tutup Eksternal hardisk kajian video islam
cashflow laporan keuangan software akutansi terbaik

Monthly Archives: October 2012

menikah tanpa restu orang tua

Menikah Tanpa Memberitahu Orang Tua

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Ana sudah menikah dengan seorang ikhwan. Kami menikah tanpa sepengetahuan orang tua suami ana, karena sebelum lulus kuliah suami ana tidak boleh menikah karena takut mengganggu kuliahnya, sementara suami ana sekarang masih kuliah. Sedangkan dari pihak ana, semua setuju karena suami ana baik agamanya. Kami menikah karena takut berzina. Bagaimana pandangan ustadz dengan masalah yang kami hadapi sekarang ini. Kami berencana memberitahu ketika suami ana sudah lulus nanti dan membuktikan bahwa menikah bukan halangan kuliah.

panduan gadai sawah

Gadai Sawah

Pertanyaan:

A menggadaikan sawahnya ke B dengan jaminan sertifikat sawah dan A tetap menggarap sawahnya. Pada saat panen, A memberikan 50% hasil panen untuk B. Apa hukumnya praktik gadai seperti ini? SeAndainya ada riba didalamnya, apa solusi riilnya? Karena B pun ingin mendapat keuntungan dari investasinya tersebut?

Dari: Hasan

sakit herpes

Herpes dan Obatnya

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Dokter, saya mau tanya. Berapa lama herpes menyerang seseorang?

Menurut dokter, ibu saya terkena penyakir herpes. Gejalanya demam dan kulit melenting seperti terkena tomket/terbakar. Sudah hampir 2 minggu belum sembuh. Terserangnya di daerah pinggang.

Bisa minta nasihatnya Dokter untuk penyakit ini?

Syukron

Dari: Agus

bayi muslim dan bayi kafir

Keadaan Bayi Mukmin dan Kafir ketika Wafat

Pertanyaan:

Kemana tempat kembalinya anak-anak orang mukmin dan anak-anak orang musyrik yang mati pada waktu kecil?

Jawaban:

Anak-anak orang mukmin tempat kembalinya adalah surga, karena mereka mengikuti kedua orang tua mereka, seperti yang difirmankan Allah,

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآأَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur: 21)

Sedangkan bayi orang-orang non-mukmin, yaitu bayi-bayi yang tumbuh di pangkuan orang tua yang tidak beragama Islam, menurut pendapat yang paling benar dalam hal ini adalah hanya Allah yang lebih tahu atas apa yang mereka kerjakan. Tetapi dalam hukum dunia, mereka diperlakukan sama seperti kedua orang tua mereka, adapun hukum akhirat, Allah lebih mengetahui atas apa yang mereka kerjakan, seperti yang disabdakan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya Allah-lah yang mengetahui tempat kembali mereka, itulah pendapat kami. Masalah itu sebenarnya masalah yang tidak banyak kita perhatikan, sedangkan yang perlu kita perhatikan adalah hukum mereka di dunia. Hukum anak-anak orang musyrik di dunia sama seperti orang-orang musyrik dewasa, tidak dimandikan, tidak dikafani, tidak dishalati, dan tidak dikubur di kuburan orang-orang Islam. Wallahu a’lam.

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

cerai gara-gara facebook

Istri Sering Main Facebook, Suami Marah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Saya ingin bertanya, semalam saya dan suami bertengkar masalah facebook (FB), suami tidak suka saya bermain FB, mengomentari teman dll. Saya jelaskan sama suami kalau saya main FB hanya untuk ajang silaturrahmi, tapi dia masih tetap marah dan kami saling mempertahankan ego masing-masing karena mungkin kami merasa sama-sama benar.

tugas rumah tangga suami istri

Tugas Rumah Tangga antara Suami dan Istri

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Ustadz, awal bulan Oktober, saudara saya (laki-laki) baru saja melangsungkan pernikahan. Sebelum pernikahan, tidak ada kesepakatan tentang pembagian tugas rumah tangga. Namun setelah mereka hidup bersama (-+ seminggu), sang istri meminta adanya pembagian tugas rumah tangga yang jelas.

Pada awalnya sang suami telah berusaha membantu sesuai dengan kemampuannya, tapi setelah menjalaninya, dia merasa keberatan karena kondisinya yang capek setelah bekerja dsb. Sempat juga sang suami mempersilahkan istri tinggal di rumah dan berhenti bekerja, tapi istri menolak, karena khawatir dengan masa depan anak-anaknya kelak yang mungkin memerlukan biaya tinggi untuk pendidikan.

Sebagai informasi, suami istri tersebut bekerja di tempat yang sama. Sang istri menginginkan pembagian tugas rumah tangga, salah satunya bersandar ke dalil dibawah ini:

“Adat bukanlah syariah dan syariah bukalah adat.”

Para suami dilarang terkejut!

Mari kita renungkan hal berikut wahai para suami, lalu kita introspeksi dengan sikap kita selama ini kepada istri kita:

– Harta istri: bukan harta suami

– Harta suami: sebagiannya adalah hak istri

– istri berhak menetapkan nilai mahar

– nafkah adalah kewajiban suami bukan kewajiban istri

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’ : 34)

Apa kata para ulama mazhab dalam masalah ini ?

1. Madzhab Hanafi

“Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.” (Imam al-Kasani dalam kitab al-Badai‘).

2. Mazhab Maliki

– Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat.

– Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya (asy-Syarhul Kabir oleh ad-Dardiri)

3. Mazhab Syafi’i

– Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya.

– Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban (al-Muhadzdzab oleh asy-Syairozi)

4. Mazhab Hanbali

– Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur.

– Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya (Imam Ahmad bin Hanbal).

5. Mazhab Dzahiri

– Tidak ada kewajiban bagi istri untuk mengadoni, membuat roti, memasak, dan khidmat lain yang sejenisnya, walaupun suaminya anak khalifah.

– Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yang bisa menyiapkan bagi istrinya makanan dan minuman yang siap santap, baik untuk makan pagi maupun makan malam.

– Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yang bekerja menyapu dan menyiapkan tempat tidur (al Muhalla oleh Ibnul Hazm).

1. Apakah hal tersebut bisa dijadikan dalil?

Mohon nasihatnya.

Syukron, jazakumullahu khairan

Wassalamu’alaikum warahmatullah.

Dari: Margee

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Pendapat Imam Malik dan ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyyah, istri wajib melakukan tugas-tugas rumah sebatas kemampuan dirinya. Istri wajib menaati suami, jika suami memerintahkan istri untuk berhenti kerja, maka istri shalihah pasti langsung berhenti kerja.

Isteri wajib taat kepada suami asalkan perintah suami bukan maksiat. Jika suami memerintahkan istri untuk masak misalnya dan istri mampu untuk masak karena dalam kondisi sehat, maka memasak dalam hal ini adalah kewajiban yang membuahkan dosa jika tidak dijalankan.

Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.PI (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

SOCIAL

9,933FansLike
4,525FollowersFollow
33,380FollowersFollow
61,951SubscribersSubscribe

RAMADHAN