tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Puasa

puasa 1 muharam

Hukum Puasa 1 Muharam

Tanya:

Apa hukum puasa tanggal 1 Muharam? Adakah dalilnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أفضل الصيام بعد رمضان ، شهر الله المحرم

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim 1163).

Hadis ini merupakan dalil dianjurkannya memperbanyak puasa selama Muharam. An-Nawawi mengatakan,

تصريح بأنه أفضل الشهور للصوم

”Hadis ini menegaskan bahwa Muharam adalah bulan yang paling utama untuk puasa.” (Syarh Shahih Muslim, 8/55).

Kemudian, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

”Puasa hari Asyura, saya berharap kepada Allah, puasa ini menghapuskan (dosa) setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim 1162).

Dan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan informasi bahwa Puasa Asyura adalah kebiasaan puasa yahudi yang paling agung, beliau bertekad, tahun depan akan puasa tanggal 9 Muharam, agar puasa beliau beda dengan kebiasaan puasa yahudi. (HR. Muslim 1134)

Berdasarkan keterangan di atas, kita sepakat, bahwa dalam puasa Muharam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menentukan hari khusus yang paling istimewa untuk puasa, selain tanggal 9 dan 10 Muharam. Beliau hanya menganjurkan memperbanyak puasa selama Muharam. Karena itu, tidak dibenarkan seseorang menyatakan ada anjuran khusus untuk berpuasa tanggal 1 Muharam atau tanggal sekian Muharam, sementara dia tidak memiliki dalil yang mendukung pernyataannya.

Hukum Puasa Tanggal 1 Muharam

Satu prinsip yang penting untuk kita garis bawahi, bahwa satu amal yang sama, bisa jadi memiliki hukum yang berbeda, tergantung dari niat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kaidah,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

”Sah dan tidaknya amal, bergantung pada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari 1 dan Muslim 1907)

Sebagai contoh, misalnya ada orang yang menyerahkan sejumlah uang kepada orang lain, “Ambillah uang ini!” Ada tiga kemungkinan akad yang berlangsung dalam kasus ini, (1) jika ia berniat mendermakannya, maka akadnya adalah hibah. (2) Jika tidak berniat berderma, maka akadnya adalah qardh (utang) yang wajib dikembalikan oleh penerima uang, atau (3) akadnya wadi’ah (titipan) yang wajib dijaga oleh penerima. Bentuknya penyerahan uang, namun hukumnya berbeda karena perbedaan niat saat penyerahan uang itu.

Contoh yang lain, si A melakukan puasa di hari senin tanggal 9 Dzulhijah. Ada tiga kemungkinan hukum puasa tersebut, (1) jika si A meniatkan puasa itu untuk qadha ramadhan yang menjadi tanggungannya, maka statusnya puasa wajib. (2) si A meniatkan puasa sunah hari senin, atau (3) si A berniat puasa Arafah. Puasa yang dikerjakan sama, namun status dan nilai puasa itu berbeda tergantung niat orang yang melaksanakannya.

Orang yang melakukan puasa tanggal 1 Muharam, ada 2 kemungkinan niat yang dia miliki,

Pertama, dia berpuasa tanggal 1 Muharam karena motivasi hadis yang menganjurkan memperbanyak puasa di bulan Muharam. Ini termasuk puasa yang bagus, sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana penjelasan di atas.

Kedua, dia berpuasa tanggal 1 Muharam karena ’tahun baru’, atau mengawali tahun baru dengan puasa, atau karena keyakinan adanya fadhilah khusus untuk puasa awal tahun, dst.

Dr. Muhammad Ali Farkus – ulama Aljazair – menegaskan,

وجديرٌ بالتنبيه أنَّ شهرَ اللهِ المحرَّم يجوز الصيامُ فيه من غير تخصيص صوم يوم آخرِ العام بنية توديع السَّنَةِ الهجرية القمرية، ولا أول يوم من المحرم بنية افتتاح العام الجديد بالصيام

”Perlu diperhatikan bahwa selama bulan Muharam, dianjurkan memperbanyak puasa. Tidak boleh mengkhususkan hari tertentu dengan puasa pada hari terakhir tutup tahun dalam rangka perpisahan dengan tahun hijriyah sebelumnya atau puasa di hari pertama Muharam dalam rangka membuka tahun baru dengan puasa.” (http://ferkous.com/site/rep/Bg29.php)

Kemudian Dr. Muhammad Ali Farkus menjelaskan hadis yang menganjurkan puasa tutup tahun dan pembukaan tahun baru. Beliau mengatakan,

ومن خصّص آخر العام وأوَّلَ العام الجديد بالصيام إنما استند على حديثٍ موضوع: «مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ وَأَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ، خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ المُسْتَقْبلَةَبِصَوْمٍ جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَّارَةَ خَمْسِينَ سَنَةً»، وهو حديث مكذوبٌ ومُختلَقٌ على النبي صلى اللهُ عليه وآله وسَلَّم

Orang yang mengkhususkan puasa pada hari terakhir tutup tahun, atau hari pertama tahun baru, mereka dengan hadis palsu, “Barangsiapa yang puasa pada hari terakhir Dzulhijah dan hari pertama Muharam, berarti dia menutup tahun sebelumnya dan membuka tahun baru dengan puasa. Allah jadikan puasa ini sebagai kaffarah dosanya selama 50 tahun.” Hadis ini adalah dusta dan kebohongan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadis ini terdapat perawi bernama Ahmad bin Abdillah al-Harawi dan Wahb bin Wahb. As-Suyuthi menilai, keduanya perawi pendusta. (al-Lali’ al-Mashnu’ah, 2/92). Penilaian yang sama juga disampaikan as-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmu’ah (hlm. 96).

Peringatan al-Hafidz Abu Syamah

Banyaknya amalan yang beredar di tengah masyarakat terkait tahun baru hijriyah, menjadi sebab para ulama hadis mengingatkan masyarakat untuk menghindari amalan semacam itu. Diantaranya al-Hafidz Abu Syamah (w. 665 H), seorang ahli sejarah dan ahli hadis dari Damaskus. Dalam kitabnya al-Bahis ’ala Inkar al-Bida’, beliau menegaskan bahwa berbagai hadis yang menyebutkan keutamaan amalan di akhir tahun atau awal tahun, semuanya hadis yang sama sekali tidak ada dalam kitab hadis (la ashla lahu). Dan derajat ini, lebih parah dari pada hadis palsu.

Beliau mengatakan,

ولم يأت شيءٌ في أول ليلة المحرم، وقد فَتَّشْتُ فيما نقل من الآثار صحيحًا وضعيفًا، وفي الأحاديث الموضوعة فلم أر أحدًا ذكر فيها شيئًا، وإني لأتخوّف -والعياذ بالله- من مفترٍ يختلق فيها حديثًا

”Tidak ada riwayat apapun yang menyebutkan keutamaan malam pertama Muharam. Saya telah meneliti berbagai riwayat dalam kitab kumpulan hadis yang shahih maupun yang dhaif atau dalam kumpulan hadis-hadis palsu, namun aku tidak menjumpai seorangpun yang menyebutkan hadis itu. Saya khawatir – wal iyadzu billah – hadis ini berasal dari pemalsu, yang membuat hadis palsu terkait tahun baru.”(al-Bahis ’ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits, hlm. 77)

Allahu a’lamkaos polo muslim

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

puasa tarwiyah

Puasa Tarwiyah

Apa itu hari tarwiyah? Adakah puasa hari tarwiyah?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Hari tarwiyah adalah tanggal 8 Dzulhijjah. Istilah tarwiyah berasal dari kata tarawwa [arab: تَرَوَّى] yang artinya membawa bekal air. Karena pada hari itu, para jamaah haji membawa banyak bekal air zam-zam untuk persiapan arafah dan menuju Mina. Mereka minum, memberi minum ontanya, dan membawanya dalam wadah.

Ibn Qudamah menjelaskan asal penamaan ini,

سمي بذلك لأنهم كانوا يتروون من الماء فيه، يعدونه ليوم عرفة. وقيل: سمي بذلك؛ لأن إبراهيم – عليه السلام – رأى ليلتئذ في المنام ذبح ابنه، فأصبح يروي في نفسه أهو حلم أم من الله تعالى؟ فسمي يوم التروية

Dinamakan demikian, karena para jamaah haji, mereka membawa bekal air pada hari itu, yang mereka siapkan untuk hari arafah. Ada juga yang mengatakan, dinamakan hari tarwiyah, karena Nabi Ibrahim ’alaihis salam pada malam 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi menyembelih anaknya. Di pagi harinya, beliau yarwi (berbicara) dengan dirinya, apakah ini mimpi kosong ataukah wahyu Allah? Sehingga hari itu dinamakan hari tarwiyah. (al-Mughni, 3/364).

Puasa Tarwiyah

Terdapat hadis yang secara khusus menganjurkan puasa di hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah). Hadis itu menyatakan,

مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

”Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun.”

Hadis ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’.

Para ulama menegaskan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengatakan,

وهذا حديث لا يصح . قَالَ سُلَيْمَان التَّيْمِيّ : الطبي كذاب . وَقَالَ ابْن حِبَّانَ : وضوح الكذب فِيهِ أظهر من أن يحتاج إِلَى وصفه

Hadis ini tidak shahih. Sulaiman at-Taimi mengatakan, ’at-Thibbi seorang pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan.’ (al-Maudhu’at, 2/198).

Keterangan serupa juga disampaikan as-Syaukani (wafat 1255 H). Ketika menjelaskan status hadis ini, beliau mengatakan,

رواه ابن عدي عن عائشة مرفوعاً ولا يصح وفي إسناده : الكلبي كذاب

Hadis ini disebutkan oleh Ibn Adi dari A’isyah secara marfu’. Hadis ini tidak shahih, dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Kalbi, seorang pendusta. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 1/45).

Keterangan di atas, cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa hadis di atas adalah hadis yang tidak bisa jadi dalil. Karena itu, tidak ada keutamaan khusus untuk puasa tarwiyah.

Bolehkah Puasa Tarwiyah?

Keterangan di atas tidaklah melarang anda untuk berpuasa di hari tarwiyah. Keterangan di atas hanyalah memberi kesimpulan bahwa tidak ada keutamaan khusus untuk puasa tarwiyah.

Kita tetap dianjurkan untuk memperbayak puasa selama tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Dan tentu saja, hari tarwiyah masuk di dalam rentang itu. Dari Ummul Mukminin, Hafshah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani).

Demikian pula hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Turmudzi).

Kemudian syariat memberikan keutamaan khusus untuk puasa tanggal 9 Dzulhijjah (hari arafah), dimana puasa pada hari ini akan menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده

“…puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad dan Muslim).

Namun keutamaan semacam ini tidak kita jumpai untuk puasa tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah). Karena hadis yang menyebutkan keutamaan puasa tariwiyah adalah hadis palsu.

Kesimpulannya, kita disyariatkan melaksanakan puasa tarwiyah, mengingat adanya anjuran memperbanyak puasa selama 9 hari pertama Dzulhijjah, namun kita tidak boleh meyakini ada keutamaan khusus untuk puasa di tanggal 8 Dzulhijjah.

Allahu a’lamkaos polo muslim

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

amalan puasa sunnah

Puasa Sunah dalam Setahun (Bagian 03)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kita telah mengkaji lima puasa sunah Anda bisa lihat pada Atikel sebelumnya

, selanjutnya kita akan mengupas beberapa puasa sunah berikutnya,

Keenam, puasa senin – kamis

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan puasa ketika senin dan kamis. Diantaranya,

Hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالخَمِيسِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan puasa di hari senin dan kamis. (HR. Turmudzi 745 dan dishahihkan Al-Albani).

Hadis dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa puasa setiap senin dan kamis. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau bersabda,

إِنَّ أَعْمَالَ الْعِبَادِ تُعْرَضُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ

“Sesungguhnya amal para hamba dilaporkan (kepada Allah) setiap senin dan kamis.” (HR. Abu Daud 2436 dan dishahihkan Al-Albani).

Inilah yang menjadi alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan puasa senin dan kamis. Beliau ingin, ketika amal beliau dilaporkan, beliau dalam kondisi puasa.

Sebagaimana dinyatakan dalam riwayat lain, bahwa Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bertanya mengenai alasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam rajin puasa senin-kamis. Jawaban beliau,

ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Itulah dua hari, dimana amal para hamba dilaporkan kepada Tuhan semesta alam. Dan saya ingin, ketika amalku dilaporkan, saya dalam keadaan puasa.” (HR. Nasai 2358 dan sanadnya dinilai hasan oleh Syuaib Al-Arnauth).

Bukan Puasa Weton

Weton adalah istilah jawa untuk menyebut hari kelahiran. Si A lahir Jumat kliwon. Berarti weton si A adalah jumat kliwon. Bagi sebagian penganut ‘syariat’ jawa, weton menjadi hari istimewa dalam hidupnya.

Sebagian orang menganjurkan untuk melakukan puasa weton. Mereka berdalil dengan rutinitas puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari senin. Karena beliau lahir hari senin.

Terdapat hadis dari sahabat Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seorang sahabat tentang berbagai macam puasa sunah. Beliau ditanya tentang puasa dahr (puasa setiap hari), puasa Daud, dan puasa sunah lainnya. Kemudian ada sahabat yang bertanya,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ قَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ

‘Beliau ditanya tentang puasa hari senin?’ jawaban beliau,

“Itu adalah hari aku dilahirkan dan aku diutus (sebagai nabi).” (HR. Muslim )

Jika kita perhatikan, hadis di atas tidaklah menunjukkan anjuran puasa ketika hari kelahiran (weton). Ada beberapa alasan yang mendukung hal ini,

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan puasa hari senin, bukan dalam rangka menyebutkan alasan, tapi menjelaskan hukum. Sahabat bertanya kepada beliau tentang hukum berbagai puasa sunah, termasuk diantaranya puasa hari senin, bagaimana status puasa hari senin?. Beliau menjelaskan bahwa senin adalah hari yang mulia, karena pada hari itu beliau dilahirkan dan beliau diangkat sebagai nabi. Bukan dalam rangka memperingati hari kelahiran beliau. (Simak Dalil Falihin penjelasan Riyadhus Shalihin, Ibnul Allan, 7/61).

2. Yang menjadi alasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan puasa hari senin adalah sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadis Usamah bin Zaid. Pada hadis ini, Usama betul-betul menanyakan apa sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan puasa senin kamis. Beliau memberikan alasan bahwa pada hari itu, amal para hamba dilaporkan kepada Tuhan semesta alam. Dan beliau ingin ketika amal beliau dilaporkan, beliau dalam keadaan puasa.

Inilah alasan yang sejatinya, mengapa beliau merutinkan puasa senin – kamis. Karena itu, rutinitas beliau berpuasa senin, bukan dalam rangka mempuasai hari weton beliau.

3. Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikenal weton. Tidak ada istilah hari pasaran wage – kliwon – legi, dst. yang mereka kenal adalah nama hari satu pekan: Ahad, senin, selasa, dst. Dalam pelajaran sejarah islam, kita tidak pernah dikenalkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir hari senin wage, atau senin kliwon. Yang kita tahu secara pasti, beliau dilahirkan hari senin.

Apakah harus bergandengan?

Sebagian orang beranggapan puasa senin harus diikuti dengan puasa kamis. Tidak boleh mengamalkan puasa senin saja atau kamis saja. Karena keyakininan ini, ada sebagian orang yang mengurungkan niatnya untuk puasa senin atau kamis saja, karena tidak bisa menggabungkan senin dan kamis.

Aggapan ini sama sekali tidak berdasar. Sementara komentar masyarakat awam dalam masalah syariat, yang tidak didasari dalil, tidak bisa dijadikan rujukan.

Puasa senin atau kamis, tidak harus dilakukan secara bergandengan. Anda boleh puasa senin saja atau kamis saja, sesuai kemampuan.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Ar-Rajihi pernah ditanya, bolehkah puasa senin saja tanpa kamis, atau puasa kamis saja tanpa senin. Jawaban beliau,

نعم لا بأس يفرد الاثنين أو الخميس، فالمنهي عن إفراده الجمعة

“Tidak masalah puasa hari senin saja atau kamis saja. Yang terlarang adalah puasa hari jumat saja.”

Kemudian beliau menyebutkan dalil larangan mengukhusus puasa hari jumat saja.

Selanjutnya beliau kembali menegaskan,

أما الاثنين لا بأس تفرد الاثنين تفرد الخميس تفرد الأربع لا بأس، هذا إنما خص بالجمعة

“Adapun hari senin, tidak masalah senin saja atau kamis saja, puasa empat hari saja tidak masalah. Larangan ini hanya khusus untuk puasa hari jumat.”

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/15111

Ketujuh, puasa 6 hari di bulan syawal

Kita bisa memastikan bahwa setiap ibadah yang kita lakukan pasti tidak sempurna 100%. Selalu ada yang namanya kekurangan dan ketidak-sempurnaan.

Allah mensyariatkan beberapa ibadah sunah yang mengiringi ibadah wajib. Diantara tujaunnya adalah agar ibadah sunah yang kita lakukan ini menjadi penambal atas kekurangan yang terjadi selama ibadah wajib.

Kita mengenal shalat sunah rawatib, qabliyah dan ba’diyah. Fungsinya adalah menambal kekurangan yang terjadi selama shalat wajib. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam metode hisab di hari kiamat,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ وُجِدَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ تَامَّةً، وَإِنْ كَانَ انْتُقِصَ مِنْهَا شَيْءٌ. قَالَ: انْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ يُكَمِّلُ لَهُ مَا ضَيَّعَ مِنْ فَرِيضَةٍ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ سَائِرُ الْأَعْمَالِ تَجْرِي عَلَى حَسَبِ ذَلِكَ

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya sempurna maka dicatat sempurna. Jika ada sedikit saja yang, Allah berfirman, ‘Lihatlah, apakah kalian menjumpai amal sunah yang dia miliki, untuk menyempurnakan bagian amal wajib yang tersia-siakan.’ Kemudian seluruh amal diproses dengan cara tersebut.” (HR. Nasai 466, Ibn Majah 1425, dan dishahihkan Al-Albani).

Demikian pula halnya puasa. Allah ta’ala mensyariatkan beberapa puasa sunah sebelum dan sesudah ramadhan. Allah menganjurkan untuk memperbanyak puasa sunah di bulan sya’ban. Allah juga menganjurkan untuk berpuasa 6 hari di bulan syawal. Status puasa sunah yang mengiringi ramadhan ini, sebagaimana shalat rawatib qabliyah dan ba’diyah, berfungsi sebagai penambal atas kekuarangan yang kita lakukan. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

أن صيام شوال وشعبان كصلاة السنن الرواتب قبل الصلاة المفروضة وبعدها فيكمل بذلك ما حصل في الفرض من خلل ونقص فإن الفرائض تجبر أو تكمل بالنوافل يوم القيامة

Bahwa puasa syawal dan puasa sya’ban, seperti shalat sunah rawatib, qabliyah atau ba’diyah shalat wajib. Amalan sunah ini menyempurnakan bagian yang cacat dan kurang dalam puasa wajib. Karena amal wajib, ditutupi dan disempurnakan dengan amal sunah pada hari kiamat. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 387).

Keutamaan Puasa Syawal

Dari Abu Ayub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang puasa ramadhan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan syawal, dia seperti puasa setahun.” (HR. Ahmad 14302, Muslim 1164, Abu Daud 2433, dan yang lainnya).

Dalam islam, satu amal hamba akan dilipatkan 10 kali. Allah berfirman,

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Siapa yang melakukan amal baik, dia mendapatkan 10 kali lipatnya.” (QS. Al-An’am: 160).

Berdasarkan ketentuan ini, puasa satu bulan ramadhan, dinilai sebagaimana puasa 10 bulan, sementara puasa 6 hari di bulan syawal, dinilai seperti puasa 2 bulan. Sehingga ramadhan + 6 hari di bulan syawal, nilainya sama dengan puasa setahun.

Kapan Mulai Puasa Syawal

Ulama berbeda pendapat tentang kapan puasa syawal ini dimulai,

Pendapat pertama, dianjurkan untuk mengawali puasa syawal dari sejak tanggal 2 syawal secara berturut-turut. Ini adalah pendapat Imam As-Syafii dan Ibnul Mubarok. Pendapat ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ مُتَتَابِعَةً، فَكَأَنَّمَا صَامَ السَّنَةَ

“Siapa yang puasa 6 hari setelah idul fitri secara berturut-turut, seolah dia telah puasa satu tahun.”

Hadis ini diriwayatkan At-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (19/394). Kata Ibnu Rajab, semua jalur periwayatannya lemah. Ada juga yang meriwayatkan bahwa ini adalah keterangan Ibnu Abbas, namun sanad riwayat ini juga lemah. Hadis ini juga dinilai dhaif oleh Al-Albani (Dhaif At-Targhib wat Tarhib, no. 607).

Pendapat kedua, tidak ada bedanya antara dikerjakan secara berurutan atau terpisah-pisah, selama masih di dalam bulan syawal. Keduanya memiliki nilai keutamaan yang sama. Ini adalah pendapat Imam Waki’ (gurunya As-Syafii) dan Imam Ahmad.

Pendapat ketiga, tidak boleh melakukan puasa syawal di tanggal 2 syawal. Dan hendaknya dikerjakan di pertengahan bulan. Ini adalah pendapat Ma’mar dan Abdurrazaq. Namun ini pendapat yang lemah, bertentangan dengan hadis yang membolehkan puasa pada tanggal 2 syawal. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadis dari Imran bin Husain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan kepada seseorang, “Jika kamu selesai hari raya, lakukan puasa.” (HR. Bukhari 1963).

(Lathaif Al-Ma’arif, 384 – 385).

Puasa Syawal Bagi yang Punya Utang Ramadhan

Acuan kita dalam masalah ini adalah hadis dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang puasa ramadhan, kemudian dia ikuti dengan 6 hari puasa syawal, maka seperti puasa setahun.” (HR. Muslim 1164)

Pada hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan janji pahala seperti puasa setahun dengan 2 syarat:

a. Menyelesaikan puasa ramadhan

b. Puasa 6 hari di bulan syawal

Sebagian ulama menegaskan, seseorang belum dikatakan telah menyelesaikan puasa ramadhan, jika dia masih memiliki hutang puasa ramadhan. Karena berarti dia belum berpuasa penuh satu bulan ramadhan. Al-Hafidz ibnu Rajab menjelaskan,

إن العلماء اختلفوا فيمن عليه صيام مفروض هل يجوز أن يتطوع قبله أو لا، وعلى قول من جوز التطوع قبل القضاء فلا يحصل مقصود صيام ستة أيام من شوال إلا لمن أكمل صيام رمضان ثم أتبعه بست من شوال

Para ulama berbeda pendapat tentang orang yang memiliki utang puasa wajib, bolehkah dia melakukan puas sunah sebelum qadha. Menurut ulama yang membolehkan puasa sunah sebelum qadha, praktek semacam ini tidak mendapat pahala yang dijanjikan dalam puasa syawal, kecuali bagi orang yang telah menyempurnakan ramadhan, kemudian diikuti 6 hari di bulan syawal. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 340).

Berikut keterangan Imam Ibnu Utsaimin,

صيام ستة أيام من شوال فإنها مرتبطة برمضان ولا تكون إلا بعد قضائه، فلو صامها قبل القضاء لم يحصل على أجرها

Puasa 6 hari di bulan syawal memaliki kaitan dengan ramadhan, sehingga tidak dilaksanakan kecuali setelah mengqadha utang ramadhan. Jika ada orang yang berpuasa sebelum mengqadha utangnya, dia tidak mendapatkan janji pahala seperti puasa setahun.

Selanjutnya, Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan hadis di atas. Kemudian, beliau melanjutkan,

ومعلوم أن من عليه قضاء فإنه لا يقال: إنه صام رمضان حتى يكمل القضاء

Dan kita tahu bersama bahwa orang yang masih memiliki utang puasa, dia tidak dikatakan, ‘telah menyelesaikan puasa ramadhan’, sehingga dia menyempurnakan qadha ramadhan. [Liqa’at Bab Al-Maftuh, Volume 5, no. 5].

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

puasa sunah

Artikel ini meneruskan pembahasan sebelumnya: Puasa Sunah dalam Setahun (Bagian 01)

Beberapa puasa sunah berikutnya adalah

Keempat, Puasa Daud

Disebut puasa Daud, karena puasa ini menjadi rutinitas Nabi Daud ‘alaihis shalatu was salam. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Beliau sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa.” (HR. Bukhari 3420, Muslim 1159, dan yang lainnya).

Diantara aturan puasa daud yang perlu diperhatikan, bahwa orang yang merutinkan puasa Daud maka dia tidak diperbolehkan melakukan puasa sunah yang lain.

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma pernah menyampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rencananya untuk berpuasa setiap hari. Mendengar rencana ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dan menasehatkan agar puasa 3 hari tiap bulan. Namun Abdullah bin Amr tetap mendesak untuk melakukan lebih, “Aku mampu untuk mengerjakan yang lebih dari itu.”quran-readpen-murah

Hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan puasa Daud,

صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا، وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام، وَهُوَ أَعْدَلُ الصِّيَامِ

“Sehari puasa, sehari tidak puasa. Itulah puasa Daud ‘alaihis salam dan itu puasa paling baik.”

Abdullah bin Amr tetap mendesak untuk lebih, “Aku mampu untuk mengerjakan yang lebih dari itu.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

“Tidak ada yang lebih utama dari pada puasa Daud.” (HR. Bukhari 3418, Muslim 1159).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk lebih dari puasa Daud,

وَلاَ تَزِدْ عَلَيْهِ

“Jangan kalian tambah melebihi hal itu.” (HR. Ahmad 6867, Bukhari 1975, dan yang lainnya).

Ibnu Hazm bahkan berpendapat bahwa orang yang melaksanakan puasa sunah lebih dari rutinitas puasa Daudnya maka dia tidak mendapat pahala untuk puasa tambahan yang dia lakukan. Dalam karyanya Al-Muhalla, Ibn Hazm menegaskan,

وإذا أخبَر عليه السلام أنه لا أفضل من ذلك فقد صح أن من صام أكثر من ذلك فقد انحطَّ فضلُه ، وإذا انحطَّ فضلُه فقد حبطت تلك الزيادة بلا شك ، وصار عملاً لا أجر له فيه ، بل هو ناقص من أجره ، فصح أنه لا يحلُّ أصلاً

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa tidak ada yang lebih afdhal dibandingkan puasa Daud, maka kesimpulan yang benar bahwa orang yang berpuasa lebih dari puasa Daud, telah menggugurkan nilai afdhalnya. Dan jika menggugurkan nilai afdhalnya, berarti tamabahan puasa yang dia lakukan menjadi gugur tanpa ragu lagi. Sehingga menjadi amal yang tidak berpahala. Bahkan ini mengurangi pahalanya. Sehingga puasa semacam ini sama sekali tidak halal. (Al-Muhalla, 4/432).

Karena itu, bagi anda yang sedang menjalani puasa Daud, rutinkan secara istiqamah, dan anda tidak perlu mikir puasa sunah yang lain.

Aturan lain yang perlu diperhatikan terkait puasa Daud, puasa ini tidak boleh dilaksanakan di hari larangan puasa, seperti ketika hari raya, atau hari tasyrik. Begitu hari larangan ini selesai, anda bisa mulai dari hitungan pertama.

An-Nawawi menjelaskan,

قد أجمع العلماء على تحريم صوم هذين اليومين بكل حال، سواء صامهما عن نذر أو تطوع أو كفارة أو غير ذلك

“Ulama sepakat haramnya puasa di dua hari raya, apapun puasanya. Baik puasa karena nazar, sunah, kafarah, atau sebab lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8/15)

Kelima, Puasa 3 hari tiap bulan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ: «صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلاَةِ الضُّحَى، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ»

“Kekasihku berwasiat kepadaku dengan 3 hal, agar jangan sampai kutinggalkan sampai aku mati: Puasa 3 hari setiap bulan, shalat dhuha, dan tidur setelah witir.” (HR. Bukhari 1178, Muslim 721).

Keutamaan Puasa 3 Hari Tiap Bulan

(1). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa orang yang memiliki rutinitas puasa 3 hari tiap bulan, dia seperti puasa sepanjang tahun. Karena satu amal dilipatkan 10 kali. Puasa 3 hari tiap bulan sama dengan puasa 30 hari setiap bulan.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan kepadanya ketika dia ingin puasa setiap hari,

وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

“Kamu cukup puasa 3 hari setiap bulan. Karena dari setiap kebaikan kamu akan mendapatkan 10 kali lipatnya. Sehingga puasa 3 hari tiap bulan sama dengan puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari 1975, Muslim 1159, dan yang lainnya).

(2). Rutinitas puasa 3 hari tiap bulan akan menghilangkan kesempitan hati.

Dari Amr bin Syurahbil, dari seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا يُذْهِبُ وَحَرَ الصَّدْرِ؟ صَوْمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

“Maukah kutunjukkan amalan yang bisa menghilangkan panas dada? Itulah puasa 3 hari setiap bulan.” (HR. Ahmad 20738, Nasai 2385, Ibn Abi Syaibah 36635, dan sanadnya dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Aturan Puasa 3 Hari Tiap Bulan

Hadis di atas menganjurkan untuk puasa 3 hari setiap bulan, dan tidak ditentukan tanggal berapa puasa itu dilaksanakan. Karena itu, puasa 3 hari tiap bulan, tidak harus pada saat ayamul bidh (hari-hari purnama) di tanggal 13, 14, dan 15.

Sebagaimana keterangan A’isyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَ لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan puasa 3 hari tiap bulan, dan beliau tidak mempedulikan tanggal berapa di bulan itu beliau melaksanakan puasa.” (HR. Ahmad 25127, Muslim 1160, Ibn Majah 1709, dan yang lainnya).

Kemudian terdapat riwayat dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الْبِيضَ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk berpuasa pada 3 hari bidh setiap bulan: tanggal 13, 14, dan 15. (HR. Ahmad 21334, Nasai 2422, Ibn Khuzaimah 2127, dan dihasankan Syuaib Al-Arnauth).

Ulama berbeda pendapat tentang hubungan antara puasa 3 hari tiap bulan dengan puasa hari bidh (tanggal 13, 14, dan 15) setiap bulan. Ibnu Hajar menyebutkan perselisihan tersebut,

a. Ada ulama yang berpendapat bahwa anjuran puasa 3 hari setiap bulan, berbeda dengan anjuran puasa pada hari bidh (tanggal 13, 14, dan 15).

b. Pendapat kedua menyatakan bahwa anjuran puasa 3 hari setiap bulan bersifat mutlak, bisa dilakukan kapanpun, tidak harus ayamul bidh, hanya saja jika bertepatan dengan ayamul bidh lebih afdhal.

Ar-Ruyani mengatakan,

صيام ثلاثة أيام من كل شهر مستحب فإن اتفقت أيام البيض كان أحب

“Puasa 3 hari setiap bulan hukumnya dianjurkan. Jika bertepatan dengan ayamul bidh, itu lebih disukai.” (Fathul Bari, 4/227).

InsyaaAllah, pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat kedua.

Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Waktu Puasa 3 Hari Tiap Bulan

Pada keterangan sebelumnya, kita menyimpulkan bahwa antara anjuran puasa hari bidh dan anjuran puasa 3 hari tiap bulan bukanlah dua anjuran yang berbeda. Artinya, bagi orang yang telah melakukan puasa 3 hari di AWAL bulan misalnya, dia tidak dianjurkan untuk berpuasa ketika hari bidh. Karena puasa 3 hari ini, bisa dilakukan di awal, tengah, atau akhir bulan.

Kemudian ulama berbeda pendapat tentang kapankah waktu yang paling afdhal untuk puasa 3 hari tiap bulan.

Al-Hafidz Ibnu Hajar juga menyebutkan beberapa sikap ulama terkait anjuran puasa 3 hari tiap bulan,

(a). Sebagian ulama menganjurkan untuk melaksanakan puasa ini di awal bulan. Karena setiap orang tidak tahu apa yang terjadi di masa mendatang, dan dikhawatirkan justru dia mendapatkan halangan untuk puasa. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashri.

(b). Sebagian menganjurkan agar dilaksanakan tengah bulan, bertepatan dengan hari bidh. Karena adanya anjuran khusus sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Dzar. Disamping itu, umumnya peristiwa gerhana bulan terjadi di pertengahan bulan. Sementara kita dianjurkan untuk banyak beribadah, shalat, sedekah, dzikir, termasuk puasa, ketika terjadi peristiwa gerhana. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, As-Syafii, Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibn Habib dari kalangan Malikiyah. Dan diriwayatkan bahwa ini adalah pendapat Umar bin Khatab, Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan banyak tabiin.

(c). Sementara Imam Malik berpendapat bahwa makruh menentukan puasa 3 hari tiap bulan pada tanggal tertentu. Dan yang lebih sesuai sunah puasa 3 hari setiap bulan, tanpa menentukan tanggal tertentu.

(d). Ada juga yang menganjurkan agar puasa ini dilakukan di akhir bulan. Ini adalah pendapat Ibrahim An-Nakhai – salah seorang ulama tabiin –. Beliau lebih memilih akhir bulan agar puasa ini menjadi kaffarah (penebus) untuk semua kesalahan yang dilakukan selama sebulan.

(e). Ada juga yang berpendapat, puasa ini bisa dilakukan kapanpun, namun dianjurkan agar ditepatkan bersamaan dengan hari senin atau kamis.

(simak: Fathul Bari, 4/227 dan Al-Jami’ li Ahkam As-Shiyam, hlm. 155).

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

macam puasa sunnah

Puasa Sunah dalam Setahun (Bagian 01)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada banyak model puasa sunah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyaknya ragam puasa sunah ini, memberikan kemudahan bagi kita untuk memilih setiap kebiasaan baik dan model ibadah beliau yang sesuai dengan kita. Berikut keterangan selengkapnya,

Pertama, memilih puasa sunah di musim dingin

Berdasarkan hadis, dari Amir bin Mas’ud Al-Jumhi, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصوم في الشتاء الغنيمة الباردة

“Puasa di musim dingin adalah ghanimah yang segar” (HR. Ahmad 18959 , Turmudzi 797, Ibnu Khuzaimah 2145, dan Ibn Abi Syaibah 9741).

Keshahihan hadis ini diperselisihkan ulama. Sebagian menilai sebagai hadis lemah, karena perawi hadis ini, Amir bin Mas’ud Al-Jumhi adalah seorang tabiin bukan sahabat. sehingga hadis ini statusnya mursal yang lemah. Ini adalah keterangan Syuaib Al-Arnauth.

Sementara sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa hadis ini statusnya hasan. Karena terdapat banyak riwayat lain yang saling menguatkan. Sebagaimana keterangan dalam Silsilah As-Shahihah no. 1922.

Dalam Tuhfatul Ahwadzi syarh sunan Turmudzi dinyatakan,

(الغنيمة الباردة الصوم في الشتاء) لوجود الثواب بلا تعب كثير… والمعنى أن الصائم يحوز الأجر من غير أن يمسه حر العطش أو يصيبه ألم الجوع من طول اليوم

“Ghanimah segar berupa puasa di musim dingin’ karena akan mendapatkan pahala tanpa capek dan usaha yang banyak…. Artinya, orang yang puasa di musim dingin, memborong banyak pahala, tanpa mengalami panasnya rasa haus, atau terasa sakit karena lapar disebabkan siang yang panjang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/427)

Hadis ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa ketika seorang mukmin ingin memperbanyak puasa sunah, dia bisa memilih musim dingin, yang waktu siangnya lebih pendek dibandingkan waktu malamnya, sehingga tidak memberatkan dirinya.

Kedua, Puasa ketika di medan jihad

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan jauhkan dirinya dari neraka sejauh 70 tahun (perjalanan).” (HR. Bukhari 2840, Muslim 1153, Nasai 2244 dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, dari Abu Umamah Al-Bahili, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ جَعَلَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ خَنْدَقًا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan jadikan sebuah parit yang memisahkan antara dia dan neraka, sebagaimana jarak antara langit dan bumi.” (HR. Turmudzi 1624, dan dishahihkan Al-Albani).

Makna ‘fi sabilillah’

Ada dua pendapat ulama tentang makna kata ‘fi sabilillah’,

1. Makna ‘fi sabilillah’ adalah ikhlas karena Allah, sehingga orang yang puasa ikhlas karena Allah, bisa disebut puasa fi sabilillah.

2. Makna ‘fi sabilillah’ adalah jihad di jalan Allah. Sehingga pahala puasa yang besar dalam hadis di atas, hanya diberikan untuk orang yang puasa di saat melakukan perjalanan jihad atau ketika berjaga di daerah perbatasan.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat kedua. Karena hadis ini bertujuan menjelaskan nilai istimewa puasa di jalan Allah. Sementara ikhlas adalah syarat diterimanya semua bentuk ibadah di semua keadaan. Sehingga tidak ada hal yang istimewa ketika ‘fi sabilillah’ di artikan ikhlas karena Allah. Demikian keterangan Imam Ibnu Utsaimin dalam Syarh Muntaqa Al-Akhbar.

Ketiga, puasa di sembarang hari setiap bulannya

Abdullah bin Syaqiq – seorang tabiin – pernah bertanya kepada A’isyah radhiyallahu ‘anha, ‘Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh?’

Jawab A’isyah,

مَا عَلِمْتُهُ صَامَ شَهْرًا كُلَّهُ إِلَّا رَمَضَانَ، وَلَا أَفْطَرَهُ كُلَّهُ حَتَّى يَصُومَ مِنْهُ، حَتَّى مَضَى لِسَبِيلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Saya belum pernah melihat beliau berpuasa selama sebulan penuh kecuali di bulan ramadhan, dan tidak pula meninggalkan puasa sunah sebulan, karena beliau berpuasa beberapa hari di setiap bulan. Hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.” (HR. Ahmad 24334, Muslim 1156, dan Nasai 2184).

Yang dimaksud setiap bulan di sini adalah bulan dalam kalender hijriyah. Menurut keterangan A’isyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan setiap bulan-bulan hijriyah berlaku, tanpa melakukan puasa sunah di dalamnya. Tidak ada ketentuan tanggal untuk puasa bulanan ini. Demikian pula tidak ada penentuan jumlah hari. Anda bisa puasa 3 hari, 4 hari, di tanggal berapapun.

Allahu a’lam

Ditulisoleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

diajak berhubungan saat puasa qadha

Diajak Berhubungan Ketika Puasa Qadha

Pertanyaan:

Seorang wanita menqodho puasa Ramadhan di bulan Syawal. Apakah diperbolehkan membatalkannya karena suami si perempuan tersebut mengajak berhubungan suami-istri, karena syahwat sang suami. Dan apakah berdosa hal tersebut dan berhak melakukan kafarot?

Syukron

Dari: Ardi

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut keterangan Dr. Khalid Al-Musyaiqih,

لا يجوز للزوج أن يبطل صوم زوجته الفرض بجماع ولا غيره، سواءً كان هذا الصوم قضاء لأيام أفطرتها في رمضان أو كان صيام نذر. وإذا كان الزوج يعلم بسبب ذلك الصوم فإنه يأثم بإفساده لصومها، ويجب عليه أن يتوب إلى الله عز وجل؛ لأن الواجب عليه أن يعينها على أداء الصوم الواجب عليها.

Tidak boleh bagi suami untuk membatalkan puasa wajib yang sedang dilakukan istrinya, baik dengan hubungan badan atau lainnya. Baik puasa wajib ini adalah puasa qadha ramadhan atau puasa nazar. Jika suami telah mengetahui puasa wajib yang dilakukan istrinya, maka dia berdosa karena telah merusak puasa istrinya. Dia wajib bertaubat kepada Allah. Seharusnya yang dia lakukan adalah membantu istrinya untuk melaksanakan puasa yang menjadi kewajibannya.

Beliau juga memberikan nasehat kepada pihak istri,

كذلك لا يجوز لزوجته أن تطاوعه على إفساد صومها، فإن طاوعته أيضاً فقد فعلت إثماً، ويجب عليها أن تتوب إلى الله عز وجل، كما يجب عليها أن تقضي هذا اليوم مرة أخرى

Demikian pula, tidak boleh bagi istri untuk mentaati suami agar membatalkan puasanya. Jika istri mentaati keinginan suami, dia juga melakukan dosa, dan wajib bertaubat kepada Allah. Dan dia wajib mengganti puasa qadha hari itu…

[sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/35817]

Dr. Khalid Al-Musyaiqih adalah dosen Fakultas Syariah di Universitas Muhammad bin Suud KSA. Beliau merupakan murid Imam Ibnu Baz dan Imam Ibnu Utsaimin.

Analisis

Beliau melarang para suami untuk menyuruh istrinya membatalkan puasa qadha, karena puasa qadha termasuk puasa wajib. Sementara puasa wajib tidak boleh dibatalkan tanpa udzur yang dibenarkan syariat. Sebagaimana yang pernah dikupas di : Hukum Membatalkan Puasa Qadha

Semata ajakan suami untuk berhubungan, bukanlah uzur yang membolehkan sang istri untuk membatalkan puasanya. Karena menunaikan kewajiban Allah lebih didahulukan dibandingkan kewajiban makhluk. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ طَاعَةَ لِـمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْـخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq.” (HR. Ahmad 1095, Ibn Abi Syaibah dalam Mushanaf 33717, dan sandanya dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

macam puasa terlarang

Macam-macam Puasa Terlarang

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ibadah harus dilakukan berdasarkan aturan. Ibadah tanpa aturan, tidak akan membuahkan pahala, bahkan justru menjadi sebab dosa. Sehingga tidak heran, ketika ada orang yang ahli ibadah, namun dia justru menjadi ahli neraka. Sebagaimana yang dialami para rahib, yang menghabiskan hidupnya untuk beribadah di kuilnya. Simak: Kultum Ramadhan – Ahli Ibadah Tapi Ahli Neraka

Demikian pula puasa. Semua orang memahami, puasa adalah ibadah yang nilainya luar biasa. Namun jika puasa ini dilakukan tanpa aturan, puasa ini justru akan menjadi sumber dosa dan bukan pahala. Ada 6 jenis puasa yang terlarang dalam syariat, berikut rinciannya,

Pertama, puasa setiap hari (puasa dahr)

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma pernah bertekad untuk puasa setiap hari dan shalat tahajud sepanjang malam. Mengetahui hal ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menegurnya,

إِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ هَجَمَتْ لَهُ العَيْنُ، وَنَفِهَتْ لَهُ النَّفْسُ، لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الدَّهْرَ

“Jika kamu lakukan tekadmu itu, membuat matamu cekung dan jiwamu kecapekan. Tidak ada puasa bagi orang yang melakukan puasa dahr (puasa setiap hari).” (HR. Bukhari 1979).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَدَ

“Tidak ada puasa bagi orang yang puasa abadi.” (HR. Bukhari 1977 & Muslim 1159).

Dr. Musthafa Bagha – ulama syafiiyah kontemporer – menjelaskan makna puasa abadi yang dilarang dalam hadis,

‘Orang tersebut berpuasa setiap hari sepanjang usianyam dan tidak pernah meninggalkan puasa, kecuali pada hari diharamkan untuk berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyrik.’ (Ta’liq Shahih Bukhari, 3/40).

Bahkan terdapat ancaman keras bagi orang yang melakukan puasa sepanjang usianya. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

مَنْ صَامَ الدَّهْرَ ضُيِّقَتْ عَلَيْهِ جَهَنَّمُ هَكَذَا؛ وَقَبَضَ كَفَّهُ

“Siapa yang melakukan puasa sepanjang masa, neraka jahannam akan disempitkan untuknya seperti ini.” Kemudian beliau menggenggamkan tangannya. (HR. Ahmad 19713. Syuaib Al-Arnauth menilai hadis ini shahih mauquf (keterangan Abu Musa). Namun apakah itu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diperslisihkan ulama tentang keshahihannya. Tetapi mengingat ini masalah ghaib, tidak mungkin seorang sahabat berbicara murni dari pikirannya, sehingga dihukumi sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan,

‘Zahir hadis, jahanam disempitkan baginya dalam rangka mengekangnya, karena dia menyiksa dirinya sendiri dan memaksa dirinya untuk puasa sepanjang masa. Disamping dia membenci sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa selain sunah beliau (dengan puasa sepanjang masa), itu lebih baik. Sikap ini menuntut adanya ancaman keras, sehingga hukumnya haram.’ (Fathul Bari, 4/222).

Kedua, puasa di dua hari raya

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الفِطْرِ وَالنَّحْرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa pada saat idul fitri dan hari berkurban.” (HR. Bukhari 1991, Ibn Majah 1721).

Dalam hadis lain, dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkhutbah, menjelaskan hukum terkait idul fitri dan idul adha,

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا: يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَاليَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

“Ini adalah dua hari,dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk melakukan puasa pada hari itu: pada hari kalian selesai melaksanakan puasa (idul fitri) dan hari kedua adalah hari dimana kalian makan dari hasil kurban kalian.” (HR. Bukhari 1990 dan Muslim 1137).

An-Nawawi menjelaskan,

قد أجمع العلماء على تحريم صوم هذين اليومين بكل حال، سواء صامهما عن نذر أو تطوع أو كفارة أو غير ذلك، ولو نذر صومهما متعمداً لعينهما، قال الشافعي والجمهور: لا ينعقد نذره ولا يلزمه قضاؤهما. وقال أبو حنيفة: ينعقد، ويلزمه قضاؤهما.

“Ulama sepakat haramnya puasa di dua hari raya, apapun puasanya. Baik puasa karena nazar, sunah, kafarah, atau sebab lainnya. Jika ada orang uang bernazar puasa pada hari raya, Imam Syafii dan mayoritas ulama mengatakan, ‘Nazarnya batal dan dia tidak wajib qadha.’ Sementara Abu Hanifah mengatakan, ‘Nazarnya sah, dan dia wajib mengqadhanya.’” (Syarh Shahih Muslim, 8/15)

Ketiga, puasa sunah yang dilakukan wanita, tanpa izin suaminya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَصُومُ المَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Seorang wanita tidak boleh puasa (sunah) sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari 5192, dan Abu Daud 2458).

Larangan ini tidak berlaku jika suami tidak di rumah. Sang istri boleh berpuasa sunah, meskipun dia tidak izin suaminya.

Ibnu Hazm mengatakan,

لا يحل لذات الزوج أن تصوم تطوعاً بغير إذنه، فإن كان غائباً لا تقدر على استئذانه أو تعذّر، فلتصم بالتطوّع إن شاءت

“Tidak halal bagi wanita yang bersuami untuk melakukan puasa sunah tanpa izin suaminya. Jika suami tidak ada, sehingga dia tidak bisa meminta izin, dia boleh berpuasa sunah, jika dia menginginkannya.” (Al-Muhalla, 4/453).

Karena memenuhi hak suami adalah wajib, sementara melaksanakan puasa sunah sifatnya anjuran. Dan yang wajib lebih didahulukan dari pada yang sunah.

Keempat, puasa pada hari tasyriq

Dari Nubaisyah Al-Hudzali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim 1141)

An Nawawi rahimahullah memasukkan hadits ini di Shahih Muslim dalam Bab “Haramnya berpuasa pada hari tasyriq”.

Ibnu ‘Abdil-Barr menegaskan bahwa ulama sepakat tentang larangan ini. Beliau menyatakan,

وأما صيام أيام التشريق فلا خلاف بين فقهاء الأمصار فيما علمت أنه لا يجوز لأحد صومها تطوعا

“Tentang puasa pada hari-hari tasyriq, maka tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama di berbagai negeri bahwasannya tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk berpuasa sunnah ketika itu” (At-Tamhiid, 12/127).

Al-Hafidz Ibn Rajab menjelaskan sebab larangan puasa di hari tasyrik,

إنما نهى عن صيام أيام التشريق لأنها أعياد المسلمين مع يوم النحر، فلا تصام بمنى ولا غيرها عند جمهور العلماء خلافاً لعطاء في قوله: إن النهي يختص بأهل منى، وإنما نهى عن التطوع بصيامها سواء وافق عادة أو لم يوافق

‘Dilarang berpuasa hari tasyrik, karena hari tasyrik termasuk hari raya kaum muslimin, bersambung dengan hari raya kurban. Karena itu, tidak boleh puasa padaha hari tasyrik, baik di Mina maupun lainnya menurut mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Atha yang mengatakan bahwa larangan ini hanya khusus bagi mereka yang sedang berada di Mina. Yang dilarang adalah puasa sunah, baik itu puasa rutinitas maupun bukan rutinitas.’ (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 292).

Kelima, puasa hari syak (meragukan)

Dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Siapa yang puasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari secara Muallaq, 3/27).

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

استُدل به على تحريم صوم يوم الشك لأن الصحابي لا يقول ذلك من قبل رأيه فيكون من قبيل المرفوع

“Hadis ini dijadikan dalil haramnya puasa pada hari syak. Karena sahabat Ammar tidak mungkin mengatakan demikian dari pendapat pribadinya, sehingga dihukumi sebagaimana hadis marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). (Fathul Bari, 4/120).

Apa itu hari syak?

Hari syak adalah tanggal 30 sya’ban, hasil dari penggenapan bulan sya’ban, karena hilal tidak terlihat, baik karena mendung atau karena cuaca yang kurang baik. (As-Syarhul Mumthi’, 6/478).

An-Nawawi mengatakan,

يوم الشك هو يوم الثلاثين من شعبان إذا وقع في ألسنة الناس إنه رؤى ولم يقل عدل إنه رآه

Hari syak adalah tanggal 30 sya’ban, dimana banyak orang membicarakan bahwa hilal sudah terlihat, padahal tidak ada satupun saksi yang adil, dirinya telah melihat. (Al-Majmu’, 6/401).

Salah satu contoh puasa hari syak adalah puasa yang dilakukan oleh kaum muslimin di tanah air berdasarkan hisab, padahal hilal belum kelihatan. Sehingga, sejatinya hari itu adalah tanggal 30 sya’ban dan bukan 1 ramadhan.

Keenam, mendahului ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا، فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah mendahului ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali orang yang memiliki kebiasaan puasa sunah, dia boleh melakukannya.” (HR. Bukhari 1914 dan Muslim 1082).

An-Nawawi mengatakan,

فيه التصريح بالنهي عن استقبال رمضان بصوم يوم أو يومين لمن لم يصادف عادةً له أو يصله بما قبله، فإن لم يصله ولا صادف عادة فهو حرام، هذا هو الصحيح من مذهبنا

Dalam hadis ini terdapat larangan tegas mendahului ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan puasa sunah yang bertepatan dengan hari itu, atau tidak bersambung dengan puasa sunah sebelumnya. Jika bukan karena dua alasan tersebut, statusnya haram. Inilah pendapat yang benar dalam madzhab kami (syafiiyah). (Syarh Shahih Muslim, 7/194)

Sebagai contoh untuk lebih mudah memahami maksud hadis di atas,

Tahun 1984, tanggal 1 ramadhan jatuh pada hari selasa. Bolehkah berpuasa pada hari senin sebelumnya?

Puasa pada hari senin itu boleh bagi 2 orang: (1) mereka yang melaksanakan puasa sya’ban, dia sambung puasanya hingga akhir sya’ban, (2) mereka yang terbiasa puasa sunah hari senin.

Sementara selain itu, haram melakukan puasa sunah ketika itu.

Allahu a’alam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Membatalkan Puasa Qadha

Bolehkah membatalkan puasa qadha? Krn laper atau ada undangan makan-makan syawalan. Trim’s

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Puasa wajib, baik ramadhan maupun di luar ramadhan, seperti puasa nazar, atau puasa qadha, atau puasa kaffarah, atau puasa wajib lainnya, tidak boleh dibatalkan. Kecuali jika ada uzur, seperti sakit, safar, atau uzur lainnya.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ومن دخل في واجب، كقضاء رمضان، أو نذر معين أو مطلق، أو صيام كفارة؛ لم يجز له الخروج منه؛ لأن المتعين وجب عليه الدخول فيه، وغير المتعين تعين بدخوله فيه، فصار بمنزلة الفرض المتعين، وليس في هذا خلاف بحمد الله

Siapa yang telah memulai puasa wajib seperti qadha ramadhan, puasa nazar hari tertentu atau nazar mutlak, atau puasa kafarah, tidak boleh membatalkannya. Karena sesuatu yang statusnya wajib ain, harus dilakukan. Sementara yang bukan wajib ain, menjadi wajib ain jika telah dilakukan. Sehingga statusnya sama dengan wajib ain. Dan dalam hal ini tidak ada perselisihan, alhamdulillah.. (Al-Mughni, 3/160 – 161)
Orang yang membatalkan puasa qadha tanpa alasan yang benar, wajib bertaubat kepada Allah, memohon ampun atas kesalahannya, dan dia harus ganti di hari yang lain.

Imam Ibnu Baz pernah ditanya tentang orang yang melaksanakan qadha ramadhan. Di siang hari yang terik, dia merasalapar dan makan. Bagaimana hukumnya?

Jawab beliau,

الواجب عليك إكمال الصيام ، ولا يجوز الإفطار إذا كان الصوم فريضة كقضاء رمضان وصوم النذر ، وعليك التوبة مما فعلت ، ومن تاب تاب الله عليه

Anda wajib menyempurnakan puasa, dan tidak boleh berbuka, jika puasa yang anda kerjakan adalah puasa wajib, seperti qadha ramadhan atau puasa nazar. Kemudian wajib bagi anda untuk bertaubat terhadap apa yang telah anda perbuat. Siapa yang bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 15/355)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Qadha ataukah Syawal

Jika ada wanita yang punya utang puasa ramadhan, yang benar memulai qadha dulu ataukah puasa syawal dulu?

Nuwun

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang puasa ramadhan, kemudian dia ikuti dengan 6 hari puasa syawal, maka seperti puasa setahun.” (HR. Muslim 1164)

Pada hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan janji pahala seperti puasa setahun dengan 2 syarat:

a. Menyelesaikan puasa ramadhan

b. Puasa 6 hari di bulan syawal

Sebagian ulama menegaskan, seseorang belum dikatakan telah menyelesaikan puasa ramadhan, jika dia masih memiliki hutang puasa ramadhan. Karena berarti dia belum berpuasa penuh satu bulan ramadhan.

Berikut keterangan Imam Ibnu Utsaimin,

صيام ستة أيام من شوال فإنها مرتبطة برمضان ولا تكون إلا بعد قضائه، فلو صامها قبل القضاء لم يحصل على أجرها

Puasa 6 hari di bulan syawal memaliki kaitan dengan ramadhan, sehingga tidak dilaksanakan kecuali setelah mengqadha utang ramadhan. Jika ada orang yang berpuasa sebelum mengqadha utangnya, dia tidak mendapatkan janji pahala seperti puasa setahun.

Selanjutnya, Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan hadis di atas. Kemudian, beliau melanjutkan,

ومعلوم أن من عليه قضاء فإنه لا يقال: إنه صام رمضان حتى يكمل القضاء

Dan kita tahu bersama bahwa orang yang masih memiliki utang puasa, dia tidak dikatakan, ‘telah menyelesaikan puasa ramadhan’, sehingga dia menyempurnakan qadha ramadhan. [Liqa’at Bab Al-Maftuh, Volume 5, no. 5].

Karena itu, bagi anda yang ingin mendapatkan keutamaan berupa pahala puasa selama setahun, yang harus anda lakukan adalah mengqadha ramadhan terlebih dahulu, kemudian puasa 6 hari di bulan syawal.

Bolehkah mengakhirkan qadha puasa ramadhan?

Jawabannya boleh, dan waktunya selama setahun sampai datang ramadhan berikutnya. Hanya saja, untuk bisa mendapatkan pahala puasa setahun sebagaimana yang dijanjikan dalam hadis Abu Ayub di atas, disyaratkan dia harus menyelesaikan puasa ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa 6 hari di bulan syawal.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Puasa Syawal

Pertanyaan:

Bagaimanakan tuntunan Islam dalam melaksanakan puasa Syawal?

Jawaban:

Dari Abu Ayyub radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal, maka itulah puasa satu tahun.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Tata cara puasa Syawal

Ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.

Pendapat pertama, dianjurkan untuk menjalankan puasa Syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan Ibnul Mubarak. Pendapat ini didasari sebuah hadis, namun hadisnya lemah.

Pendapat kedua, tidak ada beda dalam keutamaan, antara dilakukan secara berturut-turut dengan dilakukan secara terpisah-pisah. Ini adalah pendapat Imam Waki’ dan Imam Ahmad.

Pendapat ketiga, tidak boleh melaksanakan puasa persis setelah Idul Fitri karena itu adalah hari makan dan minum. Namun, sebaiknya puasanya dilakukan sekitar tengah bulan. Ini adalah pendapat Ma’mar, Abdurrazaq, dan diriwayatkan dari Atha’. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah pendapat yang aneh.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 384–385)

Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa Syawal tanpa berurutan. Keutamaannya sama dengan puasa Syawal secara terpisah. Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang puasa Syawal, apakah harus berurutan?

Beliau menjelaskan, “Puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunah yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh dikerjakan secara berurutan atau terpisah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keterangan secara umum terkait pelaksanaan puasa Syawal, dan beliau tidak menjelaskan apakah berurutan ataukah terpisah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal ….‘ (Hadis riwayat Muslim, dalam Shahih-nya)

Wa billahit taufiiq ….” (Majmu’ Fatwa wa Maqalat Ibni Baz, jilid 15, hlm. 391)

Boleh puasa di tanggal 2 Syawal

Ibnu Rajab mengatakan, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak dimakruhkan puasa pada hari kedua setelah hari raya (tanggal 2 Syawal). Ini sebagaimana diisyaratkan dalam hadis dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, ‘Jika kamu sudah selesai berhari raya, berpuasalah.’ (H.r. Ahmad, no. 19852).” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 385)

Antara qadha dan puasa Syawal

Keutamaan puasa Syawal hanya diperoleh jika puasa Ramadan telah selesai

Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin mengatakan, “Setiap orang perlu memerhatikan bahwa keutamaan puasa Syawal ini tidak bisa diperoleh kecuali jika puasa Ramadan telah dilaksanakan semuanya. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki tanggungan qadha Ramadan, hendaknya dia bayar dulu qadha Ramadan-nya, baru kemudian melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal. Jika dia berpuasa Syawal sementara belum meng-qadha utang puasa Ramadhan-nya maka dia tidak mendapatkan pahala keutamaan puasa Syawal, tanpa memandang perbedaan pendapat, apakah puasanya sebelum qadha itu sah ataukah tidak sah.

Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan …” sementara orang yang punya kewajiban qadha puasa Ramadan baru berpuasa di sebagian Ramadan dan belum dianggap telah berpuasa Ramadan (penuh).

Boleh melaksanakan puasa sunah secara berurutan atau terpisah-pisah. Namun, mengerjakannya dengan berurutan, itu lebih utama karena menunjukkan sikap bersegera dalam melaksanakan kebaikan, dan tidak menunda-nunda amal yang bisa menyebabkan tidak jadi beramal.” (Fatawa Ibni Utsaimin, kitabAd-Da’wah“, 1:52–53)

Keterangan dari Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Yang lebih tepat, mendahulukan qadha Ramadan sebelum melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal atau puasa sunah lainnya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal, maka itulah puasa satu tahun.’ (H.r. Muslim). Siapa saja yang berpuasa Syawal sebelum qadha puasa Ramadan maka dia tidak dianggap ‘mengikuti puasa Ramadan dengan puasa Syawal’, namun hanya sebatas ‘mengikuti SEBAGIAN puasa Ramadan dengan puasa Syawal,’ karena qadha itu hukumnya wajib dan puasa Syawal hukumnya sunah. Ibadah wajib lebih layak untuk diperhatikan dan diutamakan.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, jilid 15, hlm. 392, Syekh Abdul Aziz bin Baz)

Bolehkah puasa sunah Syawal sebelum qadha?

Keterangan dari Syekh Khalid Al-Mushlih,

Bismillahirrahmanirrahim.

Ulama berbeda pendapat tentang bolehnya berpuasa sunah sebelum menyelesaikan qadha puasa Ramadan. Secara umum, ada dua pendapat:

Pertama, bolehnya puasa sunah sebelum qadha puasa Ramadan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Ada yang mengatakan boleh secara mutlak dan ada yang mengatakan boleh tetapi makruh.

Al-Hanafiyah berpendapat, ‘Boleh melakukan puasa sunah sebelum qadha Ramadan karena qadha tidak wajib dikerjakan segera. Namun, kewajiban qadha sifatnya longgar. Ini merupakan salah riwayat pendapat Imam Ahmad.’

Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah menyatakan bahwa boleh berpuasa sunah sebelum qadha, tetapi hukumnya makruh, karena hal ini menunjukkan sikap lebih menyibukkan diri dengan amalan sunah sebelum qadha, sebagai bentuk mengakhirkan kewajiban.

Kedua, haram melaksanakan puasa sunah sebelum qadha puasa Ramadan. Ini adalah pendapat Mazhab Hanbali.

Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa sunah sebelum qadha karena waktu meng-qadha cukup longgar, dan mengatakan tidak boleh puasa sunnah sebelum qadha itu butuh dalil. Sementara, tidak ada dalil yang bisa dijadikan acuan dalam hal ini.” (Sumber: http://www.saaid.net/mktarat/12/10-2.htm)

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

7,607FansLike
3,269FollowersFollow
28,685FollowersFollow
57,650SubscribersSubscribe