tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Puasa

amalan waktu sahur

Amalan di Waktu Sahur

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Umumnya orang menggunakan waktu sahurnya hanya untuk makan, minum, nonton TV, dst. padahal waktu sahur adalah waktu yang sangat istimewa untuk beribadah.

Mengapa istimewa, karena Allah mendekat ke seluruh hamba-Nya, menawarkan kepada semua hamba-Nya yang hendak bersimpuh di hadapan-Nya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Pada setiap malam, Allah Ta’ala turun kelangit dunia, ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman:’ Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Dan Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku akan aku ampuni.” (HR. Bukhari 1145 dan Muslim 758).

Di saat itulah, Allah menyebarkan rahmat, dan ampunan-Nya bagi umat manusia. Selayaknya kita manfaatkan untuk bersimpuh di hadapan Allah dan tidak hanya dihabiskan untuk menyantap makanan.

Imam Nawawi mengatakan,

وفيه تنبيه على أن آخر الليل للصلاة والدعاء والاستغفار وغيرها من الطاعات أفضل من أوله

Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa waktu akhir malam lebih afdhal digunakan untuk shalat, berdoa, beristighfar, dan melakukan ketaatan lainnya, dari pada waktu awal malam. (Syarh Shahih Muslim, 6/38).

Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas,

أن آخر الليل أفضل للدعاء والاستغفار ويشهد له قوله تعالى والمستغفرين بالأسحار وأن الدعاء في ذلك الوقت مجاب

“Bahwa akhir malam sangat afdhal untuk berdoa dan beristighfar. Dalilnya firman Allah (yang artinya) ‘yaitu orang-orang yang rajin beristighfar di waktu sahur.’ Dan bahwa doa di waktu sahur itu mustajab.” (Fathul Bari, 3/31).

Oleh karena itu, kebiasaan orang soleh di masa silam, mereka banyak memanfaatkan waktu sahur untuk semakin mendekat Allah, bersimpuh di hadapan-Nya, berdoa dan memohon ampunan kepada-Nya. Allah berfirman, menceritakan tentang sifat ahli surga

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“Merekalah orang-orang yang penyabar, jujur, tunduk, rajin berinfak, dan rajin istighfar di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)

Ibnu Katsir mengatakan:

دل على فضيلة الاستغفار وقت الأسحار. وقد قيل: إن يعقوب، عليه السلام، لما قال لبنيه: {سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي} [يوسف:98 ] أنه أخرهم إلى وقت السحر

‘Ayat ini menunjukkan keutamaan memperbanyak istighfar di waktu sahur.’

Diriwayatkan, bahwa Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam menasehati anaknya:

“Saya akan memohonkan ampun kepada Rabbku untuk kalian.” (QS. Yusuf: 98)

Kemudian Nabi Ya’kub mengakhirkan permohonan ampun itu di waktu sahur. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/23)

Kaum muslimin pembaca yang budiman, jangan sia-siakan kesempatan besar ini. Allah telah menawarkan diri-Nya kepada para hamba-Nya untuk memberikan ampunan kepada siapa yang memohon ampun kepada-Nya di waktu sahur. Sungguh sangat disayangkan jika kesempatan ini hanya kita habiskan untuk menyantap makanan atau menonton televisi. Lebih-lebih menghabiskan sebatang rokok yang itu akan memakan waktu cukup lama. Gunakan sisa waktu anda setelah sahur untuk banyak memohon ampunan kepada Allah. Semoga dengan ini Allah mengampuni kita semua.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

safar puasa

Safar ke Daerah yang Waktu Berbukanya Berbeda

Ada orang yang terbang dari papua ke jakarta, otomatis waktu berbukanya tertunda sekitar dua jam. Atau dari jakarta ke papua, sehingga bukanya lebih cepat sekitar 2 jam. Lalu berbuka ikut yng mana?

Jawaban: 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah telah membatasi kapan waktu berpuasa dan kapan waktu berbuka. Batasan itu, Allah jelaskan dalam firman-Nya,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam… (QS. Al-Baqarah: 187).

Ayat ini menyebutkan bahwa batas puasa adalah terbit fajar hingga datang waktu malam, ditandai dengan terbenamnya matahari.

Oleh karena itu, dimanapun seseorang menjumpai dua batasan di atas, maka aturan puasa berlaku baginya. Sekalipun rentang puasanya lebih lama atau sebaliknya, rentang puasanya lebih pendek.

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sahur Hanya dengan Minum Air

Bolehkah sahur hanya dengan minum air? Krn kadang ada orang yg malas makan, sehingga hanya minum air.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sahur memiliki banyak keutamaan. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan kepada umatnya untuk melakukan sahur, sekalipun dengan hal yang paling ringan, yaitu minum air.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ

Makan sahur itu berkah, karena itu, janganlah kalian tinggalkan, meskipun hanya dengan minum seteguk air. (HR. Ahmad 11086 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dari hadis ini, kita bisa mengambil beberapa perlajaran,

  1. Hanya sebatas minum, seseorang sudah dianggap melakukan sahur
  2. Orang yang minum ketika sahur, dia mendapatkan keberkahan sahur
  3. Yang lebih baik, sahur dengan makanan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’meskipun hanya dengan minum seteguk air’ artinya minum air ketika sahur menjadi pilihan ketika tidak dijumpai makanan atau tidak selera dengan makanan.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya, apakah sahur boleh hanya dengan minum air?

Jawaban beliau,

الظاهر أنه يسمى سحوراً ، لكن إذا لم يجد طعاماً ، لحديث : (إذا أفطر أحدكم فليفطر على رطب ، فإن لم يجد فعلى تمر ، فإن لم يجد حسى حسوات من ماء) فإذا كان ليس عنده طعام يعني ليس عنده مأكول ، أو عنده مأكول لكن لا يشتهيه ، وشرب ماءاً فأرجو أن تحصل له السنة

Nampaknya ini bisa dianggap sahur, namun jika tidak ada makanan. Berdasarkan hadis, ’Apabila kalian berbuka, maka berbukalah dengna kurma basah. Jika tidak ada, berbukalah dengan kurma kering. Jika tidak ada, minumlah beberapa teguk air.’ Jika seseorang tidak memiliki makanan, atau dia punya makanan namun tidak selera, kemudian dia hanya minum air, saya berharap ini sudah termasuk mengamalkan sunah. (Fatawa Nur ’ala ad-Darb: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_2667.shtml)

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sejarah-bulan-ramadhan

Sejarah Nama Bulan Ramadhan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sejak dahulu, sebelum datangnya islam, bangsa arab telah menggunakan tahun qomariyah. Hanya saja tidak semua masyarakat jahiliyah di seluruh penjuru jazirah arab sepakat dalam menentukan kalender tertentu. Sehingga penanggalan mereka berbeda-beda. Meskipun demikian, mereka mengenal kalender qamariyah, dan mereka gunakan konsep ini untuk membuat penanggalan bagi suku mereka masing-masing.

Kalender qamariyah yang mereka kenal sejak zaman dahulu sama dengan kalender qamariyah yang berlaku saat ini. Dalam satu tahun ada dua belas bulan, dan awal bulan ditentukan berdasarkan terbitnya hilal (bulan sabit pertama). Mereka menetapkan bulan Muharram sebagai awal tahun. Mereka juga menetapkan empat bulan haram (bulan suci). Mereka menghormati bulan-bulan haram ini. Mereka jadikan empat bulan haram sebaga masa dilarangnya berperang antar-suku dan golongan.

Kemudian, sebagian informasi menyebutkan, ada lima bulan – Rabi’ul awal – akhir, Jumadil awal – akhir, dan Ramadhan – yang namanya ditetapkan berdasarkan keadaan musim yang terjadi di bulan tersebut.

–  Rabi’ul awal dan akhir diambil dari kata rabi’ [arab: ربيع] yang artinya semi. Karena ketika penamaan bulan Rabi’ bertepatan dengan musim semi.

–  Jumadil Ula dan Akhirah, diambil dari kata: jamad [arab: جماد], yang artinya beku. Karena pada saat penamaan bulan ini bertepatan dengan musim dingin, dimana air membeku.

–  Sedangkan Ramadhan diambil dari kata Ramdha’ [arab: رمضاء], yang artinya sangat panas. Karena penamaan bulan ini bertepatan dengan musim panas.

(http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=27755)

Asal Penamaan Ramadhan

An-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, menyebutkan beberapa pendapat ahli bahasa, terkait asal penamaan ramadhan,

Pertama, diambil dari kata ar-Ramd [arab: الرمض] yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan ramadhan, karena kewajiban puasa di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik. Pendapat ini disampaikan oleh al-Ashma’i – ulama ahli bahasa dan syair arab – (w. 216 H), dari Abu Amr.

Kedua, diambil dari kata ar-Ramidh [arab: الرميض], yang artinya awan atau hujan yang turun di akhir musim panas, memasuki musim gugur. Hujan ini disebut ar-Ramidh karena melunturkan  pengaruh panasnya matahari. Sehingga bulan ini disebut Ramadhan, karena membersihakn badan dari berbagai dosa. Ini merupakan pendapat al-Kholil bin Ahmad al-Farahidi – ulama tabiin ahli bahasa, peletak ilmu arudh – (w. 170 H).

Ketiga, nama ini diambil dari pernyataan orang arab, [رمضت النصل] yang artinya mengasah tombak dengan dua batu sehingga menjadi tajam. Bulan ini dinamakan ramadhan, karena masyarakat arab di masa silam mengasah senjata mereka di bulan ini, sebagai persiapan perang di bulan syawal, sebelum masuknya bulan haram. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Azhari – ulama ahli bahasa, penulis Tahdzib al-Lughah – (w. 370 H).

Kemudian an-Nawawi menyebutkan keterangan al-Wahidi,

قال الواحدي: فعلى قول الأزهري: الاسم جاهلي، وعلى القولين الأولين يكون الاسم إسلاميًا

Al-Wahidi mengatakan, berdasarkan keterangan al-Azhari, berarti ramadhan adalah nama yang sudah ada sejak zaman Jahiliyah.Sementara berdasarkan dua pertama, berarti nama ramadhan adalah nama islami.

(Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, 3/126).

Demikian,

Allahu a’lam.

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

buka puasa dengan sirine

Tanda Berbuka Puasa Mengacu Bunyi Sirine

Tanya:

Apa hukum berbuka sebelum adzan, krn sdh mendengar bunyi sirine. Trim’s

Jawab

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah menjelaskan batasan puasa yang harus dilakukan hamba-Nya adalah sampai masuknya malam,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (QS. Al-Baqarah: 187).

Datangnya waktu malam, ditandai dengan terbenamnya bulatan matahari di ufuk barat.

Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

Apabila malam telah datang dari arah sini dan siang telah menghilang di arah sana, serta matahari telah tenggelam, berarti orang yang puasa telah boleh berbuka. (HR. Bukhari 1954).

Syaikhul Islam menjelaskan acuan tembenamnya matahari,

إِذا غاب جميع القرص أفطر الصائم، ولا عبرة بالحمرة الشديدة الباقية في الأفق، وإذا غاب جميع القرص ظهر السواد من المشرق، كما قال النّبيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “إِذا أقبل الليل من ها هنا، وأدبر النهار من ها هنا، وغربت الشمس؛ فقد أفطر الصائم”

Apabila semua bulatan matahari telah tenggelam, orang yang puasa boleh berbuka. Dan warna merah yang menyala di ufuk barat yang masih tersisa, tidak dihitung. Jika semua bagian lingkaran matahari telah tenggelam, maka muncul gelap di ufuk timur. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila malam telah datang dari arah sini dan siang telah menghilang di arah sana, serta matahari telah tenggelam, berarti orang yang puasa telah boleh berbuka. (Majmu’ Fatawa, 25/215).

Di tempat kita, masyarakat umumnya tidak bisa menyaksikan ini. Karena tertutupi dengan bangunan. Dan beberapa lembaga rukyah dan hisab, telah memantau perjalanan matahari dari waktu ke waktu, sehingga jadilah jadwal shalat.

Jika kita yakin bahwa jadwal ini telah sesuai dengan realita di lapangan, maka jadwal ini bisa kita jadikan acuan untuk menentukan kapan waktu maghrib.

Oleh karena itu, jika sirine yang dibunyikan sebagian radio mengacu pada jadwal ini, insyaaAllah bisa dipertanggung jawabkan. Demikian pula adzan. Ketika ada orang adzan, dan adzannya tepat waktu, maka bisa dijadikan acuran untuk menentukan kapan waktu berbuka. Lain halnya ketika adzannya sengaja ditunda atau jam masjid terlalu cepat sehingga ada yang adzan sebelum waktu. Untuk kondisi semacam ini, adzan tidak lagi bisa dijadikan acuan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

pacaran keluar mani saat puasa

Keluar Mani Ketika Puasa karena Pacaran

Assallamualikum Wr. Wbr. ustadz…..saya ingin bertanya…pada saat puasa ramadahan saya berpacaran saling berpegangan dan berpelukan kemudian keluar air mani tanpa melakukan hubungan badan ataupun ciuman..bagaimana ustadz apakah puasa saya batal??…dan apabila batal saya mengganti puasanya dengan fidyah atau kafarat…terimakasih sebelumnya…wallaikumsalam Wr.Wbr.

Dari Bred

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada dua pembahasan untuk kasus yang anda tanyakan,

Pertama, pacaran ketika puasa

Allah memuliakan Ramadhan dan Allah jadikan bulan ini sebagai kesempatan untuk mendulang sejuta pahala bagi para hamba-Nya. Sayangnya, kemuliaan ramadhan tidak diimbangi dengan sikap kaum muslimin untuk memuliakannya. Banyak diantara mereka yang menodai kesucian ramadhan dengan melakukan berbagai macam dosa dan maksiat. Pantas saja, jika banyak orang yang berpuasa di bulan ramadhan, namun puasanya tidak menghasilkan pahala. Sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang dia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad 8856, Ibn Hibban 3481, Ibnu Khuzaimah 1997 dan sanadnya dishahihkan Al-A’zami).

Makna tekstual dari hadis menunjukkan bahwa orang ini tidak mendapatkan pahala. Karena yang dia dapatan hanya lapar dan haus. Apa sebabnya?  Tentu saja, salah satunya adalah maksiat ketika puasa.

Seharusnya mereka yang bermaksiat itu malu. Di saat banyak orang berlomba untuk mendapatkan ridha Allah, justru dia mendatangi murka Allah. Di saat banyak orang melakukan ketaatan kepada Allah, dia justru durhaka keada-Nya.

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْت

”Jika kamu tidak malu, lakukan perbuatan sesukamu!” (HR. Bukhari 3484).

Pacaran adalah Zina

Pacaran tidaklah lepas dari zina mata, zina tangan, zina kaki dan zina hati. Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan mendapat bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa dielakkan. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Maksiat Saat Puasa

Pacaran adalah maksiat. Sementara maksiat yang dilakukan seseorang, bisa menghapus pahala amal shaleh yang pernah dia kerjakan, termasuk pahala puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Seharusnya orang yang berpuasa menjadi orang yang berwibawa dengan meninggalkan berbagai macam maksiat dan perbuatan sia-sia. Dalam sebuah riwayat, sahabat Jabir mengingatkan,

إذا صمت فليصم سمعك ، وبصرك من المحارم ، ولسانك من الكذب ، ودع أذى الجار ، وليكن عليك وقار وسكينة ، ولا تجعل يوم صومك ويوم فطرك سواء

”Jika kamu berpuasa, maka puasakanlah pendengaranmu, penglihatanmu dari segala yang haram, dan jagalah lisanmu dari kedustaan. Hindari mengganggu tetangga. Jadikan diri anda orang yang berwibawa dan tenang selama puasa. Jangan jadikan suasana hari puasamu sama dengan hari ketika tidak puasa.” (Latha’if Al Ma’arif, 277).

Kedua, Masalah Keluar Mani ketika Puasa

Ada dua keadaan keluar mani ketika puasa:

Pertama, keluar mani di luar kesengajaan.

Misalnya yang dialami orang yang mimpi basah di siang hari ramadhan. Untuk kondisi pertama ini, para ulama menegaskan, tidak membatalkan puasa.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Mimpi Basah Ketika Puasa Ramadhan

Kedua, keluar mani dengan sengaja

Dalam arti, dia secara sengaja melakukan pengantar yang memicu timbulnya syahwat, hingga mencapai orgasme. Bisa dengan onani maupun bercumbu dengan lawan jenis, hingga keluar mani. Baik dia istri maupun wanita lainnya.

Dalam hadis qudsi tersebut Allah menyebutkan sifat orang yang berpuasa, yaitu mereka tinggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya, karena Allah,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ: فَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، إِلَّا الصِّيَامَ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، إِنَّهُ يَتْرُكُ الطَّعَامَ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Semua amal Ibnu Adam itu miliknya, dan setiap ketaatan dilipatkan sepuluh kali sampai 700 kali. Kecuali puasa, yang itu milik-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya. Dia tinggalkan makanan dan syahwatnya karena-Ku.” (HR. Ad-Darimi 1811, Ibnu Khuzaimah 1898, dan dishahihkan al-A’dzami).

Allah menyebut salah satu sifat orang puasa adalah meninggalkan syahwatnya. Sehingga jika dia sampai keluar mani dengan sengaja, berarti dia telah menunaikan syahwatnya, sehingga puasanya batal.

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma bahwa Umar bin Khothab radhiallahu ‘anhu menceritakan keadaan dia dengan istrinya,

هَشَشتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ

“Suatu hari nafsuku bergejolak maka aku-pun mencium (istriku) padahal aku puasa, kemudian aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata: Aku telah melakukan perbuatan yang berbahaya pada hari ini, aku mencium sedangkan aku puasa. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ، قُلْتُ: لَا بَأْسَ بِذَلِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” فَفِيمَ؟

“Apa pendapatmu kalau kamu berkumur dengan air padahal kamu puasa?” Aku jawab: Boleh. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lalu kenapa mencium bisa membatalkan puasa?” (HR. Ahmad 138 dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth).

Dalam hadis Umar di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meng-qiyaskan (analogi) antara bercumbu dengan berkumur. Keduanya sama-sama rentan dengan pembatal puasa. Ketika berkumur, orang sangat dekat dengan menelan air. Namun selama dia tidak menelan air maka puasanya tidak batal. Sama halnya dengan bercumbu. Suami sangat dekat dengan keluarnya mani. Namun selama tidak keluar mani maka tidak batal puasanya.

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

logo mui majelis ulama indonesia

Fatwa MUI Tentang Penentuaan Puasa Ramadhan dan 1 Syawal

Alhamdulillah.

Rasa syukur sepatutnya kita nyatakan dengan keluarnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia yang ditetapkan pada 16 Desember 2003 lalu

(Ditetapkan sebagai Fatwa Nomor 2/2004, 24 januari 2004).

Walau pun media massa lebih tertarik pada fatwa bunga bank, sebenarnya fatwa MUI tersebut juga memuat hal penting, yaitu tentang penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Sangat disayangkan kurangnya minat media massa memberitakannya, termasuk ketika sosialisasinya sebelum sidang itsbat penentuan awal Dzulhijjah dan Idul Adha 1424 di Depag. Padahal fatwa itu telah membuka jalan menuju penyatuan awal Ramadhan dan hari raya yang didambakan ummat Islam.

Keseragaman awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha 1424 semata-mata karena posisi bulan dan matahari memungkinkan untuk terjadinya keseragaman, bukan berarti telah terpecahkannya masalah perbedaan pendapat yang sering kali muncul tentang penentuan awal-awal bulan qamariyah. Masih ada hal-hal yang harus diselesaikan dalam upaya penyatuan ummat yang seharusnya kita mulai pada masa tenang ini, bukan saat terjadi perbedaan. Fatwa MUI tersebut mempunyai makna sangat penting dalam upaya tersebut. (Prof. Thomas Djamaluddin – Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN dan Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI)

Berikut lampiran Fatwa MUI

fatwa-mui-tentang-ramadhan

fatwa-mui-tentang-ramadhan2

fatwa-mui-tentang-ramadhan3

walimah nikah

Menikah di Bulan Ramadhan

Apa hukum menikah di bulan ramadhan? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dalam masalah muamalah, kaidah yang berlaku adalah semua dibolehkan, selama itu bermanfaat dan tidak ada larangan dalam syariat. Termasuk diantaranya penentuan tanggal pernikahan atau tanggal hajatan lainnya. Kami tidak menjumpai adanya satupun dalil yang melarang pernikahan di bulan Ramadhan.

Dan inilah yang menjadi landasan Fatwa Lajnah Daimah ketika ditanya mengenai hukum menikah di bulan Ramadhan. Jawaban Lajnah,

لا يكره الزواج في شهر رمضان؛ لعدم ورود ما يدل على ذلك

Tidak dimakruhkan menikah di bulan Ramadhan, karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal itu.

Fatwa Lajnah Daimah, no. 8901.

Sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=6759&PageNo=1&BookID=3

Hanya saja, ada dua catatan yang perlu diperhatikan bagi mereka yang menikah di bulan Ramadhan,

Pertama, tidak boleh diyakini bahwa menikah di bulan Ramadhan memiliki nilai keutamaan khusus dibandingkan bulan lainnya, kecuali jika di sana ada dalil yang menyebutkan keutamaan khusus menikah di bulan Ramadhan.

Kedua, pasangan suami istri yang menikah di bulan Ramadhan harus bisa memastikan bahwa mereka tidak akan membatalkan puasa melalui jalur syahwat, dalam bentuk hubungan badan atau mengeluarkan mani dengan melakukan mukadimah jima’. Karena mengeluarkan mani dengan sengaja, termasuk pembatal puasa.

Adapun batasan bercumbu di siang hari Ramadhan, telah kita bahas di: Batasan Mencumbu Istri Ketika Puasa

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hijab ramadhan

Hisab Ramadhan itu Hanya Prediksi

Mengapa orang harus melakukan rukyah, padahal sudah ada hisab. Bahkan sdh ada teknologi canggih utk melakukan hisab lebih akurat. Bukankah rukyah berarti orang itu gagap teknologi?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari kaidah pokok dalam agama, bahwa ibadah yang dilakukan umat islam, dibangun di atas prinsip yakin. Karena itu, Allah melarang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti pendapat mayoritas manusia, yang sebagian besar mereka hanya mengikuti prasangka dan tebak-menebak saja.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah menebak-nebak dusta. (QS. Al-An’am: 116)

Karena itu pula, Allah perintahkan kita agar melandasi setiap kegiatan kita dengan ilmu yang membuahkan yakin, bukan hanya dugaan dan prediksi.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’: 36)

Hisab itu Hanya Prediksi

Jika kita perhatikan dengan baik, kita akan menyimpulkan bahwa hisab hanyalah prediksi. Karena hakekat hisab adalah perhitungan, sementara apakah hasil perhitungan ini benar ataukah tidak, jelas perlu dibuktikan secara empiris di lapangan.

Lebih dari itu, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa hisab bersifat predisksi, dzanni (dugaan),

Pertama, bahwa kemampuan hisab tidak hanya dimiliki satu ormas. Bahkan ormas yang diklaim anti-hisab, juga memiliki ahli hisab. Hanya saja, mengingat pengguna hisab hampir merata di setiap ormas besar, metode yang ditetapkan berbeda. Setidaknya ada 5 metode yang digunakan para ahli hisab di tempat kita,

  1. Hisab Urfi. Urfi artinya sesuai kebiasaan. Metode hisab urfi merupakan metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi, hanya berdasarkan periodik, 30 dan 29 hari berulang-ulang, yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya berbeda dengan metode hisab atau rukyat modern.
  2. Hisab Taqriby. Taqriby artinya pendekatan (aproksimasi). Metode ini telah melibatkan prinsip astronomi dan matematis. Hanya saja masih menggunakan rumus sederhana, sehingga akurasinya masih rendah.
  3. Hisab Haqiqi. Haqiqi artinya realita. Metode ini menggunakan prinsip astronomi dan rumus matematis, dilengkapi dengan data-data astronomi terbaru, sehingga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi.
  4. Hisab Haqiqi Tahqiqi. Tahqiq artinya pasti. Metode ini sebenarnya pengembangan dari metode pertama, yang diklaim memiliki tingkat akurasi sangat pasti. Meskipun demikian, dalam perhitungannya, tetap menggunakan toleransi standar deviasi (faktor koreksi ketidak tepatan).
  5. Hisab Kontemporer & Astronomi modern. Metode ini dibantu dengan komputerisasi untuk perhitungan, sehingga dianggap memiliki algoritma dengan akurasi tinggi. Hanya saja, untuk metode terakhir ini dimiliki orang non-muslim. Beberapa sofware dan kalender yang dikembangkan, hanya bisa kita ambil (download) dari mereka, seperti almanac nautica, astronomical almanac, stellarium, atau starrynight.

Ketika kita mendapatkan data hasil hisab, apa pertanyaan pertama yang perlu kita ajukan? Tentu kita akan bertanya, ini hisab dengan metode apa? Ada banyak metode, dan jelas hasilnya akan berbeda antara satu dengan lainnya. Dan semuanya sama-sama hisab. Adanya banyak metode ini menunjukkan bahwa hisab sangat prediktif. Hanya saja, masing-masing predisksi memiliki tingkat akurasi yang berbeda.

Kedua, disamping ada sekian metode yang berbeda dalam menggunakan hisab, para ahli hisab juga berbeda pendapat dalam menentukan kriteria tanggal baru.

Sebagian menggunakan kriteria ijtima’ qablal ghurub, ada juga ijtima’ qablal fajri, kemudian kriteria wujudul hilal yang dipertahankan Muhammadiyah, dan kriteria imkanur rukyat yang digunakan oleh pemerintah. Disamping itu, ada juga perbedaan dalam menentukan pedoman. Ada yang berpedoman ufuk hakiki dan ada yang berpedoman ufuk hissi.

Pengukuran ufuk hakiki adalah mengukur ketinggian hilal hissi ditarik dari titik pusat bumi, sementara pedoman ufuk hissi diukur dari permukaan bumi.

Dan tentu saja, semua kriteria ini dibangun atas dasar asumsi. Terlalu jauh jika orang menyebut hisab seabagai kepastian.

Ketiga, bahwa dalam perhitungan secanggih apapun pasti di sana akan ada standar deviasi. Angka toleransi terjadinya kesalahan perhitungan. Semakin kasar perhitungan, semakin besar nilai standar deviasi. Sehingga faktor kesalahannya juga semakin besar.

Termasuk algoritma perhitungan yang digunakan dalam software. Bagaimanapun, yang namanya rancangan manusia, akan ada toleransi penyimpangan.

Kami sendiri tidak tahu, metode apa yang digunakan ormas di tempat kita dalam melakukan hisab. Apakah sudah sampai metode kontemporer ataukah masih klasik. Namun melihat latar belakang pendidikan ahli hisab dari beberapa ormas yang umumnya dari pesantren atau jurusan ilmu non eksak, kemungkinan besar metode yang digunakan adalah metode klasik dengan tingkat akurasi di bawah kontemporer.

Ini berbeda dengan hisab yang digunakan kementrian agama RI, diantaranya Prof. Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN, yang menggunakan pendekatan astronomi modern dalam perhitungan. Meskipun demikian, beliau tetap mengakui bahwa hisab harus dibuktikan secara empiris.

Namun apapun itu, jika secara perhitungan saja masih memungkinkan terjadinya penyimpangan dan kesalahan, bagaimana mungkin hisab bisa disebut pasti??

Semua Sepakat, Hisab hanya Prediksi

Sekali lagi, terlalu jauh jika ada orang yang mengatakan bahwa hisab itu pasti. Selain karena dorongan arogansi. Bahkan ahli hisan di masa silam sendiri sepakat bahwa hisab hanya prediksi.

Syaikhul Islam mengatakan,

فاعلم أن المحققين من أهل الحساب كلهم متفقون على أنه لا يمكن ضبط الرؤية بحساب بحيث يحكم بأنه يرى لا محالة أو لا يرى ألبتة على وجه مطرد وإنما قد يتفق ذلك أو لا يمكن بعض الأوقات

Ketahuilah, para peneliti di kalangan ahli hisab sepakat bahwa tidak mungkin menetapkan terlihatnya hilal dengan ilmu hisab. Dimana, (semata dengan hisab) bisa dihukumi akan terlihat hilal atau tidak akan terlihat sama sekali. Namun yang tepat, terkadang hasil hisab bertepatan dengan terlihat hilal dan kadang tidak mungkin bertepatan, dalam sebagian waktu. (Majmu’ Fatawa, 25/182-183).

Puasa itu Yakin, Bukan Prediksi

Dalam masalah penetapan awal ramadhan, Allah ta’ala menjadikan sesuatu yang meyakinkan sebagai acuan, yaitu menyaksikan hilal. Bukan sesuatu yang sifatnya prediksi.

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Siapa diantara kalian yang telah menyaksikan hilal, maka hendaknya dia berpuasa. (QS. Al-Baqarah: 185).

Dan orang disebut menyaksikan, ketika dia melihat kejadian terbitnya hilal, bukan sebatas memprediksi. Tentu bukan sikap yang tepat ketika ada orang yang mengaku bahwa hilal telah terbit. Ketika dia ditanya, ’Mana buktinya?’ kemudian dia hanya menunjukkan hasil perhitungannya di atas kertas, ’Ini bukti hisab saya.’

Seperti ini persaksian yang bisa diterima??

Jelas masyarakat akan menolaknya. Karena ini bukan bukti, tapi prediksi. Sehingga mereka yang melakukan puasa atau berhari raya berdasarkan hisab, berarti dia beribadah berdasarkan dugaanprediksi, dzan, dan bukan keyakinan. Meskipun bagi mereka penggemar hisab, ini dipaksakan meyakinkan.

Karena tidak ada pilihan, selain harus melibatkan rukyah sebagai pembuktian.

Syaikhul Islam mengatakan,

وليس لأحد منهم طريقة منضبطة أصلا بل أية طريقة سلكوها فإن الخطأ واقع فيها أيضا فإن الله سبحانه لم يجعل لمطلع الهلال حسابا مستقيما بل لا يمكن أن يكون إلى رؤيته طريق مطرد إلا الرؤية

Tidak ada seorang ahli hisab-pun yang memiliki ketetentuan pasti. Bahkan cara apapun yang mereka tempuh, pasti akan ada unsur kesalahan. Karena Allah ta’ala tidaklah menjadikan adanya perhitungan baku untuk munculnya hilal. Bahkan tidak mungkin ada cara untuk bisa melihat hilal, selain dengan melakukan rukyah. (Majmu’ Fatawa, 25/182-183).

Demikian,

Allahu a’lam…

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

nisyfu saban

Puasa Nisfu Syaban?

Adakah Puasa Nisfu Syaban? Karena sekarang sedang ramai disebarkan lewat sms.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kita dianjurkan memperbanyak puasa selama bulan sya’ban. A’isyah radliallahu ‘anha mengatakan,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“.. saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari 1969 dan Muslim 782).

Dalam hadis lain, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. Ahmad 21753,  Nasa’i 2357, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Jika kita perhatikan dari semua hadis di atas, kita menyimpulkan bahwa puasa sya’ban yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah puasa sebulan penuh. Bukan khusus di pertengahan bulan sya’ban. Orang yang secara sengaja mengkhususkan puasa hanya di nishfu sya’ban, sementara dia tidak puasa di tanggal-tanggal yang lain, tidak sesuai dengan praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Hadis Khusus Anjuran Puasa Nisfu Syaban

Terdapat satu hadis khusus yang menganjurkan untuk berpuasa ketika nisfu syaban, hanya saja pakar hadis menilai hadis ini sebagai hadis lemah. Hadis itu menyatakan,

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika masuk malam pertengahan bulan Sya’ban maka shalat-lah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Karena Allah turun ke langit dunia ketika matahari terbenam. Dia berfirman: Mana orang yang meminta ampunan, pasti Aku ampuni, siapa yang minta rizki, pasti Aku beri rizki, siapa…. sampai terbit fajar.”

Status Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Ibn Majah dalam Sunannya no 1388. Dari jalur Ibnu Abi Sabrah dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far.

Para pakar hadis mempermasalahkan Ibnu Abi Sabrah.

Kata al-Haitami:

أبو بكر ابن أبي سبرة وهو متروك

Abu Bakr Ibnu Abi Sabrah, perawi yang ditinggalkan. (Majma’ Zawaid, 1/213).

Fuad Abdul Baqi menukil keterangan Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in tentang Ibnu Abi Sabrah,

قال فيه أحمد بن حنبل وابن معين يضع الحديث

Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in menilai Ibnu Abi Sabrah: Dia telah memalsu hadis. (Ta’liq ‘ala Sunan Ibnu Majah, 1/444).

Dari keterangan di atas, para ulama menilai hadis di atas sebagai hadis palsu atau lemah sekali, sehingga tidak bisa dijadikan dalil.

Oleh karena itu, tidak ada puasa khusus untuk pertengahan sya’ban. Yang ada adalah memperbanyak puasa selama bulan sya’ban, sebagaimana yang dipraktekkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

10,076FansLike
4,525FollowersFollow
33,603FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup