tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

mati kecelakaan

Mati Karena Kecelakaan Lalu Lintas

Apakah mati karena kecelakaan lalu lintas termasuk mati syahid? Krn saya pernah mendengar demmikian, apa anggapan itu benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Dari Jabr bin Atiq Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang mati syahid,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ شَهِيدٌ…

Ada 7 mati syahid selain perang di jalan Allah – azza wa jalla –, orang yang mati karena thaun, dia syahid, orag yang ati karena sakit perut, dia syahid, orang yang tenggelam, mati syahid, dan orang yang mati karena benturan, dia mati syahid….  (HR. Ahmad 24474, Nasai 1857, dan dishahihkan al-Albani).

Apakah orang yang mati karena kecelakaan termasuk mati syahid? Karena dia mati disebabkan benturan dengan kendaraan.

Dalam Fatwa Lajnah Daimah – lembafa fatwa dan penelitian islam Saudi – pernah ditanya semacam ini. Jawaaban Lajnah,

نرجو أن يكون شهيداً؛ لأنه يشبه المسلم الذي يموت بالهدم، وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه شهيد‏

Kami berharap dia mati syahid. Karena korban kecelakaan mirip dengan orang yang mati karena benturan. Dan terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang yang mati karena benturan telah mati syahid.

(Fatwa Lajnah no. 7946‏)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

pahala haji

Amalan Berpahala Haji

Assalamu’alaikum, apakah benar ada amalan tertentu yang pahalanya setara dengan haji dan umrah? mhon penjelasannya ustaz dan wassalam. ridwan fauzi. ntt

Dari Ridwan Fauzi via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari Maha Pemurahnya Allah ta’ala, Allah memberikan kesempatan kepada siapapun hamba-Nya untuk tetap bisa mendapatkan pahala amal, yang tidak mampu dia kerjakan.

Suatu ketika datang serombongan sahabat yang miskin mengahdap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengadukan persaingan amal dengan sahabat yang kaya. Bukan karena hasad terhadap dunia, namun karena keinginan untuk mendapatkan pahala yang sama. Diantara sahabat yang kurang mampu itu adalah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau mengadukan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَصْحَابُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَلَهُمْ فُضُولُ أَمْوَالٍ يَتَصَدَّقُونَ بِهَا، وَلَيْسَ لَنَا مَالٌ نَتَصَدَّقُ بِه

Ya Rasulullah, para pemilik kekayaan memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, namun mereka memiliki kelebihan harta, yang bisa mereka sedekahkan. Sementara kami tidak memiliki harta untuk bersedekah.

Kita lihat, bagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا أَبَا ذَرٍّ، أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ تُدْرِكُ بِهِنَّ مَنْ سَبَقَكَ، وَلَا يَلْحَقُكَ مَنْ خَلْفَكَ إِلَّا مَنْ أَخَذَ بِمِثْلِ عَمَلِكَ؟

“Wahai Abu Dzar, maukah aku ajarkan kepadamu beberapa dzikir, sehingga engkau bisa menyusul orang yang mendahuluimu dalam amal dan orang di belakangmu tidak akan bisa menyusul, kecuali jika mereka melakukan seperti amal yang kau kerjakan?.”

“Tentu, ya Rasulullah..” jawab Abu Dzar.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,

تُكَبِّرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ، ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتُسَبِّحُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَخْتِمُهَا بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ، وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

”Setiap selesai shalat, baca takbir 33 kali, tahmid 33 kali, dan tasbih 33 kali. Setelah itu, tutup dengan bacaan Laa ilaaha illallah wahdahuu laa syariika lah, Lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ’ala kulli syai-in qadir. Niscaya dosa-dosanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 7243, Abu Daud 1504, Ibnu Khuzaimah 748, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian kesempatan untuk mendapat pahala sedekah? Sesungguhnya setiap tasbih bernilai sedekah, setiap takbir bernilai sedekah, setiap tahmid bernilai sedekah, setiap tahlil bernilai sedekah, amar makruf nahi munkar juga sedekah, dan dalam hubungan badan kalian, bernilai sedekah. (HR. Muslim 1006).

Amal Senilai Pahala Haji

Ibadah haji, salah satu ibadah yang membutuhkan modal paling besar. Jiwa, raga, harta, dan memakan banyak waktu. Sehingga jumlah kaum muslimin yang mampu melaksanakannya, jauh lebih sedikit dibandingkan amal ibadah lainnya.

Namun, Allah Maha Kaya, Allah Maha Pemurah. Allah berikan kesempatan bagi semua hamba-Nya, untuk mendapatkan pahala haji, sekalipun dia tidak mampu berangkat haji.

Ada beberapa amalan, yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapatkan pahala haji. Berikut diantaranya,

Pertama, melakukan rangkaian ibadah seusai shalat subuh

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir memuji Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka dia mendapatkan pahala haji dan umrah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: Sempurna..sempurna..sempurna. (HR. Turmudzi 586, al-Bazzar 9314, dan dihasankan al-Albani).

Syaikh Muhammad Mukhtar as-Syinqithi – pengajar di Masjid Nabawi – memberikan penjelasan hadis ini, bahwa ‎keutamaan amalan ini hanya dapat diraih jika terpenuhi beberapa persyaratan ‎sebagai berikut:‎

Pertama, Shalat subuh secara berjama’ah. Sehingga tidak tercakup di dalamnya ‎orang yang shalat sendirian. Dzahir kalimat jama’ah di hadis ini, mencakup jama’ah di ‎masjid, jama’ah di perjalanan, atau di rumah bagi yang tidak wajib jama’ah di masjid ‎karena udzur.‎

Kedua, duduk berdzikir. Jika duduk tertidur, atau ngantuk maka tidak mendapatkan ‎fadhilah ini. Termasuk berdzikir adalah membaca Al-Qur’an, beristighfar, membaca ‎buku-buku agama, memebrikan nasehat, diskusi masalah agama, atau amar ma’ruf ‎nahi mungkar. ‎

Ketiga, duduk di tempat shalatnya sampai terbit matahari. Tidak boleh pindah dari ‎tempat shalatnya. Sehingga, jika dia pindah untuk mengambil mushaf Al-Qur’an atau ‎untuk kepentingan lainnya maka tidak mendapatkan keutamaan ini. Karena ‎keutamaan (untuk amalan ini) sangat besar, pahala haji dan umrah ‎sempurna..sempurna. sedangkan maksud (duduk di tempat shalatnya di sini) adalah ‎dalam rangka Ar-Ribath (menjaga ikatan satu amal dengan amal yang lain), dan Nabi ‎shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kemudian duduk di tempat shalatnya.”‎ ‎ ‎Kalimat ini menunjukkan bahwa dia tidak boleh meninggalkan tempat shalatnya. Dan ‎sekali lagi, untuk mendapatkan fadhilah yang besar ini, orang harus memberikan ‎banyak perhatian dan usaha yang keras, sehingga seorang hamba harus memaksakan ‎dirinya untuk sebisa mungkin menyesuaikan amal ini sebagaimana teks hadis. ‎

Keempat, shalat dua rakaat. Shalat ini dikenal dengan shalat isyraq. Shalat ini ‎dikerjakan setelah terbitnya matahari setinggi tombak.‎

‎(Syarh Zaadul Mustaqni’, as-Syinqithi, 3/68).‎

Kedua, kajian di masjid

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُ مُعْتَمِرٍ تَامِّ الْعُمْرَةِ، فَمَنْ رَاحَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ فَلَهُ أَجْرُ حَاجٍّ تَامِّ الْحِجَّةِ

Siapa yang berangkat ke masjid di pagi hari, tidak memiliki tujuan apapun selain untuk belajar agama atau mengajarkannya, maka dia mendapatkan pahala orang yang melakukan umrah sempurna umrahnya. Dan siapa yang berangkat ke masjid sore hari, tidak memiliki tujuan apapun selain untuk belajar agama atau mengajarkannya, maka dia mendapatkan pahala orang yang berhaji sempurna hajinya. (HR. Hakim 311 dan dinilai oleh ad-Dzahabi: Sesuai syarat Bukhari. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Imam al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 86).

Berbahagialah mereka yang rajin melakukan kajian, meluangkan waktunya untuk belajar agama, setiap pagi dan sore.

Ketiga, Menjaga Shalat Jamaah beserta adab-adabnya

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda‎,

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ ‏يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ ‏وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ

‎”Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk shalat jamaah dalam keadaan ‎telah bersuci, maka pahalanya seperti pahala orang berhaji dalam keadaan ihram ‎. Dan ‎barangsiapa beranjak untuk melakukan shalat Dhuha dan tidak ada yang ‎menyebabkan dia keluar (dari rumahnya) kecuali untuk shalat Dhuha maka ‎pahalanya seperti pahala orang yang umrah. Dan shalat setelah melaksanakan ‎shalat yang di antara kedua shalat tersebut tidak membicarakan masalah dunia, ‎adalah amalan yang akan dicatat di illiyiin‎ ‎. ‎

‎(HR. Abu Daud 558 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam shahih At ‎Targhib wat Tarhib 670)‎.

‏Ada beberapa penafsiran ulama tentang makna kalimat “maka pahalanya seperti pahala orang berhaji dalam keadaan ihram“. ‎Berikut adalah tiga penafsiran yang disebutkan dalam Aunul Ma’bud, syarh sunan Abu Daud,

  1. ‎Mendapatkan pahala sebagaimana orang yang haji secara utuh. Makna ini disampaikan oleh Zain Al ‘Arab
  2. ‎Bentuk mendapatkan pahalanyanya sebagaimana bentuk mendapatkan pahala dalam ibadah haji. Dimana ketika ‎orang berhaji, semua usaha yang dia lakukan dinilai pahala. Mulai dari bekal sampai usaha perjalanan. Demikian pula ‎shalat jama’ah. Semua usahanya bernilai pahala, termasuk langkah kakinya. Meskipun pahala untuk dua amal ini ‎berbeda dari sisi banyaknya atau jumlahnya.‎
  3. ‎Orang yang berangkat haji akan mendapatkan pahala haji dari mulai berangkat sampai pulang, meskipun tidak ‎menyelesaikan hajinya, selain wuquf di ‘arafah. Demikian pula shalat jama’ah. Orang yang berangkat shalat jama’ah ‎akan mendapatkan pahala shalat berjama’ah dari mulai berangkat sampai pulang, meskipun dia tidak mendapatkan ‎jama’ah bersama imam (karena terlambat).

(lih. Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud 2/77).‎

Semoga Allah memudahkan kita untuk istiqamah dalam menggapai ridha-Nya. Amin

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

nikah beda agama

Haram Nikah Beda Agama?

Mengapa nikah beda agama dilarang? Agama kan hanya status seseorang, apa kaitannya dengan keberlangsungan rumah tangga?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Polemik nikah beda agama bukan polemik baru. Itu isu lama yang kembali mencuat. Memang benar apa kata orang, sejarah akan mengulang kejadian sebelumnya. Karena itu, kehadiran beberapa orang yang kembali meneriakkan masalah ini, hanya membeo para moyangnya yang memiliki pemikiran yang sama.

Terkait pertanyaan yang anda sampaikan, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan,

Pertama, nikah beda agama tidak dilarang secara mutlak. Karena islam membolehkan seorang lelaki muslim menikah dengan wanita ahli kitab – yahudi atau nasrani – yang menjaga kehormatan dan bukan wanita nakal. Allah berfirman,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ

Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. (QS. Al-Maidah: 5)

Karena itu, mengatakan bahwa nikah beda agama dilarang dalam islam secara mutlak tanpa pengecualian, jelas kesalahan dan kedustaan atas nama syariat.

Kedua, bahwa agama tidak hanya status semata. Namun status yang sekaligus menjadi ideologi seseorang. Bagi sebagian orang yang kurang peduli dengan agama, menganggap bahwa agama hanya status. Tidak ada beda antara satu agama dengan lainnya. Karena semuanya agama. Anda bisa katakan, ini prinsip orang ateis atau agnotis, yang tidak memahami hakekat agama. Jelas prinsip yang sangat tidak relevan dengan realita di lapangan.

Setiap manusia memiliki status. Agama, kewarganegaraan, suku, bahasa, daerah, hingga usia. Sebagian dicantumkan di KTP, seperti agama, daerah, dan usia. Dan semua orang bisa membedakan antara status agama dengan status kewarganegaraan atau suku, bahasa, daerah atau usia. Semakin agung statusnya, semakin kuat usaha seseorang untuk membelanya.

Bagi orang yang menilai agama paling agung, pembelaan dia terhadap agama akan lebih besar dibandingkan pembelaan terhadap negara, suku, bahasa atau daerah. Demikian pula, bagi orang yang menilai status kewarganegaraan lebih penting, maka upaya pembelaannya akan banyak tercurah ke sana, dan begitu seterusnya.

Anda akan lebih marah ketika suku anda dihina dari pada tanggal kelahiran anda dihina. Karena anda menganggap, suku lebih mulia dari pada tanggal lahir. Padahal keduanya sama-sama status manusia. Namun status yang satu lebih mulia, dibanding status lainnya.

Sebagai bangsa bernegara, kita diarahkan agar tidak terlalu menonjolkan sentimen kesukuan. Karena ini bisa mengancam persatuan bangsa. Sebagai manusia beragama, islam juga menyuruh kita untuk tidak menonjolkan sentimen kesukuan, kebangsaan. Karena bisa mengancam persaudaraan sesama muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tindakan membangkan suku dengan seruan jahiliyah. Beliau bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ

Bukan termasuk golonganku, orang yang menampar pipi, atau merobek baju (ketika keluarganya meninggal), dan orang yang menghidupkan seruan jahiliyah. (HR. Bukhari 1298 dan Muslim 103)

Di sini kita hanya hendak menggaris bawahi, bahwa agama bukan semata status. Agama adalah ideologi. Manusia rela melakukan apapun demi ideologinya. Hingga ada orang yang rela memakan kotoran tokoh agamanya, tidak lain karena dorongan ideologi agama. Karena itu, jangan remehkan status agama. Agama tidak hanya status, tapi ideologi.

Ketiga, kita menyadari bahwa beragama bagian dari hak semua manusia. Bahkan ini diatur dalam undang-undang di tempat kita. Yang ini menunjukkan bahwa founding fathers bangsa kita menghormati entitas agama bagi masyarakatnya. Bagi orang yang memahami hakekat agama, dia akan berusaha menjaga dan menghormatinya. Tidak menjadikannya bahan permainan apalagi ditukar dengan dunia atau dengan cinta.

Anda bisa menilai, orang yang begitu mudah pindah agama, hanya untuk bisa mendapatkan kepuasan perut, atau keluar dari islam hanya untuk mendapatkan kepuasan di bawah perut, itu karena dia tidak memahami hakekat agama. Tidak sejalan dengan prinsip yang dibangun para pewaris negeri ini.

Islam selalu mengajarkan kepada umatnya untuk memuliakan agamanya. Memotivasi mereka untuk berusaha menjaganya agar tidak lepas darinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran: 102)

Keempat, karena alasan ini semua, islam memberikan penjagaan kepada umatnya, sehingga mereka tetap bisa mempertahankan agamanya. Atau mengajak orang lain untuk menjadi lebih teratur hidupnya dengan masuk islam. Diantara aturan itu, islam melarang wanita muslimah menikah dengan lelaki non muslim. Karena pernikahan ini sangat mengancam keselamatan agamanya. Terlebih di negara yang masih kental dengan pluralisme. Sangat rentan kelompok minoritas menindas mayoritas.

Dan seperti ini realitas yang terjadi. Betapa banyak wanita muslimah yang menjadi korban pemaksaan lelaki kafir untuk pindah agama. Sementara negara tidak menjamin hal ini. Suami bisa bebas mengintimidasi istri untuk keluar dan pindah agama. Terlebih umumnya wanita lemah mental. Dia bisa dengan mudah menyerah dengan keadaan.

Dan sekali lagi, agama adalah ideologi. Bagian dari doktrin ideologi, pemiliknya akan berusaha menyeret orang lain untuk memiliki ideologi yang sama. Tidak mungkin suami yang kafir akan membiarkan istrinya muslimah untuk beribadah dan melakukan ketaatan sesuai ajaran islam. Kecuali jika si suami termasuk orang yang tidak berideologi.

Allah menyebutkan, orang-orang kafir, akan mengajak orang lain untuk mengikuti kekafirannya,

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ

Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (QS. al-Baqarah: 221)

Memahami hal ini, mengajukan nikah beda agama tanpa batas, tidak berbeda dengan upaya merusak ideologi agama. Bertentangan dengan tatanan para leluhur bangsa yang menjunjung tinggi agama. Meskipun kehadiran mereka adalah hal yang lumrah. Mengingat mereka bukan orang yang terdidik untuk menghormati agama.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

calon presiden pembohong

Hukum Calon Presiden Suka Berbohong

Pak Ustat, apa hukumnya presiden yang suka berbohong. Karena ada calon presiden di salah satu negara berkembang, yang suka berbohong. Saya dengar, orang sperti ini tdk masuk surga.

Nuw Timur

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Diantara tipe manusia yang sangat dibenci oleh Allah, hingga Allah memberikan hukuman sangat keras adalah raja atau presiden atau kepala negara atau pejabat pemerintah yang suka membohongi rakyatnya.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak Allah sucikan, tidak Allah lihat, dan bagi mereka siksa yang menyakitkan: orang tua yang berzina, raja yang suka berdusta, dan orang miskin yang sombong. (HR. Ahmad 10227, Muslim 107, dan al-Baghawi 3591).

Kita berlindung kepada Allah dari karakter mereka.

Anda bisa perhatikan, bagaiamana kerasnya hukuman yang Allah berikan kepada mereka,

  • Tidak akan diajak bicara oleh Allah
  • Tidak Allah sucikan
  • Tidak Allah lihat
  • Baginya siksa yang menyakitkan

Anda bisa bayangkan ketika ada orang yang dihukum, dicampakkan ke dalam neraka, kemudian dia dilupakan dan tidak dipedulikan. Bagaimana dia bisa berharap untuk bisa selamat. Suatu hari, Hasan al-Bashri – ulama besar zaman tabi’in – menangis. Hingga para sahabatnya bertanya, “Apa yang menyebabkan anda menangis?” beliau mengatakan,

أخاف أن يطرحني غدا في النار و لا يبالي

Aku takut, besok Allah akan membuangku ke neraka, kemudian dia tidak mempedulikanku. (at-Takhwif min an-Nar, hlm. 34)

Mengapa Hukuman Mereka Sangat Berat?

Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka diberi hukuman sangat berat ketika melakukan pelanggaran seperti itu? Padahal yang namanya berzina, berdusta, atau sombong, juga dilakukan oleh manusia lainnya.

Jika kita perhatikan, tiga karakter manusia di atas, keadaannya sangat kontra dengan kesalahan dan dosa yang dia kerjakan. Karena faktor dan dorongan untuk melakukan kemaksiatan itu sangat lemah dibanding umumnya manusia.

Seperti yang kita tahu, umumnya manusia melakukan maksiat karena adanya dorongan kebutuhan. Pemuda berzina, karena dia tidak sanggup menahan nafsu birahinya. Orang terdesak yang berbohong, karena dia ingin menyelamatkan diri. Orang kaya yang sombong, karena merasa bangga dengan harta yang dimiliki. Berbeda dengan ketiga orang di atas, faktor-faktor itu hampir tidak ada.

Al-Qodhi Iyadh menjelaskan sebab hal ini,

سببه أن كل واحد منهم التزم المعصية المذكورة مع بعدها منه وعدم ضرورته إليها وضعف دواعيها عنده وإن كان لا يعذر أحد بذنب لكن لما لم يكن إلى هذه المعاصي ضرورة مزعجة ولا دواعى متعادة أشبه إقدامهم عليها المعاندة والاستخفاف بحق الله تعالى وقصد معصيته لا لحاجة غيرها

Sebabnya, karena ketiga orang di atas, melakukan maksiat seperti yang disebutkan, sementara dia sangat tidak membutuhkan maksiat itu, dan lemahnya dorongan untuk melakukannya. Meskipun semua orang tidak boleh melakukan maksiat, namun ketika ada orang yang sama sekali tidak ada dorongan untuk melakukannya, maka ketika dia melakukannya sama seperti orang yang menentang Allah dan meremehkan hak Allah, serta melakukan maksiat, bukan karena dorongan kebutuhan.

Kemudian al-Qodhi Iyadh merinci masing-masing,

إن الشيخ لكمال عقله وتمام معرفته بطول ما مر عليه من الزمان وضعف أسباب الجماع والشهوة للنساء واختلال دواعيه لذلك عنده ما يريحه من دواعي الحلال في هذا ويخلي سره منه فكيف بالزنى الحرام وإنما دواعي ذلك الشباب والحرارة الغريزية وقلة المعرفة وغلبة الشهوة لضعف العقل وصغر السن

Orang tua, dengan kesempurnaan akalnya dan pengalamannya karena telah lama makan asam garam selama hidup, serta lemahnya kekuatan jima dan syahwat terhadap wanita, yang semua kondisi ini membuat dia malas melakukan hubungan badan yang halal, maka bagaimana lagi dengan zina yang haram? Namanya pendorong zina, masih muda, aktif, agresif, pengalaman kurang, dorongan syahwatnya besar karena lemah akal, dan usia yang masih remaja.

وكذلك الإمام لا يخشى من أحد من رعيته ولا يحتاج إلى مداهنته ومصانعته فإن الإنسان إنما يداهن ويصانع بالكذب وشبهه من يحذره ويخشى أذاه ومعاتبته أو يطلب عنده بذلك منزلة أو منفعة وهو غني عن الكذب مطلقا

Demikian pula imam, apa yang ditakutkan terhadap rakyatnya, sehingga dia tidak butuh basa-basi, pencitraan dibuat-buat. Karena umumnya manusia melakukan basa-basi dengan dusta dan mengelabuhi orang yang dia takuti akan mengancamnya, atau karena dia ingin mendapatkan posisi dan manfaat dengan mendekat ke penguasa. Sementara penguasa, dia sama sekali tidak butuh berdusta.

وكذلك العائل الفقير قد عدم المال وإنما سبب الفخر والخيلاء والتكبر والارتفاع على القرناء الثروة في الدنيا لكونه ظاهرا فيها وحاجات أهلها إليه فإذا لم يكن عنده أسبابها فلماذا يستكبر ويحتقر غيره

Demikian pula orang miskin yang tidak memiliki harta. Umumnya penyebab orang bertindak sombong, bangga, dan merasa lebih tinggi dari orang lain adalah kekayaan dunia. Karena ini bisa ditampak-tampakkan, dan pemiliknya butuh untuk itu. Karena itu, ketika orang miskin sama sekali tidak memiliki modal untuk sombong, lalu mengapa dia sombong, dan meremehkan orang lain.

Kemudian al-Qodhi Iyadh mengakhiri keterangan beliau dengan mengatakan,

فلم يبق فعله وفعل الشيخ الزاني والإمام الكاذب إلا لضرب من الاستخفاف بحق الله تعالى والله أعلم

Sehingga perbuatan orang miskin yang sombong, orang tua yang berzina, dan penguasa yang suka berdusta hanya karena mereka meremehkan hak Allah ta’ala. Allahu a’lam

(Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 2/117).

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

lama imam mahdi

Berapa Lama Imam Mahdi Memimpin di Bumi

Tanya:

Apakah ada hadits yang menyebutkan berapa lama Imam Mahdi imenjalankan kekuasaan?

Trima kasih

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dinyatakan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، أَقْنَى الْأَنْفِ، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا، كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا، يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ

Al-Mahdi itu keturunanku, dahinya lebar, hidungnya mancung. Dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kebijaksanaan, sebagaimana sebelumnya penuh dengan kedzaliman dan kecurangan. Dia memimpin selama 7 tahun. (HR. Abu Daud 4285 dan dihasankan al-Albani).

Keterangan:

Beliau memimpin selama 7 tahun, diberi catatan oleh al-Munawi,

(يملك سبع سنين) زاد في رواية أو ثمان أو تسع

”Beliau memimpin selama 7 tahun. Dalam satu riwayat ada tambahan, 8 tahun atau 9 tahun.” (Faidhul Qodir, 6/278).

Diantara riwayat yang menyebutkan 8 tahun adalah hadis Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu secara marfu’,

يَخْرُجُ فِي آخِرِ أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ يَسْقِيهِ اللَّهُ الْغَيْثَ، وَتُخْرِجُ الْأَرْضُ نَبَاتَهَا، وَيُعْطِي الْمَالَ صِحَاحًا، وَتَكْثُرُ الْمَاشِيَةُ وَتَعْظُمُ الْأُمَّةُ، يَعِيشُ سَبْعًا أَوْ ثَمَانِيًا، يَعْنِي حِجَجًا

Al-Mahdi akan keluar di penghujung ganarasi umatku. Allah berikan hujan untuknya, tanah menumbuhkan tanamannya, Dia berikan harta dengan cara baik, banyak binatang ternak dan umat menjadi kuat. Dia hidup selama tujuh atau delapan tahun. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak 8673 dan dishahihkan ad-Dzahabi).

Makna teks dari hadis di atas menunjukkan rentang masa kepemimpinan al-Mahdi, sejak beliau dibaiat, hingga beliau diwafatkan oleh Allah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

pendusta

Media Islam Berdusta

Saya membaca beberapa media islam online, mereka merilis berita pembongkaran makam nabi, dan hingga sekarang berita itu tetap dipajang. Apa mereka berdusta? Karena media ini berafiliasi dengan partai paling ’islam’ (tanda kutip), ada juga yg mbela-bela isis. Sy selaku org yg baru belajar, merasa keheranan, apa yg melatar-belakangi mereka merilis berita semacam itu. Beberapa kali saya Umrah, masjid nabawi nyaman-nyaman saja. Jadinya kami ragu, apa situs seperti ini bs dipercaya.

Mohon pencerahannya…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ

Akan datang kepada manusia masa-masa penuh kedustaan. Pendusta dianggap jujur dan orang jujur dianggap pendusta, pengkhianat dianggap amanat, dan orang amanat dianggap pengkhianat. (HR. Ibnu Majah 4036 dan dishahihkan al-Albani).

Kita bisa perhatikan hadis di atas, ternyata apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar terjadi. Yang ini bagian dari mukjizat beliau. Munculnya tahun-tahun penuh dusta. Terlebih setelah maraknya bermunculan wartawan-wartawan meja yang kurang perhatian dengan kejujuran.

Jika kita perhatikan bagaimana semangat mereka dalam merilis berita, ada satu titik temu yang melatar belakangi mereka mudah mencomot berita dusta. Beberapa situs islam, terutama yang berafiliasi dengan partai tertentu atau yang pro-gerakan isis, mereka punya agenda besar, menanamkan kebencian terhadap pemerintah negara Ahlus Sunah Arab Saudi. Bagian ini yang perlu kita garis bawahi. Sebagaimana hal ini yang digencarkan oleh JIL dan Syiah. Hanya saja sudut pandangnya berbeda.

Seperti yang kita tahu, partai yang dinyatakan paling ’islam’ di negara kita adalah kepanjangan tangan dari gerakan ikhwanul muslimin. Dan gerakan ini, secara internasional, termasuk yang tidak menyukai pemerintah dan rakyat ahlus sunah Arab Saudi. Anda bisa baca buku ’at-Tarikh as-Siri li Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin’ [Sejarah Rahasia Gerakan Ikhwanul Muslimin] karya Ali Isymawi – mantan pimpinan at-Tandzim al-Khas (Komite Strategi Khusus) jamaah al-ikhwan al-muslimin.

Sementara media pro-gerakan ’jihad’ (dalam tanda kutip) adalah sempalan dari al-Qaedah, yang sangat membenci pemerintah dan rakyat ahlus sunah Arab Saudi. Karena mereka menilai pemerintah saudi itu thaghut, sebagaimana pemerintah Indonesia juga thaghut. Meskipun bagian ini tidak mereka tampilkan terang-terangan di publik.

Karena latar belakang kebencian dan permusuhan yang mengakar itu, mereka semakin mudah untuk membuat kedustaan. Yang penting obsesi mereka, menanamkan prinsip kebencian di tengah masyarakat bisa tercapai.

Anda bisa lihat, bagaimana mereka sangat tega mencuplik berita dari situs orang kafir inggris dan JIL, untuk menghantam kaum muslimin. Padahal tulisan-tulisan mereka meneriakkan anti-kafir. Allahu akbar… Wa maa tukhfii shuduuruhum akbar, kebencian yang tersimpan dalam hati mereka sangat besar, sehingga dengan sadis memfitnah kaum muslimin dengan bantuan media kafir.

Inikah media yang adil…

Cinta dan benci itu memang hak mereka. Namun ketika kebencian itu menyeret mereka untuk berdusta, jelas ini kedzaliman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. (QS. al-Maidah: 8)

Kami mengingatkan kepada diri kami pribadi dan para awak media online itu untuk bertaqwa kepada Allah. Kedustaan yang anda rilis dalam berita, tersebar ke seluruh penjuru dunia. semoga kita tidak termasuk seperti yang disebutkan dalam hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan mimpi beliau bersama dua malaikat yang mengajak beliau melihat beberapa siksaan di alam kubur,

فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِي أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ، – قَالَ: وَرُبَّمَا قَالَ أَبُو رَجَاءٍ: فَيَشُقُّ – ” قَالَ: «ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الجَانِبِ الآخَرِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الأَوَّلِ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الجَانِبُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ المَرَّةَ الأُولَى» قَالَ: ” قُلْتُ: سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ؟

Kamipun melanjutkan perjalanan. Kemudian kami mendatangi orang yang tidur terlentang, sementara di sampingnya ada temannya yang membawa gancu dari besi. Kemudian dia robek mulut orang yang tidur itu hingga ke tengkuknya, lalu dia tarik gancu itu dari mulut hingga ke tengkuk, kemudian kedua matanya hingga ke tengkuk. Kemudian dia pindah ke bagian samping lainnya, dan dia robek seperti yang dilakukan di samping pertama. Sebelum dia selesai merobeknya, pipi sebelahnya sudah kembali seperti semula. Kemudian dia ulangi lagi seperti yang dia lakukan pertama kali.

Aku bertanya: ’Subhanallah, apa-apaan dua orang ini?’

وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ، يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ، فَيَكْذِبُ الكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ

Orang yang kamu datangi dia dirobek mulutnya hingga ke tengkuk, dan hidungnya hingga ke tengkuk, serta matanya hingga ke tengkuk, itu adalah orang yang keluar dari rumahnya kemudian dia membuat kedustaan dan tersebar di berbagai penjuru dunia. (HR. Ahmad 20094, Bukhari 7047, dan yang lainnya).

Ya Rabb, selamatkanlah kami dari makar orang kafir dan para dai kesesatan. Amin

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

masjid nabawi madinah

Dalang Isu Dibongkarnya Makam Nabi

Salam,

Maaf Ustad, apa benar makam Nabi Muhammad SAW mau dibongkar pemerintah Arab Saudi? Mohon pencerahannya. Krn ini sangat meresahkan.

 Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kita memohon kepada Allah, semoga Allah menampakkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran, dan memudahkan kita untuk mengikutinya. Dan semoga Allah menampakkan kepada kita kebatilan sebagai kebatilan, dan memudahkan kita untuk menjauhinya.

Karena manusia buta adalah manusia yang memandang kebenaran sebagaimana kebatilan dan memandang kebatilan sebagai kebenaran. Kita berlindung kepada Allah dari manusia semacam ini.

Terkait isu pembongkaran makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak pihak yang memanfaatkannya untuk menyudutkan islam dan kaum muslimin. Terutama masyarakat dan pemerintahan ahlus sunah Arab Saudi.

Kami sendiri kesulitan mencari sumber isu ini, dara mana asalnya. Kami belum pernah mendengar informasi dari pemerintah Saudi tentang itu, maupun media yang berkembang di saudi, yang mereka paling tahu tentang situasi di sana. Bahkan beberapa media saudi menyangkal, adanya isu itu. Memang benar akan ada rencana perluasan Masjid Nabawi sebagaimana yang terjadi di masjidil haram. Hanya saja ke arah utama dan melengkapi beberapa ruangan bagian atas. Anda bisa baca beritanya di:

http://www.alarabiya.net/ar/saudi-today/2014/09/03/نقل-قبر-الرسول-دراسة-باحث-وليس-قرار-حكومي.html

atau

http://www.rumonline.net/index.php?page=article&id=175909

Dalam laman itu, juga disebutkan sumber isu pembongkaran makam tersebut. Ternyata, muaranya kembali pada dua situs berita inggris: dailymail dan independent. Keduanya situs milik orang kafir inggris.

The Man Behind The Gun

Sampai di sini orang masih penasaran, siapa dalang di balik pemberitaan itu. Hingga kami menemukan tulisan dari salah satu dai ahlus sunah dari Malaysia, yang membongkar kedok di balik itu ini. Hasilnya ketemu, dalang isu ini adalah satu orang, namanya Dr. Irfan al-Alawi.

Beliau (Sang Dai) – semoga Allah menjaganya – berusaha mengikuti isu ini dari tahun 2011 hingga 2014. Jadi selama 4 tahun berturut-turut, mulai September 2011, kemduian October 2012, lalu March 2013, hingga yang terbaru 1 September 2014, si Irfan al-Alawi merilis isu yang sama, disiarkan di laman yang sama, menyebarkan kebohongan berita tentang rencana pembongkaran makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh pemerintah Saudi. Allahul Musta’an. Betapa gigihnya perjuangan orang ini, untuk mendzalimi islam dan kaum muslimin. Dan tentu saja, seolah ada agenda tertentu yang hendak mereka lakukan.

Anda bisa baca urutan berita itu di:

Tahun 2011- http://t.co/c9fjNaSQKV

Tahun 2012- http://t.co/hcaWIbzZE8

Tahun 2013- http://t.co/Joad5uuCws

Tahun 2014- http://t.co/Kywt5DHL20

Anda bisa memahami, seperti inilah ahli kebatilan, dia tidak segan-segan membuat kedustaan, bekerja sama dengan orang-orang kafir, untuk merusak islam dan kaum muslimin. Semoga Allah melindungi kita semua.

Lebih Jauh tentang Dr. Irfan Al-Alawi

Irfan al-Alawi meraih gelar doktor dalam bidang teologi islam dan tasawuf. Dia mengaku dirinya sebagai penasehat Islamic Heritage Research Foundation (Yayasan Peneliti Kebudayaan Islam) dan  Pengarah International di Centre for Islamic Pluralism (Pusat Pluralisme Islam).

Selain aktivitas di atas, Irfan adalah dosen di London University dan California University, serta Research Fellow di Leiden Belanda.

Dengan latar belakang seperti itu, kita bisa memastikan dia sejenis dengan Ulil Abshar Abdallah atau tokoh JIL Indonesia, anak didik amerika, corong-corong Yahudi yang menikam islam dari dalam.

Semoga Allah melindungi kita dari makar para pasukan iblis.

Allahu a’lam.

Catatan redaksi: Baca postingan kami juga di http://on.fb.me/1nxOcP1

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

indonesia tanpa syiah

Syiah itu Takfiri

Beberapa tokoh syiah menyerang kaum muslimin dg tuduhan, kalian takfiri. Suka menudng kafir orang lain. Bagaimana pandangan anda? Krn ini meresahkan.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Maling teriak maling, itu mungkin peribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan fenomena di atas. Kita bisa bandingkan aqidah syiah dengan aqidah kaum muslimin, ahlus sunah wal jamaah dalam masalah wala’ wal bara’ (loyalitas dan kebencian). Untuk menemukan kalimat takfir dalam referensi syiah, jauh lebih mudah dibandingkan kalimat takfir dalam referensi ahlus sunah.

Bagi Ahlus sunah, vonis kafir hanya diberikan untuk tindakan yang bertentangan dengan ushul islam (prinsip dasar islam), seperti mencela Allah atau Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, meyakini ada manusia yang lebih tinggi dari pada nabi dan rasul, menolak keotentikan al-Quran, menuduh para istri nabi dengan tuduhan zina, termasuk mengkafirkan para sahabat yang telah dijamin masuk surga. Karena semua tindakan ini mendustakan keterangan tegas yang terdapat dalam al-Quran dan sunah.

Disamping itu, ahlus sunah membedakan vonis kafir untuk perbuatan dengan vonis kafir untuk pelaku perbuatan. Dalam arti, tidak semua pelaku perbuatan kekafiran berhak dikafirkan. Sebagaimana, tidak semua pelaku maksiat berhak divonis telah berdosa. Masih banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan untuk bisa menghukumi kafir bagi individu.

Berbeda dengan prinsip syiah imamiyah. Vonis kafir yang mereka lemparkan, tidak keluar dari masalah wilayah dan imamah, pengakuan kekuasaan dan kepemimpinan bagi Ali bin Abi Thalib dan imam ahli bait setelahnya. Orang yang tidak mendukung wilayah dan imamah ahlu bait syiah, dianggap telah keluar dari islam.

Padahal anda tidak akan menemukan satupun dalil yang menyebutkan status kafir untuk orang yang tidak mengakui imamah model syiah. Selain hadis dusta buatan syiah, atau ayat al-Quran yang dipelintir untuk mendukung aqidah mereka.

Anda bisa bayangkan, berapa jumlah kaum muslimin yang menjadi korban vonis kafir gara-gara prinsip semacam ini. Dan karena prinsip ini pula, syiah dengan tegas mengkafirkan seluruh sahabat, selain beberapa orang yang mereka kecualikan.

Berikut pernyataan para tokoh syiah,

Ibnu Babawaih al-Qummi dalam risalah al-I’tiqadat menyatakan,

واعتقادنا فيمن جحد إمامه أمير المؤمنين علي بن أبي طالب والأئمة من بعده عليهم السلام أنه كمن جحد نبوة جميع الأنبياء واعتقادنا فيمن أقر بأمير المؤمنين وأنكر واحدا من بعده من الأئمة أنه بمنزلة من أقر بجميع الأنبياء وأنكر نبوة نبينا محمد صلى الله عليه وآله

Keyakinan kami bahwa orang yang menentang kepemimpinan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan para imam setelahnya ’alaihimus salam itu seperti orang yang menentang kenabian seluruh para nabi. Keyakinan kami, bahwa orang yang mengakui kepemimpinan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib), namun menolak salah satu imam setelahnya, statusnya seperti orang yang mengakui kenabian seluruh nabi, tapi dia mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi. (al-I’tiqadat, hlm. 103, Markaz Nasyr al-Kitab, Iran, 1370).

Kemudian penulis membawakan keterangan dusta atas nama Imam Ja’far as-Shadiq,

المنكر لآخرنا كالمنكر لأولنا

”Orang yang mengingkari imam generasi akhir, seperti yang mengingkari imam generasi awal.” (al-I’tiqadat, hlm. 103).

Keterangan lain disampaikan al-Majlisi, tokoh syiah yang bergelar al-Allamah al-Hujjah,

اعلم أن إطلاق لفظ الشرك والكفر على من لم يعتقد إمامة أمير المؤمنين والأئمة من ولده عليهم السلام وفضل عليهم غيرهم يدل أنهم مخلدون في النار

Ketahuilah, vonis syirik dan kafir yang diberikan kepada orang yang tidak meyakini kepemimpinan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) dan para imam keturunannya ‘alaihimus salam, dan lebih mengunggulkan orang lain di atas mereka (imam 12), menunjukkan bahwa orang ini kekal di neraka. (Bihar al-Anwar, 23/390).

Dia membawakan hadis dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الأئمة من بعدي اثنى عشر أولهم أمير المؤمنين علي بن ابي طالب وآخرهم القائم طاعتهم طاعتي ومعصيتهم معصيتي من أنكر واحدا منهم قد أنكرني

Para pemimpin setelahku ada 12 orang. Yang pertama Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan yang terakhir adalah al-Qoim (sang penegak). Mentaati mereka sama dengan mentaatiku. Bermaksiat kepada mereka sama dengan bermaksiat kepadaku. Siapa yang mengingkari salah satu diantara mereka, berarti dia telah mengingkariku. (Bihar al-Anwar, al-Majlisi as-Syi’i, 27/61).

Kemudian, As-Syaikh al-Mamiqani – bergelar al-Allamah ats-Tsani – dalam kitab Tanqih al-Maqal mengatakan,

وغاية ما يستفاد من الأخبار جريان حكم الكافر والمشرك في الآخرة على كل من لم يكن اثنى عشري

Kesimpulan terakhir yang bisa diambil dari semua riwayat (versi syiah), berlakunya vonis kafir dan syirik di akhirat, untuk semua orang yang bukan penganut syiah itsna ’asyariyah (syiah 12 imam). (Tanqih al-Maqal, 1/208).

Syiah Itsna ’Asyariyah adala syiah 12 imam yang saat ini dijadikan agama resmi negara Iran. Syiah ini yang dikembangkan Khumaini dan Hasan Nasrulat di Libiya, dan tokoh syiah lainnya.

Keterangan lain, disampaikan al-Faidh al-Kasyani dalam Minhaj an-Najah,

ومن جحد إمامة أحدهم – أي الأئمة الاثنى عشر – فهو بمنزلة من جحد نبوة جميع الأنبياء عليهم السلام

Siapa yang tidak mengakui salah satu kepemimpinan mereka – yaitu imam 12 – maka statusnya seperti orang yang tidak mengakui kenabian seluruh para nabi ’alaihimus salam. (Minhaj an-Najah, hlm. 48).

Keterangan lain, disampaikan Syaikh al-Mufid, dalam kitabnya Awail al-Maqalat, beliau mengatakan,

اتفقت الإمامية: على أن من أنكر إمامة أحد من الأئمة وجحد ما أوجبه الله تعالى له من فرض الطاعة فهو كافر ضال مستحق للخلود في النار

Penganut syiah imamiyah sepakat bahwa orang yang mengingkari kepemimpinan dari salah satu imam, dan menolak kewajiban untuk taat yang Allah bebankan kepadanya, maka dia kafir, sesat, berhak untuk kekal di neraka. (Awail al-Maqalat, hlm. 44)

Dan masih ada segudang keterangan mereka tentang kafirnya orang yang tidak mengimani imamah, tidak meyakini adanya imam 12 sebegaimana yang diajarkan syiah.

Ketika anda berkeyakinan bahwa kekhalifahan Abu Bakr, Umar, dan Utsman, maka bagi syiah, anda telah terjerumus ke dalam kekafiran. Karena mengakui kekhalifahan mereka, dianggap menentang kekhalifahan Ali, yang telah tegak sejak meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengkafirkan Sahabat, Puncak Takfir

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, karena prinsip imamah, syiah dengan sadis mengkafirkan semua yang tidak menomor-satukan Ali bin Abi Thalib dan 11 imam sisanya. Hingga mereka mengkafirkan para sahabat, selain yang mereka kecualikan.

Padahal, terdapat banyak dalil yang menunjukkan jaminan surga untuk para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya, firman Allah,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)

Makna “Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari golongan muhajirin dan anshar” tidak lain adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Atau frman Allah,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (baiat ridhwan). Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia menurunkan ketenangan untuk mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. al-Fath: 18)

Sementara dalam hadis shahih, terlalu banyak dalil yang menunjukkan jaminan surga bagi para sahabat.

Kita bisa bandingkan dua sikap takfir, antara mengkafirkan orang yang dijamin masuk surga dengan mengkafirkan orang yang tidak dijamin masuk surga. Mana dari dua sikap ini yang lebih parah?

Tentu semua jawaban tertuju di satu pilihan, mengkafirkan orang yang dijamin  masuk surga statusnya lebih parah. Karena ada dua pelanggaran dalam kasus ini, takfir (mengkafirkan orang yang tidak layak dikafirkan) dan takdzib (mendustakan dalil).

Karena itu, mengkafirkan sahabat adalah puncak takfir.

Syiah Mengkafirkan Para Sahabat

Sudah menjadi rahasia umum, syiah imamiyah mengkafirkan para sahabat. Hanya karena mereka membaiat Abu Bakr, Umar, Utsman, kemudian Ali bin Abi Thalib.

Berikut beberapa keterangan mereka,

Pertama, riwayat palsu dari Imam Ja’far as-Shodiq tentang tafsir firman Allah,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (lagi), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, Maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka.. (QS. an-Nisa: 137)

Kata Imam Ja’far,

نزلت في فلان وفلان وفلان آمنوا بالنبي صلى الله عليه وآله وسلم في أول الأمر، وكفروا حيث عرضت عليهم الولاية – أي إمامة علي – حين قال النبي صلى الله عليه وسلم: من كنت مولاه فهذا علي مولاه. ثم آمنوا بالبيعة لأمير المؤمنين عليه السلام، ثم كفروا حيث مضى رسول الله صلى الله عليه وآله، فلم يقروا بالبيعة، ثم ازدادوا كفرا بـأخذهم من بايعه بالبيعة لهم، فهؤلاء لم يبق فيهم من الإيمان شيء

Ayat ini turun terkait kasus 3 orang. Dulu mereka beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kafir karena menolak wilayah (kepemimpinan Ali), ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Siapa yang menjadikan aku walinya maka Ali harus menjadi walinya.’ Kemudian mereka beriman lagi dengan membaiat Amirul Muknin ’alaihis salam, kemudian mereka kufur lagi, karena setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, mereka tidak mengakui baiat Ali. Kemudian bertambah kufur dengan memaksa orang yang membaiat Ali untuk membaiat mereka. Mereka itulah, orang yang tidak tersisa sedikitpun iman. (Ushul Kafi, al-Kullaini, 1/420).

Yang dimaksud 3 orang dalam riwayat dusta di atas adalah Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Menurut al-Kullaini, mereka itu merampas kepemimpinan Ali dan membatalkan baiat untuk Ali.

Dalam keterangan yang lain, dalam kitab yang sama, riwayat dusta dari Imam Ja’far as-Shadiq,

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم: من ادعى إمامة من الله ليست له، ومن جحد إماما من الله، ومن زعم أن لهما في الإسلام نصيبا. يقصد أبو بكر وعمر رضي الله عنهما

Ada 3 orang yang tidak akan Allah ajak bicara di hari kiamat, tidak disucikan dan untuk mereka adzab yang pedih:

orang yang mengklaim imamah dari Allah tidak untuk Ali, orang yang menolak imam dari Allah, dan orang yang berkeyakinan bahwa dua orang ini (yaitu Abu Bakr dan Umar) masih memiliki bagian dalam islam. (Ushul al-Kafi, 1/373)

Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semua sahabat murtad. Dalam Bihar al-Anwar, al-Majlisi dengan tegas membawakan riwayat palsu dari Imam Abu Bakr al-Baqir,

ارتد الناس إلا ثلاثة نفر: سلمان وأبو ذر والمقداد. وأناب الناس بعد: كان أول من أناب أبو ساسان وعمار وأبو عروة وشتيرة، فكانوا سبعة فلم يعرف حق أمير المؤمنين إلا هؤلاء السبعة

Semua sahabat murtad kecuali 3 sahabat: Salman al-Farisi, Abu Dzar, dan al-Miqdad. Dan setelah itu banyak orang yang kembali. Orang yang pertama kali kembali adalah Abu Sasan, Ammar, Abu Urwah, dan Syatirah. Merekalah tujuh orang. Tidak ada yang mengetahui hak Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) kecuuali 7 orang itu. (Bihar al-Anwar, 22/333 – Rijal al-Kusyi, 1/26).

Juga disebutkan, bahwa Imam Abu Ja’far mengatakan,

ألا أحدثك بأعجب من ذلك: المهاجرون والأنصار ذهبوا إلا ثلاثة

Mau kusampaikan kepadamu peristiwa yang paling mengherankan dari pada itu, para kaum muhajirin dan anshar telah pergi (kufur), kecuali 3 orang. (Ushul Kafi, 2/244).

Tiga orang sahabat yang dimaksud adalah Salman, Abu Dzar, dan al-Miqdad radhiyallahu ‘anhum.

Saking bencinya mereka kepada Abu Bakr, mereka menuduh beliau sujud di atas berhala. Dalam al-Anwar an-Un’maniyah dinyatakan,

فإنه قد روي في الأخبار الخاصة أن أبا بكر كان يصلي خلف رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم والصنم معلق في عنقه، وسجوده له

Diriwayatkan dalam berita-berita khusus, bahwa Abu Bakr shalat menjadi makmum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara ada berhala kecil yang dikalungkan di lehernya. Dan Abu Bakr sujud ke berhala itu. (al-Anwar an-Un’maniyah, 1/53).

Sebenarnya masih terlalu banyak keterangan mereka tentang vonis kafirnya para sahabat dan kaum muslimin.. Selanjutnya kita bisa menilai, betapa bahayanya vonis kafir dalam sekte syiah.

Allahu a’alam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

bendera hitam isis

Bendera Hitam Isis Tanda Kiamat

Apakah dijaman ini dengan bermunculannya bendera hitam seperti isis. Ini ada kaitannya dengan tanda kiamat selain أشرة الساعة?

Dari Abu Sifiyah

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sesungguhnya kiamat adalah sesuatu yang pasti. Kita tunggu maupun tidak kita tunggu, dia akan datang tanpa terduga. Dan Allah ta’ala menciptakan beberapa tanda akan datangnya kiamat.

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ

Tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena Sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka Apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila kiamat sudah datang?(QS. Muhammad: 18)

Tanda hari kiamat ada dua,

Pertama, tanda kiamat kecil (asyrat shugra)

Bisa bentuknya peristiwa luar biasa yang terjadi jauh sebelum kiamat, seperti diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mukjizat-mukjizat beliau.

Allah menyebut mukjizat beliau membelah bulan, termasuk tanda kiamat.

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

Telah dekat kiamat dan bulan telah terbelah. (QS. Al-Qomar: 1)

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,

فبعثة رسول الله صلى الله عليه وسلم من أشراط الساعة ؛ لأنه خاتم الرسل الذي أكمل الله تعالى به الدين وأقام به الحجة على العالمين ، وقد أخبر صلى الله عليه وسلم بأمارات الساعة وأشراطها ، وأبان عن ذلك وأوضحه بما لم يؤته نبي قبله

Diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk tanda kiamat. Karena beliau adalah penghujung para rasul. Dengan beliau, Allah sempurnakan agama dan Allah tegakkan hujjah kepada seluruh alam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengabarkan akan tanda-tanda kiamat. Beliau jelaskan kejadian-kejadian yang belum dijelaskan nabi sebelumnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/315).

Termasuk tanda kiamat kecil adalah semua kejadian yang biasa bagi manusia, bahkan munculnya umumnya tidak disadari, tapi disebut sebagai tanda kiamat dalam al-Quran dan sunah. Seperti dicabutnya ilmu, tersebarnya kebodohan di masyarakat, maraknya minum khamr, berlomba-lomba meninggikan bangunan, terjadi banyak pembunuhan, kekacauan, dst.

Kedua, tanda kiamat kubro

Itulah kejadian besar, peristiwa luar biasa, yang menunjukkan dekatnya kiamat. Seperti munculnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ’alaihis salam, munculnya Yakjuj dan Makjuj, dst. (Asyrat Sa’ah, Yusuf al-Wabil, hlm. 77).

Apakah ISIS Termasuk tanda Kiamat?

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا، وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا، وَيُصْبِحُ كَافِرًا، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي

Sesungguhnya sebelum kiamat akan terjadi banyak fitnah, seperti sepotong malam yang gelap. Pagi hari seseorang masih mukmin, sore sudah menjadi kafir. Sore hari seseorang beriman, paginya menjadi kafir. Orang yang duduk lebih baik dari pada yang berdiri, yang berjalan lebih baik dari pada berlari. (HR. Ahmad 19730, Abu Daud 4259, Ibnu Majah 3961 dan yang lainnya).

Dan umumnya, fitnah itu muncul dari daerah timur. Iraq, Iran, Asia tengah dan sekitarnya.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa,

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي يَمَنِنَا

Ya Allah, berkahilah daerah Syam untuk kami (kaum muslimin) dan berkahilah daerah Yaman.

Beliau mengulang-ulang hingga para sahabat mengatakan,

‘Ya Rasulullah, berkahi daerah Iraq.’

Kemudian beliau bersabda,

إِنَّ بِهَا الزَّلَازِلَ وَالفِتَنَ وَبِهَا يَطلُعُ قَرْنُ الشَّيطَانِ

Di sana akan muncul banyak gempa bumi dan fitnah. Di sana terbit dua tanduk setan. (HR. at-Thabrani dalam Mu’jam al-Kubro, 13422, dan perawinya Tsiqqah).

Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ العِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الهَرْجُ – وَهُوَ القَتْلُ القَتْلُ – حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمُ المَالُ فَيَفِيضَ

Tidak akan terjadi kiamat, hingga ilmu dicabut, sering gempa bumi, waktu menjadi pendek, muncul banyak fitnah, dan banyak terjadi al-haraj. Yaitu pembunuhan-pembantaian. Hingga kalian banyak mendapatkan harta dan melimpah. (HR. Bukhari 1036).

Demikian beberapa hadis yang menyebutkan kejadian kiamat. Banyak terjadi fitnah, yang mengancam keselamatan agama manusia.Terutama di daerah Iraq, Iran dan sekitarnya. Dan banyak terjadi pembunuhan dan pembantaian.

Hanya saja, kita tidak bisa memastikan apakah yang dimaksud itu adalah kejadian munculnya ISIS saat ini ataukah kejadian lainnya. Kita tidak tahu. Karena itu, sikap yang tepat, kita biarkan realita ini berjalan dan tidak memberikan komentar, maupun mengkaitkannya dengan kedatangan hari kiamat.

Bisa Jadi tidak Ada Hubungannya

Salah satu kesalahan yang dilakukan sebagian orang, upaya selalu mengintai tanda-tanda kiamat. Setiap ada kejadian menarik, dia sebarkan di tengah masyarakat, ini tanda akhir zaman. Dajjal sudah dekat, Imam Mahdi akan segera keluar, dst. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai bahan ramalan. Besok pulau jawa akan terbelah, muncul sungai besar memisahkannya, dst.

Dulu banyak orang tanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kapan kiamat. Dan Allah menurunkan jawaban kepada mereka melalui ayat al-Quran, menegaskan bahwa ini masalah ghaib. Mengetahui kapan kiamat adalah bagian ilmu Allah yang hanya dimiliki Allah.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (QS. al-Ahzab: 63)

Tentu saja, ini termasuk sikap tercela. Karena tujuan adanya banyak peristiwa dan fitnah di akhir zaman, bukan untuk dijadikan bahan perdebatan kapan kiamat. Tapi agar manusia semakin takut kepada Allah. Sehingga berusaha mencari jalan terbaik, untuk kebaikan dunia dan akhiratnya.

Dr. Umar al-Asyqar mengatakan,

فالبحث في هذا الأمر، والزعم أن الساعة ستقع في عام بعينه تَقَوُّل على الله بغير علم، والخائضون في ذلك مخالفون للمنهج القرآني النبوي الذي وجه الناس إلى ترك البحث في هذا الموضوع، ودعاهم إلى الاستعداد لهذا اليوم بالإيمان والعمل الصالح

Mencari-cari tanda kiamat, atau meramal bahwa kiamat akan terjadi di tahun sekian, termasuk berbicara atas nama Allah tanpa bukti. Orang yang memperdebatkan hal ini, telah menyimpang dari pelajaran yang disampaikan dalam al-Quran dan sunah nabi, yang mengajarkan manusia agar meninggalkan upaya mengkait-kaitkan tanda-tanda kiamat. Dan mengajak mereka untuk mempersiapkan diri dengan menguatkan iman dan amal soleh. (al-Yaum al-Akhir, al-Qiyamah as-Shugra, Dr. Umar al-Asyqar, hlm. 121).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

ahli kitab

Siapa Ahli Kitab?

Apakah umat islam bisa disebut ahli kitab?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala menyebut al-Quran dengan nama al-Kitab. Terdapat banyak ayat al-Quran yang menunjukkan hal itu. Diantaranya firman Allah,

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Alif lam mim, inilah al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa. (al-Baqarah: 1 – 2).

Atau firman Allah,

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ . ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu al-kitab (Al Quran) Itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha mengetahui lagi Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Kemudian al-Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami (QS. Fathir: 31 – 32).

Berdasarkan ayat ini, kita adalah yang mendepat kitab dari Allah. Bahkan kitab yang paling mulia diantara kitab-kitab yang Allah turunkan.

Akan tetapi, istilah ’ahli kitab’ adalah istilah syar’i, yang harus kita pahami sesuai kriteria syariat (al-Isti’mal as-Syar’i). Bukan semata tinjauan bahasa. Dan seperti yang kita tahu, Allah menggunakan istilah ini khusus untuk menyebut orang yahudi dan nasrani.

Allah berfirman,

وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)

Tentu tidak boleh kita menafsirkan bahwa ahli kitab di situ mencakup seluruh umat yang diberi kitab. Karena ayat itu turun di zaman sahabat, dan tidak mungkin mereka termasuk dalam ’ahli kitab’ yang disebutkan di ayat. Semua sahabat beriman dan bertaqwa, sementara ayat di atas menyatakan, “di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Allah juga berfirman,

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir di kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata (QS. Al-Bayyinah: 1)

Tentu saja, kaum muslimin tidak termasuk dalam istilah ‘ahli kitab’ di atas. Karena Allah dengan jelas menyatakan mereka kafir.

Bahkan, ketika ada orang yahudi atau nasrani yang masuk islam, mereka tidak lagi disebut ahli kitab.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang pendeta yahudi yang masuk islam, bernama Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu. Ada juga orang nasrani yang masuk islam, seperti Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu ‘anhu. Allah menyinggung mereka dalam al-Quran,

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab.” (QS. Ar-Ra’du: 43)

Berdasarkan keterangan al-Hasan al-Bashri, Mujahid, Ikrimah, Ibnu Zaid, Ibnu Saib dan Muqatil, yang dimaksud ’orang yang mempunyai ilmu al-Kitab’ adalah Abdullah bin Salam.

Sementara menurut Qatadah, mereka adalah para ahli kitab yang telah masuk islam dan menjadi saksi kebenaran dahwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti Abdullah bin Salam, Tamim ad-Dari, atau Abdullah bin Salam.

(Zadul Masir, 2/502).

Yang menjadi catatan, ketika para ahli kitab itu masuk islam, baik sebelumnya beragama yahudi atau nasrani, Allah tidak lagi menyebut mereka ahli kitab. Tapi Allah menyebut mereka dengan ’orang yang mempunyai ilmu al-Kitab.’.

Ibnu Asyura mengatakan,

اسم ( أهل الكتاب ) لقب في القرآن لليهود والنصارى الذين لم يتديّنوا بالإِسلام ؛ لأن المراد بالكتاب : التوراة والإِنجيل إذا أضيف إليه ( أهل ) ، فلا يطلق على المسلمين ” أهل الكتاب ” وإن كان لهم كتاب، فمن صار مسلماً من اليهود والنصارى : لا يوصف بأنه من أهل الكتاب في اصطلاح القرآن

Istilah ’ahli kitab’ adalah istilah dalam al-Quran untuk menyebut orang yahudi dan nasrani yang tidak masuk islam. Karena yang dimaksud dengan al-Kitab di sini adalah Taurat dan Injil, apabila di depannya di tambahkan kata ’ahlu’. Sehingga tidak boleh menyebut kaum muslimin dengan ahli kitab. Meskipun mereka memiliki kitab. Untuk itu, orang yahudi dan nasrani yang menjadi muslim, tidak disebut ahli kitab dalam istilah al-Quran. (Tafsir Ibnu Asyura – at-Tahrir wa at-Tanwir, 27/249)

Nama yang Allah Berikan kepada Umat Islam

Dalam al-Quran, Allah menyebut umat yang beriman dengan kebenaran dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kaum muslimin.

Allah berfirman,

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian dengan kaum muslimin dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (QS. Al-Hajj: 78)

Inilah nama yang syar’i bagi umat islam. Kaum muslimin. Nama ini telah Allah sebutkan dalam al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,992FansLike
4,525FollowersFollow
31,229FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN