<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; AL-QURAN</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/al-quran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Jun 2013 14:30:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Cara Membaca Ayat: Alif – Laam – Miim</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/cara-membaca-ayat-alif-laam-miim/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/cara-membaca-ayat-alif-laam-miim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jun 2013 01:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[ayat]]></category>
		<category><![CDATA[membaca alif lam mim]]></category>
		<category><![CDATA[membaca ayat al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[membaca huruf alquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18632</guid>
		<description><![CDATA[Cara Membaca Ayat: Alif – Laam – Miim Pertanyaan: Beberapa org kesulitan baca alif lam mim, kaf-ha-ya-ain-shad, dan ayat-ayat semisalnya. Bisakah ustad jelaskan cara dan teori mmbacanya yg mudah! Terima..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Cara Membaca Ayat: Alif – Laam – Miim</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Beberapa org kesulitan baca alif lam mim, kaf-ha-ya-ain-shad, dan ayat-ayat semisalnya. Bisakah ustad jelaskan cara dan teori mmbacanya yg mudah!</em><br />
<span id="more-18632"></span><br />
<em> Terima kasih</em></p>
<p>Dari: Abdullah</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p><strong>Ada 2 teori untuk memudahkan memahami huruf semacam ini:</strong></p>
<p><strong>Pertama,</strong> huruf-huruf hijaiyah di awal surat (Mafatih As-Suwar) disebut dengan huruf muqatha’ah. Muqatha’ah secara bahasa artinya terputus-putus. Disebut huruf muqatha’ah karena huruf ini dibaca secara terputus-putus, sehuruf demi sehuruf, dan tidak bersambung.</p>
<p>Tulisan:  آلـم kita baca alif laam miim, dan bukan alam, atau alim, atau ilam.</p>
<p>Tulisan: طسـم kita baca tha siin miim, dan bukan thasam, atau thisam, atau thasim.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> dalam qiraah Imam Hafsh dari ‘Ashim (cara baca yang mengikuti riwayat dua ulama qiraah), huruf muqatha’ah dibaca sebagaimana nama aslinya dalam abjad hijaiyah, dengan tetap mengikuti kaidah tajwid dalam cara membacanya.</p>
<p>Sebagai contoh:</p>
<p>Tulisan : الم   kita baca alif laam miim. Atau jika kita tulis dalam teks arab:</p>
<p class="arab">أَلِـفْ لَامْ مِيمْ</p>
<p><strong>Kita menemukan ada 3 hukum tajwid pada teks ini:</strong></p>
<p>1. <em>Mad aridh lis sukun</em>, yaitu pada kata [لَام]. Pada kata ini terdapat dua huruf mati yang bergandengan: alif dan mim. Kaidahnya: jika ada dua huruf mati yang bergandengan dan huruf pertama adalah huruf illah maka dihukumi mad aridh lis sukun, yang dibaca 4 – 6 harakat. Huruf illah : [ا – و - ي] yang berfungsi memanjangkan.</p>
<p>2. <em>Idhgham mimii atau idgham mutamatsilai</em>n, yaitu pada kata: [لام ميم]. Di situ mim mati ketemu mim di depannya. Dan idgham mutamatsilain dibaca ghunnah (ditahan dengan mendengung).</p>
<p>3. <em>Mad aridh lis sukun</em> pada kata [ميم]. Pada kata ini terdapat dua huruf mati yang bergandengan: ya dan mim. Sehingga berlaku hukum mad aridh lis sukun, yang dibaca 4 – 6 harakat.</p>
<p>Untuk memudahkan cara baca, di Alquran cetakan indonesia, huruf lam dan mim diberi harakat ~ (seperti alis), mengingatkan agar dibaca panjang. Karena hukum tajwid yang berlaku adalah mad ‘aridh lis sukun. Meskipun bisa jadi, tanda seperti ini tidak kita jumpai pada Alquran cetakan yang lain. Namun cara membacanya tetap sama.</p>
<p>Sebagai tambahan, anda berlatih membaca  كهيعص. Cara baca yang benar: Kaaf – ha  – ya – ‘aiin – shaad. Atau jika ditulis lebih lengkap:</p>
<p class="arab">كَافْ هَا يَا عَيْنْ صَادْ</p>
<p>Kita menemukan beberapa hukum tajwid pada kalimat di atas:</p>
<p>1. <em>Mad aridh lis sukun</em>, pada kata [كَافْ]. Pada kata ini terdapat dua huruf mati yang bergandengan: alif dan fa’. Kita punya kaidah: jika ada dua huruf mati yang bergandengan dan huruf pertama adalah huruf illah maka dihukumi mad aridh lis sukun, yang dibaca 4 – 6 harakat.</p>
<p>2. <em>Mad thabi’i,</em> pada kata [هَا] dan [يَا], yang panjangnya 2 harakat. Karena itu, pada tulisan di atas, huruf ha dan ya tidak diberi harakat alis.</p>
<p>3. <em>Mad layn</em>, pada kata: [عَيْنْ], karena ada ya dan nun yang mati, sementara harakat sebelum ya bukan kasrah. Mad layn dibada 4 – 6 harakat.</p>
<p>4. <em>Ikhfa’</em> pada pertemuan antara ain dan shad [عَيْنْ صَادْ], di situ nun mati ketemu huruf shad. Hukum nun mati atau tanwin yang ketemu huruf shad dan beberapa saudaranya, dibaca samar mempersiapkan untuk mengucapkan shad.</p>
<p>5. <em>Mad aridh lis sukun</em>, pada kata [صَادْ]. Sebagaimana penjelasan sebelumnya.</p>
<p>6. <em>Qalqalah kubro</em>, pada kata [صَادْ], karena di situ dal mati di akhir kata. Dan cara membacanya dengan dipantulkan.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasai agama islam dan pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/cara-membaca-ayat-alif-laam-miim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Membaca Al-Quran di HP tanpa Wudhu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-membaca-al-quran-di-hp-tanpa-wudhu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-membaca-al-quran-di-hp-tanpa-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jun 2013 22:20:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran hp]]></category>
		<category><![CDATA[membaca Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[memegang al-quran tanpa wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18390</guid>
		<description><![CDATA[Membaca Al-Quran di HP tanpa Wudhu Tanya: Apakah membaca Al-Quran di HP harus bersuci? Jawab: Alhamdulillahi wahdah was shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dah, amma ba’du, فمعلوم أن..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Membaca Al-Quran di HP tanpa Wudhu</strong></h2>
<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p><em>Apakah membaca Al-Quran di HP harus bersuci?</em><br />
<span id="more-18390"></span><br />
<strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillahi wahdah was shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dah, amma ba’du,</em></p>
<p class="arab">فمعلوم أن تلاوة القرآن عن ظهر قلب لا تشترط لها الطهارة من الحدث الأصغر ، بل من الأكبر ، ولكن الطهارة لقراءة القرآن ولو عن ظهر قلب أفضل ، لأنه كلام الله ومن كمال تعظيمه ألا يقرأ إلا على طهارة .</p>
<p>Telah disepakati (ulama) bahwa <a title="membaca Al-Quran" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-membaca-al-quran-di-hp-tanpa-wudhu" target="_blank" rel="nofollow"><strong>membaca Al-Quran</strong></a> secara hafalan, tidak disyaratkan untuk suci dari hadats kecil, bahkan tidak harus suci dari hadats besar. Namun dalam kondisi suci ketika membaca Al-Quran, sekalipun hafalan adalah lebih utama. Karena Al-Quran adalah firman Allah. Dan termasuk upaya mengagungkan firman Allah, hendaknya tidak dibaca kecuali dalam kondisi suci.</p>
<p class="arab">وأما قراءته من المصحف فتشترط الطهارة للمس المصحف مطلقاً ، لما جاء في الحديث المشهور : (لا يمس القرآن إلا طاهر) ولما جاء من الآثار عن الصحابة والتابعين ، وإلى هذا ذهب جمهور أهل العلم ، وهو أنه يحرم على المحدث مس المصحف ، سواء كان للتلاوة أو غيرها</p>
<p>Adapun membaca Al-Quran dengan membawa mushaf maka disyaratkan suci dari hadats karena memagang mushaf, berdasarkan hadis yang masyhur, ‘Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci.’ Juga berdasarkan riwayat dari para sahabat dan tabi’in.</p>
<p>Dan inilah pendapat mayoritas ulama, bahwa dilarang bagi orang yang berhadats untuk memegang mushaf, baik untuk dibaca maupun untuk tujuan lainnya.</p>
<p class="arab">وعلى هذا يظهر أن الجوال ونحوه من الأجهزة التي يسجل فيها القرآن ليس لها حكم المصحف ،لأن حروف القرآن وجودها في هذه الأجهزة تختلف عن وجودها في المصحف ، فلا توجد بصفتها المقروءة ، بل توجد على صفة ذبذبات تتكون منها الحروف بصورتها عند طلبها ، فتظهر الشاشة وتزول بالانتقال إلى غيرها ، وعليه فيجوز مس الجوال أو الشريط الذي سجل فيه القرآن ، وتجوز القراءة منه ، ولو من غير طهارة والله أعلم</p>
<p>Oleh karena itu, yang benar, HP atau peralatan lainnya, yang berisi konten Al-Quran, tidak bisa dihukumi sebagai mushaf. Karena teks Al-Quran pada peralatan ini berbeda dengan teks Al-Quran yang ada pada mushaf. Tidak seperti mushaf yang dibaca, namun seperti vibrasi yang menyusun teks Al-Quran ketika dibuka. Bisa nampak di layar dan bisa hilang ketika pindah ke aplikasi yang lain. Oleh karena itu, boleh menyentuh HP atau kaset yang berisi Al-Quran. Boleh juga <a title="membaca Al-Quran" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">membaca Al-Quran</a> dengan memegang alat semacam ini, sekalipun tidak bersuci terlebih dahulu.</p>
<p>Allahu a’lam</p>
<p>Demikian jawaban Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak</p>
<p>Dari situs: Nur Al-Islam</p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-membaca-al-quran-di-hp-tanpa-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat Jamaah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-anak-kecil-menjadi-imam-shalat-jamaah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-anak-kecil-menjadi-imam-shalat-jamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 May 2013 07:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[anak kecil jadi imam]]></category>
		<category><![CDATA[imam anak kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18271</guid>
		<description><![CDATA[Bolehkah Anak Kecil jadi Imam Shalat Jamaah Bolehkah anak kecil menjadi imam shalat? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Mayoritas ulama tidak membolehkan, sementara Imam As-Syafii membolehkan. Inilah pendapat..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Bolehkah Anak Kecil jadi Imam Shalat Jamaah</strong></h2>
<p>Bolehkah anak kecil menjadi imam shalat? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Mayoritas ulama tidak membolehkan, sementara Imam As-Syafii membolehkan. Inilah pendapat yang kuat.</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Afwan ustadz, bolehkah anak kecil menjadi Imam ketika <a title="sholat jamaah" href="http://carasholat.com/" target="_blank" rel="nofollow">sholat jamaah</a>, dimana makmumnya orang yang sudah dewasa?</em><br />
<em> Anak kecil tersebut mempunyai bacaan dan halafan Alquran bagus dibanding jamaah lainnya.</em><br />
<span id="more-18271"></span><br />
<em>Sukron</em></p>
<p>Dari: Bang Joe</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><i>Pertama</i>, batas jenjang usia anak dalam islam ada dua:</p>
<p><strong>1. Batas tamyiz</strong></p>
<p>Anak yang telah mencapai usia tamyiz disebut mumayiz. Diantara ciri anak yang mumayyiz : dia bisa membedakan antara yang baik dan yang tidak baik, dia sudah merasa malu ketika tidak menutup aurat, dia mengerti shalat harus serius, dst. yang menunjukkan fungsi akalnya normal.</p>
<p>Umumnya, seorang anak menjadi mumayiz ketika berusia 7 tahun.</p>
<p><strong>2. Batas baligh</strong></p>
<p>Batas dimana seorang anak telah dianggap dewasa oleh syariat, dan berkewajiban untuk melaksanakan beban syariat. Tidak ada batas usia baku untuk baligh, karena batas baligh kembali pada ciri fisik. Untuk laki-laki: telah mimpi basah, dan untuk wanita: telah mengalami haid. Untuk laki-laki, umumnya di usia 15 tahun.</p>
<p>(Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 7/157 – 160)</p>
<p><i>Kedua</i>, fokus pembahasan kita adalah hukum anak mumayiz menjadi imam shalat jamaah, sementara makmumnya orang yang sudah baligh.</p>
<p>Para ulama membedakan antara shalat wajib dan shalat sunah. Berikut rincian yang disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah,</p>
<ul>
<li>Mayoritas ulama (hanafiyah, malikiyah, dan hambali) berpendapat bahwa diantara syarat sah menjadi imam untuk shalat wajib, imam harus sudah baligh. Karena itu, anak mumayiz tidak bisa menjadi imam bagi makmumyang sudah baligh.</li>
<li>Untuk shalat sunah, seperti shalat taraweh, atau shalat gerhana, mayoritas ulama (Malikiyah, Syafiiyah, hambali, dan sebagian hanafiyah) membolehkan seorang anak mumayiz untuk menjadi imam bagi orang yang sudah baligh.</li>
<li>Pendapat yang kuat dalam madzhab hanafiyah, anak mumayiz tidak boleh jadi imam bagi orang baligh secara mutlak, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunah.</li>
<li>Sementara Syafiiyah berpendapat, anak mumayiz boleh menjadi imam bagi orang baligh, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunah. Terutama ketika anak mumayiz ini lebih banyak hafalan Al-Qurannya, dan lebih bagus gerakan shalatnya dibandingkan jamaahnya yang sudah baligh.</li>
</ul>
<p>Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">إِلَى صِحَّة إِمَامَة الصَّبِيّ ذَهَبَ الْحَسَن الْبَصْرِيّ وَالشَّافِعِيّ وَإِسْحَاق , وَكَرِهَهَا مَالِك وَالثَّوْرَيْ , وَعَنْ أَبِي حَنِيفَة وَأَحْمَد رِوَايَتَانِ ، وَالْمَشْهُور عَنْهُمَا الْإِجْزَاء فِي النَّوَافِل دُونَ الْفَرَائِض</p>
<p>Tentang keabsahan anak kecil (mumayiz) yang <a title="menjadi imam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">menjadi imam</a> merupakan pendapat Hasan Al-Bashri, As-Syafii, dan Ishaq bin Rahuyah. Sementara Imam Malik dan Ats-Tsauri melarangnya. Sementara ada dua riwayat keterangan dari Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Pendapat yang masyhur dari dua ulama ini (Abu Hanifah dan Imam Ahmad), anak kecil sah jadi imam untuk shalat sunah dan bukan shalat wajib.</p>
<p>(Fathul Bari, 2/186)</p>
<p><strong>Pendapat Terpilih</strong></p>
<p>Pendapat yang <i>rajih</i> (lebih kuat) dalam hal ini adalah pendapat Imam As-Syafii, bahwa tidak dipersyaratkan <a title="imam shalat" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-anak-kecil-menjadi-imam-shalat-jamaah" target="_blank" rel="nofollow"><strong>imam shalat</strong></a> harus sudah baligh. Anak kecil yang sudah tamyiz, memahami cara shalat yang benar, bisa jadi imam bagi makmum yang sudah baligh.</p>
<p>Dalil mengenai hal ini adalah hadis dari Amr bin Salamah radhiyallahu &#8216;anhuma, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">كُنَّا بِحَاضِرٍ يَمُرُّ بِنَا النَّاسُ إِذَا أَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانُوا إِذَا رَجَعُوا مَرُّوا بِنَا، فَأَخْبَرُونَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: كَذَا وَكَذَا وَكُنْتُ غُلَامًا حَافِظًا فَحَفِظْتُ مِنْ ذَلِكَ قُرْآنًا كَثِيرًا فَانْطَلَقَ أَبِي وَافِدًا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنْ قَوْمِهِ فَعَلَّمَهُمُ الصَّلَاةَ، فَقَالَ: «يَؤُمُّكُمْ أَقْرَؤُكُمْ» وَكُنْتُ أَقْرَأَهُمْ لِمَا كُنْتُ أَحْفَظُ فَقَدَّمُونِي فَكُنْتُ أَؤُمُّهُمْ وَعَلَيَّ بُرْدَةٌ لِي صَغِيرَةٌ صَفْرَاءُ&#8230;، فَكُنْتُ أَؤُمُّهُمْ وَأَنَا ابْنُ سَبْعِ سِنِينَ أَوْ ثَمَانِ سِنِينَ</p>
<p>Kami tinggal di kampung yang dilewati para sahabat ketika mereka hendak bertemu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di Madinah. Sepulang mereka dari Madinah, mereka melewati kampung kami. Mereka mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda demikian dan demikian. Ketika itu, saya adalah seorang anak yang cepat menghafal, sehingga aku bisa menghafal banyak ayat Al-Quran dari para sahabat yang lewat. Sampai akhirnya, ayahku datang menghadap Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersama masyarakatnya, dan beliau mengajari mereka tata cara shalat. Beliau bersabda, “Yang menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan qurannya.”  Sementara Aku (Amr bin Salamah) adalah orang yang paling banyak hafalannya, karena aku sering menghafal. Sehingga mereka menyuruhku untuk menjadi imam. Akupun mengimami mereka dengan memakai pakaian kecil milikku yang berwarna kuning…, aku mengimami mereka ketika aku berusia 7 tahun atau 8 tahun. (HR. Bukhari 4302 dan Abu Daud 585).</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-anak-kecil-menjadi-imam-shalat-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Setelah Membaca Alquran</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 May 2013 05:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[doa membaca alquran]]></category>
		<category><![CDATA[khatam quran]]></category>
		<category><![CDATA[membaca alquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=18022</guid>
		<description><![CDATA[Doa Setelah Membaca Alquran Pertanyaan: Doa apakah yang paling sunnah selepas selesai membaca alquran..adakahmembaca sodoqallah al azim adalah perkara yang sunnah? Dari. Mr. N Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Doa Setelah Membaca Alquran</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Doa apakah yang paling sunnah selepas selesai membaca alquran..adakahmembaca sodoqallah al azim adalah perkara yang sunnah?</em></p>
<p>Dari. Mr. N<br />
<span id="more-18022"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Kami tidak menjumpai ada doa khusus seusai membaca Alquran. Bahkan terdapat dalil yang secara tekstual menunjukkan tidak ada doa setelah membaca Al-Quran. Hadis tersebut adalah hadis dari Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Beliau menceritakan,</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyuruhku: <em>“Bacakan Al-Quran untuk aku dengar.”</em></p>
<p>“Ya Rasulullah, apakah aku boleh membaca Al-Quran di hadapan Anda, padahal Al-Quran itu diturunkan kepada Anda?” tanyaku.</p>
<p><em>“Ya, tidak masalah.”</em></p>
<p>Akupun membaca surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat,</p>
<p class="arab">فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا</p>
<p><em>Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).</em> (QS. An-Nisa: 41)</p>
<p>Seketika sampai di ayat ini, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan, “Cukup..cukup.”</p>
<p>Saya melihat beliau, ternyata beliau berlinangan air mata. (HR. Bukhari 5050 dan Muslim 800)</p>
<p>Anda bisa perhatikan, ketika Ibnu Mas’ud mengakhiri bacaan Al-Qurannya, beliau tidak membaca kalimat apapun, atau doa apapun, atau dzikir apapun. Beliau tidak membaca <strong><em>shadaqallahul ‘adziim</em></strong>, atau alhamdulillah, dst. Sehingga dengan riwayat ini kita bisa memastikan bahwa semua bacaan itu bukan bagian dari ajaran Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<h3><strong>Apakah Ini Terlarang?</strong></h3>
<p>Bagian ini perlu kita luruskan. Agar jangan sampai ada orang yang salah persepsi dengan penjelasan amalan yang bukan sunah.</p>
<p>Kita sepakat, <strong>shadaqallahul ‘adzim</strong> adalah kalimat yang benar maknanya. Karena Allah adalah Al-Haq, Dzat Yang Maha Benar. Namun syariat juga mengajarkan agar kalimat yang benar, diposisikan di tempat yang benar, agar menghasilkan amalan yang benar. Karena itu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengajarkan berbagai doa untuk berbagai kesempatan yang berbeda. Beliau mengajarkan doa makan, memakai pakaian, masuk toilet, keluar toilet, hendak tidur, bangun tidur, keluar rumah, masuk rumah, setelah bersin, dst. Dan lafalnya berbeda-beda.</p>
<p>Tentu saja kita tidak akan membaca doa ini di posisi yang tidak diajarkan. Kita tidak akan membaca doa memakai pakaian ketika mau makan, atau membaca doa makan ketika hendak masuk toilet, atau membaca doa keluar rumah ketika masuk rumah, dst. Meskipun semua makna doa itu baik. Karena sekali lagi, kalimat doa semua maknanya baik, dan harus ditempatkan pada posisi yang benar.</p>
<p>Salah satu contoh yang menunjukkan prinsip ini adalah sikap Ibnu Umar radhiyallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab">عَنْ نَافِعٍ أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.</p>
<p>Dari Nafi, ada seorang yang bersin di dekat Ibnu Umar lalu dia berucap, “<em>Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah</em>”. Mendengar ucapan orang tersebut, Ibnu Umar mengatakan, “Saya juga mengucapkan kalimat Alhamdulillah was salam ‘ala rasulillah, namun tidak seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kami. Beliau mengajari kami untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” ketika bersin.” (HR Tirmidzi no 2738, dihasankan Albani).</p>
<p>Ibnu Umar tidak mengingkari kalimat “<em>Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah</em>”, karena kalimat ini baik. Ibnu Umarpun mengakuinya. Namun yang menjadi masalah, ketika kalimat ini dibaca seusai bersin, itu menjadi tidak tepat. Karena Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan untuk membaca kalimat ini ketika bersin.</p>
<p>Jawaban Ibnu Umar juga berlaku untuk kasus bacaan shadaqallahul ‘adzim. Kalimat ini benar, namun Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah mengajarkannya untuk dibaca seusai membaca Al-Quran.</p>
<h3><strong>Membaca shadaqallah Pada Kesempatan yang Benar</strong></h3>
<p>Ini berbeda ketika kita mengucapkan shadaqallah ‘Maha Benar Allah’ karena suasana hati untuk membenarkan apa yang Allah sampaikan. Meskipun kita tidak sedang membaca Al-Quran. Kalimat ini kita baca ketika kita melihat sebuah realita di hadapan kita yang sesuai dengan keterangan dalam Al-Quran. Semacam inilah salah satu kesempatan, di mana dzikir shadaqallah layak untuk kita ucapkan. Sebagai representasi pengakuan hati kita akan kebenaran firman Allah.</p>
<p>Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dalam hadis dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu &#8216;anhu, beliau menceritakan,</p>
<p>Ada seorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan mengadukan keadaan saudaranya,</p>
<p>“Saudaraku sakit perut.” Ucap sahabat.</p>
<p>“Beri minum madu.” Saran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Setelah pulang dan memberinya madu, ternyata sakitnya belum kunjung sembuh. Orang inipun datang lagi dengan keluhan yang sama. Dan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap menyarankan, “Beri minum madu.” Sampai akhirnya yang keempat, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap meyakinkan orang ini melalui sabdanya,</p>
<p class="arab">«صَدَقَ اللَّهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ، اسْقِهِ عَسَلًا» فَسَقَاهُ فَبَرَأَ</p>
<p>“Allah Maha Benar, dan perut saudaramu yang dusta. Beri minum madu.”</p>
<p>Orang inipun memberinya madu untuk kesekian kalinya, kemudian sembuh. (HR. Bukhari 5684 dan Muslim 2217)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan kalimat itu padahal beliau tidak sedang membaca Al-Quran. Beliau sampaikan itu karena suasana hati beliau untuk membenarkan firman Allah tentang khasiat madu,</p>
<p class="arab">يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.</em> (QS. An-Nahl: 69).</p>
<p>Kejadian yang lain, dalam hadis dari Buraidah bin Hashib radhiyallahu &#8216;anhu, ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sedang berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba datangan dua cucu beliau yang lucu: Al-Hasan dan Al-Husain, putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhum. Hasan &amp; Husain kecil dengan lucunya mengenakan gamis warna merah, keduanya berjalan tertatih-tatih memakai bajunya yang menawan. Melihat dua cucunya, beliaupun turun dari mimbarnya dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, kemudian mengatakan:</p>
<p>صَدَقَ اللَّهُ: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ}، رَأَيْتُ هَذَيْنِ يَعْثُرَانِ فِي قَمِيصَيْهِمَا، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ كَلَامِي فَحَمَلْتُهُمَا</p>
<p><em>“Maha benar Alloh dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan)’, aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, akupun tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya.”</em> (HR. An-Nasai 1413, Abu Daud 1109, dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan kalimat itu karena membenarkan sabda firman Allah di surat at-Taghabun ayat 15. Pada ayat itu, Allah menjelaskan bahwa harta dan anak adalah fitnah. Tak terkecuali beliau sebagai salah satu hamba Allah. Melihat dua cucunya yang sangat menawan hati beliau, membuat beliau harus memotong khutbahnya agar bisa menggendong cucunya.</p>
<h3><strong>Berbeda dengan Mereka</strong></h3>
<p>Kita bisa memastikan apa yang dipraktekkan oleh mereka yang terbiasa mengucapkan shadaqallahul adzim jelas berbeda dengan praktek Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika mengucapkan kalimat ini.</p>
<p>Mereka mengucapkan <em>shadaqallahul adzim</em> setiap kesempatan selesai membaca Al-quran, sementara Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mempraktekkan hal ini.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan shadaqallah ketika melihat kejadian sesuai dengan yang Allah firmankan. Sedangkan mereka, jangankan membaca shadaqallah, makna ayatnya saja, mereka tidak paham.</p>
<p>Karena itu, praktek Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di atas, jelas tidak bisa dijadikan dalil untuk membenarkan praktek mereka yang merutinkan bacaan shadaqallahul adzim setiap usai membaca Al-Quran.</p>
<p>Doa Setelah Membaca Al-Quran</p>
<p>Keterangan di atas tidaklah melarang anda untuk berdoa setelah membaca Al-Quran. Keterangan di atas menjelaskan bahwa tidak ada doa atau bacaan khusus seusai membaca Al-Quran. Namun Anda boleh berdoa dengan permohonan apapun yang baik seusai membaca Al-Quran, terutama setelah mengkhatamkan Al-Quran. Sebagaimana yang pernah dikupas dalam artikel <a title="doa khatam quran" href="http://www.konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran/" target="_blank"><strong>Doa Khatam Quran</strong></a>. Karena membaca Al-Quran termasuk amal shaleh, dan salah satu doa yang mustajab adalah doa yang kita panjatkan setelah melakukan amal shaleh. Di saat itu kita sedang dekat dengan Allah. Di saat itu, kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk memohon sesuatu kepada Allah.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Thaha dan Yasin Nama Nabi?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 01:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat badr]]></category>
		<category><![CDATA[thaha]]></category>
		<category><![CDATA[yasin. shalawat thaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17995</guid>
		<description><![CDATA[Thaha dan Yasin Nabi Nabi? Ar-Raghib Al-Asfahani dalam Mufradat Gharibil Qur’an, mengatakan يس: يس قيل معناه يا إنسان، والصحيح أن يس هو من حروف التهجى كسائر أوائل السور Yasin, ada..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Thaha dan Yasin Nabi Nabi?</strong></p>
<p>Ar-Raghib Al-Asfahani dalam Mufradat Gharibil Qur’an, mengatakan<br />
<span id="more-17995"></span></p>
<p class="arab">يس: يس قيل معناه يا إنسان، والصحيح أن يس هو من حروف التهجى كسائر أوائل السور</p>
<p><a title="Yasin" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Yasin</strong></a>, ada yang mengatakan maknanya adalah Ya Insan (wahai manusia). Yang benar bahwa <a title="yasin" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Yasin</strong></a> adalah huruf hijaiyah yang mengawali surat, sebagaimana yang ada pada awal surat yang lain. (Mufradat Gharibil Qur’an, hlm. 554).</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Katsir memberikan rincian perselisihan pendapat dalam masalah ini,</p>
<p>Tentang tafsir <a title="tha-ha" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi" target="_blank" rel="nofollow">Tha-ha</a>, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس قال : طه: يا رجل. وهكذا روي عن مجاهد، وعكرمة، وسعيد بن جبير، وعطاء</p>
<p>Riwayat dari Said bin Jubair, dari Ibn Abbas, beliau mengatakan, Thaha: “Ya Rajul” (wahai lelaki). Demikian yang diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair, dan Atha’. Dan yang dimaksud lelaki di sini adalah Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Ibnu Katsir juga menukil riwayat yang dibawakan Al-Qadhi Iyadh – ulama syafiiyah – dalam kitabnya As-Syifa’ bi Ta’rif Huquq Musthofa, dari Ibnu Ja’far, dari Rabi’ bin Anas, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika shalat beliau berdiri di atas satu kaki dan mengangkat satu kaki yang lain. Kemudian Allah menurunkan,</p>
<p class="arab">{ طه } ، يعني: طأ الأرض يا محمد، { مَا أَنزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى }</p>
<p>“<strong>Tha-ha</strong>”, artinya: Tha’ Al-Ardha (Injak tanah) wahai Muhammad, <em>“Kami tidaklah menurunkan Al-Quran kepadamu supaya kamu celaka.”</em> (Tafsir Ibn Katsir, 5/271 – 272)</p>
<p>As-Syinqithi dalam tafsirnya, Adwaul Bayan, ketika menafsirkan <a title="surat Thaha" href="http://konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi" target="_blank" rel="nofollow"><strong>surat Thaha</strong></a>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">أظهر الأقوال فيه عندي أنه من الحروف المقطعة في أوائل السور ، ويدل لذلك أن &#8220;الطاء&#8221; و &#8220;الهاء&#8221; المذكورتين في فاتحة هذه السورة ، جاءتا في مواضع أخر لا نزاع فيها في أنهما من الحروف المقطعة ، أما &#8220;الطاء&#8221; ففي فاتحة &#8220;الشعراء&#8221; &#8220;طسم&#8221; وفاتحة &#8220;النمل&#8221; طس &#8221; . وفاتحة &#8220;القصص&#8221; وأما &#8220;الهاء&#8221; ففي فاتحة &#8220;مريم&#8221; في قوله تعالى : &#8220;كهيعص&#8221;.&#8221;</p>
<p>Pendapat yang paling kuat menurutku, bahwa yasin adalah huruf muqatha’ah (yang dibaca secara terpisah), yang ada di awal surat. Yang menunjukkan hal itu, bahwa huruf Tha’ dan Ha’ yang disebutkan di awal surat ini, juga disebutkan di surat-surat yang lain. Dan tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa kedua huruf ini adalah huruf muqatha’ah. Huruf Tha’ di sebutkan di awal surat As-Syu’ara dan Al-Qashas: ‘Tha – siin – miim’ dan awal surat An-Naml: ‘Tha – siin’. Sedangkan huruf Ha’, ada di awal surat Maryam, pada firman Allah: ‘Kaaf – Ha – Ya – ‘Ain – Shaad’. (Adwaul Bayan, 4/73).</p>
<p>As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan,</p>
<p class="arab">طه : من جملة الحروف المقطعة ، المفتتح بها كثير من السور ، وليست اسماً للنبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Thaha termasuk huruf Muqatha’ah, huruf yang sering menjadi pembukaan banyak surat. Dan bukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (Taisir Karim Rahman, 501)</p>
<p>Sementara Ibnul Jauzi merangkum sekian perbedaan pendapat para ahli tafsir tentang Tha-ha. Beliau menyimpulkan,</p>
<p class="arab">واختلفوا في معناها على أربعة أقوال</p>
<p>“Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna kata ini dalam 4 pendapat.”</p>
<p>Kemudian Ibnul Jauzi merinci satu-satu:</p>
<p>1. Tha-ha bermakna : Ya Rajul (Wahai lelaki). Pendapat ini diriwayatkan Al-Aufi dari Ibnu Abbas. Meskipun ulama yang menguatkan pendapat ini juga berbeda pendapat, dari mana asal bahawa Tha-ha dengan makna Ya Rajul.</p>
<p>2. Tha-ha merupakan singkatan nama. Untuk pendapat kedua ini juga terdapat perselisihan,</p>
<ul>
<li>Tha-ha adalah nama Allah, Tha’ mewakili Al-Lathif dan Ha’ mewakili Al-Hadi.</li>
<li>Tha-ha bukan nama Allah, tapi nama makhluk. Tha’ singkatan dari Thabah (arab: طابة), nama lain kota Madinah; dan Ha’ singkatan untuk Mekah.</li>
</ul>
<p>3. Tha-ha merupakan sumpah Allah. Menurut Al-Qurthubi, Allah bersumpah dengan sifat-Nya : بطوله وهدايته : kebesaran dan hidayah-Nya.</p>
<p>4. Tha-ha maknanya adalah Tha’ Al-Ardha (injaklah tanah) sebagaimana riwayat Rabi’ bin Anas dalam hadis di atas.</p>
<p><em>(Tafsir Zadul Masir, 3/150 – 151).</em></p>
<p>Dari keterangan di atas, dan rangkuman yang disampaikan Ibnul Jauzi, kami tidak menjumpai adanya keterangan bahwa Thaha maupun Yasin adalah nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Riwayat Ibn Abbas yang menyatakan bahwa Tha-ha artinya wahai lelaki, tidaklah menunjukkan bahwa itu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena Tha-ha bentuknya kalimat panggilan untuk beliau dan bukan nama beliau.</p>
<h3><strong>Keterangan Yang Dari Sumber tentang Thaha</strong></h3>
<p>Keterangan yang pernah saya dengar mengapa Thaha dijadikan nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, mereka menyamakan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ibarat bulan purnama. Bulan purnama terbit tanggal 14, berdasarkan kalender qamariyah.</p>
<p class="arab">الأحرف العربي القديم قبل تحويله إلى نظام هجائي. يبدأ بحرف الألف وينتهي بحرف الغين</p>
<p>Di masa silam, masyarakat arab menggunakan huruf abjad untuk mewakili angka. Diawali dari huruf alif yang mewakili angka 1 dan diakhiri huruf ghain yang mewakili angka 1000. Kemudian dalam perkembangannya, huruf ini menjadi huruf hijaiyah.</p>
<p>Urutannnya seperti yang disebutkan dalam tabel berikut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">غ</p>
</td>
<td valign="top" width="17">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="30">
<p align="center">س</p>
</td>
<td valign="top" width="18">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ك</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ي</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ط</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ح</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ز</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">و</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ه‍</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">د</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ج</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">ب</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">أ</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<p align="center">1000</p>
</td>
<td valign="top" width="17">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="30">
<p align="center">60</p>
</td>
<td valign="top" width="18">
<p align="center">…</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">20</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">10</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">9</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">8</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">6</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">4</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="top" width="29">
<p align="center">1</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Susunan huruf Tha-ha (طه) bernilai 9 dan 5, jika dijumlahkan hasilnya 14.</strong></p>
<p>Apa yang bisa kita simpulkan dari metode ini? <em><strong>Metode yang digunakan murni gothak-gathik-gathuk</strong></em> (cocok-cocokan). Sistematika abjad di atas sudah ada sejak masa jahiliyah. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan islam.</p>
<p>Lebih dari itu, rumus ini tidak berlaku untuk Yasin. Jika kita menyebut yasin sebagai nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sebagaimana Thaha, seharusnya juga berlaku rumus yang sama. Namun itu tidak terjadi. Angka yang diwakili huruf ya dan sin jika ditotal hasilnya 70. Teori gothak-gathik-gathuk akan kesulitan untuk mengaitkan angka ini dengan sosok Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Kesimpulannya, tidak ada dalil tegas yang menunjukkan bahwa Thaha dan Yasin adalah nama Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Ada beberapa tafsir dari para ulama, namun mereka tidak menyatakan bahwa susunan huruf-huruf itu merupakan nama beliau. Sementara rumus huruf hijaiyah jelas tidak bisa diterima, karena teorinya tidak terbukti secara ilmiah. Dan kita TIDAK boleh memberikan nama untuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan sesuatu yang BUKAN nama beliau, bukan pula gelar beliau.</p>
<h3><strong>Shalawat Thaha dan Yasin</strong></h3>
<p>Di tempat kita, kata Thaha dan Yasin akrab kita dengar dalam shalawat,</p>
<p><em>Shalatullah salamullah ‘ala yasin habibillah.., Shalatullah salamullah ‘ala thaha rasulillah..</em></p>
<p><strong>Yasin dan Thaha</strong> dalam shalawat itu maksudnya adalah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Bisa dikatakan, shalawat ini salah sasaran. Betapa tidak, nama yang mereka sebut Yasin dan Thaha bukan nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan bukan gelar beliau. Sehingga sejatinya pembaca shalawat itu memberikan shalawat dan salam bukan kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tapi kepada <strong>Pak Thaha dan Pak Yasin</strong>.</p>
<p>Nama-nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></p>
<p>Dalam sebuah hadis, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebut beberapa nama beliau. Dari Jubair bin Muth’im <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ لِي أَسْمَاءً، أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا المَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الكُفْرَ، وَأَنَا الحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي، وَأَنَا العَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدِي نَبِيٌّ</p>
<p>Saya memiliki beberapa nama: saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi (yang menghapus), orang yang Allah utus untuk menghapus kekufuran. Saya Al-Hasyir (yang mengumpulkan), dimana manusia akan dikumpulkan di bawah kakiku. Saya Al-‘Aqib (penghujung), dimana tiada nabi setelahku. (HR. Bukhari 4896 dan Muslim 2354 dan lafal ini dari shahih Muslim).</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi agama islam dan kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote><p>Artikel ini didukung oleh:</p>
<ul>
<li>Zahir Accounting. <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</li>
<li>Ahliherbal.com. <strong><a href="http://ahliherbal.com" target="_blank" rel="nofollow">Agen Herbal Grosir dan Eceran</a></strong>.</li>
</ul>
<p>Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-thaha-dan-yasin-nama-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Aku Cemburu dengan Bidadari?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mungkinkah-aku-cemburu-dengan-bidadari/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mungkinkah-aku-cemburu-dengan-bidadari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Mar 2013 23:09:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[bidadari]]></category>
		<category><![CDATA[cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=17028</guid>
		<description><![CDATA[Aku Cemburu dengan Bidadari Pertanyaan: Beberapa kesempatan sebelumnya, web konsultasisyariah.com membahas tentang jumlah istri penduduk surga. Linknya: http://www.konsultasisyariah.com/berapa-jumlah-istri-Anda-di-surga/ Di situ disimpulkan bahwa jumlah minimal istri penduduk surga menurut salah satu..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Aku Cemburu dengan Bidadari</strong></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Beberapa kesempatan sebelumnya, web <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">konsultasisyariah.com</a> membahas tentang jumlah istri penduduk surga. Linknya: <a title="jumalah istri anda di surga" href="http://www.konsultasisyariah.com/berapa-jumlah-istri-Anda-di-surga/" target="_blank">http://www.konsultasisyariah.com/berapa-jumlah-istri-Anda-di-surga/</a></p>
<p>Di situ disimpulkan bahwa jumlah minimal istri penduduk surga menurut salah satu riwayat adalah 2 istri. Bahkan menurut riwayat lain, masih ditambah 70 bidadari.<br />
<span id="more-17028"></span><br />
Sebagai wanita, mendengar suami berpoligami, tentunya akan muncul rasa cemburu. Jangankan 70 istri, mendengar suami mau poligami saja, istri sudah kebingungan bukan kepalang. Yang tidak lain, karena dorongan rasa cemburu. Dan itu hampir tidak mungkin bisa dihilangkan. Sampai tua dan bahkan sampai mati.</p>
<p>Mendengar jumlah istri yang banyak itu, para wanita akan membayangkan, bagaimana <a title="kesedihan dan rasa cemburunya" href="http://konsultasisyariah.com/mungkinkah-aku-cemburu-dengan-bidadari" target="_blank" rel="nofollow"><em>kesedihan dan rasa cemburunya</em></a>?</p>
<p>Dari: Imma, Jatim</p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><i>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</i></p>
<p>Perasaan cemburu merupakan bagian dari tabiat manusia. Tidak hanya terjadi pada wanita, namun juga terjadi pada lelaki. Sebagai janji Allah bagi penduduk surga, Allah akan memberikan beberapa istri kepadanya di surga. Tentu Anda bisa membayangkan, bagaimana dengan perasaan wanita. Betapa sedihnya ketika sang suami tercinta, yang saat ini mendampingi hidupnya tanpa ada pesaing lainnya, namun suatu saat nanti akan diperebutkan dengan oleh banyak wanita.</p>
<p>Namun satu catatan yang perlu Anda pahami, perasaan di atas adalah bayangan kita yang belum pernah mengintip indahnya surga. Dan tentu saja, yang namanya bayangan, belum pasti benarnya. Lebih-lebih, bayangan untuk sebuah suasana baru, yang sama sekali belum pernah terbesit dalam perasaan manusia. Surga nan penuh kenikmatan.</p>
<h3><b>Bayangan tentang Surga, Pasti Meleset</b></h3>
<p>Sehebat apapun bayangan Anda tentang surga, realita yang ada di surga pasti akan berbeda dengan apa yang Anda bayangkan. Anda yang saat ini mungkin sempat membayangkan, betapa sedih dan cemburunya Anda, ketika suami diperebutkan oleh bidadari indah nan jelita, yang semuanya menjadi pesaing Anda. Namun pastikan, bahwa bayangan Anda ini tidak akan sesuai dengan relita di surga. Karena bayangan apapun tentang surga, belum mewakili apa yang sejatinya terjadi di surga.</p>
<p>Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dalam sebuah hadis Qudsi, bahwa Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ</p>
<p>&#8220;<i>Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, surga yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah ada telinga yang mendengarkannya, dan belum pernah terbesit dalam hati manusia</i>.&#8221;</p>
<p>Kemudian Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> membaca firman Allah di surat As-Sajdah ayat 17,</p>
<p class="arab">فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p>&#8220;<i>Tidak ada jiwa yang mengetahui surga yang Aku rahasiakan untuk mereka, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan</i>.&#8221; (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, Turmudzi 3197, dan yang lainnya).</p>
<p>Untuk itu, Anda tidak perlu khawatir bawaan perasaan semacam ini hanya ada di dunia. Akan pupus setelah kita meninggalkan negeri fana ini. Bayangan kesedihan, cemburu, permusuhan, yang muncul di jiwa manusia, tidak akan berulang ketika mereka masuk surga.</p>
<h3><b>Mereka Telah Dibersihkan Sebelum Masuk Surga</b></h3>
<p>Diantara nikmat Allah yang diberikan kepada penduduk surga, Allah bersihkan mereka dari setiap kotoran hati ketika di dunia. Dari Abu Said al-Khudri <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab">يَخْلُصُ المُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الجَنَّةِ</p>
<p>&#8220;<i>Orang-orang mukmin akan dibebaskan dari neraka, kemudian mereka berhenti dikumpulkan di qantharah, tempat antara surga dan neraka. Kemudian ditegakkanlah qishash diantara mereka akibat kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Setelah dibersihkan dan disucikan, barulah mereka diizinkan masuk surga&#8230;</i>&#8221; (HR. Ahmad 11095 dan Bukhari 6535).</p>
<p>Setelah dibersihkan, mereka masuk surga dengan hati tanpa beban, hati yang bersih. Sirna sudah segala penyakit benci, dengki, hasad, sedih, bingung, yang dulu mereka alami di dunia. Dinukil dari Ibn Abbas dan Ali bin Abi Thalib <i>radhiyallahu ‘anhu</i>m, bahwa mereka menjelaskan,</p>
<p class="arab">أن أهل الجنة عندما يدخلون الجنة يشربون من عين فيذهب الله ما في قلوبهم من غل، ويشربون من عين أخرى فتشرق ألوانهم وتصفو وجوههم</p>
<p>Bahwa penduduk surga ketika hendak masuk surga, mereka minum mata air, kemudian Allah hilangkan segala penyakit kebencian dalam hati mereka. Kemudian mereka minum mata air yang lain, lalu kulit mereka bercahaya dan wajahnya bersinar cerah. (<i>at-Tadzkirah</i>, Qurthubi, hlm. 499)</p>
<h3><b>Tidak Ada Permusuhan dan Cemburu</b></h3>
<p>Meskipun suami Anda memliki 70 bidadari, Anda tidak akan diliputi rasa sedih dan cemburu. Semua itu telah Allah hilangkan. Yang Anda alami dan dialami oleh semua penduduk surga, mereka akan merasa menjadi makhluk paling bahagia.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p>وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الحُسْنِ، لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ وَلاَ تَبَاغُضَ، قُلُوبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ، يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا</p>
<p>&#8220;<i>&#8230;masing-masing mereka memiliki dua istri. Sumsum tulang betisnya kelihatan dibalik daging, karena saking indahnya. Tidak ada perselisihan dan permusuhan diantara mereka. Mereka sehati, senantiasa bertasbih mensucikan Allah, pagi dan sore</i>.&#8221; (HR. Bukhari 3245, Muslim 2843, dan yang lainnya).</p>
<p>Ini semua sebagaimana yang Allah tegaskan melalui ayat-Nya,</p>
<p>وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ</p>
<p>“<i>Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan</i>.” (QS. Al-Hijr: 47).</p>
<p><i>Allahu a&#8217;lam</i></p>
<h4><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mungkinkah-aku-cemburu-dengan-bidadari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Membuang Mushaf Alquran yang Tidak Terpakai</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/cara-membuang-mushaf-alquran-yang-tidak-terpakai/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/cara-membuang-mushaf-alquran-yang-tidak-terpakai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2013 23:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=15785</guid>
		<description><![CDATA[Membuang Mushaf Alquran yang tidak terpakai Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Ustad, yang ingin saya tanyakan apa hukumnya membuang ke tempat sampah atau juga membakar potongan atau kertas lama yang berisi ayat huruf..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Membuang Mushaf Alquran yang tidak terpakai</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum.</p>
<p>Ustad, yang ingin saya tanyakan apa hukumnya <em>membuang ke tempat sampah atau juga membakar potongan</em> atau kertas lama yang berisi ayat h<em>uruf Arab atau Alquran</em>, misalnya iqra, potongan kertas Alquran atau kata basmalah yang diprint. Dan apa solusi terbaik dengan kertas tersebut.<br />
<span id="more-15785"></span><br />
Terima kasih.</p>
<p>Dari: Nuraini</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam</p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah, amma ba&#8217;du</em></p>
<p>Ada bebarapa cara yang dijelaskan ulama,</p>
<p><strong>Pertama</strong>, <a title="mushaf" href="http://konsultasisyariah.com/cara-membuang-mushaf-alquran-yang-tidak-terpakai" target="_blank" rel="nofollow">Mushaf</a> bekas itu dikubur dalam tanah.</p>
<p>Ini adalah keterangan madzhab hanafi dan hambali.</p>
<p>Al-Hasfaki, ulama madzhab hanafi mengatakan,</p>
<p class="arab">الْمُصْحَفُ إذَا صَارَ بِحَالٍ لَا يُقْرَأُ فِيهِ : يُدْفَنُ ؛ كَالْمُسْلِمِ</p>
<p>&#8220;<em>Mushaf yang tidak lagi bisa terbaca, dikubur, sebagaimana seorang muslim</em>.&#8221; (<em>ad-Dur al-Mukhtar</em>, 1:191).</p>
<p>Ulama lain yang memberikan catatan kaki untuk <em>ad-Dur al-Mukhtar</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">أي يجعل في خرقة طاهرة ، ويدفن في محل غير ممتهن ، لا يوطأ</p>
<p>Maksudnya, lembaran mushaf itu diletakkan di kain yang suci, kemudian dikubur di tempat yang tidak dihinakan (seperti tempat sampah), dan tidak boleh diinjak.</p>
<p>Al-Bahuti mengatakan,</p>
<p>&#8220;Jika ada mushaf Alquran yang sudah usang maka dia dikubur, berdasarkan ketegasan dari Imam Ahmad. Imam Ahmad menyebutkan bahwa Abul Jauza mushafnya telah usang. Kemudian beliau menggali di tanah masjidnya lalu menanamnya dalam tanah.&#8221; (<em>Kasyaf al-Qana’</em>, 1:137)</p>
<p>Hal ini pula yang difatwakan Syaikhul Islam,</p>
<p class="arab">وأما المصحف العتيق والذي تَخرَّق وصار بحيث لا ينتفع به بالقراءة فيه ، فإنه يدفن في مكان يُصان فيه ، كما أن كرامة بدن المؤمن دفنه في موضع يصان فيه</p>
<p>Mushaf yang sudah tua atau rusak sehingga tidak bisa dibaca, dia kubur di tempat yang terlindungi. Sebagaimana kehormatan jasad seorang mukmin, dia harus dikubur di tempat yang terlindungi (bukan tempat kotor dan tidak boleh diinjak) (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 12:599).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, mushaf yang rusak itu dibakar.</p>
<p>Ini merupakan pendapat Malikiyah dan Syafiiyah. Tindakan ini meniru yang dilakukan oleh Khalifah Utsman <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, setelah beliau menerbitkan mushaf induk &#8216;Al-Imam&#8217;, beliau memerintahkan untuk membakar semua catatan mushaf yang dimiliki semua sahabat. Semua ini dilakukan Utsman untuk menghindari perpecahan di kalangan umat islam yang tidak memahami perbedaan cara bacaan Alquran.</p>
<p>Salah satu saksi sejarah, Mus&#8217;ab bin Sa&#8217;d mengatakan,</p>
<p class="arab">أدركت الناس متوافرين حين حرق عثمان المصاحف ، فأعجبهم ذلك ، لم ينكر ذلك منهم أحد</p>
<p>Ketika Utsman membakar mushaf, saya menjumpai banyak sahabat dan sikap Utsman membuat mereka heran. Namun tidak ada seorangpun yang mengingkarinya (HR. Abu Bakr bin Abi Daud, dalam <em>al-Mashahif</em>, hlm. 41).</p>
<p>Diantara tujuan <a title="membakar al-quran" href="http://konsultasisyariah.com/cara-membuang-mushaf-alquran-yang-tidak-terpakai" target="_blank" rel="nofollow"><strong>membakar Alquran</strong></a> yang sudah usang adalah untuk mengamankan firman Allah dan nama Dzat Yang Maha Agung dari sikap yang tidak selayaknya dilakukan, seperti diinjak, dibuang di tempat sampah atau yang lainnya.</p>
<p class="arab">وفى أمر عثمان بتحريق الصحف والمصاحف حين جمع القرآن جواز تحريق الكتب التي فيها أسماء الله تعالى ، وأن ذلك إكرام لها ، وصيانة من الوطء بالأقدام ، وطرحها في ضياع من الأرض</p>
<p>Perintah Utsman untuk membakar kertas mushaf ketika beliau mengumpulkan Alquran, menunjukkan bolehnya membakar kitab yang disitu tertulis nama-nama Allah ta&#8217;ala. Dan itu sebagai bentuk memuliakan nama Allah dan menjaganya agar tidak terinjak kaki atau terbuang sia-sia di tanah (<em>Syarh Shahih Bukhari</em>, 10:226)</p>
<p>Yang tidak boleh dilakukan</p>
<p>As-Suyuti menjelaskan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan,</p>
<p class="arab">إذا احتيج إلى تعطيل بعض أوراق المصحف لبلى ونحوه ، فلا يجوز وضعها في شق أو غيره ؛ لأنه قد يسقط ويوطأ ، ولا يجوز تمزيقها لما فيه من تقطيع الحروف وتفرقة الكلم ، وفي ذلك إزراء بالمكتوب &#8230; وإن أحرقها بالنار فلا بأس ، أحرق عثمان مصاحف كان فيها آيات وقراءات منسوخة ولم ينكر عليه</p>
<p>Jika dibutuhkan untuk menghancurkan sebagian kertas mushaf karena sudah usang atau sebab lainnya maka tidak boleh diselipkan di tempat tertentu, karena bisa jadi terjatuh dan diinjak. Tidak boleh juga disobek-sobek, karena akan memotong-motong hurufnya tanpa aturan dan merusak tatanan kalimat, dan semua itu termasuk sikap tidak menghormati tulisan Alquran… jika dibakar denagn api, hukumnya boleh. Utsman membakar mushaf yang ada tulisan ayat Alquran dan ayat yang telah dinasakh (dihapus), dan tidak ada yang mengingkari beliau (<em>al-Itqan fi Ulum Alquran</em>, 2:459).</p>
<p>Baik yang menyarankan dikubur atau dibakar, keduanya memiliki alasan yang kuat. Yang lebih tepat adalah memilih cara yang paling efektif, yang paling cepat menghilangkan hurufnya dan paling aman dari sikap tidak hormat.</p>
<p>Ibnu Utsaimin mengatakan,</p>
<p class="arab">التمزيق لابد أن يأتي على جميع الكلمات والحروف ، وهذه صعبة إلا أن توجد آلة تمزق تمزيقاً دقيقاً جداً بحيث لا تبقى صورة الحرف..</p>
<p>Menghancurkan mushaf harus sampai lembut, sehingga hancur semua kata dan huruf. Dan ini sulit, kecuali jika ada alat untuk menghancurkan yang lembut, sehingga tidak ada lagi tulisan hurup yang tersisa… (<em>Fatawa Nur ala ad-Darbi</em>, 2:384).</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<h4><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="rubrik kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/cara-membuang-mushaf-alquran-yang-tidak-terpakai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imam Shalat Sambil Membaca Mushaf</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/imam-shalat-sambil-membaca-mushaf/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/imam-shalat-sambil-membaca-mushaf/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2012 08:16:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=13032</guid>
		<description><![CDATA[Imam Shalat Tarawih Membaca Surat dengan Melihat Mushaf Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Di kampung saya, terdapat masjid yang ketika shalat terawih di bulan puasa, imam yang memimpin shalat membaca surat..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Imam Shalat Tarawih Membaca Surat dengan Melihat Mushaf</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Di kampung saya, terdapat masjid yang ketika <strong>shalat terawih</strong> di <strong>bulan puasa</strong>, imam yang memimpin shalat <strong>membaca</strong> surat pendek setelah al-Fatihah dengan <strong>melihat Alquran</strong>. Tujuan imam dan pengurus masjid disana, membaca sambil melihat surat <strong>Alquran</strong> itu adalah untuk menghatamkan bacaan Alquran di dalam shalat terawih berjamaah selama sebulan.<br />
<span id="more-13032"></span><br />
Hal ini dilakukan karena memang jamaah di masjid ini tidak ada yang hatam Alquran.</p>
<p>Pertanyaan saya, apa ada dalilnya seorang imam yang memimpin shalat berjamaah membaca surat pendek itu dengan melihat Alquran terlepas dari tujuan yang dimaksud? Kami mohon penjelasnnya beserta dalilnya dan mohon penjelaasn apakah hal ini sebaiknya boleh atau tidak dilakukan oleh seorang Imam. terima kasih.</p>
<p>Dari: Muhammad</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh</p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du</em></p>
<p>Kasus imam yang memimpin shalat jamaah sambil membawa atau membaca mushaf, ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Al-Kasani menyebutkan,</p>
<p class="arab">ولو قرأ المصلي من المصحف فصلاته فاسدة عند أبي حنيفة. وعند أبي يوسف و محمد: تامة ويكره. وقال الشافعي: لا يكره.</p>
<p>“Jika ada orang yang shalat sambil membaca mushaf, maka shalatnya batal menurut Imam Abu Hanifah, sementara menurut Abu Yusuf dan Muhammad asy-Syaibani (dua murid senior Imam Abu Hanifah), shalatnya sah, namun makruh. Kemudian Imam asy-Syafii berpendapat, “Tidak makruh.” (<em>Bada’i ash-Shana’i</em>, 1:236).</p>
<p>Selanjutnya al-Kasani menyebutkan alasan masing-masing pendapat,</p>
<p>Abu Hanifah menganggap ini membatalkan shalat karena dua hal:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, bahwa orang yang shalat sambil membawa mushaf, membolak-balik halaman mushaf, melihat mushaf, dst. adalah gerakan yang terlalu banyak, padahal itu bukan bagian dari shalat. Sementara itu juga tidak diperlukan ketika shalat, sehingga hal ini merusak shalatnya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, orang yang menjadi imam sambil membawa mushaf, dia membaca teks dari mushaf. Padahal orang yang membaca teks termasuk belajar, sebagaimana dia belajar dari teks yang lain, sehingga ini bisa membatalkan shalat.</p>
<p>Sementara ulama yang tidak menghukumi batal beralasan dengan hadis tentang Dzakwan (bekas budak Aisyah)</p>
<p class="arab">أن مولى لعائشة يقال له: ذكوان كان يؤم الناس في رمضان وكان يقرأ من المصحف</p>
<p>“Bahwa mantan budak Aisyah, yang namanya Dzakwan, beliau mengimami masyarakat ketika Ramadhan dan beliau sambil membaca mushaf.”</p>
<p>Kemudian, melihat mushaf termasuk ibadah, membaca mushaf juga ibadah, dan menggabungkan satu ibadah dengan ibadah yang lain, tidak menyebabkan batal. Hanya saja, semacam ini dimakruhkan, karena menyerupai Ahli kitab (Yahudi dan Nasrani, yang shalat dengan membaca kitabnya).</p>
<p>Sedangkan Imam asy-Syafi’i beralasan bahwa itu bukan <em>tasyabbuh</em> (menyerupai) dengan orang kafir, karena kita juga makan apa yang mereka makan, dan itu tidak disebut meniru kebiasaan ahli kitab. (<em>Bada’i ash-Shana’i</em>, 1:236)</p>
<p>Badruddin Al-Aini mengatakan:</p>
<p>“Zahirnya menunjukkan bolehnya membaca dari mushaf ketika shalat. Ini merupakan pendapat Ibnu Sirin, Hasan al-Bashri, al-Hakam, dan Atha’. Anas bin Malik juga pernah menjadi imam, sementara ada anak di belakang beliau yang membawa mushaf. Apabila beliau lupa satu ayat, maka si anak tadi membukakan mushaf untuk beliau. Imam Malik juga membolehkannya ketika tarawih, sementara an-Nakhai, Said bin Musayib, dan asy-Sya’bi membencinya. Mereka mengatakan: ‘Itu seperti perbuatan orang Nasrani.’” (<em>Umdatul Qori</em>, <em>Syarh Shahih Bukhari</em>, 5:225)</p>
<p>Lajnah Daimah pernah mendapatkan pertanyaan semacam ini, selanjutnya mereka menjawab:</p>
<p>Ulama berbeda pendapat mengenai hukum kasus ini. Sebagian membencinya, dan mayoritas ulama membolehkannya. Dalam kitab “<em>Qiyam al-Lail wa Qiyam Ramadhan</em>” karya al-Maruzi dinyatakan:</p>
<p class="arab">عن ابن أبي مليكة أن ذكوان أبا عمرو كانت عائشة أعتقته عن دبر فكان يؤمها ومن معها في رمضان في المصحف</p>
<p>Dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Dzakwan (Abu Amr) –budak yang dijanjikan bebas oleh Aisyah jika beliau (Aisyah) meninggal- mengimami Aisyah dan orang-orang bersama Aisyah di bukan Ramadhan dengan membaca mushaf. (HR. Bukhari secara Muallaq, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf)</p>
<p>Ibnu Wahb mengatakan:</p>
<p>Imam Malik ditanya, ada sebuah kampung yang masyarakatnya tidak ada yang hafal Alquran. Bolehkah imam membaca mushaf ketika jamaah? Imam Malik menjawab: “Tidak masalah.”</p>
<p>Kemudian, diantara ulama yang membenci, imam shalat sambil membaca mushaf adalah Mujahid, Ibrahim, dan Sufyan. Mereka membenci seseorang mengimami shalat ketika Ramadhan sambil membaca mushaf, khawatir termasuk <em>tasyabbuh</em> dengan ahli kitab.</p>
<p>Sementara alasan ini dibantah oleh al-Maruzi, dengan mengatakan:</p>
<p>Membaca Alquran terlalu jauh untuk disebut meniru ahli kitab, dibandingkan membaca buku-buku matematika. Karena membaca Alquran termasuk amal shalat, sementara buku-buku berhitung tidak termasuk bagian shalat.</p>
<p>Maksud al-Maruzi, sebagaimana kita boleh membaca buku umum yang bermanfaat dan itu tidak teramasuk <em>tasyabbuh</em> terhadap ahli kitab, maka mmebaca Alquran lebih layak untuk tidak disebut meniru kebiasaan orang kafir. (<em>Fatwa Lajnah Daimah</em>, 579).</p>
<p>Sementara itu, Imam Ibnu Baz berpendapat bahwa hal semacam ini boleh jika dibutuhkan. Seperti shalat malam ketika Ramadhan yang panjang bagi imam yang tidak hafal Alquran. Hanya saja beliau menyarakan agar imam berusaha untuk menghafalkan Alquran, sehingga tidak perlu membawa Alquran ketika menjadi imam. (<em>Kitab ad-Dakwah</em>, 2:116)</p>
<p>Inilah saran yang tepat, agar kita bisa terbebas dari perselisihan pendapat di atas dan berada di posisi yang lebih selamat.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="imam taraweh" href="http://konsultasisyariah.com/imam-shalat-sambil-membaca-mushaf" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/imam-shalat-sambil-membaca-mushaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan dan Motivasi Membaca Alquran di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-dan-motivasi-membaca-alquran-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-dan-motivasi-membaca-alquran-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2012 06:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=12884</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran, maka dari itu hendaknya seorang muslim memberikan porsi perhatian yang lebih terhadap Alquran di bulan ini. Mengenai keutamaan membaca Alquran Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran</strong>, maka dari itu hendaknya seorang muslim memberikan porsi perhatian yang lebih terhadap Alquran di bulan ini. Mengenai keutamaan membaca Alquran Allah <em>Subhaanahu wa Ta’aala</em> berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.&#8221; </em>(QS. Faathir: 29-30)<em></em></p>
<p>Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin menjelaskan bahwa membaca kitab Allah ada dua macam:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> membaca hukmiyyah, yakni membenarkan berita-berita yang ada dan melaksanakan hukumnya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> membaca lafzhiyyah, yakni membaca lafaznya. Telah datang nash-nash yang cukup banyak menerangkan tentang keutamaannya, baik membaca secara umum isi Alquran, surat tertentu maupun ayat tertentu (lih. <em>Majaalis Syahri Ramadhan</em>, tentang Fadhlu tilaawatil Qur&#8217;aan).</p>
<h2>Keutamaan Membaca Alquran</h2>
<p>Berikut ini akan kami sebutkan keutamaan membaca Alquran:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه</p>
<p>&#8220;<em>Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya</em>.&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>Hal itu dikarenakan Alquran adalah firman Allah Rabbul &#8216;aalamin. Alquran merupakan ilmu yang paling utama dan paling mulia, oleh karena itu orang yang mempelajari dan mengajarkannya adalah orang yang terbaik di sisi Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Alquran adalah sebaik-baik ucapan</strong></p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran.&#8221; </em>(QS. Az Zumar: 23)<em></em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">« أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »</p>
<p>&#8220;<em>Amma ba&#8217;du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk urusan adalah perbuatan yang diada-adakan (dalam agama) dan semua bid&#8217;ah adalah sesat</em>.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Imam Syafi&#8217;i dan ulama lainnya berpendapat bahwa membaca Alquran merupakan dzikr yang paling utama.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Orang yang mahir membaca Alquran akan bersama para malaikat</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ</p>
<p>“<em>Orang yang lancar membaca Alquran akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Alquran dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Orang yang tersendat-sendat dalam membaca Alquran mendapatkan dua pahala adalah hasil dari membaca Alquran dan karena telah bersusah payah untuknya.</p>
<p><strong>4.  </strong><strong>Orang yang membaca Alquran diibaratkan seperti buah utrujjah yang luarnya wangi dan dalamnya manis.</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ (البخاري)</p>
<p>“<em>Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran adalah seperti buah utrujjah; aromanya wangi dan rasanya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma; tidak ada wanginya, tetapi rasanya manis. Orang munafik yang membaca Alquran adalah seperti tumbuhan raihaanah (kemangi); aromanya wangi tetapi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Alquran adalah seperti tumbuhan hanzhalah; tidak ada wanginya dan rasanya pahit</em>.” (HR. Bukhari-Muslim)</p>
<p><strong>5.  </strong><strong>Alquran akan memberi syafaat kepada pembacanya</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ</p>
<p>“Bacalah Alquran, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>6. M</strong><strong>embaca satu atau dua ayat Alquran lebih baik daripada memperoleh satu atau dua ekor onta yang besar</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda kepada para sahabat:</p>
<p class="arab">« أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ » . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ « أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ » .</p>
<p>“<em>Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik daripada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan (jika lebih) sesuai jumlah itu dari beberapa ekor onta</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>7. R</strong><strong>ahmat dan ketentraman akan turun ketika berkumpul membaca Alquran</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ</p>
<p>&#8220;<em>Tidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketentraman kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya</em>.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p><strong>8. </strong><strong>Karena kemuliaan Alquran, tidak pantas bagi yang telah menghapalnya mengatakan &#8220;Saya lupa ayat ini dan itu&#8221;, tetapi hendaknya mengatakan &#8220;Ayat ini telah terlupakan.&#8221;</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">لا يقُلْ أحْدُكم نِسيَتُ آية كَيْتَ وكيْتَ بل هو نُسِّيَ</p>
<p>&#8220;<em>Janganlah salah seorang di antara kamu berkata: &#8220;Saya lupa ayat ini dan ini&#8221;, bahkan ayat itu telah dilupakan</em>.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin berkata, &#8220;Hal itu karena ucapan &#8220;saya lupa&#8221; terkesan adanya sikap tidak peduli dengan ayat Alquran yang dihapalnya sehingga ia pun melupakannya.&#8221;</p>
<p><strong>9. </strong><strong>Membaca satu huruf Alquran akan memperoleh sepuluh kebaikan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf</em>.” (HR. Tirmidzi)</p>
<p><strong>10. </strong><strong>Alquran merupakan tali Allah</strong></p>
<p>Ali bin Abi Thalib berkata, “Alquran adalah Kitabullah, di dalamnya terdapat berita generasi sebelum kalian, berita yang akan terjadi setelah kalian dan sebagai hukum di antara kalian. Alquran adalah keputusan yang serius bukan main-main, barangsiapa meninggalkannya dengan sombong pasti dibinasakan Allah, barangsiapa mencari petunjuk kepada selainnya pasti disesatkan Allah. Dialah tali Allah yang kokoh,  peringatan yang bijaksana dan jalan yang lurus. Dengan Alquran hawa nafsu tidak akan menyeleweng dan lisan tidak akan rancu. Paraulama tidak akan merasa cukup (dalam membacanya dan mempelajarinya), Alquran tidak akan usang karena banyak pengulangan, dan tidak akan habis keajaibannya. Dialah Alquran, di mana jin tidak berhenti mendengarnya sehingga mereka mengatakan; “<em>Sungguh kami mendengar Alquran yang penuh keajaiban, menunjukkan ke jalan lurus, maka kami beriman kepadanya&#8221;</em>. Barangsiapa yang berkata dengannya pasti benar, barangsiapa beramal dengannya pasti diberi pahala, barangsiapa berhukum dengannya pastilah adil, dan barangsiapa mengajak kepadanya pastilah ditunjuki ke jalan yang lurus.&#8221;</p>
<p><strong>11. </strong><strong>Pembaca Alquran akan ditinggikan derajatnya</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا</p>
<p>“<em>Akan dikatakan kepada pembaca Alquran “Bacalah dan naiklah (ke derajat yang tinggi), serta tartilkanlah sebagaimana kamu mentartilkannya ketika di dunia, karena kedudukanmu pada akhir ayat yang kamu baca</em>.” (Hasan shahih, HR. Tirmidzi)</p>
<p><strong>12. </strong><strong>Dengan Alquran, Allah meninggikan suatu kaum dan dengannya pula Allah merendahkan suatu kaum</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum karena Alquran ini dan merendahkan juga karenanya</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Yakni bagi orang yang mempelajari Alquran dan mengamalkan isinya, maka Allah akan meninggikannya. Sebaliknya, bagi orang yang mengetahuinya, namun malah mengingkarinya, maka Allah akan merendahkannya.</p>
<p><strong>13. </strong><strong>Orang yang membaca Alquran secara terang-terangan seperti bersedekah secara terang-terangan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">اَلْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَ الْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ</p>
<p>&#8220;<em>Orang yang membaca Alquran terang-terangan seperti orang yang bersedekah terang-terangan, dan orang yang membaca Alquran secara tersembunyi seperti orang yang bersedekah secara sembunyi</em>.&#8221; (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa&#8217;i, lihat Shahihul Jaami&#8217;: 3105)</p>
<p>Oleh karena itu, bagi orang yang khawatir riya&#8217; lebih utama membacanya secara sembunyi. Namun jika tidak khawatir, maka lebih utama secara terang-terangan.</p>
<p><strong>14. </strong><strong>Para penghapal Alquran dimuliakan oleh Islam</strong></p>
<p>Di antara bentuk pemuliaan Islam kepada mereka adalah:</p>
<ul>
<li>Mereka lebih berhak diangkat menjadi imam</li>
</ul>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “<em>Hendaknya yang mengimami suatu kaum itu orang yang paling banyak (hapalan) terhadap Kitab Allah Ta’ala (Alquran). Jika mereka sama dalam hapalan, maka yang lebih mengetahui tentang sunah. Jika mereka sama dalam pengetahuannya tentang sunah, maka yang paling terdepan hijrahnya. Jika mereka sama dalam hijrahnya, maka yang paling terdepan masuk Islamnya –dalam riwayat lain disebutkan “Paling tua umurnya”-, janganlah seorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasaannya, dan janganlah ia duduk di tempat istimewa yang ada di rumah orang lain kecuali dengan izinnya.</em>” (HR. Muslim)</p>
<ul>
<li>Mereka lebih didahulukan dimasukkan ke dalam liang lahad, jika banyak orang yang meninggal</li>
</ul>
<p>Pada saat perang Uhud banyak para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang gugur, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar yang lebih didahulukan dimasukkan ke liang lahad adalah para penghapal Alquran.</p>
<ul>
<li>Berhak mendapatkan penghormatan di masyarakat</li>
</ul>
<p>Oleh karena itu, di zaman Umar bin Khaththab <em>radhiallahu ‘anhu</em>, para penghapal Alquran duduk di majlis musyawarahnya.</p>
<ul>
<li>Berhak diangkat menjadi pimpinan safar</li>
</ul>
<p>Imam Tirmidzi meriwayatkan –dan dia menghasankannya- bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah mengirim utusan beberapa orang, lalu beliau meminta masing-masing untuk membacakan Alquran, maka mereka pun membacakan Alquran. Ketika itu ada anak muda yang ternyata lebih banyak hapalannya, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata kepadanya: &#8220;<em>Surat apa saja yang kamu hapal, wahai fulan?</em>&#8221; Ia menjawab: &#8220;Saya hapal surat ini, itu dan surat Al Baqarah.&#8221; Beliau berkata: &#8220;<em>Apakah kamu hapal surat Al Baqarah?</em>&#8221; Ia menjawab: &#8220;Ya.&#8221; Maka Beliau bersabda: &#8220;<em>Berangkatlah, kamulah ketuanya</em>.&#8221;</p>
<p>Ketika itu ada seorang yang terkemuka di antara mereka berkata: &#8220;Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku untuk mempelajari suratAl Baqarah selain karena khawatir tidak sanggup mengamalkannya.&#8221; Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ، وَاقْرَأُوْهُ فَاِنَّ مَثَلُ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوْحُ رِيْحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَمَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ أُوْكِىَ عَلَى مِسْكٍ</p>
<p>&#8220;<em>Pelajarilah Alquran dan bacalah, karena perumpamaan Alquran bagi orang yang mempelajarinya kemudian membacanya seperti kantong yang penuh dengan minyak wangi, dimana wanginya semerbak ke setiap tempat, dan perumpamaan orang yang mempelajarinya kemudian tidur (tidak mengamalkannya) padahal Alquran ada di hatinya seperti kantong yang berisi minyak wangi namun terikat</em>.&#8221;</p>
<p><strong>15. </strong><strong>Tanda cinta kepada Allah adalah mencintai Alquran</strong></p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah: &#8220;Jika ia mencintai Alquran, berarti ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.&#8221; (HR. Thabraniy dengan isnad, di mana para perawinya tsiqah)</p>
<p>Utsman bin &#8216;Affan berkata, &#8220;Kalau sekiranya hati kita bersih, tentu tidak akan kenyang (membaca) kitabullah.&#8221;</p>
<p>Marwan bin Musa</p>
<p><strong>Maraaji&#8217;:</strong></p>
<ul>
<li>Fadhlu tilawatil Qur&#8217;an (Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin)</li>
<li>Mus-haf Ar Rusydiy</li>
<li>Kedudukan Alquran di hati Muslim (M. Mu&#8217;iinudinillah, MA)</li>
<li>dll.</li>
</ul>
<p>Oleh: <em>Marwan bin Musa</em></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-dan-motivasi-membaca-alquran-di-bulan-ramadhan" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-dan-motivasi-membaca-alquran-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Itu Shalat Awwabin?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-shalat-awwabin/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-shalat-awwabin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jun 2012 02:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=12140</guid>
		<description><![CDATA[Adakah Shalat Awwabin? Pertanyaan: Apakah ada dalil, baik dalam Alquran maupun dalam hadis untuk shalat awwabin? Wassalam Dari: Mardona Jawaban: Shalat awwabin adalah istilah untuk shalat dhuha yang dikerjakan di..]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Adakah Shalat Awwabin?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah ada dalil, baik dalam Alquran maupun dalam hadis untuk <strong>shalat awwabin</strong>?</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Dari: Mardona<br />
<span id="more-12140"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><strong>Shalat awwabin</strong> adalah istilah untuk shalat dhuha yang dikerjakan di saat matahari sudah panas (di akhir waktu dhuha) atau shalat dhuha secara umum. Namun ada anggapan dari sebagian orang yang menamakan shalat sunah yang dilaksanakan antara maghrib dan isya&#8217; dengan istilah shalat awwabin. Benarkah penggunaan istilah ini?</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Tidak ada yang bisa menjaga shalat dhuha kecuali orang awwab (sering bertaubat). Dan dia (dhuha) adalah shalat awwabin (shalatnya orang yang suka bertaubat)</em>.&#8221; (<em>Silsilah As-Shahihah,</em> no. 703).</p>
<p>Syaikh Al-Albani mengatakan, &#8220;Dalam hadis ini terdapat bantahan bagi orang yang menamakan shalat enam rakaat setelah maghrib dengan &#8220;Shalat Awwabin&#8221;, karena penamaan ini tidak ada asalnya.&#8221; (<em>Shahih Targhib wa Tarhib</em>, 1:423).</p>
<p>Terdapat beberapa hadis yang menganjurkan shalat sunah antara magrib dan isya, diantaranya hadis yang diriwayatkan An-Nasa’i, dari Hudzaifah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan, “Saya mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan saya shalat magrib bersama beliau. Kemudian beliau shalat (sunah) sampai isya. Al-Mundziri dalam <em>At-Targhib wa Tarhib</em> menyatakan, sanad hadis ini jayid.</p>
<p>Setelah membawakan berbagai dalil tentang anjuran shalat sunah antara magrib dan isya, As-Syaukani mengatakan:</p>
<p>“Ayat dan hadis yang disebutkan menunjukkan disyaratkannya memperbanyak shalat antara magrib dan isya. Al-iraqi mengatakan, ‘Di antara sahabat yang shalat antara magrib dan isya adalah Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Salman Al-Farisi, dan Ibnu Malik dari kalangan Anshar. Kemudian di kalangan tabi’in, ada Al-Aswad bin Yazid, Utsman An-Nahdi, Ibnu Abi Mulaikah, Said bin Jubair, Ibnul Munkadir, Abu Hatim, Abdullah bin Sikkhir, Ali bin Husain, Abu Abdi Rahman Al-Uhaili, Qodhi Syuraih, dan Abdullah bin Mughaffal. Sementara ulama yang juga merutinkannya adalah Sufyan At-Tsauri. (<em>Nailul Authar</em>, 3:60)</p>
<p>Sementara ulama dari empat mazhab menegaskan dianjurkannya melaksanakan shalat antara magrib dan isya, berdasarkan hadis dan praktik para sahabat. Bahkan ulama Mazhab Hambali menyebutnya sebagai <em>qiyamul lail</em>. Karena waktu malam itu antara magrib sampai subuh. Dari sinilah, sebagian ulama menyebut shalat antara magrib dan isya sebagai shalat al-awabin.</p>
<p>Dalam <em>Mughni Al-Muhtaj</em> dinyatakan:<br />
Di antara shalat sunah adalah shalat awwabin. Dinamakan juga dengan shalat al-ghaflah (waktu lalai), karena umumnya orang lalai dari shalat ini disebabkan makan malam, tidur, atau semacamnya. Jumlahnya 20 rakaat, antara magrib dan isya. Al-Mawardi mengatakan, “Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melakukannya dan beliau menyatakan, ‘Ini adalah shalat awwabin’. Disimpulkan dari hadis ini dan hadis dari Hakim, bahwa istilah shalat awabin bisa digunakan untuk menyebut shalat antara maghrib dan isya dan shalat dhuha”. (<em>Mughni Al-Muhtaj</em>, 3:151)</p>
<p>Hanya saja, hadis yang berisi pernyataan bahwa shalat sunah antara maghrib dan isya sebagai shalat awwabin, termasuk hadis yang dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Hadis tersebut didhaifkan Al-Albani, karena hadis tersebut termasuk hadis mursal.</p>
<p><em>Allah a’lam</em></p>
<p>Disadur: Fatawa Syabakah islamiyah, no. 27572</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/wwabin" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/apakah-shalat-awwabin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.313 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2013-06-19 05:14:03 -->
