tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

kirim al-fatihah

Hukum Menghadiahkan al-Fatihah

Apa hukum menghadiahkan bacaan al-Fatihah kepada mayit? Apakah pahalanya sampai?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebelumnya kita perlu memahami bahwa ditinjau dari bentuk pengorbanan hamba, ibadah dibagi menjadi 3,

Pertama, ibadah murni badaniyah, itulah semua ibadah yang modal utamanya gerakan fisik.

Seperti shalat, puasa, dzikir, adzan, membaca al-Quran, dst.

Kedua, ibadah murni maliyah. Semua ibadah yang pengorbanan utamanya harta.

Seperti zakat, infaq, sedekah, dst.

Ketiga, ibadah badaniyah maliyah. Gabungan antara ibadah fisik dan harta sebagai pendukung utamanya. Seperti jihad, haji atau umrah.

Ulama sepakat bahwa semua ibadah yang bisa diwakilkan, seperti ibadah maliyah atau yang dominan maliyah, seperti sedekah, atau haji, atau ibadah yang ditegaskan bisa diwakilkan, seperti puasa, maka semua bisa dihadiahkan kepada mayit.

Imam Zakariya al-Anshari mengatakan,

وينفعه أي الميت من وارث وغيره صدقة ودعاء، بالإجماع وغيره

Sedekah atau doa baik dari ahli waris maupun yang lainnya, bisa bermanfaat bagi mayit dengan sepakat ulama. (Fathul Wahhab, 2/31).

Keterangan lain disampaikan Ibnu Qudamah,

أما الدعاء والاستغفار والصدقة وقضاء الدين وأداء الواجبات فلا نعلم فيه خلافاً إذا كانت الواجبات مما يدخله النيابة

Doa, istighfar, sedekah, melunasi utang, menunaikan kewajiban (yang belum terlaksana), bisa sampai kepada mayit. Kami tidak tahu adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama, apabila kewajiban itu bisa diwakilkan. (as-Syarhul Kabir, 2/425).

Sementara itu, ulama berbeda pendapat untuk hukum mengirim pahala ibadah yang tidak bisa diwakilkan kepada mayit, seperti bacaan al-Quran. Kita akan sebutkan secara ringkas,

Pertama, madzhab hanafi

Ulama hanafiyah menegaskan bahwa mengirim pahala bacaan al-Quran kepada mayit hukum dibolehkan. Pahalanya sampai kepada mayit, dan bisa bermanfaat bagi mayit. Dalam

Imam Ibnu Abil Izz – ulama Hanafiyah – menuliskan,

إن الثواب حق العامل، فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك، كما لم يمنع من هبة ماله له في حياته، وإبرائه له منه بعد وفاته. وقد نبه الشارع بوصول ثواب الصوم على وصول ثواب القراءة ونحوها من العبادات البدنية

Sesungguhnya pahala adalah hak orang yang beramal. Ketika dia hibahkan pahala itu kepada saudaranya sesama muslim, tidak jadi masalah. Sebagaimana dia boleh menghibahkan hartanya kepada orang lain ketika masih hidup. Atau membebaskan tanggungan temannya muslim, yang telah meninggal.

Syariat telah menjelaskan pahala puasa bisa sampai kepada mayit, yang itu mengisyaratkan sampainya pahala bacaan al-Quran, atau ibadah badaniyah lainnya. (Syarh Aqidah Thahawiyah, 1/300).

Kedua, madzhab Malikiyah

Imam Malik menegaskan, bahwa menghadiahkan pahala amal kepada mayit hukumnya dilarang dan pahalanya tidak sampai, dan tidak bermanfaat bagi mayit. Sementara sebagian ulama malikiyah membolehkan dan pahalanya bisa bermanfaat bagi mayit.

Dalam Minah al-Jalil, al-Qarrafi membagi ibadah menjadi tiga,

  1. Ibadah yang pahala dan manfaatnya dibatasi oleh Allah, hanya berlaku untuk pemiliknya. Dan Allah tidak menjadikannya bisa dipindahkan atau dihadiahkan kepada orang lain. Seperti iman, atau tauhid.
  2. Ibadah yang disepakati ulama, pahalanya bisa dipindahkan dan dihadiahkan kepada orang lain, seperti ibadah maliyah.
  3. Ibadah yang diperselisihkan ulama, apakah pahalanya bisa dihadiahkan kepada mayit ataukan tidak? Seperti bacaa al-Quran. Imam Malik dan Imam Syafii melarangnya. (Minan al-Jalil, 1/509).

Selanjutnya al-Qarrafi menyebutkan dirinya lebih menguatkan pendapat yang membolehkan. Beliau menyatakan,

فينبغي للإنسان أن لا يتركه، فلعل الحق هو الوصول، فإنه مغيب

Selayaknya orang tidak meninggalkannya. Bisa jadi yang benar, pahala itu sampai. Karena ini masalah ghaib. (Minan al-Jalil, 7/499).

Ada juga ulama malikiyah yang berpendapat bahwa menghadiahkan pahala bacaan al-Quran  tidak sampai kepada mayit. Hanya saja, ketika yang hidup membaca al-Quran di dekat mayit atau di kuburan, maka mayit  mendapatkan pahala mendengarkan bacaan al-Quran. Namun pendapat ini ditolak al-Qarrafi karena mayit tidak bisa lagi beramal. Karena kesempatan beramal telah putus (Inqitha’ at-Taklif).  (Minan al-Jalil, 1/510).

Ketiga, Pendapat Syafiiyah

Pendapat yang masyhur dari Imam as-Syafii bahwa beliau melarang menghadiahkan bacaan al-Quran kepada mayit dan itu tidak sampai.

An-Nawawi mengatakan,

وأما قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي، أنه لا يصل ثوابها إلى الميت، وقال بعض أصحابه: يصل ثوابها إلى الميت

Untuk bacaan al-Quran, pendapat yang masyhur dalam madzhab as-Syafii, bahw aitu tidak sampai pahalanya kepada mayit. Sementara sebagian ulama syafiiyah mengatakan, pahalanya sampai kepada mayit. (Syarh Shahih Muslim, 1/90).

Salah satu ulama syafiiyah yang sangat tegas menyatakan bahwa itu tidak sampai adalah al-Hafidz Ibnu Katsir, penulis kitab tafsir.

Ketika menafsirkan firman Allah di surat an-Najm,

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

“Bahwa manusia tidak akan mendapatkan pahala kecuali dari apa yang telah dia amalkan.” (an-Najm: 39).

Kata Ibnu Katsir,

ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم

“Dari ayat ini, Imam as-Syafii – rahimahullah – dan ulama yang mengikuti beliau menyimpulkan, bahwa menghadiahkan pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada mayit. Karena itu bukan bagian dari amal mayit maupun hasil kerja mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/465).

Selanjutnya, Ibnu Katsir menyebutkan beberapa dalil dan alasan yang mendukung pendapatnya.

Keempat, Pendapat Hambali

Dalam madzhab hambali, ada dua pendapat. Sebagian ulama hambali membolehkan dan sebagian melarang, sebagaimana yanng terjadi pada madzhan Malikiyah. Ada 3 pendapat ulama madzhab hambali dalam hal ini,

  1. Boleh menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada mayit dan itu bisa bermanfaat bagi mayit. Ini pendapat yang mayhur dari Imam Ahmad.
  2. Tidak boleh menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada mayit, meskipun jika ada orang yang mengirim pahala, itu bisa sampai dan bermanfaat bagi mayit. Al-Buhuti menyebut, ini pendapat mayoritas hambali.
  3. Pahala tetap menjadi milik pembaca (yang hidup), hanya saja, rahmat bisa sampai ke mayit.

Al-Buhuti mengatakan,

وقال الأكثر لا يصل إلى الميت ثواب القراءة وإن ذلك لفاعله

Mayoritas hambali mengatakan, pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada mayit, dan itu milik orang yang beramal. (Kasyaf al-Qana’, 2/147).

Sementara Ibnu Qudamah mengatakan,

وأي قربة فعلها وجعل ثوابها للميت المسلم نفعه ذلك

Ibadah apapun yang dikerjakan dan pahalanya dihadiahkan untuk mayit yang muslim, maka dia bisa mendapatkan manfaatnya. (as-Syarhul Kabir, 2/425).

Ibnu Qudamah juga menyebutkan pendapat ketiga dalam madzhab hambali,

وقال بعضهم إذا قرئ القرآن عند الميت أو اهدي إليه ثوابه كان الثواب لقارئه ويكون الميت كأنه حاضرها فترجى له الرحمة

Ada sebagian ulama hambali mengatakan, jika seseorang membaca al-Quran di dekat mayit, atau menghadiahkan pahala untuknya, maka pahala tetap menjadi milik yang membaca, sementara posisi mayit seperti orang yang hadir di tempat bacaan al-Quran. Sehingga diharapkan dia mendapat rahmat. (as-Syarhul Kabir, 2/426).

Menimbang Pendapat

Seperti yang disampaikan al-Qarrafi, bahwa kajian masalah ini termasuk pembahasan masalah ghaib. Tidak ada yang tahu sampainya pahala itu kepada mayit, selain Allah. Kecuali untuk amal yang ditegaskan dalam dalil, bahwa itu bisa sampai kepada mayit, seperti doa, permohonan ampunan, sedekah, bayar utang zakat, atau utang sesama mannusia, haji, dan puasa.

Sementara bacaan al-Quran, tidak ada dalil tegas tentang itu. Ulama yang membolehkan mengirimkan pahala bacaan al-Quran kepada mayit mengqiyaskan (analogi) bacaan al-Quran dengan puasa dan haji. Sehingga kita berharap pahala itu sampai, sebagaimana pahala puasa bisa sampai.

Sementara ulama yang melarang beralasan, itu ghaib dan tidak ada dalil. Jika itu bisa sampai, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat akan sibuk mengirim pahala bacaan al-Quran untuk keluaganya yang telah meninggal dunia.

Beberapa keluarga tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Khadijah, Hamzah, Zainab bintu Khuzaimah (istri beliau), semua putra beliau, Qosim, Ibrahim, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Zainab, mereka meninggal sebelum wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tidak dijumpai riwayat, beliau menghadiahkan pahala bacaan al-Quran untuk mereka.

Saran

Melihat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang masalah menghadiahkan pahala amal badaniyah kepada mayit, kita bisa menegaskan bahwa masalah ini termasuk masalah ikhtilaf ijtihadiyah fiqhiyah, dan bukan masalah aqidah manhajiyah (prinsip beragama). Sehingga berlaku kaidah, siapa yang ijtihadnya benar maka dia mendapatkan dua pahala dan siapa yang ijtihadnya salah, mendapat satu pahala.

Dari ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.

“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (HR. Bukhari 7352 & Muslim 4584)

Kaitannya dengan ini, ada satu sikap yang perlu kita bangun, ketika kita bersinggungan dengan masalah yang termasuk dalam ranah ijtihadiyah fiqhiyah, yaitu mengedepankan sikap dewasa, toleransi dan tidak menjatuhkan vonis kesesatan. Baik yang berpendapat boleh maupun yang berpendapat melarang.

Masing-masing boleh menyampaikan pendapatnya berdasarkan alasan dan dalil yang mendukungnya. Sekaligus mengkritik pendapat yang tidak sesuai dengannya. Sampai batas ini dibolehkan.

Dan perlu dibedakan antara mengkritik dengan menilai sesat orang yang lain pendapat. Dalam masalah ijtihadiyah, mengkritik atau mengkritisi pendapat orang lain yang beda, selama dalam koridor ilmiyah, diperbolehkan. Kita bisa lihat bagaiamana ulama yang menyampaikan pendapatnya, beliau sekaligus mengkritik pendapat lain. Namun tidak sampai menyesatkan tokoh yang pendapatnya berbeda dengannya.

Terkadang, orang yang kurang dewasa, tidak siap dikritik, menganggap bahwa kritik pendapatnya sama dengan menilai sesat dirinya. Dan ini tidak benar.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

pohon zaqqum

Pohon Zaqqum, Pohon di Neraka?

Apa itu pohon zaqqum? Sy dengar, ini makanan ahli neraka. Apakah pohon ini ada di dunia?

JAWABAN:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pohon zaqqum, beberapa kali disebutkan dalam al-Quran.

Berikut ayat yang menyinggung pohon zaqqum,

Pertama, firman Allah di surat as-Shaffat,

أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ . إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ

(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai fitnah (ujian) bagi orang-orang yang zalim

Allah juga menyebutkan, pohon ini tumbuh dari dasar neraka. Pohon itu sanat jelek. Sebagai makanan orang kafir. Allah berfirman di lanjutan ayat,

إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ . طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ . فَإِنَّهُمْ لَآَكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ

Sesungguhnya pohon itu adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka.) Mayangnya seperti kepala setan. Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. (QS. as-Shaffat: 62 – 63)

Allah sebut, pohon zaqqum itu sebagai fitnah bagi orang dzalim. Karena ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan informasi tentang pohon Zaqqum, manusia terbagi menjadi dua golongan,
Golongan pertama, mengimani dan meyakini kebenaran berita yang beliau sampaikan. Merekalah orang-orang yang beriman.

Kelompok kedua, mengingkari dan menolaknya dengan berbagai pertimbangan logika.

  • Bagaimana mungkin pohon bisa tumbuh di dasar neraka yang apinya menyala-nyala?
  • Itu hanya ilusi, gak mungkin

Dan alasan lainnya, yang membuat mereka mengingkari kebenaran pohon ini. Informasi mengenai keberadaan pohon ini, semakin membuat mereka jadi kafir.

Kedua, di surat al-Isra’, Allah menyebut pohon ini sebagai pohon terlaknat.
Allah berfirman,

وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآَنِ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا

Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. al-Isra: 60).

Al-Hafidz Ibnu Katsir menegaskan bahwa yang dimaksud pohon terlaknat dalam ayat di atas adalah pohon zaqqum, berdasarkan kesepakatan ahli tafsir. (Tafsir Ibn Katsir, 5/92).

Ayat ini diturunkan dalam rangka memperingatkan orang kafir, akan ancaman di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada mereka, kejadian luar biasa yang beliau jumpai selama isra’ mi’raj. Diantaranya, pohon zaqqum. mereka akan diberi makanan pohon terlaknat, yang tempatnya di neraka. Namun ini justru membuat mereka semakin kafir. (Tafsir as-Sa’di, )

Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas, ketika beliau menafsirkan ayat ini,

“Bahwa setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang pohon Zaqqum, Abu Jahal langsung berkomentar,

هاتوا لنا تمرًا وزبدًا، وجعل يأكل هذا بهذا ويقول: تَزَقَّموا، فلا نعلم الزقوم غير هذا

“Sini, ambilkan kurma sama krim susu.” Lalu dia mengunyah kurma dan krim itu. Sambil mengatakan, “Tazaqqamuu (telan ini). Kami tidak kenal istilah zaqqum selain ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/92).”

Ketiga, di surat ad-Dukkhan, Allah sebut Zaqqum sebagai tha’am al-atsim (makanan tukang maksiat). Makanan ini bisa menghancurkan isi perut,

إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ ( ) طَعَامُ الْأَثِيمِ . كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ . كَغَلْيِ الْحَمِيم

Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan orang yang banyak berdosa. Dia sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang amat panas.. (QS. ad-Dukhan: 43- 46).

Allah sebut pohon ini sangat panas. Ketika dimakan, seperti makan minyak mendidih. Kata Imam Mujahid – murid Ibnu Abbas –,

ولو وقعت منها قطرة في الأرض لأفسدت على أهل الأرض معايشهم

Andai setetes getah pohon ini turun ke bumi, akan merusak semua kehidupan penduduk bumi. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/260).

Keempat, keterangan di surat al-Waqiah,

ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ . لَآَكِلُونَ مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ

Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan ( ) Benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. (QS. al-Waqi’ah: 51 – 53).

Setelah menjalani siksaan yang demikien mengerikan, mereka sangat kelaparan. Membuat mereka terpaksa makan pohon yang bentuknya jelek dan merusak isi perut.

Pohon itu Ada di Dunia?

Tersebar gambar pohon yang bunganya mirip gambar setan menurut anggapan manusia. Apakah benar itu pohon zaqqum?

hoax pohon zaqqum
Hoax Pohon Zaqqum yang tersebar saat ini aslinya bernama dried snapdragon flower

Kita bisa dekati info ini dengan dua catatan,

Pertama, Allah sebut pohon zaqqum tumbuh di dasar neraka.

إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ

Sesungguhnya pohon itu adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka

Artinya, pohon yang Allah ceritakan di sini bukan pohon dunia, tapi pohon di akhirat. Allah tumbuhkan dari dasar neraka.

Kedua, ketika informasi tentang zaqqum ini disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang kafir mengingkarinya. Yang menunjukkan mereka tidak pernah kenal istilah zaqqum sebelumnya, selain seperti yang disampaikan Abu Jahal, zaqqum dari kata azqama yang artinya menelan.
Jika pohon itu sudah ada, mereka akan memahami gambaran pohon yang dimaksud. Tapi ternyata kata zaqqum menurut mereka semakna dengan kata azqama, yang artinya menelan.

Ketiga, Wajah setan memang jelek, tapi siapa yang tahu wajah setan yang asli. Gambar wajah dengan penampakan 3 lubang lingkaran, 2 lubang mata dan satu lubang mulut, hanyalah ilustrasi manusia tentang wajah setan. Tapi tentu saja, kita tidak tahu pasti, apakah betul itu wajah asli setan.
Allah menyebut, mayang pohon zaqqum seperti kepala setan,

طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ

“Mayangnya seperti kepala setan..”

tapi kita tidak tahu, bagaimana rupa asli kepada setan itu.

Kewajiban kita?

Tidak ada konsekuensi amal untuk informasi tentang pohon zaqqum. Selain kita wajib meyakini dan mengimani kebenarannya. Dan menumbuhkan rasa takut terhadap neraka, sehingga kita berusaha untuk lebih waspada dalam menjalani hidup.

Semoga Allah mewafatkan kita dalam iman..

Allahu a’lam…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

benarkah haji pemborosan

Haji Itu Pemborosan dan Banyak Merugikan?

Ada salah satu dosen universitas d jakarta, dia menyatakan, dalam kasus Indonesia saat ini, praktik haji dan umrah yang dilakukan terkesan menghabiskan dana yang sangat besar yang sebenarnya bisa digunakan untuk kepentingan membangun kesejahteraan masyarakat.  Bila ajaran agama ternyata justru berkonsentrasi hanya pada kepentingan individu atau justru merugikan masyarakat, kita harus ragukan apakah ajaran agama itu memang datang dari Allah.

Mohon tanggapannya..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Meragukan haji apakah termasuk bagian ajaran Allah ataukah tidak, termasuk kekufuran. Mengingat banyaknya dalil dalam al-Quran maupun hadis tentang haji. Dan syarat mukmin, dia tidak boleh meragukan keterangan yang sudah jelas kebenarannya dari Allah, seperti haji.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu…” (QS. Al-Hujurat: 15).

Syarat mukmin dalamayat di atas, tidak boleh ragu dengan keimanannya.

Karena itu, kita tidak perlu memperdebatkan kebenaran ibadah haji yang itu bagian dari syariat Allah. Jika kita masih memperdebatkannya, karena kita tidak ingin lagi ada orang yang meragukannya. Jangan sampai ada muslim yang terpancing melakukan kekufuran, gara-gara tindakan orang liberal.

Islam & Kesejahteraan Masyarakat

Banyak orang yang mulai menggugat ajaran islam dengan jargon kesejahteraan masyarakat. Diantara yang banyak digugat adalah masalah haji. Mungkin dulu anda pernah mendengar ada orang liberal yang mengusulkan agar wukuf di arafah digeser di luar tanggal 9 Dzulhijjah. Agar tidak terlalu padat karena hanya numpuk di hari arafah. Atau orang yang menggugat ibadah qurban, karena itu dinilai pemborosan.

Anda bisa perhatikan, inilah yg membedakan mukmin dan bukan mukmin. Dan berkali-kali kita sampaikan, bahwa JIL itu potret manusia munafiq di alam raya ini. Dan manusia ada 3 jenis: mukmin, kafir, dan munafiq.

Sebagai mukmin kita memahami bahwa hidup di dunia, bukan semata untuk mensejahterakan dunia. Apa yang menguntungkan, ketika hidup di dunia hanya untuk mensejahterakan dunia?. Dunia tempat bekerja. Jika bekerja hanya untuk meningkatkan karir dan karir, lalu apa yang bisa kita nikmati.

Kita hidup di dunia untuk akhirat. Ini yang paling utama. Sehingga rasa capek dunia, terbalas dengan kenikmatan di akhirat. Meskipun kita diperintahkan untuk memiliki bekal, agar bisa bertahan hidup di dunia.

Sahabat & Pemborosan

Ketika Khamr diharamkan, secara perhitungan ekonomi, Madinah sangat dirugikan. Karena devisa madinah menjadi sangat berkurang. Tidak ada komoditas yang mereka memiliki nilai besar untuk dijual ke Syam.

Disamping itu, semua sahabat membuang Khamr mereka, padahal itu sudah siap untuk dijual.

Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bercerita,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di Madinah,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُعَرِّضُ بِالْخَمْرِ وَلَعَلَّ اللَّهَ سَيُنْزِلُ فِيهَا أَمْرًا فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهَا شَىْءٌ فَلْيَبِعْهُ وَلْيَنْتَفِعْ بِهِ

Wahai manusia, sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengkritik khamr. Mungkin Allah akan menurunkan ayat lain tentang khamr. Karena itu, siapa yang masih memiliki khamr, segera dijual atau manfaatkan.

Beliau sampaikan ini, sebelum ayat tentang larangan khamr diturunkan.

Abu Said melanjutkan,

Tidak berselang lama, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ الْخَمْرَ فَمَنْ أَدْرَكَتْهُ هَذِهِ الآيَةُ وَعِنْدَهُ مِنْهَا شَىْءٌ فَلاَ يَشْرَبْ وَلاَ يَبِعْ

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr. Siapa yang telah mendengar ayat ini, sementara dia masih memilikinya, tidak boleh diminum, maupun dijual.

Spontan, masyarakat langsung mendatangi gentong-gentong khamr yang mereka miliki di pinggir jalan Madinah, dan mereka menumpahkannya. (HR. Muslim 4126).

Ada yang lebih sangar lagi. Peristiwa yang dialami sahabat Abu Thalhah. Beliau diamanahi untuk memegang harta anak yatim. Oleh Abu Thalhah, harta ini dibelikan khamr, agar hasilnya lebih banyak.

Apa yang bisa anda bayangkan, ketika Allah turunkan ayat yang mengharamkan khamr sebelum dia sempat menjualnya.

Anas bin Malik menceritakan, Abu Thalhah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يا نبي الله، إني اشتريتُ خمراً لأيتام في حجري؛ أَصْنَعُهُ خَلًّا؟

Ya Nabi, saya membeli khamr untuk anak-anak yatim di asuhanku. Bolehkah saya buat jadi cuka?

Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menjawab dengan dua kata, “Tidak boleh.”

Abu Thalhah-pun membuangnya. (HR. Ahmad 13733 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Mereka tidak berfikir, mengapa turunnya ayat khamr tidak ditunda, agar simpanan khamr itu bisa diuangkan.

Mengapa islam tidak memperhatikan keadaan anak yatim yang diasuh Abu Thalhah. Andai ayat larangan itu bisa ditunda, tentu mereka tidak  dirugikan.

Andai orang liberal hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pasti akan menggugat ayat ini.

Kasus kedua, ketika Allah mengharamkan keledai.

Keledai termasuk hewan tunggangan utama bagi masyarakat ketika itu. Pada saat perang Khaibar, para sahabat menyembelih keledai untuk makanan pasukan.

Anas bin Malik menceritakan peristiwa Khaibar,

Ada orang yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan melaporkan, “Banyak keledai yang disembelih untuk dimakan.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diam saja.

Kemudian datang orang kedua, “Banyak keledai yang disembelih untuk dimakan.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih diam saja.

Kemudian datang orang ketika, “Banyak keledai yang disembelih.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk mengumumkan

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأَهْلِيَّةِ

bahwa Allah dan Rasul-Nya, melarang kalian untuk makan daging keledai jinak.

Kata Anas,

فَأُكْفِئَتِ الْقُدُورُ ، وَإِنَّهَا لَتَفُورُ بِاللَّحْمِ

Periuk-periuk lalu ditumpahkan, padahal penuh dengan daging. (HR. Bukhari 4199).

Mareka tidak berfikir, mengapa wahyu haramnya keledai tdk disampaikan sejak kemarin, sebelum keledai ini disembelih. Bukan setelah keledai ini disembelih. Seharusnya ini bisa dimanfaatkan untuk kendaraan.

Lagi-lagi, andai orang liberal ada di tengah mereka, tentu akan melakukan gugatan. Ini mubadzir, dan mubadzir temannya setan. Rasanya sulit membayangkan nasib orang-orang liberal itu ketika mereka hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.

Seharusnya kita paham, iman mengendalikan dunia kita, bukan dunia mengendalikan iman kita.

Selajutnya Jangan Disebarkan

Kita sangat menyayangkan ketika kaum muslimin jadi begitu gempar mendengar celoteh ini. Andai tidak digubris, mungkin akan lebih menyakitkan orang-orang munafiq itu. Karena Orang liberal semakin bangga ketika pemikirannya disebarkan. Bukankah tujuan mereka hanya ingin bikin onar?

Sayangnya banyak media islam yang mencopas beritanya dari situs-situs liberal. Ini dibahas di konsultasisyariah, semata karena ini sudah menyebar.  Dan sekaligus memberikan pelajaran tambahan pelajaran bagi kaum muslimin.

Sedikit cerita. Cerita ini saya dapatkan dari Ustad Aris Munandar. Beliau dengar dari pelaku sendiri, Ustad Hartono Ahmad Jaiz.

Seperti yang kita kenal, Beliau rajin sekali mendebat orang-orang liberal. Terutama pemikiran yang sempat menyebar di masyarakat. Untuk yang belum tersebar, lebih beliau diamkan.

Hingga suatu ketika UA (salah satu dedengkot JIL) punya tulisan. Pastinya menyimpang, dan ingin bikin gempar. Sayangnya tidak ada yang ngasih komentar. Tiba-tiba, si UA menghubungi Ustad Hartono Ahmad Jaiz, minta tolong agar tulisannya dibantah. Biar makin tenar.

Apa sebabnya? Tulisan mereka ada yang menilai, untuk ditukar dengan dolar. Semakin bikin gempar di masyarakat, makin besar nilai dolarnya.

Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan JIL.

Amiin

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

nama tuhan

Heboh Nama “TUHAN”

Ustad, MedSos lagi heboh dan ramai dgn pemberitaan seorang tukang kayu dari Jawa Timur yang bernama “TUHAN“ sehingga menimbulkan polemik di tengah2 masyarakat…MUI Jawa Timur telah melarangnya..,dan meminta menganti namanya dgn nama yang lain…..namun ternyata larangan MUI mndapat kecaman dari berbagai Fihak. Karena TUHAN tdak mau mengganti namanya. “

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dari Hani’ bin Yazid al-Kindi. Karena bijaksananya, beliau digelari Abul Hakam. Beliau pernah bertamu ke Madinah bersama masyarakat kampungnya. Tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar, teman-temannya memanggil Hani’ dengan Abul Hakam. Seketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil beliau dan menasehati,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَكَمُ وَإِلَيْهِ الْحُكْمُ فَلِمَ تُكْنَى أَبَا الْحَكَمِ

“Sesungguhnya hanya Allah al-Hakam, segala hukum kembali kepada-Nya. Mengapa kamu dipanggil al-Hakam?”

Lalu Hani’ bercerita,

“Masyarakatku, setiap kali ada sengketa diantara mereka, maka mereka mendatangiku. Lalu aku yang memberi keputusan setiap sengketa mereka, dan masing-masing ridha dengan keputusanku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomentar,  “Hebat sekali anda. Apakah anda punya anak laki-laki?”

“Ada, Syuraih, Muslim, dan Abdullah.” Jawab Hani’.

“Siapa yang paling tua?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Syuraih.” Jawab Hani’.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

فَأَنْتَ أَبُو شُرَيْحٍ

“Jika demikian, panggilanmu Abu Syuraih.” (HR. Abu Daud 4957 & Nasai 5404 dan dishahihkan al-Albani)

Kita bisa lihat, dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengganti nama sahabat dengan nama lain, karena dia mengguakan nama Allah dalam kunyahnya.

Dalam al-Qoul al-Mufid, penjelasan Kitab tauhid dinyatakan,

وأسماء الله تنقسم إلى قسمين:

الأول: ما لا يصح إلا لله; فهذا لا يسمى به غيره، وإن سمي وجب تغييره; مثل: الله، الرحمن، رب العالمين، وما أشبه ذلك.

الثاني: ما يصح أن يسمى به غير الله; مثل: الرحيم، والسميع، والبصير، فإن لوحظت الصفة منع من التسمي به، وإن لم تلاحظ الصفة جاز التسمي به على أنه علم محض.

Nama Allah ada dua macam,

Pertama, nama yang hanya dimiliki oleh Allah. Nama semacam ini tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Jika ada orang yang menggunakannya, wajib diubah. Seperti: Allah, ar-Rahman, Rabbul Alamin, atau semacamnya.

Kedua, boleh digunakan untuk selain Allah, seperti ar-Rahim, as-Sami’, atau al-Bashir. Namun jika itu karena diyakini dia memiliki kesempurnaan sifat dalam nama itu, maka tidak menggunakan nama itu. Jika tidak diyakini demikian, boleh menggunakan nama itu. Hanya sebatas nama.

(al-Qoul al-Mufid, 2/260).

Nama TUHAN

Masyarakat kita memahami, nama tuhan sebagai sosok yang disembah. Dalam KBBI, kata memiliki tuhan dua makna,

  1. Sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb.
  2. kedua, sesuatu yang dianggap sebagai Tuhan.

Berdasarkan apa yang dipahami masyarakat yang berbahasa Indonesia, nama Tuhan tidak boleh diberikan selain untuk yang dipertuhankan. Terlepas dari kelayakannya sebagai tuhan. Sementara manusia, sama sekali tidak boleh menggunakan nama itu.

Sebagai muslim, Tuhan hanyalah Allah.  Dia yang kita yakini paling berhak untuk dipuja, dan disembah oleh semua manusia, sebagai yang Dzat yang Mahakuasa, Mahaperkasa, Mahaesa, dst. Dengan demikian, manusia dan makhluk appaun, tidak boleh dinamai Tuhan.

Jika ada yang menggunakan nama ini, wajib diganti.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Cerita Adegan Ranjang Ke Dokter?

Orang punya masalah dg kehidupan seks-nya. Ketika ke dokter spesialis, dia harus cerita detail. Tntu saja dokter jg butuh info lengkap. Bolehkah semacam ini. Krn katanya itu dosa.

Mohon pencerahan.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Termasuk manusia yang kedudukannya paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang melakukan hubungan badan dengan istrinya, kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya. (HR. Muslim 1437).

Hadis ini menunjukkan, hukum asal menceritakan adegan rahasia ranjang adalah dosa besar. Karena di sana ada ancaman, menjadi manusia paling jelek d hari kiamat.

An-Nawawi menyebutkan,

وفي هذا الحديث تحريم إفشاء الرجل ما يجري بينه وبين امرأته من أمور الاستمتاع ، ووصف تفاصيل ذلك ، وما يجري من المرأة فيه من قول أو فعل ونحوه

Dalam hadis ini terdapat dalil haramnya seorang lelaki menyebarkan percumbuan yang dia lakukan bersama istrinya, dan bercerita dengan detail. Baik gerakan maupun rayuan. (Syarh Shahih Muslim, 10/9).

Ini aturan yang menjadi hukum asal. Tentu saja ada keadaan yang menyebabkan hukum ini bisa bergeser karena sebab tertentu.

Kita bisa simak riwayat berikut,

Aisyah bercerita,

Ada lelaki yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada orang yang berjimak dengan istrinya tapi jadi males. Apakah suami istri ini wajib mandi?’

Ketika itu A’isyah sedang duduk.

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنِّي لَأَفْعَلُ ذَلِكَ ، أَنَا وَهَذِهِ ، ثُمَّ نَغْتَسِلُ

“Aku juga kadang mengalami hal itu. Aku bersama wanita ini (A’isyah), lalu kami mandi junub. (HR. Muslim 350).

Yang dimaksud berjimak tappi jadi ‘males’ adalah tidak sampai orgasme, tidak keluar mani. Apakah wajib mandi? Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tetap wajib mandi.

Ada yang manrik di sana, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyebutkan kasus yang beliau bersama Aisyah. An-Nawawi mengatakan,

فيه جواز ذكر مثل هذا، بحضرة الزوجة ، إذا ترتبت عليه مصلحة ، ولم يحصل به أذى ، وإنما قال النبي صلى الله عليه وسلم بهذه العبارة ليكون أوقع في نفسه

Hadis ini menunjukkan bolehnya melakukan semacam ini di depan istri, jika di sana ada maslahat, dan tidak sampai menyakiti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan demikian, agar lebih tertanam dalam hatinya. (Syarh Shahih Muslim, 4/42).

Dalam kasus lain, dikisahkan oleh Ikrimah

Bahwa Rifaah menceraikan istrinya. Setelah selesai iddah, wanita ini dinikahi Abdurahman bin Zabir al-Quradzi. Setelah menjalani kehidupan bersama Abdurrahman, wanita ini mengadukan masalah suaminya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kala itu, wanita ini memakai kerudung warna hijau.

Ketika tahu istrinya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdurahman datang dengan membawa dua anaknya, dari pernikahan dengan istri yang lain.

Setelah semuanya mengadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ketika itu ada Abu Bakr, Ibnu Said bin Ash, dan Khalid bin Walid.

Mulailah si wanita ini mengadukan,

“Suami saya ini orang baik, gak pernah berbuat dzalim kepada saya. Cuma ‘anu’nya dia tidak pas buat saya.” Sambil dia pegang ujung bajunya.

Maksud si wanita ini, anu suaminya itu loyo. Tidak bisa memuaskan dirinya.

Abdurahman bawa dua anak untuk membuktikan bahwa dia lelaki sejati. Mendengar aduhan istri keduanya ini, Abdurrahman langsung protes,

“Istriku dusta ya Rasulullah, saya sudah sungguh-sungguh dan tahan lama. Tapi wanita ini nusyuz, dia pingin balik ke Rifaah (suami pertamanya).”

Mendengar aduhan mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum.

(HR. Bukhari 5825 & Muslim 1433).

Al-Hafidz mengatakan,

وتبسّمه صلى الله عليه وسلم كان تعجبا منها ، إما لتصريحها بما يستحيي النساء من التصريح به غالبا… ويستفاد منه جواز وقوع ذلك

Senyum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau heran. Bisa karena melihat wanita ini yang terus terang padahal umumnya itu malu bagi umumnya wanita… dan disimpulkan dari hadis ini, bolehnya melakukan semacam ini. (Fathul Bari, 9/466)

Dari keterangan di atas, tidak masalah menceritakan rahasia ranjang ke dokter atau konsultan, selama itu dibutuhkan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

zabaniyah

Malaikat Zabaniyah

Saya sering mendengar nama malaikat Zabaniyah, sebenarnya, siapa malaikat zabaniyah itu? Matur nuwun..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nama malaikat zabaniyah, Allah sebutkan dalam al-Quran, tepatnya di surat al-Alaq. Allah berfirman,

فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ . سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ

Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah. (QS. Al-Alaq: 17 – 18)

Ibnu Katsir menjelaskan,

وهم ملائكة العذاب، حتى يعلم من يغلبُ: أحزبُنا أو حزبه

Malaikat Zabaniyah adalah malaikat adzab. (biarlah mereka memanggil gologannya, kami akan memanggil Zabaniyah), sehingga dia tahu, siapa yang akan menang. Kelompok kami atau kelompoknya. (Tafsir Ibn Katsir, 8/438).

Selanjutnya, Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas, yang menceritakan sebab turunnya ayat di atas,

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di dekat maqam Ibrahim. Tiba-tiba datang Abu Jahal, dan mengatakan, “Hai Muhammad, bukankah saya telah melarangmu untuk melakukan praktek semacam ini?” lalu Abu Jahal mengancam beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas ancamannya, hingga membuat Abu Jahal marah, dan membentak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan,

“Hai Muhammad, kamu mau ngancam pake apa? Demi Allah, saya orang yang paling banyak pendukungnya di wilayah ini.”

Kemudian Allah turunkan ayat,

فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ

Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah.

Ibnu Abbas mengatakan – setelah menceritakan kisah di atas -,

فَوَاللَّهِ لَوْ دَعَا نَادِيَهُ لأَخَذَتْهُ زَبَانِيَةُ اللَّهِ

Demi Allah, andai Abu Jahal berani memanggil semua pendukungnya, malaikat zabaniyah utusan Allah akan langsung menghabisinya. (HR. Turmudzi 3349 dan dishahihkan al-Albani)

Berdasarkan riwayat ini, kita bisa memahami bahwa Malaikat Zabaniyah adalah Malaikat yang bertugas mengadzab para hamba yang durhaka. Termasuk adzab ketika mereka masih di dunia.

Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas bercerita dengan konteks yang berbeda. Bahwa Abu jahal pernah mengancam,

لَئِنْ رَأَيْتُ مُحَمَّدًا يُصَلِّى عِنْدَ الْكَعْبَةِ لأَطَأَنَّ عَلَى عُنُقِهِ

Jika sampai Muhammad berani shalat di dekat Ka’bah, akan aku injak-injak lehernya.

Berita inipun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau mengatakan,

لَوْ فَعَلَهُ لأَخَذَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ

“Kalau sampai dia berani melakukannya, dia langsung akan disiksa Malaikat.” (HR. Bukhari 4958)

Kami tidak tahu, apakah riwayat ini ada hubungannya dengan riwayat sebelumnya ataukah tidak. Hanya saja, Ibnu Katsir menyebutkan riwayat ini ketika menjelaskan tafsir ayat di atas.

Arti Zabaniyah

Sebagian ulama mengatakan, kata zabaniyah berasal dari kata Zaban, yang artinya mendorong atau menolak.

Ada jual beli muzabanah, menukar kurma basah yang masih ada di pohon dengan kurma kering yang ada di tangan. Dan ini jual beli yang terlarang, karena rentan menimbulkan sikap saling mendorong dan perselisihan.

Menurut Abu Laits as-Samarqandi,

إنما سموا الزبانية لأنهم يعملون بأرجلهم ، كما يعملون بأيديهم

Malaikat Zabaniyah dinamakan demikian, karena mereka mengerjakan tugas dengan kaki mereka, sebagaimana mereka mengerjakannya dengan tangan mereka. (Tafsir al-Qurthubi, 20/126).

Demikian, semoga membuat kita semakin takut kepada Allah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Hukum Konvoi MoGe

Mohon komentar untuk kasus MoGe kota jogja. Apakah itu dibenarkan secara agama? Mengingat banyak warga jogja yang menolak sikap mereka. Bisa dilihat komen-komen miring masyarakat d brbagai media.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebenarnya cukup dengan melihat komentar masyarakat tentang suatu perbuatan, kita sudah bisa menilai apakah perbuatan itu baik atau buruk. Terlebih ketika semua komentar itu beralasan. Artinya mereka punya bukti dalam menilai, bukan semata karena sentimen.

Karena dalam islam, masyarakat di lingkungan kita menjadi saksi atas perbuatan kita.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Suatu ketika para sahabat melihat seorang jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Merekapun memuji jenazah ini. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ‏

”Wajib.., wajib.., wajib.”

Tidak berselang lama, lewat jenazah lain. Kemudian para sahabat langsung mencelanya.

Seketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ‏

”Wajib.., wajib.., wajib.”

Umarpun keheranan dan bertanya,

”Apanya yang wajib?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

”Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mandapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari 1367 & Muslim 949).

Tentu saja persaksian yang berdasarkan bukti, bukan dibuat-buat, bukan hasil bayaran, bukan pula karena dorongan sentimen, bersifat alamim, dan tidak bisa dikondisikan.

Sisi Tercela MoGe 

Lebih dari itu, ada beberapa sisi tercela dari konvoi MoGe,

Pertama, berjalan arogan dan sombong

Luqman pernah berpesan kepada anaknya, yang pesan ini diabadikan Allah dalam al-Quran. Luqman mengatakan,

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman: 18)

Dalam ayat ini, Allah melarang 3 jenis tindakan arogan

  1. Berjalan dengan angkuh dan sombong dengan kekayaan yang dimiliki. Seolah hanya dia yang berhak menguasai jalan karena kendaraannya lebih mewah.
  2. Sikap ’mukhtal’ (مُخْتَال). Allah membenci sikap ini. Sikap sombong dalam gaya berjalan. Dia tampaknya kegagahannya, jalannya dibuat berlenggak-lenggok, dadanya dibusungkan, dst. Bila perlu tatonya sedikit diperlihatkan, untuk menunjukkan betapa gagah dirinya.
  3. Sikap ’fakhur’ (فَخُور), yaitu sombong dalam gaya bicaranya.

Dan semua masyarakat tahu, 3 pelanggaran ini semuanya ada dalam konvoi MoGe.

Karena itulah, tidak heran, jika manusia semacam ini, mendapatkan ancaman hukuman yang berat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ‏

“Ada seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua pakaiannya, dia mengagumi dirinya. Lalu Allah membenamkannya di dalam bumi. Dan dia selalu kejang-kejang di dalam bumi sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari 5789 & Muslim 2088)

Kedua, mengganggu pengguna jalan yang lain

Kehadiran konvoi MoGe dengan segala arogansinya dinilai sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Mulai dari kebal tata tertib lalu lintas, mendahului dengan tanpa aturan, atau setidaknya membuat macet jalan. Tidak ada mayarakat yang suka dengan hal ini.

Mereka merendahkan pengguna jalan yang lain. Dan itulah hakekat kesombongan.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ‏

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim 2749)

Dan karakter semacam ini, tidak akan dimiliki oleh muslim yang baik.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ‏

“Seorang muslim adalah orang yang tidak akan mengganggu muslim lainnya dari kejahatan lisan maupun tangannya.” (HR. Bukhari 10 & Muslim 41)

Ketiga, pemborosan & tabdzir

Kita tidak tahu, berapa liter bahan bakar yang dihabiskan hanya untuk konvoi tidak jelas semacam itu. Sementara manfaatnya hampir tidak dirasakan masyarakat. Tentu saja, itu mubadzir. Karena mengeluarkan harta pada jalan yang keliru.

Allah berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ‏

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Tafsir ibn Katsir, 8/474-475)

Tentu saja, tidak ada orang yang ingin disebut temannya setan.

Semoga kegiatan semacam ini tidak berulang..

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

bidadari bermata jeli

Hurun ‘In (Bidadari Bermata Jeli)

Ustad kenapa gak ada penjelasan tentang حور عين di surat al insan?

Dari Arif Dwinata via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mendapatkan ridha Allah dan bisa masuk surga adalah cita-cita terindah semua mukmin. Kenikmatan puncak yang belum pernah terbayang dalam batin manusia. Di surga, mereka bisa mendapatkan apapun yang menyenangkan jiwanya. Allah berfirman,

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ . نُزُلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Di dalam surga kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan di dalamnya kalian memperoleh apa yang kamu minta (QS. Fushilat: 31).

Diantaranya adalah kenikmatan memiliki pasangan. Baik lelaki mapun wanita. Allah jadikan setiap manusia di surga, tidak ada yang melajang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

“Tidak ada orang yang melajang di surga.” (HR. Ahmad 7152 dan Muslim 2834).

Karena sesungguhnya bagian dari kesempurnaan nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah menikah dan melakukan hubungan badan.

Allah menjanjikan, bahwa di surga para mukmin akan menikah dengan Hurun ‘In.

Allah berfirman,

وَحُورٌ عِينٌ . كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.. (QS. al-Waqiah: 22-23).

Apa itu Hurun ‘In?

Kita semua tahu, itu sebutan untuk bidadari.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa dinamakan Hurun ‘Ain?

Hurun adalah bentuk jamak dari kata Haura’ (حوراء). Ada juga yang menyebutnya Ahwar (أحور).

Al-Asfahani mengatakan,

والحور قيل ظهور قليل من البياض في العين من بين السواد

Makna al-Huur, ada yang mengatakan, mata yang bagian putihnya lebih sedikit dibandingkan bagian hitamnya. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 135).

Imam as-Sa’di memberi penjelasan dengan lebih rinci,

ولهم حور عين ، والحوراء : التي في عينها كحل وملاحة ، وحسن وبهاء ، والعِين : حسان الأعين وضخامها ، وحسن العين في الأنثى من أعظم الأدلة على حسنها وجمالها

Mereka mendapatkan Hurun ‘Ain. Al-Haura’ adalah wanita yang matanya bercelak, indah, cantik, dan menawan. Sedangkan ‘In artinya matanya indah dan lebar. Keindahan mata pada wanita, termasuk tanda terindah kecantikannya.  (Tafsir as-Sa’di, hlm 991)

Sehingga pada intinya, kata Hurun ‘In adalah kata yang menggambarkan keindahan dan kecantikan bidadari.

Tentu saja anda tidak boleh membayangkan bagaimana rasanya bersama mereka. Karena mereka tidak bisa dibayangkan.

Allah menegaskan dalam al-Quran,

فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)

Dan dalam hadis qudsi, Allah berfirman,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِىَ الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang soleh, kenikmatan yang belum dilihat mata, belum pernah ada telinga yang mendengarnya, dan belum terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244 & Muslim 7320)

Karena itu, yang lebih penting untuk kita pikirkan adalah bagaimana caranya bisa mendapatkan bidadari?. Mahar apa yang telah kita siapkan untuk menikahi bidadari?

Dan prinsipnya, semua yang masuk surga pasti akan mendapatkannya.

Disamping dia akan dipertemukan dengan Hurun ‘In asal dunia, yaitu istrinya, dia juga akan dipertemukan dengan Hurun ‘In yang Allah hadiahkan untuknya.

Segala puji bagi Allah, yang telah memberi kita hidayah islam…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Jenazah Koruptor Tidak Dishalati?

Assalamu’alaikum.

baru-baru ini dalam pemberitaan muktamar Muhammadiyah, salah seorang perwakilan peserta dari PP Muhammadiyah menyarankan agar dikeluarkannya fatwa pelarangan shalat jenazah bagi koruptor. pelarangan shalat ini disetujui oleh Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis dan pernah diutarakan oleh Marzukie Alie pada tahun 2010 lalu. namun, usulan ini mendapat penolakan dari Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif dengan alasan dishalatkannya seseorang adalah hak setiap muslim ketika ia meninggal, dan merupakan kewajiban setiap muslim yang masih hidup untuk mensholatkannya.

Pertanyaannya, adakah dalil tertentu yang mengatur ketentuan tersebut? mohon kiranya diberikan pencerahan.

Wassalamu’alaikum

Dirman

Jawab:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Koruptor yang belum bertaubat dan tidak mengembalikan hasil korupsinya sampai meninggal dunia, berarti mati dalam keadaan membawa dosa besar. Meskipun dosa besar, namun tindak korupsi  tidak menyebabkan pelakunya jadi kafir. Artinya, jenazahnya tetap disikapi sebagai jenazah muslim. Dia wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin.

Selama dia muslim, dia mendapat hak untuk ditangai sebagai muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ

“Kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lain, ada enam.”

Para sahabat bertanya, ‘Apa saja itu, Ya Rasulullah?’

Beliau sebutkan dengan rinci, diantaranya,

وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Apabila sakit, mereka menjenguknya dan apabila meninggal, harus diantarkan jenazahnya. (HR. Ahmad 9080 dan Muslim 5778).

Tokoh Agama tidak Menshalati

Meskipun demikian, bukan berarti setiap orang dianjurkan menshalati jenazahnya. Karena koruptor yang mati dan belum bertaubat, dia berhak mendapatkan hukuman sosial. Hukuman dalam bentuk jenazahnya tidak dishalati oleh tokoh agama dan setiap orang yang diharapkan doanya.

Bukan karena mereka kafir, namun sebagai peringatan bagi masyarakat lainnya, bahwa orang semacam ini tidak dishalati oleh mereka yang diharapkan doanya.

Imam an-Nawawi menukil riwayat dari Imam Malik,

عن مالك وغيره أن الإمام يجتنب الصلاة على مقتول في حد وأن أهل الفضل لا يصلون على الفساق زجرا لهم

Dari Imam Malik dan yang lainnya, bahwa pemuka masyarakat selayaknya menghindari shalat jenazah yang mati karena hukuman had. Dan tokoh agama, tidak boleh menshalati orang fasik, sebagai peringatan bagi mereka. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 7/47)

Hukuman sosial semacam ini, pernah diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada koruptor di masa beliau.

Sahabat Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggal pada peristiwa Khaibar. Merekapun berharap agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazahnya. Namun beliau tidak berkenan menshalatkannya. Beliau justru menyuruh kami,

صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ

“Shalati teman kalian.”

Wajah para sahabat spontan berubah karena sikap beliau.

Di tengah kesedihan yang menyelimuti mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan alasanya,

إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Teman kalian ini melakukan korupsi saat jihad fi sabilillah.”

Kami pun memeriksa barang bawaannya, ternyata dia mengambil manik-manik milik orang Yahudi (hasil perang Khaibar), yang nilainya kurang dari dua dirham. (HR. an-Nasai 1959, Abu Daud 2710, Ibnu Majah 2848, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ada beberapa pelajaran dari hadis ini,

Pertama, orang yang mati dalam kondisi suul khatimah, disarankan agar tokoh agama tidak turut menshalati jenazahnya. Sebagai hukuman sosial baginya, dan memberikan efek jera bagi masyarakat lainnya. Betapa sedih pihak keluarga, ketika jenazah sang ayah tidak dishalati tokoh agama dan orang shaleh yang diharapkan doanya.

Kedua, orang yang mati suul khotimah statusnya masih muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyuruh para sahabat untuk menshalati jenazah orang ini. Sekalipun beliau tidak mau menshalatkannya.

Ketiga, sekecil apapun korupsi, tetap korupsi. Manik-manik seharga dua dirham, nilai yang sangat murah. Apa yang bisa kita bayangkan, ketika dia korupsi raturan juta?

Keempat, pahala jihad, tidak memadamkan dosa korupsi. Orang itu, meninggal di medan jihad. Namun sebelum meninggal, dia korupsi. Korupsi di negara kita, apa ada yang punya pahala jihad?

Semua ancaman di atas, menunjukkan betapa buruknya tindak korupsi di mata agama dan masyarakat.

Semoga Allah melindungi diri kita dan masyarkat kita dari penyakit berbahaya ini.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

ummul quran alfatihah

Al-Quran Diawali dengan Surat al-Fatihah

Tanya tadz, saya masih bingung mengapa al-Quran diawali surat al-fatihah? Adakah rahasia khusus?

Terima kasih

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kami ingatkan bahwa urutan surat dalam al-Quran, sifatnya tauqifiyah, artinya datang dari wahyu. Bukan hasil ijtihad. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan insyaaAllah pendapat yang benar.

Al-Alusi dalam tafsirnya menyatakan,

وأما ترتيب السور ففي كونه إجتهاديا أو توقيفيا خلاف والجمهور على الثاني

Mengenai urutan surat, ada perbedaan pendapat, apakah itu hasil ijtihad ataukah tauqifiyah (berdasarkan dalil). Mayoritas ulama memilih pendapat kedua. (Ruh al-Ma’ani, 1/26)

Diantara ulama yang menegaskan bahwa urutan surat dalam al-Quran itu berdasarkan dalil adalah Abu Ja’far an-Nuhas. Beliau menyatakan,

إن ترتيب السور على هذا الترتيب من رسول الله صلى الله عليه وسلم

Sesungguhnya urutan surat seperti yang ada di mushaf sekarang adalah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (an-Nasikh wal Mansukh fil Quran, hlm. 158).

Karena itu, setiap muslim hendaknya mengedepankan sikap pasrah, menerima dan tidak menggugat keberadaan al-Quran dan semua keadaannya. Termasuk urutan surat dalam al-Quran.

Mengapa al-Quran Diawali dengan al-Fatihah?   

Pertanyaan ini bukan dalam rangka menggugat. Namun dalam rangka mencari hikmah dan peajaran, dari keberadaan surat al-Fatihah yang Allah tempatkan di awal surat.

Kita akan simak keterangan Abu Ja’far Al-Gharnathi (ulama Andalus, w. 708 H) ketika beliau menjelaskan keterkaitan surat-surat dalam al-Quran. Beliau menyebutkan beberapa alasan, mengapa al-Quran diawali dengan surat al-Fatihah,

تضمنها مجملا لما تفصل في الكتاب العزيز بجملته وهو أوضح وجه في تقدمها سوره الكريمة.

Al-Fatihah mengandung makna global yang akan dirinci dalam al-Quran secara keseluruhan. Dan ini merupakan alasan terbesar, mengapa surat al-Fatihah berada di urutan pertama dalam al-Quran.

ثم هي مما يلزم المسلمين حفظه، ولابد للمصلين من قرائتها

Kemudian, surat ini wajib dihafal seluruh kaum muslimin, karena orang yang shalat harus membacanya.

ثم افتتاحها بحمد الله سبحانه. وقد شرع في ابتداءات الأمور

Kemudian surat ini diawali dengan kalimat Alhamdulillah, yang kalimat ini disyariatkan untuk dibaca setiap mengawali segala aktivitas.

وفيها تعقيب الحمد لله سبحانه بذكر صفاته الحسنى والإشارة إلى إرسال الرسل في قوله، “اهدنا”

Setelah hamdalah, dilanjutkan dengan menyebutkan asmaul husna (ar-Rahman ar-Rahim) dan  isyarat tentang diutusnya para rasul. Yaitu pada firman Allah, ‘Ihdinas shirathal mustaqim

وذكر افتراق الخلق بذكر المهتدين، وذكر المغضوب عليهم ولا الضالين، وإن ملاك الهدى بيده

Lalu disebutkan tentang macam-macam makhluk, mulai dari al-Muhtadin (orang yang mendapat petunjuk), al-Maghdhubi ‘alaihim (orang yang dimurkai), dan ad-Dhaallin (orang yang sesat). Dan bahwa kuasa memberi hidayah ada di tangan Allah. (al-Burhan fi Tanasubi Suwar al-Quran, hlm. 187 – 189).

Semoga keterangan beliau semakin menambah keyakinan kita akan kesempurnaan al-Quran.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

10,073FansLike
4,525FollowersFollow
33,596FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN

Dukung KonsultasiSyariah.com
dengan Donasi!

BNI SYARIAH
0381346658
a.n. Yufid Network Yayasan
***
BANK SYARIAH MANDIRI
7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network
***
PAYPAL
finance@yufid.org
Konfirmasi via email: finance@yufid.org

Powered by WordPress Popup