tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Sholat

banci shalat

Banci Shalat Harus Pakai Mukena

Jika banci shalat, apakah harus memakai mukena?. Kemana-mana harus pakai kerudung?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Masalah terbesar banci adalah ketidak jelasan jenis kelaminnya. Apakah dia dihukumi lelaki atau wanita. Karena itu, para ulama mengambil kebijakan pertengahan dengan mengedepankan sikap hati-hati.

Konsekuensi dari sikap hati-hati ini, sebagian ulama mewajibkan, agar banci yang shalat, mereka mengenakan pakaian wanita. Mereka memakai mukena sebagaimana wanita (Baca: Hukum Banci Menjadi Imam Shalat).

Karena jika dia ternyata wanita, shalat yang dia kerjakan sah, karena pakaiannya memenuhi syarat. Dan jika ternyata dia lelaki, tidak mempengaruhi keabsahan shalatnya.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

يرى الحنفية والشافعية أن عورة الخنثى كعورة المرأة حتى شعرها النازل عن الرأس خلا الوجه والكفين…. وصرح المالكية بأنه يستتر ستر النساء في الصلاة والحج بالأحوط، فيلبس ما تلبس المرأة

Hanafiyah dan Syafiiyah berpendapat bahwa aurat banci yang tidak jelas, seperti aurat wanita, hingga rambutnya yang rontok dari kepala. Selain wajah dan telapak tangan… sementara Malikiyah menegaskan banwa banci harus memakai hijab wanita  ketika shalat dan ketika haji, sebagai bentuk kehati-hatian, sehingga dia memakai pakaian wanita. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 20/24)

Keterangan yang lain, disampaikan oleh al-Buhuti – ulama hambali – (w. 1051 H) menukil pernyataan Majduddin,

قال المجد والاحتياط للخنثى المشكل ان يستر كالمرأة

Majduddin mengatakan, ‘Yang lebih hati-hati, banci yang belum jelas kelaminnya, dia memakai hija wanita.’ (Syarh Muntaha al-Iradat, 1/150)

Semua Disikapi Hati-hati

Sampai dalam cara berpakaian, cara duduk, dan hal-hal yang menjadi larangan.

Ibnu Maudud al-Mushili – ulama hanafiyah – (w. 683 H) mengatakan,

ويصلي بقناع لاحتمال أنه امرأة ، ويجلس كما تجلس المرأة ( ولا يلبس الحلي والحرير ) لاحتمال أنه رجل ( ولا يخلو به غير محرم رجل ولا امرأة ، ولا يسافر بغير محرم ) احتياطا

Banci shalat memakai mukena karena ada kemungkinan dia wanita, dan duduk seperti wanita. Tidak boleh memakai perhiasan emas dan sutera, karena ada kemungkinan dia lelaki. Tidak boleh berduaan dengan lelaki maupun wanita yang bukan mahram, dan tidak boleh melakukan safar tanpa mahram, sebagai kehati-hatian. (al-Ikhtiyar li Ta’lil al-Mukhtar, 3/53)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tidak bisa shalat jumat

Tidak Bisa Jum’atan Karena Ketiduran

Assalamualaikum… Pak Ustadz, saya mau tanya. Bisakah shalat jumat diganti dgn shalat dzuhur? Misalnya karena ketiduran. Trims…!

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, meninggalkan shalat jumat tanpa udzur termasuk dosa besar.

Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

”Hendaknya orang yang suka meninggalkan jumatan itu menghentikan kebiasaan buruknya, atau Allah akan mengunci mati hatinya, kemudian dia menjadi orang ghafilin (orang lalai).” (HR. Muslim 865)

Juga disebutkan dalam hadis dari Abul Ja’d ad-Dhamri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

”Siapa yang meninggalkan 3 kali jumatan karena meremehkan, maka Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ahmad 15498, Nasai 1369, Abu Daud 1052, dan dinilai hasan Syuaib al-Arnauth)

Karena itu, kami ingatkan, agar setiap muslim berusaha memberi perhatian terhadap setiap kewajiban syariat yang Allah berikan kepadanya.

Anda bisa bayangka ketika anda memikul kewajiban dari atasan atau bos anda. Kita sangat yakin, anda akan berusaha perhatian. Karena itu menyangkut keberlanjutan karir anda di tempat kerja.

Seharusnya semangat semacam ini juga diberikan untuk kewajiban yang Allah berikan, karena ini menyangkut keselamatan kehidupa kita di kehidupan akhirat yang tanpa batas.

Ketika atasan anda memberikan tugas, jam 12.00 pas harus sampai di kantor, karena ada rapat. Anda akan persiapan. Andai anda ngantuk, anda akan berpesan kepada keluarga, agar dibangunkan sebelum jam 12.00. Dan kita sangat yakin, anda tidak akan nekad tidur setelah jam 11.00, tanpa ditemani alarm atau berpesan kepada orang lain untuk membangunkannya.

Kira-kira seperti itulah yang seharusnya kita lakukan ketika ngantuk sebelum jumatan.

Namun sayangnya, umumnya kita memberikan standar yang berbeda. Untuk tugas dari atasan, kita serius mengerjakannya. Untuk tugas dari syariat, disikapi sebaliknya.

Kedua, jika ada orang yang tidur sebelum jumatan, sementara dia tidak mengambil sebab apapun agar bisa bangun sebelum jumatan, kemudian dia tidak bangun, maka dia tergolong orang yang meremehkan kewajiban syariat.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فعلى المسلم إذا احتاج للنوم قبل الجمعة أو غيرها من الصلوات وخاف فواتها، أن يتخذ من الأسباب ما يعينه على الانتباه للصلاة في وقتها، كأن يعهد إلى من يثق به، أو يجعل عند رأسه ساعة تنبهه حتى لا يكون مفرطاً ولا متساهلاً.

Wajib bagi setiap muslim yang ingin tidur sebelum jumatan atau tidur sebelum shalat 5 waktu lainnya, dan dia khawatir bisa meninggalkan shalat, agar dia mengambil sebab yang bisa membantunya untuk bangun melaksanakan shalat pada waktunya. Misalnya dengan berpesan kepada orang yang bisa dipercaya untuk membangunkannya atau dia pasang alrm di dekat kepalanya yang bisa membangunkannya, sehingga dia tidak tergolong orang yang meremehkan kewajiban. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 1579).

Ketiga, jika orang sangat ngantuk sebelum jumatan, kemudian dia berusaha mengambil sebab agar bisa bangun sebelum jumatan, namun ternyata dia tetap tidak bisa bangun, maka dia tidak dinilai bersalah.

Dalam lanjutan Fatwa dari Syabakah Islamiyah,

ثم إذا غلبه النوم مع اتخاذ الأسباب الكافية والاحتياطات اللازمة فلا إثم عليه إذن، لقوله صلى الله عليه وسلم: ” إنه ليس في النوم تفريط” أخرجه مسلم

Kemudian, jika dia benar-benar tidak bisa bangun, padahal sudah berusaha mengambil sebab yang memadai agar dia bisa bangun, dan dia juga sudah hati-hati, maka tidak dihukumi dosa. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْسَ فِى النَّوْمِ تَفْرِيطٌ

“Orang yang ketiduran tidak dianggap meremehkan.” (HR. Muslim)

(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 1579).

Keempat, bagi orang yang tidak jumatan karena udzur, dia wajib ganti dengan shalat dzuhur 4 rakaat, dengan tata cara sama persis sebagaimana orang shalat dzuhur.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْجُمُعَةِ فَلْيُصَلِّ إِلَيْهَا أُخْرَى , وَمَنْ فَاتَتْهُ الرَّكْعَتَانِ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا

Siapa yang mendapatkan satu rakaat bersama imam, hendaknya dia nambahi satu rakaat lagi. Dan siapa yang ketinggalan kedua rakaat jumatan, hendaknya dia shalat 4 rakaat. (Al-Mudawanah, 1/229).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mendengarkan khutbah

Makmum tidak Bisa Mendengar Khutbah Jumat

Ketika jumatan listrik mati, sehingga pengeras suara tidak berfungsi. Apa yg hrs dilakukan makmum yg tdk mendengar khutbah? Bolehkah mereka berbicara?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya, makmum tidak boleh berbicara ketika khatib sedang berkhutbah. Bahkan tindakan semacam ini bisa menggugurkan pahala jumatannya.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Bicara Ketika Mendengarkan Khutbah Jumat, Menghapus Pahala Jumatan 

masalah berikutnya, bagaimana jika makmum tidak mendengar khutbah imam. Misalnya, dia di posisi jauh dari imam, sementara pengeras suara masjid tidak berfungsi.

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, bolehkah bagi makmum tersebut untuk berbicara?

Pendapat pertama, makmum yang tidak mendengar khutbah boleh berbicara.

Ini merupakan pendapat hanafiyah, pendapat yang kuat dalam madzhab Syafiiyah, dan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad.

Mereka beralasan bahwa larangan berbicara bagi makmum itu berlaku jika makmum mendengar khutbah imam, agar mereka bisa konsentrasi.

Pendapat kedua, makmum harus tatap diam, sekalipun dia tidak mendengar khutbah.

Ini merupakan pendapat sebagian Hanafiyah, Malikiyah, salah satu pendapat dalam madzhab Syafiiyah, dan mayoritas pendapat ulama hambali.

Diantara yang menguatkan pendapat ini,

Pertama, keumuman cakupan makna hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ . يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Jika kamu mengatakan ‘Diam’ kepada temanmu, pada hari jumat, sementara imam sedang berkhutbah, berarti kamu melakukan tindakanlagha. (HR. Bukhari 943, Muslim 2002, dan yang lainnya)

Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum berbicara ketika imam berkhutbah, terlepas dia mendengar atau tidak mendengar.

Kedua, nasehat Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, dalam salah satu khutbah beliau, Khalifah Utsman menasehatkan,

إِذَا قَامَ الإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاسْتَمِعُوا ، وَأَنْصِتُوا ، فَإِنَّ لِلْمُنْصِتِ الَّذِي لا يَسْمَعُ الْخُطْبَةَ مِثْلُ مَا لِلسَّامِعِ الْمُنْصِتِ

Apabila imam berkhutbah di hari jumat, perhatikan dan diam. Karena orang yang diam, yang tidak mendengarkan khutbah mendapatkan pahala seperti yang diperoleh orang yang mendengar khutbah dan diam. (HR. Baihaqi dalam al-Kubro, Bab al-Inshat lil Khutbah, 3/220).

Ketiga, hendaknya makmum berusaha sesuai kemampuannya

Yang diperintahkan bagi makmum ketika jumatan adalah mendengar dan diam. Orang yang dekat dengan imam, dia mampu melakukan keduanya. Sementara yang jauh dari imam, yang mampu dia lakukan hanya diam. Sehingga ini tidak boleh dia tinggalkan.

Sementara alasan pendapat pertama bahwa tujuan makmum diperintahkan diam hanya semata agar bisa konsentrasi mendengarkan khutbah, ini alasan yang tidak tepat. Karena diantara manfaat lain, makmum diam ketika mendengarkan khutbah adalah untuk mengkondisikan suasana. Sehingga makmum yang lain tidak terganggu.

Dari keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pendapat yang kuat dalam hal ini adalah pendapat kedua, makmum yang tidak mendengar khutbah tetap diwajibkan untuk diam.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Hanya saja, dianjurkan baginya untuk menyibukkan diri dengan dzikir atau membaca al-Quran atau membaca buku agama. Dengan catatan, dia tidak boleh membacanya terlalu keras, sehingga mengganggu orang lain.

Ini merupakan pendapat ulama madzhab hambali dan sebagian syafiiyah.

Al-Mardawi – ulama hambali – mengatakan,

يجوز لمن بعد عن الخطيب ولم يسمعه الاشتغال بالقراءة والذكر خفية وفعله أفضل

Boleh bagi orang yang jauh dari khatib dan dia tidak mendengarkan khutbah, agar dia menyibukkan diri dengan membaca al-Qura atau dzikir dengan pelan. Dan perbuatannya ini lebih baik (dari pada diam saja). (al-Inshaf, 2/294).

Keterangan lain disampaikan al-Buhuti – Ulama hambali –, beliau mengatakan,

فإن كان بعيدا عن الإمام بحيث لا يسمعه لم يحرم عليه الكلام لأنه ليس بمستمع لكن يستحب اشتغاله بذكر الله تعالى والقرآن والصلاة عليه صلى الله عليه وسلم في نفسه واشتغاله بذلك أفضل من إنصاته ويستحب له أن لا يتكلم

Jika dia jauh dari imam, sehingga tidak mendengar khutbah imam, tidak dilarang untuk berbicara. Karena dia bukan mustami’ (pendengar). Hanya saja, dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan berdzikir, membaca al-Quran, atau membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pelan-pelan. Dan itu lebih bagus dari pada dia diam. Dan dianjurkan agar dia tidak ngobrol. (Syarh Muntaha al-Iradat, 1/322)

Demikian,Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat jumat

Penghapus Pahala Jumatan

Apakah bicara ketika khutbah jumat bisa menghapus pahala jumatan? Saya pernah mndengar itu. Apa benar? Trim’s Ustad

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam menyupayakan agar kaum muslimin menjadi umat yang terdidik dengan wahyu. Karena itulah, islam mewajibkan umatnya yang laki-laki untuk menghadiri jumatan. Sehingga sesibuk apapun seorang muslim, minimal sepekan sekali, dia akan mendapatkan siraman rohani dari khutbah jumat.

Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian besar bagi jumatan. Beliau mengajarkan berbagai macam adab, agar para peserta jumatan bisa mendapatkan banyak pelajaran dari khutbah yang disampaikan khatib.

Diantara adab itu, beliau melarang peserta jumatan untuk bicara di tengah mendengarkan khutbah jumat.

Diantara dalil wajibnya diam ketika mendengarkan khutbah,

Pertama, firman Allah,

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

Apabila dibacakan Al Quran, dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. al-A’raf: 204)

Said bin Jubair menyebutkan bahwa ayat ini berbicara tentang perintah diam ketika khutbah idul adha, idul fitri, khuutbah jumat, dan ketika shalat jamaah yang bacaan imam dikeraskan.

Pendapat ini juga yang dipilih oleh Ibnu Jarir, bahwa perintah diam itu untuk shalat jahriyah dan ketika mendengarkan khutbah. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/538)

Kedua, hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ . يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Jika kamu mengatakan ‘Diam’ kepada temanmu, pada hari jumat, sementara imam sedang berkhutbah, berarti kamu melakukan tindakanlagha. (HR. Bukhari 943, Muslim 2002, dan yang lainnya)

Makna: ‘tindakan lagha’ ucapan yang bathil, yang tertolak, yang tidak selayaknya dilakukan. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 6/138)

Konsekuensi Ketika Orang Melakukan Lagha

Dijelaskan dalam riwayat lain, konsekuensi ketika orang melakukan tindakan lagha adalah menggugurkan pahala jumatannya.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya,

Pertama, hadis dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من اغتسل يوم الجمعة ثم مس من طيب امرأته إن كان لها و لبس من صالح ثيابه ثم لم يتخط رقاب الناس و لم يلغ عند الموعظة كانت كفارة لما بينهما و من لغا أو تخطى كانت له ظهرا

Siapa yang mandi di hari jumat, lalu memakai minyak wangi istrinya jika dia punya, lalu memakai pakaian yang paling bagus, tidak melangkahi pundak jamaah, dan tidak bertindak lagha, maka jumatannya akan menjadi kaffarah antara dua jumat. Sementara siapa yang melakukan tindakan lagha atau melangkahi pundak jamaah, maka dia hanya mendapat pahala shalat zuhur. (HR. Ibnu Khuzaimah 1810 dan dishhaihkan al-Albani)..

Dalam riwayat lain dinyatakan,

وَمَنْ تَكَلَّمَ فَلاَ جُمُعَةَ لَهُ

Siapa yang berbicara maka tidak ada pahala jumatan baginya. (HR. Ahmad 719 dan didhaifkan Syuaib al-Arnauth).

Kedua, hadis dari Ubay bin Ka’b Radhiyallahu ‘anhu

Bahwa ketika khutbah Jumat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan surat al-Mulk, dan ayyamullah (hari dimana Allah memberi kenikmatan bagi ornag baik dan hukuman bagi orang jahat). Tiba-tiba Abu Dzar mencubitku dan bertanya,

“Kapan surat ini turun? Saya belum pernah mendengarnya kecuali saat ini.”

Lalu Ubay bin Ka’b berisyarat, menyuruh Abu Dzar untuk diam.

Seusai jumatan, Abu Dzar bertanya lagi,

‘Aku tanya kepadamu, kapan ayat itu diturunkan, namun kamu tidak memberi tahukannya.’

Lalu Ubay mengatakan,

لَيْسَ لَكَ مِنْ صَلَاتِكَ الْيَوْمَ إِلَّا مَا لَغَوْتَ

Kamu tidak mendapatkan apapun dari ibadah jumatanmu selain tindakan lagha yang kamu lakukan.

Kemudian Abu Dzar melaporkan ini kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk apa yang diucapakn Ubay. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan Ubay. (HR. Ahmad 21287 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ketiga, hadis dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma,

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَحْضُرُ الْجُمُعَةَ ثَلَاثَةٌ : رَجُلٌ حَضَرَهَا بِدُعَاءٍ وَصَلَاةٍ، فَذَلِكَ رَجُلٌ دَعَا رَبَّهُ إِنْ شَاءَ أَعْطَاهُ، وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُ، وَرَجُلٌ حَضَرَهَا بِسُكُوتٍ وَإِنْصَاتٍ، فَذَلِكَ هُوَ حَقُّهَا، وَرَجُلٌ يَحْضُرُهَا يَلْغُو فَذَلِكَ حَظُّهُ مِنْهَا

Ada tiga model manusia yang mendatangi jumatan:

Orang yang datang jumatan untuk berdoa dan shalat. Orang ini hanya berdoa kepada Allah. Jika berehendak Allah akan mengabulkannya dan jika tidak, Allah tidak mengabulkannya.

Orang yang hadir jumatan dengan tenang dan diam, inilah yang berhak mendapatkan pahala jumatan sempuurna.

Dan Orang yang hadir jumatan namun dia melakukan tindakan laghwun, maka tindakan laghwunya. (HR. Ahmad 6701, Abu Daud 1115 dan dihasankan al-Arnauth).

Keempat, hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا، وَالَّذِي يَقُولُ لَهُ: أَنْصِتْ، لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ

Siapa yang berbicara di hari jumat ketika imam sedang khutbah, maka dia seperti keledai yang menggendong barang bawaan. Sementara oranng yang mengatakan ‘Diam’ maka tidak ada jumatan baginya. (HR. Ahmad 2033, dan dinilai dhaif Syuaib al-Arnauth).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

yang membatalkan shalat

Adakah Shalat Qabliyah Sebelum Adzan?

Assallamualaikum ustaz,

Nak tanya, rumah saya dekat dgn masjid yg mana azan bolih didengar dirumah saya.

Soalan saya, bolih kah saya solat sunnah dirumah masa azan masih berkumandang, lps itu saya segera kamasjid utk solat fardu berjemaah. Klu saya tunggu habis azan baru saya solat sunnah mungkin saya tidak dapat bertabkir bersama imam.

Mohon penjelasan TK.

Dari M. Aliyudin, Malaysia

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Batasan mengenai qabliyah dan ba’diyah, telah dijelaskan Ibnu Qudamah,

كل سنة قبل الصلاة , فوقتها من دخول وقتها إلى فعل الصلاة , وكل سنة بعدها , فوقتها من فعل الصلاة إلى خروج وقتها

Semua shalah sunah qabliyah, batas waktunya antara masuknya waktu shalat sampai pelaksanaan shalat wajib. Dan semua shalat sunah ba’diyah, batas waktunya sejak selesai pelaksanaan shalat hingga selesai waktu shalat. (al-Mughni, 1/799).

Karena itu, orang yang melakukan shalat sunah qabliyah setalah benar-benar masuk waktu shalat, status shalatnya sah, sekalipun di masjid terdekat belum adzan karena muadzin telat mengumandangkan adzan.

Ada sebuah pertanyaan yang dilayangkan kepada Imam Ibnu Baz,

Ketika saya keluar dari rumahku, ada masjid yanng sudah adzan. Kemudian saya menuju masjid terdekat di rumahku. Saya kira sudah adzan, sehingga saya langsung shalat qabliyah subuh. Ketika saya bangkit di rakaat kedua, tiba-tiba muadzin baru mengumandangkan adzan. Apakah shalat qabliyah yg telah saya kerjakan harus diulang? Apakah dinilai sebagai qabliyah?

Jawaban Imam Ibnu Baz:

إذا كان المؤذن الذي أذن وأنت تصلي سنة الفجر قد أخَّر الأذان وصادف فعلك لها بعد طلوع الفجر : فقد أديت السنَّة ويكفي ذلك ولا حاجة أن تعيدها ، أما إذا كنت تشك في ذلك ولا تعلم هل المؤذن الذي أذن وأنت في الصلاة هل أذانه بعد الصبح أو عند طلوع الفجر : فالأحوط لك والأفضل أن تعيد الركعتين ، حتى تكون أديتهما بعد طلوع الفجر يقينا

Apabila muadzin yang melakukan adzan ketika anda shalat sunah fajar, itu telat dalam mengumandangkan adzan, sehingga bertepatan dengan shalat anda setelah terbit fajar, maka shalat sunah anda sah, anda tidak perllu lagi mengulanginya.

Akan tetapi jika anda ragu, dan anda tidak tahu apakah muadzin mengumandangkan adzan itu setelah masuk subuh atau ketika fajar baru terbit, maka yang lebih hati-hati dan lebih afdhal, anda ulangi dua rakaat sebelum subuh itu. Sehingga anda benar-benar yakin telah mengerjakan shalat qabliyah subuh. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/370).

Ini bagian penting yang perlu diberi garis tebal: jika anda yakin telah masuk waktu shalat, boleh melakukan shalat qabliyah, sekalipun adzan di masjid terdekat belum dikumandangkan, karena muadzin telat.

Allahu a’lam.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

 

bacaan shalat

Imam Batal Ketika Sujud

Apa yang harus dilakukan imam jika dia batal dalam posisi sujud? Makmum kan gak liat dia pergi..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ketika imam batal wudhu dalam posisi sujud, ada beberapa proses yang bisa dilakukan:

  1. Imam yang batal langsung bangkit diam-diam, tanpa membaca takbir intiqal, karena dia sudah batal.
  2. Kemudian dia tepuk salah satu jamaah yang berada di belakangnya untuk menggantikan dirinya jadi imam.
  3. Selanjutnya, imam yang baru ini bertakbir bangkit dari sujud tetap di shaf pertama (posisi semula).
  4. Setelah berdiri, dia bisa maju menggantikan posisi imam, kemudian menyelesaikan shalat.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya, ‘Apa yang harus dilakukan apabila imam batal wudhunya dalam posisi sujud?’

Jawab beliau,

العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة ، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة

Yang harus dia lakukan dalam kondisi ini, dia harus membatalkan shalat, lalu menyuruh salah satu makmum yang berada di belakangnya untuk melanjutkan shalat jamaah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/154).

Jika imam lupa atau tidak tahu, sehingga tidak langsung membatalkan, namun dia bangkit dengan membaca takbir, padahal dia sudah batal, kemudian diikuti makmum, maka shalat makmum tetap sah. Dalam dalam kasus ini ada udzur untuk makmum.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

وإذا حصل للإمام سبب الاستخلاف في ركوع أو سجود فإنه يستخلف، كما يستخلف في القيام وغيره، ويرفع بهم من السجود الخليفة بالتكبير  ويرفع الإمام رأسه بلا تكبير؛ لئلا يقتدوا به، ولا تبطل صلاة المأمومين إن رفعوا رءوسهم برفعه

Jika ada sebab yang mengharuskan imam harus diganti dalam posisi rukuk atau sujud, maka imam bisa langsung nunjuk pengganti sebagaimana yang biasa dilakukan dalam posisi berdiri. Kemudian Imam pengganti mengangkat kepalanya dari sujud dengan mengeraskan takbir intiqal. Sementara imam yang batal, tidak boleh membaca takbir ketika bangkit, agar makmum tidak mengikutinya. Meskipun shalat makmum tetap sah jika dia bangkit karena mengikuti takbir imam. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 3/253).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

bacaan shalat

Bolehkah Membaca Surat Di Rakaat Ketiga dan Keempat?

Tanya ustd,

Bolehkah membaca surat setelah Fatihah di Rakaat ketiga dan Keempat?

Muhammad Dalton

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Mari kita simak beberapa hadis berikut,

Pertama, hadis dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ فِى الأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ ، وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ ، وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ ، وَيُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى مَا لاَ يُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَهَكَذَا فِى الْعَصْرِ وَهَكَذَا فِى الصُّبْحِ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat dzuhur, di dua rakaat pertama beliau membaca al-Fatihah dan dua surat. Sementara di dua rakaat terakhir beliau membaca al-Fatihah. Beliau membacanya hingga kami terdengar ayat. Beliau baca lebih panjang di rakaat pertama, tidak sepanjang di rakaat kedua. Demikian pula ketika shalat asar dan subuh. (HR. Bukhari 776 & Muslim 1041).

Kedua, hadis dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نَحْزُرُ قِيَامَ رَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِي اَلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ , فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي اَلرَّكْعَتَيْنِ اَلْأُولَيَيْنِ مِنْ اَلظُّهْرِ قَدْرَ : (الم تَنْزِيلُ) اَلسَّجْدَةِ . وَفِي اَلْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ اَلنِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ . وَفِي اَلْأُولَيَيْنِ مِنْ اَلْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ اَلْأُخْرَيَيْنِ مِنْ اَلظُّهْرِ

Kami memperhatikan berdirinya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat dzuhur dan asar. Kami perhatikan berdiri beliau di dua rakaat pertama shalat dzuhur panjangnya sekitar surat as-Sajdah. Sementara di dua rakaat terakhir setengahnya. Sementara di dua rakaat pertama shalat asar, seperti dua rakaat terakhir shalat dzuhur. (HR. Muslim 452).

Ketiga, diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwatha’ bahwa Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu, di rakaat ketiga shalat maghrib beliau membaca al-Fatihah alu dilanjutkan dengan ayat (QS. Ali Imran: 8) berikut:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Al-Muwatha’, 178).

Dengan memperhatikan beberapa hadis tentang masalah ini, ulama berbeda pedapat tentang membaca surat setelah al-Fatihah di rakaat ketiga dan keempat. Perbedaan ini hanya berkisar, mana yang lebih sesuai sunah di rakaat ketiga dan keempat, apakah cukup membaca al-Fatihah ataukah dianjurkan untuk ditambahi surat lain.

Imam Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya mengatakan,

إباحة القراءة في الأخريين من الظهر والعصر بأكثر من فاتحة الكتاب وهذا من اختلاف المباح لا من اختلاف الذي يكون أحدهما محظورا والأخر مباحا فجائز أن يقرأ في الأخريين في كل ركعة بفاتحة فيقتصر من القراءة عليها ومباح أن يزاد في الأخريين على فاتحة الكتاب

Boleh membaca di dua rakaat terahir untuk shalat dzuhur dan asar lebih dari surat al-Fatihah. Ini termasuk perbedaan pendapat ulama yang sifatnya mubah. Bukan perbedaan yang satu hukumnya terlarang dan yang satu mubah. Boleh saja di dua rakaat terakhir, pada masing-masing rakaat seseorang membaca al-Fatihah saja. Boleh juga di dua rakaat terakhir dia tambahi dengan surat lain setelah al-Fatihah. (Shahih Ibnu Khuzaimah, 1/256).

Karena itulah, Abul Hasanat al-Laknawi (w. 1304 H) mengingkari pendapat sebagian ulama yang menganjurkan sujud sahwi bagi orang yang membaca surat setelah bacaan al-Fatihah di rakaat ketiga dan keempat.

Dalam kitabnnya at-Ta’liq al-Mumajjad, beliau mengatakan,

وأغرب بعض أصحابنا حيث حكموا على وجوب سجود السهو بقراءة سورة في الأخريين، وقد ردَّه شراح “المنية” – إبراهيم الحلبي وابن أمير حاج الحلبي وغيرهما – بأحسن ردّ ولا أشكُّ في أن من قال بذلك لم يبلغه الحديث، ولو بلغه لم يتفوَّه به

Yang aneh, pendapat sebagian madzhab kami (hanafi) yang mewajibkan sujud sahwi karena membaca surat di dua rakaat terakhir. Pendapat ini telah dibantah dengan bagus oleh para ulama yang mensyarah kitab al-Maniyah, seperti Ibrahim al-Halabi, Ibnu Amir al-Hal al-Halabi, dan ulama lainnya. Kita sangat yakin, orang yang berpendapat demikian, karena belum sampai kepadanya hadis. Andai telah sampai kepadanya hadis, tentu dia tidak akan mengucapkan demikian. (at-Ta’liq al-Mumajjad, 1/440).

Kesimpulan Mereka

Sebagian ulama ada yang menganjurkan agar disesuaikan dengan makna yang tertuang dalam teks hadis. Hadis Abu Qatadah dijadikan acuan umum, bahwa di rakaat ketiga dan keempat hanya membaca surat al-Fatihah. Sementara hadis Abu Said al-Khudri menjadi keterangan tambahan, yang khusus berlaku untuk shaat dzuhur dan asar.

Sementara untuk shalat maghrib, hadis Abu Bakar bisa dijadikan dalil yang bersifat kasuistik.

Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam Ibnu Baz. Beliau menyimpulkan, dianjurkan membaca surat di rakaat ketiga dan keempat pada shalat dzuhur dan asar. Kemudian untuk shalat maghrib, di rakaat ketiga dianjurkan untuk terkadang membaca ayat sebagaimana yang dibaca Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu.

Sementara untuk shalat isya, di rakaat ketiga dan keempat, tidak dianjurkan membaca surat apapun setelah al-Fatihah.

Beliau mengatakan di akhir fatwa,

وأما العشاء فلم يرد ما يدل على الزيادة ، ولذا قال العلماء : لا ينبغي أن يزيد في الثالثة والرابعة منها على الفاتحة

Untuk shalat isya, tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya baccaan setelah al-Fatihah. Karena itu, para ulama mengatakan, tidak selayaknya menambahkan bacaan surat setela al-Fatihah di rakaat ketiga dan keempat untuk shalat isya.

(Fatawa  Nur ‘ala ad-Darb, 2/788).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Shalat Sambil Gendong Bayi Pakai Pampers

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ketika berbincang dengan teman yang sudah menjadi ummahat, beliau bercerita, jika ia sedang sholat dan si anak mengangis maka ia akan ambil anaknya dan menggendongnya, jadi ia sholat dengan tetap menggendong si anak. Ketika ana tanyakan padanya, apakah rasul dulu juga seperti itu? ia bilang ya, apakah itu benar ustadz? apakah sholatnya tetap sah? karena setahu ana kan hanya diperbolehkan tiga gerakan saja? bagaimanakah sholat Rasulullah. Jazakumullah jika dijelaskan, ini sangat berguna jika sudah menjadi ibu-ibu kelak. tentunya seorang ibu akan sangat resah jika anak menangis, sholat tdk dapat khusyu’ dan tentunya akan ringan rasa itu jika diperbolehkan menggendong anak dalam sholat.

Penanya: Winna

Jawaban Ustadz Muhammad Arifin Badri

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rosululloh, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat, amiin.

Langsung saja, betul, dahulu Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam kadang kala mengangkat cucunya, Hasan, Husain, Umamah rodhiallohu anhum ketika sedang sholat, bahkan suatu saat ketika beliau sedang sholat, beliau menggendong cucunya yang bernama Umamah bin Abil ‘Ash, sehingga ketika sedang berdiri, beliau menggendongnya, dan ketika ruku’ dan sujud, beliau menurunkannya, padahal kala itu beliau sholat mengimami para sahabatnya.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dan juga lainnya. Oleh karena itu para ulama’ menegaskan bahwa boleh bagi orang yang sedang sholat untuk mengangkat, atau menggendong anak kecil.

Akan tetapi ada satu hal yang perlu diingat, yaitu ketika kita hendak menggendong anak kecil dalam sholat, maka anak tersebut harus dalam keadaan suci, tidak sedang ngompol, atau bajunya dalam keadaan najis, atau mengenakan popok atau diapers yang tentunya berisikan najis. Sebab orang yang sedang sholat diperintahkan untuk meninggalkan atau melepaskan setiap yang najis dari pakaian, atau sandal atau kaus kaki atau tempat ia sholat.

Dengan demikian bila anak kita mengenakan diapers, maka kita tidak boleh menggendongnya, karena biasanya si anak telah pipis atau bahkan buang air besar di dalamnya, sehingga bila kita menggendongnya berarti kita membawa najis ketika sedang sholat, dan ini tentunya terlarang.

Dahulu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah sholat mengenakan sandal, dan ketika di tengah-tengah sholat tiba-tiba beliau melepaskan kedua sandalnya, sehingga para sahabat pun ikut-ikutan melepaskan sandalnya. Seusai sholat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ia diberi tahu oleh Malaikat Jibril bahwa di sandalnya terdapat kotoran (najis), oleh karena itu beliau melepaskan sandalnya.

Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Al Baihaqi, Ad Darimi dan lain-lain. Semoga jawaban pendek nan singkat ini cukup memberikan gambaran bagi kita semua.

Wallohu a’lam bisshowab.

Dijawab oleh Ustadz DR.Muhammad Arifin Baderi (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sakit ketika shalat

Menangis Ketika Shalat

Ada imam yg ketika shalat selalu berusaha menangis. Apakah ini dibolehkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, menangis ketika shalat, tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Bahkan jika menangis ini muncul karena orang yang shalat merenungkan apa yang dia baca, insyaaAllah termasuk bagian dari khusyu dalam shalat.

Sahabat Abdullah bin Syikhir Radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan,

أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يُصَلِّى وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ يَعْنِى يَبْكِى

Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang shalat, dan terdengar gemuruh di dada beliau seperti gemuruh wadah berisi air mendidih, karena beliau nangis. (HR. Ahmad 1755, Nasai 1222, Ibn Hibban 665, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Demikian pula yang terjadi kepada para sahabat. Diantaranya Abu Bakr as-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu. Beliau dikenal sangat mudah menangis ketika shalat dan baca al-Quran, hingga beliau digelari al-Bakka. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad dan Bukhari.

Adakah Anjuran Berusaha Nangis?

Nangis yang dialami orang-orang soleh di atas adalah nangis karena suasana hati. Mereka menangis karena takut kepada Allah atau merenungi makna ayat yang dibaca. Bukan memaksakan diri untuk menangis.

Berusaha menangis atau memaksakan diri untuk menangis (at-Tabaki), dijelaskan Ibnul Qoyim, bentuknya ada dua, terpuji dan tercela. Dalam Zadul Ma’ad beliau mengatakan,

وما كان منه مستدعىً متكلفاً فهو التباكي وهو نوعان : محمود ومذموم، فالمحمود : أن يُستحلب لرقة القلب ولخشية الله ، لا للرياء والسمعة، والمذموم : يُجتلب لأجل الخلق

Memaksakan diri untuk menangis disebut at-Tabaki, ada dua macam,

Ada yang terpuji dan ada yang tercela.

Memaksakan diri untuk nangis yang terpuji adalah berusaha menangis dalam rangka melembutkan hati dan agar takut kepada Allah, bukan karena riya atau sum’ah (pamer). Sementara memaksa nangis yang tercela adalah sok nangis untuk dilihat orang lain. (Zadul Ma’ad, 1/175).

Diantara dalil dianjurkan berusaha nangis dalam rangka menampakkan rasa takut kepada Allah,

Pertama, hadis dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, tentang tawanan perang Badar. Umar mengusulkan agar tawanan perang Badar semuanya dibunuh. Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr berijtihad agar tawanan perang badar ditukar dengan tawanan yang lain atau dibebaskan dengan tebusan. Hingga Allah menurunkan firman Allah surat al-Anfal ayat 67,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآَخِرَةَ

Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). (QS. al-Anfal: 67).

Setelah itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu menangis. Ketika Umar datang, beliau mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى مِنْ أَىِّ شَىْءٍ تَبْكِى أَنْتَ وَصَاحِبُكَ فَإِنْ وَجَدْتُ بُكَاءً بَكَيْتُ وَإِنْ لَمْ أَجِدْ بُكَاءً تَبَاكَيْتُ لِبُكَائِكُمَا

Ya Rasulullah, sampaikan kepadaku, apa yang membuat anda memangis. Anda dan Abu Bakr. Jika aku menemukan alasan untuk menangis, aku akan menangis. Dan jika aku tidak menemukan alasan itu, aku akan berusaha menangis karena tangisan anda berdua. (HR. Ahmad 213, Muslim 4687 dan yang lainnya)..

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari keinginan Umar untuk berusaha menangis dalam rangka menampakkan kesedihan.

Kedua, hadis dari Ibn Abi Mulaikah

Bahwa beliau pernah duduk bersama sahabat Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, di Hijr. Lallu beliau mengatakan,

ابكوا ، فإن لم تجدوا بكاء فتباكوا ، لو تعلموا العلم لصلَّى أحدكم حتى ينكسر ظهره ، ولبكى حتى ينقطع صوته

Menangislah, jika kalian tidak bisa nangis, berusahalah memaksakan diri untuk nangis. Seandainya kalian mengetahui ilmu, kalian akan mengerjakan shalat hingga punggungnya patah, dan kalian akan menangis hingga suaranya habis. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak 4/622 dan dishahihkan al-Albani dalam shahih at-Targhib)

Seorang ulama mengatakan,

ابكوا من خشية الله فإن لم تبكوا فتباكوا

Menangislah karena takut kepada Allah. Jika tidak bisa nangis, paksakan diri anda untuk nangis. (Zadul Ma’ad, 1/175)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sakit ketika shalat

Orang Pingsan Harus Qadha Shalat?

Apakah orang yang pingsan wajib mengqadha shalatnya? trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Mari kita perhatikan dua hadis berikut,

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يَفِيقَ

Ada 3 orang yang pena catatan amalnya diangkat (tidak ditulis): Orang yang tidur sampai dia bangun, anak kecil samai dia baligh, dan orang gila sampai dia sadar. (HR. Ahmad 1195, Nasai 3445, Turmudzi 1488 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Hadis kedua, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى

Apabila kalian ketiduran atau kelupaan hingga tidak shalat, hendaknya dia kerjakan shalat itu ketika dia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), ‘Tegakkanlah shalat ketika mengingat-Ku.’ (HR. Ahmad 13247, Muslim 1601, dan yang lainnya).

Selanjutnya, ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum bagi orang yang pingsan, berkaitan dengan kewajiban mengqadha shalatnya,

Pertama, Hanafiyah menyatakan, jika pingsannya melebihi sehari semalam, tidak wajib qadha. Sebaliknya, jika kurang dari sehari semalam, wajib qadha. Orang yang pingsan kurang dari sehari semalam, disamakan dengan orang yang tidur. Dia tidak berdosa meninggalkan shalat selama pingsan, namun wajib qadha.

Dalam  kitab Multaqa al-Abhur dinyatakan,

ومن أغميَّ عليه أو جن يوماً وليلة قضى ما فات وإن زاد ساعة لا يقضي وعند محمد يقضي ما لم يدخل وقت سادسة

Orang yang pingsan atau tidak sadar sehari semalam, wajib mengqadha shalat yang dia tinggalkan. Jika pingsannya lebih dari itu, sekalipun hanya lebih 1 jam, tidak wajib mengqadha shalat. Namun menurut Muhammad bin Hasan (murid senior Abu Hanifah), orang pingsan wajib qadha shalat, selama belum masuk waktu shalat keenam. (Multaqa al-Abhur, 1/231).

Yang dimaksud sebelum waktu shalat keenam adalah pingsan selama lebih dari 24 jam, sehingga meninggalkan 5 waktu shalat, namun dia sadar sebelum masuk waktu shalat berikutnya.

Kedua, Malikiyah berpendapat, orang yang pingsan sama sekali tidak wajib mengqadha shalatnya, berapapun jeda waktunnya. Orang yang pingsan disamakan dengan orang yang hilang akal. Sementara orang yang hilang akal, tidak terkena kewajiban syariat. Dalilnya adalah hadis A’isyah di atas.

Ibnu Abdil Bar (w. 463 H) mengatakan,

ولا يقضي المغمى شيئا من الصلوات لأنه ذاهب العقل ومن ذهب عقله عليه في وقت صلاة يدرك منها ركعة لزمه فليس بمخاطب فإن افاق المغمى عليه في وقت صلاة يدرك منها ركعه لزمه قضاءها

Orang yang pingsan, tidak wajib mengqadha shalatnya. karena dia hilang akal. Orang yang hilang akal, selama rentang waktu shalat, berarti dia tidak terkena kewajiban shalat. Jika orang yang pingsan sadar, bisa menyusul satu rakaat sebelum waktu shalat berakhir, dia wajib mengqadhanya. (al-Kafi fi Fiqh Ahli al-Madinah, 1/237).

Ketiga, Syafiiyah sependapat dengan Malikiyah, orang yang pingsan tidak wajib qadha shalat, seberapapun lama dia pingsan.

An-Nawawi mengatakan,

من زال عقله بسبب غير محرم كمن جن أو أغمى عليه أو زال عقله بمرض أو بشرب دواء لحاجة أو اكره علي شرب مسكر فزال عقله فلا صلاة عليه وإذا أفاق فلا قضاء عليه بلا خلاف للحديث سواء قل زمن الجنون والاغماء ام كثر هذا مذهبنا

Orang yang kehilangan akal dengan sebab yang tidak terlarang, seperti orang yang pingsan atau tidak sadar, baik disebabkan sakit atau karena minum obat yang dibutuhkan, atau dipaksa minum khamr, hingga mabuk, maka tidak ada kewajiban shalat baginya. Jika dia sadar, tidak ada kewajiban qadha tanpa ada perbedaan pendapat – di kalangan ulama madzhab – berdasarkan hadis (Aisyah) di atas. Baik pingsannya itu sebentar maupun lama. Inilah madzhab kami (Syafiiyah). (al-Majmu’, 3/6).

Keempat, dalam madzhab hambali, orang yang pingsan wajib qadha, seberapapun lama pingsannya. Analogi orang yang pingsan itu lebih dekat kepada orang tidur dari pada orang gila. Sehingga orang pingsan dihukumi sebagaimana orang tidur. Sementara ditegaskan dalam hadis Anas bin Malik, orang yang tidur wajib mengqadha shalatnya,

Dalam kitab al-Inshaf dinyatakan,

وأما المغمى عليه فالصحيح من المذهب: وجوبها عليه مطلقا نص عليه في رواية صالح وبن منصور وأبي طالب وبكر بن محمد كالنائم وعليه جماهير الأصحاب

Orang yang pingsan, pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, wajib mengqadhanya secara mutlak. Ditegaskan Imam Ahmad menurut riwayat Sholeh, Ibnu Manshur, Abu Thalib, dan Bakr bin Muhammad, sebagaimana orang tidur. Ini merupakan pendapat mayoritas madzhab hambali.

Lebih lanjut, dalam itu dinyatakan,

وأما إذا زال عقله بشرب دواء يعني مباحا فالصحيح من المذهب: وجوب الصلاة عليه وعليه جماهير الأصحاب

Ketika orang tidak sadar, karena minum obat yang hukumnya mubah, pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, wajibnya qadha shalat. Dan ini pendapat mayoritas ulama hambali. (al-Inshaf, 1/277).

Pemilihan Pendapat yang Lebih Kuat

Dari keterangan di atas, ada 3 keadaan manusia,

  1. Gila: tidak ada beban syariat (bukan mukallaf) dan tidak memiliki niat. Sehingga amalnya tidak sah dan jika sadar tidak ada kewajiban qadha.
  2. Tidur: ada beban syariat, karena masih mukallaf. Hanya saja, selama tidur, tidak ada kewajiban baginya. Ketika bangun, dia wajib mengganti ibadah wajib yang dia tinggalkan.
  3. Pingsan: kondisi ketiga ini tidak disebutkan dalam dalil. Sehingga ulama mengqiyaskan kepada dua kondisi di atas. Antara gila yang hilang akal dan tidur yang belum hilang akal. Dan pendapat yang mendekati, pingsan lebih dekat dengan kondisi tidur. Karena orang yang pingsan, tidak kita sebut hilang akal. Sehingga tidak bisa dianalogikan dengan orang gila. Sehingga dia lebih tepat digolongkan dengan orang tidur.

Karena itulah, orang yang pingsan, berkewajiban mengqadha’ semua shalat yang dia tinggalkan, setelah dia sadar.

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,189FansLike
3,853FollowersFollow
29,901FollowersFollow
61,049SubscribersSubscribe

RAMADHAN