<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Bersuci</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/bersuci/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Jun 2013 01:45:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Gusi Berdarah, Batalkah Wudhu?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/gusi-berdarah-batalkah-wudhu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/gusi-berdarah-batalkah-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 07:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[gusi berdarah]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18604</guid>
		<description><![CDATA[Gusi Berdarah, Wudhu Batal? Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Ustadz Saya mau tanya, apakah gusi berdarah dapat membatalkan wudhu? Syukron. Dari: Martono Jawaban: Wa’alaikumussalam Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Gusi Berdarah, Wudhu Batal?</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum Ustadz</em></p>
<p><em>Saya mau tanya, apakah gusi berdarah dapat membatalkan wudhu?</em><br />
<span id="more-18604"></span><br />
<em>Syukron.</em></p>
<p>Dari: Martono</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam</p>
<p><i>Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</i></p>
<p><a title="gusi berdarah tidak membatalkan wudhu" href="http://konsultasisyariah.com/gusi-berdarah-batalkah-wudhu" target="_blank" rel="dofollow" rel="nofollow">Gusi berdarah tidak membatalkan wudhu</a>. Diantara dalil tegas hal ini adalah keterangan yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya secara muallaq,</p>
<p class="arab">وَبَزَقَ ابْنُ أَبِي أَوْفَى دَمًا فَمَضَى فِي صَلاَتِهِ</p>
<p>“Ibnu Abi Aufa pernah meludahkan darah dan beliau tetap melanjutkan shalatnya.” (<i>Shahih Bukhari,</i> 1:46).</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar menilai, sanad hadis ini shahih.</p>
<p>Karena keluar darah bukan termasuk pembatal wudhu. Banyak sahabat yang terluka ketika berperang dan mereka shalat sementara luka mereka terkadang mengucurkan darah. Sahabat Jabir <i>radhiyallahu ‘anhu</i> menceritakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ الرِّقَاعِ فَرُمِيَ رَجُلٌ بِسَهْمٍ، فَنَزَفَهُ الدَّمُ، فَرَكَعَ، وَسَجَدَ وَمَضَى فِي صَلاَتِهِ</p>
<p>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> pernah melakukan peperangan Dzatur Riqa’. Dan ada seorang sahabat yang terkena panah (ketika shalat), dan darahnya keluar. Namun dia tetap lanjutkan rukuk dan sujudnya serta menyelesaikan shalatnya (<i>Shahih Bukhari</i> secara muallaq, 1/46).</p>
<p>Riwayat inilah yang menjadi acuan para ulama untuk menyatakan bahwa keluar darah, tidahlah membatalkan wudhu dan tidak pula membatalkan shalat.</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang hukum keluar darah setelah wudhu. Jawaban beliau,</p>
<p class="arab">خروج الدم من الفم بعد الوضوء لا ينقض الوضوء بل لو خرج من غير الفم دم كثير أو قليل فإنه لا ينقض الوضوء إلا ما خرج من السبيلين القبل أو الدبر فإنه ينقض الوضوء</p>
<p>Keluar darah dari mulut setelah wudhu, tidak membatalkan wudhu. Bahkan jika keluar darah dari selain mulut, keluar banyak atau sedikit, tidak batal wudhunya, kecuali jika darah itu keluar dari dua jalan depan (qubul) atau belakang (dubur), karena semacam ini bisa membatalkan wudhu.</p>
<p>Situs resmi beliau: <em>http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1164.shtml</em></p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam indonesia" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/gusi-berdarah-batalkah-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-menyentuh-istri-membatalkan-wudhu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-menyentuh-istri-membatalkan-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 May 2013 01:26:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[menyentuh wanita]]></category>
		<category><![CDATA[niat wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[syarat wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18234</guid>
		<description><![CDATA[Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu Pertanyaan: Bagaimana hukum bersentuhan dengan istri setelah berwudhu. Apakah membatalkan wudhu? Dari: Maulana Jawaban: Para ulama fikih berselisih pendapat tentang masalah ini, ada berbagai pendapat yang..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><em>Bagaimana hukum bersentuhan dengan istri setelah berwudhu. Apakah membatalkan wudhu?</em></p>
<p>Dari: Maulana<br />
<span id="more-18234"></span><br />
<b>Jawaban:</b></p>
<p>Para ulama fikih berselisih pendapat tentang masalah ini, ada berbagai pendapat yang cukup banyak. (Lihat <i>al-Majmu’</i> 2:34 Imam Nawawi). Di sini kami akan sebutkan tiga pendapat saja:</p>
<p><b>Pendapat Pertama</b>: Menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak, tetapi kalau ada pembatasnya seperti kain, maka tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini populer dalam madzhab Syafi’i. Pendapat berlandaskan dengan berbagai argumen, yang paling masyhur dan kuat adalah firman Allah dalam surat An-Nisa’: 43.</p>
<p class="arab">أَوْ لاَمَسْتُم النِّسَآءَ</p>
<p>“<i>Atau kamu telah berjima’ dengan istri</i>.” (QS. An-Nisa’: 43).</p>
<p>Mereka mengartikan kata لاَمَسْتُمُ dalam ayat tersebut dengan menyentuh. (Lihat <i>al-Umm</i> 1:30 oleh Imam Syafi’i dan <i>al-Majmu’</i> 2:35 oleh Imam Nawawi).</p>
<p><b>Pendapat Kedua</b>: Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat maupun tidak berdasarkan beberapa dalil berikut:</p>
<p>Dalil Pertama:</p>
<p>Ketika seseorang berwudhu, maka hukum wudhunya itu hukum asalnya suci dan tidak batal sehingga ada dalil yang mengeluarkan dari hukum asalnya. Dalam hal ini, pembatal itu tidak ada, padahal kita ketahui bersama bahwa menyentuh isteri adalah suatu hal yang amat sering terjadi. Seandainya itu membatalkan wudhu, tentu Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> akan menjelaskan kepada umatnya dan masyhur di kalangan sahabat, tetapi tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang berwudhu hanya karena sekedar menyentuh istrinya. (<i>Majmu’ Fatawa</i> Ibnu Taimiyyah 21:235).</p>
<p>Dalil Kedua:</p>
<p>Dari Aisyah d bahwasanya Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> pernah mencium sebagian istrinya kemudian keluar menuju shalat dan tidak berwudhu lagi. Saya (Urwah) berkata: Tidaklah dia kecuali Anda kan? Lalu Aisyah tertawa. (Shahih. Riwayat Tirmidzi: 86, Abu Dawud: 178, Nasa’i: 170, Ibnu Majah: 502 dan dishahihkan al-Albani dalam <i>al-Misykah</i>: 323. Lihat pembelaan hadis ini secara luas dalam <i>at-Tamhid</i> 8:504 Ibnu Abdil Barr dan <i>Syarh Tirmidzi</i> 1:135-138 Syaikh Ahmad Syakir).</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu sekalipun dengan syahwat. Demikian ditegaskan oleh Syaikh al-Allamah as-Sindi dalam <i>Hasyiyah Sunan Nasa’i</i> 1:104.</p>
<p>Dalil Ketiga:</p>
<p>Dari Aisyah <i>radhiyallahu ‘anha</i> berkata: Saya pernah tidur di depan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan kedua kakiku berada di arah kiblatnya. Apabila beliau sujud, maka beliau menyentuhku lalu saya pun mengangkat kedua kakiku, dan bila beliau berdiri, maka aku membentangkan kedua kakiku seperti semula. (Aisyah) berkata: “Rumah-rumah saat itu masih belum punya lampu”. (HR. Bukhari: 382 dan Muslim: 512).</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu. Adapun takwil al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <i>Fathul Bari</i> 1:638 bahwa kejadian di atas bisa jadi karena ada pembatasnya (kain) atau kekhususan bagi Nabi, maka takwil ini sangat jauh sekali dari kebenaran, menyelesihi dhahir hadis dan takalluf (menyusahkan diri). (Periksa <i>Nailul Authar</i> asy-Syaukani 1:187, <i>Subulus Salam</i> as-Shan’ani 1:136, <i>Tuhfatul Ahwadzi</i> al-Mubarakfuri 1:239, <i>Syarh Tirmidzi </i>Ahmad Syakir 1:142).</p>
<p><b>Dalil Keempat:</b></p>
<p>Dari Aisyah <i>radhiyallahu ‘anha</i> berkata: “Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dari tempat tidur maka saya mencarinya lalu tanganku mengenai pada kedua punggung kakinya yang tegak, beliau shalat di masjid seraya berdoa: “Ya Allah saya berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu…”. (HR. Muslim: 486).</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa istri menyentuh suami tidaklah membatalkan wudhu. Adapun penjelasan Imam Nawawi dalam <i>Syarh Shahih Muslim</i> 4:152 bahwa kejadian tersebut bisa jadi karena ada pembatas kainnya, maka menyelisihi dhahir hadis. (Lihat <i>at-Tamhid</i> 8:501 Ibnu Abdil Barr dan <i>Tafsir al-Qurthubi</i> 5:146).</p>
<p>Dalil Kelima:</p>
<p>Dari Aisyah <i>radhiyallahu ‘anha</i> berkata: “Pernah Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> melakukan shalat sedangkan saya tidur terbentang di depannya layaknya jenazah sehingga apabila beliau ingin melakukan witir, maka beliau menyentuhku dengan kakinya”.</p>
<p>(HR. Nasai 1/102/167. Imam Za’ilai berkata: “Sanadnya shahih menurut syarat shahih dan dishahihkan Imam Nawawi dalam <i>al-Majmu’</i> 2:35).</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu dengan kaki atau anggota badan lainnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam <i>at-Talkhis</i> hal. 48: “Sanadnya shahih, hadis ini dijadikan dalil bahwa makna “Laamastum” dalam ayat adalah jima’ (berhubungan) karena Nabi menyentuh Aisyah dalam shalat lalu beliau tetap melanjutkan (tanpa wudhu lagi -pent)”.</p>
<p><b>Pendapat Ketiga:</b></p>
<p>Rincian:</p>
<p>Batal wudhunya apabila menyentuh wanita dengan syahwat, dan tidak batal apabila tidak dengan syahwat. Dalil mereka sama seperti pendapat kedua, tetapi mereka membedakan demikian dengan alasan “Memang asal menyentuh tidak membatalkan wudhu, tetapi menyentuh dengan syahwat menyebabkan keluarnya air madhi dan mani, maka hukumnya membatalkan” (Lihat <i>al-Mughni</i> 1:260 Ibnu Qudamah).</p>
<p>Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua yaitu:</p>
<p>Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu baik dengan syahwat ataupun tidak, kecuali apabila mengeluarkan air mani dan madhi maka batal wudhunya atau minimal adalah pendapat ketiga.</p>
<p>Adapun pendapat pertama, maka sangat lemah sekali karena maksud ayat tersebut adalah jima’ (hubungan suami istri) berdasarkan argumen sebagai berikut:</p>
<p>Salah satu makna kata لَمَسَ dalam bahasa Arab adalah jima’ (<i>al-Qamus al-Mukhith</i> al-Fairuz Abadi 2:259).</p>
<p>Para pakar ahli tafsir telah menafsirkan ayat tersebut dengan jima’ diantaranya adalah sahabat mulia, penafsir ulung yang dido’akan Nabi, Abdullah bin Abbas, demikian pula Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Mujahid, Thawus, Hasan Al-Bashri, Ubaid bin Umair, Said bin Jubair, Sya’bi, Qotadah, Muqatil bi Hayyan dan lainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/550). Pendapat ini juga dikuatkan Syaikh ahli tafsir, Ibnu Jarir dalam Tafsirnya 5/102-103 dan Imam Ibnu Rusyd dalam <i>Bidayatul Mujtahid.</i></p>
<p>Mengkompromikan antara ayat tersebut dengan hadis-hadis shahih di atas yang menegaskan bahwa Rasulullah n menyentuh bahkan mencium istrinya (Aisyah) dan beliau tidak berwudhu lagi.</p>
<p>Imam Ibnu Abdil Barr dalam <i>at-Tamhid</i> 8:506 dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <i>at-Talkhis</i> menukil dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata: “Seandainya hadis Aisyah tentang mencium itu shahih, maka madzhab kita adalah hadis Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam”. Perkataan serupa juga dikatakan oleh Imam Al-Baihaqi, pejuang madzbab Syafi’i. Hal ini menunjukkan bahwa kedua imam tersebut tidak menetapkan bahwa maksud لاَمَسْتُم dalam ayat tersebut bermakna “Menyentuh” karena keduanya menegaskan seandanya hadis Aisyah shahih, maka beliau berdua berpendapat mengikuti hadis. Seandainya kedua imam tersebut berpendapat seperti hadis, maka mau gak mau harus menafsirkan ayat tersebut bermakna “jima” sebagaimana penafsiran yang shahih. (Syarh Tirmidzi 1/141 oleh Syaikh Ahmad Syakir).</p>
<p>Demikianlah jawaban yang kami yakini berdasarkan dalil-dalil yang shahih, bukan fanatik madzhab dan mengikuti apa kata banyak orang. Semoga Allah menambahkan ilmu dan memberikan keteguhan kepada kita. <i>Wallahu A’lam</i>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong><br />
<strong> Sumber: www.abiubaidah.com</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-menyentuh-istri-membatalkan-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Buang Air Kecil yang Sering Dilupakan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/adab-buang-air-kecil-yang-sering-dilupakan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/adab-buang-air-kecil-yang-sering-dilupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 May 2013 08:38:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[adab buang air kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17672</guid>
		<description><![CDATA[Adab Buang Air Kecil Pertanyaan: Assalammualaikum pak ustad,saya pernah membaca hadis bahwa ada sesorang yang disiksa di neraka karena tidak menjaga diri dari percikan air kencing.Yang saya ingin tanyakan bagaimana..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Adab Buang Air Kecil</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalammualaikum pak ustad,saya pernah membaca hadis bahwa ada sesorang yang disiksa di neraka karena tidak menjaga diri dari </em><em>percikan air kencing.Yang saya ingin tanyakan bagaimana adab buang air kecil yang baik dan benar menurut tuntunan Nabi  Muhammad?</em></p>
<p><em>Sekian,terima kasih</em><br />
<span id="more-17672"></span><br />
<em>Wassalam</em></p>
<p>Dari: Heru Prasetyo</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa alaikumus salam<br />
Ada beberapa adab buang air kecil yang sering dilupakan,</p>
<p><strong>Pertama, tidak menutup aurat dengan sempurna</strong></p>
<p>Contoh yang paling mudah untuk kasus ini adalah kencing di urinoir. Beberapa toilet, urinoir dipasang terbuka dan tidak diberi sekat. Kondisi ini sangat memungkinkan orang yang buang air kecil terlihat auratnya oleh temannya yang lain. Hampir mirip dengan para supir yang kencing di ban mobil.</p>
<p>Bagi yang punya kebiasaan kencing di tempat semacam ini, perhatikanlah hadis berikut,</p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, beliau berkata,</p>
<p class="arab">خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.</p>
<p><em>“Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak menunaikan hajatnya sampai beliau pergi ke tempat yang tidak kelihatan.”</em> (HR. Ibnu Majah 335, Ad-Darimi 17, dan dinilai sahih oleh al-Albani)</p>
<p><strong>Kedua, tidak hati-hati terhadap najis</strong></p>
<p>Tidak cebok, tidak menyiram air kencing, tidak hati-hati dengan cipratan ketika kencing, semuanya termasuk pelanggaran yang bernilai dosa besar.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>,</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melewati salah satu sudut kota Mekah atau Madinah. Kemudian beliau mendengar ada dua penghuni kubur yang di siksa. Kemudian beliau bersabda,</p>
<p class="arab">يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ</p>
<p><em>Mereka berdua disiksa. Mereka tidak disiksa untuk perkara yang berat ditinggalkan, namun itu perkara besar. Yang pertama disiksa karena tidak hati-hati ketika kencing, yang kedua disiksa karena suka menyebarkan adu domba.</em> (HR. Bukhari 216).</p>
<p>Hal ini sering kali dianggap sepele, padahal pelanggaran ini merupakan sebab terbanyak yang menjerumuskan orang untuk mendapatkan siksa kubur. Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">أَكْثَرُ عَذَابِ الْقَبْرِ فِي الْبَوْلِ</p>
<p><em>Kebanyakan sebab siksa kubur adalah kerena kencing.</em> (HR. Ahmad 8331 dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).</p>
<p>Adanya ancaman adzab kubur, menunjukkan bahwa pelanggaran semacam ini termasuk dosa besar.</p>
<p>Ketiga, tidak menghindari arah kiblat</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang umatnya untuk buang hajat dengan menghadap atau membelakangi kiblat. Dari Abu Ayyub Al-Anshari, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِذَا أَتَيْتُمُ الغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ، وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا</p>
<p><em>“Apabila kalian buang hajat, janganlah menghadap atau membelakangi kiblat. Namun menghadaplah ke timur atau ke barat.”</em> (HR. Bukhari 394 dan Muslim 264).</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menasehatkan, ‘menghadaplah ke timur atau ke barat’, karena arah kiblat Madinah adalah ke arah selatan.</p>
<p><strong>Apakah ini termasuk buang air yang dilakukan di dalam ruangan?</strong></p>
<p>Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. ada yang mengatakan larangan ini berlaku umum, baik di dalam maupun di tempat terbuka dan ada yang mengatakan, hadis ini hanya berlaku untuk buang air di tempat terbuka. Apapun itu, selama masih memungkinkan bagi kita untuk menghindari arah kiblat, sebaiknya tidak menghadap atau membelakangi kiblat, meskipun kita buang air di dalam bangunan.</p>
<p><strong>Keempat, tidak membaca basamalah ketika membuka aurat</strong></p>
<p>Awali dengan membaca basamalah ketika hendak membuka aurat atau ketika hendak masuk kamar mandi. Karena ini menjadi pemisah antara aurat anda dengan penglihatan jin.</p>
<p>Dari Ali bin Abi Tholib, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِى آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ</p>
<p><em>“Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki tempat buang hajat, lalu ia ucapkan “<strong>Bismillah</strong>”.</em> (HR. Tirmidzi no. 606 dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/adab-buang-air-kecil-yang-sering-dilupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Merokok Membatalkan Wudhu?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-merokok-membatalkan-wudhu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-merokok-membatalkan-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2013 03:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[hipnotis berhenti merokok]]></category>
		<category><![CDATA[rokok membatalkan wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17538</guid>
		<description><![CDATA[Antara Rokok dan Pembatal Wudhu Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum. Bismillah, saya mempunyai kebiasaan merokok. Hal ini sering sekali saya lakukan. Yang saya ingin tanyakan, apakah setelah wudhu terus kita merokok apakah wudhu..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Antara Rokok dan Pembatal Wudhu</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum.</p>
<p><em>Bismillah, saya mempunyai kebiasaan merokok. Hal ini sering sekali saya lakukan. Yang saya ingin tanyakan, apakah setelah wudhu terus kita merokok apakah wudhu kita batal dan harus mengulang lagi untuk shalat berikutnya?</em></p>
<p><em>Terima kasih. Wassalam..</em></p>
<p>Dari: Buchari<br />
<span id="more-17538"></span><br />
<b>Jawaban:</b></p>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam.</p>
<p>Semoga Allah merahmati saudara Buchari dan selalu diberi petunjuk dalam kebaikan.</p>
<p>Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia sekaligus pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa Kerjaan, yaitu Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz <i>rahimahullah</i> pernah menerangkan, “<a title="merokok tidaklah membatalkan wudhu" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-merokok-membatalkan-wudhu" target="_blank" rel="nofollow">Merokok tidaklah membatalkan wudhu</a>. Akan tetapi merokok itu sesuatu yang <i>khobits</i> (kotor). Akan tetapi jika seseorang merokok lalu ia shalat, maka tidak batal shalat dan wudhunya.</p>
<p>Rokok berasal dari tanaman yang sudah diketahui jenisnya. Akan tetapi rokok itu haram karena bahaya yang ditimbulkan. Sehingga bagi para pecandu sudah mesti untuk menjauhi dan meninggalkannya. Juga tidak boleh seseorang membeli rokok dan mengonsumsinya. Tidak boleh pula memperdagangkan rokok.</p>
<p>Para pecandu rokok sudah semestinya bertaubat pada Allah, juga meninggalkan jual belinya. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman,</p>
<p class="arab">يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ</p>
<p>“<i>Mereka menanyakan kepadamu: Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah: Dihalalkan bagimu yang baik-baik</i>.” (QS. Al Maidah: 4).</p>
<p>Dalam ayat ini jelas bahwasanya yang dihalalkan hanyalah yang thoyyib (yang baik-baik), yaitu makanan yang mendatangkan manfaat. Allah <i>Ta’ala</i> juga menyebutkan mengenai sifat Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>,</p>
<p class="arab">وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ</p>
<p>“<i>Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk</i>.” (QS. Al A’rof: 157).</p>
<p>Dan tidak diragulan lagi rokok dan segala yang memabukkan adalah termasuk yang <i>khobits </i>(kotor atau buruk). Sehingga wajib bagi para <a title="pecandu rokok" href="http://www.konsultasisyariah.com/rokok-membatalkan-wudhu/" target="_blank"><strong>pecandu rokok</strong></a> untuk meninggalkan rokok dan segeralah ia bertaubat pada Allah. Hendaklah ia menjaga kesehatan dan menjaga hartanya, juga waktunya dalam hal yang bermanfaat. Karena setiap mukmin wajib meninggalkan berbagai hal yang membahayakan agama dan dunianya. Contoh yang membahayakan di sini adalah rokok dan berbagai macam minuman memabukkan. Hendaklah ia bertaubat dengan taubat yang tulus. Kita memohon pada Allah hidayah dan taufik pada setiap muslim.” (Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz di http://www.binbaz.org.sa/mat/2306 secara ringkas)</p>
<p>Semoga hidayah selalu tercurah pada kita sekalian.</p>
<p><strong>Dijawab oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-merokok-membatalkan-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memakai Air Bekas Wanita Bersuci</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-air-bekas-wanita-bersuci/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-air-bekas-wanita-bersuci/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Apr 2013 07:45:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[air bekas]]></category>
		<category><![CDATA[hadas]]></category>
		<category><![CDATA[suci wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9883</guid>
		<description><![CDATA[Air Bekas Wanita Bersuci Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Ibrahi Alu Asy-Syaikh ditanya tentang hukum air sisa yang telah dipergunakan wanita. Jawaban: Sabda beliau: “Hadas seorang pria tidak bisa dihapuskan dengan..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Air Bekas Wanita Bersuci</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Ibrahi Alu Asy-Syaikh ditanya tentang hukum air sisa yang telah dipergunakan wanita.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<span id="more-9883"></span><br />
Sabda beliau:</p>
<p>“<em><a title="hadas" href="http://konsultasisyariah.com/memakai-air-bekas-wanita-bersuci" target="_blank" rel="nofollow">Hadas</a> seorang pria tidak bisa dihapuskan dengan air suci sedikit yang telah dipakai wanita untuk menyucikan diri secara sempurna dari hadas</em>.”</p>
<p>Maka menggunakan air ini adalah tidak sempurna, tapi sebagian besar ulama menyatakan bahwa air yang telah dipergunakan wanita dapat menghilangkan hadas pada tubuh pria berdasarkan hadis dari Maimunah,</p>
<p>“<em>Bahwa beliau (Rasulullah) berwudhu dengan menggunakan air sisa yang telah ia (Maimunah) pakai untuk bersuci</em>.”</p>
<p>Dan untuk memadukan kedua hadiss yang saling bertentangan ini maka larangan yang terdapat pada hadis yang pertama, yaitu larangan yang bersifat untuk dijauhkan dan bukan berarti untuk diharamkan.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-air-bekas-wanita-bersuci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keadaan yang Mengharuskan Khitan 2 kali</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/keadaan-yang-mengharuskan-khitan-2-kali/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/keadaan-yang-mengharuskan-khitan-2-kali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Apr 2013 10:24:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[kemaluan]]></category>
		<category><![CDATA[khitan 2 kali]]></category>
		<category><![CDATA[potong zakar]]></category>
		<category><![CDATA[sunat]]></category>
		<category><![CDATA[supit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17473</guid>
		<description><![CDATA[Khitan 2 kali Pertanyaan: Ada seorang anak yg dikhitan dg metode yg katanya metode cincin gitu. Sore harinya sdh main. Beberapa hari kmudian bengkak, trus ada kulit yg nutup glans..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Khitan 2 kali</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Ada seorang anak yg dikhitan dg metode yg katanya metode cincin gitu. Sore harinya sdh main. Beberapa hari kmudian bengkak, trus ada kulit yg nutup glans penis. Nah, apa sperti itu wajib dikhitan ulang?</em></p>
<p><em>Nuwun.</em></p>
<p>Dari: Wong Nggunung<br />
<span id="more-17473"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</em></p>
<p>Inti <a title="khitan bagi laki-laki" href="http://konsultasisyariah.com/keadaan-yang-mengharuskan-khitan-2-kali" target="_blank" rel="nofollow">khitan bagi laki-laki</a> adalah terpotongnya lapisan kulit (foreskin) yang menutupi <a title="tudung dzakar" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">tudung dzakar</a> (glans penis).</p>
<p>Dalam Mausu’ah Fiqhiyah dinyatakan:</p>
<p class="arab">يكون ختان الذكور بقطع الجلدة التي تغطي الحشفة , وتسمى القلفة , والغرلة , بحيث تنكشف الحشفة كلها</p>
<p>Khitan bagi laki-laki dilakukan dengan memotong lapisan kulit yang menutupi hasyafah (tudung dzakar). Kulit ini disebut qulfah atau ghurlah, dimana kulit ini menutupi seluruh hasyafah (tudung dzakar) (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 19/28)</p>
<p>Imam Ibnu Baz menjelaskan,</p>
<p class="arab">الختان : قطع القلفة التي على رأس الذكر ، حتى تخرج الحشفة التي هي طرف الذكر وتبرز</p>
<p>Khitan : memotong qulfah (foreskin) yang menutupi permukaan ujung dzakar, sehingga bagian hasyafah (glans penis) yang merupakan ujung dzakar bisa nampak dan kelihatan. (Majmu&#8217; Fatawa Ibn Baz, 29/51)</p>
<p>Jika terpenuhi keadaan ini dan bertahan, khitan statusnya sah, dan tidak perlu diulang. Namun jika keadaan ini tidak bisa dipertahankan, misalnya foreskin kembali menutupi hasyafah (tudung dzakar), maka kulit itu harus dipotong.</p>
<p>An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">قَالَ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْجُوَيْنِيُّ فِي كِتَابِهِ التَّبْصِرَةُ فِي الْوَسْوَسَةِ : لَوْ وُلِدَ مَخْتُونًا بِلَا قلفة فَلَا خِتَانَ لَا إيجَابًا وَلَا اسْتِحْبَابًا ، فَإِنْ كان من القلفة التى تغطي الحشفة شئ مَوْجُودٌ : وَجَبَ قَطْعُهُ ، كَمَا لَوْ خُتِنَ خِتَانًا غَيْرَ كَامِلٍ ، فَإِنَّهُ يَجِبُ تَكْمِيلُهُ ثَانِيًا حَتَّى يُبَيِّنَ جَمِيعَ الْقُلْفَةِ الَّتِي جَرَتْ الْعَادَةُ بِإِزَالَتِهَا فِي الْخِتَانِ</p>
<p>Syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini mengatakan dalam kitabnya At-Tabshirah fil Waswasah: Jika ada anak yang dilahirkan sudah terkhitan, tanpa qulfah (foreskin), maka tidak ada anjuran maupun kewajiban khitan untuknya. Namun jika qulfah yang menutupi hasyafah masih ada yang tersisa, wajib dipotong. Sebagaimana ketika ada orang yang dikhitan, tapi tidak sempurna, maka khitannya wajib disempurnakan, sampai semua qulfah terbuka semua qulfah yang umumnya dipotong ketika khitan.</p>
<p>(Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab, 1/307)</p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/keadaan-yang-mengharuskan-khitan-2-kali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Pernah Tahu Kewajiban Mandi Junub, Haruskah Mengulangi Salatnya?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tidak-pernah-tahu-kewajiban-mandi-junub-haruskah-mengulangi-salatnya/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tidak-pernah-tahu-kewajiban-mandi-junub-haruskah-mengulangi-salatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Apr 2013 23:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA["mandi wajib"]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[mengulang shalat]]></category>
		<category><![CDATA[waktu mandi wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17257</guid>
		<description><![CDATA[Tidak Pernah Tahu Kewajiban Mandi Junub Pertanyaan: Apakah najis orang yang junub/keluar mani tapi tidak mandi jinabah sebab belum tahu printah mandi tersb? Apakah shalat-shalatnya wajib diulangi? Dari: Luthfi Jawaban:..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tidak Pernah Tahu Kewajiban Mandi Junub</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Apakah najis orang yang junub/keluar mani tapi tidak mandi jinabah sebab belum tahu printah mandi tersb? Apakah shalat-shalatnya wajib diulangi?</em><br />
<span id="more-17257"></span><br />
Dari: Luthfi</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><i>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</i></p>
<p>Sebagai kaum muslimin, sudah sepantasnya untuk memahami setiap kewajiban yang menjadi beban hidupnya. Terutama yang terkait dengan tugas akhirat. Karena itu merupakan syarat untuk bisa menuju taqwa. Bagaimana tidak, seseorang baru bisa bertaqwa ketika dia melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Sementara tidak mungkin dia bisa memahami perintah dan larangan Allah, tanpa mempelajari keduanya.</p>
<p>Untuk itulah, Allah memerintahkan kita agar mendasari semua usaha dan amal kita dengan ilmu dan pemahaman yang benar. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ</p>
<p>&#8220;<i>Ilmuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan mintalah ampunan untuk dosa-dosamu, serta dosa orang mukmin laki-laki dan wanita</i>.&#8221; (QS. Muhammad: 19).</p>
<p>Imam Bukhari ketika menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالعَمَلِ</p>
<p>&#8220;<i>Memahami ilmunya sebelum berkata dan beramal</i>.&#8221; (<i>Shahih Bukhari</i>, 1:24)</p>
<p>Lebih tegas lagi, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> telah menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.</p>
<p class="arab">طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ</p>
<p>&#8220;<i>Menuntut ilmu, wajib bagi setiap muslim</i>.&#8221; (HR. Ahmad, Ibn Majah dan dishahihkan Al-Albani).</p>
<p>Tentu saja, Anda tidak dituntut mempelajari semua ilmu agama, dari A sampai Z, karena itu tidak mungkin. Namun Anda dituntut untuk mempelajari ilmu wajib yang harus diketahui setiap muslim. Disebut ilmu wajib karena membahas kewajiban setiap muslim, baik kewajiban agama atau aturan terkait aktivitas dunianya. Tak terkecuali, mandi wajib. Karena suci dari hadats, merupakan syarat sah shalat.</p>
<p>Mengenai tata cara mandi wajib, anda bisa pelajari di: <a title="cara mandi wajib" href="http://www.konsultasisyariah.com/cara-mandi-wajib/" target="_blank"><strong>Cara Mandi Wajib</strong></a> dan <a title="tata cara mandi wajib khusus wanita" href="http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-mandi-wajib-khusus-wanita/" target="_blank"><strong>Tata Cara Mandi Wajib Khusus Wanita</strong></a></p>
<h3><strong>Wajibkah Mengulang Shalatnya?</strong></h3>
<p>Kita akan menyimpulkan beberapa dalil berikut untuk mendapatkan jawabannya:</p>
<p>Pertama, hadis dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu &#8216;anhu</i>, bahwa Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> pernah masuk masjid. Kemudian bersamaan dengan itu ada orang yang juga masuk masjid. Orang ini pun melakukan shalat. Seusai shalat, orang ini menghampiri Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> dan menyampaikan salam. Setelah menjawab salamnya, Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> menyuruh orang ini, &#8220;<i>Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat dengan benar</i>.&#8221; Orang ini pun kembali melakukan shalat seperti shalat sebelumnya. Selesai shalat, beliau mengahampiri Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>, menyampaikan salam dan dijawab oleh Nabi. Namun Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tetap menyuruh yang sama: &#8220;<i>Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat dengan benar</i>.&#8221; Dan itu terjadi sampai tiga kali. Sampai akhirnya, orang inipun menyerah. Dia mengatakan, &#8220;Demi Allah yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran, aku tidak mampu shalat yang lebih baik dari ini, karena itu, ajarilah aku.&#8221; Beliau pun mengajari sahabat ini:</p>
<p class="arab">إذا قمت إلى الصلاة فكبر ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن ثم اركع حتى تطمئن راكعا&#8230;..</p>
<p>&#8220;<i>Apabila kamu shalat, bertakbirlah kemudian baca ayat Alquran yang kamu hafal, kemudian rukuklah sampai kamu betul-betul thuma&#8217;ninah ketika rukuk….</i>&#8221; (HR. Bukhari 724 dan Muslim 367).</p>
<p>Hadis ini sering dikenal dengan istilah hadits al-musi&#8217; shalatuhu (hadis tentang orang yang shalatnya salah). Dalam praktek shalatnya, sahabat ini tidak thumakninah dalam melaksanakan rukun shalat. Hadis ini meruapakan hadis standar tentang tata cara shalat yang benar. Karena dalam hadis ini, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> mengajarkan cara shalat minimal yang harus dilakukan seorang muslim.</p>
<p>Catatan penting yang terkait dengan pembahasan ini, dalam hadis al-musi&#8217; shalatuhu, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidak memerintahkan orang ini untuk mengulangi shalat-shalatnya yang telah dia kerjakan sebelum peristiwa itu. Padahal bisa dipastikan shalat orang ini batal, karena selalu tidak thuma&#8217;ninah, sebagaimana yang dia nyatakan sendiri, &#8221; Demi Allah&#8230;, aku tidak mampu shalat yang lebih baik dari ini&#8230;&#8221; Keterangan yang ada, Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> hanya memerintahkan orang itu untuk mengulangi shalat yang saat itu baru dia kerjakan.</p>
<p>Kedua, dari Abdurrahman bin Abza, beliau menceritakan,</p>
<p>Ada seseorang yang datang kepada Umar, dia bertanya, &#8220;Saya junub dan saya tidak mendapatkan air.&#8221; Spontan Ammar bin Yasir berkata kepada Umar, &#8220;Masih ingatkah kamu, ketika kita melakukan safar kemudian junub dan kita tidak mendapatkan air. Kamu tidak shalat, sementara aku bergulung-gulung di tanah, lalu shalat. Sepulang ke Madimah, aku tanyakan kepada Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>. kemudian beliau mengjari aku cara tayamum yang benar.&#8221; (HR. Bukhari 331 dan Muslim 368).</p>
<p>Pada hadis di atas, sahabt Umar bin Khatab <i>radhiyallahu &#8216;anhu</i>, tidak mengerjakan shalat karena junub, sebab dia tidak memahami tentang kewajiban tayamum bagi orang yang junub dan tidak mendapatkan air. Berbeda dengan Ammar bin Yasir. Beliau bergulung-gulung di tanah sebagai pengganti mandi karena tidak tahu tata cara  tayamum yang benar.</p>
<p>Terkait masalah ini, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidaklah memerintahkan kedua sahabat tersebut untuk mengulangi shalatnya.</p>
<p>Syaikhul Islam menjelaskan,</p>
<p class="arab">&#8230; وعلى هذا لو ترك الطهارة الواجبة لعدم بلوغ النص ، مثل : أن يأكل لحم الإبل ولا يتوضأ ثم يبلغه النص ويتبين له وجوب الوضوء ، أو يصلي في أعطان الإبل ثم يبلغه ويتبين له النص : فهل عليه إعادة ما مضى ؟ فيه قولان هما روايتان عن أحمد . ونظيره : أن يمس ذَكَره ويصلى ، ثم يتبين له وجوب الوضوء من مس الذكر .</p>
<p>…Berdasarkan keterangan tersebut, jika ada orang yang bersuci (mandi atau wudhu), karena belum sampai dalil kepadanya, misalnya, ada orang yang makan daging onta, kemudian tidak berwudhu ketika hendak shalat, karena tidak tahu dalilnya. Setelah itu, dia baru tahu bahwa dia harus wudhu (setelah makan daging onta), atau orang yang shalat di tempat menderum onta (karena tidak tahu), kemudian dia mendapatkan hadisnya. Apakah dalam kasus-kasus di atas, seseorang wajib mengulang shalat yang dulu dia lakukan? Ada dua pendapat, dan keduanya diriwayatkan dari Imam Ahmad. Termasuk dalam hal ini adalah, orang yang menyentuh kemaluannya (dengan syahwat) kemudian shalat. Setelah itu dia tahu dalilnya, bahwa diwajibkan untuk wudhu karena menyentuh kemaluan.</p>
<p>Syaikhul Islam kemudian menegaskan pendapat yang lebih kuat:</p>
<p class="arab">والصحيح في جميع هذه المسائل : عدم وجوب الإعادة ؛ لأن الله عفا عن الخطأ والنسيان ؛ ولأنه قال { وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا } ، فمن لم يبلغه أمر الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في شيءٍ معيَّنٍ : لم يثبت حكم وجوبه عليه ، ولهذا لم يأمر النبي صلى الله عليه وسلم عمر وعمَّاراً لما أجْنبا فلم يصلِّ عمر وصلَّى عمار بالتمرغ أن يعيد واحد منهما ، وكذلك لم يأمر أبا ذر بالإعادة لما كان يجنب ويمكث أياماً لا يصلي ، وكذلك لم يأمر مَن أكل من الصحابة حتى يتبين له الحبل الأبيض من الحبل الأسود بالقضاء ، كما لم يأمر مَن صلى إلى بيت المقدس قبل بلوغ النسخ لهم بالقضاء .</p>
<p>Yang benar dalam semua kasus di atas: tidak wajib mengulangi shalat yang telah dia lakukan. Karena Allah memaafkan perbuatan yang dilakukan karena kesalahan atau lupa. Dan karena Allah telah berfirman, yang artinya: &#8220;Aku tidak akan memberi adzab sampai Aku mengutus seroang rasul.&#8221; Sehingga siapa saja yang belum mengetahui tuntunan Rasul <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> dalam amal tertentu, dia tidak dihukumi wajib melakukannya. Karena itulah, ketika Umar bin Khatab dan Ammar bin Yasir keduanya mengalami junub, kemudian Umar tidak shalat, sementara Ammar melakukan shalat setelah bergulung di tanah, Nabi <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidak memerintahkan mereka berdua untuk mengulangi shalatnya. Demikian pula, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidak memerintahkan Abu Dzar untuk mengqadha shalatnya, ketika dia junub dan tidak shalat beberapa hari. Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> juga tidak memerintahkan sahabat yang masih makan sahur, padahal sudah masuk waktu subuh, karena berpatokan dengan batas benang putih dan benang hitam sudah kelihatan, untuk mengqadha puasanya. Termasuk, Rasulullah <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i> tidak memerintahkan orang yang shalat menghadap baitul maqdis karena tidak tahu bahwa itu sudah diubah, untuk mengqadha shalat mereka&#8230; (<i>Majmu&#8217; Fatawa</i>, 22:101 – 102)</p>
<p>Menyimpulkan dari keterangan Syaikhul islam, pada kasus di atas, orang tersebut tidak diwajibkan mengulangi semua shalat yang dilakukan dalam kondisi junub, selain shalat yang masih dia jumpai waktunya.</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam</i></p>
<p>Sumber: <i>Fatwa Islam</i>, no. 45648</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tidak-pernah-tahu-kewajiban-mandi-junub-haruskah-mengulangi-salatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Tidur Membatalkan Wudhu?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-tidur-membatalkan-wudhu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-tidur-membatalkan-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Apr 2013 01:41:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[membatalkan wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[tidur waktu shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17231</guid>
		<description><![CDATA[Tidur yang Membatalkan Wudhu Pertanyaan: &#8220;Assalamualaykum&#8230; Ilath Yang menyebabkan tidur membatalkan wudhu, tidur itu sendiri ataukah karena ada kemungkinan ia buang angin yg disebabkan karena tidur? Jazakallahukhairan&#8221; Dari: Abu hafshah..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tidur yang Membatalkan Wudhu</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>&#8220;Assalamualaykum&#8230;</em><br />
<em> Ilath Yang menyebabkan tidur membatalkan wudhu, tidur itu sendiri ataukah karena ada kemungkinan ia buang angin yg disebabkan karena tidur? Jazakallahukhairan&#8221;</em></p>
<p>Dari: Abu hafshah tmg<br />
<span id="more-17231"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Apakah Tidur Membatalkan Wudhu?</h3>
<p>Wa alaikumus salam</p>
<p>Ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini;</p>
<ol>
<li>Tidur bukan termasuk pembatal wudhu.</li>
<li>Tidur termasuk pembatal wudhu.</li>
<li>Tidur merupakan sebab kemungkinan besar terjadinya pembatal wudhu, sehingga ada yang membatalkan wudhu dan ada yang tidak batal.</li>
</ol>
<p><strong>Pendapat pertama, Tidur bukan termasuk pembatal wudhu</strong></p>
<p>Pendapat ini dinukil dari beberapa sahabat dan tabiin, seperti Abu Musa Al-Asy&#8217;ari radhiyallahu &#8216;anhu, dan Said bin Musayib. Diantara alasan pendapat ini,</p>
<p>1. Keteranagn sahabat Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>,</p>
<p class="arab">أن الصحابة رضي الله عنهم كانوا ينتظرون العشاء على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى تخفق رؤوسهم ثم يصلون ولا يتوضؤون</p>
<p>Para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>, mereka menunggu shalat isya di zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sampai kepala mereka ngantuk dan kepala tertunduk. Kemudian mereka shalat jamaah dan mereka tidak mengulangi wudhu. (HR. Abu Daud 200 dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Dalam riwayat Al-Bazzar terdapat tambahan,</p>
<p class="arab">يضعون جنوبهم</p>
<p><em>&#8220;Mereka bertelekan&#8221;</em></p>
<p>2. Bahwa tidur itu sendiri bukan pembatal wudhu. Hanya saja dikhawatirkan dengan tidur orang akan melakukan hadas dan dia tidak merasa. Artinya, munculnya hadats statusnya meragukan. Dan sesuatu yang meragukan tidak bisa menggugurkan yang yakin.</p>
<p><strong>Pendapat kedua, tidur termasuk pembatal wudhu</strong></p>
<p><a title="semua tidur" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-tidur-membatalkan-wudhu" target="_blank" rel="nofollow">Semua tidur</a> baik sebentar maupun lama, dengan posisi apapun. Selagi telah hilang kesadaran karena tertidur, maka wudhunya batal. Ini merupakan pendapat sebagian sahabat dan tabiin, dan pendapat yang dipilih oleh Ishaq bin rahuyah, Al-Muzani, Hasan Al-bashri, Ibnu Mundzir, Abu Ubaid Al-Qosim bin Sallam dan Ibn Hazm. Diantara dalil pendapat ini,</p>
<p>Hadis Shafwan bin &#8216;Asal <em>radhiyallahu &#8216;anhu,</em></p>
<p class="arab">كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمرنا إذا كنا على سفرا أن لا ننزع خفافنا ثلاثة أيام ولياليهن إلا من جنابة ولكن من غائط وبول ونوم</p>
<p>&#8220;Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan kami apabila dalam perjalanan, agar tidak melepaskan sepatu kami selama 3 hari 3 malam, kecuali jika karena junub. Kami tidak perlu melepas ketika wudhu karena selesai buang air besar, kencing, atau tidur.&#8221; (HR. An-Nasa&#8217;I 127, Turmudzi 96, dan dihasankan Al-Albani).</p>
<p>Juga hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ، فَمَنْ نَامَ، فَلْيَتَوَضَّأْ</p>
<p><em>&#8220;Mata adalah sumbatnya dubur. Karena itu, siapa yang tidur, dia harus <a title="wudhu" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-tidur-membatalkan-wudhu" target="_blank" rel="nofollow">wudhu</a>.&#8221;</em> (HR. Ahmad 887, Ibn Majah 477, Ad-Darimi dalam sunannya 749, dan dinilai Hasan oleh Al-Albani).</p>
<p>Dalam hadis ini, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebut &#8216;<a title="tidur" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><em>tidur</em></a>&#8216; dalam daftar pembatal wudhu, sebagaimana buang air besar dan kencing. Tanpa dibedakan antara tidur model tertentu dengna model tidur lainnya. Sementara Shafwan bin &#8216;Asal termasuk sahabat yang masuk islam di masa akhir dakwah, sebagaimana keterangan Ibn hazm.</p>
<p><strong>Pendapat ketiga, tidak semua tidur membatalkan wudhu.</strong></p>
<p>Pendapat ini memberikan rincian. Tidak semua tidur bisa <a title="membatalkan wudhu" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">membatalkan wudhu</a>. Ada tidur yang membatalkan wudhu dan ada yang tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini sejatinya merupakan kompromi antara hadis Anas bin Malik dengan hadis Shafwan bin &#8216;Asal dan hadis Ali bin Abi Thalim <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>.</p>
<p>Inilah pendapat para ulama madzhab empat.</p>
<p>Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam menentukan rincian dan batasan antara yang membatalkan dan yang tidak membatalkan. Perbedaan ini bersumber dari perbedaan dalam menentukan sebab mengapa tidur bisa membatalkan wudhu. Ada yang melihat ukurannnya, ada yang mengacu pada bentuknya, dan ada yang memperhatikan makna tidur itu sendiri.</p>
<p>1. Semua tidur membatalkan wudhu kecuali tidur sebentar, ini meruapakan madzhab hambali. Batasan yang digunakan hambali kembali pada ukuran.</p>
<p>2. Tidur bisa membatalkan kecuali jika tidur yang dilakukan dengan posisi duduk tenang. Ini merupakan pendapat Syafiiyah. Sementara Daud Ad-Dzahiri mengatakan bahwa tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur terlentang.</p>
<p>3. Semua tidur membatalkan wudhu, kecuali tidur yang dilakukan ketika shalat. Ini merupakan pendapat Hanafiyah.<br />
Batasan yang ditetapkan dalam madzhab Syafii, Hanafi, dan Daud Ad-Dzahiri kembali pada bentuk tidur.</p>
<p>4. Tidur merupakan madzannah hadats (peluang terjadinya hadats). Karena itu, selama orang tidur masih bisa menyadari apa yang terjadi pada dirinya maka wudhunya tidak batal. Namun jika orang yang tidur tidak sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya, maka wudhunya batal. Inilah pendapat madzhab Malikiyah menurut riwayat yang masyhur, dan yang dipilih oleh Syaikhul islam Ibn taimiyah dan Ibn Utsaimin.</p>
<p>Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat Malikiyah, merinci antara tidur pembatal wudhu dan tidur yang bukan pembatal wudhu dengan kembali pada makna tidur itu sendiri.</p>
<p>Hadis Anas bin Malik, dimana para sahabat menunggu shalat isya sampai tertidur, dan mereka ketika mendengar iqamah langsung shalat tanpa mengulang wudhu, dipahami sebagai kondisi tidur yang masih menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Sementara hadis Shafwan bin Asal yang menyebutkan bahwa tidur adalah pembatal wudhu dipahami untuk tidur yang tidak bisa merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Sehingga ketika terjadi hadas, orang ini tidak merasakan sama sekali.</p>
<p>Kompromi semacam ini, dikuatkan oleh hadis, diantaranya,</p>
<p>Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">إذا استيقظ أحدكم من نومه فلا يغمس يده في الإناء حتى يغسلها ثلاثاً ، فإن أحدكم لا يدري أين باتت يده</p>
<p><em>&#8220;Apabila kalian bangun tidur, jangan mencelupkan tangannya ke air, sampai dia cuci tiga kali. Karena dia tidak tahu, dimanakah posisi tangannya ketika tidur.&#8221;</em> (HR. Muslim 278).</p>
<p>Keterangan Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8221; Karena dia tidak tahu, dimanakah posisi tangannya ketika tidur&#8221; maknanya, orang yang tidur itu sudah tidak lagi sadar. Oleh karena itu, jika ada orang yang tidur dan dia masih menyadari apa yang terjadi pada dirinya maka wudhunya tidak batal.</p>
<p>Kemudian hadis lain yang menguatkan kompromi ini adalah hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ، فَمَنْ نَامَ، فَلْيَتَوَضَّأْ</p>
<p><em>&#8220;Mata adalah sumbatnya dubur. Karena itu, siapa yang tidur, dia harus wudhu.&#8221;</em></p>
<p>Artinya, mata akan tetap berfungsi sebagai penyumbat ketika orang yang tidur masih bisa merasakan apa yang terjadi di lingkungannya. Meskipun matanya terpejam. Sehingga wudhunya tidak batal. Sebaliknya, ketika orang yang tidur tidak lagi sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya maka wudhunya batal.<br />
(Simak Syarhul Mumthi&#8217;, 1/277)</p>
<p>Allahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-tidur-membatalkan-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Hubungan Jenggot dengan Kejantanan Laki-laki</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-hubungan-jenggot-dengan-kejantanan-laki-laki/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-hubungan-jenggot-dengan-kejantanan-laki-laki/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2013 06:14:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. Raehanul Bahraen</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[jenggot salafi]]></category>
		<category><![CDATA[kejantanan pria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17198</guid>
		<description><![CDATA[Jenggot Simbol Lelaki Pertanyaan: Assalamuálaikum Saya ingin bertanya hubungan antara kejantanan dengan jenggot Laki-laki. Saya pernah dengar di radio Rodja ada Ustadz yang mengatakan kalau secara ilmiah ternyata terbukti bahwa..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Jenggot Simbol Lelaki</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamuálaikum<br />
Saya ingin bertanya hubungan antara <a title="kejantanaan dengan jenggot laki-laki" href="http://konsultasisyariah.com/adakah-hubungan-jenggot-dengan-kejantanan-laki-laki" target="_blank" rel="nofollow">kejantanan dengan jenggot Laki-laki</a>. Saya pernah dengar di radio Rodja ada Ustadz yang mengatakan kalau secara ilmiah ternyata terbukti bahwa jenggot berpengaruh terhadap kejantanan Laki-laki, Mohon penjelasan secara ilmiah, apakah benar hal tersebut?<br />
<em>Jazakallahu khairan</em><br />
<span id="more-17198"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Pernyataan bahwa jenggot berpengaruh terhadap kejantanan laki-laki tidak sepenuhnya benar. Belum tentu orang yang tidak tumbuh jenggotnya, memiliki kejantanan yang kurang. sebagaimana kisah pemimpin kaum Anshar yaitu Qois bin Sa’ad tidak mempunyai jenggot, tetapi ia terkenal dengan kejantanan dan kepahlawanannya.</p>
<p>Yang benar, ada pengaruh antara tumbuhnya jenggot dengan hormon testosteron yang berperan dalam membangun dan mempertahankan karakteristik seksual sekunder pria, seperti kepadatan tulang dan otot, serta menumbuhkan rambut di beberapa bagian tubuh (janggut, kumis, rambut ketiak, dan rambut di bagian kemaluan), suara yang lebih berat dibandingkan perempuan, serta mengurangi risiko osteoporosis.</p>
<p>Laki-laki yang memiliki hormon testosteron yang cukup juga belum tentu memiliki jenggot yang lebat. Karena pertumbuhan jenggot dipengaruhi juga oleh jumlah folikel rambut yang ada (dan ini diperngaruhi oleh genetik).</p>
<p>Akan tetapi bisa dikatakan bahwa laki-laki akan lebih terlihat lebih jantan karena memilki jenggot. Hal ini bagi mereka yang masih memiliki fitrah, karena jenggot termasuk fitrah laki-laki sebagaimana dalam hadis.<br />
sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p class="arab">عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ</p>
<p>“Sepuluh perkara yang termasuk fithrah: Memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke dalam hidung, memotong kuku.” (HR. Muslim)</p>
<p>Kaum Anshar angat meninginkan pemimpim merekamemiliki jenggot agar terlihat lebih jantan. Mereka berkata,</p>
<p class="arab">عم السيد قيس لبطولته وشهامته ولكن لا لحية له فو الله لو كانت اللحى تشترى بالدراهم لاشترينا له لحية!!</p>
<p>“Memang Sayyid Kami Qais terkenal dengan kepahlawanan dan kedermawanannya, akan tetapi ia tidak memiliki jenggot. Demi Allah, seandainya jenggot itu bisa dibeli dengan dirham, maka kami akan belikan ia jenggot.”</p>
<p><strong>Dijawab oleh: dr. Raehanul Bahraen (Alumni Fakultas Kedokteran UGM, sedang menempuh spesialis patologi klinik di Fakultas Kedokteran UGM)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi  kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
[1] HR. Muslim<br />
[2] Sumber: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-283819.html</p>
<div>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di <a href="http://www.konsultasisyariah.com/category/download/video/">video</a> dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="dofollow" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/adakah-hubungan-jenggot-dengan-kejantanan-laki-laki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rincian Hukum Shalat dengan Pakaian Najis</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/rincian-hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/rincian-hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2013 22:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian najis]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=16860</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Shalat dengan Pakaian Najis Pertanyaan: Dengan terpaksa sholat menggunakan pakaian yang kotor dan najis, apakah itu sah? Dari: Soleh Jawaban: Berikut pendapat 4 madzhab, seperti yang disebutkan dalam Fatawa..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Shalat dengan Pakaian Najis</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Dengan <em>terpaksa sholat menggunakan pakaian yang kotor dan najis</em>, apakah itu sah?</p>
<p>Dari: Soleh<br />
<span id="more-16860"></span><br />
<b>Jawaban:</b></p>
<p>Berikut pendapat 4 madzhab, seperti yang disebutkan dalam <i>Fatawa Syabakah Islamiyah</i> no. 44652,</p>
<p>Kasus:</p>
<p>Ketika masuk waktu shalat, si A bajunya <a title="terkena najis" href="http://konsultasisyariah.com/rincian-hukum-shalat-dengan-pakaian-najis" target="_blank" rel="nofollow"><strong>terkena najis</strong></a> dan tidak memungkinkan untuk dibersihkan atau ganti dengan pakaian yang lain. Sementara jika dia tunda sampai tujuan, dikhawatirkan keluar waktu shalat. Apa yang harus dilakukan?</p>
<p><b>Pendapat Hanafiyah:</b></p>
<p>Dalam kondisi di atas, si A dibolehkan melaksanakan shalat meskipun dengan pakaian najis. Shalatnya sah dan tidak perlu diulang. Al-Kasani dalam <i>Bada&#8217;i As-Shana&#8217;i</i> mengatakan,</p>
<p class="arab">فإن كان ربعه -أي الثوب- طاهراً لم يجزه أن يصلي عرياناً بل يجب عليه أن يصلي في ذلك الثوب لأن الربع فما فوقه في حكم الكمال&#8230;. وإن كان كله نجساً أو الطاهر منه أقل من الربع فهو بالخيار في قول أبي حنيفة وأبي يوسف إن شاء صلى عرياناً وإن شاء مع الثوب لكن الصلاة في الثوب أفضل، قال محمد لا تجزئه إلا مع الثوب</p>
<p>Jika seperempat bajunya itu suci (3/4 terkena najis) maka dia tidak boleh shalat sambil telanjang. Namun dia wajib shalat dengan menggunakan baju itu. Karena seperempat ke atas, masih dianggap seperti sempurna&#8230; namun jika seluruh bajunya najis, atau yang suci kurang dari 1/4 bagian, maka dia punya hak pilih, menurut pendapat Abu hanifah dan Abu yusuf (murid Abu Hanifah). Dia boleh shalat dengan telanjang, boleh juga shalat dengan memakai baju itu. Namun shalat dengan menggunakan baju itu lebih utama. Sementara Muhammad bin Hasan (murid Abu Hanifah) berpendapat, shalatnya tidak sah, kecuali dengan memakai pakaian (meskipun najis) (<i>Bada&#8217;i As-Shana&#8217;i</i>, 1:478)</p>
<p><b>Pendapat Malikiyah:</b></p>
<p>Si A boleh shalat dengan baju itu. Namun jika setelah memungkinkan untuk mencucinya atau mendapatkan baju ganti, si A masih mendapatkan waktu shalat, dia wajib mengulangi shalatnya.</p>
<p>An-Nafrawi mengatakan,</p>
<p class="arab">وكذلك يعيد في الوقت من صلى فريضة بثوب نجس أو متنجس مع عدم القدرة على إزالتها واتساع الوقت وكانت تلك النجاسة غير معفو عنها</p>
<p>Orang yang melakukan shalat wajib dengan baju najis atau baju terkena najis, sementara dia tidak mampu menghilangkannya, dan waktu shalat masih longgar, disamping najisnya tidak bisa ditoleransi maka dia wajib mengulangi shalatnya selama waktu shalat masih ada (setelah mencuci najisnya)  (<i>al-Fawakih ad-Dawani</i>, 3:24).</p>
<p><b>Pendapat Syafiiyah:</b></p>
<p>Si A tidak boleh shalat dengan pakaian najis itu. Namun dia shalat dengan telanjang, shalatnya sah dan tidak wajib diulangi.</p>
<p>Imam asy-Syafii dalam kitabnya <i>al-Umm</i> mengatakan,</p>
<p class="arab">ولو أصابت ثوبه نجاسة ولم يجد ماء لغسله صلى عرياناً ولا يعيد، ولم يكن له أن يصلي في ثوب نجس بحال&#8230;.</p>
<p>&#8220;Jika pakaiannya terkena najis dan dia tidak mendapatkan air untuk mencucinya maka dia shalat sambil telanjang dan tidak perlu diulang. Dia tidak boleh melakukan shalat dengan pakaian najis, apapun keadaannya&#8230;&#8221; (<i>al-Umm</i>, 1:74)</p>
<p><b>Pendapat Hanbali:</b></p>
<p>Si A boleh shalat dengan baju najis itu dan tidak boleh shalat sambil telanjang. Namun dia wajib mengulangi shalatnya setelah mencucinya atau mendapatkan baju ganti, meskipun waktu shalat telah berakhir.</p>
<p>Ibnu Qudamah mengatakan,</p>
<p class="arab">ومن لم يجد إلا ثوباً نجساً صلى فيه وأعاد على المنصوص</p>
<p>&#8220;Orang yang tidak memiliki pakaian selain baju najis, dia boleh shalat dengan baju itu, dan wajib mengulangi, menurut keterangan Imam Ahmad.&#8221; (<i>al-Muqni&#8217;</i> dengan <i>Syarh al-Kabir</i>, 1:465)</p>
<p>Mengomentari keterangan Ibnu Qudamah ini, al-Mardawi dalam <i>al-Inshaf</i> mengatakan,</p>
<p class="arab">هَذَا الْمَذْهَبُ. وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ وَقَطَعَ بِهِ كَثِيرٌ مِنْهُمْ .</p>
<p>Inilah pendapat madzhab hambali dan pendapat yang dipilih mayoritas ulama hambali (<i>al-Inshaf</i>, 2:243).</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam</i></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/rincian-hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.284 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2013-06-19 08:46:16 -->
