tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

membangun gereja

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum

Apa hukum masuk gereja atau tempat peribadatan non muslim lainnya?
Terima kasih.

Dari: Arriqa

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Ustadz bisa tolong jelaskan seperti apa istidraj itu? Syukron Ustadz. Wassalamu’alaikum

Dari: Annisa

Jawaban:

Cerai Karena Istri Murtad

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum

Saat ini saya telah bercerai dengan istri yang dikaruniai 2 orang anak usia 5,5 tahun dan 4 tahun. Perceraian itu terjadi karena mantan istri saya kembali pada keyakinan yang dulu (Kristen), sebelum menikah istri masuk Islam.

Pertanyaan saya:
1. Bagaimana pertanggungjawaban saya di hadapan Allah SWT, karena anak-anak saya tersebut di bawah asuhan ibunya sehingga beragama Kristen?

2. Sebenarnya hati saya berat karena saya sangat sayang kepada anak-anak, tapi karena saya mempertahankan aqidah Islam saya putuskan untuk menceraikan istri saya tersebut. Saat ini saya sedang gundah dan khawatir dengan perkembangan anak-anak saya, sedangkan mantan istri mengharapkan bersatu kembali tetapi tetap tidak mau masuk Islam. Harus bagaimankah saya?

Demikian pertanyaan saya, mohon jawaban sejelas mungkin, sehingga pemahaman saya tentang Islam semakin bertambah. Kurang lebihnya mohon maaf, terima kasih atas perhatian dan kesediaan menjawab pertanyaan saya. Semoga akan menjadi amal kebaikan bagi tim konsultasisyariah.com

Wassalamu’alaikum

K-Yogyakarta

Dari: Kresna Raya

Hukum Mengumumkan Berita Duka di Koran

Pertanyaan:
Sebagian orang ada yang mengumumkan berita duka tentang kematian kerabatnya di koran-koran dengan menggunakan ruang halaman yang cukup besar, kadang tulisannya berwarna putih dengan background warna hitam, kadang pula sekedar tulisan biasa. Bagaimana hukum perbuatan ini?

Pertanyaan:
Jika kita telah berusaha mencegah gunjingan dan hasutan di antara manusia, adakalanya orang yang kita ajak kepada kebaikan dan kita cegah dari keburukan itu malah mencela dan marah kepada kita. Apakah kita berdosa karena kemarahannya, walaupun itu salah seorang orang tua kita? Apakah kita tetap harus mencegah mereka atau membiarkan hal yang tidak kita perlukan dalam hal ini? Kami mohon jawaban, semoga Allah menunjuki Syaikh.

Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita dalam barisan orang-orang yang beriman. Kami memohon kepada Allah agar kita semua diberi kekuatan untuk bisa istiqomah di atas tauhid sampai mati.

Semua umat Islam sepakat bahwa syirik adalah dosa yang sangat besar, yang tidak akan Allah ampuni jika dibawa sampai mati dan pelakunya belum bertaubat.

Namun sayangnya banyak orang yang tidak memahami pengertian yang tepat tentang syirik. Akibatnya, banyak orang yang melakukan perbuatan syirik namun dia tidak merasa kalau dirinya telah melakukan kesyirikan.

Bahkan yang lebih menyedihkan, ada orang yang melakukan kesyirikan namun dia merasa sedang melakukan ibadah. Sehingga sangat sulit bagi orang yang terjerumus ke dalam perbuatan ini untuk diingatkan. Karena bagaimana mungkin perbuatannya bisa disalahkan sementara dia meyakini bahwa dirinya sedang mendapatkan pahala dengan perbuatannya.

Kita ucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, ada musibah besar yang menimpa kaum muslimin; melakukan perbuatan yang mendatangkan murka Allah namun dia merasa sedang mendapatkan pahala dari Allah.

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah (wahai Muhammad): apakah telah kami sampaikan kepada kalian tentang orang yang paling rugi perbuatannya? Mereka itulah orang-orang yang sesat amal perbuatan mereka di dunia sementara mereka bahwa diri mereka sedang berbuat kebaikan.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Sungguh benar apa yang disebutkan dalam sebuah hadis:

الشرك في هذه الأمة أخفى من دبيب النمل

Sesungguhnya syirik pada umat ini (umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih samar dari pada jejak semut.” (disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam kitab Al-Iman dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Betapa tersembunyi dan samarnya gambaran syirik yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika hanya dilihat secara selintas tanpa diamati dengan seksama, maka tidak mungkin orang akan bisa melihatnya. Karena itulah banyak di antara kaum muslimin yang terjerumus ke dalamnya. Namun, sayangnya banyak orang yang dirinya merasa aman dari kesyirikan. Hanya kepada Allah kita berlindung.

Pengertian Syirik
Untuk memahami hakikat syirik, terlebih dahulu kami sampaikan pengertian syirk. Secara bahasa syirik artinya menduakan atau menggolongkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Sedangkan secara istilah, ada beberapa pengertian yang disampaikan oleh para ulama. Definisi yang paling bagus adalah definisi yang dibawakan oleh Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim dalam catatan beliau untuk kitab tauhid, beliau memberi keterangan bahwa

تسوية غير الله بالله في شيء من خصائص الله

“Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi sifat khusus bagi Allah.”

Allah berfirman menceritakan teriakan orang musyrik ketika di akhirat,

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Demi Allah, sesungguhnya kami dulu (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata. Karena kami mempersekutukan kalian (para sesembahan selain Allah) dengan Rab semesta alam.” (QS. As-Syu’ara: 97 – 98)

Ketika ada makhluk yang derajatnya diangkat tinggi-tinggi, sehingga berada pada derajat yang setara dengan Allah, itulah syirik. Ketika ada makhluq yang dijadikan sebagai sandaran dalam berdoa, atau membantu mewujudkan keinginan, itulah syirik. Karena doa dan permohonan yang mampu dikabulkan oleh Allah, hanya boleh ditujukan kepada Allah.

Barangsiapa yang memberikan doa ini kepada selain Allah, siapa pun orangnya, maka dia berarti telah merampas hak khusus Allah. Itu sebabnya, syirik merupakan tindakan kezhaliman yang paling besar, karena syirik telah merampas hak Dzat Yang Maha Besar, yaitu Allah Ta’ala. Allah berfirman menceritakan nasihat Luqman,

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Wahai anakku, jangan menyekutukan Allah. Karena syirik adalah kezaliman yang besar.” (QS. Al-Isra: 13)

Fenomena UN
Satu peristiwa yang sangat mencengangkan, ketika teror nasional UN datang, ratusan siswa justru mengadu ke kuburan. Di saat mereka sangat membutuhkan pertolongan, di saat mereka sangat membutuhkan bantuan, di saat mereka sangat mengharapkan keberhasilan, di saat mereka harus mendekatkan diri kepada Allah, di saat mereka harus berusaha mencari ridha Allah, namun sangat disayangkan, mereka justru mendekatkan diri kepada makhluk, mereka justru mengundang murka Allah, berbagai macam ritual yang mereka lakukan, tidak mencerminkan keinginan mereka untuk menaruh harapan kepada Allah.

Makam Abdurrahman Wahid di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir ini dipadati para pelajar yang datang dari berbagai daerah. Mereka datang memanjatkan doa agar lulus dalam ujian nasional (UN).

Para siswa di Kudus, Jawa Tengah, juga tidak lupa berziarah ke makam Sunan Kudus. Mereka berharap agar diberikan kekuatan mental dan spiritual sehingga dapat menyelesaikan soal UN dengan baik.

Ritual mencuci kaki ibu dijalani siswa di Jambi. Pengalaman spiritual yang merevitalisasi kedekatan hubungan batin antara ibu dan anaknya tersebut diharapkan memberikan suntikan semangat pada setiap siswa untuk berjuang keras menyelesaikan ujian nasional.

Hampir serupa, siswa di Nganjuk, Jawa Timur, menjalani ritual sungkeman sambil membasuhkan air bunga ke kaki guru. Para siswa juga meminta maaf kepada adik-adik kelas mereka layaknya ritual bermaaf-maafan saat Lebaran.

[http://www.mediaindonesia.com/read/2012/04/16/313143/265/114/Siswa-Mengadu-ke-Kuburan-Hadapi-UN]

Anda sebagai seorang muslim tentu paham, ketika seseorang sangat membutuhkan pertolongan Allah, seharusnya yang dia lakukan adalah rajin shalat, atau rajin tahajud, atau puasa sunah, atau sedekah, atau amal ibadah lainnya.

Agar tidak terlalu panjang lebar, kita fokuskan pembahasan untuk hukum berdoa di kuburan. Jika kita memperhatikan ritual doa yang dilakukan masyarakat ketika ziarah kubur, berdoa di kuburan bisa kita kelompokkan menjadi empat macam;

Pertama: Mendoakan penghuni kubur
Kedua: Berdoa dengan meminta kepada Allah di kuburan, karena keyakinan agar lebih mustajab.
Ketiga: Berdoa dengan meminta kepada penghuni kubur, dengan keyakinan Allah-lah yang mengabulkan, sementara penghuni kubur hanya perantara.
Keempat: Berdoa dengan meminta kepada penghuni kubur, dengan keyakinan dia bisa mengabulkan doa.

Dari keempat ritual doa di atas, hanya satu yang dituntunkan dalam syariah, mendoakan penghuni kubur. Inilah yang disyariatkan. Sebagaimana kita sepakati, orang yang sudah meninggal, dia tidak lagi mampu menambah amal. Dan andaikan mayit diberi kesempatan untuk hidup sekejap saja, niscaya akan mereka gunakan untuk melakukan amal yang bisa menyelamatkan mereka dari adzab atau amal yang semakin meningkatkan derajat mereka.

Allah menceritakan keadaan penghuni kubur yang menyesal setelah menjumpai kematian,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ( ) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mukminun: 99 – 100)

Dalam hadis riwayat Baihaqi dari Ibnu Abbas, dinyatakan,

ما الميت في القبر إلا كالغريق المتغوث ، ينتظر دعوة تلحقه من أب أو أم أو أخ أو صديق ، فإذا لحقته كانت أحب إليه من الدنيا وما فيها ، … وإن هدية الأحياء إلى الأموات الاستغفار لهم

“Mayit dalam kuburnya, seperti orang tenggelam yang butuh pertolongan, mereka menunggu doa yang dipanjatkan oleh ayahnya atau ibunya atau saudaranya atau temannya. Jika dia mendapatkan doa, maka itu lebih dia cintai dari pada dunia seisinya. Sesungguhnya hadiah berharga dari orang hidup kepada orang mati adalah permohonan ampun untuk mereka.” (HR. Baihaqi, no.7527)

Hadis ini mengisyaratkan betapa butuhnya mereka terhadap doa kita. Mereka sangat menantikan permintaan ampunan kita kepada Allah. Karena itulah, Islam mengajarkan agar kita lebih banyak mendoakan mereka, dan bukan sebaliknya. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istrinya tercinta, A’isyah radhiallahu ‘anha, ketika beliau bertanya,

كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟

Apa yang harus aku ucapkan untuk mereka (penghuni kubur), ya Rasulullah?

Beliau menjawab,

قُولِي: السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، …

Ucapkanlah, Assalaamu ‘alaa ahli diyaar… dst.” (HR. Muslim, no.974)

Ritual yang kedua:
Berdoa dengan meminta kepada Allah di kuburan, karena keyakinan agar lebih mustajab

Perbuatan ini, meskipun bukan termasuk kesyirikan, tapi setidaknya ini adalah cara mencari berkah yang salah. Karena kuburan bukanlah tempat yang berkah. Jika kita berharap agar doa kita dikabulkan, seharusnya doa itu dilakukan di masjid, karena inilah tempat yang paling dicintai Allah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا

Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid.” (HR. Muslim, no.671)

Karena masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah maka itulah peluang besar agar doa kita dikabulkan oleh Allah.

Sebaliknya, kuburan bukanlah tempat untuk ibadah. Dalam banyak hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum muslimin shalat di kuburan. Beliau bersabda,

لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ، وَلَا تَجْلِسُوا عَلَيْهَا

Jangan shalat menghadap ke kuburan dan jangan duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim, no.972)

Beliau juga mengontraskan antara rumah dengan kuburan, dan beliau anjurkan agar menjadikan rumah sebagai tempat membaca Alquran:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim, 780)

Agar rumah kita tidak seperti kuburan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi bimbingan agar dalam rumah kita, rajin-rajin dibacakan Alquran, terutama surat Al-Baqarah.

Sementara untuk dua ritual terakhir:
Berdoa dengan meminta kepada penghuni kubur, dengan keyakinan Allah-lah yang mengabulkan, sementara penghuni kubur hanya perantara.”

“Berdoa dengan meminta kepada penghuni kubur, dengan keyakinan dia bisa mengabulkan doa.”

Dua ritual ini bisa kita tegaskan sebagai perbuatan kesyirikan. Karena inilah kesyirikan masyarakat jahiliyah. Meskipun dia berkeyakinan bahwa yang mengabulkan doa hanya Allah, sementara penghuni kubur hanya perantara. Pada dua ritual di atas, ada dua kasus yang perlu dibedakan;

Meminta sesuatu yang hanya mungkin dikabulkan oleh Allah, namun ditujukan kepada selain Allah (penghuni kubur).

Keyakinan Bahwa Penghuni Kubur Bisa Mengabulkan Doa
Pertama, berdoa, meminta sesuatu yang hanya mungkin dikabulkan oleh Allah, namun ditujukan kepada selain Allah (penghuni kubur).

Kita semua paham bahwa doa termasuk ibadah. Karena itu, jika doa ini ditujukan kepada selain Allah, maka itu sama halnya dengan mensejajarkan makhluk yang dimintai doa dengan Allah, dan itu kesyirikan. Hal ini sebagaimana yang Allah tegaskan dalam banyak ayat. Di antaranya, firman Allah,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, karena itu, janganlah berdoa kepada seorang-pun, disamping kita juga berdoa kepada Allah.” (QS. Al-Jin: 18).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَة

Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud, no.1479)

Orang yang berdoa kepada penghuni kubur, meskipun dia berkeyakinan bahwa yang nantinya mengabulkan doa adalah Allah, sejatinya orang ini telah terjebak dalam kesyirikan. Karena perbuatan ini berarti memberikan bentuk peribadatan kepada selain Allah.

Inilah model kesyirikan masyarakat jahiliyah, sebagaimana yang Allah ceritakan:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (QS. Az-Zumar: 3)

Mereka yakin bahwa Allah-lah yang mengabulkan doa, yang memutuskan perkara, karena itu maksud mereka berdoa kepada selain Allah bukan karena keyakinan mereka yang mengabulkan doa, tapi karena keyakinan merekalah yang akan mendekatkan doanya kepada Allah.

Kedua, keyakinan bahwa penghuni kubur bisa mengabulkan doa.

Keyakinan ini sama halnya dengan menyamakan makhluk dengan Allah dalam hal pengabulan doa, ini jelas kesyirikan dengan sepakat kaum muslimin. Oleh karena itu, jika ada orang yang berdoa kepada penghuni kubur dengan keyakinan dia bisa mengabulkan doa, maka orang ini melakukan dua bentuk kesyirikan:

Syirik karena berdoa kepada selain Allah.

Syirik karena keyakinan bahwa mereka bisa mengabulkan doa.

Kita memohon kepada Allah, agar Dia melindungi kita dari segala bentuk kesyirikan, yang nampak maupun yang samar.
Allah a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

Pertanyaan:
Ada seseorang yang mengingkari suatu kemungkaran dengan keras pada seseorang, tapi masalah itu merupakan masalah yang mengandung perbedaan pendapat di kalangan ulama. Lalu orang yang diingkarinya itu membantahnya dengan mengatakan, ‘Anda tidak berhak mengingkari saya dalam masalah ini, karena masalah ini fleksible.’ Lalu, apa kriteria-kriteria untuk mengingkari kemungkaran? Apakah benar tidak boleh mengingkari (masalah khilafiyah) sesuatu yang mengandung perbedaan pendapat? Dan apa hukum orang mengingkari kemungkaran orang lain dalam masalah khilafiyah (masalah-masalah yang mengandung perbedaan pendapat)?

Jawaban:
Masalah-masalah khilafiyah adalah ruang lingkup ijtihad, karena tidak ada nashnya yang jelas dan tidak ada dalil yang shahih untuk menguatkan salah satu pendapat. Oleh karena itulah terjadi perbedaan pendapat di antara para imam yang terkenal. Hal ini biasanya berkaitan dengan masalah-masalah cabang syari’at (masalah furu’iyah). Hal ini tidak boleh diingkari dengan keras terhadap salah seorang mujtahid. Misalnya tentang bacaan basmalah dengan suara nyaring, bacaan di belakang imam, duduk tawarruk pada rakaat kedua, bersedekap setelah bangkit dari ruku, jumlah tabir pada shalat jenazah, kewajiban zakat pada madu, sayur-mayur, dan buah-buahan, berbuka karena berbekam, kewajiban membayar fidyah bagi yang sedang ihram karena lupa atau memotong rambut atau mengenakan wewangian karena lupa, dan sebagainya.

Tapi jika perbedaan itu tipis dan bertolak belakang dengan nash yang jelas, maka pelakunya diingkari jika meninggalkannya tapi pengingkarannya harus berdasarkan dalil. Misalnya tentang mengangkat kedua tangan ketika hendak ruku dan ketika bangkit dari ruku, thuma’ninah ketika ruku dan sujud dan setelah bangkit dari ruku dan sujud, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tasyahud, wajibnya salam sebagai penutup shalat, dan lain sebagainya.

Adapun perbedaan pendapat dalam masalah akidah, seperti sifat tinggi dan istiwa, penetapan sifat-sifat fi’liyah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, penciptaan perbuatan-perbuatan makhluk, peng-kafiran karena dosa, memerangi pemimpin, mencela para sahabat, sifat permulaan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, berlebih-lebihan terhadap Ali dan keturunannya serta isterinya, keluarnya amal perbuatan dari cakupan keimanan, mengingkari karamah, membuat bangunan di atas kuburan, shalat di dekat kuburan, dan lain sebagainya. Yang demikian ini harus diingkari dengan keras, karena para imam telah sepakat pada pendapat para pendahulu umat, adapun perbedaan pendapat datangnya dari para pelaku bid’ah atau setelah tiadanya para imam pendahulu umat. Wallahu a’lam.
Al-Lu’lu al-Makin, dari Fatwa Syeikh Ibnu Jibrin, hal. 296-297

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, Darul Haq Cetakan VI 2010

Note: Oleh karena itu, harus diketahui mana yang dikategorikan perbedaan pendapat ulama dan mana yang dikatakan penyimpangan namun dibungkus dengan baju ajaran agama. Sebagian orang yang melakukan penyimpangan dengan baju ajaran agama mengatakan, “Kita harus menghargai perbedaan pendapat ulama” ketika diperingatkan dari kesalahannya.

SOCIAL

8,221FansLike
3,896FollowersFollow
29,993FollowersFollow
61,293SubscribersSubscribe

RAMADHAN