<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Haji</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/fikih/ibadah-fikih/haji/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Panduan Umrah (bagian 3)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-3/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 08:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11012</guid>
		<description><![CDATA[Tahallul Untuk laki-laki, tahallul bisa dilakukan dengan dua cara: Menggundul, inilah cara yang lebih dianjurkan.  Disebutkan dalam hadis Ibnu Umar radhiallahu &#8216;anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebaikan tiga kali untuk orang yang menggundul dan sekali untuk yang tidak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tahallul</h2>
<p><strong>Untuk laki-laki,</strong> tahallul bisa dilakukan dengan dua cara:</p>
<ol>
<li>Menggundul, inilah cara yang lebih dianjurkan.  Disebutkan dalam hadis Ibnu Umar <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendoakan kebaikan tiga kali untuk orang yang menggundul dan sekali untuk yang tidak menggundul.  (HR. Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Memotong pendek, namun merata di seluruh bagian rambut. BUKAN memotong ujungnya saja.</li>
</ol>
<p><strong>Bagi wanita,</strong> hanya boleh menggunting sedikit rambutnya, kira-kira seukuran ruas jari. (Sahih Abu Daud)</p>
<p>Setelah melakukan <strong>tahallul</strong>, Anda sudah halal, tidak lagi disebut muhrim, dan selanjutnya boleh melakukan kegiatan apapun yang dilarang ketika ihram.</p>
<h2>Larangan-Larangan Ketika Ihram</h2>
<p>1. Memotong rambut yang ada di seluruh tubuh dengan cara apapun tanpa alasan yang membolehkan. Baik sebagian maupun digundul, baik hanya dipotong maupun dicabuti.</p>
<p>2. Memotong kuku tangan maupun kaki tanpa alasan yang membolehkan.</p>
<p>3. Bersengaja menutupi kepala atau wajah bagi laki-laki. Dengan menutupkan sesuatu yang sifatnya melekat (menempel) di atas kepala. Adapun jika tutupnya terpisah, seperti kemah, tenda, atau atap mobil maka diperbolehkan. Karena Usamah bin Zaid dan Bilal bin Rabah <em>radhiallahu ‘anhu</em> pernah menggunakan pakaiannya untuk menutupi dirinya dari terik matahari ketika melempar jumrah aqabah.</p>
<p>4. Mengenakan pakaian yang berjahit dengan sengaja bagi laki-laki</p>
<p>5. Bersengaja menggunakan wewangian ketika sudah mulai berihram.</p>
<p>Adapun sisa wewangian yang dipakai sebelum ihram dan bau wanginya masih ada ketika ihram maka diperbolehkan.</p>
<p>6. Membunuh binatang buruan darat. Bentuk pembunuhan ini ada beberapa macam:</p>
<ol>
<li>Berburu sendiri</li>
<li>Memerintahkan orang lain untuk berburu</li>
<li>Menunjukkan binatang buruannya</li>
<li>Ada orang yang berburu untuk diberikan kepadanya, baik dia tahu maupun tidak tahu.</li>
</ol>
<p>7. Melakukan akad nikah atau menikahkan orang lain. Termasuk dalam hal ini adalah larangan melamar.</p>
<p>Catatan: Pelanggaran akad nikah tidak ada fidyahnya namun akad nikahnya batal.</p>
<p>8. Melakukan hubungan suami istri dengan sengaja. Pelanggaran ini menyebabkan ihramnya batal.</p>
<p>9. Bercumbu selain jima’. Meskipun hanya dengan menyentuh, mencium, atau sebatas melihat yang semuanya dengan syahwat.</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Terlarang bagi orang yang ihram maupun yang tidak sedang ihram untuk mengganggu tanaman, rerumputan (kecuali rumput idz-khir), dan binatang-binatang yang ada di Mekah maupun Madinah.</p>
<h2>Cara Membayar Tebusan Untuk Setiap Pelanggaran</h2>
<p>Melakukan pelanggaran ketika ihram ada tiga keadaan:</p>
<ol>
<li>Melakukan pelanggaran tanpa udzur dan tidak ada kebutuhan. Ini adalah perbuatan dosa dan wajib membayar fidyah.</li>
<li>Melakukan pelanggaran karena ada kebutuhan. Misalnya memakai jaket ketika cuaca dingin. Tidak ada dosa untuk pelanggaran ini namun wajib membayar fidyah.</li>
<li>Melakukan pelanggaran karena udzur, semacam tidak tahu, lupa, terpaksa, atau dalam keadaan tidur. Tidak ada dosa untuk pelanggaran ini. Sedangkan kewajiban membayar fidyah masih diperselisihkan ulama. Insya Allah, yang lebih mendekati kebenaran adalah tidak ada kewajiban membayar fidyah.</li>
</ol>
<p><strong>Ukuran Membayar Fidyah</strong></p>
<p>Ukuran pembayaran fidyah pada beberapa pelanggaran berbeda-beda. Berikut rinciannya:</p>
<p><strong>A.</strong> Memotong rambut, kuku, mengenakan tutup kepala atau wajah, memakai pakaian berjahit, menggunakan wewangian. Untuk masing-masing pelanggaran tersebut fidyahnya ada tiga pilihan:</p>
<ol>
<li>Menyembelih seekor kambing dan semuanya dibagikan kepada orang miskin.</li>
<li>Memberi makan enam orang miskin masing-masing 0,75 kg bahan makanan.</li>
<li>Berpuasa 3 hari.</li>
</ol>
<p><strong>B.</strong> Berhubungan suami istri sebelum tahallul pertama, hukumannya ada tiga:</p>
<ol>
<li>Ihramnya batal.</li>
<li>Wajib menyempurnakan ihramnya (haji atau umrahnya).</li>
<li>Wajib mengqadha pada kesempatan berikutnya.</li>
<li>Menyembelih seekor onta dan dibagikan kepada orang miskin.</li>
</ol>
<p>Namun jika hubungan suami istri dilakukan setelah <em>tahallul</em> pertama, hajinya tidak batal namun wajib membayar fidyah berupa menyembelih kambing dan membagikan seluruh dagingnya kepada orang miskin di tanah haram.</p>
<p><strong>C.</strong> Berburu binatang darat</p>
<p>- Jika binatang yang diburu ada yang kadarnya semisal. Contoh kambing, memiliki binatang semisal, yaitu domba. Maka ada tiga pilihan:</p>
<ol>
<li>Menyembelih binatang yang semisal dengan buruannya, dan membagikan seluruh dagingnya ke orang miskin.</li>
<li>Bersedekah dengan bahan makanan yang senilai dengan harga binatang buruan tersebut dan membagikannya ke orang miskin masing-masing 0,75 kg.</li>
<li>Berpuasa beberapa hari sebanyak jumlah orang miskin yang bisa mendapat jatah sedekah makanannya.</li>
</ol>
<p>- Namun jika binatang buruannya tidak ada yang semisal maka ada dua pilihan:</p>
<ol>
<li>Bersedekah dengan bahan makanan yang senilai dengan harga binatang buruan tersebut dan membagikannya ke orang miskin masing-masing 0,75 kg.</li>
<li>Berpuasa beberapa hari sebanyak jumlah orang miskin yang bisa mendapat jatah sedekah makanannya.</li>
</ol>
<p>Contoh: Ibn Abbas <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhu</em> menetapkan satu merpati dengan fidyah seekor kambing.</p>
<p><strong>D.</strong> Bercumbu selain jima’, baik sampai keluar sperma maupun tidak.</p>
<p>Pelanggaran ini tidak sampai membatalkan ihramnya. Namun pelakunya wajib beristighfar dan bertaubat. Sebagian ulama mewajibkan untuk menyembelih kambing. Boleh juga memberi makan 6 orang miskin atau berpuasa tiga hari. Namun sebagai bentuk kehati-hatian sebaiknya menyembelih binatang.</p>
<p><strong>E.</strong> Orang yang ihram untuk berhaji atau <strong>umrah</strong> kemudian terhalang, sehingga tidak bisa sampai ke Masjidil Haram, maka hendaknya dia tetap dalam posisi ihram jika masih bisa diharapkan penghalang tersebut hilang. Namun jika penghalang tersebut tidak mungkin lagi untuk dihilangkan, maka dia menyembelih kambing dan tahallul dengan memotong rambut.</p>
<p>Kecuali jika di awal sebelum ihram dia mempersyaratkan diri dengan mengucapkan:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ مَحِلِّى حَيْثُ حَبَسْتَنِى</p>
<p>Maka tidak perlu menyembelih binatang dan cukup tahallul.</p>
<p>Namun apakah wajib qadha?? Insya Allah yang lebih mendekati kebenaran adalah tidak wajib qadha. <em>Allaahu A’lam. </em></p>
<h3>Hal-hal yang Dibolehkan Bagi Orang yang Ihram</h3>
<ol start="1">
<li>Membunuh binatang-binatang pengganggu yang diperitahkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk dibunuh, baik di tanah haram maupun di luar tanah haram. Hewan-hewan tersebut adalah:</li>
<li>Kalajengking dan sebangsanya. Gagak, burung buas lainnya; seperti: elang, burung hantu, dll. Tikus, Anjing galak, dan binatang buas lainnya; semacam singa, macan, serigala, dll. serta ular.</li>
<li>Jika tidak memiliki pakaian ihram maka dibolehkan memakai celana. Demikian pula jika tidak memiliki sandal maka boleh memakai kaos kaki.</li>
<li>Memakai kaos kaki yang panjangnya di bawah mata kaki</li>
<li>Mandi dalam rangka mendinginkan tubuh, menyiram kepalanya, dan sedikit menggosok badannya jika dibutuhkan.</li>
<li>Mencuci pakaian ihramnya. Boleh juga mengganti pakaian ihramnya dengan pakaian yang lain, selama bisa dipakai untuk ihram.</li>
<li>Memakai kaca mata terik atau kaca mata karena rabun.</li>
<li>Memakai jam tangan.</li>
<li>Berbekam. Karena Nabi pernah berbekam ketika sedang ihram.</li>
<li>Berteduh di bawah payung, tenda, atap mobil, pohon atau yang lainnya.</li>
<li>Memakai sabuk.</li>
<li>Membawa uang dan menyimpannya di sabuk atau yang lainnya.</li>
<li>Mengenakan kain yang berjahit sebagai tambalan bagian yang sobek. Karena yang terlarang adalah jahitan yang digunakan untuk membentuk lengan, atau semacamnya, menyesuaikan bentuk tubuh.</li>
</ol>
<h3>Adab memasuki kota Mekah</h3>
<ol>
<li>Dianjurkan untuk beristirahat di tempat yang sesuai di luar kota Mekah dan bermalam di sana, sehingga bisa melakukan kegiatan bersih-bersih sebelum thawaf.</li>
<li>Jika memungkinkan, dianjurkan untuk mandi di tempat peristirahatan tersebut.</li>
<li>Jika memungkinkan, masuk ke kota Mekah melalui jalan yang berda di dataran tinggi dan pulang melalui jalur yang berada di dataran rendah.</li>
<li>Ketika sudah sampai Masjidil Haram, dianjurkan hal-hal berikut:
<ol>
<li>Masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan.</li>
<li>Melafadzkan doa masuk masjid.</li>
<li>Jika tidak memungkinkan untuk mandi, maka minimal berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil.</li>
<li>Tahiyyatul masjid dengan thawaf bagi yang ingin thawaf. Jika tidang ingin thawaf maka cukup shalat dua rakaat.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><em>Allaahu A’lam&#8230;</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-3" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel sebelumnya:</p>
<h3><a href="http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1/" target="_blank">Panduan Umrah (Bagian 1)</a><br />
<a href="http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-2/" target="_blank">Panduan Umrah (Bagian 2)</a></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panduan Umrah (bagian 1)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2012 04:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11007</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Umrah Umrah secara bahasa artinya ziarah Secara istilah: Berziarah ke ka’bah dengan tata cara tertentu, yang mencakup ihram, tawwaf, sa’I, dan tahalul. Hukum Umrah Wajib bagi orang yang wajib melaksanakan haji menurut pendapat yang paling kuat. Syarat Wajibnya Umrah: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pengertian Umrah</h2>
<p><strong>Umrah</strong> secara bahasa artinya ziarah<br />
Secara istilah: Berziarah ke ka’bah dengan tata cara tertentu, yang mencakup ihram, tawwaf, sa’I, dan tahalul.</p>
<h2>Hukum Umrah</h2>
<p>Wajib bagi orang yang wajib melaksanakan haji menurut pendapat yang paling kuat.</p>
<h2>Syarat Wajibnya Umrah:</h2>
<ol start="1">
<li>Islam</li>
<li>Baligh, dan Berakal</li>
<li>Merdeka</li>
<li>Memiliki kemampuan; adanya bekal dan kendaraan</li>
<li>Ada mahram (khusus bagi wanita)</li>
</ol>
<h2>Adab Haji dan Umrah</h2>
<ol>
<li>Menata hati agar berniat semata-mata beribadah kepada Allah. Bukan mencari gelar ‘Pak Haji’ atau tujuan dunia lainnya.</li>
<li>Memahami fiqh masalah haji, <em>umrah</em>, dan adab melakukan perjalanan.</li>
<li>Bertaubat dari semua dosa yang pernah dilakukan.</li>
<li>Menggunakan uang yang halal untuk biaya haji dan umrahnya</li>
<li>Menulis dan menitipkan wasiat kepada keluarganya, sebagaimana wasiat orang yang hendak meninggal dunia. Seperti: Masalah hutang piutang, pemutihan dosa, dan kesalahan antar-sesama, penunaian hak-hak sesama, dsb.</li>
<li>Dianjurkan untuk memulai keberangkatannya pada pagi hari kamis.</li>
<li>Ka’ab bin Malik <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhu</em> mengatakan, “Jarang sekali Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>  bepergian di selain hari kamis.” (HR. Bukhari-<em>Fath</em><em>,</em> 6:113)</li>
<li>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendoakan keberkahan bagi kegiatan umatnya di pagi hari, “Ya Allah, berkahilah untuk umatku di pagi hari mereka.” (<em>Shahih Abu Daud</em>, 2:494).</li>
<li>Shalat dua rakaat di rumah ketika hendak berangkat</li>
</ol>
<p><strong>            Nabi</strong> <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> <strong>bersabda,</strong> “Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” (Al-Bazzar; dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<ol>
<li>Melantunkan bacaan dengan berdoa ketika keluar rumah</li>
</ol>
<p class="arab">بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ</p>
<p><em>Bismillaah tawakkaltu ‘alaLLaah laa ha-ula wa laa quwwata illaa bilLLaah</em></p>
<ol>
<li>Menjaga amalan dan doa-doa di tengah safar, seperti bertakbir ketika melewati jalan yang naik dan bertasbih ketika melewati jalan yang turun.</li>
<li>Menunjuk salah satu anggota rombongan sebagai pemimpin, jika safarnya rombongan. Kemudian semua anggota rombongan wajib taat pada pemimpin rombongan dalam setiap urusan yang terkait dengan safarnya.</li>
<li>Dianjurkan ketika singgah untuk tidak berpencar, namun berkumpul di satu tempat. Karena perpecahan adalah bagian dari godaan setan</li>
<li>Memperbanyak berdoa kepada Allah untuk kemaslahatan dunia dan akhirat. Baik untuk pribadi maupun untuk umat secara umum. Karena doa musafir termasuk di antara doa yang mustajab.</li>
<li>Berusaha menjauhi segala maksiat baik dosa besar maupun kecil. Terutama di tanah haram. Karena maksiat di tempat yang mulia dan di waktu yang mulia, dosanya lebih besar dan ancamannya lebih membahayakan.</li>
<li>Menjaga setiap kewajiban, terutama shalat jamaah.</li>
<li>Memperbanyak ketaatan dan ibadah sunah lainnya. Seperti membaca Alquran, dzikir, doa, dll.</li>
<li>Menjaga perilaku dan akhlaq. Tidak banyak guyon dan gojek.</li>
<li>Segera pulang jika urusan telah selesai</li>
<li>Membawa hadiah dan oleh-oleh bagi yang di rumah. Sebaik-baik oleh-oleh haji adalah air zam-zam.</li>
<li>Ketika sampai rumah, dianjurkan untuk berpelukan dengan orang yang tinggal di rumah ketika ketemu pertama.</li>
<li>Dibolehkan untuk mengadakan acara makan-makan setelah balik dari safar. Pesta makan-makan ini dalam istilah Arab disebut: <em>An Naqi’ah</em></li>
</ol>
<h2>Miqat Haji dan Umrah</h2>
<p><strong>Pertama</strong>, Miqat waktu: haji di bulan-bulan haji. Sedangkan <u>umrah</u> waktunya longgar<br />
<strong>Kedua</strong>, Miqat tempat:</p>
<ol>
<li>Dzul Hulaifah (Bir Ali) &#8211;&gt; Orang yang datang dari Madinah dan sekitarnya.</li>
<li>Al Juhfah (Khirab)  &#8211;&gt; Orang yang datang dari Syam.</li>
<li>Qarnul Manazil (As-Sailul Kabir) &#8211;&gt; Orang yang datang dari Iran, Iraq, Pakistan, dan penduduk-penduduk daerah Timur.</li>
<li>Yalamlam &#8211;&gt; Orang yang datang dari Yaman dan negeri Selatan.</li>
<li>Dzatu Irak &#8211;&gt; Orang yang datang dari Irak.</li>
</ol>
<p><strong> Catatan:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Wajib bagi jamaah haji maupun umrah untuk melakukan ihram sejak melewati batas miqat yang telah ditentukan.</li>
<li>Jika melewati miqat dalam keadaan tidak berihram, maka wajib kembali keluar daerah miqat kemudian berihram dari miqat.</li>
<li>Jika tidak mungkin untuk keluar maka wajib membayar DAM berupa sembelihan kambing.</li>
<li>Jedah bukan miqat. Karena itu, untuk rute perjalanan: Jakarta – Jedah – Mekah, mengambil miqatnya di pesawat ketika melewati daerah Yalamlam. Sebaiknya kain ihram disiapkan sejak dari bandara Soekarno-Hatta.</li>
<li>Untuk rute perjalanan: Jakarta – Jedah – Madinah – Mekah, jamaah mengambil miqat di Dzul Hulaifah (Bir Ali), sehingga pakaian umrah baru disiapkan ketika di Madinah. Namun, tidak boleh mengambil miqat dari hotel. Karena hotel di Madinah bukan miqat.</li>
</ol>
<h2><strong> Apa yang dilakukan orang yang Haji atau Umrah Ketika di Miqat</strong></h2>
<ol start="1">
<li>Memotong kuku, mencukur kumis, bulu ketiak, dan bulu pubis. Tidak diperbolehkan memotong jenggot sedikit pun.</li>
<li>Mandi. Syariat mandi ini berlaku baik dalam keadaan suci maupun haid.</li>
<li>Menggunakan minyak wangi sesuai selera.</li>
<li>Memakai pakaian ihram.</li>
<li>Dianjurkan memulai ihram setelah shalat fardhu. Jika tidak di waktu shalat fardhu, maka dianjurkan shalat dua rakaat dengan niat sunah wudhu atau tahiyatul masjid (biasanya di miqat ada masjid).</li>
<li>Setelah selesai shalat, dilanjutkan dengan niat untuk melakukan manasik umrah atau haji. Kemudian diikuti dengan ikrar umrah dengan melantunkan talbiyah:</li>
</ol>
<p>-          LABBAIKA  ‘UMRATAN   atau</p>
<p>-          LABBAIKALLAAHUMMA ‘UMRATAN</p>
<ol start="7">
<li>Jika dikhawatirkan tidak bisa menyempurnakan ihramnya, maka dianjurkan untuk mengajukan persyaratan dengan mengucapkan:</li>
</ol>
<p class="arab"><strong>اللَّهُمَّ مَحِلِّى حَيْثُ حَبَسْتَنِى</strong></p>
<p><em>Allaahumma, mahallii hai-tsu habastanii</em></p>
<p>Ya Allah, tempat terakhirku adalah sebagaimana Engkau menahanku.</p>
<p>Jika orang yang ihram mempersyaratkan hal ini, kemudian ada sesuatu yang menghalangi dirinya sehingga tidak bisa menyelesaikan manasiknya; misalnya sakit atau tidak kuat, maka dia boleh langsung tahallul dan tidak ada kewajiban apapun padanya. Sebagaimana perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada Dhaba&#8217;ah bintu Zubair yang hendak ihram sementara dia sakit-sakitan, beliau meminta agar mengajukan persyaratan di atas. (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<h3>Rukun Umrah dan Kewajiban-kewajibannya</h3>
<p>Rukun umrah ada tiga:</p>
<ol>
<li>Berihram, berniat untuk memulai umrah</li>
<li>Thawaf</li>
<li>Sa’i</li>
</ol>
<p>Kewajiban Umrah ada dua:</p>
<ol>
<li>Melakukan ihram ketika hendak memasuki miqat</li>
<li>Bertahallul dengan menggundul atau memotong sebagian rambut</li>
</ol>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Meninggalkan rukun, maka umrahnya tidak sempurna dan wajib diulangi</li>
<li>Meninggalkan kewajiban, umrah tetap sah dan kesalahan tersebut (meninggalkan kewajiban) bisa ditutupi dengan DAM.</li>
<li>Melakukan jima’ sebelum tahallul maka wajib membayar seekor kambing, sebagaimana fatwa Ibn Abbas <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhuma</em>.</li>
</ol>
<h3>Tata Cara Umrah</h3>
<ol start="1">
<li>Memulai masuk miqat dengan posisi berihram sambil mengucapkan ikrar: <em>Allahumma umratan</em> dan membaca talbiyah (<em>labbaik Allahumma labbaik</em>&#8230;dst).</li>
<li>Perbanyak mengucapkan talbiyah sampai masuk Masjidil Haram (mendekati rukun hajar aswad).</li>
<li>Selama di perjalanan dengan mengenakan kain ihram, tetap dianjurkan untuk <strong>menutupi</strong> <strong>kedua</strong> <strong>pundaknya</strong> dengan kain ihramnya bagi laki-laki, sampai tiba di dekat ka&#8217;bah.</li>
<li>Setelah masuk Masjidil Haram langsung melakukan thawaf, sa’i, dan tahallul. Cara masing-masing, akan dibahas lebih rinci di kesempatan berikutnya.</li>
</ol>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umrah Berkali-kali</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/umrah-berkali-kali/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/umrah-berkali-kali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 02:17:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10745</guid>
		<description><![CDATA[Umrah Berkali-kali Pertanyaan: Asalamu&#8217;alaikum Insya Allah saya mau umroh, ada yang bilang kalau umroh bisa berkali-kali, tapi ketika ada manasik dari pihak travel katanya ada khilaf di antara para ulama tentang umroh berkali-kali. Mohon penjelasannya Ustad. Terimakasih. Dari: Yudistira Jawaban: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Umrah Berkali-kali</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Asalamu&#8217;alaikum<br />
Insya Allah saya mau umroh, ada yang bilang kalau umroh bisa berkali-kali, tapi ketika ada manasik dari pihak travel katanya ada khilaf di antara para ulama tentang umroh berkali-kali. Mohon penjelasannya Ustad.<br />
Terimakasih.</p>
<p>Dari: Yudistira<br />
<span id="more-10745"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam</p>
<p>Suatu ibadah agar diterima oleh Allah, harus terpenuhi oleh dua syarat. Yaitu ikhlas dan juga harus dibarengi dengan <em>mutaba’ah</em> (mengikuti contoh Rasul). Sehingga tidak cukup hanya mengandalkan ikhlas semata, tetapi juga harus mengikuti petunjuk Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. <em>Umrah</em> termasuk dalam kategori ini. Sebagai ibadah yang disyariatkan, maka harus bersesuaian dengan rambu-rambu syariat.</p>
<p><strong>Jumlah Umrah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p>Sepanjang hidupnya, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukan <u>umrah</u> sebanyak 4 kali.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengerjakan umrah sebanyak empat kali. (Yaitu) umrah Hudaibiyah, umrah Qadha`, umrah ketiga dari Ji’ranah, dan keempat (umrah) yang bersamaan dengan pelaksanaan haji beliau.” (HR. Tirmidzi, no 816 dan dan Ibnu Majah no. 2450)</p>
<p>Menurut Ibnul Qayyim, dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat (<em>Zadul Ma’ad</em>, 2:89). Setiap umrah tersebut, beliau kerjakan dalam sebuah perjalanan tersendiri. Tiga umrah secara tersendiri, tanpa disertai haji. Dan sekali bersamaan dengan haji.</p>
<p>Pertama, umrah Hudhaibiyah tahun 6 H. Beliau dan para sahabat yang berbaiat di bawah <em>syajarah</em> (pohon), mengambil miqat dari Dzul Hulaifah Madinah. Pada perjalanan umrah ini, kaum musyrikin menghalangi kaum muslimin untuk memasuki kota Mekah. Akhirnya, terjadilah perjanjian Hudaibiyah. Salah satu pointnya, kaum muslimin harus kembali ke Madinah, tanpa bisa melaksanakan umrah yang sudah direncanakan. Kemudian, kaum muslimin mengerjakan umrah lagi pada tahun berikutnya. Dikenal dengan umrah qadhiyyah atau qadha pada tahun 7 H. Selama tiga hari beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berada di Mekah. Dan ketiga, umrah Ji’ranah pada tahun 8 H. Yang terakhir, saat beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengerjakan haji wada’. Semua umrah yang beliau kerjakan terjadi pada bulan Dzul Qa‘dah.</p>
<p><strong>Alasan Untuk Tidak Berumrah Berkali-kali</strong><br />
<strong>Pertama</strong>. Pelaksanaan empat umrah yang dikerjakan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, masing-masing dikerjakan dengan perjalanan (safar) tersendiri. Bukan satu perjalanan untuk sekian banyak umrah, seperti yang dilakukan oleh jamaah haji sekarang ini.</p>
<p><strong>Kedua</strong>. Tidak ada riwayat yang menerangkan salah seorang dari para sahabat yang menyertai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam haji wada’ yang beranjak keluar menuju tanah yang halal untuk tujuan umrah, baik sebelum atau setelah pelaksanaan haji. Mereka juga tidak pergi ke Tan’im, Hudhaibiyah atau Ji’ranah untuk tujuan umrah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>. Umrah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang dimulai dari Ji’ranah tidak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan umrah berulang-ulang. Sebab, pada awalnya beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memasuki kota Mekah untuk menaklukannya dalam keadaan halal (bukan muhrim) pada tahun 8 H. Selama tujuhbelas hari beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berada di sana.</p>
<p>Kemudian sampai kepada beliau berita, kalau suku Hawazin bermaksud memerangi beliau. Akhirnya beliau mendatangi dan memerangi mereka. Ghanimah dibagi di daerah Ji’ranah. Setelah itu, beliau ingin mengerjakan umrah dari Ji’ranah.</p>
<p>Dalam hal ini beliau tidak keluar dari Mekah ke Ji’ranah secara khusus. Namun, ada perkara lain yang membuat beliau keluar dari Mekah. Jadi, semata-mata bukan untuk mengerjakan umrah.</p>
<p><strong>Keempat</strong>. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, juga para sahabat -kecuali Aisyah- tidak pernah mengerjakan satu umrah pun dari Mekah, meski setelah Mekah ditaklukkan. Begitu pula, tidak ada seorang pun yang keluar dari tanah Haram menuju tanah yang halal untuk mengerjakan umrah dari sana sebelum Mekah ditaklukkan dan menjadi Darul Islam.</p>
<p>Padahal thawaf di Ka’bah sudah <em>masyru’</em> (disyariatkan) sejak Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> diutus, dan bahkan sejak Nabi Ibrahim <em>&#8216;alaihissalam</em>. Mereka mengerjakan thawaf tanpa umrah terlebih dahulu. Hal ini mengantarkan kepada sebuah ketetapan yang pasti, bahwa perkara yang disyariatkan bagi penduduk Mekah (orang yang berada di Mekah) adalah thawaf. Itulah yang lebih utama bagi mereka dari pada keluar dari tanah Haram untuk mengerjakan umrah.</p>
<p>Tidak mungkin Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat lebih mengutamakan amalan <em>mafdhul</em> (yang nilainya kurang) dibandingkan amalan yang lebih <em>afdhal</em> (nilainya lebih utama) dan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah memerintahkan umat Islam untuk melakukan umrah berulang-ulang saat berada di Mekah (<em>Majmu’ al Fatawa</em>, 26:256. 273).</p>
<p><strong>Kelima</strong>. Intisari umrah adalah thawaf. Adapun sa’i antara Shafa dan Marwah bersifat menyertai saja. Bukti yang menunjukkannya sebagai penyerta adalah, sa’i tidak dikerjakan kecuali setelah thawaf. Dan ibadah thawaf ini bisa dikerjakan oleh penduduk Mekah, tanpa harus keluar dari batas tanah suci Mekah terlebih dahulu. Barangsiapa yang sudah mampu mengerjakan perkara yang inti, ia tidak diperintahkan untuk menempuh wasilah (perantara yang mengantarkan kepada tujuan). (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 26:262).</p>
<p><strong>Keenam</strong>. Pada penaklukan kota Mekah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berada di Mekah selama sembilan belas hari. Tetapi, tidak ada riwayat bahwa beliau keluar ke daerah halal untuk melangsungkan umrah dari sana. Apakah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak tahu bahwa itu <em>masyru’</em> (disyariatkan)? Tentu saja tidak mungkin!</p>
<p><strong>LEBIH BAIK MEMPERBANYAK THAWAF</strong><br />
Berdasarkan alasan-alasan di atas, menjadi jelas bahwa thawaf lebih utama. Adapun berumrah dari Mekah dan meninggalkan thawaf tidak mustahab. Ibadah yang disunnahkan adalah thawaf, bukan umrah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menambahkan:</p>
<p>“Thawaf mengelilingi Ka’bah lebih utama daripada umrah bagi orang yang berada di Mekah, merupakan perkara yang tidak diragukan lagi oleh orang-orang yang memahami sunah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan sunah khalifah pengganti beliau dan para sahabat, serta generasi salaf dan tokoh-tokohnya.”</p>
<p>Alasannya, kata beliau <em>rahimahullah</em>, karena thawaf di Baitullah merupakan ibadah dan <em>qurbah</em> (cara untuk mendekatkan diri kepada Allah) yang paling <em>afdhal</em> yang telah Allah tetapkan di dalam kitab-Nya, berdasarkan keterangan Nabi-Nya.</p>
<p>Diringkas dari: <a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=198&amp;Itemid=100" target="_blank" rel="nofollow">Majalah-Assunnah.com</a></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/umrah-berkali-kali" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/umrah-berkali-kali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perayaan Menyambut Jamaah Haji</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/perayaan-menyambut-jamaah-haji/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/perayaan-menyambut-jamaah-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 00:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9209</guid>
		<description><![CDATA[Perayaan Menyambut Jamaah Haji Pertanyaan: Di tempat kami sering diadakan walimah (acara makan-makan) ketika berangkat maupun sepulang dari ibadah haji. bagaimana hukumnya? Apakah ada dalil masalah ini. Dari: Abdullah K. Jawaban: Pada asalnya acara semacam ini hukumnya mubah (boleh). Karena ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Perayaan Menyambut Jamaah Haji</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Di tempat kami sering diadakan walimah (acara makan-makan) ketika berangkat maupun sepulang dari ibadah <a href="http://konsultasisyariah.com/wakil-haji-kakek" rel="nofollow" target="_blank"><strong>haji</strong></a>. bagaimana hukumnya? Apakah ada dalil masalah ini.</p>
<p>Dari: Abdullah K.<br />
<span id="more-9209"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Pada asalnya acara semacam ini hukumnya mubah (boleh). Karena itu, tidak boleh disikapi sebagai suatu keharusan atau anjuran. Artinya, andaikan ada orang yang tidak melakukannya karena sebab tertentu maka sama sekali tidak boleh mendapatkan celaan.<br />
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi mendapatkan pertanyaan yang sama, beliau menjawab,</p>
<p>&#8220;Apabila acara ini telah menjadi fenomena yang terus menerus dilestarikan, bahkan  bisa jadi orang yang tidak melakukannya mendapatkan celaan maka hukumnya tidak boleh. Akan tetapi jika sifatnya terkadang dilakukan dan terkadang ditinggalkan,<br />
dan tidak ada celaan maupun pengingkaran bagi orang yang tidak melaksanaknnya maka saya berharap ini tidak masalah.&#8221;<br />
Demikian penjelasan beliau di: <em>http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=5532</em><br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<h3>Biografi Syaikh Ali bin Hasan</h3>
<p>Nama lengkap beliau : Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid al-Halabi. Kakek Beliau berasal dari Yafa, Palestina. Karena tekanan Yahudi, kakek dan ayahnya pindah ke Yordania, tepatnya di kota Halb.<br />
Beliau termasuk salah satu murid senior Syaikh Al-Albani. Dari sinilah beliau menjadi ahlil hadis abad ini, sebagaimana gurunya. Banyak ulama memberikan pujian kepada beliau. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin menyebut beliau sebagai Al-Bahr (lautan ilmu).</p>
<p>Beliau aktif menyampaikan kajian dan seminar di berbagai universitas. Beliau juga aktif terlibat dalam Muktamar-muktamar Islam internasional. semoga Allah menjaga beliau.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/perayaan-menyambut-jamaah-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 02:08:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[bunyi takbir]]></category>
		<category><![CDATA[daging kurban]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[ebook kurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[jual kambing kurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[lafadz takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[tabiran hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[takbir]]></category>
		<category><![CDATA[takbiran sesudah shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8570</guid>
		<description><![CDATA[Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu Assalamualaikum. Pada hari tasyrik 11,12,13 ketika selesai shalat berjamaah, mana lebih utama takbiran atau atau dzikir sesudah shalat dan bagaimana yang lebih afdhalnya? Terimakasih atas penjelaasan ustadz&#8230; Rohaniah Islam (XXXXXXXXXXXX@gmail.com) Jawaban: Wa alaikumus salam Takbiran ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu</h2>
<p>Assalamualaikum. Pada hari <em>tasyrik</em> 11,12,13 ketika selesai shalat berjamaah, mana lebih utama <strong>takbiran</strong> atau atau dzikir sesudah shalat dan bagaimana yang lebih afdhalnya?<br />
Terimakasih atas penjelaasan ustadz&#8230;</p>
<p><em>Rohaniah Islam (XXXXXXXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8570"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa alaikumus salam</p>
<h3>Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu</h3>
<p>Keterangan Syaikh Khalid Al-Musyaiqih,</p>
<p class="arab">ومتى يكبر ؟ هل يكبر بعد السلام مباشرة أو عقب الذكر ؟<br />
نقول يكبر بعد الاستغفار وقول <img src='http://www.konsultasisyariah.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ) ، فيستغفر الله ثلاثاً ثم يقول <img src='http://www.konsultasisyariah.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ) ثم يشرع في التكبير ، يكبر ما شاء الله عز وجل ثم بعد ذلك يعود لأذكاره</p>
<p>Kapan mulai takbir setelah shalat? Apakah langsung bertakbir persis setelah salam ataukah setelah Dzikir?</p>
<p>Jawab:<br />
Kami katakan, sebaiknya bertakbir setelah istighfar dan membaca,</p>
<p class="arab">اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام</p>
<p>Hendaknya dia istighfar 3 kali kemudian membaca; dzikir di atas (<em>Allahumma antas salam</em>&#8230;. dst.), setelah itu mulai bertakbir. Dia bisa bertakbir dengan jumlah bebas, kemudian kembali berdzikir lagi.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=264613</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel www.KonsultasiSyariah.com</strong></p>
<p>Materi terkait <em>takbiran</em>:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/takbiran-sebelum-idul-adha" rel="nofollow" target="_blank">Hukum <u>Takbiran</u> Sebelum Idul Adha</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/adakah-takbiran-saat-terjadi-gerhana" target="_blank" rel="nofollow">Takbiran Saat Gerhana</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/takbiran-jamaah-mikrofon" target="_blank" rel="nofollow">Takbiran Menggunakan Mikrofon</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Menyembelih Sesuai Sunah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-menyembelih-sesuai-sunah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-menyembelih-sesuai-sunah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 05:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[daging kurban]]></category>
		<category><![CDATA[ebook kurban]]></category>
		<category><![CDATA[jual kambing kurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8513</guid>
		<description><![CDATA[Tata Cara Menyembelih Sesuai Sunah Assalamu&#8217;alaikum. Mohon dijelaskan tata cara menyembelih hewan dengan benar. Trimakasih Dari: Arriqa lmg Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Tata cara menyembelih hewan ada 2: Nahr [arab: نحر], menyembelih hewan dengan melukai bagian tempat kalung (pangkal leher). Ini adalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata Cara Menyembelih Sesuai Sunah</h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em>. Mohon dijelaskan <strong>tata cara menyembelih</strong> hewan dengan benar.<br />
Trimakasih</p>
<p>Dari: Arriqa lmg<br />
<span id="more-8513"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam</p>
<h3>Tata cara menyembelih hewan ada 2:</h3>
<p><strong>Nahr</strong> [arab: نحر], menyembelih hewan dengan melukai bagian tempat kalung (pangkal leher). Ini adalah cara menyembelih hewan unta.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ الله لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ الله عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا</p>
<p><em>Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah&#8230; </em>(QS. Al Haj: 36)</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> menjelaskan ayat di atas, (Untanya) berdiri dengan tiga kaki, sedangkan satu kaki kiri depan diikat. (<em>Tafsir Ibn Katsir</em> untuk ayat ini)</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>, beliau mengatakan, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat menyembelih unta dengan posisi kaki kiri depan diikat dan berdiri dengan tiga kaki sisanya. (HR. Abu daud dan disahihkan Al-Albani).</p>
<p><strong>Dzabh</strong> [arab: ذبح], menyembelih hewan dengan melukai bagian leher paling atas (ujung leher). Ini cara menyembelih umumnya binatang, seperti kambing, ayam, dst.</p>
<p>Pada bagian ini kita akan membahas tata cara Dzabh, karena Dzabh inilah menyembelih yang dipraktikkan di tempat kita -bukan <em>nahr</em>-.</p>
<h3>Beberapa adab yang perlu diperhatikan:</h3>
<p><strong>1.</strong> Hendaknya yang menyembelih adalah <em>shohibu</em>l kurban sendiri, jika dia mampu. Jika tidak maka bisa diwakilkan orang lain, dan <em>shohibul</em> kurban disyariatkan untuk ikut menyaksikan.</p>
<p><strong>2.</strong> Gunakan pisau yang setajam mungkin. Semakin tajam, semakin baik. Ini berdasarkan hadis dari Syaddad bin Aus <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْح وَ ليُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p><strong>3.</strong> Tidak mengasah pisau dihadapan hewan yang akan disembelih. Karena ini akan menyebabkan dia ketakutan sebelum disembelih. Berdasarkan hadis dari Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>,</p>
<p class="arab">أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِّ الشِّفَارِ ، وَأَنْ تُوَارَى عَنِ الْبَهَائِمِ</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).</p>
<p><strong>4.</strong> Menghadapkan hewan ke arah kiblat.<br />
Disebutkan dalam <em>Mausu&#8217;ah Fiqhiyah</em>:<br />
Hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih (lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (<em>Mausu&#8217;ah Fiqhiyah Kuwaitiyah</em>, 21:196).<br />
Dengan demikian, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memosisikan kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.</p>
<p><strong>5. </strong>Membaringkan hewan di atas lambung sebelah kiri.<br />
Imam An-Nawawi mengatakan,<br />
Terdapat beberapa hadis tentang membaringkan hewan (tidak disembelih dengan berdiri, <em>pen.</em>) dan kaum muslimin juga sepakat dengan hal ini. Para ulama sepakat, bahwa cara membaringkan hewan yang benar adalah ke arah kiri. Karena ini akan memudahkan penyembelih untuk memotong hewan dengan tangan kanan dan memegangi leher dengan tangan kiri. (<em>Mausu&#8217;ah Fiqhiyah Kuwaitiyah</em>, 21:197).</p>
<p>Penjelasan yang sama juga disampaikan Syekh Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan, &#8220;Hewan yang hendak disembelih dibaringkan ke sebelah kiri, sehingga memudahkan bagi orang yang menyembelih. Karena penyembelih akan memotong hewan dengan tangan kanan, sehingga hewannya dibaringkan di lambung sebelah kiri. (<em>Syarhul Mumthi&#8217;</em>, 7:442).</p>
<p><strong>6.</strong> Menginjakkan kaki di leher hewan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">ضحى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم بكبشين أملحين، فرأيته واضعاً قدمه على صفاحهما يسمي ويكبر</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkurban dengan dua ekor domba. Aku lihat beliau meletakkan meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah &#8230;. (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>7.</strong> Bacaan ketika hendak menyembelih.<br />
Beberapa saat sebelum menyembelih, harus membaca <em>basmalah</em>. Ini hukumnya wajib, menurut pendapat yang kuat. Allah berfirman,</p>
<p>وَ لاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ الله عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ..</p>
<p><em>Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan</em>. (QS. Al-An&#8217;am: 121).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>8.</strong> Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah<br />
Dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,&#8230;beliau sembelih dengan tangannya, dan baca basmalah serta bertakbir&#8230;. (HR. Al Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>9.</strong> Pada saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang jadi tujuan dikurbankannya herwan tersebut.<br />
Dari Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan, &#8216;bismillah wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.&#8217;” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan disahihkan Al-Albani).<br />
Setelah membaca bismillah Allahu akbar, dibolehkan juga apabila disertai dengan bacaan berikut:<br />
<em>hadza minka wa laka</em>.” (HR. Abu Dawud, no. 2795) Atau<br />
<em>hadza minka wa laka ’anni</em> atau <em>’an fulan</em> (disebutkan nama <em>shohibul</em> kurban). Jika yang menyembelih bukan <em>shohibul</em> kurban atau<br />
Berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, ”<em>Allahumma taqabbal minni</em> atau <em>min fulan</em> (disebutkan nama <em>shohibul</em> kurban).” [1]</p>
<p>Catatan: Bacaan takbir dan menyebut nama sohibul kurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Sehingga kurban tetap sah meskipun ketika menyembelih tidak membaca takbir dan menyebut nama sohibul kurban.</p>
<p><strong>10.</strong> Disembelih dengan cepat untuk meringankan apa yang dialami hewan kurban.<br />
Sebagaimana hadis dari Syaddad bin Aus di atas.</p>
<p><strong>11.</strong> Pastikan bahwa bagian tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri) telah pasti terpotong.<br />
Syekh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan (dinukil dari<em> Salatul Idain</em> karya Syekh Sa&#8217;id Al-Qohthoni):</p>
<ol>
<li> Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya halal menurut semua ulama.</li>
<li>Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher. Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya di bawah kondisi yang pertama.</li>
<li>Terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat leher. Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Dalilnya adalah sabda Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</li>
</ol>
<p class="arab">ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكل، ليس السن والظفر</p>
<p><em>“Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku.&#8221;</em> (HR. Al Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>12.</strong> Sebagian ulama menganjurkan agar membiarkan kaki kanan bergerak, sehingga hewan lebih cepat meregang nyawa.<br />
Imam An-Nawawi mengatakan, &#8220;Dianjurkan untuk membaringkan sapi dan kambing ke arah kiri. Demikian keterangan dari Al-Baghawi dan ulama Madzhab Syafi&#8217;i. Mereka mengatakan, &#8220;Kaki kanannya dibiarkan&#8230;(<em>Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab</em>, 8:408)</p>
<p><strong>13.</strong> Tidak boleh mematahkan leher sebelum hewan benar-benar mati.<br />
Para ulama menegaskan, perbuatan semacam ini hukumnya dibenci. Karena akan semakin menambah rasa sakit hewan kurban. Demikian pula menguliti binatang, memasukkannya ke dalam air panas dan semacamnya. Semua ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah dipastikan hewan itu benar-benar telah mati.</p>
<p>Dinyatakan dalam <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, &#8220;Para ulama menegaskan makruhnya memutus kepala ketika menyembalih dengan sengaja. Khalil bin Ishaq dalam <em>Mukhtashar</em>-nya untuk Fiqih Maliki, ketika menyebutkan hal-hal yang dimakruhkan pada saat menyembelih, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">وتعمد إبانة رأس</p>
<p>“Diantara yang makruh adalah secara sengaja memutus kepala” (<em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, no. 93893).<br />
Pendapat yang kuat bahwa hewan yang putus kepalanya ketika disembelih hukumnya halal.<br />
Imam Al-Mawardi –salah satu ulama Madzhab Syafi&#8217;i– mengatakan, &#8220;Diriwayatkan dari Imran bin Husain <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa beliau ditanya tentang menyembelih burung sampai putus lehernya? Sahabat Imran menjawab, &#8216;boleh dimakan.&#8221;<br />
Imam Syafi&#8217;i mengatakan,</p>
<p class="arab">فإذا ذبحها فقطع رأسها فهي ذكية</p>
<p>“Jika ada orang menyembelih, kemudian memutus kepalanya maka statusnya sembelihannya yang sah” (<em>Al-Hawi Al-Kabir</em>, 15:224).</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><em>=====<br />
</em></p>
<p>[1].<em> Tata Cara Kurban Tuntunan Nabi</em>, Hal. 92.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait <strong>tata cara menyembelih</strong> hewan kurban:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hewan-sembelihan" rel="nofollow" target="_blank">Syarat Halalnya Hewan Sembelihan</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/mengupah-penjagal-kurban-dengan-kulit-hewan-kurban" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Mengupah Penjagal Hewan Kurban Dengan Kulit Hewan Kurban</a>.</p>
<p>Keyword: <em>tata cara menyembelih</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-menyembelih-sesuai-sunah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Paham Haji Akbar</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/salah-paham-haji-akbar/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/salah-paham-haji-akbar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 05:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[berhaji]]></category>
		<category><![CDATA[daging kurban]]></category>
		<category><![CDATA[ebook kurban]]></category>
		<category><![CDATA[haji akbar]]></category>
		<category><![CDATA[haji badal]]></category>
		<category><![CDATA[haji mabrur]]></category>
		<category><![CDATA[jual kambing kurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[makna haji]]></category>
		<category><![CDATA[tatacara haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8285</guid>
		<description><![CDATA[Salah Paham Haji Akbar Assalamualaikum. Saya mau bertanya, apakah haji akbar itu ? Benarkah haji akbar adalah hari wukuf yang jatuh pada hari jumat ? Dan mohon penjelasan arti hari nahr ? Terimakasih. Jawaban: Wa &#8216;alaikumussalam Salah Paham Haji Akbar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Salah Paham Haji Akbar</h2>
<p>Assalamualaikum. Saya mau bertanya, apakah <strong>haji akbar</strong> itu ?<br />
Benarkah <strong>haji akbar</strong> adalah hari wukuf yang jatuh pada hari jumat ?<br />
Dan mohon penjelasan arti hari nahr ?<br />
Terimakasih.<br />
<span id="more-8285"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumussalam</em></p>
<h3>Salah Paham Haji Akbar</h3>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ</p>
<p><em>“Pengumuman dari Allah dan rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari orang musyrik&#8230;”</em> (QS. At-Taubah: 3)</p>
<p>Kemudian dalam sebuah hadis, dari Abu Hurairah<em> radhiallahu &#8216;anhu</em>, ia mengatakan, &#8220;Abu Bakr As-Siddiq <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> mengutusku ketika musim haji yang diperintahkan <em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebelum musim haji wada&#8217;, bersama sekelompok kaum muslim. Mereka mengumumkan kepada masyarakat pada hari nahr (Idul Adha),</p>
<p class="arab">لا يحج بعد العام مشرك ولا يطوف بالبيت عريان</p>
<p><em>“Setelah tahun ini, orang musyrik tidak boleh berhaji dan orang yang telanjang tidak boleh lagi tawaf di kakbah.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Berdasarkan ayat dan hadis di atas, maka makna hari <u>haji akbar</u> adalah hari dimana Abu Bakr bersama kaum muslim yang lain, mengumumkan kepada masyarakat Mekah bahwa orang musyrik tidak boleh lagi melakukan haji di kakbah. Ini menunjukkan bahwa hari haji akbar adalah hari nahr (Idul Adha), karena pengumuman tersebut dilakukan pada saat Idul Adha.</p>
<p>Imam An-Nawawi menjelaskan dalam <em>Syarh Sahih Muslim</em>, bahwa Ibnu Syihab mengatakan, &#8220;Humaid bin Abdurrahman mengatakan, &#8216;Hari nahr (Idul Adha) adalah hari haji akbar, berdasarkan hadis Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> di atas.&#8221; Kemudian Imam An-Nawawi memberi keterangan,</p>
<p class="arab">معنى قول حميد بن عبد الرحمن إن الله تعالى قال وأذان من الله ورسوله إلى الناس يوم الحج الأكبر ففعل أبو بكر وعلي وأبو هريرة وغيرهم من الصحابة هذا الأذان يوم النحر بإذن النبي صلى الله عليه و سلم</p>
<p>“Makna perkataan Humaid bin Abdirrahman, firman Allah &#8216;Pengumuman dari Allah dan rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar,&#8230;&#8217; kemudian penyampaian pengumuman ini dilakukan Abu Bakr, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan para sahabat yang lainnya pada saat hari Idul Adha, dengan izin dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.” (<em>Syarh Sahih Muslim</em> karya An-Nawawi, 9:116).</p>
<p>Imam An-Nawawi juga mengatakan, &#8220;Ulama berselisih pendapat mengenai apa yang dimaksud hari haji akbar. Ada yang mengatakan, hari <em>Arafah</em>. Sementara Imam Malik, Imam as-Syafi&#8217;i, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa <strong>haji akbar</strong> adalah hari <em>Nahr</em> (Idul Adha)&#8230; sebagian ulama menjelaskan, &#8216;Dinamakan hari haji akbar, untuk membedakannya dengan haji <em>Asghar</em>, yaitu umrah.&#8221; (<em>Syarh Sahih Muslim</em> karya An-Nawawi, 9:116).</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, &#8220;Ulama berbeda pendapat tentang makna haji asghar. Mayoritas ulama berpendapat bahwa haji asghar adalah umrah. Ada juga yang mengatakan, &#8216;Haji asghar adalah hari arafah (9 Dzulhijah) dan haji akbar adalah Idul Adha&#8217;. Karena di hari Idul Adha merupakan penyempurna kegiatan manasik haji yang belum dilakukan.&#8221; (<em>Fathul Bari Syarh Sahih Bukhari</em>, 8:321).</p>
<p>Dari keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penamaan haji akbar pada dasarnya adalah untuk membedakan dengan umrah atau dengan kegiatan haji yang lain. Sehingga tidak hubungannya dengan wukuf yang jatuh pada hari jumat. Disebutkan dalam <em>Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami&#8217; TIrmudzi</em>:</p>
<p class="arab">قد اشتهر بين العوام أن يوم عرفة إذا وافق يوم الجمعة كان الحج حجا أكبر ولا أصل له</p>
<p>“Terkenal di tengah masyarakat awam, bahwa hari arafah, apabila bertepatan dengan hari jumat maka hajinya adalah haji akbar. Dan ini adalah pendapat yang tidak ada dasarnya.” (<em>Tuhfatul Ahwadzi Syarh Turmudzi</em>, 4:27).<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Disadur dari:</strong> <em>http://www.islamweb.net/fatwa</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait <strong>haji akbar</strong>:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/amalan-bulan-dzulhijjah" rel="nofollow" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Dzulhijjah</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/jika-wanita-haji-tanpa-mahram" rel="nofollow" target="_blank">Jika Wanita haji Tanpa Mahram</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-haji-untuk-orang-lain" target="_blank" rel="nofollow">Menghajikan Orang Lain</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/sisa-uang-haji" target="_blank" rel="nofollow">Mengambil Sisa Uang Haji Milik Orang Lain</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/amal-pahala-setara-haji" target="_blank" rel="nofollow">Amalan yang Pahalanya Setara dengan Haji</a>.</p>
<p>Kata Kunci: <strong>haji akbar</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/salah-paham-haji-akbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Wanita Haji Tanpa Mahram</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/jika-wanita-haji-tanpa-mahram/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/jika-wanita-haji-tanpa-mahram/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 00:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[perang istriku haji mahram]]></category>
		<category><![CDATA[safar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4469</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Jika ada seorang wanita yang berangkat haji tanpa mahram, apakah dia wajib mengulangi hajinya? (haji yang pertama batal) Jawaban: Seorang wanita berhaji tanpa mahram berarti dia telah bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena Nabi shallallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika ada seorang wanita yang berangkat haji tanpa <em>mahram</em>, apakah dia wajib mengulangi hajinya? (haji yang pertama batal)<br />
<span id="more-4469"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Seorang wanita berhaji tanpa mahram berarti dia telah bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali dengan mahram.&#8217;</em> Kemudian ada seseorang yang bertanya, &#8216;<em>Wahai Rasulullah, istri saya ingin berangkat haji, padahal saya telah tercatat sebagai pasukan perang ini.&#8217;</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,<em> &#8216;Berangkatlah haji bersama istrimu.&#8217;”</em></p>
<p>Wanita yang berangkat haji tanpa mahram, hajinya sah dan tidak perlu diulangi lagi. Namun dia memiliki kewajiban bertaubat kepada Allah dan meminta ampun atas perbuatan yang dia lakukan.</p>
<p>Sumber: <em>Liqa&#8217;at Bab Al Maftuh</em>, volume: 3, no. 33.<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/jika-wanita-haji-tanpa-mahram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah dengan Membaca Talbiyah Berarti Kita Berniat Memasuki Ibadah haji?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/talbiyah-memasuki-ibadah-haji/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/talbiyah-memasuki-ibadah-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 02:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa boleh dilafalkan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3107</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah niat masuk ibadah haji itu dimulai ketika kita membaca bacaan talbiyah? Jawaban: Talbiyah adalah dengan mengatakan “labbaika umratan” jika untuk umrah dan “labbaika hajjan” jika untuk haji. Sedangkan niat tidak boleh dilafalkan, sehingga kita tidak boleh -misalnya- mengatakan, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah niat masuk ibadah haji itu dimulai ketika kita membaca bacaan <em>talbiyah</em>?<br />
<span id="more-3107"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Talbiyah</em> adalah dengan mengatakan “l<em>abbaika umratan</em>” jika untuk umrah dan “<em>labbaika hajjan</em>” jika untuk haji. Sedangkan niat tidak boleh dilafalkan, sehingga kita tidak boleh -misalnya- mengatakan, “<em>Ya Allah, saya berniat umrah atau berniat haji.</em>” Cara semacam ini tidak diriwayatkan dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji (Fatawa Arkanul Islam)</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darul Falah, 2007.<br />
(Dengan pengubahan tata bahasa oleh www.konsultasi syariah.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/talbiyah-memasuki-ibadah-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Orang Melewati Miqat Tanpa Niat Ihram</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/lewat-miqat-tanpa-niat-ihram/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/lewat-miqat-tanpa-niat-ihram/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Nov 2010 04:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan niat puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[lupa sahur niat setelah subuh]]></category>
		<category><![CDATA[niat ihram dimiqat]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa sunnah sekaligus qodlo puasa wajib]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3098</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana hukumnya orang yang telah melewati miqat tanpa berniat ihram? Jawaban: Orang yang telah melewati miqat tetapi belum berniat ihram tidak lepas dari dua hal: Pertama, jika dia ingin melaksanakan haji atau umrah, maka dia harus kembali ke miqat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</p>
<p></strong>Bagaimana hukumnya orang yang telah melewati <em>miqat </em>tanpa berniat ihram?<br />
<span id="more-3098"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Orang yang telah melewati <em>miqat</em> tetapi belum berniat ihram tidak lepas dari dua hal:</p>
<p><strong><em>Pertama,</em></strong> jika dia ingin melaksanakan haji atau umrah, maka dia harus kembali ke <em>miqat</em> itu untuk berniat ihram darinya, baik untuk haji atau umrah. Jika dia tidak melaksanakannya, dia telah meninggalkan salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban ibadah haji. Menurut ulama, dia harus membayar <em>fidyah </em>dengan menyembelih hewan kurban di Mekkah dan membagikannya kepara orang-orang fakir miskin di sana.</p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> adapun jika dia melewatinya tetapi tidak ingin melaksanakan haji atau umrah, naka tidak apa-apa, baik dia akan tinggal di kota Mekkah dalam waktu yang lama atau sebentar. Demikian itu karena jika kami mewajibkannya untuk melakukan ihram dari <em>miqat </em>ketika dia melewati tempat ini, tentu haji atau umrah diwajibkan kepadanya lebih dari sekali. Padahal telah dijelaskan oleh Nabi s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa haji tidak diwajibkan kecuali hanya sekali, sedangkan selebihnya disebut sunnah. Inilah pendapat yang kuat di antara pendapat-pendapat ahlul ilmi tentang orang yang melewati <em>miqat</em> tanpa berniat ihram, atau jika dia tidak menghendaki haji dan umrah maka tidak apa-apa dan dia tidak wajib ihram dari <em>miqat.</em></p>
<p>Sumber: <em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji (Fatawa Arkanul Islam)</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darul Falah, 2007.<br />
(Dengan pengubahan tata bahasa oleh www.konsultasisyariah.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/lewat-miqat-tanpa-niat-ihram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

