tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

apa itu Me Time

Hak Istri Untuk *Me Time*

Assalamua’laikum wr wb,

Saya ingin menanyakan tentang kehidupan berumah tangga, akhir-akhir ini marak istilah *Me Time* yaitu dimana seorang wanita yang sudah menikah meluangkan waktu untuk dirinya sendiri tanpa suami, anak dan keluarga untuk melakukan kegiatan yang biasanya dia lakukan sewaktu belum menikah. Misal hangout bersama teman-temannya, dsb.

Pertanyaan saya, apakah hali demikian diatur dalam Islam? Bagaimana seorang suami menyikapi keinginan istri yang demikian.

Syukron ustaz, jazakumulloh khoiron katsir.

Dari Moch Ramdhoni

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari kemurahan Allah, Dia jadikan setiap usaha yang dilakukan istri untuk melayani suami dan keluarganya sebagai ibadah. Sekalipun itu telah menjadi aktivitas rutin bagi para wanita di rumahnya, ternyata ini semua tidak disia-siakan oleh Allah. Bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai kewajiban. Terutama untuk urusan di dalam rumah, sehingga nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di sisi Allah.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

Wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya dan bagi anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggung jawaban tentang mereka. (HR. Bukhari 2554 & Muslim 4828)

Wanita yang perhatian dengan rumah tangganya, merupakan ciri wanita terbaik,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seperti apakah ciri wanita terbaik. Jawab beliau,

الَّتِى تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِى نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Yang menyenangkan suami ketika dilihat suaminya, mentaati suami ketika diperintah suaminya, dan tidak bertindak terhadap dirinya dan hartanya dengan perbuatan yang tidak disukai suaminya. (HR. Ahmad 7626, Nasai 3244 dan dishahihkan al-Albani).

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi mereka dengan jaminan surga, ketika bisa melayani suami dan keluarga dengan baik. Dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Apabila wanita menjaga shalat 5 waktu, menjaga puasa ramadhan, menjaga kehormatannya, an mentaati suaminya, maka dipersilahkan baginya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kamu inginkan.” (HR. Ahmad 1683, Ibnu Hibban 4163 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Untuk itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji para wanita Quraisy. Mereka potret wanita yang sangat belas kasih kepada anak-anaknya ketika masih kecil dan perhatian terhadap harta suaminya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِى صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِى ذَاتِ يَدِهِ

Sebaik-baik wanita yang menunggang onta adalah wanita quraisy yang solihah. Mereka paling penyayang terhadap anak ketika masih kecil dan perhatian terhadap semua harta suaminya. (HR. Bukhari 5082 & Muslim 6623).

Yang dimaksud ‘wanita yang menunggang onta’ adalah wanita arab. Sehingga makna hadis, wanita arab yang terbaik adalah wanita quraisy yang solihah. Karena karakter mereka: paling penyayang terhadap anak ketika masih kecil dan amanah serta perhatian terhadap semua harta suaminya.

Dan inilah kebaggaan sejati bagi wanita. Melayani keluarga, anak-anak, dan suami. Sumber kasih sayang di dalam rumah bagi semua penghuninya. Selalu memberikan kehangatan ketika ada anggota keluarga yang bercengkrama dengannya.

Kami yakin, anda akan sangat bangga jika memiliki ibu dengan kriteria seperti di atas. Ketimbang memiliki ibu seorang wanita karier atau ibu yang lebih memilih dekat dengan teman dari pada dengan keluarganya. Anda akan sangat bangga ketika anda memiliki ibu yang aktivitasnya lebih banyak di rumah, ketimbang ibu yang sibuk ngurusi luar rumah.

Konspirasi Musuh Islam

Kita tidak tahu pasti siapakah penggagas “me time” pertama kalinya. Namun kita layak suudzan, bisa jadi inni bagian dari upaya musuh islam untuk me-liberal-kan manusia. Semua bisa beraktivitas bebas tanpa aturan. Itulah misi mereka.

Sangat samar dan tidak memancing kecurigaan. Dan saat ini mereka begitu gencar menyelenggarakan momen-momen ‘nama hari’, untuk semakin mudah menyebarkan maksiat. Ada valentine’s day dan tahun baru yang menjadi hari zina internsional, april mop, hari yang mengajarkan orang menjadi pendusta, ada lagi Halloween day, hari klenik sedunia, kemudian ada lagi no bra day, hari telanjang sedunia.

Allahul musta’an (hanya kepada Allah kita minta perlindungan).

Yang kita sesalkan, kaum muslimin begitu latah dengan mereka. Hingga mereka menjadi pengikut setia propaganda orang kafir.

Barangkali inilah pembenar dari apa yang telah diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang  kondisi umat islam di akhir zaman. Umat islam menjadi umat yang labil dan mudah membeo umat lain.

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ » . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »

Sungguh kalian (umat islam) akan mengikuti kaum sebelum kalian, sama persis seperti jengkal kanan dengan jengkal kiri atau seperti hasta kanan dengan hasta kiri. Hingga andai mereka masuk ke lubang biawak gurun, kalianpun akan mengikuti mereka.

Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah yang anda maksud orang yahudi dan nasrani?’

Jawab beliau, “Siapa lagi (kalau bukan mereka).” (HR. Bukhari 7320 & Muslim 6952).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

kamar mandi horor

Dilarang Masuk Kamar Mandi Menjelang Maghrib?

Apa benar, masuk kamar mandi menjelang maghrib bisa menyebabkan orang kerasukan jin? Karena katanya pada waktu itu, jin banyak keluar dari sarangnya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, terdapat hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ

“Bila hari telah senja, tahan anak-anak kalian. Karena ketika itu setan berkeliaran. Dan bila sudah masuk sebagian waktu malam, silahkan biarkanlah mereka.” (HR. Bukhari 5623 dan Muslim 3756)

Informasi yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setan berkeliaran ketika maghrib, merupakan perkara ghaib. Manusia tidak bisa mendeteksinya dengan indera. Kita hanya bisa meyakini sebagaimana yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, karena alasan hadis ini, sebagian ulama syafiiyah dan hambali memakruhkan masuk kamar mandi dari menjelang maghrib sampai isya. Berikut beberapa keterangan mereka,

Ibnu Muflih menukil keterangan Ibnul Jauzi – ulama hamhali – (w. 597 H),

قال ابن الجوزي في منهاج القاصدين: ويكره دخول الحمام قريباً من الغروب وبين العشاءين فإنه وقت انتشار الشياطين

Ibnul Jauzi mengatakan dalam kitab Minhaj al-Qosidin, ‘Makruh memasuki kamar mandi menjelang maghrib atau antara isya sampai maghrib. Karena ketika itu adalah waktunya setan mulai berkeliaran.” (al-Adab as-Syar’iyah, 3/322).

Keterangan lain juga disampaikan al-Khatib as-Syirbini – ulama syafiiyah – (w. 977 H.),

ويكره دخوله قبيل الغروب وبين العشاءين لأنه وقت انتشار الشياطين

Dimakruhkan masuk ke kamar mandi menjelang maghrib atau antara maghrib dan isya. Karena itu waktu setan berkeliaran. (Mughni al-Muhtaj, 1/77).

Akan tetapi ada ulama lain yang tidak sepakat dengan pendapat ini. Karena tidak ada dalil secara tegas yang melarang hal itu. Disamping tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat, yang menyebutkan bahwa mereka menghindari kamar mandi ketika menjelang maghrib.

Imam ar-Ruhaibani as-Suyuthi (w. 1243 H.) mengatakan,

ولا يكره دخوله حماما قرب غروب و لا بعده، لعدم النهي الخاص عنه، خلافاً لابن الجوزي

Tidak dimakruhkan masuk ke kamar mandi menjelang matahari terbit, tidak pula setelahnya. Karena tidak ada larangan khusus tentang itu. Tidak sebagaimana pendapat Ibnul Jauzi. (Mathalib Uli an-Nuha, 1/189).

Ketiga, ulama kontemporer lebih memilih pendapat kedua

Dengan mempertimbangkan,

  • Para sahabat memahami bahwa waktu menjelang terbenamnya matahari adalah waktu setan mulai berkeliaran.
  • Tidak dijumpai satupun riwayat dari mereka, bahwa mereka menghindari kamar mandi ketika menjelang maghrib.

Karena pertimbangan ini, beberapa lembahaga fatwa kontemporer menyatakan boleh masuk kamar mandi menjelang maghrib. Berikut diantaranya,

Fatwa Syabakah Islamiyah,

فالظاهر أنه لا بأس بالاستحمام في كل وقت على الصحيح سواء في ذلك ما بين المغرب والعصر وغيره إذ لم يرد ما يدل على النهي، والأصل جواز ذلك

Pendapat yang kuat, tidak masalah masuk ke kamar mandi di setiap waktu, baik waktu sekitar maghrib, atau asar, atau waktu lainnya. Karena tidak terdapat satupun dalil yang melarangnya. Sementara hukum asalnya adalah boleh. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 107250).

Fatwa yang lain juga disampaikan dalam Fatawa al-Islam,

يباح الاغتسال في أي وقت من الليل أو النهار ؛ لأن الأصل الإباحة ، وليس هناك دليل يمنع من الاغتسال بعد العصر أو قبل المغرب أو في غيرهما من الأوقات

Dibolehkan mandi di waktu kapanpun, baik siang maupun malam. Karena hukum asalnya mubah, sementara tidak ada dalil yang melarang mandi setelah asar, mejelang maghrib, atau waktu-waktu lainnya. (Fatawa al-Islam, no. 104808)

Hanya saja, anda harus tetap jaga doa dan dzikir, terutama doa masuk kamar mandi, dan jangan lupa: Agar Aurot Tidak Terlihat Jin

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

negara iran

Wow, Iran Jadi Republik Narkoba

Mohon pencerahan, apa benar Iran menjadi pemasok narkoba dunia? Pdhl mendiknas mengadakan kerja sama budaya dengan Iran.

Matur Nuhun

Run Stiab

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita awali dengan kutipan dari salah satu sumber berita di tanah air,

“ Iran menjadi negara terbesar penyelundup narkotika jenis sabu-sabu ke Indonesia. Hal itu dikarenakan harga sabu-sabu Iran sangat murah sehingga keuntungan jika di jual ke Indonesia sangat tinggi mencapai 4000 persen.

Menurut Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere jika 1 kilogram sabu-sabu dijual di Indonesia harganya mencapai Rp2 miliar. Namun di Iran bisa Rp100 juta.

“Jadi 2000 persen keuntungan yang diperoleh di Indonesia, bahkan bulan terakhir ini turun menjadi Rp50 juta di Iran, jadi 4000 persen keuntungannya,” katanya di Jakarta.

Berdasarkan survei yang dilakukan BNN, jumlah pencandu Narkotika pada 2008 sebesar 3,3 juta atau 1,99 persen dari penduduk Indonesia. Penyalahgunaan narkotika yang paling banyak digunakan pada jenis narkotika sintesa khususnya sabu-sabu. Pengguna narkotika jenis ini meningkat 33 persen.

Data menunjukkan pemakai narkotika jenis ini adalah mulai umur 13 tauhn hingga 45-49 tahun. Namun yang terbanyak umur 29 taun,”mungkin karena semua sudah bekerja, punya pendapatan sendiri,” ujarnya.”

Statistik Pengguna Narkoba di Iran

Data penelitan ini disampaikan oleh Dr. Nabil al-Atoum, peneliti masalah Sosial Iran.

Anda bisa perhatikan, infografik berikut,

peredaran narkoba iran

Dalam sebuah artikel yang berjudul: al-Mukhadirat fi Iran: Inkarul Hukumah wa Waqiul Ihshaiyat (Narkoba di Iran: Laporan Pemerintah dan Realita Data Lapangan), beliau mengungkapkan angka yang sangat mencengangkan, terkait penggunaan narkoba di Iran.

Tercatat di tahun 2012 lebih dari 2000 macam narkoba, ditambah 50 jenis narkoba baru yang beredar di Iran.

Data resmi pemerintah, pecandu narkoba Iran antara 1.250.000 hingga 2.000.000 jiwa. Sementara data tidak resmi menunjukkan, pecandu narkoba Iran lebih dari 7 juta jiwa. Dan selalu terjadi penambahan 160.000 jiwa pertahu, dengan prosentase: 90,7% laki-laki dan 9,3% perempuan. Untuk rentang usia antara 15 hingga 64 tahun.

Ali Ridha Jazini, wakil Rais Lajnah Mukafihah al-Mukhadirat Iran – semacam BNN di tempat kita – melaporkan,

Ketika mendekati musim ujian, penggunaan narkoba semakin meningkat. Sekitar 50% penggunanya adalah para pelajar. Sebagian mereka menggunakan obat penenang yang dijual di apotek, seperti Ri**lin, Me***done.

Data pengguna awal narkona (pecandu pemula), 50% umumnya di usia antara 15 hingga 19 tahun, 15% anak usia SD, 15% usia SMP, 41% usia SMA, dan 17% mereka yang berada di jenjang kuliah. Sementara 3 % sisanya mereka yang tidak sekolah.

Kemudian berdasarkan laporan kepolisian Iran (baca: Syahadat Syiah) , ada 700.000 jiwa di bawah usia 21 tahun yang menggunakan narkoba dengan resiko kematian tinggi. Laporan tahun kemarin (2013), ada sekitar 3000 jiwa yang mati gara-gara penggunaan narkoba berlebihan, 230 jiwa diantaranya wanita.

Iran Negara Pemasok Narkoba Terbesar Dunia

Ada bisa perhatikan peta berikut,

Peta Sumber Tanaman Narkoba dunia

Daerah bulan sabit itu termasuk pusat tanaman narkoba dunia. Karena itulah, harga narkoba di daerah ini sangat murah.

Menurut catatan Dr. Nabil,

  • Harga 1 Kg Opium murni sekitar $1300 US
  • Penjual eceran mematok harga getah opium pergram sekitar 5000 Toman (sekitar $1,5 US)
  •  Heroin, harganya bervariasi.
      Di perbatasan Afghan, 1 gram heroin sekitar 1200 Toman (kurang dari $0,5 US)
      Di Teheran, 1 gram heroin mencapai 20.000 Toman (sekitar $7 US).
  • Setengah produksi opium Afghanistan (sekitar 3000 ton), masuk ke Iran setiap tahun. Sehingga Iran menjadi negara pengimpor getah opium terbesar dari Afghan. Dan sekitar 500 ton pertahun diedarkan keluar.

Untuk itu, tidak heran jika dokumen wikileaks menyebutkan bahwa Iran menjadi negara penyelundup narkoba terbesar di dunia. Catatan telegram rahasia 12 Juni 2009 dari Kedubes Amerika di Baku (ibu kota Azerbaijan), bahwa bahan kimia Heroin dari Iran dan yang diproduksi di Azerbaijan, naik dari 20 kg di tahun 2006, menjadi 59.000 kg di dekade pertama 2009.

Perang Narkoba

Ketika Kuba tidak mampu melawan militer Amerika dengan kontak fisik, mereka memilih jalur lain untuk melakukan penyeragan tersembunyi. Mereka melemahkan generasi muda AS melalui narkoba. Metode ini hingga sekarang ditiru Iran.

Melemahkan generasi muda. Itulah yang menjadi targetnya.

Ketika mereka tidak sanggup menghadapi negara timur tengah dan syam (Yordania, Lebanon, Suriah, dan Palestina), mereka menggunakan cara seperti yang dilakukan Kuba.

Dari sinilah kita menemukan jawabannya, mengapa Iran menjadi negara dengan pengguna narkoba terbesar dunia. Disamping pusat perdagangan narkoba yang sangat murah, ada sisi lain yang membuat pemerintah agak longgar dalam menanggulangi kasus narkoba di negara itu.

Mereka menjadi penyusup narkoba di seluruh negara ahlus sunah. Bagi mereka, ahlus sunah (baca: Sunni) adalah musuh besar syiah (Baca: Doktrin Aliran Syiah yang Berbahaya). Mengingat negara sunni jauh lebih kuat, mereka menggunakan langkah kedua, menghabisi generasi mudanya melalui narkoba. Diantara yang menajdi tangan panjangnya adalah Hizbulat di Lebanon dan Syiah Hutsiyin di Yaman (Baca: Mengenal Syiah Pemberontak Yaman).

Gubernur wilayah Diyala di Irak melaporkan, ada 90% narkoba yang diselundupkan di wilayah Diyalah, yang semuannya dari Iran. Hal yang sama juga dilaporkan Ghalib al-Jaburi, jubir kepolisian wilayah Diyala, bahwa sebagian daerah perbatasan Diyala merupakan jalur penyelundupan narkoba dari Iran ke negara-negara Teluk.

Laporan lain juga disampaikan oleh Dr. Husain Muayid (mantan ulama rujukan Syiah) bahwa rencana besar masyarakat Iran untuk merusak generasi muda timur tengah dilakukan dengan narkoba. BNN menunjukkan data bahwa 80% bentuk narkoba yang ditengkap pemerintah Saudi, didatangkan dari perbatasan selatan dengan Yaman.

Karena itu, anda patut heran dengan pihak yang mengajak kerja sama budaya dengan Iran. Sementara ada 2 budaya yang menonjol di Iran: budaya nikah mut’ah dan budaya narkoba.

Allahu a’lam

pohon khuldi di surga

Pohon Khuldi di Surga

Apakah penghuni surga nanti dipertemukan dengan pohon khuldi

Dari Mulya via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang lebih penting dalam membahas masalah surga dan neraka adalah bagaimana kita bisa termotivasi untuk melakukan amalan yang mendekatkan diri kita ke surga dan menjauhkan diri kita dari neraka. Dan seperti inilah tujuan Allah ceritakan surga dan neraka dalam al-Quran.

Dalam sebuah ayat, seusai Allah menyebutkan kondisi penduduk surga, Allah menyatakan,

لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

“Untuk seperti inilah hendaknya seseorang berlomba-lomba dalam beramal.” (QS. as-Shaffat: 61).

Di ayat lain, sesuai Allah menjelaskan kenikmatan surga, Allah menyatakan,

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Untuk mendapatkan seperti ini, hendaknya orang berlomba memperebutkannya.” (QS. al-Muthaffifin: 26)

Demikian pula sebaliknya, ketika Allah menceritakan kedahsyatan neraka, tujuannnya agar para hamba menjadi takut. Seusai Allah menyebutkan kedahsyatan neraka, Allah menegaskan,

ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

Seperti itulah bagaimana Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Wahai para hamba-Ku, bertaqwalah kepada-Ku. (QS. az-Zumar: 16).

Sementara bagaimana detil isi surga, berapa suhunya, seperti apa cuacannya, apa di surga bisa merayakan ulang tahun, apa di surga ada permainan water boom, termasuk bagaimana nasib pohon khuldi, dst. sebenarnya kurang penting untuk kita ketahui. Meskipun setidaknya itu bisa menjadi wacana bagi orang yang membacanya.

Pohon yang Besar di Surga

Sebelum menguas pohon khuldi, kami kenalkan dulu salah satu kenikmatan di surga, yaitu pohon yang sangat besar. allah sebutkan dalam al-Quran,

وَظِلٍّ مَمْدُودٍ

(Ahlu surga berada di bawah) teduh bayangan yang sangat panjang. (QS. al-Waqiah: 30).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan makna ayat ini,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِى ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لاَ يَقْطَعُهَا ، وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: وَظِلٍّ مَمْدُودٍ

Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon, andai orang yang naik kuda hendak melintasi bayangannya, selama 100 tahun belum sampai ke ujungnya. Bacalah firman Allah, ‘teduh bayangan yang sangat panjang’. (HR. Ahmad 7709, Bukhari 4881, Muslim 7317)

Dimanakah Pohon Khuldi?

Kita sepakat, yang dimaksud pohon khuldi di sini adalah pohon yang dulu Nabi Adam dilarang untuk mendekatinya. Meskipun penamaan ‘khuldi’ berasal dari setan, untuk menggoda Adam. Karena arti kata ‘khuldi’ adalah kekal. Agar Adam mengira dengan makan pohon ini, beliau bisa kekal di surga.

Dalam al-Bidayah, Al-Hafidz Ibnu Katsir menulis,

فوسوس إليه الشيطان قال يا آدم هل أدلك على شجرة الخلد وملك لا يبلى: أي هل أدلك على الشجرة التي إذا أكلت منها حصل لك الخلد فيما أنت فيه من النعيم

Setan membisikkan kepadanya, dia mengatakan, “Hai Adam, maukah kutunjukkan pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak pernah sirna?” artinya, akan kutunjukkan sebuah pohon yang jika kamu memakannya maka kamu akan menjadi kekal dalam kenikmatan yang saat ini kamu rasakan. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/77).

Apakah pohon khuldi adalah pohon besar itu?

Imam Ahmad meriwayatkan dari jalur Syu’bah dari Abu ad-Dhahak, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا شَجَرَةُ الْخُلْدِ

Sesungguhnya di surga ada satu pohon, apabila ada penunggang kuda hendak melintasi bayangannya, selama 10 tahun, tidak sampai ke ujungnya. Itulah pohon Khuldi. (HR. Ahmad 9950, ad-Darimi 2895, dan tambahan ‘Pohon khuldi’ dinilai dhaif oleh Syuaib al-Arnauth).

Keterangan lain disampaikan al-Hafidz Ibnu Katsir. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi pohon khuldi di masa Adam adalah pohon besar yang teduhnya sangat panjang itu.

Di kitab al-Bidayah, beliau melanjutkan keterangannya,

وقد تكون هي الشجرة التي قال الإمام أحمد

Bisa jadi, pohon khuldi itu adalah pohon yang disebutan dalam hadis riwayat Imam Ahmad.. (kemudian beliau menyebutkan hadis di atas).

Hanya saja ada sebagian ulama yang mengingkari keberadaan pohon ini di Surga. Ibnu Katsir menyebutkan keterangan dari Imam Ghundar (gurunya Bukhari),

قَالَ غُنْدَرٌ قُلْتُ لِشُعْبَةَ هِيَ شَجَرَةُ الْخُلْدِ قَالَ لَيْسَ فِيهَا هِيَ

Ghundar bertanya kepada Syu’bah, “Apakah pohon besar itu pohon khuldi?”

Jawab Syu’bah,

لَيْسَ فِيهَا هِيَ

“Di sana tidak ada lagi pohon khuldi.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/78).

Apakah Kita Dilarang Mendekatinya?

Kita tidak tahu pasti, apakah pohon itu masih ada ataukah tidak. Karena kesimpulan keberadaan pohon khuldi di surga akhirat, masih diperselisihkan ulama. Andai itu masih ada, apakah kita akan dilarang mendekatinya?

Tidak ada hari setelah akhirat. Sehingga penduduk surga akan kekal di surga selamanya. Sementara penduduk neraka yang beriman akan diselamatkan menuju surga. Ketika penduduk neraka yang tersisa tinggal orang kafir, mereka mendekam kekal di dalamnya.

Karena itu, peristiwa yang dialami Nabi Adam tidak akan berulang. Sehingga tidak ada istilah, jika besok di surga manusia mendekati pohon larangan maka dia akan diusir ke dunia. Jelas ini tidak terjadi. Tidak ada orang yang masuk surga kemudian dikeluarkan darinya. Allah menegaskan,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ . ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آَمِنِينَ. وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ . لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”  Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari surga. (QS. al-Hijr: 45 – 48)

Disamping itu, penduduk surga diberi keistimewaan, mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ . نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Di surga, kalian mendapatkan apapun yang diinginkan jiwa kalian dan kalian mendapatkan apa yang kalian minta sebagai balasan dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Fushilat: 31 – 32)

Di ayat lain, Allah juga menegaskan,

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ . لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

Masuklah ke dalam surga dengan keselamatan, itulah hari yang kekal. Mereka mendapatkan apapun yang mereka inginkan, dan kami memiliki nikmat tambahan. (QS. Qaf: 34 – 35).

Dengan mempertimbangkan berbagai dalil, ditegaskan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, di surga akhirat tidak ada lagi istilah larangan. Lembaga Fatawa Syabakah Islamiyah menjelaskan hubungan pohon besar dengan ppohon khuldi. Kemudian mereka menyatakan,

وإذا كانت الشجرة المذكورة في القرآن هي نفس الشجرة المذكورة في الحديث فإنها موجودة حالياً ولا يحرم على أهل الجنة في الآخرة أن يستفيدوا منها، لأن الرسول صلى الله عليه وسلم ذكرها ليرغب الناس بها في العمل لدخول الجنة وليس في الجنة شيء محرم

Jika pohon yang disebutkan dalam al-Quran adalah pohon yang pohon yang disebutkan dalam hadis, berarti pohon itu ada hingga sekarang. Dan tidak dilarang bagi penghuni surga di akhirat untuk memanfaatkannya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan pohon besar itu sebagai motivasi bagi umatnya untuk mendapatkannya, sehingga mereka berusaha beramal agar bisa masuk surga. Dan di surga tidak ada yang haram. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 113009)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

lailaha illallah

Makna Laa Ilaaha Illallaah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kalimat ini ringkas, namun menjadi titik sengketa antara umat islam dengan kaum musyrikin. Kalimat yang menjadi pemisah antara islam dan kesyirikan. Kalimat yang hanya terdiri dari 3 huruf: alif, lam, dan ha, namun mengubah suasana dunia.

Sebelum mengkaji tinjauan makna kalimat ini, kami hendak menegaskan bahwa orang musyrikin yang menjadi musuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam paham akan makna kalimat laa ilaaha illallah.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah, beliau mengajak masyarakat Quraisy dan sekitarnya untuk mengikrarkan kalimatLaa ilaaha illalaah..

Dari Rabi’ah bin Ibad ad-Daili, beliau menceritakan,

Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangku di pasar Dzil Majaz, sambil mendakwahkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، تُفْلِحُوا

Wahai sekalian manusia, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, kalian akan mendapat kesuksesan. (HR. Ahmad 16023, Ibnu Hibban 6562 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kita bisa perhatikan, bagaimana respon masyarakat terhadap ajakan beliau?

Mereka rela berpisah dengan keluarganya, anaknya, istrinya demi memusuhi kalimat ini.

Mereka rela keluar tenaga, demi menghalau tersebarnya kalimat ini.

Bahkan mereka siap untuk berkorban nyawa, demi melawan kalimat tauhid ini.

Kita tahu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang dikenal sangat baik, sebelum jadi nabi dan setelah jadi nabi. Namun mengapa ajakan beliau ditentang habis-habisan oleh mereka.

Apa susahnya bagi mereka untuk hanya mengucapkan laa ilaaha illallah?.

Namun mereka lebih memilih pertumpahan darah dari pada harus mengucapkan kalimat tauhid itu. Dengan kompak mereka menuduh ajakan Nabi Muhammad sebagai ajakan yang aneh,

أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Apakah Muhammad hendak menjadikan tuhan yang beraneka ragam itu menjadi satu tuhan saja. Sungguh ini ajakan yang sangat aneh. (QS. Shad: 5)

Ini semua menunjukkan bahwa orang musyrikin quraisy paham akan makna kalimat itu. Mereka juga paham akan konsekuensi ketika orang mengucapkan kalimat itu. Mereka sadar, kalimat ini sangat bertentangan dengan keyakinan mereka. Karena itulah, keyakinan mereka menjadi indikator untuk memahami makna kalimat tauhid ini.

Orang Musyrikin Mekah Beriman Akan Keberadaan Allah

Terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang musyrikin Mekah, mereka mengenal Allah. Mereka mengimani keberadaan Allah. Bahkan mereka juga mengimani bahwa Allahlah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini.

Kita bisa lihat, ayah Nabi Muhammad, namanya Abdullah. Dari mana mereka tahu nama itu, padahal Nabi Muhammad belum diutus? Tentu saja jawabannya, karena orang jahiliyah telah mengenal Allah.

Al-Quran juga menceritakan aqidah dan keyakinan mereka tentang Allah. Diantaranya, Allah berfiirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Yunus: 31)

Kemudian di surat al-Mukminun secara berturut-turut di banyak ayat, Allah menceritakan aqidah mereka,

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” . Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

Allah juga menyebutkan bahwa mereka mendekatkan diri kepada sesembahan itu, agar doa dan keinginan mereka lebih cepat dikabulkan oleh Allah.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali (sasaran pemujaan), mereka mengatakan, “Tidaklah kami beribadah kepada mereka, selain agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah lebih dekat lagi.” (QS. az-Zumar: 3).

Tentu saja masih banyak dalil yang menyebutkan masalah ini, dan beberapa ayat di atas kita anggap sudah mencukupi.

Dari sini kita memahami bahwa orang musyrikin Quraisy meyakini,

Allah itu ada

Allah Maha Kuasa

Allah yang menciptakan, yang memiliki, dan yang mengatur alam semesta beserta isinya.

Dan mereka memberikan pemujaan kepada selain Allah, agar yang dipuja itu mengantarkan doa mereka kepada Allah.

Makna ‘Laa ilaaha illallaah’ yang Salah

Dengan bermodal pemahaman di atas, kita bisa mengoreksi kesalahan yang diyakini sebagian masyarakat terkait makna kalimat laa ilaaha illallah. Banyak kita dengar, mereka memaknai kalimat ini dengan,

Tidak ada yang berkuasa selain Allah,

Tidak ada wujud yang haqiqi selain Allah,

Tidak ada pengatur alam semesta selain Allah,

Tidak ada penguasa abadi selain Allah.

Kita semua sepakat kalimat-kalimat ini benar. Namun ketika kalimat ini diyakini sebagai makna laa ilaaha illallah, jelas ini kesalahan. Karena konsekuensi pemaknaan ini bertentangan dengan aqidah orang musyrikin Quraisy.

Jika makna laa ilaaha illallah adalah Tidak ada yang berkuasa selain Allah, Tidak ada wujud yang haqiqi selain Allah, Tidak ada pengatur alam semesta selain Allah, Tidak ada penguasa abadi selain Allah, anda bisa pastikan orang musyrikin Quraisy akan setuju dengan ajakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ini sesuai dengan apa yang diyakini masyarakat jahiliyah.

Untuk mengajak mereka agar mengakui tiada  penguasa abadi selain Allah, tiada  pengatur alam semesta selain Allah, tidak perlu sampai harus terjadi pertumpahan darah.

Konsekuensi dari Kesalahan Memahami Laa ilaaha illallah

Ketika kesalahan ini hanya berada dalam tataran wacana, mungkin masalahnya lebih ringan. Karena yang menyedihkan, beberapa pelaku perbuatan kesyirikan dari zaman ke zaman, menjadikan kesalahan ini sebagai alasan pembenar untuk perbuatan mereka.

Banyak pemuja kubur, pelaku perdukunan dan klenik, sampai pecandu kejawen, mereka kekeuh menolak untuk disebut melakukan kesyirikan, karena mereka masih meyakini bahwa yang kuasa hanyalah Allah. Selama kami meyakini bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta, yang memberi rizki hanya Allah, yang menciptakan dan menghidupkan hanya Allah, maka kami masih berpegang dengan Laa ilaaha illallah.

Anda buktikan ini dengan mewawancarai para pemuja kuburan, pasien dukun, bahkan dukunnya sendiri, para pemuja kuburan, termasuk mereka yang menjalani lelakon untuk mendapatkan kanuragan. KTPnya muslim, dan mereka menganggap dirinya masih muslim, selama mereka masih mengakui Allah itu ada dan masih mengucapkan Laa ilaaha illallah.

Subhanallah…

Andai mereka berada di zaman Nabi, mungkin semua sahabat akan menyebutnya orang munafik. Beda yang diucap dengan apa yang diperbuat. Mengaku muslim, tapi perbuatannya tidak berbeda dengan  orang musyrik.

Makna Laa Ilaaha Illallah yang Benar

Menyadari realita di atas, semata mengucapkan laa ilaaha illallah tanpa mengamalkan konsekuensinya, tidak memberikan pengaruh apapun. Karena kalimat tauhid tidak hanya untuk diucapkan. Namun sejauh mana kita bisa mengamalkan. Karena itu, orang yang mendapatkan jaminan surga dengan laa ilaaha illallah, adalah mereka yang memahami makna dan konsekuensinya serta menerapkannya dalam hidupnya.

Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga”. (HR. Muslim 145)

Mari kita simak penjelasan singkat makna kalimat tauhid yang mulia ini,

Laa Ilaaha Illallah tersusun dari 3 huruf: [ا – ل – ه], dan terdiri dari 4 kata: Laa, Ilaha, illa dan Allah [لا اله الا الله].

Kita bisa uraikan sebagai berikut:

Pertama, kata Laa

Disebut laa nafiyah lil jins (huruf lam yang berfungsi meniadakan keberadaan semua jenis kata benda setelahnya). Misalnya kata: “Laaraiba fiih” (tidak ada keraguan apapu bentuknya di dalamnya). Artinya meniadakan semua jenis keraguan dalam al-Quran.

Sehingga laa dalam kalimat tauhid bermakna meniadakan semua jenis ilaah, dengan bentuk apapun dan siapapun dia.

Kedua, kata Ilah

Kata ini merupakan bentuk mashdar (kata dasar), turunan dari kata: aliha – ya’lahu [ألـه – يألـه] yang artinya beribadah. Sementara katailaahun [إلـه] merupakan isim masdar yang bermakna maf’ul (obyek), sehingga artinya sesembahan atau sesuatu yang menjadi sasaran ibadah.

Jika kita gabungkan dengan kata laa, menjadi laa ilaaha [لا إلـه], maka artinya tidak ada sesembahan atau sesuatu yang menjadi sasaran ibadah, apapun bentuknya.

Ketiga, kata Illa

Ilaa artinya kecuali. Disebut dengan huruf istitsna’ (pengecualian) yang bertugas untuk mengeluarkan kata yang terletak setelah illa darihukum yang telah dinafikan oleh laa.

Sebagai contoh,  ‘Laa rajula fil Masjid illa Muhammad’,

Tidak ada lelaki apapun di masjid, selain Muhammad. Kata Muhammad dikeluarkan dari hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di masjid.

Keempat, kata Allah

Dialah Sang Tuhan, dikenal oleh makhluk melalui fitrah mereka. Karena Dia Pencipta mereka.

Sebagian ahli bahasa mengatakan, nama Allah [الله] berasal dari kata al-Ilah [الإلـه]. Hamzahnya dihilangkan untuk mempermudah membacanya, lalu huruf lam yang pertama diidhgamkan pada lam yang kedua sehingga menjadi satu lam yang ditasydid, lalu lam yang kedua dibaca tebal. Sehingga dibaca Allah. Demikian pendapat ahli bahasa Sibawaih.

Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan maknanya,

الله وحده هو المعبود المألوه الذي لا يستحق العبادة سواه

“Allah Dialah al-Ma’bud (yang diibadahi), al-Ma’luh (yang disembah). Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia”. (Madarij as-Salikin, 3/144).

Dari keterangan di atas, ulama menyebutkan rukun kalimat laa ilaaha illallaah ada 2 (at-Tauhid li anNasyiin, hlm. 30):

Pertama, an-Nafyu (peniadaan)

Rukun ini diwakili kalimat laa ilaaha. Makna rukun ini, bahwa orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah harus mengingkari semua bentuk sesembahan dan sasaran ibadah apapun bentuknya. Baik dia manusia, benda mati, orang soleh, nabi, maupun Malaikat. Tidak ada yang berhak untuk dijadikan sasaran ibadah. Ketika seseorang beraqidah ateis, berarti dia tidak mengakui penggalan pertama kalimat tauhid:laa ilaaha.

Kedua, al-Itsbat (penetapan)

Rukun ini mewakili kalimat illallaah. Artinya, orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah harus mengakui satu-satunya yang berhak dijadikan sasaran beribadah adalah Allah. Sehingga dia harus beribadah kepada Allah. Dan ketika dia tidak mau beribadah, berarti dia belum mengakui Allah sebagai tuhannya.

Dua rukun inilah yang Allah tegaskan dalam al-Quran,

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

Siapa yang ingkar terhadap thagut, dan beriman kepada Allah, berarti dia berpegang dengan tali yang kuat (QS. al-Baqarah: 256).

Makna kata Thaghut: segala sesembahan selain Allah

Dan arti kata tali yang kuat adalah laa ilaaha illallah

Sehingga makna ayat, siapa yang menginkari semua bentuk sesembahan dan hanya mengakui Allah sebagai sasaran peribadatannya, berarti dia telah mengikrarkan laa ilaaha illallah dengan benar.

Allah juga tegaskan di ayat yang lain,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (QS. An-Nisa: 36)

Kita bisa lihat penolakan orang kafir terhadap dakwah Laa ilaaha illallah,

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ . وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آَلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” maka mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami hanya karena seorang penyair gila?”. (QS. Ash-Shoffat : 35-36)

Ketika ada orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah namun dia masih rajin berbuat syirik, mengagungkan kuburan, gandrung dengan perdukunan, aktif sedekah bumi, larung di laut, berarti perbuatannya bertentangan dengan apa yang dia ikrarkan. Karena dia mempertuhankan selain Allah, meskipun hanya dengan satu ibadah.

Dan kita patut memahami, ibadah itu beraneka ragam. Tidak hanya berbentuk sujud atau shalat. Contoh ibadah yang sering diberikan kepada makhluk adalah memberikan sesajian, seperti sedekah bumi, larung kepala hewan, tanam kepala hewan di jembatan, dst.

Demikian pula berdoa. Banyak orang yang gandrung dengan kuburan, mereka berbondong-bondong ke kuburan ketika mereka merasa punya hajat. Jika tidak ada kepentingan, mereka tidak datang ke kuburan. Ini semua indikasi kuat bahwa mereka hendak menyampaikan doa di kuburan. Jika itu ditujukan kepada penghuni kubur, berarti itu penyembahan kepada selain Allah.

Meskipun mereka shalat, mereka puasa, bahkan haji, namun ketika mereka memberikan satu peribadatan saja kepada selain Allah, berarti amal mereka menyimpang dari kalimat tauhid.

Mengucapkan Laa ilaaha illallah Tapi Tidak Beramal

Ini kebalikan dari yang pertama. Penyakit kedua yang dialami sebagian masyarakat, ada yang beralasan dengan laa ilaaha illallah namun dia sama sekali tidak pernah beramal. Tidak shalat, tidak puasa, tidak peduli dengan agamanya. Ketika diingatkan, dia beralasan, yang penting saya masih punya laa ilaaha illallah.

Kasus semacam ini pernah terjadi di zaman ulama Tabiin Wahb bin Munabbih (w. 114 H). Ada seseorang yang bertanya kepada beliau,

“Bukankah laa ilaaha illallah adalah kunci surga.”

Maksud orang ini, yang penting orang sudah mengucapkan laa ilaaha illallah, dia terjamin masuk surga, sekalipun dia tidak beramal.

Kemudian dijawab oleh Imam Wahb bin Munabih,

بلى ولكن ليس من مفتاح إلا له أسنان فإن أتيت بمفتاح له أسنان فتح لك وإلا لم يفتح

“Benar, laa ilaaha illallah adalah kunci surga. Namun bukankah setiap kunci harus punya gigi. Jika kamu membawa kunci yang ada giginya, dibukakan surga untukmu, jika tidak ada giginya, tidak dibukakan surga untukmu.” (HR. Bukhari secara Muallaq sebelum hadis no. 1237 dan disebutkan Abu Nuaim secara Maushul dalam al-Hilyah 4/66).

Agar laa ilaaha illallah diterima, anda harus beramal.

Arti yang Tidak Tepat

Kita sering mendengar orang mengartikan, laa ilaaha illallah dengan tiada tuhan selain Allah. Mungkin pemaknaan ini perlu diluruskan.

Ketika kita mendengar ungkapan, tiada roti kecuali enak, berarti semua roti enak. Seperti itu pula kalimat

“Tiada Tuhan selain Allah”. Konsekuensi terburuknya, berarti setiap yang disembah oleh manusia, itulah Allah. Maha suci Allah dari yang demikian.

Karena itulah, para ahli bahasa meluruskan bahwa laa nafiyah lil jins pada kalimat laa ilaaha illallah butuh khabar (predikat). Pada kalimatlaa ilaaha [لا إلـه], kata ilaah sebagai isim laa, sementara khabar laa (predikatnya) mahdzuf (tidak dimunculkan), yang jika dinyatakan berwujud kata haqqun [حَقٌّ]. Sehingga jika kita baca lengkap menjadi: laa ilaaha haqqun illallaah, yang artinya Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. (At Tanbihaat Al Mukhtasharah, Ibrahim al-Khuraishi)

Di sekitar kita banyak tuhan. Semua yang disembah oleh orang kafir, itulah tuhan mereka. Namun semua itu tidak berhak disembah. Satu-satunya yang berhak disembah hanya Allah.

Makna seperti ini yang diajarkan dalam al-Quran,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil” (QS. al-Hajj : 62)

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

baitul makmur

Baitul Makmur

Apa itu baitul makmur? Saya sering mendengarnya, mohon dijelaskan? Bolehkah kita menamai masjid dg Baitul Makmur

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Nama Baitul Makmur disebutkan oleh Allah dalam al-Quran, tepatnya di surat at-Thur,

وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِْ وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِْ . وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ

“Demi Baitul Ma’mur. Demi atap yang ditinggikan (langit). Demi laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. at-Thur: 4 – 6)

Baitul Makmur adalah bangunan yang sangat mulia, berada di langit ketujuh. Di sanalah para Malaikat beribadah, sebagaimana manusia beribadah di sekitar Ka’bah.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani peristiwa Isra Mi’raj, sesampainya di langit ketujuh, beliau melihat Baitul Makmur.

Ketika mengisahkan peristiwa Isra Mi’raj, beliau mengatakan,

فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ السَّابِعَةَ فَأَتَيْتُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ مَرْحَبًا بِكَ مِنِ ابْنٍ وَنَبِىٍّ، فَرُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ ، فَقَالَ : هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ ، يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

Kami mendatangi langit ketujuh. Lalu aku mendatangi Nabi Ibrahim, aku memberi salam kepadanya dan belia menyambut, “Selamat datang putraku, sang Nabi.” Lalu aku melihat Baitul Makmur. Akupun bertanya kepada Jibril.

“Ini adalah Baitul Makmur, setiap hari, tempat ini dikunjungi 70.000 Malaikat untuk melakukan shalat di sana. Setelah mereka kaluar, mereka tidak akan kembali lagi ke tempat ini.” (HR. Bukhari 3207 & Muslim 162).

Karena itulah, Allah jadikan tempat ini sebagai sumpah-Nya, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, “Demi Baitul Makmur.” Dan seperti yang kita tahu, makhluk yang Allah jadikan sebagai sumpah adalah makhluk yang mulia, yang menunjukkan keagungan Sang Penciptanya.

Baitul Makmur, Ka’bahnya Penghuni Langit

Al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menjelaskan tafsir ayat di atas, beliau mengatakan,

ذاك البيت هو كعبة أهل السماء السابعة ؛ ولهذا وجد إبراهيم الخليل عليه السلام ، مسندا ظهره إلى البيت المعمور ؛ لأنه باني الكعبة الأرضية ، والجزاء من جنس العمل

Baitul makmur itu adalah ka’bah bagi penghuni langit ketujuh. Untuk itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Nabi Ibrahim ‘alahis salam menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur. Karena beliau yang membangun Ka’bah di bumi, dan balasan sejenis dengan amal. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/428)

Baitul Makmur Sejajar Ka’bah

At-Thabari meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu tentang Baitul Makmur.

Jawaban Ali Radhiyallahu ‘anhu,

بيت في السماء بحيال البيت، حرمة هذا في السماء كحرمة هذا في الأرض، يدخله كل يوم سبعون ألف ملك، ولا يعودون إليه

Itu adalah bangunan di langit, sejajar dengan Ka’bah. Kemuliaan bangunan ini di langit sebagaimana kemuliaan Ka’bah di bumi. Setiap hari dimasuki oleh 70.000 malaikat, dan mereka tidak kembali lagi. (Tafsir at-Thabari 22/455 dan dishahihkan al-Albani).

At-Thabari juga menyebutkan riwayat yang mursal dari Qatadah (ulama tabi’in), beliau mengatakan,

ذكر لنا؛ أن النبي صلى الله عليه وسلم قال يوماً لأصحابه: هل تدرون ما البيت المعمور؟ قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: فإنه مسجد في السماء، تحته الكعبة، لو خرّ لخر عليها

Sampai kepada kami informasi bahwa satu hari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda di hadapan para sahabatnya, “Tahukah kalian, apa itu Baitul Makmur?” jawab beliau, “Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu.”

Lalu beliau menjelaskan, “Baitul Makmur adalah bangunan masjid di langit, tepat di bawahnya adalah Ka’bah. Andai masjid ini jatuh, dia akan jatuh di atas Ka’bah.” (Tafsir at-Thabari 22/456. Riwayat ini juga dikutip Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, 7/429).

Dalam Silsilah as-Shahihah dinyatakan,

وجملة القول أن هذه الزيادة ((حيال الكعبة)) ثابتة بمجموع طرقها

Kesimpulan keterangan bahwa tambahan riwayat ‘sejajar dengan Ka’bah’ statusnya shahih, dengan gabungan semua jalur periwayatannya. (as-Silsilah as-Shahihah, 1/476).

Tidak Boleh Menamai Masjid dengan Baitul Makmur

Kesimpulan ini disampaikan dalam Fatwa Islam,

وإذا كان هذا البيت بهذه المثابة والمنزلة ، فلا يجوز أن يسمى به أي بيت أو محل أو منشأة ، كما لا يجوز أن تسمى هذه الأشياء بالكعبة أو بالبيت الحرام أو بغير ذلك من الأسماء المعظمة ؛ لما في ذلك من الامتهان ، وانتفاء المشابهة

Mengingat bangunan ini memiliki kedudukan yang sangat mulia seperti yang disebutkan, maka kalimat ini tidak boleh digunakan untuk menamakan satu rumah, atau tempat, atau bangunan apapun. Sebagaimana kita tidak boleh memberi nama tempat di sekitar kita dengan nama Ka’bah atau Baitul Haram, atau nama-nama lainnya yang diagungkan. Karena termasuk bentuk pennghinaan dan agar tidak dianggap menyerupakan. (Fatawa al-Islam, no. 120126)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

umur manusia

Umur Umat Islam

Bismillah…
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh…
ustadz,, sya mendengarkan video kajian yg disampaikan oleh Al-Ustadz Z******* M A** yang berjudul “umur umat islam didunia” …
beliau menceritakan bahwa umur umat islam didunia tidak sampai 1500 Hijriyah..
berdasarkan hadits mutawatir (tapi tidak menyebutkan atsarnya)…
pertanyaan sya..
–> apakah memang benar hadits tersebut shohih ?? tolong berikan penjelasannya ustadz…
jazakumullah khoiron…

Dari Hilmi

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam warahmatullah wabarokatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, Prinsip penting yang perlu kita kedepankan terkait kiamat, bahwa kiamat pasti terjadi, meskipun tidak ada satupun yang tahu kapan itu terjadi, selain Allah Ta’ala.

Prinsip ini berulang kali Allah tegaskan dalam al-Quran dalam bentuk jawaban kepada orang yang suka bertanya tentang kapan kiamat,

Diantaranya, firman Allah,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Kapankah itu terjadi?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya di sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. al-A’raf: 187).

Di ayat lain, Allah juga berfirman,

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّـهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. al-Ahzab: 63).

Kemudian, Allah juga berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا . فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا . إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya? Siapakah kamu sehingga dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan ketentuan waktunya. (Qs. an-Nazi’at: 42 – 44)

Dan kita bisa perhatikan, semua jawaban yang Allah berikan di atas, lebih dekat pada konteks celaan. Karena orang yang bertanya tentang itu, terkesan tidak percaya akan adanya kiamat. Andai berusaha mencari tahu waktu kiamat adalah tindakan yang mulia dan bermanfaat, tentu Allah Ta’ala akan memuji perbuatan mereka. Namun yang ada justru sebaliknya, Allah sebutkan ayat di atas, dalam konteks menjelaskan sifat orang kafir yang mencoba untuk membantah kebenaran kiamat. Sehingga, tentu saja sikap semacam ini bukan sikap terpuji, karena termasuk ciri khas orang kafir.

Imam As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas,

“Semata menggali kapan kimat, sudah dekat atau masih jauh, tidak memiliki manfaat sama sekali. Yang lebih penting adalah kondisi manusia di hari kiamat, rugi, untung, celaka, ataukah bahagia. Bagaimana seorang hamba mendapatkan adzab ataukah sebaliknya, mendapatkan pahala..” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, 672).

Kemudian dalam hadis dari Umar tentang kedatangan Jibril, dinyatakan bahwa Jibril bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kapan kiamat. Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا المَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya..” (HR. Bukhari 4777 dan Muslim 106).

Kita bisa perhatikan, dua makhluk terbaik, malaikat terbaik (Jibril) dan manusia terbaik (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), tidak diberi tahu oleh Allah kapan terjadinya kiamat, mungkinkah ada manusia yang jauh lebih rendah kedudukannya mengetahui kapan kiamat?.

Ada Ulama Yang Menghitung Usia Kaum Muslimin

Meskipun kita akui, ada beberapa ulama yang berusaha memprediksi terjadinya kiamat. Diantaranya adalah Imam Ibnu Jarir At-Thabari (wafat 310 H) rahimahullah, beliau menggali berbagai dalil – sekalipun dhaif – dan menyimpulkan bahwa kehancuran dunia setelah 500 tahun setelah kenabian. (Mukadimah Ibnu Khaldun, hlm. 449).

Saat ini telah melewati 1400 pasca-kenabian, dan tidak benar apa yang beliau prediksikan.

Menyusul selanjutnya adalah Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) rahimahullah. Beliau menulis satu kumpulan riwayat yang berjudul “Al-Kasyaf” yang menyimpulkan bahwa kiamat akan terjadi di awal abad 15 H. (Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyah, 2/66. Dinukil dari Al-Qiyamah Al-Kubro, Dr. Umar Al-Asyqar, hlm. 122).

Mengingat ini hanya prediksi tanpa dasar yang jelas, dan murni ijtihad, terlebih itu bertentangan dengan prinsip yang diajarkan dalam syariat, maka tidak selayaknya kita jadikan sebagai acuan.

Persiapkan Bekal untuk akhirat, itu yang penting!

Mencoba menggali waktu kiamat, sama sekali tidak memiliki urgensi bagi kehidupan manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang berusaha menyiapkan amal baik, yang bisa menjadi bekal di hari kiamat.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ada orang arab badui yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kapan kiamat. Di situ, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru balik bertanya,

وَيْلَكَ، وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا

Celaka kamu, apa yang kamu persiapkan untuk kiamat? (HR. Bukhari, Muslim, At-Turmudzi dan yang lainnya).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Dalil Bolehnya Ucapan Selamat Natal

Ada orang yang bedalil dengan al-Quran untuk membolehkan ucapan selamat natal. Bagaimana sikap kita?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada dua prinsip yang perlu kita perhatikan ketika berdalil,

Pertama, keabsahan dalil.

Sebelum menggunakan dalil, kita perlu memastikan kesahihan dalil yang kita gunakan. Dalil yang shahih ada dua: al-Quran dan hadis shahih.

Kedua, cara berdalil yang benar.

Ini bagian yang tidak kalah penting dengan yang pertama. Ketika seseorang telah memiliki dalil yang shahih, dia harus memastikan bahwa cara dia dalam menyimpulkan dalil itu adalah cara yang benar, sehingga tidak menimbulkan pemikiran yang menyimpang.

Kita bisa perhatikan, hampir semua aliran menyimpang yang ada di sekitar kita, semuanya menyebutkan dalil, baik dari al-Quran maupun hadis shahih. Karena secara naluri, setiap manusia ingin menyesuaikan dirinya dengan dalil. Dan dalil inilah yang menjadi umpan mereka untuk menarik para simpatisan dan anggotanya.

Kita bisa perhatikan, dalam mendukung kesesatannya, Ahmadiyah (Baca: Kisah Mubahalah dengan Mirza Ghulam Ahmad)berdalil dengan firman Allah,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad bukanlah bapak dari kalian, namun beliau adalah Rasulullah dan khatam para nabi.” (al-Ahzab: 40)

Menurut mereka, khatam artinya cincin. Sehingga status beliau adalah perhiasan bagi para nabi dan bukan penghujung para nabi. Sehingga membuka peluang untuk munculnya nabi berikutnya. Subhanallah, Maha Suci Allah dengan adanya makna semacam ini dalam al-Quran.

Demikian pula syiah (Baca: Ajaran Syiah), mereka menghalalkan nikah dengan menggunakan dalil firman Allah,

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً

Jika kalian telah menikmati mereka (para wanita), maka berikanlah maharnya sebagai bentuk kewajiban. (QS. an-Nisa: 24).

Padahal ayat ini berbicara tentang kewajiban suami memberikan mahar, setelah dia berhubungan dengan istrinya. Bukan dalil pembenar mut’ah.

Tidak berbeda, LDII, NII, dan aliran sebangsanya. Mereka membenarkan prinsip mereka dengan dalil ayat al-Quran,

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ

Pada hari di mana semua manusia dipanggil bersama imam mereka. (QS. al-Isra: 71).

Menurut mereka setiap manusia harus punya imam. Dan orang yang paling berhak menjadi imam adalah para pemuka aliran mereka.

Padahal makna kata imam dalam ayat itu adalah kitab catatan amal. Sebagaimana ditunjukkan di lanjutan ayat dan juga firman Allah di surat Yasin ayat 12.

Termasuk mereka yang rajin bom bunuh diri dan pembela ISIS. Untuk membenarkan aksi terornya, mereka berdalil dengan firman Allah,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

Bunuhlah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah (kekufuran), dan semua agama hanya menjadi milik Allah. (QS. al-Anfal: 39).

Mereka beranggapan, semua elemen pemerintah yang tidak menggunakan hukum Allah maka mereka semua kafir dan halal darahnya. Sehingga mereka tega membantai umat islam, atas nama jihad.

Dalil al-Quran tentang Bolehnya Ucapan Selamat Natal

Kita layak untuk terheran ketika ada orang yang membenarkan ucapan selamat natal dengan memaksa dalil al-Quran. Ayat yang mereka korbankan untuk mendukung natal, firman Allah,

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 33)

Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun…

Kita layak menyebutnya sebagai musibah, ketika ada orang islam yang memaksa al-Quran untuk membenarkan acara kekufuran.

Menurutnya, Allah memberi keselamatan untuk Nabi Isa di hari kelahirannya, kematiannya, dan ketika beliau dibangkitkan. Maka kita layak memberi ucapan selamat atas kelahiran Isa yang itu diperingati setiap 25 Desember.

Seharusnya mereka berfikir, mana bukti bahwa Nabi Isa dilahirkan tanggal 25 Desember? Adakah ahli sejarah yang bisa membuktikannya? Ataukah hanya doktrin tanpa bukti, sekalipun banyak pakar theologi yang mengingkarinnya.

Seharusnya mereka berfikir, sejatinya natal tidak hanya sebatas memperingati kelahiran Isa. Natal bagian dotrin agama, menjadi momen bagi orang kafir untuk menyembah tuhan mereka.

Jika mereka bersikap adil, seharusnya mereka juga mengucapkan selamat untuk kematian Nabi Isa. Karena dalam ayat di atas dinyatakan,

“Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal …”

Seharusnya mereka berfikir, bahwa di surat Maryam juga, Allah sangat murka kepada orang yang menganggap Allah punya anak,

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا . أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا

Hampir saja langit runtuh, bumi pecah, dan gunung beterbangan. Karena mereka menganggap ar-Rahman punya anak. (QS. Maryam: 90 – 91)

Bagaimana Tafsir yang Benar?

Anda bisa simak beberapa keterangan ahli tafsir berikut,

  1. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

“dalam ayat ini ada penetapan ubudiyah Isa kepada Allah, yaitu bahwa ia adalah makhluk Allah yang hidup dan bisa mati dan beliau juga akan dibangkitkan kelak sebagaimana makhluk yang lain. Namun Allah memberikan keselamatan kepada beliau pada kondisi-kondisi tadi (dihidupkan, dimatikan, dibangkitkan) yang merupakan kondisi-kondisi paling sulit bagi para hamba. Semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada beliau” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 5-230)

  1. Al Qurthubi menjelaskan,

“[Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku] maksudnya keselamatan dari Allah kepadaku -Isa-. [pada hari aku dilahirkan] yaitu ketika di dunia (dari gangguan setan, ini pendapat sebagian ulama, sebagaimana di surat Al Imran). [pada hari aku meninggal] maksudnya di alam kubur. [dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali] maksudnya di akhirat. karena beliau pasti akan melewati tiga fase ini, yaitu hidup di dunia, mati di alam kubur, lalu dibangkitkan lagi menuju akhirat. Dan Allah memberikan keselamatan kepada beliau di semua fase ini, demikian yang dikemukakan oleh Al Kalbi” (Al Jami Li Ahkamil Qur’an, 11/105)

  1. Ath Thabari rahimahullah menjelaskan,

“Maksudnya keamanan dari Allah terhadap gangguan setan dan tentaranya pada hari beliau dilahirkan yang hal ini tidak didapatkan orang lain selain beliau. Juga keselamatan dari celaan terhadapnya selama hidupnya. Juga keselamatan dari rasa sakit ketika menghadapi kematian. Juga keselataman kepanikan dan kebingungan ketika dibangkitkan pada hari kiamat sementara orang-orang lain mengalami hal tersebut ketika melihat keadaan yang mengerikan pada hari itu” (Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, 18/193)

  1. Al Baghawi rahimahullah menjelaskan,

“[Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan] maksudnya keselamatan dari gangguan setan ketika beliau lahir. [pada hari aku meninggal] maksudnya keselamatan dari syirik ketika beliau wafat. [dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali] yaitu keselamatan dari rasa panik” (Ma’alimut Tanzil Fi Tafsiril Qur’an, 5/231)

  1. Dalam Tafsir Al Jalalain (1/399) disebutkan: “[Dan keselamatan] dari Allah [semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali]”
  2. As Sa’di menjelaskan: “Maksudnya, atas karunia dan kemuliaan Rabb-nya, beliau dilimpahkan keselamatan pada hari dilahirkan, pada hari diwafatkan, pada hari dibangkitkan dari kejelekan, dari gangguan setan dan dari dosa. Ini berkonsekuensi beliau juga selamat dari kepanikan menghadapi kematian, selamat dari sumber kemaksiatan, dan beliau termasuk dalam daarus salam. Ini adalah mu’jizat yang agung dan bukti yang jelas bahwa beliau adalah Rasul Allah, hamba Allah yang sejati” (Taisir Kariimirrahman, 1/492)

Mana ada ulama tafsir yang membolehkan selamat natal?

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

anak keberatan nama

Anak Sakit Karena Keberatan Nama

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mohon penjelasannya Pak Ustadz

Saya punya anak namnya Maulana Rakha Sudirman, umur 5 tahun. Dia ini rentan sakit, seringnya demam. Betul-betul sering, Pak Ustadz.

Dokter tidak bilang ada penyakit serius dengan anak saya. Hanya diminta mewaspadai bintik-bintik merah tanda demam berdarah. Hingga kini bintik itu tidak ada.

Nah Pak Ustadz, kata orang-orang tua di kampung, nama anak saya ini berat. Berat yang bagaimana ini yang bikin saya bingung. Dulu waktu baru lahir namanya Maulana Brama Sudirman. Karena sering sakit–dan itu tadi namanya berat kata orang tua–, saya ganti jadi Maulana Rakha Sudirman.

Adakah penjelasan syar’i atas masalah anak ini, wahai Pak Ustadz?

Oya, anak saya ini terpaksa distop minum asi diusia 3 bulan. Sebab ibunya hamil lagi waktu itu.

Terima kasih atas penjelasannya.

Jawaban:

Wa’alaikum Salam warahmatullahi wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam menganjurkan untuk mengganti nama yang melanggar syariat. Diantara kriteria nama yang melanggar syariat,

Pertama, Nama yang mengandung pujian diri sendiri. Misalnya: Barrah (wanita yang sangat baik sekali)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

أَنّ زَيْنَبَ كَانَ اسْمُهَا بَرّةَ، فَقِيلَ: تُزَكّي نَفْسَهَا، فَسَمّاهَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم زَيْنَبَ

Dulu Zainab bernama Barrah, sehingga orang berkomentar: dia memuji dirinya sendiri. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menangganti namanya dengan Zainab. (HR. Bukhari 6192 & Muslim 5732)

Dalam riwayat lain, Juwairiyah juga sebelumnya bernama Barrah, kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Juwairiyah. (HR. Muslim 5729).

Kedua, Nama yang maknanya jelek atau keras.

Ibnu Umar menceritakan,

أَنَّ ابْنَةً لِعُمَرَ كَانَتْ يُقَالُ لَهَا عَاصِيَةُ فَسَمَّاهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَمِيلَةَ

Salah satu putri Umar bin Khattab ada yang diberi nama Ashiyah (wanita pembangkang). Kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Jamilah. (HR. Ahmad 4785 dan Muslim 5727)

Dalam Ensiklopedi Fiqh Islam dinyatakan,

وقد غيَّر النبي صلى الله عليه وسلم الأسماء الممنوعة، فغير اسم عاصية فسماها جميلة، وحَزْن باسم سهل، وبرّة بزينب، وجثّامة إلى حسّانة، وشهاباً إلى هشام، وحرباً إلى سلم.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengubah nama-nama yang dilarang. Beliau mengganti nama Ashiyah dengan Jamilah, Hazn (sedih) dengan Sahl (mudah), Barrah dengan Zainab, Jatssamah dengan Hassanah, Syihab diganti dengan Hisyam, dan Harb diganti dengan Salam. (Mausu’ah al-Fiqh al-Islami)

Penggantian nama yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan kandungan nama tersebut yang melanggar syariat. Bukan karena orang yang memiliki nama sakit-sakitan. Mereka yang diganti namanya oleh Nabi, keadaannya sehat wal afiyat. Sehingga di sini kita perlu membedakan antara,

  1. Mengganti nama karena kandungan maknanya yang tidak sesuai syariat
  2. Mengganti nama karena takdir buruk yang diderita penyandang nama.

Untuk yang pertama hukumnya dianjurkan dan ditekankan dalam islam. Untuk yang kedua, tidak diperkenankan untuk dilakukan. Karena termasuk mengambil sebab yang bukan sebab, dan itu termasuk perbuatan kesyirikan.

Untuk memahami lebih rinci tentang hukum mengambil sebab yang bukan sebab, bisa anda pelajari di:  Hukum Mengenakan Gelang Magnet untuk Pengobatan

Fatwa Lajnah Daimah

Pertanyaan:

Ada orang yang memiliki anak dan suka sakit-sakitan. Hingga orang tua suaminya menyarankan agar nama anaknya diganti. Karena bisa jadi keberatan nama. Bagaimana hukumnya?

Jawaban Lajnah Daimah,

الأصل في تغيير الأسماء الجواز، وبخاصة إذا كان التغيير إلى اسم أحسن، فقد غير النبي صلوات الله وسلامه عليه بعض أسماء الصحابة

Pada dasarnya mengubah nama hukumnya boleh. Terutama ketika diganti dengan nama yang lebih baik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganti nama sebagian sahabat.

ولكن تغيير الأسماء لأجل الشفاء من المرض أمر غير جائز؛ لأنه من الاعتقادات الباطلة حيث لم يثبت شرعًا ولا حسًا أن ذلك سبب من أسباب شفاء الأمراض

Akan tetapi mengubah nama untuk pengobatan karena sakit, adalah perbuatan yang tidak dibolehkan. Karena ini berawal dari keyakinan yang menyimpang, yang tidak ada dalam syariat, juga tidak terbukti secara ilmu kedokteran, yang menyebutkan bahwa itu termasuk sebab untuk menyembuhkan orang sakit.

وعدم تغيير زوجك أسماء أولاده استجابة لرغبة والدته لا يعد عقوقًا، إذ الطاعة إنما تكون بالمعروف ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

Sementara suami anda tidak mengubah nama anaknya sesuai yang disarankan ortunya, bukan termasuk durhaka. Karena ketaatan hanya untuk perkara yang makruf. Dan tidak ada ketaatan untuk makhluk dalam hal maksiat kepada Sang Pencipta.

Wabillahi at-Taufiq.

Fatwa Lajnah Daimah, Volume 2, no. 95  diketuai Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hantu kamar

Takut Melihat Setan

Ketika kita melihat mahluk asral lalu kita membaca do,a dan ayat al,quran trus kita masi merasa ketakutan dan merinding , dengan kejadian yg saya alami apa yg saya perbuat jika itu masi ter ulang us,taz?

Dari Ansar

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kami kembali menekankan bahwa hakekat hantu adalah jin yang menampakkan diri kepada manusia dalam rupa yang bukan aslinya.

Kita dan jin sama-sama mendapatkan tugas syariat. Mereka makhluk kita juga makhluk. Tidak ada kelebihan yang mereka miliki melebihi kita selain keadaan mereka yang tidak bisa kita lihat, sementara mereka bisa melihat kita.

Allah berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ …

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga; ia menanggalkan pakaiannya dari keduanya untuk memperlihatkan–kepada keduanya–‘auratnya. Sesungguhnya, iblis dan golongannya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka.” (Qs. Al-A’raf:27)

Dan karena karakternya yang tidak bisa dilihat, mereka disebut jin, dari kata janna yang artinya tersembunyi.  Ibnul Faris dalam kamusnya mengatakan,

فالجن سموا بذلك لأنهم مستترون عن الإنس

Jin dinamakan jin, karena mereka tidak terlihat oleh manusia. (Maqayis al-Lughah, madah; janna).

Akan tetapi jin bisa menjelma menjadi makhluk yang lain, sehingga bisa terindra oleh manusia. Baik dengan dilihat, didengar, atau diraba.

Lalu Apa yang Harus Kita Lakukan Ketika Melihat Jin?

Secara umum manusia merasa sangat takut melihat penampakan jin, makhluk astral. Karena secara naluri, kita takut terhadap wajah buruk, mengerikan, nan menjijikkan.

Untuk itu, yang terpenting di sini adalah kita tidak secara sengaja mencari-cari masalah agar bisa melihat penampakan makhlulk astral itu. Disamping tidak ada manfaatnya, perbuatan semacam ini bisa membuat jin semakin bangga untuk mempermainkan kita.

Kemudian, secara umum, jin yang menampakkan diri kepada manusia, ada yang bermaksud jahat dan ada yang sebatas iseng.

Terkadang setan itu datang dengan maksud jahat, misalnya ingin membunuh kita atau membakar kita. Kejadian semacam ini pernah dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Tayah meriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Abdurrahman bin Janbasy, ‘Apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika setan hampir saja membunuh beliau.

Kemudian Abdurrahman menceritakan,

Suatu ketika datang beberapa setan dari berbagai lembah untuk menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka turun dari beberapa pegunungan, dan diantara mereka ada salah satu yang membawa obor dengan api menyala-nyala. Dia ingin membakar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun merasa takut. Kemudian datang Jibril ‘alaihis salam, dan mengajarkan,

‘Hai Muhammad, ucapkan..!’ kata Jibril.

“Apa yang harus kuucapkan?” tanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tegas Jibril, “Ucapkan,

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِى لاَ يُجَاوزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِى الأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقاً يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak akan dilewati oleh orang baik dan orang durhaka, dari kejahatan apa yang diciptakan dan dijadikan-Nya, dari kejahatan apa yang turun dari langit dan yang naik ke dalamnya, dari kejahatan yang tumbuh di bumi dan yang keluar darinya, dari kejahatan fitnah-fitnah malam dan siang, serta dari kejahatan-kejahatan yang datang (di waktu malam) kecuali dengan tujuan baik, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Seketika itu, api yang dibawa setan tadi langsung padam dan merekapun pergi.

(HR. Ahmad 3/419 dengan sanad yang shahih, Ibnus Sunni no. 637, Majma’uz Zawa’id 10/127 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Kemudian, terkadang ada juga setan yang menampakkan diri hanya sebatas iseng. Bukan untuk menyakiti atau membunuh manusia. Salah satunya, ada yang datang untuk mengambil barang milik manusia, sebagaimana peristiwa yang pernah dialami Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Beliau menceritakan, bahwa beliau pernah ditugasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga zakat ramadhan. Malam harinya datang seorang pencuri dan mengambil makanan. Dia langsung ditangkap oleh Abu Hurairah. “Akan aku laporkan kamu ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Orang inipun memelas. Minta dilepaskan karena dia sangat membutuhkan dan punya tanggungan keluarga. Dilepaslah pencuri ini. Siang harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Hurairah tentang kejadian semalam. Setelah diberi laporan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia dusta, dia akan kembali lagi.” Benar, di malam kedua dia datang lagi. Ditangkap Abu Hurairah, dan memelas, kemudian beliau lepas. Malam ketiga dia datang lagi. Kali ini tidak ada ampun. Orang inipun minta dilepaskan. “Lepaskan aku, nanti aku ajari bacaan yang bermanfaat untukmu.” Dia mengatakan:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ}، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai satu ayat. Maka akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”

Di pagi harinya, kejadian ini dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. kemudian beliau bersabda: “Kali ini dia benar, meskipun aslinya dia pendusta.” (HR. Bukhari 2311)

Yang ditangkap oleh Abu Hurairah waktu itu adalah jin yang menjelma menjadi bentuk lain. Ketika menjelaskan hadis ini, al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan,

“Jin terkadang menjelma dengan berbagai bentuk sehingga memungkinkan bagi manusia untuk melihatnya. Firman Allah Ta’ala, ‘Sesungguhnya iblis dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka,’ khusus pada kondisi bentuknya yang asli sebagaimana dia diciptakan.” (Fathul Bari, 4/489).

Kejadian yang sama juga dialami Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu.

Suatu ketika beliau menangkap jin yang mencuri kurma di kebunnya. Ubay bin Ka’ab berkata kepada Jin: “Apa yang bisa menyelamatkan kami (manusia) dari (gangguan) kalian?”. Si jin menjawab: “Ayat kursi… Barangsiapa membacanya di waktu sore, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga pagi, dan barangsiapa membacanya di waktu pagi, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga sore”. Lalu paginya Ubay menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- untuk menuturkan hal itu, dan beliau menjawab:

صَدَقَ الْخَبِيثُ

“Si buruk itu berkata benar”. (HR. Hakim 2064, Ibnu Hibban 784, Syuaib al-Arnauth mengatakan: Sanadnya kuat).

Untuk jenis kedua ini, disarankan agar kita tidak mempedulikannya, cuek, atau cukup dengan membaca ayat kursi atau dzikir lainnya. Tidak disarankan mengajak bicara atau mewawancarai karena bisa membuat mereka merasa diladeni dengan permainan yang dia lakukan.

Dan jika dia melakukannya di rumah, usaha terpenting yang bisa dilakukan adalah mengusirnya dari rumah. Mengenai cara mengusir jin dari rumah baca: Cara Mengusir Jin dari Rumah 

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,186FansLike
3,849FollowersFollow
29,897FollowersFollow
61,020SubscribersSubscribe

RAMADHAN