tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

Pertanyaan:
Ada seseorang yang mengingkari suatu kemungkaran dengan keras pada seseorang, tapi masalah itu merupakan masalah yang mengandung perbedaan pendapat di kalangan ulama. Lalu orang yang diingkarinya itu membantahnya dengan mengatakan, ‘Anda tidak berhak mengingkari saya dalam masalah ini, karena masalah ini fleksible.’ Lalu, apa kriteria-kriteria untuk mengingkari kemungkaran? Apakah benar tidak boleh mengingkari (masalah khilafiyah) sesuatu yang mengandung perbedaan pendapat? Dan apa hukum orang mengingkari kemungkaran orang lain dalam masalah khilafiyah (masalah-masalah yang mengandung perbedaan pendapat)?

Jawaban:
Masalah-masalah khilafiyah adalah ruang lingkup ijtihad, karena tidak ada nashnya yang jelas dan tidak ada dalil yang shahih untuk menguatkan salah satu pendapat. Oleh karena itulah terjadi perbedaan pendapat di antara para imam yang terkenal. Hal ini biasanya berkaitan dengan masalah-masalah cabang syari’at (masalah furu’iyah). Hal ini tidak boleh diingkari dengan keras terhadap salah seorang mujtahid. Misalnya tentang bacaan basmalah dengan suara nyaring, bacaan di belakang imam, duduk tawarruk pada rakaat kedua, bersedekap setelah bangkit dari ruku, jumlah tabir pada shalat jenazah, kewajiban zakat pada madu, sayur-mayur, dan buah-buahan, berbuka karena berbekam, kewajiban membayar fidyah bagi yang sedang ihram karena lupa atau memotong rambut atau mengenakan wewangian karena lupa, dan sebagainya.

Tapi jika perbedaan itu tipis dan bertolak belakang dengan nash yang jelas, maka pelakunya diingkari jika meninggalkannya tapi pengingkarannya harus berdasarkan dalil. Misalnya tentang mengangkat kedua tangan ketika hendak ruku dan ketika bangkit dari ruku, thuma’ninah ketika ruku dan sujud dan setelah bangkit dari ruku dan sujud, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tasyahud, wajibnya salam sebagai penutup shalat, dan lain sebagainya.

Adapun perbedaan pendapat dalam masalah akidah, seperti sifat tinggi dan istiwa, penetapan sifat-sifat fi’liyah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, penciptaan perbuatan-perbuatan makhluk, peng-kafiran karena dosa, memerangi pemimpin, mencela para sahabat, sifat permulaan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, berlebih-lebihan terhadap Ali dan keturunannya serta isterinya, keluarnya amal perbuatan dari cakupan keimanan, mengingkari karamah, membuat bangunan di atas kuburan, shalat di dekat kuburan, dan lain sebagainya. Yang demikian ini harus diingkari dengan keras, karena para imam telah sepakat pada pendapat para pendahulu umat, adapun perbedaan pendapat datangnya dari para pelaku bid’ah atau setelah tiadanya para imam pendahulu umat. Wallahu a’lam.
Al-Lu’lu al-Makin, dari Fatwa Syeikh Ibnu Jibrin, hal. 296-297

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, Darul Haq Cetakan VI 2010

Note: Oleh karena itu, harus diketahui mana yang dikategorikan perbedaan pendapat ulama dan mana yang dikatakan penyimpangan namun dibungkus dengan baju ajaran agama. Sebagian orang yang melakukan penyimpangan dengan baju ajaran agama mengatakan, “Kita harus menghargai perbedaan pendapat ulama” ketika diperingatkan dari kesalahannya.

hukum seputar nadzar

Hukum Mengganti Nadzar

Pertanyaan:
Setelah seseorang menentukan nadzar dan arahnya, apakah boleh seseorang merubahnya bila mendapatkan arah yang lebih berhak?

dakwah islam

Tidak Berdakwah karena Takut Riya’

Pertanyaan:
Seorang wanita bertanya dengan mengatakan, “Saya takut riya, sampai-sampai saya tidak bisa menasihati orang lain atau mencegahnya dari perbuatan-perbuatan tertentu, seperti; menggunjing, menghasut dan lain-lain. Saya khawatir itu menimbulkan riya pada diri saya, dan saya khawatir orang mengiranya riya. Karena itu saya tidak menasihati mereka sedikit pun, bahkan terdetik dalam hati saya bahwa mereka pun orang-orang terpelajar, mereka tidak membutuhkan nasihat.” Bagaimana petunjuk Syaikh?

Tarif Nikah Mut’ah di Iran

Bukan rahasia lagi bahwasanya Iran merupakan negara republik yang berideologi Syiah. Ajaran Syiah benar-benar hidup dan berkembang di tengah masyarakat negeri para mullah ini. Oleh karena itu, sangat mudah kita temukan praktik-praktik ajaran Syiah yang jarang kita temui di tanah air Indonesia. Di antara ajaran Syiah yang memiliki keutamaan besar menurut mereka adalah nikah mut’ah atau kawin kontrak.

hukum seputar nadzar

Hukum Menunda Nadzar

Pertanyaan:
Apakah hukum mengundur-undur pelaksanaan nadzar setelah syarat yang dikaitkan dengannya telah terealisasi (apa yang dinadzarkan telah terkabul pen.), seperti orang yang mengetakan, “Aku bernadzar kepada Allah untuk berpuasa selama lima hari bila sakitku sembuh” dan ternyata dia memang sembuh. Namun dia mengundur-undur berpuasa sekian hari itu. Perlu diketahui, bahwa dalam hal ini dia tidak menentukan kapan waktunya. Apakah dia wajib berpuasa selama lima hari tersebut secara berturut-turut? Dan apakah dia wajib membayar kafarat karena mengundur-undur pelaksanaan nadzarnya tersebut sekalipun dia tidak berniat mengingkari nadzar itu?

Pertanyaan:
Bagaimana menurut syariat mengenai kebiasaan sebagian wanita zaman sekarang, apabila salah seorang teman mereka dianugerahi anak, mereka memberikan kado berupa uang yang jumlahnya cukup besar dan terkadang memberatkan suami. Apakah ini ada dasarnya dalam syariat?

nabi isa

Apakah Nabi Isa Telah Wafat?

Pertanyaan:
Assalamu‘alaikum

Hari Jumat pemerintah menetapkan sebagai hari libur nasional, peringatan wafatnya Al-Masih. Sebagian kaum muslimin berkeyakinan bahwa nabi isa masih hidup. Ada juga yang mengatakan sudah mati. Mana yang benar?
Matur nuwun

Dari: Arfaq

Syiah Mengulang Sejarah – Satu tahun terakhir ini, dunia Arab dihebohkan dengan berita-berita penggulingan penguasa-penguasa di beberapa negaranya; Tunisia, Mesir, Yaman, Libia, Bahrain, dan Suriah, sebagian besar berhasil dijatuhkan. Alasannya adalah karena pemimpin-pemimpin itu gagal mensejahterakan rakyatnya, mereka sibuk memperkaya diri mereka, dan menikmati kekuasaan sepanjang hidup mereka. Menanggapi hal ini, banyak suara yang pro dan kontra menyikapi pengulingan penguasa-penguasa absolute ini, dengan alasan demokratisasi Arab, kebebasan, hak asasi, bahkan atas nama agama.

Banyak orang-orang yang dianggap tokoh agama memprovokasi masa agar terbakar semangat mereka dan menjanjikan adanya pahala atas apa yang mereka lakukan, apabila berhasil menjatuhkan penguasa-penguasa tersebut. Demikian pula banyak tokoh sekuler mengampanyekan kebebasan dan anti absolutisme. Namun pada kesempatan kali ini kita tidak membicarakan permasalahan politik, kita kerucutkan pembicaraan ini kepada suatu kelompok yang memanfaatkan peluang di balik huru-hara ini untuk menancapkan kuku-kuku beracun mereka yang di kawasan Timur Tengah. Sebuah kelompok yang dicitrakan sebagai pahlawan, namun mereka sebenarnya musuh dalam selimut yang siap menerkam, kelompok tersebut adalah kelompok Syiah.

Sejarah Pengkhianatan Syiah

Syiah bukanlah kelompok kemarin sore yang hadir di lingkungan umat Islam, kelompok ini memiliki sejarah yang panjang. Cikal bakal pemikiran ini muncul di akhir pemerintahan Khalifah al-Rasyid, Utsman bin Affan. Pada waktu itu seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam bernama Abdullah bin Saba’ memprovokasi masa untuk memberontak kepada Utsman bin Affan sehingga menyebabkan terbunuhnya Utsman. Kemudian pada zaman Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Saba mengajak memuja-muja Ali dan mengatakan bahwa Ali-lah yang semestinya menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan Abu Bakar. Abdullah bin Saba’-lah orang yang mencetuskan ajaran Syiah dan berhasil memunculkan perpecahan di barisan kaum muslimin.

Berbalik dengan keadaan saat ini, orang-orang mengatakan bahwa mengatakan Syiah sesat adalah pemecah belah Islam dan antek-antek Yahudi. Hendaknya mereka membaca sejarah yang ditulis oleh ulama-ulama Islam yang amanah bukan malah menjauhkan diri dan sibuk dengan tulisan-tulisan orientalis yang khianat dengan mengatasnamakan bijaksana dan kedewasaan. Berikut ini akan kami cuplikkan rekam jejak kelompok Syiah di saat mereka hadir di tengah-tengah kaum muslimin.

Pada masa kekhalifahan Abasiyah tercatatlah sebuah masa yang kelam dalam sejarah Islam, yaitu masuknya tentara Tatar ke Kota Baghdad yang mengakibatkan jatuhnya Baghdad ke tangan Tatar. Jumlah korban yang tewas tatkala itu benar-benar luar biasa besarnya. Ibnu Katsir menyatakan, “Orang-orang berbeda pendapat mengenai jumlah kaum muslimin yang tewas di Baghdad dalam peristiwa ini. Ada yang mengatakan 800.000 jiwa, ada yang mengatakan 1 juta 8ratus ribu jiwa, dan ada yang mengatakan jumlahnya mencapai dua jutaan jiwa. Korban-korban tewas yang berada di jalanan layaknya gundukan tanah yang bertumpuk-tumpuk. Ketika hujan turun, mayat-mayat mereka segera berubah dan bangkai-bangkai mereka mengeluarkan bau busuk ke seluruh penjuru kota. Udara menjadi tercemar dan menjadi wabah penyakit yang luar biasa dimana-mana, sehingga menyebar dan berterbangan di udara sampai ke negeri Syam. Banyak orang meninggal akibat perubahan cuaca dan tercemarnya udara. Semua orang menderita akibat kenaikan harga, wabah penyakit, kematian, pembunuhan, dan penyakit tha’un. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.” (Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, 13:203).

Mengapa sampai sebanyak itu korban yang tewas oleh kekejaman orang-orang Tatar? Mengapa dengan mudahnya mereka menembus Kota Baghdad tanpa perlawanan yang berarti? Padahal Baghdad adalah pusat pemerintahan. Apakah Dinasti Abasiyah begitu lemahnya sehingga tidak mampu berbuat apa-apa?

Jawabnya adalah Hulagu Khan memiliki seorang kaki tangan di Baghdad yang menempati posisi sangat strategis di pemerintahan Abasiyah, seorang menteri yang bernama Muayyiduddin Abu Thalib Muhammad bin Ahmad al Qami, menteri dari Khalifah Abasiyah, Mu’tashim Billah.

Mu’tashim Billah melakukan kekeliruan besar tatkala dia mengangkat seorang Syiah, Ibnu al Qami dalam jajaran pemerintahannya. Ia menjadikan Ibnu al Qami layaknya seorang perdana menteri. Dia bukanlah menteri yang dapat dipercaya, dan kinerjanya pun tidaklah dapat diharapkan. Dialah yang melapangkan jalan pasukan Tatar memasuki Baghdad sehingga menwaskan manusia dalam jumlah yang sangat besar.

Dengan jabatannya yang strategis, Al Qami memulai langkahnya dengan melemahkan militer Abasiyah. Ia memotong gaji para tentara, mengurangi tunjangan untuk berjihad, jumlah tentara pun ia susutkan, akibatnya lemahlah pertahanan Abasiyah. (Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, 13:235)

Langkah berikutnya ia mulai berkorespondensi dengan Tatar, memotivasi mereka untuk mengadakan ekspansi, ia menceritakan hal-hal yang terjadi di Abasiyah, dan membuka rahasia kelemahan militer kekhalifahan. (Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, 13:235). Ia juga mempengaruhi khalifah agar terus menunda memerangi pasukan Tatar. Setelah itu terjadilah apa yang terjadi, terbunuh banyak korban jiwa, sampai-sampai di antara mereka berandai-andai tidak dilahirkan pada waktu itu karena tak tahan melihat banyaknya korban yang terbunuh.

Bagaimana pula kisah Abu Thahir al Qaramithi, seorang Syiah yang menyerang dan membunuh  jamaah haji di Ka’bah, Mekah, pada hari tarwiyah tahun 317 H. Ia mengubur sumur zam-zam, mengoyak-ngoyak kiswah, dan mencabut hajar aswad lalu mengatakan, “Dimanakah burung-burung yang banyak itu (ababil)?” kemudian hajar aswad dibawa ke negaranya (Yaman) sampai tahun 339 H. (Al Bidayah wa an Nihayah, 11:160-161 dan Al Kamil fi Tarikh, 7:53-54).

Demikian juga percobaan pembunuhan seorang pahlawan Islam Shalahudin al Ayyubi atau Saladin. Orang-orang Syiah tentunya tidak akan lupa bagaimana Shalahudin melenyapkan daulah Syiah, Daulah Fathimiyah. Beberapa kali penyerangan dan percobaan pembunuhan dilakukan oleh orang Syiah untuk membalaskan dendam mereka dan kembali merebut kekuasaan. Terlalu panjang apabila kami uraikan satu per satu makar-makar yang dibuat Syiah sepanjang sejarah Islam. Bagi yang menginginkan pembahasan secara mendalam silahkan baca buku-buku sejarah klasik seperti Al Bidayah wa An Nihayah dan As Suluk li Ma’rifati Dual al Muluk.

Sejarah Berulang
Pada era modern ini, makar Syiah pun tak kalah hebat dari apa yang telah nenek moyang mereka lakukan terhadap umat Islam. Mereka tetap menumpahkan darah dan membuat keonaran. Perhatikanlah negara-negara yang memiliki komunitas Syiah yang cukup potensial, pasti terjadi konflik sektarian, terjadi pembunuhan, perampasan, dan penodaan kehormatan. Di antaranya:

Libanon
Kita tentu masih ingat, bagaimana Hizbullah yang berideologi Syiah ini dianggap pahlawan, pejuang pemberani, dan pembela umat Islam dari makar Yahudi. Peperangan antara Hizbullah dan Yahudi yang menduduki tanah Palestina, di antaranya terjadi pada bulan juli 2006. Perang ini dilatarbelakangi oleh aksi heroik gerilyawan Hizbullah yang berani menculik 2 tentara Yahudi demi sebuah tujuan “mulia”, yakni mengadakan bargaining dengan Yahudi untuk menukar tahanan. Sebuah aksi kepahlawanan bukan? Ternyata Yahudi merespon tindakan Hizbullah itu dengan mengamuk menyerang pemukiman sipil di Libanon. Selama 34 hari mereka mengebomi perkampungan sipil masyarakat Ahlussunnah di Libanon. Lalu pertanyaan muncul, Hizbullah yang Syiah melawan Yahudi, tapi mengapa korban 1000 lebih dari masyarakat sipil Ahlussunnah atau non Syiah yang malah dominan?

Bahrain
Krisis yang terjadi di Timur Tengah yang dimulai dengan keberhasilan demonstrasi anti pemerintah menggulingkan Zainal Abidin Ben Ali di Tunisia menginspirasi warga negara Arab lainnya. Pemerintahan Ben Ali yang sangat lama memerintah dianggap gagal memenuhi harapan rakyat serta menyebabkan rakyat hidup dalam kemiskinan. Kemudian hal serupa terjadi di Mesir, akhirnya Husni Mubarak lengser dari singgasana.

Pergolakan itu pun muncul di Bahrain yang mayoritas penduduknya berideologi Syiah (70%), namun dipimpin oleh Ahlussunnah yang minoritas (30%). Pergolakan ini sangat kentara keinginan Syiah untuk merebut tampuk kekuasaan. Pemerintah yang bermahdzab Ahlussunnah di Bahrain terhitung cukup berhasil menyejahterakan rakyatnya. Bahrain termasuk negara yang perkembangan ekonominya terpesat di dunia, pendapat perkapita USD33.850 atau 15 kali lipatnya Indonesia. Bahrain juga tidak mengekakng rakyatnya dan dikatakan salah satu negara terbebas di kawasan Teluk. Di bidang olahraga, negara ini juga berhasil mengadakan event olahraga bertaraf internasional. Ini menunjukkan potensi ekonomi yang dimiliki oleh Bahrain sangat besar. Dengan demikian pergolakan untuk menggulingkan pemerintah di Bahrain sama sekali tidak berdasar kecuali keinginan Syiah untuk berkuasa di wilayah tersebut. Bagi mereka kekuasaan di Bahrain dengan segala kekayaan yang dimilikinya akan memudahkan mereka menyebarkan ideologi Syiah di tanah Arab bahkan dunia dan mewujudkan cita-cita pada saat revolusi Iran.

Yaman
Makar Syiah terhadap Ahlussunnah pun terjadi di Yaman. Gerilyawan Houthi yang berideologi Syiah Itsna Asyariyah seperti Iran, memanfaatkan situasi pemerintahan yang lemah karena perlawanan masa. Mereka memerangi Ahlussunnah di wilayah So’dah di kota Damaj dengan alasan hendak menjadikan wilayah tersebut 100% dihuni oleh orang-orang Syiah, bukan karena alasan orang-orang Ahlussunnah mengancam keberadaan mereka. Mereka mengadakan pemboikotan, memutuskan akses pemukim So’dah dengan wilayah lainnya, dan dengan bantuan Iran mereka memerangi penduduk So’dah. Mereka membunuhi minoritas Ahlussunnah, baik anak-anak, perempuan, maupun orang tua, mereka tidak pandang bulu.

Suriah
Kekejaman Syiah di Suriah sudah kami singgung di tulisan kami sebelumnya http://konsultasisyariah.com/berita-suriah.

Kesimpulannya, kehadiran Syiah di tengah-tengah kaum muslimin selalu menimbulkan efek negative; perpecahan antar umat Islam, rusaknya stabilitas keamanan, pembunuhan, dll. Ketika lemah mereka mengampanyekan persatuan dan toleransi, ketika kuat mereka mengintimidasi. Apabila mereka menyerukan persatuan di negeri yang mayoritas Ahlussunnah semestinya mereka dulu yang memulai hal itu di negeri-negeri yang mayoritas Syiah.

Ditulis oleh Nurfitri Hadi (Tim Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Materi terkait Syiah:

1.Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro.
2. Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah.
3. Kisah Nikah Mut’ah.
4. Nikah Mut’ah Menurut Syiah.
5. Kerusakan Nikah Mut’ah.
6. Media Pembela Ajaran Syiah.
7. Hakikat Ajaran Syiah (1).
8. Hakikat Ajaran Syiah (2).
9. Hakikat Ajaran Syaih (3).
10. Hakikat Ajaran Syiah (4).
11. Ajaran Syiah dan Ahlul Bait.
12. Ahlul Bait Menurut Syiah.
13. Alquran Menurut Syiah.
14. Suriah dan Syiah.

Hukum Mengambil Upah Ruqyah dan Meminum ‘Azimah

Pertanyaan:
Apakah boleh berobat dengan menulis ayat-ayat Alquran di atas papan, kemudian dihapus dengan air yang diminumkan kepada orang yang sakit? Bolehkah mengambil upah atas pekerjaan ini?

SOCIAL

7,866FansLike
3,527FollowersFollow
29,182FollowersFollow
59,018SubscribersSubscribe

RAMADHAN