tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Qurban

sembelih kurban

Menyembelih Qurban sebelum Shalat

Jika ada orang yang menyembelih qurban sebelum dia melaksanakan shalat id, apakah qurbannya harus diganti?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Diantara syarat sah qurban adalah syarat yang berkaitan dengan waktu. Bahwa menyembelih qurban harus dilakukan setelah shalat id. Orang yang menyembelih hewan qurbannya sebelum shalat id, maka qurbannya tidak sah meskipun dagingnya halal dimakan.

Dari al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya,

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ

Siapa yang melaksanakan shalat id dan berqurban sesuai aturan kami, maka dia telah mengamalkan qurban yang benar. Dan siapa yang menyembelih qurban sebelum shalat, maka sembelihannya sebelum shalat, dan dia tidak dianggap melaksanakan qurban. (HR. Bukhari 912).

Ketika itu, sahabat Abu Burdah bin Niyar – pamannya al-Barra’ bin Azib –, telah menyembelih hewan qurbannya sebelum berangkat shalat id, dengan harapan bisa segera sarapan dengan daging qurban. Mendengar ceramah di atas, beliau melaporkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ya Rasulullah, saya menyembelih kambingku sebelum shalat. Karena saya tahu ini hari makan dan minum. Saya ingin agar kambingku pertama kali disembelih di rumahku. Sayapun menyembelih kambingku, dan saya sarapan dengannnya sebelum berangkat shalat.

Apa jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Beliau mengatakan,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanya kambing daging.” (HR. Bukhari 912)

Artinya, tidak dinilai sebagai qurban, meskipun halal dimakan karena cara menyembelihnya benar.

Apakah wajib diulangi?

Imam Bukhari mmengatakan dalam kitab shahihnya,

باب مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ أَعَادَ

Bab, Siapa yang Menyembelih Sebelum Shalat, maka Dia harus mengulang qurbannya. (Shahih Bukhari, Bab al-Adhahi, Sub-bab ke-12).

Selanjutnya, beliau membawakan beberapa dalil,

Diantaranya hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya,

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيُعِدْ

“Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat id, maka hendaknya dia ulangi (qurbannya).” (HR. Bukhari 954)

Kemudian, hadis dari Jundab bin Sufyan al-Bajali Radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dalam shalat id,

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى ، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ

Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, dia harus mengganti hewan qurbannya dengan yang lain. Dan siapa yang belum menyembelih qurban, hendaknya dia menyembelih. (HR. Ahmad 19311, dan Bukhari 5562)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

rambut rontok

Rambut Rontok Sebelum Menyembelih Qurban

Bagaimana hukumnya rambut rontok yang dialami sohibul qurban, sementara dia belum menyembelih?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Semua perbuatan dan pelanggaran di luar kesengajaan kita, tidak dihitung sebagai kesalahan.

Allah ta’ala berfirman,

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami ketika kami lupa atau tidak sengaja. (QS. Al-Baqarah: 286).

Dan Allah telah menjanjikan untuk mengabulkan doa ini. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Muslim (no. 345).

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وإذا أخذ شيئاً من ذلك ناسياً أو جاهلاً أو سقط الشعر بلا قصد فلا إثم عليه، وإن احتاج إلى أخذه فليأخذه ولا شيء عليه، مثل أن ينكسر ظفره فيؤذيه فيقصه، أو ينزل الشعر في عينيه فيزيله، أو يحتاج إلى قصه لمداواة جرح ونحوه

Apabila pemilik hewan qurban memotong rambut atau kukunya karena lupa atau tidak tahu, atau rambutnya rontok tanpa ada maksud darinya, maka tidak ada dosa baginya. Dan jika dia sangat membutuhkan untuk memotongnya, boleh dia potong, dan itu boleh baginya. Misalnya, kukunya pecah sehingga mengganggu, lalu dia potong atau ada rambut yang mengenai matanya, kemudian dia hilangkan, atau dia sangat butuh untuk memotong rambutnya untuk mengobati luka, atau semacamnya.

http://www.saaid.net/mktarat/hajj/39.htm

Karena itu, para pemilik qurban yang rambutnya rontok atau kukunya rusak, yang semua terjadi di luar kesengajaan, tidak ada tanggung jawab apapun baginya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hari raya berbeda

Qurban hari Sabtu, Shalat Hari Raya Ahad

Bolehkah menyembelih qurban hari sabtu, sementara saya ikut shalat hari ahad?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Qurban adalah ibadah yang terikat dengan banyak aturan. Qurban bukan semata menyembelih hewan, namun qurban adalah rangkaian ibadah menyembelih hewan (Baca: Penentuan Hari Raya Antara Saudi dengan Indonesia)

Diantara aturan dalam qurban, menyembelih baru boleh dilakukan jika pemilik hewan telah melaksanakan shalat id.

Dari al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ

Siapa yang melaksanakan shalat id dan berqurban sesuai aturan kami, maka dia telah mengamalkan qurban yang benar. Dan siapa yang menyembelih qurban sebelum shalat, maka sembelihannya sebelum shalat, dan dia tidak dianggap melaksanakan qurban. (HR. Bukhari 912).

Kejadian menyembelih qurban sebelum shalat, pernah dialami oleh sahabat Abu Burdah bin Niyar – pamannya al-Barra’ bin Azib –, dia menyembelih hewan qurbannya sebelum berangkat ke lapangan, dengan harapan bisa segera sarapan dengan daging qurban. Dia mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ

Ya Rasulullah, saya menyembelih kambingku sebelum shalat. Karena saya tahu ini hari makan dan minum. Saya ingin agar kambingku pertama kali disembelih di rumahku. Sayapun menyembelih kambingku, dan saya sarapan dengannnya sebelum berangkat shalat.

Apa jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Beliau mengatakan,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanya kambing daging.” (HR. Bukhari 912)

Yang dimaksud, ‘kambingmu hanya kambing daging’

Artinya dia tidak dinilai berqurban, sehingga tidak mendapatkan pahala berqurban. Meskipun daging hewan yang disembelih itu halal dimakan. Karena tidak sah sebagai qurban, bukan berarti dia menjadi tidak halal untuk dimakan. Selama cara penyembelihannya benar, hewan itu halal dimakan.

Contoh Kasus lain:

Diantara syarat sah qurban adalah syarat yang terkait kepemilikan hewan (Baca: Tabungan Qurban Kolektif) . Sapi maksimal dimiliki 7 orang dan kambing hanya boleh dimiliki satu orang. Jika lebih dari itu, maka tidak memenuhi syarat sah kepemilikan.

Sekelompok siswa atau mahasiswa urunan 50 orang untuk membeli seekor kambing atau seekor sapi, kemudian disembelih di hari qurban, ini tidak dinilai sebagai qurban.

Jika itu bukan qurban, lalu apa statusnya?

Jawabannya:

Statusnya sembelihan biasa. Dagingnya halal dimakan, jika cara menyembelihnya benar. Meskipun tidak dihitung sebagai qurban.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Memberikan Kulit Kurban ke Masjid, Kemudian Dijual

Bolehkah takmir mengumpulkan kulit kmd dijual, dna uangnya dipake bangun masjid?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, orang yang berqkurban tidak boleh menjual apapun dari hasil qurbannya. Karena orang yang berqurban, dia menyerahkan semua hewannya dalam rangka beribadah kepada Allah. Sehingga dia tidak boleh menguangkannya atau memberikan bagian dari hasil qurbannya untuk membayar jasa pihak jagal.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk menangani onta kurbannya, mensedekahkan dagingnya, kulitnya, dan asesoris onta. Dan saya dilarang untuk memberikan upah jagal dari hasil qurban. Ali menambahkan: Kami memberikan upah dari uang pribadi. (HR. Bukhari 1717 & Muslim 1317).

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman, orang yang menjual kulit kemudian uangnya dimanfaatkan pribadi, bisa membatalkan pahala qurbannya. Beliau bersabda,

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلاَ أُضْحِيَةَ لَهُ

Siapa yang menjual kulit qurbannya maka tidak ada qurban baginya. (HR. Al-Hakim 2/390 dan dihasankan al-Albani)

Kedua, panitia qurban, statusnya adalah wakil dari shohibul qurban. Sehingga apapun yang dilakukan panitia qurban, dianggap sebagai praktek pemilik qurban. Oleh karena itu, panitia qurban tidak diizinkan menjual kulit qurban, kemudian uangnya dimanfaatkan untuk biaya operasional. Karena statusnya sama dengan menjual hasil qurban, yang manfaatnya kembali kepada pemilik qurban.

Ketiga, mengenai hukum menjual hasil qurban kemudian hasilnya disedekahkan

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum masalah ini.

  1. Madzhab Hanafiyah dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat berpendapat bahwa ini diperbolehkan. Dalam Tabyin al-Haqaiq – kitab madzhab Hanafi – dinyatakan,

ولو باعهما بالدراهم ليتصدق بها جاز ; لأنه قربة كالتصدق بالجلد واللحم

”Jika dia menjual kurbannya dengan pembayaran uang dirham untuk disedekahkan dalam bentuk dirham, hukumnya boleh. Karena ini termasuk ibadah, sebagaimana sedekah dengan kulit atau dagingnya.” (Tabyin al-Haqaiq, 6/9)

Ibnul Qoyim dalam Tuhfah al-Maudud menyebutkan beberapa riwayat dari Imam Ahmad, diantaranya keterangan al-Khallal,

وأخبرني عبد الملك بن عبد الحميد أن أبا عبد الله [يعني الإمام أحمد] قال : إن ابن عمر باع جلد بقرةٍ وتصدق بثمنه

Abdul Malik bin Abdul Humaid menyampaikan kepadaku bahwa Imam Ahmad pernah mengatakan, ’Sesungguhnya Ibnu Umar menjual kulit sapi, kemudian beliau sedekahkan uangnya.’ (Tuhfah al-Maudud, hlm. 89)

  1. Mayoritas ulama – Malikiyah, Syafiiyah dan Hambali – melarang jual beli ini. Dalilnya adalah beberapa hadis di atas yang maknanya umum.

As-Syaukani mengatakan,

اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذا الجلود. وأجازه الأوزاعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وهو وجه عند الشافعية قالوا : ويصرف ثمنه مصرف الأضحية

Ulama sepakat bahwa dagingnya tidak boleh dijual, demikian pula kulitnya. Sementara al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan salah satu pendapat sebagian ulama Syafiiyah mengatakan, “Uang hasil menjual qurban disedekahkan sebagaimana hewan qurban.” (Nailul Authar, 5/153)

Setelah menimbang keterangan di atas, dalam Fatwa Islam dinyatakan,

وعلى هذا ؛ فلا حرج في إعطاء الجلود للجمعيات الخيرية التي تتولى بيعه والتصدق بثمنه ، وهذا من المشاريع النافعة ؛ لأن أكثر الناس لا ينتفعون بجلد الأضحية ، فبيع الجلد والتصدق به فيه تحقيق للمصلحة المقصودة ، وهو نفع الفقراء ، مع السلامة من المحذور وهو اعتياض المضحي عن شيء من أضحيته .

فلو نوى المضحي أنه أعطى الجلد هدية للجمعية الخيرية التي تقوم بجمعه ، فلا حرج في ذلك .

ثم تقوم الجمعية ببيعه والتصدق بثمنه فيما شاءت من الأعمال الخيرية .

Oleh karena itu, tidak masalah memberikan kulit ke yayasan sosial yang bertugas menjualnya dan mensedekahkan uangnya. Dan ini termasuk penanganan yang manfaat. Karena umumnya orang tidak bisa memanfaatkan kulit qurban. Sehingga menjual kulit untuk disedekahkan, mewujudkan inti maslahat itu. Yaitu memberi manfaat bagi ornag miskin, disamping menghindair yang terlarang, yaitu memanfaatkan hasil qurban untuk mendapat keuntungan dari qurbannya.

Jika orang yang berqurban berniat memberikan kulit qurbannya ke yayasan sosial yang mengumpulkannya, tidak masalah. Kemudian yayasan ini menjual kulit itu, dan mensedekahkan uangnya untuk kepentingan sosial.

Allahu a’lam

(Fatwa Islam, no 110665)

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mesin penyembelih hewan

Menyembelih Hewan dengan Mesin

Assalamaulaikum warohmatullohiwabarokatuh,

Saya tinggal di negara non-Muslim tepatnya di Korea Selatan. Kami memiliki dilema mengenai sembelihan dengan mesin (mesin potong ayam). Apabila.. Setelah orang non muslim memotong ayam dan kemudian giliran kami yang muslim untuk memotong ayam maka kami akan mencuci bersih pisau yang digunakan agar tidak terkena darah ayam sebelumnya. Saat memulai mesin orang muslim membaca Bismillah terlebih dahulu baru tombol start ditekan. Semua ayam dalam satu siklus alias tidak tercampur dengan ayam untuk non muslim.

Apakah hal seperti cara diatas sudah dapat dikatakan bahwa hasil sembelihan adalah Halal, mengingat kondisi yang tidak memungkinkan pemotongan hewan jamak dengan cara manual (perizinan, lokasi dan hal teknis lain secara hukum legal).

Apakah mencuci pisau dengan air dan sabun saja sudah cukup ataukah perlu dibasuh dgn pasir.

Mohon jawaban dari pertanyaan kami

Wassalamualaikum Warohmatullohiwabarakatuh.

Dari Fathur Rokhman

JAWABAN:

Wa alaikumus salam warohmatullohi wabarokatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut beberapa fatwa Lajnah Daimah (Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa) tentang penyembelihan beberapa ekor hewan dengan menggunakan mesin,

Pertanyaan 1:

Perusahaan hendak membeli mesin penyembelih otomatis, sebagai ganti jagal. Karena hewan yang disembelih sangat banyak. Apakah ini dibolehkan?

Jawaban 1:

يجوز لكم شراء الماكينة الأوتوماتيكية لذبح الحيوانات المأكولة اللحم

Kalian boleh membeli mesin otomatis untuk menyembelih binatang-binatang yang halal dimakan.

Pertanyaan 2:

Apakah membaca bismillah ketika menyalakan mesin penyembelih dianggap memenuhi? Mengingat bismillah dibaca ketika menyalakan mesin untuk menyembelih dan dilakukan sekali.

Jawaban 2:

تجزئ التسمية مرة واحدة ممن يحرك الماكينة حين تحريكه إياها على عدة ذبائح بنية ذبحها على أن يكون من يحركها مسلما، أو كتابيا يهوديا، أو نصرانيا. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Dibolehkan membaca bismillah sekali dari orang yang menyalakan mesin ketika memulai menyalakannya untuk menyembelih beberapa hewan dengan disertai niat menyembelih. Dengan syarat, orang yang menyalakan alat itu adalah seorang muslim, atau ahli kitab, baik yahudi atau nasrani.

Hanya dari Allah segala taufiq. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

(Fatwa Lajnah Daimah no. 9677 ditanda tangani oleh Imam Ibnu Baz dan Syaikh Abdurazaq Afifi).

Pertanyaan 3:

Apa hukum penyembelihan dengan alat? Dimana alat ini menyembelih puluhan ayam dalam sekali waktu, tentu dengan sekali bacaan bismillah. Jika ada satu orang menyembelih dengan tangannya beberapa ekor ayam, apakah cukup dengan membaca basmalah sekali, ataukah wajib harus membaca basmalah untuk semua binatang?

Jawaban 3:

أولا: يجوز الذبح بالآلات الحديثة بشرط كونها حادة، وأن تقطع الحلقوم والمريء.

ثانيا: إذا كانت الآلة تذبح عددا من الدجاج في وقت واحد متصل فتجزئ التسمية مرة واحدة ممن يحرك الآلة حين تحريكه إياها بنية الذبح بشرط كون الذابح المحرك مسلما، أو كتابيا.

ثالثا: إذا كان الشخص يذبح بيده فيجب أن يسمي تسمية مستقلة على كل دجاجة يذبحها لاستقلال كل دجاجة بنفسها.

رابعا: يجب أن تكون التذكية في محل الذبح، وأن يقطع المريء والودجان، أو أحدهما

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Pertama, boleh menyembelih dengan alat modern, dengan syarat pisaunya tajam, dan bisa memotong tenggorokan dan kerongkongan.

Kedua, jika alat ini bisa menyembelih beberapa ekor ayam dalam sekali waktu secara bersambung, maka bacaan basmalah boleh dilakukan sekali, dari orang yang menghidupkan alat itu, dibaca persis ketika dia mulai menyalakannya. Disertai niat menyembelih. Dengan syarat, orang yang menyalakan alat ini adalah seorang muslim atau ahli kitab (yahudi dan nasrani).

Ketiga, apabila seseorang menyembelih dengan tangannya, maka wajib membaca basmalah untuk setiap ekor ayam yang dia sembelih. Karena masing-masing ayam disembelih sendiri-sendiri.

Keempat, penyembelihan harus dilakukan di bagian tempat pemotongan (ujung leher), dan harus terpotong kerongkongan dan dua urat leher atau salah satu urat leher.

Hanya dari Allah segala taufiq. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

(Fatwa Lajnah Daimah no. 21165 ditanda tangani oleh Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dan Syaikh Abdullah bin Ghadiyan).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

kurban kolektif

Hukum Tabungan Kurban Kolektif

Bagaimana hukum qurban kolektif? Jadi beberapa warga yang tidak mampu, mereka urunan untuk dibelikan seekor sapi. Kemudian disembelih atas nama tujuh orang secara bergantian setiap tahun.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita semua syarat sah qurban. Termasuk syarat kongsi kepemilikan hewan qurban.

Dalam kongsi hewan qurban, ada dua yang perlu dibedakan,

Pertama, kongsi dalam kepemilikan

Dari keterangan di atas, tidak diperbolehkan kongsi kepemilikan untuk seekor kambing. Karena kambing hanya boleh dimiliki satu orang. Sementara sapi dan onta, maksimal dimiliki 7 orang.

Karena itu, jika ada seekor kambing yang dimiliki dua orang, kemudian digunakan untuk berqurban, maka qurbannya tidak sah.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

الاشتراك في الملك، بأن يشترك شخصان فأكثر في ملك أضحية ويضحيا بها، فهذا لا يجوز، ولا يصح أضحية إلا في الإبل والبقر إلى سبعة فقط

Kongsi kepemilikan, dalam arti dua orang atau lebih, secara bersama memiliki seekor hewan untuk dijadikan qurban. Semacam ini tidak diperbolehkan dan tidak sah sebagai qurban. Kecuali onta dan sapi, boleh kongsi maksimal 7 orang saja. (Ahkam al-Udzhiyah, hlm. 20).

Diantara dalil yang menunjukkan hal ini, hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Di peristiwa Hudaibiyah, kami menyembelih kurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seekor untuk untuk 7 orang, dan seekor sapi untuk 7 orang. (HR. Muslim 1318).

Kedua, kongsi dalam pahala

Seorang pemilik hewan menyembelih qurban atas nama dirinya dan keluarganya atau kaum muslimin lainnya. Ini diperbolehkan, meskipun orang yang diikutkan untuk mendapatkan pahala qurban itu jumlahnya banyak. A’isyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih seekor kambing. Ketika menyembelih, beliau mengatakan,

بِاسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

Bismillah, ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan Umat Muhammad.

Kemudian beliau menyembelih. Berdasarkan hadis ini, Syaikh Ali bin Hasan al-Halaby ‎mengatakan: “Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala ‎sebagaimana orang berqurban dari umat Nabi.”

Dalil lainnya, hadis dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu,

كان الرجل في عهد النبي صلى الله عليه وسلم يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته

”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang ‎‎(kepala keluarga) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan ‎keluarganya.” (HR. Tirmidzi 1505 dan dishahihkan al-Albani).

Qurban Kolektif

Qurban kolektif, dalam arti beberapa orang urunan untuk membeli seekor sapi kemudian disembelih untuk qurban, jelas ini bentuk qurban yang tidak benar. Kecuali jika jumlah peserta yang ikut urunan maksimal 7 orang. Jika lebih dari 7 orang, maka sisanya satu harus keluar.

Dari kasus yang ditanyakan, pada prinsipnya, ketika sapi yang diatas namakan kepada 7 orang itu telah menjadi hak milik mereka bertujuh, insyaaAllah statusnya sah sebagai qurban untuk 7 orang tersebut.

Jika hanya atas nama 7 orang, namun belum pindah kepemilikan, maka tidak bisa dijadikan qurban, karena sapi ini dimiliki banyak orang.

Bagaimana cara mengetahui ‘sudah dan tidaknya pindah kepemilikan’?

Kita bisa lihat dari tanggung jawab mereka terhadap itu sapi. Jika 7 orang ini bertanggung jawab secara penuh terhadap sapi itu, ini tanda bahwa telah terjadi pindah kepemilikan. Sehingga andai terjadi resiko yang tidak diinginkan, baik kematian, cacat, atau hilang, maka yang menanggung hanya 7 orang tersebut.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

masak menu hewan kurban

Membagikan Hewan Qurban Setelah Dimasak

Assalamualaikum wr. wb.
Saya mau tanya ustad apakah daging kurban boleh dibagi dlm keadaan tlh dimasak. yaitu dgn cara mengundang orang2 utk makan dirumah kita. terimakasih ustad. wassalamualaikum wr.wb

Dari: Umi

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, Allah ta’ala perintahkan kepada orang yang berqurban untuk memakan sebagian hewan qurbannya dan memberikannya kepada yang lain dalam bentuk disedekahkan ke orang yang membutuhkan. Allah berfirman,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian hasil qurban itu dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang membutuhkan dan fakir.” (QS. Al-Haj: 28)

Al-Qurtubi (w. 671 H) dalam tafsirnya mengatakan,

(فَكُلُوا مِنْها) أَمْرٌ مَعْنَاهُ النَّدْبُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ. وَيُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ هَدْيِهِ وَأُضْحِيَتِهِ وَأَنْ يَتَصَدَّقَ بِالْأَكْثَرِ، مَعَ تَجْوِيزِهِمُ الصَّدَقَةَ بِالْكُلِّ

‘Makanlah bagian hasil qurban itu’ ini merupakan perintah anjuran menurut jumhur ulama. Dianjurkan bagi orang yang berqurban untuk makan sebagian hasil qurbannya dan sebagian besar dia sedekahkan. Disamping mereka juga membolehkan disedekahkan semuanya. (Tafsir al-Qurtubi, 12/44) .

Dalam ayat di atas, Allah tidak menyebutkan teknis mensedekahkan hewan qurban itu. Allah hanya memberikan perintah, ’berikanlah untuk dimakan orang-orang yang membutuhkan dan fakir’ dan ini bisa diberikan dalam bentuk mentah atau sudah masak.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فقول الله: (وَأَطْعِمُوا) يشمل عموم الإطعام نيئاً كان المطعوم أو مطبوخاً.

”Perintah Allah, ’berikanlah untuk dimakan orang-orang yang membutuhkan’ mencakup seluruh teknis memberi makan, masih mentah atau sudah dimasak.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 16492)

Kedua, secara umum, aturan yang berlaku untuk ibadah qurban sama dengan aturan dalam aqiqah. Ibnu Qudamah (w. 620 H) ketika membahas teknis pembagian aqiqah, beliau menjelaskan,

وسبيلها في الأكل والهدية والصدقة سبيلها

“Teknis pelaksanaan makan, diberikan dalam bentuk hadiah, dan sedekah untuk aqiqah sama dengan teknis pelaksanaan pada ibadah qurban.” Kemudian beliau mengutip keterangan Imam Ibnu Sirin – ulama tabiin – (w. 110 H) ketika menjelaskan pembagian daging sembelihan (qurban/aqiqah),

اصنع بلحمها كيف شئت

“Urusi dagingnya dengan cara apapun yang kalian inginkan.” (al-Mughni, 9/463).

Dengan demikian, tidak masalah memberikan hasil qurban dalam bentuk daging mentah atau sudah dimasak, dan keduanya tidak mempengaruhi keabsahan qurban.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Bersedekah Karena tidak Mampu Qurban

Assalaamu’alaikum

Yth konsultasi syari’ah saya mau tanya, “Saya seorang mahasiswa belum punya perkerjaan tetap dan sekarang ini saya belum mampu untuk berqurban dengan membeli hewan qurban apakah boleh saya menggantinya dengan bersedaqah kepada panitia qurban?
Apakah syariat islam membolehkan hal demikian, apa ada ayat Alqur’an atau Sunnah Rasul yg menjelaskan hal tersebut?

Jazakumullahu khairan

Dri: Ihsan Twoone

Jawaban:

Wa alaikumus salam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, Ibadah qurban tidak bisa semata diukur berdasarkan materi. Karena tujuan utama qurban adalah menegakkan syiar islam, dengan menyembelih hewan qurban, mengawal kegembiraan kaum muslimin dengan menikmati hewan yang Allah halalkan.

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

”Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. Al-Haj: 36)

Kita perhatikan, Allah akhiri ayat di atas dengan pernyataan, ’Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur’ secara fisik, onta jauh lebih besar dan lebih kuat dari pada manusia. Namun mereka bisa menjadi jinak dan dengan mudah dimanfaatkan manusia. Dengan menjadikan onta tersebut sebagai hewan qurban karena Allah, merupakan bentuk syukur terhadap nikmat Allah tersebut.

Karena itu, sejatinya qurban tidak hanya dinilai dari banyak dagingnya, darahnya, tetapi bagaimana seseorang menghadirkan sikap ikhlas, mengagungkan Allah, semangat syiar islam, yang ini semua bagian dari taqwa seseorang kepada Allah. Pada ayat berikutnya, Allah berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat sampai kepada-Nya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.” (QS. Al-Haj: 37)

Karena alasan ini, para ulama menegaskan bahwa dalam kondisi normal, menyembelih qurban, pahalanya lebih besar dan lebih afdhal dari pada sedekah senilai hewan qurban. Anda menyembelih kambing seharga 2 juta, pahalanya besar dibandingkan bersedekah senilai harga itu kepada fakir miskin. Karena qurban, ukurannya bukan hanya sebatas materi.

Syaikhul Islam (w. 728 H) dalam Majmu’ Fatawa menjelaskan,

والأضحية والعقيقة والهدي أفضل من الصدقة بثمن ذلك فإذا كان معه مال يريد التقرب به إلى الله كان له أن يضحي به والأكل من الأضحية أفضل من الصدقة

Qurban, aqiqah, dan hadyu (menyembelih ketika haji), lebih afdhal dari pada sedekah senilai hewan itu. Jika ada orang yang memiliki uang, yang ingin dia gunakan untuk beribadah kepada Allah, maka selayaknya dia gunakan untuk berqurban dan makan hewan qurbannya, itu lebih afdhal dari pada mensedekahkannya. (Majmu’ Fatawa, 26/304).

Bahkan ketika nilai sedekah lebih besar dari pada nilai hewan qurban, menyembelih hewan qurban pahalanya lebih besar dibandingkan sedekah dalam bentuk uang.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

لو اشتريت بها لحماً كثيراً أكثر من قيمة الشاة أربع مرات، أو خمس مرات، فهل هذا أفضل أو أن أضحي؟ قلنا: الأفضل أن تضحي، فذبحها أفضل من الصدقة بثمنها، وأفضل من شراء لحم بقدرها أو أكثر ليتصدق به؛ وذلك لأن المقصود الأهم في الأضحية هو التقرب إلى الله ـ تعالى ـ بذبحها لقول الله تعالى: {لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ}، كما أن عتق العبد أفضل من الصدقة بثمنه

Jika saya membeli daging yang sangat banyak, melebihi harga 4 kambing atau 5 kambing, apakah ini lebih afdhal dari pada saya gunakan untuk berqurban? Kita jawab, yang lebih afdhal saya berqurban. Menyembelih hewan qurban lebih afdhal dari pada bersedekah senilai hharga hewan qurban itu, dan juga lebih afdhal dari pada membeli dagingnya seharga hewan itu atau lebih banyak dari itu untuk saya sedekahkan. Karena maksud terpenting berqurban adalah beribadah kepada Allah ta’ala dengan menyembelihnya. Berdasarkan firman Allah (yanga artinya), ‘Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat sampai kepada-Nya’. Sebagaimana membebaskan budak lebih afdhal dari pada bersedekah senilai harga budak.

(Syarhul Mumthi’ 7/480).

Kedua, keterangan di atas sama sekali tidak menunjukkan bahwa sedekah yang anda berikan menjadi tidak berarti. Keterangan di atas hanya menyimpulkan bahwa ibadah kurban, tidak bisa disetarakan dengan sedekah uang senilai hewan qurban.

Sedekah yang anda sumbangkan, merupakan amal yang sangat bernilai dan berpahala. Hanya saja, semata dengan sedekah ini tidak bisa dinilai sebagai qurban atau mendapat pahala qurban. Meskipun sedekah ini disalurkan dalam rangka membantu kegiatan qurban. Dengan sedekah ini, insyaaAllah Anda tetap mendapat pahala membantu kegiatan qurban. Tidak ada amal kita yang disia-siakan oleh Allah,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ( ) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. ( ) dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az-Zalzalah: 7 – 8)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

doa di arafah

Doa di Hari Arafah

Assalamu alaikum ustad, apa saat hari arofah bg yang tidk melaksnakn ibadah haji adl waktu mustajab untuk berdoa, sbgmn jmaah haji yg sedang wukuf di arafah? Jazaakallahu khoir,..

Dari: Barkah, Sleman

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan berdoa di hari arafah, diantaranya,

Hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟

“Tidak ada hari dimana Allah paling banyak membebaskan hamba dari neraka selain hari Arafah. Dia mendekati mereka, lalu dia banggakan mereka di hadapan para malaikat, dengan berfirman: Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim no. 1348).

Kemudian, hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

”Sebaik-baik doa adalah doa hari arafah.” (HR. Turmudzi 3585 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1536)

Juga diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaid bin Kuraiz, beliau mengatakan,

أَفْضَلُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Doa yang paling utama adalah doa hari arafah.” (HR. Malik dalam al-Muwatha’ 2/300, dan al-Jauhari mengatakan, Hadis ini mursal – keterangan tabiin –).

Apakah ini khusus jamaah haji atau Umum untuk semua Muslim?

Ulama berbeda pendapat tentang keutamaan doa pada hari arafah, apakah keutamaan doa ini khusus berlaku untuk jamaah haji ataukah berlaku umum untuk semua kaum muslimin di selurun penjuru dunia?

Sebagian Malikiyah menyatakan bahwa keutamaan ini khusus berlaku untuk jamaah haji yang sedang wukuf di arafah. Imam al-Baji – ulama madzhab Maliki – (w. 474 H) mengatakan,

قوله : ” أفضل الدعاء يوم عرفة ” يعني : أكثر الذكر بركة وأعظمه ثوابا وأقربه إجابة ، ويحتمل أن يريد به الحاج خاصة ؛ لأن معنى دعاء يوم عرفة في حقه يصح ، وبه يختص ، وإن وصف اليوم في الجملة بيوم عرفة فإنه يوصف بفعل الحاج فيه

”Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ’Sebaik-baik doa adalah doa arafah’, artinya dzikir yang paling berkah, yang paling besar pahalanya, dan yang paling berpeluang mustajab adalah doa ketika arafah. Kemungkinan yang dimaksud di sini adalah jamaah haji secara khusus. Karena makna ’doa hari arafah’ untuk para jamaah haji sangat tepat, dan itu khusus untuk mereka. Dan karena hari itu disebut dengan hari arafah, disimpulkan dari aktivitas jamaah haji di sana.” (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, 2/1).

Sementara ulama lain berpendapat bahwa keistimewaan ini berlaku untuk jamaah haji dan selain jamaah haji. Al-Hafidz Ibnu Rajab (w. 795 H) menyebutkan sebuah riwayat dari jalur Nufai’ Abi Daud, bahwa Ibnu Umar mengatakan,

إذا كان يوم عرفة لم يبق أحد في قلبه مثقال ذرة من إيمان إلا غفر له قيل له: أللمعروف خاصة أم للناس عامة؟ قال: بل للناس عامة”

“Ketika hari arafah, setiap orang yang memiliki iman seberat telur semut maka dia akan diampuni.” ada yang bertanya kepada beliau, ’Apakah khusus untuk yang sedang wukuf di arafah ataukah umum mencakup semua orang?’ “Umum untuk semua manusia.” Jawab Ibnu Umar. (Lathaif al-Ma’arif, hlm. 492).

Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Dr. Sholih al-Fauzan. Ketika beliau ditanya, apakah keutamaan doa pada hari ‘Arafah khusus bagi para jamaah haji ataukah umum untuk semua manusia?

Jawaban beliau

الدعاء يوم عرفة عام للحجاج وغيرهم لكن الحجاج على وجه أخص لأنهم في مكان فاضل وهم متلبسون بالإحرام وواقفون بعرفة فهم يعني يتأكد الدعاء في حقهم والفضل في حقهم أكثر من غير الحجاج وأما بقية الناس الذين لم يحجوا فإنهم يشرع لهم الدعاء والاجتهاد بالدعاء في هذا اليوم ليشاركوا إخوانهم الحجاج في هذا الفضل

“Doa pada hari ‘Arafah berlaku umum untuk para jamaah haji dan selain jamaah haji. Akan tetapi, para jamaah haji lebih khusus karena mereka berada di tempat yang mulia, sedang melaksanakan ihram dan melakukan wuquf di arafah. Doa untuk mereka menjadi sangat ditekankan. Keutamaan untuk mereka lebih banyak dari pada selain jamaah haji. Adapun masyarakat lain yang tidak berhaji, disyariatkan untuk mereka berdoa serta bersungguh-sungguh dalam berdoa pada hari ini, agar sama-sama mendapatkan keutamaan sebagaimana saudara-saudara mereka, para jamaah haji.

Selanjutnya, Dr. Al-Fauzan menyebutkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan doa ketika hari arafah, kemudian beliau menegaskan,

فالدعاء مشروع في يوم عرفة للحاج ولغيره لكنه في حق الحاج آكد وأفضل لما هو متلبس به من المناسك ولما هو فيه من المكان العظيم الفاضل وأما الزمان وفضل الزمان فيشترك فيه الحجاج وغير الحجاج وأما المكان فيختص به الحجاج وهو الوقوف بعرفة.

Oleh karena itu, doa pada hari Arafah disyariatkan untuk orang yang berhaji dan selainnya. Akan tetapi, bagi orang yang berhaji, lebih ditekankan dan lebih utama, karena mereka sedang melaksanakan berbagai manasik dan karena mereka berada di tempat yang agung nan utama. Adapun tentang batas waktu (hari arafah) dan keutamaan waktu, jama’ah haji dan selain jamaah haji sama-sama mendapatkannya. Sementara tempat (arafah) hanya khusus untuk jamaah haji, yaitu wuquf di arafah.” [sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/8980]

Semua kaum muslimin bisa mendapatkan keutamaan hari arafah, sementara keutamaan padang arafah, hanya dimiliki oleh para jamaah haji yang sedang wukuf di arafah.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

syafaat hewan kurban di hari kiamat

Mendapat Syafaat dari Hewan Kurban di Hari Kiamat

Pertanyaan:

Salamun alaikum

Apa benar, nanti nanti kalo hari kiamat hewan yang kita kurbankan, bulunya, tanduknya, dan kukunya hewan qurban itu akan didatangkan dan akan menolong orang yang berkurban? Matur nuwun

Dari: Cs Solo

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Terdapat sebuah hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amalan manusia yang lebih dicintai oleh Allah untuk dilakukan pada hari Nahr (Idul Adha), melebihi amalan mengalirkan darah (qurban). Karena qurbannya akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kukunya. Dan darahnya akan menetes di tempat yang Allah tentukan, sebelum darah itu menetes di tanah. Untuk itu hendaknya kalian merasa senang karenanya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Turmudzi no 1493, Ibn Majah 3126, al-Hakim dalam al-Mustadrak 7523. Dalam sanad hadis ini terdapat perawi bernama Abdullah bin Nafi’ dan Sulaiman bin Yazid (Abul Mutsanna), dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya Urwah bin Zubair.

Tentang Abdullah bin Nafi’, Ibnul Jauzi (w. 597 H) menyatakan,

قال يحيى عبد الله بن نافع ليس بشيء وقال النسائي متروك وقال البخاري منكر الحديث وقال أبن حبان لا يحتج بأخباره

”Yahya bin Main mengatakan, ’Abdullah bin Nafi tidak teranggap.’ Nasai menyebutnya, ’Perawi yang ditinggalkan.’ Sementara Bukhari menegaskan, ’Munkarul Hadis.’ Dan Ibnu Hibban mengatakan, ’Beritanya tidak diterima sebagai dalil.” (al-Ilal al-Mutanahiyah, 3/569).

Imam adz-Dzahabi (w. 748 H) mengatakan: “Sulaiman orang yang lemah dan sebagian ahli hadits meninggalkannya.” al-Baghawi (w. 317 H) mengatakan: “Hadits ini dinilai sangat dhaif oleh Abu Hatim.” (Silsilah Ahadits ad-Dhaifah, no. 526).

Dengan demikian, keterangan yang tersebar di masyarakat bahwa hewan qurban akan datang pada hari kiamat, bersama tanduk, bulu, dan kukunya adalah keterangan yang bersumber dari hadil dhaif, yang tidak bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya.

Kita bisa memotivasi diri kita atau orang lain untuk berqurban, tanpa harus menyebutkan hadis yang tidak bisa dipertanggung jawabkan keshahihannya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَدّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يُــرَي أَنّه كَذِبٌ فَهو أَحَدُ الكَاذِبِين

“Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadis dariku, sementara dia menyangka bahwasanya hadis tersebut dusta maka dia termasuk diantara salah satu pembohong.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya, 1/7).

Imam Ibn Hibban dalam Al-Majruhin (1/9) mengatakan: “Setiap orang yang ragu terhadap hadis yang dia riwayatkan, apakah hadis tersebut shahih ataukah dhaif, tercakup dalam ancaman hadis ini.” (Ilmu Ushul Bida’, hlm. 160).shirt polo muslim

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

9,937FansLike
4,525FollowersFollow
33,396FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN