tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

hukum meninggikan makam

Makam Mewah, Kijing Kuburan sang Ustadz?

Akhir-akhir ini di media marak dibahas kasus seorang Istri (tepatnya janda) dari seorang Ustadz-Artis ternama yang meninggal beberapa waktu lalu dengan kakak kandung dari Ustadz itu (yang juga bertitel Ustadz).

Sang istri Ustadz yang meninggal itu menginginkan Kuburan suaminya tak dikijing & dimewahkan, sedangkan Ustadz A (yang juga kakak iparnya) justru menginginkan kalo kuburan Adiknya itu harus dikijing & dimewahkan, karena (menurutnya) derajat Adiknya sudah sama seperti Wali (ulama besar).

Bagaimanakah Islam menyikapi hal seperti ini (yang kebetulan masalah ini juga menjadi dilema mayoritas Masyarakat kita)?

Dari: B. Anis

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah memberi tugas kepada muridnya Abul Hayyaj al-Asadi. Ali bin Abi Thalib mengatakan,

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ «أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ»

”Maukah kamu saya beri tugas sebagaimana tugas yang pernah diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku? Jangan biarkan gambar makhluk bernyawa, sampai kamu merusaknya, dan jangan biarkan kuburan yang ditinggikan, sampai kamu meratakannya.” (HR. Ahmad 741, Muslim 969, Abu Daud 3218, Turmudzi 1049, Abdurrazaq dalam Mushanaf 6487, al-Hakim dalam al-Mustadrak 1366, dan beberapa ulama lainnya).

Dalam hadis yang lain, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyemen kuburan, duduk diatasnya atau membangun sesuatu di atasnya.” (HR. Muslim 2289, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushanaf 11764, dan yang lainnya).

Kami tidak memberi komentar apapun dengan dua hadis di atas, karena setiap orang yang bisa membaca, akan bisa menyimpulkan bahwa meninggikan kuburan atau bahkan mengkijing dengan marmer adalah tindakan yang melanggar larangan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bukankah Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dikijing?

Anda mungkin sering mendengar informasi ini. Dan info ini menjadi alasan utama untuk melegalkan praktek meninggikan kuburan, termasuk yang terjadi pada kasus makam Uje.

Ada beberapa jawaban untuk menegaskan bahwa kalimat ini adalah alasan yang salah,

Pertama, makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikijing, tidak ditinggikan melebihi gundukan tanah normal. Itulah kondisi makam beliau yang ada di zaman sahabat. Saksi sejarah keterangan ini adalah riwayat dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنُ نَصَبًا، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimakamkan dalam liang lahat, diletakkan batu nisan di atasnya, dan kuburannya ditinggikan dari permukaan tanah setinggi satu jengkal.

Persaksian lain disampaikan oleh Sufyan bin Dinar at-Tammar – seorang ulama tabiin –,

أَنَّهُ رَأَى قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَنَّمًا

”Bahwa beliau melihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk gundukan.” (HR. Bukhari 2/103).

Dalam riwayat lain, Sufyan at-Tammar mengatakan,

دخلت البيت الذي فيه قبر النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فرأيت قبر النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وقبر أبي بكر وعمر مُسنَّمةً

”Saya masuk ke rumah yang di dalamnya ada makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku lihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar dalam bentuk gundukan.” (HR. Ibn Abi Syaibah 11734).

Persaksian lain disampaikan oleh tiga ulama senior tabiin, Abu Ja’far, Salim murid Ibn Umar, dan al-Qosim bin Muhammad cucu Abu Bakr as-Shidiq. Mereka mengatakan,

كان قبر النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر، وعمر جثى قبلة نصب لهم اللبن نصبا، ولحد لهم لحدا

Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan Umar berupa gundukan menyerong kiblat, diberi batu nisan, dan dimakamkan dalam liang lahat. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushanaf 11634).

Semua riwayat ini menggambarkan keadaan awal makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat tidak membuat kijing untuk makam beliau, tidak pula memberikan kubah di atasnya. Sementara kita sepakat, tidak ada manusia yang lebih mencintai nabinya, melebihi para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Namun rasa cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membuat mereka menyalahi aturan. Karena kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka ekspresikan dalam bentuk ittiba’ (mengikuti aturan) yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah makna cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sesungguhnya.

Al-Qadhi Iyadh – seorang ulama syafiiyah – mengatakan,

فالصادق في حب النبي صلى الله عليه وسلم من تظهر علامة ذلك عليه وأولها: الاقتداء به واستعمال سنته واتباع أقواله وأفعاله وامتثال أوامره واجتناب نواهيه والتأدب بآدابه في عسره ويسره ومنشطه ومكرهه وشاهد

Orang yang jujur dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang menampakkan ciri mengikuti jejak beliau, terutama adalah dengan meneladani beliau, mengamalkan sunahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab yang beliau contohkan, baik dalam keadaan susah maupun senang dan keadaan lapang maupun sempit. (asy-Syifa Bita’riifi Huquuqil Mushthafa, 2/24).

Kedua, beberapa gamabr yang tersebar di masyarakat mengenai makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah foto dusta. Berikut diantara gambar yang diisukan merupakan foto makam beliau,

Gambar pertama,

gambar kubur nabi muhammad [hoax]

Gambar ini bukan foto makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan alasan,

A. Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dimakamkan dalam peti, namun beliau dimakamkan dalam lahad (lubang menyamping di ling kubur), bersentuhan langsung dengan tanah.

B. Orang yang mengunjungi makam masjid nabawi akan menyimpulkan itu bukan masjid nabawi. Karena dinding di sekitar makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam umumnya berwarna hijau, sementara ini berwarna keemasan.

Yang benar, gambar itu adalah kuburan Jalaludin Rumi. Seorang tokoh sufi yang sangat terkenal, meninggal tahun 672 H. Masyarakat sufi sangat mengagungkannya dan menghiasinya dengan berbagai perhiasan berharga. Di bagian atas terdapat tulisan syair karya Jalaludin Rumi.

Gambar kedua,

bukan gambar kuburan nabi muhammad

bukan foto makam nabi muhammad

Gambar ini bukan makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dua makam disampingnya juga bukan makam Abu Bakr dan Umar. Lebih dari itu, makam Abu Bakar agak lebih bawah sedikit di samping makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan makam Umar agak lebih bawah sedikit di samping makam Abu Bakr. Sementara dua makam itu sejajar lurus dengan makam utama.

Yang benar, ini adalah gambar makam pendiri Khilafah Utsmaniyah, Sultan Ghazi Utsman Khan. Makam ini adanya di Turki.

Memahami hal ini, berbagai gambar tentang makam beliau yang tersebar di masyarakat dan internet adalah gambar dusta dan itu bukan foto asli makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga foto semacam ini tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Ketiga, tentang kubah hijau, atau bangunan megah di atas makam beliau, dan semua keadaan yang terjadi pada makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam SETELAH kurun masa sahabat, bukanlah dalil untuk melegalkan hal tersebut. Karena keadaan semacam ini telah keluar dari kondisi aslinya. Kondisi asli yang belum ternodai oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Keadaan makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang asli adalah ketika di zaman sahabat dan tabiin. Makam beliau tidak dikijing, kelihatan gundukan tanahnya, tidak ditinggikan melebihi gundukan tanah normal umumnya kuburan.

Jarak antara zaman kita dengan zaman beliau terpaut 1400 tahun lebih. Anda bisa bayangkan, berapa manusia yang sempat berkuasa dan menjamah makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sementara sikap mereka bertentangan dengan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga bagaimana mungkin, kebijakan raja atau penguasa semacam ini bisa dijadikan dalil dan acuan.

Hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

Saya ingin mengajak anda untuk sejenak merenungkan makna hadis Ali bin Abi Thalib yang telah kita singgung di atas.

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ «أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ»

”Maukah kamu saya beri tugas sebagaimana tugas yang pernah diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku? Jangan biarkan gambar makhluk bernyawa, sampai kamu merusaknya, dan jangan biarkan kuburan yang ditinggikan, sampai kamu meratakannya.” (HR. Ahmad 741, Muslim 969, Abu Daud 3218, Turmudzi 1049, Abdurrazaq dalam Mushanaf 6487, al-Hakim dalam al-Mustadrak 1366, dan beberapa ulama lainnya).

Kita perhatikan, dalam hadis ini, tidaklah SEMATA menunjukkan bahwa meninggikan kuburan hukumnya terlarang. Namun hadis ini memberikan penekanan bahwa makam siapapun yang ditinggikan, harus diratakan dengan tanah atau disisakan gundukan normal kuburan. Artinya di sana ada perintah untuk meratakan makam siapapun yang melanggar larangan dengan ditinggikan, agar disamakan dengan makam lainnya.

Namun waktu berjalan dan kondisi msyarakat berubah. Di zaman para sahabat, ketika sunah dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tumbuh subur di negeri kaum muslimin, menghancurkan kijing makam yang ditinggikan adalag hal yang lumrah bahkan menjadi tugas Khalifah, semacam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Berbeda dengan zaman sekarang, di saat penyakit kultus terhadap orang soleh mengakar di mana-mana, tugas memugar kuburan yang dikijing, menjadi praktek yang kontroversial dan dianggap menyalahi aturan. Kijing kuburan telah dianggap bagian dari prinsip hidup sebagian kaum muslimin. Siapa yang melawan kijing dan berusaha memugarnya, siap untuk dilawan, sekalipun harus mengorbankan nyawa. Kijing dan marmer kuburan, telah menjadi masalah yang bisa mengancam stabilitas masyarakat.

Inilah yang menjadi pertimbangan besar negara Arab Saudi. Mereka dalam buku-bukunya mendakwahkan untuk anti dengan kijing dan meninggikan kuburan, namun mengapa kubah hijau tidak dipugar?

Jawabannya, karena makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan semata kepentingan Saudi, tapi kepentingan jutaan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Bisa jadi akan timbul pertumpahan darah di masjid nabawi, ketika pemerintah memugar kubah itu. Keputusan ini sejatinya meniru keputusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bentuk bangunan ka’bah. Beliau pernah mengatakan kepada istri beliau A’isyah,

لَوْلَا حَدَاثَةُ عَهْدِ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ، وَلَجَعَلْتُهَا عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيمَ، فَإِنَّ قُرَيْشًا حِينَ بَنَتِ الْبَيْتَ اسْتَقْصَرَتْ، وَلَجَعَلْتُ لَهَا خَلْفًا

“Kalaulah bukan karena masyarakat-mu baru saja masuk islam, aku akan memugar ka’bah dan menjadikannya sesuai dengan bangunan Ibrahim. Karena orang quraisy ketika membangun Ka’bah tidak menyempurnakan bangunannya. Aku akan buat pintu belakang.”. (HR. Bukhari 126, Muslim 1333, dan yang lainnya).

Ini terjadi ketika beliau telah menaklukkan kota Mekah. Beliau melihat bangunan ka’bah versi orang Quraisy, berbeda dengan ka’bah asli bangunan Ibrahim. Namun pemugaran itu tidak beliau lakukan, karena mempertimbangkan kemaslahatan. Bisa jadi ketika beliau memugar ka’bah, akan banyak orang yang murtad dan menyalahkan sikap beliau.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

pahala anak kecil

Amalan Anak yang Belum Balig, Milik Siapa Pahalanya?

Pertanyaan:

Bismillah,

Ustadz, apakah amalan anak yang usianya belum baligh itu juga akan dihitung sebagai tabungan pahala? Jazakallah khoiron ustadz

Dari: Muhammad Fisabilillah

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut keterangan Imam Ibnu Utsaimin,

أعمال الصبي الذي لم يبلغ – والمقصود أعماله الصالحة – أجرها له هو لا لوالده ولا لغيره ولكن يؤجر والده على تعليمه إياه وتوجيهه إلى الخير وإعانته عليه لما في صحيح مسلم عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : رَفَعَتْ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِهَذَا حَجٌّ قَالَ نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ

Amal soleh anak kecil yang belum baligh, pahalanya menjadi miliknya dan bukan milik orang tuanya atau orang lain. Hanya saja, orang tua mendapatkan pahala karena telah mendidikanya dan mengarahkannya untuk melakukan kebaikan, serta mendukungnya untuk berbuat baik. Sebagaimana dinyatakan dalam shahih Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan, ’Ada seorang wanita yang mengangkat anaknya (agar kelihatan), dia bertanya, Ya Rasulullah, apakah anak ini boleh melakukan haji?’ jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Ya, dan pahalanya milikmu.” (HR. Muslim).

Imam Ibnu Utsaimin melanjutkan,

فأخبر النبي صلى الله عليه وسلم أن الحج للصبي ، وأن أمه مأجورة على حجّها به .
وهكذا غير الوالد له أجر على ما يفعله من الخير كتعليم من لديه من الأيتام والأقارب والخدم وغيرهم من الناس لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ” مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ .” … ولأن ذلك من التعاون على البر والتقوى والله سبحانه يثيب على ذلك

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa haji boleh dilakukan anak kecil, dan ibunya mendapatkan pahala karena mengikutkan haji anaknya. Demikian pula selain orang tua, dia bisa mendapatkan pahala atas amal soleh yang dia kerjakan, seperti pengajaran yang dilakukan seseorang kepada anak yatim, kerabat, pembantu, atau yang lainnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Siapa yang menunjukkan jalan kebaikan, dia mendapatkan pahala seperti pelaku kebaikan itu.’ (HR. Muslim). Dan karena semacam ini juga termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa, sehingga Allah akan memberikan pahala untuk usaha itu.

Sumber: Fatawa Islam, no. 3240

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

ramalan zodiak bintang dalam islam

Benarkah Zodiak dan Watak Mempengaruhi Jodoh?

Assalammualaikum wr wb.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada ustadz, Perkenalkan saya Nina usia 21tahun asal Malang Jawa Timur.
Saya sekarang sedang bertaaruf dengan seorg pemuda yg usianya 26 tahun. Banyak kesamaan diantara kami sebagai contoh bulan lahir, sama2 lahir dibulan november, dan menurut zodiak kami sama2 berzodiak scorpio, dalam artian menurut penelitian, org yg lahir dibulan november dan memiliki zodiak scorpio itu wataknya pencemburu dll, Bberapa org menyebut saya tidak akan cocok bersama calon saya, Karena memiliki kesamaan dalam segi watak dll.. Sedangkan saya blm menemukan betul watak apa si calon ini tadi, Karena kami jg baru saja bertaaruf,. Yg saya tanyakan apakah betul jika saya melanjutkan hubungan saya dengan si calon saya hubungan kami akan berantakan, karena menurut penilitian watak org yg lahir dibulan november memiliki watak yg sama? Sungguh bimbang hati ini ya ustadz,. Mohon penjelasan’nya,. Apakah memang benar watak seseorg kebanyakn dilihat dr bulan lahir mereka?? Terimakasih.. Semoga berkenan menjawab.. Wassalam

Dari: Neena Mudz

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kita telah memahami bersama bahwa zodiak, termasuk warisan bangsa yunani yang menyusup di lingkungan kaum muslimin. Mereka menyebutnya bagian dari ilmu astrologi, ilmu yang menghubungkan antara gerakan benda-benda tata surya (planet, bulan, dan matahari) dengan nasib manusia. Dikaranglah 12 nama rasi bintang berdasarkan rentang tanggal tertentu. Kemudian dikaitkan dengan hari kelahiran. Mereka buat-buat sendiri, dan digunakan untuk meramal takdir sendiri.

Islam tidak pernah mengajarkan idelogi semacam ini, menghubung-hubungkan sesuatu yang sama sekali tidak memiliki keterkaitan. Karena islam adalah agama yang rasional, yang memuliakan akal manusia. Sehingga semua doktrin yang tidak masuk akal, selain apa yang telah Allah tetapkan, tidak boleh dilestarikan.

Dalam kajian aqidah, ilmu astrologi, yang menghubungkan rasi bintang dengan karakter manusia dinamakan tanjim (ilmu nujum). Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

Siapa yang mempelajari ilmu nujum, berarti dia telah mempelajari sepotong bagian ilmu sihir. Semakin dia dalami, semakin banyak ilmu sihir pelajari. (HR. Ahmad 2000, Abu Daud 3905, Ibn Majah 3726, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Hadis ini menunjukkan ancaman terhadap mereka yang menggunakan astrologi sebagai acuan menebak karakter atau sifat, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensejajarkan ilmu ini dengan ilmu sihir.

Zainuddin Al-Munawi mengatakan,

لأنه يحكم على الغيب الذي استأثره الله بعلمه فعلم تأثير النجوم باطل محرم

“Karena ilmu nujum isinya menebak-nebak hal yang ghaib, yang Allah rahasiakan. Maka ilmu tentang pengaruh bintang, adalah ilmu yang batil, hukumnya haram.” (Faidhul Qadir, 6/80)

Bahaya Membaca Zodiak

Zodiak..zodiak… nampaknya sepele, ternyata membawa petaka aqidah manusia. Para ulama mengharamkan keras zodiak. Sampaipun hanya sebatas membaca untuk iseng, hukumnya terlarang dan mengancam tidak diterima shalatnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230).

Syaikh Sholih Alu Syaikh -hafizhohullah- mengatakan, “Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang dia anggap cocok, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh pada Bab “Maa Jaa-a fii Tanjim”, hal. 349)

Kemudian, jika sampai diyakini kebenarannya, menyebabkan dirinya keluar dari islam. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan melalui sabdanya,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532, hasan)

Sama Zodiak Beda Karakter

Di alam ini ada milyaran manusia. Ada yang menjadi nabi, rasul, orang bertaqwa, orang biasa, orang bejat, dan bahkan gembong orang bejat. Dan kita sangat yakin, dari milyaran itu, dipastikan ada banyak orang yang zodiaknya sama, sekalipun karakternya berlawanan. Menurut keterangan Muhammad Sulaiman Al-Mansurfury dan ahli astronomi Mahmud Basya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada sekitar tanggal 20 atau 22 april tahun 571 M.

Kita sangat yakin ada banyak orang kafir bahkan mungkin penjahat yang bulan lahirnya sama dengan beliau atau bahkan tanggal lahirnya berdekatan dengan tanggal lahir beliau. Padahal karakter mereka tidak bisa dibandingkan.

Kita juga sangat yakin ada banyak kaum muslimin yang tanggal lahirnya mendekati tanggal lahir Firaun, Haman, Qarun, Abu Lahab atau Abu Jahal. Namun meskipun sama zodiak, wataknya jauh berbeda.

Ambil yang Terbaik dan Tawakkal kepada Allah

Tidak ada manusia yang tahu tentang keadaan hidupnya. Karena itu, yang bisa dia lakukan adalah tawakal, dengan berusaha mengambil terbaik sesuai aturan dan berharap kepada Allah agar mewujudkan tujuan baik itu atau memberikan yang lebih baik. Prinsip seperti inilah yang pernah dipesankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

”Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat, dan minta tolonglah kepada Allah, dan jangan putus asa.” (HR. Ahmad 8791, Muslim 2664, Ibn Majah 79, dan yang lainnya).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

hidayah untuk non muslim

Meminta Hidayah Agar Yakin Menjadi Muallaf

Saya sedang belajar agama islam, apa sajakah jenis dari bentuk hidayah yg datang pada manusia itu ?
Apakah boleh manusia non muslim seperti saya meminta hidayah agar merasa yakin untuk menjadi muallaf setelah mendapatkan sebuah hidayah.

Terimakasih mohon pencerahannya.

Dari: Dimas S.
(Dikirim melalui Aplikasi Tanya Ustadz untuk Windows Phone)

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kami menyambut baik usaha anda untuk mempelajari islam lebih dekat. Kami mengucapkan, selamat datang bagi anda yang hendak mengarungi indahnya agama islam. Agama yang bersumber dari wahyu Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Semoga dengan usaha anda, Allah memudahkan bagi anda untuk semakin memahami betapa sempurnanya islam dan mengantarkan anda untuk menjadi seorang muslim sejati.

Tidak ada yang bisa menghalangi seorang hamba untuk memohon hidayah dari Tuhannya. Karena Allah bisa memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Mendapatkan pencerahan tentang kebenaran adalah hak setiap jiwa yang bernyawa.

Mengenai apa saja jenis dari bentuk hidayah yang datang pada manusia?

Dalam beberapa literatur islam dijelaskan bahwa secara umum hidayah ada 2 macam:

Pertama, hidayah yang bentuknya penjelasan, keterangan mana jalan yang benar dan mana yang salah. Allah memberikan hidayah jenis yang pertama ini kepada seluruh umat manusia. Dan Allah perintahkan kepada siapa saja yang telah mempelajarinya, agar dia menyebarkan dan mengajarkannya kepada orang lain. Siapapun berhak untuk mendapatkannya, tanpa memandang latar belakangnya.

Hidayah jenis yang pertama ini bentuknya adalah kitab al-Quran dan penjelasan yang diberikan sang Rasul pembawa al-Quran, yang diistilahkan dengan hadis.

Demikian pula taurat dan injil. Kitab taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa dan kitab injil yang diturunkan kepada nabi Isa keduanya juga sumber hidayah yang berupa penjelasan. Menjelaskan mana jalan kebenaran dan mana jalan kesesatan. Akan tetapi yang menjadi masalah, semua manusia di seluruh dunia telah sepakat bahwa taurat dan injil tidak lagi otentik dan telah diubah oleh tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Ini berbeda dengan al-Quran. Kaum muslimin sepakat bahwa Allah menjaga al-Quran dan kitab ini selamanya tidak akan bisa mengalami perubahan. Meskipun ada sejuta upaya dari orang yang memusuhi islam, yang berusaha membuat al-Quran palsu, namun usahanya selalu gagal.

Sebagai bukti, injil versi indonesia hanya berisi keterangan berbahasa indonesia. Sedangkan al-Quran versi terjemah indonesia, tetap mencantumkan teks asli dalam bahasa arab. Lalu dimana teks injil yang asli?

Kami kaum muslimin beriman bahwa taurat dan injil adalah kitab yang asalnya datang dari Allah. Diturunkan kepada nabi-Nya, untuk disampaikan kepada umat manusia. Namun di saat yang sama, Allah perintahkan agar menjadikan al-Quran sebagai rujukan utama, karena kedua kitab suci sebelumnya, yaitu taurat dan injil telah dijamah oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Kami sendiri masih kebingungan, apa yang menyebabkan orang nasrani tidak bersedia mengimani al-Quran. Padahal ini kitab Tuhan yang selalu otentik dari perubahan. Banyak pengakuan yang dengar bahwa kebenaran al-Quran telah ditegaskan dalam injil, dan masalah ini mungkin anda lebih paham.

Kedua, hidayah yang bentuknya kemauan untuk mengikuti kebenaran.

Banyak orang telah mendapatkan penjelasan tentang jalan yang benar dan jalan yang salah. Hanya saja, ada yang mau mengikuti kebenaran, dan ada yang tetap kekeh dalam kubangan kesalahan.

Sejatinya orang ini telah mendapatkan hidayah berupa penjelasan dan keterangan. Namun dia belum mendapatkan jenis hidayah kedua, yaitu kemauan untuk mengikuti kebenaran.

Hidayah jenis kedua ini, menjadi hak prerogatif Tuhan Penguasa semesta alam. Mahluk tidak bisa memberikan. Makhluk hanya bisa menjelaskan, sementara yang mengubah dan mengendalikan hati para objek dakwah adalah Tuhan.

Siapapun berhak memohon kepada Tuhan untuk mendapatkan hidayah jenis kedua ini. Sebagaimana dulu banyak diantara orang yang meyertai sang nabi akhir zaman, mereka memohon agar diberi hidayah untuk mengikuti kebenaran islam.

Media Belajar Islam lebih Dekat

Sebagai tambahan referensi untuk mengenal islam lebih dekat, kami sarankan untuk sering menyimak video Yusuf Estes, mantan pendeta katolik amerika yang masuk islam. Beliau banyak menjelaskan tentang islam dengan bahasa sangat sederhana kepada semua kalangan. Berikut daftar videonya,

Dan

Semoga bermanfaat…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

indonesia tanpa syiah

Media Membela Syiah

Tanya:

Mengapa media lebih terkesan membela aliran syiah?

Dari: Insan Muslim, Jawa Timur

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Semenjak kasus Suriah dan sampang, kaum muslimin banyak mendiskusikan masalah syiah. Keadaan menjadi semakin keruh ketika media hadir dan turut memberikan opini publik. Beberapa berita dan forum dialog antara kaum muslimin dan syiah yang disiarkan media, sangat kentara unsur permainannya dan sengaja dikondisikan sebelumnya. Semuanya bermuara pada pembentukan satu titik opini; memberikan kesan baik untuk syiah, dan menampakkan citra buruk kaum muslimin ahlus sunah wal jamaah.

Dalam kasus Suriah misalnya, salah satu stasiun televisi dengan logo warna merah mengesankan bahwa pelaku pengeboman di pemukiman penduduk adalah mujahidin. Ketika menyimak berita ini, kontan rekan saya yang menjadi relawan di Suriah menyebutnya dusta. Tidak ada mujahidin yang menembakkan pelurunya ke arah pemukiman penduduk. Semua pengeboman itu adalah ulah tentara Basyar. Termasuk penembakan yang diarahkan ke masjid-masjid kaum muslimin. Karena kebencian syiah terhadap kaum muslimin dan tempat peribadatan mereka.

Suriah, Libya, & Mesir

Anda bisa perhatikan kasus penggulingan Khadafi di Libya dan Husni Mubarok di Mesir, media terkesan lebih membela rakyat dan mendukung perjuangan rakyat untuk menggulingkan dua pemimpin diktator itu. Media menyebut rakyat sebagai pejuang oposisi. Satu gelar yang netral. Padahal kita tidak pernah mendengar ada pembantaian masal terhadap rakyat yang menewaskan puluhan ribu orang karena ulah Khadafi atau Husni Mubarok.

Ini berbeda dengan kasus Suriah. Media-media yang ‘keracunan Iran’ sangat jelas memihak kepada Basyar. Menyebut mujahidin dengan kelompok pemberontak, dan berusaha menyudutkan posisi kaum muslimin Suriah. Padahal kelakuan Basyar dan hizbolah telah memakan korban sekitar 80.033 jiwa menurut data yang tercatat, sebagaimana laporan syrian revolution martyr database (http://syrianshuhada.com/). Tentu saja jumlah korban yang tidak tercatat, jauh lebih banyak.

Apa kepentingan mereka terhadap presiden Basyar? Bukankah dia telah melakukan kejahatan kemanusiaan besar-besaran? Dengan alasan apa mereka berupaya meredam semangat kaum muslimin untuk melawan Basyar? Jawabannya satu: karena Basyar dan bala tentaranya beragama Syiah. Membela Basyar adalah membela entitas syiah di dunia.

Inilah bukti nyata kemunafikan media syiah,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Apakah kamu tidak memperhatikan sikap orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti Kami akan membantu kamu.” dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (QS. Al-Hasyr: 11).

Media Pendusta

Opini publik, opini masyarakat, itulah sasaran untama media. Bagaimana mereka bisa mengendalikan opini masyarakat. Karena dengan opini, orang akan sangat mudah dikendalikan ideologinya. Untuk itu, satu prinsip yang perlu anda beri garis sangat tebal, bahwa berita BUKAN realita. Berita adalah ulasan realita yang ditunggangi opini dan ideologi.

Sayangnya mereka berada di pihak mayoritas. Mereka terlahir dari sistem liberal, dan berkembang bersama ideologi liberal. Memihak kepada kelompok yang bertentangan dengan syariat islam. Semakin jauh dari syariat islam, semakin layak untuk didukung dan dibela. Karena itulah, mereka lebih memihak kepada syiah, atas nama pembelaan kepada minoritas tertindas. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari: Mengapa JIL Membela Syiah?

Namun sayangnya, sebagian besar masyarakat sudah sangat gandrung dengan berita media-media yang tidak bertanggung jawab itu. Terutama mereka yang masih enggan untuk memulai belajar agama dengan cara yang benar. Barangkali realita ini merupakan pembenaran terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana ditunjukkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan keadaan manusia di akhir zaman,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: ” السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ “

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dianggap benar, sementara orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh (masalah agama) yang turut campur dalam urusan masyarakat.” (HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3715, dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).

Peringatan Agar tidak Mudah Membenarkan Berita

Catatan berikutnya yang perlu kita perhatikan terkait media yang berkembang di sekitar kita, hampir semua wartawan, mereka bergelimang dengan dosa dan maksiat. Anda bisa perhatikan, hampir semua stasiun televisi swasta tidak lepas dari yang namanya sex advertising. Presenter yang sedang menyampaikan berita misalnya, tidak pernah kita jumpai presenter wanita memakai busana muslimah yang menutup aurat, selain momen puasa atau lebaran. Artinya, mereka melakukan perbuatan maksiat secara terang-terangan. SOP penyampaian berita dibuat sebisa mungkin jauh dari syariat islam. Sehingga kondisi maksiat menjadi ’gawan bayi’ dalam dunia broadcasting yang berkembang di tempat kita.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa sejatinya mereka adalah orang-orang fasik. Penyiar berita dengan penampilan mengumbar aurat adalah orang fasik. Bahkan tanpa malu mereka melakukan kefasikannya di depan umum.

Allah mengingatkan, agar berita yang bersumber dari model manusia semacam ini, tidak diterima mentah-mentah, namun perlu dilakukan tabayyun, upaya mencari bukti kebenaran berita yang disampaikan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Terlebih, hampir semua berita, terutama yang terkait konflik di tempat kita, sangat sarat dengan tendensi ideologi dan opini. Karena itu, menelan mentah-mentah sebuah informasi dari media massa adalah sebuah kesalahan besar, sehingga terjadilah seperti yang Allah firmankan, ’menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu’.

Sikap yang Tepat

Semua realita ini cukup menjadi dasar untuk mengelompokkan berbagai berita di media massa tentang syiah dan ahlus sunah sebagai informasi sampah. Anda cukup mendengarkannya hanya sebagai hiburan, selanjutnya anda tidak perlu banyak menghiraukannya, kecuali jika anda ingin menjadi korban penipuan dan kedustaan mereka. Kedepankan sikap waspada dan tidak mudah percaya, karena kehadiran media liberal telah mewarnai tahun-tahun penuh penipuan.

Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari makar semua musuh islam. Amin

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Materi terkait kesesatan Syiah dan Mut’ah:

cincin nabi muhammad

Cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tanya:

Bagaimana ciri-ciri cincin Nabi SAW. Itu aja, trims

Jawaban,

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut beberapa hadis yang menceritakan cicin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Pertama, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من ورق وكان فصه حبشيا

Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, dan mata cincinnya berasal dari Habasyah (ethiopia). (HR. Muslim 2094, Turmudzi 1739, dan yang lainnya).

Kedua, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أن النبي صلى الله عليه وسلم اتخذ خاتما من فضة فكان يختم به

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan cincin dari perak, dan beliau gunakan untuk menstempel suratnya. (HR. Ahmad 5366, Nasai 5292, dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Ketiga, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من فضة فصه منه

”Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak, dan mata cincin juga dari bahan perak.” (HR. Bukhari 5870, Nasai 5198, dan yang lainnya).

Keempat, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan

كان نقش خاتم رسول الله صلى الله عليه وسلم ( محمد ) سطر و ( رسول ) سطر و ( الله ) سطر

Ukiran mata cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertuliskan: Muhammad [محمد] satu baris, Rasul [رسول] satu baris, dan Allah [الله] satu baris. (HR. Turmudzi 1747, Ibn Hibban 1414, dan semakna dengan itu diriwayatkan oleh Bukhari 5872)

Dalam riwayat lain dijelaskan,

أن النبي صلى الله عليه وسلم أراد أن كتب إلى كسرى وقيصر والنجاشي فقيل له : إنهم لا يقبلون كتابا إلا بخاتم فصاغ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما حلقته فضة ونقش فيه محمد رسول الله فكأني أنظر إلى بياضه في كفه

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menulis surat ke Kisra (persi), Kaisar (romawi), dan Najasyi (Ethiopia). Kemudian ada yang mengatakan, ’Mereka tidak mau menerima surat, kecuali jika ada stempelnya.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin dari perak, dan diukir tulisan Muhammad Rasulullah. Saya melihat putihnya cincin itu di tangan beliau. (HR. Ahmad 12738, Bukhari 5872, Muslim 2092, dan yang lainnya).

Kelima, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق فكان في يده ثم كان في يد أبي بكر ويد عمر ثم كان في يد عثمان حتى وقع في بئر أريس نقشه : محمد رسول الله

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin dari perak. Pertama beliau yang memakai, kemudian dipakai Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian dipakai Utsman, hingga akhirnya kecemplung di sumur air Arisy. Ukirannya bertuliskan: Muhammad Rasulullah. (HR. Bukhari 5873, Muslim 2091, Nasai 5293, dan yang lainnya)

Keenam, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ، وَنَقَشَ فِيهِ: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، وَقَالَ: «إِنِّي اتَّخَذْتُ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ، وَنَقَشْتُ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، فَلاَ يَنْقُشَنَّ أَحَدٌ عَلَى نَقْشِهِ»

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin dari perak, dan diukir: Muhammad Rasulullah. Kemduian Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku membuat cincin dari perak, dan aku ukir Muhammad Rasulullah. Karena itu, jangan ada seorangpun yang mengukir dengan tulisan seperti ini.” (HR. Bukhari 5877)

Dari beberapa riwayat di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita simpulkan,

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin

2. Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki ciri:

  • Terbuat dari perak
  • Ada mata cincinnya, yang juga terbuat dari perak
  • Logam perak mata cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari Ethiopia
  • Bagian mata cincin ada ukirannya, bertuliskan: Muhammad Rasulullah
  • Tulisan ukiran di mata cincin itu biasa digunakan untuk stempel surat

3. Tujuan utama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin adalah untuk dijadikan stempel surat dakwah yang hendak dikirim ke berbagai penjuru dunia.

4. Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam digunakan para khulafa’ ar-rasyidin setelah beliau sebagai stempel surat.

5. Larangan untuk membuat cincin dengan ukiran seperti ukiran cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Muhammad Rasulullah. al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan, ’Karena dalam cincin itu ada tulisan nama beliau, dan status beliau. Beliau membuat demikian sebagai ciri khas beliau, yang membedakan dengan lainnya. Jika yang lain dibolehkan untuk membuat ukiran cincin seperti itu, maka tujuan ini tidak terwujud.’ (Fathul Bari, 10/324).

6. Makna ”mata cincinnya berasal dari Habasyah”

Para ulama berbeda pendapat tentang makna kalimat ini. Imam an-Nawawi menyebutkan beberapa pendapat ulama mengenai hal tersebut,

  • Mata cincinnya berupa batu dari Habasyah, berupa batu akik. Karena tambang batu akik ada di habasyah dan Yaman.
  • Warnanya seperti orang habasyah, yaitu berwarna hitam. Kata Ibn Abdil Bar, inilah pendapat yang lebih kuat. Berdasarkan riwayat dari Anas yang menegaskan bahwa mata cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak. Artinya, bukan batu akik.
  • Kedua makna di atas benar. Dalam arti, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang memakai cincin yang matanya dari perak dan terkadang memakai cincin yang matanya batu akik. (Syarh Shahih Muslim, 14/71).

Al-Hafidz Ibn Hajjar juga menyebutkan beberapa kemungkinan yang lain,

  • Mata cincin beliau berupa batu dari habasyah
  • Mata cincinnya dari perak. Disebut dari Habasyah, karena cirinya. Bisa jadi ciri modelnya atau ciri ukirannya.

(Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 10/322)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

arti syirik

Syirik

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Syirik musuh kita bersama. Meskipun semangat masyarakat indonesia dalam memerangi kesyirikan, tidak sebesar semangat mereka memerangi korupsi. Masyarakat kita terbiasa saling memberi nasehat ‘awas bahaya laten korupsi’, namun ‘saling berwasiat’ semacam ini tidak kita jumpai untuk jenis maksiat terbesar, yaitu kesyirikan. Karena kita lebih perhatian terhadap hak sesama makhlluk dari pada Hak Tuhan subhanahu wa ta’ala.

Meskipun kita sangat yakin, semua muslim sepakat, syirik adalah perbuatan yang sangat menjijikkan. Sehingga pelaku syirik sekalipun, mereka tidak akan pernah bersedia jika dirinya disebut orang musyrik!?.

Untuk itulah, yang lebih penting untuk kita tanamkan di masyarakat, bukan semata mewaspadai bahaya syirik. Karena kita sudah sepakat, syirik itu jahat. Akan tetapi yang lebih penting adalah menanamkan pemahaman di masyarakat tentang apa itu syirik.

Menyadari hal ini, wajib bagi setiap muslim untuk memahami hakekat syirik dan apa itu syirik. Pepatah arab mengatakan,

عرفت الشر لا للشر ولكن لتوقيه

ومن لا يعرف الخير من الشر يقع فيه

Saya mempelajari kejahatan bukan untuk diamalkan, namun untuk dijauhi

Siapa yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dan kejahatan, dia akan terjerumus ke dalamnya.

Dulu, sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu, sering bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah fitnah dan segala hal buruk yang berpotensi mengancam keselamatan aqidah dan agama seseorang. Hudzifah mengatakan,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

“Banyak manusia yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Namun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir terjerumus di dalamnya.” (HR. Bukhari 3606 & Muslim 1847)

Pengertian Syirik

Terdapat beberapa ayat yang menunjukkan definisi syirik.

A. Firman Allah menceritakan debat antar-ahlu neraka, para penyembah setan, menyalahkan semua yang mereka sembah,

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ( ) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, ( ) Karena kita menyamakan kamu (tuhan berhala) dengan Tuhan semesta alam”. (QS. as-Syu’ara: 97 – 98).

B. Firman Allah menceritakan tentang sikap orang kafir,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menciptakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir menyamakan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (QS. Al-An’am: 1).

C. Firman Allah yang menyebutkan larangan mengikuti orang kafir,

وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَهُمْ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

“Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, sedang mereka menyamakan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” (QS. Al-An’am: 150)

Jika kita perhatikan, ayat-ayat yang berbicara tentang syirik di atas menyebutkan satu kata inti, yaitu kata menyamakan. Para ulama memberikan definisi syirik dengan,

تسوية غير الله بالله فى شئ من خصائص الله

“Menyamakan selain Allah dengan Allah, dalam segala sesuatu yang menjadi kekhususan Allah.” (Ushul Iman fi Dhau’ al-Kitab wa as-Sunnah, hlm. 73 dan Risalah fi Usus al-Aqidah, hlm. 51).

Hak Khusus Allah

Berikutnya, yang perlu kita pahami adalah apa saja yang menjadi hak khusus Allah. Sehingga ketika ini diberikan kepada makhluk, maka dia berarti telah melakukan kesyirikan.

Dalam buku Ushul al-Iman (hlm. 73) disebutkan bahwa orang yang memperlajari ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang Allah, akan menyimpulkan bahwa hak khusus Allah terangkum dalam 3 hal,

Pertama; dalam masalah perbuatan Allah (af’al al-Khaliq) terhadap makhluknya. Seperti menciptakan, mengatur alam semesta, menguasai, mengabulkan do’a, memberi rizki, menetapkan hukum, dan lain-lain. Para ulama aqidah menyebutkan sebagai hak rububiyah, keMaha Esaan Allah dalam kedudukannya sebagai Rab, yang menciptakan, mengatur, dan memiliki seluruh alam.

Karena itu, jika ada orang yang meyakini bahwa ada makhluq yang mampu menciptakan dari tidak ada menjadi ada sebagaimana Allah, berarti dia telah menyekutukan Allah dalam masalah rububiyah. Termasuk orang yang meyakini ada wali yang bisa mengendalikan cuaca. Ini keyakinan syirik karena berarti telah menyamakan si wali dengan Allah dalam salah satu perbuatan khusus milik Allah, yaitu mengatur cuaca.

Kedua; dalam kedudukannya sebagai Dzat yang berhak untuk disembah dan diibadahi, apapun bentuk ibadahnya. Siapa yang memberikan salah satu bentuk peribadatan kepada selain Allah, berarti dia memberikan hak khusus Allah untuk disembah, kepada selain Allah. Para ulama aqidah menyebutnya sebagai hak uluhiyah.

Bentuk ibadah sangat banyak, tidak hanya shalat atau sujud, karena ibadah mencakup ibadah lahir maupun batin; ibadah fisik anggota badan, lisan, maupun hati, seperti berdoa, meminta pertolongan, nadzar, tawakkal, rasa takut yang disertai pengagungan, cinta yang disertai pengagungan, dst. Berdoa kepada makhluk, memohon sesuatu yang hanya mungkin dikabulkan oleh Allah, termasuk bentuk syirik besar.

Ketiga, dalam kesempurnaan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah, seperti menyandang nama Allah, Ar Rabb dan Ar Rahman, atau mengetahui hal yang Gaib, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, yang tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya.

Jika seseorang meyakini bahwa ada kyai bisa mendengar sesuatu yang jauh, atau melihat tempat yang jauh, atau mengetahui masa depan, berarti dia telah menyamakan pak kyai dengan Allah dalam sifat yang hanya dimiliki oleh Allah.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

jaringan islam liberal dan syiah

JIL Pembela Syiah?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Jaringan Islam Liberal (JIL) selalu memposisikan diri tampil beda dengan umumnya ajaran islam. Semakin menyimpang dari ajaran islam, semakin dibela oleh JIL dengan berbagai interpretasinya.

Bagi anda yang sering online dengan berita pemikiran, akan merasa capek dengan berbagai pemikiran aneh si Ulil bersama komplotannya. Untuk mengenang ambisi anak muda yang satu ini dalam mendakwahkan pemikiran JIL, berikut kami kutipkan beberapa celotehnya,

“Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.” (Ulil Abshar-Abdalla, GATRA 21 Desember 2002). Barangkali inilah pendapat paling nekat dari Ulil Abshar Abdalla (Kordinator Jaringan Islam Liberal)

Ulil Abshar Abdalla tidak mengakui adanya hukum Tuhan, hingga syari’at mu’amalah (pergaulan antar manusia) dia kampanyekan agar tidak usah diikuti, seperti syari’at jilbab, qishosh, hudud, potong tangan bagi pencuri dan sebagainya itu tidak usah diikuti.” (Kompas, 18 November 2002)

Ulil juga berpendapat bahwa “Larangan kimpoi (kawin) beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi” (Kompas, 18 November 2002). Vodca (minuman keras beralkohol lebih dari 16%) pun menurut Ulil bisa jadi di Rusia halal, karena udaranya sangat dingin.

Ulil juga berpendapat bahwa dalam mengatur kehidupan modern ini Al-Qur’an tidak dijadikan pedoman, apalagi As-Sunnah. Justru yang dijadikan pedoman adalah apa yang ia sebut pengalaman manusia, dengan alasan bahwa Tuhan telah memuliakan (takrim) kepada manusia. Kalau untuk mengatur kehidupan modern ini masih merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang tertulis dalam teks, Ulil menganggapnya sebagai penyembahan terhadap teks. Ulil menginginkan agar apa yang ia sebut penyembahan teks itu dicari jalan keluarnya, di antaranya adalah menjadikan pengalaman manusia ini kedudukannya sejajar dengan Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an yang berupa teks itu hanyalah separoh dari Al-Qur’an, dan yang separohnya lagi adalah pengalaman manusia. (Media Dakwah Agustus 2004/ Jumadil Akhir 1424H)

Pendapat Ulil mengenai fatwa MUI 2005 yang melarang doa bersama antar agama : “Pertimbangan semacam ini, buat saya sama sekali kurang bisa dimengerti, karena tidak masuk di akal saya. Berdoa intinya adalah sama, entah dilakukan oleh seorang Muslim atau Kristen atau yang lain, yaitu memohon sesuatu yang baik dari Tuhan.” (MEDIA INDONESIA, Fatwa MUI dan Konservatisme Agama, Rabu, 03 Agustus 2005).

(Kumpulan ini dikutip dari nahimunkar.com).

Demikian, dan semoga anda tidak terkesan dengan kenangan JIL masa silam. Setelah beberapa waktu tidak beraksi, masuk 2010 JIL kembali menampakkan gaungnya. Ingatan kita juga masih segar dengan kasus Ahmadiyah. Di saat semua orang menentang ajaran Ahmadiyah berkembang di indonesia, JIL tampil sebagai pejuang pembela Ahmadiyah, atas nama kebebasan berideologi. Dengan berbagai alasan yang tidak masuk logika, JIL mempengaruhi sebagian pejabat pemerintah untuk memberikan suaka kepada Ahmadiyah.

Ingatan kita belum lapuk dengan peristiwa pelecehan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari mulai gambar karikatur, hingga film innocent. Di saat semua muslim marah dengan semua tindakan penistaan nabi itu, JIL tampil memukau dengan mengaburkan kaum muslimin bahwa sejatinya semua itu bukan termasuk bentuk penistaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Disaat semua kaum muslimin menolak konser lady gaga di indonesia, JIL tampil terdepan mendukung terselenggaranya konser dewi wts itu.

Di saat semua muslim menolak pagelaran miss universe, JIL menjadi garda depan yang mendukung berlangsungnya acara pameran aurat ini.

Dan tentu saja masih sangat banyak celoteh mereka, yang tidak mungkin disebutkan semuanya.

Mereka Adalah Munafik

Memahami track record JIL beserta semua catatan perjalanan JIL, analogi paling tepat untuk menggarkan JIL adalah orang munafik. Karakter mereka sama persis dengan karakter Abdullah bin Ubay bin Salul beserta komplotannya. Mereka tinggal di Madinah, mengaku beriman, bahkan mengikuti kegiatan kaum muslimin, namun di sisi lain, mereka menjadi musuh dalam selimut. Mereka melakukan berbagai macam makar, untuk bisa menghabisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Bermuka dua, untuk mendapatkan jaminan keamanan dari kaum muslimin dan dari para musuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun di saat yang sama, mereka berusaha melemahkan semangat para sahabat untuk mendukung dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berusaha untuk ‘gembosi’ di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki rencana yang membutuhkan dukungan muhajirin dan anshar.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kaum muslimin mendukung dakwah islam dengan harta mereka. Orang munafik maju di posisi terdepan, mengajak semua orang untuk tidak memberikan hartanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat muhajirin.

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنفِقُوا عَلَى مَنْ عِندَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ

Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kalian memberikan harta kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah agar mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. (QS. Al-Munafiqun: 7).

Anggapan orang munafik, jika orang-orang muhajirin, yang datang ke Madinah untuk mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau para ahlus suffah yang datang untuk belajar islam, jika mereka tidak diberi bantuan makanan, tidak diberi tanah untuk tinggal, mereka akan bubar meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi para sahabat untuk ikut perang tabuk, dan ketika itu cuaca sangat panas, sementara perbekalan sangat terbatas, orang munafik menempati garda terdepan mengambil sikap sebaliknya. Mereka memotivasi orang anshar agar tidak perlu ikut, cukup tinggal di Madinah.

وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

Mereka membenci berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. (QS. At-Taubah: 81)

Di saat kaum muslimin merasa yakin pertolongan Allah akan segera datang, dan mereka termotivasi untuk mendapatkan janji Allah, orang munafik meracuni pemikiran mereka, dan meneriakkan bahwa semua janji itu adalah dusta.

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

Ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada Kami melainkan tipuan”. (QS. Al-Ahzab: 12)

Di saat kaum muslimin dimotivasi agar keluar dari Madinah untuk berjaga di Khandak, menghalangi musuh multi suku yang hendak menyerang Madinah, orang-orang munafik menyuruh agar mereka balik ke madinah dan tidak perlu datang ke Khandak.

وَإِذْ قَالَت طَّائِفَةٌ مِّنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا

Ingatlah ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, Maka Kembalilah kamu”. (QS. Al-Ahzab: 13)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengusir orang yahudi Bani Nadzir yang berkhianat, orang munafik justru memberikan semangat kepada mereka untuk tidak meninggalkan kampungnya dan melawan kaum muslimin. Bahkan mereka berjanji akan membantu yahudi,

أَلَمْ تَر إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِن قُوتِلْتُمْ لَنَنصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya Kamipun akan keluar bersamamu; dan Kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti Kami akan membantu kamu.” dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (QS. Al-Hasyr: 11)

Prinsip mereka satu, apapun bentuk kebenaran yang diajarkan Nabi, mari kita tolak. Dan apapun kesesatan yang dilawan oleh Nabi, mari kita bela. Namun jangan terang-terangan memusuhi Nabi dan kaum muslimin.

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka saling menyuruh membuat yang munkar dan saling melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (sangat pelit). (QS. At-Taubah: 67).

Prinsip ini 100% sama dengan prinsip JIL yang berkembang di negara kita. Apapun yang sesuai ajaran islam, mari kita buat samar-samar. Dan apapun yang menyimpang dari ajaran islam, mari kita bela dan kita dukung. Tapi KTP harus tetap islam. Merekalah orang munafik…merekalah orang munafik.

JIL Membela Syiah

Ramadhan tahun ini, JIL membukan forum Tadarus Ramadan JIL. Isinya adalah bedah buku Al-Kafi, salah satu rujukan utama sekte syiah. Forum ini diadakan di Teater Utan Kayu, Jakarta. Narasumbernya, tokoh-tokoh syiah Indonesia, diantaranya Kang Jalal, Muhsin Labib, Muhammad al-Baqir, dan beberapa tokoh JIL.

Di situs andalan JIL, salah satu anggota JIL menulis artikel bertajuk syiah. Di bagian komentar, seorang pembaca yang beragama syiah, merasa berterima kasih atas jasa besar JIL yang telah mendukung atau setidaknya mengayomi syiah.

syiah berterima kasih kepada tokoh JIL
Komentar orang syiah berterima kasih kepada tokoh JIL

JIL mengangkat tajuk membela kaum minoritas yang tertindas. Pada kasus Sampang, mereka mendengung-dengungkan pembelaan untuk syiah sampang yang direlokasi. Pada kasus Ahmadiyah, mereka mengatakan bahwa perlakuan terhadap Ahmadiyah tidak adil. Semua atas nama HAM dan menolong kaum minoritas tertindas.

Sebenarnya kasus penindasan minoritas sangat sering terjadi di indonesia. Ketika kasus Ambon dan Poso berdarah, pemicunya penindasan kaum salibis terhadap kaum muslimin minoritas. Mengapa JIL diam saja?.

Beberapa kaum muslimin yang meniti sunah dan anti terhadap syirik dan bid’ah di daerah lombok, rumahnya dirusak, dilempari orang NW. Bahkan disiarkan di media televisi. Mengapa JIL diam saja?

Di saat banyak kamu muslimin tertidas di Palestina dan Suriah, mengapa JIL tidak angkat bicara?

Ketika kaum muslimin ditindas umat budha di rohingya, dimana ada kicau JIL?

Sejatinya sikap JIL bukan dalam rangka membela kaum tertindas. Tapi membela orang kafir yang kalah. “Orang-orang munafik berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya Kamipun akan keluar bersamamu’.”

Prinsip mereka amar munkar nahi ma’ruf. Kebenaran apapun yang sesuai syariat islam harus diberantas. Kesesatan apapun yang ada di dunia ini, harus didukung dan dikembangkan. Maka jawaban untuk pertanyaan di atas, ‘Mengapa JIL membela syiah?’ Karena syiah aliran sesat.

Sekali lagi kami tekankan, pembelaan JIL terhadap Syiah adalah bukti sangat nyata bahwa syiah adalah sesat.

Ya Rabb, lindungilah kaum muslimin dari makar syiah dan bala tentaranya.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

aqidah orang syiah

Orang Syiah Mengolok-olok Hadis Nabi

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz.

Ada hadis katanya orang Syiah HR Bukhori dan Muslim sbb:

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. menemui Ummu Haram binti Milhan. Lantas dia menjamu makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, Ummu Haram merupakan istri Ubadah bin Shamit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkunjung ke rumah wanita tersebut. Lantas wanita tersebut menjamu makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyisir rambut beliau (HR. Bukhari dan Muslim).

Apakah benar bunyi hadis tersebut di atas?

Wassalamu’alaikum wa jazakallah khair atas pencerahanya.

Dari: Riyanto

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Hadis yang Anda sebutkan ada dalam shahih Bukhari dan Muslim. Berikut redaksinya: Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ فَتُطْعِمُهُ، وَكَانَتْ أُمُّ حَرَامٍ تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَأَطْعَمَتْهُ، ثُمَّ جَلَسَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ، فَنَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ، غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللهِ، يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ، مُلُوكًا عَلَى الْأَسِرَّةِ»، قَالَ: قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، فَدَعَا لَهَا

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui Ummu Haram bintu Milhan. Ummu Haram pun memberi makan beliau. Ketika itu, Ummu Haram adalah istri dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu. Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ummu Haram di rumahnya. Beliau pun menyiapkan makanan untuk Nabi, kemudian Ummu Haram duduk sambil ‘metani’ (cari kutu atau kotoran) rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga Nabi tertidur, tiba-tiba bangun sambil tertawa.

Apa yang membuat Anda tertawa, ya Rasulullah?’ tanya Ummu Haram.

“Ada sekelompok umatku yang ditampakkan kepadaku. Mereka berperang di jalan Allah, melintasi tengah lautan, dan menjadi raja yang duduk di atas permadani.”

‘Ya Rasulullah, doakan agar Allah menjadiku termasuk mereka.’ Pinta Ummu Haram.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendoakannya.

Hadis ini diriwayatkan Bukhari dalam shahihnya no. 2788 dan Muslim dalam shahihnya, no. 1912, An-Nasai dalam sunannya no. 3171, Abu Daud no. 2491, Turmudzi no. 1645, Imam Malik dalam Al-Muwatha’ (1689/452). Artinya, hadis ini termasuk hadis muttafaq ‘alaih, hadis yang disepakati shahihnya.

Ada beberapa catatan dari pernyataan yang Anda sampaikan. Jika benar, orang Syiah menggunakan hadis ini sebagai bahan olok-olok.

Pertama, siapakah yang diolok-olok ketika orang Syiah itu menyebutkan hadis ini? Hadis ini disepakati shahihnya. Jika mereka menganggap aneh dan memperolok-olok, berarti mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sikap beliau membiarkan Ummu Haram untuk metani rambutnya, menunjukkan bahwa beliau setuju dengan hal itu.

Kedua, sejatinya orang Syiah tidak paham, siapakah Ummu Haram, dan apa hubungannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ulama sepakat bahwa Ummu Haram adalah mahram Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, sebab hubungan mahramnya, diperselisihkan para ulama.

Imam An-Nawawi mengatakan,

اتفق العلماء على أنها كانت محرما له صلى الله عليه وسلم واختلفوا فى كيفية ذلك فقال بن عبد البر وغيره كانت إحدى خالاته من الرضاعة وقال آخرون بل كانت خالة لأبيه  أو لجده لأن عبد المطلب كانت أمه من بني النجار

“Ulama sepakat bahwa Ummu Haram adalah mahram bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang sebab kemahramannya. Ibnu Abdil Bar dan yang lainnya mengatakan, ‘Ummu Haram adalah salah satu bibi beliau karena hubungan sepersusuan.’ Ada juga yang mengatakan, ‘Ummu haram adalah bibi bagi bapak beliau atau kakek beliau. Karena Abdul Muthalib ibunya dari bani najjar.’ (Syarh Shahih Muslim, 13/58).

Ketiga, kita mengaggap aneh orang Syiah yang merasa terheran dengan wanita yang metani rambut lelaki. Sebut saja, ini hanyalah bergaya sok-sok-an, agar masih dianggap peduli dengan kehormatan wanita. Padahal mereka begitu bangga dengan mut’ah, yang aslinya adalah zina. Seperti itulah karakter orang sesat, untuk menyembunyikan kesesatannya, mereka menuduh orang baik dengan tuduhan sesat.

Semoga Allah melindungi kita dari tipuan Syiah.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

mati syahid

Tentang Mati Syahid

Mati syahid itu mati yang bagaimana?

Dari: Hebri

(Dikirim melalui Aplikasi Tanya Ustadz untuk Windows Phone)

Jawaban:

Syahid secara bahasa merupakan turunan dari kata sya-hi-da [arab: شهد] yang artinya bersaksi atau hadir. Saksi kejadian, artinya hadir dan ada di tempat kejadian.

Istilah ini umumnya digunakan untuk menyebut orang yang meninggal di medan jihad dalam rangka menegakkan kalimat Allah.

Ulama berbeda pendapat tentang alasan mengapa mereka disebut syahid. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan sekitar 14 pendapat ulama tentang makna syahid. Berikut diantaranya,

  • Karena orang yang mati syahid hakekatnya masih hidup, seolah ruhnya menyaksikan, artinya hadir. Ini merupakan pendapat An-Nadhr bin Syumail.
  • Karena Allah dan para malaikatnya bersaksi bahwa dia ahli surga. Ini merupakan pendapat Ibnul Anbari.
  • Karena ketika ruhnya keluar, dia menyaksikan bahwa dirinya akan mendapatkan pahala yang dijanjikan.
  • Karena disaksikan bahwa dirinya mendapat jaminan keamanan dari neraka.
  • Karena ketika meninggal tidak ada yang menyaksikannya kecuali malaikat penebar rahmat.

Dan masih beberapa pendapat lainnya yang dirinci oleh ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari syarh Shahih Bukhari (6/42 – 43).

Hukum Khusus untuk Jenazah Mati Syahid

Ada 4 kewajiban kaum muslimin terhadap jenazah muslim yang lain: dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikubur.

Khusus untuk jenazah muslim yang mati syahid, ada 2 hukum khusus:

1. Tidak boleh dimandikan

Jenazah ini dibiarkan sebagaimana kondisi dia meninggal, sehingga dia dimakamkan bersama darahnya yang keluar.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda terkait jenazaj korban perang Uhud:

لَا تُغَسِّلُوهُمْ، فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ – أَوْ كُلَّ دَمٍ – يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jangan kalian mandikan mereka, karena setiap luka atau darah, akan mengelluarkan bau harum minyak misk pada hari kiamat.” (HR. Ahmad 14189 dan dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ketika perang Uhud:

ادْفِنُوهُمْ فِي دِمَائِهِمْ

“Kuburkan mereka bersama darah mereka.” Jabir mengatakan: “Mereka tidak dimandikan.” (HR. Bukhari 1346)

2. Boleh tidak dishalatkan

Artinya, jenazah korban perang fi sabilillah tidak wajib dishalatkan, dan boleh juga dishalatkan.

Jenazah yang meninggal di perang Uhud, dimakamkan tanpa dishalatkan. Jabir mengatakan,

وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar memakamkan mereka bersama dengan darah mereka, tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. (HR. Bukhari 1343)

Sementara dalil bahwa mereka boleh dishalatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalatkan jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman beliau yang meninggal ketika perang Uhud. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

أنّ شهداء أُحد لم يغسّلوا، ودفنوا بدمائهم، ولم يُصَلَّ عليهم؛ غير حمزة

“Para syuhada perang Uhud tidak dimandikan, mereka dikuburkan bersama darahnya, tidak dishalatkan, selain Hamzah.” (Shahih Sunan Abu Daud no. 2688).

Bukan Syahid tapi Mendapat Pahala Syahid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang mati di selain medan jihad, namun beliau menggelarinya sebagai syahid.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah syahid menurut kalian?”

‘Orang yang mati di jalan Allah, itulah syahid.’ Jawab para sahabat serempak.

“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit.” Lanjut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Lalu siapa saja mereka, wahai Rasulullah?’ tanya sahabat.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang bergelar syahid,

مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ

“Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.” (HR. Muslim 1915).

Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.” (HR. Bukhari 2480).

Dari Jabir bin Atik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena tha’un syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan Al-Albani).

Mereka digelari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syahid, namun jenazahnya disikapi sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Artinya tetap wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan. Para ulama mengistilahkan dengan syahid akhirat. Di akhirat dia mendapat pahala syahid, namun di dunia dia ditangani sebagaimana umumnya jenazah.

Ketika mejelaskan hadis daftar orang yang mati syahid selain di medan jihad, Al-Hafidz Al-Aini mengatakan,

فهم شُهَدَاء حكما لَا حَقِيقَة، وَهَذَا فضل من الله تَعَالَى لهَذِهِ الْأمة بِأَن جعل مَا جرى عَلَيْهِم تمحيصاً لذنوبهم وَزِيَادَة فِي أجرهم بَلغهُمْ بهَا دَرَجَات الشُّهَدَاء الْحَقِيقِيَّة ومراتبهم، فَلهَذَا يغسلون وَيعْمل بهم مَا يعْمل بِسَائِر أموات الْمُسلمين

“Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.” (Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).

Macam-Macam Syahid

Dari berbagai hadis yang menyebutkan tentang mati syahid, Al-Hafidz Al-Aini membagi syahid menjadi tiga macam. Beliau mengatakan dalam lanjutan penkelsannya,

وَفِي (التَّوْضِيح) : الشُّهَدَاء ثَلَاثَة أَقسَام: شَهِيد فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة، وَهُوَ الْمَقْتُول فِي حَرْب الْكفَّار بِسَبَب من الْأَسْبَاب، وشهيد فِي الْآخِرَة دون أَحْكَام الدُّنْيَا، وهم من ذكرُوا آنِفا. وشهيد فِي الدُّنْيَا دون الْآخِرَة، وَهُوَ من غل فِي الْغَنِيمَة وَمن قتل مُدبرا أَو مَا فِي مَعْنَاهُ.

Dalam kitab ‘At-Taudhih’ disebutkan: Orang yang mati syahid ada 3:

  • Syahid dunia dan akhirat, merekalah orang yang terbunuh karena sebab apapun di medan perang melawan orang kafir.
  • Syahid akhirat, namun hukum di dunia tidak syahid. Mereka adalah orang yang disebut syahid, namun mati di selain medan perang.
  • Syahid dunia, dan bukan akhirat. Dialah orang yang mati di medan jihad, sementara dia ghulul (mencuri ghanimah), atau terbunuh ketika lari dari medan perang, atau sebab lainnya.

(Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).

Untuk orang yang berstatus syahid dunia, namun bukan akhirat, karena ketika dia mati, kaum muslimin menyikapinya sebagaimana orang yang mati di medan perang, jasadnya tidak dimandikan. Namun mengingat orang ini melakukan pelanggaran ketika jihad, dia tidak mendapatkan pahala mati syahid di akhirat.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

SOCIAL

10,093FansLike
4,525FollowersFollow
33,629FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup