tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Sholat

kentut sesudah salam

Kentut Setelah Salam Pertama, Batalkah Shalatnya?

Assalamualaikum ustadz, semoga Semua orang di konsultasi Syariah di beri Rahmat dan keberkahan yang banyak Dari Allah dan tetap istiqomah berdakwah di atas sunnah. Saya ingin bagaimana hukumnya kentut sesudah salam pertama dan sebelum salam kedua ( kemtut diantara kedua salam) apakah solatnya sah atau harus mengulang kembali.???

Dari Olsu Dikirim dari iPhone saya

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Salam termasuk rukun shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai tahlil as-shalah (yang menjadi batas halalkan antara shalat dengan aktivitas di luar shalat). Beliau bersabda,

مِفْتَاحُ الصَّلاةِ الطُّهُورُ ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya takbir dan yang menghalalkannya adalah salam. (HR. Abu Daud 61, Ibn Majah 618 dan dishahihkan al-Albani).

Kemudian,

Menurut pendaat yang lebih kuat, salam yang statusnya rukun shalat adalah salam pertama, sedangkan salam kedua hukumnya sunah. Aa beberapa dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan salam sekali. Berikut diantaranya,

Pertama, hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يسلم تسليمة واحدة

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan salam sekali.” (HR. Baihaqi dalam al-Kubro 3107, at-Thabrani dalam al-Ausath 8473, dan yang lainnya)

Kedua, hadis dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan tata cara shalat malam yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً ثُمَّ يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ ، حَتَّى يُوقِظَنَا

”Kemudian beliau salam sekali, beliau mengeraskan suaranya, sehingga membangunkan kami.” (HR. Ahmad 26030 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, Aisyah menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً تِلْقَاءَ وَجْهِهِ يَمِيلُ إِلَى الشِّقِّ الْأَيْمَنِ قَلِيلًا

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salam sekali ketika shalat ke arah depan dengan menoleh sedikit ke kanan.” (HR. Turmudzi 297, Daruquthni 1368, dan dishahihkan adz-Dzahabi).

Berdasarkan hadis di atas, shalat yang statusnya rukun shalat adalah salam pertama. Artinya, ketika ada orang shalat yang hanya melakukan sekali salam, maka shalatnya sah.

Ibnu Qudamah menjelaskan tentang hukum salam dalam shalat,

والواجب تسليمة واحدة والثانية سنة قال ابن المنذر : أجمع كل من أحفظ عنه من أهل العلم أن صلاة من اقتصر على تسليمة واحدة جائزة، وقال القاضي : في رواية أخرى أن الثانية واجبة

Yang wajib adalah salam pertama. Sementara salam kedua hukumnya anjuran. Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Semua ulama yang saya kenal telah sepakat bahwa orang melaksanakan shalat yang hanya melakukan salam sekali, hukumnya boleh. Al-Qodhi Abu Ya’la mengatakan, ‘Dalam riwayat lain – dari Imam Ahmad – bahwa salam kedua juga wajib.’ (al-Mughni, 1/623).

Syaikh Muhammad as-Syinqithi dalam Syarh Zadul Mustaqni menjelaskan tentang rukun salam,

المراد به التسليمة الأولى، فلو أنه سلَّم التسليمة الأولى ثم أحدث فإن صلاته تصح وتجزيه

Yang dimaksud salam yang menjai rukun adalah salam pertama. Jika ada orang yang melakukan salam pertama, kemudian dia berhadats, maka shalatnya sah dan telah memenuhi kewajiban. (Syarh Zadul Mustaqni, 47/8).

Berdasarkan keterangan di atas, ngentut sebelum salam kedua tidak membatalkan shalat, karena shalat anda telah usai.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat ba'diyah jumat

Shalat Bakdiyah Jumatan itu 4 Rakaat

Bisa dijelaskan, bakdiyah jumatan itu 4 rakaat atau 2 rakaat. Saya bingung dalam masalah ini.

Matur nuwun.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa riwayat hadis yang menyebutkan tentang jumlah rakaat bakdiyah shalat jumat.

Pertama, hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ لاَ يُصَلِّى بَعْدَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ ، فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan shalat bakdiyah jumat sampai beliau pulang. Lalu beliau shalat 2 rakaat. (HR. Bukhari 937 & Muslim 882).

Kedua, hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

Apabila kalian selesai shalat jumat, kerjakanlah shalat 4 rakaat setelahnya. (HR. Muslim 881).

Mengingat adanya beberapa riwayat tentang bakdiyah jumatan, para ulama berbeda pendapat tentang jumlah rakaat bakdiyah jumatan.

Pendapat pertama, bakdiyah jumatan dikerjakan 2 rakaat saja.

Ini merupakan pendapat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

Kedua, dianjurkan melaksanakan bakdiyah jumatan 4 rakaat.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, dan pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu (HR. Ibnu Abi Syaibah 5410).

Dan pendapat ini yang dipilih Imam as-Syafii dalam al-Umm. Beliau mengatakan,

أما نحن فنقول : يصلي أربعا

Kami berpendapat, ‘Shalat bakdiyah jumatan 4 rakaat.’ (al-Umm, 7/167).

Cara pelaksanaan 4 rakaat adalah 2 rakaat salam, 2 rakaat salam.

Ketiga, boleh memilih antara 2 rakaat atau 4 rakaat.

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad. Ibnu Qudamah menukil keterangan Beliau dalam al-Mughni,

إن شاء صلى بعد الجمعة ركعتين وإن شاء صلى أربعا

Jika mau, boleh shalat setelah jumatan 2 rakaat dan jika mau, bisa shalat 4 rakaat. (al-Mughni, 2/219)

Imam Ahmad memahami kedua hadis itu shahih, sehingga diamalkan keduanya.

Keempat, 4 rakaat jika di masjid dan 2 rakaat jika di rumah.

Pendapat ini disampaikan Ibnul Qoyim. Beliau menukil keterangan gurunya,

قال شيخنا أبو العباس ابن تيمية : إن صلى في المسجد صلى أربعا ، وإن صلى في بيته صلى ركعتين

Guru kami, Abul Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika shalat bakdiyah jumat dikerjakan di majid, jumlahnya 4 rakaat. Dan jika dikerjakan di rumah, dilakukan 2 rakaat.”

Ibnul Qoyim selanjutnya mengatakan,

“Inilah kesimpulan dari beberapa hadis. Abu Daud meriwayatkan bahwa Ibnu Umar jika mengerjakan shalat bakdiyah di masjid, beliau kerjakan 4 rakaat dan jika di rumah, beliau kerjakan 2 rakaat.”(Zadul Ma’ad, 1/440).

 

Kelima, dianjurkan mengerjakannya 6 rakaat

Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu dan beberapa ulama salaf.

Abu Abdirrahmah mengatakan,

قَدِمَ عَلَيْنَا ابْنُ مَسْعُودٍ ، فَكَانَ يَأْمُرنَا أَنْ نُصَلِّيَ بَعْدَ الْجُمُعَةِ أَرْبَعًا ، فَلَمَّا قَدِمَ عَلَيْنَا عَلِيٌّ أَمَرْنَا أَنْ نُصَلِّيَ سِتًّا ،فَأَخَذْنَا بِقَوْلِ عَلِيٍّ ، وَتَرَكْنَا قَوْلَ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : كَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ أَرْبَعًا

Ketika Ibnu Masud mendatangi kami, beliau memerintahkan untuk mengerjakan shalat bakdiyah jumatan 4 rakaat. Ketika Ali datang, beliau memerintahkan kami untuk mengerjakannya 6 rakaat. Kamipun mengikuti pendapat Ali dan meninggalkan pendapat Ibnu Mas’ud. Ali mengerjakannya 2 rakaat salam, kemudian 4 rakaat. (HR. Ibnu Abi Syaibah 5410)

Pendapat ini yang dipilih Abu Yusuf dan at-Thahawi – keduanya ulama hanafiyah. (Syarh Ma’ani al-Atsar, 1/337).

Tarjih Pendapat

Kedua hadis di atas, shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga keduanya bagian dari sunah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, sebagian ulama mengatakan, dalam hal ini ada kelonggaran. Dia bisa kerjakan 2 rakaat, juga mengerjakannya 4 rakaat.

Imam Ibnu Utsaimin ketika ditanya masalah perbedaan ini, beliau menyimpulkan,

والحمد لله ، الأمر واسع ، يعني : لو أنه ذهب إلى البيت وصلى أربعاً بتسليمتين كان حسناً ما يضر إن شاء الله

Alhamulillah, dalam hal ini longgar. Artinya, jika dia pulang lalu shalat 4 rakaat, dengan 2 kali salam, satu hal yang baik, tidak ada masalah insyaaAllah. (Liqaat Bab al-Maftuh, volume 214, fatwa no. 15).

Demikian,

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

nu dan muhamadiyah

Ketika Muhammadiyah Mengimami Shalat NU

Assalamu’alaikum Ustadz

Saya hendak bertanya,

Saya adalah anggota Ormas Islam Muhammadiyah, Biasanya karena saya adalah golongan minoritas, saya selalu menjadi makmum saja ketika shalat, namun pada shalat maghrib kebetulan para Imam Mushola NU belum ada yang datang untuk mengimami hingga waktu maghrib dirasa sudah terlalu lama , oleh karena itu jamaah menyuruh saya menjadi Imam. Nah ketika sudah Rakaat ke dua, Imam masjid yang biasanya akhirnya datang (telat) namun dia mendirikan shalat munfarid , padahal masih ada satu rakaat lagi. bagaimanakah hukumnya Ustadz?

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dari Ipung Purwo

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ketika Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anhu menjadi Amirul Haj, pemimpin perjalanan haji, beliau berijtihad, shalat dzuhur dan asar di Mina dikerjakan tanpa qashar. Karena banyak jamaah yang mukim di Mekah. Sementara itu, sahabat Ibnu Mas’ud berpendapat, dua shalat itu seharusnya diqashar. Sebagaimana ini yang dipraktekkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena terjadi perbedaan pendapat, Ibnu Mas’ud mengkritik keputusan Utsman. Meskipun demikian, Ibnu Mas’ud tetap ikut shalat jamaah dzuhur dan asar di Mina bermakmum dengan Utsman Radhiyallahu ‘anhuma. Secara teori beliau berpendapat berbeda dengan Utsman. Dalam dalam prakteknya, beliau mengikuti Utsman.

Karena sikapnya yang terkesan aneh, Ibnu Mas’ud ditanya orang di sekitarnya. Jawab beliau,

الـخِلَافُ شَرّ

Perselisihan itu lebih jelek. (HR. Abu Daud 1962).

Anda bisa lihat, bagaimana kedewasaan para sahabat. Perbeda pendapat karena perbedaan ijtihad adalah hal lumrah di kalangan mereka. Namun mereka tetap menjaga persatuan.

Menjaga persatuan sangat ditekankan dalam islam. Bahkan salah satu manfaat terbesar adanya shalat jamaah adalah dalam rangka menjaga persatuan umat. Hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar sebisa mungkin kaum muslimin menjaga jamaah, sekalipun dia sudah shalat.

Kita bisa simak tiga hadis berikut, bagaimana semangat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga persatuan jamaah.

Pertama, hadis dari Mihjan ad-Daili Radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika beliau pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Ketika dikumandangkan iqamah untuk shalat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk mengerjakannya, namun Mihjan tetap duduk. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

ما منعك أن تصلي معنا ؟

 “Apa yang menghalangimu untuk ikut shalat bersama kami?”

Kata Mihjan, ‘Saya tadi sudah shalat bersama keluargaku.’

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati,

إذا جئت فصل مع الناس، وإن كنت قد صليت

Apabila kamu datang (ke masjid), ikutlah shalat berjamaah bersama masyarakat, meskipun kamu sudah shalat. (HR. Malik dalam al-Muwatha’, 217).

Kedua, hadis dari Yazid bin Aswad al-Aamiri. Beliau menceritakan,

Aku pernah melaksanakan haji bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku shalat Shubuh bersama beliau di masjid Al-Khaif. Ketika beliau selesai melaksanakan shalat dan menghadap ke arah makmum, ternyata ada ada dua orang laki-laki di belakang jamaah yang tidak ikut shalat.

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminta, “Bawalah dua orang itu kepadaku!”. Mereka berdua datang menghadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sambil gemetaran.

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا ؟

“Apa yang menghalangi kalian untuk shalat berjama’ah bersama kami?”

Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami telah shalat di tempat kami”.

Lalu Beliau bersabda,

فَلَا تَفْعَلَا إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا، ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ، فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ

“Jangan kalian ulangi lagi. Apabila kalian telah melaksanakannya di tempat kalian, lalu kalian datang ke masjid yang di dalamnya sedang melaksanakan shalat berjama’ah, maka shalatlah bersama mereka, karena shalat tersebut bagi kalian nilainya sunah.” (HR. Ahmad 17987, Nasai 866, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ketiga, hadis dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menasehatiku,

كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا

“Apa yang akan kalian lakukan jika engkau dipimpin oleh penguasa yang suka mengakhirkan shalat dari waktunya, atau meninggalkan shalat di awal waktu?”.

Tanya Abu Dzar, ‘Lantas apa yang anda perintahkan kepadaku?”

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ

“Lakukanlah shalat tepat pada waktunya. Apabila engkau mendapati shalat jamaah bersama mereka, maka shalatlah (bersamanya). Dan itu dihitung sebagai shalat sunah bagimu.” (HR. Muslim 1497).

Anda bisa perhatikan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mengulangi shalat agar bisa tetap menjaga jamaah. Beliau tidak menilai shalat pertama batal. Namun beliau peritahkan untuk mengulangi shalat itu.

NU dan Muhammadiyah

Kami tidak berpanjang lebar untuk menyimpulkan hukum dari kasus yang anda sampaikan. Karena jelas tindakan yang dilakukan Pak Kiyai itu adalah sebuah kesalahan. Menunjukkan sikap yang sangat tidak dewasa terhadap perbedaan pendapat.

Yang sangat kita sesalkan, dia melakukanya di depan umum. Seolah ingin menunjukkan kepada masyarakat, hanya dia yang paling berhak jadi imam dan yang lain tidak layak. Atau anda tidak sah menurut dia untuk jadi imam. Andaikan dia shalat di rumah, mungkin masalahnya akan lebih ringan. Dan kita bisa pastikan, ini sikap oknum.

Nu dan Muhammadiyah, hanyalah ormas dakwah. Baik warga NU maupun muhammadiyah, mereka semua adalah muslim. Sehingga berlaku ketentuan umum, amal ibadah mereka sah selama memenuhi syarat dan rukunnya, serta memungkinkan diterima oleh Allah ta’ala.

Terdapat satu kaidah yang masyhur terkait masalah shalat jamaah. kaidah itu menyatakan:

من صحت صلاته صحت إمامته

“Orang yang shalatnya sah, maka shalat dengan bermakmum di belakangnya juga sah”

Oleh karena itu, selama pak imam shalat adalah orang yang aqidahnya lurus, tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan syahadatnya batal, alias masih muslim, syarat, rukun, dan wajib shalat dikerjakan maka shalatnya sah. Meskipun ada perbedaan pendapat antara imam dan makmum dalam masalah rincian atau bacaan shalat.

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk memahami syariatnya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sholat-memakai-sepatu-usap-khuf

Shalat Memakai Sepatu

Kemarin rame ada foto tentara Saudi yang shalat memakai sepatu bot. Sebenarya itu hukumnya bagaimana? Krn banyak juga yang memberi komentar miring, bahkan keras.  

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada seorang tokoh mengatakan,

الناس أعداء ما جَهلوا

Manusia akan memusuhi sesuatu yang tidak dia kenal.

Kita bisa memahami itu. Orang indonesia menyebutnya, tak kenal maka tak sayang. Karena jiwa itu bisa berinteraksi akrab dengan sesuatu yang telah dia kenal.

Dalam al-Quran Allah menyinggung kebiasaan buruk ini ketika Dia menyebutkan keadaan orang kafir yang membantah nabi mereka.

وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

“Karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama.” (al-Ahqaf: 11).

Ketika orang-orang kafir itu mendengar ajakan dan dakwah nabi mereka, mereka menyalahkannya dan menuduhnya sebagai kedustaan. Tentu saja yang bermasalah bukan dakwah nabinya, namun kebodohan orang kafir tentang kebenaran, lantaran mereka tidak mendapatkan petunjuk tentang itu, lalu mereka mengingkarinya.

Sebagai orang beriman, tetu kita tidak ingin seperti mereka. Menjadi makhluk tercela, menyalahkan kebenaran, hanya karena kebodohan kita. Atau jika tidak, anda akan ditertawakan.

Hukum Shalat Menggunakan Sepatu

Shalat menggunakan sepatu atau sandal, adalah sesuatu yang lumrah di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan terdapat hadis yang secara khusus memerintahkan kita untuk melaksanakan shalat dengan memakai sandal, agar tidak meniru kebiasaan yahudi. Artinya, latar belakang beliau melakukan shalat dengna sandal atau sepatu bukan karena masjid beliau yang beralas tanah. Namun lebih dari itu.

Kita akan simak beberapa hadis  berikut,

Pertama, hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau menyatakan,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَافِيًا وَمُنْتَعِلًا

Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang shalat dengan tidak beralas kaki dan kadang shalat dengan memakai sandal. (HR. Abu daud 653, Ibnu Majah 1038, dan dinilai Hasan Shahih oleh al-Albani).

Kedua, ketika beliau safar, beliau shalat dengan memakai sepatu.

Sahabat al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa beliau pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah safar. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, akupun menunduk untuk melepaskan sepatu beliau. Namun beliau melarangnya dan mengatakan,

دَعْهُمَا ، فَإِنِّى أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ

Biarkan dia, karena saya memakainya dalam kondisi suci.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusapnya. (HR. Bukhari 206 & Muslim 655).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan kepada umatnya tentang hal ini. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ، أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا بَيْنَ رجليه، ولا يؤذ بهما غيره

“Apabila kalian shalat, hendaknya dia pakai kedua sandalnya atau dia lepas keduanya untuk ditaruh di kedua kakinya. Janganlah dia mengganggu yang lain.” (HR. Ibnu Hibban 2183, Ibnu Khuzaimah 1009 dan sanadnya dinilai shahihkan al-Albani)

Seorang tabiin, Said bin Yazid al-Azdi, beliau pernah bertanya kepada Anas bin Malik,

أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ؟

“Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dengan menggunakan sandal?”

Jawab Anas: “Ya.” (HR. Bukhari 386, Turmudzi 400, dan yang lainnya).

Bahkan beliau menyebutkan, shalat memakai sandal termasuk sikap tampil beda dengan model ibadahnya yahudi. Dari Syaddad bin Aus, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ، وَلَا خِفَافِهِمْ

“Bersikaplah yang berbeda dengan ornag Yahudi. Sesungguhnya mereka tidak shalat dengan menggunakan sandal maupun sepatu.” (HR. Abu Daud 652 dan dishahihkan al-Albani)

Jika anda menyimak hadis di atas, terlepas dari semua kondisi lingkungan, kira-kira apa yang bisa anda simpulkan mengenai hukum shalat dengan memakai sepatu atau sandal? Haram, makruh, mubah, sunah, atau wajib?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita agar tidak meniru kebiasaan buruk yahudi, yang mereka tidak pernah shalat dengan memakai sandal. Artinya, setidaknya kaum muslimin pernah shalat dengan memakai sandal. Sehingga setidaknya, minimal anda akan menyimpukannya bahwa itu sunah.

Dijamin Suci

Masalah kesucian sandal atau sepatu, ini masalah lain. Karena syarat suci dalam shalat, tidak hanya berlaku pada alas, tapi untuk semua anggota badan orang yang shalat dan semua pakaiannya.

Tentu saja, mereka yang hendak shalat memakai sandal atau sepatu, harus memastikan telah bersih.

Syaikh Abdullah bin humaid mengatakan,

لكن الشرط أن تكون النعال طاهرة ، فإذا كانت النعال فيها نجاسة أو وطئ بها أذى ، فلا ينبغي أن يصلي الإنسان منتعلاً

“Hanya saja ada syaratnya, sandal harus suci. Jika sandalnya ada najisnya atau menginjak kotoran maka tidak selayaknya orang menggunakannya untuk shalat.” (Dinukil dari Fatwa Islam, no. 12033)

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

wudhunya orang lumpuh

Cara Bersuci Orang Lumpuh

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Saya laki-laki usia 32 tahun alhamdulillah dikasih cobaan lumpuh sejak sd sampai sekarang, dulu saya masih bisa ke kamar mandi dengan cara merangkak, alhamdulilah dulu bisa thaharah memakai air sendiri. sejak 6 tahun terakhir ini saya gak bisa lagi merangkak, anggota tubuh yang lain mulai mengalami gejala kelumpuhan, termasuk tangan, dan selama 6 tahun ini saya bersuci dari BAK menggunakan tisu kering, dari BAB menggunakan tisu basah dan lap basah dibantu ibu dan adik.
Ketika mau beribadah kadang merasa was-was apa saya udah benar-benar bersih pakaian dan tubuh saya dari najis, kadang muncul dipikiran bahwa metode thaharah dengan tisu takut menyisakan sisa dan ibadah saya jadi gak sah..tapi disatu sisi satu gak tega menyusahkan ibu yang hampir berusia 60 tahun dan orang lain disekitar saya untuk selalu mensucikan saya dari najis dengan air….kalau oh iya saya juga selama ini bersuci dengan tayamun ke kasur.
Tolong pendapatnya ustadz, saya hanya ingin menyempurnakan ibadah saya, saya takut ibadah saya tidak diterima disisi Allah…
waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh

Dari Bapak Dian Syawal

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam warahmatullahi wabarokatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kami haturkan doa, semoga Allah memberikan ketabahan dan kesabaran bagi anda. Juga memberi kesabaran keluarga anda, untuk merawat anda. Semoga Allah membalas usaha mereka dengan pahala.

Tidak  ada di alam ini yang sia-sia. Semua ada perhitungannya. Sampaipun kondisi tidak nyaman yang dialami setiap hamba, akan Allah gantikan dengan pahala atau Allah jadikan kaffarah dosa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641).

Orang yang sakit, bisa mendapatkan pahala, sekalipun dia tidak beramal. Selama dia berusaha sabar dan selalu mengharap pahala dari Allah. Karena itu, bagian dari cinta Allah kepada para hamba-Nya, Allah menguji mereka, agar dia berkesempatan  mendapatkan banyak pahala.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka denagn musibah. Siapa yang ridha dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka Allah.” (HR. Ahmad 23623, Tirmidzi 2396 dan dishahihkan al-Albani).

Kita bisa perhatikan, sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada para hamba, hakikatnya didasari kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Karena seorang hamba akan bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi, ketika mereka beruaha bersabar dengan ujian yang dialaminya.

Kedua, kemudahan bagi yang sakit

Disamping Allah berikan pahala atas sakit yang dia alami, Allah juga memberikan banyak kemudahan bagi hamba-Nya yang tidak mampu melakukan ibadah dengan sempurna.

Ada beberapa  ayat dalam al-Quran, yang menegaskan bahwa Allah banyak memberikan keringanan bagi para hamba-Nya.

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 284)

Allah juga berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Allah tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. al-Baqarah: 185)

Allah juga berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Allah tidak pernah menjadikan adanya kesulitan dalam agama. (QS. al-Hajj: 78)

Dalil-dalil lainnya masih sangat banyak, yang jika kita perhatikan, bahwa bagian dari semangat islam, memberikan kemudahan bagi umatnya. Kemudahan yang tidak sampai melanggar batas dan aturan. As-Syathibi mengatakan,

إن الأدلة على رفع الحرج عن هذه الأمة بلغت مبلغ القطع

Bahwa dalil yang menunjukkan peniadaan kesulitan dari umat ini, statusnya qath’i (absolut). (al-Muwafaqat, 1/231)

Dari semua dalil ini, para ulama menetapkan kaidah,

المشقة تجلب التيسير

Masyaqqah mengharuskan adanya kemudahan.

Ketiga, cara bersuci orang sakit

Ada dua cara yang Allah ajarakan dalam bersuci,

  1. Menggunakan air. Itulah hukum dalam bersuci, baik wudhu maupun mandi
  2. Menggunakan tanah yang suci (tayammum). Statusnya pengganti yang pertama.

Karena statusnya pengganti, selama masih bisa menggunakan yang pertama, kita tidak boleh menggunakan yang kedua. Untuk itu, kita hanya bisa menggunakan yang kedua ini, jika (1) Tidak menemukan air. (2) Tidak mampu menggunakan air, baik karena sakit tidak boleh kena air, atau karena tidak bisa mengambil air sendiri.

Dari keteragan di atas, selama anda masih bisa menggunakan air untuk wudhu, ketika shalat, anda harus berwudhu. Baik berwudhu sendiri jika mampu atau diwudhukan orang lain.

Namun jika anda tidak boleh kena air, anda bisa tayamum, baik dengan tayamum sendiri atau ditayamumkan orang lain.

Keempat, cara membersihkan najis

Cara membersihkan najis setelah buang hajat, ada dua,

  1. Membersihkan najis dengan air
  2. Membersihkan najis dengan selain air, selama benda itu bisa menyerap. Diistilahkan dengan istijmar. Termasuk diantaranya, membersihkan najis dengan tisu.

Para ulama sepakat, seseorang boleh beristijmar, sekalipun ada air. Ibnul Qoyim mengatakan,

إجماع المسلمين على جواز الاستجمار بالأحجار في زمن الشتاء والصيف

Kaum muslimin sepakat, boleh beristijmar baik di musim dingin maupun musim panas. (Ighatsah al-Lahafan, 1/151)

Mana yang Lebih Afdhal?

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa bersuci dengan selain air, lebih afdhal dari pada bersuci dengan air. Karena orang yang bersuci dengan selain air, dia tidak bersentuhan langsung dengan najisnya. Berbeda ketika dia bersuci dengan air, tangannya harus bersentuhan langsung dengan najisnya.

Ada juga yang berpendapat, menggunakan air lebih afdhal, karena lebih bersih. Ibnu Qudamah mengatakan,

وإن أراد الاقتصار على أحدهما فالماء أفضل ; لما روينا من الحديث ; ولأنه يطهر المحل , ويزيل العين والأثر , وهو أبلغ في التنظيف

Jika seseorang hendak bersuci dengan salah satu saja, maka menggunakan air lebih afdhal. Berdasarkan hadis yang kami riwayatkan, juga karena bersuci dengan air itu lebih bisa membersihkan tempat keluarnya kotoran dan lebih bersih. (al-Mughni, 1/173)

Aturan Istijmar

Benda yang boleh digunakan istijmar harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya sebagai berikut,

  1. Bisa menyerap. Benda licin yang tidak menyerap, seperti plastik, logam, tidak bisa digunakan untuk istijmar.
  2. Suci. Karena tidak boleh membersihkan najis dengan najis
  3. Bukan makanan. Tidak boleh meletakkan najis di makanan
  4. Bukan benda terhormat, seperti kertas al-Quran atau buku agama
  5. Bukan tulang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang beristijmar dengan tulang
  6. Minimal 3 kali usapan

Tisu, baik kering maupun basah, sangat memenuhi kriteria di atas. Sehingga sangat bisa digunakan. Hanya saja, jangan lupa agar dilakukan minimal 3 kali usapan.

Kelima, hindari was-was

Selama anda yakin telah bersuci, yakin telah membersihkan diri dari najis, yakini bahwa semua telah memenuhi syarat untuk ibadah. Dengan ini, anda tidak perlu was-was. Karena keyakinan, tidak bisa mengalahkan yang meragukan.

Dalam salah satu kaidah fiqh dinyatakan,

اليقين لا يزول بالشك

“Yakin tidak bisa gugur dengan keraguan”

Jika anda ingin mengetahui lebih rinci tentang cara mengatasi was-was, anda bisa pelajari artikel: Cara Mengobati Was-was

semoga Allah memberkahi kita semua, dan memberi kekuaatan bagi kita untuk selalu istiqamah di atas kebenaran.

Wallaahu waliyyut taufiq..

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

gambar anak kecil shalat

Jika Anak Nangis Saat Shalat

Kalau kita lagi shalat jamaah, kemudian anak nangis, bolehkah membatalkan shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya, ketika seorang muslim telah mulai shalat, dia tidak boleh membatalkannya kecuali karena udzur. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu membatalkan amal-amalmu (QS. Muhammad: 33)

Allah melarang kita membatalkan amalan kita, diantara maknanya adalah fisik amalan yang kita lakukan.

Kemudian ulama menyebutkan, ada beberapa keadaan, dimana kita dibolehkan membatalkan shalat, diantaranya,

  1. Kekhawatiran terhadap keselamatan diri sendiri, misalnya karena ada serangan manusia atau binatang atau karena gempa, atau lainnya
  2. Kekhawatiran terhadap keselamatan harta, misalnya, ada orang yang mengambil barang kita.
  3. Menyelamatkan orang lain yang butuh pertolongan segera. Misalnya, seorang dokter diminta untuk melakuka tindakan darurat terhadap pasien.

Dan ada kondisi di mana kita dianjurkan membatalkan shalat, misalnya karena keinginan untuk buang angin.

(Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/654).

Jika kita simpulkan, pada prinsipnya orang boleh membatalkan shalat karena udzur terkait keselamatan diri sendiri, harta, atau orang lain, dan terkait kekhusyuan shalat, seperti membatalkan shalat karena keinginan untuk buang hajat.

Sementara untuk ancaman yg bisa diatasi tanpa harus membatalkan shalat, maka kita tidak perlu membatalkan shalat.

Lajnah Daimah ditanya tentang hukum membatalkan shalat karena ada kalajengking. Dan membatalkan shalat di masjidil haram agar bisa memanggil anak yang hampir hilang.

Jawaban Lajnah,

إن تيسر له التخلص من العقرب ونحوها بغير قطع الصلاة فلا يقطعها ، وإلا قطعها ، وكذلك الحال في ولده إن تيسر له المحافظة على ولده دون قطع الصلاة فعل ، وإلا قطعها

Jika memungkinkan untuk menghindari kalajengking itu tanpa membatalkan shalat, maka sebaiknya tidak dibatalkan. Jika tidak memungkinkan, maka dia batalkan. Demikian pula terkait keadaan anaknya, jika memungkinkan untuk menjaga anaknya tanpa harus membatalkan shalat, maka jangan batalkan shalat. Namun jika tidak memungkinkan, dia bisa batalkan shalatnya. (Fatwa Lajnah Daimah, 8/36)

Dari sini kita bisa mendekati kasus anak yang menangis.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

إن بكى الطفل وتعذَّر إسكاته من قبَل أبيه أو أمه في صلاة الجماعة : فيجوز أن يقطعا الصلاة لإسكاته خشيةً أن يكون بكاؤه من ضرر أصابه ؛ وخشيةً من تضييع الصلاة على أهلها بالتشويش عليهم

Jika ada anak yang menangis, dan tidak memungkinkan untuk didiamkan orng tuanya ketika shalat jamaah, maka boleh bagi ortunya membatalkan shalat untuk mendiamkan anaknya, karena dikhawatirkan tangisan itu disebabkan sesuatu yang membahayakan dirinya, serta dikhawatirkan akan mengganggu kekhusyuan shalatnya. (Fatwa Islam, no. 75005)

Kemudian, jika shalatnya hampir selesai, dan memungkinkan untuk membiarkan anak menangis hingga shalat selesai, maka sebaiknya tidak dibatalkan. Dan dianjurkan bagi imam untuk tidak memperlama shalatnya, jika ada kejadian yang membuat makmum harus segera menyelesaikan shalatnya.

Musthofa ar-Ruhaibani mengatakan,

ويسن للإمام تخفيف الصلاة إذا عرض لبعض مأمومين في أثناء الصلاة ما يقتضي خروجه منها كسماع بكاء صبي , لقوله صلى الله عليه وسلم : ( إني لأقوم في الصلاة وأنا أريد أن أطول فيها , فأسمع بكاء الصبي , فأتجوز فيها مخافة أن أشق على أمه ) رواه أبو داود

Dianjurkan bagi imam untuk meringankan shalat ketika ada satu kejadian yang menyebabkan sebagian makmum harus segera menyelesaikan shalatnya. seperti mendengar tangisan bayi. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ketika saya sedang shalat, saya ingin memperlama shalatku. Lalu aku mendengar tangisan bayi, sehingga aku meringankan shalatku, karena khawatir akan merepotkan ibunya.” Riwayat Abu Daud. (Mathalib Uli an-Nuha, 1/641).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat jumat

Berapa Jumlah Minimal Jama’ah Jum’atan?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama sepakat bahwa jumatan harus dilakukan secara berjamaah. Tidak sah ketika ada orang yang jumatan seorang diri.

An-Nawawi mengatakan,

أجمع العلماء على أن الجمعة لا تصح من منفرد , وأن الجماعة شرط لصحتها

Para ulama sepakat bahwa jumata tidak sah dikerjakan sendirian. Berjamaah merpakan syarat sahnya jumatan. (al-Majmu’, 4/504)

Hanya saja, mereka berbeda pendapat mengenai batas minimal jumlah jamaah ketika jumatan, agar dihukumi sah. Ibnu Rusyd mengatakan,

اتفق الكل على أن من شرطها الجماعة , واختلفوا في مقدار الجماعة

Semua sepakat bahwa bagian dari syarat sah jumatan adalah berjamaah. Namun mereka berbeda pendapat tentang jumlah minimal jamaah. (Bidayah al-Mujtahid, 1/158)

Kita akan sebutkan beberapa pendapat yang masyhur dalam masalah ini,

Pertama, jumlah minimal jamaah jumatan adalah 40 orang.

Ini merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafiiyah.

An-Nawawi mengatakan,

لا تصح الجمعة إلا باربعين رجلا بالغين عقلاء احرارا مستوطنين للقرية أو البلدة التى يصلي فيها الجمعة لا يظعنون عنها

Tidak sah jumatan kecuali yang dihadiri 40 lelaki yang telah baligh, berakal, merdeka, menetap di sebuah kampung atau kota yang di sana dilaksanakan jumatan, dan tidak nomaden. (al-Majmu’, 4/502).

Ini juga pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat yang masyhur.

Ibnu Qudamah mengatakan,

أما الأربعون فالمشهور في المذهب أنه شرط لوجوب الجمعة وصحتها؛  وروي ذلك عن عمر بن عبد العزيز و عبيد الله بن عبد الله بن عتبة وهو مذهب مالك و الشافعي

Tentang jumlah 40 orang, yang masyhur dalam madzhab hambali, jumlah ini merupakan syarat wajib dan syarat sahnya jumatan. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz, Ubaidillah bin Uthbah, dan merupakan pendapat Malik dan as-Syafii. (al-Mughni, 2/171).

Diantara dalil pendapat ini adalah hadis dari Abdurrahman, putra sahabat Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan,

Ketika ayahku sudah tua dan hilang penglihatannya, aku bertugas mengantarkan beliau pergi jumatan. Setiap kali beliau mendengar adzan jumat, beliau mendoakan kebaikan untuk As’ad bin Zurarah. Suatu ketika aku tanyakan hal itu,

“Wahai ayahku, mengapa anda setiap kali mendengar adzan, anda mendoakan As’ad bin Zurarah?”

Jawab Ka’ab bin Malik,

Wahai anakku, beliau adalah orang pertama yang mengimami kami shalat jumat sebelum kedatangan hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah.

Aku bertanya, “Berapa jumlah kalian ketika itu?”

Jawab Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu, “40 orang.”

(HR. Ibnu Majah 1135, dan dihasankan al-Albani)

Mereka memahami bahwa jumatan  memiliki batas bilangan. Sementara untuk mengetahui batas itu, dikembalikan kepada dalil. Dan dalil yang paling shahih tentang batas peserta jumatan adalah hadis  dari Ka’ab bin Malik. Karena itu, tidak boleh mengadakan jumatan dengan jamaah yang kurang dari 40 orang.

(al-Majmu’, 4/504).

Sanggahan

Para ulama yang tidak sepakat dengan pendapat ini mengatakan bahwa dalil ini shahih, namun sama sekali tidak menunjukkan bahwa jumlah minimal peserta jumatan adalah 40 orang. Diantaranya Imam as-Syaukani.

Beliau menjelaskan bahwa  jumlah 40 orang dalam peristiwa jumatan pertama itu, hanya waq’atul ain, kejadian yang sifatnya kebetulan. Karena jumlah itu bukan dari kesepakatan atau ketentuan yang mereka buat. Kebetulan, ketika jumatan pertama itu digelar, jumlah pesertanya 40 orang. Sehingga angka ini tidak bisa jadi dalil.

Bagian dari kaidah dalam Ushul Fiqh dinyatakan bahwa Waq’atul Ain (kejadian yang sifatnya kasuistik), tidak bisa jadi acuan dalil. (Nailul Authar, 3/283).

Kedua, syarat sah jumatan harus dilakukan oleh sejumlah orang yang bisa memenuhi syarat untuk terbentuknya satu kampung. Sehingga tidak ada angka tertentu. Tidak boleh hanya dengan 3 orang atau 4 orang, karena jumlah ini belum memenuhi syarat disebut satu kampung.

Ini pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyah.

Ibnu Rusyd mengatakan,

ولا يجوز بالثلاثة والأربعة وهو مذهب مالك وحدهم بأنهم الذين يمكن أن تتقرى بهم قرية

Tidak boleh mengadakan jumatan hanya dengan 3 atau 4 orang. Dan ini pendapat Imam Malik. Batasannya adalah jumlah mereka memungkinkan untuk terbentuk sebuah kampung. (Bidayatul Mujtahid, 1/159).

Pendapat ini yang dinilai kuat oleh as-Suyuthi (al-Hawi li al-Fatawa, 1/66) dan as-Syinqithi (Adhwaul Bayan, 6/385).

Dalil pendapat ini adalah firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.. (QS. al-Jumu’ah: 9)

Kemudian hadis dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ

Jumatan itu kewajiban bagi setiap muslim untuk dilakukan secara berjamaah. (HR. Abu Daud 1069 dan dishhaihkan al-Albani).

Dalam ayat dan hadis di atas, Allah perintahkan kaum muslimin untuk jumatan. Sementara tidak ada batas jumah minimal peserta. Perintahnya mutlak. Sementara pelaksana jumatan harus orang kampung dan bukan musafir. Karena itu, syarat sahnya harus sejumlah orang yang layak untuk terbentuknya satu kampung. (al-Muntaqa Syarh Muwatha’, 1/252).

Ketiga, syarat pelaksana jumatan harus berjumlah 12 orang. Kurang dari 12 orang, jumatan tidak sah.

Dalil pendapat ini, hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

Kami pernah shalat jumat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datang rombongan onta yang membawa makanan. Para jamaahpun langsung bubar meninggalkan khutbah dan mengerumuni kafilah dagang itu. Sehingga yang tersisa bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya 12 orang. Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا

Apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). (QS. al-Jumu’ah: 11)

Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melanjutkan jumatan, sekalipun jumlah peserta jumatan tinggal 12 orang. Sehingga ini menjadi batas minimal jumatan.

Sanggahan

Hadis ini tidak bisa jadi dalil untuk memberikan batasan peserta jumatan, sebagaimana pendapat pertama. Karena jumlah 12 orang, bukan hasil kesepakatan mereka, namun sifatnya kasuistik.

Kelima, jumlah minimal pelaksana jumatan harus 3 orang.

Ini merupakan pendapat hanafiyah. Hanya saja mereka berbeda pendapat, apakah dari 3 orang itu, imam termasuk atau tidak termasuk.

Abu Hanifah dan Muhammad bin Hasan berpendapat, syaratnya 3 orang selain imam. Sementara Abu Yusuf berpendapat, 3 orang termasuk imam. (Bada’i as-Shana’i, 2/268).

Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad Ahmad dalam salah satu riwayat. (al-Inshaf, 2/378).

Dan pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam (al-Ikhtiyarat, hlm. 79)

Pendapat ini pula yang dipilih ulama muashirin, seperti Imam as-Sa’di (al-Fatawa as-Sa’diyah, hlm. 133), Imam Ibnu Baz (fatwa Ibnu Baz, no. 4684) dan Imam Ibnu Utsaimin. Dalam as-Syarh al-Mumthi, beliau mengatakan,

وأقرب الأقوال إلى الصواب: أنها تنعقد بثلاثة، وتجب عليهم

Pendapat yang paling mendekati kebenaran, jumatan sah jika pelaksananya 3 orang. Dan menjadi kewajiban mereka. (as-Syarh al-Mumthi’, 5/41).

Dalil pendapat pertama,

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

Dalil pertama, firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.. (QS. al-Jumu’ah: 9)

Dalam ayat ini, Allah perintahkan orang-orang yang beriman dalam bentuk kata ganti jamak. Dan ukuran jamak minimal dalam bahasa arab adalah 3 orang. Sehingga jika ada 3 orang, mereka wajib jumatan.

Dalil kedua adalah hadis dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا كانوا ثلاثة في سفر فليؤمهم أحدهم , وأحقهم بالإمامة أقرؤهم

Apabila ada 3 orang melakukan safar, hendaknya salah satu jadi imam. Dan yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalan al-Qurannya. (HR. Muslim 672).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan 3 orang untuk menunjuk salah satu jadi imam, melaksanakan shalat jamaah. Dan ini mencakup jamaah biasa dan jumatan.

Demikian pula hadis dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ

Jumatan itu kewajiban bagi setiap muslim untuk dilakukan secara berjamaah. (HR. Abu Daud 1069 dan dishhaihkan al-Albani).

Beliau menyebut bahwa jumatan harus dilakukan secara berjamaah. Dan layak disebut jamaah jika jumlahnya 3 orang atau lebih. Disamping itu, disyariatkan adanya khutbah yang harus disengarkan oleh sekelompok orang. Sehingga harus ada 2 makmum yang mendengarkannya.

Tarjih

(pemilihan pendapat yang kuat)

Kami sebutkan keterangan al-Allamah Siddiq Hasan Khan,

والعجب من كثرة الأقوال في تقدير العدد حتى بلغت إلى خمسة عشر قولا ليس على شيء منها دليل يستدل به قط إلا قول من قال : إنها تنعقد جماعة الجمعة بما تنعقد به سائر الجماعة

Yang mengherankan, adanya banyaknya pendapat yang menetapkan jumlah jamaah jumatan, hingga mencapai 15 pendapat, dan tidak ada satupun dari jumlah itu yang memiliki dalil khusus sama sekali. Kecualil pendapat yang mengatakan bahwa jumatan sah dengan jumlah jamaah yang memenuhi persyaratan shalat jamaah pada umumnya. (al-Mau’idzah al-Hasanah, dinukil dari al-Ajwibah an-nafi’ah, hlm. 39).

Keterangan semisal juga dinyatakan oleh as-Syinqithi,

والواقع أن كل هذه الأقوال ليس عليها مستند يعول عليه في العدد بحيث لو نقص واحد بطلت

Kenyataannya semua penndapat ini tidak memiliki landasan dalil yang menjelaskan bilangan tertentu sebagai syarat jumatan, dimana jika kurang satu maka jumatannya tidak sah. (Adhwaul Bayan, 8/182).

Dan dari sekian pendapat, yang lebih kuat adalah pendapat keempat, bahwa jumatan minimal harus dilaksanakan 3 orang orang termasuk imam. Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Karena ini jumlah minimal untuk disebut jamaah dalam jumatan.

Lajnah Daimah pernah ditanya tentang jumlah minimal jumatan,

Jawaban Lajnah,

إقامة الجمعة واجبة على المسلمين في قراهم يوم الجمعة ويشترط في صحتها الجماعة . ولم يثبت دليل شرعي على اشتراط عدد معين في صحتها ، فيكفي لصحتها إقامتها بثلاثة فأكثر

Melaksanakan jumatan hukumnya wajib bagi setiap muslim di kampung mereka pada hari jumat, dan disyaratkan agar jumatannya sah, harus dilakukan berjamaah. Dan tidak ada dalil syar’i yang menyebutkan syarat dengan jumlah bilangan tertentu. Sehingga cukup dinilai sah jika dilaksanakan 3 orang atau lebih.

(Fatawa Lajnah, no. 1794)

Demikian,

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tidak bisa shalat jumat

Menjamak Ashar dengan Jumatan?

Bolehkah menjamak shalat asar dengan jumatan? Matur nuwun.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat tentang hukum menjamak shalat asar dengan jumatan.

Pendapat pertama, hukumnya boleh.

Ini merupakan pendapat Syafiiyah, dibenaran oleh as-Suyuthi, az-Zarkasyi, dan yang difatwakan ar-Ramli.

Diantara dalil pendapat ini,

Jumatan diqiyaskan dengan shalat zuhur. Sehingga bisa diqiyaskan dengan shalat asar.

Pendapat kedua, hukumnya terlarang.

Ini merupakan pendapat madzhab hambali dan sebagian ulama syafiiyah.

Diantara dalil pendapat ini,

Pertama, bahwa tidak dijumpai dalil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak jumatan dengan shalat asar.

Kedua, mengqiyaskan jumatan dengan shalat dzuhur adalah qiyas yang bertentangan dengan objek qiyas (qiyas ma’al fariq). Di sana ada perbedaan yang sangat jelas antara jumatan dengan shalat dzuhur.

Ketiga, hukum asal shalat harus dikerjakan tepat waktu, hingga terdapat dalil yang membolehkan jamak. Sementara tidak dijumpai dalil itu.

Dalam as-Syarh al-Mumthi dinyatakan,

وفيه شرط خامس: أن لا تكون صلاة الجمعة، فإنّه لا يصح أن يجمع إليها العصر، وذلك لأن الجمعة صلاة منفردة مستقلة في شروطها وهيئتها وأركانها وثوابها أيضاً، ولأن السنّة إنما وردت في الجمع بين الظهر والعصر، ولم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه جمع العصر إلى الجمعة أبداً،

فلا يصح أن تقاس الجمعة على الظهر لما سبق من المخالفة بين الصلاتين، بل حتى في الوقت على المشهور من مذهب الحنابلة فوقتها من ارتفاع الشمس قدر رمح إلى العصر، والظهر من الزوال إلى العصر وأيضاً الجمعة لا تصح إلا في وقتها، فلو خرج الوقت تصلّى ظهراً، والظهر تصح في الوقت وتصح بعده للعذر.

Terdapat syarat yang kelima untuk bolehnya jamak, yaitu selain jumatan. Karena tidak sah menjamak jumatan dengan shalat asar. Karena jumatan adalah shalat tersendiri, memiliki syarat, tata cara, rukun, dan janji pahala yang berbeda dengan shalat dzuhur. Karena yang ada dalam dalil adalah jamak antara dzuhur dan asar. Sementara tidak dijumpai riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menjamak shalat asar dengan jumatan.

Karena itu, tidak benar mengqiyaskan antara jumatan dengan shalat dzuhur. Terdapat perbedaan sangat jelas antara kedua shalat ini. Bahkan sampai dalam masalah waktu pelaksanaannya. Menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab hambali, waktu jumatan dimulai sejak matahari sudah meninggi hingga mendekati asar. Sementara waktu dzuhur antara tergelincirnya matahari sampai menjelang asar. Demikian pula, jumatan tidak boleh dilakukan kecuali di batas waktu yang ditentukan. Jika waktu shalat jumat telah habis, diganti dengan dzuhur. Karena shalat dzuhur bisa dilakukan setelah waktunya setelah udzur.

(as-Syarh al-Mumthi’, 4/402).

InsyaaAllah pendapat kedua yang lebih kuat. Atau setidaknya lebih mendekati sikap hati-hati.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jam 11-30

Jumatan Sebelum Jam 12:00

Saya shalat jumat di masjid di daerah Lamongan Jawa Timur, ternyata khatib naik mimbar sebelum jam 12. Bahkan seingat saya jam 11.45. apakah jumatannya sah? Terima kasih ustad.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada dua catatan untuk membahas kasus ini,

Pertama, ulama berbeda pendapat tentang batas waktu paling awal untuk memulai jumatan.

Pendapat pertama, waktu mulai jumatan sama dengan waktu shalat dzuhur, yaitu zawal as-Syams, ketika matahari tergelincir ke barat. Dan tidak boleh jumatan sebelum waktu zawal.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, diantaranya Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah. Imam an-Nawawi menyebutnya sebagai pendapat mayoritas sahabat, tabiin, serta ulama generasi setelahnya. Bahkan Imam as-Syafii mengatakan,

ولا اختلاف عند أحد لقيته أن لا تصلى الجمعة حتى تزول الشمس

Tidak ada perbedaan diantara ulama yang pernah aku temui, tidak boleh mengerjakan jumatan hingga matahari tergelincir. (al-Umm, 1/223)

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

  1. Hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّى الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat jumat ketika matahari telah tergelincir. (HR. Bukhari 904).

  1. Hadis dari Salamah bin Akwa Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

Kami mengikuti jumatan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika matahari telah tergelilncir, kemudian kami pulang berjalan mencari bayangan bangunan. (HR. Muslim 860)

Pendapat kedua, jumatan boleh dimulai sebelum zawal. Artinya jumatan bisa dilakukan sebelum masuk waktu dzuhur. Ini merupakan pendapat Ishaq bin Rahuyah, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama hambali.

Dalam kitab al-Inshaf dinyatakan,

“ويشترط لصحة الجمعة أربعة شروط أحدها الوقت وأوله أول وقت صلاة العيد”. هذا المذهب وعليه أكثر الأصحاب ونص عليه قال في الفروع: اختاره الأكثر قال الزركشي: اختاره عامة الأصحاب

Sahnya jumatan ada 4 syarat, yang pertama terkait waktu. Waktu memulainya jumatan, seperti waktu shalat id (sebelum dzuhur). Inilah pendapat madzhab hambali, dan yang dipilih mayoritas ulama hambali dan yang ditegaskan Imam Ahmad. Dalam kitab al-Furu’ dinyatakan, ‘Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama’. Kata az-Zarkasyi, ‘Dipilih oleh mayoritas ulama hambali.’ (al-Inshaf, 2/263).

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

  1. Hadis dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari sahabat Jabir,

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَرْجِعُ فَنُرِيحُ نَوَاضِحَنَا، قَالَ حَسَنٌ : فَقُلْتُ لِجَعْفَرٍ : فِي أَيِّ سَاعَةٍ تِلْكَ ؟ قَالَ : زَوَالَ الشَّمْسِ

Kami shalat jumat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami pulang dan mengistirahatkan onta-onta kami.

Hasan bertanya kepada Ja’far, ‘Kapan itu dilakukan?’

Jawab Ja’far, “Ketika matahari tergelincir.” (HR. Muslim 2026, Nasai 1401 dan yang lainnya).

  1. Hadis dari Sahl bin Sa’d, beliau mengatakan,

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ

Kami terbiasa tidak tidur siang dan tidak makan siang kecuali setelah jumatan. (HR. Bukhari 6248, Muslim 2028 dan yang lainnya).

  1. Hadis dari Salamah bin al-Akwa Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةَ فَنَرْجِعُ وَمَا نَجِدُ لِلْحِيطَانِ فَيْئًا نَسْتَظِلُّ بِهِ

Kami shalat jumat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pulang, dan kami tidak menemukan bayangan tembok yang bisa kami gunakan untuk berteduh. (HR. Bukhari 4168 & Muslim 860).

Tarjih Pendapat

Dari dua pendapat di atas, pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat pertama, pendapat yang dipilih mayoritas ulama. Dengan alasan,

Dalil pendapat mayoritas ulama lebih tegas menunjukkan jumatan dilakukan setelah tergelincir matahari. Sementara dalil yang dibawakan pendapat hambali tidak tegas mendukung pendapatnya. Justru dalil itu mendukung pendapat pertama. Untuk menjawab beberapa dalil pendapat kedua, kita simak keterangan An-Nawawi dalam al-Majmu’,

وتفصيل الجواب ان يقال حديث جابر فيه اخبار أن الصلاة والرواح الي جمالهم كانا حين الزوال لا ان الصلاة قبله. (والجواب) عن حديث سلمة انه حجة لنا في كونها بعد الزال لانه ليس معناه انه ليس للحيطان شئ من الفى وانما معناه ليس لها في كثير بحيث يستظل به المار

Rincian jawabannya bahwa hadis Jabir merupakan informasi bahwa shalat dan mengurus onta yang mereka lakukan dilakukan sekitar waktu ketika matahari tergelincir, bukan shalat jumat dikerjakan sebelum matahari tergelincir.

Sementara jawaban untuk hadis Salamah bin Akwa, justru itu dalil yang mendukung pendapat kami, bahwa jumatan dilakukan setelahzawal (tergelincir matahari). Karena makna hadis bukan ‘tidak ada bayangan tembok sama sekali’, namun makna yang benar adalah tidak ada bayangan yang cukup banyak, sehingga membuat orang yang jalan bisa berteduh. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/512)

Kemudian, Imam Ahmad sendiri dalam sebagian riwayat, beliau menganjurkan agar jumatan dilakukan setelah masuk waktu dzuhur. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

ونقل أبو طالب، عنه، قال: ما ينبغي أن يصلي قبل الزوال

Abu Thalib menukil dari Imam Ahmad, bahwa beliau mengatakan, “Tidak selayaknya shalat jumat dilakukan sebelum zawal.” (Fathul Bari, 8/176).

Yang Penting Shalatnya

Sekalipun adzan jumat dimulai sebelum jam 12.00, namun kita pastikan, shalatnya dilakukan setelah zawal.

Imam Ibnu Baz mengatakan,

الأفضل بعد زوال الشمس خروجا من خلاف العلماء ؛ لأن أكثر العلماء يقولون لا بد أن تكون صلاة الجمعة بعد الزوال ، وهذا هو قول الأكثرين

Yang paling afdhal, dilakukan setelah zawal, dalam rangka menghindari perbedaan pendapat. Karena mayoritas ulama mengatakan, shalat jumat harus dilakukan setelah zawal (masuk waktu dzuhur). (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 12/391).

Catatan Kedua, bahwa jadwal masuknya waktu dzuhur di Indonesia berbeda-beda, artinya tidak bisa diseragamkan dengan jam 12.00. Di wilayah jakarta, waktu dzuhur yang paling siang sekitar pukul 12.10. itu di sekitar bulan Januari. Sementara waktu dzuhur yang paling awal sekitar pukul 11.35.

Untuk wilayah Lamongan Jawa Timur, tentu saja jatuhnya lebih awal. Selisih sekitar 20 menit.

Sementara selisih waktu shalat jogja jakarta, sekitar 10 menit.

Karena itu, untuk jumatan yang dimulai sebelum jam 11.45, insyaaAllah tidak sampai dilaksanakan sebelum dzuhur. Dan jumatannya sah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

shalat jumat

Jumatan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala memuliakan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menegaskan dalam al-Quran,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar  ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran: 110)

Kemudian melalui hadisnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga banyak menegaskan bahwa umat beliau adalah umat terbaik. Dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنَ الأَنْبِيَاءِ …وَجُعِلَتْ أُمَّتِى خَيْرَ الأُمَمِ

Aku diberi keistimewaan yang tidak diberikan nabi-nabi yang lain.., (diantaranya) umatku dijadikan sebagai umat terbaik. (HR. Ahmad 774 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Kemudian, dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّكُمْ تُتِمُّونَ سَبْعِينَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ

Kalian melengkapi 70 umat, dan kalian adalah umat terbaik dan paling mulia di sisi Allah. (HR. Turmudzi 3271 dan dihasankan al-Albani)

Hari Istimewanya di Hari Terbaik

Setiap umat memiliki hari istimewa. Hari yang mereka jadikan sebagai kesempatan untuk berkumpul dalam rangka beribadah bersama. Ada yang memilih hari sabtu, seperti Yahudi, ada yang memilih hari ahad, seperti Nasrani. Dan semua itu atas pilihan pribadi mereka. Padahal manusia tidak pernah tahu, apakah hari yang terbaik dalam hidupnya.

Allah memberikan hidayah kepada ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah pilihkan hari jumat. Allah tetapkan hari jumat sebagai hari terbaik mereka. Hari bagi mereka untuk berkumpul bersama dalam rangka beribadah.

Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَحْنُ الآخِرُونَ وَنَحْنُ السَّابِقُونَ ، بيد أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا ، وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ ، فَهَذَا الْيَوْمَ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ، فَهَدَانَا اللَّهُ لَهُ ، فَالنَّاسُ لَنَا فِيهِ تَبَعٌ ، الْيَهُودُ غَدًا ، وَالنَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ

Kita yang terakhir, namun yang terdepan. Padahal mereka (yahudi dan nasrani) telah mendapatkan al-kitab sebelum kita, sementara kita diberi kitab setelah mereka. Inilah hari (jumat), mereka menyimpang, tidak menjauhinya, kemudian Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengistimewakan hari jumat. Semua manusia mengikuti kita (umat Muhammad), orang yahudi besok (hari sabtu) dan orang nasrani besok lusa (hari ahad). (HR. Bukhari 876, Muslim 2015 dan yang lainnya).

Demikianlah cara Allah memuliakan umat islam. Hingga Allah pilihkan hari istimewa untuk mereka, jatuh pada hari paling mulia, yaitu hari jumat.

Pertama, karena hari jumat berada di urutan pertama. Sementara yahudi dan nasrani setelah kita

Kedua, hari jumat merupakan hari terjadinya peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan ini.

Diantara peristiwa besar yang terjadi pada hari jum’at,

  • Hari Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.
  • Hari akan terjadinya kiamat.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim 2014)

Sebagai mukmin, kita patut bangga dengan hari jumat…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,192FansLike
3,853FollowersFollow
29,910FollowersFollow
61,069SubscribersSubscribe

RAMADHAN