Apakah Suami Saya Terkena Guna-guna Wanita Lain?

Apakah Suami Saya Terkena Guna-guna Wanita Lain?

suami-terkena-guna-guna-wanita-lain

Pertanyaan:

Ustaz, saya punya masalah yang sangat berat sekali. Singkat cerita, saya sudah pisah ranjang selama enam bulan. Saat ini, suami saya sudah menggugat cerai dan itu sudah berjalan tiga kali. Awalnya, sebelum bulan puasa, suami saya menunjukkan tingkah yang aneh: sering memasang password di handphone-nya padahal biasanya tidak pernah, sering meminjam handphone pada teman wanitanya. Kalau saya tanya, “Kenapa kok pinjam?” Katanya, baterai handphone-nya mudah habis. Pernah, ada foto wanita itu. Lalu, saya beri tahu ke suami saya untuk berhati-hati.

Suami saya jadi sering pulang malam-malam. Pas malam itu, saya tanyai dia dan tiba-tiba dia bilang bahwa dia sudah tidak cinta lagi, tidak sayang lagi, pokoknya dia benci. Katanya, hatinya tertutup untuk saya, yang ada cuma anaknya. Dia juga tidak bisa melihat keindahan saya lagi, yang ada hanya wanita itu.

Dia selalu–dan selalu–menyalahkan saya; tidak ada kebaikan dari saya lagi. Suami saya mengungkit-ungkit masa lalu. Padahal, kalau saya tanya hanya dengan masalah kecil, suami saya malah pergi (minggat) dari rumah saya ke rumah mertua. Waktu itu sekitar minggu kedua bulan puasa.

Pada bulan Desember, dia disuruh pergi dari rumah mertua karena dia sudah susah untuk mendengar nasihat dari orang tua. Dia pun mengurus perceraian diam-diam, tanpa memberitahu saya dan keluarganya. Padahal, waktu itu anaknya sedang diopname. Dia lebih memilih membayar pengacara, Ustaz.

Saya datang ke kiai. Katanya, suami saya kena guna-guna satu keluarga. Wanita itu memberi (sesuatu) ke suami saya supaya suami saya melupakan istri, anak, dan keluarganya.

Saya selalu shalat tahajud supaya diberikan petunjuk oleh Allah. Tapi, saat ini hati saya masih berat untuk mengambil keputusan, Ustaz. Saya belum genap setahun ini memakai jilbab. Saya ingin ada di jalan Allah. Saya ingin suami saya kembali ke keluarganya.

Kesalahan saya sangat kecil sekali, dan kesalahan seperti itu bisa dilakukan siapa saja. Saya berusaha meminta maaf ke suami saya tapi suami saya tidak mau memaafkan. Dia sangat egois; tidak bisa kembali (pada kami). Dia selalu membela wanita itu. Sungguh, saya sangat sakit hati, Ustaz.

Yang saya tanyakan:
1. Apakah suami saya kena guna-guna?
2. Apakah suami saya, ke depan nantinya, baik untuk saya dan anak saya?
3. Apakah suami saya masih mencintai saya lagi?

Tolong berikan saran dan solusi, Ustaz.

Jawaban:

Bismillah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du ….

Ibu yang kami hormati, kami turut memahami kesedihan yang Ibu alami. Namun, apa pun itu, kita harus sadar bahwa ini semua adalah ujian dari Allah. Sikap yang tepat adalah berusaha memosisikan diri pada keadaan yang paling aman, untuk kehidupan dunia dan akhirat. Kalaupun tidak memungkinkan untuk berada di posisi aman bagi kedua kehidupan maka prioritaskan untuk memilih posisi aman bagi kehidupan akhirat. Insya Allah, Allah akan mengganti kehidupan dunia yang telah hilang.

Para ulama mengatakan,

من ترك شيئا لله عوضه الله خيرا منه

“Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang dia inginkan karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberi ganti kepadanya dengan yang lebih baik.”

Langkah yang Ibu tempuh, dengan bertanya terlebih dahulu kepada orang yang Ibu nilai paham agama, merupakan langkah tepat untuk mendapatkan posisi aman ketika mendapat musibah. Oleh karena itu, sebagai mukadimah, kami menyarankan agar Ibu tidak mendatangi dukun, peramal, tukang santet, kiai ilmu putih, atau siapa pun orangnya, yang membuka praktik pengobatan dengan bantuan khadam (baca: jin) atau dengan menggunakan cara yang tidak lazim. Mendatangi mereka justru akan membahayakan posisi kehidupan akhirat kita, sementara posisi aman untuk kehidupan dunia belum tentu tercapai.

Di antara ciri mereka:
1. Mereka membuka praktik pengobatan (ditawar-tawarkan, bahkan sampai diiklankan).
2. Menggunakan syarat-syarat khusus, seperti: pasien diminta untuk membawa barang tertentu atau melakukan ibadah tertentu.
3. Solusi yang dia berikan bukan nasihat, bukan penjelasan hukum-hukum syariat.
4. Biasanya, solusi yang diberikan adalah:
– Air yang sudah diberi doa, tulisan arab yang dibungkus rapi, kertas-kertas bertuliskan ayat Alquran, makanan tertentu, atau wirid dan bacaan tertentu (tanpa ada dalilnya).
– Hanya keterangan yang justru membuat pasien semakin menggantungkan dirinya kepada kiai.

Sekali lagi, jangan sampai kita mendatangi mereka, karena keberadaan mereka tidaklah memberikan solusi, namun justru memperparah keadaan.

Selanjutnya, terkait dengan masalah yang Ibu utarakan.

Pertama: Sesungguhnya, memungkinkan bagi manusia untuk diguna-gunai, sehingga dia membenci keluarganya dan mencintai orang lain. Ini merupakan bahasa sihir yang Allah sebutkan di Alquran. Allah berfirman,

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Mereka (orang Yahudi) belajar kepada dua orang itu tentang ilmu sihir yang mereka gunakan untuk memisahkan seseorang dari pasangannya. Padahal, mereka tidak mampu memberikan bahaya (dampak negatif) kepada orang lain kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah:102)

Kedua: Ayat di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa apa pun yang dilakukan oleh seseorang, niscaya tidak akan memberi pengaruh kepada orang lain, keculi dengan takdir dari Allah.

Ketiga: Dalam menyelesaikan masalah ini, mohon jangan dihadapi sendiri. Ibu memerlukan teman “curhat” dan pemberi solusi. Sebisa mungkin, jangan berkonsultasi kepada teman yang tidak paham agama, karena bisa jadi, dia justru merasa senang dengan kondisi yang Ibu alami. Yang paling aman adalah bermusyawarah dengan keluarga Ibu atau keluarga suami Ibu, karena bisa dipastikan bahwa mereka sangat menginginkan agar keluarga Ibu kembali utuh sejahtera.

Keempat: Dekati keluarga suami (orang tuanya). Jika mereka sudah berpihak pada Ibu, ini akan memberi kekuatan posisi bagi Ibu ketika Ibu menghadapi suami. Ibu punya kesempatan yang besar untuk mencari pendukung di kalangan keluarga Ibu sendiri atau keluarga suami Ibu.

Adapun tentang kondisi suami Ibu.

Pertama: Kami tidak bisa memastikan apakah suami ibu diguna-gunai ataukah tidak, karena dalam kondisi semacam ini, ada banyak kemungkinan yang menyebabkan seorang lelaki bisa melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh suami Ibu. Bisa jadi, karena memang dia tertarik dengan wanita lain, sehingga dia ingin berpisah dari keluarganya, atau bisa juga karena disihir. Namun, apa pun itu, insya Allah, semuanya bisa diobati, jika Allah berkehendak.

Kedua: Untuk langkah mudahnya, Ibu bisa perhatikan kondisi suami Ibu, sebelum dan sesudah kasus ini. Mencintai dan tertarik pada wanita lain, sifatnya tidak seketika, namun prosesnya lama. Apalagi, jika pertemuan suami Ibu dengan wanita tersebut sebelumnya jarang berlangsung. Kalau kejadiannya semacam ini, lalu tiba-tiba sang suami begitu tertarik dengan wanita tersebut maka bisa jadi itu adalah guna-guna. Jika kasusnya karena guna-guna, mudah-mudahan penyembuhannya lebih mudah dibanding ketika sang suami mencintai wanita tersebut secara alami.

Ketiga: Penyembuhan guna-guna; berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan ketika hendak mengobati orang yang terkena sihir:
1. Biasanya, sihir itu mempunyai simpul (pusat jin yang mengganggu). Simpul ini diletakkan oleh pelaku sihir di tempat yang aman dan dekat dengan aktivitas orang yang ingin dijadikan sasaran sihir. Bisa juga, bentuknya adalah sihir tanpa simpul.
2. Untuk sihir yang menggunakan simpul, pelaku menggunakan salah satu bagian anggota badan sasaran. Misalnya: Rambut atau yang lainnya.
3. Jika kita mengetahui tempat simpul sihir itu diletakkan, untuk pengobatannya: hancurkan simpul itu dengan cara dibakar. Ini cara yang paling mujarab untuk mengobati sihir.
4. Jika kita tidak mengetahui tempat simpul sihir tersebut, jangan membebani diri untuk mencarinya dan jangan bertanya kepada dukun atau kiai, karena hal ini akan menyibukkan kita. Dalam kondisi ini, korban bisa diobati dengan cara diruqyah. Untuk tata cara ruqyah, Ibu bisa pelajari di situs: http://muslimah.or.id/aqidah/ruqyah-1-terapi-ruqyah-syari.html

Bisa juga dengan memperbanyak doa kepada Allah secara sungguh-sungguh. Insya Allah, Allah akan mengubah hati suami Ibu dan memberikan keteguhan bagi Ibu.

Sebelumnya, kami ingatkan agar Ibu tidak meminta ruqyah kepada orang lain, karena itu hukumnya makruh. Ibu dan keluarga, masing-masing berdoa memohon kepada Allah agar sang suami disembuhkan.

Apakah suami Ibu adalah orang yang baik bagi keluarga?

Saya tidak bisa menilainya. Bisa jadi, dia bersikap semacam itu karena jiwanya tertutup oleh emosinya. Langkah mudahnya, dilihat dari pergaulan beliau sebelumnya. Jika sebelumnya beliau baik-baik saja dan mendukung keluarga untuk menjadi baik maka, insya Allah, suami Ibu ke depannya tetap baik bagi keluarganya.

Apakah suami Ibu masih mencintai Ibu?

Seratus persen, kami tidak tahu, karena ini adalah masalah hati; yang mengetahuinya hanya Allah. Sementara, sikapnya saat ini bisa jadi hanya karena luapan emosinya. Berikan sikap yang terbaik bagi suami Ibu, berpenampilanlah secara menarik di hadapannya. Semoga ini akan mengembalikan cintanya kepada keluarganya. Setidaknya, anak akan menjadi pengikat kuat bagi keutuhan keluarga Ibu.

Saran:
1. Banyak-banyak memohon ampunan dan beristigfar kepada Allah. Bisa jadi, ujian ini merupakan akibat dari kemaksiatan yang pernah kita lakukan. Bukan karena Allah tidak sayang, namun Allah hendak membersihkan dosa kita di dunia, sebelum nantinya menjadi bahan siksaan di akhirat. Imam Abu Hanifah mengatakan, “Tidaklah aku menjumpai kondisi buruk pada keluargaku kecuali karena kemaksiatan yang aku lakukan.”
2. Banyak memohon keselamatan dari dampak buruk musibah. Semoga musibah ini tidak menimpa agama kita. Semoga Allah mengampuni kita, tanpa harus menguji kita dengan musibah ini. Amin.

Allahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh Tim Dakwah Konsultasi Syariah.
Artikel www.KonsultasiSyariah.com