<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Bid&#8217;ah</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/bidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 May 2013 05:46:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Doa Setelah Membaca Alquran</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 May 2013 05:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[doa membaca alquran]]></category>
		<category><![CDATA[khatam quran]]></category>
		<category><![CDATA[membaca alquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18022</guid>
		<description><![CDATA[Doa Setelah Membaca Alquran Pertanyaan: Doa apakah yang paling sunnah selepas selesai membaca alquran..adakahmembaca sodoqallah al azim adalah perkara yang sunnah? Dari. Mr. N Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Kami tidak menjumpai ada doa khusus ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Doa Setelah Membaca Alquran</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Doa apakah yang paling sunnah selepas selesai membaca alquran..adakahmembaca sodoqallah al azim adalah perkara yang sunnah?</em></p>
<p>Dari. Mr. N<br />
<span id="more-18022"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Kami tidak menjumpai ada doa khusus seusai membaca Alquran. Bahkan terdapat dalil yang secara tekstual menunjukkan tidak ada doa setelah membaca Al-Quran. Hadis tersebut adalah hadis dari Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Beliau menceritakan,</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyuruhku: <em>“Bacakan Al-Quran untuk aku dengar.”</em></p>
<p>“Ya Rasulullah, apakah aku boleh membaca Al-Quran di hadapan Anda, padahal Al-Quran itu diturunkan kepada Anda?” tanyaku.</p>
<p><em>“Ya, tidak masalah.”</em></p>
<p>Akupun membaca surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat,</p>
<p class="arab">فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا</p>
<p><em>Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).</em> (QS. An-Nisa: 41)</p>
<p>Seketika sampai di ayat ini, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan, “Cukup..cukup.”</p>
<p>Saya melihat beliau, ternyata beliau berlinangan air mata. (HR. Bukhari 5050 dan Muslim 800)</p>
<p>Anda bisa perhatikan, ketika Ibnu Mas’ud mengakhiri bacaan Al-Qurannya, beliau tidak membaca kalimat apapun, atau doa apapun, atau dzikir apapun. Beliau tidak membaca <strong><em>shadaqallahul ‘adziim</em></strong>, atau alhamdulillah, dst. Sehingga dengan riwayat ini kita bisa memastikan bahwa semua bacaan itu bukan bagian dari ajaran Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<h3><strong>Apakah Ini Terlarang?</strong></h3>
<p>Bagian ini perlu kita luruskan. Agar jangan sampai ada orang yang salah persepsi dengan penjelasan amalan yang bukan sunah.</p>
<p>Kita sepakat, <strong>shadaqallahul ‘adzim</strong> adalah kalimat yang benar maknanya. Karena Allah adalah Al-Haq, Dzat Yang Maha Benar. Namun syariat juga mengajarkan agar kalimat yang benar, diposisikan di tempat yang benar, agar menghasilkan amalan yang benar. Karena itu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengajarkan berbagai doa untuk berbagai kesempatan yang berbeda. Beliau mengajarkan doa makan, memakai pakaian, masuk toilet, keluar toilet, hendak tidur, bangun tidur, keluar rumah, masuk rumah, setelah bersin, dst. Dan lafalnya berbeda-beda.</p>
<p>Tentu saja kita tidak akan membaca doa ini di posisi yang tidak diajarkan. Kita tidak akan membaca doa memakai pakaian ketika mau makan, atau membaca doa makan ketika hendak masuk toilet, atau membaca doa keluar rumah ketika masuk rumah, dst. Meskipun semua makna doa itu baik. Karena sekali lagi, kalimat doa semua maknanya baik, dan harus ditempatkan pada posisi yang benar.</p>
<p>Salah satu contoh yang menunjukkan prinsip ini adalah sikap Ibnu Umar radhiyallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab">عَنْ نَافِعٍ أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.</p>
<p>Dari Nafi, ada seorang yang bersin di dekat Ibnu Umar lalu dia berucap, “<em>Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah</em>”. Mendengar ucapan orang tersebut, Ibnu Umar mengatakan, “Saya juga mengucapkan kalimat Alhamdulillah was salam ‘ala rasulillah, namun tidak seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kami. Beliau mengajari kami untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” ketika bersin.” (HR Tirmidzi no 2738, dihasankan Albani).</p>
<p>Ibnu Umar tidak mengingkari kalimat “<em>Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah</em>”, karena kalimat ini baik. Ibnu Umarpun mengakuinya. Namun yang menjadi masalah, ketika kalimat ini dibaca seusai bersin, itu menjadi tidak tepat. Karena Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan untuk membaca kalimat ini ketika bersin.</p>
<p>Jawaban Ibnu Umar juga berlaku untuk kasus bacaan shadaqallahul ‘adzim. Kalimat ini benar, namun Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah mengajarkannya untuk dibaca seusai membaca Al-Quran.</p>
<h3><strong>Membaca shadaqallah Pada Kesempatan yang Benar</strong></h3>
<p>Ini berbeda ketika kita mengucapkan shadaqallah ‘Maha Benar Allah’ karena suasana hati untuk membenarkan apa yang Allah sampaikan. Meskipun kita tidak sedang membaca Al-Quran. Kalimat ini kita baca ketika kita melihat sebuah realita di hadapan kita yang sesuai dengan keterangan dalam Al-Quran. Semacam inilah salah satu kesempatan, di mana dzikir shadaqallah layak untuk kita ucapkan. Sebagai representasi pengakuan hati kita akan kebenaran firman Allah.</p>
<p>Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dalam hadis dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu &#8216;anhu, beliau menceritakan,</p>
<p>Ada seorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan mengadukan keadaan saudaranya,</p>
<p>“Saudaraku sakit perut.” Ucap sahabat.</p>
<p>“Beri minum madu.” Saran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Setelah pulang dan memberinya madu, ternyata sakitnya belum kunjung sembuh. Orang inipun datang lagi dengan keluhan yang sama. Dan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap menyarankan, “Beri minum madu.” Sampai akhirnya yang keempat, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap meyakinkan orang ini melalui sabdanya,</p>
<p class="arab">«صَدَقَ اللَّهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ، اسْقِهِ عَسَلًا» فَسَقَاهُ فَبَرَأَ</p>
<p>“Allah Maha Benar, dan perut saudaramu yang dusta. Beri minum madu.”</p>
<p>Orang inipun memberinya madu untuk kesekian kalinya, kemudian sembuh. (HR. Bukhari 5684 dan Muslim 2217)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan kalimat itu padahal beliau tidak sedang membaca Al-Quran. Beliau sampaikan itu karena suasana hati beliau untuk membenarkan firman Allah tentang khasiat madu,</p>
<p class="arab">يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.</em> (QS. An-Nahl: 69).</p>
<p>Kejadian yang lain, dalam hadis dari Buraidah bin Hashib radhiyallahu &#8216;anhu, ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sedang berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba datangan dua cucu beliau yang lucu: Al-Hasan dan Al-Husain, putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhum. Hasan &amp; Husain kecil dengan lucunya mengenakan gamis warna merah, keduanya berjalan tertatih-tatih memakai bajunya yang menawan. Melihat dua cucunya, beliaupun turun dari mimbarnya dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, kemudian mengatakan:</p>
<p>صَدَقَ اللَّهُ: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ}، رَأَيْتُ هَذَيْنِ يَعْثُرَانِ فِي قَمِيصَيْهِمَا، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ كَلَامِي فَحَمَلْتُهُمَا</p>
<p><em>“Maha benar Alloh dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan)’, aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, akupun tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya.”</em> (HR. An-Nasai 1413, Abu Daud 1109, dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan kalimat itu karena membenarkan sabda firman Allah di surat at-Taghabun ayat 15. Pada ayat itu, Allah menjelaskan bahwa harta dan anak adalah fitnah. Tak terkecuali beliau sebagai salah satu hamba Allah. Melihat dua cucunya yang sangat menawan hati beliau, membuat beliau harus memotong khutbahnya agar bisa menggendong cucunya.</p>
<h3><strong>Berbeda dengan Mereka</strong></h3>
<p>Kita bisa memastikan apa yang dipraktekkan oleh mereka yang terbiasa mengucapkan shadaqallahul adzim jelas berbeda dengan praktek Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika mengucapkan kalimat ini.</p>
<p>Mereka mengucapkan <em>shadaqallahul adzim</em> setiap kesempatan selesai membaca Al-quran, sementara Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mempraktekkan hal ini.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan shadaqallah ketika melihat kejadian sesuai dengan yang Allah firmankan. Sedangkan mereka, jangankan membaca shadaqallah, makna ayatnya saja, mereka tidak paham.</p>
<p>Karena itu, praktek Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di atas, jelas tidak bisa dijadikan dalil untuk membenarkan praktek mereka yang merutinkan bacaan shadaqallahul adzim setiap usai membaca Al-Quran.</p>
<p>Doa Setelah Membaca Al-Quran</p>
<p>Keterangan di atas tidaklah melarang anda untuk berdoa setelah membaca Al-Quran. Keterangan di atas menjelaskan bahwa tidak ada doa atau bacaan khusus seusai membaca Al-Quran. Namun Anda boleh berdoa dengan permohonan apapun yang baik seusai membaca Al-Quran, terutama setelah mengkhatamkan Al-Quran. Sebagaimana yang pernah dikupas dalam artikel <a title="doa khatam quran" href="http://www.konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran/" target="_blank"><strong>Doa Khatam Quran</strong></a>. Karena membaca Al-Quran termasuk amal shaleh, dan salah satu doa yang mustajab adalah doa yang kita panjatkan setelah melakukan amal shaleh. Di saat itu kita sedang dekat dengan Allah. Di saat itu, kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk memohon sesuatu kepada Allah.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Thaha dan Yasin Nama Nabi?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 01:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat badr]]></category>
		<category><![CDATA[thaha]]></category>
		<category><![CDATA[yasin. shalawat thaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17995</guid>
		<description><![CDATA[Thaha dan Yasin Nabi Nabi? Ar-Raghib Al-Asfahani dalam Mufradat Gharibil Qur’an, mengatakan يس: يس قيل معناه يا إنسان، والصحيح أن يس هو من حروف التهجى كسائر أوائل السور Yasin, ada yang mengatakan maknanya adalah Ya Insan (wahai manusia). Yang benar ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Thaha dan Yasin Nabi Nabi?</strong></p>
<p>Ar-Raghib Al-Asfahani dalam Mufradat Gharibil Qur’an, mengatakan<br />
<span id="more-17995"></span></p>
<p class="arab">يس: يس قيل معناه يا إنسان، والصحيح أن يس هو من حروف التهجى كسائر أوائل السور</p>
<p><a title="Yasin" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Yasin</strong></a>, ada yang mengatakan maknanya adalah Ya Insan (wahai manusia). Yang benar bahwa <a title="yasin" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Yasin</strong></a> adalah huruf hijaiyah yang mengawali surat, sebagaimana yang ada pada awal surat yang lain. (Mufradat Gharibil Qur’an, hlm. 554).</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Katsir memberikan rincian perselisihan pendapat dalam masalah ini,</p>
<p>Tentang tafsir <a title="tha-ha" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi" target="_blank" rel="nofollow">Tha-ha</a>, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس قال : طه: يا رجل. وهكذا روي عن مجاهد، وعكرمة، وسعيد بن جبير، وعطاء</p>
<p>Riwayat dari Said bin Jubair, dari Ibn Abbas, beliau mengatakan, Thaha: “Ya Rajul” (wahai lelaki). Demikian yang diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair, dan Atha’. Dan yang dimaksud lelaki di sini adalah Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Ibnu Katsir juga menukil riwayat yang dibawakan Al-Qadhi Iyadh – ulama syafiiyah – dalam kitabnya As-Syifa’ bi Ta’rif Huquq Musthofa, dari Ibnu Ja’far, dari Rabi’ bin Anas, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika shalat beliau berdiri di atas satu kaki dan mengangkat satu kaki yang lain. Kemudian Allah menurunkan,</p>
<p class="arab">{ طه } ، يعني: طأ الأرض يا محمد، { مَا أَنزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى }</p>
<p>“<strong>Tha-ha</strong>”, artinya: Tha’ Al-Ardha (Injak tanah) wahai Muhammad, <em>“Kami tidaklah menurunkan Al-Quran kepadamu supaya kamu celaka.”</em> (Tafsir Ibn Katsir, 5/271 – 272)</p>
<p>As-Syinqithi dalam tafsirnya, Adwaul Bayan, ketika menafsirkan <a title="surat Thaha" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi" target="_blank" rel="nofollow"><strong>surat Thaha</strong></a>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">أظهر الأقوال فيه عندي أنه من الحروف المقطعة في أوائل السور ، ويدل لذلك أن &#8220;الطاء&#8221; و &#8220;الهاء&#8221; المذكورتين في فاتحة هذه السورة ، جاءتا في مواضع أخر لا نزاع فيها في أنهما من الحروف المقطعة ، أما &#8220;الطاء&#8221; ففي فاتحة &#8220;الشعراء&#8221; &#8220;طسم&#8221; وفاتحة &#8220;النمل&#8221; طس &#8221; . وفاتحة &#8220;القصص&#8221; وأما &#8220;الهاء&#8221; ففي فاتحة &#8220;مريم&#8221; في قوله تعالى : &#8220;كهيعص&#8221;.&#8221;</p>
<p>Pendapat yang paling kuat menurutku, bahwa yasin adalah huruf muqatha’ah (yang dibaca secara terpisah), yang ada di awal surat. Yang menunjukkan hal itu, bahwa huruf Tha’ dan Ha’ yang disebutkan di awal surat ini, juga disebutkan di surat-surat yang lain. Dan tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa kedua huruf ini adalah huruf muqatha’ah. Huruf Tha’ di sebutkan di awal surat As-Syu’ara dan Al-Qashas: ‘Tha – siin – miim’ dan awal surat An-Naml: ‘Tha – siin’. Sedangkan huruf Ha’, ada di awal surat Maryam, pada firman Allah: ‘Kaaf – Ha – Ya – ‘Ain – Shaad’. (Adwaul Bayan, 4/73).</p>
<p>As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan,</p>
<p class="arab">طه : من جملة الحروف المقطعة ، المفتتح بها كثير من السور ، وليست اسماً للنبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Thaha termasuk huruf Muqatha’ah, huruf yang sering menjadi pembukaan banyak surat. Dan bukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (Taisir Karim Rahman, 501)</p>
<p>Sementara Ibnul Jauzi merangkum sekian perbedaan pendapat para ahli tafsir tentang Tha-ha. Beliau menyimpulkan,</p>
<p class="arab">واختلفوا في معناها على أربعة أقوال</p>
<p>“Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna kata ini dalam 4 pendapat.”</p>
<p>Kemudian Ibnul Jauzi merinci satu-satu:</p>
<p>1. Tha-ha bermakna : Ya Rajul (Wahai lelaki). Pendapat ini diriwayatkan Al-Aufi dari Ibnu Abbas. Meskipun ulama yang menguatkan pendapat ini juga berbeda pendapat, dari mana asal bahawa Tha-ha dengan makna Ya Rajul.</p>
<p>2. Tha-ha merupakan singkatan nama. Untuk pendapat kedua ini juga terdapat perselisihan,</p>
<ul>
<li>Tha-ha adalah nama Allah, Tha’ mewakili Al-Lathif dan Ha’ mewakili Al-Hadi.</li>
<li>Tha-ha bukan nama Allah, tapi nama makhluk. Tha’ singkatan dari Thabah (arab: طابة), nama lain kota Madinah; dan Ha’ singkatan untuk Mekah.</li>
</ul>
<p>3. Tha-ha merupakan sumpah Allah. Menurut Al-Qurthubi, Allah bersumpah dengan sifat-Nya : بطوله وهدايته : kebesaran dan hidayah-Nya.</p>
<p>4. Tha-ha maknanya adalah Tha’ Al-Ardha (injaklah tanah) sebagaimana riwayat Rabi’ bin Anas dalam hadis di atas.</p>
<p><em>(Tafsir Zadul Masir, 3/150 – 151).</em></p>
<p>Dari keterangan di atas, dan rangkuman yang disampaikan Ibnul Jauzi, kami tidak menjumpai adanya keterangan bahwa Thaha maupun Yasin adalah nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Riwayat Ibn Abbas yang menyatakan bahwa Tha-ha artinya wahai lelaki, tidaklah menunjukkan bahwa itu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena Tha-ha bentuknya kalimat panggilan untuk beliau dan bukan nama beliau.</p>
<h3><strong>Keterangan Yang Dari Sumber tentang Thaha</strong></h3>
<p>Keterangan yang pernah saya dengar mengapa Thaha dijadikan nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, mereka menyamakan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ibarat bulan purnama. Bulan purnama terbit tanggal 14, berdasarkan kalender qamariyah.</p>
<p class="arab">الأحرف العربي القديم قبل تحويله إلى نظام هجائي. يبدأ بحرف الألف وينتهي بحرف الغين</p>
<p>Di masa silam, masyarakat arab menggunakan huruf abjad untuk mewakili angka. Diawali dari huruf alif yang mewakili angka 1 dan diakhiri huruf ghain yang mewakili angka 1000. Kemudian dalam perkembangannya, huruf ini menjadi huruf hijaiyah.</p>
<p>Urutannnya seperti yang disebutkan dalam tabel berikut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">غ</p>
</td>
<td valign="top" width="17">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="30">
<p align="center">س</p>
</td>
<td valign="top" width="18">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ك</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ي</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ط</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ح</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ز</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">و</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ه‍</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">د</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ج</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ب</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">أ</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">1000</p>
</td>
<td valign="top" width="17">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="30">
<p align="center">60</p>
</td>
<td valign="top" width="18">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">20</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">10</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">9</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">8</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">6</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">4</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">1</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Susunan huruf Tha-ha (طه) bernilai 9 dan 5, jika dijumlahkan hasilnya 14.</strong></p>
<p>Apa yang bisa kita simpulkan dari metode ini? <em><strong>Metode yang digunakan murni gothak-gathik-gathuk</strong></em> (cocok-cocokan). Sistematika abjad di atas sudah ada sejak masa jahiliyah. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan islam.</p>
<p>Lebih dari itu, rumus ini tidak berlaku untuk Yasin. Jika kita menyebut yasin sebagai nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sebagaimana Thaha, seharusnya juga berlaku rumus yang sama. Namun itu tidak terjadi. Angka yang diwakili huruf ya dan sin jika ditotal hasilnya 70. Teori gothak-gathik-gathuk akan kesulitan untuk mengaitkan angka ini dengan sosok Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Kesimpulannya, tidak ada dalil tegas yang menunjukkan bahwa Thaha dan Yasin adalah nama Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Ada beberapa tafsir dari para ulama, namun mereka tidak menyatakan bahwa susunan huruf-huruf itu merupakan nama beliau. Sementara rumus huruf hijaiyah jelas tidak bisa diterima, karena teorinya tidak terbukti secara ilmiah. Dan kita TIDAK boleh memberikan nama untuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan sesuatu yang BUKAN nama beliau, bukan pula gelar beliau.</p>
<h3><strong>Shalawat Thaha dan Yasin</strong></h3>
<p>Di tempat kita, kata Thaha dan Yasin akrab kita dengar dalam shalawat,</p>
<p><em>Shalatullah salamullah ‘ala yasin habibillah.., Shalatullah salamullah ‘ala thaha rasulillah..</em></p>
<p><strong>Yasin dan Thaha</strong> dalam shalawat itu maksudnya adalah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Bisa dikatakan, shalawat ini salah sasaran. Betapa tidak, nama yang mereka sebut Yasin dan Thaha bukan nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan bukan gelar beliau. Sehingga sejatinya pembaca shalawat itu memberikan shalawat dan salam bukan kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tapi kepada <strong>Pak Thaha dan Pak Yasin</strong>.</p>
<p>Nama-nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></p>
<p>Dalam sebuah hadis, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebut beberapa nama beliau. Dari Jubair bin Muth’im <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ لِي أَسْمَاءً، أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا المَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الكُفْرَ، وَأَنَا الحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي، وَأَنَا العَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدِي نَبِيٌّ</p>
<p>Saya memiliki beberapa nama: saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi (yang menghapus), orang yang Allah utus untuk menghapus kekufuran. Saya Al-Hasyir (yang mengumpulkan), dimana manusia akan dikumpulkan di bawah kakiku. Saya Al-‘Aqib (penghujung), dimana tiada nabi setelahku. (HR. Bukhari 4896 dan Muslim 2354 dan lafal ini dari shahih Muslim).</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Puasa Rajab?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-puasa-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-puasa-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 21:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bulan haram]]></category>
		<category><![CDATA[bulan rajab]]></category>
		<category><![CDATA[puasa rajab]]></category>
		<category><![CDATA[sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17969</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Rajab Telah menjadi tradisi, begitu masuk bulan rajab, keyword puasa rajab menjadi naik pesat. Google trends pekan inipun melaporkan, kata kunci puasa rajab naik tajam. Setidaknya ini bukti bagaimana perhatian kaum muslimin terhadap fadilah puasa rajab, meskipun kasus ini ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Puasa Rajab</strong></h2>
<p>Telah menjadi tradisi, begitu <strong>masuk bulan rajab</strong>, keyword puasa rajab menjadi naik pesat. Google trends pekan inipun melaporkan, kata kunci puasa rajab naik tajam. Setidaknya ini bukti bagaimana perhatian kaum muslimin terhadap fadilah puasa rajab, meskipun kasus ini tidak kita jumpai untuk bulan-bulan lainnya.<br />
<span id="more-17969"></span><br />
Pertanyaan besar yang layak kita renungkan, mengapa hanya puasa rajab yang paling banyak dicari? Mengapa pencarian ini tidak gencar untuk <a title="puasa sya'ban" href="www.konsultasisyariah.com/adakah-amalan-nisfu-syaban-dalam-islam/" target="_blank"><strong>puasa Sya’ban</strong></a>, Dzulqa’dah, <a title="muharam" href="http://www.konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram/" target="_blank"><strong>Muharam</strong></a>, atau 9 hari pertama Dzulhijjah?</p>
<p>Tentu saja jawabannya adalah masalah motivasi (fadilah) puasa rajab. Mereka perhatian dengan puasa rajab, karena diyakini puasa ini memiliki fadilah yang amat besar. Semangat untuk mendapatkan fadilah ini yang mendorong orang secara semarak melakukan puasa rajab.</p>
<p>Ini berbeda dengan bulan-bulan selain rajab dan ramadhan. Pencarian orang tentang puasa Sya’ban, Dzulqa’dah, Muharam, atau Dzulhijjah tidak begitu gempar. Bisa jadi karena mereka beranggapan puasa di bulan-bulan tidak memiliki fadilah yang besar.</p>
<h3><strong>Alasan Utama Puasa Rajab</strong></h3>
<p>Setelah membaca situs besar yang paling getol memotivasi <a title="puasa rajab" href="http://www.konsultasisyariah.com/adakah-puasa-bulan-rajab/" target="_blank"><strong>puasa rajab</strong></a>, alasan pokok untuk membela pendapat mereka adalah hadis tentang anjuran puasa di bulan haram. Sebelumnya perlu kita pahami, bulan haram ada 4: Dzul Qa’dah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab.</p>
<p>Kembali pada hadis anjuran puasa bulan haram. Hadis yang diisyaratkan tersebut adalah hadis dari Mujibah Al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya, Abdullah bin Harits Al-Bahily. Sahabat ini mendatangi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, setelah bertemu dan menyatakan masuk islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun kemudian, dia datang lagi menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>“Ya Rasulullah, apakah anda masih mengenal saya.” Tanya Kahmas,</p>
<p>“Siapa anda?” tanya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah datang menemui anda setahun yang lalu.” Jawab sahabat</p>
<p>“Apa yang terjadi dengan anda, padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>“Saya tidak pernah makan, kecuali malam hari, sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab sahabat.</p>
<p>Menyadari semangat sahabat ini untuk berpuasa, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menasehatkan,</p>
<p class="arab">لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ</p>
<p><em>Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (ramadhan), dan puasa sehari setiap bulan.</em></p>
<p>Namun Al-Bahily selalu meminta tambahan puasa sunah,</p>
<p>“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai akhirnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberikan kalimat pungkasan,</p>
<p class="arab">صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ</p>
<p><em>“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.”</em></p>
<p><strong>Status Hadis:</strong></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud dan As-Suyuthi dalam Syarh Sunan Ibn Majah. Salah satu diantara masalahnya adalah adanya perawi yang majhul (tidak diketahui statusnya), yang setidaknya membuat mereka meragukan keabsahan hadis ini.</p>
<p>Terlepas dari perdebatan status keshahihan hadis, jika kita perhatikan, dzahir hadis ini tidaklah menunjukkan adanya keutamaan KHUSUS untuk puasa rajab. Ada beberapa sisi untuk menjelaskan ini:</p>
<p>Dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam justru menyarankan puasa di bulan haram sebagai alternatif terakhir, setelah sahabat tersebut berusaha mendesak agar bisa memperbanyak puasa sunah. Namanya alternatif terakhir, tentu fadilahnya tidak lebih besar dibandingkan alternatif pertama atau kedua.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak memberikan saran yang sama untuk sahabat yang lain. Artinya bisa jadi hadis ini bersifat kasuistik (qadhiyatul ‘ain). Jika tidak, tentu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> akan memotivasi sahabat lainnya untuk melakukan hal yang sama, berpuas di bulan haram.</p>
<p>Yang disarankan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah puasa bulan haram, bukan puasa rajab SAJA. Ketika kita bersikap adil, seharusnya kita memiliki semangat yang sama untuk bulan Dzulqa’dah, Dzulhijah, dan Muharam. Karena itulah, kami jadikan ini sebagai pertanyaan besar di awal artikel.</p>
<p>Pertanyaan ini mengundang dugaan, pasti ada keistimewaan dan fadhilah lain khusus untuk puasa rajab, yang menjadi motivasi mereka diluar anjuran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk puasa di bulan haram.</p>
<h3><strong>Tidak Ada Anjuran Khusus Puasa Rajab</strong></h3>
<p>Sekalipun situs ormas besar itu sangat getol menganjurkan puasa rajab, namun dia tidak menyebutkan dalil shahih yang secara khusus menyebutkan keutamaan puasa rajab. Mereka sadar, semua hadis yang menyinggung fadilah puasa rajab statusnya hadis lemah, yang tidak bisa menjadi dalil. Dengan demikian, tameng utama mereka untuk menganjurkan puasa rajab adalah hadis Mujibah Al-Bahiliyah yang telah kita kupas sebelumnya. Selanjutnya mereka hanya sebutkan hadis-hadis yang lemah itu di bagian paling belakang artikel, yang diharapkan bisa memotivasi orang untuk melakukan puasa khusus di bulan rajab.</p>
<p>Diantara bukti bahwa hadis yang secara khusus menganjurkan puasa rajab merupakan hadis lemah, adalah keterangan beberapa ulama hadis, diantaranya,</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar, dalam karyanya Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, menjelaskan,</p>
<p class="arab">لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ</p>
<p>“Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu bulan rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6).</p>
<p>Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang mengupas tentang amalan sepanjang tahun, yang berjudul Lathaiful Ma’arif, beliau menegaskan tidak ada shalat sunah khusus untuk bulan rajab,</p>
<p class="arab">لم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء</p>
<p>“Tidak terdapat dalil yang sahih tentang anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah, menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<p>Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan,</p>
<p class="arab">لم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه و سلم و لا عن أصحابه و لكن روي عن أبي قلابة قال : في الجنة قصر لصوام رجب قال البيهقي : أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ و إنما ورد في صيام الأشهر الحرم كلها</p>
<p>“Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada adalah riwayat yang menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)</p>
<h3><strong>Para Sahabat Melarang Mengkhususkan Rajab untuk Puasa</strong></h3>
<p>Kebiasaan mengkhususkan puasa di bulan rajab sejatinya telah ada di zaman Umar radhiyallahu &#8216;anhu. Beberapa tabiin yang hidup di zaman Umar bahkan telah melakukannnya. Dengan demikian, kita bisa mengacu bagaimana sikap sahabat terhadap fenomena terkait kegiatan bulan rajab yang mereka jupai.</p>
<p>Berikut beberapa riwayat yang menyebutkan reaksi mereka terhadap puasa rajab. Riwayat ini kami ambil dari buku Lathaiful Ma’arif, satu buku khusus karya Ibnu Rajab, yang membahas tentang wadzifah (amalan sunah) sepanjang masa,</p>
<p class="arab">روي عن عمر رضي الله عنه : أنه كان يضرب أكف الرجال في صوم رجب حتى يضعوها في الطعام و يقول : ما رجب ؟ إن رجبا كان يعظمه أهل الجاهلية فلما كان الإسلام ترك</p>
<p>Diriwayatkan dari Umar bin Khatab radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa beliau memukul telapak tangan beberapa orang yang melakukan puasa rajab, sampai mereka meletakkan tangannya di makanan. Umar mengatakan, “Apa rajab? Sesungguhnnya rajab adalah bulan yang dulu diagungkan masyarakat jahiliyah. Setelah islam datang, ditinggalkan.”</p>
<p>Dalam riwayat yang lain,</p>
<p class="arab">كرِهَ أن يَكونَ صِيامُه سُنَّة</p>
<p>“Beliau benci ketika puasa rajab dijadikan sunah (kebiasaan).”</p>
<p>(Lathaif Al-Ma’arif, 215).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, tentang sahabat Abu Bakrah radhiyallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab">أنه رأى أهله قد اشتروا كيزانا للماء واستعدوا للصوم فقال : ما هذا ؟ فقالوا: رجب. فقال: أتريدون أن تشبهوه برمضان ؟ وكسر تلك الكيزان</p>
<p>Beliau melihat keluarganya telah membeli bejana untuk wadah air, yang mereka siapkan untuk puasa. Abu Bakrah bertanya: ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Puasa rajab’ Abu Bakrah menjawab, ‘Apakah kalian hendak menyamakan rajab dengan ramadhan?’ kemudian beliau memecah bejana-bejana itu. (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 3/107, Ibn Rajab dalam Lathaif hlm. 215, Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa 25/291, dan Al-Hafidz ibn Hajar dalam Tabyi Al-Ujb hlm. 35)</p>
<p>Ibnu Rajab juga menyebutkan beberapa riwayat lain dari beberapa sahabat lainnya, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwa mereka membenci seseorang yang melakukan puasa rajab sebulan penuh.</p>
<p>Sikap mereka ini menunjukkan bahwa mereka memahami <a title="bulan rajab" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">bulan rajab</a> bukan bulan yang dianjurkan untuk dijadikan waktu berpuasa secara khusus. Karena kebiasaan itu sangat mungkin, tidak mereka alami di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-puasa-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramalan Cuaca Haram?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/ramalan-cuaca-haram/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/ramalan-cuaca-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 May 2013 06:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[BMG]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan cuaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17840</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Meyakini Ramalan Cuaca Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaykum, ustad terkadang saya merasa bingung dengan fenomena ramalan. Kan memang aturan dalam islam percaya pada ramalan itu dosa dan diharamkan, apakah sama hukumnya dengan ramalan yang berkaitan kasus ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Meyakini Ramalan Cuaca</strong></h2>
<p>Pertanyaan:</p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaykum,<br />
ustad terkadang saya merasa bingung dengan fenomena ramalan. Kan memang aturan dalam islam percaya pada ramalan itu dosa dan diharamkan, apakah sama hukumnya dengan ramalan yang berkaitan kasus ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gerhana matahari cincin (GMC) akan terjadi pada 9-10 Mei 2013 atau ramalan cuaca setiap hari?? mohon penjelasannya&#8230; jazakallah</em><br />
<span id="more-17840"></span><br />
Dari: Puji, Surabaya</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Salah satu diantara sebab kesalah-pahaman dalam membaca adalah kurang bisa memahami istilah. Terlebih istilah yang ambigu. Sebagian orang memahami seuatu istilah tidak sebagaimana konteksnya. Salah satu contohnya adalah ramalan. Bisa kita nyatakan, kata ini termasuk ambigu. Bisa digunakan dalam banyak kalimat dengan konteks yang berbeda. Seperti ramalan cuaca dan ramalan paranormal, jelas konteksnya berbeda. Karena masing-masing disimpulkan dari cara yang berbeda.</p>
<p>Terkait hukum ramalan cuaca, Imam Ibnu Utaimin memberikan beberapa catatan yang perlu digaris bawahi,</p>
<p>Pertama, Rincian keterangan tentang turunnya hujan termasuk ilmu ghaib (informasi yang hanya diketahui oleh Allah). Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah, hanya miliknya informasi kapan kiamat, dia yang menurunkan hujan, dan dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Tidaklah satupun jiwa mengetahui apa yang akan dia lakukan besok, dan tidak ada satupun jiwa dimana dia akan mati..”</em> (QS. Luqman: 34)</p>
<p>Untuk itu, siapa yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, termasuk mengaku mengetahui kapan hujan turun, berapa jumlahnya, dst. maka dia telah melakukan perbuatan kekafiran, karena mendustakan firman Allah,</p>
<p class="arab">قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p><em>Katakanlah, tidak ada satupun di langit dan dibumi yang mengetahui hal ghaib, kecuali Allah.</em> (QS. An-Naml: 65).</p>
<p>Kedua, Menggunakan Indikator lahiriyah, bukan termasuk menebak ilmu ghaib</p>
<p>Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,</p>
<p class="arab">وأما من أخبر بنزول مطر أو توقع نزول مطر في المستقبل بناءً على ما تقتضيه الآلات الدقيقة التي تقاس بها أحوال الجو فيعلم الخبيرون بذلك أن الجو مهيأ لسقوط الأمطار فإن هذا ليس من علم الغيب بل هو مستند إلى أمر محسوس والشيء المستند إلى أمر محسوس لا يقال إنه من علم الغيب</p>
<p>Menyampaikan informasi tentang turunnya hujan atau perkiraan turunnya hujan pada beberapa waktu berikutnya, berdasarkan hasil penelitian dengan alat canggih, untuk memprediksi kondisi cuaca, sehingga ahli meteorologi bisa menyimpulkan bahwa cuaca mengarah pada turunnya hujan. Informasi semacam ini, tidak termasuk ilmu ghaib. Namun dia mengacu pada indikator lahiriyah. Dan semua kesimpulan yang mengacu pada indikator lahiriyah, tidak bisa disebut bahwa itu ilmu ghaib.</p>
<p>Beliau melanjutkan,</p>
<p class="arab">والتنبؤات التي تقال في الإذاعات من هذا الباب وليست من باب علم الغيب ولذلك هم يستنتجونها بواسطة الآلات الدقيقة التي تضبط حالات الجو وليسوا مثلاً يخبرونك بأنه سينزل مطر بعد كذا سنة وبمقدار معين لأن هذه الوسائل الآلات لم تصل بعد إلى حدٍ تدرك به ماذا يكون من حوادث الجو بل هي محصورة في ساعات معينة ثم قد تخطئ أحياناً وقد تصيب أما علم الغيب فهو الذي يستند إلى مجرد العلم فقط بدون وسيلة محسوسة وهذا لا يعلمه إلا الله عز وجل</p>
<p>Informasi yang disampaikan di radio tentang perkiraan cuaca bukan termasuk mengetahui ilmu ghaib. Karena itulah, mereka hanya bisa mendapatkan info tentang prediksi cuaca, dengan alat canggih yang bisa mengukur kondisi cuaca. Mereka juga tidak mampu, misalnya memberitahukan akan turun hujan setelah sekian tahun dengan curah tertentu. Karena alat yang mereka gunakan tidak mampu menjangkau keadaan yang bisa mengetahui semua kondisi cuaca. Alat ini hanya terbatas untuk waktu tertentu. Itupun kadang meleset, meskipun kadang juga benar. Adapun ilmu ghaib adalah mengetahui sesuatu yang ghaib yang bersandar pada pengetahuan yang dimiliki, tanpa menggunakan indikator lahiriyah. Dan semacam ini tidak ada yang tahu kecuali Allah.</p>
<p>Sumber: <em>http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1716.shtml</em></p>
<p>Untuk itu, mungkin istilah yang lebih tepat, agar tidak menimbulkan kesalah-pahaman, prakiraan cuaca atau prediksi cuaca, dan bukan ramalan cuaca. Karena realita yang ada, BMG hanya menyampaikan prediksi, sehingga orang bisa merencanakan agenda aktivitasnya. BMG tidak pernah memaksakan orang lain untuk membenarkan informasi yang dia sampaikan. Karena mereka memahami, itu hanya prediksi.</p>
<p>Nuansa ini jelas berbeda dengan ramalan dukun, yang dilakukan tanpa menggunakan indikator lahiriyah apapun, dan oleh pengikutnya dipercaya sampai pada tingkat yakin, tanpa interupsi. Kasus kedua inilah yang bermasalah, dan bahkan termasuk perbuatan kekafiran.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/ramalan-cuaca-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rajin Ibadah Demi UN (Ujian Nasional)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/rajin-ibadah-demi-un-ujian-nasional/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/rajin-ibadah-demi-un-ujian-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 02:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[apakah hukum mencontek dalam ujian di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[doa lulus ujian]]></category>
		<category><![CDATA[mencontek]]></category>
		<category><![CDATA[ritual UN]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17772</guid>
		<description><![CDATA[Rajin Ibadah hanya Untuk Mengejar Dunia Pertanyaan: Bolehkah beribadah dengan mengharap balasan di dunia? Misalnya: Solat Tahajud pada malam ujian nasional dalam rangka supaya diberikan kelulusan saat pengumumman ujian. Bersedekah 10 ribu rupiah dan berharap di balas oleh Allah di ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Rajin Ibadah hanya Untuk Mengejar Dunia</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Bolehkah beribadah dengan mengharap balasan di dunia? Misalnya:</em></p>
<ol>
<li><em>Solat Tahajud pada malam ujian nasional dalam rangka supaya diberikan kelulusan saat pengumumman ujian.</em></li>
<li><em>Bersedekah 10 ribu rupiah dan berharap di balas oleh Allah di dunia sebesar 100 ribu rupiah.</em></li>
</ol>
<p><em>Apakah bisa dikaitkan dengan kisah 3 orang yang terjebak dalam gua, kemudian Allah membantu mereka keluar dari gua, atas amalan yang mereka kerjakan sebelumnya?</em><br />
<span id="more-17772"></span><br />
Dari: Fajar Hari Prabowo</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Salah satu fenomena yang sering kita jumpai ketika musim UN, beberapa siswa spontan menjadi sosok yang rajin puasa sunah dan tahajud demi meraih kesuksesan ketika UN. Jika kebiasaan ini selanjutnya dirutinkan dan dikerjakan secara istiqamah, mungkin tidak menjadi tidak masalah. Namun sayangnya, umumnya yang terjadi, kebiasaan ini tiba-tiba luntur begitu UN selesai. Ada apakah gerangan dengan puasa &amp; tahajudnya? Apakah mereka rajin puasa &amp; tahajud hanya <a title="demi UN" href="http://konsultasisyariah.com/rajin-ibadah-demi-un-ujian-nasional" target="_blank" rel="nofollow">demi UN</a>? Bagaimana nasib amal yang mereka kerjakan?</p>
<p>Berikut cuplikan artikel sangat indah, yang akan mengupas hal ini. Artikel ini kami ambil dari situs <a title="http://manisnyaiman.com" href="http://manisnyaiman.com" target="_blank" rel="nofollow">http://manisnyaiman.com</a>, oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA.</p>
<p>Berbicara tentang niat yang ikhlas berarti membahas suatu amalan hati yang paling berat untuk dilakukan seorang manusia, karena besarnya dominasi ambisi nafsu manusia yang sangat bertentangan dengan keikhlasan dalam niat, kecuali bagi orang-orang beriman yang diberi kemudahan oleh Allah dalam semua kebaikan.</p>
<p>Imam Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Tidak ada sesuatupun yang paling berat bagi nafsu manusia melebihi keikhlasan karena pada keikhlasan tidak ada bagian untuk nafsu.” (<em>Jaami’ul ‘uluumi wal hikam</em>, hlm. 17)</p>
<p>Semakna dengan ucapan di atas, Imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri berkata: “Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas).” (<em>Hilyatu Thaalibil ‘ilmi,</em> hlm. 11)</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Adapun kesyirikan (penyimpangan) dalam niat dan keinginan (manusia) maka itu (ibaratnya seperti) lautan (luas) yang tidak bertepi dan sangat sedikit orang yang selamat dari penyimpangan tersebut. Maka barangsiapa yang menginginkan dengan amal kebaikannya selain wajah Allah, meniatkan sesuatu selain untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau selain mencari pahala dari-Nya maka sungguh dia telah berbuat syirik dalam niat dan keinginannya. Ikhlas adalah dengan seorang hamba mengikhlaskan untuk Allah (semata) semua ucapan, perbuatan, keinginan dan niatnya.” (<em>Al-Jawaabul Kaafi</em>, hlm. 94).</p>
<h3>Keinginan/niat duniawi pada amal kebaikan</h3>
<p>Termasuk penyimpangan niat yang banyak menimpa manusia dan menodai kesucian ibadah mereka, selain perbuatan riya’, adalah terselipnya niat dan keinginan duniawi pada amal ibadah yang dikerjakan manusia. Penyimpangan ini penting untuk diketahui, karena sering menimpa seorang yang berbuat amak kebaikan tapi dia tidak menyadari terselipnya niat tersebut, padahal ini termasuk bentuk kesyirikan yang bisa menodai bahkan merusak amal kebaikan seorang hamba.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p class="arab">مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p><em>“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan”</em> (QS Huud: 15-16).</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amal shaleh yang dilakukan dengan niat duniawi adalah termasuk perbuatan syirik yang bisa merusak kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya’ (memperlihatkan amal shaleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan), karena seorang yang menginginkan dunia dengan amal shaleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam meyoritas amal shaleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya’, karena riya’ biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut. (<em>Fathul Majiid</em>, hlm. 451)</p>
<p>Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam kitab at-Tauhid mencantumkan sebuah bab khusus tentang masalah penting ini, yaitu bab: Termasuk (perbuatan) syirik adalah jika seseorang menginginkan dunia dengan amal (shaleh yang dilakukan)nya. (<em>Fathul Majiid</em>, hlm. 451)</p>
<p>Syaikh Shaleh bin ‘Abdil ‘Aziz Alu asy-Syaikh berkata: “Termasuk syirik kecil adalah seorang yang menginginkan (balasan di) dunia dengan amal-amal ketaatan (yang dilakukan)nya dan tidak menghendaki (balasan di) akhirat…Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia secara asal, menjadi tujuan (utama) dan (sumber) penggerak (diri mereka) adalah orang-orang kafir. Oleh karena itu, ayat ini (firman Allah di atas) turun berkenaan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi, lafazh ayat ini mencakup semua orang (kafir maupun mukmin) yang menginginkan kehidupan (balasan) duniawi dengan amal shaleh (yang dilakukan)nya.” (<em>at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid</em>, hlm. 404-405)</p>
<h3>Makna dan Perbedaannya dengan riya’</h3>
<p>‘Abdullah bin ‘Abbas berkata tentang makna ayat di atas: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia”, artinya balasan duniawi, “dan perhiasannya”, artinya harta. “Niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna”, artinya: Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan amal perbuatan mereka (di dunia) berupa kesehatan dan kegembiraan dengan harta, keluarga dan keturunan. (<em>Fathul Majiid</em>, hlm. 451).</p>
<p>Semakna dengan ucapan di atas, Imam Qatadah bin Di’amah al-Bashri berkata: “Barangsiapa yang menjadikan dunia (sebagai) target (utama), niat dan ambisinya, maka Allah akan membalas kebaikan-kebaikannya (dengan balasan) di dunia, kemudian di akhirat (kelak) dia tidak memiliki kebaikan untuk diberikan balasan. Adapun orang yang beriman, maka kebaikan-kebaikannya akan mendapat balasan di dunia dan memperoleh pahala di akhirat (kelak)” (<em>Tafsir At-Thabari</em>, 15/264).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin mengisyaratkan makna lain dari perbuatan ini, yaitu seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah bukan karena riya’ atau pujian, niatnya ikhlas kerena Allah , akan tetapi dia menginginkan suatu balasan duniawi, misalnya harta, kedudukan duniawi, kesehatan pada dirinya, keluarganya atau keturunannya, dan yang semacamnya. Maka dengan amal kebaikannya dia menginginkan manfaat duniawi dan melalaikan/melupakan balasan akhirat. (<em>al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid</em>, 2/242)</p>
<p>Adapun perbedaan antara perbuatan ini dengan perbuatan riya’, maka perbuatan ini lebih luas dan lebih umum dibanding perbuatan riya’, bahkan riya’ adalah salah satu bentuk keinginan duniawi dalam beramal shaleh. (<em>at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid</em>, hlm. 404)</p>
<p>Perbuatan riya’ bertujuan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dengan amal shaleh, sedangkan perbuatan ini tidak bertujuan untuk mendapat pujian, tapi ingin mendapatkan balasan duniawi dengan amal shaleh, seperti harta, kedudukan, kesehatan fisik dan lain-lain. (<em>Taisiirul ‘Aziizil Hamiid</em>, hlm. 473 dan Fathul Majiid, hlm. 451).</p>
<p>Dalil-dalil yang Menunjukkan Tercela dan Buruknya Perbuatan Ini</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p class="arab">{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}</p>
<p><em>“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan.”</em> (QS Huud: 15-16).</p>
<p>Ayat yang mulia ini dibatasi kemutlakannya dengan firman Allah dalam ayat lain:</p>
<p class="arab">{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}</p>
<p><em>“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa (balasan dunia) yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami inginkan, kemudian Kami jadikan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”</em> (QS al-Israa’: 18).</p>
<p>Maka kesimpulan makna kedua ayat ini adalah: orang yang menginginkan balasan duniawi dengan amal shaleh yang dilakukannya, maka Allah akan memberikan balasan duniawi yang diinginkannya jika Allah menghendaki, dan terkadang dia tidak mendapatkan balasan duniawi yang diinginkannya karena Allah tidak menghendakinya. (Simak Fathul Majiid, hlm. 452).</p>
<p>Oleh sebab itu, semakin jelaslah keburukan dan kehinaan perbuatan ini di dunia dan akhirat, karena keinginan orang yang melakukannya untuk mendapat balasan duniawi terkadang terpenuhi dan terkadang tidak terpenuhi, semua tergantung dari kehendak Allah . Inilah balasan bagi mereka di dunia, dan di akhirat kelak mereka tidak mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun, bahkan mereka akan mendapatkan azab neraka Jahannam dalam keadaan hina dan tercela.</p>
<p>Benarlah Rasulullah yang bersabda: “<em>Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuannya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niatnya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).”</em> (HR Ibnu Majah 4105, Ahmad (5/183), dan dishahihkan Ibnu Hibban, al-Bushiri dan al-Albani).</p>
<p>Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah bersabda tentang buruknya perbuatan ini: <em>“Binasalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) emas, celakalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) perak, binasalah budak (harta berupa) pakaian indah, kalau dia mendapatkan harta tersebut maka dia akan ridha (senang), tapi kalau dia tidak mendapatkannya maka dia akan murka. Celakalah dia tersungkur wajahnya (merugi serta gagal usahanya), dan jika dia tertusuk duri (bencana akibat perbuatannya) maka dia tidak akan lepas darinya”.</em> (HR. al-Bukhari, 2730)</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keburukan dan kehinaan perbuatan ini, karena orang yang melakukannya berarti dia menjadikan dirinya sebagai budak harta, karena harta menjadi puncak kecintaan dan keinginannya dalam setiap perbuatannya, sehingga kalau dia mendapatkannya maka dia akan ridha (senang), tapi kalau tidak maka dia akan murka.</p>
<p>Kemudian Rasulullah menggabarkan keadaannya yang buruk bahwa orang tersebut jika ditimpa keburukan atau bencana akibat perbuatannya maka dia tidak bisa terlepas darinya dan dia tidak akan beruntung selamanya. Maka dengan perbuatan buruk ini dia tidak mendapatkan keinginannya dan dia pun tidak bisa lepas dari keburukan yang menimpanya. Inilah keadaan orang yang menjadi budak harta. <em>Na’uudzu billahi min dzaalik.</em></p>
<h3>Beberapa Bentuk dan Contoh Keinginan Duniawi Pada Amal Kebaikan</h3>
<p>Syaikh ‘Abdur Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh rahimahullah menukil keterangan Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah tentang bentuk-bentuk amal shaleh yang dikerjakan dengan keinginan untuk mendapatkan balasan duniawi, sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Amal shaleh yang dikerjakan oleh banyak orang dengan mengharapkan wajah Allah (ikhlas), berupa sedekah, shalat, (menyambung) silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, tidak menzhalimi orang lain, dan lain-lain, yang dilakukan atau ditinggalkan seseorang ikhlas karena Allah, akan tetapi dia tidak menginginkan pahala di akhirat, dia hanya menginginkan balasan (duniawi) dari Allah, dengan (Allah ) menjaga hartanya dan mengembangkannya, atau memelihara istri dan anggota keluarganya, atau melanggengkan limpahan nikmat/kekayaan bagi keluarganya. Tidak ada niatnya untuk meraih Surga dan menyelamatkan diri dari (siksa) Neraka. Maka orang seperti ini akan diberikan balasan amal perbuatannya di dunia dan tidak ada bagian (balasan kebaikan) untuknya di akhirat (kelak). Bentuk inilah yang disebutkan oleh (Shahabat yang mulia) Ibnu ‘Abbas .</li>
<li>Ini lebih besar dan lebih menakutkan dari bentuk yang pertama, dan inilah yang disebutkan oleh Imam Mujahid tentang (makna) ayat di atas dan sebab turunnya, yaitu seorang yang mengerjakan amal shaleh dengan niat untuk riya’ (memamerkannya) kepada orang lain, bukan untuk mencari pahala akhirat.</li>
<li>Seorang yang mengerjakan amal shaleh dengan tujuan (untuk mendapatkan) harta, seperti orang yang berhaji untuk memperoleh harta, berhijrah untuk mendapatkan (balasan) duniawi atau untuk menikahi seorang wanita, atau berjihad untuk mendapatkan ganimah(harta rampasan perang). Bentuk ini juga disebutkan (oleh sebagian dari ulama salaf) ketika menafsirkan ayat ini. (Contoh lainnya) seperti seorang yang menuntut ilmu karena (keberadaan) madrasah milik keluarganya, usaha mereka, atau kedudukan mereka, atau seorang yang mempelajari al-Qur-an dan kontinyu melaksanakan shalat fardhu karena tugasnya di mesjid, sebagaimana ini sering terjadi.</li>
<li>Seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan niat ikhlas karena Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, akan tetapi dia pernah melakukan perbuatan kufur yang menjadikannya keluar dari agama Islam. Seperti orang-orang Yahudi dan Nashrani jika mereka beribadah kepada Allah, bersedekah, atau berpuasa dengan mengharapkan wajah Allah dan (balasan) di negeri Akhirat, juga seperti kebanyakan dari kaum muslimin yang pernah melakukan kekafiran atau kesyirikan besar yang mengeluarkan mereka dari agama Islam secara keseluruhan, meskipun mereka melakukan ketaatan kepada Allah dengan ikhlas mengharapkan ganjaran pahala dari-Nya di negeri Akhirat, akan tetapi mereka pernah melakukan perbuatan (kufur atau syirik) yang mengeluarkan mereka dari agama Islam dan ini menjadikan semua amal perbuatan mereka tidak diterima (oleh Allah ). Bentuk ini juga disebutkan dalam penafsiran ayat ini dari Anas bin Malik dan selain beliau.</li>
</ol>
<p>Lebih lanjut, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menyebutkan beberapa contoh keinginan duniawi dengan amal shaleh yaitu:</p>
<ul>
<li>Orang yang menginginkan harta, misalnya orang yang melakukan adzan (di masjid) untuk mendapatkan upah/gaji (sebagai muadzdzin), atau orang yang berhaji untuk mendapatkan harta.</li>
<li>Orang yang menginginkan kedudukan, misalnya orang yang belajar untuk mendapatkan ijazah sehingga kedudukannya semakin tinggi.</li>
<li>Orang yang menginginkan hilangnya gangguan, penyakit dan keburukan dari dirinya, misalnya orang yang beribadah kepada Allah supaya Allah memberikan baginya balasan di dunia berupa kecintaan manusia kepadanya (sehingga mereka tidak menyakitinya), dihilangkan keburukan dari dirinya, dan lain-lain.</li>
<li>Orang yang beribadah kepada Allah dengan tujuan untuk memalingkan wajah manusia kepadanya (menjadikan mereka kagum kepadanya) dengan mencintai dan menghormatinya. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain. (al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid, 2/243).</li>
</ul>
<p>Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua yang membacanya dan menjadi sebab taufik dari Allah bagi kita untuk memurnikan tauhid dan penghambaan diri kepada-Nya serta penjagaan dari segala bentuk kesyirikan yang besar maupun kecil.</p>
<p class="arab">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 12 Rabi’uts tsani 1434</p>
<p><strong>Ustadz Abdullah bin Taslim, MA</strong></p>
<p><strong>Sumber: www.ManisnyaIman.com</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/rajin-ibadah-demi-un-ujian-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memakai Konde di Hari Kartini, Dosa Besar!!</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-konde-di-hari-kartini-dosa-besarkah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-konde-di-hari-kartini-dosa-besarkah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 May 2013 10:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[hari]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[konde]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17718</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Memakai Konde di Hari Kartini Pertanyaan: Di hari kartini banyak perempuan, dewasa maupun anak-anak yg dirias adat jawa. Mereka memakai kebaya dan konde/sanggul. Tiru-tiru gambar Kartini, mengenang jasa Kartini. Apakah sperti ini dibolehkan? Nuwun… Dari: Wong Newyorkarto Jawaban: Bismillah ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Memakai Konde di Hari Kartini</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Di hari kartini banyak perempuan, dewasa maupun anak-anak yg dirias adat jawa. Mereka memakai kebaya dan konde/sanggul. Tiru-tiru gambar <a title="kartini" href="http://konsultasisyariah.com/memakai-konde-di-hari-kartini-dosa-besarkah" target="_blank" rel="nofollow">Kartini</a>, mengenang jasa Kartini. Apakah sperti ini dibolehkan?</em></p>
<p><em>Nuwun…</em></p>
<p>Dari: Wong Newyorkarto<br />
<span id="more-17718"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Pertama, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang keras menyambung rambut. Sekalipun itu dilakukan karena sakit atau untuk menutupi aib. Berdasarkan hadis dari Asma’ binti Abu bakr <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أَنْكَحْتُ ابْنَتِي، ثُمَّ أَصَابَهَا شَكْوَى، فَتَمَرَّقَ رَأْسُهَا، وَزَوْجُهَا يَسْتَحِثُّنِي بِهَا، أَفَأَصِلُ رَأْسَهَا؟ &#8221; فَسَبَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ</p>
<p>Ada seorang wanita yang mendatangi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan mengatakan, ‘Saya telah menikahkan putriku, kemudian dia sakit, sampai rambutnya banyak yang rontok. Sementara suaminya memintaku untuk menanganinya. Bolehkah saya sambung rambutnya?’ kemduian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mencela keras orang yang menyambung rambut dan orang yang disambungkan rambutnya. (HR. Bukhari 5935).</p>
<p>Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah r<em>adhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan ancaman yang sangat keras untuk tindakan menyambung rambut semacam ini. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ</p>
<p><em>“Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan orang yang disambung rambutnya…” </em>(HR. Bukhari 5933).</p>
<p>Kedua, sambungan rambut yang statusnya terlaknat adalah sambungan rambut yang bentuknya rambut, baik rambut manusia atau rambut sintetis. Karena semacam ini mengandung kesan penipuan. Namun jika sambungan rambut berupa benda selain rambut, pendapat yang lebih kuat, dibolehkan. Seperti kain, atau plastik, atau semacamnya.</p>
<p>Ibnu Qudamah mengatakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ الْمُحَرَّمَ إنَّمَا هُوَ وَصْلُ الشَّعْرِ بِالشَّعْرِ، لِمَا فِيهِ مِنْ التَّدْلِيسِ وَاسْتِعْمَالِ الشَّعْرِ الْمُخْتَلَفِ فِي نَجَاسَتِهِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ لَا يَحْرُمُ، لِعَدَمِ هَذِهِ الْمَعَانِي فِيهَا، وَحُصُولِ الْمَصْلَحَةِ مِنْ تَحْسِينِ الْمَرْأَةِ لِزَوْجِهَا مِنْ غَيْرِ مَضَرَّةٍ</p>
<p>“Yang diharamkan ialah menyambung rambut dengan rambut, karena terdapat tadlis (penipuan) dan menggunakan sesuatu yang masih diperdebatkan kenajisannya. Adapun selain itu, maka tidak diharamkan, karena tidak mengandung makna ini (tadlis dan najis), juga adanya maslahah untuk mempercantik diri kepada suami dengan tidak mendatangkan madharat (bahaya).” (Al-Mughni, 1/70)</p>
<p>Tentu saja, konde yang dikenakan oleh beberapa wanita ketika peringatan hari kartini, pesta nikah, atau pesta adat lainnya, termasuk menyambung rambut yang terlarang. Karena bentuknya sama persis dengan rambut.</p>
<p>Ketiga, Memakai Konde dalam rangka mengagungkan tokoh</p>
<p>Wanita yang datang kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam kisah di atas, sangat membutuhkan untuk bisa menutupi aib putrinya dengan menyambung rambutnya. Terlebih dia didesak oleh suami putrinya agar segera menangani masalah fisik putrinya. Meskipun demikian, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap melarangnya. Ibnu Abdil Bar mengatakan,</p>
<p class="arab">فَإِذَا كَانَ هَذَا لِضَرُورَةٍ فَلَا يَحِلُّ، فَكَيْفَ بِهِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ؟</p>
<p>Jika menyambung rambut untuk kondisi darurat hukumnya tidak halal, bagaimana lagi untuk kasus tidak darurat? (Al-Istidzkar, 8/431)</p>
<p>Untuk itu, tidak mungkin kita mengatakan, boleh pake konde pada hari kartini karena kondisi darurat.</p>
<p>Keempat, Pelanggaran Anak</p>
<p>Yang memakai konde dalam peringatan itu umumnya anak-anak. Namun bisa dipastikan, semacam ini atas prakarsa orang tua. Jika yang memakai konde belum baligh, mereka tidak menanggung dosa. Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ</p>
<p>Pena catatan amal diangkat untuk 3 orang: Orang yang tidur sampai bangun, anak kecil sampai besar (baligh), dan orang gila sampai dia sadar atau berakal. (HR. nasai 3432, Abu Daud 4398, dan dishahihkan Al-Albani).</p>
<p>Tentu saja permasalah tidak berhenti sampai di sini. Karena perbuatan menyambung rambut yang dilakukan salon pada anak ini atas peran orang yang mengendalikannya. Dengan demikian, ada 2 pihak yang bertanggung jawab untuk menanggung dosa pelanggaran ini:</p>
<p>a. Salon yang memasangkan konde, dan merekalah Al-Washilah : orang yang disambung rambutnya</p>
<p>b. Orang tua atau semua pihak yang mengarahkan anak untuk memakai konde. Karena mereka memprakarsai terwujudnya kemaksiatan ini.</p>
<p>Kami hanya bisa menasehatkan agar berhati-hati dalam bersikap, terutama terkait adat yang tidak sesuai syariat. Karena bisa jadi satu pelanggaran kita anggap sebagai hal yang remeh, padahal sejatinya itu pelanggaran besar dalam aturan syariat.</p>
<p>Allah ingatkan hal ini dalam Al-Quran,</p>
<p class="arab">وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ</p>
<p><em>…kemudian nampak bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.</em> (QS. Az-Zumar: 47)</p>
<p>Bisa jadi kita menyangka itu hal biasa dan bukan dosa, ternyata hasilnya basalan yang luar biasa.</p>
<p>Allahu a’lam.</p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-konde-di-hari-kartini-dosa-besarkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Orang Meninggal Bisa Menemui Keluarganya?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/orang-meninggal-datang-menemui-keluarganya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/orang-meninggal-datang-menemui-keluarganya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 May 2013 07:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[arwah uje]]></category>
		<category><![CDATA[bau parfum]]></category>
		<category><![CDATA[ruh orang yang sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz artis]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz jefri]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz meninggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17708</guid>
		<description><![CDATA[Orang Meninggal Datang Menemui Keluarganya Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Beberapa waktu yang lalu ada salah seorang ustadz muda yang meninggal yang beritanya diblow up di media massa, kebetulan sehari setelah sang ustad meninggal saya membaca disebuah media yang menceritakan bahwa ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Orang Meninggal Datang Menemui Keluarganya</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.</em></p>
<p><em>Beberapa waktu yang lalu ada salah seorang ustadz muda yang meninggal yang beritanya diblow up di media massa, kebetulan sehari setelah sang ustad meninggal saya membaca disebuah media yang menceritakan bahwa ustadz tersebut kembali kerumah menemui ibu dan keluarganya, hal tersebut dinyatakan dengan pernyataan ibunya ketika akan sholat tahajud anaknya yang sudah meninggal menemui, hal tersebut dibuktikan dengan parfum yang biasa dipake sang ustadz tiba tiba tercium diruangan tersebut<span id="more-17708"></span> padahal tidak ada yang memakai parfum tersebut, begitu menurut pengakuan ibunya, pertanyaannya, apakah hal tersebut benar, bahwa orang sudah meninggal bisa menemui orang yang masih hidup seperti cerita diatas, adakah dalil yang bisa menerangkannya.</em></p>
<p><em>Jazakallahu Khoiron</em></p>
<p>Dari : A. Althaf</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam warahmatullahi wabarokatuh.</em></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<h3><strong>Hubungan Ruh dengan orang yang hidup ada tiga:</strong></h3>
<p><strong>= &gt; Pertama</strong>, pertemuan ruh orang yang telah meninggal dengan ruh orang yang masih hidup di alam mimpi</p>
<p>Para ulama menegaskan bahwa hal ini bisa terjadi. <a title="Ruh orang yang telah meninggal" href="http://konsultasisyariah.com/orang-meninggal-datang-menemui-keluarganya" target="_blank" rel="nofollow">Ruh orang yang telah meninggal</a> bisa berjumpa dengan ruh orang yang masih hidup dalam mimpi.</p>
<p>Berikut beberapa keterangan mereka,</p>
<p>1. Tafsir firman Allah di surat Az-Zumar ayat 42.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) ruh (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah ruh (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan ruh yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”</em> (QS. Az-Zumar : 42)</p>
<p>Ada dua pendapat ahli tafsir tentang ayat ini. Salah satunya, bahwa ruh orang yang ditahan adalah <a title="ruh orang yang sudah meninggal" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">ruh orang yang sudah meninggal</a>, sehingga dia tidak bisa kembali ke jasadnya di dunia. Sedangkan ruh orang yang dilepas adalah ruh orang yang tidur. (Ar-Ruh, Ibnul Qoyim, hlm. 31).</p>
<p>Diriwayatkan dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma, beliau menjelaskan tafsir ayat tersebut,</p>
<p class="arab">إِنَّ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ تَلْتَقِي فِي الْمَنَامِ فَتَتَعَارَفُ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْهَا، فَإِذَا أَرَادَ جَمِيعُهَا الرُّجُوعَ إِلَى الْأَجْسَادِ أَمْسَكَ اللَّهُ أَرْوَاحَ الْأَمْوَاتِ عِنْدَهُ، وَأَرْسَلَ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ إِلَى أَجْسَادِهَا</p>
<p>Sesungguhnya ruh orang yang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling mengenal sesuai yang Allah kehendaki. Ketika masing-masing hendak kembali ke jasadnya, Allah menahan ruh orang yang sudah mati di sisi-Nya, dan Allah melepaskan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya. (Tafsir At-Thabari 21/298, Al-Qurthubi 15/260, An-Nasafi 4/56, Zadul Masir Ibnul Jauzi 4/20, dan beberapa tafsir lainnya).</p>
<p>2. Kejadian nyata yang dialami para sahabat</p>
<p>Kejadian ini pernah dialami seorang sahabat yang dijamin masuk surga karena kerendahan hatinya. Sahabat Tsabit bin Qois radhiyallahu &#8216;anhu. Peristiwa ini terjadi ketika perang Yamamah, menyerang nabi palsu Musailamah Al-Kadzab di zaman Abu Bakr. Dalam peperangan itu, Tsabit termasuk sahabat yang mati syahid. Ketika itu, Tsabit memakai baju besi yang bernilai harganya.</p>
<p>Sampai akhirnya lewatlah seseorang dan menemukan jasad Tsabit. Orang ini mengambil baju besi Tsabit dan membawanya pulang. Setelah peristiwa ini, ada salah seorang mukmin bermimpi, dia didatangi Tsabin bin Qois. Tsabit berpesan kepada si Mukmin dalam mimpi itu:</p>
<p>“Saya wasiatkan kepada kamu, dan jangan kamu katakan, ‘Ini hanya mimpi kalut’ kemudian kamu tidak mempedulikannya. Ketika saya mati, ada seseorang yang melewati jenazahku dan mengambil baju besiku. Tinggalnya di paling pojok sana. Di kemahnya ada kuda yang dia gunakan membantu kegiatannya. Dia meletakkan wadah di atas baju besiku, dan diatasnya ada pelana. Datangi Khalid bin Walid, minta beliau untuk menugaskan orang agar mengambil baju besiku. Dan jika kamu bertemu Khalifah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (yaitu Abu Bakr), sampaikan bahwa saya punya tanggungan utang sekian dan punya piutang macet sekian. Sementara budakku fulan, statusnya merdeka. Sekali lagi jangan kamu katakan, ‘Ini hanya mimpi kalut’ kemudian kamu tidak mempedulikannya.”</p>
<p>Setelah bangun, orang inipun menemui Khalid bin Walid radhiyallahu &#8216;anhu dan menyampaikan kisah mimpinya bertemu Tsabit. Sang panglima, Khalid bin Walid mengutus beberapa orang untuk mengambil baju besi itu, dia memperhatikan kemah yang paling ujung, ternyata ada seekor kuda yang disiapkan. Mereka melihat isi kemah, ternyata tidak ada orangnya. Merekapun masuk, dan langsung menggeser pelana. Ternyata di bawahnya ada wadah. Kemudian mereka mengangkat wadah itu, ketemulah baju besi itu. Merekapun membawa baju besi itu menghadap Khalid bin Walid.</p>
<p>Setelah sampai Madinah, orang itu penyampaikan mimpinya kepada Khalifah Abu Bakr As-Shiddiq radhiyallahu &#8216;anhu, dan beliau membolehkan untuk melaksanakan wasiat Tsabit. Para sahabat mengatakan, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorangpun yang wasiatnya dilaksanakan, padahal baru disampaikan setelah orangnya meninggal, selain wasiat Tsabit bin Qais. (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwah 2638 dan Al-Bushiri dalam Al-Ittihaf 3010)</p>
<p>Kasus semacam ini juga terjadi pada beberapa ulama. Kisah-kisah mereka banyak disebutkan Ibnul Qoyim dalam bukunya Ar-Ruh (hlm. 30 – 48). Salah satunya adalah kisah sahabat tsabit bin Qois di atas.</p>
<p><strong>= &gt; Kedua</strong>, Allah memperlihatkan keadaan keluarga yang masih hidup kepada beberapa orang yang telah meninggal.</p>
<p>Para ulama menegaskan bahwa mayit bisa mendengar suara orang yang berada di dunia dalam kondisi tertentu. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis, diantaranya,</p>
<p>1. Hadis dari Anas bin Malik, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إن العبد إذا وضع في قبره، وتولى عنه أصحابه، إنه ليسمع قرع نعالهم..</p>
<p><em>“Sesungguhnya seorang hamba ketika telah diletakkan di kuburan dan ditinggal pulang orang yang mengantarkannya, dia bisa mendengar suara sandal mereka…” </em>(HR. Muslim 2874)</p>
<p>2. Hadis dari Abu Thalhah, bahwa setelah belalu 3 hari pasca-perang Badr, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mendatangi tempat pertempuran bersama para sahabat dan memasukkan mayit orang musyrik ke dalam satu lubang. Selanjutnya beliau bersabda,</p>
<p class="arab">يا أبا جهل بن هشام، يا أمية بن خلف، يا عتبة بن ربيعة، يا شيبة بن ربيعة، أليس قد وجدتم ما وعد ربكم حقاً؟ فإني قد وجدت ما وعدني ربي حقاً</p>
<p><em>Wahai Abu Jahl bin Hisyam, wahai Umayah bin Khalaf, wahai Uthbah bin Rabi’ah, wahai Syaibah bin Rabi’ah, apakah kalian telah mendapatkan kenyataan dari apa yang dijanjikan Rab kalian? Sungguh aku telah mendapatkan kenyataan dari apa yang dijanjikan Rabku.</em></p>
<p>Spontan Umar bertanya,</p>
<p>“Ya, Rasulullah, bagaimana mereka bisa mendengar? Bagaimana mereka bisa menjawab? Padahal mereka sudah jadi bangkai.”</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab,</p>
<p class="arab">والذي نفسي بيده! ما أنتم بأسمع لما أقول منهم، ولكنهم لا يقدرون أن يجيبوا</p>
<p><em>Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kalian tidak lebih mendengar dari apa yang aku ucapkan dari pada mereka. Namun mereka tidak bisa menjawab</em>. (HR. Bukhari 3976)</p>
<h3><strong>Apakah Kasus Semacam Ini Berlaku Umum?</strong></h3>
<p>Ulama berbeda pendapat apakah kasus semacam ini berlaku untuk semua keadaan. Dalam arti mayit bisa mendengar dan mengetahui semua keadaan orang yang masih hidup.</p>
<p>Sebagian menegaskan bahwa mayit mengetahui keadaan keluarganya dengan izin Allah, dan dia di alam kubur. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Ibnul Qoyim menyebutkan bahwa terdapat berbagai riwayat dari para ulama masa silam yang menjelaskan bahwa mayit mengetahui keadaan keluarganya. Dia merasa senang ketika keluarganya dalam kondisi baik, dan dia merasa sedih ketika keluarganya dalam kondisi tidak baik.</p>
<p>Mereka yang menegaskan bahwa mayit mengetahui keadaan keluarganya, berdalil dengan hadis dari Anas. Namun hadis statusnya lemah, karena ada perawi yang tidak disebutkan namanya. (Majma’ Zawaid, 2/329).</p>
<p>Dalam riwayat lain dari Abu Ayyub, diriwayatkan Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, namun dalam sanadnya terdapat perawi bernama Maslamah bin Ali Al-Khusyani, dan dia perawi dhaif. Maslamah bin Ali orang syam, perawi yang lemah, dan matruk (ditinggalkan). Sebagaimana dijelaskan dalam Mizan I’tidal (4/109). Ringkasnya, hadis dalam masalah ini tidak shahih.</p>
<p>Adapun Atsar yang disebutkan Ibnul Qoyim dalam Ar-Ruh, dinukil dari kitab Al-Qubur karya Ibnu Abi Ad-Dunya. Dan atsar-atsar ini dinilai bermasalah.</p>
<p>(Multaqa Ahlulhadits, 52691).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak mengatakan</p>
<p class="arab">والميت كذلك لا يعلم بشيء من أحوالهم لأنه غائب عنهم في نعيم أو عذاب ، ولكن قد يُطلع الله بعض الموتى على بعض أحوال أهله ولكن دون تحديد. وقد جاءت آثار لا يعتمد عليها بأن الأموات قد يعرفون أشياء من أحوال أهلهم</p>
<p>Demikian pula mayit, dia tidak mengetahui keadaan keluarganya, karena dia tidak ada di tengah-tengah mereka. Mereka sibuk dalam kenikmatan atau adzab. Hanya saja, terkadang Allah tampakkan kepada beberapa mayit sebagian keadaan keluarganya, namun ini tanpa batasan waktu tertentu. Terdapat beberapa atsar (riwayat dari para ulama) tentang hal ini yang belum bisa dijadikan dalil (karena perllu dilakukan penelitian ulang) yang menyebutkan bahwa mayit terkadang mengetahui keadaan keluarganya. (Fatwa Islam, 13183).</p>
<p>Mengingat keterangan semacam ini belum jelas, sebagian ulama menasehatkan agar tidak kita tidak disibukkan dengan pembahasan semacam ini. Karena tidak memberikan banyak manfaat. Yang lebih penting, kita berusaha menunaikan semua yang menjadi tanggungan mayit, seperti utang, nadzar, fidyah, wasiat, dan semacamnya. Sehingga tidak ada beban baginya yang tidak ditunaikan. Kemudian kita berusaha menjadi hamba yang baik, bertaqwa kepada Allah, baik jenazah bisa mengetahui keadaan kita, atau tidak.</p>
<p>Nasehat semacam ini pernah disampaikan Imam Ibnu Utsaimin. Ketika beliau ditanya, apakah mayit bisa mengetahui kondisi keluarga ataukah tidak?</p>
<p class="arab">أما السؤال وهو: معرفة الميت ما يصنعه أهله في الدنيا؟ فإنني لا أعلم في ذلك أثراً صحيحاً يعتمد عليه.<br />
وعلى أية حال فلا نرى نفعا في البحث عن هذا الأمر، والذي ينفعك أنك إذا كنت كذبت فالواجب عليك التوبة إلى الله، والتوبة تمحو ما قبلها، &#8230;. ، والانشغال بقبول التوبة، وإصلاح النفس بدلا من الانشغال بمعرفة الميت بهذا الأمر.</p>
<p>Adapun pertanyaan, apakah mayit mengetahui apa yang dilakukan keluarganya di dunia? Saya tidak mengetahui atsar (riwayat) yang shahih yang bisa dijadikan dalil. Namun apapun itu, saya berpendapat tidak ada banyak manfaat untuk melakukan pembahasan masalah ini. Pelajaran yang bermanfaat bagi anda, bahwa jika anda mendustakan hal itu maka anda wajib bertaubat kepada Allah. Dan taubat bisa menghapus dosa sebelumnya. … dan hendaknya anda sibukkan diri agar diterima taubatnya, dan memperbaiki diri, dari pada menyibukkan diri dengan mengetahui keadaan mayit semacam ini.</p>
<p>(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 192755)</p>
<p><strong>= &gt; Ketiga</strong>, ruh orang yang meninggal mendatangi keluarganya di alam nyata</p>
<p>Sebagian orang berkeyakinan bahwa ruh orang yang meninggal akan kembali ke keluarganya selama 40 hari. Terlebih setelah peristiwa meninnggalnya salah satu dai di indonesia, disusul dengan cerita sebagian keluarganya yang merasakan kehadiran ruh sang dai. Akhirnya banyak orang semakin yakin dengan aqidah ini. Padahal semuanya diyakini tanpa dasar dan dalil yang tegas.</p>
<p>Ada beberapa catatan yang menunjukkan bahwa keyakinan ini adalah keyakinan yang menyimpang dan bertentangan dengan Al-Quran dan sunah,</p>
<p>1. Allah mengingkari permintaan orang mati untuk dikembalikan ke dunia</p>
<p class="arab">حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ( ) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ</p>
<p><em>(Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: &#8220;Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), ( ) agar aku bisa berbuat amal yang saleh yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang dia ucapkan saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.</em> (QS. Al-Mukminun: 99 – 100)</p>
<p>Allah mengabarkan bagaimana orang kafir menyesali hidupnya. Mereka berharap agar dikembalikan ke dunia di detik-detik menghadapi kematian. Sehingga mereka mendapat tambahan usia untuk memperbaiki dirinya. Namun itu hanya ucapan lisan, yang sama sekali tidak bermanfaat baginya. Kemudian Allah menyatakan bahwa setelah mereka mati akan ada barzakh, dinding pemisah antara dirinya dengan kehidupan dunia. Mereka yang sudah memasuki barzakh, tidak akan lagi bisa keluar darinya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 559).</p>
<p>2. Ruh mereka berada di alam yang lain, alam kubur, yang berbeda dengan alam dunia</p>
<p>Pada surat Al-Mukminun di atas, Allah telah menegaskan bahwa ada barzakh (dinding pemisah) antara orang yang telah meninggal dan kehidupan dunia. Dan itu terjadi sejak mereka meninggal dunia. Selanjutnya masing-masing sudah sibuk dengan balasan yang Allah berikan kepada mereka. Ruh orang baik, berada di tempat yang baik, sebaliknya, ruh orang jelek berada di tempat yang jelek.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat, seorang tabiin bernama Masruq pernah bertanya kepada sahabat Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, tentang tafsir firman Allah,</p>
<p class="arab">وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ</p>
<p><em>Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.</em> (QS. Ali Imran: 169)</p>
<p>Ibnu Mas’ud menjawab, “Saya pernah tanyakan hal ini kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dan beliau menjawab,</p>
<p class="arab">أرواحهم في جوف طير خضر لها قناديل معلقة بالعرش تسرح من الجنة حيث شاءت ثم تأوي إلى تلك القناديل فاطلع إليهم ربهم اطلاعة ، فقال : هل تشتهون شيئا ؟ قالوا : أي شيء نشتهي ونحن نسرح من الجنة حيث شئنا . ففعل ذلك بهم ثلاث مرات ، فلما رأوا أنهم لن يُترَكوا من أن يَسألوا قالوا : يا رب نريد أن ترد أرواحنا في أجسادنا حتى نقتل في سبيلك مرة أخرى ، فلما رأى أن ليس لهم حاجة تُركوا</p>
<p><em>“Ruh-ruh mereka di perut burung hijau. Burung ini memiliki sarang yang tergantung di bawah ‘Arsy. Mereka bisa terbang kemanapun di surga yang mereka inginkan. Kemudian mereka kembali ke sarangnya. Kemudian Allah memperhatikan mereka, dan berfirman: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu?’ Mereka menjawab: ‘Apa lagi yang kami inginkan, sementara kami bisa terbang di surga ke manapun yang kami inginkan.’ Namun Allah selalu menanyai mereka 3 kali. Sehingga ketika mereka merasa akan selalu ditanya, mereka meminta: ‘Ya Allah, kami ingin Engkau mengembalikan ruh kami di jasad kami, sehingga kami bisa berperang di jalan-Mu untuk kedua kalinya.’ Ketika Allah melihat mereka sudah tidak membutuhkan apapun lagi, mereka ditinggalkan.” </em>(HR. Muslim no. 1887)</p>
<p>Kemudian disebutkan dalam riwayat dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لما أُصِيب إخوانكم بأُحُد جعل الله أرواحهم في جوف طير خضر تَرِد أنهار الجنة تأكل من ثمارها وتأوي إلى قناديل من ذهب معلقة في ظل العرش ، فلما وجدوا طيب مأكلهم ومشربهم ومَقِيلهم قالوا : من يُبلِّغ إخواننا عنّـا أنا أحياء في الجنة نُرزق لئلا يزهدوا في الجهاد ولا ينكلوا عند الحرب ، فقال الله سبحانه أنا أبلغهم عنكم . قال فأنزل الله : ( ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله )</p>
<p><em>Ketika saudara kalian meninggal di perang Uhud, Allah menjadikan ruh mereka di perut burung hijau. Mendatangi sungai surga, makan buah surga, dan beristirahat di sarang dari emas, menggantung di bawah ‘Arsy. Ketika mereka merasakan lezatnya makanan, minuman, dan tempat istirahat, mereka mengatakan: ‘Siapa yang bisa memberi tahu kepada saudara-saudara muslim lainnya tentang kabar kami bahwa kami hidup di surga, dan kami mendapat rizki. Agar mereka tidak menghindari jihad dan tidak pengecut ketika perang. Lalu Allah menjawab: ‘Aku yang akan sampaikan kabar kalian kepada mereka.’ Kemudian Allah menurunkan firman-Nya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya…”</em></p>
<p>(HR. Abu Daud 2520 dan dinilai hasan oleh Al-Albani)</p>
<p>Demikian pula ruh orang yang jahat. Mereka mendapat hukuman dari Allah sesuai dengan kemaksiatan yang mereka lakukan. Keterangan selengkapnya tentang ini, bisa anda simak di artikel: http://www.konsultasisyariah.com/tempat-roh-setelah-kematian/</p>
<p>Jika ruh itu bisa kembali dan tinggal bersama keluarganya selama rentang tertentu, tentu yang paling layak mendapatkan keadaan ini adalah ruh para nabi, para sahabat, atau para syuhada yang meninggal di medan jihad. Sementara hadis-hadis di atas merupakan bukti bahwa hal itu tidak terjadi. Allah tempatkan ruh mereka di surga, dan terpisah sepenuhnya dengan alam dunia.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak pernah ditanya, benarkan ruh orang yang meninggal akan kembali ke keluarganya dan bisa melihat semua keadaan keluarganya selama 40 hari?</p>
<p>Jawaban beliau,</p>
<p class="arab">الإنسان إذا مات يغيب عن هذه الحياة ويصير إلى عالم آخر ، ولا تعود روحه إلى أهله ولا يشعرون بشيء عنه ، وما ذكر من عودة الروح لمدة أربعين يوما فهي من الخرافات التي لا أصل لها ، والميت كذلك لا يعلم بشيء من أحوالهم لأنه غائب عنهم في نعيم أو عذاب</p>
<p><a title="seseorang setelah meninggal" href="http://konsultasisyariah.com/orang-meninggal-datang-menemui-keluarganya" target="_blank" rel="nofollow">Seseorang setelah meninggal</a>, dia menghilang dari kehidupan dunia ini, dan berpindah ke alam akhirat. Dan ruhnya tidak kembali ke keluarganya, dan tidak mengetahui semua keadaan keluarganya. Kabar yang menyebutkan bahwa ruh kembali ke keluarga selama 40 hari adalah khurafat, yang sama sekali tidak memiliki dalil. Demikian pula mayit, dia tidak mengetahui keadaan keluarganya, karena dia tidak ada di tengah-tengah mereka. Mereka sibuk dalam kenikmatan atau adzab. (Fatwa Islam, 13183).</p>
<h3><strong>Kembalikan Kepada Dalil!</strong></h3>
<p>Prinsip ini jangan sampai lepas dari lubuk hati kita. Apapun yang kita dengar, siapapun yang menyampaikan, kembalikan keterangan itu kepada dalil. Tidak semua keterangan yang disampaikan dai benar adanya. Mereka yang punya dalil, itulah yang menjadi pegangan. Karena informasi tentang syariat, apalagi terkait keyakinan baru boleh kita terima ketika ada dasar pijakannya. Mengingat semua harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Sebagaimana yang Allah tegaskan,</p>
<p class="arab">وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا</p>
<p>Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’: 36).</p>
<p>Semoga Allah menyelamatkan kita dari setiap keyakinan yang menyimpang.</p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/orang-meninggal-datang-menemui-keluarganya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indigo (Indera Keenam) dalam Islam</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Apr 2013 09:20:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[indera keenam]]></category>
		<category><![CDATA[indigo]]></category>
		<category><![CDATA[peramal]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>
		<category><![CDATA[tahu dunia aghaib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17555</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena Anak Indigo Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum, ustadz.. Saya mau menanyakan tentang indigo (Indera ke- enam) menurut pandangan Islam? Dari: Rini Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Salah satu pertanyaan yang banyak disampaikan melalui situs Konsultasisyariah.com adalah fenomena ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Fenomena Anak Indigo</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum, ustadz.. Saya mau menanyakan tentang indigo (Indera ke- enam) menurut pandangan Islam?</em></p>
<p>Dari: Rini<br />
<span id="more-17555"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Salah satu pertanyaan yang banyak disampaikan melalui situs Konsultasisyariah.com adalah <a title="fenomena anak indigo" href="http://konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam" target="_blank" rel="nofollow"><em><strong>fenomena anak indigo</strong></em></a>. Memang diantara sifat manusia adalah curiosity, semangat untuk selalu ingin tahu. Meskipun bisa jadi dia tidak memiliki banyak kepentingan dalam hal ini. Namun apapun itu, pertanyaan semacam ini menunjukkan sengamat untuk memahami masalah sesuai koridor agama. Kami memberikan apresiasi positif untuk setiap upaya mengembalikan semua permasalahan kepada Al-Quran dan sunah.</p>
<p>Terkait fenomena anak indigo, ada beberapa catatan yang bisa kita beri garis tebal,</p>
<p><strong>Pertama, islam tidak menolak realita</strong></p>
<p>Sebelumnya, mari kita memahami peta realita berikut,</p>
<p>Realita dibagi menjadi dua:</p>
<p><strong>1.  Realita syar’i</strong>: itulah semua berita yang disampaikan dalam Al-Quran dan sunah yang sahih. Misalnya: meteor yang memancarkan cahaya di langit, sejatinya adalah panah api untuk melempar setan yang berusaha mencari berita dari langit. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran surat al-Jin ayat 9. Meskipun kita tidak pernah melihat peristiwa ini dengan kasat mata, namun mengingat hal ini Allah ceritakan dalam Al-Quran maka wajib kita yakini, karena demikianlah realita yang ada. Contoh lain: Jibril memiliki 600 sayap, sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Bukhari. Meskipun kita tidak pernah melihat wujud asli Jibril, namun mengingat hal ini disebutkan dalam hadis shahih, maka wajib kita yakini.</p>
<p><strong>2.  Realita kauni</strong> merupakan semua kejadian yang Allah ciptakan di alam ini. Misalnya, ada orang melihat kejadian aneh, kemduian dia abadikan gambarnya, lalu dia share ke yang lain. Kita tidak mungkin mengingkari kejadian ini, karena orang yang melihat langsung membawakan bukti asli sesuai yang dia saksikan.</p>
<p>Penyimpangan terhadap dua realita di atas, kita sebut berita dusta. Jika berita dusta itu terkait masalah syariat atau keyakinan, diistilahkan dengan tahayul. Misalnya: berita bahwa pada hari rabu terakhir di bulan safar, akan turun 320 ribu bencana. Berita ini masuk dalam ranah masalah ghaib. Karena indera manusia tidak pernah mendeteksi 320 ribu bencana yang turun di hari itu. Sehingga untuk membuktikan kebenaranya, kita perlu kembalikan kepada dalil, adakah ayat atau hadis shahih yang menyebutkannya. Jika tidak ada, termasuk tahayul, yang tidak boleh diyakini.</p>
<p>Anda bisa menimbang semua informasi masalah ghaib yang simpang siur di sekitar kita dengan cara di atas. Sehingga kita bisa membedakan antara keyakinan yang benar dengan tahayul semata.</p>
<p><a title="Fenomena indigo" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Fenomena indigo</a> termasuk realita yang bisa kita saksikan. Ada anak yang berkomunikasi dengan makhluk lain, atau dia melihat makhluk lain, dan itu asli tidak dibuat-buat.</p>
<p>Sebatas kejadian yang bisa kita lihat, termasuk fenomena kauni. Kejadian yang Allah ciptakan di alam ini. Selama kejadian itu memang benar-benar ada, islam tidak melarang kita untuk membenarkannya, karena islam tidak menolak realita.</p>
<p><strong>Kedua, kemampuan dasar makhluk</strong></p>
<p>Islam tidak menolak <a title="fenomena anak indigo" href="http://konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam" target="_blank" rel="nofollow">fenomena anak indigo</a> jika memang itu realita. Kita boleh meyakininya, selama kejadian itu memang benar-benar ada di sekitar kita. Namun realita yang boleh kita yakini dalam hal ini hanya sebatas yang bisa kita lihat. Sementara tentang hakekat anak indigo, perlu kajian yang lebih serius utnuk bisa menjelaskan dan memberi komentar.</p>
<p>Di sini kita tidak menggali hakekat dan sebab si anak menjadi indigo. Sebagian ahli medis menyebutkan, anak indigo mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), semacam gangguan perkembangan dan keseimbangan aktivitas motorik anak sehingga menyebabkan aktivitasnya tidak lazim dan cenderung berlebihan. Ada juga yang menyebutkan, anak indigo bisa seperti itu karena memiliki kemampuan melihat jin. Dan beberapa analisis lainnya.</p>
<p>Hanya saja ada beberapa informasi tentang anak indigo yang disuasanakan berlebihan. Sebuah analisis ‘ngawur’ menyebutkan beberapa kemampuan luar biasa anak indigo,</p>
<ul>
<li>Prekognision: kemampuan memprediksi dan membuat peristiwa yang akan terjadi di masa depan.</li>
<li>Retrokognision: kemampuan melihat peristiwa di masa lampau.</li>
<li>Klervoyans: kemampuan untuk melihat kejadian yang sedang berlangsung di tempat lain.</li>
<li>Psikometri: kemampuan menggali informasi dan berkomunikasi dengan objek apapun. Dia menerjemahkan getaran dan gelobang yang dipancarkan setiap benda yang menyimpan rekaman suatu peristiwa.</li>
<li>Mediumship: kemampuan untuk menggunakan rohnya dan roh makhluk lain sebagai medium, serta bisa berkommunikasi dengan roh.</li>
<li>Telekinetik adalah kemampuan untuk menggerakkan benda dari jarak jauh.</li>
<li>Sugesti hipnosis: Anak Indigo dapat menghipnosis seseorang dengan kemampuan telepatinya.</li>
<li>Berkomunikasi dengan Tuhan: Kemampuan ini berhubungan dengan cakra mahkota pada bagian atas kepala yang merupakan pintu komunikasi antara manusia dengan Tuhan.</li>
</ul>
<p>Jika kita perhatikan kemampuan di atas, bisa disimpulkan bahwa anak indigo tak ubahnya seperti seorang Nabi. Karena satu-satunya manusia yang kita kenal memiliki kemampuan hebat seperti di atas hanya para nabi, atas bimbingan wahyu dari Tuhannya.</p>
<p>Namun sayang, banyak juga mereka yang mempercayai hal ini, terutama para budak klenik dan ramalan.</p>
<p>Kembali pada peta realita, berbagai kemampuan ‘hebat’ dalam daftar di atas, jelas bukan termasuk realita kauni. Karena kita tidak pernah menyaksikan proses anak indigo itu mengekspresikan kemampuannya. Yang kita lihat hanyalah, dia berbicara sendiri dengan tembok, pohon atau benda lainnya, atau dia menatap dengan pandangan nanar kemudian melakukan reaksi tertentu, atau dia ngomong tanpa beban kemudian menyampaikan masa depan, atau dia menceritakan halusinasi dalam pikirannya, dst. Anehnya, mereka menanggapinya terlalu serius.</p>
<p>Tidak ada yang melebihi kemampuannya</p>
<p>Anak indigo siapapun dia, tetap manusia. Dia tidak akan melampaui batas kemampuannya sebagai manusia. Semua kemampuan di atas, sejatinya tidak mungkin dimiliki manusia, selain Nabi yang mendapat wahyu dari Allah.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p><em>“Katakanlah: &#8220;tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah..”</em></p>
<p>Di ayat lain, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ</p>
<p><em>“Katakanlah: …Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira&#8221;.</em></p>
<p>Di ayat lain, Allah juga menegaskan,</p>
<p class="arab">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا ( ) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا</p>
<p><em>Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya</em>. (QS. Al-Jin: 26 – 27)</p>
<p>Dalam  hadis dari Rubayyi’ bintu Mu’awidz <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">قَالَتْ جَارِيَةٌ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ»</p>
<p><em>“Ada seorang anak yang mengatakan, ‘Di tengah-tengah kami ada seorang nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok.’ Spontan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengingatkan, ‘Jangan kau ucapkan hal itu, ucapkanlah syair yang tadi kalian lantunkan.’</em> (HR. Bukhari 4001).</p>
<p>Jika demikian kemampuan yang ada pada diri Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau tidak mengetaui hal ghaib, tidak bisa meramalkan masa depan, kecuali yang Allah wahyukan, bagaimana mungkin kita meyakini anak indigo mampu menerawang masa depan, melihat kejadian masa silam, meraba kejadian di tempat lain dalam waktu bersamaan, menebak isi hati orang, komunikasi dengan benda mati, komunikasi dengan Tuhan, menggerakkan benda dari jauh, dst.</p>
<p>Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mendatangi Ibnu Shayyad, seorang yang dianggap bisa meramal. Beliau ngetes kemampuannya: <em>‘Tebak kata yang kusimpan dalam hatiku!’</em> Ibnu Shayyad mengatakan, <em>‘Dukh..’</em> Mendengar jawaban ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">اخْسَأْ، فَلَنْ تَعْدُوَ قَدْرَكَ</p>
<p><em>‘Duduklah, kamu tidak akan melebihi batas kemampuanmu.’</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Pendapat yang kuat, ketika itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyimpan firman Allah di surat Ad-Dukhan ayat 10. (Keterangan Fuad Abdul Baqi dalam Ta’liq Shahih Bukhari).</p>
<p><strong>Ketiga, indigo dan jin</strong></p>
<p>Bagian ini perlu kita kupas ulang, karena memungkinkan untuk dilakukan pendekatan berdasarkan dalil. Beberapa laporan menyebutkan anak indigo melihat sesuatu yang tidak kita lihat.</p>
<p>Ada dua kemungkinan yang dia lihat, antara malaikat atau jin. Untuk malaikat, dipastikan tidak mungkin. Karena malaikat hanya akan melakukan tugas yang diperintahkan Allah. Sementara tidak mungkin malaikat melakukan tugas kecuali untuk sesuatu yang penting.</p>
<p>Dengan demikian, yang lebih pasti adalah jin. Anak ini melihat jin. Apa mungkin? Sangat mungkin.</p>
<p>Allah tegaskan dalam Al-Quran ketika membahasa tentang iblis:</p>
<p class="arab">إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ</p>
<p><em>“Sesungguhnya dia (iblis) dan kabilahnya (semua jin) bisa melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.”</em> (QS. Al-A’raf: 27).</p>
<p>Inilah sifat asli jin. Dia tidak bisa dilihat oleh manusia. Akan tetapi jin bisa menjelma menjadi makhluk yang lain, sehingga bisa terindera oleh manusia. Baik dengan dilihat, didengar, atau diraba. Sebagaimana kisah Ubay bin Ka&#8217;ab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pada hadis berikut,</p>
<p>Suatu ketika Ubay pernah menangkap jin yang mencuri makanannya. Ubay bin Ka’ab berkata kepada Jin: “Apa yang bisa menyelamatkan kami (manusia) dari (gangguan) kalian?”. Si jin menjawab: “Ayat kursi… Barangsiapa membacanya di waktu sore, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga pagi, dan barangsiapa membacanya di waktu pagi, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga sore”. Lalu paginya Ubay menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- untuk menuturkan hal itu, dan beliau menjawab: “Si buruk itu berkata benar”. (HR. Hakim, Ibnu Hibban, Thabarani dan lainnya, Albani mengatakan: Sanadnya Thabarani Jayyid)</p>
<p>Kejadian yang sama juga pernah dialami Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu. Beliau menangkap jin yang mencuri makanan zakat fitrah.</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Jin terkadang menjelma dengan berbagai bentuk sehingga memungkinkan bagi manusia untuk melihatnya. Firman Allah <em>Ta’ala</em>,<em> ‘Sesungguhnya iblis dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka,’ khusus pada kondisi aslinya sebagaimana dia diciptakan.</em>” (Fathul Bari, 4:489).</p>
<p>Karena itu, jika benar anak indigo melihat jin, bukan karena dia memiliki kemampuan khusus melebihi yang lain, sehingga bisa melihat jin. Namun karena ada jin yang menampakkan diri kepadanya.</p>
<p><strong>Keempat, Kondisi tidak Normal</strong></p>
<p>Catatan tambahan yang penting untuk disebutkan. Kejadian anak indigo sejatinya adalah kondisi tidak normal. Baik karena sebab ADHD atau melihat jin. Karena normalnya manusia, dia hanya bisa berinteraksi dengan sesuatu yang bisa memberikan respon kepadanya. Jika sebabnya karena gangguan kejiwaan, bisa dilarikan ke ahli penyakit terkait, sehingga bisa dilakukan penanganan.</p>
<p>Demikian pula jika indigonya disebabkan melihat jin. Juga termasuk kondisi tidak normal. Karena dalam kondisi normal, sejatinya mansuia tidak bisa melihat jin. Ketika ada orang yang melihat jin, berarti dia tidak normal. Karena tidak normal, kasus semacam ini perlu dinormalkan (baca: diobati). Melihat jin, berarti ada jin yang usil dan mengganggunya. Dia harus usir jin ini agar segera meninggalkannya. Jika tidak, akan sangat sulit bagi si anak untuk melepaskan diri dari gangguan jin itu.</p>
<p>Terkait cara mengusir jin, bisa anda simak di artikel,</p>
<p><a title="Keluar Paku dari Tubuh dan Cara Pengobatannya" href="www.konsultasisyariah.com/keluar-paku-dari-tubuh-dan-cara-pengobatannya/" target="_blank"><strong>Keluar Paku dari Tubuh dan Cara Pengobatannya</strong></a></p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/indigo-indera-keenam-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fenomena Batu Ajaib</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/fenomena-batu-ajaib/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/fenomena-batu-ajaib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2013 06:16:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[batu ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[kekuatan ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[paranormal]]></category>
		<category><![CDATA[ponari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17417</guid>
		<description><![CDATA[Batu Ajaib yang Bisa Bergerak Pertanyaan: Asalamu alakum, Akhir-akhir ini di jombang ada orang yg nemu batu ajaib. Batu ini ditemukan di kuburan. Satunya bs gerak-grak spt pnya medan magnet. Trus org-org pada rame minta obat dg batu itu. Bolehkeh ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Batu Ajaib yang Bisa Bergerak</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Asalamu alakum,</em><br />
<em> Akhir-akhir ini di jombang ada orang yg nemu batu ajaib. Batu ini ditemukan di kuburan. Satunya bs gerak-grak spt pnya medan magnet. Trus org-org pada rame minta obat dg batu itu. Bolehkeh scr agama? Minta dijelaskan sejelas-jelasny&#8230;</em><br />
<em> Makasih..</em><br />
<span id="more-17417"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa alaikumus salam</p>
<p>Semangat manusia untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang dia derita sangat luar biasa. Berbagai usaha siap dia tempuh untuk mendapatkannya. Jika mereka menempuh cara yang dibolehkan syariat, mungkin tidak menjadi masalah. Sayangnya masing sangat banyak masyarakat kita yang menempuh cara yang sama sekali tidak masuk akal dan bahkan mengancam aqidahnya.<br />
Karena itu, butuh perjuangan panjang dan serius untuk mengajarkan pemahaman yang benar tentang tauhid dan kesyirikan kepada masyarakat. Usaha yang seharusnya terus dibangun, sampai akhir zaman.</p>
<p>Kita masih terngiang dengan kasus ponari. Berbekal batu kecil yang aneh, membuat dirinya menjadi headline news. Sehari harus didatangi puluhan pasien untuk meminta obat. Saat ini muncul lagi yang serupa, dan peminatnya tetap banyak.</p>
<h3><strong>Aturan Mengambil Sebab</strong></h3>
<p>Untuk memahami kasus ini, kita perlu memahami aturan mengambil sebab yang dibolehkan dalam syariat. Penjelasan tentang ini sebenarnya telah kita kupas ketika membahas hukum menggunakan gelang magnet untuk pengobatan. Artikelanya bisa anda pelajari di: <a title="Hukum Mengenakan Gelang Magnet untuk Pengobatan" href="http://www.konsultasisyariah.com/hukum-mengenakan-gelang-magnet-untuk-pengobatan/" target="_blank"><strong>Hukum Mengenakan Gelang Magnet untuk Pengobatan</strong></a></p>
<p>Tentang aturan mengambil sebab, secara ringkas dapat kita jelaskan bahwa mencari sebab untuk mendapatkan sesuatu, harus terpenuhi salah satu dari dua syarat,</p>
<p>Pertama, terdapat dalil yang menjelaskan bahwa itu sebab. Jika terdapat dalil yang menganjurkan maka disebut sebab syar&#8217;i.<br />
Kedua, terbukti secara ilmiah adanya hubungan antara sebab dan akibat. Jika terbukti secara ilmiah adanya hubungan sebab akibat maka disebut sebab kauni.</p>
<p>Kembali pada batu ajaib itu, apakah boleh kita menggunakan batu itu untuk pengobatan? Kita perlu menimbang dengan dua persyaratan tersebut:</p>
<p>Pertama, adakah dalil yang menunjukkan anjuran atau perintah untuk menggunakan batu yang ditemukan di kuburan? Anda bisa periksa dari Al-Quran dan sunah. Jika TIDAK ada, berarti itu BUKAN sebab syar&#8217;i.</p>
<p>Kedua, adakah penelitian ilmiah yang membuktikan adanya hubungan antara batu itu dengan penyakit yang diderita pasien? Sudahkah dilakukan penelitian terhadap unsur dan komposisi si batu, sehingga bisa dipastikan adanya hubungan dengan penyakit seseorang? Jika tidak ada, berarti bukan termasuk sebab kauni.</p>
<p>Jika tidak terpenuhi kedua syarat di atas, maka sejatinya itu bukan sebab untuk mendapatkan kesembuhan. Dan jika tetap dipaksakan untuk dijadikan sebab, dan diyakini bisa menyembuhkan penyakit dengan izin Allah maka statusnya syirik kecil. ingat..! meskipun dia yakin itu terjadi dengan IZIN Allah.</p>
<h3><strong>Mengapa Syirik Kecil?</strong></h3>
<p>Karena satu-satunya yang bisa menghubungkan dua hal yang sama sekali TIDAK memiliki hubungan sebab akibat, hanya Allah. Sebagaimana Allah nyatakan dalam Al-Quran,</p>
<p class="arab">إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ</p>
<p><em>Sesungguhnya ketetapan Allah apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berfirman: &#8220;Jadilah!&#8221; Maka jadilah ketetapan itu.</em> (QS. Yasin: 82)</p>
<p>Meskipun bisa jadi hal itu sama sekali tidak memiliki hubungan sebab akibat. Namun jika Allah telah menghendaki maka jadilah. Berbagai sejarah para nabi dan mukjizatnya, merupakan contoh nyata akan hal ini. Kita tidak akan pernah tahu apa hubungan tongkat Nabi Musa dengan terbelahnya laut merah. Namun karena Allah berkehendak, terjadilah.</p>
<p>Mengingat kita tidak tahu bagaimanakah kehendak Allah itu kecuali berdasarkan dalil atau penelitian ilmiah, maka kita dilarang mengklaim ada benda tertentu yang bisa menjadi obat dengan kehendak Allah. Karena tindakan semacam ini termasuk berbicara atas nama Allah tanpa bukti yang bisa dipertanggung jawabkan, dan itu statusnya syirik kecil.</p>
<p>Dalilnya:</p>
<p>Dari Ibnu Mas&#8217;ud<em> radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ</p>
<p>“Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad. Lihat Shahih Jami’ Ash-Shaghir no. 1632)</p>
<p><strong>Tamimah :</strong> buntelan yang dikalungkan dileher anak kecil, sebagai perlindungan dari mara bahaya.<br />
Tiwalah : kertas yang bertuliskan mantra sihir, biasanya untuk pengasihan atau lainnya.<br />
(Aunul Ma&#8217;bud, Syarh Sunan Abi Daud, 10/262).</p>
<p>Orang yang menggunakan jimat masih meyakini bahwa itu hanya semata sebab, sementara yang menentukan dia berfungsi adalah Allah. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyebut perbuatan menggunakan jimat berupa tamimah atau tiwalah sebagai kesyirikan. Karena tindakan semacam ini termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab.</p>
<h3><strong>Motivasi Mereka yang Berobat ke Batu Ajaib</strong></h3>
<p>Yang kita tahu, pasien yang datang meminta obat dengan batu ini, memiliki keluhan penyakit yang tidak seragam. Seolah batu ini bisa menjadi obat segala penyakit pasien. Karena itulah, dalam kasus ponari kemarin, tidak ada peringatan bahwa batu spesialis untuk kanker. Sehingga ini menguatkan asumsi, sejatinya tidak ada sifat fisik maupun unsur kimia dari batu itu yang memiliki hubungan dengan penyakit pasien.</p>
<p>Tak berbeda dengan kasus baru ini. Batu yang nampaknya memiliki medan magnet itu didatangi oleh pasien dengan aneka keluhan penyakit. Artinya, bukan unsur magnetnya yang menjadi sasaran utama, tapi keajaiban batu itu. Jika sebatas magnetnya yang menjadi tujuan, orang tidak akan tertarik untuk mendatanginya karena semua orang sudah memiliki magnet.</p>
<p>Lantas apa yang menjadi motivasinya? Motivasi utamanya tidak lain adalah kesaktian batu itu. Batu ponari menjadi laris, karena banyak yang meyakini bahwa itu batu sakti. Dilempar balik lagi. Tidak berbeda dengan batu bermedan magnet ini. Dia menjadi laris karena ditemukan di kuburan dan diyakini batu unik dan sakti.</p>
<h4><strong>Permainan Setan</strong></h4>
<p>Sejatinya tidak ada istilah batu sakti, kecuali yang Allah tetapkan sebagai benda istimewa. Semua batu sama, yang membedakan hanya sifat fisis dan atau kandungan kimianya. Lalu dari mana batu ponari itu bisa balik lagi ketika dilempar? Dari mana keris bisa bergoyang?<br />
Jawabannya permainan jin. Seperti yang kita pahami, jin memiliki kemampuan memindahkan barang, dengan cara yang bisa kita lihat maupun tidak kita lihat. Kisah Nabi Sulaiman &#8216;alaihis salam dengan jin Ifrit yang menawarkan untuk memindahkan singgasana Balqis merupakan dalil akan hal ini. Karena itu, anda tidak perlu keheranan, kasus keris bergoyang, batu melayang, batu terbang, dan semacamnya adalah ulah jin.</p>
<p>Sungguh sangat disayangkan ketika masyarakat begitu mudah tercengankan dengan kejadian aneh semacam itu, padahal sejatinya adalah permainan jin. Jika penyakit semacam ini tetap dilestarikan, selamanya masyarakat kita akan menjadi korban bulan-bulanan jin.</p>
<h4><strong>Keberhasilan bukan Tanda Kebenaran</strong></h4>
<p>Satu lagi yang perlu kita luruskan, tentang keberhasilan. Beberapa orang tak tergoyahkan untuk tetap berobat dengan batu atau keris atau semacamnya, karena ada laporan dari beberapa pasien bahwa batu itu mujarab. Usahanya berhasil, penyakitnya sembuh. Kemudian mereka membuat prinsip, jika Allah menilai berobat dengan batu sakti itu termasuk perbuatan kesyirikan, tentu Allah tidak akan menyembuhkannya. Keberhasilan dan kesembuhan yang diperoleh orang ini, merupakan bukti bahwa tindakan itu tidak bertentangan dengan aturan syariat.</p>
<p>Tentu saja alasan semacam ini tidak bisa diterima. Dengan logika sederhana, orang bisa menilai bahwa ini bukan alasan yang dibenarkan. Karena terlalu banyak usaha manusia untuk mendapatkan kesuksesan dengan cara yang dilarang, dan ternyata usahanya Allah takdirkan berhasil.</p>
<p>Ada orang yang ingin kaya dengan cara maling, dan usahanya berhasil. Ada yang dengan menjadi pegawai bank, dan dia berhasil. Dalam kasus serupa, ada orang yang mencari pesugihan ke gunung kemukus dengan sebelumnya bermain bersama pezina dan jadi kaya, ada yang mencari jodoh dengan pelet dan sukses, ada yang menggunakan jimat untuk tawuran dan menang, dst..<br />
Anda tentu sepakat bahwa Allah tidak mungkin meridhai perbuatan semacam ini. Meskipun Allah takdirkan mereka berhasil dan sukses mendapatkan apa yang diinginkan.</p>
<h4><strong>Antara Ridha &amp; Takdir Allah</strong></h4>
<p>Untuk mengetahui lebih jelas tentang masalah ini, kita perlu memahami perbedaan antara takdir dengan ridha Allah. Semua yang terjadi di alam ini, telah ditakdirkan oleh Allah. Dan seperti yang kita saksikan, tidak semua yang Allah takdirkan, pasti Allah ridhai. Betapa banyak perbuatan kekafiran, perbuatan maksiat, melanggar aturan yang ada di sekitar kita, dan itu semua terjadi dengan takdir. Namun jelas semua perbuatan itu Allah benci. Sebaliknya, tidak semua yang Allah ridhai pasti Allah takdirkan. Allah ridha jika semua manusia beriman kepada-Nya. Namun semacam ini tidak ada dalam realita di kehidupan kita.</p>
<p>Dengan demikian, kita tidak mungkin beralasan dengan takdir untuk membenarkan pelanggaran yang kita lakukan. Karena sikap semacam ini yang dilakukan orang musyrikin. Sebagaimana Allah ceritakan,</p>
<p class="arab">سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang musyrik itu akan mengatakan, jika Allah berkehendak, tentu kita tidak akan berbuat syirik, tidak pula nenek moyang kita..</em>&#8221; (QS. Al-An&#8217;am: 148).</p>
<p>Orang-orang musyrik berdalil dengan takdir untuk membenarkan syirik mereka. Karena beberapa kali mereka syirik dalam berdoa atau beribadah, dan mereka berhasil. Andaikan Allah tidak merestui, seharusnya Allah sudah menghancurkan berhala kami. Nyatanya semua Allah biarkan dan hasilnya sukses. Ini menunjukkan syirik mereka direstui Allah. (Tafsir As-Sa&#8217;di, 1/278)</p>
<h4><strong>Hati-hati Dengan Istidraj</strong></h4>
<p>Tidak ada kata padanan yang tepat untuk kata istidraj dalam bahasa indonesia. Untuk bahasa jawa, istidraj sering disepadankan dengan kata: &#8216;dilulu&#8217; atau &#8216;diujo&#8217;. Keadaan dimana seseorang dibiarkan oleh Allah untuk menikmati kemaksiatan yang dia lakukan.</p>
<p>Mereka yang menggunakan jimat kemudian berhasil, sejatinya merupakan istidraj dari Allah. Mereka yang mencari pesugihan dan sukses, sejatinya merupakan istidraj. Orang ini dibuat semakin yakin dengan cara yang dia lakukan, dengan keberhasilan yang dia dapatkan.</p>
<p>Dalam sebuah hadis dinyatakan,</p>
<p class="arab">مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ</p>
<p><em>&#8220;Siapa yang bergantung kepada sesuatu, dia akan dibuat semakin bergantung kepadanya.&#8221;</em> (HR. An-Nasai 4079).</p>
<p>Sungguh ancaman yang sangat menakutkan. Orang yang bergantung pada jimat, pesugihan, air dzikir kiyai, tulisan rajah-rajah, paranormal, dukun, dst, bisa jadi Allah akan buat orang ini sukses dengan usahanya, sehingga semakin bergantung kepada selain Allah. Mungkinkah dia bisa disadarkan dan diajak bertaubat??</p>
<p>Allahu a&#8217;lam</p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/fenomena-batu-ajaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Puasa di Hari Maulid</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-di-hari-maulid-nabi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-di-hari-maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2013 09:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[kelahran nabi]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[maulud]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=16082</guid>
		<description><![CDATA[Puasa di Hari Maulid Nabi Pertanyaan: Kita boleh pusa sunah tidak ketika mauled nabi? Dosa tidak?  (ketika puasa di hari maulid nabi, red) Dari: Fasah Ribu Jawaban: Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, wa ba&#8217;du, Pertama, kita dianjurkan puasa ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Puasa di Hari Maulid Nabi</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Kita boleh pusa sunah tidak ketika mauled nabi? Dosa tidak?  (<em>ketika puasa di hari maulid nabi, red</em>)</p>
<p>Dari: Fasah Ribu<br />
<span id="more-16082"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, wa ba&#8217;du,</em><strong></strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, kita dianjurkan puasa setiap hari senin. Puasa ini dilakukan setiap pekan, setiap hari senin.</p>
<p>Dari Abu Qatadah al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya tentang kebiasaan beliau berpuasa hari senin. Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ</p>
<p>&#8220;<em>Itu adalah hari dimana  aku dilahirkan dan hari aku diutus</em>.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Dalam riwayat lain, dalam sebuah hadis dari Usamah bin Zaid, beliau ditanya tentang alasan sering melaksanakan puasa senin dan kamis. Jawab beliau,</p>
<p class="arab">ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ</p>
<p>&#8220;<em>Dua hari ini dilaporkan amal kepada Rabbul alamin, dan aku ingin, ketika amalku dilaporkan, aku dalam kondisi puasa</em>.&#8221; (HR. An-Nasa&#8217;i, dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).</p>
<p>Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama menyimpulkan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaksanakan puasa sunah hari senin, karena dua alasan,</p>
<p>1. Karena  pada hari itu amal para hamba dilaporkan kepada Allah, dan beliau ingin ketika amal beliau dilaporkan, beliau dalam kondisi puasa.</p>
<p>2. Pada hari itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dilahirkan dan diutus oleh Allah. Maka beliau puasa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.</p>
<p>Namun sekali lagi, puasa senin yang dilakukan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> itu, dikerjakan setiap pekan dan bukan setahun sekali atau selapan sekali. Sehingga ketika kita hendak mewujudkan rasa syukur seperti yang beliau lakukan, selayaknya puasa senin itu kita lakukan secara rutin.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, terdapat banyak puasa sunah yang dianjurkan dalam Islam. Dan secara umum, puasa sunah dalam islam dibagi menjadi dua:</p>
<p>1. Puasa sunah mutlak</p>
<p>Puasa sunah mutlak  adalah puasa sunah yang dikerjakan tanpa dibatasi waktu maupun tempat tertentu. Artinya bisa dikerjakan kapanpun selama tidak bertepatan dengan hari terlarang puasa, seperti hari raya, hari tasyrik, hari Jumat saja, atau hari Sabtu saja.</p>
<p>2. Puasa sunah muqayad</p>
<p>Puasa sunah <em>muqayad</em> adalah puasa sunah yang dikerjakan pada hari tertentu, berdasarkan anjuran dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Puasa ini ada yang tahunan, ada yang bulanan, dan ada yang mingguan. Seperti puasa Asyura di setiap tanggal 10 Muharam, puasa Arafah di setiap tanggal 9 Dzulhijjah, puasa Senin-Kamis setiap pekan, puasa hari putih (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan), 6 hari di bulan Syawal, puasa Sya&#8217;ban, dst.</p>
<p>Dari sekian banyak puasa sunah <em>muqayad</em> yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak ada yang namanya puasa hari maulid. Padahal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga mengajarkan puasa tahunan. Demikian pula, tidak kita jumpai beliau atau para sahabat melaksanakan puasa di hari maulid. Ini semua menunjukkan bahwa puasa maulid jatuh pada tanggal 12 rabi&#8217;ul awal, bukan termasuk puasa yang disyariatkan. Terlebih, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal lahirnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Kecuali jika tanggal 12 rabiul awal jatuh pada hari kamis, seperti saat ini (24 januari 2013). Kita dianjurkan untuk melaksanakan puasa kamis, bukan karena ini hari maulid, namun karena hari ini adalah hari kamis. Namun satu catatan, tidak boleh kita yakini, puasa hari kami saat ini memiliki nilai lebih atau keutamaan tambahan, karena  alasan bertepatan dengan hari maulid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Referensi:</p>
<p><em>Fatwa Islam</em>, no. 137931</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="puasa di hari maulid nabi" href="http://konsultasisyariah.com/puasa-di-hari-maulid-nabi" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/puasa-di-hari-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
