tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
Adzan

hukum adzan tanpa wudhu

Hukum Adzan tanpa Wudhu

Pertanyaan

Bolehkah orang yang tidak punya wudhu melakukan adzan? Krn sdh masuk waktu, jika wudhu dulu, takutnya telat. Trim’s

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, hadis yang melarang orang berhadats melakukan adzan
Terdapat sebuah hadis yang menyatakan,

لَا يُؤَذِّنُ إِلَّا مُتَوَضِّئٌ

“Tidak boleh adzan kecuali orang yang memiliki wudhu.”

Derajat Hadis
Hadis ini diriwayatkan Turmudzi no. 200 secara marfu, dari al-Walid bin Muslim, dari Muawiyah as-Shadafi, dari az-Zuhri, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Al-Walid bin Muslim termasuk perawi mudallis dengan tadlis taswiyah. Sementara sanad hadis ini mu’an’an.
  • Muawiyah bin Yahya as-Shadafi adalah perawi yang dhaif. Dinilai dhaif oleh Ibnu Ma’in, dan Abu Zur’ah.
  • Az-Zuhri dari Abu Hurairah terputus. Karena az-Zuhri tidak pernah mendengar dari Abu Hurairah. Sehingga statusnya munqati’.

(simak al-Irwa’, 1/240).

Dalam riwayat Baihaqi, terdapat keterangan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

لَا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ إِلّا مُتَوَضِّئٌ

“Tidak boleh mengumandangkan panggilan shalat, kecuali orang yang memiliki wudhu.”

Hadis ini juga dari jalur az-Zuhri dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dan jalur ini munqathi’ (terputus).

Kesimpulan, hadis di atas adalah hadis dhaif yang tidak bisa dijadikan dalil.

Kedua, Mengingat hadis ini statusnya dhaif, maka tidak bisa dijadikan dalil larangan mengumandangkan adzan bagi orang yang tidak memiliki wudhu. Karena itulah, ulama sepakat, bahwa bukan termasuk syarat sahnya adzan, orang yang mengumandangkan adzan harus suci dari hadats kecil. Sehingga orang yang tidak memiliki wudhu karena hadats kecil, status adzannya sah. Sebagaimana keterangan al-Wazir Ibnu Hubairoh (al-Ifshoh ‘an Ma’ani as-Shihah, 1/68).

Selain keterangan ijma’ di atas, diantara dalil lain yang menjelaskan bolehnya adzan tanpa memiliki wudhu adalah hadis bolehnya berdzikir dalam keadaan berhadats.
Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa berdzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan beliau. (HR. Muslim 373).
Dan adzan isinya adalah zikir kepada Allah sebagai tanda panggilan shalat.

Ketiga, ulama sepakat bahwa dianjurkan agar ketika mengumandangkan adzan, seseorang dalam keadaan suci dari hadats besar maupun kecil. Meskipun ini bukan syarat sah adzan. Karena adzan termasuk dzikir, dan kita dianjurkan untuk mengagungkan Allah dalam keadaan sudah bersuci.
Dari Muhajir bin Qunfudz,

أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُولُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ، ثُمَّ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ؛ إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا عَلَى طُهْرٍ

bahwa beliau pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang buang air kecil. Kemudian Muhajir menyampaikan salam kepada beliau, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawabnya, hingga beliau berwudhu. Seusai berwudhu, beliau menjelaskan,

إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا عَلَى طُهْرٍ

Aku tidak suka mengingat Allah kecuali dalam keadaan bersuci. (HR. Ahmad 19034, Abu Daud 17, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama menilai makruh adzan dalam kondisi berhadats. Diantaranya adalah ulama tabiin, Atha bin Abi Rabah dan Imam as-Syafii.
Imam as-Syafii mengatakan,

وَأَنَا لِلْأَذَانِ جُنُبًا أَكْرَهُ مِنِّي لِلْأَذَانِ مُحْدِثًا، وَأَنَا لِلإِقَامَةِ مُحْدِثًا أَكْرَهُ مِنِّي لِلْأَذَانِ مُحْدِثًا

Bagi saya, orang yang adzan dalam kondisi junub, lebih aku benci dibandingkan orang yang adzan dalam kondisi berhadats kecil. Bagi saya, orang yang iqamah dalam kondisi berhadats kecil, lebih aku benci dibandingkan orang yang adzan dalam kondisi berhadats kecil. (Syarh as-Sunah, al-Baghawi, 2/266)

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hukum menunda adzan

Orang Adzan, Tidak Harus Iqamah?

Tanya:

Jika dalam satu masjid, apakah orang yang adzan, haruslah yang iqamah? krn ada yg melarang ketika yg iqamah selain muadzin.

Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat satu hadis dari Ziyad bin Harits as-Suda’i radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Bahwa beliau pernah disuruh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengumandangkan adzan. Setelah banyak sahabat berkumpul – selesai wudhu, Bilal ingin mengumandangkan iqamah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخَا صُدَاءٍ هُوَ أَذَّنَ وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ

”Sesungguhnya saudara kita dari Bani Suda’i telah mengumandangkan adzan. Siapa yang adzan maka dia yang iqamah.”

Status Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya no. 514, Turmudzi dalam jami’nya, no. 199, dari jalur Abdurahman bin Ziyad al-Ifriqi.

Tentang al-Ifriqi, para ulama hadis menilainya sebagai perawi yang dhaif. At-Turmudzi memberikan keterangan ketika menyebutkan hadis ini,

وَحَدِيثُ زِيَادٍ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ الْإِفْرِيقِيِّ وَالْإِفْرِيقِيُّ هُوَ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الحَدِيثِ، ضَعَّفَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ القَطَّانُ وَغَيْرُهُ ؛ قَالَ أَحْمَدُ: لَا أَكْتُبُ حَدِيثَ الْإِفْرِيقِيِّ؛ وَرَأَيْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ يُقَوِّي أَمْرَهُ، وَيَقُولُ: هُوَ مُقَارِبُ الحَدِيثِ

Hadis Ziyad bin Harits hanya kita ketahui dari jalur al-Ifriqi. Sementara al-Ifriqi statusnya dhaif menurut ahli hadis. Didhaifkan oleh Yahya bin Said al-Qatthan dan yang lainnya. Imam Ahmad mengatakan, ‘Saya tidak mencatat hadisnya al-Ifriqi.’. dan saya melihat, Bukhari menguatkan keterangan Imam Ahmad. Beliau mengatakan tentang al-Ifriqi, ‘Hadisnya lemah jika sendirian.’ (Jami’ at-Turmudzi, 1/383).

Ulama yang menegaskan lemahnya hadis ini adalah Syuaib al-Arnauth dalam ta’liq musnad Imam Ahmad (19/79).

Sikap Ulama Terhadap Hadis

Mengingat hadis di atas statusnya lemah maka para ulama tidaklah melarang iqamah dikumandangkan oleh selain muadzin. Maksimal yang terjadi, mereka menjadikan hadis lemah di atas sebagai pertimbangan tentang siapakah orang yang lebih berhak dalam mengumandangkan iqamah. Inilah yang bisa kita pahami dari keterangan at-Turmudzi. Ketika beliau menjelaskan sisi lemahnya hadis ini, kemudian beliau menegaskan,

وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ: أَنَّ مَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ

”Mayoritas ulama mengamalkan kandungan hadis ini, bahwa orang yang adzan, dia yang mengumandangkan iqamah.” (Jami’ at-Turmudzi, 1/383).

Kemudian, ada keterangan lainnya yang disampaikan Al-Hazimi. Beliau mengatakan,

واتفق أهلُ العلم في الرجل يؤَذِّنُ ويقيم غيرُه على أَنَّ ذلك جائز، واختلفوا في الأَولَوية، فذهبَ أكثرُهم إلى أنه لا فرق، وأن الأمر مُتسع، وممن رأى ذلك مالكٌ وأكثرُ أهل الحجاز، وأبو حنيفة وأكثرُ أهل الكوفة وأبو ثور.

Para ulama sepakat bahwa hukumnya boleh ketika ada orang adzan (di sebuah masjid) kemudian orang lain yang iqamah. Hanya saja, mereka berbeda pendapat tentang siapakah yang lebih berhak dalam mengumandangkan iqamah. Mayoritas ulama berpendapat, tidak ada bedanya antara muadzin dengan orang lain. Dalam masalah ini cukup longgar. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam Malik, mayoritas ulama Mekah dan Madinah, Abu Hanifah dan mayoritas ulama Kufah, dan Abu Tsaur.

Al-Hazimi melanjutkan,

وذهب بعضُهم إلى أن الأولى: أن مَن أذَّنَ فهو يقيم. وقال سفيان الثوري: كان يقال: مَن أذَّنَ فهو يقيم. ورُوِّينا عن أبي مَحذورة: أنه جاء وقد أَذنَ إنسانٌ، فأَذّنَ وأقام. وإلى هذا ذهب أحمد، وقال الشافعي في رواية الربيع عنه: وإذَا أَذنَ الرجلُ، أحببتُ أن يتولى الإقامة، لشيء يُروى فيه: أَن من أَذَّنَ فهو يقيم.

Sementara ulama lain berpendapat bahwa yang paling tepat, orang yang adzan, dialah yang iqamah. Sufyan at-Tsauri mengatakan: ‘Dinyatakan bahwa orang yang adzan, maka dia yang iqamah.’ Dan kami mendapat riwayat dari Abu Mahzurah, bahwa beliau datang sementara di masjid sudah ada seseorang yang adzan. Kemudian beliau mengulangi adzan dan mengumandangkan iqamah. Inilah pendapat Imam Ahmad. Kemudian Imam as-Syafii menurut riwayat dari Rabi (murid as-Syafii), beliau mengatakan, ‘Apabila ada seseorang yang beradzan, saya berharap dia yang mengumandangkan iqamah. Berdasarkan satu hadis yang diriwayatkan (secara dhaif), bahwa orang yang adzan, dia yang iqamah.’

(al-I’tibar fi an-Nasikh wa al-Mansukh min al-Atsar, hlm. 66)

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

hukum menunda adzan

Makmum Mulai Berdiri Ketika Mendengar Iqamah

Tanya:

Saya sering mendengar, makmum mulai berdiri ketika muadzin mengumandangkan iqamah di kalimat: qad qaamatis shalah… apakah ini benar? apa dalilnya, dan kapan kapan makmum mulai berdiri ketika mendengar iqamah?

Terima kasih

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terkait masalah kapan makmum mulai berdiri menyusun shaf shalat jamaah, para ulama membagi menjadi 2 keadaan:

Pertama, Imam tetap belum masuk masjid atau berada di luar masjid.

Salah satu kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai imam tetap di masjid nabawi, beliau selalu datang telat. Shalat qabliyah beliau kerjakan di rumah, dan baru masuk masjid ketika jamaah sudah banyak yang berkumpul. Seketika setelah beliau masuk masjid, Bilal langsung mengumandangkan iqamah, dan shalat wajib dimulai.

Karena itu, mayoritas ulama mengatakan, apabila imam berada di luar masjid maka jamaah tidak boleh berdiri membentuk shaf, sampai mereka melihat imam datang.

Hal ini berdasarkan hadis dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ، فَلاَ تَقُومُوا حَتَّى تَرَوْنِي

“Apabila dikumandangkan iqamah, janganlah kalian berdiri, hingga kalian melihatku.” (HR. Bukhari 637, Muslim 604, Nasai 687, dan yang lainnya).

Kedua, Imam tetap sudah berada di dalam masjid atau di masjid tersebut tidak ada imam tetap. Dalam kasus ini ulama berbeda pendapat, kapan makmum dianjurkan untuk berdiri menyusun shaf.

  • Hanafiyah mengatakan, makmum mulai berdiri ketika muadzin mengucapkan: “Hayya ‘alal falaah
  • Malikiyah berpendapat, tidak ada batas tertentu dalam masalah ini, semuanya dikembalikan kepada keadaan jamaah.
  • Syafiiyah mengatakan, makmum berdiri setelah muadzin selesai mengumandangkan iqamah
  • Hambali berpendapat, makmum berdiri ketika muadzin mengucapkan ‘Qad qamatis shalah‘. (Al-Masail Muhimmah fil Adzan wal Iqamah, hlm. 121)

Dari sekian pendapat di atas, tidak dijumpai adanya dalil dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, terdapat beberapa riwayat dari sebagian sahabat, yang semuanya menunjukkan bahwa pendapat madzhab Hambali, lebih mendekati kebenaran.

Berikut beberapa riwayat yang menunjukkan anjuran untuk berdiri ketika mendengarkan kalimat “qad qamatis shalah.”

1. Al-Baihaqi menyebutkan dalam Sunannya,

وروينا عن انس بن مالك رضى الله عنه انه إذا قيل قد قامت الصلوة وثب فقام

“Kami mendapat riwayat dari Anas bin Malik ra bahwa apabila beliau mendengar ‘Qad qamatis shalah‘ beliau langsung berdiri.”  (Sunan Al-Kubro, 2/21)

2. Keterangan dari Athiyah, beliau menceritakan,

كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ فَلَمَّا أَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْإِقَامَةِ قُمْنَا، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: اجْلِسُوا فَإِذَا قَالَ: قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ فَقُوَمُوا

“Kami duduk di dekat Ibnu Umar (menunggu shalat). Ketika muadzin mulai mengumandangkan iqamah, kamipun berdiri. Lalu Ibnu Umar mengatakan, ‘Duduklah, sampai muadzin mengucapkan qad qamatis shalah, silahkan berdiri.’ (HR. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, no.1940)

3. Keterangan dari Abu Ubaid, bahwa beliau mendengar Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan,

حين يقول المؤذن قد قامت الصلاة قوموا قد قامت الصلاة

“Apabila muadzin mengucapkan, ‘Qad qamatis shalah’, berdirilah. Karena shalat telah ditegakkan.”

(HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, no. 4098).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

hukum menunda adzan

Hukum Menunda Adzan

Tanya:

Bagaimana hukum menunda adzan? Terkait kasus seorang menteri yang meresmikan masjid dan tidak jadi karena pidatonya terpotong adzan, bagaimana?

Matur nuwun

Dari: Fulan

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat beberapa riwayat terkait kasus yang ditanyakan. Dari beberapa riwayat ini kita bisa mengambil kesimpulan,

Pertama, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَذَّنَ مُؤَذِّنُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالظُّهْرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَبْرِدْ، أَبْرِدْ»، أَوْ قَالَ: «انْتَظِرِ، انْتَظِرْ»، وَقَالَ: «إِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ، فَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ، فَأَبْرِدُوا عَنِ الصَّلَاةِ»

Tukang adzan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengumandangkan adzan zuhur. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Tunggu agak teduh… Tunggu agak teduh…” dalam riwayat lain “Tunggu…tunggu…” kemudian beliau bersabda,

إِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ، فَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ، فَأَبْرِدُوا عَنِ الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya panas terik itu karena hembusan angin neraka. Jika cuaca sangat panas, tunda waktu shalat dzuhur hingga agak teduh.”

Abu Dzar mengatakan,

حَتَّى رَأَيْنَا فَيْءَ التُّلُولِ

“Hingga kami melihat bayangan-bayangan kerikil.” (HR. Bukhari 535 dan Muslim 616).

An-Nawawi menjelaskan keterangan keadaan yang diceritakan Abu Dzar,

ومعنى قوله رأينا فيء التلول أنه أخر تأخيرا كثيرا حتى صار للتلول فيء والتلول منبطحة غير منتصبة ولا يصير لها فيء في العادة إلا بعد زوال الشمس بكثير

“Makna ucapan Abu Dzar, ‘kami melihat bayangan-bayangan kerikil’ menunjukkan bahwa beliau mengakhirkan waktu shalat dzuhur cukup lama, hingga kerikil-kerikil kecil memiliki bayangan. Kerikil sangat rendah, dan tidak tegak tinggi, sehingga umumnya tidak akan muncul bayangannya, kecuali setelah matahari condong cukup jauh.” (Syarh Shahih Muslim, 5/119).

Kedua, dari Abdullah bin Syaqiq – seorang ulama tabiin – beliau menceritakan,

خَطَبَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ يَوْمًا بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ، وَبَدَتِ النُّجُومُ، وَجَعَلَ النَّاسُ يَقُولُونَ: الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، قَالَ: فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ، لَا يَفْتُرُ، وَلَا يَنْثَنِي: الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَتُعَلِّمُنِي بِالسُّنَّةِ؟ لَا أُمَّ لَكَ ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ.

Pada suatu hari setelah shalat asar, Ibnu Abbas menyampaikan khutbah kepada kami, hingga matahari terbenam, dan bintang sudah bermunculan. Sampai orang-orang menginterupsi: ‘Waktunya shalat… waktunya shalat…’ Tiba-tiba datang salah seorang dari bani Tamim, tetap interupsi dan tidak malu. Dia meneriakkan: ‘Shalat..shalat..’ Ibnu Abbas-pun berkata kepadanya: “Apakah kamu hendak mengajariku sunah? Tidak sopan.” Kemudian Ibnu Abbas menjelaskan alasannya: “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak shalat zuhur dengan asar, dan shalat maghrib dengan isya.” Kata Abdullah bin Syaqiq:

فَحَاكَ فِي صَدْرِي مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ، فَأَتَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، فَسَأَلْتُهُ فَصَدَّقَ مَقَالَتَهُ

“Keadaan ini membuat diriku tidak tenang, kemudian aku mendatangi Abu Hurairah. Kutanyakan kasus tersebut, dan beliau membenarkan sikap Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum.” (HR. Ahmad 2269 dan Muslim 705).

An-Nawawi menyebutkan berbagai keterangan yang disampaikan ulama, yang menjelaskan alasan sikap Ibnu Abbas menunda shalat maghrib. Yang kesimpulannya bahwa penundaan waktu shalat semacam ini dibolehkan, selama ada hajat (kebutuhan) yang menuntut hal tersebut. (Syarh Shahih Muslim, 5/218 – 219).

Berdasarkan beberapa riwayat di atas, para ulama menegaskan bahwa menunda adzan hukumnya dibolehkan jika ada kebutuhan.

Berikut beberapa keterangan mereka,

Pertama, Musthofa Ar-Ruhaibani mengatakan,

وسن أذان أول الوقت ليصلي المتعجل، وظاهره أنه يجوز مطلقاً ما دام الوقت

“Dianjurkan agar adzan dilakukan di awal waktu, agar orang yang hendak memiliki acara, bisa segera shalat. Zahirnya boleh adzan di waktu kapanpun, selama masih dalam rentang waktu shalat.” (Mathalib Uli An-Nuha, 1/299).

Kedua, ketarangan Zakariya Al-Anshari – salah seorang ulama syafiiyah –,

فيؤذن للصلاة إذا دخل الوقت، وهو مشروع لها إلى خروجه

“Adzan shalat dikumandangkan jika sudah masuk waktu shalat. Dan adzan ini disyariatkan hingga selesai waktu shalat.” (Asna Al-Mathalib, 2/278).

Ketiga, keterangan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad – pengajar hadis di Masjid nabawi saat ini –

Beliau ditanya mengenai hukum menunda adzan, sebagaimana yang dilakukan di sini ketika shalat isya di bulan ramadhan.

Jawaban Syaikh Abdul Muhsin,

لا بأس إذا اتفق الناس على أنهم يؤخرون من أجل مصلحة كما في رمضان، فإنهم يستعدون لصلاة التراويح، وأيضاً يذهبون إلى منازلهم بعد صلاة المغرب ويتناولون طعام العشاء، ثم يدركون الصلاة ويستعدون للصلاة، فلا بأس بذلك

“Tidak masalah, jika masyarakat memahami bahwa mereka mengakhirkan shalat isya karena adanya maslahat, sebagaimana di bulan ramadhan. Karena mereka persiapa untuk shalat tarawih, demikian pula mereka pulang setelah shalat maghrib dan makan malam. Kemudian masuk waktu shalat dan mereka bersiap untuk shalat. Semacam ini tidak masalah.”

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/33137

Kemudian, dari keterangan di atas, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan terkait adzan,

Pertama, diantara fungsi adzan adalah pengumuman datangnya waktu shalat. Dan fungsi ini akan ada jika adzan dilakukan di awal waktu shalat. Karena alasan inilah, para ulama menganjurkan agar adzan dikumandangkan di awal waktu.

Kedua, masyarakat yang tinggal di kota, atau di daerah yang banyak masjidnya, dia bisa mendengar adzan dari banyak arah. Sehingga ketika ada adzan yang waktunya jauh berbeda, fungsi pengumuman masuknya waktu shalat tetap bisa terwujud, karena umumnya orang akan memperhatikan adzan pertama. Sehingga penundaan adzan di sebagian masjid, tidak akan menjadi masalah besar bagi mereka.

Meskipun bisa jadi, ada sebagian orang yang akan bertanya-tanya, apa sebab adzan masjid ini tertunda. Karena itu, sebagian ulama menghimbau agar adzan dilakukan secara bersamaan.

Imam Ibnu Baz pernah ditanya tentang hukum menunda adzan beberapa menit,

الأمر في هذا واسع إذا كان التأخير يسيراً كخمس دقائق، والمشروع للمؤذن أن يحافظ على الوقت حتى يؤذن مع الناس

“Dalam masalah ini ada kelonggaran, jika penundaan tidak terlalu lama, misalnya 5 menit. Yang disyariatkan, hendaknya muadzin menjaga waktu adzan, sehingga bisa adzan bersama banyak orang (muadzin).”

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4356

Demikian pula yang difatwakan oleh Imam Ibnu Utsaimin terkait menunda adzan,

إذا كان الإنسان في بلدٍ فلا ينبغي أن يتأخر عن أول الوقت؛ لأن ذلك يؤدي إلى الفوضى واختلاف المؤذنين والاشتباه على الناس أيهما أصوب هذا المتقدم أو المتأخر

“Jika seorang muadzin berada di perkampungan, tidak selayaknya menunda adzan. Karena semacam ini bisa menimbulkan perselisihan para muadzin dan kebingungan di tengah masyarakat. Mana yang benar, adzan pertama ataukah adzan kedua.”

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/12330

Oleh karena itu, ketika penundaan adzan ini masih bisa ditoleransi, dan masyarakat memahami bahwa itu bukan pengumuman awal waktu shalat, sehingga mereka tidak kebingungan untuk memulai pelaksanaan shalat wajib, maka pertimbangan ini tidak menjadi masalah.

Berdasarkan penjelasan di atas, penundaan adzan shalat zuhur untuk sejenak mendengarkan ceramah hingga selesai hukumnya diperbolehkan, karena di sana ada kebutuhan dan masyarakat memahami bahwa penundaan ini merupakan hal yang lumrah dan tidak membingungkan mereka terkait penentuan awal waktu shalat.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

lafadz adzan ketika hujan

Menjawab Adzan di Radio dan Televisi

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz.

Barakallahufik..

Ustadz, saya mau tanya, apakah diwajibkan menjawab adzan yang didengar di televisi atau radio?

Terima kasih atas jawabannya Ustad, jazakallahu khairan..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dari: Muhammad

lafadz adzan ketika hujan

Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala rasulillah

Diantara sunah yang hampir tidak kita jumpai di masyarakat adalah tambahan lafadz adzan ketika hujan. Sebenarnya mungkin banyak tokoh masyarakat yang mengenalnya. Apalagi penjelasan tentang tamabahan lafadz adzan ini sangat mudah di dapatkan dan banyak disebutkan di buku-buku fikih. Namun mengingat lafadz adzan tambahan semacam ini jarang dikenal masyarakat, sehingga dianggap asing atau bahkan ajaran sesat. Sehingga muadzin enggan melantunkan lafadz itu ketika adzan, karena bisa jadi masyarakat akan menilainya sebagai orang sesat.

SOCIAL

9,997FansLike
4,525FollowersFollow
33,487FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup