada rapat. Anda akan persiapan. Andai anda ngantuk, anda akan berpesan kepada keluarga, agar dibangunkan sebelum jam 12.00. Dan kita sangat yakin, anda tidak akan nekad tidur setelah jam 11.00, tanpa ditemani alarm atau berpesan kepada orang lain untuk membangunkannya.

Kira-kira seperti itulah yang seharusnya kita lakukan ketika ngantuk sebelum jumatan.

Namun sayangnya, umumnya kita memberikan standar yang berbeda. Untuk tugas dari atasan, kita serius mengerjakannya. Untuk tugas dari syariat, disikapi sebaliknya.

Kedua, jika ada orang yang tidur sebelum jumatan, sementara dia tidak mengambil sebab apapun agar bisa bangun sebelum jumatan, kemudian dia tidak bangun, maka dia tergolong orang yang meremehkan kewajiban syariat.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فعلى المسلم إذا احتاج للنوم قبل الجمعة أو غيرها من الصلوات وخاف فواتها، أن يتخذ من الأسباب ما يعينه على الانتباه للصلاة في وقتها، كأن يعهد إلى من يثق به، أو يجعل عند رأسه ساعة تنبهه حتى لا يكون مفرطاً ولا متساهلاً.

Wajib bagi setiap muslim yang ingin tidur sebelum jumatan atau tidur sebelum shalat 5 waktu lainnya, dan dia khawatir bisa meninggalkan shalat, agar dia mengambil sebab yang bisa membantunya untuk bangun melaksanakan shalat pada waktunya. Misalnya dengan berpesan kepada orang yang bisa dipercaya untuk membangunkannya atau dia pasang alrm di dekat kepalanya yang bisa membangunkannya, sehingga dia tidak tergolong orang yang meremehkan kewajiban. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 1579).

Ketiga, jika orang sangat ngantuk sebelum jumatan, kemudian dia berusaha mengambil sebab agar bisa bangun sebelum jumatan, namun ternyata dia tetap tidak bisa bangun, maka dia tidak dinilai bersalah.

Dalam lanjutan Fatwa dari Syabakah Islamiyah,

ثم إذا غلبه النوم مع اتخاذ الأسباب الكافية والاحتياطات اللازمة فلا إثم عليه إذن، لقوله صلى الله عليه وسلم: ” إنه ليس في النوم تفريط” أخرجه مسلم

Kemudian, jika dia benar-benar tidak bisa bangun, padahal sudah berusaha mengambil sebab yang memadai agar dia bisa bangun, dan dia juga sudah hati-hati, maka tidak dihukumi dosa. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْسَ فِى النَّوْمِ تَفْرِيطٌ

“Orang yang ketiduran tidak dianggap meremehkan.” (HR. Muslim)

(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 1579).

Keempat, bagi orang yang tidak jumatan karena udzur, dia wajib ganti dengan shalat dzuhur 4 rakaat, dengan tata cara sama persis sebagaimana orang shalat dzuhur.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْجُمُعَةِ فَلْيُصَلِّ إِلَيْهَا أُخْرَى , وَمَنْ فَاتَتْهُ الرَّكْعَتَانِ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا

Siapa yang mendapatkan satu rakaat bersama imam, hendaknya dia nambahi satu rakaat lagi. Dan siapa yang ketinggalan kedua rakaat jumatan, hendaknya dia shalat 4 rakaat. (Al-Mudawanah, 1/229).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mendengarkan khutbah

Makmum tidak Bisa Mendengar Khutbah Jumat

Ketika jumatan listrik mati, sehingga pengeras suara tidak berfungsi. Apa yg hrs dilakukan makmum yg tdk mendengar khutbah? Bolehkah mereka berbicara?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya, makmum tidak boleh berbicara ketika khatib sedang berkhutbah. Bahkan tindakan semacam ini bisa menggugurkan pahala jumatannya.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Bicara Ketika Mendengarkan Khutbah Jumat, Menghapus Pahala Jumatan 

masalah berikutnya, bagaimana jika makmum tidak mendengar khutbah imam. Misalnya, dia di posisi jauh dari imam, sementara pengeras suara masjid tidak berfungsi.

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, bolehkah bagi makmum tersebut untuk berbicara?

Pendapat pertama, makmum yang tidak mendengar khutbah boleh berbicara.

Ini merupakan pendapat hanafiyah, pendapat yang kuat dalam madzhab Syafiiyah, dan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad.

Mereka beralasan bahwa larangan berbicara bagi makmum itu berlaku jika makmum mendengar khutbah imam, agar mereka bisa konsentrasi.

