tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Qurban

hukum urunan qurban kambing

Patungan Hewan Qurban

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Ustadz. Saya ingin bertanya. Teman-teman saya di kampus ingin berlatih berqurban. Rata-rata kami belum mampu membeli hewan qurban individual jadi kami berniat ‘patungan‘ untuk membeli hewan qurban. Apakah bisa berqurban diniatkan beramai-ramai seperti itu? Atau jadinya berniat sedekah saja? Terima kasih. Jazakumullah khairan katsiran

Dari: Refita Putriana

Jawaban:

Wa’alaikumus salam

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Dalam Ahkamul Udhiyah wa Dzakah (hlm. 26) dinyatakan bahwa kongsi atau gabungan beberapa orang dalam kegiatan berqurban itu ada dua:

Pertama, kongsi dalam pahala.

Yang dimaksud kongsi pahala, seorang shohibul qurban (pemilik hewan qurban) menyembelih hewan qurbannya dengan menyertakan beberapa orang untuk turut mendapatkan pahalanya. Kongsi semacam ini dibolehkan, sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa dalil berikut:

A. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengisahkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan kambing bertanduk, berdiri dengan kaki belang hitam, duduk di atas perut belang hitam, melihat dengan mata belang hitam. Kemudian beliau menyuruh Aisyah untuk mengambilkan pisau dan mengasahnya. Setelah kambingnya beliau baringkan, beliau membaca:

بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Bismillah, Ya Allah, terimalah qurban dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad – shallallahu ‘alaihi wa sallam – .” (HR. Muslim no. 1967)

B. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengikuti shalat idul adha bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di lapangan. Setelah selesai berkhutbah, beliau turun dari mimbar dan mendatangi kambing qurban beliau. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا عَنِّي، وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

Bismillah, wallahu akbar, ini qurban dariku dan dari umatku yang tidak berqurban. (HR. Ahmad 14837, Abu Daud 2810 dan dishahihkan Al-Albani).

Pada pernyataan di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan keluarga beliau dan umat beliau dalam pahala qurban yang beliau sembelih. Padahal saat itu, beliau hanya menyembelih kambing. Sehingga seluruh umat beliau yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala dari qurban beliau. (simak Ahkam Al-Idain fi As-Sunnah Al-Muthahharah, Ali bin Hasan Al-Halabi, hlm. 79).

Kedua, kongsi dalam kepemilikan

Dalam arti beberapa orang urunan untuk membeli seekor hewan qurban.
Untuk kongsi jenis ini hukumnya tidak dibolehkan, kecuali untuk sapi dan onta, dengan jumlah peserta kongsi maksimal 7 orang. Sedangkan kambing, hanya boleh menjadi milik satu orang.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan, “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan haji.

فأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل والبقر، كل سبعة منا في بدنة

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami urunan untuk berqurban onta atau sapi. Setiap tujuh orang diantara kami, berqurban seekor sapi atau onta. (HR. Muslim no. 1318).

Ketentuan bolehnya urunan dalam qurban, hanya boleh untuk sapi atau onta.

Oleh karena itu, praktek di beberapa sekolah, kampus, atau perusahaan, dengan mengadakan urunan untuk membeli seekor kambing, tidak bisa dinilai sebagai qurban. Karena kambing hasil urunan ini menjadi milik semua peserta urunan. Sehingga tidak memenuhi syarat jumlah kepemilikan.

Ketika kegiatan qurban tidak memenuhi persyaratan untuk bisa disebut qurban maka hewan yang disembelih hanya bisa disebut kambing untuk mendapatkan daging. Sebagaimana dulu pernah ada sahabat yang menyembelih kambing untuk qurban sebelum shalat id, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya:

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanya kambing daging.” (HR. Bukhari 955, Abu Daud 280).

Artinya, penyembelihan kambing ini tidak bernilai sebagai ibadah qurban, karena dilakukan sebelum waktunya, sehingga tidak mendapatkan pahala qurban.

Solusi:

Kambing ini bisa menjadi hewan qurban, jika dihadiahkan ke seseorang. Baik anggota yang ikut urunan atau orang lain. Misal dihadiahkan ke gurunya, dosennya, atau salah satu peserta urunan yang disepakati bersama. Sehingga kambing ini menjadi milik satu orang. Selanjutnya dia bisa berqurban dengan kambing itu, dan boleh menyertakan orang lain untuk turut mendapatkan pahalanya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Qurban di hari jumat

Menunda Menyembelih Qurban Karena Hari Jumat

Pertanyaan:

Apabila idul adha jatuh pada hari jum’at, kemudian panitia memutuskan tidak melakukan penyembelihan pada hari jum’at dan dipindah ke hari sabtu, dengan alasan tanggung, waktunya sempit, karena harus shalat jum’at, bagaimana hal tersebut menurut hukum syar’i, apakah kita boleh ikut ketentuan panitia sehingga melaksanakan penyembelihan pada hari tasyrik?

Dari: Sdr. Aris budi santoso

Jawaban:

Mencacah Daging Qurban di dalam Masjid

Tanya:
Di beberapa tempat di DIY, penyembelihan dilakukan di lingkungan masjid. Bahkan mencacah dan membagi daging-pun di dalam masjid. Bagaimana hukum masalah ini?
Nur, Wedo.

Jawab

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

Satu tradisi yang banyak tersebar di masyarakat kita, menyembelih qurban di lingkungan masjid dan mencacah daging untuk pembagian yang dilakukan di dalam masjid. Bagi masyarakat yang kurang perhatian dengan kebersihan, fenomena ini dianggap sebagai masalah biasa. Apalagi ketika mereka kurang terdidik untuk memuliakan masjid.

Ada beberapa catatan penting yang bisa kita kupas terkait kasus mencacah daging qurban di dalam masjid:

Serba-serbi Fikih Qurban

Kumpulan artikel kali ini akan mengajak anda untuk memahami berbagai masalah menarik lainnya terkait ibadah qurban.

1. Qurban dulu atau Aqiqah dulu?
Banyak orang merasa enggan untuk melakukan qurban ketika dia belum diaqiqahi. Barangkali anggapan ini bertentangan dengan keterangan ulama di artikel ini.

2. Bolehkah menggabungkan aqiqah dengan qurban?
Ketika ada orang yang memiliki keterbatasan dana, atau waktu penyelenggaraan aqiqah bertepatan dengan idul qurban, bolehkah dua ibadah ini digabungkan?

3. Bolehkah arisan qurban?
Kegiatan ini marak di beberapa kampung. Ketika biaya qurban tidak bisa diwujudkan seketika. Tapi masalahnya, melibatkan dana banyak orang. Sahkah qurban dengan model semacam ini?

4. Bolehkah qurban online?
Dunia online telah mempengaruhi model ibadah masyarakat. Salah satunya berqurban. Ketika seseorang tidak memungkinkan berqurban di tempat domisilinya, sekrang dimudahkan dengan mengirim rekening ke lembaga pelayanan pelaksanaan qurban. Bagaimana hukumnya?

5. Bolehkah memberikan hewan qurban untuk non muslim?
Untuk menemukan jawaban ini, anda perlu mengenal macam-macam orang kafir.

Semoga bermanfaat.

niat qurban

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Masalah niat, telah menjadi masalah sangat penting dalam ibadah seorang mukmin. Wajar saja jika tema ini menjadi pertanyaan yang cukup banyak di konsultasisyariah.com. Pada kesempatan ini, sejenak akan kita bahas tentang niat dalam berqurban.

amalan dzulhijjah

Memang tidak ada hadits khusus yang menunjukkan anjuran terhadap hal ini. Akan tetapi anjuran berpuasa pada hari-hari ini sudah tercakup dalam keumuman hadits karena puasa termasuk amal salih.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam al-Liqa’ asy-Syahri (no. 26):

Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر – أي: عشر ذي الحجة- قالوا: يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء

“Tidaklah ada suatu hari yang beramal salih pada hari-hari itu lebih dicintai Allah daripada beramal pada sepuluh hari ini –yaitu sepuluh hari awal Dzulhijjah-.” Mereka [para sahabat] bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah jihad fi sabilillah juga tidak lebih utama darinya?”. Beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang berangkat berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu dia kembali dalam keadaan tidak membawa apa-apa dari itu semua (alias mati syahid, pent).” [1]

Hadits ini menunjukkan bahwa seyogyanya kita memperbanyak amal salih pada sepuluh hari awal Dzulhijjah… Dan semestinya kita juga mengerjakan puasa pada sepuluh hari itu; karena puasa termasuk bentuk amal salih. Memang tidak ada hadits khusus yang menunjukkan anjuran terhadapnya. Akan tetapi anjuran ini sudah termasuk dalam keumuman hadits tersebut, karena puasa termasuk dalam kategori amal salih. Oleh sebab itu, seyogyanya kita berpuasa pada sembilan hari yang pertama, karena hari yang kesepuluh adalah hari raya (Iedul Adha) sehingga tidak boleh berpuasa pada hari itu. Anjuran puasa ini semakin diperkuat pada hari Arafah kecuali bagi para jama’ah haji.

Catatan Akhir:
[1] HR. Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma

Sumber : تبشير الإخوة بثبوت سُنِّية صوم أيام عشر ذي الحجة (Tabsyir al-Ikhwah bi Tsubut Sunniyati Shaumi Ayyami ‘Asyara Dzilhijjah) karya Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad bin Abdurrahman al-Junaid.

Makalah beliau selengkapnya dapat Anda download di situs: http://islamancient.com/play.php?catsmktba=102101

Oleh Ustadz Ari Wahyudi

SOCIAL

7,696FansLike
3,364FollowersFollow
28,819FollowersFollow
58,036SubscribersSubscribe

RAMADHAN