tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

hukum makan tulang

Hukum Makan Tulang

Pertanyaan:
Bismillah
Assalamu’alaikum

Ustadz, saya mau tanya. Kalau hukumnya makan tulang itu bagaimana? Soalnya saya pernah dengar hadis yang mengatakan kalo tulang itu makanannya jin

Jazakallahu khairan katsira

Dari: Ikhsan

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah

Disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, bahwa para Jin datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta kepada beliau makanan yang halal. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:

لكم كل عظم ذكر اسم الله عليه يقع في أيديكم أوفر ما يكون لحما وكل بعرة علف لدوابكم

Makanan halal untuk kalian adalah semua tulang hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Ketika tulang itu kalian ambil, akan penuh dengan daging. Sementara kotoran binatang akan menjadi makanan bagi hewan kalian.” (HR. Muslim No.450)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

لَا تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ، وَلَا بِالْعِظَامِ، فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ

Janganlah kalian beristinjak (bersuci setelah buang air) dengan kotoran dan tulang. Karena itu adalah makanan bagi saudara kalian dari kalangan jin.” (HR. Turmudzi 18, dan dishahihkan Al-Albani)

Dari dua hadis di atas dapat kita simpulkan bahwa tulang termasuk makanan jin. Namun apakah ini bisa dijadikan dalil yang mengatakan bahwa tulang haram dimakan manusia?

Jawaban Syaikh Abdurrahman As-Suhaim, salah seorang dai ahlus sunah di Kementrian Wakaf dan Urusan Islam, Riyadh, KSA.

Ketika beliau ditanya tentang hukum makan tulang, apakah haram? Beliau menjelaskan:

Allah berfirman:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi –karena sesungguhnya semua itu kotor- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 145)

Ditambah beberapa keterangan beberapa binatang haram yang disebutkan dalam hadis, seperti binatang buas yang bertaring, burung yang bercakar untuk menerkam musuh, atau khimar jinak, dan beberapa dalil lainnya.

Artinya, selain itu kembali kepada hukum asal, yaitu mubah. Karena hukum asal segala sesuatu adalah halal. Sementara tidak disebutkan keterangan tentang haramnya tulang.

Adapun statusnya sebagai makanan jin, tidaklah berpengaruh terhadap status hukum tulang. Karena ketetapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tulang sebagai makanan jin, tidaklah menunjukkan larangan untuk memakannya. Dan tidak ada larangan untuk makan tulang.

Kemudian, orang yang meyakini haramnya tulang, dia wajib mendatangkan dalil. Karena jika tidak, maka dikhawatirkan dia dianggap berdusta atas nama syariah.

Disadur dari: almeshkat.net

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

mualaf-ganti-nama-masuk-islam

Baru Masuk Islam, Haruskah Ganti Nama?

Assalamu’alaikum ustadz…

Saya seorang Muallaf dan pada saat masuk Islam saya tidak mengganti nama saya yaitu: Daniel Fernando, karena pemberian orang tua. Apakah perlu saya mengganti nama Ustadz dan bagaimana jika saya tidak menggantinya.??

Terima Kasih Ustadz.

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam wa Rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Hampir semua sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dulunya muallaf. Dalam arti, mereka pernah mengenyam ajaran agama lain. Kecuali para sahabat yang lahir di tengah kaum muslimin, seperti Abdullah bin Zubair, Hasan dan Husain bin Ali.

Dan dalam sejarah, tidak semua sahabat yang masuk islam, diubah namanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selama nama itu tidak masalah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengubahnya. Beliau hanya mengganti nama-nama yang bermasalah. Karena terkadang orang jahiliyah menamakan anak mereka dengan bentuk penghambaan kepada selain Allah, seperti Abdul Uzza (hamba Uzza) atau Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah). Atau nama-nama yang buruk lainnya.

Sahabat Abdurrahman bin Auf, di zaman Jahiliyah bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Abdurrahman.   (al-Mu’jam al-Wasith, 253)

Sahabat Abdurrahman bin Abu Bakr, dulu bernama Abdul Uzza. Setelah masuk islam diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abdurrahman. (al-Mustadrak, 3/538)

Sahabat Muthi bin al-Aswad. Dulu bernama al-‘Ash (tukang maksiat). Setelah masuk islam diganti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Muthi’ (orang yang taat). (al-Mu’jam al-Kabir, 691).

Ada sahabat namanya Hazn (susah), diganti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Sahl (mudah). Beliau juga mengganti sahabat yang bernama Harb (perang), dengan Salm (tenang). (HR. Abu Daud 4958)

Ada sahabat wanita yang dulunya bernama ‘Ashiyah (tukang maksiat), kemudian diganti dengan Jamilah (wanita cantik). (HR. Muslim 5727)

Ada juga sahabat yang dulunya bernama Ashram (melarat), kemudian diganti dengan Zur’ah (subur). (HR. Abu Daud 4956).

Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kita mengenal banyak nama sahabat, yang sejak zaman jahiliyah, namanya sudah benar. Sehingga tidak diubah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua sahabat yang bernama Abdullah, tidak diubah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita juga mengenal nama Umar, Utsman, Ali, Sa’d, Said, Thalhah, Zubair, Amr bin Ash, Anas, Muadz, Mughirah, Hisyam, Urwah, dst. – Radhiyallahu ‘anhum –, nama-nama ini tidak bermasalah secara makna, sehingga tidak diubah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itulah, dalam masalah pengubahan nama, tidak kembali kepada status agama. Sehingga orang yang masuk islam, tidak ada kewajiban mengganti namanya. Selama nama itu tidak bermasalah.

Nama Danial

Danial adalah nama dari salah satu nabi Bani Israil.

Ada yang mengatakan, beliau lahir di masa Raja Bukhtanshar yang menjajah Quds dan membunuh banyak kaum muslimin Bani Israil dan semua bayi lelaki yang ada di zaman itu. Ketika itu, Danial yang masih kecil dimasukkan ke dalam lubang yang di bawahnya ada 2 ekor singa. Namun singa itu justru tunduk kepadanya. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 2/40).

Hingga dia dewasa dan bisa memimpin Bani Israil untuk mengalahkan Bukhtanshar.

Al-Hafidz Ibnu Katsir meyebutkan riwayat dari seorang Tabiin, Abul Aliyah, bahwa di zaman Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, setelah kaum muslimin menaklukkan Iraq, kaum muslimin menemukan jenazah Nabi Danial ini dan di dekat kepalanya ada mushaf. Kemudian mushaf itu dikirim ke Madinah, dan Umar menyuruh Ka’b al-Ahbar (manta pendeta Yahudi) agar diterjemahkan ke bahasa arab.

Selanjutnya Umar memerintahkan Gubernur Iraq, Abu Musa al-Asy’ari agar membuat 13 lubang kubur di siang hari secara terpisah. Di malam harinya, agar jenazah Danial diletakkan di salah satunya, kemudian semuanya diratakan dengan tanah. Melalui cara ini, mereka bisa menjamin masyarakat setempat tidak akan menggali kuburannya.

(al-Bidayah wa an-Nihayah, 2/40).

Karena ini nama nabi, tidak masalah digunakan sebagai nama.

Sementara Fernando, kami tidak paham artinya. Kalaupun anda ragu apakah artinya baik atau tidak, bisa anda tinggalkan. Cukup anda mempertahankan nama Danial.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah-Nya, agar kita senantiasa menempuh jalan kebenaran.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mencela-setan

Mengumpat Setan?

Saya pernah dengar, katanya kita dilarang mengumpat setan. Apa benar?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya, yang disyariatkan bagi seorang mukmin adalah memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, dan bukan melaknat setan. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal itu, diantaranya,

Firman Allah,

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Jika setan  mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Fushilat: 36)

Allah juga berfirman, memerintahkan kita untuk berdoa,

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ* وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ

Katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan Setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku (QS. al-Mukminun: 97 – 98).

Karena itulah, ketika ada yang menggaggu dalam shalat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan agar kita memohon perlindungan dari setan, dan bukan mengumpat setan.

Dari Utsman bin Abil ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu kekhusyuan shalatk, hingga aku lupa terhadap apa yang aku baca.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزِبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا

Itu setan namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlindungan kepada Allah darinya, dan meludah ringan ke kiri 3 kali.

Kata Utsman, “Akupun lakukan saran itu, lalu Allah menghilangkan gangguannya dariku.” (HR. Muslim 5868).

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang hukum mencela setan.

Jawaban beliau,

الإنسان لم يؤمر بلعن الشيطان، وإنما أمر بالاستعاذة منه؛ كما قال الله تعالى: وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه سميع عليم

Manusia tidak diperintahkan untuk mencela setan. Namun mereka diperintahkan untuk memohon perlindungan dari setan. Sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), “Jika setan  mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 3/125).

Kemudian, di sana terdapat larangan khusus mencela setan ketika terjadi kecelakaan.

Salah seorang sahabat pernah membonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ontanya terjatuh. Sahabat ini langsung mengatakan, Ta’isa as-Syaithan “Celaka setan”

Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Jangan kamu mengucapkan ‘celaka setan’. Karena ketika kamu mengucapkan kalimat itu, maka setan akan membesar, hingga dia seperti seukuran rumah. Setan akan membanggakan dirinya, ‘Dia jatuh karena kekuatanku.’

Namun ucapkanlah, ‘Bismillah…’ karena jika kamu mengucapkan kalilmat ini, setan akan mengecil, hingga seperti lalat. (HR. Ahmad 21133, Abu Daud 4984, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

At-Thahawi menjelaskan hadis ini,

نهاه رسول الله صلى الله عليه وسلم لأنه بذلك موقع للشيطان أن ذلك الفعل كان منه ولم يكن منه، إنما كان من الله ، وأمره أن يقول مكان ذلك: بسم الله -حتى لا يكون عند الشيطان أنه كان منه عنده في ذلك فعل

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal itu, karena ucapan itu akan membuat setan bangga, dia menyangka kecelakaan itu disebabkan diri setan, padahal sejatinya bukan darinya. Namun datang dari Allah. Dan Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam memeritahkan untuk menggantinya dengan ucapan ‘Bismillah..’ sehingga  setan tidak mengganggap bahwa kecelakaan itu darinya dan dia memiliki peran dengannya.

(Musykil al-Atsar, 1/346).

Dalil Bolehnya Melaknat Setan

Berdasarkan keterangan di atas, yang seharusnya kita jadikan tradisi dan kebiasaan adalah berdoa kepada Allah, memohon perlindungan dari kejahatan setan, dan lebih sering membaca basmalah ketika terjadi kecelakaan.

Hanya saja, terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya mencela setan. Diantaranya, firman Allah ketika mengusir Iblis dari surga,

فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ* وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk , dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat (QS. al-Hijr: 34 – 35)

Kemudian dalam hadis dari Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu,

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat, tiba-tiba kami mendengar beliau mengatakan,

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ

‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’

Lalu beliau mengucapkan,

أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ

“Aku melaknatmu dengan laknat Allah”. Beliau ucapkan 3 kali.

Seusai shalat, para sahabat merasa heran dan bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jawab beliau,

إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِى وَجْهِى فَقُلْتُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قُلْتُ أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ التَّامَّةِ

Sesungguhnya Iblis, si musuh Allah, datang dengan membawa api yang mau dilemparkan ke wajahku. Lalu aku mengucapkan, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’ Sebanyak tiga kali, kemudian aku ucapkan lagi, “Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna.” (HR. Muslim 1239 dan Nasai 1223).

Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung melaknat Iblis ketika dia ingin membakar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, hadis-hadis ini dijadikan dalil bolehnya melaknat setan untuk selain kasus kecelakaan, dan jangan lupa agar diiringi dengan membaca ta’awudz. Dalam Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan, setelah menyebutkan dalil bolehnya melaknat setan,

وعلى ذلك فإنه يجوز للإنسان أن يلعن الشيطان إذا تعرض له ليضره أو جاهده ووسوس له ليفتنه عن طاعة الله، لكن لا يترك التعوذ منه بالله، والإكثار من ذكر الله وقول: بسم الله ونحو ذلك من الأذكار والأدعية المشروعة، ليتحصن المسلم بالله من شره، وعملاً بالآيات والأحاديث السابقة، وينبغي للإنسان أن لا يجعل لعن الشيطان ديدنه بدون سبب، اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم

Oleh karna itu, seseorang boleh melaknat setan, terutama ketika dia datang untuk menggodanya dan membisikkan was-was kepadanya, agar dia meninggalkan ketaatan kepada Allah. Hanya saja, dia tidak meninggalkan ta’awudz, memohon perlindungan dari Allah, banyak berdzikir kepada Allah, dan mengucapkan Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, atau dzikir dan doa lainnya. Agar seorang muslim mendapat perlindungan Allah dari kejahatan setan, dan sekaligus menerapkan ayat dan hadis-hadis yang mengajarkan ta’awudz. Selayaknya seseorang tidak menjadi kalimat laknat untuk setan sebagai kebiasaannya tanpa sebab.  Dalam rangka meniru sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 19753)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Mengapa Bid’ah itu Sesat?

Ada satu pertanyaan yg selalu mengganjal di hatiku, mengapa orang sering mengatakan bid’ah itu sesat? Apa sisi kesesatannya?
Mohon dijawab dengan jawaban meyakinkan ustad..!

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Vonis bid’ah itu sesat, bukan pernyataan manusia biasa, namun itu prnyataan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan pernyataan ini sering beliau ulang-ulang dalam pengantar ceramah beliau.

Setelah mengucapkan hamdalah dan memuji Allah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya mengatakan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

Sebagai penganut setia Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu tidak berhak menggugat pernyataan beliau, ‘setiap bid’ah adalah kesesatan’. Dan kami harap, pertanyaan anda ini juga bukan dalam rangka mempermasalahkan mengapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memvonis bid’ah sebagai kesesatan?. Yang seharusnya kita kedepankan adalah mengamini apa yang beliau nyatakan. Ketika beliau mengatakan bid’ah itu sesat, seharusnya kita juga mengatakan hal yang sama.

Dan seperti itulah yang dipahami para sahabat. Mereka menyatakan hal yang sama sebagaimana pernyataan Nabinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya, sahabat Ibnu Umar pernah mengatakan,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنًا

“Semua bid’ah itu sesat, meskipun manusia menganggapnya baik.”  (as-Sunah li al-Maruzi, no. 68).

Hanya saja terkadang orang ingin tahu, apa latar belakang sehingga bid’ah dianggap kesesatan. Di sini kita akan mendekati dari beberapa dalil al-Quran, mengapa bid’ah itu sesat

Mengapa Bid’ah itu Sesat?

Allah memerintahkan umat manusia dan jin untuk beribadah kepada-Nya. Konsekuensi dari adanya perintah ini, Allah mengutus para nabi dan rasul untuk mengajarkan kepada umat manusia tentang bagaimana cara melakukan ibadah itu. Allah memberikan jadikan penjelasan tentang bagaimana cara beribadah sebagai wewenang para nabi dan rasul.

Layaknya ketika kita mendapatkan tugas dari atasan. Umumnya, dia akan mengajarkan kepada kita prosedur untuk melaksanakan tugas itu. Aturan itu menjadi wewenang atasan. Karena dia yang paling tahu tentang cara pelaksanaan tugas itu.

Karena itu, jika kita perhatikan ayat-ayat al-Quran, Allah banyak memuji orang beriman dalam kitab-Nya, disebabkan karakter mereka yang selalu mengikuti rasul-Nya.
Diantaranya Allah berfirman,

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ .الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ

Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi… (QS. al-A’raf: 156)

Allah juga berfirman, menyebutkan perintah Nabi-Nya agar umatnya mengikuti beliau,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya (QS. al-An’am: 153)

Kemudian di ayat lain, Allah mempersyaratkan, orang yang mencintai Allah, harus mengikuti Rasul-Nya,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu (QS. Ali Imran: 31).

Anda tentu memahami, namanya mengikuti berarti kita memposisikan beliau berada di depan, sementara kita di belakangnya. Konsekuensinya, kita tidak melakukan kreasi, tidak mengarang sendiri terkait tata cara beribadah.
Itu artinya, ketika ada orang yang membuat kreasi dalam ibadah, berarti dia mendahului Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seharusnya ini wewenang Rasul, namun dia ambil alih, karena dia melakukan satu tata cara ibadah yang belum pernah diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apa penilaian yang bisa anda berikan dalam kasus ini? Bukankah ini sebuah tindakan yang sangat lancang?? Merampas wewenang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itulah, Allah menyebut tindakan berkreasi dalam melakukan ibadah (yang diistilahkan dengan bid’ah) sebagai tindakan menyekutukan Allah dalam masalah penetapan syariat (aturan beribadah). dia menandingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah penetapan aturan ibadah.
Allah berfirman,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (QS. as-Syura: 21).

Anda garis bawahi kalimat, ‘mensyariatkan untuk mereka agama’ artinya aturan itu diyakini sebagai aturan agama, padahal Allah tidak pernah mengizinkannya. Tidak Allah izinkan berarti kosong dari dalil. Dan itulah bid’ah. (Simak Jami’ al-Ulum wal Hikam).

Bid’ah Sumber Perpecahan di Tengah Umat

Dan karena bid’ah menyebabkan suara kaum muslimin berbeda-beda dalam menyikapi agama, Allah menyebut bid’ah sebagai tindakan memecah belah umat. Jika semua umat komitmen dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, suara mereka akan sama dan hanya satu.
Alllah berfirman,

إنَّ الَّذِين فَرَّقوا دِينَهُمْ وَكانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ في شَيْىءٍ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. (QS. al-An’am: 159)

Ibnu Athiyah mengatakan,

هذه الآية تعم أهل الأهواء والبدع

Ayat ini mencakup semua pengikut hawa nafsu (aliran menyimpang) dan ahli bid’ah. (Tafsir Ibn Athiyah, 2/427)

Karena itu, mengingatkan umat manusia akan bahaya bid’ah dan mengajak mereka untuk kembali kepada sunah, hakekatnya adalah ajakan untuk menyatukan umat. Jika bid’ah dibiarkan, dan masing-masing berhak untuk membuat kreasi dalam beribadah, maka umat islam akan terkeping-keping, sesuai keyakinan dan prinsip ajaran masing-masing. Sementara upaya manusia untuk berkreasi, terus berkembang dan tidak pernah berhenti. Sehingga dari satu sekte akan muncul sekte baru. Dan demikian seterusnya.

Betul, mereka masing-masing bisa menahan diri untuk tidak saling mengganggu. Tapi berbeda prinsip menyebabkan mereka tidak akan pernah sehati.

Membiarkan bid’ah, hakekatnya membiarkan perpecahan. Sekalipun orang liberal menyebutnya sikap toleran. Karena liberal tidak akan pernah rela, umat islam bersatu dalam satu prinsip kebenaran.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

cinta nabi dengan shalawat

Nabi Muhammad Selalu Minta Didoakan??

Ustadz permisi, saya mau bertanya. Saya mempunyai teman yang bernama “misal” Dani. Dani adalah seorang muslim sama seperti saya. Dan Dani ini punya teman yang bernama “misal” Alex, dan Alex ini adalah seorang non muslim.

Setelah itu Alex mengajukan pertanyaan pada Dani.

Kenapa Nabi Muhammad SAW selalu dido`akan oleh Umat Islam?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bagi umat islam, sebenarnya debat semacam ini hanya untuk melayani kedangkalan logika para pendeta. Seolah tidak ada lagi cara berfikir yang masuk akal untuk meyakinkan para penganut pendeta agar tetap setia dengannya. Kita bisa simak, alasan mereka hanya itu itu saja. Ilmu teologi mereka sangat tidak berkembang. Sayangnya, sebagian besar pengikutnya terlalu masa bodoh dengan doktrin agama. Agama bagi mereka hanya pengakuan untuk identitas kependudukan, bukan sumber aturan dalam kehidupan. Anda bisa memastikan, orang nasrani yang paham al-Kitab, jauuu..h lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak paham.

Anda bisa simak: ISLAM KTP DAN KRISTEN KTP

Diantara doktrin itu adalah pernyataan mereka bahwa Nabi Muhammad minta didoakan umatnya. Kalimat ini diulang-ulang para pendeta untuk meyakinkan penganutnya bahwa Nabi Muhammad belum selamat. Makanya beliau minta didoakan. Satu-satunya nabi yang sudah selamat adalah Yesus yang sekaligus menjadi juru selamat bagi umat manusia.

Prinsip Islam Vs Prinsip Kristen

Islam mengajarkan bahwa apapun yang diperbuat manusia akan dia pertanggung jawabkan sendiri di hadapan Allah, Tuhan semesta alam.

Islam mengajarkan,

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Setiap jiwa akan tergadai dengan perbuatannya” (QS. al-Mudatsir: 38)

Islam juga mengajarkan,

وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Tidaklah seorang membuat dosa melainkan akan kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (QS. al-An’am: 164)

Islam juga mengajarkan,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى. وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى

Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) (QS. an-Najm: 39 – 40).

Islam mengajarkan agar umat manusia menjadi pribadi yang mandiri, tidak menggantungkan amalnya kepada orang lain. Mereka harus sadar, bahwa mereka akan mempertanggung jawabkan perubatannya sendiri-sendiri.

Sampaipun dalam masalah syafaat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, islam mengajarkan untuk mendapatkan syafaat ini ada syaratnya, yaitu berusaha mentauhidkan Allah.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟

”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?”

Jawaban beliau,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ

”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya).

Ini berbeda dengan doktrin ajaran pendeta dan pengikutnya. Bagi mereka dosa-dosa umat telah ditanggung Yesus. Sehingga apapun yang mereka lakukan, telah ditebus oleh yesus. Anda bisa simak doa mereka:

“Saya percaya Isa Al-Masih sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi saya. Karena Isa Al-Masih telah mati dikayu salib ganti saya. Saat ini juga saya mengundang Isa Al-Masih untuk masuk dalam hati saya. Supaya hati saya diperbaharui dan dijagai. Saya bersyukur dan berterimakasih karena saya beroleh Anugerah terbesar dalam hidup saya dengan memiliki seorang juruselamat yaitu Isa Al-Masih, yang memberikan nyawan-Nya..” (copas dari situs pengikut pendeta)

Mereka mengakui Isa al-Masih sebagai tuhan sang juru selamat, tapi mati disalib!!??

Disalib untuk menebus dosa manusia!!??

Para pendeta layak berterima kasih kepada para tentara Romawi yang telah menyalib Yesus. Apa jadinya bila tentara Romawi tidak jadi menyalib Yesus? Tidak bisa dibayangkan, siapa yang nantinya akan menebus dosa manusia??!.

Karena itulah, tidak ada penganut agama yang memiliki prinsip sangat permisif selain penganut pendeta. Semua serba boleh. Untuk mencari penganut pendeta yang tidak pernah berzina, tidak makan babi, tidak menegak khamr, anda akan sangat kesulitan mendapatkannya.

Semua Didoakan

Ketika umat islam saling bertemu, mereka dianjurkan untuk saling mendoakan, Assalamu alaikum. Arti dari kalimat ini kurang lebih, semoga keselamatan terlipahkan kepada anda. Ini tidak hanya kita ucapkan bagi yang hidup, termasuk mereka yang telah meninggal. Terutama orang-orang soleh, termasuk para nabi dan rasul.

Para pendeta mengakui gelar a.s. untuk Nabi Isa. Singkatan a.s. jika dipanjangkan berbunyi ‘alaihis salam. Kami sendiri tidak tahu, apakah pendeta itu paham bahasa arab ataukah tidak. Namun mereka selalu mengartikan ini dengan ‘pemilik keselamatan’.

Jelas ini jauh dari makna bahasa. Kalimat ini tersusun dari khabar muqaddam dan mubtada muakhar, yang arti tepatnya, semoga keselamatan tercurah kepada beliau. Artinya doa ini juga berisi permohonan keselamatan untuk nabi Isa ‘alahis salam.

Bagi umat islam, mendoakan kebaikan adalah bukti cinta. Ketika kita bertemu dengan orang yang kita cintai, kita doakan semoga Allah memberikan kebaikan baginya. Karena sumber kebaikan hanya Allah. Dan kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan kebaikan itu kepada makhluk yang kita cintai.

Didoakan Berarti Terjamin Memiliki

Kita mendoakan keselamatan kepada seseorang bukan berarti kita meyakini dirinya tidak selamat. Doa keselamatan itu sama saja bila kita menyapa teman dengan mengatakan “semoga Anda sekeluarga sehat wal afiat”. Apakah bila kita menyapa demikian berarti teman kita dan keluarganya sedang dirawat di rumah sakit?

Sebaliknya, anda akan dianggap melecehkan ketika ada orang yang sekarat kemudian anda mengucapkan, “semoga Anda sekeluarga sehat” atau anda sampaikan ucapan ini kepada orang yang sakit parah dan hampir tidak ada peluang untuk sembuh.

Kenapa anda dianggap melecehkan?

Karena anda memberikan doa kepada orang yang hampir tidak mungkin memilikinya.

Kita mendoakan kebaikan, mendoakan keselamatan untuk Nabi Isa al-Masih, atau Rasulullah Muhammad alaihimas shalatu was salam karena beliau berhak mendapatkan keselaman itu. Siapa yang memberikan keselamatan? Tentu saja Allah Dzat Penguasa alam semesta.

Untuk itulah, kita dilarang mendoakan ampunan untuk orang musyrik. Karena mereka sama sekali tidak mungkin memilikinya.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam (QS. at-Taubah: 113)

Demikian, Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

iran majusi

Umar bin Khatab Dibunuh Orang Iran

Kata orang, khalifah Umar dibunuh orang Iran, bener gak itu? Trim’s

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebenarnya berita tentang syahidnya Umar, telah disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakr, Umar, dan Utsman Radhiyallahu ‘anhun. Merasa ada banyak manusia istimewa yang menaikinnya, Uhud langsung bergetar. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِىٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang nabi, seorang shiddiq dan dua orang syahid. (HR. Bukhari 3472, Ahmad 12435, dan yang lainnya).

Dalam catatan kaki shahih Bukhari dinyatakan,

( شهيدان ) هما عمر وعثمان رضي الله عنهما وقد ماتا شهيدين

“Dua orang syahid” maksudnya adalah Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhuma. Dan beliau berdua mati syahid. (Taqliq Shahih Bukhari Musthofa Bugha, catatan hadis no. 3472). Dan apa yang dinyatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terjadi.

Disamping itu, Umar selalu berharap agar beliau diwafatkan dalam kondisi syahid. Diantara doa yang beliau baca,

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِى شَهَادَةً فِى سَبِيلِكَ ، وَاجْعَلْ مَوْتِى فِى بَلَدِ رَسُولِكَ – صلى الله عليه وسلم

Ya Allah berikanlah aku anugrah mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari 1890)

Musuh Islam Dengki Umar

Di zaman Umar Radhiyallahu ‘anhu, kaum muslimin berhasil menaklukkan banyak wilayah kafir, termasuk negara majusi di Persia. Hingga Madinah menjadi kaya emas, karena saking banyaknya harta rampasan perang yang dimiliki kaum muslimin dari penaklukkan Persi (calon negara Iran). Sementara para tawanan, menjadi budak milik kaum muslimin. Keberhasilan kaum muslimin ternyata menjadi dendam para musuh islam.

Mereka bertekad, tidak akan membiarkan Abu Hafsh (Umar bin Khatab) meninggal dengan tenang di perbaringan.

Dulu ada seorang sahabat bernama Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu.  Beliau memiliki seorang budak pekerja bernama Abu Lu’lu’ah Fairuz beragama Majusi. Sebelumnya, Umar pernah menetapkan peraturan yang melarang tawanan dewasa dibawa masuk ke kota Madinah. Hingga

Mughirah meminta izin kepada Umar untuk membawa Abu Lukluk masuk ke Madinah, karena dia memiliki keterampilan membuat senjata, sehingga bisa bermanfaat untuk umat islam. Abu Lukluk seorang pandai besi, ahli pertukangan, dan ukiran. Maka Umar pun mengizinkan.

Abu Lu’lu’ah memendam keinginan untuk membunuh Umar. Diapun menyiapkan sebilah pisau besar bermata dua, dengan pegangan di bagian tengah pisau. Pisau ini diasah tajam dan dilumuri racun.

Ketika waktu subuh tepatnya di hari Rabu. Orang majusi ini bersembunyi di salah satu sudut masjid di penghujung malam menunggu waktu subuh.

Kronologi Pembunuhan Umar

Amr bin Maimun merupakan saksi sejarah kejadian ini. Imam Bukhari dalam shahihnya menyebutkan pengakuan Amr bin Maimun ketika menceritakan peristiwa itu,

“Pada hari tertusuknya Umar, ketika jamaah shalat subuh itu, aku berada di shaf kedua, sementara di depanku ada Abdullah bin Abbas. Subuh itu, Umar memimpin shalat dengan melewati barisan shaf dan memerintahkan, “Luruskanlah shaf.”

Ketika dia sudah tidak melihat lagi celah-celah dalam barisan shaf tersebut, maka Umar maju lalu bertabir. Sepertinya beliau membaca surat Yusuf atau An-Nahl pada raka’at pertama, sehingga memungkinkan semua orang bergabung dalam shalat jamaah.

Sesaat ketika aku tidak mendengar bacaan takbir intiqal Umar, tiba-tiba terdengar dia berteriak, “Ada orang yang telah membunuhku, seekor anjing telah menerkamku.”

Abu Lukluk berusaha lari sambil menyabet-nyabetkan belatinya. Hingga ada sekitar 13 orang yang terkena tusukan belatinya, 7 diantaranya meninggal dunia.

Ada salah satu jamaah yang melihat ini, dia langsung melemparkan baju mantelnya dan tepat mengenai si majusi itu. Ketika dia menyadari bahwa dia tak lagi bisa menghindar, dia bunuh diri.

Umar memegang tangan Abdur Rahman bin ‘Auf lalu menariknya ke depan. Siapa saja orang yang berada dekat dengan Umar pasti dapat meilihat apa yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berda di sudut-sudut masjid, mereka tidak mengetahui peristiwa yang terjadi, selain hanya kehilangan suara Umar. Mereka berseru, “Subhanallah, Subhanallah.” Mereka menyangka imam shalat lupa.

Kemudian Abdurrahman bin Auf melanjutkan shalat jamaah subuh dengan ringan (beliau membaca surat yang pendek). Setelah shalat selesai, Umar bertanya, “Wahai Ibnu Abbas, lihatlah siapa yang telah menikamku.”

Ibnu Abbas berkeliling sesaat lalu kembali, “Budaknya Mughirah.”

Umar bertanya, “Budak yang pandai membuat senjata itu?”

Ibnu Abbas menjawab, “Ya, benar.”

Mendengar jawaban ini, Umar bersyukur, beliau memuji Allah, doanya dikabulkan. Karena beliau dibunuh orang majusi, bukan orang islam.

Umar Radhiyallahu ‘anhu mengatakan dalam sebuah kalimat yang dicatat para ahli sejarah,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى لَمْ يَجْعَلْ مَنِيَّتِى بِيَدِ رَجُلٍ يَدَّعِى الإِسْلاَمَ

Segala puji bagi Allah, yang tidak meletakkan kematianku di tangan orang yang menyatakan muslim.

Selanjutnya, Umar dibawa pulang. Saat itu, masyarakat madinah seakan tidak pernah mengalami musibah seperti hari itu sebelumnya. Amirul Mukminin Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu menderita luka menganga karena bekas tusukan itu. Ketika diberi minuman rendaman kurma, minuman itu keluar melalui  perutnya. Kemudian diberi susu namun susu itu keluar melalui lukanya.

Akhirnya orang-orang menyadari bahwa nyawa Umar tidak bisa lagi terselamatkan…

(Shahih Bukhari no. 3700)

Kuburan Abu Lukluk

Bagi orang Syiah Iran dan seantero dunia, Abu Lukluk dianggap pahlawan. Namanya harum di tengah mereka. Dia dianggap pahlawan karena secara pengecut ‘berani’ membunuh Umar. Karena itulah, dia digelari Abu Lukluah Baba Syuja ad-Din, artinya Abu Lukluk sang pemberani dalam agama. Sebagai lambang permusuhan dengan Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu yang telah menaklukkan Persia.

Banyak orang syiah yang main ke kuburannya untuk berdoa di sana. Kuburannya di kota Kasyan di Iran. Sebenarnya sebagian orang syiah sendiri tidak yakin kuburan Abu Lukluk ada di Iran, sementara dia mati di madinah.

Tapi ada satu tempat yang mereka klaim sebagai kuburan Abu Lukluk.

makam abu lukluk pembunuh umar

Di pintu gerbang kuburan Abu Lukluk tertulis,

بقعة مبركة بابا شجاع الدين أبو لؤلؤ فيروز

Tempat yang diberkahi, Baba Syuja Abu Lukluk Fairuz.

Orang syiah memiliki acara itimewa untuk mengenang Abu Lukluk, mereka beribadah di makamnya,

kuburan pembunuh umar

Tahu doa mereka di kuburan Abu Lukluk?

Mereka mengucapkan doa,

اللهم احشرني مع أبي لؤلؤة

“Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama Abu Lukluk”

Anda bisa lihat rekaman doa mereka di bagian akhir video ini:

Itulah agama syiah…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Pemblokiran Situs Islam

Pemblokiran Situs Islam: Hanya Paranoid?

Bagaimana pandangan konsultasisyariah terhadap pemblokiran situs-situs islam oleh BNPT dan KOMINFO, krn tuduhan menyebarkan pemikiran terorisme?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Beberapa media islam merasa kecewa menyusul keputusan Menkominfo yang menutup belasan situs islam, atas usulan BNPT, dengan tuduhan menyebarkan pemikiran radikal.

Kita sendiri tidak tahu, sejauh mana batasan radikal yang menjadi standar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Hanya saja kita berharap, semoga fenomena ini bukan karena dilandasi rasa ketakutan berlebihan (paranoid) dari BNPT terhadap umat islam.

Sama-sama Meracuni Pemikiran

Semenjak aksi khawarij mulai lebih aktif menampakkan diri, masyarakat semakin diresahkan dengan pemikiran itu. Namun sebenarnya ada pekerjaan lain yang juga tidak kalah meresahkan, penyebaran pornografi yang masih sangat bebas bergerak.

Anda bisa perhatikan, dari semua media liberal, tidak ada satupun yang bersih dari masalah ‘ranjang’, gambar telanjang, hingga majalah dewasa. Sementara situs itu bisa dibaca siapapun, tanpa batas usia.

Padahal racun parno tidak lebih kecil bahayanya dibandingkan pemikiran radikal. Barangkali karena di negara kita tidak ada badan nasional penanggulangan porno.

Sumber Kebinasaan Umat

Aksi buka-bukaan aurat, bukan masalah ringan. Pelanggaran ini berpotensi menjadi sebab kebinasaan umat.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِى لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِى أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا

Apabila perbuatan fahisyah telah mendominasi satu masyarakat, hingga mereka lakukan secara terang-terangan, maka akan tersebar di tengah mereka wabah Tha’un, kelaparan, yang belum pernah terjadi pada umat yang hidup sebelum mereka. (HR. Ibnu Majah 4155).

Kata fahisyah mencakup tindakan zina dan semua perbuatan yang memicu terjadinya perzinaan.

Sehingga yang penting untuk kita pahami, memerangi penyebaran porno, adalah tugas kita bersama, sekalipun media liberal membelanya.

Semoga pemerintah bisa bersikap lebih bijak..

Allahu a’lam

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jenazah

Jenazahnya Pasti Masuk Surga?

Ada orang yang mengatakan, O*ga pasti masuk surga. Itu boleh tidak?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Menegaskan seseorang masuk neraka atau masuk surga, bisa kita kelompokkan menjadi dua,

Pertama, penegasan yang sifatnya umum.

Bentuknya adalah penegasan dengan sifat. Misalnya,

Semua orang yang beriman, akan masuk surga

Orang yang melakukan syirik besar, kekal di neraka

Siapa yang berpuasa ramadhan dengan ikhlas, akan mendapatkan pahala di surga,

Dst.

Pernyataan semacam ini, hakekatnya adalah pembenaran terhadap apa yang Allah firmankan atau yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diantaranya, firman Allah,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Berikanlah kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal soleh, bahwa mereka akan mendapatkan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. (QS. al-Baqarah: 25)

Atau sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

“Tidak ada yang masuk surga kecali orang yang beriman.” (HR. Bukhari 6606 & Muslim 2735).

Kedua, penegasan yang sifatnya khusus, dengan menyebutkan nama orang.

Misalnya, si A pasti masuk surga. Si B jelas husnul khotimah. Si C pasti masuk neraka.

Kalimat semacam ini tidak dibolehkan, Karena ini ghaib, tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Imam at-Thahawi mengatakan,

وَلَا نُنْزِلُ أَحَدًا مِنْهُمْ جَنَّة وَلَا نَارًا

Kami tidak menegaskan posisi seorangpun dari mereka untuk menduduki surga atau neraka.

Ibnu Abil Iz menjelaskan keterangan beliau,

يُرِيدُ: أَنَّا لَا نَقُولُ عَنْ أَحَدٍ مُعَيَّنٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَة إنه مِنْ أَهْلِ الْجَنَّة أَوْ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، إِلَّا مَنْ أَخْبَرَ الصَّادِقُ صلى الله عليه وَسَلَّمَ أنه مِنْ أَهْلِ الْجَنَّة، كَالْعَشَرَة رضي الله عَنْهُمْ

Yang beliau maksud, kita tidak menegaskan seseorang tertentu di kalangan ahli kiblat (kaum muslimin) bahwa dia ahli surga atau ahli neraka. Kecuali orang yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka termasuk ahli surga, seperti sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. (Syarh Aqidah Thahawiyah, hlm. 248).

Yang disampaikan Ibnu Abil Iz, disebutkan dalam hadis dari Said bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ ». وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ

Ada 10 orang yang masuk surga: Nabi masuk surga, Abu Bakr masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubair bin Awam masuk surga, Sa’d bin Malik masuk surga, Abdurrahman bin Auf masuk surga.

Lalu Said mengatakan, “Saya tidak ingin menyebutkan yang kesepuluh.”

Orang-orangpun bertanya, ‘Siapa dia?’

Said tetap diam. Hingga mereka bertanya lagi, ‘Siapa dia?’

Lalu Said menjawab, “Said bin Zaid.” (HR. Ahmad 1653, Abu Daud 4651 dan dishahihkan al-Albani).

Sementara contoh yang dipastikan masuk neraka, seperti Firaun, Qarun, Azar Ayah Nabi Ibrahim, Abu Lahab, atau Abu Jahal. Kita mengimani bahwa mereka semua di neraka.

Selain nama orang yang ditegaskan dalam syariat, kita tidak boleh memberikan penegasan, apakah dia ahli surga atau ahli neraka. Yang bisa kita lakukan hanyalah berharap. Kita berharap semoga dia ahli surga. Kita berharap baik. Atau berharap, semoga husnul khotimah.

Karena itulah, ketika kita menyebut nama orang yang meninggal, kita disyariatkan untuk mendoakan kebaikan untuknya, seperti kalimat, rahimahullah, semoga Allah merahmatinya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

jersy berlambang salib

Hukum Jersey Bola Berlambang Salib

Assalamualaikum ustadz,bagaimana hukum nya memakai jersey bola tersebut,seperti tanda salib?

Dari Igo Wardana

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

A’isyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِي بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصَالِيبُ إِلَّا نَقَضَهُ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan satupun barang yang masuk ke rumah beliau, yang ada gambar salibnya, kecuali beliau akan menghapusnya. (HR. Bukhari 5608).

Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu pernah menulis surat kepada kaum muslimin yang tinggal di daerah Azerbaijan (setelah ditaklukkan), isinya:

وَإِيَّاكُمْ وَزِىَّ أَهْلِ الشِّرْكِ

“Hindari semua atribut pelaku syirik.” (HR. Muslim 5532).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, telah bersinggungan dengan ahli kitab, bak yahudi maupun nasrani. Dalam interaksinya, terutama perdagangan, mereka terkadang mendapatkan benda yang dulu dimiliki orang ahli kitab. Sehingga terkadang terdapat  syiar orang-orang kafir yang tertera di benda-benda itu. Upaya yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, mereka berusaha membersihkan gambar-gambar itu di lingkungannya.

Setiap muslim akan sangat marah, ketika dia melihat gambar karikatur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, bagaimana mungkin mereka rela meletakkkan lambang pembantaian Nabi Isa di badannya.

Setiap muslim membenci kekufuran. Sehingga bagaimana mungkin mereka rela, memakai pakaian berlambang syiar kekufuran orang nasrani.

Memakai Jersey Bergambar Salib, Bisa Membatalkan Shalat

Lajnah Daimah pernah ditanya,

Apa hukum memakai pakaian yang bergambar salib? Ketika beli, saya tidak tahu ada gambar salibnya. Ketika beli, gambarnya kurang jelas. Bagaimana hukum memakainya?

Jawaban Lajnah:

إذا علِم بوجود الصليب في الملابس بعد شرائها : فإنه تحرم الصلاة فيها ، وتجب إزالة الصليب بما يزيل صورته ، بحك ، أو صبغ ، أو نحو ذلك ، ولما روى البخاري في ” صحيحه ” عن عمران بن حطان : أن عائشة رضي الله عنها حدثته : (أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يكن يترك في بيته شيئاً فيه تصاليب إلا نقضه)

Jika baru diketahui ada gambar salib di baju anda setelah anda beli, maka haram menggunakannya untuk shalat. Gambar salib itu wajib dihilangkan dengan cara apapun yang bisa menghilangkan gambar itu. Baik dengan digosok atau diwenter, atau cara lainnya. Ini berdasarkan hadis riwayat Bukhari dari Imran bin Hithan, bahwa A’isyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan,

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan satupun barang yang masuk ke rumah beliau, yang ada gambar salibnya, kecuali beliau akan menghapusnya.”

(Fatwa Lajnah, 19/24).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

memerangi isis

Memerangi ISIS

Maaf ustad, itu ada seminar internasional tentang terorisme dan isis yang dihadiri beberapa negara kafir, seperti amerika, singapura, dan yang lainnya. Di sana ada seorang ulama senior, Syaikh Ali al-Halabi. Bagaimana pandangannya, orang islam bekerja sama dengan negara kafir untuk menumpas isis, apa ini dibolehkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada dua permasalahan yang dibicarakan sebagian masyarakat terkait acara itu,

Pertama, duduk bersama orang kafir untuk menjalin kesepakatan

Mereka menganggap ini keanehan. Bagaimana bisa seorang ulama ahlus sunah, duduk bersama orang fasik, ornag liberal, orang kafir, untuk membuat kesepakatan bersama?

Sebenarnya komentar ini tidak perlu kita bahas terlalu lebar. Karena dalam sejarah perjuangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, mereka sering membuat kesepakatan damai dengan orang kafir. Baik orang musyrikin Quraisy, maupun orang yahudi sekitar Madinah. Terutama ketika kekuatan kaum muslimin belum bisa menandingi kekuatan musuh.

Anda yang membaca sejarah tentu mengenal piagam Madinah, perjanjian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Yahudi sekitar Madinah, atau perjanjian Hudaibiyah. Ini semua dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena ridha dengan orang kafir, atau menaruh kepercayaan besar kepada orang kafir. Jelas bukan itu tujuan beliau. Namun sebagai bentuk rahmat bagi kaum muslimin. Dengan adanya perjanjian ini, akan lebih menguntungkan kaum muslimin dan jaminan keamanan bagi umat islam.

Benar kaum muslimin di Indonesia mayoritas. Sayangnya, agama mayoritas ini sebagian besar tidak memiliki kepedulian serius terhadap kondisi umat islam. Ditambah, mereka berpecah belah karena perbedaan prinsip dan aqidah. Sehingga kondisi mereka jelas lebih lemah dibandingkan keadaan para sahabat ketika itu.

Kedua, kaum muslimin meminta bantuan orang kafir untuk menumpas isis

Anda tentu sepakat dengan dampak buruk isis bagi umat islam. Sejak daulah ini berdiri dan memiliki sedikit kekuatan dan senjata, ratusan umat islam tidak berdosa telah dibantai. Betapa banyak warga muslim dunia yang menjadi korban kebiadabannya.

Sementara belum pernah kita saksikan mereka memberi manfaat bagi umat. Kita belum pernah mendengar info isis melawan yahudi israel, atau melawan syiah iran. Rata-rata yang diserang adalah kaum muslimin dan negara-negara islam yang mayoritas warganya ahlus sunah. Apa-apaan ini? Inikah negara islam??

Dampak burukyna tidak hanya masalah pencitraan terhadap dunia tentang islam. Namun sudah menghalalkan banyak nyawa kaum muslimin.

Mereka tak ubahnya tumor ganas yang ada di tubuh kaum muslimin.

Fatwa Ulama Meminta Bantuan Orang Kafir   

Kita harus memahami, masalah meminta bantuan orang kafir untuk membantu kaum muslimin dalam hal yang menguntungkan mereka, merupakan masalah fiqhiyah. Sehingga perbedaan pendapat dalam masalah ini, tidak memberikan konsekuensi keluar dari aqidah atau manhaj yang benar.

Al-Muwafaq Ibnu Qudamah mengatakan,

فصل : ولا يستعان بمشرك وبهذا قال ابن المنذر و الجوزجاني وجماعة من أهل العلم وعن أحمد ما يدل على جواز الاستعانة به وكلام الخرقي يدل عليه أيضا عند الحاجة وهو مذهب الشافعي لحديث الزهري الذي ذكرناه وخبر صفوان بن أمية ويشترط أن يكون من يستعان به حسن الرأي في المسلمين فان كان غير مأمون عليهم لم تجزئه الاستعانة به

Pasal:

Tidak boleh meminta bantuan orang musyrik, ini merupakan pendapat Ibnul Mundzir, al-Juzajani, dan sekelompok ulama. Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad yang menunjukkan bolehnya meminta bantuan kepada orang musyrik. Keterangan al-Kharqi juga menunjukkan hal ini, boleh meminta bantuan mereka jika dibutuhkan, dan ini merupakan pendapat as-Syafii. Ini berdasarkan hadis dari az-Zuhri yang telah kami singgung, dan peristiwa yang terjadi pada Shafwan bin Umayah. Dan dipersyaratkan, orang yang dimintai bantuan, memiliki cara pandang yang baik terhadap kaum muslimin. Jika dia tidak bisa dipercaya, maka tidak boleh meminta bantuan mereka. (al-Mughni, 10/447).

Selanjutnya kita simak keterangan Imam as-Syafii. Dalam kitab al-Umm beliau menyatakan,

وإن كان مشرك يغزو مع المسلمين وكان معه في الغزو من يطيعه من مسلم أو مشرك وكانت عليه دلائل الهزيمة والحرص على غلبة المسلمين وتفريق جماعتهم لم يجز أن يغزو به … ومن كان من المشركين على خلاف هذه الصفة فكانت فيه منفعة للمسلمين القدرة على عورة عدو أو طريق أو ضيعة أو نصيحة للمسلمين فلا بأس أن يغزي به

Jika ada orang musyrik ikut berperang bersama kaum muslimin, sementara dia punya pengaruh terhadap muslim yang lain atau orang musyrik. Dan ada tanda-tanda keinginannya untuk menguasai kaum muslimin dan memecah belah persatuan mereka, maka tidak boleh berperang bersama orang musyrik…

Jika orang musyrik kondisinya tidak seperti ini, dan keberadaannya memberi manfaat bagi kaum muslimin, mampu menyingkap kekurangan musuh, atau sebagai penunjuk jalan, atau sebagai pengarah untuk mencari daerah terpencil, atau memberikan kebaikan bagi kaum muslimin, tidak masalah berperang bersama mereka. (al-Umm, 4/166).

Dan inilah yang menjadi landasan para ulama kontemporer, terkait fenomena ISIS. Komplotan ISIS, masalah dunia, masalah hampir semua negara. Sementara kaum muslimin paling berkepentingan di sana. Sementara melibatkan orang kafir untuk membasmi mereka akan sangat menguntungkan kaum muslimin. Itulah yang mendasari Syaikh Ali al-Halabi merelakan waktunya untuk memberikan pengarahan dalam konferensi itu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

10,018FansLike
4,525FollowersFollow
33,536FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup