<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; AL-QURAN</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/al-quran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 May 2012 01:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11468</guid>
		<description><![CDATA[Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Ustadz Bagaimana Derajat Hadist ini: Menurut Ibnu Abidin yang sebaiknya dibaca pada shalat dhuha adalah surat Asy-Syam pada rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua. Hal ini berdasarkan riwayat dari Uqban ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum Ustadz</p>
<p>Bagaimana Derajat Hadist ini:<br />
Menurut Ibnu Abidin yang sebaiknya dibaca pada <strong>shalat dhuha</strong> adalah surat Asy-Syam pada rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua.</p>
<p>Hal ini berdasarkan riwayat dari Uqban bin Amir, &#8220;Kami diperintahkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk shalat dhuha dengan membaca sejumlah surat. Di antaranya Asy-Syams dan Adh-Dhuha.&#8221;</p>
<p>Sementara dalam <em>Nihayatul Muhtaj</em> disebutkan bahwa yang lebih utama membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas karena surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Alquran dan Al-Kafirun setara dengan seperempat Alquran.</p>
<p>Ana kutip dari :<br />
1. http://anggrafansclub.wordpress.com/2012/01/23/apakah-ada-bacaan-surat-khusus-dalam-shalat-dhuha/</p>
<p>2. http://www.syariahonline.com/v2/shalat/2479-surat-yang-dibaca-dalam-shalat-dhuha.html</p>
<p>Dari: Muhammad Nawir<br />
<span id="more-11468"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam<br />
<em>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah&#8230;</em></p>
<h3>Bacaan Sholat Dhuha</h3>
<p>Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan untuk membaca surat As Syams pada rakaat pertama dan membaca surat Ad dhuha pada rakaat kedua. Hadis tersebut berbunyi:</p>
<p class="arab">صلوا ركعتي الضحى بسورتيها : (والشمس وضحاها) ، و (الضحى).</p>
<p>&#8220;<em>Shalatlah dua rakaat dhuha dengan membaca dua surat dhuha, yaitu surat Was syamsi wadhuhaa haa dan surat Adh dhuha.</em>&#8221;</p>
<p>Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan: &#8220;<em>Barangsiapa yang mengamalkannya maka dia diampuni</em>.&#8221;</p>
<p>Hadis di atas diriwayatkan oleh Ar Ruyani dalam <em>Musnad­-</em>nya dan Ad Dailami (2:242) dari jalur Musyaji&#8217; bin &#8216;Amr. Hadis ini juga disebutkan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam <em>Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari</em> dan tidak dikomentari. Beliau hanya menyatakan bahwa bacaan surat tersebut ada kesesuaian bacaan dengan shalat yang dikerjakan. Namun yang benar, hadis di atas adalah hadis palsu. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Albani, beliau mengatakan: &#8220;Hadis ini palsu, cacatnya ada pada Musyaji&#8217; bin Amr. Ibn Ma&#8217;in berkomentar tentang Musyaji&#8217;: &#8220;yang saya tahu dia (musyaji&#8217;) adalah seorang pendusta.&#8221; (<em>Silsilah Hadis Dhaif dan Palsu</em>, hadis ke-3774).</p>
<p>Hadis ini juga didhaifkan oleh Al Munawi dalam <em>Faidlul Qodir</em> dengan alasan adanya perawi yang bernama Musyaji&#8217; bin Amr. Imam Ad Dzahabi dalam <em>Ad Dlu&#8217;afa&#8217;</em> mengatakan dengan menukil perkataan Ibn Hibban: &#8220;Dia memalsukan hadis dari Ibn Lahi&#8217;ah dan dia adalah dhaif.&#8221; (<em>Faidlul Qodir</em>, 4:201).</p>
<p>Dari dua penjelasan ini, dapat diambil kesimpulan dengan yakin bahwa hadis yang menganjurkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu adalah hadis dhaif. Artinya tidak ada anjuran untuk mengkhususkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu, baik di rakaat pertama, rakaat kedua, maupun doa setelah shalat dhuha.</p>
<p>Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah ibadah yang penting untuk diketahui:</p>
<p>&#8220;Membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak dengan tata cara tertentu –misalnya waktu, tempat, bacaan, jumlah, dan yang lainnya- tanpa ada keterangan dalil yang shahih termasuk salah satu bentuk bid&#8217;ah.&#8221; (<em>Qowa’id Ma’rifatil Bida’</em>, Hal. 52)</p>
<p>Karena hadis yang dijadikan dalil untuk menetapan dua surat di atas adalah hadis palsu maka tidak selayaknya dijadikan pegangan untuk mengkhususkan bacaan tertentu dalam shalat dhuha. Karena hadis palsu bukanlah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sementara mengkhususkan bacaan tertentu untuk ibadah yang sifatnya umum (tidak ditentukan bacaannya) padahal tidak ada dasarnya, termasuk salah satu perbuatan bid&#8217;ah. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>As Syaikh Ibn Baz <em>rahimahullah</em> pernah ditanya tentang bacaan surat As Syamsi dan Ad dhuha ketika shalat dhuha. Beliau menjawab:</p>
<p>&#8220;Adapun yang sesuai sunah, engkau membaca surat yang mudah menurutmu setelah membaca Al Fatihah. Dalam bacaan tersebut tidak ada batasan tertentu, karena yang wajib hanya Al Fatihah sedangkan tambahannya adalah sunah. Maka jika setelah Al Fatihah engkau membaca surat As Syamsi, Al Lail, Ad dhuha, Al Insyirah, dan surat-surat yang lainnya, ini adalah satu hal yang baik.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa dan Maqalat Ibn Bazz</em>, 11).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Biats (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/surat-yang-dibaca-ketika-shalat-dhuha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Membuka Praktik Ruqyah</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-membuka-praktik-ruqyah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-membuka-praktik-ruqyah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2012 23:57:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10392</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Membuka Praktik Ruqyah Pertanyaan: Syaikh Shaleh bin Fauzan ditanya: Apa pendapat Syaikh tetang orang yang membuka praktik pengobatan dengan bacaan ruqyah? Jawaban: Ini tidak boleh dilakukan, karena membuka pintu fitnah, membuka pintu usaha bagi yang berusaha melakukan tipu muslihat. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Membuka Praktik Ruqyah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Shaleh bin Fauzan ditanya: Apa pendapat Syaikh tetang orang yang membuka praktik pengobatan dengan bacaan ruqyah?<br />
<span id="more-10392"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Ini tidak boleh dilakukan, karena membuka pintu fitnah, membuka pintu usaha bagi yang berusaha melakukan tipu muslihat. Ini bukanlah perbuatan <em>as-salafush shalih</em> -membuka tempat praktik-. Melebarkan sayap dalam hal ini akan meimbulkan kejahatan, kerusakan masuk di dalamnya dan ikut serta di dalamnya orang yang tidak baik. Karena manusia dipengaruhi oleh sifat tamak, ingin menarik hati manusia kepada mereka, kendati dengan melakukan berbagai hal yang diharamkan. Dan tidak boleh dikatakan, “Ini adalah orang shaleh,” karena manusia mendapat fitnah, semoga Allah memberi perlindungan. Walaupun dia seorang yang shalih maka membuka pintu ini tetap tidak boleh.<br />
(<em>Al-Muntaqa min Fatawa Alu Fauzan</em>, Jilid:II Hal. 148).</p>
<p>Sumber: Fa<em>twa-Fatwa Terkini Jilid 3</em>, Darul Haq Cetakan VI 2011</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-membuka-praktik-ruqyah" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/hukum-membuka-praktik-ruqyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tergesa-gesa Dalam Mengeluarkan Fatwa</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/tergesa-gesa-dalam-mengeluarkan-fatwa/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/tergesa-gesa-dalam-mengeluarkan-fatwa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 05:12:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10644</guid>
		<description><![CDATA[Tergesa-gesa Dalam Mengeluarkan Fatwa Pertanyaan: Ketika dilontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan syariat pada suatu majlis, umpamanya, orang-orang awam berlomba-lomba mengeluarkan fatwa dan mengemukakan pendapat dalam masalah tersebut yang biasanya tidak berdasarkan ilmu. Apa komentar Syaikh yang mulia mengenai fenomena ini? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tergesa-gesa Dalam Mengeluarkan Fatwa</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Ketika dilontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan syariat pada suatu majlis, umpamanya, orang-orang awam berlomba-lomba <strong>mengeluarkan fatwa</strong> dan mengemukakan pendapat dalam masalah tersebut yang biasanya tidak berdasarkan ilmu. Apa komentar Syaikh yang mulia mengenai fenomena ini? Dan apakah ini merupakan kebaikan terhadap Allah dan Rasul-Nya?<br />
<span id="more-10644"></span><br />
<strong>Jawab</strong><strong>an:</strong></p>
<p>Sebagaimana diketahui bahwa seseorang tidak boleh berbicara tentang masalah agama Allah tanpa berdasarkan ilmu, karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَالَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَالاَتَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui’</em>.” (QS. Al-A’raf: 33)</p>
<p>Hendaknya seseorang bersikap hati-hati dan takut berkata atas nama Allah tanpa berdasarkan ilmu. Ini tidak termasuk perkara duniawi yang merupakan medan akal. Bahkan, sekalipun mengenai perkara duniawi yang merupakan medan akal, hendaknya seseorang berhati-hati (tidak terburu-buru) dan perlahan-lahan karena bisa jadi jawaban dirinya akan menjadi jawaban yang lainnya, sehingga seolah-olah ia menetapkan dari dua jawaban dan ungkapannya menjadi ungkapan terakhir yang menentukan. Banyak orang yang berbicara dengan pendapat mereka, maksud saya, dalam perkara-perkara yang bukan syariat.</p>
<p>Jika ia perlahan-lahan dan mengakhirkan pengungkapannya, akan tampak yang benar baginya –dari banyaknya pendapat yang ada- yang sebelumnya tidak terbesit di dalam benaknya. Karena itu, saya sarankan kepada setiap orang, hendaklah perlahan-lahan untuk menjadi pembicara yang terakhir sehingga ia seolah-olah menjadi penentu di antara pendapat-pendapat tersebut. Sikap ini pun untuk mengetahui ragamnya pendapat yang belum diketahuinya sebelum ia mendengarkannya saat itu. Demikian ini untuk perkara-perkara duniawi. Adapun untuk perkara-perkara agama, seseorang sama sekali tidak boleh berpendapat kecuali ilmu yang diketahuinya dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya atau pendapat-pendapat para ahlul ilmi.</p>
<p>Allah wa Majahim fi Mizaniy Syari’ah, hal 44-46, Syaikh Ibnu Utsaimin<br />
Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2</em>, Darul Haq Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/tergesa-gesa-dalam-mengeluarkan-fatwa" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/tergesa-gesa-dalam-mengeluarkan-fatwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Zaman Terhadap Fatwa</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/pengaruh-zaman-terhadap-fatwa/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/pengaruh-zaman-terhadap-fatwa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 10:29:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10641</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ada fenomena yang telah memasyarakat, yang mana sebagian orang memahami bahwa sebagian perkara yang dulu diharamkan seperti radio, kini menjadi halal. Mereka mengatakan, bahwa berubahnya zaman atau tempat mempengaruhi fatwa. Kami mohon perkenan Syaikh yang mulia untuk menjelaskan kebenaran ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Ada fenomena yang telah memasyarakat, yang mana sebagian orang memahami bahwa sebagian perkara yang dulu diharamkan seperti radio, kini menjadi halal. Mereka mengatakan, bahwa berubahnya zaman atau tempat mempengaruhi <strong>fatwa</strong>. Kami mohon perkenan Syaikh yang mulia untuk menjelaskan kebenaran dalam hal ini. Dan bagaimana membantah orang yang mengatakan seperti itu? Semoga Allah memberi Anda kebaikan.<br />
<span id="more-10641"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2>Pengaruh Zaman Terhadap Fatwa</h2>
<p>Sebenarnya, <span style="text-decoration: underline;">fatwa</span> tidak berubah dengan berubahnya zaman, tempat ataupun individu, akan tetapi, hukum syariat itu bila terkait dengan alasan, jika alasannya ada maka hukumnya berlaku, jika alasannya tidak ada maka hukumnya pun tidak berlaku. Adakalanya seorang pemberi fatwa melarang seseorang terhadap sesuatu yang dihalalkan Allah karena sesuatu itu menyebabkan manusia melakukan yang haram, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Umar dalam masalah talak tiga, yaitu ketika ia melihat orang-orang menyepelekannya sehingga ia memberlakukannya. Sebelumnya, pada masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, pada masa Abu Bakar dan pada dua tahun pertama masa kekhilafan Umar, talak tiga dianggap satu, lalu karena Umar melihat orang-orang banyak menyepelekannya maka ia melarang mereka yang melakukan itu untuk rujuk kepada isteri-isterinya. Demikian juga tentang hukuman peminum khamr, sebelumnya pada masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan pada masa Abu Bakar, hukumannya tidak lebih dari 40 kali cambukan, tapi karena orang-orang masih banyak yang suka minum khamr, maka Umar bermusyawarah dengan para sahabat, yang hasilnya menetapkan hukumannya menjadi 80 kali cambukan.</p>
<p>Jadi, hukum-hukum syariat itu tidak mungkin dipermainkan manusia, jika mau mereka mengharamkan dan jika mau mereka halalkan, tapi hukum-hukum syariat itu harus berdasarkan pada alasan-alasan syar’iyyah yang bisa menetapkan atau meniadakan.</p>
<p>Adapun tentang radio, tidak ada seorang pun yang mengharamkannya dari kalangan ulama. Sedangkan yang mengharamkannya hanyalah orang-orang yang tidak mengetahui hakikatnya. Adapun para ulama –terutama Abdurrahman bin Sa’di-  tidak memandangnya sebagai hal yang haram, bahkan mereka memandang bahwa radio itu termasuk hal-hal yang diajarkan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> kepada manusia, terkadang bermanfaat dan terkadang pula merusak, tergantung isinya. Demikian juga pengeras suara (<em>loudspeaker</em>), pada awal kemunculannya diingkari oleh sebagian orang, tapi itu karena tanpa penelitian. Sedangkan para peneliti tidak mengingkarinya, bahkan mereka memandang bahwa pengeras suara itu termasuk nikmat Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> untuk memudahkan mereka dalam menyampaikan khutbah dan wejangan kepada yang jauh.</p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/pengaruh-zaman-terhadap-fatwa" target="_blank" rel="nofollow">Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin</a><br />
Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2</em>, Darul Haq Cetakan: VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/pengaruh-zaman-terhadap-fatwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meletakkan Ayat Alquran di Bantal dan Pintu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/meletakkan-alquran-di-bantal-dan-pintu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/meletakkan-alquran-di-bantal-dan-pintu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 03:15:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10204</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Meletakkan Alquran di Bantal dan Pintu Pertanyaan: Apakah boleh bagi seorang muslim menulis beberapa ayat Alquran dan meminumnya atau meletakkannya di bawah bantalnya atau di samping pintu atau tempat-tempat lainnya? Jawaban: Perlu diketahui, ada benda seperti air yang boleh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Meletakkan Alquran di Bantal dan Pintu</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apakah boleh bagi seorang muslim menulis beberapa ayat <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-meletakkan-mushaf-alquran-di-lantai" target="_blank" rel="nofollow">Alquran</a> dan meminumnya atau meletakkannya di bawah bantalnya atau di samping pintu atau tempat-tempat lainnya?<br />
<span id="more-10204"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Perlu diketahui, ada benda seperti air yang boleh dibacakan Alquran untuk diminumkan kepada orang sakit, hal ini tidak mengapa. Diriwayatkan dalam Sunan Abi Daud di kitab <em>Ath-Thibb</em>, dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dijelaskan mengenai hal ini. Adapun menggantung <em>tamimah</em> (jimat) dari Alquran dan lainnya, maka hukumnya tidak boleh, serta perlu diketahui bahwa <em>tamimah</em> yang digantung seseorang ada dua macam: salah satunya berasal dari Alquran dan berasal dari selain Alquran.</p>
<p>Jika berasal dari Alquran salafus saleh berbeda pendapat atas dua pendapat:</p>
<p><strong>Pertama, </strong>Tidak boleh menggantungnya. Ini pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Hudzaifah, Uqbah bin Amir, dan Ibnu Akim. Beberapa orang tabi’in juga berpendapat demikian. Para ulama kontemporer memastikan riwayat ini dari Imam Ahmad. Pendapat ini berdasarkan riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, dan selain keduanya, dari Ibnu Mas’ud berkata, “Saya mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Sesungguhnya Ruqyah, tamaim (jimat) dan tiwalah adalah syirik</em>.”</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata dalam <em>Fath al-Majid</em> berkata, &#8220;Inilah pendapat yang shahih karena tiga alasan:<br />
<strong>Pertama</strong>, larangan yang bersifat umum dan tidak ada kekhususan atau pengecualian dari keumuman larangan tersebut. <strong>Kedua</strong>, <em>sadd adz-dzari’ah</em> (menutup jalan ke arah kejahatan), karena bisa mengarah kepada menggantung sesuatu yang bukan dari Alquran. <strong>Ketiga</strong>, apabila ia menggantungkan jimat dari Alquran tersebut, niscaya orang yang menggantungnya akan menghinakannya dengan membawanya ketika buang air dan <em>istinja’</em> dan semisalnya.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> bolehnya hal itu. Ini adalah pendapat Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Dengan pendapat ini pula Abu Ja’far Al-Baqir dan Ahmad pada satu riwayat dan mereka mengartikan hadis tersebut dengan <em>tamimah</em> yang mengandung syirik.</p>
<p>Adapun apabila <em>tamimah</em> tersebut bukan berasal dari Alquran, juga bukan dari <em>asma</em> dan sifat-sifat Allah, sesungguhnya tamimah adalah syirik, karena umumnya hadis, “<em>Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan tiwalah adalah syirik</em>.”<br />
Semoga rahmat dan kesejahteraan Allah tercurah atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.<br />
<em>[Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah jilid 1 hal 205-206]</em></p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3</em>, Darul Haq Cetakan VI 2011</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/meletakkan-alquran-di-bantal-dan-pintu" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/meletakkan-alquran-di-bantal-dan-pintu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masuk WC Ayat dengan Membawa HP yang Berkonten Alquran</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/alquran-di-handphone/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/alquran-di-handphone/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 00:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9150</guid>
		<description><![CDATA[Menyimpan Ayat Suci Alquran di Handphone Pertanyaan: Assalamualaikum wr.wb.Pak Ustat! Saya sering membawa Hp di WC, sedangkan di handpon Saya banyak terdapat ayat suci Alquran. Bagaimana hukumnya? Dari: Jumain Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Menyimpan Ayat Suci Alquran di Handphone Tidak ada larangan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menyimpan Ayat Suci Alquran di Handphone</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamualaikum wr.wb</em>.Pak Ustat! Saya sering membawa Hp di WC, sedangkan di handpon Saya banyak terdapat ayat suci Alquran. Bagaimana hukumnya?</p>
<p>Dari: Jumain<br />
<span id="more-9150"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam</em></p>
<h3>Menyimpan Ayat Suci Alquran di Handphone</h3>
<p>Tidak ada larangan untuk masuk toilet dengan membawa hp yang berisi konten Alquran. Karena hp semacam ini tidak dihukumi sebagai Alquran, meskipun di dalamnya terdapat rekaman bacaan Alquran atau tulisan Alquran. Karena suara dan tulisan ini tersembunyi dan tidak nampak. Sebagian ulama menganalogikannya dengan penghafal Alquran. Seorang penghafal Alquran, di dalam memorinya tersimpan firman-firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;al</em>a. Meskipun demikian, tidak ada larangan baginya untuk masuk toilet atau kamar mandi. Selama dia tidak membaca Alquran di tempat-tempat yang kurang terhormat ini.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Disadur dari: <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/21792</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/membaca-alquran-dengan-aurat-terbuka" target="_blank" rel="nofollow">Membaca Alquran dengan Aurot Terbuka</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bunyi-hp-saat-shalat" target="_blank" rel="nofollow">Shalat Jamaah Terganggu Bunyi HP</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/bersumpah-dengan-alquran" target="_blank" rel="nofollow">Bersumpah dengan Alquran</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/alquran-di-handphone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Alquran dengan Aurat Terbuka</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/membaca-alquran-dengan-aurat-terbuka/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/membaca-alquran-dengan-aurat-terbuka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 00:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9115</guid>
		<description><![CDATA[Membaca Alquran dengan Aurat Terbuka Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum wr.wb. Ustat, bolehkah membaca Ayat suci Alquran dengan keadaan aurat terbuka seperti mengaji baik laki-laki maupun perempuan? Dari: Jumain Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin ditanya tentang hukum wanita yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Membaca Alquran dengan Aurat Terbuka</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr.wb. Ustat, bolehkah membaca Ayat suci Alquran dengan keadaan aurat terbuka seperti mengaji  baik laki-laki maupun perempuan?<br />
Dari: Jumain<br />
<span id="more-9115"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em><br />
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin ditanya tentang hukum wanita yang <strong>membaca Alquran</strong> tanpa memakai jilbab. Apakah semacam ini dibolehkan?<br />
Beliau menjawab, &#8220;Untuk <em>membaca Alquran</em>, tidak ada persyaratan bagi wanita untuk menutup kepalanya. Karena tidak disyaratkan untuk menutup aurat ketika <u>membaca Alquran</u>. Berbeda dengan shalat. Shalat seseorang bisa tidak sah kecuali dengan menutup aurat.&#8221;<br />
Fatawa Nurun ala ad-Darb: <em>http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4805.shtml</em></p>
<p>Pertanyaan semisal juga pernah diajukan di <em>Syabakah Al-Fatwa Asy-Syar&#8217;iyah</em>. Syaikh Prof. Dr. Ahmad Hajji Al-Kurdi memberi jawaban, &#8220;Jika tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa tindakan itu termasuk melecehkan atau tidak menghormati Alquran, maka perbuatan semacam ini tidak haram. Hanya saja tidak sesuai dengan adab yang diajarkan ketika membaca Alquran.&#8221;<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em><br />
Sumber: <em>http://www.islamic-fatwa.net/fatawa</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait membaca Alquran:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/walimah-khataman-alquran-dan-doa-khataman" rel="nofollow" target="_blank">Walimah dengan Khataman Alquran</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/fadhilah-surat-al-kahfi-dan-surat-al-mulk" rel="nofollow" target="_blank">Fadhilah Surat Al-Kahfi dan Al-Mulk</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran" rel="nofollow" target="_blank">Doa Khatam Quran</a>.</p>
<p>Artikel ini berkaitan dengan adab-adab membaca Alquran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/membaca-alquran-dengan-aurat-terbuka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersumpah dengan Alquran</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bersumpah-dengan-alquran/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bersumpah-dengan-alquran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 01:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bersumpah]]></category>
		<category><![CDATA[bersumpah atas nama Allah]]></category>
		<category><![CDATA[bersumpah dengan alquran]]></category>
		<category><![CDATA[hukum bersumpah]]></category>
		<category><![CDATA[melanggar sumpah]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8146</guid>
		<description><![CDATA[Bersumpah dengan Alquran &#8220;Ustadz, bagaimana hukumnya bersumpah dengan Alquran? Apakan dibenarkan? Apabila dibenarkan, bagaimana dengan konsekuensinya? syukron&#8221; Diyah (cteXXXXXX@yahoo.com) Jawaban: Bersumpah Dengan Alquran Bismillah.. Pertama, Al-Quran adalah kalamullah (perkataan Allah, pen.) dan kalamullah adalah sifat Allah, bukan makhluk. Ini merupakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bersumpah dengan Alquran</h2>
<p><strong>&#8220;</strong>Ustadz, bagaimana hukumnya <strong>bersumpah</strong> dengan Alquran? Apakan dibenarkan? Apabila dibenarkan, bagaimana dengan konsekuensinya? syukron&#8221;</p>
<p><em>Diyah (cteXXXXXX@yahoo.com)</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Bersumpah Dengan Alquran</h3>
<p><em>Bismillah..</em></p>
<p><strong>Pertama</strong>, Al-Quran adalah <em>kalamullah </em>(perkataan Allah<em>, pen.</em>) dan <em>kalamullah</em> adalah sifat Allah, bukan makhluk. Ini merupakan akidah <em>ahlus sunnah wal jamaah</em>. Imam Ahmad mengatakan dalam <em>Ushulus Sunnah</em> (no. 22):</p>
<p class="arab">والقرآن كلام الله وليس بمخلوق</p>
<p>“Alquran adalah firman Allah dan bukan makhluk.”</p>
<p>Ia juga mengatakan:</p>
<p class="arab">فإن كلام الله ليس ببائن منه وليس منه شيء مخلوقا</p>
<p>“Karena sesungguhnya firman Allah tidaklah terpisah dari-Nya dan tidak ada bagian dari kalam Allah yang berupa makhluk”</p>
<p>Imam Ahmad menegaskan:</p>
<p class="arab">ومن وقف فيه فقال لا أدري مخلوق أو ليس بمخلوق وإنما هو كلام الله فهذا صاحب بدعة</p>
<p>“Siapa yang mengambil sikap tengah, dan mengatakan, &#8216;Saya tidak tahu, apakah Alquran itu makhluk ataukah bukan makhluk, yang jelas dia kalam Allah&#8217;, maka orang yang mengatakan demikian adalah ahli bid&#8217;ah”</p>
<p>Karena Alquran kalam Allah dan salah satu sifat Allah maka diperbolehkan bagi kita untuk <em>bersumpah</em> dengan Alquran, dan ini tidak termasuk kesyirikan. Karena manusia boleh <u>bersumpah</u> dengan sifat Allah.</p>
<p>Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya tentang hukum bersumpah dengan Alquran, Syekh menjawab, “&#8230;Bersumpah dengan Alquran hukumnya boleh. Karena Alquran adalah firman Allah, dimana Allah berfirman secara hakiki dengan lafadz dan maksud menyampaikan maknanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> disifati dengan <em>Al-Kalam</em>. Dengan demikian, bersumpah dengan menyebut Alquran pada hakikatnya meruapakan sumpah dengan salah satu sifat Allah, hukumnya boleh.” (<em>Majmu&#8217; Fatawa Ibn Utsaimin</em>, 2:218).</p>
<p><strong>Kedua,</strong> karena bersumpah dengan Alquran hukumnya sah maka konsekwensi bersumpah dengan Alquran sama dengan konsekwensi bersumpah dengan menyebut nama Allah. Artinya, sumpah itu wajib dilaksanakan. Jika tidak dilaksanakan isi sumpahnya maka ia wajib membayar <em>kaffarah</em> (denda) sumpah tersebut.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)<br />
Artikel www.KonsultasiSyariah.com</p>
<p>Artikel yang berkaitan dengan hukum bersumpah:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-untuk-menarik-kembali-sumpah" target="_blank" rel="nofollow">Cara Menarik Kembali Sumpah</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/kapan-wajib-bayar-diyat" target="_blank" rel="nofollow">Kapan Wajib Membayat Diyat?</a>.</p>
<p>3.<a href="http://konsultasisyariah.com/demi-bapak-dan-ibuku-apakah-termasuk-sumpah" target="_blank" rel="nofollow"> Demi Bapak dan Ibuku, Apakah Termasuk Bersumpah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bersumpah-dengan-alquran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Khatam Quran</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 06:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[alquran mp3]]></category>
		<category><![CDATA[doa khatam quran]]></category>
		<category><![CDATA[khatam quran]]></category>
		<category><![CDATA[khataman alquran]]></category>
		<category><![CDATA[mp3 doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7455</guid>
		<description><![CDATA[Adakah doa khatam quran? Assalamu &#8216;alaykum. Ustadz, saya mau tanya. Adakah doa khatam Quran seperti yang ada di mushaf-mushaf Alquran? Jika seseorang sudah menamatkan quran, haruskah membaca doa khatam Quran? Itu saja yang saya mau tanya. Syukran. Wassalamu &#8216;alaykum. Rosszelly ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Adakah doa khatam quran?<strong><br />
</strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>. Ustadz, saya mau tanya. Adakah <strong>doa khatam Quran</strong> seperti yang ada di mushaf-mushaf Alquran? Jika seseorang sudah menamatkan quran, haruskah membaca <span style="text-decoration: underline;">doa khatam Quran</span>? Itu saja yang saya mau tanya. <em>Syukran. Wassalamu &#8216;alaykum.</em></p>
<p><em>Rosszelly (ross**@***.com)</em><br />
<span id="more-7455"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Bismillah &#8230;.</p>
<p>Tidak terdapat satu pun dalil dari hadis Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>yang menyebutkan <em>doa khatam Quran</em>. Demikian pula, tidak diriwayatkan dari para sahabat maupun para ulama besar setelahnya yang mengajarkan doa khatam Quran. Yang paling terkenal, doa khatam Quran yang tertulis di akhir mushaf ini dinisbahkan (dianggap sebagai perkataan) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. <strong>Anggapan ini tidak memiliki dasar</strong>. (Lihat <em>Majmu&#8217; Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin</em>, 14:226)</p>
<p>Tentang membaca doa setelah selesai membaca Alquran, ada kemungkinan dilakukan ketika shalat atau di luar shalat. <strong>Membaca doa setelah khatam Alquran ketika shalat, sama sekali tidak ada dasarnya.</strong> Sementara itu, diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa beliau membaca doa &#8211;setelah mengkhatamkan Alquran&#8211; <strong>di luar shalat</strong>. Hanya saja, doanya tidak sebagaimana doa khatam Quran yang umumnya dikenal masyarakat.</p>
<p>Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang hukum membaca doa khatam Quran ketika shalat malam di bulan Ramadan. Beliau menjawab, “Saya tidak mengetahui adanya hadis dari Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menganjurkan membaca doa khatam Quran ketika shalat malam di bulan Ramadan, tidak pula riwayat dari sahabat. Riwayat yang ada hanyalah riwayat dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa apabila beliau mengkhatamkan Alquran, beliau mengumpulkan keluarganya dan berdoa; ini dilakukan di luar shalat.” (<em>Fatwa Arkan Al-Islam</em>, hlm. 354)</p>
<h3>Syekh Bakr Abu Zaid memiliki pembahasan yang sangat bagus dalam masalah doa khatam Quran. Kesimpulan yang beliau sampaikan, “Dari semua keterangan pada pembahasan dalam dua bab sebelumnya, kita mendapatkan dua kesimpulan:</h3>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, doa khatam Quran itu secara mutlak (tidak menggunakan redaksi khusus). Dalam hal ini, ada beberapa poin penting :</p>
<ol>
<li>Semua riwayat tentang doa khatam Quran yang dianggap berasal dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah riwayat yang tidak sahih, baik statusnya palsu atau dhaif yang tidak bisa terangkat. Bahkan, bisa dipastikan, tidak ada dalil yang sahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>tentang doa khatam Quran karena para ulama yang menulis tentang ilmu Alquran dan zikir-zikirnya (seperti: Imam An-Nawawi, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan As-Suyuthi) tidak ada satu pun yang menyebutkan teks doa khatam Quran. Andaikan mereka memiliki satu riwayat yang sahih tentang masalah ini, tentu mereka akan menyebutkannya.</li>
<li>Terdapat riwayat yang sahih dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> bahwa beliau berdoa setelah mengkhatamkan Alquran. Beliau mengumpulkan istri dan anak-anaknya kemudian beliau berdoa. Perbuatan beliau ini diikuti oleh sebagian tabi&#8217;in, semacam Mujahid bin Jabr, sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat.</li>
<li>Tidak diketahui adanya keterangan tentang disyariatkannya doa setelah khataman Alquran dalam kitab-kitab Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi&#8217;i<em> rahimahumallah</em>. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Malik, &#8216;Doa khatam Alquran bukanlah termasuk amal masyarakat (penduduk Madinah). Mengkhatamkan Alquran bukanlah termasuk sunah dalam shalat malam Ramadan.&#8217;</li>
<li>Anjuran membaca doa setelah khatam Alquran merupakan salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad, sebagaimana keterangan dari beberapa ulama Hanbali. Pendapat ini juga diakui oleh beberapa ulama kontemporer dari tiga mazhab lainnya.</li>
</ol>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, <a title="Walimah Khataman Alquran dan Doa Khataman" href="http://konsultasisyariah.com/walimah-khataman-alquran-dan-doa-khataman" target="_blank" rel="nofollow">doa khatam Quran</a> dalam shalat.&#8221;</p>
<p>&#8230; Bagian ini tidak kami cantumkan pembahasannya karena telah ditegaskan bahwa hal ini tidak ada riwayatnya sama sekali.</p>
<p>Demikian, ringkasan dari situs <em>www.islamqa.com</em> di bawah bimbingan Syekh Muhammad Munajid.</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kalimat &#8220;Walyatalaththof&#8221; dalam Alquran Berwarna Merah?</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-kalimat-walyatalaththof-dalam-alquran-berwarna-merah/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-kalimat-walyatalaththof-dalam-alquran-berwarna-merah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 06:38:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[alquran berwarna]]></category>
		<category><![CDATA[arti warna merah pada tulisan alquran]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[makna puasa menurut ustad nur]]></category>
		<category><![CDATA[puasa quran]]></category>
		<category><![CDATA[tengah-tengah al-quran yang biasa diberi warna merah pada tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu shalat witir dalam al quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5049</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Saya mau tanya; kenapa ya, kok kalimat &#8220;walyatalaththof&#8221; dalam kitab suci Alquran dicetak tebal. Bahkan, sampai ada yang berwarna merah mencolok. Itu sebenarnya artinya apa? Terus, maknanya apa? Terus, maksud dan tujuannya apa? Mohon diterangkan seterang-terangnya. Terima ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Saya mau tanya; kenapa ya, <em>kok</em> kalimat &#8220;<em>walyatalaththof</em>&#8221; dalam kitab suci Alquran dicetak tebal. Bahkan, sampai ada yang berwarna merah mencolok. Itu sebenarnya artinya apa? Terus, maknanya apa? Terus, maksud dan tujuannya apa? Mohon diterangkan seterang-terangnya. Terima kasih.</p>
<p><em>Maman M (paduhir**@***.com)</em><br />
<span id="more-5049"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Kalimat &#8220;<em>walyatalaththof</em>&#8221; artinya &#8216;hendaknya bersikap lembut&#8217;. Kalimat ini dicetak tebal dengan warna merah karena menurut sebagian kalangan, kata ini merupakan bagian tepat &#8220;tengah Alquran&#8221;, sehingga dalam Alquran cetakan Indonesia, kalimat tersebut diberi tanda khusus. Namun, ciri semacam ini tidak kami temukan dalam Alquran cetakan Timur Tengah. Bisa jadi, warna merah dengan cetak tebal hanyalah inisiatif percetakan Alquran di tempat kita, sebagai penanda bahwa itu adalah bagian paling tengah dalam Alquran.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-kalimat-walyatalaththof-dalam-alquran-berwarna-merah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