Pendapat kedua, makmum harus tatap diam, sekalipun dia tidak mendengar khutbah.

Ini merupakan pendapat sebagian Hanafiyah, Malikiyah, salah satu pendapat dalam madzhab Syafiiyah, dan mayoritas pendapat ulama hambali.

Diantara yang menguatkan pendapat ini,

Pertama, keumuman cakupan makna hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ . يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Jika kamu mengatakan ‘Diam’ kepada temanmu, pada hari jumat, sementara imam sedang berkhutbah, berarti kamu melakukan tindakanlagha. (HR. Bukhari 943, Muslim 2002, dan yang lainnya)

Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum berbicara ketika imam berkhutbah, terlepas dia mendengar atau tidak mendengar.

Kedua, nasehat Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, dalam salah satu khutbah beliau, Khalifah Utsman menasehatkan,

إِذَا قَامَ الإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاسْتَمِعُوا ، وَأَنْصِتُوا ، فَإِنَّ لِلْمُنْصِتِ الَّذِي لا يَسْمَعُ الْخُطْبَةَ مِثْلُ مَا لِلسَّامِعِ الْمُنْصِتِ

Apabila imam berkhutbah di hari jumat, perhatikan dan diam. Karena orang yang diam, yang tidak mendengarkan khutbah mendapatkan pahala seperti yang diperoleh orang yang mendengar khutbah dan diam. (HR. Baihaqi dalam al-Kubro, Bab al-Inshat lil Khutbah, 3/220).

Ketiga, hendaknya makmum berusaha sesuai kemampuannya

Yang diperintahkan bagi makmum ketika jumatan adalah mendengar dan diam. Orang yang dekat dengan imam, dia mampu melakukan keduanya. Sementara yang jauh dari imam, yang mampu dia lakukan hanya diam. Sehingga ini tidak boleh dia tinggalkan.

Sementara alasan pendapat pertama bahwa tujuan makmum diperintahkan diam hanya semata agar bisa konsentrasi mendengarkan khutbah, ini alasan yang tidak tepat. Karena diantara manfaat lain, makmum diam ketika mendengarkan khutbah adalah untuk mengkondisikan suasana. Sehingga makmum yang lain tidak terganggu.

Dari keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pendapat yang kuat dalam hal ini adalah pendapat kedua, makmum yang tidak mendengar khutbah tetap diwajibkan untuk diam.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Hanya saja, dianjurkan baginya untuk menyibukkan diri dengan dzikir atau membaca al-Quran atau membaca buku agama. Dengan catatan, dia tidak boleh membacanya terlalu keras, sehingga mengganggu orang lain.

Ini merupakan pendapat ulama madzhab hambali dan sebagian syafiiyah.

Al-Mardawi – ulama hambali – mengatakan,

يجوز لمن بعد عن الخطيب ولم يسمعه الاشتغال بالقراءة والذكر خفية وفعله أفضل

Boleh bagi orang yang jauh dari khatib dan dia tidak mendengarkan khutbah, agar dia menyibukkan diri dengan membaca al-Qura atau dzikir dengan pelan. Dan perbuatannya ini lebih baik (dari pada diam saja). (al-Inshaf, 2/294).

Keterangan lain disampaikan al-Buhuti – Ulama hambali –, beliau mengatakan,

فإن كان بعيدا عن الإمام بحيث لا يسمعه لم يحرم عليه الكلام لأنه ليس بمستمع لكن يستحب اشتغاله بذكر الله تعالى والقرآن والصلاة عليه صلى الله عليه وسلم في نفسه واشتغاله بذلك أفضل من إنصاته ويستحب له أن لا يتكلم

Jika dia jauh dari imam, sehingga tidak mendengar khutbah imam, tidak dilarang untuk berbicara. Karena dia bukan mustami’ (pendengar). Hanya saja, dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan berdzikir, membaca al-Quran, atau membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pelan-pelan. Dan itu lebih bagus dari pada dia diam. Dan dianjurkan agar dia tidak ngobrol. (Syarh Muntaha al-Iradat, 1/322)

Demikian,Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat jumat

Penghapus Pahala Jumatan

Apakah bicara ketika khutbah jumat bisa menghapus pahala jumatan? Saya pernah mndengar itu. Apa benar? Trim’s Ustad

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam menyupayakan agar kaum muslimin menjadi umat yang terdidik dengan wahyu. Karena itulah, islam mewajibkan umatnya yang laki-laki untuk menghadiri jumatan. Sehingga sesibuk apapun seorang muslim, minimal sepekan sekali, dia akan mendapatkan siraman rohani dari khutbah jumat.

Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian besar bagi jumatan. Beliau mengajarkan berbagai macam adab, agar para peserta jumatan bisa mendapatkan banyak pelajaran dari khutbah yang disampaikan khatib.

Diantara adab itu, beliau melarang peserta jumatan untuk bicara di tengah mendengarkan khutbah jumat.

Diantara dalil wajibnya diam ketika mendengarkan khutbah,

Pertama, firman Allah,

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

Apabila dibacakan Al Quran, dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. al-A’raf: 204)

Said bin Jubair menyebutkan bahwa ayat ini berbicara tentang perintah diam ketika khutbah idul adha, idul fitri, khuutbah jumat, dan ketika shalat jamaah yang bacaan imam dikeraskan.

Pendapat ini juga yang dipilih oleh Ibnu Jarir, bahwa perintah diam itu untuk shalat jahriyah dan ketika mendengarkan khutbah. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/538)

Kedua, hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ . يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Jika kamu mengatakan ‘Diam’ kepada temanmu, pada hari jumat, sementara imam sedang berkhutbah, berarti kamu melakukan tindakanlagha. (HR. Bukhari 943, Muslim 2002, dan yang lainnya)

Makna: ‘tindakan lagha’ ucapan yang bathil, yang tertolak, yang tidak selayaknya dilakukan. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 6/138)

Konsekuensi Ketika Orang Melakukan Lagha

Dijelaskan dalam riwayat lain, konsekuensi ketika orang melakukan tindakan lagha adalah menggugurkan pahala jumatannya.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya,

Pertama, hadis dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من اغتسل يوم الجمعة ثم مس من طيب امرأته إن كان لها و لبس من صالح ثيابه ثم لم يتخط رقاب الناس و لم يلغ عند الموعظة كانت كفارة لما بينهما و من لغا أو تخطى كانت له ظهرا

Siapa yang mandi di hari jumat, lalu memakai minyak wangi istrinya jika dia punya, lalu memakai pakaian yang paling bagus, tidak melangkahi pundak jamaah, dan tidak bertindak lagha, maka jumatannya akan menjadi kaffarah antara dua jumat. Sementara siapa yang melakukan tindakan lagha atau melangkahi pundak jamaah, maka dia hanya mendapat pahala shalat zuhur. (HR. Ibnu Khuzaimah 1810 dan dishhaihkan al-Albani)..

Dalam riwayat lain dinyatakan,

وَمَنْ تَكَلَّمَ فَلاَ جُمُعَةَ لَهُ

Siapa yang berbicara maka tidak ada pahala jumatan baginya. (HR. Ahmad 719 dan didhaifkan Syuaib al-Arnauth).

Kedua, hadis dari Ubay bin Ka’b Radhiyallahu ‘anhu

Bahwa ketika khutbah Jumat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan surat al-Mulk, dan ayyamullah (hari dimana Allah memberi kenikmatan bagi ornag baik dan hukuman bagi orang jahat). Tiba-tiba Abu Dzar mencubitku dan bertanya,

“Kapan surat ini turun? Saya belum pernah mendengarnya kecuali saat ini.”

Lalu Ubay bin Ka’b berisyarat, menyuruh Abu Dzar untuk diam.

Seusai jumatan, Abu Dzar bertanya lagi,

‘Aku tanya kepadamu, kapan ayat itu diturunkan, namun kamu tidak memberi tahukannya.’

Lalu Ubay mengatakan,

لَيْسَ لَكَ مِنْ صَلَاتِكَ الْيَوْمَ إِلَّا مَا لَغَوْتَ

Kamu tidak mendapatkan apapun dari ibadah jumatanmu selain tindakan lagha yang kamu lakukan.

Kemudian Abu Dzar melaporkan ini kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk apa yang diucapakn Ubay. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan Ubay. (HR. Ahmad 21287 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ketiga, hadis dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma,

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَحْضُرُ الْجُمُعَةَ ثَلَاثَةٌ : رَجُلٌ حَضَرَهَا بِدُعَاءٍ وَصَلَاةٍ، فَذَلِكَ رَجُلٌ دَعَا رَبَّهُ إِنْ شَاءَ أَعْطَاهُ، وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُ، وَرَجُلٌ حَضَرَهَا بِسُكُوتٍ وَإِنْصَاتٍ، فَذَلِكَ هُوَ حَقُّهَا، وَرَجُلٌ يَحْضُرُهَا يَلْغُو فَذَلِكَ حَظُّهُ مِنْهَا

Ada tiga model manusia yang mendatangi jumatan:

Orang yang datang jumatan untuk berdoa dan shalat. Orang ini hanya berdoa kepada Allah. Jika berehendak Allah akan mengabulkannya dan jika tidak, Allah tidak mengabulkannya.

Orang yang hadir jumatan dengan tenang dan diam, inilah yang berhak mendapatkan pahala jumatan sempuurna.

Dan Orang yang hadir jumatan namun dia melakukan tindakan laghwun, maka tindakan laghwunya. (HR. Ahmad 6701, Abu Daud 1115 dan dihasankan al-Arnauth).

Keempat, hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا، وَالَّذِي يَقُولُ لَهُ: أَنْصِتْ، لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ

Siapa yang berbicara di hari jumat ketika imam sedang khutbah, maka dia seperti keledai yang menggendong barang bawaan. Sementara oranng yang mengatakan ‘Diam’ maka tidak ada jumatan baginya. (HR. Ahmad 2033, dan dinilai dhaif Syuaib al-Arnauth).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

yang membatalkan shalat

Adakah Shalat Qabliyah Sebelum Adzan?

Assallamualaikum ustaz,

Nak tanya, rumah saya dekat dgn masjid yg mana azan bolih didengar dirumah saya.

Soalan saya, bolih kah saya solat sunnah dirumah masa azan masih berkumandang, lps itu saya segera kamasjid utk solat fardu berjemaah. Klu saya tunggu habis azan baru saya solat sunnah mungkin saya tidak dapat bertabkir bersama imam.

Mohon penjelasan TK.

Dari M. Aliyudin, Malaysia

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Batasan mengenai qabliyah dan ba’diyah, telah dijelaskan Ibnu Qudamah,

كل سنة قبل الصلاة , فوقتها من دخول وقتها إلى فعل الصلاة , وكل سنة بعدها , فوقتها من فعل الصلاة إلى خروج وقتها

Semua shalah sunah qabliyah, batas waktunya antara masuknya waktu shalat sampai pelaksanaan shalat wajib. Dan semua shalat sunah ba’diyah, batas waktunya sejak selesai pelaksanaan shalat hingga selesai waktu shalat. (al-Mughni, 1/799).

Karena itu, orang yang melakukan shalat sunah qabliyah setalah benar-benar masuk waktu shalat, status shalatnya sah, sekalipun di masjid terdekat belum adzan karena muadzin telat mengumandangkan adzan.

Ada sebuah pertanyaan yang dilayangkan kepada Imam Ibnu Baz,

Ketika saya keluar dari rumahku, ada masjid yanng sudah adzan. Kemudian saya menuju masjid terdekat di rumahku. Saya kira sudah adzan, sehingga saya langsung shalat qabliyah subuh. Ketika saya bangkit di rakaat kedua, tiba-tiba muadzin baru mengumandangkan adzan. Apakah shalat qabliyah yg telah saya kerjakan harus diulang? Apakah dinilai sebagai qabliyah?

Jawaban Imam Ibnu Baz:

إذا كان المؤذن الذي أذن وأنت تصلي سنة الفجر قد أخَّر الأذان وصادف فعلك لها بعد طلوع الفجر : فقد أديت السنَّة ويكفي ذلك ولا حاجة أن تعيدها ، أما إذا كنت تشك في ذلك ولا تعلم هل المؤذن الذي أذن وأنت في الصلاة هل أذانه بعد الصبح أو عند طلوع الفجر : فالأحوط لك والأفضل أن تعيد الركعتين ، حتى تكون أديتهما بعد طلوع الفجر يقينا

Apabila muadzin yang melakukan adzan ketika anda shalat sunah fajar, itu telat dalam mengumandangkan adzan, sehingga bertepatan dengan shalat anda setelah terbit fajar, maka shalat sunah anda sah, anda tidak perllu lagi mengulanginya.

Akan tetapi jika anda ragu, dan anda tidak tahu apakah muadzin mengumandangkan adzan itu setelah masuk subuh atau ketika fajar baru terbit, maka yang lebih hati-hati dan lebih afdhal, anda ulangi dua rakaat sebelum subuh itu. Sehingga anda benar-benar yakin telah mengerjakan shalat qabliyah subuh. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/370).

Ini bagian penting yang perlu diberi garis tebal: jika anda yakin telah masuk waktu shalat, boleh melakukan shalat qabliyah, sekalipun adzan di masjid terdekat belum dikumandangkan, karena muadzin telat.

Allahu a’lam.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

 

SOCIAL

9,037FansLike
4,525FollowersFollow
31,303FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN