tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

Islam Nusantara

Akhir-akhir ini banyak yang membahas tentang islam nusantara, apakah itu islam nusantara?

Yusron****@gmail.com

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Istilah islam nusantara, menjadi isu yang mulai ramai dibicarakan. Sejalan dengan peran para budayawan dan orang-orang liberal di Indonesia. Dan nampaknya ini hendak dijadikan sebagai gerakan. Di UIN jakarta sendiri telah diselenggarakan festival budaya islam nusantara. Bahkan ada yang mengatakan, fenomena membaca al-Quran dengan langgam jawa, merupakan bagian dari proyek islam nusantara itu.

Mengingat ini istilah yang asing bagi masyarakat, kita perlu tahu, sebenarnya apa maksud mereka dengan istilah islam nusantara itu. Apakah maksudnya agama islam yang dibongkar pasang, diganti sana-sini, sehingga menjadi agama sendiri yang berbeda sama sekali dengan ajaran islam Nabi Muhammad? Seperti halnya istilah ‘kristen jawa’ yang berbeda sama sekali dengan ajaran kristen lainnya. Atau islam seperti apa?

Di sana ada sebuah tulisan, yang dirilis oleh web Fakultas Adab & Humaniora UIN jakarta. Dalam tulisan itu, dikutip definisi istilah ‘islam nusantara’ menurut Azyumardi Azra. Dia mengatakan,

“Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya dengan warisan Islam (Islamic legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam global.

Yah… anda boleh baca sambil tutup mata sebelah. Paham gak paham, anggap saja paham. Ini bahasa ‘wong pinter’ gaya masyarakat UIN. Kepentingan kita, keterangan Pak Azra dijadikan sebagai acuan. Karena beliau bagian dari pelaksana inti proyek islam nusantara itu.

Kita bisa perhatikan, definisi islam nusantara menurut Pak Azra di bagian pertama,

Islam Nusantara adalah Islam distingtif, artinya islam yang unik. Tentu saja memiliki ciri membedakannya dengan lainnya.

Sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi (disesuaikan keadaan pribumi) dan vernakularisasi (disesuaikan kedaerahan) Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia.

Dari pengertian Pak Azra, berarti islam ada dua:

(1) islam universal dan

(2) islam yang sudah mengalami penyesuaian dengan budaya dan realitas sosial. Yang mereka istilahkan dengan islam nusantara itu.

Jika yang dimaksud islam universal adalah islam ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang itu diterima oleh seluruh dunia, berarti islam nusantara yang menjadi gagasan para tokoh uin itu, berbeda dengan islam ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya, Pak Azra mengaku bahwa islam nusantara yang dia maksud, penyatuan kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali. Tentu saja, ini terlalu berlebihan. Anggap saja, masalah tata cara membaca al-Quran masuk dalam kajian fiqh, pernahkah ada fatwa dalam fiqh syafii yang membolehkan membaca al-Quran dengan lagu macapat?

Lebih dari itu, sebenarnya UIN jakarta, sangat terengaruh dengan pemikiran pemikian liberal Harun Nasution. Posisi Pak Harun yang dianggap pencetus pemikiran islam baru, sangat menentang kalam Asy’ari. Karena yang ingin dia kembangkan adalah pemikiran mu’tazilah. Pak Harun sendiri pernah menyatakan, “Bila umat Islam ingin maju, maka kita harus menggantikan paham Asy’ariyah yang telah mendarah daging menjadi paham Mu’tazilah.” (Teologi Pembaruan, Fauzan S, 2004, hlm. 264)

Karena itulah, Pak Harun dikenal pencetus Neo-Mu’tazilah di Indonesia.

Ketika uin jakarta mengaku mengembangkan ajaran ilmu kalam asy’ari, jelas ini terlalu jauh. Hakekatnya, mereka sedang mengembangkan pemikiran mu’tazilah.

Memecah Belah Umat

Kita tinggalkan kajian masalah definisi di atas.

Karena jika kita perhatikan, pemikiran ini jelas hendak merusak islam besar-besaran. Dan tidak jauh jika kita katakan, memecah belah kaum muslimin.

Budaya di nusantara bagi Indonesia, sangat beragam. Aceh jauh berbeda dengan jawa. Kalimantan, jauh beda dengan Papua. Ketika islam nusantara dipahami sebagai islam hasil akulturasi budaya lokal, apa yang bisa anda bayangkan ketika islam ini disinkronkan dengan budaya papua. Sehingga tercipta sebuah desain pakaian muslim, hasil interaksi antara islam dan budaya koteka. Tentu saja, ini akan sangat ditolak oleh masyarakat jawa atau lainnya.

Ingatan kita masih sangat segar terkait kasus shalat dengan bahasa jawa, yang diajarkan di Pesantren I’tikaf Ngadi Lelaku, Malang. Spontan memancing emosi banyak masyarakat. Jika sampai hal ini diwujudkan, yang terjadi bukan renaisans peradaban Islam, tapi malah mengacaukan masyarakat.

Termasuk ajaran sebagian etnis Sasak, shalat 3 waktu. Apakah bisa disebut islam nusantara? Jika sampai ini dilegalkan, berarti menolak keberadaan 2 shalat sisanya.

Wahyu Menyesuaikan Budaya?

Hingga kini, banyak orang liberal menuduh, bahwa tujuan terbesar dakwah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah untuk arabisasi dunia. Menerapkan hegemoni quraisy di alam raya. Sehingga, ketika ada gerakan dakwah di tengah masyarakat, mereka sebut, arabisasi.

Inti masalahnya, orang liberal lemah dalam membedakan antara budaya dan ajaran agama. Sehingga, di manapun ajaran agama itu disampaikan, menurut orang liberal, itu sedang memasarkan budaya arab.

Kita bisa telusuri, sebenarnya yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu meng-arab-kan islam ataukah meng-islam-kan arab??.

Jika kita menggunakan teori orang liberal, berarti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meng-arabkan islam. Artinya, islam sudah ada, kemudian oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diwarnai dengan budaya arab.

Anda layak untuk geleng kepala..

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya. Ada yang baik dan ada yang buruk. Ketika beliau datang, beliau mengislamkan budaya-budaya itu. Dalam arti, mengarahkan pada budaya yang baik, dan membuang budaya jahat. Bukan disinkronkan, kemudian islam menyesuaikan semua budaya mereka.

Kita bisa simak, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang budaya buruk jahiliyah, beliau mengatakan,

أَلاَ كُلُّ شَىْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوعٌ

Katahuilah, segala urusan jahiliyah, terkubur di bawah telapak kakiku.” (HR. Muslim 3009)

Ini salah satu bukti, bagaimana upaya beliau menolak setiap tradisi jahiliyah yang bertentanagn dengan wahyu.

Dari sini kita mendapat pelajaran, bahwa budaya harus menyesuaikan islam. Bukan islam yang menyesuaikan budaya.

Islam Agama Menyeluruh

Islam agama yang unversal. Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebarkan islam kepada seluruh umat manusia. Sehingga ajaran islam sedunia adalah sama. Karena sumbernya sama. Ketika ada orang yang memiliki kerangka ajaran yang berbeda, berarti itu bukan islam ajaran beliau.

Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Aku tidak mengutus kamu, melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

Dalam tafsirnya, al-Hafidz Ibnu Katsir menfsirkan ayat ini, bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk seluruh makhluk. Semua yang mukallaf. Baik orang arab maupun luar arab. Yang paling mulia diantara mereka, adalah yang paling taat kepada Allah. (Tafsir Ibn Katsir, 6/518).

Saya kira, tidak ada orang muslim yang ingin tidak dianggap sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam arti khusus, gara-gara dia punya islam yang berbeda dengan islam beliau.

Adat Bisa Menjadi Acuan Hukum

Ada satu kaidah dalam ilmu fiqh,

العادة محكَّمة

“Adat bisa dijadikan acuan hukum.”

Kaidah ini termasuk kaidah besar dalam fiqh (qawaid fiqhiyah kubro). Kaidah ini menjelaskan bahwa adat dan tradisi masyarakat dalam pandangan syariat bisa menjadi penentu untuk hukum-hukum terkait muamalah sesama manusia. Selama di sana tidak ada dalil tegas yang bertentangan dengan adat tersebut. (al-Wajiz fi Idhah Qawaid al-Fiqh al-Kulliyah, hlm. 276).

Hanya saja di sana para ulama fiqh memberikan batasan, ketika adat bertentangan dengan dalil syariat,

Pertama, jika ada adat yang sesuai dengan dalil syariat, wajib untuk diperhatikan dan diterapkan. Karena mempraktekkan hal ini hakekatnya mempraktekkan dalil dan bukan semata adat. Contoh: memuliakan tamu.

Kedua, jika adat bertentangan dengan dalil syariat, ada beberapa rincian keadaan sebagai berikut,

  1. Adat bertentangan dengan dalil dari segala sisi. Menggunakan adat otomatis akan meninggalkan dalil. Dalam kondisi ini adat sama sekali tidak berlaku. Misalnya: tradisi koperasi simpan pinjam berbunga.
  2. Adat bertentangan dengan dalil dalam sebagian aspek. Dalam kondisi ini, bagian yang bertentanga dengan dalil, wajib tidak diberlakukan. Misalnya: Dropshipping dengan cara terutang.
  3. Dalil yang bertentangan dengan Urf, dibatasi dengan latar belakang adat yang terjadi ketika itu. Misalnya, larangan membiarkan api penerangan menyala di malam hari. Atau larangan minum air dari mulut botol.

Contoh Penerapan Kaidah

Allah mewajibkan suami untuk menafkahi istri. Tentang ukuran nafkah, dikembalikan kepada keadaan masyarakat, berapa nilai uang nafkah wajar untuk istri.

Islam mewajibkan kita untuk bersikap baik terhadap tetangga. Bagaimana batasan sikap baik itu, dikembalikan kepada standar masyarakat. dst.

Gagasan Islam Nusantara Vs Kaidah Fiqh

Apakah kaidah fiqh ini yang hendak dikembangkan dalam proyek “Islam Nusantara.”?

Dugaan kuat kami, tidak untuk ini. Islam nusantara, bukan dalam rangka memahamkan masyarakat tentang kaidah fiqh di atas.

Karena seperti yang dinyatakan Pak Azra, beliau menyebut islam nusantara sebagai islam yang distingtif, islam unik. Mereka anggap itu gagasan baru dari mereka, bagi muslim Indonesia. Makanya, kita tidak pernah mendengar istilah ini dikobarkan, di masa pemerintahan SBY. Proyek ini baru disemarakkan di masa pemerintahan sekarang.

Padahal kaidah fiqh di atas, bukan sesuatu yang baru. Dan untuk memahamkan kadiah ini, tidak butuh orang liberal. Kaidah ini telah final dibahas para ulama. Jika orang liberal ngaku hendak membumikannya, itu hanya klaim. Mengelabuhi masyarakat abangan untuk memasarkan pemikiran mu’tazilah.

Benar apa yang Allah firmankan, salah satu diantara upaya setan untuk menggoda manusia adalah dengan membisikkan kata-kata indah, untuk menjadi alasan pembenar bagi kesesatan mereka,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, mereka saling membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112)

Semoga kita tidak termasuk orang yang tertipu propaganda mereka.

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Hari Jumat, Hadiah Untuk Umat

Benarkah hari jumat itu atas hadiah dari Allah untuk umat Muhammad saw.

Coy

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah berfirman,

إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.” (QS. an-Nahl: 124).

Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini,

Allah menuntukan setiap penganut agama untuk memilih satu hari istimewa dalam sepekan. Hari untuk berkumpul bersama dalam rangka melakukan ibadah. Allah syariatkan untuk umat ini (umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) agar mereka memuliakan hari jumat. Karena itu hari keenam, di mana Allah sempurnakan makhluk-Nya. Dan itu nikmat sempurna bagi mereka.

Selanjutnya Ibnu Katsir menyebutkan keterangan sebagian ahli tafsir,

ويقال: إنه تعالى شرع ذلك لبني إسرائيل على لسان موسى، فعدلوا عنه واختاروا السبت؛ لأنه اليوم الذي لم يخلق فيه الرب شيئًا من المخلوقات الذي كمل خلقها يوم الجمعة، فألزمهم تعالى به في شريعة التوراة، ووصاهم أن يتمسكوا به وأن يحافظوا عليه

Ada yang menyetakan bahwa Allah mensyariatkan kepada bani israil melalui Musa untuk memuliakan hari jumat. Namun mereka menolaknya dan memilih hari sabtu. Mereka meyakini, di hari sabtu, Allah tidak menciptakan makhluk apapun, karena telah Allah sempurnakan di hari jumat. Akhirnya Allah tetapkan ibadah hari sabtu itu sebagai kewajiban untuk mereka dalam taurat. Allah wasiatkan agar mereka komitmen dengan hari sabtu dan berusaha menjaganya.  (Tafsir Ibnu Katsir, 4/612).

Demikian pula dengan nasrani.

Al-Hafdiz Ibnu Katsir melajutkan keterangannya,

Mereka terus konsisten dengan ibadah hari sabtu, sampai Allah mengutus Isa bin Maryam. Selanjutnya ada banyak versi di sana. Ada yang mengatakan, Allah memindahkannya kepada hari ahad. Ada yang mengatakan, mereka tidak meninggalkan syariat taurat, selain beberapa hukum yang dihapus dengan injil. Mereka terus konsisten dengan hari sabtu, hingga Allah mengangkat Isa. kemudian, oleh orang nasrani, itu diubah menjadi hari ahad di zaman kerajaan Konstatinopel. Agar berbeda dengan orang yahudi. Mereka juga melakukan shalat menghadap ke timur, ke arah batu di timur al-Aqsha. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/612).

Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat membanggakan adanya hari jumat. Karena berarti kita benar. Kita memuliakan hari jumat, dan itu sesuai dengan apa yang Allah pilihkan. Sementara pilihan yahudi dan nasrani meleset.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ketika hari jumat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan,

نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَاخْتَلَفُوا فَهَدَانَا اللَّهُ لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنْ الْحَقِّ فَهَذَا يَوْمُهُمْ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ هَدَانَا اللَّهُ لَهُ قَالَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فَالْيَوْمَ لَنَا وَغَدًا لِلْيَهُودِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى

Kita adalah umat terakhir namun pertama di hari kiamat. Kitalahlah yang pertama kali masuk surga. Meskipun mereka mendapatkan kitab suci sebelum kita dan kita mendapatkan kitab suci setelah mereka. Lalu mereka menyimpang dan kita ditunjukkan Allah kepada kebenaran dalam hal yang mereka perselisihkan. Inilah hari mereka yang mereka menyimpang darinya dan Allah tunjukkan kepada kita. Beliau bersabda lagi: Hari jum’at adalah hari kita dan esoknya hari Yahudi dan setelah besok adalah hari nasrani.” (HR Muslim 2017).

Sudah selayaknya kaum muslimin bersyukur dengan dijadikannya hari jumat sebagai hari besar untuk mereka dalam setiap pekan.

Saatnya memuliakan hari jumat.

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Bahasa Penduduk Surga, Bukan Bahasa Arab?

Benarkah bahasa penduduk surga itu bahasa arab? Dan penduduk neraka berbahasa selain arab?

Mohon pecerahannya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, yang menyatakan,

أحبوا العرب لثلاث لأني عربي ، والقرآن عربي ، وكلام أهل الجنة عربي

“Cintailah arab karena 3 hal, (1) karena saya orang arab, (2) karena al-Quran berbahasa arab, dan (3) bahasa penduduk surga adalah bahasa arab.”

Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani dalam al-Ausath, al-Hakim dalam al-Mustadrak dan Baihaqi dalam Syuabul Iman. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Alla bin Amr, yang oleh ad-Dzahabi dinilai matruk. Dan beliau menyebut hadis ini sebagai hadis palsu. Kemudian Abu Hatim menilainya pendusta. Hingga Imam al-Albani mennyebutkan bahwa ulama sepakat hadis ini palsu. (Silsilah al-Ahadits ad-Dhaifah, 1/293).

Karena itu, Syaikhul Islam menegaskan bahwa hadis ini tidak bisa jadi dalil.

Dalam al-Iqtidha, ketika beliau membahasa hadis ini, beliau menyatakan,

وأبو الفرج بن الجوزي ذكر هذا الحديث في الموضوعات ، وقال : قال الثعلبي : لا أصل له ، وقال ابن حبان : يحيى بن زيد يروي المقلوبات عن الأثبات ، فبطل الاحتجاج به

“Ibnul Jauzi mencantumkan hadis ini dalam kitab al-Maudhu’at (daftar hadis palsu). Beliau menyebutkan bahwa at-Tsa’labi menilainya, ‘La ashla lahu’ (tidak ada sumbernya). Sementara Ibnu Hibban menyebutkan bahwa Yahya bin Zaid (salah satu perawi hadis ini) meriwayatkan dari perawi yang tsiqqah kebalik-balik. Sehingga tidak bisa jadi dalil. (Iqtidha as-Shirat al-Mustaqim, 1/443)

 

Kemudian, disebutkan dalam riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu’,

أنا عربي ، والقرآن عربي ، ولسان أهل الجنة عربي

Saya orang arab, al-Quran berbahasa arab, dan penduduk surga berbahasa arab.”

Hadis ini juga diriwayat at-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath, dan ulama menilainya sebagai hadis palsu. (Silsilah ad-Dhaifah, 1/298).

Dalam Fatwa Islam disimpulkan,

والحاصل أنه لم يرد دليل صحيح يبين اللغة التي يتكلم بها أهل الجنة

Kesimpulannya, tidak terdapat dalil shahih yang menjelaskan tentang bahasa yang digunakan penduduk surga. (Fatwa Islam, no. 83262)

Apa Bahasa Penduduk Surga?

Syaikhul Islam pernah ditanya,

بماذا يخاطب الناس يوم البعث ؟ وهل يخاطبهم الله تعالى بلسان العرب ؟ وهل صح أن لسان أهل النار الفارسية وأن لسان أهل الجنة العربية ؟

Apa bahasa yang digunakan pada hari kiamat? Apakah Allah mengajak bicara makhluknya dengan bahasa arab? Apakah benar, bahasa penduduk neraka adalah bahasa persi, sementara bahasa penduduk surga adalah bahasa arab?

Jawaban Syaikhul Islam,

الحمد لله رب العالمين لا يُعلم بأي لغة يتكلم الناس يومئذ ، ولا بأي لغة يسمعون خطاب الرب جل وعلا ؛ لأن الله تعالى لم يخبرنا بشيء من ذلك ولا رسوله عليه الصلاة والسلام ، ولم يصح أن الفارسية لغة الجهنميين ، ولا أن العربية لغة أهل النعيم الأبدي ، ولا نعلم نزاعا في ذلك بين الصحابة رضي الله عنهم ، بل كلهم يكفون عن ذلك لأن الكلام في مثل هذا من فضول القول

Segala puji bagi Allah, Rabbul ‘alamin,

Kita tidak tahu, bahasa apa yang Allah gunakan untuk berkomuniasi pada hari kiamat. Kita juga tidak tahu, bahasa apa yang didengar oleh para makhluk ketika mereka berkomunikasi dengan Tuhannya. Karena Allah tidak menceritakan hal itu sama sekali, demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak ada riwayat yang shahih bahwa bahasa persi adalah bahasa penduduk neraka. Demikian pula, tidak ada riwayat shahih bahwa bahasa arab adalah bahasa penduduk surga. Dan kita juga tidak tahu adanya diskusi para sahabat Radhiyallahu ‘anhum tentang masalah ini. Bahkan mereka semua tidak memberikan komentar tentng bahasa kelak di akhirat. Karena membahas masalah ini termasuk pembahasan sia-sia.

Kemudian, Syaikhul Islam melanjutkan,

ولكن حدث في ذلك خلاف بين المتأخرين ، فقال ناس : يتخاطبون بالعربية ، وقال آخرون : إلا أهل النار فإنهم يجيبون بالفارسية ، وهى لغتهم في النار . وقال آخرون : يتخاطبون بالسريانية لأنها لغة آدم وعنها تفرعت اللغات . وقال آخرون : إلا أهل الجنة فإنهم يتكلمون بالعربية . وكل هذه الأقوال لا حجة لأربابها لا من طريق عقلٍ ولا نقل بل هي دعاوى عارية عن الأدلة والله سبحانه وتعالى أعلم وأحكم

Hanya saja, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama belakangan. Sebagian mengatakan, Allah berkomunikasi dengan bahasa arab. Ada juga yang mengatakan, untuk penduduk neraka mereka berkomunikasi dengan bahasa persi. Dan itu menjadi bahasa mereka di neraka.

Ada juga yang mengatakan, komunikasi mereka dengan bahasa Suryani. Karena ini bahasa yang digunakan Nabi Adam. Dan semua bahasa turunan darinya. Kecuali ahli surga, mereka berbicara dengan bahasa arab.

Dan semua pendapat ini, tidak memiliki dasar pijakannya. Baik secara logika maupun dalil yang shahih. Ini semua hanya klaim tanpa dalil. Dan Allah ta’ala Maha Tahu dan Maha Bijaksana. (Majmu’ Fatawa, 4/300).

Nasehat yang sangat indah dari Syaikhul Islam, masalah bahasa di akhirat, sebaiknya tidak perlu banyak dipertanyakan. Kita pasrahkan kepada Allah. Dia paling tahu mana yang terbaik. Akan lebih bermanfaat, jika umat lebih menyibukkan diri untuk beramal demi kebaikannya di akhirat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

URGENSI PEMBAHASAN[1]

Syahadat adalah salah satu pondasi penting keislaman seorang hamba sehingga pilar utama rukun Islam yang digandengan dengan syahadat Laa Ilaha Illallah

Banyaknya kaum muslimin yang belum memahami hakekat syahadat dengan sempurna sehingga mereka terjatuh dalam kesalahan; berlebihan dan meremehkan

Diharapkan akan semakin menambah iman dan cinta kita kepada Nabi Muhammad sehingga kita semangat dan tegar dalam mengikuti sunnah beliau dalam aspek kehidupan manusia; aqidah, ibadah, akhlah dan lain sebagainya.

MAKNA SYAHADAT MUHAMMAD

Tatkala seorang muslim berikrar “Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulnya”.

Ikrarnya bahwa Nabi Muhammad adalah seorang hamba berfaedah agar dia tidak berlebihan kepada Nabi Muhammad, karena Rasulullah adalah seorang manusia biasa yang telah Alloh muliakan dengan risalah. Alloh berfirman;

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian yang diwahyukan kepadaku bahwa Ilah kamu adalah Ilah yang esa. (QS.al-Kahfi 110).

Maka tidak boleh kita meminta sesuatu kepadanya yang menjadi kekhususan Alloh, semisal dengan berdo’a agar diluaskan rizki, dipanjangkan umur atau meminta kesembuhan dan lain-lain dari permintaan yang sebenarnya hanya ditujukan kepada Alloh saja.

Ketahuilah wahai hamba yang beriman, nabi kita tidak senang apabila dirinya dilebih-lebihkan melebihi derajat yang semestinya, bahkan beliau memberi peringatan yang keras, dia bersabda;

لاَ تَطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ وَ لَكِنْ قُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ

Janganlah kalian berlebihan kepadaku sebagaimna orang nashara telah berlebihan kepada Isa bin Maryam, akan tetapi katakanlah hamba Alloh dan rasulnya. (HR.Bukhari 3445).

Inilah yang disebut dengan ghuluw, berlebihan terhadap sesuatu. Sederhanalah dalam beragama, ikutilah petunjuknya, karena ghuluw tidaklah mendatangkan kecuali kebinasaan, Rasulullah bersabda;

إِيَّاكُمْ وَ الغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنَ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِاْلغُلُوِّ فِيْ الدِّيْنِ

Waspadalah kalian dari berbuat ghuluw di dalam agama, hanyalah orang yang sebelum kalian binasa karena berbuat ghuluw dalam agama. (QS.Ahmad 1/215, Nasai 5/268, Ibnu Majah 3064, Hakim 1/466, lihat as-Shahihah 1283).

Termasuk bentuk ghuluw kepada nabi juga yaitu tawassul yang tidak syar’I, berdo’a disisi kuburnya, ngalap berkah dengan kuburannya, shalawat bid’ah yang mengandung kesyirikan dan lain-lain. Wallohul Musta’an.

Dan syahadat kita bahwa Muhammad adalah Rasulullah berfaedah akar kita memuliakan dan menghormati beliau, mencintai dan membela beliau, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya serta tidak beribadah kepada Allah kecuali beradasarkan tuntunannya.

Alloh berfirman;

لِّتُوْمِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Supaya engkau sekalian beriman kepada Alloh dan rasulNya, menguatkan agamanya, mengagungkannya, dan bertasbih kepadanya di waktu pagi dan petang. (QS.al-Fath 9)

Penghormatan kepada beliau semasa hidupnya adalah dengan mengagungkan sunnahnya dan kepribadiannya. Adapun setelah beliau wafat, dengan cara mengamalkan dan menjaga sunnahnya.

Sungguh para sahabat telah mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya mengagungkan nabi. Simaklah penuturan Urwah bin Mas’ud ketika dia diutus oleh orang-orang Quraisy untuk berunding dengan nabi pada perjanjian Hudaibiyyah, dia berkata dihadapan para pembesar Quraisy, “Aku sudah pernah menemui raja kisra, Qaishar dan Najasyi, akan tetapi belum pernah aku melihat para pengikut mereka mengagungkan rajanya seperti pengagungan para sahabat Muhammad kepada Muhammad. Apabila dia (Muhammad) memerintahkan sesuatu, mereka akan bersegera melaksanakannya. Apabila dia berwudhu, mereka saling berebutan untuk merebut sisa wudhunya. Apabila dia berbicara, mereka semua merendahkan suara disisinya dan mereka tidaklah menajamkan pandangan kepadanya karena mengagungkan beliau”. (HR.Bukhari 2731).

GOLONGAN YANG MENYIMPANG

Setelah kita memahami hakekat syahadat Muhammad Rasulullah, kita perlu memahami golongan yang menyimpang agar kita tidak terjerumus di dalamnya:

1. Golongan yang tidak beriman kepada Nabi

Baik yang tidak beriman secara total seperti kaum musyrikin atau mengingkari keumuman risalah Nabi dan menganggap bahwa risalah beliau hanya khusus untuk kaum Arab saja.

Tentu saja, golongan ini bertentangan dengan firman Allah yang banyak sekali, yang menegaskan bahwa Allah mengutus NabiNya untuk seluruh manusia:

وَمَآأَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

(QS. Saba: 28)

2. Golongan yang menisbatkan dirinya kepada Islam tetapi menyelisihi hakekat syahadat

  1. Ada yang berlebihan sehingga menganggap bahwa Allah bersatu dengan diri Nabi.  Ini ucapan kufur yang menyerupai ucapan kaum Nashrani pada diri al-Maish, padahal Nabi hanyalah manusia biasa dan hamba yang dimuliakan dengan kenabian.

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

(QS, Al-Kahfi: 110)

أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِّن زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَآءِ وَلَن نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَّقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنتُ إِلاَّ بَشَرًا رَّسُولاً

(QS. Al-Isra’: 93)

  1. Ada lagi yang berlebihan kepada beliau sehingga memberikan jenis ibadah kepada beliau, padahal Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

(QS. Al-Kautsar: 2)

Oleh karenanya, Nabi seringkali memberikan peringatan keras secara berulang-ulang dalam banyak kesempatan dari perbuatan ghuluw kepada beliau.

  1. Ada lagi yang berlebihan sehingga menganggap bahwa Nabi mengetahui perkara ghoib,padahal Allah berfirman:

قُل لاَّيَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَايَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

(QS. An-Naml: 65)

قُل لآَّأَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَاشَآءَ اللهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَامَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

(QS. Al-A’rof: 188)

  1. Golongan lainnya ada yang meremehkan Nabi dengan menolak hadits-haditsnya dengan akal dan hawa nafsunya.Demikian juga orang-orang yang melakukan perbuatan bid’ah dalam agama karena konsekwensi syahadat Muhammad Rasulullah adalah tidak beribadah kecuali dengan tuntunan Rasulullah.[2]

HAKEKAT SYAHADAT MUHAMMAD RASULULLAH

1. Beriman kepada Nabi

2. Taat dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Aku melihat di dalam mushaf maka aku dapati perintah taat kepada rasul terdapat pada 33 tempat”. (as-Sharim al-Maslul hal.56, lihat pula Majmu’ Fatawa 19/103).

Karena taat kepada rasul pada hakekatnya merupakan bentuk ketaatan kepada Alloh juga. Alloh berfirman;

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَآأَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang menta’ati rasul, sesungguhnya dia telah mentaati Alloh. (QS.an-Nisa 80).

Syaikhul Islam mengatakan, “Sungguh ijma’ ummat ini telah menunjukkan wajibnya taat dan ittiba’ kepada rasul, karena as-sunnah itu sebagai sumber hukum syar’I setelah sumber yang pertama yaitu al-Qur’an. (Majmu’ Fatawa 11/339).

3. Membenarkan berita yang beliau bawa

Termasuk pokok keimanan adalah mengimani kema’suman nabi dari kedustaan. Membenarkan setiap berita yang beliau khabarkan, baik dalam perkara yang telah lampau, masa kini, atau masa akan datang. Alloh berfirman:

وَمَايَنطِقُ عَنِ الْهَوَى {3} إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى {4}

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS.an-Najm 3-4).

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Inti adab kepada nabi adalah berserah diri dengan sempurna, melaksanakan perintah dan menerima khabarnya dengan sepenuh hati, tanpa mempertentangkan dengan khayalan yang batil yang dikira masuk akal, atau dengan syubhat dan keraguan, atau mendahulukan pendapat orang lain atau dengan kerancuan akal mereka”. (Madarijus Salikin 2/439).

Karena hujjah yang wajib diikuti oleh seluruh makhluk adalah perkataan al-Ma’shum yang tidak mengucapkan dengan hawa nafsu. Adapun perkataan orang lain paling banter adalah boleh diikuti, bukan wajib diikuti!! lebih-lebih apabila perkataannya digunakan untuk menentang nash-nash, atau lebih di dahulukan (maka lebih utama untuk tidak diikuti-pen). Kita berlindung kepada Alloh dari kehinaan. (ar-Risalah at-Tabukiyyah hal.41).

Ambil contoh hadits yang berbunyi

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِيْ الآخَرِ شِفَاءً

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila lalat jatuh di bejana salah satu diantara kalian maka celupkanlah kemudian buanglah lalat tersebut, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya”.

(HR.Bukhari 3320, Ahmad 2/229, Abu Dawud 3844, Ibnu Majah 3505, Ad-Darimi 2045, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 105).

Ini adalah khabar dari rasulullah dalam perkara ghaib yang dia tidak berbicara dengan hawa nafsu, maka khabar seperti ini wajib kita terima dengan husnul khuluq, yaitu dengan menerima dan melaksanakan tanpa keraguan, kita yakini dengan ilmu yakin bahwa sabdanya adalah benar, Alloh berfirman;

Maka Alloh adalah rabbmu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan? (QS.Yunus 32). (Lihat Makarimul Akhlaq hal.14, Oleh Syaikh Ibnu Utsaimin).

Semoga Alloh merahmati Imam Ibnul Qayyim ketika berkata, “Termasuk adab kepada nabi bahwa perkataannya tidak boleh dipermasalahkan, bahkan seharusnya pendapat-pendapat itulah yang harus dipermasalahkan dan ditimbang dengan perkataannya, tidak boleh pula nashnya ditentang dengan kias (analogi), bahkan kias itulah yang dibuang karena sudah ada nash. Tidak pula perkataannya diselewengkan dari makna yang hakiki hanya berdasarkan khayalan yang dikira masuk akal, tidak boleh pula berdiam diri untuk menerima apa yang beliau bawa karena mengikuti pendapat orang, semua ini adalah bentuk kurang adab kepada beliau”. (Madarijus Salikin 2/441).

4. Ittiba’, dan mengambil petunjuknya

Asal dari perkataan dan perbuatan nabi adalah untuk ditiru dan dicontoh. Alloh berfirman:

} لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Alloh dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Alloh. (QS.al-Ahzab 21).

Ayat ini adalah asas dalam meneladani rasulullah dalam perkataannya, perbuatannya dan seluruh keadaan rasulullah. (Tafsir al-Qur’an al-Azhim 6/391).

Imam as-Syafi’I mengatakan, “Apabila sesuatu itu telah tetap dari rasulullah, maka wajib bagi semua orang yang mengetahuinya untuk ittiba’ kepada beliau, karena Alloh tidaklah membolehkan  bagi seseorang untuk menyelisihi perintahnya”. (ar-Risalah hal.330-Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir-).

Sebagai contoh dalam masalah shalat, selayaknya bagi setiap muslim untuk mempelajari bagaimana sifat shalat nabi, memperbagusi dan berusaha agar shalatnya benar sesuai tuntunan. Rasulullah mengatakan

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR.Bukhari 631).

Demikianlah perkara-perkara ibadah lainnya, hendaklah kita meniru dan ittiba’ kepada beliau, karena itulah jalan keselamatan dan kebahagiaan.

5. Berhukum dengan sunnahnya

Perkara inipun harus kita realisasikan, hendaklah setiap orang berhukum dengan sunnahnya, berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya Alloh berfirman;

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS.an-Nisa 65).

Maka apabila segala perselisihan yang ada dikembalikan kepada al-Qur’an dan sunnah insya Alloh akan selesai, dan kehidupan beragamapun menjadi tentram dan damai. Alloh berfirman;

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. (QS.an-Nisa 59).

Kaum salaf dan khalaf telah sepakat bahwa mengembalikan kepada Alloh adalah mengembalikan kepada kitabNya yaitu al-Qur’an, dan mengembalikan kepada rasul adalah mengembalikan ketika masa hidupnya dan mengembalikan kepada sunnahnya setelah wafatnya. (Tafsir Thabari 5/151, Tafsir Qurthubi 5/169, ar-Risalah at-Tabukiyyah hal.47).

Bahkan Alloh telah menegaskan pula bahwa termasuk tanda-tanda penyimpangan dan kenifakan adalah berpaling dan meninggalkan sunnahnya. Renungilah firman Alloh berikut ini;

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada Thagut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, marilah kamu tunduk kepada hukum yang telah Alloh turunkan dan kepada hukum rasul, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari mendekati kamu. (QS.an-Nisa 60-61).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari sunnah rasulullah dan syari’atnya, maka sungguh Alloh telah bersumpah dengan dirinya yang suci bahwa orang itu tidak beriman, hingga dia ridha dengan hukum rasulullah dalam segala perkara yang mereka perselisihkan, baik dalam masalah agama maupun dunia dan hingga tidak tersisa rasa keberatan dalam hati mereka terhadap hukumnya, dalil-dalil dalam pokok masalah ini sangat banyak sekali”. (Majmu’ Fatawa 28/471).

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Alloh menjadikan berpaling dari apa yang dibawa oleh nabi dan mencari hukum selainnya sebagai bentuk kenifakan, sebagaimana hakekat keimanan adalah berhukum kepada nabi, menghilangkan rasa keberatan dalam dada dan menerima sepenuh hati berdasarkan pilihan dan kecintaan sendiri, inilah hakekat keimanan dan berpaling dari sunnahnya itulah hakekat kenifakan”. (Mukhtashar as-Shawaiq al-Mursalah 2/353).

6. Membela Rasulullah

Sesungguhnya membela rasulullah dan menolongnya merupakan tanda terbesar kecintaan dan pengagungan seseorang kepada rasulullah. Bacalah gambaran pembelaan orang-orang muhajirin terhadap rasulullah dalam firmanNya berikut ini;

Juga bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Alloh dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Alloh dan rasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS.al-Hasyr 8).

Bahkan potret para sahabat telah memberikan gambaran yang mengagumkan tentang pembelaan mereka terhadap rasulullah. Mereka mempertaruhkan harta, jiwa dan anak-anak. Potret mereka terlukis dalam kitab-kitab sirah yang tidak samar bagi orang yang mau membacanya. Baiklah untuk membuktikan hal ini kami nukilkan sedikit potret pembelaan sahabat kepada rasulullah.

1. Adalah sahabat yang mulia Abu Thalhah tatkala perang uhud beliau menjaga rasulullah dari hujaman anak panah yang mengarah kepadanya, Abu Thalhah berkata, “Demi bapak dan ibuku yang menjadi tebusannya,  tidaklah mulia apabila mengenaimu panah dari panah seorang kaum, leherku bukan lehermu”. (HR.Bukhari 4064).

Qais bin Abi Hazim berkata, aku melihat tangan Thalhah terputus pada perang uhud karena melindungi nabi. (HR.Bukhari 4064).

2. Contoh selanjutnya, alangkah indahnya apa yang diucapkan oleh Anas bin Nadhr pada perang uhud tatkala kaum muslimin porak poranda dan berlarian, dia berkata, “Ya Alloh aku berudzur kepadamu dari perbuatan mereka-yaitu para sahabat- dan aku berlepas diri kepadamu dari perbuatan kaum musyrikin”. Kemudian dia maju ke medan perang dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz seraya berkata, “Wahai Sa’ad bin Muadz, aku mencium bau surga dari balik gunung uhud ini”. Kemudian Anas bin Nadhar maju ke kancah peperangan dengan gagah berani melawan kaum musyrikin hingga terbunuh. Sa’ad bin Muadz berkata, “Wahai rasulullah aku tidak bisa berbuat seperti dirinya”. Anas bin Malik berkata, “Kami mendapatinya telah terbunuh dengan 80 sabetan pedang, tikaman tombak dan hujaman anak panah”. Orang-orang musyrikin telah mencabik-cabik tubuhnya, hingga tidak ada seorangpun yang bisa mengenalinya kecuali saudara perempuannya (yang bernama ar-rubayyi’) mengetahui dari jari-jemarinya. (HR.Bukhari 2805).

 7. Membela hadits dan sunnah nabi

Termasuk membela sunnah nabi adalah dengan menjaga dan membersihkan dari kedustaan orang yang berbuat batil, penyelewengan orang-orang yang melampaui batas dan takwil orang-orang yang bodoh.[3]

Bentuk lain dari membela sunnah nabi juga adalah membantah kerancuan orang-orang yang melecehkan sunnahnya. Seperti orang yang mencela masalah hijab, jenggot, isbal dan lain-lain. Ketahuilah wahai saudaraku, mencela dan melecehkan sunnah nabi termsuk perbuatan kufur, pelakunya terancam keluar dari islam! Camkan baik-baik ayat berikut ini;

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ {65} لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ {66}

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan) tentulah mereka akan menjawab, sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah, apakah dengan alloh, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu sungguh telah kafir sesudah beriman. (QS.at-Taubah 65-66).

Muhammad bin Murthadha al-Yamani berkata, “Orang yang menjaga dan membela sunnah nabi bagaikan seorang mujahid fi sabilillah, hendaklah dia mempersiapkan untuk jihad semampunya, berupa peralatan, bekal dan kekuatan, sebagaimana Alloh mengatakan Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS.al-Anfal 60). Demikian pula telah shahih bahwa malaikat Jibril bersama Hasan bin Tsabit ketika membela rasulullah dengan bai-bait sya’irnya. Demikian pula orang-orang yang membela agama dan sunnahnya setelahnya karena keimanan, kecintaan dan pembelaan terhadapnya”. (Itsarul Haq ‘Ala al-Khalq hal.20, lihat Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuh hal.80).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan, “Tidak pantas bagi setiap orang mukmin yang mendengar orang yang menyerang syariat nabi atau kepribadiannya kemudian dia diam akan hal itu padahal dia mampu untuk memberi pembelaan”. (Huquq Da’at Ilaiha al-Fithrah hal.10).

8.Menyebarkan sunnahnya

Termasuk kesempurnaan cinta kita kepada nabi adalah semangat untuk menyebarkan sunnah dan menyampaikannya kepada kaum muslimin. Betapa banyak hadits-hadits yang menganjurkan untuk menyebarkan sunnah nabi. Rasulullah mengatakan

بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ أَيَةً

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. (HR.Bukhari 3461).

Bahkan Alloh akan mencerahkan wajah seseorang yang menyampaikan haditsnya, Rasulullah mengatakan

نَضَّرَ اللهُ امْرَءًا سَمِعَ مَقَالَتِيْ فَوَعَاهَا ثُمَّ أَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا

Semoga Allah mencerahkan wajah seorang yang mendengar sebuah hadits dariku lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar. (Hadits Mutawatir).[4]

Menyebarkan sunnah nabi termasuk pintu terbesar dalam menunjukkan kecintaan dan pengagungan kita kepada nabi, termasuk dalam tuntutan ini juga yaitu semangat untuk membasmi lawan dari sunnah berupa bid’ah dan kesesatan yang menyelisihi petunjuk nabi. Oleh karena itu tidaklah kita dapati orang yang getol berbuat bid’ah dia senang dalam menyebarkan sunnah nabi! Bahkan dia berusaha menutup-nutupi sunnah nabi agar tidak sampai kepada ummat. Semoga Alloh merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tatkala mengatakan, “Sudah dimaklumi bahwasanya tidaklah engkau dapati seseorang yang menolak nash-nash dari kitab dan sunnah dengan perkataannya kecuali dia membenci apa yang bersebrangan dengan perkataanya, dia senang bahwa ayat itu seakan akan tidak turun, hadits itu tidak turun, bahkan kalau mungkin hadits itu dibuang dari hatinya. Beliau melanjutkan, “Oleh karena itu engkau dapati  seseorang dari mereka tidak senang menyampaikan nash-nash nabawi, bahkan mungkin dia memilih untuk menyembunyikan dan melarang untuk disampaikan, berbeda dengan apa yang Alloh dan rasulNya perintahkan agar perkara itu disampaikan”. (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah 5/217-218).

 9. Tidak mendahulukan perkataan siapapun diatas perkataan Nabi

Inipun termasuk adab yang sering kita lupakan, apabila sudah jelas bahwa ini adalah keputusan dan hukum dari nabi, maka tidak boleh di tentang dengan perkataan siapapun, tidak boleh kita menentang hadits nabi dengan perkataan seorang kiai, ustadz, tuan guru, imam ini dan itu, semua ini termasuk perbuatan lancang kepada beliau.

Sahabat Abdullah bin Abbas pernah mengatakan, “Hampir-hampir batu turun dari langit menghujani kalian, aku katakan Rasulullah berkata demikian, malah kalian berkata Abu Bakr dan umar berkata demikian”.[5] (HR.Ahmad 3121).

Dikisahkan bahwasanya imam al-Humaidi sedang berada disisi imam Syafi’I, kemudian datang seorang bertanya kepada imam syafi’I tentang sebuah permasalahan. Imam Syafi’I menjawab, “Rasulullah memutuskan begini dan begini”. Orang itu malah balik bertanya, “Bagaimana dengan pendapatmu?”. Imam syafi’I pun menegurnya dengan berkata, “Subhanallah! Apakah engkau melihatku sedang berada di gereja dan pura? Aku katakan rasulullah memutuskan demikian malah engkau bertanya, apa pendapatmu!?”. (Siyar A’lam Nubala 10/34).

Dalam tempat yang lain imam Syafi’I telah menukil ijma para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang setelahnya bahwa orang yang telah jelas baginya sunnah nabi, tidak boleh untuk meninggalkannya berdasarkan perkataan siapapun. (ar-Risalah at-Tabukiyyah hal.40).

Duhai kiranya orang-orang yang mendahulukan perkataan kiayi dan ustadz mereka, tidakkah mereka merenungi kisah diatas!? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat sebuah pelajaran bagi orang yang masih punya hati.

 10. Meninggalkan bid’ah

Bid’ah termasuk perkara yang jelek dalam agama. Seseorang yang yang membuat-buat perkara baru dalam agama yang tidak ada contohnya sama saja dia menuduh nabi telah mengkhinati risalah dan tidak menyampaikan seluruhnya. Imam Malik mengatakan, “Barangsiapa yang melakukan bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik, maka sungguh dia telah menuduh Muhammad telah mengkhianati risalah, karena Alloh berfirman Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.(QS.al-Maidah 3).

Maka apa saja yang pada hari itu tidak termasuk agama, pada hari inipun bukan termasuk agama”. (al-I’tisham 1/64-65-Tahqiq Salim bin Ied al-Hilali-).

Termasuk tipu daya setan, sebagian orang bodoh dan pengekor hawa nafsu menyangka bahwa perbuatan bid’ah mereka di dalam sunnah nabi termsuk kesempurnaan cinta kepadanya, ini adalah sebuah kebodohan yang nyata, cinta nabi berkonsekwensi untuk menerima terhadap orang yang dicintai, mengikuti sunnahnya dan berjalan diatas perintah dan larangan nabi, bukan dengan berbuat bid’ah dalam agama!!.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Demikian pula tidaklah engkau dapati orang yang berbuat bid’ah kecuali dia telah merendahkan hak nabi sekalipun orang itu mengaku telah mengagungkan nabi dengan bid’ahnya, karena dia menyangka perbuatan bid’ahnya lebih baik dari sunnah atau bahkan bid’ahnya itu dia anggap sunnah apabila memang yang melakukannya adalah orang jahil dan taklid buta, akan tetapi apabila yang melakukannya orang yang berilmu dan paham akan bid’ahnya, maka dia termasuk orang yang mendurhakai Alloh dan rasul”. (Ighatsatul Lahfan 1/130-Takhrij al-Albani-).

11. Bershalawat untuk nabi

Adab yang terakhir, hendaklah kita sering bershalawat kepadanya, berdasarkan perintah Alloh dalam firmanNya;

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Alloh dan Malaikat-malaikatNya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS.al-Ahzab 56).

Abu Aliyah mengatakan, “Alloh bershalawat maksudnya adalah pujian Alloh kepadanya disisi malaikat. Adapun shalawat malaikat kepadanya maksudnya adalah do’a untuknya”. (HR.Bukhari secara Mu’allaq, lihat Fathul Bari 8/676, Tafsir Ibnu Katsir 6/457).

Terlebih lagi apabila nama beliau disebut, maka hendaklah kita bershalawat untuknya, Rasulullah bersabda;

البَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ  وَ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Orang yang bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku dia tidak bershalawat kepadaku. (HR.Tirmidzi 3546, Ahmad 1/201. Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam al-Misykah 933).

Akan tetapi perlu kita perhatikan bersama bahwa bershalawat kepada beliau adalah dengan jalan yang syar’I, yaitu bersandarkan hadits-haditsnya yang shahih, bukan dengan shalawat-shalawat yang di buat-buat yang tidak jelas asalnya sebagaimana beredar dewasa ini!! Bahkan jika kita lihat maknanya banyak yang mengandung kesyirikan!! Wallohul Musta’an.

Demikianlah pembahasan kali ini. Kita memohon kepada Alloh ketetapan hati agar tetap tegar berada diatas sunnahnya, berlindung dari segala kesesatan dan penyimpangan. Amiin. Allohu A’lam.

al-Ustad Yusuf bin Mukhtar (http://abiubaidah.com/)

Referensi:

[1] Sebagai amanat ilmiyyah, kami sampaikan bahwa tulisan ini banyak mengambil faedah dari risalah Haqiqoh Syahadat Anna Muhmaad Rasululluh karya Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dan atikel ‘Adab Kepada Rasulullah” tulisan akhuna Abu Abdillah Syahrul Fatwa di Majalah kami Al Furqon.
[2] Lihat Risalah Haqiqoh Syahadati Muhammad Rasulullah hlm. 92-104 oleh Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh -secara ringkas-.
[3] Lihat tulisan Akhuna al-Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawi Membela Hadits Nabi dalam majalah AL-FURQON karena di dalamnya terdapat penjelasan yang sangat menarik.
[4] Sebagaimana ditegaskan oleh as-Suyuthi dalam al-Azhar al-Mutanatsirah hal. 5, az-Zabidi dalam Luqathul Alai al-Mutanatsirah hal. 161-162, al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 24, Syaih Abdul Muhsin al-Abbad dalam Dirasah Hadits Nadhdhara Allah Imra’am Sami’a Maqalati, Riwayah wa Dirayah hal. 21. (Lihat pula Faidhul Qadir al-Munawi 6/284 dan Kifayatul Hafadzah Salim al-Hilali hal. 278-279). Lihat Muqaddimah buku Membela Hadits Nabi oleh Akhuna al-Ustadz Abu Ubaidah al-Atsari.
[5] Syaikh Sulaiman at-Tamimi berkata, “Apabila ucapan Ibnu Abbas ini saja di tujukan kepada orang yang menentang sunnah nabi dengan ucapan Abu Bakr dan Umar-dan keduanya orang yang paling utama setelah nabi- maka bagaimana kiranya orang yang menentang sunnah rasul dengan ucapan Imam dan pengikut madzhabnya? Dan menjadikan perkataan mereka sebagai parameter diatas kitab dan sunnah!? Bila sesuai maka diterima, bila tidak sesuai ditolak atau ditakwil!! Wallohul Musta’an”. (Taisir Azizil Hamid hal.405)

ﺻَﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠّﻢَ

Nabi Bershalawat?

Assalamualaikum wr wb
Ustadz, saya ingin mengajukan pertanyaan “Apakah nabi Muhammad SAW bersalawat? “
Seperti apakah cara Nabi Muhammad? Apakah cara Nabi bersalawat sama seperti ketika kita sholat?
Apakah Nabi Muhammad bersalawat kepada dirinya sendiri?
Apakah ada hadits yang menyatakan bahwa Nabi juga bersalawat kepada dirinya sama seperti kita bersalawat pada waktu sholat.
Mohon pencerahan nya Ustadz.

Terima kasih atas jawaban nya.

Wassalamualaikum wr.wb
Yusri

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam Wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa kalimat yang di sana terdapat nama atau gelar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya, Pertama, Lafadz tasyahud,

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.”

Lafadz tasyahud ini diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari (no .6265).

Dalam lafadz tasyahud di atas, ada 2 kalimat yang mengandung nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

  1. Kalimat: “Assalamu alaika ayyuhan Nabi…”
  2. Kalimat syahadat: “Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh

Kedua, Lafadz shalawat

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ….

Ya Allah, semoga shalawat tercurah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana tercurah pada Ibrahim dan keluarga Ibrahim…,

Sahalawat ini diriwayatkan Bukhari (no. 4797) dan Muslim (no. 406) dari sahabat Ka’ab bin Ujrah Radhiyallahu ‘anhu.

Sama dengan Kita?

Apakah dalam kalimat salam, tasyahud, dan shalawat, kalimat yang beliau baca, sama dengan kalimat yang kita baca??

Kita akan simak keterangan beberapa ulama salaf berikut,

Keterangan Imam Zakariya al-Anshari – ulama Syafiiyah –

والمنقول أنه صلى الله عليه وسلم كان يقول في تشهده : وأشهد أني رسول الله ؛ ذكره الرافعي في الأذان . قال الزركشي : وهو ممنوع ، بل المنقول أن تشهده كتشهدنا , وكذا رواه مالك في الموطأ ، وهو ما ذكره ابن الرفعة في الكفاية

Terdapat nukilan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca tasyahud dengan mengucapkan, ‘Wa asyhadu annii rasulullah..’ (Saya bersaksi bahwa saya adalah utusan Allah). Demikian keterangan ar-Rafii dalam kitab al-Adzan. Namun menurut az-Zarkasyi, beliau mengatakan, “Ini tidak mungkin. Bahkan yang dinukil dari beliau, bahwa tasyahud beliau sama seperti tasyahud kita.” Demikian pula yang diriwayatkan Malik dalam al-Muwatha’, dan ini pendapat yang disebutkan Ibnu Rif’ah dalam al-Kifayah. (Asna al-Mathalib, 2/458).

Keterangan yang sama juga disampaikan Mula Ali Qori – ulama madzhab hanafi –,

والمنقول أن تشهده عليه السلام كتشهدنا ، وأما قول الرافعي : المنقول أنه كان يقول في تشهده وأشهد أني رسول الله ؛ فمردود بأنه لا أصل له

Terdapat nukilan bahwa tasyahud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan tasyahud kita. Sementara keterangan ar-Rafi’i bahwa ada nukilan tasyahud beliau berbunyi, ‘Wa asyhadu annii rasulullah..’ ini pendapat tertolak, karena tidak ada dasarnya. (Mirqah al-Mafatih, 2/733).

Bagaimana dengan Shalawat beliau?

Allah perintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berilah shalawat dan salam kepadanya..” (QS. al-Ahzab: 56).

Kaidah yang berlaku, bahwa perintah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku juga untuk orang yang beriman dan sebaliknya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ

Allah memerintahkan orang yang beriman sebagaimana yang Dia perintahkan kepada para rasul. (HR. Ahmad 8570 & Muslim 2393).

As-Suyuthi menuliskan,

أخرج ابن أبي حاتم عن الزهري قال: إذا قال الله: يا أيها الذين ءامنوا افعلوا, فالنبي منهم

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari az-Zuhri, bahw beliau mengatakan, “Apabila Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman’, maka segera kerjakan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian dari mereka.’.” (al-Itqan, 2/47).

Berdasarkan kaidah ini, ulama menyimpulkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bershalawat untuk diri beliau sendiri. Beliau membaca shalawat sebagaimana kita bershalawat.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فعلى أن الأمر يشمل النبي صلى الله عليه وسلم وغيره فلا شك أنه كان يصلي على نفسه لأنه أسرع الناس إلى امتثال أمر ربه

Mengingat perintah bershalawatt juga mencakup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya, maka tidak diragukan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bershalawat untuk diri beliau sendiri. Karena beliau adalah orang yang paling bersegera melaksanakan perintah Rabnya. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 75551)

Berdasarkan keterangan di atas, kita menyimpulkan bahwa pada dasarnya, bacaan shalawat dan tasyahud beliau, sama dengan bacaan shalawat dan tasyahud yang disyariatkan untuk umatnya. Dan tidak ada yang aneh ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bershalawat dengan menyebut nama beliau sendiri. Sebagaimana ini juga berlaku dalam doa-doa beliau lainnya, seperti,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا

Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad cukup untuk kebutuhan pokoknya. (HR. Ahmad 7372 dan Muslim 7630).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

derajat manusia

Derajat Manusia di HadapanTuhan itu Sama?

Ada sebagian orang yang menyatakan,

Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan, memiliki derajat yang saja di hadapan tuhan. Sehingga satu sama lain, tidak boleh saling merasa benar. Apalagi meremehkan orang lain.

Mohon kritik untuk kalimat ini…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Salah satu upaya setan untuk menyesatkan manusia adalah dengan membisikkan kalimat-kalimat indah, namun menipu. Seolah itu benar, padahal isinya kesesatan. Itulah kalimat-kalimat racun, yang sedang diperjuangkan liberal untuk merusak aqidah kaum muslimin.

Allah mengingatkan,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, mereka saling membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112)

Dari pernyataan yang anda sampaikan, isinya campuran. Ada yang baik dan ada yang sesat. Tentu saja dinilai berdasarkan dalil, bukan berdasarkan kaca mata liberal.

Kita akan lihat lebih dekat,

Pertama, “Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan”

Kalimat ini benar, diakui oleh semua manusia yang mengakui adanya Pencipta alam semesta. Ada banyak dalil dalam al-Quran yang menyebutkan hal ini. diantaranya firman Allah,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan. (QS. as-Shaffat: 96)

Kedua, “memiliki derajat yang saja di hadapan tuhan”

Jelas ini tidak benar. Karena manusia tidak sama derajatnya di hadapan Allah.

Bahkan salah satu yang sangat banyak di bahas dalam al-Quran adalah membedakan antara penduduk surga dan penduduk neraka.

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni jannah; penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hasyr: 20)

Yang baik dan yang buruk jelas beda,

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. (QS. al-Maidah: 100)

Allah sebut orang mukmin dengan khoirul bariyah (makhluk terbaik) dan Allah sebut orang kafir dengan Syarrul bariyyah (makhluk terjelek),

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ . إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (QS. al-Bayyinah: 6 – 7)

Bahkan Allah membedakan antara orang berilmu dan orang yang tidak berilmu,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Sampaikan, tidaklah sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui. (QS. az-Zumar: 9).

Ketiga, “Sehingga satu sama lain, tidak boleh saling merasa benar”

Tidak semua pembenaran layak dianggap meremehkan orang lain. Atau tidak menerima pendapat orang lain. Kita semua yakin 2 x 3 = 6. Ketika ada anak kelas 1 SD yang memberikan jawaban salah, kemudian Pak Guru meluruskan, tentu saja bukan berarti Pak Guru meremehkan anak itu atau tidak menerima pendapatnya.

Allah memberikan kita akal untuk menimbang setiap informasi yang kita terima. Sehingga manusia bisa mencapai derajat kebenaran mutlak. 3 + 1 = 4, itu kebenaran mutlak berdasarkan logika dasar manusia.

Demikian pula ini berlaku dalam masalah agama.

Setiap muslim wajib merasa benar dengan agama dan keyakinan yang dia miliki. Karena membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, itu bukti iman.

Allah memuji orang mukmin yang tidak ragu dengan kebenaran imannya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. al-Hujurat: 15)

Allah memuji orang mukmin yang membenarkan al-Quran,

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

Orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. (QS. Muhammad: 2)

Sebaliknya, Allah memerintahkan kita untuk memerangi orang yang menyimpang dari ajaran islam,

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah (upeti) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. at-Taubah: 29)

Ketika ada seorang mengaku mukmin, namun dia masih meragukan kebenaran rukun iman, meragukan kebenaran al-Quran dan hadis shahih, menganggap itu bukan kebenaran mutlak, maka dia belum mukmin.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

wanita bercadar

Cadar = Istri Teroris

Bagaimana membantah orang liberal yang menyebut cadar identik dengan istri teroris?.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebenarnya itu isu kuno yang terus didaur ulang. Kita layak salut, mereka begitu istiqamah dalam menyudutkan islam. Secara sederhana, sebenarnya isu semacam ini bersumber dari keterbatasan mereka dalam membedakan antara oknum dan agama oknum.

Memang benar, ada beberapa umat islam yang terlibat tindakan teroris sementara istrinya bercadar. Namun siapapun sepakat, kesalahan oknum tidak bisa dikembalikan kepada ajaran agama.

Kami mengira, dunia tidak menyalahkan masyarakat budha dan orang gundul, gara-gara aksi teror dan pembantaian besar yang dipelopori Ashin Wirathu.  Kita juga tidak pernah mendengar ada media yang menyudutkan Katholik, gara-gara ulah Timothy McVeigh dalam aksi bom di Oklahoma City yang menewaskan 168 orang.

Cadar Digugat

Aktivis liberal, selalu berjuang untuk meneriakkan kebebasan. Sekalipun dengan wajah yang beraneka ragam. Salah satu proyek besarnya, menjauhkan wanita dari pakaian yang Syar’i.

Bagi mereka, itu belenggu. Membatasi ruang gerak wanita, dalam berinteraksi. Menekan kesempatan wanita untuk berprestasi.

Meskipun sebenarnya semua ini sama sekali tidak ada hubungannya. Justru muslimah bercadar lebih banyak kita jumpai di komunitas mahasiswi di universitas bonafit, dari pada mahasiswi yang kuliah di IAIN. Di UGM, untuk menjumpai wanita berjilbab besar di Fakultas kedokteran, farmasi, mipa, teknik, jauh lebih mudah dibandingkan ketika anda mencarinya di fakultas filsafat.

Namun ada satu catatan yang penting untuk kita garis bawahi dalam kasus ini. Bahwa sebenarnya orang liberal sendiri tidak bisa menerima kebebasan itu seutuhnya. Akibatnya mereka masih menggunakan standar bias. Mereka merasa risih dengan keberadaan cadar dan hijab syar’i. Jika mereka komitmen dengan prinsip kebebasan, apa urusan mereka dengan wanita bercadar? Mau bercadar, tidak bercadar, ngapain dia koar-koar?

Dengan menerapkan teori mereka, berarti kebebasan mutlak itu sendiri hakekatnya tidak ada. Karena semua orang akan terikat dengan bagaimana cara dia memandang. Sampaipun para penghasung kebebasan, mereka tidak pernah membiarkan secara bebas, masyarakat yang komitmen dengan ajaran Sunah. Mereka komentari, mereka kritik, sampai harus buang-buang waktu untuk membuat novel, hingga film.

Sama-sama Bebas

Sebenarnya islam sangat memberikan kebebasan bagi penganutnya. Aturan yang Allah turunkan, sama sekali tidak menjadi jerat bagi mereka. Aturan itu jusru membimbing umat islam untuk memilih yang baik dan menghindari yang jahat. Diantara sekian banyak opsi yang baik-baik itu, umat islam dibolehkan memilih. Hanya saja, umat islam tidak bebas memilih yang jahat. Sebab tujuan hidup muslim adalah menjadi hamba yang baik.

Ini berbeda dengan kebebasan model liberal. Mereka tidak memiliki batasan yang pasti untuk menentukan mana yang baik, dan mana yang jahat. Akhirnya semua dikembalikan kepada spekulasi akal dan dinamika sosial. Aturan agama harus dinihilkan, karena ini mengganggu spekulasi akal itu.

Cadar Budaya Islam

Berbicara budaya islam, berarti berbicara aturan yang berlaku di masa islam didakwahkan. Di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan generasi setelahnya.

Anda bisa simak penuturan para ulama tentang tradisi wanita di masa silam,

Al-Hafidz Ibn Hajar (wafat 852 H) mengatakan,

استمرار العمل على جواز خروج النساء إلى المساجد والأسواق والأسفار منتقبات ؛ لئلا يراهن الرجال

Sudah menjadi kebiasaan, bolehnya wanita keluar menuju masjid, pasar dan melakukan perjalanan dengan memakai cadar, agar mereka tidak dilihat para lelaki. (Fathul Bari, 9/337)

Di tempat lain, beliau juga mengatakan,

ولم تزل عادة النساء قديما وحديثا يسترن وجوههن عن الأجانب

Telah menjadi kebiasaan wanita sejak dulu dan sekarang, mereka menutupi wajah mereka (bercadar) sehingga tidak dilihat lelaki lain. (Fathul Bari, 9/324)

Al-Ghazali (wafat 505 H) dalam kitab Ihya Ulumiddin mengatakan,

لم يزل الرجال على ممر الأزمان مكشوفي الوجوه ، والنساء يخرجن متنقبات

Sejak dulu, berlangsung dari zaman ke zaman, para lelaki tidak menutup wajah dan para wanita keluar dengan bercadar. (Ihya Ulumiddin, 2/53)

Dalam matan Uqud al Lajjiin – karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani – , beliau menyatakan,

فيجب علي المرأة إذا أرادت الخروج أن تستر جميع بدنها ويديها من أعين الناظرين

“Wajib atas perempuan muslimah jika hendak keluar rumah untuk menutupi semua badannya termasuk kedua telapak tangannya agar tidak terlihat mata para laki-laki yang melihat dirinya”. (Syarh Uqud al Lajjiin, hlm. 17)

Bahkan Syaikh Nawawi al-Bantani menilainya sebagai ijma’ amali (kesepakatan secara praktek nyata) bahwa muslimah itu bercadar ketika berada di luar rumah. Beliau mengatakan,

إذ لم يزل الرجال على ممر الزمان مكشوفي الوجوه والنساء يخرجن متنقبات

“Tidak henti-henti sepanjang zaman (umat Islam, pent) bahwa laki-laki itu keluar rumah dalam keadaan tidak bercadar sedangkan kaum wanita itu bercadar jika mereka keluar dari rumah”. (Syarh Uqud al Lajjiin, hlm. 18)

Jika anda tidak siap melaksanakan sunah cadar, berikan kebebasan bagi mereka yang ingin menerapkan sunah bercadar.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mengulang syahadat

Haruskah Mengulang Syahadat ketika Baligh?

Assalamualaikun ustad. Sy br baca  buku syahadatain tulisan Muh Umar Jiau al Haq. Dr baca tulisan itu sy menangkap bhw syahadat perlu dibaca oleh anak yg lahir dlm kelg islam dan dg disaksikan orang krn syahadat hrs diungkapkan bukan keturunan. Ttp ada juga yg berpendpt tdk perlu. Mohon penjelasannya

Pak Godril

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Menyucapkan dua kalimat syahadat di depan saksi, hanya berlaku bagi mereka yang hendak masuk islam.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim Muadz ke Yaman untuk mendakwahkan islam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada beliau,

إِنَّكَ تَأْتِى قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ

Engkau akan mendatangi sekelompok kaum ahli kitab. Karena itu, ajaklah mereka untuk bersyahadat laa ilaaha illallah dan bahwa aku utusan Allah. Jika mereka menerimamu dengan ajakan itu, ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat 5 waktu dalam sehari semalam…. (HR. Bukhari 1395, Muslim 132, Abu Daud 1586 dan yang lainnya)

Kaum yang didatangi Muadz adalah masyarakat beragama nasrani di Yaman.

Demikian pula hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat laa ilaaha illallah dan bahwa Muhammad utusan Allah, dan mereka menegakkan shalat, dst… (HR. Bukhari 25 & Muslim 135).

Makna hadis, bahwa beliau diperintahkan untuk mendakwahi manusia sampai mereka masuk islam dengan ditandai pengucapan dua kalimat syahadat.

Tidak Perlu Mengulang Syahadat

Oleh karena itu, bagi mereka yang telah masuk islam, tidak ada kewajiban untuk menyatakan syahadat di depan saksi atau di depan pemimpin. Diantara dalil yang menunjukkan hal itu,

Pertama, bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menaklukkan kota Mekah, banyak masyarakat di hamparan jazirah arab yang masuk islam secara berbondong-bondong. Satu suku semua masuk islam, diwakili oleh pernyataan kepala suku. Allah sebutkan dalam al-Quran,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ( ) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan ( ) dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong (QS. an-Nashr: 1-2)

Itu terjadi sekitar tahun 9 dan 10 H. Sehingga tahun itu digelari ‘am al-Wufud (tahun kedatangan tamu).

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan haji wada di akhir tahun 10 H, jumlah kaum muslimin yang ikut haji sangat banyak, lebih dari seratus orang.

Anda bisa simak keterangan selengkapnya di: Berapa Jumlah Sahabat Nabi?

Sehingga tidak semua orang yang masuk islam, mengikrarkan syahadat di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan banyak diantara mereka yang belum akrab dengan Nabi, dan beliau mengakui keislaman mereka.

Kedua,  ada beberapa sahabat yang lahir di tengah kaum muslimin. Seperti Abdullah bin Zubair, lahir ketika ibunya ikut hijrah ke Madinah. Dan kita tidak mendapatkan adanya riwayat, mereka mengikrarkan dua kalimat syahadat setelah mereka besar.

Karena mereka sudah islam sejak kecil, sehingga mereka tidak butuh mengikrarkan syahadat di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anak Kecil Mengikuti Agama Orang Tuanya

Ulama sepakat bahwa anak kecil yang dilahirkan di tengah orang tua yang keduanya muslim, maka agamanya langsung mengikuti orang tuanya. Jika agama ortunya berbeda, maka agamanya mengikuti orang tuanya yang muslim.

Syaikhul Islam mengatakan,

الطفل إذا كان أبواه مسلمين كان مسلماً تبعاً لأبويه باتفاق المسلمين ، وكذلك إذا كانت أمه مسلمة عند جمهور العلماء كأبي حنيفة والشافعي وأحمد

Anak kecil yang kedua orang tuanya muslim, maka dia muslim mengikuti kedua orang tuanya, dengan sepakat kaum muslimin.

Demikian pula ketika ibunya muslimah (sementara ayahnya kafir), dia mengikuti agama ibunya menurut pendapat mayoritas ulama seperti Abu Hanifah, as-Syafii, dan Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 10/437).

Keterangan lain dinyatakan dalam Ensiklopedi Fiqh,

اتفق الفقهاء على أنه إذا أسلم الأب وله أولاد صغار، أو من في حكمهم – كالمجنون إذا بلغ مجنونا – فإن هؤلاء يحكم بإسلامهم تبعا لأبيهم.

وذهب الجمهور (الحنفية والشافعية والحنابلة) إلى أن العبرة بإسلام أحد الأبوين، أبا كان أو أما

Ulama sepakat bahwa jika ada bapak yang masuk islam dan dia memiliki beberapa anak yang masih kecil atau keluarga yang seperti anak kecil – seperti orang gila – maka mereka dihukumi telah islam mengikuti ayahnya. Sementara mayoritas ulama (Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali) berpendapat bahwa yang menjadi acuan islamnya anak adalah status islamnya salah satu dari orang tuanya. Baik ayahnya maupun ibunya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 4/270).

Anak Kecil Tidak Perlu Mengulang Syahadat

Anak kecil dari keluarga muslim, tidak perlu mengulang syahadatnya ketika baligh, karena mereka sudah muslim sejak kecil.

Syaikhul Islam mengatakan,

واتفق المسلمون على أن الصبي إذا بلغ مسلماً لم يجب عليه عقب بلوغه تجديد الشهادتين

Kaum muslimin sepakat bahwa anak kecil ketika menginjak baligh sudah muslim, dia tidak wajib memperbarui syahadatnya setelah baligh. (Dar’u at-Ta’arudh, 4/107)

Beliau juga mengatakan,

السلف والأئمة متفقون على أن أول ما يُؤمر به العباد الشهادتان ، ومتفقون على أن من فعل ذلك قبل البلوغ لم يؤمر بتجديد ذلك عقب البلوغ

Ulama salaf dan para ulama setelahnya sepakat bahwa perintah pertama yang ditujukan kepada para hamba adalah dua kalimat syahadat. Mereka juga sepakat bahwa siapa yang sudah bersyahadat sebelum baligh, dia tidak diperintahkan untuk mengulang syahadatnya setelah baligh. (Dar’u at-Ta’arudh, 4/107)

Jika Murtad Setelah Baligh

Sebelum baligh, status agama anak mengikuti agama orang tuanya. Dan jika dia murtad setelah baligh atau ragu dengan islamnya, maka dia wajib bertaubat dengan mengulangi syahadatnya.

Syaikhul Islam mengatakan,

الصغير حكمه في أحكام الدنيا حكم أبويه ؛ لكونه لا يستقل بنفسه ، فإذا بلغ وتكلم بالإسلام أو بالكفر كان حكمه معتبراً بنفسه باتفاق المسلمين ، فلو كان أبواه يهوداً أو نصارى فأسلم كان من المسلمين باتفاق المسلمين ، ولو كانوا مسلمين فكفر كان كافراً باتفاق المسلمين

Anak kecil, hukumnya di dunia sama dengan hukum orang tuanya. Karena dia tidak berdiri sendiri. Jika dia baligh, kemudian memilih islam atau kakfiran, maka hukumnya kembali kepada pilihannya dengan sepakat kaum muslimin. Jika kedua orang tuanya yahudi atau nasrani, kemudian si anak masuk islam, maka dia menjadi muslim, dengan sepakat kaum muslimin. Sebaliknya, jika kedua orang tuanya muslim, kemudian anaknya memilih kafir setelah baligh, maka dia kafir dengan sepakat kaum muslimin. (al-Fatawa al-Kubro,

1/170).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

suara terompet sangkakala dari langit

Suara Terompet dari Langit

Assalamualaikum Ustadz, akhir akhir ini di media muncul berita tentang suara seperti terompet terdengar dari langit,apakah itu peringatan kecil bahwa kiamat sudah dekat atau hanya suara terompet biasa. mohon penjelasannya ustadz

Dari: Albarr Saputra

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kita akan mengenal beberapa dalil yang menyebutkan tentang tiupan sangkakala.

Dalam al-Quran, Allah menyebut sangkakala dengan as-Shur [الصُّورُ].

Secara bahasa as-Shur berarti tanduk. Sedangkan menurut istilah syariat, yang dimaksud as-Shur adalah sangkakala yang sangat besar yang akan ditiup malaikat yang bertugas untuk meniupnya. (Syarh Lum’atul I’tiqad, Imam Ibnu Utsaimin, hlm. 114)

Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa sangkakala yang ditiupkan bentuknya seperti terompet. Diantaranya,

Hadis dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

قَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الصُّورُ؟ قَالَ: قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيهِ

Ada orang arab badui bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu as-Shur (sangkakala)?” Beliau menjawab, “Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad 6507, Abu Daud 4744, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Juga disebutkan dalam hadis Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ

Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran menunggu diizinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya.” (HR. Turmudzi 2628, dan dishahihkan al-Albani)

Hanya Ditiupkan di Hari Kiamat

Terdapat banyak dalil dari al-Quran yang menunjukkan bahwa sangkakala akan ditiup pada awal terjadinya hari kiamat. Diantaranya,

Firman Allah,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab). (QS. az-Zumar: 68).

Demikian pula firman Allah,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yasin: 51)

Dalam hadis yang panjang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan,

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا ثُمَّ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا صَعِقَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ -شَكَّ الراوي- فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Kemudian ditiuplah sangkakala, tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali akan mengarahkan pendengarannya dan menjulurkan lehernya (memerhatikannya). Lalu, tidak tersisa seorangpun kecuali dia mati. Kemudian Allah menurunkan hujan seperti gerimis. Kemudian tumbuhlah jasad-jasad manusia setelah disirami. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (hisab).” (HR. Ahmad 6712 dan Muslim 7568).

Kita bisa perhatikan beberapa dalil di atas, bahwa yang terjadi ketika sangkakala itu ditiup ada dua,

Pertama, semua makhluk di langit dan di bumi akan mati kecuali yang dikehendaki Allah.

Kedua, terjadi kebangkitan dari alam kubur setelah mereka dihancurkan. Ini terjadi setelah tiupan kedua.

Hingga kini, malaikat petugas meniup sangkakala sedang menunggu perintah Allah. Dia selalu siaga kapan saja dia diperintahkan untuk meniup sangkakala.

Anda bisa simak keterangannya di: Sangkakala Sudah Berada di Mulut Malaikat

Berapa kali sangkakala ditiup?

Ulama berbeda pendapat tentang berapa kali sangkakala ditiupkan?

Pertama, sangkakala ditiupkan 3 kali

Jika kita rinci, 3 kali itu adalah

  1. Tiupan faza’ (tiupan yang membuat seisi alam kaget dan terkejut)

Allah berfirman,

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87).

  1. Tiupan ash-Sha’q (tiupan mematikan dan membinasakan)

Allah berfirman,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ

Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. (QS. az-Zumar: 68).

  1. Tiupan al-Ba’ats (tiupan kebangkitan)

Allah berfirman,

ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab). (QS. az-Zumar: 68).

Pendapat ini didukung hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis itu dinyatakan,

يَنْفُخُ فِيهِ ثَلَاثُ نَفَخَاتٍ، النَّفْخَةُ الْأُوْلَى نَفَخْةُ الْفَزَعِ، وَالثَّانِيَةُ نَفْخَةُ الصَّعْقِ، وَالثَّالِثَةُ نَفْخَةُ الْقِيَامِ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Malaikat itu meniup sangkakala tiga tiupan. Tiupan yang pertama mengejutkan. Tiupan kedua mematikan, dan tiupan ketiga membangkitan (makhluk) menghadap Rabbul ‘alamin.”

Hadis ini sangat panjang, diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam al-Ahadits at-Thiwal, dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama, karena di sana ada perawi Ismail bin Rafi’ al-Madani yang dinilai dhaif oleh ad-Daruquthni.  Hingga al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan tentang status hadis ini, “Gharib jiddan” (sangat asing). (Tafsir Ibn Katsir, 3/287).

Mengingat hadis ini dhaif, maka tidak dijadikan dalil.

Pendapat Kedua, Sangkakala Ditiupkan 2 Kali

Dua tiupan itu:

  1. Tiupan al-Faza’ (kaget) sekaligus tiupan ash-Sha’q (mati)

Menurut al-Qurthubi, antara peristiwa al-Faza’ (kaget) dengan as-Sha’q (mati) berlangsung secara bersambung. Tidak ada jeda di sana. Sehingga ketika sangkakala ditiupkan, mereka kaget dan langsung binasa. kecuali siapa yang dikehendaki Allah.

  1. Tiupan al-Ba’ats

Kebangkitan terjadi setelah tiupan kedua.

Dan pendapat kedua ini yang lebih kuat. Sehingga kata faza’ (kaget) yang disebutkan di surat an-Naml dan kata as-Sha’q (mati) yang disebutkan di surat az-Zumar adalah sama. Tiupan pertama, yang mengagetkan dan menyebabkan semuanya mati.

Karena itu, Allah menyebut tiupan itu terjadi sekali. Lalu diikuti dengan kehancuran alam semesta.

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ .وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً

Apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur (QS. al-Haqqah: 13 – 14)

Al-Qurthubi mengatakan,

والصحيح أن النفخ في الصور أنهما نفختان لا ثلاث، وأن نفخة الفزع إنما تكون راجعة إلى نفخة الصعق لأن الأمرين لا زمان لهما أي فزعوا فزعا فماتوا منه

Yang benar, tiupan sangkakala terjadi dua kali, bukan tiga kali. Dan tiupan al-Faza’ (kaget) diikuti dengan as-Sha’aq (kematian). Karena kedua tiupan itu tidak ada waktu jedanya. Artinya, mereka kaget langsung mati. (Tafsir al-Qurthubi, 13/240)

Semua Terjadi di Hari Kiamat

Kami tegaskan sekali lagi, bahwa semua tiupan ini terjadi di akhir zaman. Baik pendapat yang mengatakan 3 kali tiupan atau dua kali tiupan, semua terjadi di akhir zaman. Karena itu menjadi batas terakhir kehidupan dunia.

Suara Terompet dari Langit

Kita tidak tahu dengan pasti sumber suara seperti terompet yang terdengar aneh di berbagai daerah. Yang jelas itu bukan sangkakala. Karena jika itu sangkakala, seharusnya semua permukaan bumi ini mendengarnya. Laporan yang ada, suara itu baru didengar oleh sebagian masyarakat di beberapa negara, diantaranya Australia, Amerika, Australia, Kanada dan Jerman. Masyarakat Indonesia, nyaman-nyaman saja, tidak mendengar suara itu.

Bukti lain bahwa itu bukan sangkakala, sebagaimana yang dilaporkan bahwa kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Ini pernah terjadi di tahun 2013, dan sebelumnnya lagi 2012. Sementara sangkakala ditiup dua kali disusul peristiwa besar kiamat.

Sebagian ahli menganalisis suara tersebut dan menemukan bahwa sebagian besar spektrum asal suara tersebut terletak dalam kisaran infrasonik, yang tidak terdengar oleh manusia. Frekuensi antara 17 Hz ke bawah. Manusia bisa mendengar suara pada frekuensi antara 20 Hz sampai 20.000 Hz.

Sementara apa yang didengar oleh manusia hanyalah sebagian kecil dari kekuataan sebenarnya dari suara-suara tersebut, karena adanya emisi akustik di frekuensi rendah dalam kisaran antara 20 Hz hingga 100 Hz yang dimodulasi (dikuatkan) oleh gelombang infrasonik ultra rendah 0,1 Hz sampai 15 Hz.

Namun apapun itu, bagi orang yang beriman, kita meyakini ini sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah. Dan terkadang Allah tunjukkan fenomena alam yang luar biasa, agar kita semakin takut kepada-Nya. Itulah tujuan utama ketika kita menyimak fenomena alam. Bukan hanya jadi bahan wacana dan perbincangan.

Allah berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآَيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

Aku tidak mengirim tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (QS. al-Isra: 59).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

meramal jodoh

Konsultasi Syariah Bukan Peramal Jodoh

Bagaimana hubungan kedepan saya dengan seseorang bernama alfarisi yg lahir pd tgl 14 mei 1991

Dari Gadis

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Untuk kesekian kalinya KonsultasiSyariah.com mendapatkan pertanyaan seperti di atas. Jujur kami kesulitan memahami maksud yang sebenarnya dari penanya. Hanya saja, dugaan kuat kami, penanya hendak berkonsultasi tentang ramalan jodoh melalui pitungan (perhitungan) weton. Karena itu, beliau menyebutkan tanggal lahir.

Hubungan Jodoh dengan Weton

Untuk kesekian kalinya juga kami mengingatkan bahwa islam tidak pernah mengajarkan model pitungan weton untuk meramalkan masa depan seseorang. Semua makhluk dibatasi ruang dan waktu. Dalam arti semua manusia memiliki tempat lahir dan tanggal lahir. Dan kita tidak pernah mengetahui adanya aturan dalam islam yang mengajarkan hubungan antara tempat dan tanggal lahir dengan taqdir yang akan dialami seseorang.

Betapa banyak pasangan yang wetonnya tidak selaras, tapi rumah tangganya nyaman sampai tua. Sebaliknya, betapa banyak pasangan yang wetonnya selaras, tapi rumah tangganya hanya seumur jagung.

Karena itu, ketika seseorang meyakini adanya hubungan weton dengan jodoh, hakekatnya dia sedang meyakini sebuah khayalan dusta.

Akan tetapi permasalahannya tidak berhenti sampai di sini. Ada banyak konsekuensi negatif ketika seseorang mempertahankan keyakinan ini,

Pertama, kita mengimani Allah Maha Adil dan Allah mengharamkan atas diri-Nya perbuatan dzalim. Dalam beberapa ayat, Allah meniadakan sifat dzalim dalam diri-Nya. Diantaranya Allah berfirman,

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ

Allah tidak menghendaki kedzaliman bagi seluruh alam. (QS. Ali Imran: 108).

Sementara menentukan di mana kita lahir dan kapan kita lahir, semuanya di luar kehendak bayi yang dilahirkan. Dan tentu saja menjadi tindak kedzaliman ketika keberuntungan dan kesialan itu Allah tentukan berdasarkan tanggal lahir.

Ketika bayi yang dilahirkan di tanggal tertentu lebih beruntung dibandingkan yang dilahirkan di tanggal lainnya, tentu saja ini tidak sejalan dengan prinsip keadilan.

Kedua, memiliki keyakinan semacam ini hakekatnya berbicara atas nama Allah tanpa dalil

Kita mengakui, kalender itu buatan manusia. Demikian pula nama tempat. Ketika seseorang menghubungkan antara tempat dan tanggal lahir dengan takdir, berarti dia mengkaitkan kehendak Allah dengan sesuatu yang itu murni buatan manusia. Dan itu artinya dia berbicara atas nama Allah tanpa dalil.

Dan tindakan ini termasuk dalam daftar dosa besar. Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-A’raf: 33).

Karena itulah, perbuatan semacam ini dinilai sebagai bentuk kesyirikan. Dalam istilah aqidah disebut Tiyaroh. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya kesyirikan.

dari sahabat Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا

“Thiyarah itu syirik…, Thiyarah itu syirik…, (diulang 3 kali)” (HR. Ahmad 3759, Abu Daud 3912, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Ilmu Pitungan, Sumber Perdukunan

Ilmu menghitung tanggal lahir, sejatinya tidak jauh berbeda dengan ilmu astrologi. Mungkin hanya pendekatannya saja yang berbeda. Menghubungkan rasi bintang dengan karakter atau masa depan manusia.

Dalam kajian aqidah, ilmu astrologi, yang menghubungkan rasi bintang dengan karakter manusia dinamakan tanjim (ilmu nujum). Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

Siapa yang mempelajari ilmu nujum, berarti dia telah mempelajari sepotong bagian ilmu sihir. Semakin dia dalami, semakin banyak ilmu sihir pelajari. (HR. Ahmad 2000, Abu Daud 3905, Ibn Majah 3726, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Hadis ini menunjukkan ancaman terhadap mereka yang menggunakan astrologi sebagai acuan menebak karakter atau sifat, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensejajarkan ilmu ini dengan ilmu sihir.

Termasuk juga ilmu pitungan. Karena hakekatnya sama.

Jangan Anggap Sepele

Pitungan, nampaknya sepele, ternyata membawa petaka aqidah bagi manusia. Ketika anda menanyakan masa depan anda dengan pasangan anda kepada ahli pitungan, berarti sama halnya anda bertanya kepada dukun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim 2230).

Pertimbangan Menikah dalam Islam

Ketika anda berumah tangga, ukuran kebahagiaan kedua pasangan dikendalikan oleh cinta. Dan cinta tidak semua berkembang karena harta. Meskipun terkadang harta menjadi salah satu motivasinya. Sebagaimana ketika di awal berumah tangga semangat cinta naik turun, ini juga terjadi ketika pasangan telah menginjak usia senja. Kadang naik, kadang turun.

Karena itulah, islam menganjurkan agar ketika kita memilih pasangan, kita mempertimbangkan tingkat ketaqwaannya. Karena orang yang bertaqwa akan berusaha menjauhkan dirinya dari karakter dzalim.

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Demikian pula para wali, mereka dianjurkan untuk menerima pinangan lelaki yang bertaqwa untuk putrinya.

Dari Abu Hatim al-Muzanni Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ

Jika telah datang kepada kalian lelaki (untuk meminang) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian). Karena jika tidak, maka niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi. (HR. Turmudzi 1108, Ibn Majah 2043 dan dihasankan al-Albani).

Orang yang bertaqwa, sekalipun dia tidak mencintai pasangannya, dia akan bersikap adil dan tidak akan bertindak dzalim.

Ada seseorang yang mendatangi Hasan al-Bashri untuk konsultasi, siapa yang layak untuk dinikahkan dengan putrinya. Kemudian Hasan menasehatkan,

زوِّجْها التقيَّ؛ فإنه إن أحبَّها أكرمَها، وإن كَرِهها لم يُهِنها

Nikahkan dia dengan orang yang bertaqwa. Ketika dia masih mencintai istrinya, dia akan memuliakannya. Dan ketika dia sudah tidak sayang dengan istrinya, dia tidak akan menghinakannya.

Semoga setelah ini tidak ada lagi yang bertanya soal ramalan jodoh.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

9,552FansLike
4,525FollowersFollow
32,476FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN