tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik
AQIDAH

suara terompet sangkakala dari langit

Suara Terompet dari Langit

Assalamualaikum Ustadz, akhir akhir ini di media muncul berita tentang suara seperti terompet terdengar dari langit,apakah itu peringatan kecil bahwa kiamat sudah dekat atau hanya suara terompet biasa. mohon penjelasannya ustadz

Dari: Albarr Saputra

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kita akan mengenal beberapa dalil yang menyebutkan tentang tiupan sangkakala.

Dalam al-Quran, Allah menyebut sangkakala dengan as-Shur [الصُّورُ].

Secara bahasa as-Shur berarti tanduk. Sedangkan menurut istilah syariat, yang dimaksud as-Shur adalah sangkakala yang sangat besar yang akan ditiup malaikat yang bertugas untuk meniupnya. (Syarh Lum’atul I’tiqad, Imam Ibnu Utsaimin, hlm. 114)

Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa sangkakala yang ditiupkan bentuknya seperti terompet. Diantaranya,

Hadis dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

قَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الصُّورُ؟ قَالَ: قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيهِ

Ada orang arab badui bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu as-Shur (sangkakala)?” Beliau menjawab, “Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad 6507, Abu Daud 4744, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Juga disebutkan dalam hadis Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ

Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran menunggu diizinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya.” (HR. Turmudzi 2628, dan dishahihkan al-Albani)

Hanya Ditiupkan di Hari Kiamat

Terdapat banyak dalil dari al-Quran yang menunjukkan bahwa sangkakala akan ditiup pada awal terjadinya hari kiamat. Diantaranya,

Firman Allah,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab). (QS. az-Zumar: 68).

Demikian pula firman Allah,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yasin: 51)

Dalam hadis yang panjang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan,

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا ثُمَّ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا صَعِقَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ -شَكَّ الراوي- فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Kemudian ditiuplah sangkakala, tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali akan mengarahkan pendengarannya dan menjulurkan lehernya (memerhatikannya). Lalu, tidak tersisa seorangpun kecuali dia mati. Kemudian Allah menurunkan hujan seperti gerimis. Kemudian tumbuhlah jasad-jasad manusia setelah disirami. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (hisab).” (HR. Ahmad 6712 dan Muslim 7568).

Kita bisa perhatikan beberapa dalil di atas, bahwa yang terjadi ketika sangkakala itu ditiup ada dua,

Pertama, semua makhluk di langit dan di bumi akan mati kecuali yang dikehendaki Allah.

Kedua, terjadi kebangkitan dari alam kubur setelah mereka dihancurkan. Ini terjadi setelah tiupan kedua.

Hingga kini, malaikat petugas meniup sangkakala sedang menunggu perintah Allah. Dia selalu siaga kapan saja dia diperintahkan untuk meniup sangkakala.

Anda bisa simak keterangannya di: Sangkakala Sudah Berada di Mulut Malaikat

Berapa kali sangkakala ditiup?

Ulama berbeda pendapat tentang berapa kali sangkakala ditiupkan?

Pertama, sangkakala ditiupkan 3 kali

Jika kita rinci, 3 kali itu adalah

  1. Tiupan faza’ (tiupan yang membuat seisi alam kaget dan terkejut)

Allah berfirman,

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87).

  1. Tiupan ash-Sha’q (tiupan mematikan dan membinasakan)

Allah berfirman,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ

Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. (QS. az-Zumar: 68).

  1. Tiupan al-Ba’ats (tiupan kebangkitan)

Allah berfirman,

ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab). (QS. az-Zumar: 68).

Pendapat ini didukung hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis itu dinyatakan,

يَنْفُخُ فِيهِ ثَلَاثُ نَفَخَاتٍ، النَّفْخَةُ الْأُوْلَى نَفَخْةُ الْفَزَعِ، وَالثَّانِيَةُ نَفْخَةُ الصَّعْقِ، وَالثَّالِثَةُ نَفْخَةُ الْقِيَامِ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Malaikat itu meniup sangkakala tiga tiupan. Tiupan yang pertama mengejutkan. Tiupan kedua mematikan, dan tiupan ketiga membangkitan (makhluk) menghadap Rabbul ‘alamin.”

Hadis ini sangat panjang, diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam al-Ahadits at-Thiwal, dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama, karena di sana ada perawi Ismail bin Rafi’ al-Madani yang dinilai dhaif oleh ad-Daruquthni.  Hingga al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan tentang status hadis ini, “Gharib jiddan” (sangat asing). (Tafsir Ibn Katsir, 3/287).

Mengingat hadis ini dhaif, maka tidak dijadikan dalil.

Pendapat Kedua, Sangkakala Ditiupkan 2 Kali

Dua tiupan itu:

  1. Tiupan al-Faza’ (kaget) sekaligus tiupan ash-Sha’q (mati)

Menurut al-Qurthubi, antara peristiwa al-Faza’ (kaget) dengan as-Sha’q (mati) berlangsung secara bersambung. Tidak ada jeda di sana. Sehingga ketika sangkakala ditiupkan, mereka kaget dan langsung binasa. kecuali siapa yang dikehendaki Allah.

  1. Tiupan al-Ba’ats

Kebangkitan terjadi setelah tiupan kedua.

Dan pendapat kedua ini yang lebih kuat. Sehingga kata faza’ (kaget) yang disebutkan di surat an-Naml dan kata as-Sha’q (mati) yang disebutkan di surat az-Zumar adalah sama. Tiupan pertama, yang mengagetkan dan menyebabkan semuanya mati.

Karena itu, Allah menyebut tiupan itu terjadi sekali. Lalu diikuti dengan kehancuran alam semesta.

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ .وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً

Apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur (QS. al-Haqqah: 13 – 14)

Al-Qurthubi mengatakan,

والصحيح أن النفخ في الصور أنهما نفختان لا ثلاث، وأن نفخة الفزع إنما تكون راجعة إلى نفخة الصعق لأن الأمرين لا زمان لهما أي فزعوا فزعا فماتوا منه

Yang benar, tiupan sangkakala terjadi dua kali, bukan tiga kali. Dan tiupan al-Faza’ (kaget) diikuti dengan as-Sha’aq (kematian). Karena kedua tiupan itu tidak ada waktu jedanya. Artinya, mereka kaget langsung mati. (Tafsir al-Qurthubi, 13/240)

Semua Terjadi di Hari Kiamat

Kami tegaskan sekali lagi, bahwa semua tiupan ini terjadi di akhir zaman. Baik pendapat yang mengatakan 3 kali tiupan atau dua kali tiupan, semua terjadi di akhir zaman. Karena itu menjadi batas terakhir kehidupan dunia.

Suara Terompet dari Langit

Kita tidak tahu dengan pasti sumber suara seperti terompet yang terdengar aneh di berbagai daerah. Yang jelas itu bukan sangkakala. Karena jika itu sangkakala, seharusnya semua permukaan bumi ini mendengarnya. Laporan yang ada, suara itu baru didengar oleh sebagian masyarakat di beberapa negara, diantaranya Australia, Amerika, Australia, Kanada dan Jerman. Masyarakat Indonesia, nyaman-nyaman saja, tidak mendengar suara itu.

Bukti lain bahwa itu bukan sangkakala, sebagaimana yang dilaporkan bahwa kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Ini pernah terjadi di tahun 2013, dan sebelumnnya lagi 2012. Sementara sangkakala ditiup dua kali disusul peristiwa besar kiamat.

Sebagian ahli menganalisis suara tersebut dan menemukan bahwa sebagian besar spektrum asal suara tersebut terletak dalam kisaran infrasonik, yang tidak terdengar oleh manusia. Frekuensi antara 17 Hz ke bawah. Manusia bisa mendengar suara pada frekuensi antara 20 Hz sampai 20.000 Hz.

Sementara apa yang didengar oleh manusia hanyalah sebagian kecil dari kekuataan sebenarnya dari suara-suara tersebut, karena adanya emisi akustik di frekuensi rendah dalam kisaran antara 20 Hz hingga 100 Hz yang dimodulasi (dikuatkan) oleh gelombang infrasonik ultra rendah 0,1 Hz sampai 15 Hz.

Namun apapun itu, bagi orang yang beriman, kita meyakini ini sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah. Dan terkadang Allah tunjukkan fenomena alam yang luar biasa, agar kita semakin takut kepada-Nya. Itulah tujuan utama ketika kita menyimak fenomena alam. Bukan hanya jadi bahan wacana dan perbincangan.

Allah berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآَيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

Aku tidak mengirim tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (QS. al-Isra: 59).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

meramal jodoh

Konsultasi Syariah Bukan Peramal Jodoh

Bagaimana hubungan kedepan saya dengan seseorang bernama alfarisi yg lahir pd tgl 14 mei 1991

Dari Gadis

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Untuk kesekian kalinya KonsultasiSyariah.com mendapatkan pertanyaan seperti di atas. Jujur kami kesulitan memahami maksud yang sebenarnya dari penanya. Hanya saja, dugaan kuat kami, penanya hendak berkonsultasi tentang ramalan jodoh melalui pitungan (perhitungan) weton. Karena itu, beliau menyebutkan tanggal lahir.

Hubungan Jodoh dengan Weton

Untuk kesekian kalinya juga kami mengingatkan bahwa islam tidak pernah mengajarkan model pitungan weton untuk meramalkan masa depan seseorang. Semua makhluk dibatasi ruang dan waktu. Dalam arti semua manusia memiliki tempat lahir dan tanggal lahir. Dan kita tidak pernah mengetahui adanya aturan dalam islam yang mengajarkan hubungan antara tempat dan tanggal lahir dengan taqdir yang akan dialami seseorang.

Betapa banyak pasangan yang wetonnya tidak selaras, tapi rumah tangganya nyaman sampai tua. Sebaliknya, betapa banyak pasangan yang wetonnya selaras, tapi rumah tangganya hanya seumur jagung.

Karena itu, ketika seseorang meyakini adanya hubungan weton dengan jodoh, hakekatnya dia sedang meyakini sebuah khayalan dusta.

Akan tetapi permasalahannya tidak berhenti sampai di sini. Ada banyak konsekuensi negatif ketika seseorang mempertahankan keyakinan ini,

Pertama, kita mengimani Allah Maha Adil dan Allah mengharamkan atas diri-Nya perbuatan dzalim. Dalam beberapa ayat, Allah meniadakan sifat dzalim dalam diri-Nya. Diantaranya Allah berfirman,

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ

Allah tidak menghendaki kedzaliman bagi seluruh alam. (QS. Ali Imran: 108).

Sementara menentukan di mana kita lahir dan kapan kita lahir, semuanya di luar kehendak bayi yang dilahirkan. Dan tentu saja menjadi tindak kedzaliman ketika keberuntungan dan kesialan itu Allah tentukan berdasarkan tanggal lahir.

Ketika bayi yang dilahirkan di tanggal tertentu lebih beruntung dibandingkan yang dilahirkan di tanggal lainnya, tentu saja ini tidak sejalan dengan prinsip keadilan.

Kedua, memiliki keyakinan semacam ini hakekatnya berbicara atas nama Allah tanpa dalil

Kita mengakui, kalender itu buatan manusia. Demikian pula nama tempat. Ketika seseorang menghubungkan antara tempat dan tanggal lahir dengan takdir, berarti dia mengkaitkan kehendak Allah dengan sesuatu yang itu murni buatan manusia. Dan itu artinya dia berbicara atas nama Allah tanpa dalil.

Dan tindakan ini termasuk dalam daftar dosa besar. Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-A’raf: 33).

Karena itulah, perbuatan semacam ini dinilai sebagai bentuk kesyirikan. Dalam istilah aqidah disebut Tiyaroh. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya kesyirikan.

dari sahabat Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا

“Thiyarah itu syirik…, Thiyarah itu syirik…, (diulang 3 kali)” (HR. Ahmad 3759, Abu Daud 3912, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Ilmu Pitungan, Sumber Perdukunan

Ilmu menghitung tanggal lahir, sejatinya tidak jauh berbeda dengan ilmu astrologi. Mungkin hanya pendekatannya saja yang berbeda. Menghubungkan rasi bintang dengan karakter atau masa depan manusia.

Dalam kajian aqidah, ilmu astrologi, yang menghubungkan rasi bintang dengan karakter manusia dinamakan tanjim (ilmu nujum). Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

Siapa yang mempelajari ilmu nujum, berarti dia telah mempelajari sepotong bagian ilmu sihir. Semakin dia dalami, semakin banyak ilmu sihir pelajari. (HR. Ahmad 2000, Abu Daud 3905, Ibn Majah 3726, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Hadis ini menunjukkan ancaman terhadap mereka yang menggunakan astrologi sebagai acuan menebak karakter atau sifat, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensejajarkan ilmu ini dengan ilmu sihir.

Termasuk juga ilmu pitungan. Karena hakekatnya sama.

Jangan Anggap Sepele

Pitungan, nampaknya sepele, ternyata membawa petaka aqidah bagi manusia. Ketika anda menanyakan masa depan anda dengan pasangan anda kepada ahli pitungan, berarti sama halnya anda bertanya kepada dukun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim 2230).

Pertimbangan Menikah dalam Islam

Ketika anda berumah tangga, ukuran kebahagiaan kedua pasangan dikendalikan oleh cinta. Dan cinta tidak semua berkembang karena harta. Meskipun terkadang harta menjadi salah satu motivasinya. Sebagaimana ketika di awal berumah tangga semangat cinta naik turun, ini juga terjadi ketika pasangan telah menginjak usia senja. Kadang naik, kadang turun.

Karena itulah, islam menganjurkan agar ketika kita memilih pasangan, kita mempertimbangkan tingkat ketaqwaannya. Karena orang yang bertaqwa akan berusaha menjauhkan dirinya dari karakter dzalim.

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Demikian pula para wali, mereka dianjurkan untuk menerima pinangan lelaki yang bertaqwa untuk putrinya.

Dari Abu Hatim al-Muzanni Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ

Jika telah datang kepada kalian lelaki (untuk meminang) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian). Karena jika tidak, maka niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi. (HR. Turmudzi 1108, Ibn Majah 2043 dan dihasankan al-Albani).

Orang yang bertaqwa, sekalipun dia tidak mencintai pasangannya, dia akan bersikap adil dan tidak akan bertindak dzalim.

Ada seseorang yang mendatangi Hasan al-Bashri untuk konsultasi, siapa yang layak untuk dinikahkan dengan putrinya. Kemudian Hasan menasehatkan,

زوِّجْها التقيَّ؛ فإنه إن أحبَّها أكرمَها، وإن كَرِهها لم يُهِنها

Nikahkan dia dengan orang yang bertaqwa. Ketika dia masih mencintai istrinya, dia akan memuliakannya. Dan ketika dia sudah tidak sayang dengan istrinya, dia tidak akan menghinakannya.

Semoga setelah ini tidak ada lagi yang bertanya soal ramalan jodoh.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

meratapi kuburan

Mayit Disiksa dengan Tangisan Keluarganya

Benarkah mayit disiksa karena tangisan keluarganya? Apa ada dalilnya? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan hal itu, berikut diantaranya,

Hadis dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المَيِّتُ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الحَيِّ عَلَيْهِ

Mayit disiksa karena tangisan orang yang hidup untuknya. (HR. Bukhari 1292 & Muslim 930).

Kemudian, hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yahudi yang meninggal dan ditangisi keluarganya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُمْ لَيَبْكُونَ عَلَيْهَا وَإِنَّهَا لَتُعَذَّبُ فِي قَبْرِهَا

Mereka menangisi wanita itu, sementara si wanita itu disiksa di kuburnya. (HR. Bukhari 1289)

Tangisan seperti apakah yang menyebabkan mayit disiksa?

Ada hadis lain yang menggunakan lafadz berbeda,

Dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نِيحَ عَلَيْهِ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

Siapa yang diratapi maka dia disiksa karena ratapan yang ditujukan kepadanya. (HR. Bukhari 1291 & Muslim 927).

Kemudian, disebutkan dalam hadis Ibnu Umar

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beberapa sahabatnya pernah menjenguk Sa’d bin Ubadah yang ketika itu sedang dirundung kesedihan seluruh keluarganya. Melihat suasana sedih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa dia sudah meninggal?”

’Belum, ya Rasulullah.’ jawab keluarganya.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis. Para sahabatpun ikut menangis. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُعَذِّبُ بِدَمْعِ العَيْنِ، وَلاَ بِحُزْنِ القَلْبِ، وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا – وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ – أَوْ يَرْحَمُ، وَإِنَّ المَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

Tidakkah kalian mendengar, bahwa Allah tidak menyiksa disebabkan tetesan air mata atau kesedihan hati. Namun Allah menyiksa atau merahmati disebabkan ini, – beliau berisyarat ke lisannya -. Sesungguhnya mayit disiksa disebabkan tangisan keluarganya kepadanya. (HR. Bukhari 1304 & Muslim 924).

Dari dua hadis di atas, kita bisa memahami bahwa tangisan yang menyebabkan mayit disiksa adalah tangisan ratapan. Tangisan sebagai ungkapan tidak terima dan tidak ridha terhadap taqdir dan keputusan Allah. Bukan tangisan karena kesedihan semata. Karena menahan tangisan kesedihan, di luar kemampuan manusia. Sampaipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak bisa menahan bentuk tangisan itu.

Makna semacam ini, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ بَاكِيهِ، فَيَقُولُ: وَاجَبَلَاهْ وَاسَيِّدَاهْ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، إِلَّا وُكِّلَ بِهِ مَلَكَانِ يَلْهَزَانِهِ: أَهَكَذَا كُنْتَ؟

Ketika ada orang yang mati, kemudian keluarga yang menangisinya itu meratapinya dengan mengatakan, ’Duhai sandaran hidupku, duhai pahlawanku…’ atau semacamnya, maka Allah menyuruh Malaikat untuk mendorong-dorong dadanya sambil ditanya, ”Apa benar kamu dulu seperti itu.” (HR. Turmudzi 1003 dan dihasankan al-Albani).

Kalimat semacam ini, ’Wahai pujaanku kenapa kau tinggalkan aku, pahlawanku, sandaran hidupku, ’ dst. merupakan ungkapan yang menunjukkan bahwa keluarganya tidak menerima taqdir Allah dengan kematiannya. Sehingga hukuman yang diberikan Allah adalah dia dipukuli Malaikat, sambil dihina dengan pertanyaan, ”Apa benar kamu seperti yang diucapkan orang itu?.”

Mengapa Mayit Ikut Disiksa?

Permasalahan berikutnya, mengapa mayit turut disiksa karena tangisan mereka yang hidup? Padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun. Tangisan itu adalah kesalahan keluarganya yang ditinggal mati.

Kita simak keterangan an-Nawawi,

واختلف العلماء في هذه الأحاديث فتأولها الجمهور على من وصى بأن يبكى عله ويناح بعد موته فنفذت وصيته فهذا يعذب ببكاء أهله عليه ونوحهم لأنه بسبه ومنسوب إليه

Ulama berbeda pendapat tentang maksud hadis bahwa mayit disiksa karena ratapan keluarganya. Mayoritas ulama memahami bahwa hukuman itu berlaku untuk mayit yang berwasiat agar dia ditangisi  dan diratapi setelah dia meninggal. Kemudian wasiatnya dilaksanakan. Maka dia disiksa dengan tangisan dan ratapan keluarganya karena kematiannya. Karena dia menjadi penyebab adanya tangisan itu.

قالوا فأما من بكى عليه أهله وناحوا من غير وصية منه فلا يعذب لقول الله تعالى ولا تزر وازرة وزر أخرى قالوا وكان من عادة العرب الوصية بذلك

Mereka  juga mengatakan, mayit yang ditangisi keluarganya dan diratapi tanpa ada wasiat sebelumnya, maka dia tidak disiksa, berdasarkan firman Allah, (yang artinya), ”Seseorang tidak menanggung dosa yang dilakukan orang lain.”

Mereka mengatakan, bahwa bagian dari kebiasaan orang arab, mereka berwasiat agar diratapi. (Syarh Shahih Muslim, 6/228)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

sunda dan jawa

Orang Sunda tidak Boleh Menikah dengan Orang Jawa?

Assalamualaikum ustadz.. bagaimana menyikapi orang tua yg percaya mitos bahwa org jawa dan sunda dilarang menikah? Mohon penjelasannya ustadz mngenai mitos ini dlam islam. jazakumullah khoiron

Dari X via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa’alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa keterangan ahli sejarah tentang latar belakang mitos itu. Barangkali para pembaca sudah pernah menyimaknya. Yang pada intinya adalah pengkhianatan yang dilakukan Majapahit terhadap Pajajaran, hingga terjadilah peristiwa perang Bubat. Hingga mereka membuat aturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa

Untuk mempertahankan aturan itu, mereka menciptakan mitos, jika orang jawa yang menikah dengan orang sunda akan terancam keselamatan dan keutuhan keluarganya. Mereka tidak akan bahagia, selalu melarat, tidak langgeng dan hal tidak baik lainnya bakal menimpa orang yang melanggar aturan itu.

Terlepas dari kesahihan sejarah itu, sejatinya mitos ini didasari permusuhan, dendam sejarah dan fanatisme kesukuan. Ketika ini dipertahankan, hakekatnya adalah mempertahankan fanatisme kesukuan.

Ada dua tinjauan dalam melihat kasus ini,

Pertama, tentang mitos jika orang sunda menikah dengan orang jawa, kehidupan keluarganya akan sengsara.

Apapun mitos tetap mitos, sekalipun orang menyebutnya ada nilai filosofis. Ketika semua itu dikaitkan dengan takdir, atau diyakini menjadi sebab sial, maka pelakunya terjerumus dalam kesyirikan.

Meyakini sesuatu sebagai sebab sial bagi kehidupan manusia, padahal tidak ada hubungannya, disebut tiyaroh. Dan itu kesyirikan.

Dalam hadis dari sahabat Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا

“Thiyarah itu syirik…, Thiyarah itu syirik…, (diulang 3 kali)” (HR. Ahmad 3759, Abu Daud 3912, dan yang lainnya. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Sanadnya shahih).

Dakwah menuju kesyirikan dengan doktrin semacam ini, sejatinya adalah melanjutkan tradisi kaum musyrikin jahiliyah. Bahkan alat yang mereka gunakan untuk mengancam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin adalah ancaman kutukan. Allah berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ

”Bukankah Allah mencukupi hamba-hamba-Nya (dengan melindungi mereka). Sementara mereka menakut-nakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah.” (QS. Az-Zumar: 36).

Untuk melawan ancaman-ancaman kualat itu, Allah ajarkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin untuk menjadi hamba yang tawakkal dan pasrah kepada-Nya. Pada ayat di atas, Allah awali dengan ajaran untuk bertawakal kepada-Nya. Allah mengajarkan satu prinsip agar orang bisa menjadi bertawakal, “Bukankah Allah mencukupi hamba-hamba-Nya (dengan melindungi mereka)…”

Dan metode semacam ini juga diterapkan para sahabat. Ibnu Mas’ud pernah mengatakan,

وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

Dan tidak ada satupun diantara kami yang bersih dari perasaan tiyaroh. Namun Allah menghilangkannya dengan tawakkal. (HR. Ahmad 3759, Abu Daud 3912, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

Ketika keyakinan terhadap mitos ini dituruti, perasaan takut itu akan semakin membesar, dan bisa tidak terbendung. Karena itu, seharunya dibuang jauh-jauh.

Kedua, mempertahankan fanatisme kesukuan

Allah menegaska bahwa tujuan Dia menciptakan manusia dengan sekian perbedaan suku dan golongan, bukan untuk menciptakan kesenjangan dan perbedaan. Namun agar mereka saling mengenal.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (QS. al-Hujurat: 13)

Anda bisa bayangkan, andaikan semua manusia memiliki ciri yang sama. Kulit mereka sama, ciri muka mereka sama. Kita akan sulit mengenal identitasnya. Agar kita menciptakan kesan ada yang lebih mulia karena suku, Allah menegaskan, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.”

Tak terkecuali perbedaan antara jawa dan sunda. Jawa tidak lebih mulia dari pada sunda, maupun sebaliknya.

Kita akan simak sejarah tentang kaum anshar.

Kaum Anshar terdiri dari dua suku besar: Aus dan Khazraj. Mereka menetap di Madinah (Yatsrib) ratusan tahun sebelum islam datang. Sebagaimana umumnya tradisi jahiliyah, dua klan besar ini sering terjadi sengketa dan perang. Setidaknya ada 4 pertempuran yang pernah terjadi diantara mereka,

Perang Sumir, perang Ka’b, perang Hathib, dan yang terakhir perang Bu’ats, yang dimenangkan suku Aus. Dalam perang Bu’ats, suku Aus bersekutu dengan dua marga Yahudi, Bani Quraizhah dan Bani Nadzir. Mulanya klan Khazraj menang, tetapi setelah pemimpinnya, Amr bin Nu’man terbunuh, kaum Khazraj pun kalah habis-habisan. Kebun dan rumah-rumah mereka dibakar. Hampir saja klan Khazraj ini punah. Sejak itu, kedua suku bersaudara ini hidup saling tegang, dan penuh kecurigaan, serta dendam kesumat.

Lima tahun setelah peristiwa Bu’ats, islam datang ke Madinah, baik Aus maupun Khazraj, mereka menerima dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias untuk mempersaudarakan mereka. Persaudaraan karena ikatan iman.

Suasana rukun, damai antar-kaum muslimin, jelas sangat tidak disukai musuh islam, terutama orang yahudi. Akhirnya mereka berusaha membangkitkan dendam kesumat masa jahiliyah. Hingga suatu ketika upaya yahudi itu hampir berhasil. Masing-masing Aus dan Khazraj terbakar semangatnya dan saling tegang. Bahkan mereka telah  siap mengeluarkan senjatanya. Ketika berita itu sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau angkat suara,

أبِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ وأَنَا بَيْنَ أظْهُرِكُمْ؟

“Apakah kalian akan membangkitkan semangat jahiliyah, sementara aku berada di tengah kalian?”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat,

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103).

Mendengar ayat ini, mereka langsung luluh, membuang senjatanya dan saling meminta maaf. Indahnya persaudaraan.

Peristiwa serupa juga sempat terjadi antara Muhajirin dan Anshar. Mereka pernah perang tabok sandal. Masing-masing saling mencari pendukung. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

مَا بَالُ دَعْوَى جَاهِلِيَّةٍ؛ دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“Mengapa ada orang yang mengobarkan semangat jahiliyah. Tinggalkan itu, karena itu bangkai.” (HR. Bukhari 4905 & Muslim 6748)

Anda bisa perhatikan, mengungkit-ungkit permusuhan masa silam, sejatinya adalah membangun kembali semangat jahiliyah yang sangat ditentang dalam islam.

Dendam memang terkadang tidak bisa sirna. Karena hati tidak bisa lupa ketika dia disakiti. Namun bukan berarti manusia boleh mengumbarnya. Bahkan sampai menjadi aturan untuk seluruh keturunannya. Bukankah ini mengobarkan semangat permusuhan jahiliyah?? Kecuali jika orang itu lebih mencintai adat dan budayanya dari pada kecitaannya pada agamanya.

Allahu  a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

gelar khalifatullah

Gelar Khalifatullah?

Bolehkah manusia bergelar khalifatullah? Mohon pencerahannya..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kita akan meluruskan arti kata khalifah, yang mungkin bagi sebagian orang dipahami berbeda dengan makna bahasanya.

Khalifah [خليفة] diambil dari kata khalafa – yakhlufu [خلف – يـخلف] yang artinya di belakang atau pengganti. Allah berfirman menyebutkan generasi pengganti umat manusia,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59).

Allah menyebut pengganti dengan kata khalfun.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, dan kepemimpinan kaum muslimin digantikan Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu, beliau bergelar Khalifatu Rasulillah. Karena posisi beliau menggantikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memimpin kaum muslimin.

Dari sini kita bisa memahami, penguasa atau raja disebut khalifah, pengertian yang benar adalah pengganti, bukan pemimpin. Karena raja adalah manusia yang menggantikan kekuasaan dan posisi raja sebelumnya.

Dalam doa ketika safar, kita menyebut Allah sebagai al-Khalifah bagi keluarga kita.

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ

Ya Allah, Engkau adalah teman selama safar dan al-Khalifah bagi keluarga… (HR. Muslim 3339, Abu Daud 2600, Turmudzi 3769, dan yang lainnya).

Ketika safar, kita meninggalkan keluarga. Dan kita bertawakkal, agar Allah yang menjaga mereka. Karena itulah, kita menyebut Allah sebagai al-Khalifah bagi keluarga. Kita pasrahkan keluarga kita kepada Allah.

Demikian pula disebutkan dalam hadis tentang Dajjal. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahaya Dajjal pada saat dia keluar,

إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيجُ نَفْسِهِ وَاللَّهُ خَلِيفَتِى عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Jika Dajjal keluar dan saya ada di tengah kalian, maka saya yang akan berdebat dengan Dajjal untuk membela kalian. Dan jika dia keluar sementara saya tidak ada di tengah kalian (telah meninggal), maka masing-masing orang berusaha membela dirinya sendiri. Dan Allah menjadi khalifahku bagi seluruh umat islam. (HR. Ahmad , Muslim 7560, Abu Daud 4323 dan yang lainnya)

Dari dua hadis di atas, kita menyimpulkan bahwa khalifah berarti pengganti ketika orang yang digantikan tidak ada. Baik karena dia telah meninggal, atau pergi untuk sementara waktu.

Ar-Raghib al-Asfahani mengatakan,

والخلافة النيابة عن الغير إما لغيبة المنوب عنه وإما لموته وإما لعجزه وإما لتشريف المستخلف

Khilafah berarti menggantikan orang lain, baik karena yang digantikan sedang tidak ada, atau telah mati, atau tidak mampu melakukannya, atau karena kehormatan yang digantikan. (al-Mufradat, hlm. 156).

Makna Manusia sebagai Khalifah di muka bumi

Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. al-Baqarah: 30).

Pertama yang perlu kita perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan, ‘Aku akan menjadikan khalifahku di bumi’ atau ‘Khalifatullah di bumi’. Namun Allah hanya mengatakan, ‘hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Dan tafsir singkat untuk ayat ini, Allah menyampaikan kepada malaikat, bahwa Dia hendak menciptakan jenis makhluk di muka bumi. Kita semua bisa memahami dan sepakat bahwa jenis makhluk itu adalah manusia. Tidak hanya semata Adam, namun berikut seluruh keturunannya.

Ada banyak ayat dengan konteks yang berbeda, Allah menyebut manusia sebagai khalaif atau khulafa’ (bentuk jamak dari khalifah). Diantaranya,

Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ

Dia lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat melebihi yang lain, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS. al-An’am: 165).

Allah juga berfirman,

وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ

Dan Dia menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi. (QS. an-Naml: 62).

Lalu apa makna ‘mansia menjadi khalifah di muka bumi’?

Kita simak penjelasan Ibnu Katsir,

أي: قوما يخلف بعضهم بعضا قرنا بعد قرن وجيلا بعد جيل

Firman Allah “Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” maksudnya adalah, Aku hendak menciptakan sebuah kaum yang satu gerenerasi dengan generasi lainnya, mereka saling mengganti.

Kemudian Ibnu Katsir mengkritisi pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud khalifah di sini adalah Adam. beliau mengatakan,

وليس المراد هاهنا بالخليفة آدم، عليه السلام، فقط، كما يقوله طائفة من المفسرين

Dan bukanlah maksud khalifah di sini adalah Adam ‘alaihis salam saja. Sebagaimana yang dinyatakan sebagaian ahli tafsir.

Ibnu Katsir beralasan bahwa jika itu hanya nabi Adam, tentu malaikat tidak akan mengatakan, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.’

Karena tidak mungkin untuk bisa sampai menumpahkan darah dan berbuat kerusakan hanya dilakukan Adam. Dan tidak mungkin dilakukan beliau, karena beliau seorang nabi.

Ada juga yang mengatakan bahwa manusia disebut khalifah, karena manusia menggantikan makhluk yang menempati bumi sebelum mereka. Makhluk itu adalah jin. Setelah jin terusir dari bumi, Allah gantikan dengan Adam dan anak keturunannya. (Zadul Masir, 1/41) .

Makna Khalifatullah

Sebelum lebih membahas lebih jauh tentang hukum menggunakan gelar khalifatullah untuk manusia, kita akan pahami dulu arti dari khalifatullah.

Kata ini merupakan frase. Gabungan dari dua kata: khalifah dan Allah. Dalam ilmu aqidah diistilahkan dengan, ‘ma udhifa ilallah’ kata yang disandarkan kepada Allah.

Ada beberapa makna untuk kata yang disandarkan kepada Allah. Diantaranya,

  1. Menunjukkan sifat Allah. Seperti Kalamullah (firman Allah), atau Rahmatullah (rahmat Allah), dst.
  2. Menunjukkan pemuliaan terhadap nama makhluk. Misalnya Baitullah (rumah Allah). Karena masjid merupakan bangunan istimewa di muka bumi ini. Rasulullah (utusan Allah), manusia paling istimewa di dunia. Dalam al-Quran, Allah menyebut ontanya Nabi Soleh dengan Naqatullah (onta Allah).
  3. Menunjukkan penghinaan. Misalnya, Aduwullah (musuh Allah).

(al-Mausu’ah al-Aqdiyah, ad-Durar as-Saniyah, 2/37).

Dari ketiga jenis itu, khalifatullah masuk jenis kedua. Makhluk yang disandarkan kepada Allah kerena dimuliakan.

Tentang makna Khalifatullah, ada beberapa kemungkinan makna untuk ini.

Pertama, khalifatullah diartikan sebagaimana makna bahasanya, khalifatullah berarti menggantikan Allah. Menggantikan Allah dalam mengatur alam semesta. Ini jelas makna yang bathil. Bahkan Syaikhul Islam menyebutnya sebagai kesyirikan. Beliau mengatakan,

(وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إلَهٌ) ولا يجوز أن يكون أحد خلفا منه، ولا يقوم مقامه؛ لأنه لا سمي له، ولا كفء له. فمن جعل له خليفة فهو مشرك به

Allah berfirman, “Dialah Dzat yang disembah di langit dan disembah di bumi.” Tidak mungkin ada satupun yang menjadi pengganti darinya. dan tidak boleh menggantikan posisi-Nya. Karena tidak ada yang semisal dengan-Nya atau yang sekufu dengan-Nya. Siapa yang menjadikan khalifah untuk-Nya berarti dia berbuat syirik. (Majmu’ Fatawa, 35/45).

Kedua, khalifatullah diartikan sebagai khalifah ‘an Allah [خليفة عن الله]. Dalam arti, mereka adalah makhluk yang ditunjuk oleh Allah untuk menerapkan setiap aturan dan ketetapan Allah di muka bumi.

Ilustrasinya, bahwa Allah berkehendak menetapkan hukum dan aturan untuk diberlakukan di bumi. Untuk menerapkan aturan itu, Allah tunjuk beberapa makhluk yang soleh..

Ibnu Jarir menjelaskan tafsir surat al-Baqarah di atas,

فكان تأويل الآية على أني جاعل في الأرض خليفة مني يخلفني في الحكم بالعدل بين خلقه وأن ذلك الخليفة هو آدم ومن قام مقامه في طاعة الله والحكم بالعدل بين خلقه

Tafsir ayat, bahwa Aku akan menjadikan khalifah dari-Ku, yang bertugas menerapkan hukum-Ku dengan keadilan diantara makhluk. Dan bahwa khalifah itu Adam dan orang-orang yang mentaati Allah menggantikan setelah Adam, serta menerapkan hukum dengan adil diantara makhluk-Nya. (Tafsir at-Thabari, 1/459).

Keterangan lain disampaikan oleh Ibnul Jauzi dalam tafsirnya,

وفي معنى خلافة آدم قولان أحدهما: أنه خليفة عن الله تعالى في إقامة شرعه و دلائل توحيده، والحكم في خلقه

Mengenai makna status Adam sebagai khalifah, ada dua pendapat ulama. Diantaranya, bahwa Adam adalah khalifah dari Allah dalam menegakkan syariat-Nya, petunjuk dalam mentauhidkan-Nya, dan menerapkan hukum untuk makhluk-Nya. (Zadul Masir, 1/41).

Ketiga, khalifatulah diartikan sebagai khalifah (pengganti) yang Allah ciptakan untuk menggantikan generasi sebelumnya.

Ibnul Qoyim menjelaskan

ان اريد بالاضافة ان الله استخلفه عن غيره ممن كان قله قبله فهذا لا يمتنع فيه الاضافة وحقيقتها خليفة الله الذي جعله الله خلفا عن غيره

Jika maksud disandarkan kepada Allah, bahwa Allah menunjuknya untuk menjadi pengganti bagi generasi sebelumnya, maka tidak masalah menggunakan istilah khalifatullah. Namun hakekat maknanya adalah khalifah Allah, yang Allah ciptakan sebagai pengganti bagi yang lainnya. (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/152)

Hukum Gelar Khalifatullah

Dari pemaparan di atas, ulama berbeda pendapat tentang hukum menggunakan gelar khalifatullah bagi manusia.

Setidaknya ada 2 pendapat dalam menjelaskan hal ini.

an-Nawawi mengatakan,

واختلفوا في جواز قولنا خليفة الله، فجوّزه بعضُهم لقيامه بحقوقه في خلقه، ولقوله تعالى: (هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ في الأرْضِ) [فاطر: 39] وامتنع جمهورُ العلماء من ذلك، ونسبُوا قائلَه إلى الفجور، هذا كلام الماوردي

Ulama berbeda pendapat tentang hukum menggunakan istilah khalifatullah. Sebagian ulama berpendapat boleh, karena dia telah menegakkan hak-hak di kalangan makhluk-Nya. Dan mengingat firman Allah, (yang artinya), “Dialah Dzat yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di bumi.” (QS. Fathir: 39). Sementara mayoritas ulama melarangnya. Dan bahkan menganggap orang yang menggunakan kalimat ini telah melakukan pelanggaran. Demikian keterangan al-Mawardi. (al-Adzkar, hlm. 361).

Kita akan menyebutkan rincian pendapat itu,

Pertama, boleh menggunakan gelar ini untuk manusia. Dengan makna kedua atau makna ketiga sebagaimana keterangan di atas.

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah penjelasan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang berilmu dan semua karakternya. Ali Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

فباشروا روح اليقين، واستسهلوا ما استوعر منه المترفون، وانسوا بما استوحش منه الجاهلون صحبوا الدنيا بأبدان أرواحها معلقة بالنظر الأعلى يا كميل أولئك خلفاء الله في أرضه الدعاة إلى دينه

Mereka bercampur dengan semangat yakin, menganggap ringan apa yang dikhawatirkan orang-orang yang hidup mewah, melupakan apa yang ditakutkan orang bodoh. Mereka tinggal di dunia dengan badannya, namun ruhnya bergantung pada cita-cita yang sangat tinggi. Wahai Kumail, merekalah para khalifatullah di bumi-Nya. Para dai penyeru kepada agama-Nya. (Kanzul Ummal, 29391).

Demikian pula disebutkan dalam hadis tentang Imam Mahdi, dari Tsauban.

إذا رأيتم الرايات السود قد جاءت من قبل خراسان فأتوها، فإن فيها خليفة الله المهدي

Jika kalian melihat ada bendera hitam telah datang dari arah Khurasan (timur), datangilah dia. Karena di sana ada khalifatullah al-Mahdi.

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dan al-Bazzar dalam Musnadnya. Hanya saja statusnya dhaif sebagaimana keterangan Syuaib al-Arnauth.

Kedua, melarang secara mutlak

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Mereka berdalil dengan penolakan Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu ketika dipanggil Khalifatullah.

Ibnu Abi Mulaikah – ulama tabiin – menceritakan,

قيل لأبي بكر : يا خليفة الله قال : لست بخليفة الله ولكن خليفة محمد صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم وأنا راض بذلك

Abu Bakr dipanggil, ‘Wahai Khalifatullah.’ Langsung Abu Bakr menanggapi,

“Saya bukan khalifatullah. Namun saya adalah khalifah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan saya rela untuk dipanggil seperti itu.” (HR. Ahmad 59).

An-Nawawi membawakan riwayat, bahwa ada seseorang memanggil Khalifah Umar bin Abdul Aziz,

‘Wahai Khalifatullah’. Mendengar ini, Umar mengatakan,

ويلَك لقد تناولتَ تناولاً بعيداً، إن أُمّي سمّتني عمر، فلو دعوتني بهذا الاسم قبلتُ، ثم كَبِرتُ فكُنِّيتُ أبا حفص، فلو دعوتني به قبلتُ، ثم وليتموني أمورَكم فسمَّيتُوني أمَير المؤمنين، فلو دعوتني بذاك كفاك

Kamu ini bagaimana. Kamu telah melakukan tindakan berlebihan. Ibuku menamaiku dengan Umar. Jika anda memanggilku dengan nama ini, aku akan menerimanya. Setelah aku besar, aku diberi kunyah Abu Hafsh. Jika kamu memanggilku dengan kunyah ini, aku bisa menerimanya. Kemudian kalian mengangkatku sebagai pemimpin, lalu kalian memanggilku Amirul Mukminin. Jika kamu memanggilku dengan panggilan ini, itu sudah cukup bagimu. (al-Adzkar, hlm. 361)

Disamping itu, namanya khalifah artinya adalah pengganti. Sementara khalifah hanya digunakan untuk menyebut pengganti, di saat yang digantikan tidak ada atau telah meninggal. Dan Maha Suci Allah jika ada diantara makhluk-Nya yang menggantikan-Nya.

(Mu’jam al-Manahi al-Lafdziyah, 8/6).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

maha segalanya

Allah Maha Segalanya, Ini Salah?

Bolehkah mengucapkan, Allah Maha Segalanya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dalam KBBI, kata Maha artinya sangat, amat, teramat. Bisa juga diartikan besar. seperti Mahaguru, berarti guru besar.

Karena itu, kata Maha pada dasarnya tidak bisa berdiri sendiri. Dia statusnya sifat yang harus diikuti kata yang lain untuk bisa dipahami maknanya.

Semua Nama itu Baik dan semua Sifat Allah itu Indah

Prinsip ini sangat ditekankan oleh Allah dalam al-Quran. Ketika Allah memperkenalkan diri-Nya dalam al-Quran, Allah menyebutkan berbagai macam nama dan sifat-Nya yang indah. Seperti ar-Rahman, ar-Rahim, al-Hayyu, al-Qayyum, al-Mannan, ar-Razzaq, dst.

Bahkan Allah menegaskan, hanya miliknya nama-nama yang indah itu.

Allah berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

Hanya milik Allah al-Asma al-Husna, karena itu, gunakanlah nama itu untuk memanggil Allah. (QS. al-A’raf: 180)

Yang dimaksud al-Asma al-Husna adalah nama yang mengandung puncak kebaikan. Karena nama-nama ini mengandung sifat-sifat mulia yang sempurna. Sama sekali tidak ada makna buruk di sana.

Misalnya nama Allah al-Hayyu, artinya yang Maha Hidup. Nama ini menunjukkan bahwa hidupnya Allah adalah hidup sempurna (al-Hayat al-Kamilah). Hidup tidak didahului ketiadaan dan tidak akan berakhir.

Allah memiliki nama al-Alim, yang artinya Maha Mengetahui. Artinya, Dia Maha Mengetahui, dengan pengetahuan yang sempurna. Pengetahuan yang tidak ada cacat sama sekali dan tidak didahului kebodohan.

(al-Qawaid al-Mutsla, hlm. 6)

Demikian pula sifat Allah, Dia Dzat yang sifatnya mulia, sifat yang indah.

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Hanyalah milik Allah sifat-sifat yang mulia. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha bijaksana. (QS. an-Nahl: 60).

Karena itu, semua sifat yang maknanya murni kekurangan, seperti mati, bodoh, pelupa, lemah, miskin, dst, semua menjadi sifat yang haram bagi Allah. (al-Qawaid al-Mutsla, hlm. 18).

Ketika orang yahudi menyebut Allah fakir, Allah mengancam mereka. Karena seperti ini berarti memberikan sifat buruk untuk Allah. Allah berfirman,

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu. (QS. Ali Imran: 181).

Allah Maha Segalanya?

Kita bisa memahami, kata ‘segalanya’ bermakna umum. Artinya bisa berarti baik atau berarti buruk.

Karena itu, kata segalanya atau segala sesuatu, umumnya dikembalikan kepada makhluk. Sehingga, jika disandarkan kepada Allah, kata ini harus menjadi objek.

Dan itulah yang Allah ajarkan dalam al-Quran. Kita banyak menjumpai ayat,

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu..”

Dalam al-Quran, kalimat ini Allah sebutkan sebanyak 33 kali.

Anda bisa perhatikan, segala sesuatu dalam ayat itu menjadi objek atas Maha Kuasanya Allah.

Kita juga sering mendengar,

وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu..

Kalimat ini juga banyak dalam al-Quran. Dan anda bisa perhatikan, kata sesuatu di situ sebagai objek.

Demikian juga kalimat,

وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا

Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Karena itu yang tepat, kita tidak mengatakan Allah Maha Segalanya. Tapi kita mengatakan, “Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” atau “Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” sesuai dengan konteks pembicaraan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

wanita surga

Siapa Ratu Bidadari Surga?

Lebih indah mana, wanita dunia atakah bidadari surga?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Di surga ada dua jenis bidadari.

Pertama, wanita yang Allah ciptakan secara khusus, untuk menjadi bidadari di surga

Mereka bukan penduduk dunia. Karena Allah menyatakan dalam al-Quran bahwa mereka tidak pernah disentuh lelaki dari kalangan jin dan manusia. Allah berfirman,

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh sebelum suami mereka (penduduk surga), baik oleh manusia, maupun oleh jin. (QS. ar-Rahman: 56).

Karena itu, di ayat lain Allah menyebutkan bahwa mereka diciptakan langsung besar menjadi penduduk surga. Allah berfirman,

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً ( ) فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung jadi gadis. ( ) dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (QS. al-Waqiah: 55 – 56).

Kedua, wanita dunia yang masuk surga. Allah jadikan mereka bidadari mendampingi suaminya yang juga masuk surga.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Bidadari Surga

Selanjutnya, mana yang lebih indah antara bidadari asli surga dengan bidadari asli dari Dunia?

Ulama berbeda pandapat dalam hal ini.

Ada satu hadis dari Ummu Salamah, namun hadis ini diperselisihkan keabsahannya.

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ya Rasulullah, mana yang lebih afdhal, bidadari asli surga ataukah wanita dunia?”

Beliau mengatakan,

بل نساء الدنيا أفضل من الحور العين كفضل الظهارة على البطانة

Wanita dunia lebih afdhal dari pada bidadari asli surga. Sebagaimana bagian luar baju lebih bagus dari pada bagian dalamnya.

“Mengapa bisa demikian, ya Rasulullah?” tanya Ummu Salamah.

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بصلاتهن وصيامهن وعبادتهن لله عز و جل ألبس الله عز و جل وجوههن النور وأجسادهن الحرير بيض الألوان خضر الثياب صفر الحلي

“Disebabkan karena mereka shalat, berpuasa, dan melakukan ibadah kepada Allah. Allah berikan dia hiasan cahaya di wajahnya, memakai sutra putih warnanya, dan baju berwarna hijau, serta perhiasan kuning mengkilap.”

Status Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (3141). Dan sebagian ulama menilainya sebagai hadis munkar. (Dhaif at-Targhib wa at-Tarhib, 2/253).

Hanya saja, banyak ulama mengatakan bahwa bidadari asal dunia, para wanita mukminah bani adam, lebih indah dibandingkan bidadari asli surga.

Ibnu Mubarok menyampaikan riwayat dari Hibban bin Abi Jabalah. Beliau mengatakan,

إن نساء الدنيا من دخل منهن الجنة فضلن على الحور العين بما عملن في الدنيا

Sesungguhnya wanita dunia yang masuk surga lebih unggul dibandingkan wanita surga, disebabkan amal yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. (Tafsir al-Qurthubi, 16/154).

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

المرأة الصالحة في الدنيا- يعني: الزوجة- تكون خيراً من الحور العين في الآخرة ، وأطيب وأرغب لزوجها ، فإن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أخبر أن أول زمرة تدخل الجنة على مثل صورة القمر ليلة البدر

Wanita solihah di dunia – yaitu para istri – lebih baik dibandingkan bidadari di akhirat. Mereka lebih indah dan lebih dicintai suaminya. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa  kelompok pertama yang masuk surga itu seperti cahaya bulan di malam purnama. (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, 12/58)

Demikian,

Semoga bisa memotivasi para calon ratu bidadari…

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

dukun paranormal

Mencari Barang Hilang Lewat Dukun?

Klo ada paranormal itu bs ngasih tahu dimana barang ilang, bararti kita boleh percaya dong?

Bisa ngasi pencerahan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sesuatu yang ghaib ada dua,

Pertama, hal ghaib yang hanya diketahui oleh Allah. Para ulama menyebutnya ghaib mutlak. Siapapun makhluk tidak ada yang mengetahuinya. Sampaipun para nabi dan malaikat. Kecuali sekelumit informasi yang Allah berikan kepada mereka.

Contoh ghaib mutlak adalah kapan kiamat terjadi. Allah berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat: ‘Kapankah terjadinya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (QS. al-A’raaf: 187)

Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sampaikan kepadaku, kapan kiamat?” jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.

“Orang yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari pada yang bertanya.” (HR. Muslim 2, Abu Dawud  4605, dan yang lainnya).

Anda bisa perhatikan, manusia terbaik, malaikat terbaik, tidak tahu kapan kiamat.

Termasuk ghaib mutlak adalah peristiwa yang akan terjadi besok. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu, besok akan terjadi apa, kecuali sebatas wahyu yang Allah sampaikan kepada beliau.

Suatu ketika ada orang anak yang menyenandungkan syair di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَفِينَا نَبِىُّ يَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ

Di tengah kami ada nabi, yang mengetahui apa yang terjadi besok.

Mendengar itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingatkan,

لاَ تَقُولِى هَكَذَا ، وَقُولِى مَا كُنْتِ تَقُولِينَ

“Jangan kamu ucapkan seperti itu. Ucapkanlah bait sebelumnya yang kalian senandungkan.” (HR. Bukhari 4001, Ahmad 27780, dan yang lainnya).

Karena itu, jika ada orang yang ngaku-ngaku tahu nasib orang lain, bisa ngramal nasib orang lain, atau bahkan ngramal masa depan kehidupan di bumi, maka pastikan dia pendusta.

Dan siapa yang mengklaim bahwa ada orang yang tahu hal ghaib dengan sendirinya, maka dia terjerumus dalam kesyirikan. Karena semacam ini berarti merampas hak yang hanya dimiliki oleh Allah.

Allah berfirman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah, tidak ada satupun di langit dan dibumi yang mengetahui hal ghaib, kecuali Allah. (QS. An-Naml: 65).

Dan mengakui ada selain Allah yang mengetahui rahasia ghaib yang hanya dimiliki Allah, berarti mendustakan ayat di atas.

Kedua, hal ghaib yang diketahui sebagian orang, namun tidak diketahui orang lain.

Para ulama menyebutnya ghaib nisbi (relatif).

Sebagai contoh ketika anda di kantor, anda tidak tahu apa yang terjadi di rumah. Sebaliknya, orang yang ada di rumah, tidak tahu tentang kondisi anda di kantor. Bagi anda yang sedang di kantor, kondisi rumah adalah hal yang ghaib. Dan ini bisa menjadi tidak ghaib, jika ada komunikasi antara anda yang berada di kantor dengan keluarga anda yang ada di rumah.

Karena itu, ketika ada orang yang mengaku mengetahui kejadian di tempat lain tanpa melalui komunikasi, berarti dia ngaku mengetahui hal yang ghaib. Seperti orang yang mengaku memiliki kemampuan telepati, menerawang, dst.

Ada 2 Kemungkinan

Untuk semua klaim mengetahui hal ghaib nisbi, di sana ada 2 kemungkinan,

Pertama, dia dibantu jin. Dia punya jin, dan jin itu memberi tahu dia tentang kejadian di tempat lain.

Kedua, dia hanya berdusta, ngaku-ngaku tahu hal yang ghaib.

Barang hilang, ghaib?

Dari pembagian benda ghaib di atas, barang ilang termasuk ghaib nisbi. Diketahui oleh si pencuri atau si penemu barang, sementara pemiliknya tidak tahu.

Bagaimana jika yang tau jin?

Mungkin saja itu terjadi. Karena jin melihat apa yang dilakukan manusia. Jika jin itu punya kerja sama dengan manusia, dia bisa ceritakan kejadian itu kepada manusia.

Dalam kitab Akam al-Mirjan fi Ahkam al-Jan disebutkan riwayat dari Abdullah bin Imam Ahmad, dengan sanadnya dari Salim bin Abdillah bin Umar,

Suatu ketika, Sahabat Abu Musa al-Asy’ari – yang kala itu menjadi gubernur di bashrah – merasa resah dengan keterlambatan berita tentang Khalifah Umar Radhiyallahu ‘anhu. Dan di bashrah, ada seorang wanita yang memiliki teman jin. Kemudian Abu Musa meminta kepada wanita itu,

مري صاحبك فليذهب فليخبرني عن أمير المؤمنين

Minta temanmu untuk pergi mencari Umar, dan sampaikan kepadaku berita tentang Amirul Mukminin Umar.

Setelah ditunggu, dia memberi tahu melalui si wanita ini, “Umar di Yaman.”

(Akam al-Mirjan, 168).

Hanya saja, tidak semua proses kerja sama dengan jin menggunakan cara yang dibenarkan. Bahkan banyak yang bekerja sama dengan jin, melalui cara yang dilarang, seperti pemujaan terhadap jin dan bentuk kekufuran lainnya. Terlebih jika orang itu secara sengaja membuka praktek pelayanan ‘mencari barang ilang’. Dan itu menjadi sumber penghasilannya. Bisa kita pastikan, dia dukun.

Hukum Meminta Layanan Mencari Barang Ilang

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras mendatangi semua dukun. Jika hanya bertanya, beliau mengancam shalatnya tidak diterima. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim 2230).

Beliau bahkan menyebutnya sebagai tindakan kekufuran, jika sampai mempercayai itu dukun. Beliau mengingatkan melalui sabdanya,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad 9532, hasan)

Dr. Abdul Aziz ar-Rais menjelaskan,

الإتيان مع التصديق لهم في أمر غيبي نسبي مع اعتقاد أن الشياطين تخبرهم فهذا له عقوبتان :

أ ) لم تُقبل له صلاةٌ أربعين يوماً .

ب) كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم الكفر الأصغر

قال الشيخ عبد اللطيف ابن عبد الرحمن بن حسن :

Mendatangi dukun dan membernarkan mereka dalam perkara ghaib nisbi, dengan keyakinan bahwa ada setan yang memberi info kepada dukun itu, maka dia mendapat dua hukuman,

Pertama, shalatnya tidak diterima selama 40 hari

Kedua, dinilai dia kufur kepada wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan status kufur kecil.

Kemudian Dr. Abdul Aziz menukil keterangan Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman Alu Syaikh,

قولـه : « من أتى كاهناً فصدقه ، أو أتى امرأةً في دبرها فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم » فهذا من الكفر العمليِّ وليس كالسجود للصنم والاستهانة بالمصحف وقتل النبي وسبِّه وإن كان الكل يُطلق عليه الكفر

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapa yang mendatangi dukun dan membenarkannya, atau menggauli istrinya melalui duburnya, maka dia kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Ini adalah kufur amali (kufur kecil). Tidak seperti sujud kepada berhala, atau menghina mushaf, atau membunuh Nabi dan mencela beliau. Meskipun semuanya disebut kekufuran.  (al-Ikmal bi Taqrib Syarh Nawaqid al-Islam, hlm. 30)

Terlepas dari apapun cara dukun itu mencari barang hilang, kita tidak boleh mendatanginya. Karena semua akan memperparah musibah yang kita alami.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Aplikasi How-Old syirik

Aplikasi How-Old Termasuk Ramalan Paranormal?

Saat ini lg rame aplikasi how-old, laman tebak usia. Jadi kalo kita upload foto kita, aplikasi itu akan mengenali wajah dan menebak usia kita. Apakah ini sama seperti membaca zodiak yang terlarang.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang dilarang keras dalam islam adalah menebak hal yang ghaib, tanpa dalil. Karena hal yang ghaib adalah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah. Allah berfirman,

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah, tidak ada satupun di langit dan dibumi yang mengetahui hal ghaib, kecuali Allah. (QS. An-Naml: 65).

Siapa yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, seperti mengaku mengetahui kapan hujan turun, nasib seseorang, perjalanan jodoh seseorang dst. maka dia telah melakukan perbuatan kekafiran. Karena dia mengaku memiliki rahasia yang hanya dimiliki Allah. Dan itu berarti mendustakan ayat di atas.

Untuk itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras umatnya bertanya kepada dukun atau paranormal, atau membaca ramalan, sekalipun tidak untuk diyakini atau hanya untuk iseng. Beliau bahkan mengancam orang yang melakukan pelanggaran itu, shalat tidak diterima selama 40 hari.

Anda bisa pelajari artikelnya di:

Menabak Usia, Menebak yang Ghaib?

Menggunakan indikator lahiriyah untuk mengenali kejadian, bukan termasuk menebak hal yang ghaib. Sebagaimana pendekatan yang digunakan dalam prakiraan cuaca.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وأما من أخبر بنزول مطر أو توقع نزول مطر في المستقبل بناءً على ما تقتضيه الآلات الدقيقة التي تقاس بها أحوال الجو فيعلم الخبيرون بذلك أن الجو مهيأ لسقوط الأمطار فإن هذا ليس من علم الغيب بل هو مستند إلى أمر محسوس والشيء المستند إلى أمر محسوس لا يقال إنه من علم الغيب

Menyampaikan informasi tentang turunnya hujan atau perkiraan turunnya hujan pada beberapa waktu berikutnya, berdasarkan hasil penelitian dengan alat canggih, untuk memprediksi kondisi cuaca, sehingga ahli meteorologi bisa menyimpulkan bahwa cuaca mengarah pada turunnya hujan. Informasi semacam ini, tidak termasuk ilmu ghaib. Namun dia mengacu pada indikator lahiriyah. Dan semua kesimpulan yang mengacu pada indikator lahiriyah, tidak bisa disebut bahwa itu ilmu ghaib.

Beliau melanjutkan,

والتنبؤات التي تقال في الإذاعات من هذا الباب وليست من باب علم الغيب ولذلك هم يستنتجونها بواسطة الآلات الدقيقة التي تضبط حالات الجو وليسوا مثلاً يخبرونك بأنه سينزل مطر بعد كذا سنة وبمقدار معين لأن هذه الوسائل الآلات لم تصل بعد إلى حدٍ تدرك به ماذا يكون من حوادث الجو بل هي محصورة في ساعات معينة ثم قد تخطئ أحياناً وقد تصيب أما علم الغيب فهو الذي يستند إلى مجرد العلم فقط بدون وسيلة محسوسة وهذا لا يعلمه إلا الله عز وجل

Informasi yang disampaikan di radio tentang perkiraan cuaca bukan termasuk mengetahui ilmu ghaib. Karena itulah, mereka hanya bisa mendapatkan info tentang prediksi cuaca, dengan alat canggih yang bisa mengukur kondisi cuaca. Mereka juga tidak mampu, misalnya memberitahukan akan turun hujan setelah sekian tahun dengan curah tertentu. Karena alat yang mereka gunakan tidak mampu menjangkau keadaan yang bisa mengetahui semua kondisi cuaca. Alat ini hanya terbatas untuk waktu tertentu. Itupun kadang meleset, meskipun kadang juga benar. Adapun ilmu ghaib adalah mengetahui sesuatu yang ghaib yang bersandar pada pengetahuan yang dimiliki, tanpa menggunakan indikator lahiriyah. Dan semacam ini tidak ada yang tahu kecuali Allah.

(Sumber: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1716.shtml)

Tentang ramalan cuaca, BMG hanya menyampaikan prediksi, sehingga orang bisa merencanakan agenda aktivitasnya.

Dari cara kerja aplikasi How-Old, aplikasi ini mengenali wajah kemudian memprediksi usia. Artinya aplikasi ini hanya menggunakan indikator lahir. Yang secara logika orang masih bisa dengan mudah menerimanya. Dan semua orang memahami itu hanya prediksi bukan memastikan.

Sebagaimana ketika kita mengenali wajah seseorang untuk memprediksi daerah asalnya.

Nuansa ini jelas berbeda dengan ramalan dukun, yang dilakukan tanpa menggunakan indikator lahiriyah apapun. Atau yang dilakukan peramal dengan bermodal hitungan tanggal lahir. Sama sekali tidak bisa dilogika. Dan bahkan oleh sebagian pengikutnya dipercaya sampai pada tingkat yakin, tanpa interupsi. Jelas sangat berbeda. Kasus kedua inilah yang bermasalah, dan bahkan termasuk perbuatan kekafiran.

Karena itu, menggunakan aplikasi ini, insyaAllah bukan termasuk menebak hal ghaib yang dilarang dalam islam.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

misteri angka 26

Misteri Tanggal 26 Hoax

Tanya:

Saya menemukan tulisan semacam ini. Mohon pencerahannya.

Tanggal 26 . – ,,Legenda urban bencana tanggal 26 merupakan suatu topik misteri di mana tanggal 26 memiliki arti penting …

Gempa Nepal 26 april 2015 apakah ini suatu kebetulan? Kalau gempa yang berikut ini terjadi pada tanggal  26 Dec 1861 gempa bumi di Egion, Yunani

26 Mar 1872 gempa bumi di Owens Valley, USA

26 Aug 1896 gempa bumi di Skeid, Land, Islandia

26 Nov 1902 gempa bumi di Bohemia, sekarang Czech Republic

26 Nov 1930 gempa bumi di Izu

26 Sep 1932 gempa bumi di Ierissos, Yunani

26 Nov 1943 gempa di Tosya Ladik, Turki

26 Dec 1949 gempa bumi di Imaichi, Jepun

26 Mei 1957 gempa di Bolu Abant, Turki

26 Mar 1963, gempa bumi di Wakasa Bay, Jepang

26 Jul 1967 gempa bumi di Pulumur, Turki

26 Sep 1970 gempa bumi di Bahia Solano, Colombia

26 Jul 1971 gempa bumi di Solomon Island

26 Apr 1972 gempa bumi di Ezine, Turki

26 Mei 1975 gempa bumi di N. Atlantic

26 Mar 1977 gempa bumi di Palu, Turki

26 Dec 1979 gempa bumi di Carlisle, Inggris

26 Apr 1981 gempa bumi  di Westmorland, USA

26 Mei 1983 gempa bumi di Nihonkai, Chubu, Jepang

26 Jan 1985 gempa bumi di Mendoza, Argentina

26 Jan 1986 gempa bumi di Tres Pinos, USA

26 Apr 1992 gempa bumi di Cape Mendocino, California, USA

26 Okt 1997 gempa bumi di Italia

26 dec 2004 tsunami ace

Adakah kita sadari tanggal tersebut , fakta /kebetulan ?

Aceh

Tsunami

26-12-2004,

Jogja

Gempa

26-05-2006

Tasik, Jawa Barat

Gempa

26-06-2010

Gunung  Merapi

Meletus

26-10-2010 …

Pertanyaan :  melihat data tersebut diatas dan data statistik bahwa Gunung Merapi punya gawe rata rata setiap empat atau lima tahun periodically ,   Apakah bila sudah masuk waktunya dan sudah menunjukkan tanda tanda batuk , kita boleh mempercayai tgl 26 harus extra waspada ngungsi duluan.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sesungguhnya kalender masehi yang berlaku, murni buatan manusia. Kalender itu dibuat atas kesepakatan umat sejagad. Karena itulah, islam tidak pernah mengajarkan agar manusia mengembalikan kejadian pada kalender atau perhitungan hari. Allah yang berkuasa mengatur semua kejadian alam semesta. Dan kekuasaan Allah bersifat mutlak. Tanpa bergantung pada aturan hamba.

Allah mengingatkan,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. al-Baqarah: 117).

Mengembalikan kejadian di alam ini kepada perhitungan atau kalender, bisa jadi tidak berbeda dengan mengembalikan kehendak Allah pada aturan manusia. Dan itu tidak mungkin pernah terjadi.

Dari sini anda bisa memahami bagaimana kelancangan yang dilakukan paranormal. Mereka berusaha meramalkan kejadian masa depan dengan perhitungan yang mereka buat. Seolah mereka hendak mengembalikan kehendak Allah kepada aturan dan sistem pitungan yang mereka buat.

Ada Banyak Sistem Kalender

Lebih dari itu, di tempat kita, ada beberapa sistem kalender. Ada kalender masehi, ada kalender qamariyah, ada kalender Temporeki, kalender saka, kalender imlek, kalender jawa, dst. Sebagian orang mencatat, di dunia ini ada 11 sistem kalender.

Mengingat sistemnya berbeda, tentu saja keteraturannya berbeda. Jika tanggal 26 April bertepatan dengan 7 Rajab, belum tentu tanggal 26 di bulan yang lain pada sistem kalender masehi, akan bertepatan dengan tanggal 7 di bulan yang lain pada kalender hijriyah. artinya, angka 26 tidak harus sinkron dengan angka 7.

Lalu, mau sistem kalender yang manakan yang akan kita jadikan acuan?

Apakah hanya kalender masehi? Padahal murni inni buatan manusia.

Apakah Tiyaroh?

Apakah keyakinan semacam ini termasuk tiyaroh?.

Ketika anda meyakini bahwa ada tanggal atau hari atau bulan tertentu yang itu menjadi sebab sial, maka itu termasuk keyakinan tiyaroh. Karena anda meyakini sesuatu menjadi sebab sial bagi yang lain, padahal sejatinya sama sekali tidak ada hubungannya.

Dan ketika keyakinan tiyaroh ini menyebabkan anda harus mengubah agenda, berarti anda terjebak dalam dosa kesyirikan. Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

Siapa yang mengurungkan keinginannya karena keyakinan tiyaroh, berarti dia telah berbuat syirik. (HR. Ahmad 7242 dan dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Tiyaroh itu syirik… Tiyaroh itu syirik… (HR. Ahmad 3759, Abu Daud 3912, Ibnu Majah 3667 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Karena itu, ketika anda meyakini tanggal 26 menjadi tanggal bencana, tanggal sial, kemudian ini menjadi pertimbangan anda untuk menggagalkan rencana anda, maka anda terjebak dalam tiyaroh.

Kembalikan kepada Allah

Dialah yang Maha Kuasa. Dia menetapkan apapun sesuai Yang Dia kehendaki. Karena itu, untuk menutup celah terjadinya kesyirikan, atau keyakinan yang lebih parah, islam mengajarkan agar kita mengembalikan setiap kejadian kepada Allah.

Dan jika itu bentuknya musibah, kita perlu ingat bahwa itu semua disebabkan dosa dan maksiat yang diperbuat manusia.

Ada satu ayat yang sering didengungkan ketika terjadi musibah. Itulah firman Allah di surat Ar-Rum:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia. Agar Allah merasakan sebagian dari perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).

Ada satu hal yang telah menjadi mindset hampir semua orang terkait ayat ini, tafsir ‘perbuatan tangan-tangan manusia’ dipahami hanya terbatas pada sikap manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Mereka menyimpulkan bahwa banjir, gempa bumi, tanah longsor, atau bencana apapun bentuknya, disebabkan sikap manusia yang tidak disiplin dalam mengelola lingkungan.

Di saat banjir mulai melanda, rame-rame orang menyalahkan buang sampah sembarangan, infrastruktur yang kurang diperhatikan pemerintah, eksploitasi alam yang tidak terkontrol, dst…

Namun, kita perlu sadar, ternyata sebab utama bencana alam, tidak hanya dalam bentuk lahiriyah sebagaimana anggapan di atas. Ada sebab terpenting yang ternyata belum dipahami kebanyakan orang. Sebab itu adalah maksiat.

Perbuatan maksiat dan kedurhakaan kepada Sang Pencipta, merupakan sebab terbesar Allah mendatangkan bencana alam. Dosa dan maksiat adalah sebab terbesar Allah mendatangkan banjir. Itulah tafsir yang dipahami oleh para sahabat ulama masa silam terhadap surat Ar-Rum di atas.

Berikut diantara tafsir mereka,

At-Thabari menyebutkan ketarangan dari Al-Hasan Al-Bashri ketika menafsirkan ayat ini,

أفسدهم الله بذنوبهم، في بحر الأرض وبرها بأعمالهم الخبيثة

“Allah menghancurkan mereka disebabkan dosa mereka, berupa kerusakan di daratan maupun dilautan, disebabkan perbuatan buruk mereka..” (Tafsir At-Thabari, 20/108).

As-Suyuthi menyebutkan keterangan dari Abu Bakr bin Ayyasy, ketika beliau ditanya tentang ayat ini, beliau berkomentar,

إِن الله بعث مُحَمَّدًا إِلَى أهل الأَرْض وهم فِي فَسَاد فأصلحهم الله بمحمدا صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَمن دَعَا إِلَى خلاف مَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَهُوَ من المفسدين فِي الأَرْض

“Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke penduduk bumi ketika mereka dalam kondisi rusak (masa jahiliyah). Kemudian Allah memperbaiki mereka dengan mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang mengajak kepada perbuatan yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia termasuk orang yang berbuat kerusakan di muka bumi.” (Ad-Dur Al-Mantsur, 3/477).

Dikisahkan oleh Shofiyah radhiyallahu ‘anha, tentang gempa yang terjadi di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu,

“Pernah terjadi gempa bumi di Madinah pada masa Umar radhiyallahu ‘anhu, sehingga beberapa pagar roboh, lalu Umar berkhotbah:

أيها الناس ، ما هذا ؟ ما أسرع ما أحدثتم . لئن عادت لا تجدوني فيها

Wahai sekalian manusia, apa yang terjadi? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.” (HR. Baihaqi dalam Sunan-nya (3/342), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf (2/473) dengan sanad yang shahih).

Gempa itu belum pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar khawatir, dia juga tertimpa sebab maksiat yang dilakukan manusia. Beliau mengancam, jika terjadi gempa yang kedua, beliau akan keluar madinah.

Setelah memahami hal ini, dan dengan adanya musibah, selayaknya kita berusaha untuk semakin dekat dengan Allah. Memohon ampunan kepada-Nya seraya berharap agar Dia segera melepaskan kaum muslimin dari musibah ini.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ * وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ * لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”. Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Al-An’am: 65 – 67)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

SOCIAL

8,220FansLike
3,890FollowersFollow
29,980FollowersFollow
61,285SubscribersSubscribe

RAMADHAN