Anak Susah Buang Air Besar

Anak Susah Buang Air Besar

Anak Susah Buang Air Besar

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum

Anak saya berusia 2 tahun. Sudah setahun yang lalu mengalami kesulitan BAB. Sudah beberapa kali kami bawa ke dokter spesialis anak, dan solusi yang diberikan adalah makanan berserat, buah, sayur, probiotik, dan obat pencahar (mikrolaks) ketika hendak buang air.

Sampai akhirnya, anak saya tidak mau buang air karena takut. Akhirnya dia selalu tahan, sampai 4 atau 5 hari. Setiap kali hendak buang air, kami beri mikrolaks tadi.

Pertanyaannya:
1. Bagaimana sebenarnya kerja obat pencahar itu?

2. Apa pengaruh jangka panjang terhadap pemakaian obat pencahar itu jika terlalu sering? Karena hal ini kami lakukan hampir setiap hendak BAB. Jika tidak, dia akan terus menangis sampai 2 jam.

3. Apakah pemakaian ini bisa beresiko pada kanker usus besar?

Kami terus mengupayakan untuk komunikasi dengan anak saya, agar mau BAB setiap hari.

Jazaakumullah khairan

Dari: Yumma

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Terima kasih sebelumnya atas pertanyaan yang Ibu ajukan, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan bagi Ibu sekeluarga, dan kesehatan pada buah hati tercinta.

1. Kerja obat pencahar
Obat pencahar (laksatif atau laksansia) pada dasarnya terbagi atas beberapa golongan, yaitu bulk laksatif (contohnya Isphagula husk, meningkatkan massa feses, sehingga merangsang peristaltik usus dan feses pun terdorong keluar), laksatif osmotik, laksatif stimulan, dan pelembut feses (stool softener). Laksatif osmotik, semisal suspensi laktulosa, tidak dapat dicerna oleh tubuh, sehingga mencapai usus besar dalam keadaan utuh, dan terurai di dalam usus besar tersebut. Hasil penguraiannya bersifat asam, dengan efek akhir menarik lebih banyak air ke dalam usus besar, dan feses pun mengandung lebih banyak air sehingga mudah untuk dikeluarkan. Laksatif stimulan, semisal senna, atau bisacodyl, bekerja lokal di dalam usus besar. Setelah laksansia ini mencapai usus besar, dan mengalami metabolisme di sana, hasil metabolisme tersebut akan merangsang usus besar, dan menimbulkan efek peristalsis usus, dan feses pun terdorong keluar. Stool softener berfungsi langsung melembutkan feses.

Adapun untuk mikrolax sendiri, memiliki cara kerja sebagai berikut:
– Na lauril sulfoasetat menurunkan tegangan permukaan feses sehingga feses mudah terbasahi.

– Sorbitol, Na Sitrat menyerap air ke dalam usus besar/rektum untuk melunakkan feses yang keras.

– PEG 400 melumasi rektum sehingga feses mudah dikeluarkan.

2. Seluruh obat pencahar, apapun jenis dan cara kerjanya, tidak disarankan untuk digunakan dalam jangka panjang (misalnya penggunaan tiap hari > 1 minggu). Penggunaan pencahar yang sering dapat menyebabkan penurunan tonus (tegangan normal ) otot usus besar, sehingga tidak dapat bekerja normal, dan akhirnya justru memperberat konstipasi, atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, seperti dehidrasi dan hipokalemia (kurangnya ion kalium dalam tubuh, menyebabkan timbulnya gejala kelemahan tubuh, dan jika berat, gangguan irama jantung dan terhentinya motilitas usus/ileus).

3. Hubungan pemakaian pencahar dengan risiko kanker usus besar.
Sejauh ini belum kami dapatkan adanya hubungan antara pemakaian laksansia jangka panjang dengan kanker usus besar.

Konstipasi yang dialami anak Ibu sudah berlangsung lama, sehingga dibutuhkan evaluasi yang lebih serius dan mendalam, apa penyebab konstipasi tersebut. Selain meningkatkan asupan serat, kami anjurkan juga untuk Ibu agar mengurangi konsumsi susu formula (jika diberikan) pada anak dan meningkatkan konsumsi air putih padanya.

Semoga ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dijawab oleh dr. hafidz N (Pengasuh Rubrik Kesehatan Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

dr. Hafidz, salah satu pembina konsultasi kesehatan di situs KonsultasiSyariah.com Beliau adalah alumni fakultas kedokteran UGM, dan saat ini sedang menyelesaikan Pendidikan Dokter Spesialis jantung dan pembuluh darah.

NO COMMENTS

Leave a Reply