tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

Fatwa Pemilu 2014

Kriteria Capres Pilihan Umat Islam

Topik Pemilu hari-hari ini sangat santer menjadi buah bibir dan tema hangat berbagai media sosial, pasalnya dalam waktu dekat ini negara Indonesia akan mengadakan hajatan besar untuk pemilihan presiden dan wakilnya, tepatnya di 9 Juli mendatang yang akan bertepataan saat umat Islam menjalankan ibadah puasa.

Tentu saja, kita semua berharap agar negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang mampu menjalankan amanat berat dan kursi panas tersebut dengan sebaik-baiknya. Sebagai umat Islam, tentu kita akan penasaran dan mulai memikirkan kepada siapakah pilihan kita akan kita berikan?!

Nah, untuk membantu saudara-saudaraku semua, berikut ini kami akan sampaikan kriteria pemimpin dalam Islam sehingga bisa dijadikan sebagai bahan renungan untuk menentukan pilihan nanti.

IKUT PEMILU ATAU GOLPUT SAJA?

Masalah ini diperselisihkan para ulama’ yang mu’tabar tentang boleh tidaknya kita mencoblos dalam pemilu, karena mempertimbangkan kaidah mashlahat dan mafsadat.

Pendapat Pertama: Sebagian ulama’ berpendapat tidak boleh berpartisipasi secara mutlak seperti pendapat mayoritas ulama’ Yaman karena tidak ada mashlahatnya bahkan ada mudharatnya.[1]

Pendapat Kedua: Sebagian ulama’ lainnya berpendapat boleh untuk menempuh mudharat yang lebih ringan seperti pendapat asy-Syaikh Abdul Aziz ibn Baz, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, dan lain-lain[2], karena “Apa yang tidak bisa didapatkan seluruhnya maka jangan ditinggalkan sebagiannya” dan “Rabun itu lebih baik daripada buta”. Dan pertimbangan semua itu dikembalikan kepada para alim ulama dan para penuntut ilmu terpercaya di negeri/daerah masing-masing yang mengerti situasi dan kondisi setempat.

Dan pendapat inilah yang lebih kuat Insyallah sesuai dengan kaidah “Menempuh mafsadat yang lebih ringan” [3] dan ini bukan berarti mendukung sistem demokrasi yang memang bertentangan dengan sistem Islam.

Oleh karenanya, hendaknya kita berlapanga dada dengan perbedaan pendapat dalam masalah ini dan bagi yang memilih maka hendaknya bertaqwa kepada Allah dan memilih pemimpin yang lebih mendekati kepada kriteria pemimpin yang ideal dalam Islam yaitu al-Qawwiyyu al-Amin (memiliki skill lagi amanah)[4], juga tentunya yang memiliki perhatian agama Islam yang baik dan memberikan kemudahan bagi dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan memilih karena kepentingan duniawi semata.

SYARAT-SYARAT PEMIMPIN DALAM ISLAM

Adanya pemimpin merupakan tugas yang sangat mulia dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Karenanya, adanya pemimpin merupakan kewajiban demi tegaknya agama dan dunia, bahkan dahulu dikatakan: “Enam puluh tahun bersama pemimpin yang dzalim lebih baik daripada sehari semalam tanpa adanya pemimpin”.[5]

Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat imamah (kepemimpinan) sebagaimana berikut[6]:

1.Taklif: Ini meliputi Islam, baligh, dan berakal. Maka orang kafir tidak boleh dipilih menjadi pemimpin, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلآَّ أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ 28

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah. (QS Ali ’Imran [3]: 28)

Orang yang tidak berakal, baik karena masih kecil atau karena hilang akalnya, tidak boleh memegang kekuasaan dan yang semisalnya sama sekali.

2. Lelaki. Wilayah kubra (kepemimpinan tertinggi) tidak boleh bagi seorang perempuan dengan kesepakatan para ulama[7], dalilnya adalah hadits Abu Bakrah Radhiallahu ‘Anhu beliau berkata, “Tatkala sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa penduduk Persia telah dipimpin oleh seorang anak perempuan Kisra (gelar raja Persia), beliau bersabda:

« لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً ».

“Suatu kaum tidak akan beruntung jika dipimpin oleh seorang wanita.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari: 4073)

Dan ini sama sekali bukan pelecehan kepada wanita tetapi justru menghormatinya sebagai wanita yang memiliki tugas penting di istana keluarganya.[8]

3.Al-’Adalah. Yaitu sifat yang membuat pelakunya bertaqwa, menjauhi dosa-dosa, dan hal-hal yang merusak harga dirinya di tengah-tengah umat.

4.Ilmu dan tsaqafah. Seorang pemimpin disyaratkan orang yang mempunyai bagian yang besar dari ilmu syar’i dan tsaqafah, agar bisa mengetahui yang haq dari yang bathil dan mengatur urusan-urusan negara dengan penuh kemaslahatan bagi rakyat dan mengetahui strategi perang menghadapi musuh. Dan ilmu yang paling utama adalah tentang hukum-hukum Islam dan siyasah syar’iyyah (politik syar’i).

Rakyat tidak butuh kepada pemimpin yang rajin sholatnya atau rajin menelaah kitab-kitab ulama, aktif mengajar atau menulis buku, berhati-hati dari pembunuhan, padahal kondisi negerinya tengah dilanda kekacauan, yang kuat menginjak yang lemah, yang punya kekuasaan berbuat semena-mena terhadap rakyat lemah, karena jika demikian maka tidak ada artinya seorang pemimpin karena tidak memiliki peran penting dalam mengatasi masalah negara.[9]

5. Mengerti Tentang Politik Syar’i secara Matang. Seorang pemimpin harus mengerti tentang politik syar’I untuk pengaturan negara dan kebaikan rakyatnya, berpengalaman tentang urusan perang dan mengatur prajurit, membela negara dan perbatasan dan membela rakyat yang terdzalimi.[10]

6. Seorang Quraisy. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

« الأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ ».

“Para pemimpin adalah dari Quraisy.” [11]

Hanya saja, persyaratan ini khusus bagi imamah ’uzhma ketika kaum muslimin seluruhnya dipimpin oleh seorang khalifah. Al-Imam al-Qurthubi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Karena umat telah sepakat bahwa seluruh kepemimpinan-kepemimpinan sah bagi selain Quraisy kecuali imamah kubra.” [12]

7. Sehat panca indranya. Tidak boleh pemimpin itu tuli, buta atau bisu, karena hal itu sangaat berpengaruh baginya dalam menjalankan tugas beratnya sebagai pemimpin negara, adapun cacat lainnya yang tidak mempengaruhi maka tidak apa-apa.[13]

Al-Imam asy-Syaukani Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yang dimaksudkan dengan kepemimpinan tertinggi adalah pengaturan urusan-urusan manusia secara umum dan secara khusus, serta menjalankan perkara-perkara pada jalurnya dan meletakkannya pada tempatnya, dan ini tidak mudah dilakukan bagi orang yang ada cacat di dalam panca indranya.” (as-Sailul Jarrar 4/507)

TUGAS DAN KEWAJIBAN PEMIMPIN

Telah datang di dalam kitab-kitab siyasah syar’iyyah seperti al-Ahkam as-Sulthaniyyah oleh Al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyyah oleh al-Farra’, Tahrirul Ahkam fi Tadbiri Ahlil Islam oleh Ibnu Juma’ah, dan yang lainnya, perkara-perkara yang merupakan kewajiban-kewajiban pemimpin negara, di antaranya:

1.Menjaga agama Islam di atas pokok-pokoknya yang telah ditetapkan dan kaidah-kaidahnya yang telah disusun, yang diambil dari al-Kitab, as-Sunnah, dan apa-apa yang disepakati oleh salaful ummah, menjelaskan hujjah-hujjah agama, menyebarkan ilmu-ilmu syar’i, mengagungkan ilmu dan ahlinya, dan membantah bid’ah dan ahli bid’ah. Jika muncul ahli bid’ah maka dijelaskan hujjah dan kebenaran atasnya dan menghukumnya dengan apa yang pantas atasnya agar agama selalu terjaga.

Demikian juga menegakkan syi’ar-syiar Islam seperti shalat lima waktu, shalat Jum’at, shalat ’Id, adzan, iqamah, khotbah, imamah shalat, puasa, haji, dan mempermudah pelaksanaan itu semua dan mengamankannya.

2.Menjaga negeri Islam dan membelanya, berjihad melawan kaum musyrikin, memberantas perampok dan penjahat, mengatur pasukan dan menata gaji-gaji mereka.

3.Berlaku adil karena keadilan adalah sebab kebaikan rakyat dan negeri.

4.Menegakkan had-had syar’i, menjaga keharaman-keharaman Allah dari pelanggaran-pelanggaran, dan menjaga hak-hak hamba-hamba Allah.

5.Memutuskan kasus-kasus dan hukum-hukum dengan mengangkat para petugas dan para hakim untuk mengadili kasus-kasus perselisihan dan mencegah orang yang berbuat zhalim. Tidak mengangkat orang yang bertugas melaksanakan hal itu kecuali orang yang dia percaya agamanya, amanahnya, dan penjagaannya dari para ulama dan orang-orang yang shalih, dan orang-orang yang pantas melaksanakannya.

6.Mengambil zakat-zakat dan jizyah (upeti) dari ahlinya, mengambil harta fai’ dan kharraj pada tempatnya, dan menyalurkan hal itu pada penyaluran-penyalurannya yang syar’i dan tempat-tempatnya yang benar, dan menyerahkan urusan-urusan tersebut kepada para pegawai yang terpercaya.

7.Memilih orang-orang yang ahli lagi amanah di dalam pelaksanaan tugas-tugas dan pengurusan harta-harta, agar tugas diserahkan pada ahlinya dan harta-harta diurus oleh orang-orang yang amanah.

8.Mengecek pelaksanaan-pelaksanaan tugas para pegawainya.

9.Mewujudkan kesejahteraan setiap rakyat.

10.Selalu mengupayakan untuk mewujudkan yang paling utama dari seluruh segi kehidupan manusia.[14]

PENUTUP

Setelah kita memahami criteria pemimpin dalam Islam, sekarang yang menjadi pertanyaan: Siapakah diantara pasangan capres pemilu nanti yang lebih mendekati pada kriteria di atas, yang memenuhi syarat-syarat pemimpin dan sanggup melaksanakan tugas-tugas pemimpin?!! Inilah yang menjadi renungan kita bersama dan akan menjadi bahan tulisan saya berikutnya, sekaligus saya meminta pendapat para ustadz dan ikhwan sekalian tentang dua permasalahan berikut:

Apakah perlu menyebutkan nama capres yang perlu kita dukung karena lebih mendekati criteria pemimpin dalam Islam?
Siapakah kira-kira yang lebih mendekati pada criteria di atas dan apa alasannya?
Dua pertanyaan ini akan menjadi bahan tulisan saya berikutnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Amiin

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi (Pengasuh website AbiUbaidah.com)

Keterangan:

[1] Lihat Tanwir Zhulumat fi Kasyfi Mafasidi wa Syubuhati al-Intikhabat karya asy-Syaikh Muhammad ibn Abdillah al-Imam.

[2] Lihat penjelasan tentang perbedaan pendapat ulama’ dan argumen masing-masing dalam masalah ini di kitab al-Intikhabat wa Akamuha fil Fiqhil Islami hlm. 86–96 karya Dr. Fahd ibn Shalih al-’Ajlani, terbitan Kunuz Isyibiliya, KSA.

[3] Lihat kaidah ini dalam al-Asybah wan Nazha’ir hlm. 87 karya as-Suyuthi, al-Asybah wa Nazha’ir hlm. 89 karya Ibnu Nujaim, al-Qawa’id al Kulliyyah wa Dhawabith al-Fiqhiyyah hlm. 183 karya Dr. Muhammad Utsman Syubair, al-Mufashshal fil Qawa’idil Fiqhiyyah hlm. 369 karya Dr. Ya’qub Ba Husain.

[4] Perhatikan QS al-Qashash [28]: 26. Lihat pula penjelasannya dalam Qawa’id Qur’aniyyah hlm. 109–113 karya Dr. Abdullah al-Muqbil dan as-Siyasah asy-Syar’iyyah hlm. 29–31 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[5] As-Siyasah Asy-Syar’iyyah hlm. 137 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[6] Dinukil dari kitab Fiqhu Siyasah Syar’iyyah hlm. 125-134 oleh Dr. Khalid bin Ali al-‘Anbari.

[7] Lihat Syarh Sunnah (10/77) karya al-Baghowi, Al-Fishal fi Al-Milal (3/110-111) karya Ibnu Hazm, Adhwaul Bayan (1/26) karya as-Syinqithi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an (13/122-123) karya Al-Qurthubi, Mughni Al-Muhtaj 4/129-130 oleh As-Syirbini, Al-Irsyad ila Qowati’il Adillah fi Ushul I’tiqad hal. 427 oleh imam Al-Juwaini, I’lam Al-Muwaqqi’in (3/352) oleh Ibnu Qayyim, Faidhul Qadir 5/368 oleh Al-Munawi, Tuhfatul Ahwadzi 6/447 oleh Al-Mubarakfuri, Al-Fiqh Al-Islami 6/745 oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Mufashshal fi Ahkamil Mar’ah 4/313 oleh Dr. Abdul Karim Zaidan).

[8] Nidzomul Usroh fil Islam 2/48 oleh Dr. Muhammad Uqlah.

[9] Wablul Ghomam karya asy-Syaukani, Iklil Karomah hlm. 114 karya Shiddiq Hasan Khon.

[10] Jami’ul Ahkam Al-Fiqihiyyah 3/415 oleh Al-Qurthubi.

[11] Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnad-nya 3/129 dan dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’: 2757.

[12] Al-Mufhim 4/6)

[13] Al-Ahkam Shulthoniyyah hlm 6 oleh al-Mawardi, dan Ahkam Shluthoniyyah hlm. 20 oleh Al-Farro’, Tahririul Ahkam Ibnu Jama’ah hlm. 51, Al-Muqoddimah hlm. 180 oleh Ibnu Khuldun, Sail Jaror 4/503 oleh asy-Syaukani.

[14] Lihat perinciannya dalam Fiqhu Siyasah Syar’iyyah hlm. 180-186 oleh Dr. Khalid al’Anbari da Al-Fiqhu Al-Islami wa Adillatuhu.

buraq

Buraq Kendaraan Nabi Waktu Isra’ Mi’raj

Apa itu buroq? Karena ketika isra mi’raj, nama ini sering disebut. Dan katanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam isra mi’raj dengan menunggang buroq. Mungkin bs dijelaskn. Trim’s. Maksih pencerahannya.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Buraq atau Buroq [arab: البُرَاقُ] termasuk binatang ghaib, yang tidak akan pernah kita jumpai di alam ini. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menaikinya ketika isra’ mi’raj, itu bagian dari keistimewaan dan mukjizat beliau dari Allah, yang tentu saja tidak mungkin bisa ditiru orang lain.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

Dialah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. Al-Jin: 26 – 27)

Mengingat ini masalah ghaib, sikap yang harus kita kedepankan adalah mengikuti dan meyakini apa yang disebutkan dalam dalil. Artinya, kita hanya boleh meyakini sesuai informasi yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diantara bentuk dan sifat buraq yang disebutkan dalam hadis shahih,

  1. Bentuknya seperti binatang tunggangan
  2. Ukurannya lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal. (Bighal adalah peranakan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai)
  3. Berwarna putih
  4. Langkah kakinya, sejauh ujung pandangannya.
  5. Bisa diikat sebagaimana layaknya hewan tunggangan

Diantara hadis yang menceritakan sifat-sifat di atas,

a. Hadis dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian isra mi’raj. Salah satu cuplikan kisahnya,

وَأُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، دُونَ البَغْلِ وَفَوْقَ الحِمَارِ: البُرَاقُ

Dibawakan kepadaku hewan tunggangan berwarna putih, lebih pendek dari bighal dan lebih tinggi dari pada keledai. Yaitu buraq. (HR. Bukhari 3207)

b. Hadis dari Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ أُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، يُقَالُ لَهُ: الْبُرَاقُ، فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَقَعُ خَطْوُهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ، فَحُمِلْتُ عَلَيْه

Kemudian dibawakan kepadaku seekor hewan tunggangan putih, namanya Buraq. Lebih tinggi dari pada keledai dan lebih pendek dari bighal. Satu langkah kakinya di ujung pandangannya. Lalu aku dinaikkan di atasnya. (HR. Ahmad 17835, Muslim 164, dan yang lainnya).

c. Sesampainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjidil aqsha, beliau shallallahu ’alai wa salam mengikat buraqnya di tempat yang biasa digunakan para nabi untuk mengikat tunggangannya. Beliau mengatakan

فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ

Aku mengikat buraq di salah satu pintu masjid baitul maqdis, tepat di mana para nabi mengikatkan hewan tunggangan mereka (Muslim no. 162, Abu Ya’la dalam musnadnya 3375)

Apakah Buraq punya Sayap?

Banyak yang mengilutrasikan buraq layaknya gambar kuda bersayap. Bahkan kadang ditambahi tanduk.

Kami tidak menjumpai adanya riwayat yang menjelaskan bahwa buraq bersayap. Dan sekali lagi, mengingat ini masalah ghaib, kita hanya bisa mengikuti apa yang disebutkan dalam dalil, tanpa nambah-nambahi. Membuat ilustrasi seperti kuda terbang sembrani, jelas ini menebak-nebak hal yang ghaib, yang dilarang dalam islam.

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

aqidah orang syiah

Syiah Rafidhah

Mengapa syiah dinamakan rafidhah? Karena saya baca tulisan, syiah disebut rafidhah? Apa kaitannya kata syiah dg rafidhah. Terma kasih…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Rafidhah [arab: الرافضة] secara bahasa dari kata rafadha – yarfudhu [رفض – يرفض] yang artinya menolak, tidak menerima. Rafidhah berarti orang yang menolak.

Mengapa mereka disebut rafidhah (orang yang menolak)?

Mengenal Imam Zaid bin Ali bin Husain

Sebelum menjawab ini, kita perlu berkenalan dulu dengan salah satu tokoh ulama ahlul bait, yang bernama, Zaid bin Ali bin Husain, cicitnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Ayah beliau, yaitu Ali bin Husain (cucu Ali bin Abi Thalib) adalah ulama besar yang dikenal ahli ibadah, sehingga digelari Zainul Abidin (hiasan para ahli ibadah).

Beliau adalah saudara Abu Ja’far al-Baqir yang diklaim sebagai imam syaiah. Zaid bin Ali termasuk ulama generasi Tabi’ Tabiin, yang pernah berguru kepada Urwah bin Zubair dan Ubaidillah bin Abi Rafi’. (Siyar A’lam an-Nubala’, 5/389).

Di masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik, khalifah  bani Umaiyah ke-10, dia menunjuk Yusuf bin Umar untuk menjadi gubernur di Irak. Wilayah kekuasaan Yusuf meliputi Kufah.

Suatu ketika, terjadi ketegangan antara Zaid bin Ali dnegan Yusuf bin Umar. Hingga mereka dipanggil untuk menghadap khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Setelah dialog, khalifah Hisyam marah terhadap Zaid bin Ali dan demikian pula sebaliknya. Hingga Hisyam menyuruh Zaid untuk keluar istana.

Setelah kembali ke Kufah, banyak rakyat Kufah yang mendukung beliau dan mencalonkan beliau untuk dibaiat sebagai khalifah.

Kembali ke Nama Rafidhah

Bertolak dari salah satu versi kisah sengketa di atas, kita kembali pada latar belakang penamaan Rafidhah.

Setelah berkumpul banyak orang yang membaiat Zaid bin Ali, tiba-tiba beliau mendengar ada sebagian di kalangan mereka yang mencela Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Seperti yang kita tahu, Kufah adalah basis syiah sejak masa silam.

Mendengar celaan itu, spontan beliau menegurnya dan mengingkari perbuatan mereka. Hingga mereka yang mencela Umar, memisahkan diri dari komunitas yang telah membaiat Zaid bin Ali.

Versi keterangan ini disebutkan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam karyanya Maqalat al-Islamiyin. Beliau mengatakan,

فلما ظهر في الكوفة في أصحابه الذين بايعوه سمع من بعضهم الطعن على أبي بكر وعمر ، فأنكر ذلك على من سمعه منه ، فتفرق عنه الذين بايعوه فقال لهم : رفضتموني ، فيقال إنهم سموا رافضة لقول زيد لهم رفضتموني

Ketika telah berkumpul orang-orang yang membaiat beliau di Kufah, tiba-tiba beliau mendengar sebagian di kalangan mereka mencela Abu Bakar dan Umar. Beliapun mengingkari orang yang mencela itu. Lalu mereka memisahkan diri dari jamaah yang telah membaiat beliau. Hingga beliau mengatakan kepada mereka:

رفضتموني

“Kalian menolakku?”

Sehingga merekapun digelari Rafidhah. Diambil dari perkataan Zaid bin Ali [رفضتموني] ‘kalian menolakku?’ (Maqalat al-Islamiyin, hlm. 65).

Keterangan yang sama juga disampaikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

وإنما سموا رافضة وصاروا رافضة لما خرج زيد بن علي بن الحسين بالكوفة في خلافة هشام فسألته الشيعة عن أبي بكر وعمر فترحم عليهما فرفضه قوم فقال رفضتموني رفضتموني فسموا رافضة

Mereka dinamakan rafidhah dan menjadi rafidhah ’sang penentang’ karena ketika Zaid bin Ali bin Husain memberontak di Kufah di masa kekhalifahan Hisyam, orang-orang syiah bertanya kepada beliau, bagaimana komentar beliau terhadap Abu Bakar dan Umar. Kemudian Zaid bin Ali mendoakan kebaikan untuk Abu Bakar dan Umar. Sehingga sekelompok kaum menolak beliau, lalu Imam Zaid mengatakan kepada mereka ’rafadhtumunii’ apakah kalian menolakku? Sehingga mereka disebut rafidhah. (Minhaj as-Sunah an-Nabawiyah, 2/96).

Sisi Lain Sejarah

Setelah peristiwa itu, kelompok Zaid bin Ali terpecah menjadi dua:

  1. Satu kelompok membelot dan menolak beliau dan mencabut baiatnya. Mereka mengkafirkan Abu Bakar, Umar, dan seluruh sahabat lainnya, selain yang mereka kecualikan. Itulah kelompok syiah rafidhah yang saat ini berkembang di Iran, Irak, Lebanon, dan yang membantai rakyat Suriah. Kelompok inilah yang saat ini sedang digencarkan untuk dilestarikan di Indonesia.
  2. Satu kelompok tetap setia dengan Imam Zaid bin Ali. Mereka tidak mengkafirkan Abu Bakar, Umar, maupun sahabat lainnya. Mereka mengakui mereka semua manusia terbaik yang akan menduduki derajat yang tinggi di surga. Kelompok ini disebut Zaidiyah. Sebagian ulama menolak untuk menyebutnya sebagai syiah. Karena mereka snagat jauh berbeda dengan syiah rafidhah. Kelompok Zaidiyah banyak berkembang di Yaman.

(Minhaj as-Sunah an-Nabawiyah, 1/35).

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

aliran ldii-jokam-354

Mantan Dai LDII

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Gerakan Islam Jama’ah (GIJ) atau Darul Hadits dengan tokoh utamanya mendiang Nurhasan Ubaidah Lubis, yang sekarang diteruskan oleh anaknya yaitu Abdudhohir (Muhammad Suwaikh Abdudhohir), panggilannya Cak Dohir, pernah menghebohkan masyarakat Indonesia. Puncak kehebohan itu terjadi pada akhir tahun 1979 saat gerakan ini mendapat serangan dan kecaman keras dari berbagai pihak karena kesesatannya yang suka mengkafirkan orang yang bukan golongannya, bahkan memisahkan antara anak dan orang tua, suami atau istri yang tidak sepaham dengan mereka (IJ).

Saya sendiri saat itu masih aktif menjadi mubaligh IJ yang gigih mempropagandakan ajaran yang sesat dan menyesatkan ini. Kecaman dan serangan keras dari pihak non IJ, saya anggap angin lalu, bahkan merasa bangga dengan modal semangat dari Amir Nurhasan Ubaidah Lubis dengan doktrinnya: “Seribu rintangan, sejuta pertolongan, dan jutaan cobaan miliaran kemenangan, sorga pasti.”Kebo-kebo maju, Barongan-barongan mundur” artinya kalau lagi aman, terus maju aktif giat dan bergerak, dan kalau lagi ada serangan, diam tunggu sampai aman.

Alhamdulillah dengan izin Allah, saya telah keluar dari firqoh Dholalah (Islam Jamaah) ini pada akhir tahun 1982, setelah menjadi mubaligh IJ sejak 1976. Kurang lebih 7 tahun saya menjadi badut dan bahkan dajjal yang dapat menentukan ssorga dan nerakanya manusia. Maka saya telah bertobat kepada Allah dan berjanji untuk mengantisipasi GIJ ini sampai akhir hayat. Bagaimana saya tidak berdosa besar, karena saya pernah menjadi manusia dajjal, dan telah melecehkan para ulama dan semua orang yang mengajarkan Islam di Indonesia yang tidak epaham dengan ilmu Mangkul ala Islam Jamaah.

Kenapa demikian, karena memang sudah menjadi doktrin ajarannya dari mulai Amir pusatnya sampai kepada semua mubaligh-mubalighnya (sampai sekarang), baik yang ada di Indonesia maupun yang ada di Sydney, Islam Jamaah (IJ) kelihatannya baik di depan kita tapi lain di hati, berpura-pura tak ada perbedaan antara IJ dan non IJ, karena mereka menggunakan Fathonah Bithonah (boleh berbohong/wajib berbohong kepada yang bukan Islam Jamaah), seperti orang Syiah dengan menggunakan Taqiyahnya (dusta/berbohong atas nama agama).

Mereka boleh mengatakan apa saja untuk membohongi umat Islam ini dengan tanpa punya rasa berdosa/salah, sekalipun sama orang tuanya sendiri apalagi orang lain. Yang tidak kalah menarik, Nurhasan Ubaidah dan GIJnya menghukumi para ulama kita sama dengan bajingan tengik, bahkan lebih keji dan kotor dari itu. Kalau ulama-ulama saja nilainya seperti itu, bagaimana dengan umatnya? Jadi jangan heran kalau IJ di sini juga demikian sikapnya terhadap kita, karena memang itulah aqidah mereka, kita dianggap sama dengan orang yang bukan Islam, kecuali orang yang mau diajak mengaji secara manqul ala IJ mereka perlakukan sebagai penginaf baru (baru insaf dari jahiliyah), dengan kata lain sama dengan orang mu’alaf yang harus dijinakkan hatinya, jadi dibujuk dengan segala rayuan agar orang tersebut tertarik dan masuk ke dalam golongannya, dengan sangat sabar dan telaten, apa saja maunya dituruti dahulu; begitu sudah kelihatan bisa dipercaya, mereka baru mulai memasukkan doktrin-doktrinnya, itupun dengan cara yang sangat licik dan lihai. Sehingga yang bersangkutan tidak merasa dipaksa, lalu terjadilah pembaiatan kepada sang Amir baik langsung ataupun melalui wakil-wakilnya. Sejak itulah orang tersebut baru diakui sebagai orang Islam dan dijamin masuk Surga oleh Amir, bahkan katanya pasti wajib mutlak orang yang berbaiat sama Nurhasan itu Sorganya, dan pasti wajibnya terhindar dari nerakanya. Sampai dengan kesombongannya sang Amir berkata, “Saya tidak rela kalau sampai ada orang Jama’ah yang masuk neraka”, artinya sang Amir bisa menuntut Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat. Ini berdasarkan pengalaman yang saya alami selama menjadi mubaligh IJ kurang lebih tujuh tahun, bukan omong kosong yang dibuat-buat karena ada maksud-maksud tertentu.

Gerakan Islam Jama’ah ini suatu gerakan yang mempunyai sifat-sifat/ciri-ciri yang pernah Nabi Sabdakan di dalam suatu hadit yang berhubungan dengan firman Allah dalam Surat 3:10 (Ali-Imran).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلآَأَوْلاَدُهُم مِّنَ اللهِ شَيْئًا وَأُوْلاَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, harta dan anak-anaknya tidak akan dapat menolong mereka dari Siksaan Allah edikitpun juga bahkan mereka akan menjadi kayu bakar api neraka”. (QS. Ali Imran: 10).

Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat ini dengan mengutip Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Ummu Abdillah bin Abbas di dalam Tafsir Ibnu Katsir Jilid I halaman 350.

قالت: بينما نحن بمكة قام رسول الله صلى الله عليه وسلم من الليل، فقال هل بلغت، اللهم هل بلغت…” ثلاثًا، فقام عمر بن الخطاب فقال: نعم. ثم أصبح فقال النبي صلى الله عليه وسلم: “ليظهرن الإسلام حتى يرد الكفر إلى مواطنه، وَلَتَخُوضُنَّ البحار بالإسلام، وليأتين على الناس زمان يتعلمون القرآن ويقرؤونه، ثم يقولون: قد قرأنا وعلمنا، فمن هذا الذي هو خير منا، فهل في أولئك من خير؟” قالوا: يا رسول الله، فمن أولئك؟ قال: “أولئك منكم وأولئك هم وقود النار

“Ummu Abdillah berkata, pada waktu itu aku di Makkah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri pada suatu malam lalu memanggil-manggil, “Apakah aku telah menyampaikan?’ Nabi mengulang-ulang sampai tiga kali….”Akan datang pada manusia suatu zaman, mereka itu mempelajari Alquran lalu membacanya, kemudian mereka berkata, kami telah mengkaji dan mengajarkan Alquran maka siapa orang/golongan yan lebih baik dari pada golongan kami (mereka ujub), maka apakah pada mereka itu masih terdapat kebaikan? Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah iapakah sebenarnya mereka itu? Nabi menjawab, ‘Mereka itu dari kalangan kamu (umat Islam), dan mereka itu akan menjadi kayu bakar api neraka”

Kiranya jelaslah ayat dan hadits yang disebut oleh Nabi pada hadits tersebut ada semuanya dalam Islam Jamaah dan gerombolannya eperti yang pernah saya alami, merasa bahwa saya dan jama’ahnya lah yang paling benar di dunia ini dan hanya yang berhak mengaku menjadi muslim yang diakui oleh Allah yang pasti masuk surga, sedang orang lain semuanya pasti salah dan pasti kafir dan pasti masuk neraka.

Kita semua mengetahui bahwa penentuan surga dan neraka seseorang itu adalah hak Allah, bukan hak seseorang yang menentukan seperti Nurhasan Ubaidah dan dinastinya yang secara ngawur Sorga dan Neraka itu sudah ditangannya, asal seseorang itu bai’at sama Nurhasan Ubaidah/Abduldhohir pasti masuk sorga, dan yang tidak berbaiat pasti masuk neraka.

Nabi pernah bersabda bahwa ada tiga hal yang akan membinasakan manusia yang salah satunya sifat ujub/berbangga dengan dirinya sendiri, apalagi sudah berani memastikan. Dalam hadits-hadits yang shohih cukup banyak yang menerangkan pada kita tentang sabda Nabi” Bahwa ada hamba Allah tinggal sejengkal lagi masuk neraka dan tinggal sejengkal lagi masuk surga”, berarti memang hal ini hal yang ghoib yang tidak ada yang mengetahui kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan Nurhasan dan firkohnya.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi gambaran tentang kekayaan dan keturunan yang merupakan kebanggaan orang kafir di dunia ini pada akhirnya tidak dapat bermanfaat sedikitpun juga, apalagi yang tidak kaya dan tidak punya apa-apa tentu akan lebih celaka lagi, bagi mereka akan menjadi kayu bakar api neraka, demikian pula dengan halnya kaum muslimin yang mereka berbangga-bangga dengan ilmunya apalagi mereka udah merasa dirinyalah yang paling sesuai denga Quran dan Hadits. Walaupun mereka sebenarnya telah mengaji Alquran dan Hadits tetapi karena kesombongan dan ketakaburan dan rasa ujubnya, sampai   mereka dapat memastikan sorganya, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda“ Mereka itu adalah ahli neraka/akan menjadi kayu bakar api neraka”. Renungkanlah wahai saudara-saudaraku.

Tentang Doktrin Ilmu/Manqul

Menurut pengakuan Nurhasan Ubaidah Lubis bahwa ilmu itu tidak sah/tak bernilai sebagai Ilmu Agama kecuali ilmu yang disahkan oleh Nurhasan dengan cara manqul/alias mengaji secara nukil, yang bersambung-sambung dari mulut ke mulut dari mulai Nurhasan sampai ke Nabi Muhammad lalu ke Malaikat Jibril ‘Alaihissalam dan Malaikat Jibril langsung dari Allah.

Dengan kesimpulan bahwa ilmu Islam itu baru akan sah kalau sudah dimanquli oleh Nurhasan, dan dia telah menafikan semua keilmuan Islam yang datang dari semua ulama, ustadz, kiyai dan dari semua lembaga Keislaman yang jumlahnya ribuan di Indonesia termasuk diantaranya IAIN, Majelis Ulama, Dewan Da’wah dll. Mengapa demikian, karena menurut Nurhasan bahwa satu-satunya ulama yang punya ilmu Isnad/sandaran guru yang sampai ke Nabi Muhammad itu hanya dirinya, sedangkan ulama ulama yang dari Saudi Arabia/Mesir Al-Azhar itu dianggap batil/tidak sah/ilmunya haram. Misalnya saya sendiri sekitar akhir tahun 1979 saya yang berstatus mubailgh IJ yang ditugaskan oleh Amir untuk mengajar di kelompok pengajian Pegangsaan Barat Jakarta Menteng, tempat para artis mangkal disana, secara diam-diam saya mendaftarkan diri masuk ke sekolah yang dikelola oleh Universitas Islam Muhammad bin Saud yang ada di Jakarta pada waktu itu namanya maih LPBA (Lembaga Pengajaran Bahasa Arab) yang sekarang telah beribah nama menjadi LIPIA (Lembaga Pengajaran Ilmu-Ilmu Islam dan Bahasa Arab) dan Alhamdulillah saya sempat mendapat masukan ilmu-ilmu Islam dari lembaga tersebut walau hanya sempat tiga tahun, setelah itu saya ketahuan bahwa saya sekolah. Akhirnya saya dipanggil oleh Amir Daerah Jakarta Puat, lalu di interogasi, apakah saya telah belajar bahasa Arab dan Ilmu Islam di sekolah tersebut di atas, saya jawab ya, lantas saya disuruh taubat kepada Amir dengan menulis pernyataan telah melanggat ba’iat Amir, dan kafarohnya (semacam hukuman/gantinya) saya dilarang mengajar/diskors tidak boleh mengadakan kegiatan kemubalighan lagi, karena katanya ilmunya sudah tercemar dan dianggap menodai ajaran manqul bisa jadi tidak murni lagi. Lalu Amir tersebut sambil berkata sama saya: “ Kita orang ini (Islam Jamaah) adalah ahli sorga semuanya, jadi tidak usah belajar bahasa Arab, nanti di sorga akan bisa bahasa Arab sendiri. Pokoknya yang penting kita menepati Lima Bab yaitu doktrin setelah berba’iat 1. Mengaji, 2. Mengamalkan, 3. Membela, 4. Berjama’ah, 5. Taat  Allah, Rosul, Amir, pasti wajib tidak boleh tidak masuk sorganya.”

Inilah bahaya ilmu manqul itu. Coba kita bayangkan, di dunia ini hanya ilmunya Nurhasan dan gerombolannya yang sah dan diakui oleh Allah dan Raul. Bukankah ini suatu penipuan besar-besaran di tengah-tengah lautan umat Islam di jagat raya ini? Kerusakan mana lagikah yang lebih besar dari pada doktrin Ilmu Manqul tersebut dan akibatnya Amir dan para mubalighnya dengan cara sewenang-wenang melecehkan/menghina/mencaci terhadap ulama-ulama kita. Misalnya, almarhum Buya Hamka pada waktu masih menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia pernah diundang di markas Islam Jamaah di Wisma Tawakal di belakang Rumah Sakit Sumberwaras Jakarta, hanya untuk lelucon/dihina dan dilecehkan. Bahkan Buya Hamka sempat disuruh menjadi Imam Sholat dan semua berpura-pura sholat dibelakangnya, begitu almarhum Buya Hamka pulang, langsung Amirnya menyuruh Jamaahnya untuk Iqomat dan sholat lagi, karena sholat yang tadi tidak sah. Ini akibat faham ilmu Manqul. Jadi jangan harap yang namanya kelompok IJ ini mau sholat dibelakang kita non IJ sekalipun orang tua sendiri atau suami isteri.

Sampai pernah ada kejadian, salah satu anggota IJ, bapaknya meninggal. Karena bapaknya belum ber Amir dan berbai’at, jadi hukumnya mati kafir. Maka seorang anak tidak boleh mendoakan dan menholati jenazah bapaknya, tetapi karena didesak sama keluarga dan famili yang lain, akhirnya dengan terpaksa dia mensholati, tetapi tidak berwudhu karena takut melanggar bai’at. Daripada melanggar ba’iat yang akhirnya masuk neraka, lebih baik menipu Allah dan membohongi sanak keluarga beserta kaum muslimin lainnya. Sifat ini kalau bukan orang munafiq siapa lagi! Seperti firman Allah dalam surat 2 ayat 9, yaitu ada orang yang kerjanya menipu Allah dan Rasulnya beserta orang-orang Islam. Sehubungan dengan faham ilmu manqul itu mereka bersandar pada suatu ucapan seorang tabi’in yang bernama Abdullah bin Mubarok yang bisa kita lihat di dalam hadits Muslim Jilid I hal 9 Bab Muqodimah, yang berbunyi,

يقول عبد الله بن المبارك الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ماشاء

“Telah berkata Abdullah bin Mubarok: Isnad/sandaran itu termasuk daripada agama. Dan kalaulah tidak ada Isnad tentu orang akan mengatakan semau-maunya dalam agama ini”

Padahal maksud dari ucapan tersebut diperuntukkan bagi ahli hadits yang sudah tentu harus agar setiap hadit yang ditulisnya jelas dari mana sumbernya sehingga dengan mudah diketahui mana hadits yang Shohih, Dho’if, Maudlu’. Seperti Imam Ahmad, Bukhori Muslim, Nasa’I, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dll. Yang jelas bukan seperti pemahaman Nurhasan Ubaidah dan para gerombolannya (GIJ), untuk menipu dan memaksa orang Islam bahwa hanya boleh berguru/belajar ilmu kepada Amir dan mubaligh-mubaligh IJ saja.

Zainal Arifin Aliy (Mantan Da’i/Mubaligh Islam Jama’ah yang telah bertaubat kepada Allah)

Referensi:

  • Bahaya Islam Jamaah Lemkari LDII, LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam),  hlm. 40 – 46.

berlebihan dalam berdoa

Mengaminkan Doa Orang Kafir

Bolehkah mengaminkan doa orang non muslim? Misalnya mereka mengucapkan di samping kita, semoga kamu cepet lulus?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, ulama berbeda pendapat tentang status doa orang kafir. Mungkinkah doa mereka dikabulkan?

Sebagian ulama menyatakan doa mereka mungkin saja dikabulkan dan ada yang menyatakan, doa orang kafir tidak mungkin dikabulkan. Dan kami menguatkan pendapat bahwa doa orang kafir mungkin saja dikabulkan di dunia, bukan karena Allah menyayangi mereka, namun sebagai penundaan atas hukuman yang Allah berikan kepada mereka.

Kajian tentang ini telah kita bahas di Mungkinkah Doa Orang Kafir Dikabulkan?

Kedua, para ulama yang berpendapat doa orang kafir tidak mungkin dikabulkan, mereka menegaskan tidak boleh mengamini doa orang kafir. Karena percuma mengamini doa mereka, sementara bisa dipastikan bahwa Allah tidak akan mengabulkannya.

Imam Umairah menukil keterangan ar-Ruyani (w. 307 H), yang melarang mengaminkan doa orang kafir, karena doa mereka tidak mungkin dikabulkan.

قال الشيخ عميرة : قال الروياني: لا يجوز التأمين على دعاء الكافر ؛ لأنه غير مقبول

Syaikh Umairah menukil, bahwa ar-Ruyani mengatakan, ‘Tidak boleh mengaminkan doa orang kafir, karena doa mereka tidak dikabulkan.’ (Hasyiyah al-Jamal, 3/576).

Ketiga, sebagian ulama yang berpendapat bahwa doa orang kafir mungkin dikabulkan, memberikan rincian untuk hukum mengaminkan doa orang kafir.

Jika mengaminkan doa orang kafir ini dianggap sebagai penghormatan kepada orang kafir, atau menimbulkan salah paham di tengah orang awam agama, sehingga menganggap apa yang dilakukan orang kafir itu benar, maka dalam kondisi ini mengaminkan doa mereka dilarang.

Dalam Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj dinyatakan,

ولو قيل : وجه الحرمة أن في التأمين على دعائه تعظيما له وتغريرا للعامة بحسن طريقته لكان حسنا

”Jika ada orang beralasan, pertimbangan terlarangnya mengaminkan doa orang kafir karena mengagungkan orang kafir atau menimbulkan salah paham orang awam sehingga menilai ibadah mereka benar, tentu ini alasan yang bisa diterima. (Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj, 7/473).

Jika doa yang mereka baca tidak bisa kita pahami maknanya, misalnya dengan menggunakan bahasa Ibrani atau bahasa sansekerta seperti yang dilakukan orang hindu, atau berupa bacaan mantra yang kita tidak memahaminya, atau isi doanya adalah doa keburukan, maka dilarang untuk mengaminkannya.

Jika doa yang diucapkan orang kafir adalah doa kebaikan atau doa agar dirinya mendapat hidayah, atau mendoakan kaum muslimin agar mendapatkan kemenangan, maka boleh mengaminkannya.
Keterangan al-Adzru’i yang dinukil dalam Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj,

ثم رأيت الأذرعي قال : إطلاقه بعيد ، والوجه جواز التأمين بل ندبه إذا دعا لنفسه بالهداية ولنا بالنصر مثلا ومنعه إذا جهل ما يدعو به ؛ لأنه قد يدعو بإثم أي بل هو الظاهر من حاله.

”Kemudian saya pernah melihat al-Adzru’i mengatakan, ’Menilai semua doa orang kafir tidak boleh diaminkan, terlalu jauh. Terdapat pendapat bahwa boleh mengaminkan doa orang kafir, bahwa dianjurkan, jika doa yang mereka panjatkan adalah permohonan hidayah untuk dirinya, atau doa permohonan pertolongan untuk kita (kaum mukminin). Dan dilarang apabila kita tidak mengetahui apa yang mereka doakan, karena bisa jadi dia memanjatkan doa yang isinya dosa. Bahkan itu yang paling mungkin terjadi, melihat latar belakang agamanya. (Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj, 7/473).

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

ويجوز التأمين على دعاء الكافر لنفسه بالهداية وللمؤمنين بالنصرة ونحوه؛ بل يجوز الدعاء للكافر الذمي بالشفاء والصحة كما نص على ذلك جمع من أهل العلم، وإنما الحرام الدعاء له بالمغفرة لقول الله تعالى: مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Boleh mengaminkan doa orang kafir untuk dirinya agar mendapatkan hidayah. Atau doa orang kafir untuk kaum mukminin agar mereka mendapat pertolongan atau semacamnya. Bahkan boleh mendoakan kebaikan untuk orang kafir Dzimmi agar mereka mendapatkan kesembuhan atau kesehatan. Sebagaimana yang ditegaskan oleh sekelompok ulama. Yang dilarang adalah mendoakan orang non muslim dengan doa ampunan. Berdasarkan firman Allah,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (QS. At-Taubah: 113)

Sumber: Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 29836

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

aliran ldii-jokam-354

Mengenal Ajaran LDII

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu,

Hati adalah penguasa dan pengendali bagi jasad manusia. Dia ibarat raja, sementara anggota badan lainnya layaknya pasukan, yang hanya akan bergerak sesuai kehendak sang raja.

Dalam hadis, dari sahabat Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

Ketahuilah, di dalam jasad ini ada segumpal daging. Apabila dia baik, maka seluruh jasad akan baik. Jika segumpal daging ini rusak, maka seluruh badan akan rusak. Segumpal daging ini adalah hati. (HR. Bukhari 52, Muslim 1599, dan yang lainnya).

Lalu apa yang mengendalikan hati?

Jawabannya adalah ideologi, keyakinan, dan aqidah. Inilah pengendali hati. Manusia rela untuk melakukan apapun, demi ideologi. Orang syiah rela untuk melumuri badannya dengan kotoran tokoh mereka, karena ideologi. Orang LDII rela membayar ratusan juta, karena ideologi. Bahkan ada orang yang rela nyumbang nyawa dengan bom bunuh diri, semua karena ideologi. Manusia bersedia untuk melakukan apapun, demi ideologi yang dia miliki.

Karena itulah, ideologi tidak mungkin dilawan dengan kekerasan. Melibatkan kekerasan, justru membuat ideologi semakin mengakar dalam diri seseorang. Yang bisa kita lakukan adalah melawan ideologi dengan ideologi. Patahkan alasan ideologi kelompok sesat, untuk dikembalikan kepada ideologi yang benar.

Landasan Ideologi LDII

Banyak orang yang merasa resah dengan keberadaan LDII di Indonesia. Meskipun berkali-kali lembaga terkait telah mengeluarkan fatwa sesat dan mendesak pemerintah untuk membubarkan LDII, namun hingga sekarang, kelompok ‘pecandu imam’ ini masih bisa lestari di tempat kita. Menunjukkan betapa Indonesia merupakan lahan yang sangat subur untuk penyebaran semua aliran menyimpang.

Yang lebih penting di sini, memahami landasan ideologi LDII. Dimana, karena ideologi ini, mereka menjadi kelompok ekstrim eksklusif, hingga menganggap sesat atau bahkan kafir semua orang yang berada di luar kelompoknya, dan klaim hanya mereka yang pasti masuk surga.

Berikut beberapa bukti pernyataan tokoh LDII, yang menunjukkan sikap ekstrim mereka kepada kaum muslimin lainnya,

Dalam salah satu makalah LDII dinyatakan:

Dan dalam nasehat supaya ditekankan bahwa bagaimanapun juga cantiknya dan gantengnya orang-orang di luar jama’ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh Allah, musuh orang iman, calon ahli neraka, yang tidak boleh dikasihi,” (Makalah LDII berjudul Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ah dengan kode H/ 97, halaman 8).

Kemudian, keterangan Imam LDII dalam teks yang berjudul ”Rangkuman Nasehat Bapak Imam” di CAI (Cinta Alam Indonesia, semacam jambore nasional khusus untuk muda mudi LDII) di Wonosalam, Jombang tahun 2000. Pada poin ke-20 (dari 50 poin dalam 11 halaman), dinyatakan,

Dengan banyaknya bermunculan jamaah-jamaah sekarang ini, semakin memperkuat kedudukan jamaah kita (LDII, pen.). Karena betul-betul yang pertama ya jamaah kita. Maka dari itu jangan sampai kefahamannya berubah, sana dianggap baik, sana dianggap benar, akhirnya terpengaruh ikut sana. Kefahaman dan keyakinan kita supaya dipolkan. Bahwa yang betul-betul wajib masuk sorga ya kita ini.” (CAI 2000, Rangkuman Nasehat Bapak Imam di CAI Wonosalam, poin ke-20)

Kita kembali ideologi LDII. Sebenarnya apa landasan ideologi LDII, sehingga mereka tega mengkafirkan dan menyesatkan seluruh kaum muslimin di luar kelompoknya? Bahkan berani main kapling surga seenaknya. Ada beberapa doktrin yang menjadi ideologi LDII. Agar lebih terarah, di bagian ini kita akan fokuskan untuk mengkaji ideologi manqul. Karena ini yang paling mendasar.

Apa itu Manqul LDII?

Manqul artinya dinukil, diambil langsung dari sumbernya dengan berhadap-hadapan. Tidak melalui tulisan, atau media komunikasi lainnya. Misalnya Seorang murid A dianggap manqul ke guru B, ketika A mendatangi B untuk mempelajari ilmu tertentu darinya. Secara garis besar, doktrin manqul LDII sebagai berikut,

  1. Ilmu itu dianggap sah jika terpenuhi 3 syarat [1] manqul (diterima langsung dari guru), [2] musnad (mempunyai sandaran yang disebut sanad), dan [3] mutashil (bersambung) sampai ke Rasulullah. Sehingga ilmu baru dianggap sah jika memiliki kriteria Manqul Musnad Muttashil (MMM).
  2. Pengakuan Nur Hasan bahwa dia belajar hadis di Mekah belasan tahun, memberi pengaruh kuat kepada masyarakat yang awam tentang islam. Sehingga mudah percaya dengan apa yang diucapkan Nur Hasan.
  3. Nur Hasan mengklaim, dirinya satu-satunya yang memiliki sanad muttashil (bersambung)  untuk semua kitab hadis. Dia juga mengklaim bahwa dirinya satu-satunya jalur untuk menimba ilmu yang sah secara musnad muttashil di Indonesia bahkan di seluruh dunia.
  4. Atas dasar itu, mereka memiliki doktrin bahwa ilmu hanya sah jika dimanqul dari Nur Hasan dan murid-muridnya.
  5. Bila ilmu tidak MMM dari Nur Hasan dan murid-muridnya maka ilmunya tidak sah.
  6. Konsekwensinya seluruh ibadah dilakukan tanpa dasar ilmu yang sah.
  7. Jika ilmu tidak sah, maka semua amal tidak sah alias batal. Sehingga syahadatnya batal, shalatnya batal, puasanya batal, zakatnya batal, dan semua amalnya batal.
  8. Orang yang semua amalnya batal maka dia kafir. Dan setiap orang kafir maka dia najis, tidak boleh menikah dengan mereka, dst.

Sebagai ilustrasi:

Ada dua orang A dan B yang sama-sama ingin belajar shahih Bukhari. Si A manqul kitab shahih Bukhari dari X (seorang dai LDII), dengan dia mendatangi X dan X akan membacakan isi kitab shahih Bukhari kepada si A. sementara si B membaca sendiri kitab shahih Bukhari, tanpa mendatangi si X.

Menurut LDII, ilmu yang diperoleh si A dengan cara manqul ke X adalah ilmu yang sah. Dengan itu, si A bisa mengamalkan ilmu tersebut. Sementara, ilmu yang diperoleh si B dengan belajar dan membaca sendiri shahih Bukhari, dinilai tidak sah, dan belum sah juga untuk diamalkan.

Meskipun kesimpulan yang dimiliki si A dan si B 100% sama, karena kitab yang dipelajari sama. Bagian ini yang perlu kita catat tebal.

Bantahan untuk Ideologi Manqul

Ada dua hal yang perlu kita luruskan dari ideologi manqul LDII Pertama, tentang syarat sah ilmu harus diperoleh secara manqul Kedua, tentang satu-satunya manqul yang sah harus manqul LDII

Bantahan Untuk Aqidah Manqul

Pertama, keyakinan bahwa ilmu yang sah hanya bisa diperoleh secara manqul, bertentangan dengan dalil-dalil al-Quran dan hadis yang menunjukan bahwa sampainya ilmu kepada seseorang tidak harus dengan manqul. Bahkan kapanpun ilmu itu sampai kepadanya, selama kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan, maka ilmu itu adalah sah dan harus diamalkan. Allah berfirman,

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

Telah diwahyukan kepadaku (Muhammad) al-Quran ini, agar aku memberi peringatan kepada kalian dengan al-Quran ini, dan siapa saja yang sampai kepadanya.  (QS. Al-An’am: 19).

Kalimat: [وَمَنْ بَلَغَ] : kepada siapapun yang al-Quran ini sampai kepadanya. Artinya, bukan syarat untuk mengimani isi al-Quran, dia harus bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selama dia membaca al-Quran, bisa memahaminya dengan benar, dia wajib mengimani dan mengamalkan isi al-Quran itu. Walaupun dia tidak bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Katsir menukil  keterangan Muhammad bin Ka’b yang mengatakan,

من بلغه القرآن فكأنما رأى النبي صلى الله عليه وسلم

Siapa yang sampai kepada al-Quran seolah dia telah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/245).

Anda bisa membayangkan, ketika ada orang islam yang membaca satu ayat atau hadis dari sebuah tulisan dan dia bisa memahaminya, kemudian dia enggan mengamalkannya, dengan alasan nunggu manqul dulu dari tokoh  LDII. Betapa banyak perintah dan larangan yang akan dilanggar manusia!!

Kedua, surat-surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikirimkan ke berbagai penguasa kafir.

Orang yang melek sejerah, tentu pernah mendengar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa kali menyampaikan surat kepada para raja kafir, mengajak mereka untuk masuk islam. Surat ini dibaca oleh mereka sendiri atau melalui penerjemahnya. Demikian pula para khulafa’ ar-Rasyidun, mereka mengirim surat kepada para sahabat yang berada di berbagai penjuru negeri.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada Kisra, Qaishar, Najasyi dan kepada selurus penguasa, mengajak mereka kepada Allah. Namun bukan an Najasyi yang jenazahnya dishalati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Bukhari no. 7 dan Muslim no. 4583). Al-Khatib al-Baghdadi menegaskan,

وإن كتب النبي صلى الله عليه و سلم قد صارت دينا يدان بها والعمل بها لازم للخلق وكذلك ما كتب به أبو بكر وعمر وغيرهما من الخلفاء الراشدين فهو معمول به

“Sungguh surat-surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi agama yang harus dianut dan wajib diamalkan isinya bagi umat manusia.Demikian pula surat-surat Abu Bakar, Umar dan surat para Khulafar ar Rasyidin lainnya, semua harus diamalkan isinya.” (al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah, 344)

Anda bisa bayangkan, andai sistem manqul harus mereka terapkan sebagai syarat keabsahan ilmu. Tentu para raja itu berhak untuk menolak isi surat dan meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendatangi mereka mengajarkan islam secara manqul.

Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, cara inipun dipakai oleh para sahabatnya seperti surat Umar kepada Abu Musa al ‘Asy ‘ari yang terdapat didalamnya hukum-hukum yang berkaitan dengan Qadha’. Demikian pula Aisyah menulis surat kepada Hisyam bin Urwah berisi tentang shalat. (al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah, 343).

Jika kita menerapkan sistem manqul LDII, berarti semua isi surat di atas tidak berlaku, hingga mereka harus menemui penulisnya langsung dan manqul darinya.

Ketiga, riwayat munawalah, ijazah, mukatabah, wasiat, dan wijadah Para ulama masa silam, mereka mendapatkan hadis dari gurunya dengan berbagai cara. Ada yang ketemu langsung, dari lisan ke lisan. Ada yang ketemu namun hanya diberi tulisan. Ada yang tidak ketemu, namun dikirimi surat dari gurunya. Ada yang tidak ketemu orangnya, namun menemukan tulisan gurunya. Hingga ada yang melalui wasiat. Beberapa istilah periwayat di atas, munawalah, ijazah, mukatabah, wasiat, dan wijadah, semuanya dilakukan TANPA menggunakan sistem manqul.

Berikut pengertian masing-masing,

1. Munawalah

Seorang guru menulis semua hadis yang dia anggap shahih atau mengumpulkan hadis-hadis yang menjadi pilihannya, kemudian dia sampaikan kepada muridnya: ’Ini hadis riwayatku, silahkah kamu riwayatkan dariku.’ Atau dia berpesan, ’Silahkan salin kitab ini, lalu kembalikan kepadaku, dan aku izinkan kamu untuk menyampaikan riwayat buku ini dariku.’ Semua periwayatan ini tanpa sepeserpun murid mendengar dari gurunya. Meskipun demikian, para ulama hadis, diantaranya Imam Malik menegaskan bahwa ini sama dengan mendengar langsung dari penulisnya. (al-Ilma’ ila Ma’rifah Ushul ar-Riwayah, hlm. 79).

2. Ijazah

Ijazah artinya pemberian izin untuk menyampaikan hadis yang diperoleh dari orang lain. Misalnya, seorang guru berpesan kepada muridnya, ’Silahkan kamu sampaikan ilmu dariku kepada orang lain.” Dengan kalimat ini, berarti sang murid telah mendapatkan Ijazah dari gurunya. Dalam periwayatan hadis, terkadang ada guru yang mengizinkan muridnya untuk menyampaikan kitab tertentu. Sementara sang guru tidak memberikan kitab itu kepada muridnya. Ini sering disebut al-Ijazah al-Mujarradah ’an al-Munawalah (ijazah tanpa munawalah).Dengan metode ini, berarti sang murid tidak pernah manqul kitab itu dari gurunya. (Muqadimah Ibnu Sholah, hlm. 86).

3. Mukatabah

Mukatabah sama dengan surat atau tulisan. Salah satu bentuknya, seorang guru menulis beberapa hadis, kemudian dia kirimkan kepada muridnya yang berada di tempat lain. (Muqadimah Ibnu Sholah, hlm. 89). Wasiat Seorang ulama berwasiat ketika mendekati kematian atau ketika safar kepada orang lain, dengan menyerahkan kitab kumpulan hadis yang beliau riwayatkan. (Muqadimah Ibnu Sholah, hlm. 101).

4. Wijadah

Wijadah dari kata wajada – yajidu yang artinya menemukan. Riwayat hadis secara wijadah bentuknya, seseorang menemukan kitab yang ditulis oleh ulama sebelumnya, padahal dia sama sekali belum pernah ketemu atau mendengar hadis darinya.

Ketika penemu kitab ini hendak menyampaikan hadis, dia bisa nyatakan dengan,

وجدت بخط فلان أو : قرأت بخط فلان أو : في كتاب فلان بخطه

”Saya temukan tulisan fulan, atau saya baca tulisan fulan, atau dalam kitab fulan yang dia tulis sendiri.” (Muqadimah Ibnu Sholah, hlm. 101) Berikut diantara contoh periwatan dengan wijadah, Keterangan Ibnu Umar, dimana beliau meriwayatkan dari ayahnya dengan al-Wijadah, dari Nafi, dari Ibnu Umar,

أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب صحيفة فيها ليس فيما دون خمس من ا لابل صدقة فإذا كانت خمسا ففيها شاة

‘Bahwa beliau mendapatkan pada gagang pedang umar sebuah lembaran (tertulis) ‘Tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari lima, kalau jumlahnya 5 maka zakatnya satu kambing.” (HR. al Khatib al Baghdadi dalam al kifayah, hlm. 354)

Anda bisa perhatikan, jika kita menerapkan sistem manqul LDII, niscaya akan banyak hadis yang dianggap tidak sah isinya.

Keempat, pada kenyataannya, mereka hanya mementingkan MMM, tidak mempedulikan keshahihan hadis. Dalam buku himpunan mereka ada hadits-hadits dha’if, bahkan maudhu’ (palsu). Lantas apalah artinya MMM kalau hadisnya tidak shahih karena rawinya tidak tsiqoh.

Doktrin kedua, manqul yang sah harus manqul LDII

Selanjutnya, kita bantah doktrin kedua dalam LDII, bahwa manqul yang sah hanya manqul LDII.

Jika tidak disebut kesombongan, cukup kita sebut pembodohan dan penipuan terhadap umat?!.

Betapa tidak, jika hanya ilmu orang LDII saja yang sah, dikemanakan ulama lainnya.

Ribuan orang yang belajar hadis di Mekah, Madinah, Yaman, dan negara islam lainnya. Semua dianggap ilmunya tidak sah, selain Madigol Nur Hasan??.

Kita tidak perlu berpanjang lebar di sini, mengingat doktrin picisan LDII paling bodoh ini hanya kesombongan dan pembodohan umat. Lebih dari itu, klaim para tokoh mereka selama di Mekah, dengan cerita berlebihan, ternyata hanya dusta. Lantas layakkah seorang pendusta diambil ilmunya, apalagi disebut mujtahid??

Anda bisa pelajari di: http://firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/301-rakyat-islam-jama-ah-dibohongi-rajanya-puluhan-tahun

Demikian, semoga bermanfaat.

Allahu a’lam.

tanda kiamat

Keadaan Orang Mukmin di Hari Kiamat

Assalamu’alaikum. permisi, saya ingin bertanya. Bagaimanakah keadaan orang mukmin di hari akhir? saya pernah dengar bahwa menjelang kiamat besar, sudah tidak ada orang beriman lagi?

Dari Rahmawati Nur Baeti

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara perlindungan yang Allah berikan kepada orang yang beriman, Allah jauhkan mereka sehingga tidak menjumpai kedahsyatan hari kiamat. Sementara mereka yang menjumpai peristiwa kiamat besar, hanya manusia kafir yang kehidupan dan karakternya paling jelek.

Berikut beberapa dalil yang menyebutkan hal itu,

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan keadaan orang-orang yang beriman hingga akhir zaman. Kemudian beliau bersabda,

ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ رِيحًا كَرِيحِ الْمِسْكِ مَسُّهَا مَسُّ الْحَرِيرِ، فَلَا تَتْرُكُ نَفْسًا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنَ الْإِيمَانِ إِلَّا قَبَضَتْهُ، ثُمَّ يَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ عَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

Kemudian Allah mengirim angin, seperti semerbak minyak wangi, sangat lembut rasanya seperti menyentuh sutera. Tidak ada satupun jiwa yang di dalam hatinya terselip iman sebesar biji, kecuali angin itu akan mematikannya. Kemudian tinggal tersisa manusia-manusia paling jelek. Di tengah merekalah, kiamat terjadi. (HR. Muslim 1942).

Hadis dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, dalam hadis panjang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang Dajjal dan turunnya Nabi Isa alaihis salam. Di akhir hadis, beliau bersabda,

فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللهُ رِيحًا طَيِّبَةً، فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ، وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ، يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

Setelah mereka hidup penuh gelimang dunia, Allah mengirim angin lembut. Angin itu melewati ketiak-ketiak mereka, dan membawa ruh setiap mukmin dan setiap muslim. Hingga yang tersisa adalah manusia terjelek. Mereka melakukan hubungan badan layaknya himar (keledai). Di tengah merekalah, kiamat terjadi. (HR. Muslim 2937).

Berdalil dengan keterangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan,

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شِرَارِ الْخَلْقِ، هُمْ شَرٌّ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ، لَا يَدْعُونَ اللَّهَ بِشَيْءٍ إِلَّا رَدَّهُ عَلَيْهِمْ

Kiamat hanya akan terjadi pada manusia yang paling jelek. Mereka lebih jelek dibandingkan orang jahiliyah. Setiap doa yang mereka panjatkan, pasti Allah tolak doanya. (HR. Muslim 1924 dan Ibnu Hibban 6836).

Tidak Ada Lagi Manusia yang Menyebut Nama Allah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ: اللهُ، اللهُ

Tidak akan terjadi kiamat, hingga tidak ada lagi orang yang di muka bumi ini menyebut: Allah… Allah.. (HR. Ahmad 12043, Muslim 148, Turmudzi 2207, dan yang lainnya).

اللَّهُمَّ أَمِتْنَا عَلَى اْلإِسْلَامِ وَعَلَى السُّنَّةِ

Ya Rab, matikanlah kami di atas islam dan sunah.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

aliran ldii-jokam-354

Mengenal LDII?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Akan datang di tengah umat manusia tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dianggap jujur, orang jujur dituduh pendusta. Pengkhianat diberi amanah, orang amanah dituduh pengkhianat, dan ruwaibidhah angkat bicara.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Apa itu Ruwaibidhah?’

Jawab beliau, ’Orang bodoh yang berbicara masalah umat islam.’ (HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Betapa banyak kaum muslimin awam, yang saat ini menjadi mangsa berbagai aliran menyimpang. Mulai dari syiah, ahmadiyah, nabi palsu Mushodiq, tak terkecuali LDII. Hampir semua pengikutnya adalah orang awam agama, korban ideologi.

Sekilas tentang LDII

LDII didirikan oleh Nur Hasan Ubaidah Lubis, sekitar tahun 1951 di desa Burengan Banjaran, Kediri, Jawa Timur. Pertama berdiri, kelompok ini bernama Darul-Hadits.

Kemudian di tahun 1968, Darul Hadits dilarang dan dibubarkan oleh PAKEM (Pengurus Aliran Kepercayaan Masyarakat) Jawa Timur. Setelah dibubarkan, Darul Hadis mereka ganti nama dengan Islam Jama’ah (IJ).

Karena menyimpang dan meresahkan masyarakat, terutama di Jakarta, secara resmi IJ dilarang di seluruh Indonesia, dengan Surat Keputusan Jaksa Agung RI No. Kep. 08/D.4/W.1971 tanggal 29 Oktober 1971

Setelah dibubarkan, Madigol mencari taktik dengan mendekati Letjen Ali Murtopo (Wakil Kepala Bakin dan staf Opsus – Operasi Khusus Presiden Suharto). Padahal seperti yang kita kenal, Ali Murtopo sangat anti terhadap Islam.

Dengan perlindungan Ali Murtopo, tanggal 1 Januari 1972, IJ ganti nama ‘Lemkari’ (Lembaga Karyawan Islam atau Lembaga Karyawan Dakwah Islam) di bawah payung Golkar.

Karena menyimpang dan menyusahkan masyarakat, tahun 1988, Lemkari dibekukan oleh Gubernur Jawa Timur, Soelarso, dengan SK No. 618 tahun 1988. Kemudian pada November 1990, diadakan Musyawarah Besar Lemkari di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, dan berganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) atas anjuran Menteri Dalam Negeri, Rudini, dengan alasan agar tidak rancu dengan Lembaga Karatedo Republik Indonesia.

Mengenal Sosok Pendiri LDII, Nur Hasan Ubaidah?

  • Nur Hasan lahir tahun 1915 di desa Bangi, Purwosari, Kediri. Pendapat lain yang mengatakan, dia lahir tahun 1908.
  • Nama kecil Madikal atau Madigol.
  • Pendidikan formal hanya setingkat kelas 3 SD sekarang.
  • Pernah belajar di pondok Semelo Nganjuk, lalu pindah ke pondok Jamsaren Solo yang hanya bertahan sekitar tujuh bulan.
  • Dia dikenal suka terhadap perdukunan. Hingga dia belajar di pondok yang khusus mendalami pencak silat di Dresmo Surabaya.
  • Dari Dresno dia melanjutkan belajar kepada Kyai Ubaidah di Sampang, Madura. Karena ngeFans dengan gurunya, dia gunakan nama gurunya menjadi nama dirinya.
  • Kegiatannya: mengaji dan melakukan wiridan di sebuah kuburan yang dikeramatkan.
  • Dia juga pernah mondok di Lirboyo, Kediri dan Tebu Ireng, Jombang.
  • Lalu berangkat naik haji tahun 1929.
  • Sepulang haji namanya diganti dengan Haji Nur Hasan. Jadilah Haji Nur Hasan Ubaidah.
  • Sementara nama ’Lubis’ konon itu panggilan murid-muridnya, singkatan dari luar biasa.

Nur Hasan Ubaidah Belajar Hadis di Mekah?

Dua Versi tentang Kegiatan Nur Hasan Ketika di Mekah,

Pertama, dia berangkat naik haji ke Makkah tahun 1933,
kemudian belajar Hadits Bukhari dan Muslim kepada Syaikh Abu Umar Hamdan dari Maroko. Lalu belajar lagi di Madrasah Darul-Hadits yang tidak jauh dari Masjidil Haram.
Nama Darul-Hadits ini yang dipakai untuk pesantrennya.

Kedua, Dia pergi ke Makkah bukan tahun 1933, tetapi sekitar 1937/1938 untuk melarikan diri setelah terjadi keributan di Madura. Dia juga tidak pernah belajar di Darul-Hadits, berdasarkan keterangan oleh pihak Darul-Hadits tatkala ada orang yang tabayyun (klarifikasi) ke sana.

Salah satu versi menyebutkan tentang kegiatan Nur Hasan di Makkah, konon menurut teman dekatnya waktu di Mekah, dia belajar perdukunan kepada orang Baduwi dari Iran, dan dia tinggal di Makkah selama 5 tahun.

Nur Hasan Pulang ke Indonesia

  • Ketika pulang ke Indonesia pada tahun 1941, dia membuka pengajian di Kediri dan dia mengaku sudah bermukim di Mekkah selama 18 tahun.
  • Pada mulanya pondoknya biasa-biasa saja, hingga tahun 1951, ia memproklamirkan nama pondoknya dengan nama Darul-Hadits.
  • Dia mengaku memiliki sanad semua kitab induk hadis. Dan hanya dia satu-satunya yang berhak diambil ilmunya oleh masyarakat.
  • Nur Hasan meninggal tanggal 31 Maret 1982 dalam kecelakaan lalu lintas di jalan raya Tegal–Cirebon, tatkala ia ingin menghadiri kampanye Golkar di lapangan Banteng Jakarta.
  • Kemudian status imam digantikan putranya Abdu Dhahir yang di-bai’at sebelum mayat bapaknya dikuburkan, di hadapan tokoh-tokoh LDII. Sebagai saksi bahwa putranya yang berhak mewarisi seluruh harta kekayaan LDII.

Fatwa dan Pernyataan Sesat untuk LDII

Berikut beberapa keputusan MUI dan beberapa organisasi yang menyatakan kesesatan LDII dan aliran yang memiliki ajaran serupa.

1. MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan Ahmadiyah agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:
“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah. MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

2. Surat 21 orang keluarga R. Didi Garnadi dari Cimahi Bandung menyatakan sadar, insyaf, taubat dan mencabut Bai’at mereka terhadap LDII, Oktober 1999. Dalam surat itu dinyatakan di antara kejanggalan LDII hingga mereka bertaubat dan keluar dari LDII, karena: Dilarang menikah dengan orang luar Kerajaan Mafia Islam jama’ah, LEMKARI, LDII karena dihukumi Najis dan dalam kefahaman Kerajaan Mafia Islam Jama’ah, LEMKARI, LDII bahwa mereka itu BINATANG. (Lihat surat 21 orang dari Cimahi Bandung yang mencabut bai’atnya terhadap LDII alias keluar ramai-ramai dari LDII, surat ditujukan kepada DPP LDII, Imam Amirul Mu’minin Pusat , dan pimpinan cabang LDII Cimahi Bandung, Oktober 1999, dimuat di buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 276- 280).

3. Penipuan Triliunan Rupiah: Kasus tahun 2002/2003 ramai di Jawa Timur tentang banyaknya korban apa yang disebut investasi yang dikelola dan dikampanyekan oleh para tokoh LDII dengan iming-iming bunga 5% perbulan. Ternyata investasi itu ada tanda-tanda duit yang telah disetor sangat sulit diambil, apalagi bunga yang dijanjikan. Padahal dalam perjanjian, duit yang disetor bisa diambil kapan saja. Jumlah duit yang disetor para korban mencapai hampir 11 triliun rupiah. Di antara korban itu ada yang menyetornya ke isteri amir LDII Abdu Dhahir yakni Umi Salamah sebesar Rp 169 juta dan Rp 70 juta dari penduduk Kertosono Jawa Timur. Dan korban dari Kertosono pula ada yang menyetor ke cucu Nurhasan Ubaidah bernama M Ontorejo alias Oong sebesar Rp22 miliar, Rp 959 juta, dan Rp800 juta. Korban bukan hanya sekitar Jawa Timur, namun ada yang dari Pontianak Rp2 miliar, Jakarta Rp2,5 miliar, dan Bengkulu Rp1 miliar. Paling banyak dari penduduk Kediri Jawa Timur ada kelompok yang sampai jadi korban sebesar Rp900 miliar. (Sumber Radar Minggu, Jombang, dari 21 Februari sampai Agustus 2003, dan akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah karya H.M.C. Shodiq, LPPI Jakarta, 2004. ).

4. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat: Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 06 Rabiul Awwal 1415H/ 13 Agustus 1994M, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Ketua Umum: K.H. Hasan Basri, Sekretaris Umum: H.S. Prodjokusumo.

5. Fatwa Majelis Ulama DKI Jakarta: Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 20 Agustus 1979, Dewan Pimpinan Majelis Ulama DKI Jakarta, K.H. Abdullah Syafi’ie ketua umum, H. Gazali Syahlan sekretaris umum.

6. Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa Agung tahun 1971: Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa.

Menetapkan: Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia. Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama. Ketiga: Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan: Djakarta pada tanggal: 29 Oktober 1971, Djaksa Agung R.I. tjap. Ttd (Soegih Arto).

7. Kesesatan, penyimpangan, dan tipuan LDII diuraikan dalam buku-buku LPPI tentang Bahaya Islam Jama’ah, Lemkari, LDII (1999); Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah (2004).
8. LDII aliran sempalan yang bisa membahayakan aqidah umat, ditegaskan dalam teks pidato Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan

Agama Ir. Soetomo, SA, Mayor Jenderal TNI bahwa “Beberapa contoh aliran sempalan Islam yang bisa membahayakan aqidah Islamiyah, yang telah dilarang seperti: Lemkari, LDII, Darul Hadis, Islam Jama’ah.” (Jakarta 12 Februari 2000, Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Agama, Ir. Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI).

9. LDII dinyatakan sesat oleh MUI karena penjelmaan dari Islam Jamaah. Ketua Komisi fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) KH Ma’ruf Amin menyatakan, Fatwa MUI: LDII sesat. Dalam wawancara dengan Majalah Sabili, KH Ma’ruf Amin menegaskan: Kita sudah mengeluarkan fatwa terbaru pada acara Munas MUI (Juli 2005) yang menyebutkan secara jelas bahwa LDII sesat. Maksudnya, LDII dianggap sebagai penjelamaan dari Islam Jamaah. Itu jelas!” (Sabili, No 21 Th XIII, 4 Mei 2006/ 6 Rabi’ul Akhir 1427, halaman 31).

Simbol Lambang LDII

Simbol, lambang atau nama yang biasa dipakai LDII diantaranya MADIGOL, ISLAM JAMA’AH, LEMKARI, ASAD, GALIPAT, MBAHMAN, JOKAM dan 354.

Referensi:

  • Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta
  • Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Kautsar

tanda dajjal

Dajjal Muncul di Iran

Benarkah dajjal muncul di Iran? Aq pernah denger omongan org seperti itu. Tapi kan gak jelas, jadi butuh bukti. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berbicara masalah aqidah, masalah keyakinan, berita ghaib, dst, prinsip yang perlu kita kedapankan adalah mendengar dan pasrah. Selama informasi yang menjadi sumber berita itu bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Karena konsekuensi iman kita terhadap al-Quran dan hadis adalah meyakini setiap berita yang disebutkan dalam al-Quran dan hadis shahih itu (baca: Dajjal Menghidupkan Orang Mati?)

Karena itulah, dalam masalah aqidah, ulama menyebutnya sebagai masalah sam’iyat. Masalah yang hanya bisa didengar, dan tidak ada ruang bagi akal untuk ikut terlibat, sekalipun menurut sebagian orang tidak masuk akal.

Seluruh informasi tentang Dajjal, termasuk masalah aqidah dan keyakinan. Karena munculnya Dajjal, bagian dari tanda akhir zaman, yang itu tidak mungkin bisa kita ketahui kecuali berdasarkan informasi dari wahyu. Dengan demikian, peristiwa munculnya Dajjal hanya bisa dekati dengan prinsip mendengar dan pasrah.

Dajjal Muncul di Iran?

Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan hal itu. Diantaranya,

Hadis dari Fatimah binti Qais bahwa beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Dajjal. Salah satu diantara yang beliau sampaikan,

أَلاَ إِنَّهُ فِى بَحْرِ الشَّامِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ لاَ بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ ما هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ». وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْمَشْرِقِ

“Tidaklah dia (Dajjal) di laut syam, atau laut Yaman, tidak. Tetapi dari arah Timur. Dia dari arah Timur, dia dari arah Timur..” dan beliau berisyarat dengan tangannya ke arah Timur. (HR. Muslim 2942, dan Abu Daud 4326).

Apa Maksud Arah Timur?

Arah mata angin dalam bahasa syariat, hanya ada 4: utara, selatan, timur, dan barat. Tidak dikenal arah tenggara, timur laut, barat daya, atau barat laut. Karena itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan arah kiblat penduduk kota Madinah, beliau bersabda,

مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Daerah antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Nasai 2243, Turmudzi 342, Ibnu Majah 1011 dan dishahihkan al-Albani).

Kota Madinah, berada di utara Mekah. Selama penduduk Madinah menghadap ke arah selatan (antara timur dan barat) maka dia dianggap telah menghadap kiblat.

peta saudi dan timur tengah
Gambar 1. Peta Saudi & Timur Tengah

Kita kembali pada hadis keluarnya Dajjal di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan, Dajjal muncul dari arah timur. Timur yang mana? Dalam hadis itu tidak ditegaskan. Dan jika kita pahami berdasarkan bahasa syariat, semua daerah yang berada di antara utara dan selatan dari kota Madinah,masuk dalam cakupan hadis itu. Sekalipun dia agak serong ke utara. Sehingga mencakup daerah Saudi timur, Irak, Iran, dan negara-negara asia timur.

Hadis ini Menegaskan Dajjal Keluar di Iran

Kemudian, terdapat hadis shahih lainnya yang menegaskan kota tempat keluarnya Dajjal.

Dari Abu Bakr ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

الدَّجَّالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالمَشْرِقِ يُقَالُ لَهَا: خُرَاسَانُ

“Dajjal keluar dari daerah di sebelah Timur, namanya Khurasan.” (HR. Ahmad 33, Tumudzi 2237, Ibnu Majah 4072, dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Arah timur yang menjadi tanda tanya, telah ditegaskan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Daerah timur yang beliau maksud adalah daerah Khurasan.

Keterangan di atas, diperkuat oleh riwayat lain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنْ يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ، وَمَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْيَهُودِ

“Dajjal akan keluar dari daerah Yahudiyah Asbahan. Dia bersama 70 ribu orang Yahudi.” (HR. Ahmad 13344, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3639, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

peta negara iran
Gambar 2. Peta Iran

Apa itu Khurasan dan Asbahan?

Khurasan: Satu wilayah yang luas di sebelah Timur Jazirah Arab. Saat ini, yang termasuk wilayah Khurasan: Nishapur (Iran), Herat (Afganistan), Merv (Turkmenistan), dan berbagai negeri di Selatan sungai Jihun (sungai Amu Darya) (Mu’jam al-Buldan, 2:350).

Asbahan: Sering juga disebut Asfahan. Termasuk wilayah Iran. 340 km di Selatan Teheran. Ketika Bukhtanshar menyerang Baitul Maqdis dan menjadikan penduduknya sebagai tawanan, bersama orang Yahudi. Kemudian mereka ditempatkan di Asfahan. Akhirnya wilayah tersebut dinamakan kampung Yahudiyah. Ibu kota Asfahan saat ini adalah Yahudiyah (Mu’jam al-Buldan, 1:208).

Hadisnya Bertentangan?

Dua hadis yang menyebutkan kota tempat keluarnya Dajjal di atas, nampaknya tidak sepakat. Yang satu mengatakan, di Khurasan dan satunya mengatakan Asbahan. Mana yang benar, Asfahan ataukah Khurasan?

Jika Anda perhatikan peta negara Iran, Khurasan dan Asfahan berimpit di bagian Timur Laut wilayah Iran. Kita tidak tahu pasti awal kali Dajjal muncul di titik yang mana. Yang jelas, di dua daerah, pertama kali Dajjal muncul dan mendapatkan banyak pengikut.

Dan benarlah apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Catatan dari Frances Harrison dari BBC News, yang dilansir pada September 2006, bahwa di Teheran ada sekitar 25 ribu Yahudi di negeri Iran. Meskipun lagaknya melawan zionis, tapi Iran menjadi tempat yang aman bagi Yahudi. Pemimpin komunitas Yahudi Iran, Mr. Hammami mengaku bahwa Khomaini membedakan antara Yahudi dan Zionis. Dan dia mendukung kami. Dari sinilah Anda bisa mendapatkan jawaban, mengapa Dajjal muncul di Iran.

Dajjal Mulai Terkenal

Hanya saja, fenomena kehadiran Dajjal mulai semarak dan dikenal di kalangan umat manusia, setelah dia berada di daerah antara Irak dan Syam (kawasan 4 negara: Suriah, Palestina, Libanon, dan Yordania).

Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنه خارج خلة بين الشأم والعراق، فعاث يمينا وعاث شمالا، يا عباد الله فاثبتوا

“Dajjal keluar di daerah antara Syam dan Iraq. Kemudian dia membuat kerusakan di sebelah kanan dan kirinya. Wahai hamba Allah! Kuatkan iman kalian!” (HR. Muslim 2937 dan Ibn Majah 4075).

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:

فيكون بدء ظهوره من أصبهان من حارة منها يقال لها اليهودية وينصره من أهلها سبعون ألف يهودي

“Pertama mulai munculnya Dajjal di Asbahan, tepatnya di dataran bebatuan, yang dinamakan kampung Yahudiyah. Dajjal dibela oleh 70 ribu orang yahudi dari penduduk Ahbahan.” (An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim, Hal. 59).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

mungkinkah doa orang kafir dikabulkan Allah

Mungkinkah Doa Orang Kafir Dikabulkan Allah?

Apakah doa orang kafir dikabulkan oleh Allah? Karena terkadang mereka meminta yg mereka butuhnya dlm kehidupan dunia. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, ulama berbeda pendapat tentang status doa orang kafir, apakah mungkin dikabulkan oleh Allah ataukah tidak mungkin dikabulkan, alias sia-sia.
Pendapat pertama menyatakan, doa orang kafir adalah doa sia-sia, yang tidak mungkin dikabulkan oleh Allah. Pendapat pertama ini berdalil,
1. Firman Allah ta’ala,

وَمَا دُعَاء الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ

”Tidak ada doa orang-orang kafir itu, kecuali hanyalah sia-sia belaka.”
Ayat di atas, Allah sebutkan di dua tempat, di surat ar-Ra’du ayat 14 dan surat Ghafir ayat 50.
Ayat ini bermakna umum, karena susunannya mufrad (kata tunggal) yaitu kata [دُعَاء] dan mudhaf (disandarkan) kepada kata makrifat (definitif) yaitu kata [الْكَافِرِينَ]. Sehingga ayat ini dipahami umum, bahwa semua doa orang kafir tidak akan diijabahi oleh Allah.
2. Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
Diriwayatkan oleh ad-Dhahak bahwa Ibnu Abbas pernah menjelaskan ayat ini,

أي أصوات الكافرين محجوبة عن الله فلا يسمع دعاءهم

”Suara orang kafir itu tertutupi maka tidak sampai kepada Allah. Sehingga doa mereka tidak didengar.” (Tafsir al-Qurthubi, 9/301).
3. Disamakan dengan orang yang makan yang haram, doanya tidak mustajab. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan orang yang doanya tidak mustajab,

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Kemudian beliau menyebutkan orang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ”Ya Rabku, ya Rabku”, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan (perutnya) dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin orang seperti ini doanya dikabulkan.” (HR. Ahmad 8348, Muslim 1015, dan yang lainnya).
Ibnu Asyura – ulama ahli tafsir bermadzhab Maliki – (w. 1393 H) dalam tafsirnya mengatakan,

وكيف يستجاب دعاء الكافر وقد جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم استبعاد استجابة دعاء المؤمن الذي يأكل الحرام ويلبس الحرام

Bagaimana mungkin doa orang kafir dikabulkan, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa mustahil untuk dikabulkannya doa orang mukmin yang makan makanan yang haram, dan memakai pakaian yang haram… (at-Tahrir wa at-Tanwir, 12/454).
4. lebih jauh, Ibnu Asyura juga menegaskan,
”Jika ada doa orang kafir dan cita-cita mereka yang sukses mereka raih, itu bukan karena doa mereka dikabulkan, namun karena Allah mentakdirkan mereka untuk mendapatkan dunia sesuai dengan jatahnya atau doa mereka bertepatan dengan doa orang yang beriman. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 12/454).
Selain Ibnu Asyura, diantara ulama yang berpendapat bahwa doa orang kafir tidak akan dikabulkan adalah ar-Ruyani (w. 307 H). Dan karena alasan ini, beliau melarang mengaminkan doa orang kafir.
Imam Umairah menukil keterangan beliau,

قال الشيخ عميرة : قال الروياني: لا يجوز التأمين على دعاء الكافر ؛ لأنه غير مقبول

Syaikh Umairah menukil, bahwa ar-Ruyani mengatakan, ‘Tidak boleh mengaminkan doa orang kafir, karena doa mereka tidak dikabulkan.’ (Hasyiyah al-Jamal, 3/576).

Pendapat kedua, doa orang kafir mungkin saja dikabulkan oleh Allah. Diantara dalil yang digunakan pendapat ini,
1. Inti doa adalah permohonan. Dan Allah kuasa untuk mengabulkan permohonan siapapun yang Dia kehendaki. Baik muslim maupun kafir. Karena Dia Pencipta dan Pengatur seluruh makhluk-Nya. Sehingga bukan hal mustahil, ketika Allah mengabulkan doa mereka tanpa pandang status agama, dan itu bagian dari pengaturan Allah kepada makhluk-Nya.
Syaikhul Islam menjelaskan,

وأما إجابة السائلين فعام فإن الله يجيب دعوة المضطر ودعوة المظلوم وإن كان كافرا

Mengabulkan permintaan orang yang berdoa, sifatnya umum. Karena Allah mengabulkan doa orang yang terjepit masalah, dan doa orang yang didzalimi, meskipun dia orang kafir. (Majmu’ Fatawa, 1/223)
2. Iblis yang merupakan gembong para musuh Allah pernah meminta kepada Allah dan permintaannya dikabulkan. Setelah Iblis dicap kafir dan diusir dari surga, dia meminta kepada Allah,

.{قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ {34} وَإِنَّ عَلَيْكَ الْلَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ {35} قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ {36} قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ {37} إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ {38}

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena Sesungguhnya kamu terkutuk, (34 ) dan Sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. (35 ) berkata Iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) Maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan, (36 ) Allah berfirman: “(Kalau begitu) Maka Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang diberi tangguh, ( 37) Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.”(38) (QS. Al-Hijr: 34 – 38)
Ketika menyebutkan keterangan ar-Ruyani yang mengatakan bahwa doa orang kafir tidak maqbul, beliau memberikan kritik,

ونوزع فيه بأنه قد يستجاب لهم استدراجا كما استجيب لإبليس

”Pendapat ini bisa dibantah, bahwa mungkin saja, doa orang kafir itu dikabulkan sebagai bentuk istidraj (ditangguhkan), sebagaimana permintaan iblis dikabulkan.” (Hasyiyah al-Jamal, 3/576).
3. Allah menceritakan dalam al-Quran bahwa Allah mengabulkan doa orang kafir yang dihimpit ketakutan oleh gelombang lautan,

قُلْ مَن يُنَجِّيكُم مِّنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضُرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ {63} قُلِ اللهُ يُنَجِّيكُم مِّنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنتُمْ تُشْرِكُونَ {64

Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan Kami dari (bencana) ini, tentulah Kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. (63 ) Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.”(64) (QS. Al-An’am: 63 – 64).
Di ayat lain, Allah berfirman,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Allah; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS. Al-Ankabut: 65)
Al-Alusi (w. ) menjelaskan dalam tafsirnya,

أن الكافر قد يقع في الدنيا ما يدعو به ويطلبه من الله تعالى أثر دعائه كما يشهد بذلك آيات كثيرة

Terkadang, doa dan permintaan yang dipanjatkan orang kafir kepada Allah ketika di dunia, ada pengaruhnya. Sebagaimana hal itu ditunjukkan dalam banyak ayat. (Ruh al-Ma’ani, 24/76).
4. Sedangkan ayat yang menjadi dalil di atas,

وَمَا دُعَاء الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ

”Tidak ada doa orang-orang kafir itu, kecuali hanyalah sia-sia belaka.”
Ayat ini tidak ada hubungannya dengan doa dan permohonan orang kafir kepada Allah ketika di dunia. karena konteks ayat ini sama sekali tidak menunjukkan doa mereka kepada Allah ketika di dunia.
Ayat ini disebutkan di dua tempat:
Di surat ar-Ra’du ayat 14, ayat selengkapnya,

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apapun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membuka kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.

Kita bisa perhatikan, ayat ini berbicara tentang perumpamaan doa dan ibadah orang kafir kepada berhala mereka, yang sama sekali tidak akan memberikan manfaat bagi mereka. Layaknya orang yang kehausan, ingin minum, namun setiap kali mengambil air dengan tangannya, air itu jatuh dan jatuh. Inilah tafsir yang disampaikan Ibnu Katsir. Beliau mengatakan,

فكذلك هؤلاء المشركون الذين يعبدون مع الله إلها غيره، لا ينتفعون بهم أبدا في الدنيا ولا في الآخرة ولهذا قال: وما دعاء الكافرين إلا في ضلال

Demikian pula orang-orang musyrik yang beribadah kepada tuhan selain Allah, sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka ketika di dunia, tidak pula di akhirat. Karena itu, Allah menegaskan, ”doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/446).

Di surat Ghafir ayat 50, ayat selengkapnya,

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ ( ) قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

Orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari Kami barang sehari”. ( ) penjaga Jahannam berkata: “Dan Apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” mereka menjawab: “Benar, sudah datang”. penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah kamu”. dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.
Konteks ayat ini berbicara tentang keadaan orang kafir ketika di neraka. Mereka selalu memohon kepada Allah melalui penjaga neraka, agar mereka diringankan siksanya. Namun harapan mereka pupus, karena waktunya sudah terlambat. Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.
Makna inilah yang lebih mendekati untuk memahami keterangan Ibnu Abbas, bahwa doa orang kafir itu mahjub (tertutupi), sehingga tidak sampai kepada Allah. Itulah harapan dan doa mereka di hari kiamat.
Memahami keterangan di atas, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan, doa orang kafir mungkin saja dikabulkan oleh Allah. Karena Dia Maha Kuasa untuk memberikan keinginan makhluk-Nya sesuai apa yang Dia kehendaki.
Syaikhul Islam mengatakan,

والخلق كلهم يسألون الله مؤمنهم وكافرهم وقد يجيب الله دعاء الكفار فإن الكفار يسألون الله الرزق فيرزقهم ويسقيهم وإذا مسهم الضر في البحر ضل من يدعون إلا إياه فلما نجاهم إلى البر أعرضوا

Semua makhluk meminta kepada Allah, yang mukmin maupun yang kafir. Terkadang Allah mengabulkan doa orang kafir. Karena orang kafir juga meminta rizki kepada Allah, kemudian Allah beri mereka rizki dan Allah beri mereka minum. Ketika mereka dalam keadaan terjepit pada saat di laut, mereka hanya berdoa kepada Allah. Tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan, mereka berpaling.. (Majmu’ Fatawa, 1/206).

Kedua, catatan yang penting diperhatikan, bahwa dikabulkannya doa orang kafir oleh Allah ketika di dunia, sama sekali tidaklah menunjukkan bahwa Allah merestui keyakinannya atau setuju dengan kekufuran mereka. Karena dikabulkannya doa bagi orang mukmin adalah rahmat dari Allah, dan dikabulkannya doa orang kafir bagian dari istidraj (diberi kenikmatan agar semakin kafir. Orang jawa menyebutnya ’diujo’).
Ibnul Qoyim mengatakan,

فليس كل من أجاب الله دعاءه يكون راضيا عنه ولا محبا له ولا راضيا بفعله فإنه يجيب البر والفاجر والمؤمن والكافر

Tidak semua orang yang Allah kabulkan doanya, bisa menjadi bukti bahwa Allah meridhainya, tidak pula mencintainya, tidak pula Allah meridhai perbuatannya. Karena orang jabaik maupun orang jahat, orang mukmin maupun kafir, mungkin saja doa dikabulkan. (Ighatsah al-Lahafan, hlm. 215).

Lalu bagaimana hukum mengaminkan doa orang kafir, insyaa Allah akan ada pembahasan tersendiri.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

7,653FansLike
3,308FollowersFollow
28,751FollowersFollow
57,840SubscribersSubscribe