<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Sholat</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/fikih/ibadah-fikih/sholat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Shalat Sunah di Malam 1 Rajab</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 May 2012 04:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11493</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Shalat Sunah di Malam 1 Rajab Pertanyaan: Assalamu’alaikum Insya Allah nanti malam adalah malam tanggal 1 Rajab. Saya mendengar ada anjuran untuk melakukan shalat sunah setelah maghrib sampai isya. Dengan janji pahala yang besar. Benarkah demikian? Terima kasih. Dari: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Shalat Sunah di Malam 1 Rajab</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Insya Allah nanti malam adalah malam <strong>tanggal 1 Rajab</strong>. Saya mendengar ada anjuran untuk melakukan <strong>shalat sunah</strong> setelah maghrib sampai isya. Dengan janji pahala yang besar. Benarkah demikian?<br />
Terima kasih.</p>
<p>Dari: Tri<br />
<span id="more-11493"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<p>Terdapat sebuah hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em>, yang menyatakan:</p>
<p class="arab">أن من صلى المغرب أول ليلة من من رجب ثم صلى بعدها عشرين ركعة بفاتحة الكتاب وقل هو اللّه أحد مرة ويسلم فيهن عشر تسليمات أتدرون ما ثوابه فإن الروح الأمين جبريل أعلمني بذلك قلنا اللّه ورسوله أعلم قال حفظة اللّه تعالى في نفسه وماله وأهله وولده وأجبر من عذاب القبر وجاز على الصراط كالبرق بغير حساب ولا عذاب</p>
<p>“Siapa yang shalat magrib di malam pertama bulan <em>Rajab</em>, kemudian dilanjutkan dengan shalat 20 rakaat, di setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas satu kali, kemudian salam 10 kali (setiap dua rakaat salam), tahukan kalian apa pahalanya? Sesungguhnya Ruh yang amanah (Malaikat Jibril) mengajariku hal itu.” Para sahabat berkomentar, “Allah dan Rasul-Nya paling tahu.” Beliau melanjutkan, “Dia diberi penjagaan Allah terhadap dirinya, hartanya, keluarganya, anaknya, dilindungi dari siksa kubur, mudah melewati shirat seperti kilat, tanpa dihisab dab tanpa diazab.”</p>
<p>Hadis dengan redaksi di atas, diriwayatkan oleh Al-Jauzaqani dari jalur Abu Ja’far Muhammad bin Ali At-Thai, dari Abdul Karim bin Abu Hanifah, dari Abu Thayib thahir bin Hasan Al-Muthawi’i.</p>
<p>Imam As-Suyuthi memberikan komentar ringkas untuk hadis ini:</p>
<p class="arab">موضوع: وأكثر رواته مجاهيل</p>
<p>“Palsu, dan kebanyakan perawinya tidak dikenal.” (<em>Al-Lali’ al-Mashnu’ah</em>, 1:68).</p>
<p>Komentar yang sama juga disampaikan oleh As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em> 1:24 dan Ibnul Jauzi dalam <em>Al-Maudhu’at </em>2:123.</p>
<p>Kesimpulannya, kabar tentang amalan di malam pertama bulan <u>Rajab</u>, sebagaimana yang tersebar di masyarakat adalah dusta atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dengan demikian, kita kembali pada hukum asal bahwa tidak ada amalan khusus di malam Rajab.<br />
<em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 May 2012 01:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11468</guid>
		<description><![CDATA[Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Ustadz Bagaimana Derajat Hadist ini: Menurut Ibnu Abidin yang sebaiknya dibaca pada shalat dhuha adalah surat Asy-Syam pada rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua. Hal ini berdasarkan riwayat dari Uqban ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum Ustadz</p>
<p>Bagaimana Derajat Hadist ini:<br />
Menurut Ibnu Abidin yang sebaiknya dibaca pada <strong>shalat dhuha</strong> adalah surat Asy-Syam pada rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua.</p>
<p>Hal ini berdasarkan riwayat dari Uqban bin Amir, &#8220;Kami diperintahkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk shalat dhuha dengan membaca sejumlah surat. Di antaranya Asy-Syams dan Adh-Dhuha.&#8221;</p>
<p>Sementara dalam <em>Nihayatul Muhtaj</em> disebutkan bahwa yang lebih utama membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas karena surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Alquran dan Al-Kafirun setara dengan seperempat Alquran.</p>
<p>Ana kutip dari :<br />
1. http://anggrafansclub.wordpress.com/2012/01/23/apakah-ada-bacaan-surat-khusus-dalam-shalat-dhuha/</p>
<p>2. http://www.syariahonline.com/v2/shalat/2479-surat-yang-dibaca-dalam-shalat-dhuha.html</p>
<p>Dari: Muhammad Nawir<br />
<span id="more-11468"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam<br />
<em>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah&#8230;</em></p>
<h3>Bacaan Sholat Dhuha</h3>
<p>Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan untuk membaca surat As Syams pada rakaat pertama dan membaca surat Ad dhuha pada rakaat kedua. Hadis tersebut berbunyi:</p>
<p class="arab">صلوا ركعتي الضحى بسورتيها : (والشمس وضحاها) ، و (الضحى).</p>
<p>&#8220;<em>Shalatlah dua rakaat dhuha dengan membaca dua surat dhuha, yaitu surat Was syamsi wadhuhaa haa dan surat Adh dhuha.</em>&#8221;</p>
<p>Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan: &#8220;<em>Barangsiapa yang mengamalkannya maka dia diampuni</em>.&#8221;</p>
<p>Hadis di atas diriwayatkan oleh Ar Ruyani dalam <em>Musnad­-</em>nya dan Ad Dailami (2:242) dari jalur Musyaji&#8217; bin &#8216;Amr. Hadis ini juga disebutkan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam <em>Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari</em> dan tidak dikomentari. Beliau hanya menyatakan bahwa bacaan surat tersebut ada kesesuaian bacaan dengan shalat yang dikerjakan. Namun yang benar, hadis di atas adalah hadis palsu. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Albani, beliau mengatakan: &#8220;Hadis ini palsu, cacatnya ada pada Musyaji&#8217; bin Amr. Ibn Ma&#8217;in berkomentar tentang Musyaji&#8217;: &#8220;yang saya tahu dia (musyaji&#8217;) adalah seorang pendusta.&#8221; (<em>Silsilah Hadis Dhaif dan Palsu</em>, hadis ke-3774).</p>
<p>Hadis ini juga didhaifkan oleh Al Munawi dalam <em>Faidlul Qodir</em> dengan alasan adanya perawi yang bernama Musyaji&#8217; bin Amr. Imam Ad Dzahabi dalam <em>Ad Dlu&#8217;afa&#8217;</em> mengatakan dengan menukil perkataan Ibn Hibban: &#8220;Dia memalsukan hadis dari Ibn Lahi&#8217;ah dan dia adalah dhaif.&#8221; (<em>Faidlul Qodir</em>, 4:201).</p>
<p>Dari dua penjelasan ini, dapat diambil kesimpulan dengan yakin bahwa hadis yang menganjurkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu adalah hadis dhaif. Artinya tidak ada anjuran untuk mengkhususkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu, baik di rakaat pertama, rakaat kedua, maupun doa setelah shalat dhuha.</p>
<p>Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah ibadah yang penting untuk diketahui:</p>
<p>&#8220;Membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak dengan tata cara tertentu –misalnya waktu, tempat, bacaan, jumlah, dan yang lainnya- tanpa ada keterangan dalil yang shahih termasuk salah satu bentuk bid&#8217;ah.&#8221; (<em>Qowa’id Ma’rifatil Bida’</em>, Hal. 52)</p>
<p>Karena hadis yang dijadikan dalil untuk menetapan dua surat di atas adalah hadis palsu maka tidak selayaknya dijadikan pegangan untuk mengkhususkan bacaan tertentu dalam shalat dhuha. Karena hadis palsu bukanlah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sementara mengkhususkan bacaan tertentu untuk ibadah yang sifatnya umum (tidak ditentukan bacaannya) padahal tidak ada dasarnya, termasuk salah satu perbuatan bid&#8217;ah. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>As Syaikh Ibn Baz <em>rahimahullah</em> pernah ditanya tentang bacaan surat As Syamsi dan Ad dhuha ketika shalat dhuha. Beliau menjawab:</p>
<p>&#8220;Adapun yang sesuai sunah, engkau membaca surat yang mudah menurutmu setelah membaca Al Fatihah. Dalam bacaan tersebut tidak ada batasan tertentu, karena yang wajib hanya Al Fatihah sedangkan tambahannya adalah sunah. Maka jika setelah Al Fatihah engkau membaca surat As Syamsi, Al Lail, Ad dhuha, Al Insyirah, dan surat-surat yang lainnya, ini adalah satu hal yang baik.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa dan Maqalat Ibn Bazz</em>, 11).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Biats (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat ketika Supermoon</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-ketika-supermoon/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-ketika-supermoon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 08:55:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11230</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu’alaikum Apakah ada amal ibadah khusus ketika terjadi fenomena supermoon? Apakah bisa dianalogikan dengan gerhana bulan? Terima kasih. Dari: Tri S Jawaban: Wa’alaikumussalam Ada Shalat ketika Supermoon? Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasuulillah.. Sebagai seorang yang beriman, kita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Apakah ada amal ibadah khusus ketika terjadi fenomena <strong>supermoon</strong>? Apakah bisa dianalogikan dengan gerhana bulan?</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Dari: Tri S<br />
<span id="more-11230"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<h2>Ada Shalat ketika Supermoon?<br />
<em></em></h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasuulillah..</em></p>
<p>Sebagai seorang yang beriman, kita sangat percaya bahwa segala fenomena di alam ini terjadi karena kehendak Allah. Kondisi semacam ini akan lebih sempurna lagi ketika diiringi dengan perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah Allah (ciptaan Allah). Kita hadirkan perasaan takut kepada Allah, kita hadirkan perasaan mengagungkan Allah, kita hadirkan keyakinan bahwa semua ini bukanlah sesuatu yang sia-sia. Dengan menghadirkan semua perasaan ini, kita akan semakin yakin akan kekuasaan Allah, sehingga menimbulkan semangat untuk takut dan semakin bertaqwa kepada Allah. Bahkan, bisa jadi itulah sejatinya yang menjadi tujuan mengapa Allah menciptakan fenomena alam yang kita anggap aneh.</p>
<p>Allah berfirman <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا</p>
<p>“<em>Tidaklah kami mengirim tanda-tanda kekuasaan itu (berupa musibah dan sejenisnya), selain dalam rangka menakut-nakuti mereka</em>.” (QS. Al-Isra’: 59)</p>
<p>Kita diingatkan dengan fenomena semacam ini agar kita tidak merasa aman dengan perbuatan yang kita lakukan. Allah mampu untuk melakukan yang hebat dari itu, Allah mampu menimpakan sesuatu yang lebih mengerikan, yang tidak pernah diperhitungkan oleh manusia;</p>
<p class="arab">قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ * وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ * لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”.  Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui</em>.” (QS. Al-An’am: 65 – 67)</p>
<p>Karena itulah, ketika melihat sesutau yang mengerikan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meninggalkan kegiatannya, dan berdoa kepada Allah. Istri beliau, Aisyah menceritakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِي أُفُقِ السَّمَاءِ تَرَكَ الْعَمَلَ وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا»</p>
<p>Bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> apabila melihat sesuatu yang menakutkan di langit, beliau tinggalkan kegiatannya, bahkan ketika sedang shalat sunah. Kemudian beliau berdoa:</p>
<p class="arab">«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا»</p>
<p>“<em>Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya</em>.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Demikianlah potret hamba yang bertaqwa. Melihat sesuatu yang menakutkan, bukannya mengabadikan di kamera digital, bukannya jeprat-jepret, tanpa menghadirkan rasa takut kepada Allah.</p>
<p>Para sahabat juga menceritakan, bagaimana panutan kita, Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika malam hari melihat langit, diceritakan sahabat ini:</p>
<p class="arab">ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَنَظَرَ فِي الْأُفُقِ، فَقَالَ: &#8221; {رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا} [آل عمران: 191] حَتَّى بَلَغَ {إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ} [آل عمران: 194]</p>
<p>Beliau bangun tidur kemudian melihat ke langit, lalu membaca firman Allah,</p>
<p class="arab">رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا</p>
<p>“<em>Ya Allah, Engkau tidak menciptakan hal ini sia-sia</em>.” (QS. Alli Imran: 191) sampai akhir ayat ke 194.  (HR. An-Nasa’i dan sanadnya dishahihkan Al-Albani)</p>
<h3>Apakah Disyariatkan Shalat Gerhana?</h3>
<p>Hadis yang menyebutkan shalat gerhana, hanya menjelaskan bahwa shalat ini dilaksanakan ketika terjadi gerhana dan kita melihatnya. Karena shalat ini dikaitkan dengan sebab tertentu, yaitu terjadinya gerhana. Aisyah menceritakan bahwa ketika terjadi gerhana, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajak para sahabat untuk melaksanakan shalat gerhana, kemudian beliau berkhutbah yang salah satu penggalannya:</p>
<p class="arab">هما آيتان من آيات الله لا يَخْسِفان لموت أحدٍ ولا لحياته. فإِذا رأيتموها فافزعوا إِلى الصلاة</p>
<p>“<em>Dua benda ini (matahari dan bulan), adalah di antara tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang. Karena itu, apabila kalian melihatnya, segeralah melakukan shalat</em>.” (HR. Bukhari – Muslim)</p>
<p>Yang dimaksud “melihatnya” adalah melihat peristiwa gerhana, dan bukan melihat matahari dan bulan.</p>
<p>Karena itu, peristiwa <em>supermoon</em> termasuk fenomena alam yang memberi pelajaran kepada kita untuk semakin bertaqwa kepada Allah dan mengagumi kehebatan Allah. Hanya saja, tidak ada amal khusus yang perlu dilakukan, selain amal hati (takut dan kagum) bagi yang melihatnya.<br />
<em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-ketika-supermoon" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-ketika-supermoon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat Ghaib untuk Jenazah yang Hilang</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-ghaib-untuk-jenazah-yang-hilang/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-ghaib-untuk-jenazah-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 04:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11219</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu’alaikum Berita terakhir, ada pesawat hilang di gunung salak. Untuk kasus pesawat hilang atau kapal tenggelam, jika ada jenazah yang belum dishalati, apa yang harus dilakukan? Trimakasih Dari: An B Jawaban: Wa’alaikumussalam Shalat Ghaib untuk Jenazah yang Hilang Ketika ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Berita terakhir, ada <strong>pesawat hilang di gunung salak</strong>. Untuk kasus <strong><span style="text-decoration: underline;">pesawat hilang</span></strong> atau kapal tenggelam, jika ada jenazah yang belum dishalati, apa yang harus dilakukan?<br />
Trimakasih</p>
<p>Dari: An B<br />
<span id="more-11219"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<h2>Shalat Ghaib untuk Jenazah yang Hilang</h2>
<p>Ketika di awal Islam, sebagian sahabat pernah melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Pengusaha Habasyah yang saat itu beragama Nasrani, yaitu Raja Najasyi, menerima mereka dengan baik. Bahkan beliau sampai menangis ketika mendengar sahabat membacakan Alquran untuk beliau. Setelah bergaul dengan sahabat, akhirnya beliau masuk Islam, namun beliau merahasiakan statusnya sebagai muslim, mengingat banyak para pastur yang masih bercokol di sekitar beliau.</p>
<p>Ketika Raja Najasyi ini meninggal, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengumpulkan para sahabat untuk melakukan <strong><span style="text-decoration: underline;">shalat ghaib</span></strong> di Madinah. Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu,</em></p>
<p class="arab">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا</p>
<p>“<em>Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali</em>.” (HR. Al-Bukhari no. 1337)</p>
<p><strong>Penjelasan Fiqhiah:</strong><br />
<em>Shalat ghaib</em> adalah shalat jenazah yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap saudaranya yang wafat, sementara jenazahnya tidak ada di depan mereka atau berada di tempat yang lain.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat mengenai shalat ghaib, disyariatkan ataukah tidak?</p>
<p>Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat tidak disyariatkannya shalat ghaib secara mutlak. Adapun shalatnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada An-Najasyi, itu kekhususan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang tidak boleh diikuti oleh umat. Mereka berdalil dengan sebuah lafazh dalam riwayat lain hadis ini, “<em>Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat An-Najasyi berada.</em>” Sehingga keadaan beliau ibarat sedang berdiri di depan jenazah. Ditambah lagi, beliau tidak pernah dinukil melakukan shalat ghaib kepada seorang pun selain kepada An-Najasyi, maka ini menunjukkan itu adalah amalan yang khusus.</p>
<p>Sementara ulama lainnya berpendapat bahwa shalat ghaib tetap disyariatkan, walaupun mereka berbeda pendapat, apakah disyariatkan secara mutlak ataukah dengan batasan tertentu?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Imam Asy-Syaifi’i dan Ahmad berpendapat disyariatkan shalat ghaib secara mutlak untuk semua jenazah yang meninggal di tempat jauh. Meskipun jenazah tersebut sudah dishalati.  Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah di atas, dan menyatakan hadis itu berlaku mutlak dan umum.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dalam riwayat yang lain, Imam Ahmad juga berpendapat, shalat ghaib hanya disyariatkan untuk jenazah yang mempunyai sifat seperti An-Najasyi. Sifat yang dimaksud adalah seorang yang shalih, mempunyai kedudukan, dan memiliki jasa kepada Islam. Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah</em> dalam Fatawa beliau (13:159).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Shalat ghaib hanya disyariatkan untuk semua jenazah kaum muslimin yang tidak dishalati seperti An-Najasyi. Misalanya, meninggal di negeri kafir sehingga tidak ada yang menyalati atau meninggal di tempat terpencil yang tidak ada seorang pun yang menyalatinya, atau hilang ketika kasus kecelakaan. Sepeti peawat hilang atau kapal tenggelam.</p>
<p>Pendapat yang paling kuat, insya Allah, adalah pendapat yang terakhir. Shalat ghaib hanya disyariatkan untuk jenazah muslim yang tidak dishalati. Syaikhul Islam mengatakan,</p>
<p class="arab">أنّ الغائب إِن مات ببلدٍ لم يُصَلَّ عليه فيه، صُلّي عليه صلاةَ الغائب، كما صلّى النّبيّ &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8211; على النجاشي؛ لأنه مات بين الكُفار ولم يصلَّ عليه. وإنْ صُلّي عليه -حيث مات- لم يصلَّ عليه صلاة الغائب؛ لأنّ الفرض سقط بصلاة المسلمين عليه، والنّبيّ &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8211; صلّى على الغائب وتَرَكَهُ، وفِعْلُهُ وتَرْكُه سُنّة، &#8230; والله أعلم.</p>
<p>“Orang yang menghilang, ketika dia mati di sebuah daerah dan dia tidak dishalati, maka jenazah ini dishalati dengan shalat ghaib. Sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan shalat ghaib untuk Raja Najasyi. Karena beliau meninggal di antara orang kafir dan beliau belum dishalati. Sedangkan jenazah yang sudah dishalati ketika meninggal, maka tidak perlu dishalati ghaib. Karena kewajiban shalat jenazah menjadi gugur, ketika sudah ada kaum muslimin yang menshalatinya. Sementara Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah melakukan shalat ghaib (untuk jenazah tertentu) dan beliau tidak melakukan shalat ghaib untuk jenazah yang lain. Dan semua di dilakukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan yang sengaja ditinggalkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. .. <em>Allahu a’lam</em></p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, kasus pesawat yang hilang di hutan atau masuk ke laut, atau kapal tenggelam, atau jenazah hilang di hutan, dan kita pastikan bahwa jenazah ini belum dishalati dan tidak akan dishalati, maka pihak keluarga atau kaum muslimin lainnya, disyariatkan untuk melakukan shalat ghaib.<br />
<em>Allahu</em> <em>a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-shalat-ghaib-untuk-jenazah-yang-hilang" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-ghaib-untuk-jenazah-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Melafalkan Niat Shalat</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-melafalkan-niat-shalat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-melafalkan-niat-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 01:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11018</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalammu‘alaikum Mohon penjelasan tentang, apakah boleh kita melafaskan niat Shalat; baik fardhu maupun sunah? Sedangkan niat itu letaknya di hati. Terima kasih. Wassalamm Dari: Dedi H Jawaban: Hukum Melafalkan Niat Shalat Sebagaimana pernyataan yang Anda sampaikan, bahwa niat tempatnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalammu‘alaikum</p>
<p>Mohon penjelasan tentang, apakah boleh kita melafaskan niat Shalat; baik fardhu maupun sunah? Sedangkan niat itu letaknya di hati.<br />
Terima kasih.</p>
<p>Wassalamm</p>
<p>Dari: Dedi H<br />
<span id="more-11018"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2>Hukum Melafalkan Niat Shalat</h2>
<p>Sebagaimana pernyataan yang Anda sampaikan, bahwa niat tempatnya di hati. Oleh Karena itu, jika niat ini dilafalkan berarti telah mengubah posisi niat yang seharusnya di hati di pindah ke lisan.</p>
<p>Qodhi Abur Rabi’ As Syafi’i mengatakan, “Mengeraskan niat dan bacaan di belakang imam bukanlah bagian dari sunah. Bahkan ini adalah sesuatu yang dibenci. Jika ini mengganggu jamaah shalat yang lain maka hukumnya haram.” (<em>Al Qoulul Mubin,</em> Hal.91).</p>
<p>Sebagian orang yang bermadzhab syafi’i salah paham terhadap ucapan Imam Syafi’i. Mereka beranggapan bahwa Imam Syafi’i mewajibkan melafalkan niat. Imam As-Syafi’i mengatakan,</p>
<p class="arab">الصَّلَاة لَا تَصِحُّ إلَّا بِالنُّطْقِ</p>
<p>“&#8230;.shalat itu tidak sah kecuali dengan <em>an-nuthq</em>.” (<em>Al Majmu’</em>, 3:277).</p>
<p><em>An nuthq</em> artinya berbicara atau mengucapkan. Sebagian Syafi’iyah memaknai <em>an nuthq</em> di sini dengan melafalkan niat. Padahal ini adalah salah paham terhadap maksud beliau <em>rahimahullah</em>. Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud dengan <em>an nuthq</em> di sini bukanlah mengeraskan bacaan niat. Namun maksudnya adalah mengucapkan <em>takbiratul ihram</em>. An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">قَالَ أَصْحَابُنَا غَلِطَ هَذَا الْقَائِلُ وَلَيْسَ مُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِالنُّطْقِ فِي الصَّلَاةِ هَذَا بَلْ مُرَادُهُ التَّكْبِيرُ</p>
<p>“Ulama kami (syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang memaknai demikian adalah keliru. Yang dimaksud As Syafi’i dengan An Nuthq ketika shalat bukanlah melafalkan niat namun maksud beliau adalah <em>takbiratul ihram</em>’.” (<em>Al Majmu’</em>, 3:277).</p>
<p>Kesalahpahaman ini juga dibantah oleh Abul Hasan Al Mawardi As Syafi’i, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">فَتَأَوَّلَ ذَلِكَ – الزُّبَيْرِيُّ &#8211; عَلَى وُجُوبِ النُّطْقِ فِي النِّيَّةِ ، وَهَذَا فَاسِدٌ ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وُجُوبَ النُّطْق بِالتَّكْبِيرِ</p>
<p>“Az Zubairi telah salah dalam mentakwil ucapan Imam Syafi’i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika shalat. Ini adalah takwil yang salah, yang dimaksudkan wajibnya mengucapkan adalah ketika ketika takbiratul ihram.” (<em>Al-Hawi Al-Kabir</em>, 2:204).</p>
<p>Keterangan dua ulama besar mazhab syafi’i memberi kesimpulan bagi kita bahwa melafalkan niat bukan pendapat semua ulama mazhab syafi’i. Lebih dari itu, mengingat latar belakang munculnya <em>talafudz</em> niat ini karena kesalahpahaman, sikap yang tepat adalah kembali pada makna yang benar.<br />
<em>Allah a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.konsultasisyariah.com/hukum-melafalkan-niat-shalat" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-melafalkan-niat-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Dalam Keadaan Junub Karena Lupa</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-dalam-keadaan-junub/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-dalam-keadaan-junub/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 23:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10843</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Dalam Keadaan Junub Karena Lupa Pertanyaan: Pak ustad, saya mau Tanya. Saat bangun tidur malam saya melakukan shalat isya dan tahajud. Setelah shalat, saya bru ingat bahwa tadi saat tidur saya mimpi basah, tapi itu saya ingat setelah shalat. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Shalat Dalam Keadaan Junub Karena Lupa</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Pak ustad, saya mau Tanya. Saat bangun tidur malam saya melakukan <strong>shalat isya dan tahajud</strong>. Setelah <strong>shalat</strong>, saya bru ingat bahwa tadi saat tidur saya mimpi basah, tapi itu saya ingat setelah <em>shalat</em>. Apakah <u>shalat</u> yang saya kerjakan itu batal?</p>
<p>Dari: Shawaiz<br />
<span id="more-10843"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong><br />
<em>Bismillah, was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah</em></p>
<p>Orang yang shalat dalam keadaan belum bersuci, baik dari hadas besar maupun hadas kecil, shalatnya batal dan wajib diulangi setelah bersuci dengan kesepakatan ulama.</p>
<p>Imam An-Nawawi dalam <em>Al-Majmu&#8217;</em> (kitab Madzhab Syafi&#8217;i) mengatakan, “Kaum muslimin sepakat, haramnya shalat bagi orang yang berhadas. Mereka juga sepakat bahwa shalatnya tidak sah, baik dia sadar bahwa dia hadas atau tidak sadar, atau lupa bahwa dia sedang berhadas. Hanya saja, orang yang shalat sementara dia tidak sadar atau lupa bahwa dia sedang hadas maka dia tidak berdosa. Namun jika ada orang yang shalat, sementara dia sadar bahwa dirinya sedang hadas dan dia tahu bahwa shalat dalam keadaan hadas hukumnya haram, maka orang ini telah melakukan perbuatan dosa besar.” (<em>Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab</em>, 2: 67).</p>
<h3>Bagaimana jika sudah melewati beberapa shalat?</h3>
<p>Jawab: harus diulangi semuanya dalam satu waktu setelah teringat dan seusai bersuci. Misalnya, junub di malam hari dan baru ingat di waktu ashar. Ketika ingat dia langsung mandi dan mengerjakan tiga shalat: subuh, zuhur, dan asar di waktu asar.</p>
<h3>Apakah harus berurutan sesuai dengan urutan shalat wajib?</h3>
<p>Jawab: Dilaksanakan sesuai dengan urutan shalat wajib. Pendapat tiga imam madzhab: Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hambal menyatakan bahwa mengerjakan beberapa shalat dengan <em>qadha</em> wajib dilakukan dengan tertib (berurutan). (<em>Al-Mughni</em>, 2:336)</p>
<p>Dalilnya adalah praktik Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika mengqadha beberapa shalat pada saat perang Khandak. Dari Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu</em> <em>&#8216;alaihi</em> <em>wa</em> <em>sallam</em> melaksanakan shalat ashar pada hari perang Khandak setelah matahari terbenam kemudian setelah itu beliau shalat maghrib. (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Disadur: islamqa.com</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasiSyariah.com/shalat-dalam-keadaan-junub" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-dalam-keadaan-junub/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Mengganti Shalat yang Terlupa</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/cara-mengganti-shalat-yang-terlupa/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/cara-mengganti-shalat-yang-terlupa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 05:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10844</guid>
		<description><![CDATA[Cara Mengganti Shalat yang Terlupa Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Saya lupa shalat isya dan baru ingat d kemudian harinya, apakah saya harus langsung mengantinya atau tidak perlu karena sudah lewat waktunya? Dari: Andy Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Berikut beberapa jawaban Imam Malik bin Anas ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Cara Mengganti Shalat yang Terlupa</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Saya lupa <strong>shalat</strong> isya dan baru ingat d kemudian harinya, apakah saya harus langsung mengantinya atau tidak perlu karena sudah lewat waktunya?</p>
<p>Dari: Andy<br />
<span id="more-10844"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam</p>
<p>Berikut beberapa jawaban Imam Malik bin Anas untuk kasus yang semisal:<br />
<strong>Pertama</strong>, keterangan Imam Malik untuk orang yang lupa <em>shalat</em> subuh dan zuhur, kemudian baru ingat di akhir waktu zuhur. Beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">يبدأ بالصبح وإن خرج وقت الظهر</p>
<p>“Dia mulai dengan <u>shalat</u> subuh (kemudian shalat zuhur), meskipun sudah keluar waktu zuhur.”</p>
<p><strong>Kedua</strong>, beliau ditanya: Orang yang lupa shalat zuhur dan ashar dan baru ingat di akhir waktu ashar atau ketika matahari hampir tenggelam dan hanya cukup melakukan sekali shalat.</p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">يبدأ بالظهر وإن غابت الشمس ثم يصلي العصر</p>
<p>“Dia mulai shalat zuhur, meskipun matahari sudah tenggelam, kemudian shalat ashar.”</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Imam Malik ditanya: Orang yang lupa maghrib dan isya, dan baru ingat ketika mendekati terbit fajar. Sementara dia tidak mampu shalat sebelum terbit fajar kecuali satu shalat?</p>
<p>Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">يبدأ بالمغرب وإن طلع الفجر ثم العشاء ثم الصبح</p>
<p>“Dia shalat maghrib dulu, meskipun fajar sudah terbit, kemudian isya, kemudian subuh.”</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Beliau ditanya: Orang yang lupa isya dan subuh, dan baru ingat menjelang terbit matahari, dan tidak ada kesempatan lagi kecuali satu shalat.</p>
<p>Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">يبدأ بالعشاء وإن طلعت الشمس ثم يصلي الصبح بعد ذلك</p>
<p>“Dia shalat isya dulu, meskipun matahari terbit, kemudian setelah itu shalat subuh”</p>
<p><strong>Kelima</strong>, untuk kasus orang yang lupa shalat subuh di satu hari tertentu atau di hari yang lain, kemudian baru ingat setelah shalat zuhur dan ashar. Imam Malik mengatakan,</p>
<p class="arab">يصلي الصبح ثم يعيد الظهر والعصر</p>
<p>“Shalat subuh, kemudian dia mengulangi lagi shalat zuhur dan ashar.”</p>
<p><strong>Keenam</strong>, Imam Malik mengatakan, “Orang yang lupa shalat subuh di satu hari tertentu kemudian dia baru ingat setelah matahari terbenam di hari itu, dan dia sudah shalat zuhur dan ashar maka dia tidak perlu mengulangi shalat zuhur dan asharnya, tapi langsung shalat subuh, kemudian shalat maghrib.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, Imam Malik juga mengatakan:</p>
<p class="arab">وإن صلى المغرب والعشاء ثم ذكر صلاة نسيها قبل ذلك صلى التي نسي ثم أعاد المغرب والعشاء، والليل كله وقت لهما</p>
<p>Jika ada orang yang shalat maghrib dan isya, kemudian baru teringat tadi pagi ada shalat yang belum dikerjakan (misal: lupa subuh) maka dia mengulangi shalat yang tadi terlupakan, kemudian mengulangi shalat maghrib dan isya. Dan seluruh waktu malam bisa untuk shalat maghrib dan isya.</p>
<p>Diambil dari : <em>Al-Mudawwanah</em>, jilid I, Hal. 216, Cet. Darul Kutub ilmiyah, 1415 H.</p>
<p>Dengan mempelajari keterangan Imam Malik di atas, maka jawaban untuk kasus yang Anda tanyakan bisa dirinci sebagai berikut:</p>
<p>a. Jika Anda teringat setelah subuh, sebelum matahari terbit, Anda shalat isya, kemudian mengulangi shalat subuh.</p>
<p>b. Jika baru ingat sebelum zuhur, Anda shalat isya, dan tidak perlu mengulangi shalat subuh.</p>
<p>c. Jika teringat setelah zuhur, sebelum ashar, Anda shalat isya, kemudian mengulangi shalat zuhur.</p>
<p>d. Jika teringat setelah ashar, Anda shalat isya, dan mengulangi shalat zuhur dan ashar.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-mengganti-shalat-yang-terlupa" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/cara-mengganti-shalat-yang-terlupa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Shalat Wanita Hamil</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-wanita-hamil/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-wanita-hamil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 23:15:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10852</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Aku perempuan yang sedang hamil. Aku tidak bisa sujud dengan sempurna karena tidak nyaman. Apakah sebaiknya aku shalat sambil duduk saja walaupun aku bisa berdiri? Tata Cara Shalat Wanita Hamil: Kaidah shalat bagi orang yang sakit adalah ia shalat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Aku perempuan yang sedang hamil. Aku tidak bisa sujud dengan sempurna karena tidak nyaman. Apakah sebaiknya aku shalat sambil duduk saja walaupun aku bisa berdiri?<br />
<span id="more-10852"></span></p>
<h2>Tata Cara Shalat Wanita Hamil:</h2>
<p>Kaidah shalat bagi orang yang sakit adalah ia shalat dengan cara menjalankan rukun-rukun dan wajib-wajibnya shalat sesuai kemampuan dan tidak melakukan apa yang ia tidak mampu. Banyak dalil-dalil yang menjelaskan mengenai hal ini. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ</p>
<p>“<em>Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian</em>.” (QS. At Taghabun: 16)</p>
<p class="arab">لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا</p>
<p>“<em>Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya</em>.” (QS. Al Baqarah: 286)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ</p>
<p>“<em>Apabila kalian diperintahkan dengan suatu amalan, maka tunaikanlah semampu kalian</em>.” (HR. Bukhari, no.7288 dan Muslim no.1337)</p>
<p class="arab">وعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ ، فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلاةِ ، فَقَالَ : صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ</p>
<p>Dari Imran bin Hushain <em>radhiallahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Aku pernah mengidap wasir, kemudian aku bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengenai perihal shalat. Beliau bersabda, “<em>Shalatlah dengan berdiri, apabila engkau tidak mampu maka tunaikanlah secara duduk, apabila engkau tidak mampu juga, maka tunaikanlah dengan berbaring miring</em>.” (HR. Bukhari no.1117)</p>
<p>Dengan demikian apabila saudari mampu shalat dengan berdiri maka wajib bagi Anda untuk shalat dengan berdiri. Namun apabila Anda merasa berat untuk berdiri, maka shalatlah dengan duduk.</p>
<p>Boleh duduk di kursi atau duduk di lantai saja, tergantung kemampuan dan yang memudahkan bagi Anda. Hanya saja aku (Syaikh Shalih al Munajjid) menyarankan lebih baik duduk di lantai karena sunah shalat sambil duduk adalah dengan cara duduk bersila, hal ini tentu saja sulit dilakukan apabila Anda duduk di kursi.</p>
<p>Syaikh Utsaimin mengatakan, “Apabila seseorang tidak mampu shalat berdiri, maka boleh baginya shalat sambil duduk. Menurutku duduk dengan bersila saat berdiri dan rukuk lebih utama. Hal ini tidak mudah apabila seseorang shalat dengan duduk di kursi.”</p>
<p>Bersila seperti demikian hukumnya tidak wajib, seseorang bisa duduk dengan cara yang ia inginkan karena Nabi <em>shallalalhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda “<em>Apabila engkau tidak bisa dengan duduk</em>” beliau tidak merinci tata cara duduknya.” (<em>Syarhul Mumti’</em>, 4:462)</p>
<p>Jadikanlah posisi sujud lebih rendah/condong dibanding rukuk. Apabila engkau mampu shalat dengan berdiri, maka rukuklah dengan menyondongkan badan dan sujud sambil duduk sambil menyondongkan badan (tidak perlu sampai meletakkan dahi di lantai <em>pen.</em>)</p>
<p>Syaikh Ibnu Baz mengatakan, “Barangsiapa yang mampu berdiri namun berat ketika rukuk dan sujud, maka kewajiban berdiri ini belum gugur baginya. Ia tetap shalat dalam keadaan berdiri dan rukuk dengan menyondongkan badan ke depan. Pada saat sujud ia tetap duduk bersila dan menyondongkan badannya ke depan. Posisi sujud lebih rendah dibanding rukuk. Seandainya ia sulit untuk sujud saja, maka ketika sujud saja ia menyondongkan badannya ke depan.” (<em>Ahkamu shalatil maridh wa thaharatihi</em>)</p>
<p>Disadur dari: islamqa.com</p>
<p><strong>Diterjemahkan oleh Nurfitri Hadi (Tim <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-wanita-hamil" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>tags: <strong>cara shalat wanita hamil</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-wanita-hamil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Salam Ketika Shalat</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/cara-salam-ketika-shalat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/cara-salam-ketika-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 09:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10779</guid>
		<description><![CDATA[Cara Salam Ketika Shalat Pertanyaan: Maaf sebelumnya mau nanya, gimana  bacaan salam yang benar selepas shalat? Soalnya masih ragu antara assalammu’alaikum warahmatullah wabarakatuh atau masih ada lanjutannya lagi . Makasih atas jawabannya. Dari: Dewi Cendana Jawaban: Ada beberapa riwayat yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Cara Salam Ketika Shalat</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Maaf sebelumnya mau nanya, gimana  bacaan salam yang benar selepas shalat? Soalnya masih ragu antara <em>assalammu’alaikum warahmatullah wabarakatuh</em> atau masih ada lanjutannya lagi . Makasih atas jawabannya.</p>
<p>Dari: Dewi Cendana<br />
<span id="more-10779"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Ada beberapa riwayat yang menjelaskan tata cara salam ketika shalat, di antaranya:</h3>
<p>Dari Ali <em>radhiallahu ‘anhu</em> dari Nabi <em>shallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p class="arab">مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا</p>
<p>“<em>Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkan (dari berbicara) adalah takbir, dan menghalalkan (untuk berbicara) adalah salam</em>.” (HR. Abu Daud no. 56, At-Tirmizi no. 3, dan Ibnu Majah no. 271)</p>
<p>Dari Sa’ad bin Abi Waqqash <em>radhiallahu ‘anhu</em> beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">كُنْتُ أَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ</p>
<p>“Aku pernah melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi salam ke arah kanan dan kiri (dalam shalat) hingga aku melihat putihnya pipi beliau.” (HR. Muslim no. 582)</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">أَنَّهُ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ</p>
<p>“Bahwasanya beliau mengucapkan salam ke arah kanan dan kiri seraya mengucapkan, ‘<em>ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH, ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH’</em>.” (HR. Abu Daud no. 845, At-Tirmizi no. 295, An-Nasai no. 1303, dan Ibnu Majah no. 906)</p>
<p>Dari Wail bin Hujr <em>radhiallahu ‘anhu</em> dia berkata,</p>
<p class="arab">صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَنْ شِمَالِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ</p>
<p>“Aku shalat di belakang Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka beliau memberi salam ke arah kanan dengan mengucapkan <em>‘ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH</em>’,” dan ke arah kiri dengan mengucapkan <em>‘ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH</em>’.” (HR. Abu Daud no. 997 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa`: 2:31, 32)</p>
<p>Ibnu Umar menceritakan,</p>
<p class="arab">وَذَكَرَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ عَنْ يَـمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ عَنْ يَسَارِهِ</p>
<p>Beliau membaca <em>‘ASSALAMU &#8216;ALAIKUM WA RAHMATULLAH’</em> dengan menoleh ke kanan, dan membaca <em>‘ASSALAMU &#8216;ALAIKUM’</em> dengan menoleh ke kiri. (HR. Nasa&#8217;i 1321 dan dinyatakan Hasan Shahih oleh Al-Albani)</p>
<p>Kemudian disebutkan dalam hadis dari A&#8217;isyah <em>radliallahu &#8216;anha</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُسَلِّمُ فِى الصَّلاَةِ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً تِلْقَاءَ وَجْهِهِ ، يَمِيلُ إِلَى الشِّقِّ الأَيْمَنِ شَيْئًا أَوْ قَلِيلاً</p>
<p>“Sesungguhnya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukan sekali salam ketika shalat dengan menghadap ke depan, kemudian beliau menoleh sedikit ke kanan.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam shahihnya no. 706, Hakim dalam <em>Mustadrak</em> no. 805, An-Nasai dalam <em>Al-Kubro</em> no. 1454 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani)</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong><br />
Berdasarkan keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa ada 4 cara salam dalam shalat:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, menoleh ke kanan dengan membaca: <em>ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH</em>, dan menoleh ke kiri dengan membaca: <em>ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH</em>.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, menoleh ke kanan dengan membaca: <em>ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH</em>, demikian pula ketika menoleh ke kiri. (kanan-kiri sama).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, menoleh ke kanan dengan membaca: <em>ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH</em>, dan menoleh ke kiri dengan membaca: <em>ASSALAAMU ‘ALAIKUM</em>.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, menoleh ke kanan sedikit dan hanya membaca: <em>ASSALAAMU ‘ALAIKUM</em>, tanpa menoleh ke kiri.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-salam-ketika-shalat" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/cara-salam-ketika-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Pengganti Tahajud</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/amalan-pengganti-tahajud/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/amalan-pengganti-tahajud/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 06:50:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10707</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Adakah amalan pengganti tahajud (shalat malam) yang pahalanya seperti shalat malam? Dari:  Intan Jawaban: Bismillah wa shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah.. Amalan Pengganti Tahajud Seorang muslim yang memiliki kebiasaan shalat malam, kemudian pada malam tertentu dia tidak sempat melaksanakannya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Adakah amalan <strong>pengganti tahajud</strong> (shalat malam) yang pahalanya seperti shalat malam?</p>
<p>Dari:  Intan<br />
<span id="more-10707"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Bismillah wa shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah..</em></p>
<h2>Amalan Pengganti Tahajud</h2>
<p>Seorang muslim yang memiliki kebiasaan shalat malam, kemudian pada malam tertentu dia tidak sempat melaksanakannya karena udzur tertentu, maka dia bisa menggantinya dengan melaksanakan shalat sunah di waktu dhuha sebanyak jumlah rakaat shalat malam  yang menjadi kebiasaannya ditambah satu, sebagai penggenapan.</p>
<p>Misalnya, seseorang memiliki kebiasaan tahajud 3 rakaat, jika tidak sempat melaksanakannya karena sebab tertentu maka dia bisa menggantinya dengan shalat di waktu dhuha 4 rakaat. Dalilnya,</p>
<p>Dari A&#8217;isyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً</p>
<p>&#8220;<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam punya kebiasaan ketika tidak mengerjakan shalat malam karena sakit atau yang lainnya, beliau shalat di siang harinya sebanyak 12 rakaat</em>.&#8221; (HR. Muslim 746).<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (<a href="http://konsultasisyariah.com/amalan-pengganti-tahajud" target="_blank" rel="nofollow">Dewan Pembina Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/amalan-pengganti-tahajud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

