<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Ibadah</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/fikih/ibadah-fikih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Shalat Sunah di Malam 1 Rajab</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 May 2012 04:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11493</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Shalat Sunah di Malam 1 Rajab Pertanyaan: Assalamu’alaikum Insya Allah nanti malam adalah malam tanggal 1 Rajab. Saya mendengar ada anjuran untuk melakukan shalat sunah setelah maghrib sampai isya. Dengan janji pahala yang besar. Benarkah demikian? Terima kasih. Dari: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Shalat Sunah di Malam 1 Rajab</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Insya Allah nanti malam adalah malam <strong>tanggal 1 Rajab</strong>. Saya mendengar ada anjuran untuk melakukan <strong>shalat sunah</strong> setelah maghrib sampai isya. Dengan janji pahala yang besar. Benarkah demikian?<br />
Terima kasih.</p>
<p>Dari: Tri<br />
<span id="more-11493"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<p>Terdapat sebuah hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em>, yang menyatakan:</p>
<p class="arab">أن من صلى المغرب أول ليلة من من رجب ثم صلى بعدها عشرين ركعة بفاتحة الكتاب وقل هو اللّه أحد مرة ويسلم فيهن عشر تسليمات أتدرون ما ثوابه فإن الروح الأمين جبريل أعلمني بذلك قلنا اللّه ورسوله أعلم قال حفظة اللّه تعالى في نفسه وماله وأهله وولده وأجبر من عذاب القبر وجاز على الصراط كالبرق بغير حساب ولا عذاب</p>
<p>“Siapa yang shalat magrib di malam pertama bulan <em>Rajab</em>, kemudian dilanjutkan dengan shalat 20 rakaat, di setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas satu kali, kemudian salam 10 kali (setiap dua rakaat salam), tahukan kalian apa pahalanya? Sesungguhnya Ruh yang amanah (Malaikat Jibril) mengajariku hal itu.” Para sahabat berkomentar, “Allah dan Rasul-Nya paling tahu.” Beliau melanjutkan, “Dia diberi penjagaan Allah terhadap dirinya, hartanya, keluarganya, anaknya, dilindungi dari siksa kubur, mudah melewati shirat seperti kilat, tanpa dihisab dab tanpa diazab.”</p>
<p>Hadis dengan redaksi di atas, diriwayatkan oleh Al-Jauzaqani dari jalur Abu Ja’far Muhammad bin Ali At-Thai, dari Abdul Karim bin Abu Hanifah, dari Abu Thayib thahir bin Hasan Al-Muthawi’i.</p>
<p>Imam As-Suyuthi memberikan komentar ringkas untuk hadis ini:</p>
<p class="arab">موضوع: وأكثر رواته مجاهيل</p>
<p>“Palsu, dan kebanyakan perawinya tidak dikenal.” (<em>Al-Lali’ al-Mashnu’ah</em>, 1:68).</p>
<p>Komentar yang sama juga disampaikan oleh As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em> 1:24 dan Ibnul Jauzi dalam <em>Al-Maudhu’at </em>2:123.</p>
<p>Kesimpulannya, kabar tentang amalan di malam pertama bulan <u>Rajab</u>, sebagaimana yang tersebar di masyarakat adalah dusta atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dengan demikian, kita kembali pada hukum asal bahwa tidak ada amalan khusus di malam Rajab.<br />
<em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-sunah-di-malam-1-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 May 2012 01:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11468</guid>
		<description><![CDATA[Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Ustadz Bagaimana Derajat Hadist ini: Menurut Ibnu Abidin yang sebaiknya dibaca pada shalat dhuha adalah surat Asy-Syam pada rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua. Hal ini berdasarkan riwayat dari Uqban ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum Ustadz</p>
<p>Bagaimana Derajat Hadist ini:<br />
Menurut Ibnu Abidin yang sebaiknya dibaca pada <strong>shalat dhuha</strong> adalah surat Asy-Syam pada rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua.</p>
<p>Hal ini berdasarkan riwayat dari Uqban bin Amir, &#8220;Kami diperintahkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk shalat dhuha dengan membaca sejumlah surat. Di antaranya Asy-Syams dan Adh-Dhuha.&#8221;</p>
<p>Sementara dalam <em>Nihayatul Muhtaj</em> disebutkan bahwa yang lebih utama membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas karena surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Alquran dan Al-Kafirun setara dengan seperempat Alquran.</p>
<p>Ana kutip dari :<br />
1. http://anggrafansclub.wordpress.com/2012/01/23/apakah-ada-bacaan-surat-khusus-dalam-shalat-dhuha/</p>
<p>2. http://www.syariahonline.com/v2/shalat/2479-surat-yang-dibaca-dalam-shalat-dhuha.html</p>
<p>Dari: Muhammad Nawir<br />
<span id="more-11468"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam<br />
<em>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah&#8230;</em></p>
<h3>Bacaan Sholat Dhuha</h3>
<p>Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan untuk membaca surat As Syams pada rakaat pertama dan membaca surat Ad dhuha pada rakaat kedua. Hadis tersebut berbunyi:</p>
<p class="arab">صلوا ركعتي الضحى بسورتيها : (والشمس وضحاها) ، و (الضحى).</p>
<p>&#8220;<em>Shalatlah dua rakaat dhuha dengan membaca dua surat dhuha, yaitu surat Was syamsi wadhuhaa haa dan surat Adh dhuha.</em>&#8221;</p>
<p>Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan: &#8220;<em>Barangsiapa yang mengamalkannya maka dia diampuni</em>.&#8221;</p>
<p>Hadis di atas diriwayatkan oleh Ar Ruyani dalam <em>Musnad­-</em>nya dan Ad Dailami (2:242) dari jalur Musyaji&#8217; bin &#8216;Amr. Hadis ini juga disebutkan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam <em>Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari</em> dan tidak dikomentari. Beliau hanya menyatakan bahwa bacaan surat tersebut ada kesesuaian bacaan dengan shalat yang dikerjakan. Namun yang benar, hadis di atas adalah hadis palsu. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Albani, beliau mengatakan: &#8220;Hadis ini palsu, cacatnya ada pada Musyaji&#8217; bin Amr. Ibn Ma&#8217;in berkomentar tentang Musyaji&#8217;: &#8220;yang saya tahu dia (musyaji&#8217;) adalah seorang pendusta.&#8221; (<em>Silsilah Hadis Dhaif dan Palsu</em>, hadis ke-3774).</p>
<p>Hadis ini juga didhaifkan oleh Al Munawi dalam <em>Faidlul Qodir</em> dengan alasan adanya perawi yang bernama Musyaji&#8217; bin Amr. Imam Ad Dzahabi dalam <em>Ad Dlu&#8217;afa&#8217;</em> mengatakan dengan menukil perkataan Ibn Hibban: &#8220;Dia memalsukan hadis dari Ibn Lahi&#8217;ah dan dia adalah dhaif.&#8221; (<em>Faidlul Qodir</em>, 4:201).</p>
<p>Dari dua penjelasan ini, dapat diambil kesimpulan dengan yakin bahwa hadis yang menganjurkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu adalah hadis dhaif. Artinya tidak ada anjuran untuk mengkhususkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu, baik di rakaat pertama, rakaat kedua, maupun doa setelah shalat dhuha.</p>
<p>Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah ibadah yang penting untuk diketahui:</p>
<p>&#8220;Membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak dengan tata cara tertentu –misalnya waktu, tempat, bacaan, jumlah, dan yang lainnya- tanpa ada keterangan dalil yang shahih termasuk salah satu bentuk bid&#8217;ah.&#8221; (<em>Qowa’id Ma’rifatil Bida’</em>, Hal. 52)</p>
<p>Karena hadis yang dijadikan dalil untuk menetapan dua surat di atas adalah hadis palsu maka tidak selayaknya dijadikan pegangan untuk mengkhususkan bacaan tertentu dalam shalat dhuha. Karena hadis palsu bukanlah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sementara mengkhususkan bacaan tertentu untuk ibadah yang sifatnya umum (tidak ditentukan bacaannya) padahal tidak ada dasarnya, termasuk salah satu perbuatan bid&#8217;ah. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>As Syaikh Ibn Baz <em>rahimahullah</em> pernah ditanya tentang bacaan surat As Syamsi dan Ad dhuha ketika shalat dhuha. Beliau menjawab:</p>
<p>&#8220;Adapun yang sesuai sunah, engkau membaca surat yang mudah menurutmu setelah membaca Al Fatihah. Dalam bacaan tersebut tidak ada batasan tertentu, karena yang wajib hanya Al Fatihah sedangkan tambahannya adalah sunah. Maka jika setelah Al Fatihah engkau membaca surat As Syamsi, Al Lail, Ad dhuha, Al Insyirah, dan surat-surat yang lainnya, ini adalah satu hal yang baik.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa dan Maqalat Ibn Bazz</em>, 11).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Biats (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panduan Umrah (bagian 3)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-3/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 08:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11012</guid>
		<description><![CDATA[Tahallul Untuk laki-laki, tahallul bisa dilakukan dengan dua cara: Menggundul, inilah cara yang lebih dianjurkan.  Disebutkan dalam hadis Ibnu Umar radhiallahu &#8216;anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebaikan tiga kali untuk orang yang menggundul dan sekali untuk yang tidak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tahallul</h2>
<p><strong>Untuk laki-laki,</strong> tahallul bisa dilakukan dengan dua cara:</p>
<ol>
<li>Menggundul, inilah cara yang lebih dianjurkan.  Disebutkan dalam hadis Ibnu Umar <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendoakan kebaikan tiga kali untuk orang yang menggundul dan sekali untuk yang tidak menggundul.  (HR. Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Memotong pendek, namun merata di seluruh bagian rambut. BUKAN memotong ujungnya saja.</li>
</ol>
<p><strong>Bagi wanita,</strong> hanya boleh menggunting sedikit rambutnya, kira-kira seukuran ruas jari. (Sahih Abu Daud)</p>
<p>Setelah melakukan <strong>tahallul</strong>, Anda sudah halal, tidak lagi disebut muhrim, dan selanjutnya boleh melakukan kegiatan apapun yang dilarang ketika ihram.</p>
<h2>Larangan-Larangan Ketika Ihram</h2>
<p>1. Memotong rambut yang ada di seluruh tubuh dengan cara apapun tanpa alasan yang membolehkan. Baik sebagian maupun digundul, baik hanya dipotong maupun dicabuti.</p>
<p>2. Memotong kuku tangan maupun kaki tanpa alasan yang membolehkan.</p>
<p>3. Bersengaja menutupi kepala atau wajah bagi laki-laki. Dengan menutupkan sesuatu yang sifatnya melekat (menempel) di atas kepala. Adapun jika tutupnya terpisah, seperti kemah, tenda, atau atap mobil maka diperbolehkan. Karena Usamah bin Zaid dan Bilal bin Rabah <em>radhiallahu ‘anhu</em> pernah menggunakan pakaiannya untuk menutupi dirinya dari terik matahari ketika melempar jumrah aqabah.</p>
<p>4. Mengenakan pakaian yang berjahit dengan sengaja bagi laki-laki</p>
<p>5. Bersengaja menggunakan wewangian ketika sudah mulai berihram.</p>
<p>Adapun sisa wewangian yang dipakai sebelum ihram dan bau wanginya masih ada ketika ihram maka diperbolehkan.</p>
<p>6. Membunuh binatang buruan darat. Bentuk pembunuhan ini ada beberapa macam:</p>
<ol>
<li>Berburu sendiri</li>
<li>Memerintahkan orang lain untuk berburu</li>
<li>Menunjukkan binatang buruannya</li>
<li>Ada orang yang berburu untuk diberikan kepadanya, baik dia tahu maupun tidak tahu.</li>
</ol>
<p>7. Melakukan akad nikah atau menikahkan orang lain. Termasuk dalam hal ini adalah larangan melamar.</p>
<p>Catatan: Pelanggaran akad nikah tidak ada fidyahnya namun akad nikahnya batal.</p>
<p>8. Melakukan hubungan suami istri dengan sengaja. Pelanggaran ini menyebabkan ihramnya batal.</p>
<p>9. Bercumbu selain jima’. Meskipun hanya dengan menyentuh, mencium, atau sebatas melihat yang semuanya dengan syahwat.</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Terlarang bagi orang yang ihram maupun yang tidak sedang ihram untuk mengganggu tanaman, rerumputan (kecuali rumput idz-khir), dan binatang-binatang yang ada di Mekah maupun Madinah.</p>
<h2>Cara Membayar Tebusan Untuk Setiap Pelanggaran</h2>
<p>Melakukan pelanggaran ketika ihram ada tiga keadaan:</p>
<ol>
<li>Melakukan pelanggaran tanpa udzur dan tidak ada kebutuhan. Ini adalah perbuatan dosa dan wajib membayar fidyah.</li>
<li>Melakukan pelanggaran karena ada kebutuhan. Misalnya memakai jaket ketika cuaca dingin. Tidak ada dosa untuk pelanggaran ini namun wajib membayar fidyah.</li>
<li>Melakukan pelanggaran karena udzur, semacam tidak tahu, lupa, terpaksa, atau dalam keadaan tidur. Tidak ada dosa untuk pelanggaran ini. Sedangkan kewajiban membayar fidyah masih diperselisihkan ulama. Insya Allah, yang lebih mendekati kebenaran adalah tidak ada kewajiban membayar fidyah.</li>
</ol>
<p><strong>Ukuran Membayar Fidyah</strong></p>
<p>Ukuran pembayaran fidyah pada beberapa pelanggaran berbeda-beda. Berikut rinciannya:</p>
<p><strong>A.</strong> Memotong rambut, kuku, mengenakan tutup kepala atau wajah, memakai pakaian berjahit, menggunakan wewangian. Untuk masing-masing pelanggaran tersebut fidyahnya ada tiga pilihan:</p>
<ol>
<li>Menyembelih seekor kambing dan semuanya dibagikan kepada orang miskin.</li>
<li>Memberi makan enam orang miskin masing-masing 0,75 kg bahan makanan.</li>
<li>Berpuasa 3 hari.</li>
</ol>
<p><strong>B.</strong> Berhubungan suami istri sebelum tahallul pertama, hukumannya ada tiga:</p>
<ol>
<li>Ihramnya batal.</li>
<li>Wajib menyempurnakan ihramnya (haji atau umrahnya).</li>
<li>Wajib mengqadha pada kesempatan berikutnya.</li>
<li>Menyembelih seekor onta dan dibagikan kepada orang miskin.</li>
</ol>
<p>Namun jika hubungan suami istri dilakukan setelah <em>tahallul</em> pertama, hajinya tidak batal namun wajib membayar fidyah berupa menyembelih kambing dan membagikan seluruh dagingnya kepada orang miskin di tanah haram.</p>
<p><strong>C.</strong> Berburu binatang darat</p>
<p>- Jika binatang yang diburu ada yang kadarnya semisal. Contoh kambing, memiliki binatang semisal, yaitu domba. Maka ada tiga pilihan:</p>
<ol>
<li>Menyembelih binatang yang semisal dengan buruannya, dan membagikan seluruh dagingnya ke orang miskin.</li>
<li>Bersedekah dengan bahan makanan yang senilai dengan harga binatang buruan tersebut dan membagikannya ke orang miskin masing-masing 0,75 kg.</li>
<li>Berpuasa beberapa hari sebanyak jumlah orang miskin yang bisa mendapat jatah sedekah makanannya.</li>
</ol>
<p>- Namun jika binatang buruannya tidak ada yang semisal maka ada dua pilihan:</p>
<ol>
<li>Bersedekah dengan bahan makanan yang senilai dengan harga binatang buruan tersebut dan membagikannya ke orang miskin masing-masing 0,75 kg.</li>
<li>Berpuasa beberapa hari sebanyak jumlah orang miskin yang bisa mendapat jatah sedekah makanannya.</li>
</ol>
<p>Contoh: Ibn Abbas <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhu</em> menetapkan satu merpati dengan fidyah seekor kambing.</p>
<p><strong>D.</strong> Bercumbu selain jima’, baik sampai keluar sperma maupun tidak.</p>
<p>Pelanggaran ini tidak sampai membatalkan ihramnya. Namun pelakunya wajib beristighfar dan bertaubat. Sebagian ulama mewajibkan untuk menyembelih kambing. Boleh juga memberi makan 6 orang miskin atau berpuasa tiga hari. Namun sebagai bentuk kehati-hatian sebaiknya menyembelih binatang.</p>
<p><strong>E.</strong> Orang yang ihram untuk berhaji atau <strong>umrah</strong> kemudian terhalang, sehingga tidak bisa sampai ke Masjidil Haram, maka hendaknya dia tetap dalam posisi ihram jika masih bisa diharapkan penghalang tersebut hilang. Namun jika penghalang tersebut tidak mungkin lagi untuk dihilangkan, maka dia menyembelih kambing dan tahallul dengan memotong rambut.</p>
<p>Kecuali jika di awal sebelum ihram dia mempersyaratkan diri dengan mengucapkan:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ مَحِلِّى حَيْثُ حَبَسْتَنِى</p>
<p>Maka tidak perlu menyembelih binatang dan cukup tahallul.</p>
<p>Namun apakah wajib qadha?? Insya Allah yang lebih mendekati kebenaran adalah tidak wajib qadha. <em>Allaahu A’lam. </em></p>
<h3>Hal-hal yang Dibolehkan Bagi Orang yang Ihram</h3>
<ol start="1">
<li>Membunuh binatang-binatang pengganggu yang diperitahkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk dibunuh, baik di tanah haram maupun di luar tanah haram. Hewan-hewan tersebut adalah:</li>
<li>Kalajengking dan sebangsanya. Gagak, burung buas lainnya; seperti: elang, burung hantu, dll. Tikus, Anjing galak, dan binatang buas lainnya; semacam singa, macan, serigala, dll. serta ular.</li>
<li>Jika tidak memiliki pakaian ihram maka dibolehkan memakai celana. Demikian pula jika tidak memiliki sandal maka boleh memakai kaos kaki.</li>
<li>Memakai kaos kaki yang panjangnya di bawah mata kaki</li>
<li>Mandi dalam rangka mendinginkan tubuh, menyiram kepalanya, dan sedikit menggosok badannya jika dibutuhkan.</li>
<li>Mencuci pakaian ihramnya. Boleh juga mengganti pakaian ihramnya dengan pakaian yang lain, selama bisa dipakai untuk ihram.</li>
<li>Memakai kaca mata terik atau kaca mata karena rabun.</li>
<li>Memakai jam tangan.</li>
<li>Berbekam. Karena Nabi pernah berbekam ketika sedang ihram.</li>
<li>Berteduh di bawah payung, tenda, atap mobil, pohon atau yang lainnya.</li>
<li>Memakai sabuk.</li>
<li>Membawa uang dan menyimpannya di sabuk atau yang lainnya.</li>
<li>Mengenakan kain yang berjahit sebagai tambalan bagian yang sobek. Karena yang terlarang adalah jahitan yang digunakan untuk membentuk lengan, atau semacamnya, menyesuaikan bentuk tubuh.</li>
</ol>
<h3>Adab memasuki kota Mekah</h3>
<ol>
<li>Dianjurkan untuk beristirahat di tempat yang sesuai di luar kota Mekah dan bermalam di sana, sehingga bisa melakukan kegiatan bersih-bersih sebelum thawaf.</li>
<li>Jika memungkinkan, dianjurkan untuk mandi di tempat peristirahatan tersebut.</li>
<li>Jika memungkinkan, masuk ke kota Mekah melalui jalan yang berda di dataran tinggi dan pulang melalui jalur yang berada di dataran rendah.</li>
<li>Ketika sudah sampai Masjidil Haram, dianjurkan hal-hal berikut:
<ol>
<li>Masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan.</li>
<li>Melafadzkan doa masuk masjid.</li>
<li>Jika tidak memungkinkan untuk mandi, maka minimal berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil.</li>
<li>Tahiyyatul masjid dengan thawaf bagi yang ingin thawaf. Jika tidang ingin thawaf maka cukup shalat dua rakaat.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><em>Allaahu A’lam&#8230;</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-3" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel sebelumnya:</p>
<h3><a href="http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1/" target="_blank">Panduan Umrah (Bagian 1)</a><br />
<a href="http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-2/" target="_blank">Panduan Umrah (Bagian 2)</a></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panduan Umrah (bagian 1)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2012 04:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11007</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Umrah Umrah secara bahasa artinya ziarah Secara istilah: Berziarah ke ka’bah dengan tata cara tertentu, yang mencakup ihram, tawwaf, sa’I, dan tahalul. Hukum Umrah Wajib bagi orang yang wajib melaksanakan haji menurut pendapat yang paling kuat. Syarat Wajibnya Umrah: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pengertian Umrah</h2>
<p><strong>Umrah</strong> secara bahasa artinya ziarah<br />
Secara istilah: Berziarah ke ka’bah dengan tata cara tertentu, yang mencakup ihram, tawwaf, sa’I, dan tahalul.</p>
<h2>Hukum Umrah</h2>
<p>Wajib bagi orang yang wajib melaksanakan haji menurut pendapat yang paling kuat.</p>
<h2>Syarat Wajibnya Umrah:</h2>
<ol start="1">
<li>Islam</li>
<li>Baligh, dan Berakal</li>
<li>Merdeka</li>
<li>Memiliki kemampuan; adanya bekal dan kendaraan</li>
<li>Ada mahram (khusus bagi wanita)</li>
</ol>
<h2>Adab Haji dan Umrah</h2>
<ol>
<li>Menata hati agar berniat semata-mata beribadah kepada Allah. Bukan mencari gelar ‘Pak Haji’ atau tujuan dunia lainnya.</li>
<li>Memahami fiqh masalah haji, <em>umrah</em>, dan adab melakukan perjalanan.</li>
<li>Bertaubat dari semua dosa yang pernah dilakukan.</li>
<li>Menggunakan uang yang halal untuk biaya haji dan umrahnya</li>
<li>Menulis dan menitipkan wasiat kepada keluarganya, sebagaimana wasiat orang yang hendak meninggal dunia. Seperti: Masalah hutang piutang, pemutihan dosa, dan kesalahan antar-sesama, penunaian hak-hak sesama, dsb.</li>
<li>Dianjurkan untuk memulai keberangkatannya pada pagi hari kamis.</li>
<li>Ka’ab bin Malik <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhu</em> mengatakan, “Jarang sekali Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>  bepergian di selain hari kamis.” (HR. Bukhari-<em>Fath</em><em>,</em> 6:113)</li>
<li>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendoakan keberkahan bagi kegiatan umatnya di pagi hari, “Ya Allah, berkahilah untuk umatku di pagi hari mereka.” (<em>Shahih Abu Daud</em>, 2:494).</li>
<li>Shalat dua rakaat di rumah ketika hendak berangkat</li>
</ol>
<p><strong>            Nabi</strong> <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> <strong>bersabda,</strong> “Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” (Al-Bazzar; dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<ol>
<li>Melantunkan bacaan dengan berdoa ketika keluar rumah</li>
</ol>
<p class="arab">بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ</p>
<p><em>Bismillaah tawakkaltu ‘alaLLaah laa ha-ula wa laa quwwata illaa bilLLaah</em></p>
<ol>
<li>Menjaga amalan dan doa-doa di tengah safar, seperti bertakbir ketika melewati jalan yang naik dan bertasbih ketika melewati jalan yang turun.</li>
<li>Menunjuk salah satu anggota rombongan sebagai pemimpin, jika safarnya rombongan. Kemudian semua anggota rombongan wajib taat pada pemimpin rombongan dalam setiap urusan yang terkait dengan safarnya.</li>
<li>Dianjurkan ketika singgah untuk tidak berpencar, namun berkumpul di satu tempat. Karena perpecahan adalah bagian dari godaan setan</li>
<li>Memperbanyak berdoa kepada Allah untuk kemaslahatan dunia dan akhirat. Baik untuk pribadi maupun untuk umat secara umum. Karena doa musafir termasuk di antara doa yang mustajab.</li>
<li>Berusaha menjauhi segala maksiat baik dosa besar maupun kecil. Terutama di tanah haram. Karena maksiat di tempat yang mulia dan di waktu yang mulia, dosanya lebih besar dan ancamannya lebih membahayakan.</li>
<li>Menjaga setiap kewajiban, terutama shalat jamaah.</li>
<li>Memperbanyak ketaatan dan ibadah sunah lainnya. Seperti membaca Alquran, dzikir, doa, dll.</li>
<li>Menjaga perilaku dan akhlaq. Tidak banyak guyon dan gojek.</li>
<li>Segera pulang jika urusan telah selesai</li>
<li>Membawa hadiah dan oleh-oleh bagi yang di rumah. Sebaik-baik oleh-oleh haji adalah air zam-zam.</li>
<li>Ketika sampai rumah, dianjurkan untuk berpelukan dengan orang yang tinggal di rumah ketika ketemu pertama.</li>
<li>Dibolehkan untuk mengadakan acara makan-makan setelah balik dari safar. Pesta makan-makan ini dalam istilah Arab disebut: <em>An Naqi’ah</em></li>
</ol>
<h2>Miqat Haji dan Umrah</h2>
<p><strong>Pertama</strong>, Miqat waktu: haji di bulan-bulan haji. Sedangkan <u>umrah</u> waktunya longgar<br />
<strong>Kedua</strong>, Miqat tempat:</p>
<ol>
<li>Dzul Hulaifah (Bir Ali) &#8211;&gt; Orang yang datang dari Madinah dan sekitarnya.</li>
<li>Al Juhfah (Khirab)  &#8211;&gt; Orang yang datang dari Syam.</li>
<li>Qarnul Manazil (As-Sailul Kabir) &#8211;&gt; Orang yang datang dari Iran, Iraq, Pakistan, dan penduduk-penduduk daerah Timur.</li>
<li>Yalamlam &#8211;&gt; Orang yang datang dari Yaman dan negeri Selatan.</li>
<li>Dzatu Irak &#8211;&gt; Orang yang datang dari Irak.</li>
</ol>
<p><strong> Catatan:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Wajib bagi jamaah haji maupun umrah untuk melakukan ihram sejak melewati batas miqat yang telah ditentukan.</li>
<li>Jika melewati miqat dalam keadaan tidak berihram, maka wajib kembali keluar daerah miqat kemudian berihram dari miqat.</li>
<li>Jika tidak mungkin untuk keluar maka wajib membayar DAM berupa sembelihan kambing.</li>
<li>Jedah bukan miqat. Karena itu, untuk rute perjalanan: Jakarta – Jedah – Mekah, mengambil miqatnya di pesawat ketika melewati daerah Yalamlam. Sebaiknya kain ihram disiapkan sejak dari bandara Soekarno-Hatta.</li>
<li>Untuk rute perjalanan: Jakarta – Jedah – Madinah – Mekah, jamaah mengambil miqat di Dzul Hulaifah (Bir Ali), sehingga pakaian umrah baru disiapkan ketika di Madinah. Namun, tidak boleh mengambil miqat dari hotel. Karena hotel di Madinah bukan miqat.</li>
</ol>
<h2><strong> Apa yang dilakukan orang yang Haji atau Umrah Ketika di Miqat</strong></h2>
<ol start="1">
<li>Memotong kuku, mencukur kumis, bulu ketiak, dan bulu pubis. Tidak diperbolehkan memotong jenggot sedikit pun.</li>
<li>Mandi. Syariat mandi ini berlaku baik dalam keadaan suci maupun haid.</li>
<li>Menggunakan minyak wangi sesuai selera.</li>
<li>Memakai pakaian ihram.</li>
<li>Dianjurkan memulai ihram setelah shalat fardhu. Jika tidak di waktu shalat fardhu, maka dianjurkan shalat dua rakaat dengan niat sunah wudhu atau tahiyatul masjid (biasanya di miqat ada masjid).</li>
<li>Setelah selesai shalat, dilanjutkan dengan niat untuk melakukan manasik umrah atau haji. Kemudian diikuti dengan ikrar umrah dengan melantunkan talbiyah:</li>
</ol>
<p>-          LABBAIKA  ‘UMRATAN   atau</p>
<p>-          LABBAIKALLAAHUMMA ‘UMRATAN</p>
<ol start="7">
<li>Jika dikhawatirkan tidak bisa menyempurnakan ihramnya, maka dianjurkan untuk mengajukan persyaratan dengan mengucapkan:</li>
</ol>
<p class="arab"><strong>اللَّهُمَّ مَحِلِّى حَيْثُ حَبَسْتَنِى</strong></p>
<p><em>Allaahumma, mahallii hai-tsu habastanii</em></p>
<p>Ya Allah, tempat terakhirku adalah sebagaimana Engkau menahanku.</p>
<p>Jika orang yang ihram mempersyaratkan hal ini, kemudian ada sesuatu yang menghalangi dirinya sehingga tidak bisa menyelesaikan manasiknya; misalnya sakit atau tidak kuat, maka dia boleh langsung tahallul dan tidak ada kewajiban apapun padanya. Sebagaimana perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada Dhaba&#8217;ah bintu Zubair yang hendak ihram sementara dia sakit-sakitan, beliau meminta agar mengajukan persyaratan di atas. (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<h3>Rukun Umrah dan Kewajiban-kewajibannya</h3>
<p>Rukun umrah ada tiga:</p>
<ol>
<li>Berihram, berniat untuk memulai umrah</li>
<li>Thawaf</li>
<li>Sa’i</li>
</ol>
<p>Kewajiban Umrah ada dua:</p>
<ol>
<li>Melakukan ihram ketika hendak memasuki miqat</li>
<li>Bertahallul dengan menggundul atau memotong sebagian rambut</li>
</ol>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Meninggalkan rukun, maka umrahnya tidak sempurna dan wajib diulangi</li>
<li>Meninggalkan kewajiban, umrah tetap sah dan kesalahan tersebut (meninggalkan kewajiban) bisa ditutupi dengan DAM.</li>
<li>Melakukan jima’ sebelum tahallul maka wajib membayar seekor kambing, sebagaimana fatwa Ibn Abbas <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhuma</em>.</li>
</ol>
<h3>Tata Cara Umrah</h3>
<ol start="1">
<li>Memulai masuk miqat dengan posisi berihram sambil mengucapkan ikrar: <em>Allahumma umratan</em> dan membaca talbiyah (<em>labbaik Allahumma labbaik</em>&#8230;dst).</li>
<li>Perbanyak mengucapkan talbiyah sampai masuk Masjidil Haram (mendekati rukun hajar aswad).</li>
<li>Selama di perjalanan dengan mengenakan kain ihram, tetap dianjurkan untuk <strong>menutupi</strong> <strong>kedua</strong> <strong>pundaknya</strong> dengan kain ihramnya bagi laki-laki, sampai tiba di dekat ka&#8217;bah.</li>
<li>Setelah masuk Masjidil Haram langsung melakukan thawaf, sa’i, dan tahallul. Cara masing-masing, akan dibahas lebih rinci di kesempatan berikutnya.</li>
</ol>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/panduan-umrah-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berutang Untuk Naik Haji dan Zakat</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/berutang-untuk-naik-haji-dan-zakat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/berutang-untuk-naik-haji-dan-zakat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 23:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ustadz Muhammad Yassir, Lc</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11076</guid>
		<description><![CDATA[Berutang Untuk Naik Haji dan Zakat Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Ustadz, saya mau bertanya. Jika kita mendapatkan pinjaman uang misalnya Rp.1 Milyar bolehkah uang itu kita gunakan untuk : 1. Apakah uang itu langsung kita keluarkan zakatnya? 2. Bolekhah uang itu kita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Berutang Untuk Naik Haji dan Zakat</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Ustadz, saya mau bertanya. Jika kita mendapatkan pinjaman uang misalnya Rp.1 Milyar bolehkah uang itu kita gunakan untuk :<br />
1. Apakah uang itu langsung kita keluarkan zakatnya?<br />
2. Bolekhah uang itu kita sedekahkan?<br />
3. Bolehkan uang itu kita gunakan untuk menghajikan orang tua kita?<br />
Mohon Jawabannya Ustad. <em>Jazakallahu khaira</em></p>
<p>Wassalamu’alaikum</p>
<p>Dari: Ahmad Syafii<br />
<span id="more-11076"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam<br />
<em>Alhamdulillah was shalatu was salamu ala Rasulillah</em></p>
<p>Sebelumnya, ana doakan semoga Anda tidak mendapatkan pinjaman 1 milyar rupiah, tapi semoga Anda mendapat rezeki nomplok 1 milyar rupiah, Amin.</p>
<p>Hutang yang Anda terima (berapa pun jumlahnya) sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab Anda (seperti harta Anda sendiri). Oleh karena itu, penggunaannya terserah bagi Anda, Anda mau sedekahkan atau menghajikan orang tua terserah. yang penting kalau sudah sampai waktu pelunasannya, Anda wajib melunaskannya.</p>
<p>Tidak wajib langsung dikeluarkan zakat, tapi ditunggu satu haul dahulu. kalau uang tersebut masih utuh atau mencapai nishob, maka wajib dizakati</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yasir, Lc. (Dewan Pembina </strong><a href="http://konsultasisyariah.com/berutang-untuk-naik-haji-dan-zakat" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)<br />
Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/berutang-untuk-naik-haji-dan-zakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat ketika Supermoon</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-ketika-supermoon/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-ketika-supermoon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 08:55:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11230</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu’alaikum Apakah ada amal ibadah khusus ketika terjadi fenomena supermoon? Apakah bisa dianalogikan dengan gerhana bulan? Terima kasih. Dari: Tri S Jawaban: Wa’alaikumussalam Ada Shalat ketika Supermoon? Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasuulillah.. Sebagai seorang yang beriman, kita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Apakah ada amal ibadah khusus ketika terjadi fenomena <strong>supermoon</strong>? Apakah bisa dianalogikan dengan gerhana bulan?</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Dari: Tri S<br />
<span id="more-11230"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<h2>Ada Shalat ketika Supermoon?<br />
<em></em></h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasuulillah..</em></p>
<p>Sebagai seorang yang beriman, kita sangat percaya bahwa segala fenomena di alam ini terjadi karena kehendak Allah. Kondisi semacam ini akan lebih sempurna lagi ketika diiringi dengan perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah Allah (ciptaan Allah). Kita hadirkan perasaan takut kepada Allah, kita hadirkan perasaan mengagungkan Allah, kita hadirkan keyakinan bahwa semua ini bukanlah sesuatu yang sia-sia. Dengan menghadirkan semua perasaan ini, kita akan semakin yakin akan kekuasaan Allah, sehingga menimbulkan semangat untuk takut dan semakin bertaqwa kepada Allah. Bahkan, bisa jadi itulah sejatinya yang menjadi tujuan mengapa Allah menciptakan fenomena alam yang kita anggap aneh.</p>
<p>Allah berfirman <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا</p>
<p>“<em>Tidaklah kami mengirim tanda-tanda kekuasaan itu (berupa musibah dan sejenisnya), selain dalam rangka menakut-nakuti mereka</em>.” (QS. Al-Isra’: 59)</p>
<p>Kita diingatkan dengan fenomena semacam ini agar kita tidak merasa aman dengan perbuatan yang kita lakukan. Allah mampu untuk melakukan yang hebat dari itu, Allah mampu menimpakan sesuatu yang lebih mengerikan, yang tidak pernah diperhitungkan oleh manusia;</p>
<p class="arab">قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ * وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ * لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”.  Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui</em>.” (QS. Al-An’am: 65 – 67)</p>
<p>Karena itulah, ketika melihat sesutau yang mengerikan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meninggalkan kegiatannya, dan berdoa kepada Allah. Istri beliau, Aisyah menceritakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِي أُفُقِ السَّمَاءِ تَرَكَ الْعَمَلَ وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا»</p>
<p>Bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> apabila melihat sesuatu yang menakutkan di langit, beliau tinggalkan kegiatannya, bahkan ketika sedang shalat sunah. Kemudian beliau berdoa:</p>
<p class="arab">«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا»</p>
<p>“<em>Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya</em>.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Demikianlah potret hamba yang bertaqwa. Melihat sesuatu yang menakutkan, bukannya mengabadikan di kamera digital, bukannya jeprat-jepret, tanpa menghadirkan rasa takut kepada Allah.</p>
<p>Para sahabat juga menceritakan, bagaimana panutan kita, Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika malam hari melihat langit, diceritakan sahabat ini:</p>
<p class="arab">ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَنَظَرَ فِي الْأُفُقِ، فَقَالَ: &#8221; {رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا} [آل عمران: 191] حَتَّى بَلَغَ {إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ} [آل عمران: 194]</p>
<p>Beliau bangun tidur kemudian melihat ke langit, lalu membaca firman Allah,</p>
<p class="arab">رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا</p>
<p>“<em>Ya Allah, Engkau tidak menciptakan hal ini sia-sia</em>.” (QS. Alli Imran: 191) sampai akhir ayat ke 194.  (HR. An-Nasa’i dan sanadnya dishahihkan Al-Albani)</p>
<h3>Apakah Disyariatkan Shalat Gerhana?</h3>
<p>Hadis yang menyebutkan shalat gerhana, hanya menjelaskan bahwa shalat ini dilaksanakan ketika terjadi gerhana dan kita melihatnya. Karena shalat ini dikaitkan dengan sebab tertentu, yaitu terjadinya gerhana. Aisyah menceritakan bahwa ketika terjadi gerhana, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajak para sahabat untuk melaksanakan shalat gerhana, kemudian beliau berkhutbah yang salah satu penggalannya:</p>
<p class="arab">هما آيتان من آيات الله لا يَخْسِفان لموت أحدٍ ولا لحياته. فإِذا رأيتموها فافزعوا إِلى الصلاة</p>
<p>“<em>Dua benda ini (matahari dan bulan), adalah di antara tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang. Karena itu, apabila kalian melihatnya, segeralah melakukan shalat</em>.” (HR. Bukhari – Muslim)</p>
<p>Yang dimaksud “melihatnya” adalah melihat peristiwa gerhana, dan bukan melihat matahari dan bulan.</p>
<p>Karena itu, peristiwa <em>supermoon</em> termasuk fenomena alam yang memberi pelajaran kepada kita untuk semakin bertaqwa kepada Allah dan mengagumi kehebatan Allah. Hanya saja, tidak ada amal khusus yang perlu dilakukan, selain amal hati (takut dan kagum) bagi yang melihatnya.<br />
<em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-ketika-supermoon" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/shalat-ketika-supermoon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat Ghaib untuk Jenazah yang Hilang</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-ghaib-untuk-jenazah-yang-hilang/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-ghaib-untuk-jenazah-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 04:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11219</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu’alaikum Berita terakhir, ada pesawat hilang di gunung salak. Untuk kasus pesawat hilang atau kapal tenggelam, jika ada jenazah yang belum dishalati, apa yang harus dilakukan? Trimakasih Dari: An B Jawaban: Wa’alaikumussalam Shalat Ghaib untuk Jenazah yang Hilang Ketika ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum</p>
<p>Berita terakhir, ada <strong>pesawat hilang di gunung salak</strong>. Untuk kasus <strong><span style="text-decoration: underline;">pesawat hilang</span></strong> atau kapal tenggelam, jika ada jenazah yang belum dishalati, apa yang harus dilakukan?<br />
Trimakasih</p>
<p>Dari: An B<br />
<span id="more-11219"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam</p>
<h2>Shalat Ghaib untuk Jenazah yang Hilang</h2>
<p>Ketika di awal Islam, sebagian sahabat pernah melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Pengusaha Habasyah yang saat itu beragama Nasrani, yaitu Raja Najasyi, menerima mereka dengan baik. Bahkan beliau sampai menangis ketika mendengar sahabat membacakan Alquran untuk beliau. Setelah bergaul dengan sahabat, akhirnya beliau masuk Islam, namun beliau merahasiakan statusnya sebagai muslim, mengingat banyak para pastur yang masih bercokol di sekitar beliau.</p>
<p>Ketika Raja Najasyi ini meninggal, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengumpulkan para sahabat untuk melakukan <strong><span style="text-decoration: underline;">shalat ghaib</span></strong> di Madinah. Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu,</em></p>
<p class="arab">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا</p>
<p>“<em>Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali</em>.” (HR. Al-Bukhari no. 1337)</p>
<p><strong>Penjelasan Fiqhiah:</strong><br />
<em>Shalat ghaib</em> adalah shalat jenazah yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap saudaranya yang wafat, sementara jenazahnya tidak ada di depan mereka atau berada di tempat yang lain.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat mengenai shalat ghaib, disyariatkan ataukah tidak?</p>
<p>Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat tidak disyariatkannya shalat ghaib secara mutlak. Adapun shalatnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada An-Najasyi, itu kekhususan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang tidak boleh diikuti oleh umat. Mereka berdalil dengan sebuah lafazh dalam riwayat lain hadis ini, “<em>Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat An-Najasyi berada.</em>” Sehingga keadaan beliau ibarat sedang berdiri di depan jenazah. Ditambah lagi, beliau tidak pernah dinukil melakukan shalat ghaib kepada seorang pun selain kepada An-Najasyi, maka ini menunjukkan itu adalah amalan yang khusus.</p>
<p>Sementara ulama lainnya berpendapat bahwa shalat ghaib tetap disyariatkan, walaupun mereka berbeda pendapat, apakah disyariatkan secara mutlak ataukah dengan batasan tertentu?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Imam Asy-Syaifi’i dan Ahmad berpendapat disyariatkan shalat ghaib secara mutlak untuk semua jenazah yang meninggal di tempat jauh. Meskipun jenazah tersebut sudah dishalati.  Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah di atas, dan menyatakan hadis itu berlaku mutlak dan umum.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dalam riwayat yang lain, Imam Ahmad juga berpendapat, shalat ghaib hanya disyariatkan untuk jenazah yang mempunyai sifat seperti An-Najasyi. Sifat yang dimaksud adalah seorang yang shalih, mempunyai kedudukan, dan memiliki jasa kepada Islam. Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah</em> dalam Fatawa beliau (13:159).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Shalat ghaib hanya disyariatkan untuk semua jenazah kaum muslimin yang tidak dishalati seperti An-Najasyi. Misalanya, meninggal di negeri kafir sehingga tidak ada yang menyalati atau meninggal di tempat terpencil yang tidak ada seorang pun yang menyalatinya, atau hilang ketika kasus kecelakaan. Sepeti peawat hilang atau kapal tenggelam.</p>
<p>Pendapat yang paling kuat, insya Allah, adalah pendapat yang terakhir. Shalat ghaib hanya disyariatkan untuk jenazah muslim yang tidak dishalati. Syaikhul Islam mengatakan,</p>
<p class="arab">أنّ الغائب إِن مات ببلدٍ لم يُصَلَّ عليه فيه، صُلّي عليه صلاةَ الغائب، كما صلّى النّبيّ &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8211; على النجاشي؛ لأنه مات بين الكُفار ولم يصلَّ عليه. وإنْ صُلّي عليه -حيث مات- لم يصلَّ عليه صلاة الغائب؛ لأنّ الفرض سقط بصلاة المسلمين عليه، والنّبيّ &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8211; صلّى على الغائب وتَرَكَهُ، وفِعْلُهُ وتَرْكُه سُنّة، &#8230; والله أعلم.</p>
<p>“Orang yang menghilang, ketika dia mati di sebuah daerah dan dia tidak dishalati, maka jenazah ini dishalati dengan shalat ghaib. Sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan shalat ghaib untuk Raja Najasyi. Karena beliau meninggal di antara orang kafir dan beliau belum dishalati. Sedangkan jenazah yang sudah dishalati ketika meninggal, maka tidak perlu dishalati ghaib. Karena kewajiban shalat jenazah menjadi gugur, ketika sudah ada kaum muslimin yang menshalatinya. Sementara Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah melakukan shalat ghaib (untuk jenazah tertentu) dan beliau tidak melakukan shalat ghaib untuk jenazah yang lain. Dan semua di dilakukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan yang sengaja ditinggalkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. .. <em>Allahu a’lam</em></p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, kasus pesawat yang hilang di hutan atau masuk ke laut, atau kapal tenggelam, atau jenazah hilang di hutan, dan kita pastikan bahwa jenazah ini belum dishalati dan tidak akan dishalati, maka pihak keluarga atau kaum muslimin lainnya, disyariatkan untuk melakukan shalat ghaib.<br />
<em>Allahu</em> <em>a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-shalat-ghaib-untuk-jenazah-yang-hilang" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-ghaib-untuk-jenazah-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Melafalkan Niat Shalat</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-melafalkan-niat-shalat/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-melafalkan-niat-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 01:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11018</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalammu‘alaikum Mohon penjelasan tentang, apakah boleh kita melafaskan niat Shalat; baik fardhu maupun sunah? Sedangkan niat itu letaknya di hati. Terima kasih. Wassalamm Dari: Dedi H Jawaban: Hukum Melafalkan Niat Shalat Sebagaimana pernyataan yang Anda sampaikan, bahwa niat tempatnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalammu‘alaikum</p>
<p>Mohon penjelasan tentang, apakah boleh kita melafaskan niat Shalat; baik fardhu maupun sunah? Sedangkan niat itu letaknya di hati.<br />
Terima kasih.</p>
<p>Wassalamm</p>
<p>Dari: Dedi H<br />
<span id="more-11018"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2>Hukum Melafalkan Niat Shalat</h2>
<p>Sebagaimana pernyataan yang Anda sampaikan, bahwa niat tempatnya di hati. Oleh Karena itu, jika niat ini dilafalkan berarti telah mengubah posisi niat yang seharusnya di hati di pindah ke lisan.</p>
<p>Qodhi Abur Rabi’ As Syafi’i mengatakan, “Mengeraskan niat dan bacaan di belakang imam bukanlah bagian dari sunah. Bahkan ini adalah sesuatu yang dibenci. Jika ini mengganggu jamaah shalat yang lain maka hukumnya haram.” (<em>Al Qoulul Mubin,</em> Hal.91).</p>
<p>Sebagian orang yang bermadzhab syafi’i salah paham terhadap ucapan Imam Syafi’i. Mereka beranggapan bahwa Imam Syafi’i mewajibkan melafalkan niat. Imam As-Syafi’i mengatakan,</p>
<p class="arab">الصَّلَاة لَا تَصِحُّ إلَّا بِالنُّطْقِ</p>
<p>“&#8230;.shalat itu tidak sah kecuali dengan <em>an-nuthq</em>.” (<em>Al Majmu’</em>, 3:277).</p>
<p><em>An nuthq</em> artinya berbicara atau mengucapkan. Sebagian Syafi’iyah memaknai <em>an nuthq</em> di sini dengan melafalkan niat. Padahal ini adalah salah paham terhadap maksud beliau <em>rahimahullah</em>. Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud dengan <em>an nuthq</em> di sini bukanlah mengeraskan bacaan niat. Namun maksudnya adalah mengucapkan <em>takbiratul ihram</em>. An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">قَالَ أَصْحَابُنَا غَلِطَ هَذَا الْقَائِلُ وَلَيْسَ مُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِالنُّطْقِ فِي الصَّلَاةِ هَذَا بَلْ مُرَادُهُ التَّكْبِيرُ</p>
<p>“Ulama kami (syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang memaknai demikian adalah keliru. Yang dimaksud As Syafi’i dengan An Nuthq ketika shalat bukanlah melafalkan niat namun maksud beliau adalah <em>takbiratul ihram</em>’.” (<em>Al Majmu’</em>, 3:277).</p>
<p>Kesalahpahaman ini juga dibantah oleh Abul Hasan Al Mawardi As Syafi’i, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">فَتَأَوَّلَ ذَلِكَ – الزُّبَيْرِيُّ &#8211; عَلَى وُجُوبِ النُّطْقِ فِي النِّيَّةِ ، وَهَذَا فَاسِدٌ ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وُجُوبَ النُّطْق بِالتَّكْبِيرِ</p>
<p>“Az Zubairi telah salah dalam mentakwil ucapan Imam Syafi’i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika shalat. Ini adalah takwil yang salah, yang dimaksudkan wajibnya mengucapkan adalah ketika ketika takbiratul ihram.” (<em>Al-Hawi Al-Kabir</em>, 2:204).</p>
<p>Keterangan dua ulama besar mazhab syafi’i memberi kesimpulan bagi kita bahwa melafalkan niat bukan pendapat semua ulama mazhab syafi’i. Lebih dari itu, mengingat latar belakang munculnya <em>talafudz</em> niat ini karena kesalahpahaman, sikap yang tepat adalah kembali pada makna yang benar.<br />
<em>Allah a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.konsultasisyariah.com/hukum-melafalkan-niat-shalat" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-melafalkan-niat-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Zakat atau Infak dan Shodaqoh</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-zakat-infak-dan-sedekah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-zakat-infak-dan-sedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 23:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ustadz Muhammad Yassir, Lc</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11026</guid>
		<description><![CDATA[Lebih Utama mana antara Zakat, Infak dan Shodaqoh? Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Pak Ustad saya mau tanya, lebih utama mana zakat atau infak/shodaqoh? Haruskah zakat perhitungannya selalu 2,5% kalo lebih bagaimana? Maksud saya misalnya saya ada uang 5 juta, saya niat berzakat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Lebih Utama mana antara Zakat, Infak dan Shodaqoh?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Pak Ustad saya mau tanya, lebih utama mana <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-zakat-infak-dan-sedekah" target="_blank">zakat atau infak</a></strong>/shodaqoh?<br />
Haruskah zakat perhitungannya selalu 2,5% kalo lebih bagaimana? Maksud saya misalnya saya ada uang 5 juta, saya niat berzakat 500 ribu sedangkan perhitungan 2,5% cuma 125 ribu, bagaimana selebihnya? Haruskah masuk ke zakat atau masuk shodaqoh? Terimakasih Pak Ustad wassalamu’alaikum</p>
<p>Dari: Sri Meilani<br />
<span id="more-11026"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam<br />
<em>Alhamdulillah was shalatu was salamua ala Rasulillah</em></p>
<p>Zakat dan sedekah/infak adalah sama-sama ibadah harta.</p>
<p><strong>Bedanya adalah:</strong><br />
Kalau zakat hukumnya wajib dan hanya dikeluarkan dari harta tertentu saja dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Sedekah hukumnya sunah, boleh dikeluarkan dalam bentuk harta apa saja.</p>
<p>Kalau ditanya yang paling afdhol antara keduanya, maka jawabannya adalah seluruh ibadah wajib lebih afdhol daripada ibadah sunah, dalam artian kita utamakan dahulu mengerjakan yang wajib daripada sunah. Jangan sampai kita disibukkan mengejar yang sunah sampai lalai melaksanakan yang wajib.</p>
<p>Adapun permisalan saudara dari harta 5 juta Anda keluarkan 500 ribu. Ini bukan zakat, karena zakat harta (seperti uang kertas ) wajib dikeluarkan kalau sudah mencapai nishob (seharga 85 gr emas murni). Baru dikeluarkan 2,5 % setelah melalui satu haul. Kalau Anda keluarkan lebih dari 2,5 %, maka Anda telah melakukan kebaikan yang lebih besar, yaitu sedekah. Insya Allah semoga pahala Anda dilipatgandakan oleh Allah.<br />
<em>Wallahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yasir, Lc. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-zakat-infak-dan-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memegang Tangan Istri Setelah Wudhu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/memegang-tangan-istri-setelah-wudhu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/memegang-tangan-istri-setelah-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 00:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10610</guid>
		<description><![CDATA[Wudhu Batal Sesudah Memegang Tangan Istri Pertanyaan: Apakah menyentuh tangan istri atau mencium istri itu membatalkan wudhu? Jawaban: Seorang suami yang menyentuh istrinya atau seorang wanita yang menyentuh suaminya meski dengan syahwat –demikian juga mencium isri selama tidak ada sesuatu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Wudhu Batal Sesudah Memegang Tangan Istri</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apakah menyentuh tangan istri atau mencium istri itu <strong>membatalkan wudhu</strong>?<br />
<span id="more-10610"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Seorang suami yang menyentuh istrinya atau seorang wanita yang menyentuh suaminya meski dengan syahwat –demikian juga <a href="http://konsultasisyariah.com/memegang-tangan-istri-setelah-wudhu" target="_blank" rel="nofollow"><strong>mencium isri</strong></a> selama tidak ada sesuatu cairan yang keluar– menurut pendapat yang benar tidak membatalkan <em>wudhu</em>.</p>
<p>Namun demikian terdapat ulama yang berpendapat bahwa menyentuh wanita secara mutlak adalah membatalkan <u>wudhu</u>. Sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa menyentuh wanita dengan syahwat dan merasakan kelezatanlah yang membatalkan wudhu.</p>
<p>Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama yaitu menyentuh wanita secara mutlak tidak membatalkan wudhu, selama tidak ada sesuatu cairan yang keluar, baik sentuhan suami terhadap istri atau sentuhan istri terhadap suami.</p>
<p>Sedangkan firman Allah,<br />
“Atau kalian menyentuh wanita&#8230;” (QS. Al-Maidah: 6)</p>
<p>Bahwa makna menyentuh di sini adalah bersetubuh, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas dan sekelompok ulama yang lain. Nabi juga pernah mencium salah seorang istri beliau kemudian shalat tanpa kembali berwudhu (Shahih Tirmidzi). Inilah makna menyentuh.</p>
<p>Jadi menyentuh yang terdapat dalam firman Allah “<em>laamastum</em>” yang dalam lafal lain dibaca “<em>lamastum</em>” (tanpa alif), adalah bermakna jima’ menurut sekelompok ulama. Inilah pendapat yang benar.</p>
<p>Dijawab oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz<br />
Majmu Fatawa Ibnu Baz 4:83</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Liz Zaujain Kepada Pasangan Suami Istri</em>, Media Hidayah, Cetakan 2003.</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/memegang-tangan-istri-setelah-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

