<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; AQIDAH</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/aqidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 May 2013 10:23:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Anak Genderuwo Menurut Islam</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/anak-hantu-genderuwo/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/anak-hantu-genderuwo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 06:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[hantu genderuwo]]></category>
		<category><![CDATA[penampakan genderuwo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18111</guid>
		<description><![CDATA[Adakah Anak Genderuwo dalam Islam? Anak genderuwo wagini, menyimpan tanda tanya. Mungkinkah ada pernikahan jin dan manusia dalam islam? Bisakah terlahir anak anak? Pertanyaan: Maaf, tanya lagi.., sdh lama gak nanya. Baru-baru ini rame anak genderuwo. Wagini yang disebut oleh ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Adakah Anak Genderuwo dalam Islam?</strong></h2>
<p><strong>Anak genderuwo wagini</strong>, menyimpan tanda tanya. Mungkinkah ada pernikahan jin dan manusia dalam islam? Bisakah terlahir anak anak?<br />
<span id="more-18111"></span><br />
<strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Maaf, tanya lagi.., sdh lama gak nanya.</em></p>
<p><em>Baru-baru ini rame anak genderuwo. Wagini yang disebut oleh pendampingnya Eyang Ratih sebagai anak genderuwo. Nah mungkinkah itu trjadi dlm islam. Trus bagaimn prosesnya?krn saya bingung..tolong dijelasin. Trim’s tadz..</em></p>
<p>Dari: mr. yx</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Sebelum lebih jauh membahas anak genderuwo, terlebih dahulu kita memahami mungkinkah terjadi pernikahan antara jin dan manusia?</p>
<p>Ulama berbeda pendapat dalam hal ini,</p>
<p>Pertama menyatakan mungkin terjadi pernikahan antara jin dan manusia. Diantara ulama yang mengakui hal ini adalah As-Suyuthi. Dalam bukunya Laqathul Mirjan hlm. 30 – 38, beliau menyebutkan beberapa riwayat dari ulama masa silam, bahwa di zaman mereka pernah terjadi pernikahan antara jin dan manusia, dan bahkan menghasilkan keturunan.</p>
<p>Hal yang sama juga dinyatakan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah. Dalam Majmu’ Fatawa beliau menyatakan,</p>
<p class="arab">وقد يتناكح الإنس والجن ويولد بينهما ولد، وهذا كثير معروف</p>
<p>“Dan pernah terjadi pernikahan antara manusia dan jin, bahkan terlahir keturunan. Dan ini banyak terjadi, satu hal yang ma’ruf.” (Majmu’ al-Fatawa, 19/39).</p>
<p>Kedua menyatakan tidak mungkin terjadi, dan mereka melarang pernikahan semacam ini.</p>
<p>Diantara ulama yang menegaskan hal ini adalah Al-Mawardi. As-Syinqithy menukil keterangan beliau dalam Adhwaul Bayan,</p>
<p class="arab">وهذا مستنكر للعقول، لتباين الجنسين، واختلاف الطبعين، إذ الآدمي جسماني، والجني روحاني، وهذا من صلصال كالفخار، وذلك من مارج من نار، والامتزاج مع هذا التباين مدفوع ، والتناسل مع هذا الاختلاف ممنوع.</p>
<p>Pernikahan ini tidak masuk akal, karena perbedaan jenis antara jin dan manusia, serta perbedaan tabiat mereka. Karena manusia berjasad, sementara jin adalah tidak terlihat. Yang satu dari tanah kering seperti tembikar, sementara yang satu dari nyala api. Sementara terjadikan gabungan dengan kondisi perbedaan ini, tidak masuk akal. Demikian pula terjadinya keturunan dengan perbedaan ini, mustahil. (Adhwaul Bayan, 3/43).</p>
<p>Kemudian Al-Munawi dalam Faidhul Qadir juga menyebutkan perbedaan ini. Beliau menyatakan,</p>
<p class="arab">وفي حل نكاح الإنس للجن خلاف ففي الفتاوى السراجية للحنفية لا تجوز المناكحة بين الإنس والجن وإنسان الماء لاختلاف الجنس وفي فتاوى البارزي من الشافعية لا يجوز التناكح بينهما ورجح ابن العماد جوازه</p>
<p>Terdapat perbedaan tentang kehalalan pernikahan antara manusia dan jin. Dalam Fatawa As-Sirajiyah – madzhab hanafiyah – dinyatakan, “Tidak boleh terjadi pernikahan antara manusia, jin, dan ikan duyung. Karena perbedaan jenis mereka.” Sementara dalam Fatawa Al-Barizi – madzhab syafiiyah – disebutkan, “Tidak boleh terjadi pernikahan antara jin dan manusia. Sementara Ibnu Ammad menguatkan pendapat yang membolehkan.” (Faidhul Qadir, 1/186).</p>
<h3><strong>Adakah Anak Genderuwo?</strong></h3>
<p><strong>Anak genderuwo</strong> artinya anak hasil hubungan antara jin dan manusia. Sebagian ulama yang berpendapat memungkinkan terjadi pernikahan antara jin dan manusia, mereka menyatakan bahwa perniakahan itu juga memungkinkan untuk menghasilkan keturunan. Diantara yang menegaskan hal ini adalah As-Suyuthi. Beliau membawakan hadis yang diriwayatkan Abu Syaikh dalam kitab &#8216;Al-Adzamah&#8217;, Ibnu Mardawaih, Ibn Asakir, dari Abu Hurairah<em> radhiyallahu &#8216;anhu</em>,</p>
<p class="arab">أحد ابوي بلقيس كان جنيا</p>
<p>“Salah satu orang tua Bilqis adalah jin.”</p>
<p>Kemudian diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dan Ibnul mundzir dari Mujahid, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">صَاحِبَةَ سَبَأٍ كَانَتْ أُمُّهَا جِنِّيَّةً</p>
<p>“Ibunya ratu Saba (Ratu Bilqis) adalah seorang jin.”</p>
<p>[Laqathul Mirjan, hlm. 32].</p>
<p>Demikian pula yang dijelaskan Syaikhul Islam. Beliau menegaskan bahwa itu mungkin saja terjadi dan bisa saja melahirkan anak. Dalam Majmu’ Fatawa, beliau menyatakan</p>
<p class="arab">وقد يتناكح الإنس والجن ويولد بينهما ولد وهذا كثير معروف، وقد ذكر العلماء سر ذلك وتكلموا عليه، وكره أكثر العلماء مناكحة الجن..</p>
<p>Terkadang terjadi pernikahan antara manusia dan jin, dan terkadang terlahir seorang anak dari hasil keduanya. Semacam ini peristiwa yang banyak terjadi dan makruf (sudah umum). Sebagian ulama juga telah menjelaskan rahasia di balik itu, dan memberikan komentar tentangnya. Hanya saja, mayoritas ulama membenci pernikahan dengan jin. (Majmu’ al-Fatawa, 19/39).</p>
<p>Meskipun sebagian ulama menilai bahwa riwayat yang dibawakan As-Suyuthi adalah riwayat yang sangat lemah, sehingga tidak bisa menjadi dalil. Sebagaimana dijelaskan dalam Silsilah Ahadits Dhaifah (12/601 – 603).</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, mungkin saja terjadi keturunan antara jin dan manusia. Hanya saja kita tidak bisa menegaskan bahwa si A adalah putra jin atau anak genderuwo. Karena semacam ini hanya klaim dan klaim. Tidak ada bukti yang pasti.</p>
<h3><strong>Sama dengan Manusia Biasa</strong></h3>
<p>Yang lebih penting adalah kita menanamkan keyakinan bahwa siapapun anak genderuwo itu, selama dia manusia maka dia sama dengan kita. Sama-sama manusia, yang hanya memiliki kemampuan sebagaimana manusia lainnya. Tidak lebih dari itu. Karena dia manusia dan bukan jelmaan jin. Cerita bahwa dia bisa membunuh ular tanpa disentuh atau bisa mengobati orang sakit dan seterusnya, bisa jadi karena dibantu jin atau sebab lainnya, dan tidak selayaknya untuk dijadikan rujukan.</p>
<p>Allahu a’lam</p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/anak-hantu-genderuwo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Dialog Imajiner</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-dialog-imajiner-antara-tuhan-dan-hamba/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-dialog-imajiner-antara-tuhan-dan-hamba/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 08:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[dialog tuhan dan hamba]]></category>
		<category><![CDATA[hukum dialog]]></category>
		<category><![CDATA[imajiner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18075</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Dialog Imajiner Dialog Imajiner ternyata menyimpan sejuta masalah. Karena termasuk berdusta atas nama syariat. Islampun melarang kita utk menyebarkannya, karena Nabi menyebutnya sebagai pendusta. Pertanyaan: Assaamualaikum wr.w.b Sering ana membaca artikel-artikel yang digambarkan dalam bentuk dialog imajiner. cuman yang ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Dialog Imajiner</strong></h2>
<p><a title="Dialog Imajiner" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Dialog Imajiner</a> ternyata menyimpan sejuta masalah. Karena termasuk berdusta atas nama syariat. Islampun melarang kita utk menyebarkannya, karena Nabi menyebutnya sebagai pendusta.<br />
<span id="more-18075"></span><br />
<strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assaamualaikum wr.w.b</em></p>
<p><em>Sering ana membaca artikel-artikel yang digambarkan dalam bentuk dialog imajiner. cuman yang menjadi masalah adalah, dialog tersebut melibatkan Allah, Malaikat, Syaitan bahkan Para Nabi. padahal sesungguhnya tidak pernah terjadi dialog tersebut.</em></p>
<p><em>Bolehkah membuat tulisan seperti itu ?</em></p>
<p><em>ini contoh dialog imajiner (hanya cuplikan) :</em></p>
<blockquote><p><em>Pada waktu yang hampir bersamaan seorang Tukang kayu yang sangat miskin telah mendengar akan wasiat tersebut lalu diberitahu kepada isterinya apakah dia perlu mengambil kesempatan ini untuk menjadi kaya. Isterinya berkata, “Wahai suamiku, apalah artinya menjaga mayat tersebut selama 40 hari dibandingkan kerjamu ketika menebang kayu di dalam hutan dan bertemu dg harimau dan hantu penunggu hutan. Tukang kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris konglomerat tersebut akan kesanggupannya. Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat, Si Tukang kayu itu pun ikut turun ke dalam liang lahat bersama kapaknya.</em></p>
<p><em>Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman tsb, maka datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut. Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang maka Ia segera agak menjauhkan diri dari mayat konglomerat tersebut. Terbetik di fikirannya bahwa sudah tiba saatnya Sang konglomerat tersebut akan diinterogasi oleh Mungkar dan Nakir. Tetapi yg terjadi malah sebaliknya, Mungkar dan Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya &#8220;Apa yang kau buat di sini&#8221; ?. Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah harta wasiatnya&#8221; jawab si Tukang kayu. &#8220;Apa harta yang ada pada kau sekarang&#8221;? lanjut Mungkar-Nakir. &#8220;Aku cuma memiliki sebatang kapak ini saja untuk mencari rezeki&#8221; timpal si tukang kayu. Kemudian Mugkar-Nakir beritanya lagi &#8220;Dari mana kau dapat kapak ini&#8221; ?. &#8220;Aku membelinya&#8221; balas si tukang kayu. Lalu pergilah Mungkar dan Nakir di hari pertama dari dalam kubur tersebut. Hari kedua Mereka datang lagi dan bertanya &#8220;apa yang kau buat dengan kapak ini&#8221;?. &#8220;Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar untuk dijual&#8221; sergah tukang kayu. Di hari ketiga di tanya lagi &#8220;Pohon siapa yang kau tebang dengan kapak ini?. &#8220;pohon itu adanya di hutan belantara jadi ngak ada yg punya&#8221; timpalnya. &#8220;Apa Kau yakin&#8221; lanjut malaikat.Kemudian Mereka menghilang dan datang lagi di hari ke empat. Kemudian Mereka bertanya lagi &#8220;Adakah kau potong pohon tersebut dengan kapak ini dg ukurannya dan beratnya yg sama untuk dijual?. &#8220;Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata&#8221; tegas tukang kayu. Begitu terus yg dilakukan malaikat Mungkar Nakir datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah dan yg ditanyakan masih berkisar dg kapak tersebut. …</em></p></blockquote>
<p><em>Mohon pencerahannya ustadz.</em></p>
<p>Dari: Firman S. – Lombok</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa alaikumus salam</p>
<p>Kita dilarang keras berbicara tentang masalah yang ghaib, masalah akhirat atau pertanyaan di kuburan, atau semua kejadian masa depan atau kejadian masa silam, tanpa bukti dan dalil yang shahih. Karena berbicara masalah yang ghaib tanpa dalil, pasti salah dan statusnya dusta.</p>
<p>Jika dusta atas nama makhluk hukumnya haram dan terlarang, berdusta atas nama Allah hukumnya jauh lebih terlarang.</p>
<p class="arab">قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan bebicara atas nama Allah, apa yang tidak kamu ketahui.&#8221;</em> (QS. Al-A’raf)</p>
<p>Semua informasi tentang syariat, baik yang berkaitan masalah hukum fikih maupun yang berkaitan dengan aqidah, harus berdasarkan dalil yang shahih dan jelas. Pelanggaran dalam hal ini, termasuk berbicara tentang Allah sementara kita tidak memiliki ilmunya.</p>
<h3><strong>Apa Hukumannya?</strong></h3>
<p>Ayat di atas, tidak memberikan ancaman hukuman apapun. Akan tetapi disebutkan dalam hadis, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memberi ancaman sangat keras untuk perbuatan semacam ini. Beliau bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ</p>
<p><em>Siapa yang berdusta atas namakku, hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Dalam lafadz yang lain,</p>
<p class="arab">مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ</p>
<p><em>Siapa yang berbicara atas namaku, padahal aku tidak pernah mengucapkannya, hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Demikian ancaman keras untuk orang yang berdusta atas nama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kita bisa bayangkan, bagaimana dengan hukuman untuk orang yang berdusta atas nama Allah. Tentu saja, hukumannya lebih berat.</p>
<p><a title="dialog imajiner" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-dialog-imajiner-antara-tuhan-dan-hamba" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Dialog imajiner</strong></a> seperti yang anda sebutkan merupakan contoh berbicara atas nama Allah dan Rasulul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Namanya saja dialog imejiner, jelas tidak memiliki bukti maupun dalil yang shahih. Kita tidak perlu ragu untuk menyebutnya sebagai kedustaan atas nama Allah dan Rasul-Nya.</p>
<h3><strong>Maksud yang Baik, Tidak Melegalkan Cara yang Buruk</strong></h3>
<p>Bisa jadi maksud orang ini sangat baik. Dia hendak mengingatkan masyarakat tentang betapa ngerinya pertanyaan kubur. Sehingga selayaknya kita perlu banyak waspada, agar bisa menjawab pertanyaan di alam kubur dengan benar. Namun tujuan yang baik ini tidak boleh dilakukan dengan cara yang melanggar syariat. Para ulama menetapkan kaidah,</p>
<p class="arab">الغاية تبرر الوسيلة</p>
<p>Tujuan tidak bisa melegalkan sarana yang tidak baik</p>
<p>Lebih dari itu, masih banyak cara yang dibenarkan untuk menyampaikan nasehat tentang alam kubur atau nasehat tentang akhirat.</p>
<h3><strong>Jangan Disebarkan!!</strong></h3>
<p>Setelah memahami bahwa dialog imajiner termasuk berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, sikap yang harus kita lakukan adalah tidak boleh membenarkannya. Termasuk menyebarkannya. Karena kita dilarang menyebarkan kedustaan.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ</p>
<p>Siapa yang menyampaikan hadis dariku, dan dia menyangka bahwa itu dusta maka dia termasuk salah satu pendusta. (HR. Muslim dalam Mukadimah, Turmudzi dalam sunannya)</p>
<p>Dalam hadis ini, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebut orang yang menyebarkan hadis dhaif atau hadis yang dianggap palsu, sebagai salah satu pendusta. Tentu saja ancamannya akan lebih parah ketika kita yakin bahwa yang kita sebarkan adalah sebuah kedustaan.</p>
<p><strong>Apa beda ancaman pertama dan kedua?</strong></p>
<p>Pada kasus pertama, terdapat ancaman ‘siapkan tempatnya di neraka’ dan pada kasus kedua, ancaman yang disebutkan, ‘dia salah satu pendusta’.</p>
<p>Dua ancaman ini berbeda, sehingga tentu saja kasusnya beda. Untuk ancaman pertama, ancaman agar menyiapkan dirinya di neraka, berlaku untuk orang yang membuat informasi dusta atas nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Padahal beliau tidak pernah mensabdakannya.</p>
<p>Sementara ancaman kedua, pelakunya disebut pendusta, berlaku untuk orang yang menyebarkan hadis yang dia sangka itu dusta atau dia yakini itu dusta.</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-dialog-imajiner-antara-tuhan-dan-hamba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Thaha dan Yasin Nama Nabi?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 01:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat badr]]></category>
		<category><![CDATA[thaha]]></category>
		<category><![CDATA[yasin. shalawat thaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17995</guid>
		<description><![CDATA[Thaha dan Yasin Nabi Nabi? Ar-Raghib Al-Asfahani dalam Mufradat Gharibil Qur’an, mengatakan يس: يس قيل معناه يا إنسان، والصحيح أن يس هو من حروف التهجى كسائر أوائل السور Yasin, ada yang mengatakan maknanya adalah Ya Insan (wahai manusia). Yang benar ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Thaha dan Yasin Nabi Nabi?</strong></p>
<p>Ar-Raghib Al-Asfahani dalam Mufradat Gharibil Qur’an, mengatakan<br />
<span id="more-17995"></span></p>
<p class="arab">يس: يس قيل معناه يا إنسان، والصحيح أن يس هو من حروف التهجى كسائر أوائل السور</p>
<p><a title="Yasin" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Yasin</strong></a>, ada yang mengatakan maknanya adalah Ya Insan (wahai manusia). Yang benar bahwa <a title="yasin" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Yasin</strong></a> adalah huruf hijaiyah yang mengawali surat, sebagaimana yang ada pada awal surat yang lain. (Mufradat Gharibil Qur’an, hlm. 554).</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Katsir memberikan rincian perselisihan pendapat dalam masalah ini,</p>
<p>Tentang tafsir <a title="tha-ha" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi" target="_blank" rel="nofollow">Tha-ha</a>, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس قال : طه: يا رجل. وهكذا روي عن مجاهد، وعكرمة، وسعيد بن جبير، وعطاء</p>
<p>Riwayat dari Said bin Jubair, dari Ibn Abbas, beliau mengatakan, Thaha: “Ya Rajul” (wahai lelaki). Demikian yang diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair, dan Atha’. Dan yang dimaksud lelaki di sini adalah Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Ibnu Katsir juga menukil riwayat yang dibawakan Al-Qadhi Iyadh – ulama syafiiyah – dalam kitabnya As-Syifa’ bi Ta’rif Huquq Musthofa, dari Ibnu Ja’far, dari Rabi’ bin Anas, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika shalat beliau berdiri di atas satu kaki dan mengangkat satu kaki yang lain. Kemudian Allah menurunkan,</p>
<p class="arab">{ طه } ، يعني: طأ الأرض يا محمد، { مَا أَنزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى }</p>
<p>“<strong>Tha-ha</strong>”, artinya: Tha’ Al-Ardha (Injak tanah) wahai Muhammad, <em>“Kami tidaklah menurunkan Al-Quran kepadamu supaya kamu celaka.”</em> (Tafsir Ibn Katsir, 5/271 – 272)</p>
<p>As-Syinqithi dalam tafsirnya, Adwaul Bayan, ketika menafsirkan <a title="surat Thaha" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi" target="_blank" rel="nofollow"><strong>surat Thaha</strong></a>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">أظهر الأقوال فيه عندي أنه من الحروف المقطعة في أوائل السور ، ويدل لذلك أن &#8220;الطاء&#8221; و &#8220;الهاء&#8221; المذكورتين في فاتحة هذه السورة ، جاءتا في مواضع أخر لا نزاع فيها في أنهما من الحروف المقطعة ، أما &#8220;الطاء&#8221; ففي فاتحة &#8220;الشعراء&#8221; &#8220;طسم&#8221; وفاتحة &#8220;النمل&#8221; طس &#8221; . وفاتحة &#8220;القصص&#8221; وأما &#8220;الهاء&#8221; ففي فاتحة &#8220;مريم&#8221; في قوله تعالى : &#8220;كهيعص&#8221;.&#8221;</p>
<p>Pendapat yang paling kuat menurutku, bahwa yasin adalah huruf muqatha’ah (yang dibaca secara terpisah), yang ada di awal surat. Yang menunjukkan hal itu, bahwa huruf Tha’ dan Ha’ yang disebutkan di awal surat ini, juga disebutkan di surat-surat yang lain. Dan tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa kedua huruf ini adalah huruf muqatha’ah. Huruf Tha’ di sebutkan di awal surat As-Syu’ara dan Al-Qashas: ‘Tha – siin – miim’ dan awal surat An-Naml: ‘Tha – siin’. Sedangkan huruf Ha’, ada di awal surat Maryam, pada firman Allah: ‘Kaaf – Ha – Ya – ‘Ain – Shaad’. (Adwaul Bayan, 4/73).</p>
<p>As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan,</p>
<p class="arab">طه : من جملة الحروف المقطعة ، المفتتح بها كثير من السور ، وليست اسماً للنبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Thaha termasuk huruf Muqatha’ah, huruf yang sering menjadi pembukaan banyak surat. Dan bukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (Taisir Karim Rahman, 501)</p>
<p>Sementara Ibnul Jauzi merangkum sekian perbedaan pendapat para ahli tafsir tentang Tha-ha. Beliau menyimpulkan,</p>
<p class="arab">واختلفوا في معناها على أربعة أقوال</p>
<p>“Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna kata ini dalam 4 pendapat.”</p>
<p>Kemudian Ibnul Jauzi merinci satu-satu:</p>
<p>1. Tha-ha bermakna : Ya Rajul (Wahai lelaki). Pendapat ini diriwayatkan Al-Aufi dari Ibnu Abbas. Meskipun ulama yang menguatkan pendapat ini juga berbeda pendapat, dari mana asal bahawa Tha-ha dengan makna Ya Rajul.</p>
<p>2. Tha-ha merupakan singkatan nama. Untuk pendapat kedua ini juga terdapat perselisihan,</p>
<ul>
<li>Tha-ha adalah nama Allah, Tha’ mewakili Al-Lathif dan Ha’ mewakili Al-Hadi.</li>
<li>Tha-ha bukan nama Allah, tapi nama makhluk. Tha’ singkatan dari Thabah (arab: طابة), nama lain kota Madinah; dan Ha’ singkatan untuk Mekah.</li>
</ul>
<p>3. Tha-ha merupakan sumpah Allah. Menurut Al-Qurthubi, Allah bersumpah dengan sifat-Nya : بطوله وهدايته : kebesaran dan hidayah-Nya.</p>
<p>4. Tha-ha maknanya adalah Tha’ Al-Ardha (injaklah tanah) sebagaimana riwayat Rabi’ bin Anas dalam hadis di atas.</p>
<p><em>(Tafsir Zadul Masir, 3/150 – 151).</em></p>
<p>Dari keterangan di atas, dan rangkuman yang disampaikan Ibnul Jauzi, kami tidak menjumpai adanya keterangan bahwa Thaha maupun Yasin adalah nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Riwayat Ibn Abbas yang menyatakan bahwa Tha-ha artinya wahai lelaki, tidaklah menunjukkan bahwa itu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena Tha-ha bentuknya kalimat panggilan untuk beliau dan bukan nama beliau.</p>
<h3><strong>Keterangan Yang Dari Sumber tentang Thaha</strong></h3>
<p>Keterangan yang pernah saya dengar mengapa Thaha dijadikan nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, mereka menyamakan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ibarat bulan purnama. Bulan purnama terbit tanggal 14, berdasarkan kalender qamariyah.</p>
<p class="arab">الأحرف العربي القديم قبل تحويله إلى نظام هجائي. يبدأ بحرف الألف وينتهي بحرف الغين</p>
<p>Di masa silam, masyarakat arab menggunakan huruf abjad untuk mewakili angka. Diawali dari huruf alif yang mewakili angka 1 dan diakhiri huruf ghain yang mewakili angka 1000. Kemudian dalam perkembangannya, huruf ini menjadi huruf hijaiyah.</p>
<p>Urutannnya seperti yang disebutkan dalam tabel berikut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">غ</p>
</td>
<td valign="top" width="17">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="30">
<p align="center">س</p>
</td>
<td valign="top" width="18">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ك</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ي</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ط</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ح</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ز</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">و</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ه‍</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">د</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ج</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ب</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">أ</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">1000</p>
</td>
<td valign="top" width="17">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="30">
<p align="center">60</p>
</td>
<td valign="top" width="18">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">20</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">10</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">9</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">8</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">6</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">4</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">1</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Susunan huruf Tha-ha (طه) bernilai 9 dan 5, jika dijumlahkan hasilnya 14.</strong></p>
<p>Apa yang bisa kita simpulkan dari metode ini? <em><strong>Metode yang digunakan murni gothak-gathik-gathuk</strong></em> (cocok-cocokan). Sistematika abjad di atas sudah ada sejak masa jahiliyah. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan islam.</p>
<p>Lebih dari itu, rumus ini tidak berlaku untuk Yasin. Jika kita menyebut yasin sebagai nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sebagaimana Thaha, seharusnya juga berlaku rumus yang sama. Namun itu tidak terjadi. Angka yang diwakili huruf ya dan sin jika ditotal hasilnya 70. Teori gothak-gathik-gathuk akan kesulitan untuk mengaitkan angka ini dengan sosok Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Kesimpulannya, tidak ada dalil tegas yang menunjukkan bahwa Thaha dan Yasin adalah nama Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Ada beberapa tafsir dari para ulama, namun mereka tidak menyatakan bahwa susunan huruf-huruf itu merupakan nama beliau. Sementara rumus huruf hijaiyah jelas tidak bisa diterima, karena teorinya tidak terbukti secara ilmiah. Dan kita TIDAK boleh memberikan nama untuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan sesuatu yang BUKAN nama beliau, bukan pula gelar beliau.</p>
<h3><strong>Shalawat Thaha dan Yasin</strong></h3>
<p>Di tempat kita, kata Thaha dan Yasin akrab kita dengar dalam shalawat,</p>
<p><em>Shalatullah salamullah ‘ala yasin habibillah.., Shalatullah salamullah ‘ala thaha rasulillah..</em></p>
<p><strong>Yasin dan Thaha</strong> dalam shalawat itu maksudnya adalah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Bisa dikatakan, shalawat ini salah sasaran. Betapa tidak, nama yang mereka sebut Yasin dan Thaha bukan nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan bukan gelar beliau. Sehingga sejatinya pembaca shalawat itu memberikan shalawat dan salam bukan kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tapi kepada <strong>Pak Thaha dan Pak Yasin</strong>.</p>
<p>Nama-nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></p>
<p>Dalam sebuah hadis, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebut beberapa nama beliau. Dari Jubair bin Muth’im <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ لِي أَسْمَاءً، أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا المَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الكُفْرَ، وَأَنَا الحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي، وَأَنَا العَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدِي نَبِيٌّ</p>
<p>Saya memiliki beberapa nama: saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi (yang menghapus), orang yang Allah utus untuk menghapus kekufuran. Saya Al-Hasyir (yang mengumpulkan), dimana manusia akan dikumpulkan di bawah kakiku. Saya Al-‘Aqib (penghujung), dimana tiada nabi setelahku. (HR. Bukhari 4896 dan Muslim 2354 dan lafal ini dari shahih Muslim).</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanggal dan Hari Baik Untuk Menikah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tanggal-dan-hari-baik-untuk-menikah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tanggal-dan-hari-baik-untuk-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 May 2013 10:11:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[bulan syawal menikah]]></category>
		<category><![CDATA[buulan muharam]]></category>
		<category><![CDATA[hari baik nikah]]></category>
		<category><![CDATA[itungan nikah]]></category>
		<category><![CDATA[weton]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17905</guid>
		<description><![CDATA[Hari Baik Untuk Menikah Pertanyaan: Assalamualaikum ustadz, saya berencana ingin menikah tahun depan tgl 18 Januari 2014, pertanyaan saya apakah tgl tersebut merupakan tanggal Baik menurut kalender Islam dan mohon masukkan nya utk tgl Baik dibulan Januari, berikut artinya. Terima ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hari Baik Untuk Menikah</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamualaikum ustadz, saya berencana ingin menikah tahun depan tgl 18 Januari 2014, pertanyaan saya apakah tgl tersebut merupakan <a title="tanggal Baik menurut kalender Islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">tanggal Baik menurut kalender Islam</a> dan mohon masukkan nya utk tgl Baik dibulan Januari, berikut artinya. Terima kasih ustadz?</em></p>
<p>Dari: C. Sandra Dini<br />
<span id="more-17905"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa alaikumus salam</p>
<p>Dalam masalah muamalah, selama tidak ada larangan dalam syariat, semuanya baik. Termasuk penentuan tanggal pernikahan atau tanggal hajatan lainnya. Bahkan kita tidak dibolehkan menghukumi ada hari sial atau tanggal sial, kecuali dengan dalil. Dan kami tidak menjumpai ada satu dalil yang menyebutkan tentang hari sial atau tanggal sial, yang selayaknya hidindari ketika hendak melakukan hajatan.</p>
<h3><strong>Berkeyakinan Sial, Termasuk Syirik</strong></h3>
<p>Dalam kajian masalah aqidah, berkeyakinan sial karena melihat peristiwa tertentu atau terhadap hari tertentu disebut thiyarah atau tathayur. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyebut perbuatan ini sebagai kesyirikan, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari sahabat Ibn Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا</p>
<p><em>“Thiyarah itu syirik…, Thiyarah itu syirik…, (diulang 3 kali)”</em> (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, dan yang lainnya. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Sanadnya shahih).</p>
<p>Contoh thiyaroh yang banyak tersebar di indonesia adalah keyakinan sial yang dialami masyarakat jogja dan sekitarnya terhadap bulan suro (bulan Muharam). Pantangan bagi mereka untuk melakukan hajatan apapun di bulan ini. Karena menurut mereka, ulan suro ulan ciloko (<a title="bulan muharam" href="http://www.konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram/" target="_blank">bulan Muharam</a> adalah bulan ancaman bencana).</p>
<h3>Melawan Thiyaroh</h3>
<p>Sejatinya keyakinan ini sama persis dengan keyakinan masyarakat jahiliyah masa silam. Hanya saja bulannya berbeda. Bagi masyarakat masa silam, <a title="bulan syawal adalah bulan pantangan untuk menikah" href="http://www.konsultasisyariah.com/anjuran-menikah-di-bulan-syawal/" target="_blank">bulan syawal adalah bulan pantangan untuk menikah</a>. Untuk melawan keyakinan ini, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menikahi sebagian istrinya di bulan syawal. Beliau ingin buktikan bahwa pernikahan bulan syawal tidak memberi dampak buruk apapun bagi keluarga. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan oleh Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>;</p>
<p class="arab">تزوجني رسول الله صلى الله عليه و سلم في شوال وبنى بي في شوال فأي نساء رسول الله صلى الله عليه و سلم كان أحظى عنده منى ؟ قال وكانت عائشة تستحب أن تدخل نساءها في شوال</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menikahiku di bulan Syawal, dan mengadakan malam pertama denganku di bulan Syawal. Manakah istri beliau yang lebih mendapatkan perhatian beliau selain aku?” Salah seorang perawi mengatakan, “Aisyah menyukai jika suami melakukan malam pertama di bulan Syawal.” (HR. Muslim, An-Nasa’i, dan yang lain)</p>
<p>Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama menganjurkan agar menikah atau melakukan malam pertama di bulan Syawal. Sementara ulama lainnya mengatakan, semacam ini dikembalikan pada tujuan dakwah. A’isyah menyatakan demikian sebagai bentuk tantangan kepada keyakinan masyarakat jahiliyah bahwa nikah di bulan syawal tidak akan bahagia dan beakhir dengan perceraian. Namun A’isyah meyakinkan, dirinya wanita paling bahagia, padahal beliau menikah dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di bulan syawal.</p>
<p>Imam Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">وقصدت عائشة بهذا الكلام رد ما كانت الجاهلية عليه وما يتخيله بعض العوام اليوم من كراهة التزوج والتزويج والدخول في شوال وهذا باطل لا أصل له وهو من آثار الجاهلية كانوا يتطيرون بذلك</p>
<p>“Tujuan Aisyah mengatakan demikian adalah sebagai bantahan terhadap keyakinan jahiliah dan khurafat yang beredar di kalangan masyarakat awam pada waktu itu, bahwa dimakruhkan menikah atau melakukan malam pertama di bulan Syawal. Ini adalah keyakinan yang salah, yang tidak memiliki landasan. Bahkan, keyakinan ini merupakan peninggalan masyarkat jahiliah yang meyakini adanya kesialan menikah di bulan Syawal.” (Syarh Shahih Muslim, 9/209).</p>
<h3><strong>Hati-Hati dengan Pitungan dan Weton</strong></h3>
<p>Satu tradisi lain di jawa, pitungan. Sebagian orang diyakini memiliki kemampuan bisa menghitung dan memaknai tanggal, bulan, weton, dst. Sejatinya tidak ada ilmu baku dalam hal ini, selain gothak – gathik – gathuk (cok gali cok, digali-gali cocok). Dengan ilmu ini, Ki pitungan (tukang menghitung tanggal) akan menentukan mana hari baik, mana hari kurang baik, mana hari buruk, dan mana hari yang paling berbahaya.</p>
<p>100% metode semacam ini adalah ramalan. Karena nasib dan takdir seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tanggal lahir, weton, tanggal nikah, bulan jodoh, dst.</p>
<p>Jangan sekali-kali mendekati, apalagi meyakini, karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan ancaman, shalatnya tidak diterima. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً</p>
<p><em>Siapa yang mendatangi peramal, kemudian bertanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari.</em> (HR. Ahmad, Muslim)</p>
<h3><strong>Semua Tanggal Baik</strong></h3>
<p>Bersikaplah optimis, semua tanggal pernikahan adalah baik. Tawakkal kepada Allah, dan memohon semoga Allah memberkahi pernikahan anda dan keluarga anda. Selanjutnya jadikan keluarga anda: suami – istri yang bisa bekerja sama untuk membangun taqwa kepada Allah, bekerja sama melakukan ketaatan. Semoga perjumpaan pasangan muslim di dunia akan berlanjut akan berlanjut di surga. Amiin.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ol>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ol>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tanggal-dan-hari-baik-untuk-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suami Wanita di Surga</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/suami-wanita-di-surga/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/suami-wanita-di-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 May 2013 02:06:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[penduduk surga]]></category>
		<category><![CDATA[suami wanita surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=15118</guid>
		<description><![CDATA[Wanita di Surga Pertanyaan: Maaf, pertanyaannya singkat, siapa yang akan menjadi suami bagi wanita jika dia masuk surga? Jawaban: Bismillah was shalatu was shalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du Kaidah baku yang berlaku bagi penduduk surga, bahwa mereka semua memiliki pasangan. ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Wanita di Surga</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Maaf, pertanyaannya singkat, siapa yang akan menjadi suami bagi wanita jika dia masuk surga?</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<span id="more-15118"></span><br />
<em>Bismillah was shalatu was shalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du</em></p>
<p>Kaidah baku yang berlaku bagi <a title="penduduk surga" href="http://konsultasisyariah.com/suami-wanita-di-surga" target="_blank" rel="nofollow"><strong>penduduk surga</strong></a>, bahwa mereka semua memiliki pasangan. Ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ</p>
<p>“<em>Tidak ada orang yang melajang di <a title="surga" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">surga</a></em>.” (HR. Ahmad 7152 dan Muslim 2834).</p>
<p>Karena sesungguhnya bagian dari kesempurnaan nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah menikah dan melakukan hubungan badan.</p>
<p>Untuk itu, wanita yang ketika di dunia belum menikah sampai mati, atau wanita yang dicerai oleh suaminya dan tidak nikah lagi sampai mati, maka dia akan dinikahkan dengan seorang lelaki yang menjadi penghuni surga yang sangat menyejukkan hatinya. Dia memiliki sifat yang sempurna, sebagaimana <a title="penghuni surga" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">penghuni surga</a> lainnya.</p>
<p>Sedangkan wanita yang pernah menikah dan tidak dicerai sampai mati, dia akan dikembalikan dengan suaminya ketika dunia. Allah jadikan suaminya sebagai penghuni surga, dan Allah sempurna segala sifatnya.</p>
<p>Sementara wanita dicerai oleh suaminya, kemudian menikah lagi dengan lelaki yang lain maka dia akan dinikahkan dengan suami yang terakhir. Ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">أيما امرأة تُوفي عنها زوجها ، فتزوجت بعده ، فهي لآخر أزواجها</p>
<p>“<em>Wanita manapun yang ditinggal mati suaminya, kemudian si wanita menikah lagi, maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir</em>.” (H.R. Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<p>Tidak perlu terlalu dirisaukan. Siapapun suami wanita di surga, itu sudah menjadi kebahagiaan yang tak terkira bagi setiap wanita. Allah berikan kebahagiaan penuh, sehingga tidak mungkin mengharapkan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Wanita juga tidak perlu khawatir, karena anda tidak mungkin cemburu dan sakit hati dengan bidadari. Karena semua sifat itu telah Allah cabut, tinggal ketenangan dan kebahagiaan. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ</p>
<p>“<em>Kami hilangkan segala rasa kebencian yang berada dalam hati mereka. Mereka semua merasa bersaudara. Mereka duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan</em>.” (QS. Al-Hijr: 47).</p>
<p>Tinggal saatnya menyiapkan diri agar bisa menjadi bidadari surga.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/suami-wanita-di-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Sunah di Bulan Rajab</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/amalan-sunah-di-bulan-rajab/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/amalan-sunah-di-bulan-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 03:30:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11533</guid>
		<description><![CDATA[Amalan Sunah di Bulan Rajab Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab. Baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan bulan Rajab adalah hadis bathil dan tertolak. Ibnu Hajar mengatakan, لم يرد في ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Amalan Sunah di Bulan Rajab</h2>
<p>Tidak terdapat amalan khusus terkait <strong>bulan Rajab</strong>. Baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan bulan Rajab adalah hadis bathil dan tertolak.</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ</p>
<p>“Tidak terdapat riwayat yang shahih, bisa untuk dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab atau shalat tahajjud di malam tertentu. Keterangan saya ini telah didahului oleh ketengan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al Harawi.” (<em>Tabyinul Ujub bimaa Warada fii Fadli Rajab</em>, Hal. 6)</p>
<p>Imam Ibn Rajab mengatakan,</p>
<p class="arab">أما الصلاة فلم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء</p>
<p>“Tidak terdapat dalil yang shahih, yang menyebutkan adanya anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, bathil, dan tidak shahih. Shalat Raghaib adalah bid&#8217;ah menurut mayoritas ulama.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, Hal. 213)</p>
<p>Terkait masalah <strong>puasa di bulan Rajab</strong>, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan, tidak ada satu pun hadis shahih dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">في الجنة قصر لصوام رجب</p>
<p>“Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin <strong>berpuasa di bulan Rajab</strong>.”</p>
<p>Namun riwayat bukan hadis. Imam Al Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah:</p>
<p class="arab">أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ</p>
<p>“Abu Qilabah termasuk tabi&#8217;in senior, beliau tidak menyampaikan riwayat itu kecuali karena kabar tanpa sanad.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, Hal. 213)</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Puasa sunah bulan haram<br />
Akan tetapi, jika seseorang melaksanakan puasa di <strong>bulan Rajab</strong> dengan niat puasa sunah di bulan-bulan haram, maka ini dibolehkan bahkan dianjurkan. Mengingat sebuah hadis yanng diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Al Baihaqi dan yang lainnya, bahwa suatu ketika datang seseorang dari suku Al Bahili menghadap Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dia meminta diajari berpuasa. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menasihatkan, “<em>Puasalah sehari tiap bulan</em>.” Orang ini mengatakan: Saya masih kuat, tambahkanlah!. “<em>Dua hari setiap bulan</em>”. Orang ini mengatakan: Saya masih kuat, tambahkanlah!. “<em>Tiga hari setiap bulan.</em>” orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">فمن الحرم و أفطر</p>
<p>“<em>Puasalah di bulan haram dan berbukalah (setelah selesai bulan haram).</em>” (Hadis ini dishahihkan sebagaian ulama dan didhaifkan ulama lainnya). Namun diriwayatkan bahwa beberapa ulama salaf berpuasa di semua bulan haram. Dinataranya: Ibn Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Subai&#8217;i.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Mengkhususkan Umrah di bulan Rajab<br />
Diriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah mengatakan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaksanakan umrah di bulan Rajab. Kemudian ucapan beliau ini diingkari Aisyah.</p>
<p class="arab">يغفر الله لأبي عبد الرحمن، لعمري، ما اعتمر في رجب</p>
<p>“Semoga Allah mengampuni Abu Abdirrahmah (Ibnu Umar). Sepanjang usiaku, beliau belum pernah Umrah di bulan Rajab.”<br />
Ibnu Umar mendengar hal ini dan beliau diam saja. (HR. Muslim, 1255)</p>
<p>Umar bin Khatab dan beberapa sahabat lainnya menganjurkan umrah bulan Rajab. Aisyah dan Ibnu Umar juga melaksanakan umrah bulan Rajab.</p>
<p>Ibnu Sirin menyatakan, bahwa para sahabat melakukan hal itu. Karena rangkaian haji dan umrah yang paling bagus adalah melaksanakan haji dalam satu perjalanan sendiri dan melaksanakan umrah dalam satu perjalanan yang lain, selain di bulan haji. (<em>Al Bida&#8217; Al Hauliyah</em>, Hal. 119).</p>
<p>Dari penjelasan Ibnu Rajab menunjukkan bahwa melakukan umrah di <strong>bulan Rajab</strong> hukumnya dianjurkan. Beliau berdalil dengan anjuran Umar bin Khatab untuk melakukan umrah di bulan Rajab. Dan dipraktikkan oleh Aisyah dan Ibnu Umar.</p>
<p>Diriwayatkan Al Baihaqi, dari Sa&#8217;id bin Al Musayib, bahwa Aisyah <em>radliallahu &#8216;anha</em> melakukan umrah di akhir bulan Dzulhijjah, berangkat dari Juhfah, beliau berumrah bulan Rajab berangkat dari Madinah, dan beliau memulai Madinah, namun beliau mulai mengikrarkan ihramnya dari Dzul Hulaifah. (HR. Al Baihaqi dengan sanad hasan)</p>
<p>Namun ada sebagian ulama yang menganggap umrah di bulan Rajab tidak dianjurkan. Karena tidak ada dalil khusus terkait umrah bulan Rajab. Ibnu Atthar mengatakan, “Di antara berita yang sampai kepadaku dari penduduk Mekah, banyaknya kunjungan di bulan Rajab. Kejadian ini termasuk masalah yang belum kami ketahui dalilnya. Bahkan terdapat hadis yang shahih bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Umrah di bulan Ramadhan nilainya seperti haji’.” (HR. Al Bukhari)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh mengatakan, bahwa para ulama mengingkari sikap mengkhususkan bulan Rajab untuk memperbanyak melaksanakan umrah. (<em>Majmu&#8217; Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim</em>, 6:131)</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong><br />
Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, mengkhususkan umrah di bulan Rajab adalah perbuatan yang tidak ada landasannya dalam syariat. Karena tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan anjuran mengkhususkan bulan Rajab untuk pelaksanaan umrah. Disamping itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri tidak pernah melakukan umrah di bulan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam hadis sebelumnya.</p>
<p>Andaikan ada keutamaan mengkhususkan umrah di bulan Rajab, tentu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan memberi tahukan kepada umatnya. Sebagaimana beliau memberi tahu umatnya akan keutamaan umrah di bulan Ramadlan. Sedangkan riwayat dari Umar bahwa beliau menganjurkan umrah di bulan Rajab, yang benar sanadnya dipermasalahkan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Menyembelih hewan (<em>Atirah</em>)<br />
<em>Atirah</em> adalah hewan yang disembelih di <span style="text-decoration: underline;"><em>bulan Rajab</em></span> untuk tujuan beribadah.</p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum <em>Atirah</em>.</p>
<p>Pendapat pertama, athirah dianjurkan. Dalilnya adalah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya tentang <em>Athirah</em>, kemudian beliau menjawab:</p>
<p class="arab">الْعَتِيرَةُ حَقٌّ</p>
<p>“Athirah itu hak.” (HR. Ahmad, An Nasa&#8217;i dan As Suyuthi dalam <em>Jami&#8217;us Shaghir</em>)</p>
<p>Pendapat kedua, <em>Atirah</em> tidak disyariatkan, namun tidak makruh. Dalilnya, hadis dari Abu Razin, Laqirh bin Amir Al Uqaili, beliau bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Kami menyembelih hewan di bulan Rajab di zaman Jahilliyah. Kami memakannya dan memberi makan tamu yang datang.” Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Tidak masalah.” (HR. An Nasa&#8217;i, Ad Darimi, dan Ibn Hibban)</p>
<p>Pendapat ketiga, <em>Atirah</em> hukumnya makruh. Berdasarkan hadis, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ</p>
<p>“<em>Tidak ada Fara&#8217;a dan tidak ada Atirah</em>.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p><em>Fara&#8217;a</em> adalah anak pertama binatang, yang disembelih untuk berhala.</p>
<p>Pendapat keempat, <em>Atirah</em> hukumnya haram. Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnul Qoyim dan Ibnul Mundzir. Ibnul Qoyim mengatakan, “Dulu masyarakat Arab melakukan <em>Atirah</em> di masa jahiliyah, kemudian mereka tetap melakukannya, dan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendukungnya. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarangnya, melalui sabdanya, “<em>Tidak ada fara&#8217;a dan tidak ada Atirah.</em>” akhirnya para sahabat meninggalkannya, karena adanya larangan beliau. Dan telah dipahami bersama, bahwa larangan itu hanya akan muncul, jika sebelumnya ada yang melakukannya. Sementara tidak kita jumpai adanya satupun ulama yang mengatakan, Dulu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang <em>Atirah</em> kemudian beliau membolehkannya kembali&#8230;” (<em>Tahdzib Sunan Abu Daud</em>, 4:92 – 93). Insya Allah, pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/amalan-sunah-di-bulan-rajab" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/amalan-sunah-di-bulan-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramalan Cuaca Haram?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/ramalan-cuaca-haram/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/ramalan-cuaca-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 May 2013 06:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[BMG]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan cuaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17840</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Meyakini Ramalan Cuaca Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaykum, ustad terkadang saya merasa bingung dengan fenomena ramalan. Kan memang aturan dalam islam percaya pada ramalan itu dosa dan diharamkan, apakah sama hukumnya dengan ramalan yang berkaitan kasus ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Meyakini Ramalan Cuaca</strong></h2>
<p>Pertanyaan:</p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaykum,<br />
ustad terkadang saya merasa bingung dengan fenomena ramalan. Kan memang aturan dalam islam percaya pada ramalan itu dosa dan diharamkan, apakah sama hukumnya dengan ramalan yang berkaitan kasus ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gerhana matahari cincin (GMC) akan terjadi pada 9-10 Mei 2013 atau ramalan cuaca setiap hari?? mohon penjelasannya&#8230; jazakallah</em><br />
<span id="more-17840"></span><br />
Dari: Puji, Surabaya</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Salah satu diantara sebab kesalah-pahaman dalam membaca adalah kurang bisa memahami istilah. Terlebih istilah yang ambigu. Sebagian orang memahami seuatu istilah tidak sebagaimana konteksnya. Salah satu contohnya adalah ramalan. Bisa kita nyatakan, kata ini termasuk ambigu. Bisa digunakan dalam banyak kalimat dengan konteks yang berbeda. Seperti ramalan cuaca dan ramalan paranormal, jelas konteksnya berbeda. Karena masing-masing disimpulkan dari cara yang berbeda.</p>
<p>Terkait hukum ramalan cuaca, Imam Ibnu Utaimin memberikan beberapa catatan yang perlu digaris bawahi,</p>
<p>Pertama, Rincian keterangan tentang turunnya hujan termasuk ilmu ghaib (informasi yang hanya diketahui oleh Allah). Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah, hanya miliknya informasi kapan kiamat, dia yang menurunkan hujan, dan dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Tidaklah satupun jiwa mengetahui apa yang akan dia lakukan besok, dan tidak ada satupun jiwa dimana dia akan mati..”</em> (QS. Luqman: 34)</p>
<p>Untuk itu, siapa yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, termasuk mengaku mengetahui kapan hujan turun, berapa jumlahnya, dst. maka dia telah melakukan perbuatan kekafiran, karena mendustakan firman Allah,</p>
<p class="arab">قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p><em>Katakanlah, tidak ada satupun di langit dan dibumi yang mengetahui hal ghaib, kecuali Allah.</em> (QS. An-Naml: 65).</p>
<p>Kedua, Menggunakan Indikator lahiriyah, bukan termasuk menebak ilmu ghaib</p>
<p>Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,</p>
<p class="arab">وأما من أخبر بنزول مطر أو توقع نزول مطر في المستقبل بناءً على ما تقتضيه الآلات الدقيقة التي تقاس بها أحوال الجو فيعلم الخبيرون بذلك أن الجو مهيأ لسقوط الأمطار فإن هذا ليس من علم الغيب بل هو مستند إلى أمر محسوس والشيء المستند إلى أمر محسوس لا يقال إنه من علم الغيب</p>
<p>Menyampaikan informasi tentang turunnya hujan atau perkiraan turunnya hujan pada beberapa waktu berikutnya, berdasarkan hasil penelitian dengan alat canggih, untuk memprediksi kondisi cuaca, sehingga ahli meteorologi bisa menyimpulkan bahwa cuaca mengarah pada turunnya hujan. Informasi semacam ini, tidak termasuk ilmu ghaib. Namun dia mengacu pada indikator lahiriyah. Dan semua kesimpulan yang mengacu pada indikator lahiriyah, tidak bisa disebut bahwa itu ilmu ghaib.</p>
<p>Beliau melanjutkan,</p>
<p class="arab">والتنبؤات التي تقال في الإذاعات من هذا الباب وليست من باب علم الغيب ولذلك هم يستنتجونها بواسطة الآلات الدقيقة التي تضبط حالات الجو وليسوا مثلاً يخبرونك بأنه سينزل مطر بعد كذا سنة وبمقدار معين لأن هذه الوسائل الآلات لم تصل بعد إلى حدٍ تدرك به ماذا يكون من حوادث الجو بل هي محصورة في ساعات معينة ثم قد تخطئ أحياناً وقد تصيب أما علم الغيب فهو الذي يستند إلى مجرد العلم فقط بدون وسيلة محسوسة وهذا لا يعلمه إلا الله عز وجل</p>
<p>Informasi yang disampaikan di radio tentang perkiraan cuaca bukan termasuk mengetahui ilmu ghaib. Karena itulah, mereka hanya bisa mendapatkan info tentang prediksi cuaca, dengan alat canggih yang bisa mengukur kondisi cuaca. Mereka juga tidak mampu, misalnya memberitahukan akan turun hujan setelah sekian tahun dengan curah tertentu. Karena alat yang mereka gunakan tidak mampu menjangkau keadaan yang bisa mengetahui semua kondisi cuaca. Alat ini hanya terbatas untuk waktu tertentu. Itupun kadang meleset, meskipun kadang juga benar. Adapun ilmu ghaib adalah mengetahui sesuatu yang ghaib yang bersandar pada pengetahuan yang dimiliki, tanpa menggunakan indikator lahiriyah. Dan semacam ini tidak ada yang tahu kecuali Allah.</p>
<p>Sumber: <em>http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1716.shtml</em></p>
<p>Untuk itu, mungkin istilah yang lebih tepat, agar tidak menimbulkan kesalah-pahaman, prakiraan cuaca atau prediksi cuaca, dan bukan ramalan cuaca. Karena realita yang ada, BMG hanya menyampaikan prediksi, sehingga orang bisa merencanakan agenda aktivitasnya. BMG tidak pernah memaksakan orang lain untuk membenarkan informasi yang dia sampaikan. Karena mereka memahami, itu hanya prediksi.</p>
<p>Nuansa ini jelas berbeda dengan ramalan dukun, yang dilakukan tanpa menggunakan indikator lahiriyah apapun, dan oleh pengikutnya dipercaya sampai pada tingkat yakin, tanpa interupsi. Kasus kedua inilah yang bermasalah, dan bahkan termasuk perbuatan kekafiran.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/ramalan-cuaca-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Sumpah Demi Tuhan..!</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-sumpah-demi-tuhan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-sumpah-demi-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 May 2013 04:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[demi tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17801</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Bersumpah “Demi Tuhan…!” Tanya: Salam tadz…, semoga Allah menjaga para ustadz dan memberkahi ilmunya. Amieen. Saat ini ucapan Aryawiguna; demi Tuhan, sekarang marak disebarkn di berbagai media. Sbenarnya secara islam, itu boleh gak sumpah kayak gitu. Krn aku prnah ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Bersumpah “Demi Tuhan…!”</strong></h2>
<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p><em>Salam tadz…, semoga Allah menjaga para ustadz dan memberkahi ilmunya. Amieen.</em></p>
<p><em>Saat ini ucapan Aryawiguna; demi Tuhan, sekarang marak disebarkn di berbagai media. Sbenarnya secara islam, itu boleh gak sumpah kayak gitu. Krn aku prnah dengar tdk boleh bersumpah kecuali dg nama Allah. Padahal tuhan bukan nama Allah. Trim’s</em><br />
<span id="more-17801"></span><br />
Dari: Run Stia b</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><i>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</i></p>
<p><i>Wa alaikumus salam</i>, semoga Allah memberkahi kita semua.</p>
<p>Terkait sumpah ‘demi Tuhan’, ada dua hal yang perlu kita pahami,</p>
<p><b><i>Pertama</i></b>, bersumpah dengan sifat Allah</p>
<p>Sumpah yang boleh dilakukan oleh seorang muslim adalah sumpah yang menyebut kata Allah, seperti ‘demi Allah’ atau salah satu nama Allah, seperti ‘demi Ar-Rahman’, atau salah satu sifat Allah, seperti ‘demi Keagungan Allah’.</p>
<p>Bersumpah yang menyebut kata ‘demi Allah’ atau salah satu nama Allah lainnya mungkin sudah sangat sering kita dengar, sehingga kita tidak akan banyak mempertanyakannya. Karena itu, yang perlu kita tekankan di sini adalah bersumpah dengan menyebut sifat Allah. Yang kami maksud sifat Allah, seperti keagungan Allah, rahmat Allah, firman Allah, dst.</p>
<p>Terdapat banyak dalil yang menyebutkan hal ini, sampai Imam Bukhari membuat satu bab khusus dalam shahihnya,</p>
<p class="arab">باب الحلف بعزة الله وصفاته وكلماته</p>
<p><em>“Bab tentang bersumpah dengan keagungan Allah, siafat-sifat-Nya, dan firman-Nya.”</em></p>
<p>Kemudian beliau membawakan beberapa hadis, diantaranya,</p>
<p>1. Hadis tentang penduduk surga yang terakhir masuk surga:</p>
<p class="arab">يَبْقَى رَجُلٌ بَيْنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ اصْرِفْ وَجْهِي عَنِ النَّارِ، لاَ وَعِزَّتِكَ لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا</p>
<p><em>“Tinggallah seseorang diantara surga dan neraka. Dia meminta: ‘Wahai Rabku, palingkan wajahku dari neraka, demi keagungan-Mu, saya tidak minta yang lainnya.’</em></p>
<p>2. Hadis tentang ucapan Nabi Ayyub ketika mengambil belalang emas,</p>
<p class="arab">وَعِزَّتِكَ لاَ غِنَى بِي عَنْ بَرَكَتِكَ</p>
<p><em>“Demi keagungan-Mu, saya tidak pernah cukup untuk mendapatkan berkah-Mu”</em></p>
<p>[Shahih Bukhari: Bab tentang Sumpah dan Nadzar, 8/134].</p>
<p>Karena itulah, pendapat yang jauh lebih kuat dalam masalah ini, boleh bersumpah dengan menyebut sifat Allah. Ibnu Rusyd mengatakan,</p>
<p class="arab">وأما مَن منع الحلف بصفات الله وبأفعاله فضعيف</p>
<p><em>“Adapun pendapat yang melarang bersumpah dengan sifat atau perbuatan Allah adalah pendapat yang lemah.”</em> (Bidayatul Mujtahid, 1/334)</p>
<p>Dalam beberapa hadis, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersumpah dengan keterangan tentang Allah, yang hanya mungkin ada pada Dzat Allah, misalnya</p>
<p class="arab">وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ</p>
<p><em>“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya”</em></p>
<p>Sumpah semacam ini banyak disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari. Dan makna kalimat di atas, tidak lain hanya tertuju pada Allah.</p>
<p>Syaikh Bakr Abu Zaid menjelaskan satu kaidah dalam masalah sumpah,</p>
<p class="arab">قاعدة الشريعة المطردة ، أنه لا يجوز الحلف والقسم إلا بِاللهِ &#8211; تعالى &#8211; أو باسم من أسمائه ، أو صفة من صفاته &#8211; سبحانه &#8211; ؛ لأن الحلف يقتضي التعظيم الذي لا يشاركه فيه أحد ، وهذا لا يصرف إلا لله تعالى ؛ ولهذا كان الحلف بغير الله &#8211; تعالى &#8211; من المخلوقين كافة :شركاً بالله</p>
<p>Kaidah baku dalam syariat, bahwa tidak boleh bersumpah kecuali dengan kata ‘Allah’ atau salah satu nama Allah, atau salah satu sifatnya. Karena dalam sumpah, berarti unsur mengagungkan, dimana tidak boleh ada seorangpun yang menjadi sekutu di dalamnya. Dan pengagungan semacam ini hanya boleh ditujukan untuk Allah ta’ala. Oleh karena itu, bersumpah dengan menyebut makhluk selain Allah, sudah layak dikatakan syirik. (Mu’jam Al-Manahi Al-Lafdziyah).</p>
<p><b><i>Kedua</i></b>, status kata ‘Tuhan’ dalam bahasa indonesia</p>
<p>Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), kata tuhan didefinisikan sebagai, sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb.</p>
<p>Dalam sila pertama pancasila tertera: Ketuhanan yang Mahaesa. Padahal kalimat ini tidak diingkari oleh penganut agama selain islam.</p>
<p>Menimbang penggunaan masyarakat indonesia untuk kata ‘Tuhan’, kita bisa menyimpulkan bahwa makna kata ‘Tuhan’ ada 2: Sesembahan (sesuatu yang disembah) atau Pencipta alam semesta.</p>
<p>Pancasila disetujui oleh penduduk indonesia yang memeluk agama berbeda-beda. Yang tentu saja masing-masing agama memiliki sesembahan yang tidak sama. Sehingga, arti ‘tuhan’ yang tepat di sini bukan sesembahan tetapi pencipta. Karena mereka tidak mengakui keesaan sesembahan, sebagaimana yang diyakini orang islam.</p>
<p>Lain halnya untuk KBBI, makna kata ‘Tuhan’ yang lebih ditekankan adalah dzat yang disembah. Dan bagi kita makna kedua penggunaan ini tertuju hanya kepada Allah, tidak keluar dari itu.</p>
<p>Oleh karena itu, kesimpulan yang bisa kami berikan – Allahu a’lam – diperbolehkan bersumpah dengan menyebut; demi Tuhan.</p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-sumpah-demi-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sifat dan Adab Orang yang Meruqyah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/sifat-dan-adab-orang-yang-meruqyah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/sifat-dan-adab-orang-yang-meruqyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 May 2013 09:32:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=15203</guid>
		<description><![CDATA[Adab Orang yang Meruqyah Pertanyaan: Sifat-sifat dan adab-adab bagaimanakah yang seharusnya dilakukan oleh orang yang meruqyah? Jawaban: Bacaan ruqyah tidak akan berguna terhadap orang yang sakit kecuali dengan beberapa syarat: Pertama: Pantasnya orang yang meruqyah adalah seorang yang baik, shalih, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Adab Orang yang Meruqyah</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Sifat-sifat dan adab-adab bagaimanakah yang seharusnya dilakukan oleh orang yang meruqyah?</em><br />
<span id="more-15203"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><a title="bacaan ruqyah" href="http://konsultasisyariah.com/sifat-dan-adab-orang-yang-meruqyah" target="_blank" rel="nofollow">Bacaan ruqyah</a> tidak akan berguna terhadap orang yang sakit kecuali dengan beberapa syarat:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Pantasnya orang yang meruqyah adalah seorang yang baik, shalih, konsisten (istiqamah), memelihara shalat, ibadah, dizkir-dzikir, bacaan, amal-amal shalih, banyak melakukan kebaikan, jauh dari perbuatan maksiat, bid’ah, kemungkaran-kemungkaran, dosa-dosa besar dan kecil, berusaha selalu makan yang halal, khawatir dari harta yang haram, atau syubhat, karena sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>“<em>Perbaikilah makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang doanya terkabul</em>.”</p>
<p>“<em>Beliau menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh, (rambut) kusust berdebu, mengelurukan tangannya ke langit seraya (berkata), ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, diberi makanan dengan yang haram, maka bagaimana bisa dikabulkan karena hal itu</em>.”</p>
<p>Makanan yang halal termasuk di antara penyebab dikabulkan doa. Di antaranya lagi adalah tidak menentukan upah atas orang yang sakit, menjauhkan diri dari mengambil upah yang lebih dari kebutuhannya. Maka semua itu lebih mendukung kemanjuran ruqyahnya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Mengenal ruqyah-ruqyah yang dibolehkan berupa ayat-ayat Alquran seperti al-Fatihah, al-Mu’awwidzatain, dan akhirnya, ayat Kursi, akhir surat at-Taubah, permulaan surah Yunus, permulaan surah an-Nahl, akhir surah al-Isra, permulaan surah Thaha, akhir surah al-Mu’minun, permulaan surah ash-Shaffat, permulaan surah Ghafir, akhir surah al-Jatsiyah, akhir surah al-Hasyr. Dan di antara doa-doa Alquran yang disebutkan terdapat dalam <em>al-Kalim ath-Thayyib</em> dan seumpamanya, disertai meludah sedikit setelah membaca, dan mengulangi ayat tersebut sebagai tiga kali umpamanya, atau lebih banyak lagi.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Orang yang sakit adalah orang yang beriman, shalih, baik, takwa, konsisten (istiqamah) atas agama, jauh dari yang diharamkan, maksiat, sifat aniaya, karena firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>,</p>
<p>“<em>Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian</em>.” (QS. Al-Isra: 82)</p>
<p>Dan firman-Nya,</p>
<p>“<em>Katakanlah, ‘Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Alquran itu suatu kegelapan bagi mereka</em>.” (QS. Fushshilat: 44)</p>
<p>Biasanya tidak begitu berpengaruh terhadap ahli maksiat, meninggalkan kewajiban, takabbur, sombong, melakukan <em>isbal</em> (menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki, <em>pen</em>.), mencukur jenggot, ketinggalan shalat dan menundanya, melalaikan ibadah dan seumpama yang demikian itu.</p>
<p>Keempat: Orang yang sakit meyakini bahwa Alquran adalah penawar, rahmat, dan obat yang berguna. Apabila ia ragu-ragu, maka hal itu tidak ada gunanya. Misalnya ia berkata, “Cobalah ruqyah. Jika bermanfaat, alhamdulillah dan jika tidak bermanfaat juga tidak apa-apa.” Tetapi ia harus yakin dengan mantap bahwa ayat-ayat tersebut benar-benar bermanfaat dan sesungguhnya ayat-ayat itulah penawar yang sebenarnya, sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Maka, apabila syarat-syarat ini telah terpenuhi, niscaya bermanfaat dengan izin Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Fatwa Syaikh Abdullah al-Jibrin yang beliau tanda tangani</p>
<p><strong>Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq Cetakan IV</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/sifat-dan-adab-orang-yang-meruqyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memakai Konde di Hari Kartini, Dosa Besar!!</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-konde-di-hari-kartini-dosa-besarkah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-konde-di-hari-kartini-dosa-besarkah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 May 2013 10:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[hari]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[konde]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17718</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Memakai Konde di Hari Kartini Pertanyaan: Di hari kartini banyak perempuan, dewasa maupun anak-anak yg dirias adat jawa. Mereka memakai kebaya dan konde/sanggul. Tiru-tiru gambar Kartini, mengenang jasa Kartini. Apakah sperti ini dibolehkan? Nuwun… Dari: Wong Newyorkarto Jawaban: Bismillah ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Memakai Konde di Hari Kartini</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Di hari kartini banyak perempuan, dewasa maupun anak-anak yg dirias adat jawa. Mereka memakai kebaya dan konde/sanggul. Tiru-tiru gambar <a title="kartini" href="http://konsultasisyariah.com/memakai-konde-di-hari-kartini-dosa-besarkah" target="_blank" rel="nofollow">Kartini</a>, mengenang jasa Kartini. Apakah sperti ini dibolehkan?</em></p>
<p><em>Nuwun…</em></p>
<p>Dari: Wong Newyorkarto<br />
<span id="more-17718"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Pertama, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang keras menyambung rambut. Sekalipun itu dilakukan karena sakit atau untuk menutupi aib. Berdasarkan hadis dari Asma’ binti Abu bakr <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أَنْكَحْتُ ابْنَتِي، ثُمَّ أَصَابَهَا شَكْوَى، فَتَمَرَّقَ رَأْسُهَا، وَزَوْجُهَا يَسْتَحِثُّنِي بِهَا، أَفَأَصِلُ رَأْسَهَا؟ &#8221; فَسَبَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ</p>
<p>Ada seorang wanita yang mendatangi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan mengatakan, ‘Saya telah menikahkan putriku, kemudian dia sakit, sampai rambutnya banyak yang rontok. Sementara suaminya memintaku untuk menanganinya. Bolehkah saya sambung rambutnya?’ kemduian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mencela keras orang yang menyambung rambut dan orang yang disambungkan rambutnya. (HR. Bukhari 5935).</p>
<p>Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah r<em>adhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan ancaman yang sangat keras untuk tindakan menyambung rambut semacam ini. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ</p>
<p><em>“Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan orang yang disambung rambutnya…” </em>(HR. Bukhari 5933).</p>
<p>Kedua, sambungan rambut yang statusnya terlaknat adalah sambungan rambut yang bentuknya rambut, baik rambut manusia atau rambut sintetis. Karena semacam ini mengandung kesan penipuan. Namun jika sambungan rambut berupa benda selain rambut, pendapat yang lebih kuat, dibolehkan. Seperti kain, atau plastik, atau semacamnya.</p>
<p>Ibnu Qudamah mengatakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ الْمُحَرَّمَ إنَّمَا هُوَ وَصْلُ الشَّعْرِ بِالشَّعْرِ، لِمَا فِيهِ مِنْ التَّدْلِيسِ وَاسْتِعْمَالِ الشَّعْرِ الْمُخْتَلَفِ فِي نَجَاسَتِهِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ لَا يَحْرُمُ، لِعَدَمِ هَذِهِ الْمَعَانِي فِيهَا، وَحُصُولِ الْمَصْلَحَةِ مِنْ تَحْسِينِ الْمَرْأَةِ لِزَوْجِهَا مِنْ غَيْرِ مَضَرَّةٍ</p>
<p>“Yang diharamkan ialah menyambung rambut dengan rambut, karena terdapat tadlis (penipuan) dan menggunakan sesuatu yang masih diperdebatkan kenajisannya. Adapun selain itu, maka tidak diharamkan, karena tidak mengandung makna ini (tadlis dan najis), juga adanya maslahah untuk mempercantik diri kepada suami dengan tidak mendatangkan madharat (bahaya).” (Al-Mughni, 1/70)</p>
<p>Tentu saja, konde yang dikenakan oleh beberapa wanita ketika peringatan hari kartini, pesta nikah, atau pesta adat lainnya, termasuk menyambung rambut yang terlarang. Karena bentuknya sama persis dengan rambut.</p>
<p>Ketiga, Memakai Konde dalam rangka mengagungkan tokoh</p>
<p>Wanita yang datang kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam kisah di atas, sangat membutuhkan untuk bisa menutupi aib putrinya dengan menyambung rambutnya. Terlebih dia didesak oleh suami putrinya agar segera menangani masalah fisik putrinya. Meskipun demikian, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap melarangnya. Ibnu Abdil Bar mengatakan,</p>
<p class="arab">فَإِذَا كَانَ هَذَا لِضَرُورَةٍ فَلَا يَحِلُّ، فَكَيْفَ بِهِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ؟</p>
<p>Jika menyambung rambut untuk kondisi darurat hukumnya tidak halal, bagaimana lagi untuk kasus tidak darurat? (Al-Istidzkar, 8/431)</p>
<p>Untuk itu, tidak mungkin kita mengatakan, boleh pake konde pada hari kartini karena kondisi darurat.</p>
<p>Keempat, Pelanggaran Anak</p>
<p>Yang memakai konde dalam peringatan itu umumnya anak-anak. Namun bisa dipastikan, semacam ini atas prakarsa orang tua. Jika yang memakai konde belum baligh, mereka tidak menanggung dosa. Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ</p>
<p>Pena catatan amal diangkat untuk 3 orang: Orang yang tidur sampai bangun, anak kecil sampai besar (baligh), dan orang gila sampai dia sadar atau berakal. (HR. nasai 3432, Abu Daud 4398, dan dishahihkan Al-Albani).</p>
<p>Tentu saja permasalah tidak berhenti sampai di sini. Karena perbuatan menyambung rambut yang dilakukan salon pada anak ini atas peran orang yang mengendalikannya. Dengan demikian, ada 2 pihak yang bertanggung jawab untuk menanggung dosa pelanggaran ini:</p>
<p>a. Salon yang memasangkan konde, dan merekalah Al-Washilah : orang yang disambung rambutnya</p>
<p>b. Orang tua atau semua pihak yang mengarahkan anak untuk memakai konde. Karena mereka memprakarsai terwujudnya kemaksiatan ini.</p>
<p>Kami hanya bisa menasehatkan agar berhati-hati dalam bersikap, terutama terkait adat yang tidak sesuai syariat. Karena bisa jadi satu pelanggaran kita anggap sebagai hal yang remeh, padahal sejatinya itu pelanggaran besar dalam aturan syariat.</p>
<p>Allah ingatkan hal ini dalam Al-Quran,</p>
<p class="arab">وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ</p>
<p><em>…kemudian nampak bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.</em> (QS. Az-Zumar: 47)</p>
<p>Bisa jadi kita menyangka itu hal biasa dan bukan dosa, ternyata hasilnya basalan yang luar biasa.</p>
<p>Allahu a’lam.</p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Ammi Nur baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di <a title="Yufid.com Network" href="http://yufid.com/" target="_blank" rel="nofollow">Yufid.com Network</a>, silakan hubungi: <em>marketing@yufid.org</em> untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/memakai-konde-di-hari-kartini-dosa-besarkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
