tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Puasa

puasa qadha dulu atau nadzar dulu

Puasa Qadha Dulu atau Nadzar Dulu

Tanya:
Saya pernah bernadzar utk puasa daud selama sebulan dan saya juga punya hutang puasa ramadhan 7 hari. Mana yang harus saya dahulukan? Trim’s

Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Banyak ulama menegaskan bahwa kewajiban qadha lebih didahulukan dari pada nadzar. Karena qadha merupakan kewajiban yang bersumber dari syariat, sementara nadzar merupakan kewajiban dari keinginan pribadi pelaku. Kecuali jika nadzarnya dibatasi waktu tertentu. Misal, nadzar puasa daud selama bulan syawal tahun ini, atau semacamnya.
Ibnu Qudamah menyatakan,

وإن لزمه قضاء من رمضان ، أو كفارة ، قدمه على النذر ؛ لأنه واجب بأصل الشرع ، فقدم على ما أوجبه على نفسه ، كتقديم حجة الإسلام على المنذورة

Jika dia punya kewajiban qad ramadhan atau kaffarah maka kewajiban ini didahulukan dari pada nadzar. Karena qadha adalah kewajiban dari syariat, sehingga lebih didahulukan dari pada apa yang dia wajibkan untuk diriya sendiri. Sebagaimana disyariatkan mendahulukan haji yang pertama dari pada haji karena nadzar. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah).

Al-Mardawi juga menyatakan semisal,

لو اجتمع ما فرض شرعاً ونذر بدئ بالمفروض شرعاً إن كان لا يخاف فوت المنذور، وإن خيف فوته بدئ به، ويبدأ بالقضاء أيضاً إن كان النذر مطلقاً

Jika bertabrakan antara kewajiban karena beban syariat dengan kewajiban karena nadzar, maka dimulai kewajiban karena syariat, jika tidak dikhawatirkan waktu pelaksanaan nadzar terlewatkan. Jika dikhawatirkan waktu pelaksanaan terlewatkan maka didahulukan nadzar. Demikian pula, lebih didahulukan qadha (dari pada nadzar), jika nadzarnya bersifat mutlak. (al-Inshaf, 6/hlm. 5)

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فمن كان عليه صوم من رمضان وصوم عن كفارة وصوم عن نذر، قدم القضاء ثم الكفارة ثم النذر، نص على ذلك جماعة من أهل العلم، منهم النووي في “المجموع”

Orang yang memiliki kewajiban qadha ramadhan, puasa kaffarah, dan puasa nadzar, dianjurkan agar mendahulukan puasa qadha, kemudian kaffarah, kemudian nadzar. Hal ini ditegaskan sejumlah ulama, diantaranya an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’.
(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 41960)

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

ucapan selamat idul fitri

Dianjurkan Tidak Tidur di Malam Hari Raya?

Saya pernah mendengar bahwa siapa yang menghidupkan malam hari raya maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana semua hati akan mati. Benarkah demikian? Apa ada hadisnya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada dua redaksi yang menyebutkan anjuran menghidupkan malam hari raya.

Redaksi pertama,

من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى، لم يمت قلبه يوم تموت القلوب

Siapa yang menghidupkan malam idul fitri dan idul adha maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana semua hati akan mati.

Status Hadis

Dalam sanad hadis ini terdapat perawi bernama Umar bin Harun al-Bulkhi. Ibnu Main (guru Imam Bukhari) menilainya sebagai kadzab (pendusta). Demikian pula yang dinyatakan oleh Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at. (Silsilah ad-Dhaifah, 2/11)

Ibnul Jauzi juga mengatakan dalam al-Ilal al-Mutanahiyah,

عمر متروك تركه ابْن مهدي ، وأحمد

Umar al-Bulkhi perawi yang matruk (ditinggalkan). Tidak dipakai oleh Ibnu Mahdi dan Ahmad (al-Ilal al-Mutanahiyah, 3/691).

Mengingat perawi di atas, para ulama menggolongkan hadis ini sebagai hadis palsu.

Redaksi kedua,

من قام ليلتي العيدين محتسبا لله، لم يمت قلبه يوم تموت القلوب

Siapa yang beribadah di malam dua hari raya karena mengharap pahala Allah maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana semua hati akan mati.

Status Hadis

Hadis ini diriwayatkan Ibnu Majah dari jalur Baqiyah bin Walid dari Tsaur bin Yazid. Al-Iraqi dalam Takhrij Ihya mengatakan,

أخرجه بإسناد ضعيف

“Diriwayatkan dengan sanad dhaif.” (Takhrij no. 1286)

Dalam Silsilah ad-Dhaifah dinyatakan,

بقية سيء التدليس، فإنه يروي عن الكذابين عن الثقات ثم يسقطهم من بينه وبين الثقات ويدلس عنهم! فلا يبعد أن يكون شيخه الذي أسقطه في هذا الحديث من أولئك الكذابين

Baqiyah pelaku tadlis yang buruk. Dia meriwayatkan dari para pendusta dari perawi tsiqah. Kemudian dia membuang perawi pendusta diantara perawi tsiqah dan ditutupi keberadaan perawi tsiqah. Tidak jauh jika dikatakan bahwa perawi yang dia tutupi dalam hadis ini adalah perawi pendusta itu. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 2/11)

Berdasarkan keterangan di atas, para ulama menggolongkan hadis ini sebagai hadis dhaif jiddan (dhaif sekali).

Mengingat hadis yang menganjurkan menghidupkan malam hari raya adalah hadis yang tidak bisa dipertanggung jawabkan maka tidak dibenarkan kita meyakini hal itu sebagai sunah dalam islam.

Sementara kaidah mengamalkan hadis dhaif dalam masalah fadhilah amal, tidak berlaku untuk hadis palsu dan hadis dhaif jiddan. Menurut ulama yang membolehkan mengamalkan hadis dhaif, diantara syaratnya adalah dhaifnya ringan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

ciri lailatul-qadar

Malam Ganjil di Malam Jumat = Lailatul Qadar

Semalam ada broadcast message yang berbunyi

Berkata syeikhul islam ibn taimiyyah: Apabila bertepatannya antara malam jumat dg salah satu malam ganjil disepuluh terakhir ramadhan maka kemungkinan lailatur qadar.

Malam ini malam jumat dan bertepatan mlm 27 ramadhan…ini baru terjadi setelah 53 tahun baru terulang.
jumat + waktu mustajab diakhir jumat + doa menjelang berbuka puasa + lailatul qadar 27 ramadhan = masya Allah jgn sia2kan kesempatan ini.

: ‏يقول شيخ الاسلام ابن تيمية :
اذا وافقت ليلة الجمعة احدى ليالي الوتر من العشر الأواخر فهي أحرى ان تكون ليلة القدر
غداً ليلة ٢٧ وليلة جمعة ‏لاوال مره
٥٣ سنه
الجمعه + اخر ساعه استجابه + دعوة الفطور + ليلة ٢٧ رمضان = لا تضيع هذا اليوم ❤

benarkah ini dari ibnu taimiyah ustadz?

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, syaikhul islam mengingkari sikap seseorang yang mengistimewakan malam jumat untuk ibadah dari pada malam-malam lainnya. Sebagaimana keterangan yang dicantumkan dalam Fatawa al-Mishriyah (1/78).

Dalil yang menunjukkan larangan mengkhususkan malam jumat untuk ibadah adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat tertentu dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa kecuali jika berpapasan dengan puasa yang mesti dikerjakan ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144).

Kedua, beberapa ulama mengingkari adanya keterangan tersebut dari Syaikhul Islam. Tidak benar bahwa Syaikhul Islam pernah memberi pernyataan di atas.

Syaikh Sulaiman al-Majid – seorang Hakim di Riyadh dan anggota Majlis Syuro Arab Saudi – pernah ditanya,

”Apakah benar jika salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir ramadhan bertepatan dengan hari jumat maka besar kemungkinan itu lailatul qadar.”

Jawaban berliau,

لا نعلم في الشريعة دليلاً على أنه إذا وافقت ليلة الجمعة ليلة وتر فإنها تكون ليلة القدر، وعليه: فلا يُجزم بذلك ولا يُعتقد صحته، والمشروع هو الاجتهاد في ليالي العشر كلها؛ فإن من فعل ذلك فقد أدرك ليلة القدر بيقين، والله أعلم

Kami tidak menjumpai adanya satupun dalil dalam syariat yang menyebutkan bahwa apabila malam jumat bertepatan dengan salah satu malam ganjil, maka itu lailatul qadar. Oleh karena itu, tidak boleh dipastikan dan diyakini kebenarannya. Yang dianjurkan adalah bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir semuanya. Orang yang melakukan hal ini, bisa dipastikan dia akan mendapatkan lailatul qadar.

Dalam fatwa yang lain, beliau juga menegasakan,

لم يصح عن ابن تيمية أنه قال: إذا وافقت ليلة الجمعة ليلة وتر فأحرى أن تكون ليلة القدر

Tidak benar ada keterangan dari Ibnu Taimiyah bahwa beliau mengatakan, ‘Jika malam jumat bertepatan dengan malam ganjil maka kemungkinan besar lailatul qadar.’

Sumber: http://www.feqhweb.com/vb/t19393.html

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

ciri orang mendapatkan lailatul qadar

Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar

Di masyarakat kami ada keyakinan, orang yang mendapat lailatul qadar, dia akan menjumpai atau melilhat kejadian yang luar biasa. Misal, melihat tulisan Allah di langit atau pohon bersujud, atau langit terbelah atau orang buta tiba-tiba bisa melihat, atau orang lumpuh bs jalan tiba-tiba, dan kejadian luar biasa lainnnya. Apakah ini benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, lailatul qadar terjadi sepanjang malam, sejak maghrib hingga subuh. Allah berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 3 – 5)

Karena lailatul qadar berada pada rentang dari maghrib sampai subuh, maka peristiwa apapun yang terjadi sepanjang rentang itu berarti terjadi pada lailatul qadar. Sehingga,

  • Orang yang shalat maghrib di malam itu berarti dia shalat maghrib ketika lailatul qadar
  • Orang yang shalat isya di malam itu berarti dia shalat isya ketika lailatul qadar
  • Orang yang shalat tarawih di malam itu berarti dia shalat tarawih ketika lailatul qadar
  • Orang yang sedekah di malam itu berarti dia sedekah ketika lailatul qadar

Kedua, semua orang yang melakukan ibadah ketika itu, berarti dia telah melakukan ibadah di lailatul qadar. Besar dan kecilnya pahala yang dia dapatkan, tergantung dari kualitas dan kuantitas ibadah yang dia kerjakan di malam itu.

Oleh karena itu, sekalipun dia hanya mengerjakan ibadah wajib saja, shalat maghrib dan isya di malam qadar, dia mendapatkan bagian pahala beribadah di lailatul qadar.

Imam Malik meriwayatkan secara balaghan (tanpa sanad), menukil keterangan Said bin Musayib (tabiin senior, menantu Abu Hurairah) tentang orang yang beribadah ketika lailatul qadar.

أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا

Bahwa Said bin Musayib pernah mengatakan, “Siapa yang ikut shalat isya berjamaah di lailatul qadar, berarti dia telah mengambil bagian lailatul qadar.” (Muwatha’ Malik, no. 1146).

Az-Zarqani menjelaskan,

فقد أخذ بحظه منها، أي: نصيبه من ثوابها

“dia telah mengambil bagian lailatul qadar” maknanya dia mendapat bagian dari pahala lailatul qadar. (Syarh az-Zarqani ‘ala Muwatha, 3/463).

Ketiga, keterangan di atas bukan mengajak kita untuk bermalas-malasan dalam meraih kemuliaan lailatul qadar. Sebaliknya, dengan penjelasan ini diharapkan kaum muslimin semakin optimis dalam mengejar lailatul qadar, karena semua orang yang beribadah di dalamnya pasti mendapatkannya. Banyak dan sedikitnya, tergantung dari kesungguhan dirinya dalam mendekatkan diri kepada Allah. Mereka yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkan petunjuk, sehigga dimudahkan Allah mendapatkan banyak kebaikan di malam itu.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69)

Keempat, keyakinan bahwa orang yang mendapat lailatul qadar akan mengalami kejadian luar biasa, adalah keyakinan yang tidak benar. Bukan syarat untuk mendapat lailatul qadar harus mengalami kejadian aneh atau kejadian luar biasa.

Bahkan karena keyakinan ini, banyak orang menjadi pesimis dan mutung untuk beribadah. Karena merasa sudah sering ibadah di malam-malam ganjil, namun ternyata selama dia beribadah tidak mendapatkan kejadian aneh apapun.

Untuk itu, keyakinan ini tidak selayaknya ditanamkan dalam diri kita dan masyarakat sekitar kita.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

wanita berjilbab cantik

Wanita I’tikaf di Rumahnya

Bolehkah Wanita Itikaf di Mushola dalam Rumah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat, bolehkah wanita itikaf di musholah rumahnya.

Pertama, wanita dibolehkan i’tikaf di mushola rumahnya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, at-Tsauri, dan an-Nakha’i. Ibnu Rusyd mengatakan,

وإلا ما ذهب إليه أبو حنيفة من أن المرأة إنما تعتكف في مسجد بيتها

Abu Hanifah berpendapat bahwa wanita boleh beritikaf di mushola rumahnya. (Bidayah al-Mujtahid, hlm. 261).

Kedua, tempat itikaf bagi wanita sama dengan laki-laki, yaitu di masjid. Mereka tidak boleh itikaf di mushola dalam rumah. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Dan pendapat inilah yang lebih kuat, dengan pertimbangan,

1. Allah kaitkan syariat itikaf dengan masjid,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

”Janganlah kalian menggauli mereka sementara kalian sedang itikaf di masjid.”

Dan tidak ada pengecualian untuk ayat ini. Artinya berlaku umum, baik bagi lelaki maupun wanita.

2. Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan itikaf di masjid. (HR. Muslim 1172)

Kegiatan wanita beritikaf di masjid merupakan hal yang biasa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau menganjurkan agar wanita lebih memilih shalat di rumah dari pada di masjid. Andaikan itikaf di rumah itu lebih baik, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankan mereka untuk itikaf di rumah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Lailatul Qadar Hanya untuk Umat Muhammad

Apakah lailatul qadar juga ada pada umat sebelum kita?

Jawab: 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat, apakah keistimewaan dan fadhilah lailatul qadar juga diberikan pada umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah keistimewaan ini hanya dimiliki umat Muhammad.

Terdapat satu riwayat oleh Abu Mus’ab az-Zuhri, beliau mengatakan,

حدثنا مالك أنه بلغه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أري أعمار الناس قبله أو ما شاء الله من ذلك، فكأنه تقاصر أعمار أمته أن لا يبلغوا من العمل الذي بلغ غيرهم في طول العمر، فأعطاه الله ليلة القدر خيراً من ألف شهر

Imam Malik menyampaikan kepada kami, beliau mendapat berita bahwa tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat usia umat terdahulu yang panjang-panjang sesuai yang Allah kehendaki, beliau merasa usia umatnya sangat pendek, sehingga amal mereka tidak sebanyak amal umat yang lainnya, karena panjangnya usia. Kemudian Allah memberikan lailatul qadar yang lebih baik dari pada 1000 bulan. (Muwatha’ Malik, no. 335)

Riwayat yang disebutkan Imam Malik di atas secara balaghan (tanpa sanad), merupakan dalil bahwa lailatul qadar hanya dimiliki umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar.

Beliau mengatakan,

أنها خاصة بهذه الأمة ولم تكن في الأمم قبلهم جزم به بن حبيب وغيره من المالكية ونقله عن الجمهور وحكاه صاحب العدة من الشافعية ورجحه

Lailatul qadar khusus bagi umat  Muhammad saja, dan tidak ada pada umat-umat sebelum mereka. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Habib dan ulama lainnya dari madzhab Malikiyah dan dinukil oleh mayoritas ulama, serta dinyatakan oleh penulis kitab al-Uddah di kalangan Syafiiyah dan beliau kuatkan. (Fathul Bari, 4/263).

Sementara itu, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa keistimewaan lailatul qadar juga Allah berikan kepada umat sebelum kita. Berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apakah lailatul qadar juga ada di kalangan para umat terdahulu bersama nabi mereka ataukah hanya khusus untuk umat ini?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بل كانت مع الأنبياء في الأمم الماضية

”Ya, lailatul qadar juga ada di zaman para nabi umat terdahulu.”

Hanya saja, ulama yang membawakan riwayat ini, tidak menyebutkan sanad hadis.

Oleh karena itu, baik lailatul qadar khusus bagi umat ini ataukah berlaku juga bagi umat sebelum kita, yang lebih penting bagi kita adalah memaksimalkan kegiatan ibadah selama sepuluh hari terakhir sebisanya. Sehingga kita bisa melakukan lebih banyak amal bertepatan dengan malam mulia itu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

cara i'tikaf

I’tikaf di Mushola

Bolehkah i’tikaf di mushola? Apakah sah i’tikafnya. Itu saja. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, ulama sepakat bahwa i’tikaf bagi laki-laki harus dilakukan di masjid

Allah telah memberikan aturan bahwa i’tikaf harus dilakukan di masjid dalam firman-Nya,

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

”Janganlah kalian menggauli istri kalian ketika kalian sedang i’tikaf di masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini merupakan dalil, syarat sah i’tikaf harus dilakukan di masjid.

Al-Qurthubi mengatakan,

أجمع العلماء على أن الاعتكاف لا يكون إلا في مسجد

Ulama sepakat bahwa i’tikaf hanya boleh dilakukan di dalam masjid. (Tafsir al-Qurthubi, 2/333).

Keterangan yang sama juga disampaikan Ibnu Rusyd,

وأجمع الكل على أن من شرط الاعتكاف المسجد ، إلا ما ذهب إليه ابن لبابة من أنه يصح في غير مسجد

Semua ulama sepakat bahwa diantara syarat i’tikaf harus dilakukan di masjid, kecuali pendapat Ibnu Lubabah yang mengatakan, boleh i’tikaf di selain masjid. (Bidayah al-Mujtahid, hlm. 261)

Kedua, meluruskan istilah masjid dan mushola

Secara bahasa, masjid [arab: مسجد] diambil dari kata sajada [arab: سجد], yang artinya bersujud. Disebut masjid, karena dia menjadi tempat untuk bersujud. Kemudian makna ini meluas, sehingga masjid diartikan sebagai tempat berkumpulnya kaum muslimin untuk melaksanakan shalat.

Imam Az-Zarkasyi mengatakan,

ولَمّا كان السجود أشرف أفعال الصلاة، لقرب العبد من ربه، اشتق اسم المكان منه فقيل: مسجد، ولم يقولوا: مركع

”Mengingat sujud adalah gerakan yang paling mulia dalam shalat, karena kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya (ketika sujud), maka nama tempat shalat diturunkan dari kata ini, sehingga orang menyebutnya: ’Masjid’, dan mereka tidak menyebutnya: Marka’ (tempat rukuk). (I’lam as-Sajid bi Ahkam Masajid, az-Zarkasyi, hlm. 27, dinukil dari al-Masajid, Dr.Wahf al-Qahthani, hlm. 5).

Kemudian Imam az-Zarkasyi, beliau menyebutkan makna masjid menurut istilah yang dipahami kaum muslimin (urf),

ثم إن العُرف خصص المسجد بالمكان المهيّأ للصلوات الخمس، حتى يخرج المُصلّى المجتمع فيه للأعياد ونحوها، فلا يُعطى حكمه

Kemudian, masyarakat muslim memahami bahwa kata masjid hanya khusus untuk tempat yang disiapkan untuk shalat 5 waktu. Sehingga tanah lapang tempat berkumpul untuk shalat id atau semacamnya, tidak dihukumi sebagai masjid. (I’lam as-Sajid bi Ahkam Masajid, az-Zarkasyi, hlm. 27, dinukil dari al-Masajid, Dr.Wahf al-Qahthani, hlm. 5).

Berdasarkan keterangan di atas, secara istilah syariah, mushola termasuk masjid. Karena musholah merupakan tempat yang disediakan khusus untuk shalat jamaah.

Untuk itu, sebagai catatan, bahwa kata masjid dalam istilah fikih ada dua,

  1. Masjid jami’, itulah masjid yang digunakan untuk shalat 5 waktu dan shalat jumat
  2. Masjid ghairu Jami’, itulah masjid yang digunakan untuk shalat 5 waktu saja, dan tidak digunakan untuk jumatan.

Masjid jenis  kedua ini, di tempat kita disebut mushola.

Ketiga, batasan masjid yang boleh digunakan i’tikaf

Ibnu Rusyd menyebutkan, ada 3 pendapat ulama tentang batasan masjid yang boleh digunakan i’tikaf.

  1. I’tikaf hanya bisa dilakukan di 3 masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Ini merupakan pendapat sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu dan seorang tabiin Said bin al-Musayib. Dan ini pendapat yang lemah. Karena tidak ada batasan bahwa i’tikaf harus di 3 masjid tersebut.
  2. I’tikaf hanya bisa dilakukan di masjid jami’, masjid yang digunakan untuk jumatan.
  3. I’tikaf bisa dilakukan di semua masjid, baik jami’ maupun bukan jami’. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, diantaranya as-Syafii, Abu Hanifah, at-Tsauri, dan pendapat masyhur dari Imam Malik.

(Bidayah al-Mujtahid, hlm. 261).

InsyaaAllah pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat mayoritas ulama bahwa tempat yang bisa digunakan untuk i’tikaf tidak harus masjid jami’, namun bisa semua masjid, meskipun tidak digunakan untuk jumatan.

Karena Allah hanya menyebutkan yang bersifat umum, ”ketika kalian sedang i’tikaf di masjid.” tanpa ada batasan, baik masjid jami’ maupun yang bukan jami’. Sehingga i’tikaf di mushola hukumnya boleh dan sah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

bayar fidyah

Kapan Waktu Pembayaran Fidyah

Assallamualikum ustad.. Saya mau tny istri saya saat bln ramadhan ini sdg mnyusui anak pertama saya.. Rncana saya mau memberikan anak ASI eksklusif sampai usia anak 2thn.. Yg mau saya tnykan..

1. Kapan waktu membayar fidyah? Sehabis ramadhan / setiap hari?

2. Apabila sudah membayar fidyah prlu n wajib kah mngganti puasa ramadhan ny di bulan lainny?

Makasi ustad..

Dari Surya Darma Nurdin

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Orang yang tidak mampu puasa dan tidak memungkinkan untuk qadha, maka dia wajib membayar fidyah. Allah berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Untuk waktu pembayaran fidyah, ada kelonggaran. Dia boleh membayarkan fidyahnya setiap hari satu-satu (dibayarkan di waktu maghrib di hari puasa yang ditinggalkan). Dia juga dibolehkan mengakhirkan pembayaran setelah selesai ramadhan, sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radliallahu ‘anhu. (As-Syarhul Mumthi’, 6:207)

Dalilnya:

Pertama, riwayat dari Nafi’ – murid Ibnu Umar –,

أن ابن عمر سئل عن المرءة الحامل إذا خافت على ولدها، فقال: تفطر و تطعم مكان كل يوم مسكينا مدا من حنطة

bahwa Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya (jika puasa). Beliau menjawab, “Dia boleh berbuka dan memberi makan orang miskin dengan satu mud gandum halus sebanyak hari yang dia tinggalkan.”(HR. Al-Baihaqi dari jalur Imam Syafi’i dan sanadnya sahih)

kedua, riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّه ضَعُف عَن الصَّومِ عَامًا فَصَنَع جفنَةَ ثَريدٍ ودَعَا ثَلاثِين مِسكِينًا فَأشبَعَهُم

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa ketika dirinya sudah tidak mampu puasa setahun, beliau membuat adonan tepung dan mengundang 30 orang miskin, kemudian beliau kenyangkan mereka semua. (HR. ad-Daruquthni dan dishahihkan al-Albani)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

tidak buka puasa

Dilarang Shalat Maghrib, Sebelum Berbuka Puasa?

Benarkah kita tidak boleh shalat maghrib sebelum berbuka puasa? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

“Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan ingin kencing atau buang air besar.” (HR. Muslim 560).

Dalam hadis lain, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ، فَلاَ يَعْجَلْ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ، وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ

Apabila kalian sudah menghadap ke makanan, maka jangan buru-buru shalat hingga menyelesaikan hajatnya (makannnya), meskipun iqamah shalat sudah dikumandangkan. (HR. Bukhari 674)

Kemudian, dalam hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ

“Jika makan malam telah tersajikan, maka dahulukan makan malam terlebih dahulu sebelum shalat Maghrib. Dan tak perlu tergesa-gesa dengan menyantap makan malam kalian.” (HR. Bukhari 673 dan Muslim 557).

Sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مِنْ فِقْهِ المَرْءِ إِقْبَالُهُ عَلَى حَاجَتِهِ حَتَّى يُقْبِلَ عَلَى صَلاَتِهِ وَقَلْبُهُ فَارِغٌ

Ciri orang yang pandai masalah agama, dia lebih mendahulukan kebutuhan pribadinya, sehingga dia bisa mengerjakan shalat dalam keadaan hatinya tidak memikirkan yang lain. (Bukhari secara Muallaq, 671).

Nafi – murid sekaligus menantunya Ibnu Umar – menceritakan,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُوضَعُ لَهُ الطَّعَامُ، وَتُقَامُ الصَّلاَةُ، فَلاَ يَأْتِيهَا حَتَّى يَفْرُغَ، وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قِرَاءَةَ الإِمَامِ

Suatu ketika dihidangkan makanan kepada Ibnu Umar, sementara iqamah sudah dikumandangkan. Namun beliau tidak datang ke masjid, hingga menyelesaikan makannya. Dan ketika makan, beliau mendengar bacaan imam. (Bukhari secara Muallaq, 673).

Islam menghargai adanya syahwat dalam diri manusia. Karena itu, kita tidak diminta untuk mematikan syahwat dalam diri kita, disamping hal itu tidak mungkin dilakukan. Yang diperintahkan adalah mengendalikan syahwat itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk konsentrasi ketika ibadah. Sehingga, ketika terjadi tabrakan antara kebutuhan jiwa dengan ibadah di waktu bersamaan, beliau mengajarkan agar kebutuhan jiwa yang mubah, agar didahulukan dari pada ibadah. Agar dia bisa konsentrasi dalam beribadah.

Beliau bersabda,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan ingin kencing atau buang air besar.” (HR. Muslim 560).

Apa makna ”tidak ada shalat” dalam hadis?

Ulama berbeda pendapat,

Pendapat pertama, shalatnya tidak sah. Sehingga ketika ada orang yang shalat sambil menahan ingin buang hajat atau menahan keinginan untuk menyantap makanan yang telah dihidangkan, maka shalatnya batal. Ini merupakan pendapat Syaikhul Islam dan ulama madzhab dzahiriyah.

Pendapat kedua, shalatnya tetap sah, namun makruh dan pahalanya tidak sempurna.

Sehingga makna ‘Tidak ada shalat’ adalah tidak sempurna shalat seseorang. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

(Taisir al-Allam, Syarh Umdah al-Ahkam, 1/96).

Syarat dan ketentuan

Jika makanan sedang dihidangkan ketika waktu shalat, apakah seseorang harus segera makan?

Sebagian ulama memberikan persyaratan,

  1. Ada keinginan untuk makan. Jika tidak ada keinginan, karena tidak nafsu atau sudah kenyang atau sebab lainnya, dia tidak harus makan
  2. Waktu shalat masih longgar jika mendahulukan makan. Jika waktunya sempit, tidak memungkinkan jika makan dulu, maka dia harus mendahulukan shalat.
  3. Memungkinkan untuk makan. Jika tidak memungkinkan, maka dia harus mendahulukan shalat. Contoh tidak memungkinkan: makanan dihidangkan di warung, sementara dia tidak memiliki uang untuk membelinya. Atau dia sedang puasa, sementara makanan dihidangkan di waktu asar.

Berdasarkan keterangan di atas, orang yang sedang berbuka puasa, dan di hadapannya ada makanan menarik baginya, maka hendaknya dia dahulukan makan sebelum shalat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

telat makan sahur

Sahur Setelah Adzan Subuh?

Di tempat saya, subuh jam 4.35. Ada orang ketiduran hingga tdk dengar adzan. Ketika bangun dia tidak sadar kalo sudah subuh.Akhirnya dia makan dan minum. Ketika lihat jam, dia baru kaget, karena sdh jam 5.30. Apakah puasanya sah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Asma’ bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

أَفْطَرْنَا يَوْمًا فِي رَمَضَانَ فِي غَيْمٍ، فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ

Kami pernah berbuka pada sore hari ramadhan karena mendung, di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba matahari muncul lagi. (HR. Abu Daud 2359 dan dishahihkan al-Albani)

Hadis ini menjadi dalil bahwa setiap kondisi tidak tahu, atau lupa yang dialami orang yang puasa, sehingga dia makan atau minum, maka puasanya tidak batal.

إذا تناول الصائم شيئا من هذه المفطرات جاهلا ، فصيامه صحيح ، سواء كان جاهلا بالوقت ، أو كان جاهلا بالحكم ، مثال الجاهل بالوقت ، أن يقوم الرجل في آخر الليل ، ويظن أن الفجر لم يطلع ، فيأكل ويشرب ويتبين أن الفجر قد طلع ، فهذا صومه صحيح لأنه جاهل بالوقت

Apabila orang yang sedang puasa melakukan salah satu pembatal puasa karena tidak tahu, maka puasanya tetap sah. Baik tidak tahu terkait waktu, atau tidak tahu hukumnya. Contoh tidak tahu terkait waktu, seseorang bangun di akhir malam, dan dia menyangka fajar belum terbit, kemudian dia makan dan minum. Tiba-tiba, dia baru sadar ternyata fajar sudah terbit, maka puasanya sah, karena dia tidak tahu waktu.

Selanjutnya, beliau menyebutkan hadis Asma bintu Abi Bakr di atas. Kemudian beliau mengatakan,

فصار إفطارهم في النهار ، ولكنهم لا يعلمون بل ظنوا أن الشمس قد غربت ولم يأمرهم النبي صلى الله عليه وسلم بالقضاء ، ولو كان القضاء واجبا لأمرهم به ، ولو أمرهم به لنقل إلينا

Para sahabat berbuka di siang hari. Akan tetapi mereka tidak tahu. Mereka menyangka matahari telah terbenam. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan mereka untuk mengqadha. Andai qadha ketika itu wajib, tentu beliau akan memerintahkan mereka untuk qadha. Dan andai ada perintah, tentu akan ada riwayat yang sampai ke kita. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 17/144)

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

9,058FansLike
4,525FollowersFollow
31,363FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN