<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Bersuci</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/fikih/ibadah-fikih/bersuci/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Memegang Tangan Istri Setelah Wudhu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/memegang-tangan-istri-setelah-wudhu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/memegang-tangan-istri-setelah-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 00:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10610</guid>
		<description><![CDATA[Wudhu Batal Sesudah Memegang Tangan Istri Pertanyaan: Apakah menyentuh tangan istri atau mencium istri itu membatalkan wudhu? Jawaban: Seorang suami yang menyentuh istrinya atau seorang wanita yang menyentuh suaminya meski dengan syahwat –demikian juga mencium isri selama tidak ada sesuatu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Wudhu Batal Sesudah Memegang Tangan Istri</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apakah menyentuh tangan istri atau mencium istri itu <strong>membatalkan wudhu</strong>?<br />
<span id="more-10610"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Seorang suami yang menyentuh istrinya atau seorang wanita yang menyentuh suaminya meski dengan syahwat –demikian juga <a href="http://konsultasisyariah.com/memegang-tangan-istri-setelah-wudhu" target="_blank" rel="nofollow"><strong>mencium isri</strong></a> selama tidak ada sesuatu cairan yang keluar– menurut pendapat yang benar tidak membatalkan <em>wudhu</em>.</p>
<p>Namun demikian terdapat ulama yang berpendapat bahwa menyentuh wanita secara mutlak adalah membatalkan <u>wudhu</u>. Sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa menyentuh wanita dengan syahwat dan merasakan kelezatanlah yang membatalkan wudhu.</p>
<p>Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama yaitu menyentuh wanita secara mutlak tidak membatalkan wudhu, selama tidak ada sesuatu cairan yang keluar, baik sentuhan suami terhadap istri atau sentuhan istri terhadap suami.</p>
<p>Sedangkan firman Allah,<br />
“Atau kalian menyentuh wanita&#8230;” (QS. Al-Maidah: 6)</p>
<p>Bahwa makna menyentuh di sini adalah bersetubuh, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas dan sekelompok ulama yang lain. Nabi juga pernah mencium salah seorang istri beliau kemudian shalat tanpa kembali berwudhu (Shahih Tirmidzi). Inilah makna menyentuh.</p>
<p>Jadi menyentuh yang terdapat dalam firman Allah “<em>laamastum</em>” yang dalam lafal lain dibaca “<em>lamastum</em>” (tanpa alif), adalah bermakna jima’ menurut sekelompok ulama. Inilah pendapat yang benar.</p>
<p>Dijawab oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz<br />
Majmu Fatawa Ibnu Baz 4:83</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Liz Zaujain Kepada Pasangan Suami Istri</em>, Media Hidayah, Cetakan 2003.</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/memegang-tangan-istri-setelah-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Download Ebook -Tata Cara Wudhu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/download-ebook-tata-cara-wudhu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/download-ebook-tata-cara-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2012 03:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Ebook]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10562</guid>
		<description><![CDATA[Ebook Tata Cara Wudhu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam 1. Niat dan Baca Basmalah Jika seorang muslim akan berwudhu, maka hendaklah ia niat dengan hatinya, kemudian membaca: بِسْمِ اللَّهِ “Dengan Nama Allah.” Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: لاَ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ebook Tata Cara Wudhu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam</h2>
<p><strong>1. Niat dan Baca Basmalah</strong></p>
<p>Jika seorang muslim akan berwudhu, maka hendaklah ia niat dengan hatinya, kemudian membaca:</p>
<p class="arab">بِسْمِ اللَّهِ</p>
<p>“Dengan Nama Allah.”<br />
<span id="more-10562"></span><br />
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p class="arab">لاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ</p>
<p>“Tidak (sempurna) wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah (membaca bismillaah).” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, dan dishahihkan Ahmad Syakir)</p>
<p>Namun apabila seseorang lupa membaca basmalah, maka wudhunya tetap sah, tidak batal.</p>
<p><strong>2. Membasuh Telapak Tangan</strong></p>
<p>Kemudian disunahkan membasuh telapak tangan tiga kali sebelum memulai wudhu sambil menyela-nyelai jari-jemari.</p>
<h3>Download segera Ebook Tata Cara Wudhu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada link di bawah ini:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/video/ebook/ebook-tata-cara-wudhu-nabi-full.pdf" target="_blank" rel="nofollow">Ebook Tata <strong>Cara Wudhu</strong> Nabi (Versi PDF)</a>.<br />
2. <a title="konsultasi syariah" href="http://konsultasisyariah.com/video/ebook/ebook-tata-cara-wudhu-nabi-full.rar" target="_blank" rel="nofollow">Ebook Tata <em>Cara Wudhu</em> Nabi (Versi RAR)</a>.</p>
<p><strong>Artiket <a href="http://konsultasisyariah.com/download-ebook-tata-cara-wudhu" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/download-ebook-tata-cara-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan Mani dan Madzi bagi Wanita</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mani-dan-madzi-bagi-wanita/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mani-dan-madzi-bagi-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2012 07:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10145</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan Mani dan Madzi bagi Wanita Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Ketika sedang browsing mencari artikel tentang kesehatan, saya tanpa sengaja menemukan artikel tentang masalah sex. Kemudian saya membacanya. Ternyata saya mengeluarkan lendir. Apakah saya harus mandi wajib? Mohon penjelasannya. Terima kasih Dari: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Perbedaan Mani dan Madzi bagi Wanita</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum<br />
Ketika sedang browsing mencari artikel tentang kesehatan, saya tanpa sengaja menemukan artikel tentang masalah sex. Kemudian saya membacanya. Ternyata saya mengeluarkan lendir. Apakah saya harus mandi wajib? Mohon penjelasannya. Terima kasih</p>
<p>Dari: Fery Cahyaningsih<br />
<span id="more-10145"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam<br />
Jika itu mani maka wajib mandi, tetapi klo ternyata itu madzi maka tidak wajib mandi, hanya saja madzi itu najis.<br />
Cairan yang keluar dari wanita ketika syahwat, sama sebagaimana yang keluar dari laki-laki; bisa jadi mani dan bisa jadi madzi.</p>
<p>Keduanya memiliki ciri khas yang membedakannya.</p>
<p><strong>Pertama, mani</strong></p>
<p>Ada tiga ciri khas mani yang disebutkan oleh para ulama</p>
<p>1. Karakteristik Mani</p>
<p>Ciri mani yang paling mencolok adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إن ماء الرجل غليظ أبيض ، وماء المرأة رقيق أصفر</p>
<p>“<em>Mani laki-laki itu kental putih, sedangkan mani wanita agak encer kuning</em>.” (HR. Muslim, no.311)</p>
<p>Meskipun terkadang ada wanita yang air maninya berwarna putih.</p>
<p>2. Memiliki bau khas seperti bau mayangnya kurma, yang jika kena air seperti bau telur.</p>
<p>3. Disertai orgasme dan rasa lemas setelah mani keluar.</p>
<p>Ketiga hal ini tidak disyaratkan harus ada secara bersamaan. Karena itu, meskipun yang ada hanya satu ciri maka sudah cukup untuk menetapkan bahwa cairan itu statusnya mani. Demikian keterangan An-Nawawi dalam <em>Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab</em> 2:141.</p>
<p><strong>Kedua, madzi</strong></p>
<p>Karakteristik madzi: cairan putih, agak kental, keluar ketika syahwat, baik karena berimajinasi atau melihat sesuatu yang membangkitkan gairah. Ketika madzi keluar tidak ada orgasme dan tidak membuat lemas.</p>
<p><strong>Bagaimana jika meragukan?</strong></p>
<p>Ketika kita tidak bisa membedakan cairan yang keluar, apakah itu mani ataukah madzi, maka orang yang mengalaminya berhak untuk memilih sesuai dengan apa yang meyakinkan baginya. Ini merupakan pendapat Madzhab Syafi&#8217;i. Sebagaimana keterangan dalam <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, no. 161293.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/mani-dan-madzi-bagi-wanita" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:  <a href="http://konsultasisyariah.com/perbedaan-air-mani-madzi-dan-wadi" target="_blank" rel="nofollow">Perbedaan Air Mani, Madzi, dan Wadi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mani-dan-madzi-bagi-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lama Masa Haidh</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/lama-masa-haidh/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/lama-masa-haidh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 23:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10093</guid>
		<description><![CDATA[Masa Haid Wanita Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apakah ada batasan waktu tertentu untuk masa haidh tercepat dan masa haidh terlama dengan hitungan hari? Jawaban: Tidak ada batasan tertentu dengan jumlah hari untuk masa haidh tercepat dan masa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Masa Haid Wanita</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:<br />
Apakah ada batasan waktu tertentu untuk masa haidh tercepat dan masa haidh terlama dengan hitungan hari?<br />
<span id="more-10093"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Tidak ada batasan tertentu dengan jumlah hari untuk masa haidh tercepat dan masa hadih terlama, berdasarkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab">وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَآءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَتَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ</p>
<p>“<em>Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wantia di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.</em>” (QS. Al-Baqarah: 222)</p>
<p>Dalam ayat ini terdapat larangan untuk berhubungan badan dengan wanita yang sedang haidh. Allah tidak menyebutkan batasan masa larangan itu menurut hitungan hari, akan tetapi batasan masa larangan itu hanya disebut sampai keadaan suci. Berarti ayat ini menunjukkan bahwa alasan hukum Allah dalam hal itu adalah ada atau tidak adanya darah hadih. Jika darah hadih itu ada maka ketetapan hukum larangan menyetubuhi wanita itu berlaku, dan jika wanita itu telah bersuci maka ketetapan hukum larangan menyetubuhi wantia itu tidak berlaku lagi. Kemudian pula, tentang penetapan batasan masa haidh tidak ada dalil yang menunjukkannya, padahal keterangan batasan masa haidh ini amat penting untuk diketahui. Seandainya batasan masa haidh ini ada ketetapan waktunya, maka pasti hal itu akan diterangkan dalam <em>Kitabullah</em> dan sunah Rasul-Nya.</p>
<p>Berdasarkan ini, maka setiap kali seorang wanita melihat darah yang telah diketahui oleh kaum wanita bahwa darah itu adalah darah haidh, maka berarti wanita itu sedang dalam masa haidh tanpa perlu menghitung dengan waktu-waktu tertentu, kecuali jika keluarnya darah itu terus menerus dan tidak ada terputus, atau berhenti sebentar, satu atau dua hari dalam satu bulan, maka berarti darah yang keluar itu bukan darah haidh melainkan darah istihadhah (darah karena penaykit).</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="../hukum-darah-sebelum-persalinan" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait haid wanita:</h3>
<p>1. <a href="../cairan-keruh-sebelum-masa-haid" rel="nofollow" target="_blank">Cairan Keruh Sebelum <em>Haid</em></a>.<br />
2. <a href="../tidak-shalat-karena-keluar-cairan-keruh" rel="nofollow" target="_blank">Tidak Shalat Karena Keluar Cairan Keruh</a>.<br />
3. <a href="../menggauli-istri-yang-sedang-hamil" rel="nofollow" target="_blank">Menggauli Istri yang Sedang Hamil</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/bingung-darah-haid-atau-istihadhah" target="_blank" rel="nofollow">Bingung Darah <u>Haid</u> atau Darah Istihadhah</a>.<br />
5. <a href="../berhenti-haid" rel="nofollow" target="_blank">Cara Mengetahui Masa Suci Haid</a>.<br />
6. <a href="../keluar-cairan-kuning-setelah-suci-haid" rel="nofollow" target="_blank">Cairan Kuning Setelah Haid</a>.<br />
7. <a href="../pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban" rel="nofollow" target="_blank">Pakaian Terkena Air Ketuban</a>.<br />
8. <a href="../wudhu-wanita-haid" rel="nofollow" target="_blank">Wudhu Bagi Wanita <strong>Haid</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/lama-masa-haidh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wudhunya Orang yang Memakai Minyak Rambut</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/wudhunya-orang-yang-memakai-minyak-rambut/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/wudhunya-orang-yang-memakai-minyak-rambut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 23:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10091</guid>
		<description><![CDATA[Wudhunya Orang yang Memakai Minyak Rambut Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Jika seorang wanita memakai minyak rambut di kepalanya lalu ia mengusap rambutnya dalam wudhu, apakah wudhunya itu sah atau tidak? Jawaban: Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Wudhunya Orang yang Memakai Minyak Rambut</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:<br />
Jika seorang wanita memakai minyak rambut di kepalanya lalu ia mengusap rambutnya dalam <strong>wudhu</strong>, apakah wudhunya itu sah atau tidak?<br />
<span id="more-10091"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin menerangkan bahwa Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman dalam kitab-Nya,</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.</em>” (Al-Maidah: 6)</p>
<p>Di sini terkandung perintah untuk membasuh anggota <em>wudhu</em> dan mengusap bagian yang harus disapu serta mengharuskan untuk menghilangkan sesuatu yang menghalangi mengalirnya air pada anggota <u>wudhu</u>. karena jika terdapat sesuatu yang dapat menghalangi mengalirnya air pada anggota wudhu, berarti orang itu belum membasuh atau mengusap bagian itu.</p>
<p>Berdasarkan hal ini kami katakan, jika seseorang menggunakan minyak pada anggota wudhunya, misalnya minyak itu akan menjadi beku hingga menjadi suatu benda padat, maka pada saat itu wajib baginya untuk menghilangkan benda padat itu sebelum ia membersihkan anggota wudhunya. Sebab jika minyak itu telah berubah menjadi benda padat maka hal itu akan menghalangi air untuk sampai pada kulit anggota wudhu, dan pada saat itulah wudhunya dianggap tidak sah. Sedangkan jika minyak itu tidak berubah menjadi benda padat, sementara bekasnya masih tetap ada pada anggota wudhu, maka hal ini tidak membatalkan wudhu. Akan tetapi dalam keadaan seperti ini hendaknya seseorang menguatkan tekanan telapak tangannya saat membasuh atau mengusap anggota wudhu tersebut. Karena umumnya minyak itu bisa mengalihkan aliran air, bahkan bisa jadi bagian anggota wudhu tidak terkena air jika tidak ditekankan saat membasuh atau mengusapnya.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/wudhunya-orang-yang-memakai-minyak-rambut" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait wudhu:</h3>
<p>1. <a href="../tayamum-di-kursi-kendaraan" target="_blank" rel="nofollow">Tayamum di Kursi Kendaraan</a>.<br />
2. <a href="../wudunya-pemakai-gigi-palsu" target="_blank" rel="nofollow">Wudhunya Pemakai Gigi Palsu</a>.<br />
3. <a href="../wudhu-wanita-haid" target="_blank" rel="nofollow">Wudhu Bagi Wanita Haid</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/wudhunya-orang-yang-memakai-minyak-rambut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersuci dari Kencing Bayi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bersuci-dari-kencing-bayi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bersuci-dari-kencing-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 04:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9879</guid>
		<description><![CDATA[Menghilangkan Najis dari Kencing Bayi Pertanyaan: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Ketika seorang wanita melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, selama dalam asuhannya bayi itu selalu bersamanya dan tidak pernah berpisah, hingga terkadang pakaiannya terkena air kencing sang bayi. Apakah yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menghilangkan Najis dari Kencing Bayi</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya:<br />
Ketika seorang wanita melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, selama dalam asuhannya bayi itu selalu bersamanya dan tidak pernah berpisah, hingga terkadang pakaiannya terkena air kencing sang bayi. Apakah yang harus ia lakukan pada saat itu, dan apakah ada perbedaan hukum pada air <strong>kencing bayi</strong> laki-laki dengan bayi perempuan sejak kelahiran hingga berumur dua tahun atau lebih? Inti pertanyaan ini adalah tentang bersuci dan shalat serta tentang kerepotan untuk mengganti pakaian setiap waktu.<br />
<span id="more-9879"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Cukup memercikkan air pada pakaian yang terkana air <u>kencing bayi</u> laki-laki jika ia belum mengkonsumsi makanan. Jika bayi laki-laki itu telah mengonsumsi makanan, maka pakaian yang terkana air kencing itu harus dicuci. Adapun jika bayi itu perempuan, maka pakaian yang terkena air kencingnya harus dicuci baik dia sudah mengonsumsi makanan ataupun belum. Ketetapan ini bersumber dari hadis yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lain-lainnya, sedangkan lafazhnya adalah dari Abu Daud. Abu Daud telah mengeluarkan hadis ini dalam kitab sunan-nya dengan sanadnya dari Ummu Qubais bintu Muhshan, “Bahwa ia bersama bayi laki-lakinya yang belum mengonsumsi makanan datang kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mendudukan bayi itu di dalam pangkuannya, lalu bayi itu kencing pada pakaian beliau, maka Rasulullah meminta diambilkan air kemudian memerciki pakaian itu dengan air tanpa mencucinya.” Dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabada,</p>
<p>“<em>Pakaian yang terkena air kencing bayi perempuan harus dicuci, sedangkan pakaian yang terkea kencing bayi laki-laki cukup diperciki dengan air</em>.”</p>
<p>Dalam riwayat lain menurut Abu Daud,</p>
<p>“<em>Pakaian yang terkana air kencing bayi perempuan harus dicuci, sedangkan pakaian yang terkena air kencing bayi laki-laki maka diperciki dengan air jika belum mengkonsumsi makanan</em>.”</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bersuci-dari-kencing-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakaian Kena Kencing Bayi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/pakaian-kena-kencing-bayi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/pakaian-kena-kencing-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 23:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9870</guid>
		<description><![CDATA[Kencing Bayi Pertanyaan: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Saya telah berwudhu untuk melakukan shalat lalu saya bawa seorang bayi, kemudian bayi itu menodai pakaian saya dengan air kencingnya, maka saya mencuci bagian yang terkena air kencing itu lalu saya shalat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kencing Bayi</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta</em>’ ditanya:<br />
Saya telah berwudhu untuk melakukan shalat lalu saya bawa seorang bayi, kemudian bayi itu menodai pakaian saya dengan air kencingnya, maka saya mencuci bagian yang terkena air kencing itu lalu saya shalat tanpa mengulangi wudhu. Apakah shalat saya itu sah?<br />
<span id="more-9870"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Shalat Anda sah, karena air <strong>kencing bayi</strong> yang mengenai Anda tidak membatalkan wudhu, akan tetapi Anda wajib mencuci noda yang mengenai Anda.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait: <a href="http://konsultasisyariah.com/menghilangkan-najis-bayi-yang-diberi-susu-formula" target="_blank" rel="nofollow">Cara Menghilangkan Najis Bayi yang Baru Lahir</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/pakaian-kena-kencing-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 23:21:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9881</guid>
		<description><![CDATA[Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban Pertanyaan: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Jika pakaian seorang dokter berlumuran dengan air ketuban atau darah (lahiran), maka apakah dibolehkan melakukan shalat dengna pakaian tersebut karena kesulitan mengganti pakaian di setiap waktu shalat sebagai konsekwensi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya:</em><br />
Jika pakaian seorang dokter berlumuran dengan air <a href="http://konsultasisyariah.com/keluar-ketuban-membatalkan-puasa" target="_blank" rel="nofollow">ketuban</a> atau darah (lahiran), maka apakah dibolehkan melakukan shalat dengna pakaian tersebut karena kesulitan mengganti pakaian di setiap waktu shalat sebagai konsekwensi pekerjaannya itu?<br />
<span id="more-9881"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban</h3>
<p>Hendaknya ia menyediakan pakaian suci yang khusus ia gunakan untuk shalat sebagai pengganti pakaian yang terkena najis, dan hal itu bukanlah suatu hal yang menyulitkan baginya.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengusap Jilbab ketika Berwudhu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mengusap-jilbab-ketika-berwudhu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mengusap-jilbab-ketika-berwudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 07:14:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10081</guid>
		<description><![CDATA[Mengusap Jilbab ketika Berwudhu Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Bolehkah wanita mengusap kain penutup kepalanya (semacam jilbab, ketika berwudhu)? Jawaban: Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa wanita dibolehkan untuk mengusap kain penutup ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mengusap Jilbab ketika Berwudhu</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:<br />
Bolehkah wanita mengusap kain penutup kepalanya (semacam jilbab, ketika <strong>berwudhu</strong>)?<br />
<span id="more-10081"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa wanita dibolehkan untuk mengusap kain penutup kepalanya jika kain tersebut menutupi hingga di bawah lehernya. Karena hal ini telah dilakukan oleh sebagian istri-istri para sahabat. Yang jelas, jika membuka penutup kepala itu menyulitkan, karena udara yang amat dingin atau sulit untuk membukanya kemudian harus memasangnya lagi, maka mepermudah dalam hal semacam ini dibolehkan. Jika tidak, maka yang lebih utama adalah membuka penutup kepala itu untuk mengusap rambutnya secara langsung.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait berwudhu:</h3>
<p>1. <a href="../shalat-jemaah-dalam-keadaan-tidak-berwudhu" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Tanpa Wudhu</a>.<br />
2. <a href="../doa-mandi" rel="nofollow" target="_blank">Doa Mandi Junub</a>.<br />
3. <a href="../cara-tayamum-yang-benar" rel="nofollow" target="_blank">Cara Tayamum</a>.<br />
4. <em>Berwudhu</em> dalam Kamar Mandi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mengusap-jilbab-ketika-berwudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wudhu di Kamar Mandi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/wudhu-di-kamar-mandi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/wudhu-di-kamar-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 23:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10231</guid>
		<description><![CDATA[Wudhu di Kamar Mandi Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz, ana mau tanya, bolehkah kita berwudhu di kamar mandi? Dari: Indrawan Saputra Jawaban: Wa&#8217;alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Wudhu di Kamar Mandi Alhamdulillahi rabbil &#8216;aalamiin, washshalaatu wassalaamu &#8216;alaa rasulillaah khairil anbiyaa&#8217;I wal mursaliin wa &#8216;alaa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Wudhu di Kamar Mandi</h2>
<p>Pertanyaan:<br />
<em>Assalamu&#8217;alaikum</em>. Ustadz, ana mau tanya, bolehkah kita berwudhu di <strong>kamar mandi</strong>?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Dari: Indrawan Saputra</span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu</em>.</p>
<h3>Wudhu di Kamar Mandi</h3>
<p><em>Alhamdulillahi rabbil &#8216;aalamiin, washshalaatu wassalaamu &#8216;alaa rasulillaah khairil anbiyaa&#8217;I wal mursaliin wa &#8216;alaa &#8216;aalihii wa shahbihii ajma&#8217;iin. Amma ba&#8217;du</em>:</p>
<p>Boleh berwudhu di dalam <em>kamar mandi</em>, apabila aman dari percikan najis.<br />
Komite tetap Untuk riset ilmiyah dan fatwa Kerajaan Arab Saudi mengatakan,</p>
<p class="arab">إذا وضع حائل بين الماء الذي ينزل من الصنبور وبين محل النجاسة بحيث إن الماء إذا نزل على الأرض تكون هذه الأرض طاهرة فلا مانع من الوضوء والاستنجاء</p>
<p>&#8220;Apabila ada batas antara keran air dengan tempat najisnya sehingga air turun ke tempat yang suci maka tidak mengapa berwudhu dan <em>istinja&#8217;</em> (di dalam <u>kamar mandi</u> tersebut).&#8221; (<em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah</em>, 5:86)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">يجوز الوضوء في الحمام ولا حرج فيه ولكن ينبغي للإنسان أن يتحفظ من إصابة النجاسة له فإذا تحفظ من ذلك فليتوضأ في أي مكان كان</p>
<p>&#8220;Boleh berwudhu di kamar mandi dan tidak masalah, akan tetapi hendaknya menjaga diri dari terkena najis, apabila bisa terjaga dari najis maka silakan dia berwudhu dimana saja&#8221; [<a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1637.shtml" rel="nofollow" target="_blank">1</a>]</p>
<p>Beliau <em>rahimahullahu</em> juga berkata,</p>
<p class="arab">يجوز للإنسان أن يتوضأ في المكان الذي تخلى فيه من بوله أو غائطه لكن بشرط أن يأمن من التلوث بالنجاسة بأن يكون المكان الذي يتوضأ فيه جانباً من الحمام بعيداً عن مكان التخلي أو ينظف المكان الذي ينزل فيه الماء من الأعضاء في الوضوء حتى يكون طاهراً نظيفاً</p>
<p>&#8220;Boleh bagi seseorang berwudhu di tempat dia buang air kecil dan buang air besar, dengan syarat aman dari percikan najis, yaitu tempat wudhunya jauh dari tempat buang air, atau dibersihkan dahulu tempat turunnya air dari anggota badan sehingga menjadi bersih dan suci.&#8221; [<a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1096.shtml" rel="nofollow" target="_blank">2</a>]</p>
<h3>Hukum Membaca Dzikir di Kamar Mandi</h3>
<p>Membaca dzikir di kamar mandi makruh, karena berbicara di dalam kamar mandi hukumnya makruh dan membaca dzikir termasuk berbicara. Demikian pula kita diperintahkan untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dan di antara bentuk pengagungan adalah berdzikir di tempat yang suci bukan di tempat yang kotor dan tempat buang hajat.<br />
Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (32) [الحج/32]</p>
<p>&#8220;<em>Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati</em>. (QS. 22:32)&#8221;</p>
<p>Ibnu &#8216;Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> berkata,</p>
<p class="arab">يكره أن يذكر الله وهو جالس على الخلاء</p>
<p>&#8220;Dibenci berdzikir mengingat Allah padahal dia dalam keadaan duduk di dalam jamban.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:209 no.1227, dengan sanad yang hasan)</p>
<p>Abu Wa&#8217;il <em>rahimahullahu</em> juga berkata,</p>
<p class="arab">اثنان لا يذكر الله العبد فيهما إذا أتى الرجل أهله يبدأ فيسمي الله وإذا كان في الخلاء</p>
<p>&#8220;Dua keadaan dimana seorang hamba tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, (pertama) ketika seorang laki-laki mendatangi istrinya, maka hendaklah dia mulai dengan menyebut nama Allah, (kedua) apabila dia berada di jamban.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:209 no.1229 ,dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Abu Ishaq As-Sabii&#8217;iy <em>rahimahullah</em> juga berkata,</p>
<p class="arab">ما أحب أن أذكر الله إلا في مكان طيب</p>
<p>&#8220;Aku tidak senang berdzikir kepada Allah kecuali di tempat yang baik.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:210 no.236, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Namun kemakruhan ini bisa gugur apabila ada hajat atau keperluan, seperti mengucap <em>tahmid</em> ketika bersin, mengucap <em>tasmiyyah</em> sebelum wudhu. Berikut ini adalah sebagian ucapan salaf yang menunjukkan bolehnya berdzikir di jamban apabila diperlukan.<br />
Manshur bin Mu&#8217;tamir <em>rahimahullah</em> mengtakan,</p>
<p class="arab">وسألته عن الرجل يعطس على الخلاء قال يحمد الله فإنها تصعد</p>
<p>&#8220;Dan aku bertanya kepada Ibrahim (An-Nakha&#8217;iy) tentang seseorang yang bersin ketika buang air?&#8221; Beliau menjawab, &#8216;Hendaknya dia memuji Allah (yaitu mengucapkan Alhamdulillah) karena tahmid itu akan naik&#8217;.&#8221; (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 2:455 no.4063, dengan sanad yang shahih, dan juga Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:210 no.1233)</p>
<p>Dari Sya&#8217;bi <em>rahimahullahu</em>, beliau ditanya tentang seseorang yang bersin di jamban, maka beliau berkata: يحمد الله<br />
&#8220;Hendaklah dia memuji Allah&#8221;. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1232, dengan sanad yang shahih)<br />
Dari Muhammad bin Sirin <em>rahimahullahu</em> beliau berkata</p>
<p class="arab">لا أعلم بأسا بذكر الله</p>
<p>&#8220;Aku tidak memandang adanya masalah dalam <em>dzikrullah</em> (di jamban).&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1235, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Dan inilah yang difatwakan oleh sebagian ulama kita, Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">لا بأس أن يتوضأ داخل الحمام إذا دعت الحاجة إلى ذلك ، ويسمي عند أول الوضوء ، يقول : (بسم الله) لأن التسمية واجبة عند بعض أهل العلم ، ومتأكدة عند الأكثر ، فيأتي بها وتزول الكراهة لأن الكراهة تزول عند الحاجة إلى التسمية ، والإنسان مأمور بالتسمية عند أول الوضوء ، فيسمي ويكمل وضوؤه</p>
<p>&#8220;Tidak mengapa berwudhu di dalam kamar kecil apabila memang diperlukan, dan mengucap <em>tasmiyah</em> di awal wudhu seraya mengucapkan &#8220;Bismillah&#8221; karena <em>tasmiyyah</em> wajib menurut sebagian ulama, dan dikuatkan menurut sebagian besar ulama. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mengucapkan <em>tasmiyyah</em> ini yang hilang kemakruhannya karena dibutuhkan mengucapkannya. Seseorang diperintah untuk <em>tasmiyyah</em> di awal wudhu, maka hendaknya dia bertasmiyyah dan menyempurnakan wudhunya.&#8221; (<em>Majmu Fataawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz</em>, 10:28)</p>
<p>Dalam <em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah</em>:</p>
<p class="arab">يكره أن يذكر الله تعالى نطقاً داخل الحمام الذي تقضى فيه الحاجة تنزيهاً لاسمه واحتراماً له لكن تشرع له التسمية عند بدء الوضوء لأنها واجبة مع الذكر عند جمع من أهل العلم</p>
<p>&#8220;Dimakruhkan dzikrullah dengan lisan di dalam jamban yang digunakan untuk buang hajat, sebagai penyucian dan penghormatan terhadap nama Allah, akan tetapi disyariatkan <em>tasmiyyah</em> (membaca: bismillah) ketika di awal wudhu karena ini wajib ketika ketika ingat menurut sebagian ulama.&#8221; (<em>Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daimah</em>, 5:94)</p>
<h3>Melirihkan Dzikir Di Kamar Mandi</h3>
<p>Perlu diketahui bahwasanya di antara adab berdzikir di kamar mandi/wc/jamban adalah memelankan suara dzikir.<br />
Dari Al-Hasan Al-Bashry <em>rahimahullah</em> beliau berkata tentang seseorang yang bersin di dalam jamban:</p>
<p class="arab">يحمد الله في نفسه</p>
<p>&#8220;Hendaknya dia memuji Allah dengan di dalam dirinya (yaitu pelan).&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em>, 1:210 no.1234, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Hushain bin Abdurrahman <em>rahimahullahu</em> berkata,</p>
<p class="arab">انتهينا إلى الشعبي وهو مغضب، فقيل له: ما لك يا أبا عمرو ؟ فقال : إن هذا المارق ، يعني داود بن يزيد الأودي، سألني عن الرجل يعطس في الخلاء، قلت : فما تقول يا أبا عمرو ؟ قال : يحمد الله في نفسه</p>
<p>&#8220;Kami mendatangi Asy-Sya&#8217;by sedangkan beliau dalam keadaan marah, maka beliau ditanya, &#8220;Ada apa wahai Abu &#8216;Amr?&#8221;<br />
Beliau berkata, &#8220;Sesungguhnya orang yang <em>maariq</em> ini –maksudnya Dawud bin Yazid Al-Audy-, telah bertanya kepadaku tentang seseorang yang bersin di tempat buang hajat. Aku berkata, &#8220;Lalu apa yang kamu katakan wahai Abu &#8216;Amr?&#8221;<br />
Beliau menjawab, &#8220;Hendaklah dia memuji Allah di dalam dirinya ( yaitu dengan pelan).&#8221; (Dikeluarkan oleh Al-&#8217;Uqaily dalam <em>Adh-Dhu&#8217;afa</em>, 2:391, dengan sanad yang shahih)</p>
<p><strong>Perkataan mereka</strong></p>
<p class="arab">يحمد الله في نفسه</p>
<p>(Memuji Allah di dalam dirinya) ada dua kemungkinan, memuji Allah di dalam hati atau memuji Allah dengan lisan secara pelan, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam dalam <em>Al-Fatawa Al-Kubra</em>, 5:301.</p>
<p>Makna eksplisit dari atsar sebagian salaf di atas –<em>wallahu a&#8217;lam</em>- adalah berdzikir dengan lisan bukan hanya dengan hatinya.<br />
Akhir kata, tentunya lebih baik apabila seseorang di dalam rumahnya memiliki tempat wudhu khusus yang berada di luar kamar mandi/jamban/wc.<br />
<em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Jawaban <a href="http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">Ust. Abdullah Roy, Lc</a>.</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/wudhu-di-kamar-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

