tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

siapakah abu hurairah

Kapan Abu Hurairah Masuk Islam?

Kapan Abu Hurairah masuk islam? Krn saya pernah mendengar, beliau masuk islam sebelum peristiwa hijrah. Apa itu benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya, kita perlu tahu sekelumit tentang latar belakang Abu Hurairah. Nama asli beliau Abdurrahman bin Shakr – menurut pendapat yang paling kuat –. Beliau berasal dari suku Daus dari Yaman. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/578).

Menurut banyak riwayat, orang yang mendakwahkan islam di suku Daus adalah Thufail bin Amr ad-Dausi Radhiyallahu ‘anhu, yang masuk islam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Dan Abu Hurairah termasuk orang yang mengikuti ajakan Thufail.

Siapa Thufail ad-Dausi?

Sebelum menjawab kapan islamnya Abu Hurairah, terlebih dahulu kita buka identitas Thufail bin Amr ad-Dausi. Karena sosok beliau membantu menentukan masa islamnya Abu Hurairah.

Dalam berbagai referensi sejarah, diantaranya at-Thabaqat al-Kubro karya Ibnu Sa’d, disebutkan biografi Thufail. Beliau adalah sosok yang terpandang, penyair ulung, sering dikunjungi orang. Beliau tiba di Mekah tahun ke-11 kenabian. Begitu tiba di Mekah, orang musyrikin menyambutnya, dan merekapun langsung mengingatkan beliau agar tidak dekat-dekat dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يا طفيل، إنك قدمت بلادنا، وهذا الرجل الذي بين أظهرنا قد أعضل بنا، وقد فرق جماعتنا، وشتت أمرنا، وإنما قوله كالسحر، يفرق بين الرجل وأبيه، وبين الرجل وأخيه ، وبين الرجل وزوجه، وإنا نخشى عليك وعلى قومك ما قد دخل علينا، فلا تكلمه ولا تسمعن منه شيئًا

Hai Thufail, kamu datang ke negeri kami. Di sini ada orang yang telah merepotkan kami, memecah belah persatuan kami, mengacaukan semua urusan kami. Ucapannya seperti sihir, bisa membuat seorang ayah membenci anaknya, seseorang benci saudaranya, dan suami istri bisa bercerai. Kami mengkhawatirkan kamu dan kaummu mengalami seperti apa yang kami alami. Karena itu, jangan sampai engkau mengajaknya bicara dan jangan mendengar apapun darinya.

Mereka terus-menerus mengingatkan Thufail, hingga beliau menyumbat telinganya dengan kapas ketika masuk masjidil haram. Ketika beliau masuk masjidil haram, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat. Hingga Allah takdirkan, beliau mendengar sebagian bacaan shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau semakin penasaran dan akhirnya menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah diajarkan tentang islam dan dibacakan sebagian ayat al-Quran, Thufail terheran-heran, hingga beliau tertarik masuk islam dan langsung bersyahadat masuk di depan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepadanya untuk mendakwahkan islam kepada kaumnya.

Beliau meminta suatu tanda. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan, “Ya Allah, berikanlah cahaya untuknya.”

Allahpun memberikan tanda di depan dahinya. Namun Thufail khawatir, justru ini dianggap tanda buruk baginya. Kemudian cahaya itu dipindah ke ujung cemetinya. Cahaya ini menjadi penerang baginya di waktu malam yang gelap. (at-Thabaqat al-Kubro  4/237, ar-Rahiq al-Makhtum hlm. 105).

Ada dua pendapat ulama tentang kapan Abu Hurairah masuk islam.

Pertama, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu masuk islam di awal tahun 7 Hijriyah. Bertepatan dengan peristiwa perang Khaibar. Dan inilah keterangan yang masyhur dari berbagai ahli sejarah.

Ibnu Abdil Bar mengatakan,

أسلم أبو هريرة وعمران بن حصين عام خيبر

Abu Hurairah dan Imran bin Husain masuk islam di tahun Khaibar. (al-Isti’ab, 1/374).

Keterangan lain, dari al-Khithabi,

أسلم أبو هريرة سنة سبع قدم المدينة ورسول الله بخيبر وأسلم عمرو وخالد بن الوليد سنة ست

Abu Hurairah masuk islam tahun 7 Hijriyah. Beliau datang ke Madinah, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Khaibar. Sementara Amr dan Khalid bin Walid tahun 6 Hijriyah. (Gharib al-Hadits, 2/485).

Keterangan Ibnul Atsir,

أسلم أبو هريرة عام خيبر، وشهدها مع رسول الله صلى الله عليه وسلم  ثم لزمه وواظب عليه رغبة في العلم فدعا له رسول الله صلى الله عليه و سلم

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu masuk islam di tahun Khaibar, dan beliau ikut peristiwa Khaibar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian selalu menampingi Nabi dan selalu bersama beliau, karena keinginan untuk mendapatkan ilmu. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebaikan untuknya. (Usud al-Ghabah).

Kedua, sebagian ulama berpendapat bahwa Abu Hurairah masuk islam sebelum peristiwa Khaibar. Berikut beberapa keterangan mereka,

Ibnu Hibban,

أسلم أبو هريرة بدوس، فقدم المدينة ورسول الله  خارج نحو خيبر وعلى المدينة سباع بن عرفطة الغفاري استخلفه رسول الله ، فصلى أبو هريرة مع سباع، وسمعه يقرأ: { ويل للمطففين }، ثم لحق المصطفى  إلى خيبر، فشهد خيبر مع النبي

Abu Hurairah masuk islam di suku Daus. Kemdian beliau datang ke Madinah, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam teah berangkat menuju Khaibar. Ketika itu, yang bertanggung jawab terhadap kota Madinah adalah Siba bin Urfuthah al-Ghifari. Ditugaskan untuk menggantikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah shalat bersama Siba’, kemudian menyusul Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Khaibar, dan ikut peristiwa Khaibar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Shahih Ibnu Hibban, 11/187).

Kemudian keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar, setelah beliau menceritakan islamnya Thufail,

وفيها أنه دعا قومه إلى الإسلام فأسلم أبوه ولم تسلم أمه وأجابه أبو هريرة وحده قلت وهذا يدل على تقدم إسلامه وقد جزم بن أبي حاتم بأنه قدم مع أبي هريرة بخيبر وكأنها قدمته الثانية

Di kampung ad-Daus Thufail mendakwahkan kaumnya untuk masuk islam, hingga ayahnya masuk islam, namun ibunya menolak. Kemudian Abu Hurairah menerima ajakan beliau sendirian.

Menurut saya (Ibnu Hajar), ini menunjukkan bahwa islamnya Abu Hurairah itu sejak awal. Bahkan Ibnu Abi Hatim menyebutkan bahwa Thufail datang ke Khaibar bersama Abu Hurairah. Seolah ini adalah kedatangan yang kedua. (Fathul Bari, 8/102)

Diantara ulama kontemporer yang menegaskan islamnya Abu Hurairah sebelum peristiwa hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah adalah al-A’dzami. Dalam catatan kaki untuk Shahih Ibnu Khuzaimah, beliau mengatakan,

أسلم أبو هريرة قبل الهجرة إلى المدينة بسنوات، لكنه هاجر بزمن خيبر، انظر ترجمة الطفيل ابن عمرو الدوسي في الاستيعاب والإصابة

Abu Hurairah masuk islam beberapa tahun sebelum peristiwa hijrah. Namun beliau hijrah di masa peritiwa Khaibar. Anda bisa lihat biografi Thufail bin Amr ad-Dausi di kitab al-Isti’ab dan kitab al-Ishabah. (Ta’liq Shahih Ibn Khuzaimah, 1/280).

Keterangan yang lain juga disampaikan Dr. Muhammad Ajjaj al-Khatib dalam kitabnya ‘Abu Hurairah, Rayatul Islam’ (Abu Hurairah, Bendera Islam),

أن أبا هريرة أسلم قديماً وهو بأرض قومه على يد الطفيل بن عمرو، وكان ذلك قبل الهجرة النبوية

Bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu masuk islam dari awal, ketika beliau masih di kampung halamannya, mengikuti ajakan Thufail bin Amr. Dan itu terjadi sebelum hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Abu Hurairah, Rayatul Islam, hlm 70).

Dari beberapa keterangan dan riwayat di atas, yang lebih mendekati, nampaknya Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, telah masuk islam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Hanya saja, beliau datang ke Madinah dan selalu menyertai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika peristiwa perang Khaibar.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

dosa yang terus mengalir

Dosa Yang Terus Mengalir

Assalamualaikum,  dosa apa yg trus mengalir meski qt sudah meninggal??

Dari: Devi Suherna

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita sering mendengar istilah sedekah jariyah. Itulah sedekah yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun kita telah meninggal dunia. Kita akan tetap terus mendapatkan kucuran pahala, selama harta yang kita sedekahkan masih dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk melakukan ketaatan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ (HR. Nasa’i 3651, Turmudzi 1376, dan dishahihkan Al-Albani).

Sebagai orang beriman, yang sadar akan pentingnya bekal amal di hari kiamat, tentu kita sangat berharap bisa mendapatkan amal semacam ini. Di saat kita sudah pensiun beramal, namun Allah tetap memberikan kucuran pahala karena amal kita di masa silam.

Dosa Jariyah

Disamping ada pahala jariyah, dalam islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.

Betapa menyedihkannya nasib orang ini, di saat semua orang membutuhkan pahala di alam barzakh, dia justru mendapat kucuran dosa dan dosa. Anda bisa bayangkan, penyesalan yang akan dialami manusia yang memiliki dosa jariyah ini.

Satu prinsip yang selayaknya kita pahami, bahwa yang Allah catat dari kehidupan kita, tidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu. Allah berfirman di surat Yasin,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya.

Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. – wal’iyadzu billah.. –, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini.

Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini.

Sumber Dosa Jariyah

Diantara sumber dosa jariyah yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Pertama, mempelopori perbuatan maksiat.

Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya.

Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Anda bisa bayangkan, orang yang pertama kali mendesain rok mini, pakaian you can see, kemudian dia sebarkan melalui internet, lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak ngajak khalayak untuk memakai rok mini, namun mengingat dia yang mempeloporinya, kemudian banyak orang yang meniru, dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun.

Tak jauh beda dengan mereka yang memasang video parno atau cerita seronok di internet, tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton atau membacanya, dan dengan membaca itu dia melakukan onani atau zina atau bahkan memperkosa, maka yang memasang di internet akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya.

Termasuk juga para wanita yang membuka aurat di tempat umum, sehingga memancing lawan jenis untuk menikmatinya, maka dia mendapatkan dosa membuka aurat, plus dosa setiap pandangan mata lelaki yang menikmatinya. Meskipun dia tidak mengajak para lelaki untuk memandanginya.

Kedua, mengajak melakukan kesesatan dan maksiat

Dia mengajak masyarakat untuk berbuat maksiat, meskipun bisa jadi dia sendiri tidak melakukan maksiat itu. Merekalah para juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Allah berfirman, menceritakan keadaan orang kafir kelak di akhirat, bahwa mereka akan menanggung dosa kekufurannya, ditambah dosa setiap orang yang mereka sesatkan,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (QS. an-Nahl: 25)

Imam Mujahid mengatakan,

يحملون أثقالهم: ذنوبهم وذنوب من أطاعهم، ولا يخفف عمن أطاعهم من العذاب شيئًا

Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya. (Tafsir Ibn Katsir, 4/566).

Ayat ini, semakna dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Anda bisa perhatikan para propagandis yang menyebarkan aliran sesat, menyebarkan pemikiran menyimpang, menyerukan masyarakat untuk menyemarakkan kesyirikan dan bid’ah, menyerukan masyarakat untuk memusuhi dakwah tauhid dan sunah, merekalah contoh yang paling mudah terkait hadis di atas.

Sepanjang masih ada manusia yang mengikuti mereka, pelopor kemaksiatan dan penghasung pemikiran menyimpang, selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah. Merekalah para pemilik dosa jariyah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amal jariyah dan menjauhkan kita dari dosa jariyah. Amin…

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

bapak manusia

Bapak Seluruh Manusia

Tanya:

Apa benar, Nabi Nuh Bapak Kedua Manusia?

 Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagian ulama menyebutkan bahwa manusia yang bergelar Abul Basyar (bapaknya manusia) ada 3:

Pertama, Adam ‘alaihis salam. Beliau manusia pertama dan bapak selluruh manusia seperti yang kita kenal bersama.

Kedua, Syits putra Adam. Beliau satu-satunya putra Adam yang keturunannya masih hidup. Sehingga manusia setelahnya adalah keturunan beliau.

At-Thabari dalam Tarikhnya mengatakan,

وذرية آدم كلهم جهلت أنسابهم وانقطع نسلهم إلا ما كان من شيث بن آدم فمنه كان النسل وأنساب الناس اليوم كلهم إليه دون أبيه آدم فهو أبو البشر إلا ما كان من أبيه وإخوته ممن لم يترك عقبا

Keturunan Adam semuanya tidak diketahui nasabnya dan terputus garis turunannya, kecuali keturunan Syits bin Adam. Garis nasab seluruh manusia saat ini, berasal dari Syits, seteah bapaknya. Maka beliau abul basyar (bapak manusia), selain manusia anak bapaknya dan saudara-saudaranya yang tidak meninggalkan keturunan. (Tarikh at-Thabari, 1/104).

Ketiga, Nabi Nuh ‘alaihis salam

Beliau menjadi bapak seluruh manusia. Karena setelah banjir bandang, hanya orang di kapal Nuh yang selamat. Namun tidak ada satupun yang berketurunan, selain Nuh ‘alaihis salam.

Allah ta’ala berfirman menceritakan kejadian zaman Nabi Nuh,

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ. وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ . وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Nuh telah berdoa kepada Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. (QS. as-Shaffat: 75 – 79).

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat tafsir ayat,

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.”

Ibnu Katsir mengatakan,

قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس يقول: لم تبق إلا ذرية نوح عليه السلام.

Dari Ali bin Abi Thalhah, bahwa Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tiada manusia yang tersisa selain keturunan Nuh ‘alaihis salam.’

وقال سعيد بن أبي عروبة، عن قتادة في قوله: { وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ } قال: الناس كلهم من ذرية نوح [عليه السلام]

Dari Said bin Abi Urwah dari Qatadah, tentang firman Allah di atas, beliau mengatakan, ‘Semua manusia adalah keturunan Nuh ‘alaihis salam.’ (Tafsir Ibn Katsir, 7/22).

Dalam Mu’jam al-Buldan dinyatakan,

كان أول من نزله نوح عليه السلام لما خرج من السفينة ومعه ثمانون إنسانا فبنوا لهم مساكن بهذا الموضع وأقاموا به فسمي الموضع بهم ثم أصابهم وباء فمات الثمانون غير نوح عليه السلام وولده فهو أبو البشر كلهم

Orang pertama yang turun kapal adalah Nuh ‘alaihis salam, ketika beliau keluar dari kapall, beliau bersama 80 manusia. Mereka membangun tempat tinggal di tempat itu, dan menetap di sana. Kemudian mereka tertimpa wabah penyakit, hingga 80 orang  tadi mati selain Nuh ‘alaihis salam dan anaknya. Maka beliau adalah Abul Basyar (bapak seluruh manusia). (Mu’jam al-Buldan, 2/84).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Mengganti Status Agama di KTP

Assalamu’alaikum ustadz
pak ustaz selama ini ada hal yang mengganjal di hati saya.dulu saya punya pacar yang tinggal di amerika dan dia seorang muslim.waktu itu saya inggin menikah dan tinggal di sana..tapi waktu itu untuk bisa pergi kesana saya di anjurkan olehnya untuk menganti ktp sama menjadi kristen karena pada saat itu ada kejadian bom wtc..dan untuk pergi kesana agama islam sulit..dan pada saat itu saya sudah mengurus semuanya menganti ktp saya menjadi kristen..menjelang saya mengurus visa.ayah saya meninggal dunia..dan pada saat itu saya batal pergi karena tidak inggin meninggalkan ibu saya sendiri..dan setelah berapa bulan kemudian saya putus dengan pacar saya.dan saat ini saya sudah menikah dengan pria lain secara islam..karena ibu dan keluarga saya yang lain tidak pernah tau saya pernah menganti ktp saya menjadi kristen..dan yg saya pertayakan apakah saya murtad..karena sampai saat ini saya tidak pernah sholat lagi karena saya malu pada allah..

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa’alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kasus semacam ini pernah disampaikan pada lembaga fatwa Syabakah Islamiyah,

Pertanyaan:

Apa hukumnya seorang muslim ketika ditanya: Apa agamamu? Dia menjawab: kristen. Padahal aslinya dia muslim. Apa yang harus dia lakukan?

Jawaban tim fatwa Syabakah Islamiyah,

فإن كان القائل لهذا القول مكلفاً مختاراً غير مختل العقل ولا مكرها وكان عالما بمعنى قوله، فهو كافر مرتد. فالردة كما يعرفُّها أهل العلم هي: قطع الإسلام بنية أو قول أو فعل، سواء قاله استهزاء أو عناداً أو اعتقاداً.

Jika orang yang mengatakan ucapan ini adalah mukallaf (baligh dan sadar), karena pilihannya, pikirannya tidak sedang kacau, tidak dipaksa, dan dia paham dengan arti ucapannya, maka dia menjadi kafir murtad. Karena pengertian murtad, sebagaimana yang disebutkan para ulama, memisahkan diri dari islam, baik dengan niat, ucapan, maupun perbuatan. Baik dia ucapkan dengan nadaa bercanda, karena menentang, atau karena keyakinan.

Kemudian tim fatwa menjelaskan konsekuensinya,

فإذا ثبتت ردة هذا الشخص فتطبق عليه أحكام المرتد المعروفة… فإن أراد العودة إلى الإسلام فإنه يأتي بالشهادتين ويتبرأ من جميع الأديان سوى دين الإسلام ويغتسل.

Jika dipastikan dia telah murtad, maka diterapkan untuknya hukum bagi orang murtad sebagaimana yang dipahami bersama… dan jika dia ingin kembali kepada islam, maka dia harus bersyahadat, dan berlepas diri dari seluruh agama selain islam. Lalu dia mandi besar.

(Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 18097)

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

syiah yaman

Jatuhnya ibu kota Yaman, Shan’a, tanggal 21 September 2014 kemarin, ke tangan militan Syiah Houthi atau Hutsi tentu menjadi perhatian umat Islam dunia, khususnya Arab. Selain itu, peristiwa ini juga kian menjadikan nama grup militan boneka Iran itu membumbung di udara. Orang-orang yang sebelumnya belum mengenal mereka, pun menjadi penasaran ingin mengetahui siapa mereka sebenarnya.

Tentu saja, jatuhnya sebuah ibu kota negara bukanlah suatu yang remeh dan mudah. Apalagi dilakukan oleh kelompok sipil, tentu mereka sudah memiliki persiapan dan usaha yang panjang untuk melakukannya. Dan tentu saja mereka juga memiliki tujuan strategis yang mereka inginkan. Lalu siapakah mereka? Apa tujuan mereka? Dan siapa yang men-support mereka? Mudah-mudahan artikel berikut ini bisa memberikan sedikit gambaran dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Munculnya Houthi

Kisah munculnya Syiah Houthi bermula dari sebuah desa atau kota kecil yang bernama Sha’dah. Sebuah kota yang terletak 240 Km di utara ibu kota Shan’a. Di sana terdapat perkumpulan terbesar orang-orang Syiah Zaidiyah di Yaman. Pada tahun 1986, dibentuklah di sana sebuah perkumpulan untuk mempelajari ajaran-ajaran Syiah Zaidiyah. Perkumpulan itu disebut dengan Ittihad asy-Syabab (Persatuan Pemuda). Untuk memperlancar proses pembelajaran di sana, salah seorang ulama Zaidiyah yang bernama Badrudin al-Houthi mendatangkan para pengajar dari berbagai daerah untuk menetap di wilayah Sha’dah.

Pada tahun 1990, Yaman Utara dan Yaman Selatan pun bersatu membentuk negara demokrasi baru yang bernama Republik Yaman. Sistem demokrasi menuntut adanya partai politik dan parlemen. Saat itulah Ittihad asy-Syabab menjelma menjadi partai politik dengan nama baru Partai al-Haq (Hizbul Haq) sebagai penyambung aspirasi Syiah Zaidiyah di Republik Yaman. Dari partai itu juga muncul seorang kadernya yang bernama Husein bin Badruddin al-Houthi, anak dari Badrudin al-Houthi. Ia menjadi seorang politisi yang terkenal dan menjadi anggota parlemen (DPR) Yaman pada 1993-1997 dan 1997-2001.

Seiring perkembangan pemikiran Syiah Zaidiyah di negeri Yaman, muncullah keretakan hubungan antara Badruddin al-Houthi dengan ulama-ulama Zaidiyah lainnya. Hal itu ditengarai fatwa ulama-ulama Zaidiyah yang menyelisihi pakem ajaran Syiah selama ini. Mereka membolehkan para pengikut Syiah Zaidiyah untuk memilih seorang pemimpin atau tokoh agama walaupun bukan dari keturunan Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum. Badruddin yang merupakan seorang penganut sekte Jarudiyah (salah satu sekte Zaidiyah yang dekat dengan Syiah Itsna Asyariyah) menolak keras fatwa ini. Saat itulah ia mulai cenderung kepada Syiah Itsna Asyariah lalu terang-terangan membela pemikiran tersebut. Tidak hanya itu, ia juga mulai mengkritik pemikiran Syiah Zaidiyah. Karena hal ini, Badruddin pun diasingkan ke Teheran, ibu kota Iran.

Meskipun Badruddin al-Hutsri sudah hijrah ke Teheran, namun pengaruh pemikiran Syiah Itsna Asyariyahnya tetap hidup di Yaman, khususnya di wilayah Sha’dah. Bagaimana tidak, ia adalah seorang tokoh pendiri studi Zaidiyah yang berjasa mengembangkan madzhab tersebut di Yaman dan tentu saja memiliki kesan yang mendalam bagi pengikutnya di sana. Kepergian Badruddin ke Iran bersamaan dengan pengunduran diri Husein bin Badruddin dari Partai al-Haq. Ia membentuk kelompok baru yang pada awal berdirinya hanya bergerak di bidang keagamaan saja. Namun kemudian, kelompok ini bergabung dengan pemerintah melawan Partai Persatuan Yaman yang merupakan perwakilan Ahlussunnah. Pada tahun 2002, kelompok ini malah berbalik menjadi oposisi pemerintah.

Kelompok Husein al-Houthi pun kian menguat dan berhasil menekan Presiden Ali Abdullah Shaleh agar mengeluarkan kebijakan mengembalikan Badruddin al-Houthi ke tanah airnya Yaman. Karena tidak mengetahui bahaya gerakan Syiah Itsna Asyariyah, Presiden Ali Abdullah Shaleh pun menyetujui kepulangan Badruddin al-Houthi ke tanah Yaman.

Awal Peperangan dengan Separatis Houthi

Pada tahun 2004, terjadilah demonstrasi besar-besaran. Orang-orang Houthi dipimpin oleh Husein al-Houthi turun ke jalan menentang sikap pemerintah yang mendukung ekspansi Amerika ke Irak. Pemerintah Yaman merespon demonstrasi tersebut dengan sikap represif. Dalam demonstrasi tersebut orang-orang Houthi menyuarakan Mahdi di tengah-tengah mereka bahkan kenabian pun ada pada mereka. Sejak saat itulah pemerintah Yaman menanggapi gerakan Houthi dan Syiah secara serius.

Pemerintah Yaman mengumumkan perang terbuka dengan gerakan Syiah dan Houthi. Penangkapan anggota Houthi dan penyitaan senjata-senjata mereka pun digelar besar-besaran. Tidak hanya itu, pemerintah menginstruksikan untuk membunuh Pemimpin Houthi, Husein Badruddin al-Houthi.

Setelah Husein al-Houthi terbunuh, kepemimpinan gerakan ini beralih ke tangan ayahnya, Badruddin al-Houthi. Badruddin cukup berhasil melakukan strategi baru menghadapi pemerintah Yaman. Mereka diam-diam mempersenjatai diri, untuk kemudian mengadakan perlawanan terhadap pemerintah.

Pada tahun 2008, Qatar memfasilitasi perjanjian damai antara pemerintah Yaman dengan Houthi. Dua orang saudara kandung Husein al-Houthi yakni Yahya al-Houthi dan Abdul Karim al-Houthi datang ke Qatar untuk menyerahkan persenjataan mereka kepada pemerintah Yaman. Namun perjanjian damai ini tidak berlangsung lama dan perang baru pun kembali terjadi. Bahkan Houthi tampil lebih kuat dengan mengupayakan kekuasaan penuh atas wilayah Sha’dah. Mereka merapat ke pinggir Laut Merah untuk memudahkan pasokan logistik perang dari luar Yaman.

Dakwah Syiah Houthi kian terang-terangan dan perlawan mereka pun kian menantang. Saat ini, karena kekuatan mereka semakin bertambah, mereka tidak lagi menuntut pemisahan wilayah Sunni dan Syiah, mereka malah bertujuan menguasai wilayah Yaman secara keseluruhan.

Sebab Kekuatan Houthi

Ada beberapa hal yang menjadikan sekelompok gerilyawan Houthi begitu kuat hingga bisa merepotkan pemerintah Yaman.

Pertama: bantuan Iran. Iran adalah Negara Syiah Itsna ‘Asyariyah yang begitu aktif menyebarkan ideologinya ke seluruh negeri-negeri muslim. Bahkan keinginan kuat itu sudah muncul sejak mula, ketika revolusi Syiah Iran berhasil menumbangkan rezim Syah Pahlevi, Khomeini sang pemimpin revolusi langsung menyatakan melalui siaran radio bahwa revolusi Syiah mereka akan terus menyebar hingga menuju Mekah dan Madinah.

Penulis mendapat kabar dari beberapa relawan Yaman saat terjadi perang di Damaj, bahwa banyak pejuang-pejuang Syiah di sana bertutur dengan Bahasa Parsi dan berpaspor Iran. Artinya, Iran tidak hanya menyumbang logistik perang saja, tapi mereka juga menerjunkan tentara garda republik mereka untuk membela kepentingan Syiah Houthi dan membela kepentingan Syiah Itsna Asyariyah di dunia Arab.

Kedua, berhasilnya Houthi memenangkan perang opini melawan pemerintah. Sebagaimana kita ketahui, Yaman adalah salah satu negara termiskin dan tertinggal di Jazirah Arab. Banyak masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Kekeringan adalah pemandangan yang merata di daerah yang dulunya terdapat negeri Saba’, negeri yang subur dan makmur itu. Pembangunannya pun tak kalah menyedihkan, statis dan tidak bergerak. Bahkan ada seorang perantau yang mengisahkan bahwa tidak ada perbedaan antara bandara Shan’a yang ia tinggalkan belasan tahun yang lalu dengan bandara Shan’a yang ada sekarang. Tidak ada infrastruktur baru dan pembangunan yang membuatnya menjadi berubah.

Houthi berhasil mengankat isu-isu kondisi ekonomi, sosial, dan pembangunan Yaman yang sangat buruk sebagai bukti kegagalan pemerintah dalam mebangun negeri nenek moyang bangsa Arab itu. Akhirnya, rakyat pun simpati dengan gerakan separatis ini. Meskipun mereka tidak sepakat secara ideologi.

Ketiga, tribalisme atau budaya kesukuan. Yaman merupakan negara yang masyarakatnya sangat kental dengan kekabilahan. Pengaruh suku dan kabilah masih dijunjung tinggi oleh masyarakat di sana. Syiah Houthi mendapat cukup banyak dukungan dari para tetua kabilah yang beroposisi dengan pemerintah.

Keempat, faktor geografi Yaman. Kontur pegunungan di Yaman cukup menyulitkan bagi militer pemerintah untuk mengepung separatis Houthi. Mereka menjadikan gunung-gunung dan perbukitan sebagai benteng dan menjadikan gua-gua sebagai tempat persembunyian. Ditambah lagi teknologi militer yang masih sederhana menambah kebutaan tentara pemerintah untuk memantau persembunyian-persembunyian mereka.

Kelima, instabilitas politik Yaman. Maraknya demonstrasi yang menuntut dis-integrasi Yaman untuk kembali menjadi Yaman Selatan dan Yaman Utara kembali muncul. Bahkan mantan presiden Yaman Selatan, Ali Salim al-Beidh, keluar dari persembunyiannya di Jerman turut memanaskan kondisi dengan mengampanyekan tuntutan serupa. Tentu saja konsentrasi intelejen pemerintah terpecah, antara menghadapi oposisi dan separatis Houthi.

Cita-cita Negara Syiah Raya

Sejarah mencatat bahwa Syiah pernah begitu digdaya dengan Kerajaan Fatimiyah dan Kerajaan Shafawiyah. Khususnya Fatimiyah, mereka pernah menguasai seluruh Jazirah Arab, termasuk Mekah dan Madinah. Dan saat ini, Republik Syiah Iran ingin bernostalgia dengan kejayaan masa lalu tersebut. Hal itu mereka wujudkan dengan mengulirkan revolusi Syiah Iran ke berbagai negeri Islam di dunia, khususnya di Arab.

Baru-baru ini, anggota parlemen Iran yang bernama Ali Ridha Zakani mengatakan “Saat ini, tiga ibu kota negara Arab sudah berada di genggaman Iran. Mereka semua mengikuti jejak langkah revolusi Iran”. Ujar anggota parlemen wakil dari Teheran itu, sebagaimana dikutip dari laman website surat kabar almesryoon. Tiga ibu kota yang dimaksud oleh Zakani adalah (1) Beirut, ibu kota Libanon, (2) Damaskus, ibu kota Syria, dan (3) Baghdad, ibu kota Irak. Kemudian Zakani melanjutkan pernyataannya bahwa apa yang sedang terjadi di Shan’a, Yaman, juga merupakan perpanjangan dari revolusi Iran. Di hadapan anggota parlemen, ia menyebut bahwa saat ini Iran sedang menghadapi al-Jihad al-Akbar. Istilah itu ia sebut untuk menamakan proses penyebaran revolusi Iran di negeri Arab atau bahkan di dunia Islam.

Penutup

Apa yang terjadi di Yaman semakin menguatkan cengkraman Syiah di tanah Arab. Saat ini, Mekah dan Madinah telah dikepung dari sebelah utara ada Irak kemudian Syria, sebelah timur ada kota-kota basis Syiah seperti Qatif dan kota-kota di Bahrain serta Kuwait, dan sekarang ditambah Yaman di sebelah Utara. Tentu saja hal ini menjadi perkara serius bagi keamanan Arab Saudi dan bisa berdampak pula padakenyamanan ibadah haji dan umrah. Karena tidak jarang, orang-orang Syiah membuat gaduh tanah haram dan meresahkan jamaah yang ada di sana.

Peristiwa ini juga, dapat kita petik pelajaran untuk negeri kita, Indonesia. Strategi yang dilakukan Syiah untuk menguasai suatu negara, hamper serupa dengan apa yang dilakuan Amerika. Mereka menimbulkan chaos (kekacauan), kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk menguasai suatu daerah.

Oleh Nurfitri Hadi, MA
Disarikan dari www.KisahMuslim.com

mubahalah

Mubahalah

Apa itu mubahalah? Karena sekarang lagi rame mubahalah kasus tipikor? Terima kasih

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Kata mubahalah [arab: المباهلة] turunan dari kata al-Bahl [arab: البَهْل] yang artinya laknat. Dalam Lisan al-Arab dinyatakan,

البَهْل: اللعن، وبَهَله الله بَهْلاً أي: لعنه، وباهل القوم بعضهم بعضاً وتباهلوا وابتهلوا: تلاعنوا، والمباهلة: الملاعنة

Al-Bahl artinya laknat. Kalimat ‘bahalahullah bahlan’ artinya Allah melaknatnya. Kalimat ‘baahala al-qoumu ba’dhuhum ba’dha’ artinya saling melaknat satu sama lain. Al-Mubahalah berarti Mula’anah (saling melaknat). (Lisan al-Arab, 11/71)

Ar-Raghib al-Asfahani mengatakan,

والبهل والابتهال في الدعاء الاسترسال فيه، والتضرع؛ نحو قوله ـ عز وجل ـ: {ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ} [آل عمران: 61]، ومن فسر الابتهال باللعن فلأجل أن الاسترسال في هذا المكان لأجل اللعن

Al-Bahl dan Ibtihal dalam doa, artinya bersungguh-sungguh tanpa batas dalam berdoa. Seperti disebutkan dalam firman Allah, (yang artinya), “Kemudian kita melakukan ibtihal, dan kita tetapkan laknat Allah untuk orang yang berdusta.” (QS. Ali Imran: 61). Ulama yang menafsirkan ibtihal dengan laknat karena umumnya orang lepas kontrol ketika itu, disebabkan melakukan laknat. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 63).

Kesimpulannya, Mubahalah artinya doa dalam bentuk melaknat dengan sungguh-sungguh.

Mubahalah dalam al-Quran

Mubahalah termasuk salah satu metode dakwah yang disebutkan dalam Al-Quran. Metode ini digunakan untuk melawan orang kafir dan orang musyrik yang bersikap sombong, dengan tidak mau menerima kebenaran, tetap kukuh di atas kebatilan dan kesesatan. Padahal telah disampaikan dalil-dalil yang sangat jelas, yang menunjukkan kesesatannya.

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menantang mubahalah orang-orang nasrani terkait aqidah yang benar tentang Nabi Isa. Karena mereka tidak menerima kebenaran, setelah beliau menjelaskan bahwa Isa bukan anak tuhan.

Allah berfirman,

إنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ . الْـحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلا تَكُن مِّنَ الْـمُمْتَرِينَ . فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (*) (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (*) Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 59 – 61).

Sabab Nuzul Ayat

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan keterangan dari Ibnu Ishaq dalam sirahnya, bahwa suatu ketika kota Madinah kedatangan tamu orang-orang nasrani dari daerah Najran. Diantara mereka ada 14 orang yang merupakan pemuka dan tokoh agama di Najran. dari 14 orang itu, ada 3 orang yang menjadi tokoh sentral: Aqib, gelarnya Abdul Masih. Dia pemuka kaum, yang memutuskan hasil musyawarah masyarakat. as-Sayid, dia pemimpin rombongan. Nama aslinya al-Aiham. Dan yang ketiga Abul Haritsah bin Alqamah. Dulunya orang arab, kemudian pindah ke Najran dan menjadi uskup di sana.

Ketika mereka sampai di Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melaksanakan shalat asar. Mereka kemudian masuk masjid dan shalat dengan menghadap ke timur.

As-Sayid dan Aqib menjadi jubir mereka di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kalian mau masuk islam?” tanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kami telah masuk islam sebelum kamu.” Jawab mereka.

“Dusta, kalian bukan orang islam disebabkan: kalian menganggap Allah punya anak, kalian menyembah salib, dan makan babi.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Jika Isa bukan anak Allah, lalu siapa ayahnya?” Serombogan orang-orang nasrani itupun serempak mendebat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pertanyaan itu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tenang menjawab,

“Bukankah kalian tahu yang namanya anak, pasti punya kemiripan dengan bapak?”

“Ya, tentu.” Jawab mereka.

“Bukankah kalian yakin, Allah yang mewujudkan segala sesuatu, menjaganya dan memberi rizqi mereka?”

“Ya, kami yakin itu.” Jawab mereka.

“Apakah Isa punya salah satu dari kemampuan tuhan itu?”

“Tidak.” Jawab mereka.

Beliau melajutkan sabdanya,

“Allah menciptakan Isa di dalam rahim sesuai yang Dia kehendaki. Tuhan kita tidak butuh makan, minum, dan tidak berhadats.”

“Ya, benar.” Jawab mereka.

“Bukankah Isa tumbuh di rahim ibunya sebagaimana para wanita mengalami hamil, kemudian dia melahirkan sebagaimana para wanita melahirkan anaknya?”

“Lalu bagaimana mungkin kalian meyakini dia anak tuhan?”

Kemudian mereka terdiam dan Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/50).

Mengapa harus Mengumpulkan Keluarga

Allah berfirman,

فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 59 – 61).

Dalam ayat di atas, Allah mengajarkan bahwa ketika bermubahalah, hendaknya seseorang mengumpulkan keluarganya, anak dan istrinya. Mereka didatangkan di majlis mubahalah, kemudian saling mendoakan laknat bagi siapa yang berdusta.

Sa’d bin Abi Waqqash menceritakan,

ولما نزلت هذه الآية: {فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ} دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم علياً وفاطمة وحسناً وحسيناً فقال: اللَّهُمَّ هؤُلاءِ أَهْلِي

Ketika turun ayat ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Kemudian beliau bersabda, ‘Ya Allah, mereka keluargaku.’ (HR. Ahmad 1630, Muslim 6373, dan Turmudzi 2999).

Tujuan mengumpulkan keluarga, anak, istri ketika mubahalah, bukan menimpakan dampak buruk Mubahalah kepada mereka. Karena dampak buruk dari laknat ketika Mubahalah, hanya mengenai pelaku. Tujuan mengumpulkan mereka adalah untuk semakin meyakinkan dan menunjukkan keseriusan diantara mereka untuk melakukan mubahalah.

Orang Nasrani Tidak Jadi Mubahalah

Hudzaifah menceritakan,

Aqib dan as-Sayid menjadi wakil mereka maju menemui Nab Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka hendak melakukan mubahalah. Tiba-tiba salah satu diantara mereka berpesan, ‘Jangan mubahalah. Demi Allah, jika benar dia nabi, kemudian dia melaknat kita, selamanya kita tidak akan selamat, juga keturunan kita.’

Kemudian mereka menawarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami menerima tantangan kamu. Tunjuk satu orang yang amanah diantara kalian.”

“Baik, akan saya tunjuk satu orang yang sangat amanah diantara kami.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para sahabatpun menjadi terheran. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk,

“Majulah wahai Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Ketika beliau berdiri, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَذَا أَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ

Dia adalah orang kepercayan umat ini. (HR. Bukhari 4380).

Hasil Mubahalah

Contoh ungkapan Mubahalah, si A dan si B berseteru dalam masalah. Mereka masing-masing mengaku yang benar. Ketika Mubahalah, mereka saling mengatakan,

‘Demi Allah saya yang benar. Dan saya siap mendapat laknat Allah, jika saya dusta.’

Bagaimana hasilnya? Laknat akan ditimpakan kepada orang yang berdusta diantara mereka. Ibnu Hajar mengatakan,

ومما عُرف بالتجربة أن من باهل وكان مبطلاً لا تمضي عليه سنة من يوم المباهلة، وقد وقع لي ذلك مع شخص كان يتعصب لبعض الملاحدة فلم يقم بعدها غير شهرين

Berdasarkan pengalaman, orang yang melakukan mubahalah di kalangan pembela kebatilan, tidak bertahan lebh dari setahun sejak hari mubahalah. Itu pernah saya alami sendiri bersama seorang yang memiliki pemikiran menyimpang, dan dia tidak bertahan hidup lebih dari 2 bulan. (Fathul Bari, 8/95)

Ibnu Abbas mengomentari orang nasrani Najran,

وَلَوْ خَرَجَ الَّذِينَ يُبَاهِلُونَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَرَجَعُوا لاَ يَجِدُونَ مَالاً وَلاَ أَهْلاً

Andai ada orang yang berani bermubahalah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu mereka semua akan pulang, dan semua harta dan keluarganya akan hilang habis. (HR. Ahmad 2264).

Shiddiq Hasan Khan pernah mengatakan,

أردت المباهلة في ذلك الباب ـ يعني باب صفات الله تعالى ـ مع بعضهم فلم يقم المخالف غير شهرين حتى مات

Saya ingin mubahalah dengan sebagian mereka dalam masalah aqidh tentang sifat Allah. Dan orang yang menyimpang tidak bertahan lebih dari dua bulan, hingga dia mati. (Aun al-Bari, 5/334)

Kisah Mubahalah dengan Mirza Ghulam Ahmad

Tahukah anda, ternyata Mirza Ghulam Ahmad mati di WC dalam kondisi yang mengenaskan. Mayatnya berbau busuk, hingga semua orang menjauh darinya. Mirza Ghulam Ahmad mati setelah Mubahalah.

Syaikh Tsanaullah al-Amaritsari berdebat dengan Ghulam Ahmad. Setelah Ghulam berada di posisi kalah, akhirnya depat dipungkasi dengan Mubahalah. Syaikh mengatakan,

غلام أحمد من كان على الباطل أماته الله قبل الصادق منهما

Wahai Ghulam Ahmad, siapa diantara kita berada di atas kebatilan, maka Allah akan segera mematikan sebelum orang yang jujur (lawan debatnya) mati.

Apa hasil Mubahalah?

Pendusta diantara mereka mati lebih dahulu. Ghulam Ahlan mati di WC, terserang penyakit kolera, dan banyak orang menjauh darinya, karena tubuhnya mengeluarkan bau yang sagat tidak sedap. Sementara Syaikh Tsanaullah hidup hingga 40 tahun lagi.  (al-Qodiyaniyah, Ihsan Ilahi Dzahir, hl. 154)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mati kecelakaan

Mati Karena Kecelakaan Lalu Lintas

Apakah mati karena kecelakaan lalu lintas termasuk mati syahid? Krn saya pernah mendengar demmikian, apa anggapan itu benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Dari Jabr bin Atiq Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang mati syahid,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ شَهِيدٌ…

Ada 7 mati syahid selain perang di jalan Allah – azza wa jalla –, orang yang mati karena thaun, dia syahid, orag yang ati karena sakit perut, dia syahid, orang yang tenggelam, mati syahid, dan orang yang mati karena benturan, dia mati syahid….  (HR. Ahmad 24474, Nasai 1857, dan dishahihkan al-Albani).

Apakah orang yang mati karena kecelakaan termasuk mati syahid? Karena dia mati disebabkan benturan dengan kendaraan.

Dalam Fatwa Lajnah Daimah – lembafa fatwa dan penelitian islam Saudi – pernah ditanya semacam ini. Jawaaban Lajnah,

نرجو أن يكون شهيداً؛ لأنه يشبه المسلم الذي يموت بالهدم، وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه شهيد‏

Kami berharap dia mati syahid. Karena korban kecelakaan mirip dengan orang yang mati karena benturan. Dan terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang yang mati karena benturan telah mati syahid.

(Fatwa Lajnah no. 7946‏)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

pahala haji

Amalan Berpahala Haji

Assalamu’alaikum, apakah benar ada amalan tertentu yang pahalanya setara dengan haji dan umrah? mhon penjelasannya ustaz dan wassalam. ridwan fauzi. ntt

Dari Ridwan Fauzi via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari Maha Pemurahnya Allah ta’ala, Allah memberikan kesempatan kepada siapapun hamba-Nya untuk tetap bisa mendapatkan pahala amal, yang tidak mampu dia kerjakan.

Suatu ketika datang serombongan sahabat yang miskin mengahdap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengadukan persaingan amal dengan sahabat yang kaya. Bukan karena hasad terhadap dunia, namun karena keinginan untuk mendapatkan pahala yang sama. Diantara sahabat yang kurang mampu itu adalah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau mengadukan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَصْحَابُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَلَهُمْ فُضُولُ أَمْوَالٍ يَتَصَدَّقُونَ بِهَا، وَلَيْسَ لَنَا مَالٌ نَتَصَدَّقُ بِه

Ya Rasulullah, para pemilik kekayaan memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, namun mereka memiliki kelebihan harta, yang bisa mereka sedekahkan. Sementara kami tidak memiliki harta untuk bersedekah.

Kita lihat, bagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا أَبَا ذَرٍّ، أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ تُدْرِكُ بِهِنَّ مَنْ سَبَقَكَ، وَلَا يَلْحَقُكَ مَنْ خَلْفَكَ إِلَّا مَنْ أَخَذَ بِمِثْلِ عَمَلِكَ؟

“Wahai Abu Dzar, maukah aku ajarkan kepadamu beberapa dzikir, sehingga engkau bisa menyusul orang yang mendahuluimu dalam amal dan orang di belakangmu tidak akan bisa menyusul, kecuali jika mereka melakukan seperti amal yang kau kerjakan?.”

“Tentu, ya Rasulullah..” jawab Abu Dzar.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,

تُكَبِّرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ، ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتُسَبِّحُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَخْتِمُهَا بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ، وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

”Setiap selesai shalat, baca takbir 33 kali, tahmid 33 kali, dan tasbih 33 kali. Setelah itu, tutup dengan bacaan Laa ilaaha illallah wahdahuu laa syariika lah, Lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ’ala kulli syai-in qadir. Niscaya dosa-dosanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 7243, Abu Daud 1504, Ibnu Khuzaimah 748, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian kesempatan untuk mendapat pahala sedekah? Sesungguhnya setiap tasbih bernilai sedekah, setiap takbir bernilai sedekah, setiap tahmid bernilai sedekah, setiap tahlil bernilai sedekah, amar makruf nahi munkar juga sedekah, dan dalam hubungan badan kalian, bernilai sedekah. (HR. Muslim 1006).

Amal Senilai Pahala Haji

Ibadah haji, salah satu ibadah yang membutuhkan modal paling besar. Jiwa, raga, harta, dan memakan banyak waktu. Sehingga jumlah kaum muslimin yang mampu melaksanakannya, jauh lebih sedikit dibandingkan amal ibadah lainnya.

Namun, Allah Maha Kaya, Allah Maha Pemurah. Allah berikan kesempatan bagi semua hamba-Nya, untuk mendapatkan pahala haji, sekalipun dia tidak mampu berangkat haji.

Ada beberapa amalan, yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapatkan pahala haji. Berikut diantaranya,

Pertama, melakukan rangkaian ibadah seusai shalat subuh

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir memuji Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka dia mendapatkan pahala haji dan umrah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: Sempurna..sempurna..sempurna. (HR. Turmudzi 586, al-Bazzar 9314, dan dihasankan al-Albani).

Syaikh Muhammad Mukhtar as-Syinqithi – pengajar di Masjid Nabawi – memberikan penjelasan hadis ini, bahwa ‎keutamaan amalan ini hanya dapat diraih jika terpenuhi beberapa persyaratan ‎sebagai berikut:‎

Pertama, Shalat subuh secara berjama’ah. Sehingga tidak tercakup di dalamnya ‎orang yang shalat sendirian. Dzahir kalimat jama’ah di hadis ini, mencakup jama’ah di ‎masjid, jama’ah di perjalanan, atau di rumah bagi yang tidak wajib jama’ah di masjid ‎karena udzur.‎

Kedua, duduk berdzikir. Jika duduk tertidur, atau ngantuk maka tidak mendapatkan ‎fadhilah ini. Termasuk berdzikir adalah membaca Al-Qur’an, beristighfar, membaca ‎buku-buku agama, memebrikan nasehat, diskusi masalah agama, atau amar ma’ruf ‎nahi mungkar. ‎

Ketiga, duduk di tempat shalatnya sampai terbit matahari. Tidak boleh pindah dari ‎tempat shalatnya. Sehingga, jika dia pindah untuk mengambil mushaf Al-Qur’an atau ‎untuk kepentingan lainnya maka tidak mendapatkan keutamaan ini. Karena ‎keutamaan (untuk amalan ini) sangat besar, pahala haji dan umrah ‎sempurna..sempurna. sedangkan maksud (duduk di tempat shalatnya di sini) adalah ‎dalam rangka Ar-Ribath (menjaga ikatan satu amal dengan amal yang lain), dan Nabi ‎shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kemudian duduk di tempat shalatnya.”‎ ‎ ‎Kalimat ini menunjukkan bahwa dia tidak boleh meninggalkan tempat shalatnya. Dan ‎sekali lagi, untuk mendapatkan fadhilah yang besar ini, orang harus memberikan ‎banyak perhatian dan usaha yang keras, sehingga seorang hamba harus memaksakan ‎dirinya untuk sebisa mungkin menyesuaikan amal ini sebagaimana teks hadis. ‎

Keempat, shalat dua rakaat. Shalat ini dikenal dengan shalat isyraq. Shalat ini ‎dikerjakan setelah terbitnya matahari setinggi tombak.‎

‎(Syarh Zaadul Mustaqni’, as-Syinqithi, 3/68).‎

Kedua, kajian di masjid

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُ مُعْتَمِرٍ تَامِّ الْعُمْرَةِ، فَمَنْ رَاحَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ فَلَهُ أَجْرُ حَاجٍّ تَامِّ الْحِجَّةِ

Siapa yang berangkat ke masjid di pagi hari, tidak memiliki tujuan apapun selain untuk belajar agama atau mengajarkannya, maka dia mendapatkan pahala orang yang melakukan umrah sempurna umrahnya. Dan siapa yang berangkat ke masjid sore hari, tidak memiliki tujuan apapun selain untuk belajar agama atau mengajarkannya, maka dia mendapatkan pahala orang yang berhaji sempurna hajinya. (HR. Hakim 311 dan dinilai oleh ad-Dzahabi: Sesuai syarat Bukhari. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Imam al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 86).

Berbahagialah mereka yang rajin melakukan kajian, meluangkan waktunya untuk belajar agama, setiap pagi dan sore.

Ketiga, Menjaga Shalat Jamaah beserta adab-adabnya

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda‎,

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ ‏يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ ‏وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ

‎”Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk shalat jamaah dalam keadaan ‎telah bersuci, maka pahalanya seperti pahala orang berhaji dalam keadaan ihram ‎. Dan ‎barangsiapa beranjak untuk melakukan shalat Dhuha dan tidak ada yang ‎menyebabkan dia keluar (dari rumahnya) kecuali untuk shalat Dhuha maka ‎pahalanya seperti pahala orang yang umrah. Dan shalat setelah melaksanakan ‎shalat yang di antara kedua shalat tersebut tidak membicarakan masalah dunia, ‎adalah amalan yang akan dicatat di illiyiin‎ ‎. ‎

‎(HR. Abu Daud 558 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam shahih At ‎Targhib wat Tarhib 670)‎.

‏Ada beberapa penafsiran ulama tentang makna kalimat “maka pahalanya seperti pahala orang berhaji dalam keadaan ihram“. ‎Berikut adalah tiga penafsiran yang disebutkan dalam Aunul Ma’bud, syarh sunan Abu Daud,

  1. ‎Mendapatkan pahala sebagaimana orang yang haji secara utuh. Makna ini disampaikan oleh Zain Al ‘Arab
  2. ‎Bentuk mendapatkan pahalanyanya sebagaimana bentuk mendapatkan pahala dalam ibadah haji. Dimana ketika ‎orang berhaji, semua usaha yang dia lakukan dinilai pahala. Mulai dari bekal sampai usaha perjalanan. Demikian pula ‎shalat jama’ah. Semua usahanya bernilai pahala, termasuk langkah kakinya. Meskipun pahala untuk dua amal ini ‎berbeda dari sisi banyaknya atau jumlahnya.‎
  3. ‎Orang yang berangkat haji akan mendapatkan pahala haji dari mulai berangkat sampai pulang, meskipun tidak ‎menyelesaikan hajinya, selain wuquf di ‘arafah. Demikian pula shalat jama’ah. Orang yang berangkat shalat jama’ah ‎akan mendapatkan pahala shalat berjama’ah dari mulai berangkat sampai pulang, meskipun dia tidak mendapatkan ‎jama’ah bersama imam (karena terlambat).

(lih. Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud 2/77).‎

Semoga Allah memudahkan kita untuk istiqamah dalam menggapai ridha-Nya. Amin

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

nikah beda agama

Haram Nikah Beda Agama?

Mengapa nikah beda agama dilarang? Agama kan hanya status seseorang, apa kaitannya dengan keberlangsungan rumah tangga?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Polemik nikah beda agama bukan polemik baru. Itu isu lama yang kembali mencuat. Memang benar apa kata orang, sejarah akan mengulang kejadian sebelumnya. Karena itu, kehadiran beberapa orang yang kembali meneriakkan masalah ini, hanya membeo para moyangnya yang memiliki pemikiran yang sama.

Terkait pertanyaan yang anda sampaikan, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan,

Pertama, nikah beda agama tidak dilarang secara mutlak. Karena islam membolehkan seorang lelaki muslim menikah dengan wanita ahli kitab – yahudi atau nasrani – yang menjaga kehormatan dan bukan wanita nakal. Allah berfirman,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ

Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. (QS. Al-Maidah: 5)

Karena itu, mengatakan bahwa nikah beda agama dilarang dalam islam secara mutlak tanpa pengecualian, jelas kesalahan dan kedustaan atas nama syariat.

Kedua, bahwa agama tidak hanya status semata. Namun status yang sekaligus menjadi ideologi seseorang. Bagi sebagian orang yang kurang peduli dengan agama, menganggap bahwa agama hanya status. Tidak ada beda antara satu agama dengan lainnya. Karena semuanya agama. Anda bisa katakan, ini prinsip orang ateis atau agnotis, yang tidak memahami hakekat agama. Jelas prinsip yang sangat tidak relevan dengan realita di lapangan.

Setiap manusia memiliki status. Agama, kewarganegaraan, suku, bahasa, daerah, hingga usia. Sebagian dicantumkan di KTP, seperti agama, daerah, dan usia. Dan semua orang bisa membedakan antara status agama dengan status kewarganegaraan atau suku, bahasa, daerah atau usia. Semakin agung statusnya, semakin kuat usaha seseorang untuk membelanya.

Bagi orang yang menilai agama paling agung, pembelaan dia terhadap agama akan lebih besar dibandingkan pembelaan terhadap negara, suku, bahasa atau daerah. Demikian pula, bagi orang yang menilai status kewarganegaraan lebih penting, maka upaya pembelaannya akan banyak tercurah ke sana, dan begitu seterusnya.

Anda akan lebih marah ketika suku anda dihina dari pada tanggal kelahiran anda dihina. Karena anda menganggap, suku lebih mulia dari pada tanggal lahir. Padahal keduanya sama-sama status manusia. Namun status yang satu lebih mulia, dibanding status lainnya.

Sebagai bangsa bernegara, kita diarahkan agar tidak terlalu menonjolkan sentimen kesukuan. Karena ini bisa mengancam persatuan bangsa. Sebagai manusia beragama, islam juga menyuruh kita untuk tidak menonjolkan sentimen kesukuan, kebangsaan. Karena bisa mengancam persaudaraan sesama muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tindakan membangkan suku dengan seruan jahiliyah. Beliau bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ

Bukan termasuk golonganku, orang yang menampar pipi, atau merobek baju (ketika keluarganya meninggal), dan orang yang menghidupkan seruan jahiliyah. (HR. Bukhari 1298 dan Muslim 103)

Di sini kita hanya hendak menggaris bawahi, bahwa agama bukan semata status. Agama adalah ideologi. Manusia rela melakukan apapun demi ideologinya. Hingga ada orang yang rela memakan kotoran tokoh agamanya, tidak lain karena dorongan ideologi agama. Karena itu, jangan remehkan status agama. Agama tidak hanya status, tapi ideologi.

Ketiga, kita menyadari bahwa beragama bagian dari hak semua manusia. Bahkan ini diatur dalam undang-undang di tempat kita. Yang ini menunjukkan bahwa founding fathers bangsa kita menghormati entitas agama bagi masyarakatnya. Bagi orang yang memahami hakekat agama, dia akan berusaha menjaga dan menghormatinya. Tidak menjadikannya bahan permainan apalagi ditukar dengan dunia atau dengan cinta.

Anda bisa menilai, orang yang begitu mudah pindah agama, hanya untuk bisa mendapatkan kepuasan perut, atau keluar dari islam hanya untuk mendapatkan kepuasan di bawah perut, itu karena dia tidak memahami hakekat agama. Tidak sejalan dengan prinsip yang dibangun para pewaris negeri ini.

Islam selalu mengajarkan kepada umatnya untuk memuliakan agamanya. Memotivasi mereka untuk berusaha menjaganya agar tidak lepas darinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran: 102)

Keempat, karena alasan ini semua, islam memberikan penjagaan kepada umatnya, sehingga mereka tetap bisa mempertahankan agamanya. Atau mengajak orang lain untuk menjadi lebih teratur hidupnya dengan masuk islam. Diantara aturan itu, islam melarang wanita muslimah menikah dengan lelaki non muslim. Karena pernikahan ini sangat mengancam keselamatan agamanya. Terlebih di negara yang masih kental dengan pluralisme. Sangat rentan kelompok minoritas menindas mayoritas.

Dan seperti ini realitas yang terjadi. Betapa banyak wanita muslimah yang menjadi korban pemaksaan lelaki kafir untuk pindah agama. Sementara negara tidak menjamin hal ini. Suami bisa bebas mengintimidasi istri untuk keluar dan pindah agama. Terlebih umumnya wanita lemah mental. Dia bisa dengan mudah menyerah dengan keadaan.

Dan sekali lagi, agama adalah ideologi. Bagian dari doktrin ideologi, pemiliknya akan berusaha menyeret orang lain untuk memiliki ideologi yang sama. Tidak mungkin suami yang kafir akan membiarkan istrinya muslimah untuk beribadah dan melakukan ketaatan sesuai ajaran islam. Kecuali jika si suami termasuk orang yang tidak berideologi.

Allah menyebutkan, orang-orang kafir, akan mengajak orang lain untuk mengikuti kekafirannya,

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ

Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (QS. al-Baqarah: 221)

Memahami hal ini, mengajukan nikah beda agama tanpa batas, tidak berbeda dengan upaya merusak ideologi agama. Bertentangan dengan tatanan para leluhur bangsa yang menjunjung tinggi agama. Meskipun kehadiran mereka adalah hal yang lumrah. Mengingat mereka bukan orang yang terdidik untuk menghormati agama.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

calon presiden pembohong

Hukum Calon Presiden Suka Berbohong

Pak Ustat, apa hukumnya presiden yang suka berbohong. Karena ada calon presiden di salah satu negara berkembang, yang suka berbohong. Saya dengar, orang sperti ini tdk masuk surga.

Nuw Timur

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara tipe manusia yang sangat dibenci oleh Allah, hingga Allah memberikan hukuman sangat keras adalah raja atau presiden atau kepala negara atau pejabat pemerintah yang suka membohongi rakyatnya.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak Allah sucikan, tidak Allah lihat, dan bagi mereka siksa yang menyakitkan: orang tua yang berzina, raja yang suka berdusta, dan orang miskin yang sombong. (HR. Ahmad 10227, Muslim 107, dan al-Baghawi 3591).

Kita berlindung kepada Allah dari karakter mereka.

Anda bisa perhatikan, bagaiamana kerasnya hukuman yang Allah berikan kepada mereka,

  • Tidak akan diajak bicara oleh Allah
  • Tidak Allah sucikan
  • Tidak Allah lihat
  • Baginya siksa yang menyakitkan

Anda bisa bayangkan ketika ada orang yang dihukum, dicampakkan ke dalam neraka, kemudian dia dilupakan dan tidak dipedulikan. Bagaimana dia bisa berharap untuk bisa selamat. Suatu hari, Hasan al-Bashri – ulama besar zaman tabi’in – menangis. Hingga para sahabatnya bertanya, “Apa yang menyebabkan anda menangis?” beliau mengatakan,

أخاف أن يطرحني غدا في النار و لا يبالي

Aku takut, besok Allah akan membuangku ke neraka, kemudian dia tidak mempedulikanku. (at-Takhwif min an-Nar, hlm. 34)

Mengapa Hukuman Mereka Sangat Berat?

Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka diberi hukuman sangat berat ketika melakukan pelanggaran seperti itu? Padahal yang namanya berzina, berdusta, atau sombong, juga dilakukan oleh manusia lainnya.

Jika kita perhatikan, tiga karakter manusia di atas, keadaannya sangat kontra dengan kesalahan dan dosa yang dia kerjakan. Karena faktor dan dorongan untuk melakukan kemaksiatan itu sangat lemah dibanding umumnya manusia.

Seperti yang kita tahu, umumnya manusia melakukan maksiat karena adanya dorongan kebutuhan. Pemuda berzina, karena dia tidak sanggup menahan nafsu birahinya. Orang terdesak yang berbohong, karena dia ingin menyelamatkan diri. Orang kaya yang sombong, karena merasa bangga dengan harta yang dimiliki. Berbeda dengan ketiga orang di atas, faktor-faktor itu hampir tidak ada.

Al-Qodhi Iyadh menjelaskan sebab hal ini,

سببه أن كل واحد منهم التزم المعصية المذكورة مع بعدها منه وعدم ضرورته إليها وضعف دواعيها عنده وإن كان لا يعذر أحد بذنب لكن لما لم يكن إلى هذه المعاصي ضرورة مزعجة ولا دواعى متعادة أشبه إقدامهم عليها المعاندة والاستخفاف بحق الله تعالى وقصد معصيته لا لحاجة غيرها

Sebabnya, karena ketiga orang di atas, melakukan maksiat seperti yang disebutkan, sementara dia sangat tidak membutuhkan maksiat itu, dan lemahnya dorongan untuk melakukannya. Meskipun semua orang tidak boleh melakukan maksiat, namun ketika ada orang yang sama sekali tidak ada dorongan untuk melakukannya, maka ketika dia melakukannya sama seperti orang yang menentang Allah dan meremehkan hak Allah, serta melakukan maksiat, bukan karena dorongan kebutuhan.

Kemudian al-Qodhi Iyadh merinci masing-masing,

إن الشيخ لكمال عقله وتمام معرفته بطول ما مر عليه من الزمان وضعف أسباب الجماع والشهوة للنساء واختلال دواعيه لذلك عنده ما يريحه من دواعي الحلال في هذا ويخلي سره منه فكيف بالزنى الحرام وإنما دواعي ذلك الشباب والحرارة الغريزية وقلة المعرفة وغلبة الشهوة لضعف العقل وصغر السن

Orang tua, dengan kesempurnaan akalnya dan pengalamannya karena telah lama makan asam garam selama hidup, serta lemahnya kekuatan jima dan syahwat terhadap wanita, yang semua kondisi ini membuat dia malas melakukan hubungan badan yang halal, maka bagaimana lagi dengan zina yang haram? Namanya pendorong zina, masih muda, aktif, agresif, pengalaman kurang, dorongan syahwatnya besar karena lemah akal, dan usia yang masih remaja.

وكذلك الإمام لا يخشى من أحد من رعيته ولا يحتاج إلى مداهنته ومصانعته فإن الإنسان إنما يداهن ويصانع بالكذب وشبهه من يحذره ويخشى أذاه ومعاتبته أو يطلب عنده بذلك منزلة أو منفعة وهو غني عن الكذب مطلقا

Demikian pula imam, apa yang ditakutkan terhadap rakyatnya, sehingga dia tidak butuh basa-basi, pencitraan dibuat-buat. Karena umumnya manusia melakukan basa-basi dengan dusta dan mengelabuhi orang yang dia takuti akan mengancamnya, atau karena dia ingin mendapatkan posisi dan manfaat dengan mendekat ke penguasa. Sementara penguasa, dia sama sekali tidak butuh berdusta.

وكذلك العائل الفقير قد عدم المال وإنما سبب الفخر والخيلاء والتكبر والارتفاع على القرناء الثروة في الدنيا لكونه ظاهرا فيها وحاجات أهلها إليه فإذا لم يكن عنده أسبابها فلماذا يستكبر ويحتقر غيره

Demikian pula orang miskin yang tidak memiliki harta. Umumnya penyebab orang bertindak sombong, bangga, dan merasa lebih tinggi dari orang lain adalah kekayaan dunia. Karena ini bisa ditampak-tampakkan, dan pemiliknya butuh untuk itu. Karena itu, ketika orang miskin sama sekali tidak memiliki modal untuk sombong, lalu mengapa dia sombong, dan meremehkan orang lain.

Kemudian al-Qodhi Iyadh mengakhiri keterangan beliau dengan mengatakan,

فلم يبق فعله وفعل الشيخ الزاني والإمام الكاذب إلا لضرب من الاستخفاف بحق الله تعالى والله أعلم

Sehingga perbuatan orang miskin yang sombong, orang tua yang berzina, dan penguasa yang suka berdusta hanya karena mereka meremehkan hak Allah ta’ala. Allahu a’lam

(Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 2/117).

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

9,509FansLike
4,525FollowersFollow
32,342FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN