tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Qurban

puasa tarwiyah

Puasa Tarwiyah

Apa itu hari tarwiyah? Adakah puasa hari tarwiyah?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Hari tarwiyah adalah tanggal 8 Dzulhijjah. Istilah tarwiyah berasal dari kata tarawwa [arab: تَرَوَّى] yang artinya membawa bekal air. Karena pada hari itu, para jamaah haji membawa banyak bekal air zam-zam untuk persiapan arafah dan menuju Mina. Mereka minum, memberi minum ontanya, dan membawanya dalam wadah.

Ibn Qudamah menjelaskan asal penamaan ini,

سمي بذلك لأنهم كانوا يتروون من الماء فيه، يعدونه ليوم عرفة. وقيل: سمي بذلك؛ لأن إبراهيم – عليه السلام – رأى ليلتئذ في المنام ذبح ابنه، فأصبح يروي في نفسه أهو حلم أم من الله تعالى؟ فسمي يوم التروية

Dinamakan demikian, karena para jamaah haji, mereka membawa bekal air pada hari itu, yang mereka siapkan untuk hari arafah. Ada juga yang mengatakan, dinamakan hari tarwiyah, karena Nabi Ibrahim ’alaihis salam pada malam 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi menyembelih anaknya. Di pagi harinya, beliau yarwi (berbicara) dengan dirinya, apakah ini mimpi kosong ataukah wahyu Allah? Sehingga hari itu dinamakan hari tarwiyah. (al-Mughni, 3/364).

Puasa Tarwiyah

Terdapat hadis yang secara khusus menganjurkan puasa di hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah). Hadis itu menyatakan,

مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

”Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun.”

Hadis ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’.

Para ulama menegaskan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengatakan,

وهذا حديث لا يصح . قَالَ سُلَيْمَان التَّيْمِيّ : الطبي كذاب . وَقَالَ ابْن حِبَّانَ : وضوح الكذب فِيهِ أظهر من أن يحتاج إِلَى وصفه

Hadis ini tidak shahih. Sulaiman at-Taimi mengatakan, ’at-Thibbi seorang pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan.’ (al-Maudhu’at, 2/198).

Keterangan serupa juga disampaikan as-Syaukani (wafat 1255 H). Ketika menjelaskan status hadis ini, beliau mengatakan,

رواه ابن عدي عن عائشة مرفوعاً ولا يصح وفي إسناده : الكلبي كذاب

Hadis ini disebutkan oleh Ibn Adi dari A’isyah secara marfu’. Hadis ini tidak shahih, dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Kalbi, seorang pendusta. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 1/45).

Keterangan di atas, cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa hadis di atas adalah hadis yang tidak bisa jadi dalil. Karena itu, tidak ada keutamaan khusus untuk puasa tarwiyah.

Bolehkah Puasa Tarwiyah?

Keterangan di atas tidaklah melarang anda untuk berpuasa di hari tarwiyah. Keterangan di atas hanyalah memberi kesimpulan bahwa tidak ada keutamaan khusus untuk puasa tarwiyah.

Kita tetap dianjurkan untuk memperbayak puasa selama tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Dan tentu saja, hari tarwiyah masuk di dalam rentang itu. Dari Ummul Mukminin, Hafshah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani).

Demikian pula hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Turmudzi).

Kemudian syariat memberikan keutamaan khusus untuk puasa tanggal 9 Dzulhijjah (hari arafah), dimana puasa pada hari ini akan menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده

“…puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad dan Muslim).

Namun keutamaan semacam ini tidak kita jumpai untuk puasa tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah). Karena hadis yang menyebutkan keutamaan puasa tariwiyah adalah hadis palsu.

Kesimpulannya, kita disyariatkan melaksanakan puasa tarwiyah, mengingat adanya anjuran memperbanyak puasa selama 9 hari pertama Dzulhijjah, namun kita tidak boleh meyakini ada keutamaan khusus untuk puasa di tanggal 8 Dzulhijjah.

Allahu a’lamkaos polo muslim

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

amalan bulan dzulhijjah yang dikerjakan

Sunah Yang Hilang di Bulan Dzulhijjah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Di indonesia, suasana semarak ibadah masyarakat, kita jumpai ketika datang bulan ramadhan. Masjid yang biasanya sepi dari jamaah, mendadak membludak ketika taraweh pertama. Jamaah subuh yang umumnya dihadiri 2 orang (imam dan muadzin), bisa menjadi puluhan orang. Bahkan orang yang setahun tidak pernah menyentuh masjid, tiba-tiba berada di shaf paling pertama ketika shalat jamaah subuh.

Semua peristiwa itu, hanya kita jumpai di bulan ramadhan. Banyak kaum muslimin telah sadar, ramadhan merupakan momen terbesar untuk mendapatkan ribuan pahala. Barangkali ini bagian dari jasa besar para khatib, yang terus memotivasi masyarakat untuk menyemarakkan ramadhan, menyambut ramadhan dengan berbagai amal ibadah dan ketaatan. Ramadhan menjadi bulan yang identik dengan semarak ibadah kaum muslimin. Walhamdu lillah…kaos polo muslim

Sayangnya, suasana semarak ibadah semacam ini tiba-tiba sirna begitu ramadhan berlalu. Seolah bulan suci untuk ladang pahala, hanyalah bulan ramadhan.

Bulan Dzulhijjah, Terlupakan?

Lain halnya bulan Dzulhijjah. Masyarakat kita belum banyak yang menyadari bahwa Dzulhijjah termasuk bulan yang istimewa. Padahal banyak dalil yang menunjukkan bahwa di bulan Dzulhijjah, amal soleh dilipat gandakan. Sebagaimana pahala yang dijanjikan ketika ramadhan. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ

”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadlan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan bulan Dzulhijjah dengan Ramadhan. Sebagai motivasi beliau menyebutkan bahwa pahala amal di dua bulan ini tidak berkurang.

Rentang waktu yang paling mulia ketika Dzulhijjah adalah 10 hari pertama. Di surat al-Fajr, Allah berfirman:

وَ الْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr: 1 – 2)

Ibn Rajab menjelaskan, malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Inilah tafsir yang benar dan tafsir yang dipilih mayoritas ahli tafsir dari kalangan sahabat dan ulama setelahnya. Dan tafsir inilah yang sesuai dengan riwayat dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma…” (Lathaiful Ma’arif, hal. 469)

Allah bersumpah dengan menuebut sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Yang ini menunjukkan keutamaan sepuluh hari tersebut. Karena semua makhluk yang Allah jadikan sebagai sumpah, adalah makhluk istimewa, yang menjadi bukti kebesaran dan keagungan Allah.

Karena itulah, amalan yang dilakukan selama 10 hari pertama Dzulhijjah menjadi amal yang sangat dicintai Allah. Melebihi amal soleh yang dilakukan di luar batas waktu itu. Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Ahmad 1968, Bukhari 969, dan Turmudzi 757).

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah dan tidak ada yang lebih besar pahalanya dari pada kebaikan yang dia kerjakan pada sepuluh hari al-Adha.” (HR. Ad-Daruquthni, dan dihasankan oleh al-Albani)

Al-Hafidz Ibn Rajab mengatakan, Hadis ini menunjukkan bahwa beramal pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah lebih dicintai di sisi Allah dari pada beramal pada hari-hari yang lain, tanpa pengecualian. Sementara jika suatu amal itu lebih dicintai Allah, artinya amal itu lebih utama di sisiNya. (Lathaiful Ma’arif, hal. 456).

Diceritakan oleh Al Mundziri dalam At Targhib wa At Tarhib (2/150) bahwa Sa’id bin Jubair (Murid senior Ibn Abbas), ketika memasuki tanggal satu Dzulhijjah, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, sampai hampir tidak mampu melakukannya.

Saatnya Membangun Kesadaran Masyarakat

Memahami hal ini, saatnya kita menyadarkan masyarakat. Kita ajak mereka untuk bersama-sama menyemarakkan 10 hari pertama Dzulhijjah dengan berbagai amal soleh dan ibadah, sebagaimana ketika mereka menyemarakkan bulan ramadhan. Jadikan kesempatan 10 hari pertama sebagai ladang untuk mendulang jutaan pahala.

Lebih dari itu, ada beberapa amal soleh yang dianjurkan untuk dikerjakan selama 10 hari pertama Dzulhijjah, diantaranya:

  • Memperbanyak puasa sunah selama 9 hari pertama
  • Memperbanyak takbiran dan dzikir.
  • Banyak melakukan amal soleh apapun bentuknya.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Amalan Bulan Dzulhijjah

allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

hari arafah

Hari Arafah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Hari itu, 9 Dzul Hijjah tahun 10 H (peristiwa haji wada), merupakan momen paling bersejarah di padang Arafah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia yang paling dicintai Allah, bersama ratusan ribu sahabatnya, sedang menunaikan rukun Islam yang kelima.

Inilah haji pertama sekaligus terakhir yang beliau tunaikan, setelah diangkat menjadi Nabi. Benar-benar peristiwa langka dan momen luar biasa. Apalagi jika mengingat bahwa wukuf di Arafah adalah inti dari ritual haji. Sabda beliau,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji adalah Arafah”. (HR. Ahmad 18774, Nasai 3016, Turmudzi 889, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Gersangnya padang Arafah dan teriknya matahari, sama sekali tidak mengurungkan tekad para sahabat untuk memerhatikan dengan seksama setiap gerakan dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab beliau sendiri berulang kali mengingatkan sedari awal, agar mereka meneladani praktik manasik ini sebaik mungkin, sebab beliau mungkin takkan berjumpa lagi dengan mereka setelah itu.

Masih tertanam kuat dalam ingatan para sahabat, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggambarkan fenomena wukuf yang demikian agung tadi dalam sabdanya,

إِذَا كَانَ يَوْمُ عَرَفَةَ إِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ فَيُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا ضَاحِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ ” فَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: أَيْ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ يَزْهُو وَفُلَانٌ وَفُلَانٌ قَالَ: يَقُولُ اللَّهُ: «قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ»

“Pada hari Arafah, Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka yang wukuf di hadapan para malaikat. Allah berkata, “Lihatlah hamba-hamba-Ku itu! Mereka datang dari segala penjuru dengan rambut kusut dan tubuh berdebu… saksikanlah oleh kalian, bahwa Aku telah mengampuni mereka”. Para malaikat menyela, “Akan tetapi di sana ada si fulan dan si fulan ?”, namun kata Allah: “Aku telah mengampuni mereka”.

Lanjut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَمَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرُ عَتِيقًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Tidak ada satu hari pun yang saat itu Allah demikian banyak membebaskan manusia dari neraka, melebihi hari Arafah.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 2840 dan Ibnu Hibban no. 3853. Hadits ini dihasankan oleh Ibnu Mandah dalam kitab At Tauhid, no. 984)

Jangan anda bayangkan bahwa kondisi mereka seperti jemaah haji kita saat ini. Jemaah haji kita hanya menempuh sepuluh jam untuk tiba di tanah suci, sedangkan para sahabat harus menempuhnya dalam sepuluh hari. Jemaah kita menaiki pesawat yang full AC, sedangkan para sahabat hanya mengendarai unta dengan terpaan hawa panas gurun pasir. Makanya, dapat dipastikan bahwa setelah 10 hari lebih dalam keadaan ihram, rambut mereka pasti kusut dan berdebu.

Mereka juga tidak tinggal dalam kemah yang sejuk dengan makanan yang melimpah. Mayoritas sahabat – termasuk Rasulullah – justru melalui hari yang demikian terik tadi tanpa naungan apapun.kaos polo muslim

Singkatnya, pada hari itu terkumpullah pada mereka sejumlah faktor penting penyebab terkabulnya doa. Mulai dari kondisi yang memprihatinkan, waktu dan tempat yang mulia, hingga dekatnya Allah kepada mereka.

Dikutip dari Majalah Pengusaha Muslim edisi ke-27 Oleh: Ustadz Sufyan Baswedan.

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

menyembelih kurban malam hari

Kurban dengan Harta Zakat

Tanya:

Jika ada orang yg zakatnya 20 juta, bolehkah yg 10 juta diwujudkan dlm bentuk sapi utk dijadikan hewan qurban. Syukran

Dari: Roy Sleman

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Satu prinsip tentang harta zakat yang penting untuk selalu kita ingat, bahwa harta zakat yang harus dibayarkan oleh muzakki (wajib zakat) BUKAN harta muzakki. Harta zakat di tangan muzakki adalah harta milik 8 golongan penerima zakat, yang untuk sementara masih berada di tangan muzakki. Kewajiban muzakki adalah menyerahkan harta itu kepada delapan golongan tersebut.
Allah berfirman,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan. Sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60)

Oleh karena itu, muzakki sama sekali tidak dibenarkan menggunakan harta zakat itu untuk membeli hewan qurban. Karena berarti dianggap telah menggunakan harta orang lain tanpa izin dari pemiliknya. Meskipun pada akhirnya hewan itu akan disembelih dan dagingnnya dibagikan kepada fakir miskin.shirt polo muslim

Disamping itu, dalam ibadah qurban, pemilik hewan qurban disyariatkan untuk makan sebagian daging hewan qurbannya. Jika ini diambilkan dari harta zakatnya, berarti ada bagian zakatnya yang dia makan dan manfaatnya kembali kepada dirinya.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah ditegaskan,

فلا يجوز شراء الأضحية من مال الزكاة، لأن مال الزكاة ليس ملكاً للمزكي فينفقه في شراء أضحية أو غيرها، بل هو للأصناف الثمانية المذكورين

Tidak boleh membeli hewan qurban dengan harta zakat. Karena harta zakat bukan milik muzakki, sehingga dia bebas menggunakannya untuk membeli hewan qurban atau yang lainnya. Yang benar, harta zakat ini milik delapan golongan yang disebutkan dalam surat at-Taubah ayat 60. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 54515)

Membeli Qurban dengan Harta Sedekah

Ada sebagian orang yang memiliki kebiasaan bersedekah ketika mendapatkan tambahan harta. Bolehkah jatah sedekah rutin ini digunakan untuk membeli hewan qurban?

Untuk kasus ini, para ulama yang tergabung dalam lembaga fatwa Syabakah Islamiyah, memberikan rincian menjadi dua:

  1. Jika sedekah tersebut sebatas sedekah rutin dan bukan nadzar, maka boleh digunakan untuk membeli hewan qurban
  2. Jika sedekah tersebut telah dia nadzarkan, maka tidak boleh digunakan untuk membeli hewan qurban, dan harus diberikan kepada fakir miskin dalam bentuk uang atau harta lainnya.

Berikut keterangan lembaga fatwa Syabakah Islamiyah,

وأما شراؤها من مال الصدقة التي كنت تخرجها عند حصول الربح، فجائز إلا أن تكون تلك الصدقة واجبة عليك بالنذر، فإن كانت واجبة بالنذر لم يجز لك صرف هذا النذر في شراء الأضحية، وإنما تنفقه فيما نذرته، لأن النذر واجب، والأضحية إنما تكون من مالك لا من المال الواجب عليك إخراجه أصلاً

Membeli hewan qurban dengan harta sedekah yang anda keluarkan ketika mendapatkan keuntungan, hukumnya boleh. Kecuali jika sedekah tersebut adalah sedekah yang wajib, karena telah anda nadzarkan. Jika sedekahnya adalah sedekah wajib karena nadzar, maka tidak boleh mengalihkan nadzar ini untuk membeli hewan qurban. Namun anda harus serahkan sesuai dengan nadzar anda. Karena nadzar hukumnya wajib. Sementara qurban harus diambil dari harta anda, bukan harta yang wajib anda berikan ke orang lain.
(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 54515)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

menindik hewan kurban

Menindik Telinga Hewan Qurban

Ustadz, apa hukumnya berkurban dengan sapi yang salah satu telinganya terdapat tindik (tujuannya untuk tanda bagi hewan tersebut), dan kondisi hewan tersebut sehat (fisiknya tidak cacat). Syukron.
Jazakumullohukhoiron.

Dari: YUSRIDA HANUM NASUTION

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

رَأَيْتُ فِي يَدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِيسَمَ وَهُوَ يَسِمُ إِبِلَ الصَّدَقَةِ

”Saya melihat di tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam alat penanda, digunakan untuk menandai onta zakat.” (HR. Muslim 2119)

Dalam riwayat lain, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي مِرْبَدٍ لَهُ، فَرَأَيْتُهُ يَسِمُ شَاةً فِي آذَانِهَا

“Saya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau di mirbad (tempat untuk mengikat hewan, seperti plegungan). Saya melihat beliau memberi tanda seekor kambing di telinganya.” (HR. Ahmad 12725, Bukhari 5542, Muslim 2119, Abu Daud 2563, dan yang lainnya).

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, menukil keterangan al-Muhallab, yang menyebutkan beberapa kesimpulan dari hadis di atas. Diantaranya, beliau menyatakan,

فيه جواز إيلام الحيوان للحاجة

“Dalam hadis ini terdapat dalil, bolehnya sedikit menyakiti binatang, karena ada hajat (kebutuhan).” (Fathul Bari, 3/367).

Tujuan penandaan itu sangat jelas, agar orang bisa memahami bahwa hewan tersebut tidak tertukar dengan yang lain, dan andaikan lepas, sudah ada yang menemukannya, kemudian bisa dikembalikan.

Berdasarkan beberapa hadis di atas, Lembaga Fatwa Syar’iyah di bawah Departemen Kehakiman Abu Dhabi mengatakan bahwa menindik telinga binatang, tidak mengurangi kualitasnya untuk dijadikan hewan kurban. Artinya, hewan semacam ini bisa dijadikan sebagai hewan kurban, tanpa adanya larangan dari syariat.

Lembaga Fatwa Syar’iyah ini menyatakan,

أن “وسم الأضحية (ثقب الأذن) لأجل التعريف أو الترقيم جائز شرعاً، وما كان خفيفاً لا يزيد عن قطع ثلث الأذن لا يكره ولا يمنع إجزاء الأضحية اتفاقا، وما كان في ذلك فوق الثلث إلى النصف يجزئ مع الكراهة، وما زاد عن النصف لا يجزئ

“Menandai hewan kurban (menindik telinganya) untuk bisa dikenali atau untuk penomoran, hukumnya boleh. Cacat ringan ditelinga, yang tidak lebih dari 1/3 telinga, hukumnya tidak makruh untuk dijadikan kurban dan tidak dilarang untuk dikurbankan dengan sepakat ulama. Sementara cacat telinga lebih dari 1/3 sampai setengahnya, boleh dijadikan kurban, namun makruh. Dan jika cacat lebih dari ½, tidak sah dijadikan hewan kurban.”

Sumber: http://fiqh.islammessage.com

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

menguliti hewan qurban

Menguliti Hewan sebelum Mati

Saya pernah melihat jagal di masjid saya menguliti hewan qurban ketika masih bergerak-gerak. Bagaimana hukumnya? Dan apakah seperti ini menyebabkan dagingnya tidak halal?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ibnu Qudamah mengatakan,

ويكره سلخ الحيوان قبل أن يبرد؛ لأن فيه تعذيبا للحيوان، فهو كقطع العضو.

Makruh menguliti binatang yang disembelih sebelum benar-benar mati. Karena tindakan semacam ini termasuk bentuk penyiksaan terhadap binatang. Sebagaimana memotong anggota badan hewan itu. (al-Mughni, 9/402).

Hal yang sama juga disampaikan an-Nawawi,

والمستحب إذا ذبح أن لا يكسر عنقها ولا يسلخ جلدها قبل أن تبرد لما روى أن الفرافصه قالوا لعمر رضى الله عنه إنكم تأكلون طعاما لا نأكله فقال وما ذاك يا أبا حسان فقال تعجلون الانفس قبل أن تزهق فأمر عمر رضى الله عنه مناديا ينادي إن الذكاة في الحلق واللبة لمن قدر ولا تعجلوا الانفس حتى تزهق

Dianjurkan ketika menyembelih qurban, agar kepalanya tidak dipenggal dan tidak dikuliti sebelum dia benar-benar mati. Berdasarkan riwayat bahwa Furafishah berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, ‘Kalian mengkonsumsi makanan yang tidak kami makan. Beliaupun balik tanya, ‘Apa makanan itu, hai Abu Hassan?’. ’Kalian terburu-buru menguliti binatang, sebelum dia benar-benar mati.’ Jawab Furafishah. Kemudian Umar memerintahkan seseorang untuk mengumumkan, ’Bahwa menyembelij itu di ujung leher atau pangkal leher, jika memungkinkan. Dan jangan terburu-buru menguliti sampai dia betul-betul mati.’ (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 9/84).

Sebagaimana keterangan di atas, menguliti hewan qurban sebelum mati sempurna termasuk perbuatan yang dibenci, karena ada unsur penyiksaan. Namun tindakan semacam ini tidaklah mempengaruhi keabsahan qurban dan kehalalan dagingnnya. Sebagaimana penjelasan di: Menyembelih Hewan Kurban Hingga Kepala Terpotong

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

menyembelih kepala terpotong

Menyembelih Hewan hingga Terpotong Kepalanya

Tanya:

Apa hukum menyembelih hingga terpotong kepalanya? Apakah qurbannya sah? dan apakah sembelihannya halal?

Dari: Nur, Kediri

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Yang lebih afdhal, kita tidak memotong secara sengaja kepala binatang yang disembelih sampai dia betul-betul mati. Beberapa ulama menilai makruh memotong anggota badan hewan yang disembelih sampai dia benar-benar telah mati. Diantara ulama yang memakruhkan adalah Atha, Amr bin Dinar, Imam Malik dan Imam as-Syafii.

Hanya saja, hukum makruh di atas berkaitan dengan teknis menyembelih. Artinya hal itu tidak mempengaruhi status keabsahan ibadah qurban dan kehalalan binatang yang terpotong kepalanya ketika menyembelih.

Imam Ibnu Qudamah mengatakan,

ولا يقطع عضو مما ذكي حتى تزهق نفسه؛ كره ذلك أهل العلم؛ منهم عطاء، وعمرو بن دينار، ومالك، والشافعي، ولا نعلم لهم مخالفا.

Tidak boleh memotong bagian hewan yang disembelih, sampai dia benar-benar mati. Para ulama memakruhkan hal itu, diantaranya Atha, Amr bin Dinar, Imam Malik, dan Imam as-Syafii. Dan saya tidak mengetahui adanya ulama yang berbeda dengan pendapat mereka dalam hal ini.

Kemudian Ibnu Qudamah melanjutkan,

وقد قال عمر – رضي الله عنه -: لا تعجلوا الأنفس حتى تزهق. فإن قطع عضو قبل زهوق النفس وبعد الذبح، فالظاهر إباحته؛ فإن أحمد سئل عن رجل ذبح دجاجة، فأبان رأسها؟ قال: يأكلها. قيل له: والذي بان منها أيضا؟ قال: نعم.

Umar bin Khatab mengatakan, ‘Jangan buru-buru dipotong badan hewan, sampai dia mati.’ Jika ada anggota badan yang terpotong, sebelum benar-benar mati, dan itu dilakukan setelah disembelih, yang dzahir, bagian potongan itu hukumnya halal. Karena Imam Ahmad pernah ditanya tentang orang yang menyembelih ayam, sampai terpotong kepalanya. Jawab beliau, ‘Boleh dia makan.’ Beliau juga ditanya, ‘Anggota badan lainnya yang terpotong, boleh dimakan?’ jawab beliau, ‘Ya.’

Ibnu Qudamah kemudian menyebutkan beberapa riwayat sahabat,

قال البخاري: قال ابن عمر وابن عباس: إذا قطع الرأس. فلا بأس به. وبه قال عطاء، والحسن، والنخعي، والشعبي، والزهري، والشافعي، وإسحاق، وأبو ثور، وأصحاب الرأي

Al-bukhari meriwayatkan, bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas mengatakan, ‘Apabila kepala hewan terpotong, tidak masalah dimakan.’ Ini merupakan pendapat Atha, Hasan al-Bashri, an-Nakha’i, as-Sya’bi, az-Zuhri, as-Syafii, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur, dan ulama kufah.

Di bagian akhir, Ibnu Qudamah menyebutkan alasan mengapa hal itu halal,

وذلك لأن قطع ذلك العضو بعد حصول الذكاة، فأشبه ما لو قطعه بعد الموت

Hal itu karena terpotongnya anggota badan tersebut, terjadi setelah penyembelihan. Sehingga disamakan sebagaimana ketika dia dipotong setelah benar-benar mati. (al-Mughni, 9/401).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

menyembelih kurban malam hari

Hukum Menyembelih Kurban di Malam Hari

Tanya:

Bolehkah menyembelih qurban di malam hari?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Waktu penyembelihan kurban dimulai sejak selesai shalat id, hingga terbenamnya matahari di hari tasyrik yang terakhir. Demikian pendapat mayoritas ulama. Sementara malikiyah menjelaskan bahwa penyembelihan qurban dimulai ketika imam (pemerintah), selesai menyembelih qurbannya.

Kemudian, terdapat beberapa hadis yang melarang menyembelih qurban di malam hari. Diantaranya, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الأضحية ليلا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyembelih di malam hari.” (HR. Thabrani).

Namun hadis ini dinilai lemah oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Beliau mengatakan dalam at-Talkhis al-Habir,

حَدِيثُ : { أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الذَّبْحِ لَيْلًا }. الطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، وَفِيهِ سُلَيْمَانُ بْنُ سَلَمَةَ الْخَبَائِرِيُّ ، وَهُوَ مَتْرُوكٌ. وَذَكَرَهُ عَبْدُ الْحَقِّ مِنْ حَدِيثِ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ مُرْسَلًا ، وَفِيهِ مُبَشِّرُ بْنُ عُبَيْدٍ وَهُوَ مَتْرُوكٌ.

Hadis yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyembelih di malam hari. Riwayat Thabrani dari hadis Ibnu Abbas. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Sulaiman bin Salamah al-Khabairi, dan dia perawi matruk (ditinggalkan hadisnya). Kemudian Abdul Haq juga menyebutkan hadis Atha’ bin Yasar secara mursal. Dan di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Mubasyir bin Ubaid, dan dia matruk. (at-Talkhis al-Habir, 5/365)

Mengingat hadis ini lemah, maka tidak bisa dijadikan dalil.

Kemudian, sisi lain yang menjadi titik perselisihan, apakah kata: Layal an-Nahr (malam qurban) termasuk dalam cakupan makna Yaum an-Nahr (hari berkurban)? Bagi ulama yang mengatakan, kata: Layal an-Nahr (malam qurban) tidak termasuk dalam cakupan makna Yaum an-Nahr (hari berkurban) maka qurban di malam hari statusnya terlarang. Sebaliknya, bagi ulama yang menyatakan bahwa itu termasuk dalam cakupan maknanya, maka menyembelih di malam hari hukumnya sah.

Berangkat dari ini, ada 3 pendapat ulama tentang hukum menyembelih kurban di malam hari,

Pertama, qurban di malam hari statusnya sah, namun hukumnya makruh. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Kedua, tidak boleh menyembelih di malam hari, karena malam hari bukanlah waktu untuk menyembelih. Dan jika penyembelihan dilakukan malam hari, tidak bisa dinilai sebagai qurban.

Ketiga, boleh menyembelih di malam hari secara mutlak, dan tidak makruh.

Dalam Ensiklopedi Islam dinyatakan,

أما ليلة عيد الأضحى فليست وقتا للتضحية بلا خلاف، وكذلك الليلة المتأخرة من أيام النحر، وإنما الخلاف في الليلتين أو الليالي المتوسطة بين أيام النحر . فالمالكية يقولون : لا تجزئ التضحية التي تقع في الليلتين المتوسطتين، وهما ليلتا يومي التشريق من غروب الشمس إلى طلوع الفجر . وهذا أحد قولي الحنابلة

Malam idul adha bukanlah waktu untuk menyembelih kurban tanpa perselisihan ulama. Demikian pula malam tanggal 14 dzulhijjah bukan termasuk waktu menyembelih. Yang menjadi perselisihan adalah berkurban di malam-malam hari tasyrik. Malikiyah mengatakan, Tidak sah berkurban yang disembelih di dua malam pertengahan tasyrik, dimulai sejak terbenamnya matahari, hingga terbit fajar. Dan ini merupakan salah satu pendapat hambali.

Dalam lanjutan penjelasan,

وقال الحنابلة والشافعية: إن التضحية في الليالي المتوسطة تجزئ مع الكراهة، لأن الذابح قد يخطئ المذبح، وإليه ذهب إسحاق وأبو ثور والجمهور. وهو أصح القولين عند الحنابلة. واستثنى الشافعية من كراهية التضحية ليلا ما لو كان ذلك لحاجة، كاشتغاله نهارا بما يمنعه من التضحية، أو مصلحة كتيسر الفقراء ليلا، أو سهولة حضورهم.

Sementara hambali dan syafiiyah menegaskan, menyembelih qurban di malam-malam tasyrik hukumnya sah, hanya saja makruh. Karena yang menyembelih bisa jadi salah menyembelih hewan. Ini merupakan pendapat Ishaq, Abu Tsaur, dan mayoritas ulama. dan ini adalah salah satu pendapat dalam madzhab hambali. Kemudian syafiiyah menyebutkan bahwa hukum makruh ini hilang, jika ada kebutuhan. Misalnya kesibukan di siang hari, sehingga tidak memungkinkan untuk menyembelih qurban. Atau karena kemaslahatan, misalnya lebih menguntungkan fakir miskin jika disembelih malam hari, atau memudahkan mereka untuk datang. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Fiqhiyah, 5/93)

Pendapat yang kuat dalam masalah ini, menyembelih qurban di malam hari hukumnya sah dan dibolehkan, serta tidak makruh. Dengan alasan,

Hadis yang menyebutkan larangan menyembelih kurban di malam hari, statusnya lemah
Kata al-yaum (hari), jika tidak diiringi kata apapun, maknanya mencakup siang dan malam.
Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

والذبح في النهار أفضل، ويجوز في الليل؛ لأن الأيام إذا أطلقت دخلت فيها الليالي، …ولا يكره الذبح في الليل؛ لأنه لا دليل على الكراهة، والكراهة حكم شرعي يفتقر إلى دليل .وأما ما روى عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن الذبح ليلا، فقال في ((التلخيص)): فيه سليمان بن سلمة الخبائري، وهو متروك

Menyembelih di siang hari lebih afdhal, dan boleh menyembelih kurban di malam hari. Karena kata ’hari’ apabila dimutlakkan (tidak diiringi kata lain), mencakup waktu malam. Karena itu, tidak makruh menyembelih kurban di malam hari, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu. Karena makruh termasuk hukum syar’i yang butuh dalil. Sementara riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyembelih kurban di malam hari, telah dikomentari dalam kitab at-Talkhis, bahwa di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Sulaiman bin Salamah al-Khabairi, dan dia matruk.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

daging qurban kaleng

Daging Qurban Dikaleng

Tanya:

Akhir-akhir ini marak menyebarkan daging kurban dalam bentuk kornet yang sudah dikaleng. Bagaimana hukumnya?

Terima kasih

Dari: N. Bayu

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Mengolah daging kurban dan menjadikannya dalam kemasan kaleng, termasuk dalam pembahasan hukum menyimpan daging kurban lebih dari 4 hari. Para ulama fiqih berbeda pendapat tentang hukum menyimpan daging qurban dalam waktu melebihi hari tasyrik. Perbedaan pendapat ini dikarenakan adanya hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘aliahi wa sallam yang melarang menyimpan daging qurban melebihi tiga hari Tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah).

Pendapat pertama, dibolehkan menyimpan dan mengawetkan daging qurban melebihi tiga hari Tasyriq, karena hadis yang melarangnya telah di-nasakh (dihapus hukumnya). Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, empat imam madzhab, dan selainnya. Mereka melandasi pendapatnya dengan beberapa hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘aliahi wa sallam, diantaranya:

1. Hadis dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘aliahi wa sallam bersabda:

« مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى ؟ قَالَ : « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا »

“Barangsiapa yang menyembelih hewan qurban, janganlah dia menyisakan sedikitpun dagingnya di dalam rumahnya setelah hari (Tasyriq) yang ketiga (tanggal 13 Dzulhijjah, pent).” Ketika tiba hari raya qurban tahun berikutnya, mereka (para sahabat) bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kami melakukan sebagaimana tahun lalu?” Beliu menjawab: “(Tidak), untuk sekarang, silahkan kalian makan, berikan kepada yang lain, dan silahkan menyimpannya. Karena sesungguhnya pada tahun lalu manusia ditimpa kesulitan (kelaparan), sehingga aku ingin kalian membantu mereka (yang membutuhkan makanan, pent)”. (HR. Bukhari no. 5249, dan Muslim no.1974).

2. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَا أَهْلَ الْمَدِينَةِ لاَ تَأْكُلُوا لُحُومَ الأَضَاحِىِّ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ». فَشَكَوْا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ لَهُمْ عِيَالاً وَحَشَمًا وَخَدَمًا فَقَالَ : « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَاحْبِسُوا أَوِ ادَّخِرُوا » رواه مسلم

“Wahai penduduk kota Madinah, Janganlah kalian makan daging qurban melebihi tiga hari (Tasyriq, tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, pent)”. Mereka mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka memiliki keluarga, sejumlah orang (kerabat) dan pembantu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Kalau begitu) silakan kalian memakannya, memberikannya kepada yang lain, menahannya atau menyimpannya.” (HR. Muslim no.1973).

Pendapat kedua, dilarang menyimpan dan mengawetkan daging qurban melebih tiga hari Tasyriq. Pendapat ini berdalil dengan khutbah Ali bin Abi Thalib yang beliau melarang untuk memakan hewan qurban lebih dari 3 hari. Berdasarkan pendapat kedua ini, tidak diperbolehkan mengolah dan mendistribusikan daging qurban dalam bentuk kaleng, karena dipastikan akan tersimpan lebih dari 3 hari.

Akan tetapi riwayat Ali ini dikomentari oleh Imam as-Syafii bahwa ada kemungkinan, Ali tidak mendengar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghapus hukum larangan memakan daging qurban lebih dari 3 hari. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyebutkan alasan mengapa beliau melarang menyimpan daging qurban melebihi hari tasyrik.

(al-I’tibar fi Nasikh wa Mansukh, hlm. 297. Dukutip dari http://www.bayanelislam.net/Suspicion.aspx?id=03-03-0062&value=&type=)

Dengan demikian, yang lebih kuat, diperbolehkan menyimpan dan mengawetkan daging qurban melebihi tiga hari Tasyriq. Sehingga boleh dikemas dalam kaleng untuk didistribusikan ke daerah lain.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

urunan hewan qurban

Bolehkah Orang Kafir Ikut Urunan Hewan Qurban Sapi?

Assalamu’alaikum. Maaf Ustadz, saya mau tanya bagaimana hukumnya urunan qurban sapi, tapi salah satu-nya orang non muslim? Mohon penjelasannya

Dari: Waluya

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ibadah apapun yang dilakukan orang kafir adalah ibadah yang tidak bernilai, dan tidak sah. Meskipun bisa jadi kaum muslimin mendapatkan dampak kebaikan dari amal yang dia lakukan.

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَّ يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلاَلُ الْبَعِيدُ

Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (QS. Ibrahim: 18).

Ketika ada orang kafir yang ikut urunan kurban sapi, dia tidak dinilai sebagai qurban. Sehingga keterlibatannya dalam urunan, hanya dinilai sebagai orang yang urunan karena ingin mendapatkan dagingnya. Sehingga dalam satu ekor sapi itu, ada yang urunan untuk berqurban dan ada yang urunan untuk mendapatkan daging.

Ulama berbeda pendapat mengenai status sapi ini, apakah sah digunakan untuk berqurban ataukah tidak. Untuk menentukan pendapat yang lebih kuat, mari kita simak beberapa penjelasan berikut,

Keterangan Ibnu Qudamah – ulama hambali –, beliau mengatakan,

وجملته أنه يجوز أن يشترك في التضحية بالبدنة والبقرة سبعة، واجبا كان أو تطوعا، سواء كانوا كلهم متقربين، أو يريد بعضهم القربة وبعضهم اللحم. وبهذا قال الشافعي. وقال مالك: لا يجوز الاشتراك في الهدي. وقال أبو حنيفة: يجوز للمتقربين، ولا يجوز إذا كان بعضهم غير متقرب ; لأن الذبح واحد، فلا يجوز أن تختل نية القربة فيه.

Kesimpulannya bahwa diperbolehkan urunan dalam pengadaan hewan qurban, untuk onta atau sapi tujuh orang. Baik dalam rangka qurban wajib maupun qurban sunah. Baik semuanya bertujuan untuk qurban atau ada yang bertujuan qurban dan ada yang bertujuan dagingnya. Inilah pendapat Imam As-Syafii. Sementara Imam Malik mengatakan, tidak boleh urunan dalam hewan hadyu (sembelihan di Mekah). Dan Imam Abu Hanifah mengatakan, boleh urunan untuk semua yang niat berqurban, namun tidak boleh jika ada salah satu yang tidak berniat qurban. Karena yang disembelih satu, maka tidak boleh ada yang tidak berniat qurban untuk satu hewan.

Ibnu Qudamah lebih menguatkan pendapat yang membolehkan urunan hewan qurban, meskipun salah satu pesertanya tidak berniat untuk qurban. Beliau juga menyanggah pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah. Dalam lanjutan keterangannya, beliau menyanggah pendapat Imam Malik,

ولنا ما روى جابر، قال: { أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل والبقر، كل سبعة منا في بدنة } رواه مسلم.

Kita memiliki hadis yang diriwayatkan oleh Jabir, beliau mengatakan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk urunan dalam pengadaan onta dan sapi. Tujuh orang untuk satu ekor sapi atau onta.’ Riwayat Muslim.

Ketika menyanggah pendapat Abu Hanifah bahwa urunan ini hanya boleh jika semuanya berniat qurban, beliau mengatakan,

ولنا على أبي حنيفة، أن الجزء المجزأ لا ينقص بإرادة الشريك غير القربة، فجاز، كما لو اختلفت جهات القرب، فأراد بعضهم التضحية، وبعضهم الفدية.

Alasan kita untuk menyanggah Abu Hanifah, bahwa satu bagian yang sah disebut qurban, tidak menjadi batal karena ada sebagian peserta yang tidak berniat qurban. Sehingga semacam ini boleh. Sebagaimana ketika ada urunan, sementara tujuan penyembelihannya beda-beda, ada yang berniat untuk qurban da ada yang berniat sebagai fidyah. (al-Mughni, 9/458).

Di kesempatan yang lain, Ibnu Qudamah menegaskan bolehnya urunan qurban dengan orang yang tidak niat qurban,

إذا ثبت هذا، فسواء كان المشتركون من أهل بيت، أو لم يكونوا، مفترضين أو متطوعين أو كان بعضهم يريد القربة وبعضهم يريد اللحم؛ لأن كل إنسان منهم إنما يجزئ عنه نصيبه، فلا تضره نية غيره

Setelah kita tahu bahwa urunan qurban dibolehkan maka statusnya sama saja, baik yang urunan semuanya satu keluarga, atau dari keluarga berbeda, baik semua untuk qurban wajib atau qurban sunah, atau sebagian niatnya untuk qurban dan sebagian untuk daging (tidak untuk qurban). Karena masing-masing peserta urunan mendapat jatah sesuai bagiannya, sehingga tidak ada pengaruh dengan niatan orang lain. (al-Mughni, 9/438).

Keterangan An-Nawawi – ulama syafiiyah –, beliau mengatakan,

يجوز أن يشترك سبعة في بدنة أو بقرة للتضحية، سواء كانوا كلهم أهل بيت واحد أو متفرقين، أو بعضهم يريد اللحم فيجزئ عن المتقرب، وسواء أكان أضحية منذورة أم تطوعا، هذا مذهبنا وبه قال أحمد وداود وجماهير العلماء، إلا أن داود جوزه في التطوع دون الواجب. وبه قال بعض أصحاب مالك. وقال أبو حنيفة: إن كانوا كلهم متقربين جاز، وقال مالك: لا يجوز الاشتراك مطلقا كما لا يجوز في الشاة الواحدة.

Boleh urunan 7 orang untuk seekor onta atau sapi, baik mereka semua satu rumah, atau dari keluarga yang berbeda, atau ada sebagian yang tidak berniat qurban karena hanya menginginkan dagingnya dan sah untuk yang berniat qurban. Baik qurban nadzar atau qurban sunah. Inilah pendapat madzhab kami (syafiiyah), dan ini pendapat Imam Ahmad, Daud az-Zahiri, dan mayoritas ulama. Hanya saja, Daud membolehkan urunan jika qurbannya bukan qurban wajib. Dan ini pula yang menjadi pendapat sebagian Malikiyah. Sementara Abu Hanifah mengatakan, ’Jika mereka semua niatnya untuk qurban, boleh urunan.’ Kemudian Imam Malik mengatakan, ’Tidak boleh urunan secara mutlak, sebagaimana tidak boleh urunan untuk seekor kambing.’

Dalam hal ini, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat yang membolehkan urunan hewan qurban, meskipun ada yang tidak berniat untuk qurban. Pada lanjutan keterangannya, an-Nawawi membawakan sejumlah alasan untuk mendukung pendapat yang beliau nilai lebih kuat,

واحتج أصحابنا بحديث جابر قال { نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة} رواه مسلم. وعنه قال { خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم مهلين بالحج، فأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل والبقر كل سبعة منا في بدنة} رواه مسلم. قال البيهقي: وروينا عن علي وحذيفة وأبي مسعود الأنصاري وعائشة رضي الله عنهما أنهم قالوا ” البقرة عن سبعة ” وأما قياسه على الشاة فعجب، لأن الشاة إنما تجزئ عن واحد، والله أعلم.

Ulama kami (syafiiyah) berdalil dengan hadis Jabir yang mengatakan, ’Kami melakukan qurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seekor onta untuk 7 orang dan seekor sapi untuk 7 orang.’ Riwayat Muslim. Juga dari Jabir, ’Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka melakukan haji. Kemudian beliau memerintahkan untuk urunan onta dan sapi, setiap 7 orang untuk satu ekor.’ Riwayat Muslim. al-Baihaqi mengatakan, ’Kami mendapat riwayat dari Ali, Hudzifah, Abu Mas’ud al-Anshari, dan A’isyah radhiyallahu ’anhum, bahwa mereka berpendapat, ’Sapi boleh untuk 7 orang.’ Sementara diqiyaskan dengan kambing, ini sangat mengherankan. Karena kambing hanya boleh untuk satu orang.’ Allahu a’lam. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 8/398 – 399)

Berdasarkan keterangan keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa dibolehkan urunan qurban meskipun salah satu peserta tidak berniat untuk qurban. Termasuk ketika salah satu peserta adalah orang kafir. Karena masing-masing mendapatkan jatah sesuai niatnya. Yang qurban sah sebagai qurban, yang tidak qurban berhak mendapat apa yang diinginkan. Dan niat seseorang tidak mempengaruhi niat orang lain.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

9,943FansLike
4,525FollowersFollow
33,398FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN