<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam &#187; Nasehat</title>
	<atom:link href="http://www.konsultasisyariah.com/category/akhlak/nasehat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 09:00:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Perdagangan Manusia</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/perdagangan-manusia/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/perdagangan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 23:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ustadz Sufyan Baswedan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11015</guid>
		<description><![CDATA[Perdagangan Manusia Sewaktu saya kecil dulu, ada film seri terkenal yang berjudul ‘Siti Nurbaya’. Film yang diangkat dari novel karya Marah Rusli ini, bercerita tentang seorang gadis (Siti Nurbaya) yang dinikahkan secara paksa dengan lelaki tua (Datuk Maringgih) yang dibencinya, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Perdagangan Manusia</h2>
<p>Sewaktu saya kecil dulu, ada film seri terkenal yang berjudul ‘<strong><a href="http://konsultasisyariah.com/perdagangan-manusia">Siti Nurbaya</a></strong>’. Film yang diangkat dari novel karya Marah Rusli ini, bercerita tentang seorang gadis (Siti Nurbaya) yang dinikahkan secara paksa dengan lelaki tua (Datuk Maringgih) yang dibencinya, semata-mata karena Si Datuk adalah orang kaya. Itulah salah satu penindasan atas kaum wanita tempo dulu, yang dikenal dengan zaman Siti Nurbaya.</p>
<p>Zaman Siti Nurbaya mungkin telah berlalu, namun wanita masih ditindas dengan cara lain yang lebih mengerikan. Mereka dijual tak ubahnya seperti perabot rumah tangga.</p>
<p>Syaikh Muhammad Rasyid Ridha pernah mengatakan, “Ada berita aneh bin ajaib yang dimuat sejumlah surat kabar Inggris akhir-akhir ini, bahwa di sebagian pedesaan Inggris, masih terdapat para lelaki yang menjual istri-istri mereka dengan harga sangat murah, yakni sekitar 30 Shilling (Sama dengan £1,5). Beberapa surat kabar tadi bahkan menyebutkan sebagian dari nama para lelaki tersebut”. (<em>‘Audatu al Hijab</em>, 2:55)</p>
<p>Hari ini, jual beli wanita berubah menjadi sewa-menyewa. Penjual yang semula hanya orang-per orang, kini berubah menjadi ‘negara yang berdaulat’. Transaksi pun diatur lewat sejumlah perjanjian dan syarat tertentu, dengan imbalan ‘gaji bulanan’ dan perlindungan tenaga kerja.</p>
<p>Status PRT atau <em>babu</em> berubah menjadi ‘pahlawan devisa’ yang dianggap memiliki hak dan kewajiban mulia.</p>
<p>Citra ‘menjual diri’ ditata ulang dan direhabilitasi menjadi ‘kontrak kerja’, sedangkan hakikatnya tak jauh beda. Wanita tetap saja dieksploitasi dan dilecehkan. Ya… begitulah akhirnya jika aturan Ilahi dan sabda Nabi dilanggar demi sesuap nasi. Islam melarang safar tanpa mahrom.</p>
<p>Akan tetapi, apa yang kita dengar akhir-akhir ini jauh lebih <em>edan</em>. Belum lama ini, media massa marak memberitakan tentang <em>human trafficking</em>, alias <strong>perdagangan manusia</strong>. Salah satunya adalah Harian Jogja, yang memberitakan sebagai berikut:</p>
<p>“Kasus <em>human trafficking</em> atau <strong>perdagangan manusia</strong> kembali terungkap. Satgas khusus penanggulangan kejahatan curat dan kejahatan transnasional Polda DIY,  pekan ini  berhasil mengungkap kasus penculikan Nisrina Dewi Nurhidayah, anak <strong>balita berusia satu tahun</strong>. Nisrina yang dinyatakan hilang sejak Kamis (9/2) lalu karena <strong>diculik dan dijual pengasuhnya</strong>, Suprihatin, 37, warga Semanu, Gunungkidul, berhasil ditemukan (<em>Harian Jogja</em>, Rabu 14/3).</p>
<p>Berdasar hasil pemeriksaan terhadap tersangka Suprihatin, polisi memperoleh keterangan bahwa anak balita yang menjadi korban penculikan dijual kepada seseorang bernama Aris di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat seharga <strong>Rp 250.000</strong>. Kuat dugaan, baik Suprihatin maupun Aris yang menjadi penadah merupakan sindikat, yang bisa jadi, sudah kerap memperdagangkan anak-anak tak berdosa.</p>
<p>Di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, kasus <em>human trafficking</em> menjadi salah satu jenis kejahatan yang <strong>terus terjadi</strong>. Bahkan kejahatan ini tak kalah menonjol dibanding kejahatan konvensional lain seperti pencurian, perkosaan, dan penyalahgunaan narkotika. Selain perdagangan anak-anak, <strong>perdagangan perempuan</strong> khususnya yang berkaitan dengan praktik prostitusi begitu marak. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak (PA), pada 2010, ada 111 kasus penculikan anak di Indonesia. Dan pada medio Januari-Juli 2011, tercatat 34 kasus penculikan anak.</p>
<p>Jika merunut kasus <strong>penculikan anak</strong> yang kerap terjadi, kasus ini <strong>bisa terjadi di mana saja dan kapan saja</strong>, termasuk di lingkungan tempat tinggal yang selama ini dinilai aman. Sebagai contoh, kasus penculikan yang menimpa  Nisrina Dewi Nurhidayah, terjadi di lingkungan tempat tinggal, karena dilakukan oleh orang terdekat, dalam hal ini Suprihatin yang bertindak sebagai pengasuh. Penculikan juga kerap terjadi di tempat belajar seperti sekolahan, atau bahkan di pusat perbelanjaan.</p>
<p>Melihat fenomena ini, sudah selayaknya semua orangtua untuk selalu waspada. Berita di media tentang adanya penculikan, memberi <em>warning</em> bagi para orangtua untuk selalu waspada.  Namun di sisi lain, pemberitaan tentang adanya penculikan, juga memunculkan kekhawatirkan dan ketakutan berlebih bagi sejumlah orangtua, yang imbasnya justru akan mengekang kebebasan sang anak.</p>
<p>Dari sejumlah kasus yang terungkap, penculikan juga dilatarbelakangi berbagai modus seperti meminta tebusan, dendam, penguasaan harta, dan juga <strong>perdagangan organ tubuh</strong>.</p>
<p>Terkait yang terakhir, salah seorang wartawan surat kabar Swedia bernama Donald Bostrum pernah memberitakan, bahwa sejumlah pemuda di Tepi Barat (Palestina) pernah diculik oleh pihak Zionis untuk diambil organ tubuhnya, lalu dijual kepada pihak yang membutuhkan.</p>
<p>Pemberitaan tersebut tak ayal memunculkan kembali berbagai data dan fakta yang dimiliki PBB, plus daftar nama para korban yang ditemukan dalam kondisi terbelah dari leher hingga perut bawah, tanpa memiliki ‘jeroan’ lagi!</p>
<p>Kasus lainnya tentang seorang dokter Amerika yang konon mengambil organ ginjal dari para tahanan muslim di penjara Abu Ghuraib (Irak), lantas mengirimnya ke Israel.</p>
<p>Pihak Interpol Al Jazair juga sempat memberitakan tentang sindikat penculik anak-anak di Al Jazair, yang kemudian mereka jual sebagai ‘suku cadang manusia’. Konon jumlah anak yang diculik mencapai 2500 orang, dan harga sebuah ginjal saja bisa mencapai 110 ribu US Dollar!!</p>
<p>Belum lagi ribuan anak asal Mesir, Yaman, Guatemala, Cina, dan Turki yang semuanya ‘dipaketkan’ ke Israel.Serendah itukah nilai manusia ?!! Sehebat itukah pengaruh cinta dunia?!!</p>
<p>Kita boleh saja mengganti suku cadang mobil yang rusak, atau alat-alat elektronik dan perabot rumah tangga lainny akan tetapi bila seseorang harus dibunuh, lalu dipereteli organ tubuhnya, untuk kemudian dijual demi sejumlah uang!! Maka inilah kejahatan terbesar yang tak pernah dilakukan oleh iblis sekalipun.</p>
<p>Akan tetapi ketika materialisme yang berbicara, maka semuanya boleh dijual. Dan barang yang paling laku adalah harga diri dan moral bejat. Inilah komoditi yang paling mudah kita dapatkan, terutama pada masyarakat yang hidup di tengah himpitan ekonomi dan pengangguran.</p>
<p>Manusia kembali lagi pada <em>paganisme</em> alias penyembahan berhala. Hanya saja, bukan lagi Latta dan Uzza yang dipuja, namun Dinar dan Dirham alias harta.<br />
<em>Na’udzubillahi minal fitan, maa zhahara minha wamaa bathan.</em></p>
<p>Ditulis oleh Ustadz Sufyan Baswedan</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/perdagangan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bohong yang Dibolehkan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bohong-yang-dibolehkan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bohong-yang-dibolehkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 06:26:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.konsultasisyariah.com/?p=11060</guid>
		<description><![CDATA[Bohong yang Dibolehkan Pertanyaan: Bolehkah berbohong dalam Islam? Dari: Axan38 Jawaban: Dusta atau bohong adalah perbuatan haram. Tidak ada keringanan untuk berdusta dalam Islam, kecuali karena darurat atau kebutuhan yang mendesak. Itu pun dengan batas yang sangat sempit. Seperti tidak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bohong yang Dibolehkan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah berbohong dalam Islam?</p>
<p>Dari: Axan38<br />
<span id="more-11060"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<strong>Dusta atau bohong adalah perbuatan haram</strong>. Tidak ada keringanan untuk berdusta dalam Islam, kecuali karena darurat atau kebutuhan yang mendesak. Itu pun dengan batas yang sangat sempit. Seperti tidak dijumpai lagi cara yang lain untuk mewujudkan tujuan yang baik itu, selain harus bohong.</p>
<p>Ada satu cara yang mirip dengan dusta tapi bukan dusta. Dalam kondisi ‘<em>kepepet’</em>, seseorang bisa menggunakan cara ini untuk mewujudkan keinginannya tanpa harus terjerumus ke jurang kedustaan. Cara itu, bernama  <em>ma’aridh</em> atau <em>tauriyah</em>. Bentuknya, seseorang menggunakan kata yang ambigu, dengan harapan agar dipahami lain oleh lawan bicara.</p>
<p>Sebagai contoh, disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari, dari Abu Hurairah <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhu</em>:</p>
<p>Suatu ketika Nabi Ibrahim pernah bersama istrinya Sarah. Mereka berdua melewati daerah yang dipimpin oleh penguasa yang zhalim. Ketika rakyatnya melihat istri Ibrahim, mereka lapor kepada raja, di sana ada lelaki bersama seorang wanita yang sangat cantik –sementara penguasa ini punya kebiasaan, merampas istri orang dan membunuh suaminya– Penguasa itu mengutus orang untuk menanyakannya. “Siapa wanita ini?” tanya prajurit. “Dia saudariku.” Jawab Ibrahim. Setelah menjawab ini, Ibrahim mendatangi istrinya dan mengatakan,</p>
<p class="arab">يا سارة ليس على وجه الأرض مؤمن غيري وغيرك، وإن هذا سألني فأخبرته أنك أختي فلا تكذبيني</p>
<p>“Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan engkau anggap aku berbohong&#8230; dst.”</p>
<p>Nabi Ibrahim <em>‘alahis salam</em> dalam hal ini menggunakan kalimat ambigu. Kata “saudara” bisa bermakna saudara seagama atau saudara kandung. Yang diiginkan Ibrahim adalah saudara seiman/seagama, sementara perkataan beliau ini dipahami oleh prajurit, saudara kandung.</p>
<p>Inilah bohong yang dibolehkan, yakni bohong untuk mewujudkan kemaslahatan atau menghindari bahaya yang lebih besar. Diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti Uqbah, beliau mendengar Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ليس الكذاب الذي يصلح بين الناس فينمي خيرا أو يقول خيرا</p>
<p>“<em>Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menunbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Yang dimaksud menumbuhkan kebaikan:</strong><br />
Ketika ada dua kubu, A dan B yang berseteru, datang C. Dia sampaikan bahwa kepada A tentang B, yang membuat A ridha dan mau memaafkan kesalahan B, dan sebaliknya. Meskipun bisa jadi, C tidak pernah mendengarnya. Semua itu dalam rangka perdamaian. Demikian keterangan di <em>Syarh Sunnah Al-Baghawi</em>.</p>
<p>Dalam riwayat yang lain:</p>
<p class="arab">ولم أسمعه يرخص في شيء مما يقول الناس إلا في ثلاث: تعني الحرب، والإصلاح بين الناس، وحديث الرجل امرأته، وحديث المرأة زوجها.</p>
<p>“<em>Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan)</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Yang dimaksud berbohong antar-suami istri adalah berbohong dalam rangka menampakkan rasa cinta, menggombal, dengan tujuan untuk melestarikan kasih sayang dan ketenangan keluarga. Seperti memuji istrinya hingga tersanjung, atau menampakkan kesenangan bersamanya sampai pasangannya tersipu malu, dst.</p>
<p>Satu yang perlu diberi garis tebal, bukan termasuk bohong yang dibolehkan dalam hadis ini, berbohong untuk mengambil hak pasangannya atau lari dari tanggung jawab. Demikian keterangan An-Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em>.</p>
<p>Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْمُرَاد بِالْكَذِبِ فِي حَقّ الْمَرْأَة وَالرَّجُل إِنَّمَا هُوَ فِيمَا لَا يُسْقِط حَقًّا عَلَيْهِ أَوْ عَلَيْهَا أَوْ أَخْذ مَا لَيْسَ لَهُ أَوْ لَهَا</p>
<p>“<em>Ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya</em>.” (<em>Fathul Bari</em>, 5:300)</p>
<p>Sementara bohong ketika perang bentuknya dengan pura-pura menampakkan kekuatan atau menipu musuh dengan strategi perang dst. Dan tidak termasuk bagian ini adalah mengkhianati perjanjian.</p>
<p>Disadur dari:<br />
http://www.Islamweb.net/fatwa no 63123</p>
<p>http://Islamqa.info/ar/ref/136367</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/bohong-yang-dibolehkan" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bohong-yang-dibolehkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gempa Bumi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/gempa-bumi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/gempa-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 10:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10921</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah&#8230; Gempa Bumi Merupakan Peringatan dari Allah Kepada Hamba-Nya Di antara bentuk peringatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya, Allah wujudkan dalam bentuk musibah dan bencana alam. Terkadang dalam bentuk angin kencang yang memporak-porandakan berbagai bangunan, terkadang dalam bentuk gelombang pasang, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah&#8230;</p>
<h2>Gempa Bumi Merupakan Peringatan dari Allah Kepada Hamba-Nya</h2>
<p>Di antara bentuk peringatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya, Allah wujudkan dalam bentuk musibah dan <strong>bencana alam</strong>. Terkadang dalam bentuk angin kencang yang memporak-porandakan berbagai bangunan, terkadang dalam bentuk gelombang pasang, hujan besar yang menyebabkan banjir, <strong>gempa bumi</strong>, termasuk peperangan di antara umat manusia. Semuanya bisa menjadi potensi untuk mengingatkan manusia agar mereka takut dan berharap kepada Allah.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ</p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain..</em>.” (QS. Al-An&#8217;am: 65)</p>
<h3>Semua Musibah, Sebabnya Adalah Maksiat</h3>
<p><u>Gempa bumi</u>, musibah yang saat ini menggelayuti perasaan takut banyak manusia bisa jadi merupakan hukuman dari Al-Jabbar (Dzat Yang Maha Perkasa), disebabkan sikap manusia yang meninggalkan aturan Allah, yang bergelimang dengan maksiat dan dosa. Manusia bemaksiat kepada Allah, mereka melakukannya secara terang-terangan di hadapan Allah, tanpa ada rasa malu kepada Allah. Selanjutnya Allah perintahkan bumi untuk berguncang, terjadilah gempa bumi, agar manusia mau kembali betaubat, dan memohon ampunan kepada-Nya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا</p>
<p>“<em>Tidaklah kami mengirim tanda-tanda kekuasaan itu (berupa musibah dan sejenisnya), selain dalam rangka menakut-nakuti mereka</em>.” (QS. Al-Isra’: 59)</p>
<p>Untuk lebih menguatkan hal ini, mari kita perhatikan ayat berikut</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ</p>
<p>“<em>Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)</em>.” (QS. Ar-Rum: 41)</p>
<p>Allah menyebut maksiat manusia sebagai makar, dan adzab bisa jadi akan turun secara tiba-tiba tanpa aba-aba:</p>
<p class="arab">أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لا يَشْعُرُونَ * أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُمْ بِمُعْجِزِين</p>
<p>“<em>Maka apakah orang-orang yang membuat makar dengan melakukan maksiat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Atau Allah mengazab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu)</em>.” (QS. An-Nahl: 45 – 46)</p>
<p>Allah juga mengingatkan, bisa jadi balasan makar Allah untuk hamba-Nya yang membangkang, datang ketika mereka sedang tidur:</p>
<p class="arab">أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتاً وهم نائمون</p>
<p>“<em>Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?</em>” (QS. Al-A’raf: 97)</p>
<h2>Hukuman Allah Mengenai Semuanya</h2>
<p>Sesungguhnya adzab Allah, ketika menimpa sekelompok masyarakat maka adzab ini mencakup orang baik dan orang bejat, orang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan. Semuanya sama-sama mendapatkan hukuman. Bahkan termasuk makhluk yang tidak memiliki dosa dan kesalahan, semacam anak-anak dan binatang sekalipun, mereka turut merasakannya.</p>
<p>Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis, dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, bahwa beliau mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إذا ظهرت المعاصي في أمتي عمهم الله بعذاب من عنده ، فقلت يا رسول الله ، أما فيهم يومئذ أناس صالحون ؟ قال : بلى ، قلت : كيف يصنع بأولئك ؟ قال : يصيبهم ما أصاب الناس ، ثم يصيرون إلى مغفرة من الله ورضوان</p>
<p>“<em>Apabila perbuatan maksiat dilakukan secara terang-terangan pada umatku, maka Allah akan menimpakan adzab-Nya secara merata</em>.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah di antara mereka saat itu ada orang-orang saleh? Beliau bersabda, “<em>Benar</em>.” Ummu Salamah kembali bertanya, “Lalu apa yang akan diterima oleh orang ini? Beliau menjawab, “<em>Mereka mendapatkan adzab sebagaimana yang dirasakan masyarakat, kemudian mereka menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.</em>” (HR. Ahmad 6:304)</p>
<p>Dalam Alquran, Allah menegaskan bahwa setiap musibah yang menimpa manusia, disebabkan perbuatan maksiat yang pernah mereka lakukan. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ</p>
<p>“<em>Setiap musibah yang menimpa kalian, disebabkan perbuatan tangan kalian, dan Allah memberi ampunan terhadap banyak dosa</em>.” (QS. As-Syuro: 30)</p>
<p>Allah juga menceritakan keadaan umat sebelum kita:</p>
<p class="arab">فَكُلّاً أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِباً وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ</p>
<p>“<em>Masing-masing Kami adzab disebabkan dosa mereka. Di antara mereka ada yang kami kirimi angin kencang, di antara meraka ada yang dimusnahkan dengan teriakan yang sangat pekak, ada yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidaklah menzalimi mereka, namun mereka yang bersikap zalim pada diri mereka sendiri</em>.” (QS. Al-Ankabut: 40)</p>
<p>Ibnul Qoyim menjalaskan,<br />
Terkadang Allah memerintahkan bumi untuk begetar, sehingga terjadilah gempa bumi yang besar. Sehingga manusia pada takut, resah, kembali bertaubat, meninggalkan maksiat, dan tunduk dan menyesal kepada Allah. Sebagaimana yang ditegaskan sebagian sahabat, ketika terjadi gempa bumi, beliau mnyatakan,</p>
<p class="arab">إن ربكم يستعتبكم</p>
<p>“Sesungguhnya Tuhan kalian menegur kalian.”</p>
<p>Disebutkan oleh Imam Ahmad, dari Shafiyah <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anha</em>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">زلزلت المدينة على عهد عمر فقال : أيها الناس ، ما هذا ؟ ما أسرع ما أحدثتم . لئن عادت لا تجدوني فيها</p>
<p>Pernah terjadi gempa di kota Madinah, di zaman Umar bin Khatab. Maka Umar berceramah, “Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.”</p>
<p>Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Aisyah. Lelaki ini bertanya, “Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!” Aisyah menjawab,</p>
<p class="arab">إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمور ، وضربوا بالمعازف ، غار الله عز وجل في سمائه ، فقال للأرض : تزلزلي بهم ، فإن تابوا ونزعوا ، وإلا أهدمها عليهم</p>
<p>“Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, bermain musik, maka Allah yang ada di atas akan cemburu. Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: ‘Berguncanglah, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, berhentilah. Jika tidak, hancurkan mereka’.”</p>
<p>Orang ini bertanya lagi, “Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?”</p>
<p>Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">بل موعظة ورحمة للمؤمنين ، ونكالاً وعذاباً وسخطاً على الكافرين ..</p>
<p>“Itu adalah peringatan dan rahmat bagi kaum mukminin, serta hukuman, adzab, dan murka untuk orang kafir.”  (<em>Al-Jawab Al-Kafi</em>, Hal. 87–88)</p>
<p>Dari pernyataan Umar, beliau memahami bahwa penyebab terjadinya gempa di Madinah adalah perbuatan maksiat yang dilakukan masyarakat yang tinggal di Madinah. Pernyataan ini disampaikan kepada para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pemahaman Umar <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhu</em>.</p>
<p>Hal yang semisal juga telah dijelaskan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dalam hadis dari Abu Hurairah <em>radhiallahu</em> <em>&#8216;anhu</em>, beliau bersabda,</p>
<p class="arab">إذا اتخذ الفيء دولا ، والأمانة مغنما ، والزكاة مغرما ، وتعلم لغير الدين ، وأطاع الرجل امرأته ، وعق أمه ، وأدنى صديقه ، وأقصى أباه ، وظهرت الأصوات في المساجد ، وساد القبيلة فاسقهم ، وكان زعيم القوم أرذلهم ، وأكرم الرجل مخافة شره ، وظهرت القينات والمعازف ، وشربت الخمور ، ولعن آخر هذه الأمة أولها فليرتقبوا عند ذلك ريحا حمراء وزلزلة وخسفا ومسخا وقذفا وآيات تتابع كنظام بال قطع سلكه فتتابع</p>
<p>“<em>Jika harta rampasan perang dijadikan kas negara (tidak lagi diberikan kepada orang yang ikut perang), amanah dijadikan rebutan, jatah zakat dikurangi, selain ilmu agama banyak dipelajari, lelaki taat kepada wanita dan memperbudak ibunya, orang lebih dekat kepada temannya dan menjauh dari ayahnya, banyak teriakan di masjid, yang memimpin kabilah adalah orang yang bejat (fasik), yang memimpin masyarakat orang yang rendah (agamanya), orang dimuliakan karena ditakuti pengaruh buruknya, para penyanyi wanita tampil di permukaan, khamr diminum, dan generasi terakhir melaknat generasi pertama (sahabat), maka bersiaplah ketika itu dengan adanya angin merah, gempa bumi, manusia ditenggelamkan, manusia diganti wajahnya, dilempari batu dari atas, dan berbagai tanda kekuasaan Allah (musibah) yang terus-menerus, seperti ikatan biji tasbih yang putus talinya, maka biji ini akan lepas satu-persatu.</em>” (HR. Turmudzi, beliau mengatakan: Terdapat hadis semisal dari Ali, hadis ini gharib, tidak kami jumpai kecuali dari jalur ini)</p>
<h3>Gempa Bumi Termasuk di Antara Tanda Dekatnya Kiamat</h3>
<p>Di antara tanda dekatnya kiamat adalah seringnya terjadi gempa bumi. Disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah <em>radhiallahu</em> &#8216;anhu, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا تقوم الساعة حتى يقبض العلم ويتقارب الزمان وتكثر الزلازل ، وتظهر الفتن ، ويكثر الهرج &#8221; قيل وما الهرج يا رسول الله ؟ قال : القتل القتل</p>
<p>“<em>Tidak akan terjadi kiamat, sampai ilmu itu diangkat, waktu semakin pendek, banyak gempa bumi, fitnah meraja lela, dan banyak terjadi al-haraj</em>.” Sahabat bertanya, apa itu al-haraj? Beliau menjawab: “<em>Pembunuhan, pembunuhan</em>”. (HR. Bukhari)</p>
<h2>Bukan Hanya Fenomena Alam!!</h2>
<p>Sebagian orang tidak menerima pernyataan gempa sebagai peringatan dari Allah. Mereka beranggapan bahwa gempa sama sekali tidak memiliki kaitan dengan perbuatan dan maksiat manusia. Kejadian gempa itu murni fenomena alam, bukan hukuman tuhan. Beristigfar, bukanlah solusi yang tepat dalam hal ini.</p>
<p>Jawaban pernyataan ini, sesungguhnya Allah menjelaskan bahwa gempa bumi, statusnya sama dengan fenomena alam yang lain. Allah ciptakan fenomena semacam ini untuk menakut-nakuti hamba-Nya, agar merka meninggalkan dosa dan kembali kepada Penciptanya.</p>
<p>Pengetahuan kita tentang sebab gempa tidaklah menihilkan bahwa itu merupakan bagian takdir Allah untuk hamba-Nya disebabkan dosa mereka. Sehingga maksiat inilah yang menjadi pemicu sebab. Ketika Allah menghendaki sesuatu, Allah ciptakan sebabnya dan Allah wujudkan akibatnya. Sebagaimana yang Allah nyatakan,</p>
<p class="arab">وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً</p>
<p>“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra: 16)</p>
<h3>Solusi Ketika Terjadi Bencana</h3>
<p>Karena itu, bertaqwalah kepada Allah, takutlah kepada Allah, mintalah ampunan kepada Allah. Ingatlah firman Allah,</p>
<p class="arab">قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ * وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ * لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)&#8221;. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: &#8220;Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu&#8221;.  Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui</em>.” (QS. Al-An’am: 65 – 67)</p>
<p>Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim surat ke berbagai negara bagian. Isinya:</p>
<p class="arab">أما بعد فإن هذا الرجف شيء يعاتب الله عز وجل به العباد ، وقد كتبت إلى سائر الأمصار أن يخرجوا في يوم كذا ، فمن كان عنده شيء فليتصدق به فإن الله عز وجل قال : (قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى* وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى) وقولوا كما قال آدم : (( قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ) وقولوا كما قال نوح : (( وإلا تغفر لي وترحمني أكن من الخاسرين )) وقولوا كما قال يونس : (( لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين ))</p>
<p>Amma ba’du, sesungguhnya gempa yang terjadi ini merupakan teguran dari Allah kepada hamba-Nya. Saya telah mengirim surat ke berbagai daerah untuk keluar pada hari tertentu. Siapa yang memiliki sesuatu, hendaknya dia sedekahkan. Karena Allah berfirman,</p>
<p class="arab">قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى* وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى</p>
<p>“Sungguh beruntung orang yang mengeluarkan zakat. Dia mengingat nama Tuhannya kemudian shalat.”</p>
<p>Dan aku perintahkan mereka untuk mengatakan sebagaimana yang diucapkan Adam:</p>
<p class="arab">رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“<em>Ya Allah, kami telah menzalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, tentu kami akan menjaid orang yang rugi</em>.”</p>
<p>Aku juga perintahkan agar mereka mengucapkan sebagaimana yang dikatakan Yunus:</p>
<p class="arab">لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين</p>
<p>Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim. (<em>Al-Jawabul Kafi</em>, Hal. 88)</p>
<p>Disadur dengan berbagai perubahan dari artikel: <em>Az-Zilzal: ‘Ibarun wa ‘idzah</em>, karya Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Habdan.</p>
<p>Sumber: <a href="http://alhabdan.islamlight.net" rel="nofollow" target="_blank">http://alhabdan.islamlight.net</a></p>
<p><strong>Diterjemahkan oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/gempa-bumi" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://pengusahamuslim.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/gempa-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sikap Islami Menghadapi Kenaikan Harga BBM (Bagian 2)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/bbm-naik/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/bbm-naik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Mar 2012 06:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10753</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya segala keresahan dan kesedihan yang dialami kaum muslimin adalah ujian dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya segala keresahan dan kesedihan yang dialami kaum muslimin adalah ujian dari Allah. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ</p>
<p>“<em>Jika ada yang menimpa seorang muslim, baik berupa rasa capek, sakit, kebingunan, kesedihan, kezhaliman orang lain, kesempitan hati, sampai duri yang menancap di badannya maka Allah akan jadikan semua itu sebagai penghapus dosa-dosanya</em>.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Mengingat hadis ini, sikap selanjutnya terkait kenaikan BBM: dilihat dari sudut pAndang takdir, kenaikan BBM adalah musibah yang datang dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, untuk menguji kaum muslimin, sekaligus menjadi penghapus dosa mereka. Keresahan yang mereka alami, hakikatnya adalah penghapus dosa yang pernah mereka lakukan. Siapa yang bersabar dan meniti jalan kebenaran maka Allah akan hapuskan dosa-dosanya dan akan Allah berikan jalan keluar terbaik.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ</p>
<p>“<em>Siapa yang bertakwa kepada Allah, maka akan Allah berikan jalan keluar. Allah akan berikan rezeki dari jalur yang tidak mereka perhitungkan..</em>” (QS. At-Thalaq: 2–3)</p>
<p>Dalam memahami konsep musibah, sikap yang harus kita kedepankan adalah menuduh pribadi kita sebagai sumber masalahnya. Masing-masing individu menuding dirinya bahwa bisa jadi musibah ini disebabkan karena perbuatan maksiat yang pernah kita lakukan. Sebagaimana yang Allah firmankan,</p>
<p class="arab">وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ</p>
<p>“<em>Segala bentuk musibah yang menimpa kalian, semuanya disebabkan ulah tangan (maksiat) kalian. Dan Allah telah memberi ampunan untuk banyak dosa</em>.” (QS. As-Syuro: 30)</p>
<p>Ibnu katsir mengatakan,</p>
<p class="arab">أي:مهما أصابكم أيُّها الناس من المصائب فإنما هو عن سيئات تقدمت لكم</p>
<p>“Maksud ayat, musibah apapun yang menimpa kalian – wahai manusia – semuanya disebabkan maksiat yang kalian lakukan.” (<em>Tafsir Ibn Katsir</em>, 2:207)</p>
<p>Setelah kita memahami hal ini, sikap selanjutnya yang harus kita lakukan adalah memperbanyak taubat dan memohon ampunan kepada Allah. Sembari berharap agar Allah mengampuni kita dan memberikan penyelesaian terbaik bagi semuanya. Karena alasan inilah, para ulama selalu mengembalikan adanya musibah dengan nasihat taubat. Dikisahkan, dulu ada seorang ulama yang menerima pengaduan dari masyarakat; Harga-harga barang pada naik. Beliau lalu menasihatkan,</p>
<p class="arab">أنزلوها بالاسغفار</p>
<p>“Turunkan harga dengan banyak istighfar.”</p>
<p>Nasihat beliau ini didasari firman Allah di surat Nuh,</p>
<p class="arab">اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ( ) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا</p>
<p>“<em>Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai</em>.” (QS. Nuh: 10 &#8211; 12)</p>
<p>Ayat ini merupakan jaminan, orang yang banyak memohon ampunan, akan Allah lapangkan rezeki dan keturunannya. Tapi perlu Anda catat tebal-tebal, ini hanya bisa dipahami dengan bahasa iman. Selama seseorang masih mengedepankan logika, selama itu pula dia akan kesulitan untuk menerimanya.</p>
<p>Contoh nyata penerapan adab ini, diterapkan Nabi Yunus, di saat beliau berada dalam kegelapan perut ikan. Nabi Yunus merengek, memohon ampun kepada Allah,</p>
<p class="arab">فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ</p>
<p>“<em>Dia menyeru dalam kegelapan, dengan mengucapkan: Laa ilaaha illaa anta, subhaanak. Innii kuntu minad dzaalimiin. (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang yang zhalim)</em>.” (QS. Al-Anbiya: 87)</p>
<p>Adab selanjutnya, tetap jaga hati untuk husnu-zhan kepada Allah</p>
<p>Apapun yang menimpa diri Anda, jangan sampai menggiring Anda untuk berburuk sangka kepada Allah. Karena sekalipun itu musibah, hakikatnya Allah hendak memberikan kebaikan bagi Anda. Dengan musibah ini, Allah hendak menghapuskan dosa Anda, dan dengan musibah ini Allah hendak meninggikan derajat Anda. Jadi, apapun yang Allah berikan kepada Anda, hakikatnya untuk kebaikan Anda. Perhatikan motivasi yang diberikan sahabat Ibnu Mas&#8217;ud berikut,</p>
<p class="arab">والذي لا إله غيرُه، ما أعطي عبدٌ مؤمن شيئاً خيرا من حسن الظن بالله عز وجل. والذي لا إله غيره، لا يحسن عبد بالله عز وجل الظن إلا أعطاه الله عز وجل ظنه، ذلك بأنَّ الخير في يده</p>
<p>“<em>Demi Allah, Dzat yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Tidak ada pemberian untuk hamba beriman yang lebih baik dari pada husnu-zhan kepada Allah. Demi Allah, jika seorang hamba berbaik sangka kepada Allah, maka pasti Allah akan memberikan sesuai persangkaannya. Karena semua kebaikan ada di tangan Allah</em>.” (HR. Ibnu Abid Dunya)</p>
<p>Bagaimana agar bisa disebut husnu-zhan kepada Allah? Caranya, paksa hati Anda untuk meyakini bahwa ujian yang saat ini sedang menimpa Anda adalah penghapus dosa Anda. Jaga hati dan lisan baik-baik, jangan sampai mengucapkan sesuatu yang mengundang murka Allah. Hindari perasaan, Allah tidak adil, Allah zhalim, Allah mengurangi jatah rezekiku, dimana kemurahan Allah,&#8230; dst. Hindari.., jangan sampai kita benci ketetapan Allah. Hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">&#8220;عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ&#8221;</p>
<p>“<em>Besarnya balasan itu sebanding dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai seseorang maka Dia akan memberikan ujian kepadanya. Siapa yang ridha, dia akan mendapatkan ridha Allah dan siapa yang benci, dia akan mendapatkan kebencian Allah</em>.” (HR. Turmudzi, Ibn Majah, dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Al-Mubarokfuri menjelaskan, “Siapa yang membenci ujian yang datang dari Allah, tidak rela terhadap ketetapan dari-Nya maka dia akan mendapatkan kemurkaan dari Allah dan siksa yang menyakitkan. Sebagai balasan terhadap sikap dia menentang takdir.” (<em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, 7:65)</p>
<p>Termasuk bagian dari sikap husnu-zhan kepada Allah adalah memperbanyak berdoa dan berharap, agar Allah memberikan jalan keluar terbaik baginya. Dia tidak bosan-bosan untuk bersimpuh di hadapan Rabnya, meminta dan memohon agar Allah memberikan jalan keluar terbaik baginya. Inilah sikap yang dicontohkan para nabi, ketika mendapatkan ujian dari Allah, disamping berusaha untuk sabar dalam menerima ujian ini. Perhatikan Nabi Ayyub, di saat tumpukan musibah dunia yang menimpanya, beliau mengadu kepada Allah:</p>
<p class="arab">أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya aku sedang tertimpa musibah, dan Engkau Dzat yang sangat belas kasihan.</em>” (QS. Al-Anbiya: 83)</p>
<p><strong>Apa doa yang harus kita baca?</strong><br />
Kita bisa membaca semua doa yang isinya kebaikan. Setelah kita memohon ampunan kepada Allah, berdoalah memohon kebaikan untuk dunia dan akhirat. Kita bisa berdoa dengan bahasa Indonesia atau bahasa apa pun yang bisa Anda pahami.</p>
<p><strong>Adab penting!</strong><br />
Hindari, menyebut-nyebut kenaikan harga di depan tamu Anda atau teman Anda.</p>
<p>Abul Aina&#8217; menceritakan,<br />
“Suatu ketika ada seseorang yang bertamu di rumah temannya. Ketika itu sedang musim paceklik. Si tuan rumah sering sekali menyebut-nyebut kenaikan harga. Mendengar hal ini, si tamu lantas mengangkat tangannya dan mengatakan, ‘Bukan termasuk sikap terhormat, menyebut-nyebut kenaikan harga di depan tamu, ketika sedang menghidangkan makanan!’ Tuan rumah kemudian minta maaf, dan memohon kepada tamu agar memakan hidangannya. Namun si tamu tidak menyentuhnya sama sekali, kemudian dia pergi keesokan harinya.” (<em>Adab Muwakalah</em>, Hal. 7)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/bbm-naik" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel sebelumnya:</p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/kenaikan-harga-bbm" target="_blank"><strong>Sikap Islami Menghadapi Kenaikan Harga BBM (Bagian 1)</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/bbm-naik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sikap Islami Menghadapi Kenaikan Harga BBM (Bagian 1)</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kenaikan-harga-bbm/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kenaikan-harga-bbm/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Mar 2012 23:30:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10701</guid>
		<description><![CDATA[KonsultasiSyariah.com &#8211; Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM pertanggal 1 April 2012 telah meresahkan banyak masyarakat. Berbagai respon yang beraneka ragam mereka lakukan dalam menghadapi fenomena ini. Sebagai orang yang beriman, kita tentu yakin bahwa Islam mengajarkan aturan terkait masalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KonsultasiSyariah.com</strong> &#8211; Rencana pemerintah untuk menaikkan <strong>harga BBM</strong> pertanggal 1 April 2012 telah meresahkan banyak masyarakat. Berbagai respon yang beraneka ragam mereka lakukan dalam menghadapi fenomena ini. Sebagai orang yang beriman, kita tentu yakin bahwa Islam mengajarkan aturan terkait masalah ini. Hanya saja ada yang tahu dan ada yang belum tahu aturan itu.<br />
<span id="more-10701"></span><br />
Sebagai orang yang beriman, kita tentu yakin bahwa aturan syariah merupakan aturan yang paripurna. Aturan yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan, <strong>meskipun bisa jadi tidak sejalan dengan logika kita. Ini penting untuk kita pahami, karena bisa jadi di antara kita ada yang merasa tidak puas dengan aturan ini</strong>. Bisa jadi di antara kita merasa aturan ini tidak sesuai dengan kepentingannya. Namun apapun itu, Anda perlu yakin bahwa aturan syariat harus dinomor-satukan. Dengan demikian, kita layak untuk disebut telah mendapat hidayah, karena kita mengambil sikap yang berbeda dengan mereka yang tidak sesuai aturan Alquran dan sunnah.</p>
<p class="arab">لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ</p>
<p>“<em>Sehingga semakin tersesat orang yang tersesat setelah mendapat penjelasan dan hiduplah orang yang hidup (dengan hidayah) setelah mendapat penjelasan</em>.” (QS. Al-Anfal: 41)</p>
<p><strong>Pertama</strong>, sesungguhnya Allah Dzat yang menakdirkan semua harga</p>
<p>Kasus naiknya harga barang, tidak hanya terjadi di akhir zaman. Fenomena ini bahkan pernah terjadi di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Disebutkan dalam riwayat bahwa di zaman sahabat pernah terjadi kenaikan harga. Mereka pun mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan menyampaikan masalahnya. Mereka mengatakan,</p>
<p class="arab">يا رسول الله غلا السعر فسعر لنا</p>
<p>“Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik, maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang.”</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab,</p>
<p class="arab">إن الله هو المسعر القابض الباسط الرازق وإني لآرجو أن ألقى الله وليس أحد منكم يطلبني بمظلمة في دم أو مال</p>
<p>“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Dengan memahami hal ini, setidaknya kita berusaha mengedepankan sikap tunduk kepada takdir, dalam arti tidak terlalu bingung dalam menghadapi kenaikan harga, apalagi harus stres atau bahkan bunuh diri. Semua sikap ini bukan solusi, tapi justru menambah beban dan memperparah keadaan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, sesungguhnya kenaikan harga tidak mempengaruhi rezeki seseorang</p>
<p>Bagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun, masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki mereka.</p>
<p>Allah menyatakan,</p>
<p class="arab">وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ</p>
<p>“<em>Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat</em>.” (QS. As-Syura: 27)</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan,</p>
<p class="arab">أي: ولكن يرزقهم من الرزق ما يختاره مما فيه صلاحهم، وهو أعلم بذلك فيغني من يستحق الغنى، ويفقر من يستحق الفقر.</p>
<p>“Maksud ayat, Allah memberi rezeki mereka sesuai dengan apa yang Allah pilihkan, yang mengandung maslahat bagi mereka. Dan Allah Maha Tahu hal itu, sehingga Allah memberikan kekayaan kepada orang yang layak untuk kaya, dan Allah menjadikan miskin sebagian orang yang layak untuk miskin.” (<em>Tafsir Alquran al-Adzim</em>, 7:206)</p>
<p>Terkait dengan hal ini, jauh-jauh hari, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengingatkan umatnya agar jangan sampai mereka merasa rezekinya terlambat atau jatah rezekinya serat. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ</p>
<p>“<em>Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.</em>” (HR. Baihaqi, dishahihkan Hakim dalam <em>Al-Mustadrak</em> dan disepakati Ad-Dzahabi)</p>
<p>Setelah memahami hal ini, seharusnya tidak ada lagi yang namanya orang stres berlebihan ketika mengalami ujian ekonomi. Apapun ujian yang dialami manusia, sama sekali tidak akan mengurangi jatah rezekinya.</p>
<p>Namun satu hal yang perlu Anda catat tebal-tebal, hadis ini sama sekali bukan untuk memotivasi Anda agar tidak bekerja atau meninggalkan aktivitas mencari rezeki. Bukan demikian maksudnya. Kita tidak tahu seberapa jatah rezeki kita, sehingga tidak ada seorang pun yang mogok kerja, meninggalkan anak istri terlunta-lunta, karena latar belakang keyakinan bahwa rezekinya sudah dipatok harganya. Ini jelas pemahaman yang salah.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengingatkan demikian, tujuannya agar manusia tidak terlalu ambisius dengan dunia, sampai harus melanggar yang dilarang syariat. Kemudian ketika terjadi musibah, manusia tidak sedih yang berlebihan, apalagi harus stres.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/kenaikan-harga-bbm" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kenaikan-harga-bbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan dan Keutamaan Ahli Ilmu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kedudukan-dan-keutamaan-ahli-ilmu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kedudukan-dan-keutamaan-ahli-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2012 23:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10643</guid>
		<description><![CDATA[Kedudukan dan Keutamaan Ahli Ilmu Pertanyaan: Bagaimana kedudukan dan keutamaan ahli ilmu (orang yang berilmu agama) dalam Islam? Jawaban: Kedudukan ahli  ilmu adalah kedudukan yang paling agung, karena para ahlul ilmi adalah pewaris para nabi. Karena itulah diwajibkan kepada mereka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kedudukan dan Keutamaan Ahli Ilmu</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bagaimana kedudukan dan keutamaan <strong>ahli ilmu</strong> (orang yang berilmu agama) dalam Islam?<br />
<span id="more-10643"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kedudukan <strong>ahli  ilmu</strong> adalah kedudukan yang paling agung, karena para ahlul ilmi adalah pewaris para nabi. Karena itulah diwajibkan kepada mereka untuk menjelaskan ilmu dan mengajak manusia ke jalan Allah. Kewajiban ini tidak dibebankan kepada selain mereka.</p>
<p>Di dunia ini mereka laksana <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow"><strong>bintang-bintang di langit</strong></a>, yang mana mereka membimbing manusia yang sesat dan bingung serta menjelaskan kebenaran kepada mereka dan memperingatkan mereka terhadap kuburukan. Karena itu, di bumi ini mereka bagaikan air hujan yang membasahi bumi yang kering kerontang, lalu tumbuhlah tumbuhan dengan izin Allah.</p>
<p>Di samping itu, diwajibkan kepada para <strong>ahli ilmu</strong> untuk beramal, berakhlak dan beretika yang tidak seperti yang diwajibkan pada selain mereka,karena mereka adalah suri teladan, sehingga mereka adalah manusia yang paling berhak dan paling berkewajjiban untuk melaksanakan syariat, baik dalam etika maupun akhlaknya.<br />
Dari fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang beliau tanda tangani.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2</em>, Darul Haq Cetakan:VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/kedudukan-dan-keutamaan-ahli-ilmu" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kedudukan-dan-keutamaan-ahli-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedatangan Ulat Bulu</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/kedatangan-ulat-bulu/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/kedatangan-ulat-bulu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 01:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10660</guid>
		<description><![CDATA[Konsultasi Syariah &#8211; Pada semester awal tahun 2011, sebagian wilayah Indonesia dihebohkan dengan serangan ulat bulu yang tidak hanya sebagai hama di ladang namun juga menyerang pemukiman warga. Kejadian serupa kembali terjadi di awal tahun ini, meskipun tidak sedahsyat tahun ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank"><strong>Konsultasi Syariah</strong></a> &#8211; Pada semester awal tahun 2011, sebagian wilayah Indonesia dihebohkan dengan serangan <strong>ulat bulu</strong> yang tidak hanya sebagai hama di ladang namun juga menyerang pemukiman warga. Kejadian serupa kembali terjadi di awal tahun ini, meskipun tidak sedahsyat tahun sebelumnya. Daerah Sidoarjo dan Pamekasan, Madura, telah didatangi hewan yang merupakan keluarga <strong>Lepidoptera</strong> ini.<br />
<span id="more-10660"></span><br />
Wabah hewan seperti ini pun pernah menimpa masyarakat <strong>Firaun</strong> di zaman <strong>Nabi Musa</strong> <em>‘alaihissalam</em>. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ ءَايَاتٍ مُّفَصَّلاَتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ</p>
<p>“<em>Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.</em>” (QS. Al A’raf: 133)</p>
<p>Pada kesempatan kali ini kami akan menyuplikkan tafsir surat ini, agar kita semua bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang terdahulu yang telah disampaikan Alquran.</p>
<p>Nabi Musa diutus kepada Bani Israil dan kaum Qibthi yakni orang-orang Mesir, kaumnya Firaun. Kaum Nabi Musa ini Allah timpakan dengan berbagai macam adzab. Yang pertama adalah angin topan disertai hujan yang lebat. Angin dan hujan ini membuat pemukiman mereka tergenang air hingga sebatas leher mereka. Keadaan tersebut berlangsung sampai 7 hari, ada pula yang mengatakan sampai 40 hari. Lalu mereka meminta kepada Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah menghilangkan musibah yang mereka alami, mereka berjanji kalau adzab tersebut hilang mereka akan beriman kepada risalahnya. Air pun surut dan berganti dengan tumbuh-tumbuhan dan tanaman yang subur. Mereka pun berujar, “Ternyata air yang kemarin itu adalah sebuah nikmat.” Allah pun mendatangkan belalang untuk mereka sebagai adzab yang kedua. Belalang itu melahap tanaman-tanaman di kebun-kebun mereka, bahkan belalang tersebut dengan ganasnya memakan atap-atap dan pintu-pintu rumah mereka sehingga rumah mereka pun roboh. Mirip dengan wabah <em>ulat bulu</em> yang larva-larvanya merusak pintu-pintu rumah warga dan masuk ke dalam rumah mereka.</p>
<p>Untuk kedua kalinya, mereka memohon kepada Nabi Musa agar berkenan berdoa kepada Allah menghilangkan hama belalang yang menjadikan hidup mereka menjadi sulit. Mereka kembali mengikrarkan janji akan beriman kepada risalah yang dibawa Musa apabila musibah ini benar-benar hilang dari mereka. Nabi Musa pun dengan rasa kasih sayangnya berdoa kepada Allah agar menghilangkan musibah yang menimpa orang-orang Qibthi ini. Musibah pun hilang, tanaman-tanaman mereka pun gagal panen dan hancur kecuali sebagian kecil saja yang masih ada. Mereka menerima dan pasrah dengan keadaan tersebut namun kembali mengingkari janji mereka terhadap <em>Nabi Musa</em>.</p>
<p>Allah kembali mengadzab mereka dengan mendatangkan kutu. Kutu tersebut menghabisi sisa-sisa tanaman yang ada pada mereka, menempel di kulit, mengganggu kenyaman di saat mereka bersantai di rumah dan mengganggu nyenyaknya tidur mereka. Pada saat musibah ini pun hilang, mereka tetap tidak mengambil pelajaran dan tetap enggan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Musa <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Setelah itu, Allah mengadzab mereka dengan katak. Katak tersebut memenuhi tempat tidur mereka, makanan, minuman, sampai-sampai seseorang bersantai dengan bertumpang dagu di kelilingi oleh katak, ketika orang tersebut berbicara katak tersebut langsung melompat ke mulutnya. Mereka mengadu kepada Nabi Musa dan menyatakan bertaubat dari dosa-dosa mereka, Allah pun menerima taubat mereka dan menghilangkan katak-katak tersebut dari sekeliling mereka. Namun orang-orang yang fajir ini dengan cepatnya kembali ke kekufuran semula.</p>
<p>Allah kembali mengadzab mereka kali ini dengan darah yang mengalir di sumber-sumber air mereka. Sebaliknya Bani Israil tetap dianugerahkan air yang mengalir karena mereka beriman kepada <span style="text-decoration: underline;">Nabi Musa</span>. Diriwayatkan ketika seorang <strong>Bani Israil</strong> menuangkan air ke mulut orang-orang Qibthi, air tersebut berubah menjadi darah, sampai mereka pun merasa jijik. Sebaliknya, ketika orang-orang Qibthi menuangkan darah ke mulut Bani Israil, serta-merta darah tersebut berubah menjadi air.</p>
<p>Allah mendatangkan tanda-tanda kebesarannya ini kepada <strong>orang-orang Qibthi</strong> agar mereka mengambil pelajaran, namun mereka tetap ingkar dan sombong untuk mengimani risalah kenabian Musa. Adzab tersebut didatangkan Allah dengan jeda waktu 7 hari atau 40 hari atau 1 bulan. Orang-orang Qibthi tetap menyombongkan diri dan ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya akhirnya Allah binasakan mereka dengan menenggelamkan mereka di laut.</p>
<p>Berkaca dengan keadaan <strong>bangsa Qibthi</strong> yang telah didatangkan berbagai macam adzab namun mereka tidak juga mau sadar dan beriman kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Samakah keadaannya dengan kita di negeri ini? Bencana alam silih berganti, datang menghampiri bangsa ini; sunami, gempa bumi, banjir, kekeringan, kelaparan, gangguan hama, dll. Apakah kita semakin ingkar atau kembali mengingat Allah? Jawabannya kami kembalikan kepada pembaca dan masing-masing kita saling mengintrospeksi diri dan terus saling menasihati.</p>
<p class="arab">وَمَانُرْسِلُ بِاْلأَيَاتِ إِلاَّ تَخْوِيفًا</p>
<p>“<em>Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti</em>.” (QS. Al Isra: 59)</p>
<p class="arab">وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ اْلأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ اْلأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ</p>
<p>“<em>Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).</em>” (QS. As Sajdah: 21)</p>
<p>Berbeda dengan umat-umat terdahulu yang Allah binaskan, umat Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> Allah berikan keistimewaan sebagai kasih sayang-Nya kepada umat ini, Allah tangguhkan adzab mereka sampai hari kiamat, sebagai kesempatan bagi mereka yang inign bertaubat dan kembali kepada Allah. Adakah orang-orang yang mau kembali?</p>
<p>Sumber: Tafsir Al Qurthubi, <em>Al Jami’ li Ahkamil Qur’an.</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Nurfitri Hadi (Tim <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/kedatangan-ulat-bulu" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/kedatangan-ulat-bulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Naik Motor di Trotoar</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/motor-naik-di-trotoar/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/motor-naik-di-trotoar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 03:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10630</guid>
		<description><![CDATA[Permasalahan lalu-lintas merupakan permasalahan klasik yang dihadapi kota-kota besar dunia. Ada yang berhasil mengatasinya, ada pula yang keteteran dan tidak mampu menghadapi permasalahan ini. Mobilitas masyarakat di kota besar yang tinggi juga memberi sumbangan besar terhadap kemacetan karena besaran volume ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permasalahan lalu-lintas merupakan permasalahan klasik yang dihadapi kota-kota besar dunia. Ada yang berhasil mengatasinya, ada pula yang keteteran dan tidak mampu menghadapi permasalahan ini. Mobilitas masyarakat di kota besar yang tinggi juga memberi sumbangan besar terhadap kemacetan karena besaran volume kendaraan di jalan raya berbanding lurus dengan mobilitas masyarakatnya. Namun sayang, keadaan ini tidak diimbangi dengan pembangunan fasilitas jalan raya yang memadai. Akibatnya, hal ini menjadi penyebab sekian banyak permasalahan; macet, k<strong>ecelakaan</strong>, meningkatnya polusi, <strong>pemborosan bahan bakar</strong>, dsb.<br />
<span id="more-10630"></span><br />
Permasalahan semakin diperparah dengan mental dan moral masyarakat yang jelek, akhirnya banyak terjadi kezhaliman. Di antara kezhaliman tersebut adalah <strong>naiknya sepeda motor di trotoar</strong> yang merupakan tempat pejalan kaki. Sering kita temui pengendara sepeda motor menaiki trotoar sebagai jalur alternatif agar terbebas dari kemacetan. Mereka tidak peduli kalau hal itu menyusahkan, mengancam, dan membuat pejalan kaki merasa tidak nyaman.</p>
<p>Berikut ini kami akan membahas bagaimana pandangan Islam terhadap permasalahan ini.</p>
<h2>Pertama, Motor Naik di Trotoar Menzhalimi Pejalan Kaki</h2>
<p>Islam merupakan agama yang adil dan mencela perbuatan zhalim. Dalam sebuah hadis qudsi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا</p>
<p>&#8220;<em>Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezhaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi&#8230;</em>” (HR. Muslim, no.6737)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ</p>
<p>“<em>Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain</em>.” (HR. Ibnu Majah 2:784, Baihaqi 10:133, Ahmad 1:313, Daruquthni 4:228, Hakim 2:57)</p>
<p class="arab">اتَّقُوْا الظُلْمَ، فَإِنَّ الظُلْمَ ظُلُوْمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ</p>
<p>“<em>Takutlah terhadap perbuatan zhalim, karena kezhaliman adalah kegelapan yang sangat di hari kiamat</em>.” (HR. Bukhari, no. 2447, Muslim, no.2579, dan Tirmidzi, no. 2035)</p>
<p>Demikianlah perkaran kezhaliman, ia akan mewariskan kegelapan dan penyesalan di hari kiamat.</p>
<h3>Kedua, Doa Orang yang Terzalimi Tidak Tertolak</h3>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَهُنَّ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِمَا</p>
<p>“<em>Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan) tanpa diragukan: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa kedua orang tua untuk kecelakaan anaknya</em>.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 32, 481 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)</p>
<p><em>“…dan berhati-hatilah dari doanya orang yang terzalimi; karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dengan Allah</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hendaknya seorang pengendara yang nekat mengambil hak pejalan kaki takut akan peringatan ini. Siapa tahu di antara pejalan kaki ada yang merasa sakit hati lalu mendoakan kejelekan baginya. Padahal sebelumnya pengendara sepeda motor tersebut berharap menghemat waktu atau bersegera menjemput rezekinya atau kegiatan-kegiatan lainnya, namun doa dari pejalan kaki yang ia zhalimi telah menghalanginya untuk meraih yang ia harapkan.</p>
<h3>Ketiga, Meremehkan Dosa</h3>
<p>Mungkin saja di antara pengendara sepeda motor ada yang mengatakan “Ah kalo ini dosa, paling seberapa sih dosanya?!” atau perkataan serupa. Dikatakan, “<em>Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus</em>.”</p>
<p>Menganggap sebuah dosa adalah dosa kecil, lalu meremehkannya adalah sifat orang-orang yang fajir. Abdullah bin Mas’ud <em>radhiallahu’anhu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ</p>
<p>“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.”(HR. Bukhari, no.6308)</p>
<h3>Keempat, Dosa Jariyah</h3>
<p>Kita sering mendengar istilah amal jariyah, yaitu amal yang bermanfaat bagi pelakunya walaupun ia telah meninggal. Artinya pahala amalan tersebut akan terus mengalir ke kuburnya. Di antara amalan jariyah tersebut adalah seseorang mengajarkan kebaikan lalu kebaikan itu diikuti dan diamalkan oleh orang-orang setelahnya.</p>
<p>Sebaliknya, kita jarang mendengar istilah dosa jariyah, padahal dosa jariyah pun ada seperti amal jariyah, yaitu seseorang mengajarkan atau melakukan perbuatan dosa lalu ditiru oleh orang-orang setelahnya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ. ومَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ</p>
<p>“<em>Siapa yang melakukan satu sunah hasanah (perbuatan baik) dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunah sayyiah (perbuatan jelek) dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun</em>.” (HR. Muslim, no.2348)</p>
<p>Bisa jadi seseorang ketika melewati trotoar ada orang lain yang melihat perbuatannya tersebut kemudian terinspirasi lalu menirunya kemudian perbuatana orang yang kedua ini pun ditiru lagi oleh orang yang ketiga dan seterusnya sampai sekian banyak jumlahnya sehingga apa yang disabdakan nabi “<strong>Dan siapa yang melakukan satu sunah sayyiah (perbuatan jelek) dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun</strong>.” Ditanggung oleh sang inspirator pertama, <em>na’udzubillah min dzalik</em>.</p>
<p>Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita agar tidak meremehkan perbuatan dosa.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Nurfitri Hadi (Tim <a href="http://konsultasisyariah.com/motor-naik-di-trotoar" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/motor-naik-di-trotoar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat Bukanlah Gunjingan</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/nasihat-bukanlah-gunjingan/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/nasihat-bukanlah-gunjingan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 06:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10604</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Seseorang hendak menugaskan orang lain dengan suatu pekerjaan. Saya tahu bahwa orang tersebut tidak mampu melaksanakannya karena tidak mempunyai keahlian di bidang tersebut. Bolehkah saya memberitahu orang yang hendak memberinya tugas itu tentang kekurangan-kekurangan orang yang hendak diberi tugas ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Seseorang hendak menugaskan orang lain dengan suatu pekerjaan. Saya tahu bahwa orang tersebut tidak mampu melaksanakannya karena tidak mempunyai keahlian di bidang tersebut. Bolehkah saya memberitahu orang yang hendak memberinya tugas itu tentang kekurangan-kekurangan orang yang hendak diberi tugas itu. Apakah ini termasuk menggunjing?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h2>Nasihat Bukanlah Gunjingan</h2>
<p>Jika maksudnya nasihat maka bukan berarti menggunjing. Hal ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>“Agama adalah nasihat.”</p>
<p>Ditanyakan kepada Beliau, “Bagi siapa ya Rasulullah?” beliau menjawab, “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin umumnya.”</p>
<p>Disebutkan dalam ash-Shahihain dari Jabir bin Abdullah al-Bajali ia berkata, “Aku berbai’at kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” Dan masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini. Hanya Allah lah yang mampu memberi petunjuk.</p>
<p><em>Majalah ad-Da’wah</em>. Nomor 1172, Syaikh Ibn Baz<br />
<em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3</em>, Darul Haq Cetakan VI 2011</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/nasihat-bukanlah-gunjingan" target="_blank">www.konsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/nasihat-bukanlah-gunjingan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Perkataan Sahabat Nabi</title>
		<link>http://www.konsultasisyariah.com/perkataan-sahabat-nabi/</link>
		<comments>http://www.konsultasisyariah.com/perkataan-sahabat-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2012 02:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10260</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah perkataan salafush shalih mutlak harus diamalkan jika riwayatnya shahih? Jawaban: Kedudukan Perkataan Sahabat Nabi Tidak ada satu kaidah yang baku yang dapat diterapkan dalam menyikapi perkataan para ulama salaf. Tetapi ada kaidah-kaidah tertentu yang harus kita perhatikan, misalnya: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apakah perkataan salafush shalih mutlak harus diamalkan jika riwayatnya shahih?<br />
<span id="more-10260"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2>Kedudukan Perkataan Sahabat Nabi</h2>
<p>Tidak ada satu kaidah yang baku yang dapat diterapkan dalam menyikapi perkataan para ulama salaf. Tetapi ada kaidah-kaidah tertentu yang harus kita perhatikan, misalnya: Jika perkataan atau perbuatan seorang sahabat tidak bertentangan dengan Alquran dan hadis Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, diketahui oleh mayoritas sahabat dan tidak ada seorang sahabat pun yang menentangnya. Maka kita harus dengan lapang dada dan tanpa keraguan sedikit pun menerima perkataan/perbuatan tersebut.</p>
<p>Tetapi, sebagian orang ada yang bersikap <em>ghuluw</em> (keterlaluan). Mereka berkata, “Mereka (para sahabat) adalah manusia biasa, tak berbeda dengan diri saya, jika ada seorang sahabat menghalalkan suatu perkara, maka kami pun berhak mengharamkannya.” Maka kami katakan kepada orang in: “Engkau itu siapa wahai saudaraku, bila dibandingkan dengan seorang sahabat? Sampai batas apa ilmu dan pemahamanmu terhadap Kitabullah dan hadis Rasulullah?”</p>
<p>Oleh karena itu, wajib bagi kita bersikap hati-hati dan tidak tertipu dengan pendapat-pendapat kita sendiri. Kita wajib menjadi seorang yang muslim salafi, yaitu dengan mengikuti Salafush Shalih, mengambil dan mengikuti perkataan dan perbuatan mereka, tidak membantah mereka, kecuali perkataan atau perbuatan sahabat tersebut jelas-jelas bertentangan dengan Alquran dan sunah.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8211; 2004 M</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.konsultasisyariah.com/perkataan-sahabat-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

