tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

bidadari surga

Bidadari

Assalamu’alaikum Ustadz mau tanya..bidadari surga it d ciptakan dari zafaron..iya kah? Kalau iya zafaron itu apa tadz..?

Yoki

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah,

Terdapat hadis yang menyatakan,

الحور العين خلقن من الزعفران

“Bidadari diciptakan dari Za’faran.”

Status Hadis:

Hadis ini diriwayatkan al-Khtatib al-Baghdadi. Dikomentari oleh al-Munawi,

فيه الحارث بن خليفة قال الذهبى فى الذيل : مجهول

Dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Harits bin Khalifah. Kata ad-Dzahabi: ‘Gak dikenal.’ (Dinukil dari Jam’ul Jawami’, no. 12271)

Disebutkan dalam riwayat lain dengan redaksi yang berbeda,

خلق الحور العين من الزعفران

“Bidadari diciptakan dari Za’faran.”

Status Hadis:

Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani dalam al-Kabir (no. 7813) dan dalam al-Ausath (no. 288) dengan sanad dari Ali bin Hasan bin Harun. Kata al-Haitsami,

فى إسنادهما ضعفاء

Dalam sanad kedua hadis terdapat perawi-perawi dhaif. (Dinukil dari Jam’ul Jawami’, as-Suyuthi, no. 12229).

Pertanyaan ini pernah diajukan ke lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah (no. 35406),

Jawaban lembaga fatwa,

وإن الحور العين قد خلقهنَّ الله زيادة في نعيم أهل الجنة، ولم نقف على الذي خلقن منه، ومثل هذا الموضوع لا يفتى فيه بالرأي. والله أعلم

Bidadari diciptakan oleh Allah sebagai tambahan kenikmatan bagi penduduk surga. Dan kami tidak menjumpai dalil dari mana mereka diciptakan. Dan kasus semacam ini tidak boleh difatwakan dengan sebatas logika.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

homo dan jil

Menjawab Suara JIL

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Alasan terbesar orang-orang liberal memperjuangkan perizinan untuk nikah sesama jenis adalah bahwa kecenderungan seks itu sifatnya kodrati. Dan bukan penyimpangan seksual. Sementara setiap jiwa memiliki hak untuk membela setiap kecenderungan yang dia miliki. Selama itu tidak mengganggu orang lain. Yang itu merupakan bagian untuk mendapatkan kenyamanan dalam hidup.

Kita bisa simak keterangan pejuang homo dan lesbi, Ibu Siti Musdah,

“Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab, menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan lesbi), dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang “given” atau dalam bahasa fikih disebut sunnatullah. Sementara perilaku seksual bersifat konstruksi manusia… Jika hubungan sejenis atau homo, baik gay atau lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaian-pencapaian tujuan dasar tadi maka hubungan demikian dapat diterima.”

Dia juga mengatakan,

“Bahkan, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam.”

Selanjutnya, dia katakan:

”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun agamanya.”

Hasil wawancara ini diunggah salah satu media dengan judul yang memukau, “Allah hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia.”

Saya kira penyataan Bu Musdah sudah mewakili akar pemikiran mereka, yang menjadi landasan perjuangan mereka membela homo dan lesbi.

Membela Orientasi Seksual

Sebelum merambah pada masalah dalil al-Quran, seperti yang disinggung Bu Musdah, ada satu pertanyaan sederhana untuk menjawab dengan alasan mereka,

‘Apakah semua orientasi seksual, layak untuk diterima dan dihargai?’

Ketika Nabi Luth ‘alaihis salam kedatangan tamu Malaikat yang berubah wujud menjadi lelaki-lelaki ganteng, kaumnya berduyun-duyun datang untuk merebutnya. Nabi Luth menghadapi mereka dan meminta agar mereka menikahi putrinya,

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

“Datanglah kaumnya menemuui Luth dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (QS. Hud: 78)

Kita simak tawaran Luth, “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu.

Menurut ahli tafsir, maknanya adalah perintah untuk menikah dengan wanita yang ada di kampung itu. Karena seorang nabi adalah bapak bagi seluruh umatnya.

Apa yang bisa anda bayangkan, ketika mereka diminta Luth untuk menikahi wanita?

Kita lihat lanjutan ayat,

قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” (QS. Hud: 79)

Anda bisa lihat alasan mereka,

“Gak ada selera dengan wanita…” ‘Kami gak punya orientasi seks dengan lawan jenis.’ ‘Kami inginnya sama tamu lelakimu yang ganteng-ganteng.’

Jika kita menggunakan prinsip Bu Musdah, seharusnya alasan ini diterima. Nabi Luth seharusnya menghargai kecenderungan seksual kaumnya, yang tidak lagi menghendaki menikah dengan lawan jenis.

Andai orang JIL hidup di zaman Nabi Luth, mungkin mereka akan menjadi pembela kaumnya Luth. Dan tidak sulit dibayangkan, jika mereka turut dijungkir dan dihujani batu bersama kaumnya Luth.

Itu Kelainan, Mengapa Dirawat

Memang benar, homo merupakan bagian dari keaneka ragaman orientasi seksual. Dan ada banyak orientasi seksual lainnya, yang mungkin bisa kita sebutkan sebagai perbandingan.

Baca: Cara Taubat dan Sembuh dari Penyakit Gay

Kita mengenal pedofilia, kecenderungan orang dewasa baik pria maupun wanita untuk melakukan aktivitas seksual dengan anak kecil. Bahkan terkadang melibatkan anak dibawah umur.

Kita mengenal beastiality, kecenderugan berhubungan seks dengan binatang. Orientasi seksual dengan binatang.

Ada juga coprophilia, orientasi seksual di mana seorang merasakan kenikmatan seksual dengan bermain-main kotoran manusia.

Atau coprofagia, kelainan berupa merasakan kenikmatan seksual dengan memakan kotoran manusia.

Kita sangat yakin, Bu Musdah tidak akan menggunakan prinsip kebebasan orientasi seksual untuk melegalkan daftar di atas. Meskipun tidak semuanya merugikan orang lain.

Kita sepakat menolak Pedofilia, karena ini merugikan anak-anak.

Namun untuk orientasi seksual dengan binatang, siapa yang dirugikan?

Seharusnya anda menyadari, orientasi semacam ini adalah kelainan.

Kami mengira, tidak ada orang ‘sadar’ yang membanggakan kelainan.

Itu cacat mental yang seharusnya diobati, bukan dibanggakan.

Tidak Ada Larangan Homo di al-Quran?

Itu salah satu alasan Bu Musdah.

Baca: 4 Hukuman Untuk Pelaku Homo

Tapi tidak perlu terlalu serius jika menghadapi dalil yang digunakan JIL. Tidak jauh jika kita sebut, mereka buta al-Quran. Kitab suci ini hanya mereka gunakan untuk membela kepentingannya.

“Membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis..”

Kita tanya ke Bu Musdah, apakah pedofilia ada larangannya dalam al-Qur’an?

Apakah orientasi seks dengan binatang ada larangannya dalam al-Qur’an?

Kecuali kalau JIL belum pernah khatam al-Quran..

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

dosa gay

Hukuman Untuk Pelaku Homo

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Manusia pertama yang melakukan perkawinan sejenis adalah umatnya Nabi Luth ‘alaihis shalatu was salam. Allah berfirman,

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya, kalian telah melakukan al-fahisyah, yang belum pernah dilakukan seorang pun di alam ini.‘” (Q.s. Al-Ankabut:28)

Dan mereka dikenal sebagai umat yang sangat bejat. Saking bejatnya, sampai nurani yang baik itu hilang. Hingga terjadilah kemaksiatan yang sangat menjijikkan ini. Sebelum zaman Nabi Luth, sudah ada umat yang dibinasakan oleh Allah. Seperti kaumnya Nabi Nuh, kaum ‘Ad, dan kaum Tsamud. Namun mereka belum melakukan pelanggaran homo semacam ini.

Karena itulah, Allah meghukum umatnya Nabi Luth, dengan hukuman yanng sangat berat, yang belum pernah diberikan kepada orang kafir lainnya. Buminya dijungkir, lalu mereka dilempari batu.

Dan jika kita perhatikan dalam al-Quran, ternyata Allah memberikan hukuman kepada umatnya Luth dengan empat hukuman sekaligus,

Pertama, Dibutakan matanya

Di surat al-Qamar ayat 33, Allah berfirman,

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ

“Kaumnya Luth telah mendustakan peringatan.”

Kemudian, di ayat 37 Allah berfirman,

وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ

“Sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS. Al-Qamar: 37).

Diceritakan dalam buku sirah, ketika lelaki kaum Luth berusaha untuk masuk ke rumah Nabi Luth, karena ingin merebut tamu Luth yang ganteng-ganteng – malaikat yang berubah wujud manusia – maka keluarlah Jibril. Lalu beliau memukul wajah mereka semua dengan ujung sayapnya. Seketika mereka jadi buta. Akhirnya mereka nabrak-nabrak tembok, hingga mereka bisa kembali ke rumahnya sendiri. Mereka mengancam Luth, besok akan datang lagi dan mengadakan perhitungan dengan Luth. (Fabihudahum Iqtadih, hlm. 257).

Kedua, Allah kirimkan suara yang sangat keras

Alllah berfirman,

فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ

“Mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.” (QS. Al-Hijr: 73).

Suara itu sangat keras, datang memekakkan telinga mereka, di saat matahari terbit. Di saat, bumi mereka telah diangkat.

Ketiga, Bumi yang mereka tempati diangkat dan dibalik

Allah berfirman,

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

“Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82).

Sesungguhnya Jibril mengangat seluruh wilayah kampung ini dari bumi, diangkat dengan sayapnya hingga sampai ke langit dunia. Hingga penduduk langit dunia mendengar lolongan anjing mereka dan kokok ayam. Kemudian dibalik. Karena itu, Allah sebut mereka dengan al-Muktafikah, terbalik kepala dan kakinya.

Lalu dilempar kembali ke tanah. Allah berfirman,

وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى

“Al-Muktafikah (negeri-negeri kaum Luth) yang dilempar ke bawah.” (QS. an-Najm: 53)

Keempat, Dihujani dengan batu

Allah berfirman,

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (QS. Al-Hijr: 74).

Setiap batu ada namanya. Allah menyebutnya,

مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ

“Yang diberi nama oleh Rabmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas.” (QS. ad-Dzariyat: 34).

Hukuman Dunia

Cerita di atas berkaitan hukuman yang Allah berikan kepada kaum Luth. Selanjutnya, ketika ini terjadi pada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hukuman apa yang berlaku untuk mereka?

Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan hukuman pelaku homo,

Pertama, mereka mendapatkan laknat

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا

Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth… Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth… 3 kali. (HR. Ahmad 2915 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Kedua, dihukum bunuh, baik yang jadi subjek maupun objek.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!” (HR. Ahmad 2784, Abu Daud 4462, dan disahihkan al-Albani).

Mereka Berbeda Pendapat Tentang Cara Membunuhnya

Ibnul Qoyim menyebutkan riwayat dari Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu.

Ketika beliau diberi tugas oleh Khalifah Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu untuk memberangus pengikut nabi-nabi palsu, di pelosok jazirah arab, Khalid menjumpai ada lelaki yang menikah dengan lelaki. Kemudian beliau mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakar.

Kita simak penuturan Ibnul Qoyim,

فاستشار أبو بكر الصديق الصحابة رضي الله عنهم فكان على بن أبي طالب أشدهم قولا فيه فقال ما فعل هذ الا أمة من الأمم واحدة وقد علمتم ما فعل الله بها أرى أن يحرق بالنار فكتب أبو بكر الى خالد فحرقه

Abu Bakr as-Shiddiq bermusyawarah dengan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Ali bin Abi Thalib yang paling keras pendapatnya. Beliau mengatakan,

“Kejadian ini hanya pernah dilakukan oleh satu umat, dan kalian telah mengetahui apa yang Allah lakukan untuk mereka. Saya mengusulkan agar mereka dibakar.”

Selanjutnya Abu Bakr mengirim surat kepada Khalid, lalu beliau membakar pelaku pernikahan homo itu.

Ibnul Qoyim melanjutkan pendapat Ibnu Abbas,

وقال عبد الله بن عباس ان ينظر أعلا ما في القرية فيرمى اللوطى منها منكسا ثم يتبع بالحجارة وأخذ ابن عباس هذا الحد من عقوبة الله للوطية قوم لوط

Sementara Ibnu Abbas mengatakan,

“Lihat tempat yang paling tinggi di kampung itu. Lalu pelaku homo dileparkan dalam kondisi terjungkir. Kemudian langsung disusul dengan dilempari batu.”

Ibnu Abbas berpendapat demikian, karena inilah hukuman yang Allah berikan untuk pelaku homo dari kaumnya Luth. (al-Jawab al-Kafi, hlm. 120)

JIL Merasa Bangga

Semenjak mahmakah agung AS melegalkan perkawinan sesama jenis, sontak orang jil meneriakkan kemenangan bagi mereka. Bendera pelangi dikibarkan. Harapan yang telah lama mereka perjuangkan, telah diwujudkan. Jika sekarang di AS, proyek selanjutnya dibumikan di Indonesia. Dan itu menjadi cita-cita besar Bu Siti Musdah, yang dinobatkan sebagai profesor di UIN Jakarta.

Kita bisa simak hasil wawancara dengannya, yang sempat diuanggah di beberapa media,

”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun agamanya.”

Baca: Islam Nusantara, Proyek Liberal

Dia juga mengatakan,

“Bahkan, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam.”

Sebenarnya Bu Musdah sudah lama geram dengan masyarakat yang hanya mengakui perkawinan berlainan jenis kelamin (heteroseksual). Menurutnya, agama yang hidup di masyarakat sama sekali tidak memberikan pilihan kepada manusia.

”Dalam hal orientasi seksual misalnya, hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian, biseksual dan orientasi seksual lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun hanya dibangun untuk pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis.”

Saya kira tidak perlu diperbanyak.

Tapi itulah kelakuan JIL. Karenanya orang kafir merasa sangat berutang budi kepada mereka. Melalui mulut dan tangan mereka, orang kafir bisa dengan mudah menyusupkan pemikiran sesat di tengah kaum muslimin, tanpa modal besar.

Makanya di tahun  2007, pemerintah Amerika Serikat menganugerahi Bu Musdah dengan penghargaan ”International Women of Courage Award”.  Penghargaan internasional untuk wanita pemberani.

Tidak bisa kita bayangkan, andai komplotan JIL ini hidup di zaman Abu Bakr as-Shiddiq. Mungkin mereka turut dibakar oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu.

Allahu a’lam.

Untuk jawaban pembelaan JIL tentang homo, anda bisa simak artikel:

Orientasi Seksual Homo, Harus Dihargai?

Anda juga bisa pelajari: Cara Taubat dan Sembuh dari Penyakit Gay

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

hukum tarawih sendiri

Tarawih Sendiri

Assalaamu’alaikum, Ustadz mau nanya nih, saya karyawan shift malam, pada saat ramadhan saay tidak dapat mengikuti sholat terawih berjamaah, boleh tidak saya sholat terawih sendiri pada waktu jam istirahat (jam 12 malam)? dan kalau boleh bagaimana tata caranya ?
terimakasih

Dari Saddam

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (beribadah di malam ramadhan) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari 37 dan Muslim 759)

Dan para ulama menjelaskan, bahwa shalat tarawih termasuk qiyam ramadhan, mengisi malam ramadhan dengan ibadah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan janji yang besar, berupa ampunan dosa. Karena itulah, shalat tarawih termasuk shalat sunah muakkad (shalat sunah yang sangat ditekankan).

Boleh Dikerjakan Sendirian

Para ulama menegaskan bahwa shalat tarawih boleh dikerjakan sendirian. Karena bukan syarat sahnya shalat tarawih, harus dikerjakan berjamaah.

An-Nawawi mengatakan,

صلاة التراويح سنة باجماع العلماء … وتجوز منفردا وجماعة

Shalat tarawih adalah sunah dengan sepakat ulama… boleh dikerjakan sendirian atau berjamaah. (al-Majmu, 4/31).

Lebih Utama Berjamaah ataukah Sendirian?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi agar shalat tarawih dikerjakan berjamaah.

Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat hingga pertengahan malam, sebagian sahabat minta agar beliau memperlama hingga akhir malam. Kemudian beliau menyebutkan keutamaan shalat tarawih berjamaah,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَإِنَّهُ يَعْدِلُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang shalat tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai, maka dia mendapat pahala shalat tahajud semalam suntuk.” (HR. Nasai 1605, Ibn Majah 1327 dan dishahihkan Al-Albani).

Allahu akbar, shalat tarawih berjamaah bersama imama sampai selesai, pahalanya seperti shalat semalam suntuk. Yang itu hampir tidak mungkin pernah kita kerjakan.

Karena itulah, mayoritas ulama mengatakan, lebih utama mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah.

Kita simak penjelasan as-Syaukani dalam Nailul Authar,

واختلفوا في أن الأفضل صلاتها في بيته منفردا أم في جماعة في المسجد فقال الشافعي وجمهور أصحابه وأبو حنيفة وأحمد وبعض المالكية وغيرهم : الأفضل صلاتها جماعة كما فعله عمر بن الخطاب والصحابة رضي الله عنهم واستمر عمل المسلمين عليه لأنه من الشعائر الظاهرة

Ulama berbeda pendapat, mana yang afdhal, shalat tarawih sendirian ataukah berjamaah di masjid. As-Syafii dan mayoritas ulama madzhabnya, Abu Hanifah, Ahmad, sebagian Malikiyah dan yang lainnya berpendapat, yang lebih afdhal dikerjakan berjamaah. Sebagaimana yang dikerjakan Umar bin Khatab dan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Dan itu turun-temurun dipraktekkan kaum muslimin. Karena termasuk bagian dari syiar yang lahir.

Kemudian as-Syaukani menyebutkan pendapat kedua,

وقال مالك وأبو يوسف وبعض الشافعية وغيرهم : الأفضل فرادى في البيت لقوله صلى الله عليه وآله وسلم : أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة

Sementara Imam Malik, Abu Yusuf, sebagian syafiiyah, serta ulama lainnya berpendapat, shalat tarawih sendirian di rumah lebih utama. Berdasarkan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat yang paling utama adalah shalat yang dikerjakan seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Nailul Authar, 3/59).

Dan kita bisa menilai, pendapat mayoritas ulama lebih kuat dalam hal ini. Mengingat adanya motivasi khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakannya berjamaah di masjid.

Dalam Kondisi Ini, Sendirian Lebih Utama

Di beberapa beberapa tempat di indonesia, ada masjid yang shalat tarawihnya sangat ngebut. Mungkin karena mengerjar target jumlah rakaat yang banyak. Yang unik, di rakaat kedua selalu membaca surat al-ikhlas. Rukuk, itidal, sujud dan duduk diantara dua sujud, sering jadi korban. Karena dikerjakan tidak thumakninah.

Suatu ketika, Rasulullah melihat orang shalat yang tidak menyempurnakan rukuknya dan seperti mematuk ketika sujud. Kemudian beliau bersabda,

أَتَرَوْنَ هَذَا، مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، يَنْقُرُ صَلَاتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ

“Tahukah kamu orang ini. Siapa yang meninggal dengan keadaan (shalatnya) seperti ini maka dia mati di atas selain agama Muhammad. Dia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah.” (HR. Ibnu Khuzaimah 665 dan dihasankan al-Albani).

Jika anda menjumpai masjid semacam ini, sebaiknya ditinggalkan, bisa mencari masjid yang lain atau shalat sendiri di rumah. Dari pada anda tarawih dengan model shalat yang sangat tidak berkualitas.

Kesimpulan dari keterangan di atas,

  1. Shalat tarawih boleh dikerjakan di rumah atau di selain masjid, baik sendirian atau berjamaah bersama keluarga.
  2. Jika memungkinkan, shalat tarawih dikerjakan berjamaah bersama imam masjid, lebih utama. Karena bernilai pahala seperti shalat semalam suntuk
  3. Jika pelaksanaan shalat tarawih di masjid sekitar kita tidak berkualitas, dan tidak ada pilihan majid lain, maka sebaiknya shalat tarawih di rumah sendirian atau bersama keluarga, dengan berusaha menjaga kualitas shalat

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Islam Nusantara

Akhir-akhir ini banyak yang membahas tentang islam nusantara, apakah itu islam nusantara?

Yusron****@gmail.com

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Istilah islam nusantara, menjadi isu yang mulai ramai dibicarakan. Sejalan dengan peran para budayawan dan orang-orang liberal di Indonesia. Dan nampaknya ini hendak dijadikan sebagai gerakan. Di UIN jakarta sendiri telah diselenggarakan festival budaya islam nusantara. Bahkan ada yang mengatakan, fenomena membaca al-Quran dengan langgam jawa, merupakan bagian dari proyek islam nusantara itu.

Mengingat ini istilah yang asing bagi masyarakat, kita perlu tahu, sebenarnya apa maksud mereka dengan istilah islam nusantara itu. Apakah maksudnya agama islam yang dibongkar pasang, diganti sana-sini, sehingga menjadi agama sendiri yang berbeda sama sekali dengan ajaran islam Nabi Muhammad? Seperti halnya istilah ‘kristen jawa’ yang berbeda sama sekali dengan ajaran kristen lainnya. Atau islam seperti apa?

Di sana ada sebuah tulisan, yang dirilis oleh web Fakultas Adab & Humaniora UIN jakarta. Dalam tulisan itu, dikutip definisi istilah ‘islam nusantara’ menurut Azyumardi Azra. Dia mengatakan,

“Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya dengan warisan Islam (Islamic legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam global.

Yah… anda boleh baca sambil tutup mata sebelah. Paham gak paham, anggap saja paham. Ini bahasa ‘wong pinter’ gaya masyarakat UIN. Kepentingan kita, keterangan Pak Azra dijadikan sebagai acuan. Karena beliau bagian dari pelaksana inti proyek islam nusantara itu.

Kita bisa perhatikan, definisi islam nusantara menurut Pak Azra di bagian pertama,

Islam Nusantara adalah Islam distingtif, artinya islam yang unik. Tentu saja memiliki ciri membedakannya dengan lainnya.

Sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi (disesuaikan keadaan pribumi) dan vernakularisasi (disesuaikan kedaerahan) Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia.

Dari pengertian Pak Azra, berarti islam ada dua:

(1) islam universal dan

(2) islam yang sudah mengalami penyesuaian dengan budaya dan realitas sosial. Yang mereka istilahkan dengan islam nusantara itu.

Jika yang dimaksud islam universal adalah islam ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang itu diterima oleh seluruh dunia, berarti islam nusantara yang menjadi gagasan para tokoh uin itu, berbeda dengan islam ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya, Pak Azra mengaku bahwa islam nusantara yang dia maksud, penyatuan kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali. Tentu saja, ini terlalu berlebihan. Anggap saja, masalah tata cara membaca al-Quran masuk dalam kajian fiqh, pernahkah ada fatwa dalam fiqh syafii yang membolehkan membaca al-Quran dengan lagu macapat?

Lebih dari itu, sebenarnya UIN jakarta, sangat terengaruh dengan pemikiran pemikian liberal Harun Nasution. Posisi Pak Harun yang dianggap pencetus pemikiran islam baru, sangat menentang kalam Asy’ari. Karena yang ingin dia kembangkan adalah pemikiran mu’tazilah. Pak Harun sendiri pernah menyatakan, “Bila umat Islam ingin maju, maka kita harus menggantikan paham Asy’ariyah yang telah mendarah daging menjadi paham Mu’tazilah.” (Teologi Pembaruan, Fauzan S, 2004, hlm. 264)

Karena itulah, Pak Harun dikenal pencetus Neo-Mu’tazilah di Indonesia.

Ketika uin jakarta mengaku mengembangkan ajaran ilmu kalam asy’ari, jelas ini terlalu jauh. Hakekatnya, mereka sedang mengembangkan pemikiran mu’tazilah.

Memecah Belah Umat

Kita tinggalkan kajian masalah definisi di atas.

Karena jika kita perhatikan, pemikiran ini jelas hendak merusak islam besar-besaran. Dan tidak jauh jika kita katakan, memecah belah kaum muslimin.

Budaya di nusantara bagi Indonesia, sangat beragam. Aceh jauh berbeda dengan jawa. Kalimantan, jauh beda dengan Papua. Ketika islam nusantara dipahami sebagai islam hasil akulturasi budaya lokal, apa yang bisa anda bayangkan ketika islam ini disinkronkan dengan budaya papua. Sehingga tercipta sebuah desain pakaian muslim, hasil interaksi antara islam dan budaya koteka. Tentu saja, ini akan sangat ditolak oleh masyarakat jawa atau lainnya.

Ingatan kita masih sangat segar terkait kasus shalat dengan bahasa jawa, yang diajarkan di Pesantren I’tikaf Ngadi Lelaku, Malang. Spontan memancing emosi banyak masyarakat. Jika sampai hal ini diwujudkan, yang terjadi bukan renaisans peradaban Islam, tapi malah mengacaukan masyarakat.

Termasuk ajaran sebagian etnis Sasak, shalat 3 waktu. Apakah bisa disebut islam nusantara? Jika sampai ini dilegalkan, berarti menolak keberadaan 2 shalat sisanya.

Wahyu Menyesuaikan Budaya?

Hingga kini, banyak orang liberal menuduh, bahwa tujuan terbesar dakwah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah untuk arabisasi dunia. Menerapkan hegemoni quraisy di alam raya. Sehingga, ketika ada gerakan dakwah di tengah masyarakat, mereka sebut, arabisasi.

Inti masalahnya, orang liberal lemah dalam membedakan antara budaya dan ajaran agama. Sehingga, di manapun ajaran agama itu disampaikan, menurut orang liberal, itu sedang memasarkan budaya arab.

Kita bisa telusuri, sebenarnya yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu meng-arab-kan islam ataukah meng-islam-kan arab??.

Jika kita menggunakan teori orang liberal, berarti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meng-arabkan islam. Artinya, islam sudah ada, kemudian oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diwarnai dengan budaya arab.

Anda layak untuk geleng kepala..

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya. Ada yang baik dan ada yang buruk. Ketika beliau datang, beliau mengislamkan budaya-budaya itu. Dalam arti, mengarahkan pada budaya yang baik, dan membuang budaya jahat. Bukan disinkronkan, kemudian islam menyesuaikan semua budaya mereka.

Kita bisa simak, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang budaya buruk jahiliyah, beliau mengatakan,

أَلاَ كُلُّ شَىْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوعٌ

Katahuilah, segala urusan jahiliyah, terkubur di bawah telapak kakiku.” (HR. Muslim 3009)

Ini salah satu bukti, bagaimana upaya beliau menolak setiap tradisi jahiliyah yang bertentanagn dengan wahyu.

Dari sini kita mendapat pelajaran, bahwa budaya harus menyesuaikan islam. Bukan islam yang menyesuaikan budaya.

Islam Agama Menyeluruh

Islam agama yang unversal. Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebarkan islam kepada seluruh umat manusia. Sehingga ajaran islam sedunia adalah sama. Karena sumbernya sama. Ketika ada orang yang memiliki kerangka ajaran yang berbeda, berarti itu bukan islam ajaran beliau.

Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Aku tidak mengutus kamu, melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

Dalam tafsirnya, al-Hafidz Ibnu Katsir menfsirkan ayat ini, bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk seluruh makhluk. Semua yang mukallaf. Baik orang arab maupun luar arab. Yang paling mulia diantara mereka, adalah yang paling taat kepada Allah. (Tafsir Ibn Katsir, 6/518).

Saya kira, tidak ada orang muslim yang ingin tidak dianggap sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam arti khusus, gara-gara dia punya islam yang berbeda dengan islam beliau.

Adat Bisa Menjadi Acuan Hukum

Ada satu kaidah dalam ilmu fiqh,

العادة محكَّمة

“Adat bisa dijadikan acuan hukum.”

Kaidah ini termasuk kaidah besar dalam fiqh (qawaid fiqhiyah kubro). Kaidah ini menjelaskan bahwa adat dan tradisi masyarakat dalam pandangan syariat bisa menjadi penentu untuk hukum-hukum terkait muamalah sesama manusia. Selama di sana tidak ada dalil tegas yang bertentangan dengan adat tersebut. (al-Wajiz fi Idhah Qawaid al-Fiqh al-Kulliyah, hlm. 276).

Hanya saja di sana para ulama fiqh memberikan batasan, ketika adat bertentangan dengan dalil syariat,

Pertama, jika ada adat yang sesuai dengan dalil syariat, wajib untuk diperhatikan dan diterapkan. Karena mempraktekkan hal ini hakekatnya mempraktekkan dalil dan bukan semata adat. Contoh: memuliakan tamu.

Kedua, jika adat bertentangan dengan dalil syariat, ada beberapa rincian keadaan sebagai berikut,

  1. Adat bertentangan dengan dalil dari segala sisi. Menggunakan adat otomatis akan meninggalkan dalil. Dalam kondisi ini adat sama sekali tidak berlaku. Misalnya: tradisi koperasi simpan pinjam berbunga.
  2. Adat bertentangan dengan dalil dalam sebagian aspek. Dalam kondisi ini, bagian yang bertentanga dengan dalil, wajib tidak diberlakukan. Misalnya: Dropshipping dengan cara terutang.
  3. Dalil yang bertentangan dengan Urf, dibatasi dengan latar belakang adat yang terjadi ketika itu. Misalnya, larangan membiarkan api penerangan menyala di malam hari. Atau larangan minum air dari mulut botol.

Contoh Penerapan Kaidah

Allah mewajibkan suami untuk menafkahi istri. Tentang ukuran nafkah, dikembalikan kepada keadaan masyarakat, berapa nilai uang nafkah wajar untuk istri.

Islam mewajibkan kita untuk bersikap baik terhadap tetangga. Bagaimana batasan sikap baik itu, dikembalikan kepada standar masyarakat. dst.

Gagasan Islam Nusantara Vs Kaidah Fiqh

Apakah kaidah fiqh ini yang hendak dikembangkan dalam proyek “Islam Nusantara.”?

Dugaan kuat kami, tidak untuk ini. Islam nusantara, bukan dalam rangka memahamkan masyarakat tentang kaidah fiqh di atas.

Karena seperti yang dinyatakan Pak Azra, beliau menyebut islam nusantara sebagai islam yang distingtif, islam unik. Mereka anggap itu gagasan baru dari mereka, bagi muslim Indonesia. Makanya, kita tidak pernah mendengar istilah ini dikobarkan, di masa pemerintahan SBY. Proyek ini baru disemarakkan di masa pemerintahan sekarang.

Padahal kaidah fiqh di atas, bukan sesuatu yang baru. Dan untuk memahamkan kadiah ini, tidak butuh orang liberal. Kaidah ini telah final dibahas para ulama. Jika orang liberal ngaku hendak membumikannya, itu hanya klaim. Mengelabuhi masyarakat abangan untuk memasarkan pemikiran mu’tazilah.

Benar apa yang Allah firmankan, salah satu diantara upaya setan untuk menggoda manusia adalah dengan membisikkan kata-kata indah, untuk menjadi alasan pembenar bagi kesesatan mereka,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, mereka saling membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112)

Semoga kita tidak termasuk orang yang tertipu propaganda mereka.

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Hari Jumat, Hadiah Untuk Umat

Benarkah hari jumat itu atas hadiah dari Allah untuk umat Muhammad saw.

Coy

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah berfirman,

إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.” (QS. an-Nahl: 124).

Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini,

Allah menuntukan setiap penganut agama untuk memilih satu hari istimewa dalam sepekan. Hari untuk berkumpul bersama dalam rangka melakukan ibadah. Allah syariatkan untuk umat ini (umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) agar mereka memuliakan hari jumat. Karena itu hari keenam, di mana Allah sempurnakan makhluk-Nya. Dan itu nikmat sempurna bagi mereka.

Selanjutnya Ibnu Katsir menyebutkan keterangan sebagian ahli tafsir,

ويقال: إنه تعالى شرع ذلك لبني إسرائيل على لسان موسى، فعدلوا عنه واختاروا السبت؛ لأنه اليوم الذي لم يخلق فيه الرب شيئًا من المخلوقات الذي كمل خلقها يوم الجمعة، فألزمهم تعالى به في شريعة التوراة، ووصاهم أن يتمسكوا به وأن يحافظوا عليه

Ada yang menyetakan bahwa Allah mensyariatkan kepada bani israil melalui Musa untuk memuliakan hari jumat. Namun mereka menolaknya dan memilih hari sabtu. Mereka meyakini, di hari sabtu, Allah tidak menciptakan makhluk apapun, karena telah Allah sempurnakan di hari jumat. Akhirnya Allah tetapkan ibadah hari sabtu itu sebagai kewajiban untuk mereka dalam taurat. Allah wasiatkan agar mereka komitmen dengan hari sabtu dan berusaha menjaganya.  (Tafsir Ibnu Katsir, 4/612).

Demikian pula dengan nasrani.

Al-Hafdiz Ibnu Katsir melajutkan keterangannya,

Mereka terus konsisten dengan ibadah hari sabtu, sampai Allah mengutus Isa bin Maryam. Selanjutnya ada banyak versi di sana. Ada yang mengatakan, Allah memindahkannya kepada hari ahad. Ada yang mengatakan, mereka tidak meninggalkan syariat taurat, selain beberapa hukum yang dihapus dengan injil. Mereka terus konsisten dengan hari sabtu, hingga Allah mengangkat Isa. kemudian, oleh orang nasrani, itu diubah menjadi hari ahad di zaman kerajaan Konstatinopel. Agar berbeda dengan orang yahudi. Mereka juga melakukan shalat menghadap ke timur, ke arah batu di timur al-Aqsha. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/612).

Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat membanggakan adanya hari jumat. Karena berarti kita benar. Kita memuliakan hari jumat, dan itu sesuai dengan apa yang Allah pilihkan. Sementara pilihan yahudi dan nasrani meleset.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ketika hari jumat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan,

نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَاخْتَلَفُوا فَهَدَانَا اللَّهُ لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنْ الْحَقِّ فَهَذَا يَوْمُهُمْ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ هَدَانَا اللَّهُ لَهُ قَالَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فَالْيَوْمَ لَنَا وَغَدًا لِلْيَهُودِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى

Kita adalah umat terakhir namun pertama di hari kiamat. Kitalahlah yang pertama kali masuk surga. Meskipun mereka mendapatkan kitab suci sebelum kita dan kita mendapatkan kitab suci setelah mereka. Lalu mereka menyimpang dan kita ditunjukkan Allah kepada kebenaran dalam hal yang mereka perselisihkan. Inilah hari mereka yang mereka menyimpang darinya dan Allah tunjukkan kepada kita. Beliau bersabda lagi: Hari jum’at adalah hari kita dan esoknya hari Yahudi dan setelah besok adalah hari nasrani.” (HR Muslim 2017).

Sudah selayaknya kaum muslimin bersyukur dengan dijadikannya hari jumat sebagai hari besar untuk mereka dalam setiap pekan.

Saatnya memuliakan hari jumat.

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Bahasa Penduduk Surga, Bukan Bahasa Arab?

Benarkah bahasa penduduk surga itu bahasa arab? Dan penduduk neraka berbahasa selain arab?

Mohon pecerahannya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, yang menyatakan,

أحبوا العرب لثلاث لأني عربي ، والقرآن عربي ، وكلام أهل الجنة عربي

“Cintailah arab karena 3 hal, (1) karena saya orang arab, (2) karena al-Quran berbahasa arab, dan (3) bahasa penduduk surga adalah bahasa arab.”

Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani dalam al-Ausath, al-Hakim dalam al-Mustadrak dan Baihaqi dalam Syuabul Iman. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Alla bin Amr, yang oleh ad-Dzahabi dinilai matruk. Dan beliau menyebut hadis ini sebagai hadis palsu. Kemudian Abu Hatim menilainya pendusta. Hingga Imam al-Albani mennyebutkan bahwa ulama sepakat hadis ini palsu. (Silsilah al-Ahadits ad-Dhaifah, 1/293).

Karena itu, Syaikhul Islam menegaskan bahwa hadis ini tidak bisa jadi dalil.

Dalam al-Iqtidha, ketika beliau membahasa hadis ini, beliau menyatakan,

وأبو الفرج بن الجوزي ذكر هذا الحديث في الموضوعات ، وقال : قال الثعلبي : لا أصل له ، وقال ابن حبان : يحيى بن زيد يروي المقلوبات عن الأثبات ، فبطل الاحتجاج به

“Ibnul Jauzi mencantumkan hadis ini dalam kitab al-Maudhu’at (daftar hadis palsu). Beliau menyebutkan bahwa at-Tsa’labi menilainya, ‘La ashla lahu’ (tidak ada sumbernya). Sementara Ibnu Hibban menyebutkan bahwa Yahya bin Zaid (salah satu perawi hadis ini) meriwayatkan dari perawi yang tsiqqah kebalik-balik. Sehingga tidak bisa jadi dalil. (Iqtidha as-Shirat al-Mustaqim, 1/443)

 

Kemudian, disebutkan dalam riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu’,

أنا عربي ، والقرآن عربي ، ولسان أهل الجنة عربي

Saya orang arab, al-Quran berbahasa arab, dan penduduk surga berbahasa arab.”

Hadis ini juga diriwayat at-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath, dan ulama menilainya sebagai hadis palsu. (Silsilah ad-Dhaifah, 1/298).

Dalam Fatwa Islam disimpulkan,

والحاصل أنه لم يرد دليل صحيح يبين اللغة التي يتكلم بها أهل الجنة

Kesimpulannya, tidak terdapat dalil shahih yang menjelaskan tentang bahasa yang digunakan penduduk surga. (Fatwa Islam, no. 83262)

Apa Bahasa Penduduk Surga?

Syaikhul Islam pernah ditanya,

بماذا يخاطب الناس يوم البعث ؟ وهل يخاطبهم الله تعالى بلسان العرب ؟ وهل صح أن لسان أهل النار الفارسية وأن لسان أهل الجنة العربية ؟

Apa bahasa yang digunakan pada hari kiamat? Apakah Allah mengajak bicara makhluknya dengan bahasa arab? Apakah benar, bahasa penduduk neraka adalah bahasa persi, sementara bahasa penduduk surga adalah bahasa arab?

Jawaban Syaikhul Islam,

الحمد لله رب العالمين لا يُعلم بأي لغة يتكلم الناس يومئذ ، ولا بأي لغة يسمعون خطاب الرب جل وعلا ؛ لأن الله تعالى لم يخبرنا بشيء من ذلك ولا رسوله عليه الصلاة والسلام ، ولم يصح أن الفارسية لغة الجهنميين ، ولا أن العربية لغة أهل النعيم الأبدي ، ولا نعلم نزاعا في ذلك بين الصحابة رضي الله عنهم ، بل كلهم يكفون عن ذلك لأن الكلام في مثل هذا من فضول القول

Segala puji bagi Allah, Rabbul ‘alamin,

Kita tidak tahu, bahasa apa yang Allah gunakan untuk berkomuniasi pada hari kiamat. Kita juga tidak tahu, bahasa apa yang didengar oleh para makhluk ketika mereka berkomunikasi dengan Tuhannya. Karena Allah tidak menceritakan hal itu sama sekali, demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak ada riwayat yang shahih bahwa bahasa persi adalah bahasa penduduk neraka. Demikian pula, tidak ada riwayat shahih bahwa bahasa arab adalah bahasa penduduk surga. Dan kita juga tidak tahu adanya diskusi para sahabat Radhiyallahu ‘anhum tentang masalah ini. Bahkan mereka semua tidak memberikan komentar tentng bahasa kelak di akhirat. Karena membahas masalah ini termasuk pembahasan sia-sia.

Kemudian, Syaikhul Islam melanjutkan,

ولكن حدث في ذلك خلاف بين المتأخرين ، فقال ناس : يتخاطبون بالعربية ، وقال آخرون : إلا أهل النار فإنهم يجيبون بالفارسية ، وهى لغتهم في النار . وقال آخرون : يتخاطبون بالسريانية لأنها لغة آدم وعنها تفرعت اللغات . وقال آخرون : إلا أهل الجنة فإنهم يتكلمون بالعربية . وكل هذه الأقوال لا حجة لأربابها لا من طريق عقلٍ ولا نقل بل هي دعاوى عارية عن الأدلة والله سبحانه وتعالى أعلم وأحكم

Hanya saja, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama belakangan. Sebagian mengatakan, Allah berkomunikasi dengan bahasa arab. Ada juga yang mengatakan, untuk penduduk neraka mereka berkomunikasi dengan bahasa persi. Dan itu menjadi bahasa mereka di neraka.

Ada juga yang mengatakan, komunikasi mereka dengan bahasa Suryani. Karena ini bahasa yang digunakan Nabi Adam. Dan semua bahasa turunan darinya. Kecuali ahli surga, mereka berbicara dengan bahasa arab.

Dan semua pendapat ini, tidak memiliki dasar pijakannya. Baik secara logika maupun dalil yang shahih. Ini semua hanya klaim tanpa dalil. Dan Allah ta’ala Maha Tahu dan Maha Bijaksana. (Majmu’ Fatawa, 4/300).

Nasehat yang sangat indah dari Syaikhul Islam, masalah bahasa di akhirat, sebaiknya tidak perlu banyak dipertanyakan. Kita pasrahkan kepada Allah. Dia paling tahu mana yang terbaik. Akan lebih bermanfaat, jika umat lebih menyibukkan diri untuk beramal demi kebaikannya di akhirat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

URGENSI PEMBAHASAN[1]

Syahadat adalah salah satu pondasi penting keislaman seorang hamba sehingga pilar utama rukun Islam yang digandengan dengan syahadat Laa Ilaha Illallah

Banyaknya kaum muslimin yang belum memahami hakekat syahadat dengan sempurna sehingga mereka terjatuh dalam kesalahan; berlebihan dan meremehkan

Diharapkan akan semakin menambah iman dan cinta kita kepada Nabi Muhammad sehingga kita semangat dan tegar dalam mengikuti sunnah beliau dalam aspek kehidupan manusia; aqidah, ibadah, akhlah dan lain sebagainya.

MAKNA SYAHADAT MUHAMMAD

Tatkala seorang muslim berikrar “Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulnya”.

Ikrarnya bahwa Nabi Muhammad adalah seorang hamba berfaedah agar dia tidak berlebihan kepada Nabi Muhammad, karena Rasulullah adalah seorang manusia biasa yang telah Alloh muliakan dengan risalah. Alloh berfirman;

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian yang diwahyukan kepadaku bahwa Ilah kamu adalah Ilah yang esa. (QS.al-Kahfi 110).

Maka tidak boleh kita meminta sesuatu kepadanya yang menjadi kekhususan Alloh, semisal dengan berdo’a agar diluaskan rizki, dipanjangkan umur atau meminta kesembuhan dan lain-lain dari permintaan yang sebenarnya hanya ditujukan kepada Alloh saja.

Ketahuilah wahai hamba yang beriman, nabi kita tidak senang apabila dirinya dilebih-lebihkan melebihi derajat yang semestinya, bahkan beliau memberi peringatan yang keras, dia bersabda;

لاَ تَطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ وَ لَكِنْ قُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ

Janganlah kalian berlebihan kepadaku sebagaimna orang nashara telah berlebihan kepada Isa bin Maryam, akan tetapi katakanlah hamba Alloh dan rasulnya. (HR.Bukhari 3445).

Inilah yang disebut dengan ghuluw, berlebihan terhadap sesuatu. Sederhanalah dalam beragama, ikutilah petunjuknya, karena ghuluw tidaklah mendatangkan kecuali kebinasaan, Rasulullah bersabda;

إِيَّاكُمْ وَ الغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنَ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِاْلغُلُوِّ فِيْ الدِّيْنِ

Waspadalah kalian dari berbuat ghuluw di dalam agama, hanyalah orang yang sebelum kalian binasa karena berbuat ghuluw dalam agama. (QS.Ahmad 1/215, Nasai 5/268, Ibnu Majah 3064, Hakim 1/466, lihat as-Shahihah 1283).

Termasuk bentuk ghuluw kepada nabi juga yaitu tawassul yang tidak syar’I, berdo’a disisi kuburnya, ngalap berkah dengan kuburannya, shalawat bid’ah yang mengandung kesyirikan dan lain-lain. Wallohul Musta’an.

Dan syahadat kita bahwa Muhammad adalah Rasulullah berfaedah akar kita memuliakan dan menghormati beliau, mencintai dan membela beliau, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya serta tidak beribadah kepada Allah kecuali beradasarkan tuntunannya.

Alloh berfirman;

لِّتُوْمِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Supaya engkau sekalian beriman kepada Alloh dan rasulNya, menguatkan agamanya, mengagungkannya, dan bertasbih kepadanya di waktu pagi dan petang. (QS.al-Fath 9)

Penghormatan kepada beliau semasa hidupnya adalah dengan mengagungkan sunnahnya dan kepribadiannya. Adapun setelah beliau wafat, dengan cara mengamalkan dan menjaga sunnahnya.

Sungguh para sahabat telah mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya mengagungkan nabi. Simaklah penuturan Urwah bin Mas’ud ketika dia diutus oleh orang-orang Quraisy untuk berunding dengan nabi pada perjanjian Hudaibiyyah, dia berkata dihadapan para pembesar Quraisy, “Aku sudah pernah menemui raja kisra, Qaishar dan Najasyi, akan tetapi belum pernah aku melihat para pengikut mereka mengagungkan rajanya seperti pengagungan para sahabat Muhammad kepada Muhammad. Apabila dia (Muhammad) memerintahkan sesuatu, mereka akan bersegera melaksanakannya. Apabila dia berwudhu, mereka saling berebutan untuk merebut sisa wudhunya. Apabila dia berbicara, mereka semua merendahkan suara disisinya dan mereka tidaklah menajamkan pandangan kepadanya karena mengagungkan beliau”. (HR.Bukhari 2731).

GOLONGAN YANG MENYIMPANG

Setelah kita memahami hakekat syahadat Muhammad Rasulullah, kita perlu memahami golongan yang menyimpang agar kita tidak terjerumus di dalamnya:

1. Golongan yang tidak beriman kepada Nabi

Baik yang tidak beriman secara total seperti kaum musyrikin atau mengingkari keumuman risalah Nabi dan menganggap bahwa risalah beliau hanya khusus untuk kaum Arab saja.

Tentu saja, golongan ini bertentangan dengan firman Allah yang banyak sekali, yang menegaskan bahwa Allah mengutus NabiNya untuk seluruh manusia:

وَمَآأَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

(QS. Saba: 28)

2. Golongan yang menisbatkan dirinya kepada Islam tetapi menyelisihi hakekat syahadat

  1. Ada yang berlebihan sehingga menganggap bahwa Allah bersatu dengan diri Nabi.  Ini ucapan kufur yang menyerupai ucapan kaum Nashrani pada diri al-Maish, padahal Nabi hanyalah manusia biasa dan hamba yang dimuliakan dengan kenabian.

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

(QS, Al-Kahfi: 110)

أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِّن زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَآءِ وَلَن نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَّقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنتُ إِلاَّ بَشَرًا رَّسُولاً

(QS. Al-Isra’: 93)

  1. Ada lagi yang berlebihan kepada beliau sehingga memberikan jenis ibadah kepada beliau, padahal Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

(QS. Al-Kautsar: 2)

Oleh karenanya, Nabi seringkali memberikan peringatan keras secara berulang-ulang dalam banyak kesempatan dari perbuatan ghuluw kepada beliau.

  1. Ada lagi yang berlebihan sehingga menganggap bahwa Nabi mengetahui perkara ghoib,padahal Allah berfirman:

قُل لاَّيَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَايَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

(QS. An-Naml: 65)

قُل لآَّأَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَاشَآءَ اللهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَامَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

(QS. Al-A’rof: 188)

  1. Golongan lainnya ada yang meremehkan Nabi dengan menolak hadits-haditsnya dengan akal dan hawa nafsunya.Demikian juga orang-orang yang melakukan perbuatan bid’ah dalam agama karena konsekwensi syahadat Muhammad Rasulullah adalah tidak beribadah kecuali dengan tuntunan Rasulullah.[2]

HAKEKAT SYAHADAT MUHAMMAD RASULULLAH

1. Beriman kepada Nabi

2. Taat dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Aku melihat di dalam mushaf maka aku dapati perintah taat kepada rasul terdapat pada 33 tempat”. (as-Sharim al-Maslul hal.56, lihat pula Majmu’ Fatawa 19/103).

Karena taat kepada rasul pada hakekatnya merupakan bentuk ketaatan kepada Alloh juga. Alloh berfirman;

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَآأَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang menta’ati rasul, sesungguhnya dia telah mentaati Alloh. (QS.an-Nisa 80).

Syaikhul Islam mengatakan, “Sungguh ijma’ ummat ini telah menunjukkan wajibnya taat dan ittiba’ kepada rasul, karena as-sunnah itu sebagai sumber hukum syar’I setelah sumber yang pertama yaitu al-Qur’an. (Majmu’ Fatawa 11/339).

3. Membenarkan berita yang beliau bawa

Termasuk pokok keimanan adalah mengimani kema’suman nabi dari kedustaan. Membenarkan setiap berita yang beliau khabarkan, baik dalam perkara yang telah lampau, masa kini, atau masa akan datang. Alloh berfirman:

وَمَايَنطِقُ عَنِ الْهَوَى {3} إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى {4}

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS.an-Najm 3-4).

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Inti adab kepada nabi adalah berserah diri dengan sempurna, melaksanakan perintah dan menerima khabarnya dengan sepenuh hati, tanpa mempertentangkan dengan khayalan yang batil yang dikira masuk akal, atau dengan syubhat dan keraguan, atau mendahulukan pendapat orang lain atau dengan kerancuan akal mereka”. (Madarijus Salikin 2/439).

Karena hujjah yang wajib diikuti oleh seluruh makhluk adalah perkataan al-Ma’shum yang tidak mengucapkan dengan hawa nafsu. Adapun perkataan orang lain paling banter adalah boleh diikuti, bukan wajib diikuti!! lebih-lebih apabila perkataannya digunakan untuk menentang nash-nash, atau lebih di dahulukan (maka lebih utama untuk tidak diikuti-pen). Kita berlindung kepada Alloh dari kehinaan. (ar-Risalah at-Tabukiyyah hal.41).

Ambil contoh hadits yang berbunyi

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِيْ الآخَرِ شِفَاءً

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila lalat jatuh di bejana salah satu diantara kalian maka celupkanlah kemudian buanglah lalat tersebut, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya”.

(HR.Bukhari 3320, Ahmad 2/229, Abu Dawud 3844, Ibnu Majah 3505, Ad-Darimi 2045, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 105).

Ini adalah khabar dari rasulullah dalam perkara ghaib yang dia tidak berbicara dengan hawa nafsu, maka khabar seperti ini wajib kita terima dengan husnul khuluq, yaitu dengan menerima dan melaksanakan tanpa keraguan, kita yakini dengan ilmu yakin bahwa sabdanya adalah benar, Alloh berfirman;

Maka Alloh adalah rabbmu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan? (QS.Yunus 32). (Lihat Makarimul Akhlaq hal.14, Oleh Syaikh Ibnu Utsaimin).

Semoga Alloh merahmati Imam Ibnul Qayyim ketika berkata, “Termasuk adab kepada nabi bahwa perkataannya tidak boleh dipermasalahkan, bahkan seharusnya pendapat-pendapat itulah yang harus dipermasalahkan dan ditimbang dengan perkataannya, tidak boleh pula nashnya ditentang dengan kias (analogi), bahkan kias itulah yang dibuang karena sudah ada nash. Tidak pula perkataannya diselewengkan dari makna yang hakiki hanya berdasarkan khayalan yang dikira masuk akal, tidak boleh pula berdiam diri untuk menerima apa yang beliau bawa karena mengikuti pendapat orang, semua ini adalah bentuk kurang adab kepada beliau”. (Madarijus Salikin 2/441).

4. Ittiba’, dan mengambil petunjuknya

Asal dari perkataan dan perbuatan nabi adalah untuk ditiru dan dicontoh. Alloh berfirman:

} لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Alloh dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Alloh. (QS.al-Ahzab 21).

Ayat ini adalah asas dalam meneladani rasulullah dalam perkataannya, perbuatannya dan seluruh keadaan rasulullah. (Tafsir al-Qur’an al-Azhim 6/391).

Imam as-Syafi’I mengatakan, “Apabila sesuatu itu telah tetap dari rasulullah, maka wajib bagi semua orang yang mengetahuinya untuk ittiba’ kepada beliau, karena Alloh tidaklah membolehkan  bagi seseorang untuk menyelisihi perintahnya”. (ar-Risalah hal.330-Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir-).

Sebagai contoh dalam masalah shalat, selayaknya bagi setiap muslim untuk mempelajari bagaimana sifat shalat nabi, memperbagusi dan berusaha agar shalatnya benar sesuai tuntunan. Rasulullah mengatakan

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR.Bukhari 631).

Demikianlah perkara-perkara ibadah lainnya, hendaklah kita meniru dan ittiba’ kepada beliau, karena itulah jalan keselamatan dan kebahagiaan.

5. Berhukum dengan sunnahnya

Perkara inipun harus kita realisasikan, hendaklah setiap orang berhukum dengan sunnahnya, berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya Alloh berfirman;

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS.an-Nisa 65).

Maka apabila segala perselisihan yang ada dikembalikan kepada al-Qur’an dan sunnah insya Alloh akan selesai, dan kehidupan beragamapun menjadi tentram dan damai. Alloh berfirman;

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. (QS.an-Nisa 59).

Kaum salaf dan khalaf telah sepakat bahwa mengembalikan kepada Alloh adalah mengembalikan kepada kitabNya yaitu al-Qur’an, dan mengembalikan kepada rasul adalah mengembalikan ketika masa hidupnya dan mengembalikan kepada sunnahnya setelah wafatnya. (Tafsir Thabari 5/151, Tafsir Qurthubi 5/169, ar-Risalah at-Tabukiyyah hal.47).

Bahkan Alloh telah menegaskan pula bahwa termasuk tanda-tanda penyimpangan dan kenifakan adalah berpaling dan meninggalkan sunnahnya. Renungilah firman Alloh berikut ini;

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada Thagut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, marilah kamu tunduk kepada hukum yang telah Alloh turunkan dan kepada hukum rasul, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari mendekati kamu. (QS.an-Nisa 60-61).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari sunnah rasulullah dan syari’atnya, maka sungguh Alloh telah bersumpah dengan dirinya yang suci bahwa orang itu tidak beriman, hingga dia ridha dengan hukum rasulullah dalam segala perkara yang mereka perselisihkan, baik dalam masalah agama maupun dunia dan hingga tidak tersisa rasa keberatan dalam hati mereka terhadap hukumnya, dalil-dalil dalam pokok masalah ini sangat banyak sekali”. (Majmu’ Fatawa 28/471).

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Alloh menjadikan berpaling dari apa yang dibawa oleh nabi dan mencari hukum selainnya sebagai bentuk kenifakan, sebagaimana hakekat keimanan adalah berhukum kepada nabi, menghilangkan rasa keberatan dalam dada dan menerima sepenuh hati berdasarkan pilihan dan kecintaan sendiri, inilah hakekat keimanan dan berpaling dari sunnahnya itulah hakekat kenifakan”. (Mukhtashar as-Shawaiq al-Mursalah 2/353).

6. Membela Rasulullah

Sesungguhnya membela rasulullah dan menolongnya merupakan tanda terbesar kecintaan dan pengagungan seseorang kepada rasulullah. Bacalah gambaran pembelaan orang-orang muhajirin terhadap rasulullah dalam firmanNya berikut ini;

Juga bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Alloh dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Alloh dan rasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS.al-Hasyr 8).

Bahkan potret para sahabat telah memberikan gambaran yang mengagumkan tentang pembelaan mereka terhadap rasulullah. Mereka mempertaruhkan harta, jiwa dan anak-anak. Potret mereka terlukis dalam kitab-kitab sirah yang tidak samar bagi orang yang mau membacanya. Baiklah untuk membuktikan hal ini kami nukilkan sedikit potret pembelaan sahabat kepada rasulullah.

1. Adalah sahabat yang mulia Abu Thalhah tatkala perang uhud beliau menjaga rasulullah dari hujaman anak panah yang mengarah kepadanya, Abu Thalhah berkata, “Demi bapak dan ibuku yang menjadi tebusannya,  tidaklah mulia apabila mengenaimu panah dari panah seorang kaum, leherku bukan lehermu”. (HR.Bukhari 4064).

Qais bin Abi Hazim berkata, aku melihat tangan Thalhah terputus pada perang uhud karena melindungi nabi. (HR.Bukhari 4064).

2. Contoh selanjutnya, alangkah indahnya apa yang diucapkan oleh Anas bin Nadhr pada perang uhud tatkala kaum muslimin porak poranda dan berlarian, dia berkata, “Ya Alloh aku berudzur kepadamu dari perbuatan mereka-yaitu para sahabat- dan aku berlepas diri kepadamu dari perbuatan kaum musyrikin”. Kemudian dia maju ke medan perang dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz seraya berkata, “Wahai Sa’ad bin Muadz, aku mencium bau surga dari balik gunung uhud ini”. Kemudian Anas bin Nadhar maju ke kancah peperangan dengan gagah berani melawan kaum musyrikin hingga terbunuh. Sa’ad bin Muadz berkata, “Wahai rasulullah aku tidak bisa berbuat seperti dirinya”. Anas bin Malik berkata, “Kami mendapatinya telah terbunuh dengan 80 sabetan pedang, tikaman tombak dan hujaman anak panah”. Orang-orang musyrikin telah mencabik-cabik tubuhnya, hingga tidak ada seorangpun yang bisa mengenalinya kecuali saudara perempuannya (yang bernama ar-rubayyi’) mengetahui dari jari-jemarinya. (HR.Bukhari 2805).

 7. Membela hadits dan sunnah nabi

Termasuk membela sunnah nabi adalah dengan menjaga dan membersihkan dari kedustaan orang yang berbuat batil, penyelewengan orang-orang yang melampaui batas dan takwil orang-orang yang bodoh.[3]

Bentuk lain dari membela sunnah nabi juga adalah membantah kerancuan orang-orang yang melecehkan sunnahnya. Seperti orang yang mencela masalah hijab, jenggot, isbal dan lain-lain. Ketahuilah wahai saudaraku, mencela dan melecehkan sunnah nabi termsuk perbuatan kufur, pelakunya terancam keluar dari islam! Camkan baik-baik ayat berikut ini;

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ {65} لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ {66}

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan) tentulah mereka akan menjawab, sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah, apakah dengan alloh, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu sungguh telah kafir sesudah beriman. (QS.at-Taubah 65-66).

Muhammad bin Murthadha al-Yamani berkata, “Orang yang menjaga dan membela sunnah nabi bagaikan seorang mujahid fi sabilillah, hendaklah dia mempersiapkan untuk jihad semampunya, berupa peralatan, bekal dan kekuatan, sebagaimana Alloh mengatakan Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS.al-Anfal 60). Demikian pula telah shahih bahwa malaikat Jibril bersama Hasan bin Tsabit ketika membela rasulullah dengan bai-bait sya’irnya. Demikian pula orang-orang yang membela agama dan sunnahnya setelahnya karena keimanan, kecintaan dan pembelaan terhadapnya”. (Itsarul Haq ‘Ala al-Khalq hal.20, lihat Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuh hal.80).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan, “Tidak pantas bagi setiap orang mukmin yang mendengar orang yang menyerang syariat nabi atau kepribadiannya kemudian dia diam akan hal itu padahal dia mampu untuk memberi pembelaan”. (Huquq Da’at Ilaiha al-Fithrah hal.10).

8.Menyebarkan sunnahnya

Termasuk kesempurnaan cinta kita kepada nabi adalah semangat untuk menyebarkan sunnah dan menyampaikannya kepada kaum muslimin. Betapa banyak hadits-hadits yang menganjurkan untuk menyebarkan sunnah nabi. Rasulullah mengatakan

بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ أَيَةً

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. (HR.Bukhari 3461).

Bahkan Alloh akan mencerahkan wajah seseorang yang menyampaikan haditsnya, Rasulullah mengatakan

نَضَّرَ اللهُ امْرَءًا سَمِعَ مَقَالَتِيْ فَوَعَاهَا ثُمَّ أَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا

Semoga Allah mencerahkan wajah seorang yang mendengar sebuah hadits dariku lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar. (Hadits Mutawatir).[4]

Menyebarkan sunnah nabi termasuk pintu terbesar dalam menunjukkan kecintaan dan pengagungan kita kepada nabi, termasuk dalam tuntutan ini juga yaitu semangat untuk membasmi lawan dari sunnah berupa bid’ah dan kesesatan yang menyelisihi petunjuk nabi. Oleh karena itu tidaklah kita dapati orang yang getol berbuat bid’ah dia senang dalam menyebarkan sunnah nabi! Bahkan dia berusaha menutup-nutupi sunnah nabi agar tidak sampai kepada ummat. Semoga Alloh merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tatkala mengatakan, “Sudah dimaklumi bahwasanya tidaklah engkau dapati seseorang yang menolak nash-nash dari kitab dan sunnah dengan perkataannya kecuali dia membenci apa yang bersebrangan dengan perkataanya, dia senang bahwa ayat itu seakan akan tidak turun, hadits itu tidak turun, bahkan kalau mungkin hadits itu dibuang dari hatinya. Beliau melanjutkan, “Oleh karena itu engkau dapati  seseorang dari mereka tidak senang menyampaikan nash-nash nabawi, bahkan mungkin dia memilih untuk menyembunyikan dan melarang untuk disampaikan, berbeda dengan apa yang Alloh dan rasulNya perintahkan agar perkara itu disampaikan”. (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah 5/217-218).

 9. Tidak mendahulukan perkataan siapapun diatas perkataan Nabi

Inipun termasuk adab yang sering kita lupakan, apabila sudah jelas bahwa ini adalah keputusan dan hukum dari nabi, maka tidak boleh di tentang dengan perkataan siapapun, tidak boleh kita menentang hadits nabi dengan perkataan seorang kiai, ustadz, tuan guru, imam ini dan itu, semua ini termasuk perbuatan lancang kepada beliau.

Sahabat Abdullah bin Abbas pernah mengatakan, “Hampir-hampir batu turun dari langit menghujani kalian, aku katakan Rasulullah berkata demikian, malah kalian berkata Abu Bakr dan umar berkata demikian”.[5] (HR.Ahmad 3121).

Dikisahkan bahwasanya imam al-Humaidi sedang berada disisi imam Syafi’I, kemudian datang seorang bertanya kepada imam syafi’I tentang sebuah permasalahan. Imam Syafi’I menjawab, “Rasulullah memutuskan begini dan begini”. Orang itu malah balik bertanya, “Bagaimana dengan pendapatmu?”. Imam syafi’I pun menegurnya dengan berkata, “Subhanallah! Apakah engkau melihatku sedang berada di gereja dan pura? Aku katakan rasulullah memutuskan demikian malah engkau bertanya, apa pendapatmu!?”. (Siyar A’lam Nubala 10/34).

Dalam tempat yang lain imam Syafi’I telah menukil ijma para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang setelahnya bahwa orang yang telah jelas baginya sunnah nabi, tidak boleh untuk meninggalkannya berdasarkan perkataan siapapun. (ar-Risalah at-Tabukiyyah hal.40).

Duhai kiranya orang-orang yang mendahulukan perkataan kiayi dan ustadz mereka, tidakkah mereka merenungi kisah diatas!? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat sebuah pelajaran bagi orang yang masih punya hati.

 10. Meninggalkan bid’ah

Bid’ah termasuk perkara yang jelek dalam agama. Seseorang yang yang membuat-buat perkara baru dalam agama yang tidak ada contohnya sama saja dia menuduh nabi telah mengkhinati risalah dan tidak menyampaikan seluruhnya. Imam Malik mengatakan, “Barangsiapa yang melakukan bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik, maka sungguh dia telah menuduh Muhammad telah mengkhianati risalah, karena Alloh berfirman Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.(QS.al-Maidah 3).

Maka apa saja yang pada hari itu tidak termasuk agama, pada hari inipun bukan termasuk agama”. (al-I’tisham 1/64-65-Tahqiq Salim bin Ied al-Hilali-).

Termasuk tipu daya setan, sebagian orang bodoh dan pengekor hawa nafsu menyangka bahwa perbuatan bid’ah mereka di dalam sunnah nabi termsuk kesempurnaan cinta kepadanya, ini adalah sebuah kebodohan yang nyata, cinta nabi berkonsekwensi untuk menerima terhadap orang yang dicintai, mengikuti sunnahnya dan berjalan diatas perintah dan larangan nabi, bukan dengan berbuat bid’ah dalam agama!!.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Demikian pula tidaklah engkau dapati orang yang berbuat bid’ah kecuali dia telah merendahkan hak nabi sekalipun orang itu mengaku telah mengagungkan nabi dengan bid’ahnya, karena dia menyangka perbuatan bid’ahnya lebih baik dari sunnah atau bahkan bid’ahnya itu dia anggap sunnah apabila memang yang melakukannya adalah orang jahil dan taklid buta, akan tetapi apabila yang melakukannya orang yang berilmu dan paham akan bid’ahnya, maka dia termasuk orang yang mendurhakai Alloh dan rasul”. (Ighatsatul Lahfan 1/130-Takhrij al-Albani-).

11. Bershalawat untuk nabi

Adab yang terakhir, hendaklah kita sering bershalawat kepadanya, berdasarkan perintah Alloh dalam firmanNya;

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Alloh dan Malaikat-malaikatNya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS.al-Ahzab 56).

Abu Aliyah mengatakan, “Alloh bershalawat maksudnya adalah pujian Alloh kepadanya disisi malaikat. Adapun shalawat malaikat kepadanya maksudnya adalah do’a untuknya”. (HR.Bukhari secara Mu’allaq, lihat Fathul Bari 8/676, Tafsir Ibnu Katsir 6/457).

Terlebih lagi apabila nama beliau disebut, maka hendaklah kita bershalawat untuknya, Rasulullah bersabda;

البَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ  وَ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Orang yang bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku dia tidak bershalawat kepadaku. (HR.Tirmidzi 3546, Ahmad 1/201. Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam al-Misykah 933).

Akan tetapi perlu kita perhatikan bersama bahwa bershalawat kepada beliau adalah dengan jalan yang syar’I, yaitu bersandarkan hadits-haditsnya yang shahih, bukan dengan shalawat-shalawat yang di buat-buat yang tidak jelas asalnya sebagaimana beredar dewasa ini!! Bahkan jika kita lihat maknanya banyak yang mengandung kesyirikan!! Wallohul Musta’an.

Demikianlah pembahasan kali ini. Kita memohon kepada Alloh ketetapan hati agar tetap tegar berada diatas sunnahnya, berlindung dari segala kesesatan dan penyimpangan. Amiin. Allohu A’lam.

al-Ustad Yusuf bin Mukhtar (http://abiubaidah.com/)

Referensi:

[1] Sebagai amanat ilmiyyah, kami sampaikan bahwa tulisan ini banyak mengambil faedah dari risalah Haqiqoh Syahadat Anna Muhmaad Rasululluh karya Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dan atikel ‘Adab Kepada Rasulullah” tulisan akhuna Abu Abdillah Syahrul Fatwa di Majalah kami Al Furqon.
[2] Lihat Risalah Haqiqoh Syahadati Muhammad Rasulullah hlm. 92-104 oleh Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh -secara ringkas-.
[3] Lihat tulisan Akhuna al-Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawi Membela Hadits Nabi dalam majalah AL-FURQON karena di dalamnya terdapat penjelasan yang sangat menarik.
[4] Sebagaimana ditegaskan oleh as-Suyuthi dalam al-Azhar al-Mutanatsirah hal. 5, az-Zabidi dalam Luqathul Alai al-Mutanatsirah hal. 161-162, al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 24, Syaih Abdul Muhsin al-Abbad dalam Dirasah Hadits Nadhdhara Allah Imra’am Sami’a Maqalati, Riwayah wa Dirayah hal. 21. (Lihat pula Faidhul Qadir al-Munawi 6/284 dan Kifayatul Hafadzah Salim al-Hilali hal. 278-279). Lihat Muqaddimah buku Membela Hadits Nabi oleh Akhuna al-Ustadz Abu Ubaidah al-Atsari.
[5] Syaikh Sulaiman at-Tamimi berkata, “Apabila ucapan Ibnu Abbas ini saja di tujukan kepada orang yang menentang sunnah nabi dengan ucapan Abu Bakr dan Umar-dan keduanya orang yang paling utama setelah nabi- maka bagaimana kiranya orang yang menentang sunnah rasul dengan ucapan Imam dan pengikut madzhabnya? Dan menjadikan perkataan mereka sebagai parameter diatas kitab dan sunnah!? Bila sesuai maka diterima, bila tidak sesuai ditolak atau ditakwil!! Wallohul Musta’an”. (Taisir Azizil Hamid hal.405)

ﺻَﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠّﻢَ

Nabi Bershalawat?

Assalamualaikum wr wb
Ustadz, saya ingin mengajukan pertanyaan “Apakah nabi Muhammad SAW bersalawat? “
Seperti apakah cara Nabi Muhammad? Apakah cara Nabi bersalawat sama seperti ketika kita sholat?
Apakah Nabi Muhammad bersalawat kepada dirinya sendiri?
Apakah ada hadits yang menyatakan bahwa Nabi juga bersalawat kepada dirinya sama seperti kita bersalawat pada waktu sholat.
Mohon pencerahan nya Ustadz.

Terima kasih atas jawaban nya.

Wassalamualaikum wr.wb
Yusri

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam Wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa kalimat yang di sana terdapat nama atau gelar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya, Pertama, Lafadz tasyahud,

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.”

Lafadz tasyahud ini diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari (no .6265).

Dalam lafadz tasyahud di atas, ada 2 kalimat yang mengandung nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

  1. Kalimat: “Assalamu alaika ayyuhan Nabi…”
  2. Kalimat syahadat: “Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh

Kedua, Lafadz shalawat

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ….

Ya Allah, semoga shalawat tercurah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana tercurah pada Ibrahim dan keluarga Ibrahim…,

Sahalawat ini diriwayatkan Bukhari (no. 4797) dan Muslim (no. 406) dari sahabat Ka’ab bin Ujrah Radhiyallahu ‘anhu.

Sama dengan Kita?

Apakah dalam kalimat salam, tasyahud, dan shalawat, kalimat yang beliau baca, sama dengan kalimat yang kita baca??

Kita akan simak keterangan beberapa ulama salaf berikut,

Keterangan Imam Zakariya al-Anshari – ulama Syafiiyah –

والمنقول أنه صلى الله عليه وسلم كان يقول في تشهده : وأشهد أني رسول الله ؛ ذكره الرافعي في الأذان . قال الزركشي : وهو ممنوع ، بل المنقول أن تشهده كتشهدنا , وكذا رواه مالك في الموطأ ، وهو ما ذكره ابن الرفعة في الكفاية

Terdapat nukilan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca tasyahud dengan mengucapkan, ‘Wa asyhadu annii rasulullah..’ (Saya bersaksi bahwa saya adalah utusan Allah). Demikian keterangan ar-Rafii dalam kitab al-Adzan. Namun menurut az-Zarkasyi, beliau mengatakan, “Ini tidak mungkin. Bahkan yang dinukil dari beliau, bahwa tasyahud beliau sama seperti tasyahud kita.” Demikian pula yang diriwayatkan Malik dalam al-Muwatha’, dan ini pendapat yang disebutkan Ibnu Rif’ah dalam al-Kifayah. (Asna al-Mathalib, 2/458).

Keterangan yang sama juga disampaikan Mula Ali Qori – ulama madzhab hanafi –,

والمنقول أن تشهده عليه السلام كتشهدنا ، وأما قول الرافعي : المنقول أنه كان يقول في تشهده وأشهد أني رسول الله ؛ فمردود بأنه لا أصل له

Terdapat nukilan bahwa tasyahud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan tasyahud kita. Sementara keterangan ar-Rafi’i bahwa ada nukilan tasyahud beliau berbunyi, ‘Wa asyhadu annii rasulullah..’ ini pendapat tertolak, karena tidak ada dasarnya. (Mirqah al-Mafatih, 2/733).

Bagaimana dengan Shalawat beliau?

Allah perintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berilah shalawat dan salam kepadanya..” (QS. al-Ahzab: 56).

Kaidah yang berlaku, bahwa perintah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku juga untuk orang yang beriman dan sebaliknya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ

Allah memerintahkan orang yang beriman sebagaimana yang Dia perintahkan kepada para rasul. (HR. Ahmad 8570 & Muslim 2393).

As-Suyuthi menuliskan,

أخرج ابن أبي حاتم عن الزهري قال: إذا قال الله: يا أيها الذين ءامنوا افعلوا, فالنبي منهم

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari az-Zuhri, bahw beliau mengatakan, “Apabila Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman’, maka segera kerjakan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian dari mereka.’.” (al-Itqan, 2/47).

Berdasarkan kaidah ini, ulama menyimpulkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bershalawat untuk diri beliau sendiri. Beliau membaca shalawat sebagaimana kita bershalawat.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فعلى أن الأمر يشمل النبي صلى الله عليه وسلم وغيره فلا شك أنه كان يصلي على نفسه لأنه أسرع الناس إلى امتثال أمر ربه

Mengingat perintah bershalawatt juga mencakup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya, maka tidak diragukan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bershalawat untuk diri beliau sendiri. Karena beliau adalah orang yang paling bersegera melaksanakan perintah Rabnya. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 75551)

Berdasarkan keterangan di atas, kita menyimpulkan bahwa pada dasarnya, bacaan shalawat dan tasyahud beliau, sama dengan bacaan shalawat dan tasyahud yang disyariatkan untuk umatnya. Dan tidak ada yang aneh ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bershalawat dengan menyebut nama beliau sendiri. Sebagaimana ini juga berlaku dalam doa-doa beliau lainnya, seperti,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا

Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad cukup untuk kebutuhan pokoknya. (HR. Ahmad 7372 dan Muslim 7630).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

derajat manusia

Derajat Manusia di HadapanTuhan itu Sama?

Ada sebagian orang yang menyatakan,

Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan, memiliki derajat yang saja di hadapan tuhan. Sehingga satu sama lain, tidak boleh saling merasa benar. Apalagi meremehkan orang lain.

Mohon kritik untuk kalimat ini…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Salah satu upaya setan untuk menyesatkan manusia adalah dengan membisikkan kalimat-kalimat indah, namun menipu. Seolah itu benar, padahal isinya kesesatan. Itulah kalimat-kalimat racun, yang sedang diperjuangkan liberal untuk merusak aqidah kaum muslimin.

Allah mengingatkan,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, mereka saling membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112)

Dari pernyataan yang anda sampaikan, isinya campuran. Ada yang baik dan ada yang sesat. Tentu saja dinilai berdasarkan dalil, bukan berdasarkan kaca mata liberal.

Kita akan lihat lebih dekat,

Pertama, “Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan”

Kalimat ini benar, diakui oleh semua manusia yang mengakui adanya Pencipta alam semesta. Ada banyak dalil dalam al-Quran yang menyebutkan hal ini. diantaranya firman Allah,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan. (QS. as-Shaffat: 96)

Kedua, “memiliki derajat yang saja di hadapan tuhan”

Jelas ini tidak benar. Karena manusia tidak sama derajatnya di hadapan Allah.

Bahkan salah satu yang sangat banyak di bahas dalam al-Quran adalah membedakan antara penduduk surga dan penduduk neraka.

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni jannah; penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hasyr: 20)

Yang baik dan yang buruk jelas beda,

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. (QS. al-Maidah: 100)

Allah sebut orang mukmin dengan khoirul bariyah (makhluk terbaik) dan Allah sebut orang kafir dengan Syarrul bariyyah (makhluk terjelek),

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ . إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (QS. al-Bayyinah: 6 – 7)

Bahkan Allah membedakan antara orang berilmu dan orang yang tidak berilmu,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Sampaikan, tidaklah sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui. (QS. az-Zumar: 9).

Ketiga, “Sehingga satu sama lain, tidak boleh saling merasa benar”

Tidak semua pembenaran layak dianggap meremehkan orang lain. Atau tidak menerima pendapat orang lain. Kita semua yakin 2 x 3 = 6. Ketika ada anak kelas 1 SD yang memberikan jawaban salah, kemudian Pak Guru meluruskan, tentu saja bukan berarti Pak Guru meremehkan anak itu atau tidak menerima pendapatnya.

Allah memberikan kita akal untuk menimbang setiap informasi yang kita terima. Sehingga manusia bisa mencapai derajat kebenaran mutlak. 3 + 1 = 4, itu kebenaran mutlak berdasarkan logika dasar manusia.

Demikian pula ini berlaku dalam masalah agama.

Setiap muslim wajib merasa benar dengan agama dan keyakinan yang dia miliki. Karena membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, itu bukti iman.

Allah memuji orang mukmin yang tidak ragu dengan kebenaran imannya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. al-Hujurat: 15)

Allah memuji orang mukmin yang membenarkan al-Quran,

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

Orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. (QS. Muhammad: 2)

Sebaliknya, Allah memerintahkan kita untuk memerangi orang yang menyimpang dari ajaran islam,

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah (upeti) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. at-Taubah: 29)

Ketika ada seorang mengaku mukmin, namun dia masih meragukan kebenaran rukun iman, meragukan kebenaran al-Quran dan hadis shahih, menganggap itu bukan kebenaran mutlak, maka dia belum mukmin.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

9,092FansLike
4,525FollowersFollow
31,432FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN