tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

aliran syiah dan islam

Doktrin Syiah yang Paling Berbahaya

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu diantara aqidah syiah yang paling berbahaya adalah doktrin taqiyah. Taqiyah dalam ajaran syiah adalah upaya berbohong dalam rangka menyembunyikan jati diri ketika dalam kondisi Syiah minoritas. Baik untuk tujuan menjaga diri dari gangguan luar atau untuk menimbulkan kesamaran di tengah masyarakat tentag hakekat syiah atau untuk menyudutkan lawan syiah.

Taqiyah dilakukan dengan cara menampakkan sesuatu berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya. Ungkapan lainnya artinya nifaq dan menipu, sebagai usaha mengelabui atau mengecoh manusia. Dengan bahasa yang lebih ringkas, taqiyah hakikatnya adalah berdusta.

(Simak keterangan Muhammad Jawad Mughniyah, dalam bukunya As-Syiah fil Mizan).

Taqiyah, Rukun Penting dalam Agama Syiah

Taqiyah menjadi ajaran penting dalam agama Syi’ah. Para tokoh syiah membuat berbagai riwayat dusta atas nama ahlul bait, untuk memotivasi umat Syiah agar melakukan taqiyah. Taqiyah mereka jadikan prinsip hidup yang tidak terpisahkan dalam ajaran syiah. Berikut beberapa riwayat dusta atas nama ahlul bait, tentang pentingnya Taqiyah,

Pertama, taqiyah bagian dari agama

Keterangan Al-Kulaini, tokoh syiah ini meriwayatkan dari Ja’far As-Shadiq,

التقية من ديني ودين آبائي ولا إيمان لمن لا تقية له

“Taqiyah bagian dari agamaku dan agama bapak-bapakku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.”

Dia juga meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far,

إن تسعة أعشار الدين في التقية , ولا دين لمن لا تقية له

“Sesungguhnya sembilan persepuluh (90%) bagian agama adalah taqiyah. Tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.”

[Ushul Al-Kafi 2/217, Biharul Anwar 75/423, dan Wasail Syiah 11/460].

Kedua, taqiyah merupakan akhlak paling mulia

Keterangan At-Thusi. Dalam bukunya Al-Amali, dia meriwayatkan dari Ja’far,

ليس منا من لم يلزم التقية , ويصوننا عن سفلة الرعية

“Bukan bagian dariku, orang yang tidak menekuni taqiyah, dan tidak melindungi kami dari rakyat jelata.”

Kemudian dalam Al-Ushul Al-Ashliyah, At-Thusi juga meriwayatkan dari Imam Al-Baqir, bahwa beliau ditanya, ‘Siapakah manusia yang paling sempurna?’ Jawab Imam Al-Baqir,

أعلمهم بالتقية … وأقضاهم لحقوق إخوانه

“Orang yang paling tahu tentang taqiyah.. dan yang paling sempurna dalam menunaikan hak saudaranya.”

Juga diriwayatkan dari Al-Baqir,

أشرف أخلاق الأئمة والفاضلين من شيعتنا استعمال التقية

“Akhlak paling mulia dari para imam dan orang-orang penting dari kelompok kami adalah melakukan taqiyah.”

Kemudian, dalam kitab Al-Mahasin, dari Habib bin Basyir, dari Abu Abdillah,

لا والله ما على الأرض شيء أحب إلي من التقية، يا حبيب إنه من له تقية رفعه الله يا حبيب من لم يكن له تقية وضعه الله

“Demi Allah, tidak ada di muka bumi ini, sesuatu yang lebih aku cintai melebihi taqiyah. Wahai Habib, orang yang melakukan taqiyah, Allah akan angkat derajatnya. Wahai Habib, siapa yang tidak melakukan taqiyah, akan Allah rendahkan.”

Ketiga, taqiyah hukumnya wajib, meninggalkan taqiyah = meninggalkan shalat

Tokoh Syiah Ibnu Babawaih mengatakan,

اعتقادنا في التقية أنها واجبة من تركها بمنزلة من ترك الصلاة

“Keyakinan kami tentang taqiyah, bahwa taqiyah itu wajib. Siapa yang meninggalkan taqiyah, seperti orang yang meninggalkan shalat.” (Al-I’tiqadat, hlm. 114).

Untuk mendukung keterangannya, dia tidak malu untuk berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menyantumkan hadis palsu,

تارك التقية كتارك الصلاة

“Orang yang meninggalkan taqiyah, sama dengan orang yang meninggalkan shalat.”

[Simak Jami’ Al-Akhbar, hlm. 110 dan Bihar Al-Anwar, 75/412]

Ketika Bohong Menjadi Prinsip Agama

Apa yang bisa anda simpulkan, ketika bohong kebiasaan hidup seseorang atau menjadi prinsip hidup seseorang. Anda tentu yakin, orang ini akan selalu diwaspadai oleh rekan dan lingkungannya. Karena dia bisa menipu siapapun, kapanpun dan di manapun.

Bagi syiah, taqiyah (baca: berbohong) tidak semata menjadi prinsip hidup. Lebih dari itu, mereka meyakini, taqiyah merupakan amal sholeh yang menjadi sumber pahala. Berbohong demi syiah mereka anggap sebagai amal ibadah mulia yang akan meningkatkan derajatnya.

Mereka bisa memiliki 1000 wajah untuk mengelabuhi masyarakat tentang siapakah sejatinya syiah. Mereka bisa berdusta dan berbohong, kapanpun dan dimanapun, demi pencitraan syiah. Mereka bisa berbohong untuk membangun opini positif di mata publik tentang Iran. Mereka tidak segan berdusta, untuk menarik simpati kaum muslimin terhadap syiah. Mereka bisa berdusta untuk menciptakan kesan, syiah adalah kelompok minoritas yang tertindas. Mereka juga tidak segan berdusta, menampakkan perlawanan terhadap Zionis yahudi di mata dunia, meskipun sejatinya mereka sendiri seperti yahudi.

Siapa sasarannya?

Tentu saja bukan kepada sesama syiah. Bohong ini mereka arahkan kepada kelompok yang mereka anggap sebagai musuh besar syiah, yaitu kaum muslimin ahlus sunnah wal jamaah. Kami, anda, dan seluruh kaum muslimin yang bukan syiah adalah sasaran utama kebohongan taqiyah itu.

Itulah yang menjadi landasan Khomaini untuk memobilisasi masa. Dia menekankan kepada para pengikutnya, kaum muslimin selain syiah sama sekali tidak memiliki kehormatan, layaknya orang kafir. Menipu mereka atau bahkan menumpahkan darah mereka adalah tindakan mulia yang layak dilakukan semua orang syiah.

Dalam bukunya Al-Makasib Al-Muharramah, Khomaini mengatakan,

فلا شبهة في عدم احترامهم، بل هو من ضروري المذهب كما قال المحققون، بل الناظر في الأخبار الكثيرة في الأبواب المتفرقة لا يرتاب في جواز هتكهم والوقيعة فيهم، بل الأئمة المعصومون أكثروا في الطعن واللعن عليهم، وذكر مساويهم… والظاهر منها جواز الافتراء والقذف عليهم.

“Tidak ada lagi keraguan, bahwa mereka (ahlus sunah), tidak memiliki kehormatan. Bahkan itu bagian prinsip penting dalam madzhab syiah, sebagaimana yang disampaikan ulama. Orang yang mempelajari berbagai riwayat yang banyak dalam berbagai kajian yang berbeda, tidak akan ragu tentang bolehnya merusak mereka dan menyakiti mereka. Bahkan para imam maksum, sangat sering mencela, melaknat, serta menghina mereka (ahlus sunah)….dan yang zahir, boleh membuat kedustaan dan melemparkan kedustaan kepada mereka”

[Al-Makasib Al-Muharramah, Al-Khumaini, Muassasah Ismailiyan, cet. Ketiga, 1410 H. Jilid 1, hlm. 251 – 252].

Hal yang sama juga disampaikan Al-Khou’i – salah satu tokoh syiah yang sangat membenci ahlus sunah – ,

… وأما هجو المخالفين أو المبدعين في الدين فلا شبهة في جوازه؛ لأنه قد تقدم في مبحث الغيبة، أن المراد بالمؤمن هو القائل بإمرة الإثني عشر (عليهم السلام)، … ومن الواضح أن ما دل على حرمة الهجو مختص بالمؤمن من الشيعة، فيخرج غيرهم عن حدود حرمة الهجو موضوعاً…. أنه قد تقتضي المصلحة الملزمة جواز بهتهم والإزراء عليهم، وذكرهم بما ليس فيهم افتضاحاً لهم، والمصلحة في ذلك استبانة شؤونهم لضعفاء المؤمنين، حتى لا يغتروا بآرائهم الخبيثة

“Menghina kaum yang menyimpang atau para pelaku bid’ah dalam agama (ahlus sunah), tidak samarnya, hukumnya boleh. Sebagaimana pembahasan ghibah yang telah lewat, bahwa yang dimaksud orang mukmin adalah mereka yang mengikuti prinsip kepemimpinan imam dua belas ‘alaihimus salam,… dan sangat jelas, dalil yang menunjukkan larangan menghina, hanya tertuju kepada orang syiah yang beriman. Sehingga tidak termasuk selain syiah, mereka di luar batas larangan penghinaan.… Berdasarkan tuntutan kemaslahatan yang kuat, boleh memfitnah mereka, melemparkan kedustaan kepada mereka, menyebutkan kesalahan yang tidak mereka lakukan, untuk mempermalukan mereka. Bentuk maslahat dalam hal ini adalah membeberkan keadaan buruk mereka, mengingat kaum muskminin (baca: Syiah) masih lemah. Sehingga syiah yang lemah iman ini tidak tertipu dengan pemikiran buruk mereka…”

[Misbah Al-Faqahah, Al-Khou’i, penerbit Al-Ilmiah, Qom, cet. Pertama, jilid 1, hlm. 700 – 701].

Allahul musta’an, seperti itulah kebencian mereka terhadap kaum muslimin. Berlindunglah kepada Allah, agar anda tidak menjadi salah satu korban kekejaman mereka.

Peringatan Ulama tentang Kedustaan Syiah

Memahami kenyataan prinsip taqiyah, para ulama kaum muslimin sejak masa silam telah mengingatkan penipuan mereka. Mereka menolak informasi dari syiah, karena memiliki sifat dasar: pembohong. Berikut pernyataan mereka,

1. Keterangan Imam Malik

Asyhab – ulama Malikiyah – mengatakan,

سئل مالك عن الرافضة ؟ قال لا نكلمهم ولا نروي عنهم فإنهم يكذبون

“Imam Malik ditanya tentang rafidhah (syiah). Jawaban beliau: “Kami tidak mau bicara dengan mereka, tidak meriwayatkan dari mereka, karena mereka suka berdusta.”

2. Keterangan Imam As-Syafii

Diriwayatkan oleh Harmalah – salah satu murid Imam As-Syafii –,

سمعت الشافعي يقول لم أر أشهد بالزور من الرافضة

“Saya mendengar As-Syafii mengatakan, ‘Saya belum pernah mengetahui ada kelompok yang paling mudah berdusta melebihi rafidhah (syiah).”

3. Yazid bin Harun Al-Wasithi – salah satu ulama tabi’ tabiin – mengatakan,

يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون

“Boleh ditulis semua hadis dari pelaku bid’ah, selama dia bukan tokohnya. Kecuali rafidhah, karena mereka suka berdusta.”

[Simak 3 keterangan di atas dalam An-Nukat ‘ala Muqadimah Ibnu Sholah, Az-Zarkasyi, 3/399 dan Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327].

4. Syarik bin Abdillah – seorang Qadhi Kufah di zaman Imam Abu Hanifah – mengatakan,

أحمل العلم عن كل من لقيت إلا الرافضة فإنهم يضعون الحديث ويتخذونه دينا

“Saya menimba ilmu (hadis) dari setiap orang yang saya jumpai, kecuali rafidhah (syiah). Karena mereka memalsu hadis dan menjadikannya sebagai aturan agama.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).

5. Bahkan hanya sebatas mencela sahabat, hadisnya sudah tidak boleh diterima, karena diduga syiah. Itulah kehati-hatian yang dilakukan Ibnul Mubarok – gurunya Imam Bukhari –, beliau mengatakan,

لا تحدثوا عن عمرو بن ثابت فإنه كان يسب السلف

“Janganlah kalian mengambil hadis dari Amr bin Tsabit. Karena dia melaknat para sahabat.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).

6. Syaikhul Islam mengatakan

وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والإسناد على أن الرافضة أكذب الطوائف والكذب فيهم قديم ولهذا كان أئمة الإسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب

“Para ulama sepakat, berdasarkan nukilan, riwayat, dan sanad, bahwa rafidhah (syiah) adalah kelompok paling pendusta. Dan dusta bagi mereka, ada sejak masa silam. Karena itu, para ulama islam mengenal ciri khas mereka dengan banyaknya berdusta.” Selanjutnya, Syaikhul Islam menyebutkan beberapa riwayat di atas. (Minhaj As-Sunah An-Nabawiyah, 1/59).

7. Keterangan lainnya dari Ibnu Hazm, dalam karyanya tentang firqah dan kelompok-kelompok yang menisbahkan dirinya kepada islam,

… إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة …وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر

Rafidhah (syiah) adalah kelompok yang pertama kali muncul 25 tahun setelah meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan itulah kelompok yang sangat persis denga Yahudi dan Nasrani dalam hal berdusta dan melakukan kekufuran. (Al-Fashl fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa An-Nihal, Ibnu Hazm, 1/176).

Atas Nama Ahlul Bait

Selanjutnya anda bisa menilai klaim mereka sebagai pengikut ahlul bait. Anda bisa menilai kebenaran pengakuan mereka sebagai pemilik riwayat dari Ahlul Bait.

1. Mungkinkah ahlul bait mengajarkan kawin kontrak (nikah mut’ah) yang sama sekali tidak berbeda dengan zina?

Sebagai referensi penilaian, anda bisa simak aturan nikah mut’ah dan tarifnya di Iran:

2. Mungkikah ahlul bait mengajarkan kaum muslimin untuk melaknat Abu Bakar, Umar, Utsman, A’isyah, dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya?

Sebagai referensi penilaian, anda bisa pelajari:

3. Mungkinkah ahlul bait mengajarkan doktrin bahwa Al-Quran telah berubah? Mungkinkah mereka masih menyimpan Al-Quran, dan tidak diajarkan kepada kaum muslimin yang lainnya dan hanya dimiliki syiah.

Sebagai referensi, anda bisa pelajari,

4. Mungkinkah ahlu bait mengajarkan kultus kepada para Imam, dan orang shaleh. Sampai memposisikan mereka layaknya Tuhan.

Sebagai referensi, anda bisa pelajari,

5. Dan mungkinkah ahlul bait mengajarkan umat untuk rajin berdusta?? Sehebat apapun penipu, dia tidak akan pernah mau ditipu.

Masih ada segudang keyakinan aneh syiah, yang dia klaim sebagai ajaran ahlul bait. Anda bisa pelajari di:

Penjelasan Syiah lebih Ilmiah?

Karena itu, sungguh aneh ketika ada orang yang menjadikan keterangan syiah sebagai referensi yang dihargai. Bagaimana mungkin, pendusta dan pembohong bisa menjadi rujukan dalam informasi. Terlebih di saat musim ketegangan antara kaum muslimin dan kelompok syiah.

Lebih menyedihkan lagi, ketika ada orang yang tertipu dan menganggap keterangan tokoh syiah lebih ilmiah. Anda boleh geleng kepala… bohong, dianggap ilmiah. Sayangnya, mereka yang tertipu dengan kebohongan syiah kebanyakan dari kalangan civitas akademik universitas-universitas ‘islam’ (dalam tanda kutip) di Indonesia.

Sebagai contoh, anda bisa saksikan, bagaimana upaya pembelaan mereka terhadap kekejaman pemerintahan Basyar, yang membantai kaum muslimin Suriah.

Beberapa klaim yang sering kita dengar, yang mengunggulkan syiah,

1. Syiah penganut ahlul bait

2. Sunni mendapat riwayat dari sahabat, dan syiah mendapat riwayat dari ahlul bait

3. Iran musuh besar Amerika & Zionis Yahudi

4. Iran memiliki bom nuklir yang membuat Amerika & Zionis Yahudi gentar

5. Iran & Syiah, musuh barat – pembebas palestina

6. Iran negera islam makmur & berperadaban

7. Iran pemimpin peradaban islam dunia

8. Perjuangan sang revolusioner ayatollah Khumaini

9. Ahmadi Nejad, pemimpin muslimin dunia yang rendah hati

10. Al-Quran kita sama

Dan sejuta klaim lainnya. Namun sayang, banyak orang yang rela untuk jadi korban kedustaan mereka. Semoga kita tidak termasuk…

Kang Jalal Berdusta

Jika anda mendengar kalimat ini maka benarkanlah. Tokoh sentral syiah indonesia ini, sering sekali menukil dalil atau keterangan ulama dengan cara serampangan. Tidak lain, dalam rangka mengelabuhi masyarakat tentang hakekat syiah. Sekalipun harus memlintir ayat Al-Quran atau hadis, atau keterangan ulama. Yang penting, syiah menang.

Anda bisa simak beritanya di:

Sudah saatnya anda buang jauh-jauh citra orang ini, agar anda tidak termasuk korban penipuannya.

Buku-buku Syiah

Pernahkah anda mendapatkan buku syiah dijual bebas di pasaran? Pernahkah anda membeli referensi asli syiah beredar di toko-toko buku? Bagian ini yang mungkin sering kita lupakan. Mengapa mereka begitu merahasiakan buku-buku dan referensi asli mereka? Informasi dari beberapa rekan yang ingin mencari fakta, merasa kesulitan untuk mendapatkan buku asli karya ulama-ulama syiah Iran. Itulah sikap eksklusif Iran. Dia jauh lebih tertutup dibandingkan Amerika. Seolah, pemerintah Iran berusaha menutup rapat, jangan sampai kaum muslimin dunia mempelajari aqidah, doktrin dan ajaran Syiah Iran. Kecuali jika kita telah menjadi syiah. Kita bisa dengan mudah mendapatkan referensi asli mereka. Tapi sekali lagi…, jika otak kita sudah terinstal program syiah.

Ini berbeda dengan Saudi. Pemerintah Saudi sangat gencar menyebarkan buku-buku gratis ajaran islam yang didakwahkan di Saudi kepada umumnya masyarakat. Mereka begitu terbuka di hadapan kaum muslimin. Seolah Saudi ingin berteriak kepada kaum muslimin, silahkan pelajari seluruh aqidah, doktrin dan ajaran kami. Dan silahkan memberikan penilaian, apakah ajaran kami sesat ataukah sesuai Al-Quran dan sunah. Anda bisa menilai, jika memang prinsip beragama yang diajarkan oleh pemerintah Saudi itu sesat, mereka akan berusaha merahasiakannya, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Iran terhadap ajaran Syiah.

Buka Kedok dengan Referensi Asli

Karena itu, ketika seseorang hendak debat dengan syiah, dia wajib mempelajari buku-buku syiah. Referansi asli yang ditulis oleh tangan-tangan tokoh syiah. Tanpa ini, dia hanya akan menjadi bahan tipuan orang syiah yang menjadi lawan debatnya. Sebagaimana yang pernah terjadi pada salah satu dai di Jogja, hingga akhirnya dia mengikuti Syiah.

Dengan buku asli, ketahuan kedoknya. Di situlah syiah tidak bisa mengelak. Mereka tidak bisa mengelabuhi. Karena wajah asli syiah, ada dalam karya tokoh aliran sesat ini. Sekalipun sejuta kemunafikan untuk menutupi dirinya, dia tidak akan bisa mengelak jika ditunjukkan ucapan tokohnya.

Sungguh betapa capeknya dakwah melawan syiah. Karena doktrin yang paling berbahaya yang mereka miliki: taqiyah, yang hakekatnya adalah kemunafikan. Semoga Allah melindungi kita dari kelompok munafik, yang menjadi musuh dalam selimut bagi kaum muslimin ini.

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Ruqyah dengan Mikrofon (Pengeras Suara)

Pertanyaan:

Ada sebagian orang yang melakukan ruqyah syar’iyah dengan mengumpulkan orang yang akan dibacakan ruqyah atas mereka di satu tempat. Orang yang meruqyah membacakan ruqyah dengan menggunakan mikrofon karena terlalu banyak jumlah yang diruqyah. Bagaimana hukum membaca ruqyah seperti ini? Dan apa hukumnya menggunakan mikrofon?

Jawaban:

Sebaqian orang yang membacakan ruqyah menyebutkan bahwa hal itu manjur, berhasil, dan banyak penderita yang bisa sembuh. Karena, ketika orang yang kerasukan jin mendengar ayat-ayat, doa-doa, dan wirid-wirid, itu akan berpengaruh terhadap jin yang merasukinya. Jin tersebut merasa sakit dan meninggalkan manusia. Dan Alquran memang penawar penyakit seperti yang digambarkan oleh Allah, karena itulah memberi pengaruh terhadap jin yang merasukinya.

Kendati demikian, ruqyah yang sesuai syariat adalah orang yang mengobati mendekati si pasien dan membacakan beberapa ayat di sampingnya, meludah sedikit kepadanya, mengusapkan sedikit bekas air liur di bagian tubuhnya, memperdengarkannya beberapa ayat dan doa sehingga berpengaruh ketika  mendengarkannya. Atas dasar inilah apabila setiap orang bisa melakukan ruqyah sendirian, tentu lebih baik. Kalau ia merasa susah, bisa seperti yang telah disebutkan tadi, berupa membaca lewat pengeras suara, serta diketahui bahwa pengaruhnya lebih kecil daripada pengaruh membaca sendirian.

Wallahu A’lam.

Fatwa Syaikh Abdullah al-Jibrin yang beliau tanda tangani

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq Cetakan IV

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

aliran islam syiah

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pada tulisan sebelumnya (Puasa Syiah Vs Puasa Nabi Bagian 01), kita telah menyebutkan sisi perbedaan antara syariat puasa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan tradisi puasa yang diajarkan dalam agama Syiah. Kita masih menyisakan beberapa ajaran puasa Syiah, berikut diantaranya,

Pertama, berbuka setelah awan merah menghilang

Salah satu kebiasaan Syiah adalah berbuka setelah betul-betul masuk waktu malam. Di saat awan merah di ufuk  telah menghilang dan bintang mulai terbit.

Dalam kitab Wasail As-Syi’ah karya Muhammad bin Al-Hasan Al-Hur Al-Amili, dinyatakan,

باب ان وقت الافطار هو ذهاب الحمرة المشرقية فلا يجوز قبله

Bab: waktu berbuka adalah sampai hilangnya mega merah di ufuk timur, dan tidak boleh sebelumnya.

Di bawah judul bab ini, selanjutnya dia membawakan beberapa riwayat dusta atas nama Ahlul Bait, diantaranya:

عن زرارة قال : سألت أبا جعفر عليه ‌السلام عن وقت إفطار الصائم؟ قال : حين يبدو ثلاثة أنجم

Dari Zurarah, saya pernah bertanya kepada Abu Ja’far – alaihis salam – tentang waktu berbuka bagi orang yang puasa? Beliau menjawab: ‘Ketika telah terbit 3 bintang.’

Abu Ja’far : cucu Husain bin Ali bin Abi Thalib. Beliau bergelar Al-Baqir. Salah satu ulama ahlus sunah yang dikultuskan Syiah. Dan satu kedustaan, beliau memfatwakan demikian.

Al-Hur Al-Amili memberi komentar,

هذا محمول على من خفي عليه المشرق فلم يعلم ذهاب الحمرة إلا بظهور النجوم كما مر في مواقيت الصلوات ، أو على استحباب تقديم الصلوات على الافطار وحينئذ تبدو ثلاثة أنجم ، ذكره بعض المتأخرين

Ini dipahami bahwa orang yang tidak mengetahui arah timur, sehingga dia tidak tahu hilangnya awan merah kecuali setelah terbit bintang, sebagaimana penjelasan dalam waktu-waktu shalat atau dianjurkan untuk mendahulukan shalat (maghrib) dari pada berbuka. Sehingga setelah itu terbit 3 bintang. Demikian yang dijelaskan ulama mutaakhirin (Syiah). [Wasail As-Syiah, hlm. 124 – 125]

Keterangan ini yang selanjutnya dipraktekkan masyarakat penganut agama Syiah di masa ini. Termasuk komunitas Syiah di indonesia. Sebagaimana pengakuan beberapa orang yang pernah mengikuti kegiatan buka bersama yang diadakan kelompok Syiah indonesia.

Jika kita perhatikan, apa yang dipraktekkan oleh Syiah dalam kebiasaan berbuka ini, sama persis sebagaimana kebiasaan orang yahudi dan nasrani. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الدين ظاهراً، ما عجّل النّاس الفطر؛ لأنّ اليهود والنّصارى يؤخّرون

“Agama Islam akan senantiasa menang, selama masyarakat (Islam) menyegerakan berbuka. Karena orang yahudi dan nasrani mengakhirkan waktu berbuka.” (HR. Ahmad 9810, Abu Daud 2353, Ibn Hibban 3509 dan statusnya hadia hasan).

Dalam riwayat lain, itu disebabkan orang yahudi suka mengakhirkan waktu maghrib sampai terbit bintang. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sengaja menunda shalat maghrib hingga terbit bintang,

لَا تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى الْفِطْرَةِ، مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ حَتَّى تَشْتَبِكَ النُّجُومُ

“Umatku akan senantiasa berada di atas fitrah, selama tidak menunda waktu maghrib sampai bintang-bintang mulai terbit.” (HR. Ahmad 15717, Ibn Majah 689, dan statusnya Hasan).

Kebiasaan berbuka puasa orang Syiah ini berbeda dengan apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menganjurkan kepada umat Islam untuk menyegerahkan berbuka. Segera berbuka sejak bulatan matahari sudah tenggelam, meskipun awan merah masih merekah di ufuk barat.

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال أمَّتي على سُنَّتي ما لم تنتظر بفطرها النّجوم

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang.”

Sahabat Sahl mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika puasa, beliau pernah menyuruh seseorang. Ketika orang ini mengatakan, ‘Matahari telah tenggelam’ maka beliaupun langsung berbuka.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya 3/275, dan sanadnya shahih).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbuka pada saat awan merah di langit masih sangat cerah, hingga sebagian sahabat menyebutnya masih siang.

Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، فَلَمَّا غَابَتِ الشَّمْسُ قَالَ: «يَا فُلَانُ، انْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا» قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ عَلَيْكَ نَهَارًا، قَالَ: «انْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا» قَالَ: فَنَزَلَ فَجَدَحَ، فَأَتَاهُ بِهِ، فَشَرِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, dan saat itu beliau puasa. Ketika matahari sudah terbenam, beliau memanggil sahabat yang di atas kendaraan, ‘Wahai Fulan, turun, kita buat minuman.’ Sahabat ini menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sekarang masih siang.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyuruhnya, ‘Turun, kita siapkan minuman.’ Orang inipun turun, kemduian menyiapkan minuman dari sawiq dan dihidangkan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaupun meminumnya. (HR. Bukhari 1956 & Muslim 1101).

Dari keterangan sahabat yang disuruh turun: ‘Wahai Rasulullah, sekarang masih siang’ karena dia melihat suasana langit yang masih terang merah setelah bulatan matahari terbenam. Sehingga dia menyangka belum boleh berbuka.

Ketika menjelaskan hadis di atas, Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan,

في الحديث استحباب تعجيل الفطر ، وأنه لا يجب إمساك جزء من الليل مطلقا ، بل متى تحقق غروب الشمس حل الفطر

Hadis ini menunjukkan dianjurkannya menyegerahkan berbuka, dan tidak wajib melanjutkan puasa hingga betul-betul malam. Akan tetapi, jika sudah yakin matahari telah terbenam, halal untuk berbuka. (Fathul Bari, 4/197).

Celaan Imam An-Nawawi untuk Syiah

Dalam karyanya, Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi mengatakan,

المغرب تُعَجَّل عقب غروب الشمس ، وهذا مجمع عليه ، وقد حُكِيَ عن الشيعة فيه شيء لا التفات إليه ، ولا أصل له

“Waktu maghrib segara setelah terbenamnya bulatan matahari. Inilah yang disepakati umat Islam. Dikisahkan dari orang Syiah yang berbeda dengan ini, tidak perlu digubris dan itu tidak berdasar.” (Syarh Shahih Muslim, 5/136).

Kedua, hubungan intim ketika puasa

Yang tidak akan pernah ketinggalan ketika membahas Syiah, masalah ranjang dan kemaluan. Untuk menemukan fatwa unik mereka tentang itu, sangat mudah dan sangat banyak. Dari mulai nikah mut’ah, mengawini binatang, homo, hingga menjadikan istri orang sebagai gundik mut’ah. Jika anda membaca fatwa tokoh-tokoh mereka tentang masalah seks, anda mungkin akan berkesimpulan, sebagian besar penduduk iran adalah anak zina. Saking merebaknya zina legal (mut’ah) di iran.

Salah satu keajaiban itu, bisa anda saksikan di: Tarif Nikah Mut’ah

Tak heran, jika banyak wanita iran korban mut’ah yang bertahan hidup dengan ganti-ganti pasangan mut’ah. Sebuah video dokumenter, bisa anda saksikan di:

Iran-Prostitution Behind the Veil

Atau video: Mut’ah: The Truth Behind Iran’s Illegal Prostitution Rings

Tidak bisa dibayangkan, ketika Syiah berkembang di indonesia dan mut’ah dilegalkan, bagaimanakah nasib para wanita indonesia ketika itu?.

Tak terkecuali seks ketika Ramadhan. Mereka memberi kelonggaran sangat luas bagi umat Syiah untuk memuaskan dirinya dengan mukadimah hubungan. Boleh secara sengaja melakukan pemanasan, selama tidak sengaja melakukan hubungan.

Dalam kitab Minhaj As-Shalihin, karya Al-Khou’i, dia menjelaskan,

لا يبطل الصوم اذا قصد التفخيذ فدخل في أحد الفرجين من دون قصد . ولو قصد الجماع وشك في الدخول او بلوغ مقدار الحشفة بطل صومه ولكن لم تجب الكفارة عليه

Tidak batal puasa seseorang yang melakukan petting, kemudian secara tidak sengaja zakar masuk ke salah satu lubang (qubul atau dubur). Jika sengaja jimak, namun ragu apakah tadi sudah  masuk semua atau ragu berapa yang sudah masuk dari hasyafah, maka puasanya batal, namun dia tidak wajib membayar kaffarah. (Minhaj As-Shalihin, 1/263).

Subhanallah…

Dimanakan rasa malu mereka terhadap kehormatan bulan Ramadhan. Sementara Allah dan rasul-Nya menyebut orang yang puasa sebagai orang yang meninggalkan syahwat untuk Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي

Allah berfirman, “Puasa itu milik-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya. Orang yang puasa meninggalkan syahwatnya, makan-minumnya karena-Ku.” (HR. Bukhari 7492, Muslim 1151 dan yang lainnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang orang yang puasa untuk melakukan rafats, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ

“Puasa adalah tameng, karena itu, janganlah dia melakukan rafats dan bertindak bodoh…” (HR. Bukhari 1894, Muslim 1151, dan yang lainnya).

Yang dimaksud rafats adalah melakukan hubungan badan dan mukadimahnya.

Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan dan tipu daya Syiah.

Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

orang yang dilaknat

Buletin Jum’at Edisi 8

Judul: 10 Orang Yang Dilaknat Malaikat

Cara pemesanan buletin:

Pemesanan minimal 50 lembar untuk daerah DIY dan 100 lembar untuk Jawa dan Luar pulau Jawa

Infaq dan ganti biaya cetak:

50 lembar/Rp 35.000 dan 100 lembar/ Rp 70.000 Ongkos kirim ditanggung pemesan

Kami siap mendistribusikan pesanan Anda untuk masjid-masjid atau lembaga Islam yang membutuhkan

Pemesanan:

Ketik Buletin Konsultasisyariah.com/jumlah/nama/alamat lengkap/nmr hp kirim Sms/WA 089694277414 atau add Pin:32516447 —

Atau Download Gratis: Klik Download Buletin

Artikel Buletin Jum’at

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kita telah memahami bahwa doa malaikat adalah dosa mustajab. Disamping karena mereka makhluk yang dekat dengan Allah, doa yang dipanjatkan para malaikat semuanya atas perintah dari Allah. Karena malaikat tidak pernah mendahului apa yang Allah perintahkan, sehingga mereka tidak akan melakukan sesuatu, kecuali setelah mendapat perintah dari Allah. Allah ceritakan sifat mereka dalam Al-Quran,

“Mereka (orang kafir) berkata: “Ar-Rahman telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha suci Allah. sebenarnya malaikat-malaikat itu, adalah hamba-hamba yang dimuliakan, ( ) mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya..” (QS. Al-Anbiyaa': 26 – 27)

Disamping doa baik, para malaikat juga mendoakan keburukan sebagai hukuman untuk para hamba Allah yang melanggar aturan-Nya.

Laknat Malaikat, Ciri Dosa Besar

Salah satu kaidah yang ditetapkan para ulama, bahwa diantara ciri perbuatan maksiat statusnya dosa besar adalah adanya ancaman laknat, termasuk laknat dari Malaikat.

Dalam Umdatul Qori dinyatakan,

“Ada ulama yang mengatakan bahwa dosa besar adalah semua tindakan maksiat. Ada juga yang mengatakan, dosa besar adalah semua dosa yang diancam dengan neraka, laknat, murka, atau siksa.” (Umdatul Qori, 4/485)

Hal yang sama juga disampaikan Dr. Sholeh Al-fauzan, beliau menegaskan,

Laknat hanya diberikan untuk perbuatan yang haram dan berat tingkat keharamannya. Bahkan termasuk dosa besar. Karena diantara batasan dosa besar adalah adanya ancaman laknat, murka, neraka, ancaman, atau hukuman di dunia. (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan, 16/44)

10 Manusia yang Dilaknat Malaikat

Berikut 10 jenis manusia yang dilaknat Malaikat, semoga kita tidak termasuk salah satu diantaranya,

Pertama, orang yang mati kafir

Semua orang yang mati kafir, baik kafir asli maupun kafir pindahan, alias murtad, keluar dari agama islam. Termasuk orang yang melakukan perbuatan pembatal islam, seperti tidak pernah shalat, sekalipun dia mengaku muslim.

Allah berfirman, yang artinya,

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam Keadaan kafir, mereka itu mendapat la’nat Allah, Para Malaikat dan manusia seluruhnya. ( ) mereka kekal di dalam la’nat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (QS. Al-Baqarah: 161 – 162).

Disebutkan pula dalam hadis yang menceritakan tentang perjalanan ruh setelah kematian. Ketika malaikat pencabut nyawa berada di dekat orang kafir yang akan meninggal dunia, dia memanggil ruhnya, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju laknat Allah dan murka-Nya.” Ruh itupun berlarian di jasadnya, kemudian Malaikat mencabutnya dengan paksa sebagaimana orang menarik gancu yang memiliki banyak cabang runcing di kain wol yang basah. Sehingga terputus urat darah dan ruas tulangnya. Kemudian seluruh Malaikat yang ada di antara langit dan bumi melaknatnya, demikian pula seluruh malaikat yang berada di atas langit, dan semua pintu langit ditutup untuknya… (HR. Ahmad 18614 dan dishahihkan Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz).

Perbanyaklah memohon kepada Allah agar diberi kekuatan istiqamah, sehingga kita bisa meninggal di atas islam dan sunah.

Kedua, orang yang murtad

Allah tegaskan bahwa orang yang murtad, dia mendapat laknat Allah dan para malaikat-Nya. Allah berfirman, yang artinya,

Bagaimana Allah akan memberi petunjuk orang yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya adalah laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat Para Malaikat dan manusia seluruhnya. (QS. Ali Imran: 86 – 87)

Diriwayatkan oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ayat ini turun berkenaan dengan orang anshar yang murtad kemudian dia bergabung dengan kaum musyrikin. Kemudian dia kembali dan bertaubat, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya dan tidak membunuhnya. Mujahid dan As-Sudi mengatakan, nama orang anshar itu adalah Al-Harits bin Suwaid. (Zadul Masir, 1/301)

Ketiga, menghina dan mencela sahabat

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mencela sahabatku, maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat, dan semua manusia.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 12541, dan dinilai hasan dalam As-Shahihah no. 2340).

Mencela sahabat statusnya berbeda dengan mencela kaum muslimin lainnya. Mencela sahabat nilainya dosa sangat besar. Merekalah murid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi paling berjasa bagi umat islam. Melalui perjuangan mereka, kita bisa mengenal dan merasakan indahnya islam.

Mencela sahabat, sejatinya merupakan sikap pengingkaran terhadap firman Allah yang memuji mereka. Allah tegaskan dalam Al-Quran bahwa Dia telah meridhai kaum Muhajirin dan Anshar. Allah berfirman, yang artinya,

As-Sabiqun Awwalun (orang-orang yang terdahulu masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai …. (QS. At-Taubah: 100)

Mereka yang mencela Utsman atau Muawiyah, sejatinya telah mengingkari ayat ini. Mereka mencela, padahal Allah telah meridhai mereka.

Ibnul Mubarok (gurunya Imam Bukhari) pernah ditanya: ‘Siapakah yang lebih baik, Muawiyah ataukah Umar bin Abdul Aziz?’ Jawab Ibnul Mubarok:

‘Demi Allah, debu yang masuk di hidung Muawiyah ketika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih baik dari pada 1000 Umar bin Abdul Aziz. Muawiyah shalat di belakang Nabi, ketika beliau membaca: Sami’allahu liman hamidah, Muawiyah mengucapkan: Rabbana wa lakal hamdu. Kira-kira, apa yang terjadi selanjutnya?’ (Wafayat Al-A’yan, Ibn Khalaqan, 3/33).

Muawiyah radhiyallahu ‘anhu seorang sahabat, sementara Umar bin Abdul Aziz seorang tabiin, dan tidak bisa dibandingkan.

Jika mencela sahabat dilaknat oleh Allah dan para malaikatnya, bagaimana dengan kelompok yang mengkafirkan sahabat? Laknat Allah bagi orang syiah yang mengkafirkan sahabat.

Keempat, menghalangi terlaksananya hukuman bagi pelaku kejahatan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang membunuh dengan sengaja maka dia berhak diqishah (balas bunuh). Dan siapa yang menghalangi antara keluarga korban dengan pelaku untuk melakukan qishas maka dia mendapat laknat Allah, para malaikat, dan semua manusia. Tidak akan diterima darinya amalan wajib maupun amal sunahnya.” (Shahih, riwayat Nasai 4790 dan Ibn Majah 2635).

Beberapa praktek di pengadilan, sebagian orang menghalangi terwujudkan hukuman bagi pelaku tindak kriminal, baik dengan sogok atau karena kedudukan. Contoh konkrit yang banyak kita jumpai, beberapa aparat hukum yang melakukan tindak kriminal, lebih sulit dijerat hukum dari pada rakyat jelata. Mereka dilaknat karena mereka penghianat umat. Allahu a’lam.

Kelima, tidak menghargai jaminan keamanan yang diberikan oleh seorang muslim

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jaminan kaum muslimin itu satu. Siapa yang mengganggu jaminan keamanan kaum mukminin maka untuknya laknat Allah, para malaikat dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari 1870).

Orang kafir yang masuk ke negeri muslim, mereka telah mendapatkan izin dari pemerintah muslim. Izin ini tidak lain adalah jaminan keamanan. Karena itu, siapapun tidak boleh mengganggu mereka yang telah mendapatkan izin, tanpa sebab yang dibenarkan.

Keenam, mengacung senjata kepada sesama muslim

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengacungkan senjata kepada saudaranya sesama muslim maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia lepaskan. Meskipun yang menjadi sasaran adalah saudaranya sebapak atau seibu.” (HR. Muslim 2616).

Islam melarang kita menakut-nakuti kaum muslimin yang lain, meskipun hanya dengan mengacungkan senjata untuk main-main. Termasuk mereka yang ngebut ketika naik kendaraan ke arah orang lain – seolah hendak menabraknya – kemudian direm mendadak di depannya.

Ketujuh, menasabkan diri kepada selain orang tuanya

Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengaku keturunan seseorang yang bukan bapaknya, maka dia mendapat laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima amal wajib dan sunahnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim 1370).

Karena itu, anak angkat tetap wajib dinasabkan kepada ayah kandungnya. Kasus yang sulit adalah anak hasil zina. Dia terlahir tanpa ayah. Karena itu, dia harus dinasabkan ke ibunya. Jika dia dibinkan ke ayahnya, berarti mengaku keturunan orang yang bukan bapaknya.

Kedelapan, istri yang tidak mau melayani suami tanpa udzur

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila suami mengajak istrinya ke ranjang (hubungan badan) dan dia menolak, kemudian suami marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR. Bukhari 3237 & Muslim 1436).

Istri boleh menolak ajakan suami jika memiliki udzur, seperti haid atau sakit.

Kesembilan, melindungi pelaku kriminal atau perbuatan bid’ah.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang melindungi muhdits maka untuknya laknat Allah, para malaikat dan seluruh umat manusia.” (HR. Muslim 1371)

Ibnul Atsir menjelaskan, kata muhdits [arab: الـمحدث] memiliki dua cara baca: muhdits dan muhdats. Jika dibaca muhdits artinya pelaku tindak kriminal. Sehingga makna hadis, “Siapa yang melindungi pelaku tindak kriminal maka untuknya laknat Allah…dst.”

Jika dibaca muhdats artinya perbuatan bid’ah, sehingga makna hadis, “Siapa yang melindungi perbuatan bid’ah maka untuknya laknat Allah…dst.” (An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, 1/907).

Kesepuluh, bertindak dzalim di kota Madinah

Rasulullah pernah berdoa, “Ya Allah, siapapun yang mendzalimi penduduk Madinah atau menakuti mereka, maka jadikan dia takut. Untuknya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 6498 dan dinilai shahih dalam shahih Targhib no. 1214).

Semoga Allah melindungi kita dari setiap penyimpangan dan dosa besar. Amiin

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

puasanya syiah

Puasa Syiah Vs Puasa Nabi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Segala amal seseorang dikendalikan oleh ideologinya. Beda ideologi akan merambah pada perbedaan praktek ibadah, akhlak, dan bahkan muamalah. Ketika kita membandingkan antara praktek ibadah syiah dan praktek ibadah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan mendapatkan sekian banyak perbedaan. Demikian pula akhlak dan muamalah antara syiah dengan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada bagian ini, kita akan menyoroti perbedaan praktek puasa syiah dengan puasa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama, bulan ramadhan bukan bulan istimewa

Bagi syiah, ramadhan bukan bulan istimewa bagi syiah untuk beribadah. Suasana semarak ibadah di bulan ramadhan, tidak seramai suasana ketika Muharram atau Sya’ban. Seolah syiah hendak mengumumkan ke penjuru alam, bulan Ramadhan adalah bulan khusus untuk ahlus sunnah dan tidak ada yang istimewa bagi kami.

Ramadhan memang bulan untuk puasa, namun bulan untuk rajin ibadah, menurut syiah.

Bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ramadhan adalah bulan istimewa. Dan seperti itu pula yang dilakukan kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih rajin mendekatkan diri kepada Allah di bulan ramadhan.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menuturkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ القُرْآن

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah. Lebih pemurah lagi pada saat bulan ramadhan. Ketika Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malam di bulan ramadhan, dan mengajari beliau Al-Quran. (HR. Bukhari 3554)

Terutama ketika masuk 10 hari terakhir ramadhan, ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih meninggat. A’isyah menuturkan,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk sepuluh terakhir ramadhan, beliau menghidupkan malamnya dengan ibadah, beliau membangunkan para istrinya, bersungguh-sungguh ibadah dan mengencangkan ikatan sarungnya. (HR. Muslim 1174).

Kedua, wajib berbuka ketika safar

Bagi syiah, orang yang melakukan safar, puasanya batal. Artinya, dia wajib berbuka. Lebih ajaib lagi, hanya dengan melintasi jembatan yang memisahkan dua daerah, sudah dianggap safar dan wajib berbuka.

Kesaksian Dr. Thaha Ad-Dailami dalam buku beliau Siyahah fi ‘Alam Tasyayyu’ (Perjalanan di Negeri Syiah), menurut beliau,

Orang syiah terlau menganggap mudah dalam memberikan udzur berbuka. Mereka mewajibkan berbuka untuk setiap safar dengan jarak paling dekat. Sebagai contoh, ada siswa yang hendak menjalani masa ujian. Tokoh mereka memfatwakan agar siswa ini melakukan safar dekat setiap hari ke derah yang dekat, jarak perjalanan pulang pergi ditotal menjadi jarak safar. Kemudian dia boleh tidak puasa.

Yang lebih menyedihkan, mereka tidak memastikan apakah itu harus diqadha ataukah gugur kewajiban.

Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mewajibkan orang yang safar untuk berbuka puasa. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, tentang hukum puasa ramadhan ketika safar. Jawab Anas:

سَافَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ، فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

“Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ramadhan, orang yang puasa tidak mencela yang tidak puasa dan yang tidak puasa juga tidak mencela yang puasa.” (HR. Muslim 1118).

Dalam riwayat lain, Anas mengatakan,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ، فَمِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا الْمُفْطِرُ

“Kami pernah melakukan safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada diantara kami yang puasa dan ada yang tidak puasa.” (HR. Muslim 1119).

Dan masih sangat banyak riwayat yang menyebutkan puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar.

Ketiga, tarawih adalah bid’ah

Bagi orang syiah, tarawih adalah bid’ah. Mereka menganggap tarawih tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut mereka, tarawih adalah ajaran Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Karena kebencian mereka kepada Umar, mereka menolak sunah shalat tarawih ini mentah-mentah. Dan mencap sesat kaum muslimin yang melaksanakan tarawih. Bahkan mereka menyebut, orang yang melakukan tarawih sama halnya menjadikan Umar sebagai nabi. Subhaanallah, ini adalah tuduhan dusta mereka. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Shalat Tarawih Menurut Syiah

Semoga Allah menyelamatkan kita dari godaan syiah. Amiin

Bersambung.. insyaaAllah

Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

shalatnya syiah

Syiah Menolak Tarawih

Salah satu diantara prinsip syiah dua belas imam yang berkembang di Iran adalah menolak semua ajaran islam yang dilestarikan para sahabat. Karena mereka menganggap para sahabat telah berkhianat dan menyelewengkan syariat. Salah satunya adalah shalat tarawih. Syiah mengklaim, tarawih adalah ajaran Umar yang belum pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan karenanya, bagi orang syiah, tarawih adalah bid’ah.

Dalam dialog yang ditayangkan pada video di atas, ada satu orang syiah bertanya: ‘Bukankah bulan Ramadhan itu penuh berkah, mengapa syiah sendiri justru anti-tarawih?’

Selanjutnya salah satu tokoh syiah, Yassir Habib memberikan penjelasan, yang intinya, bahwa jamaah tarawih tidak pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dulu para sahabat pernah shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarang untuk melaksanakan shalat sunah secara berjamaah. Keterangan ini ada di buku-buku shahih yang dimiliki kelompok mukhalifin (orang yang menyimpang).

Kemudian Yasir juga menegaskan, bahwa yang pertama kali mengadakan jamaah tarawih adalah Umar. Umar mengumpulkan semua orang untuk shalat jamaah di malam hari Ramadhan, di bawah imam Ubay bin Ka’b. Ketika itu ada beberapa orang yang tidak paham mengkritik Umar, “Bid’ah…bid’ah..” kemudian Umar menegaskan: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” sebagai bentuk bantahan atas tuduhan yang dilontarkan kepadanya.

Selanjutnya si Yasir mulai mencela Ahlus Sunah,

Anda bisa saksikan kelompok mukhalifin, yang melestarikan shalat sunah yang Umar sendiri telah mengatakan bahwa itu bid’ah. Mereka melaksanakannya, padahal telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka lebih memilih syariat Umar. Mereka memang tidak mengikrarkan bahwa nabi mereka adalah Umar, namun secara praktek, menunjukkan bahwa mereka telah mengklaim nabinya bukan Muhammad tapi Umar. …dst.

Saya anggap cukup mewakili, dan masih ada beberapa celoteh Yasir untuk menganggap sesatnya Ahlus Sunah dan kaum muslimin seluruhnya.

Demikianlah sikap syiah terhadap Ahlus sunah. Kebencian mereka kepada Ahlus Sunah telah mendarah daging hingga masuk ke sumsum tulang mereka. Sehingga untuk menyebut sunni, mereka ganti dengan kelompok mukhalif (kelompok menyimpang).

Karena itu, sungguh aneh ketika ada orang yang punya prinsip, janganlah kita menyesatkan kelompok lain, jangan menyesatkan syiah, dan hormati perbedaan. Prinsip semacam ini justru menjadi bukti bahwa dia tidak memahami perbedaan. Prinsip ini menjadi bukti bahwa dia tidak memahami firqah dan aliran yang menisbahkan diri sebagai aliran islam. Sikap syiah ketika menyesatkan Ahlus sunah, jauh lebih ‘sangar’ dibandingkan sikap ahlus sunah dalam menyesatkan syiah.

Kebencian Syiah Kepada Umar

Salah satu prinsip syiah adalah benci setengah mati kepada Amirul Mukminin Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Saking bencinya  mereka kepada Umar, hingga mereka jadikan kutukan kepada Umar, sebagai bagian dari syahadat syiah. Anda bisa saksikan video berikut,

Jika ada orang awam yang hendak masuk syiah, syarat mutlaknya, dia harus mengutuk Abu Bakr, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Aisyah, dan Hafshah radhiyallahu ‘anhum. Itulah agama syiah, sejak awal mereka membangun agamanya di atas prinsip kebencian dan permusuhan.

Tidak heran, jika mereka memuji habis Abu Lukluk Al-Majusi, karena dia yang menikam Umar dari belakang ketika shalat subuh. Mereka hiasi kuburan Abu Lukluk, sebagaimana layaknya kuburan wali. Anda bisa saksikan video berikut:

Bahkan ada juga yang sangat mengherankan, saking bencinya mereka kepada Umar, ada salah satu tokoh Syiah, At-Tibrizi ketika di usia 87 tahun, dia pernah mengatakan kepada jamaahnya,

لو أدخلني الله إلى الجنة ووجدت عمر بن الخطاب فيها لطلبت من الله أن يخرجني منها

“Andaikan Allah memasukkanku ke dalam surga, kemudian aku ketemu Umar bin Khattab di surga, niscaya aku akan meminta kepada Allah untuk mengeluarkanku dari surga.” [sumber: http://www.muslm.org/vb/showthread.php?200079]

Jamaah Tarawih sudah ada sejak Zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Selanjutnya, kita kembali kepada permasalahan shalat tarawih. Anda garis bawahi pernyataan tokoh syiah di atas, bahwa tarawi tidak pernah dilakukan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Terdapat sangat banyak dalil yang menunjukkan adanya shalat tarawih berjamaah di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setidaknya ada 3 jenis hadis tentang shalat tarawih:

Pertama, persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada praktek sahabat

Di zaman beliau, ada beberapa sahabat yang melaksanakan shalat tarawih di malam Ramadhan secara berjamaah. Dalam hadis dari Tsa’labah bin Abi Malik,

خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات ليلة في رمضان فرأى ناسا في ناحية المسجد يصلون فقال : ما يصنع هؤلاء ؟ قال قائل : يا رسول الله هؤلاء ناس ليس معهم قرآن وأبي بن كعب يقرأ وهم معه يصلون بصلاته  فقال : ” قد أحسنوا ” أو ” قد أصابوا ” ولم يكره ذلك منهم

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada malam Ramadhan. Beliau melihat ada beberapa orang yang shalat jamaah di salah satu sudut masjid. Beliau bertanya: “Apa yang mereka lakukan?” Salah satu sahabat menjawab, ‘Wahai Rasulullah, mereka sekelompok orang yang belum hafal Alquran. Ketika itu, Ubay bin Ka’b sedang shalat malam. Lalu mereka bergabung menjadi makmumnya Ubay.’ Kemudian beliau berkomentar, “Mereka telah berbuat benar.” dan beliau tidak membencinya.

[HR. Baihaqi, dan beliau mengatakan: Hadis mursal yang hasan. Kemudian dalam jalur lain terdapat riwayat yang maushul (bersambung), dari Abu Hurairah dengan sanad diterima, dan Al-Albani menilai hadis hasan].

Kedua, praktek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebagaimana disampaikan oleh An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu,

قمنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة ثلاث وعشرين في شهر رمضان إلى ثلث الليل الأول ثم قمنا معه ليلة خمس وعشرين إلى نصف الليل ثم قام بنا ليلة سبع وعشرين حتى ظننا أن لا ندرك الفلاح

Kami shalat tarawih bulan Ramadhan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam ke-23 hingga sepertiga malam pertama, kemudian kami shalat lagi pada malam ke-25, hingga pertengahan malam, kemudian beliau mengimami kami pada malam ke-27 hingga akhir malam, sampai kami khawatir tidak bisa ngejar sahur.

[HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushanaf, An-Nasai, Imam Ahmad dalam musnadnya, Al-Firyabi dan dishahihkan oleh Al-Hakim].

Al-Hakim mengatakan setelah menyebutkan hadis ini:

وفيه الدليل الواضح أن صلاة التراويح في مساجد المسلمين سنة مسنونة وقد كان علي بن أبي طالب يحث عمر رضي الله عنهما على إقامة هذه السنة إلى أن أقامها

Hadis ini dalil yang sangat jelas bahwa shalat tarawih yang dilakukan di masjid kaum muslimin adalah sunah yang menjadi kebiasaan masa silam. Ali bin Abi Thalib memotivasi Umar radhiyallahu ‘anhuma untuk melestarikan sunah ini, hingga Umar melaksanakannya. (Al-Mustadrak, 1/607).

Dan masih banyak keterangan sahabat lain yang menyebutkan kisah ini.

Ketiga, penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan Shalat tarawih

Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat hingga pertengahan malam, sebagian sahabat minta agar beliau memperlama hingga akhir malam. Kemudian beliau menyebutkan keutamaan shalat tarawih berjamaah,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَإِنَّهُ يَعْدِلُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang shalat tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai, maka dia mendapat pahala shalat tahajud semalam suntuk.” (HR. Nasai 1605, Ibn Majah 1327 dan dishahihkan Al-Albani).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Melarang Shalat Tarawih Berjamaah?

Itulah klaim Yasir, pemuka agama syiah. Tapi anda tidak perlu heran, karena dia bisa berkata apapun tanpa bukti untuk mendukung pendapatnya.

Yang benar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang jamaah shalat tarawih. Namun beliau tidak keluar shalat jamaah tarawih karena khawatir Allah mewajibkan shalat malam itu. Demikian yang diceritakan Ibunda kaum mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dalam hadis riwayat Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud, dan yang lainnya, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan sejarah perjalanan shalat tarawih,

Dulu para sahabat melaksanakan shalat malam Ramadhan di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terpencar-pencar. Ada shalat jamaah 5 orang, ada juga 6 orang shalat jamaah, dan ada yang kurang atau lebih dari itu. Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk meletakkan tikar di dekat pitu rumahku (pintu rumah Aisyah, berada di sebelah kiri masjid, bagian depan). Kemudian setealah isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam di atas tikar itu setelah menjalankan shalat isya. Para sahabat yang berada di masjid, segera berkumpul dan bermakmum kepada beliau. Setelah berlalu 1/3 malam, beliau usai, dan masuk rumah.

Di pagi harinya, banyak sahabat membicarakan shalat itu, sehingga di malam berikutnya, masjid nabawi penuh orang, menantikan shalat malam berjamaah.

Di malam Ramadhan ke-25, beliau keluar dan mengimami para sahabat dengan jumlah jamaah lebih banyak. Pagi harinya, perbincangan itu semakin tersebar. Hingga di malam 27, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan keluarganya dan melaksanakan shalat malam hingga akhir malam, dengan jamaah sangat banyak.

Di malam berikutnya, beliau tidak keluar rumah. Setelah beliau mengimami shalat isya, beliau masuk rumah, sementara masjid penuh para sahabat, menunggu shalat. Beliaupun bertanya kepadaku: ‘Wahai Aisyah, apa yang terjadi dengan para sahabat?’

‘Wahai Rasulullah, banyak orang mendengar tentang shalat anda kemarin, dan mereka ingin agar anda mengimami mereka.’ Jawab Aisyah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar tikar kemarin digulung. Malam itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap ibadah di rumah, sampai subuh. Beliau keluar untuk mengimami shalat subuh, kemudian berkhutbah,

أيها الناس أما والله ما بت والحمد لله ليلتي هذه غافلا ولكن خشيت أن تفرض عليكم صلاة الليل فتعجزوا عنها  فاكلفوا من الأعمال ما تطيقون فإن الله لا يمل حتى تملوا

Wahai sekalian manusia, demi Allah, tadi malam saya tidak sedang lalai (tidak tidur) – walhamdu lillah – namun saya khawatir akan diwajibkan kepada kalian shalat malam ini, sehingga kalian tidak sanggup melakukannya. Lakukanlah amal sunah yang mampu kalian lakukan, karena Allah tidak bosan menerima amal kalian, sampai kalian bosa dalam bersamal. [HR. Bukhari 924, Muslim 761, Abu Daud 1373 dan yang lainnya]

Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri mengatakan,

فتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم والناس على ذلك ثم كان الأمر على ذلك في خلافة أبي بكر وصدرا من خلافة عمر

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dan kebiasaan shalat tarawih masyarakat masih seperti itu. Keadaan tersebut tetap berlanjut di masa Khilafah Abu Bakr, dan beberapa waktu di masa khilafah Umar. (HR. Bukahri 2009)

Anda bisa saksikan, adakah larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat untuk shalat malam berjamaah? Itu hanya klaim syiah, untuk memojokkan Amirul Mukminin, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu.

Yang ada, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi melaksanakan tarawih secara berjamaah, karena kegiatan itu diikuti banyak sahabat, hingga beliau khawatir Allah akan menurunkan wahyu, menetapkan shalat jamaah tarawih sebagai kewajiban bagi kaum muslimin. Dan itu akan sangat memberatkan kaum muslimin.

Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahyu tidak lagi turun, sehingga tidak akan ada perubahan hukum dari sunah menjadi wajib. Karena itu, aktivitas kaum muslimin melaksanakan shalat tarawih berjamaah selama sebulan, tidak akan menyebabkan hukum shalat ini menjadi wajib.

Ijtihad Umar

Itulah yang mendasari ijtihad Umar. Wahyu tidak lagi turun, dan tidak akan ada perubahan hukum. Karena itu, Umar menghidupkan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang beliau tinggalkan karena khawatir Allah wajibkan. Ketika kekhawatiran itu sudah tiada, Umar memerintahkan sahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu untuk mengimami para sahabat melaksanakan shalat tarawih.

Yang menakjubkan, ijtihad Umar ini justru didukung 100% oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. sebagaimana yang ditegaskan Imam Al-Hakim dalam Mustadrak,

وقد كان علي بن أبي طالب يحث عمر رضي الله عنهما على إقامة هذه السنة إلى أن أقامها

“Ali bin Abi Thalib memotivasi Umar radhiyallahu ‘anhuma, untuk menghidupkan kembali sunah itu, hingga Umar melaksanakannya.” (Al-Mustadrak, 1/607)

Mengapa di masa Abu Bakr Tidak Diadakan Tarawih Berjamaah?

Sebagian orang mempertanyakan hal ini. Jika alasan Umar mengadakan jamaah shalat tarawih adalah wahyu tidak lagi turun, mengapa di zaman Abu Bakr, jamaah tarawih tidak diadakan?

Pertanyaan semacam ini telah dijawab oleh As-Syathibi dalam kitabnya Al-I’tisham,

وإنما لم يقم ذلك أبو بكر رضي الله عنه لأحد أمرين:
الأول؛ إما لأنه رأى أن قيام الناس آخر الليل ، وما هم به عليه ، كان أفضل عنده من جمعهم على إمام أول الليل . ذكره الطرطوشي

“Jamaah tarawih tidak diadakan di zaman Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, karena dua alasan,

Pertama, karena Abu Bakr berpendapat bahwa apa yang dilakukan para sahabat dengan shalat tahajud di akhir malam, dan mereka shalat sendiri-sendiri atau berjamaah dengan kelompok kecil, itu lebih afdhal menurut Abu Bakr, dari pada mereka dikumpulkan berjamaah di awal malam dengan satu imam. Ini adalah keterangan At-Thurthusyi.

وإما لضيق زمانه رضي الله عنه عن النظر في هذه الفروع ، مع شغله بأهل الردة وغير ذلك مما هو أوكد من صلاة التراويح ، فلما تمهد الإسلام في زمن عمر رضي الله عنه ورأى الناس في المسجد أوزاعاً [ متفرقين ] ، كما جاء في الخبر ، قال : لو جمعت الناس على قارئ واحد لكان أمثل ، فلما تم له ذلك نبه على أن قيامهم آخر الليل أفضل، ثم اتفق السلف على صحة ذلك وإقراره ، والأمة لا تجتمع على ضلالة ، وقد نص الأصوليون أن الإجماع لا يكون إلا عن دليل شرعي..

Alasan kedua, masa kepemimpinan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sangat pendek, sehingga tidak sempat memperhatikan masalah semacam ini. Terlebih beliau disibukkan dengan orang murtad atau kasus lainnya, yang lebih mendesak untuk ditangani dari pada shalat tarawih. Setelah islam jaya di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu, sementara masyarakat shalat malam di masjid dengan terpencar-pencar, sebagaimana yang disebutkan dalam dalil. Umar kemudian mengatakan, ‘Andaikan mereka dikumpulkan dengan satu imam, tentu lebih baik.’ Setelah sunah ini dihidupkan, beliau mengingatkan, pelaksanaan shalat tarawih di akhir malam, itu lebih baik. Kemudian para sahabat  sepakat kebenaran ijtihad itu dan mereka setuju. Sementara kaum muslimin tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Para ahli ushul fiq telah menegaskan bahwa ijma’ (kesepakatan ulama) tidak mungkin ada kecuali berdasarkan dalil syariat.. (Al-I’tisham, 1/142).

Kata Sepakat Umat Islam, Tarawih adalah Sunah

An-Nawawi mengatakan,

صلاة التراويح سنة بإجماع العلماء

“Shalat tarawih adalah sunah berdasarkan sekapat ulama.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 3/526).

An-Nawawi juga mengatakan,

قال أبو العباس وأبو إسحق صلاة التراويح جماعة أفضل من الانفراد لإجماع الصحابة وإجماع أهل الأمصار على ذلك

Abul Abbas dan Abu Ishaq mengatakan, ‘Shalat tarawih berjamaah lebih afdhal dari pada sendirian, berdasarkan ijma’ sahabat dan kesepakatan ulama di berbagai daerah. (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/32).

Al-Khatib As-Syirbini mengatakan,

وقد اتفقوا على سنيتها ، وعلى أنها المراد من قوله صلى الله عليه وسلم ( من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر ) رواه البخاري

“Para ulama sepakat adanya sunah shalat tarawih, dan mereka sepakat keutamaan shalat tarawih seperti yang disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosanya yang telah lewat dan yang akan datang.” (Mughni Al-Muhtaj, 1/459).

Dalam berbagai karyanya, para ulama memasukkan masalah mengusap khuf (sepatu) sebagai bagian dari aqidah, meskipun sejatinya hal ini adalah kasus ibadah. Namun mengingat praktek mengusap khuf termasuk syiar ahlus sunah yang membedakan dengan syiah dan khawarij, para ulama mencamtumkannya dalam masalah aqidah.

Tarawih adalah syiar ahlus sunah. Seluruh kaum muslimin sepakat, tarawih adalah sunah – sebagaimana keterangan An-Nawawi dan lainnya -, sementara  syiah menyebut tarawih adalah bid’ah. Karena itu, tidak jauh jika kita masukkan permasalahan ini bagian dari perbedaan karena aqidah. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari tipu daya kelompok syiah. Amin

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

razia kemaksiatan di bulan ramadhan

Dosa Ketika Ramadhan Dilipat-gandakan

apakah dosa maksiat di bulan romadhon dilipatgandakan sebagaimana pahala ketaatan di lipatgandakan juga ?

Dari: Fulan via Milis Pm Fatwa Pengusaha Muslim

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis dari Ummi Hani’ radhiyallahu ‘anha, yang diriwayat At-Thabrani dan lainnya,

فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ

“Takutlah kalian terhadap bulan ramadhan. Karena pada bulan ini, kebaikan dilipatkan sebagaimana dosa juga dilipat-gandakan.”

[HR. At-Thabrani dalam Al-Ausath 4983 dan As-Shaghir 698, dan kata Al-Haitsmi dalam Majma’ Az-Zawaid (3/190), ‘Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Isa bin Sulaiman, dia dinilai lemah oleh Ibn Ma’in. Dia bukan orang yang sengaja berdusta, akan tetapi dia lemah hafalannya].

Kesimpulannya, hadis ini adalah hadis yang lemah, sebagaimana keterangan Ibnu Muflih dalam Adab As-Syar’iyah (3/430).

Hanya saja, para ulama menegaskan bahwa dosa yang dilakukan pada waktu mulia atau di tempat mulia, derajatnya lebih besar dibandingkan dosa yang dilakukan di tempat atau waktu biasa.

Ibnu Muflih dalam karyanya Adab As-Syar’iyah, beliau membuat satu judul bab,

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

“Bab: pelipatan dosa sebanding dengan pelipatan pahala, pada tempat dan waktu yang diagungkan.” (Adab As-Syar’iyah, 3/430).

Kemudian beliau menyebutkan keterangan gurunya,

قَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ : الْمَعَاصِي فِي الْأَيَّامِ الْمُعَظَّمَةِ وَالْأَمْكِنَةِ الْمُعَظَّمَةِ تُغَلَّظُ مَعْصِيَتُهَا وَعِقَابُهَا بِقَدْرِ فَضِيلَةِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ انْتَهَى كَلَامُهُ وَهُوَ مَعْنَى كَلَامِ ابْنِ الْجَوْزِيِّ وَغَيْرِهِ

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, ‘Perbuatan maksiat yang dilakukan di hari-hari istimewa atau tempat istimewa. Nilai kemaksiatannya dan hukumannya, semakin marah setingkat dengan nilai keistimewaan waktu dan tempat tersebut.’ Demikian keterangan beliau, dan itu semakna dengan keterangan Ibnul Jauzi dan ulama lainnya.

Selanjutnya Ibnu Muflih menyebutkan hadis di atas, dan beliau menyatakan statusnya dhaif. (Adab As-Syar’iyah, 3/430)

Keterangan yang sama juga pernah disampaikan oleh Imam Ibnu Baz. Dalam majmu’ Fatawa beliau ditanya, apakah dosa ketika ramadhan juga dilipat gandakan sebagaimana pahala?

Jawab beliau,

فاذا كان الشهر فاضلا والمكان فاضلا ضوعفت فيه الحسنات ، وعظم فيه إثم السيئات ، فسيئة في رمضان أعظم إثما من السيئة في غيره ، كما أن طاعة في رمضان أكثر ثوابا عند الله من طاعة في غيره ، ولما كان رمضان بتلك المنزلة العظيمة كان للطاعة فيه فضل عظيم ومضاعفة كثيرة وكان إثم المعاصي فيه أشد وأكبر من إثمها في غيره

Apabila datang satu bulan yang mulia atau tempat mulia maka pahala kebaikan dilipatkan, dan dosa maksiat nilainya besar. Karena itu, perbuatan maksiat di bulan ramadhan, dosanya lebih besar dari pada perbuatan maksiat di luar ramadhan. Sebagaimana ketaatan di bulan ramadhan, pahalanya lebih banyak di sisi Allah, dari pada ketaatan di luar ramadhan. Mengingat ramadhan memiliki kedudukan yang sangat agung, maka ketaatan di dalamnya memiliki keutamaan yang besar dan dilipatkan sampai banyak sekali. Sebaliknya, dosa maksiat ketika itu, lebih besar dibandingkan dosa maksiat di luar bulan itu. (Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 14/440).

Karena itu, berhati-hatilah dengan bulan ramadhan. Kita minta petunjuk kepada Allah, semoga diringankan untuk meninggalkan maksiat. Amiin

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh:

Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.

hukum negara dan hukum agama

Membangun Sikap “Sami’na wa Atha’na

Bismillah, wash-shalatu was-salam ‘ala Rasulillah. Allahumma yassir wa a’in (ya Allah, karuniakanlah kemudahan dan berilah pertolongan).

Kerap kali, kita dengar ada sebagian kaum muslimin yang memberikan kesan “tidak sepakat” ketika mendapatkan keterangan tentang hukum Islam mengenai masalah tertentu. Lebih-lebih, ketika hukum tersebut bertabrakan dengan kebiasaan masyarakat atau kepentingan pribadi. Mulai dari bentuk penundaan dalam melaksanakan hukum, sampai pada bentuk penolakan secara terang-terangan. Alasan “klasik” yang sering digunakan adalah, “Bagaimana perubahan yang harus dilakukan di masyarakat?” Selama solusi belum disepakati, selamanya hukum itu belum bisa diterima dengan sepenuh hati.

Contoh konkritnya, dalam suatu kesempatan menyampaikan kajian kitab Riyadhush Shalihin tentang bab “Riba”, kami mencoba menjelaskan tentang beberapa praktik riba di Indonesia, terutama kasus yang terjadi di bank-bank berlabel “syariah”. Seusai kajian, ada salah satu peserta yang mengatakan, dengan redaksi – kurang lebih – sebagai berikut, “Penjelasan ini belum memberikan solusi, karena hampir semua roda perekonomian di tempat kita tidak lepas dari keterlibatan bank. Seorang pengusaha tidak mungkin bisa mengembangkan usahanya tanpa pinjam bank…”

Belum selesai mengutarakan semua isi hatinya, disusul peserta yang lain, “Bagaimana dengan keluarga-keluarga muda yang ingin bangun rumah? Itu, kalau tanpa KPR enggak bakalan bisa! Kalau baru bekerja lima tahun, belum sanggup. Bisanya cuma ngontrak ….” “Wah.., kalo apa-apa dilarang, bagaimana kita berkembang?”

Lain dari itu, setelah memublikasikan beberapa tulisan yang sedikit menyinggung bank “syariah”, datanglah komentar, “Lah … Terus, kita harus bayar ONH lewat mana?”, “Mohon jalan keluarnya …”, “Penulis tidak memberikn solusi ….”, “Saya pikir dulu ….”,  dan seterusnya.

Tak terkecuali juga masalah rokok. Beberapa orang diingatkan bahwa rokok hukumnya terlarang, sejuta alasan dia lontarkan untuk mempertahankan statusnya sebagai perokok. ‘Kan cuma makruh…’. ‘Nyatane banyak kiayi yang ngudud’.

Masih banyak kasus nyata lainnya yang menunjukkan sikap “skeptis” terhadap hukum Islam, namun semoga beberapa contoh di atas sudah mencukupi. Kami yakin, sikap seperti di atas sangat sering kita jumpai, atau bahkan –bisa jadi– kita sendiri pernah melakukannya.

Kita menyadari, ini bagian dari sifat dan tabiat manusia. Mereka mempunyai kecenderungan untuk mempertahankan zona nyaman bagi kehidupannya. Dia lebih memilih bertahan pada kebiasaan lama daripada harus bergeser dan melakukan perubahan, meskipun –bisa jadi– kebiasaan itu bertolak belakang dengan hukum syariat. Inilah yang mungkin menjadi faktor penghalang utama bagi masyarakat dalam menerima hukum syariat dengan sepenuh hati.

Tidak Semua Hukum Berpihak Pada Kepentingan Kita

Telah menjadi watak dan karakter kita sebagai manusia, bahwa tidak semua hukum dan perintah Allah bisa kita terima dan sesuai dengan selera kita. Namun, bukan berarti ketika hukum tersebut tidak sesuai dengan selera, kemudian kita boleh menolaknya.

Allah berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Bisa jadi, kalian membenci sesuatu sementara itu baik bagi kalian, dan bisa jadi, kalian mencintai sesuatu sementara itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat di atas Allah akhiri dengan firman-Nya (yang artinya), “Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” Di antara rahasia di balik penyebutan keterangan di atas oleh Allah, setelah Dia menyatakan bahwa hukum-Nya terkadang tidak sesuai dengan selera manusia, adalah untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah lebih mengetahui hal yang terbaik untuk kita daripada diri kita sendiri. Allah lebih mengetahui tentang kebutuhan hidup kita daripada kita sendiri. Karena itu, yang dijadikan tolak ukur baik dan buruk dalam kehidupan manusia bukanlah kecenderungan dan selera hati manusia. Namun, yang menjadi tolak ukur adalah pilihan Allah Ta’ala. Demikian keterangan dari Ibnul Qayyim, sebagaimana termuat dalam al-Fawaid, hlm. 91.

Syariat Tidak Merepotkan

Sebagai mukmin kita sangat sadar bahwa aturan dan ketetapan Allah diturunkan bukan untuk menyusahkan kita atau membuat repot kehidupan kita. Sang Pencipta sangat paham apa yang paling baik untuk kehidupan manusia. Karena itu, aturan yang Dia tetapkan, sejatinya akan sesuai dengan semangat melestarikan kehidupan itu sebaik mungkin. Hal ini telah Allah tegaskan melalui firman-Nya,

طه . مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى. إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى . تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

Thaahaa.  Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah . Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yang  diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (QS. Thaha: 1 – 4)

Ad-Daruqutni dalam sunannya (no. 441) menyebutkan sebuah kisah, sosok Umar bin Khatab, yang dulunya orang yang sangat keras sebeluma masuk Islam, terenyuh hatinya begitu mendengar ayat ini dibacakan. “Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”

Syarat status “mukmin” adalah menerima hukum Allah dengan sepenuh hati

Allah berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Demi Rabmu (Allah), mereka belum beriman, sampai mereka menjadikan dirimu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus perkara) dalam setiap perselisihan di antara mereka, sementara mereka tidak mendapatkan adanya kesempitan dalam hati mereka terhadap hal yang engkau putuskan, dan menerima dengan pasrah.” (QS. An-Nisa':65)

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Menerima keputusan agama adalah suatu kewajiban, dan sikap ini merupakan landasan Islam dan pondasi keimanan seseorang. Karena itu, setiap hamba wajib untuk rela terhadap hukum Islam, tanpa diiringi kesempitan hati, sikap skeptis, mempertentangkannya dengan hal yang lain, atau menolaknya. Dalam ayat di atas, Allah bersumpah atas nama diri-Nya, bahwa manusia belum dianggap beriman sampai memenuhi tiga syarat:

1. Dia menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim, dengan mengembalikan semua permasalahan kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Tidak ada rasa berat dalam menerima hukum tersebut.

3. Pasrah sepenuh hati (pasrah bongkoan).” (Madarij as-Salikin, 2:192)

Inilah makna keridhaan bahwa Allah sebagai Rabnya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi dan rasul. Dengan modal keridhaan ini, orang akan bisa merasakan kelezatan iman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذاق طعم الإيمان من رضي بالله ربا وبالإسلام ديناً وبمحمد رسولاً

Akan merasakan kelezatan iman (kesempurnaan iman), orang yang ridha Allah subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya.” (HR. Muslim)

Meniru Kepasrahan Para Sahabat

Disebutkan dalam riwayat Ahmad bahwa terkait dengan pelarangan khamar, Allah menurunkan tiga tahapan peringatan. Pada tahap awal, Allah jelaskan bahwa khamar memiliki dampak negatif (dosa) dan dampak positif (manfaat ekonomi). Tahap kedua, Allah melarang para sahabat untuk shalat dalam keadaan mabuk. Adapun pada tahap ketiga, Allah melarang khamar secara keseluruhan, dengan turunnya firman Allah di surat Al-Maidah ayat 90.

Satu sikap yang sangat mengherankan; ketika turun ayat pelarangan khamar, para sahabat secara serentak menumpahkan khamar-khamar yang mereka simpan di gudang. Sampai-sampai, jalanan kota Madinah becek dengan khamar, saking banyaknya khamar yang dibuang. Padahal, sebelumnya, khamar Madinah yang berbahan baku air kurma ini telah menjadi komoditas perdagangan masyarakat Madinah. Di saat yang sama, mereka menyatakan,

انتهينا ربنا

Kami tidak akan melakukannya lagi, ya Allah….” (HR. Ahmad; dinilai hasan oleh Syu’aib al-Arnauth)

Tidak bisa kita bayangkan, andaikan peristiwa itu terjadi pada masyarakat kita saat ini. Bisa jadi, akan banyak pihak yang menolaknya. Mereka membawakan berbagai macam alasan agar bisa menunda keputusan pelarangan khamar. Lebih-lebih, ketika pelarangan ini bertabrakan dengan kepentingan perekonomian negara: bisa menutup banyak lapangan pekerjaan karena semua produsen khamar harus gulung tikar, menutup perusahaannya. Sejuta alasan akan mereka lontarkan, sama persis seperti kasus rokok. Untung besar untuk petani tembakau, mengapa dilarang. Fatwa MUI mengancam perekonomian umat. Ya, bagi kalangan pecundang, hukum ini, bisa jadi, dianggap tidak memberikan solusi, namun justru menimbulkan permasalahan baru bagi kehidupan masyarakat.

Akan tetapi, para sahabat tidak berlaku demikian. Merekalah teladan dalam bersikap terhadap hukum Allah. Merekalah para hamba Allah yang sejati, yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah. Siapakah yang siap untuk meniru dan meneladani mereka?

Ada sikap yang bisa kita nilai sangat heroik. Sikap yang menunjukkan kepasrahan sahabat terhadap aturan syariat.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya (no. 13733) dan Ad-Daruqutni dalam Sunannya (no. 2161), dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa sebelum Khamr diharamkan, Abu Thalhah dititipi untuk mengurusi harta beberapa anak yatim. Karena pertimbangan agar ‘lebih menguntungkan’, Abu Thalhah menggunakan uang warisan anak yatim itu untuk membeli khamr. Segudang khamr dibeli Abu Thalhah, dengan harapan bisa untung besar setelah disimpan beberapa hari.

Namun belum saatnya dijual, ternyata Allah Ta’ala telah menurunkan ayat yang mengharamkan khamr. Sebagai manusia biasa, beliau diliputi kegalauan dan bingung. Dia harus nanggung harta anak yatim sekian banyak. Setelah berpikir panjang, dapat ide cemerlang, khamr ini akan dibuat jadi cuka. Pikir Abu Thalhah, setelah jadi cuka akan bisa diperdagangkan.

Syahdan sang sahabat cerdas ini mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adakah semacam ini dibolehkan. Besar harapan beliau agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya. Namun, jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata tidak sesuai harapannya, “Tidak boleh, buang khamr itu.”

Beliau pulang dengan membawa angan-angan kosong. Besoknya datang lagi, barangkali ada wahyu yang meralat jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata jawabannya sama, “Tidak boleh, buang khamr itu.” Abu Thalhah ternyata belum patah semangatnya, beliau tetap mendatang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga ketiga kalinya dan jawabannya sama. Barulah Abu Thalhah membuang khamr itu, sekalipun dia harus menanggung resiko besar.

(Riwayat ini dinilai Shahih oleh Syuaib al-Arnauth dalam catatan kaki Musnad Ahmad).

Membangun Sikap “Sami’na wa Atha’na

Peristiwa pelarangan khamar di atas memberikan pelajaran berharga bagi kita, bahwa tidak semua hukum larangan yang Allah turunkan selalu diiringi dengan alternatif lain. Dan itu bukan berarti hukum ini tidak memberikan solusi. Justru, hukum itu sendiri merupakan solusi terbaik bagi masyarakat.

Ketika larangan khamar diturunkan, para sahabat tidak bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana solusi yang tepat?” “Khamr harta simpanan kami, haruskah kami buang? Kami bisa rugi besar. Tolong berikan kami solusi?”

Bedakan Solusi dan Alternatif

Karena itu, perlu dibedakan antara solusi dan alternatif. Bagi para sahabat, hukum itu sendiri sudah merupakan solusi, baik disertai alternatif lain maupun tanpa penyebutan alternatif lain. Mungkin karena sesuatu yang halal sudah sangat banyak, dan pada hakikatnya, itu semua merupakan alternatif.

Dalam menyikapi peraturan syariat yang tidak disertai alternatif lain, kita dituntut untuk bersikap tunduk dan pasrah: sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taat. Selanjutnya, setiap orang diwajibkan untuk melaksanakan hukum tersebut semampunya. Sampai pada batas ketika dirinya tidak mampu lagi untuk melaksanakannya, dan memaksa dia untuk melanggarnya. Pada posisi ini, orang tersebut berstatus hukum sebagai orang yang ada dalam keadaan dharurat (terpaksa). Dan tentu saja namanya dharurat tidak dipertahankan selamanya. Keadaan dharurat hanya memperbolehkan orang untuk melanggar aturan sampai status dharurat itu hilang.

Hindari Penolakan

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika turun firman Allah (yang artinya), ‘Baik kalian tampakkan isi hati kalian atau kalian sembunyikan isi hati kalian, niscaya Allah akan menghisab (menghitung) semua itu ….’ para sahabat merasa sangat keberatan.

Mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadu, ‘Wahai Rasulullah, kami telah mendapatkan beban yang mampu untuk kami kerjakan, baik shalat, puasa, jihad, dan sedekah. Namun Allah telah menurunkan ayat kepada Anda, yang tidak mampu kami laksanakan.’ Lantas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apakah kalian ingin melontarkan sebuah ucapan sebagaimana ucapan yang dikatakan oleh Bani Israil, ‘Kami dengar dan kami bermaksiat’? Akan tetapi, katakanlah, ‘Kami tunduk dan kami taat ….”

Setelah mereka menerima hal itu, Allah menghapus hukum sebelumnya (dicatatnya amal hati), dengan menurunkan firman-Nya, ‘Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.’ (pada lanjutan ayat)” (HR. Muslim)

Ya…. Demikianlah sikap yang tepat. Sebagaimana yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat; bukan dengan banyak bertanya dan bersikap skeptis. Akan tetapi, hendaklah berusaha memaksa diri untuk menerima. Sekali lagi, jadikan hukum itu sebagai solusi. Dan selanjutnya, mari kita mencari alternatif lainnya yang halal.

Hukum adalah solusi dan tinggal satu pertanyaan: siapkah kita melakukan perubahan?

Allahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh:

Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.

suami-istri kena sihir

Terkena Gangguan Sihir

Pertanyaan:

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Ada seorang laki-laki berusia dua puluh tahun yang telah menikah. Sudah setahun lamanya ia tidak bisa bersebadan dengan istrinya. Disimpulkan ada orang jahat yang sengaja melakukan hal tersebut menggunakan praktik-praktik perdukunan. Sang suami lalu berkonsultasi dengan beberapa orang untuk mengobati gangguan itu. Saat berkonsultasi mereka mengatakan bahwa keadaannya sudah parah sehingga sulit untuk diatasi. Lalu adakah solusi baginya berdasarkan penjelasan Alquran dan sunah?

Jawaban:

Tentu ada obatnya, yaitu berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari setan yang terkutuk dan dari kejahatan makhluk-Nya dengan cara membaca surat Al Falaq dan An Nas serta membaca firman Allah Ta’ala,

مَاجِئْتُم بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللهَ لاَيُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ

Apa yang kalian datangkan adalah sihir. Sungguh Allah akan membatalkannya. Sungguh Allah tidak akan memperbaiki amal orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 81)

Demikian juga membaca doa-doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan.” (HR. Muslim)

Bisa juga dengan membaca jampi-jampi (ruqyah) untuk orang sakit, seperti:

“Wahai Rabb kami, yaitu Allah Dzat yang berada di langit, Mahasuci nama-MU . . . (Namun hadis ini didhaifkan oleh Allamah Al Albani dalam kitab Dhaif Sunan Abu Dawud)

Disa bisa menerapi dirinya dengan doa-doa dan ayat-ayat tersebut dengan penuh keikhlasan, bisa ia baca sendiri ataupun dibacakan oleh orang lain, dengan penuh keyakinan bahwa Allah tentu akan mengabulkan doa.

Sumber: Fatawa Liz Zaujain Kepada Pasangan Suami Istri, Media Hidayah, Cetakan: 2003.

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

indonesia tanpa syiah

Sejarah Syiah Indonesia, Mengulang Tragedi PKI

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du

Miris rasanya, mendengar teriakan Kang Jalal yang sempat diberitakan di berbagai media. Orang yang dianggap manusia nomer wahid di sekte syiah indonesia itu, mengancam akan mendatangkan tentara Iran ke Indonesia, sebagai pembalasan atas tragedi sampang yang menyudutkan kelompok syiah. Sekalipun celoteh ini ibarat semilir angin yang keluar dari dubur keledai, namun setidaknya kita bisa berkesimpulan bahwa sekte syiah tidak hanya beraksi pada dataran pemikiran, tetapi juga akan menorehkan sejarah dengan tetesan darah.

Dan demikianlah realitanya, hampir semua sejarah syiah, di berbagai belahan dunia, tidak lepas dari pertumpahan darah. Karena salah satu prinsip mereka adalah jihad. Jihad bukan melawan orang yahudi atau nasrani, tapi jihad melawan kaum muslimin ahlus sunah. Membantai kaum muslimin ahlus sunah, mereka yakini sebagai bentuk pembalasan atas darah Imam Husain yang tertumpah di Karbala. Mungkin tidak sekarang, tapi beberapa waktu ke depan, bisa saja itu terjadi.

Syiah Indonesia, Mengulang Sejarah PKI

Itulah realita yang paling tepat untuk menyebut syiah di indonesia. Sebagaimana layaknya PKI, tidak hanya bergerak dalam tataran pemikiran, tapi juga ancaman darah dengan palu arit. Selama PKI belum kuat, yang mereka lakukan adalah menebarkan pemikiran komunis di masyarakat. Sejuta cara mereka tempuh, untuk mewujudkan negara komunis indonesia.

Ketika mereka tidak mampu mempengaruhi kaum intelektual, mereka menyusup, menjalar di akar rumput. Menghasut para petani dan kaum abangan untuk melawan pemerintah dan kaum muslimin, dengan doktrin komunis. Mereka berhasil menanamkan ideologi ini di komunitas buruh, dengan terbentuknya Barisan Tani Indonesia (organisasi petani underbouw PKI). Tragedi palu arit di ladang tebu oleh komunitas loji (pabrik gula), merupakan hasil dari penyebaran ideologi itu.

Orang Awam, Korban Ideologi

Kita sangat yakin, keberadaan para petani, buruh pabrik, yang terinfeksi pemikiran PKI itu, sejatinya sama sekali tidak ngerti apa itu ideologi komunis? Apa dasar pijakan komunis? Bahkan mereka sama sekali tidak sadar, akan diarahkan kemana dan untuk tujuan apa? Ngertinya mereka, yang penting aku dapat makan, ikut kumpul bareng komunitasnya, menjadi antitesis bagi pemerintah ketika itu. Anda tentu paham, maksimal yang bisa dipikirkan kebanyakan orang awam ketika itu hanyalah urusan perut dan makan. Saya dan anak-istri saya hari ini makan apa?

Ya, sejatinya mereka adalah korban ideologi. Mereka hanya dipanas-panasi untuk dijadikan senjata membela komunis. Sementara apa itu komunis, apa itu sosialis, pikiran mereka belum sampai menggayuh ke sana.

Seperti ini bisa terjadi, karena pemerintah sangat tidak tanggap dengan perkembangan pemikiran sesat di masyarakat. Pemerintah mungkin menganggap hal itu bukan ancaman signifikan bagi kelangsungan NKRI. Bisa jadi pemerintah tidak sampai berfikir, perkembangan pemikiran PKI sampai berujung pada penculikan para Jenderal TNI. Ditambah atmosfer sosial-politik yang cukup rumit ketika itu, mengalihkan perhatian pemerintah, sehingga cenderung mendiamkan dan membiarkan pemikiran itu berkembang.

Perang Saudara

Namun kepedihan tidak berhenti sampai di sini. Ternyata PKI berkhianat. Mereka menculik dan membantai masyarakat muslim. Dari mulai penculikan para jenderal, bentrokan anggota PKI dengan para pemuda Persatuan Pelajar Islam (PII), sayap pelajar Masyumi, hingga pembantaian muslim satu masjid yang tengah melaksanakan shalat jamaah. Tidak berhenti di sini, kaum muslimin melakukan imbal balik. Giliran mereka yang memberangus aliran palu arit itu. Menurut berbagai versi sejarah, diperkirakan ada sekitar 78.000 korban manusia yang dibantai tanpa proses hukum yang pasti. Siapakah mereka? Rakyat jelata republik indonesia.

Refleksi PKI untuk Syiah Indonesia

Anda bisa menarik sejarah kelam PKI untuk kasus Syiah di tempat kita. Sebagian besar orang awam syiah sejatinya tidak memahami hakekat syiah yang senyatanya. Tahunya mereka hanya doktrin cinta ahlul bait, cinta keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. – padahal semua muslim cinta ahlul bait – pada kesempatan yang sama, mereka dipanasi bahwa kaum sunni (mayoritas muslim indonesia) tidak perhatian dan menelantarkan ahlul bait. Selama dia bukan syiah, dia musuh ahlul bait.

Dengan sebab prinsip ini, mereka mengkafirkan para sahabat. Mengkafirkan Abu Bakr, Umar, Utsman. Menuduh A’isyah berzina. Tidak mengakui keotentikan Al-Quran, karena tuduhan, Al-Quran telah dinodai di masa Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Melegalkan kawin kontrak, kamuflase zina, pengagungan berlebihan terhadap Ali dan ahlul bait, dan seabreg aqidah yang bertentang dengan prinsip islam. Seperti itulah, ajaran syiah itsna ‘asyariyah yang berkembang di Iran.

Di pihak lain, masyarakat muslim indonesia, yang sadar akan agamanya, selamanya tidak akan pernah menerima ajaran syiah. Terutama syiah Iran yang sedang dihasung menuju indonesia. Karena ajarannya sama sekali berbeda dengan islam, dan jika disandingkan dengan islam, akan menjadi dua ajaran yang sama sekali berbeda.

Bagi masyarakat muslim indonesia, ideologi dan aqidah merupakan sesuatu yang sakral, harga mati, yang tidak bisa diganggu-gugat. Penyimpangan ideologi yang mengaku muslim, bisa dianggap sebagai pelecehan terhadap agama.

Perang Saudara Jilid Dua

Sekalipun perang antar-warga negara bukan hal langka di indonesia, namun tragedi kericuhan antara muslim – PKI jauh lebih meluas. Tidak menutup kemungkinan, tragedi semacam ini akan berulang. Perseteruan antara syiah dan kaum muslimin. Bisa jadi ribuan rakyat indonesia akan menjadi korban atas konflik ini. Perang saudara, mengulang sejarah gestapo.

Upaya sebagian orang yang mengajarkan prinsip toleransi, tidak selamanya bisa diadopsi oleh masyarakat. Terlebih masyarakat kita belum banyak terdidik soal perbedaan. Karena itu, pendekatan dengan menanamkan prinsip toleransi untuk menekan angka anarkis di masyarakat, tidak membuahkan banyak hasil.

Ingatan kita masih sangat segar dengan tragedi Ahmadiyah. Sekalipun berkali-kali masyarakat dihimbau untuk toleran dan toleran, bentrokan berdarah tidak bisa dihindarkan. Pengikut Ahmadiyah korban ideologi, dianggap telah menistakan ajaran islam.

Kemana Pemerintah?

Sudah saatnya pemerintah pro-aktif untuk memutuskan satu kata tentang Syiah. Sikap obar-abir, angin-anginan, tak jelas arah, justru memberi peluang besar penyebaran pemikiran syiah dan memperparah bom waktu di masyarakat.

Pemerintah harus memulai sejak sekarang. Sudah saatnya pemerintah memutuskan kesesatan syiah dan melarangnya berkembang di tanah air. Atau jika tidak, melegalkan syiah sebagai agama ke-enam di luar islam. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi merasa diresahkan dengan keberadaan syiah. Selamanya masyarakat muslim akan menolak dan menolak, karena ajaran syiah tidak akan pernah diterima kaum muslimin.

Allahu a’lam

SOCIAL

9,076FansLike
4,525FollowersFollow
31,401FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN